0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan45 halaman

Arti Penebusan dalam Iman Kristen

1. Dokumen tersebut membahas tentang penebusan dosa manusia melalui penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. 2. Yesus menjadi "Adam yang Baru" untuk memperbaiki kesalahan "Adam pertama" dan membebaskan manusia dari kuasa dosa, maut, dan iblis. 3. Melalui penurutan-Nya sampai mati di kayu salib, Yesus memenuhi tuntutan hukum Allah sehingga manusia dapat dija

Diunggah oleh

Irene Tarumaselly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan45 halaman

Arti Penebusan dalam Iman Kristen

1. Dokumen tersebut membahas tentang penebusan dosa manusia melalui penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. 2. Yesus menjadi "Adam yang Baru" untuk memperbaiki kesalahan "Adam pertama" dan membebaskan manusia dari kuasa dosa, maut, dan iblis. 3. Melalui penurutan-Nya sampai mati di kayu salib, Yesus memenuhi tuntutan hukum Allah sehingga manusia dapat dija

Diunggah oleh

Irene Tarumaselly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENEBUSAN

Permasalahan

Dalam pergaulan sehari-hari, entah di lingkungan bertetangga, di


kantor, di tempat kerja atau dimana saja, bahkan ketika membaca
suatu buku, kadang-kadang orang Kristen diperhadapkan kepada
pertanyaan mengenai iman dan keyakinannya yang sangat
mendasar, terutama mengenai keyakinan tentang alasan Yesus
Kristus disalibkan, mati dikuburkan dan bangkit hidup kembali
dengan tubuhNya yang sama itu tetapi yang telah dimuliakan, dan
naik ke sorga dengan tubuh yang telah bangkit dan dimuliakan itu,
serta duduk di sebelah kanan Allah, yaitu dimuliakan dalam
kemuliaan Ilahi itu sendiri.

Si orang Kristen itu hanya mengerti bahwa semuanya itu dilakukan


oleh Yesus Kristus demi untuk menebus manusia. Jika ditanya
kembali, mengapa manusia perlu ditebus, apakah dia tergadai atau
terjual? Si Kristen sering kebingungan untuk menjawab, dan tidak
tahu jawabannya, meskipun Alkitab dengan tegas mengatakan
bahwa;

“…aku ( = manusia) bersifat daging, TERJUAL dibawah KUASA


DOSA”. ( Roma 7:14).
Sehingga manusia tak dapat dengan kekuatannya sendiri
melepaskan diri dari “KUASA” dosa itu. Artinya meskipun manusia
dapat mencegah beberapa aspek dari manifestasi dosa, namun
untuk mencabut dan menghilangkan “KUASA” atau “KEKUATAN
DORONGAN” dari dosa itu sendiri ia tak dapat menghilangkan atau
mencabutnya sama sekali dalam dirinya, yang berarti di dalam diri
manusia ada suatu kekuatan yang disebut “DOSA” yang mendorong
dia untuk melakukan apa yang disebut sebagai “dosa-dosa”.
Sebagaimana dikatakan Kitab Suci;
“….jika aku (=manusia) berbuat apa yang tidak aku kehendaki,
maka bukan lagi aku (= kemauan dan kehendak sadar manusia)
yang memperbuatnya, tetapi DOSA yang DIAM DI DALAM AKU”
( Roma 7:20). Ditanyakan lagi kepadanya, mana mungkin orang
lain menebus dosa kita, kitalah yang harus menebus dosa kita
sendiri melalui perbuatan baik kita, orang lain tak menanggung
kesalahan dan dosa kita. Si orang Kristen ini tak tahu lagi
bagaimana harus menjawab, meskipun Alkitab dengan jelas
mengatakan:

” Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan
turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut
menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima
berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung
atasnya.” (Yeheskiel 18:20). Jika jelas dikatakan bahwa “Anak tidak
akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan
turut menanggung kesalahan anaknya.”, maka jelas pula bahwa
termasuk Yesus tak akan
orang lain
menanggung dosa atau pelanggaran
moral masing-masing orang, tanggung jawab
moral harus ditanggung masing-masing orang, karena Alkitab juga
mengatakan :

” Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya


sendiri.”(Galatia 6:5). Dengan demikian seharusnya si orang Kristen
ini mengerti sesuai dengan ajaran Alkitab yang dipercayainya
bahwa penebusan dosa bukan berarti pelepasan manusia dari
tanggung jawab moral dan akhlak masing-masing, namun
pelepasan dari “KUASA DOSA” yang diam dalam dirinya, yang
menyebabkan kematian bagi manusia, karena “upah dosa adalah
maut” (Roma 6:23). Dan maut yang menimpa tubuhnya ini sebagai
akibat dari maut yang menimpa rohnya yang ditundukkan oleh
“KUASA DOSA” ini, sehingga jika dia nanti mati, roh itu tidak akan
dapat kembali kepada kemulian dari Allah yang Hidup itu. Dan
itulah yang hendak ditebus oleh karya Yesus Kristus melalui
penyaliban, kematian, penguburan, kebangkitan, kenaikan, dan
dudukNya disebelah kanan Allah itu.

Dengan demikian PENYALIBAN, PENGUBURAN DAN KEBANGKITAN


KRISTUS: adalah merupakan cara bagaimana penebusan itu
dilakukan. Penebusan artinya manusia dilepaskan dengan suatu
bayaran dari kekuatan gelap dan yang mengungkungnya. Kekuatan
gelap yang jahat itu adalah : Iblis, dosa dan maut. Bayaran yang
diberikan untuk melepaskan manusia dari kungkungan :Ibllis, Dosa
dan maut itu adalah Derita, Penyaliban, Kematian dan Penguburan
Kristus.

Manusia tidak diciptakan untuk mati. Maut hanya diancamkan


“pada hari” ( Kejadian 2:16-17) manusia melanggar perintah Allah.
Dan ternyata manusia melanggar perintah itu ( Kejadian 3: 6),
maka mautpun menjadi akibatnya ( Kejadian 3: 19), karena
memang “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Manusia
kehilangan hidup kekal, dan terusir dari sorga ( Kejadian 3:22), jadi
manusia berada dibawah kuasa maut.

Demikian juga manusia “kehilangan kemuliaan” ( Roma 3:23), yang


berarti juga kehilangan kesucian ( Roma 5:12), berarti dibawah
kuasa dosa. Dibawah kuasa dosa ini manusia hidup dalam
“pelanggaran dan dosa-dosa”, sehingga ia menuruti kehendak Iblis
( Efesus 2:1-2), maka manusia berada dibawah Kuasa Iblis.
Keberadaan kodrat manusia yang sedemikian inilah yang disebut
“Dosa Nenek Moyang” atau “Dosa Asal”. Disebut demikian karena
masuknya keadaan sedemikian itu ke dalam duunia akibat
pelanggaran Nenek Moyang yang pertama (Roma 5:12), dan itu
menjadi asal segala kelemahan manusia sehingga ia mudah
berbuat dosa daripada berbuat baik.

a. Penebusan sebagai Pemulihan Kodrat Manusia

Dengan mengenakan Tubuh Kemanusiaan oleh InkarnasiNya itu,


Firman Allah telah menyandang “..daging, yang serupa dengan
daging yang dikuasai dosa” karena adanya dosa itu tadi (Roma
8:3), meskipun secara pribadi Firman Allah Yang Menjelma itu
“tidak mengenal dosa” ( II Kor. 5:21).

Setelah mengenakan “daging yang serupa dengan daging yang


dikuasai dosa itu” Firman Allah yang Menjelma : Yesus Kristus itu
lalu “menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging” (Roma 8:3)
yang telah dikenakan-Nya itu. Caranya dengan masuk dalam derita,
naik ke atas salib, mati, dan dikuburkan. Kematian Kristus adalah
wujud taatNya secara mutlak kepada Allah : ”…Kristus Yesus…
dalam rupa Allah ( karena Ia adalah Firman Allah yang adalah
“Allah”, Yoahanes 1:1)….kesetaraan dengan Allah itu sebagai
milik….mengosongkan diri-Nya…menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diriNya dan TAAT sampai mati,bahkan sampai MATI DI KAYU
SALIB” (Filipi 2: 5 -8). Inti kejatuhan Adam yang berakibat
kehilangan hidup kekal itu adalah “tidak taat”.

Firman Allah yang sejak kekal berada satu di dalam Bapa ( Allah
Yang Esa) yang Roh itu ( Yohanes 4:24), juga berwujud Roh dan
tak memiliki tubuh jasmani. Tubuh Jasmani yang dimiliki sebagai
manusia itu diambil dari Maryam. Dengan demikian kemanusiaan
Firman Allah yang menjelma itu adalah kemanusiaan baru yang tak
terjadi melalui pertemuan “benih lelaki” dan “benih wanita”. Karena
itu adalah kemanusiaan baru, maka Firman Allah Yang Menjelma:
Yesus Kristus ini adalah “Adam yang Baru “ atau lebih tepatnya
“Adam Yang Akhir” ( I Kor. 15: 45).

Sebagai Adam yang Akhir Ia bertindak memulihkan apa yang telah


dihilangkan oleh Adam pertama. “Mati di Kayu Salib” adalah wujud
“taat” yang mutlak kepada kehendak Allah. Kemanusiaan Adam
yang dikenakan Firman Allah itu adalah “kemanusiaan yang serupa
dengan daging berdosa’ yaitu kemanusiaan yang dalam status
“TIDAK TAAT” tadi. Jika kemanusiaan yang TIDAK TAAT ini telah
dikenakan untuk melaksankan karya “TAAT sampai mati, bahkan
sampai MATI DI KAYU SALIB”, berarti ketidak-taatan dari
kemanusiaan Adamiah yang dikenakan Firman Allah yang Menjelma
itu dilebur dan dimusnahkan oleh ketaatan mutlak Firman Allah
yang menjelma itu.

Maka Salib itu menjadi sarana peleburan dan pelepasan


kemanusiaan Adam dari kuasa “ketidak-taatan” yaitu Dosa. Maka
Salib itu telah menghukum dosa yang ada dalam daging, karena
yang disalibkan adalah daging kemanusiaan yang dikenakan Firman
Allah dalam PenjelmaanNya itu. Demikianlah melalui Salib itu
kemanusiaan Adam dipulihkan oleh Adam yang Akhir: Yesus
Kristus, Firman Allah Yang Menjelma ini.

b. Penebusan sebagai Pembenaran dari Tuntutan Hukum Allah

Demikian juga akibat dari ketidak-taatan awal oleh Adam itu,


semua manusia yang telah berada dibawah kuasa dosa yaitu pada
“keinginan daging” itu berada dalam “perseteruan terhadap Allah,
karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak
mungkin baginya” ( Roma 8:6).
Tuntutan Hukum Allah adalah manusia supaya taat secara mutlak
terhadap perintah-perintahnya. Padahal manusia itu dalam keadaan
“tidak mungkin” untuk taat itu, karena ada kekuatan ketida-taatan
asli yang ada dalam dirinya itu. Sehingga di hadapan Hukum Allah,
manusia berada dalam keberadaan terhukumkan, dan menjadi
tidak benar secara hukum.

Kemanusiaan yang demikian ini telah dikenakan oleh Firman Allah


itu. Lalu dibawa dalam karya “TAAT sampai mati, dan bahkan
sampai mati DI KAYU SALIB”. Dengan demikian kemanusiaan yang
dalam keberadaan “TIDAK TAKLUK KEPADA HUKUM ALLAH” ini,
dijadikan takluk secara mutlak. Sehingga kemanusiaan yang berada
diatas Kayu Salib itu telah menggenapai inti terdalam dari segenap
Hukum Allah. Padahal karena “tidak takluk kepada hukum Allah”
inilah manusia berada dalam perseteruan dengan Allah ( Kolose
1:21), maka dengan TAAT MUTLAK DIATAS Salib itu, perseteruan
itu dihapuskan sehingga” ..kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah
dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran…sekarang
diperdamaikanNya, di dalam Tubuh Jasmani Kristus oleh
kematianNya…” ( Kolose 1: 21-22).

Dengan demikian kemanusiaan yang dikenakan oleh Firman Allah


Yang menjelma itu tak berada dalam keadaan berseteru dengan
Allah dan tidak di bawah tuduhan dan dakwaan Hukum Taurat lagi.
Dengan demikian kemanusiaan dari Firman Allah Yang Menjelma itu
telah “damai” dengan Allah, dan telah dinyatakan “benar” di
hadapan Hukum Allah. Sehingga barangsiapa sekarang yang
manunggal dengan kemanusiaan Firman Allah Yang Menjelma itu
oleh iman melalui Baptisan (Galatia 3:26-27) juga akan di
“damaikan” dengan Allah” dan “dibenarkan” oleh iman.
c. Penebusan sebagai Penggenapan Penghapusan Dosa oleh
Korban-Korban dalam Taurat

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, kemuliaannya hilang (


Roma 3:23), sehingga mereka melihat ketelanjangan diri mereka,
dan mencari daun-daun untuk menutup ketelanjangan diri akibat
dosa itu ( Kejadian 3: 7).

Namun Allah tak berkenan dengan cara usaha manusia sendiri


untuk menutup dan menghilangkan akibat dosa itu. Allah
memberikan cara-Nya sendiri untuik menutup atau menghapus
dosa manusia itu dengan jalan :”..membuat pakaian dari KULIT
BINATANG untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu
mengenakannya kepada mereka” ( Kejadian 3:21).

Ini berarti ada binatang disembelih oleh Allah, dan itu berarti ada
darah tercurah. Hasil dari darah tercurah itu yang “dikenakan “
kepada Adam dan Hawa yang telanjang akibat dosa itu. Dengan
demikian akibat dosa itu tertutupi ( “kafarah”) oleh dampak
tercurahnya darah. Dosa itu hilang akibat darah. Karena “….segala
sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa penumpahan darah
tidak ada pengampunan” ( Ibrani 9:22).

Bagaimana “penumpahan darah” menyebabkan “pengampunan”


itu, demikian keterangannya. Upah dosa adalah maut. Berarti dosa
itu hanya layak mendapatkan kematian, karena dosa memisahkan
manusia dari Allah sumber Kehidupan Sejati. Itulah sebabnya
secara aturan hukum, manusia yang berdosa itu harus dihukum
mati. Namun Allah sebagai Sang Pengasih tidak menghendaki
kematian manusia (Yeheskiel 18:32). Ia menghendaki manusia itu
hidup.
Padahal sebagai Yang Maha Adil semua dosa harus dihukum. Maka
suatu jalan tengah dilakukan. Agar dosa tetap dihukum, dan
kematian akibat dosa itu tetap ada, namun si manusia yang
berdosa itu tetap hidup, maka korban dilakukan. Binatang korban
itu mewakili manusia.

Dalam Taurat untuk mendapat pengampunan si orang yang


berdosa “menumpangkan tangannya” atas binatang korban dan
mengakui dosa-dosanya (Imamat 1:4,3:8, 16: 21), dan dengan
demikian binatang korban itu “mengangkut segala kesalahan”
( Immat 16:22,) karena dengan “ meletakkan kedua tangannya
kedua tangannya keatas kepala kambing…dan mengakui diatas
kepala kambing itu segala kesalahan….dan juga
dosa….ia ..menanggungkan itu ke atas kepala kambing…” ( Imamat
16:21).

Dengan demikian dosa dan kesalahan manusia yang berdosa itu


dipindahkan secara simbolis kepada korban, dan binatang korban
itu sebagai personifikasi dari dosa manusia itu. Lalu binatang
korban itu disembelih. Dengan demikian dosa telah dihukum mati,
dalam daging jasmani korban itu. Sehingga si orang berdosa itu tak
lagi menanggung dosa itu, karena secara simbolis ia telah dihukum
dalam wujud binatang korban itu.

Demikianlah keadilan Allah telah berlaku, karena Ia telah


menghukum mati dosa tersebut. Namun si orang berdosa itu tetap
hidup. Ini menunjukkan kasih Allah yang tak menghendaki orang
berdosa mati. Melalui korban itu si orang berdosa itu telah mati
demi menggenapi keadilan Allah, tetapi tetap hidup karena kasih
Allah.

Dengan tercurahnya darah korban itu berarti dosanya telah


dihukum sehingga ia tak menanggung dosa itu lagi, ia sekarang
dibebaskan dari dosa, ia telah diampuni. Sang Kristus sebagai
Firman Allah yang menjelma telah “menyandang”: “.. daging, yang
serupa dengan daging yang dikuasai dosa”(Roma 8:3). Dengan
demikian dalam daging-Nya itu Ia telah menanggung kedosaan
manusia, meskipun Ia sendiri tak mengenal dosa. Dan dalam
daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa ini Ia
disebut sebagai “Anak Domnba Allah yang mengangkut dosa-dosa
dunia” ( Yohanes 1:29).

Padahal Anak Domba Korban itu mengangkut kesalahan dan dosa


melalui tercurahnya darah dalam kematian, dan Kristus mengalami
mati melalui Salib, maka Salib Kristus dan darah-Nya yang tercurah
itu adalah penggenapan dari Korban Anak Domba itu. Demikianlah
dosa itu telah “dihukum” yaitu telah disembelih dalam “daging”
yaitu “tubuh jasmani” Kristus, karena tubuh jasmani Kristus ini
adalah daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa.

Jika daging itu dihukum diatas salib, maka dosapun ikut dihukum
pula. Jadi salib itu menjadi Mezbah Korban Semestawi, Tubuh
Kristus yang Tersalib diatasnya itu adalah Domba Korban
Semestawi, DeritaNya, SakitNya, Pakunya, Hausnya, Rasa Takut
Yang DialamiNya diatas Salib, dan semua derita yang dialami itu
adalah Api Pembakar Korban yang menghanguskan JiwaNya.
Sehingga barangsiapa yang manunggal dalam “kematian,
penyaliban, dan penguburan” Kristus di dalam baptisan ( Roma 6:
3-6), iapun telah mati bagi dosa (Roma 6:6) artinya ia “…dibaptis
dalam dalam nama Yesus Kristus UNTUK PENGAMPUNAN DOSA”
(Kisah 2:38).

Jika dalam Taurat penyatuan manusia berdosa dengan domba


korban agar mendapatkan pengampunan itu dengan penumpangan
tangan, maka dalam Injil penyatuan manusia berdosa dengan Anak
Domba Allah yang dikorbankan itu harus manunggal dengan
penyaliban, kematian dan penguburanNya di dalam baptisan yang
disertai iman sehingga baptisan itu menjadi sarana dampak kuasa
korban itu berlaku yaitu “Pengampunan Dosa”.

Jika binatang korban dalam Taurat itu setelah selesai dikorban


hangus jadi abu karena dibakar, namun Anak Domba Allah yang
dikorbankan itu bukan saja “dagingNya tidak mengalami
kebinasaan” ( Kisah 2:31) dalam kuburan, malahan daging itu
dibangkitkan, dimuliakan serta dibawa naik ke sorga. Sehingga
daging korban Tubuh Jasmani Kristus itu tetap kekal selamanya,
dan korbanNya juga menjadi kekal di sorga sana. Artinya :”Ia telah
masuk satu kali dan untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang
kudus (sorga) bukan dengan membawa darah domba jantan dan
darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya ( yaitu:
Tubuh Jasmani yang telah dibangkitkan dan dimuliakan sebagai
hasil korbanNya diatas Salib). Dan dengan demikian Ia telah
mendapatkan kelepasan (penebusan) yang kekal,” buat segenap
manusia di sepanjang abad.

Jadi dalam Dialah ada penebusan, pelepasan, dan keselamatan


kekal, dan sempurna. Kita tak membutuhkan yang lain di luar Dia,
sebab tak ada manusia agung siapapun yang telah melakukan apa
yang dilakukan Sang Kristus dalam mengalahkan dosa dan
kematian ini. Ia dapat melakukan semuanya ini, karena Ia adalah
Firman Allah, yang memiliki kekekalan pada diriNya sendiri.

d. Penebusan sebagai Pelepasan dari Kutuk

Sesudah Adam jatuh dalam dosa Allah bersabda :”..terkutuklah


tanah karena engkau…” ( Kejadian 3: 17). Sejak saat itu kehidupan
itu berada dalam situasi yang amat sulit.:” …dengan bersusah
payah engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupmu,
semak duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-
tumbuhan di padang akan menjadi makananmu, dengan berpeluh
engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali menjadi
tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan
engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:17-19). Yang
dikutuk disini bukanlah masalah kerja itu sendiri, sebab sebelum
jatuh ke dalam dosapun manusia sudah diperintah kerja:”TUHAN
Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman
Eden untuk MENGUSAHAKAN dan MEMELIHARA taman itu”
( Kejadian 2:15). Namun, derita, kesukaran, kesulitan dan
kesakitan yang berakhir dengan kematian yang mengikuti kerja itu.

Tanah yang diambil sebagai jasad jasmani manusia yang dihembusi


dengan nafas hidup ( Kejadian 2:7), agar dapat mengalami hidup
kekal, justru menarik hidup kekal, hilang tertelan kuasa debu,
karena akhirnya manusia menukik menjadi debu. Inilah kutuk yang
mengenaskan. Dan akhirnya bukan hanya manusia saja yang
tertimpa kutuk ini bahkan “seluruh makhluk telah ditaklukkan
kepada kesia-siaan” dan berada dalam “perbudakan kebinasaan”
sehingga “ segala makhluk sama-sama mengeluh” (Roma 8: 20-
22).

Dan keberadaan manusia itu sekarang “mengeluh karena beratnya


tekanan” ( II Kor. 5: 4). Keadaan kutuk yang menerpa manusia dan
segenap makhluk yang ada disekitarnya, makin dibuat kongkrit lagi
ketika diperhadapkan dengan Hukum Allah. Keberadaan “takluk
kepada kesia-siaan” dan dibawah “takluk kepada kebinasaan” serta
“mengeluh karena beratnya tekanan “ yang disebabkan keadaan
“fana” ( II Kor. 5:4) dan berakhir “menjadi debu” (Kej.3:19)
menyebabkan manusia tidak bisa takluk kepada kuasa hidup yang
dinyatakan dalam Hukum Allah.

Dalam Ulangan 27:16-26, Nabi Musa menyatakan 12 kutuk atas


orang yang : memandang rendah ibu dan bapanya, menggeser
batas tanah sesamanya, membawa seorang buta ke tempat sesat,
memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda, tidur dengan
isteri ayahnya, tidur dengan binatang apapun, tidur dengan
saudaranya perempuan, tidur dengan mertuanya perempuan,
membunuh sesamanya dengan tersembunyi, menerima suap untuk
membunuh seseorang yang tak bersalah, serta tak menepati
perkataan hukum Taurat itu dengan perbuatan.

Permasalahannya terletak pada kutuk yang terakhir yaitu “tak


menepati perkataan hukum Taurat itu dengan perbuatan.” Hukum
Taurat memiliki ratusan hukum di dalamnya. Adalah tidak mungkin
unutuk “menepati” seluruh hukum yang ada. Pelanggaran pasti
terjadi. Padahal yang “tak menepati” diancam dengan “kutuk”.
Berarti karena kemungkinan melanggar itu jauh lebih besar
daripada “menepati perkataan hukum Taurat itu dengan
perbuatan”, maka manusia selalu berada dibawah bayang-bayang
kutuk ini. Sebagaimana dikatakan :”Karena semua orang yang
hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada dibawah kutuk. Sebab
ada tertulis:” Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala
sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Galatia 3:10).

Jadi dasar hukum Taurat adalah “setia melakukan segala sesuatu


yang tertulis” atau “menepati perkataan hukum Taurat dengan
perbuatan”. Dengan kata lain dasar hukum Taurat adalah :”..siapa
yang melakukannya akan hidup karenannya” ( Galatia 3:12)
Padahal tidak ada manusia satupun yang “setia melakukan
SEGALA” atau yang “MENEPATI perkataan Hukum dengan
perbuatan”, pelanggaran pasti ada dan terbukti ini yang sering dan
selalu terjadi.

Berarti dengan melakukan pekerjaan Taurat atau melakukan


Syariat ini orang tak mungkin benar di hadapan Allah. Apalagi ada
ketetapan lain dalam Kitab Suci bahwa “… orang yang benar itu
akan hidup oleh percaya” ( Habakuk 2:4). Sebagaimana yang
tertulis juga:”Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan
dihadapan Allah karena melakukan hukum Taurat/Syariat adalah
jelas, karena’ Orang yang benar akan hidup oleh iman” ( Galatia
3:11). Ini bukti bahwa kutuk awal itu telah begitu merembes
kepada seluruh keberadaan manusia.

Yesus Kristus “tak mengenal dosa” ( II Kor. 5:21) sebagai “Firman


Allah” yang Nuzul ke bumi, berarti tak memiliki kutuk dan tak juga
dibawah kutuk. Kaerena sebagai yang tanpa dosa pastilah dan jelas
Ia telah menepati perkataan hukum Taurat itu dengan perbuatan.

Oleh penguasa penjajah Romawi Ia dihukum mati diatas Salib atas


dorongan para ulama Yahudi. Padahal orang yang mati digantung
dengan disalib atau digantung biasa, menurut ketetapan Taurat
adalah demikian:” Apabila sesorang berbuat dosa yang sepadan
dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung
dia pada sebuah tiang, ….haruslah engkau menguburkan dia pada
hari itu juga, sebab SEORANG YANG DIGANTUNG TERKUTUK OLEH
ALLAH…” ( Ulangan 21:22-23). SEORANG YANG DIGANTUNG
TERKUTUK OLEH ALLAH, itulah ketetapan Hukum Taurat. Jadi
secara hukum seolah-olah Yesus itu terkutuk, namun secara fakta
dan realita Ia tak memiliki kutuk sedikitpun dan tidak berada
dibawah kutuk itu.

Dengan demikian kutuk sebagai ketetapan “Firman Tertulis” yang


dikenakan pada orang yang mati digantung di kayu telah dibatalkan
kuasanya oleh “Ketiadaan Kutuk” dari :”Firman Menjelma” yang
sekarang berada diatas Kayu Salib sebagai orang yang mati
digantung itu. Karena “Firman Menjelma” itu adalah hakikat dari
Firman itu sendiri, sedangkan “Firman Tertulis/Taurat” adalah
merupakan catatannya saja. Sebagaimana yang disabdakan:”
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:” Terkutuklah orang
yang digantung pada kayu salib” ( Galatia 3:13)

Itulah sebabnya diatas Salib itu Kristus telah membatalkan kutuk


yang ditetapkan Taurat, dengan demikian membatalkan semua
kutuk yang pernah dikenakan kepada manusia. Akibatnya pada
saat kita menjalankan perintah Allah bukan lagi takut kutuk itu
yang menyebabkan kita taat, namun karena cinta kasih dan bakti
serta takut yang dilandasi oleh hormat kepadaNya sebagai ucapan
syukur atas penebusanNya di dalam Kristus itu yang memotivasi.

e. Penebusan Sebagai Pelepasan dari Iblis, Dosa, dan Kematian

Sesudah meninggalnya Yusuf sebagai Wasit Agung di Mesir, dan


menjelang Nabi Musa lahir, bangsa Israel berada dalam keadaan
diperbudak oleh Firaun. Hal itu dinyatakan oleh Kitab Suci
demikian:”…pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka
untuk menindas mereka dengan kerja paksa….dengan kejam orang
Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup
mereka dengan pekerjaan yang berat….” ( Keluaran 1: 11-13).
Kerja paksa dan penindasan dan kekejaman perbudakan yang
mereka alami itu semunya dilakukan bagi Firaun:”….menindas
mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun
kota-kota perbekalan….” (Keluaran 1:11). Jadi Firaunlah yang
sebenarnya melakukan kezaliman, kesewenang-wenangan dan
kekejaman dalam perbudakan itu.
Atas tirani Firaun dan kekejaman perbudakan itu, Allah mengutus
Nabi Musa dan abangnya Imam (Kohen) Harun untuk menentang
kesewenang-wenangan Firaun dan memperkenalkan Allah sebagai
Penguasa satu-satunya. Serta mengingatkan Firaun agar
melepaskan Israel dari cengkeramannya agar mereka boleh
menyembah Allah Yang Esa. Ketika Firaun menolak sampai
sembilan kali, Allah menjatuhkan tulah sampai sembilan kali pula.
( Keluaran 6-11) Dan yang terakhir Allah mengancam seluruh Mesir
dengan tulah kematian, dengan akan dikirimkanNya Malaikat maut
untuk membunuh semua anak sulung dari hewan dan manusia di
seluruh Mesir.

Namun kepada Nabi Musa difirmankan agar menyembelih Anak


Domba Paskah (Keluaran 1-28), dan darahnya diusapkan pada
ambang pintu sebelah atas, dan kiri-kanan. Barangsiapa yang pintu
rumahnya dioles dengan darah itu ,maka Malaikat Maut akan
melewati (“pesakh”, dari sini berasalnya kata “paskah”) mereka,
dan mereka akan lepas dari maut.

Setelah Perayaan Paskah itu Israel betul terlepas dari Firaun,


Perbudakan yang kejam dan Bahaya Maut. Dengan Firaun dan Bala
tentaranya ditenggelamkan ke dalam Laut Merah dalam usahanya
mengejar Israel yang dipimpin Nabi Musa dan Kohen Harun itu.
Dan Israel lahir sebagai bangsa baru setelah melewati Laut Merah
yang oleh mu’jizat kuasa Allah telah dijadikan kering dan bisa dilalui
itu ( Keluaran 13-15).

Perjanjian Baru mengajarkan:” …Sebab Anak Domba Paskah kita


juga telah disembelih, yaitu Kristus…” ( I Korintus 5:7). Kristus
disembelih yaitu dibunuh diatas Kayu Salib. Jika pembunuhan
Kristus itu dinyatakan sebagai penyembelihanNya, dan Tubuh
Kristus yang terbunuh itu sendiri dinyatakan sebagai “Anak Domba
Paskah”, maka itu berarti ada paralel antara peristiwa Paskah di
zaman Nabi Musa dengan Penyaliban Kristus Yesus itu. Dan
demikian Kristus adalah penggenapan Paskah Nabi Musa, dan
Paskah Nabi Musa adalah pra-bayangan dari karya Kristus sendiri,

Mesir adalah negara di luar Tanah Perjanjian (Palestina, Israel),


berarti lambang wilayah diluar persekutuan dengan Allah, atau
lambang dunia yang memberontak kepada Allah, dan tanpa Kristus.
Di Mesir Umat Israel dibawah tirani Firaun, Perbudakan yang
kejam, serta Bahaya Maut. Demikianlah di dalam dunia di luar
Kristus, manusia berada dalam kuasa Iblis , sebagaimana yang
dikatakan:”Kamu dahulu….mengikuti jalan dunia ini, karena kamu
mentaati PENGUASA KERAJAAN ANGKASA, yaitu ROH YANG
SEKARANG SEDANG BEKERJA diantara orang-orang durhaka”
( Efesus 2:1-2), juga :”…seluruh dunia di bawah kuasa si jahat” ( I
Yohanes 5:19), serta “…lepaskan kami dari Si Jahat” ( Matius 6:13).

Disamping manusia diluar Kristus itu berada di bawah tirani si Jahat


yaitu Iblis, mereka juga dibawah tirani kekuatan negatif yang
menyebabkan mereka tak dapat melakukan apa yang baik yang
mereka kehendaki. Karena itu lebih mudah manusia berbuat buruk
daripada berbuat baik, dan kekuatan negatif inilah tirani Dosa, yang
membuat manusia diperbudak kepada hawa-nafsu, sebagaimana
yang dikatakan:”Sebab bukan apa yang kukehendaki, YAITU YANG
BAIK, yang aku perbuat. Melainkan apa yang tidak aku kehendaki
YAITU YANG JAHAT, yang akau perbuat. Jadi jika AKU BERBUAT
APA YANG TIDAK AKU KEHENDAKI, maka bukan lagi aku yang
memperbuatnya, tetapi DOSA YANG DIAM DI DALAM AKU…..dan
membuat aku MENJADI TAWANAN HUKUM DOSA yang ada di
dalam anggota-anggota tubuhku” ( Roma 7:19-21).
Demikianlah manusia menjadi tawanan dan diperbudak oleh dosa
dan hukum dosa yang ada didalam dirinya. Kuasa Iblis yang
mencengkeram manusia itu memang bekerjanya melalui hukum
dosa dan kuasa dosa yang ada di dalam diri manusia itu. Dan
hukum dosa serta kekuatan dosa itu mengarahkan manusia kepada
kematian, karena “Upah Dosa adalah Maut” (Roma 6:23). Serta:”…
sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang
(yaitu:Adam akibat ketidak-taatannya), dan oleh dosa itu juga
(masuknya) maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada
semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa ( yaitu: tidak
taat seperti yang dilakukan Adam, dan oleh akibat kejatuhan Adam
itu) ( Roma 5:12).

Dengan demikian sebagaimana Israel di Mesir dikuasai oleh Firaun,


Perbudakan dan Bahaya Maut, demikianlah manusia di luar Kristus
itu berada dalam kekuasaan Iblis, Tawanan Dosa, dan Kuasa Maut
atau Kematian. Ini semua terjadi akibat kejatuhan Adam, karena
tidak taat kepada Allah. Ketidak-taatan Adam ini ( Kejadian 3:6)
datang karena bujukan Iblis yang menggunakan wujud ular
( Kejadian 3:1-5), sehingga mereka Jatuh ke dalam Maut ( Kejadian
3:19), karena memang tadinya sudah diingatkan Allah, bahwa
akibat pelanggaran itu Adam dan Hawa akan memetik buah
kematian ( Kejadian 2:16-17). Demikianlah Iblis, Dosa dan Maut itu
telah menjadi kekuatan negatif yang berada dalam kodrat manusia
setelah jatuh. Keadaan yang demikian inilah yang dalam theologia
Kristen disebut sebagai “Dosa Asal”. Yaitu kekuatan yang menjadi
asal munculnya dosa-dosa yang lain dalam hidup manusia, dan
juga asal berasal dari kejatuhan awal manusia. Itu akhirnya
menjadi benalu dan parasit dalam hakekat kemanusiaan.

Maut ini bukan hanya kematian jasmani saja, namun juga kematian
rohani ( Efesus 2:1), yang berwujud terpisahnya manusia dari
hidup ilahi yang terbukti dibuangnya dan diusirnya manusia dari
Firdaus atau Taman Eden itu ( Kejadian 3:23)
.
Yesus Kristus adalah Anak Domba Paskah yang melepaskan
manusia dari kuasa Iblis, Dosa dan maut, sebagaimana anak
domba Paskah di zaman Nabi Musa melepaskan bangsa Israel dari
tirani Firaun, Perbudakan yang kejam, dan Bahaya Maut. Ini
dilakukan oleh Yesus Kristus dengan Bangkit dari antara orang
mati, sesudah penyaliban, kematian dan penguburanNya selama
tiga hari itu. Dengan bangkitNya berarrti maut tak berkuasa lagi
atasNya ( Roma 6:9), dengan demikian maut telah dikalahkan.
Padahal maut akibat dosa, seperti yang telah katakan diatas,
berarti dosapun telah dikalahkan. Dosa masuk karena Iblis, maka
sekaligus Iblis telah dikalahkan oleh kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus itu ( Ibrani 2:14). Demikianlah melalui korbanNya
diatas Salib Yesus Kristus telah melepaskan manusia dari Iblis.
Dosa dan Maut. Jadi Ia memang betul-betul Anak Domba Paskah
yang kekal dan sejati. Sehingga pelepasanNya itu bersifat kekal
(Ibrani 9:11), dan dengan penuh kuasa ilahi.

Itulah karya Allah yang Maha Dahsyat melalui Penyaliban. Kematian


dan Kebangkitan “FirmanNya yang Menjadi Manusia” bagi
keselamatan dan pelepasan manusia dari kodratnya yang telah
rusak, yang berada dalam keadaan salah dan tertuduh, serta
dibawah kuasa kutuk, Iblis, dosa dan Maut itu. Dan karya
pelepasan total akibat Penyaliban, Kematian dan Kebangkitan
Kristus inilah yang disebut “Penebusan”. Dan ini akan menjadi
“Keselamatan” bagi mereka yang mau menerimanya dengan iman,
dan menerapkan karya Kristus yang sudah sempurna dan yang
sekali untuk selamanya itu dalam kehidupannya.

Jadi keselamatan itu berasal dari “penebusan” Allah melalui karya


Kristus, sebagai hadiah gratis, bukan sebagai pahala amal-saleh
hasil usaha perbuatan manusia sendiri. Amal saleh dan kebaikan
muncul akibat dari karya keselamatan itu, karena kuasa Roh Kudus
yang bekerja dalam kehidupan orang yang sudah manunggal
kepada Allah dalam penebusan Yesus Kristus itu.

Jadi perbuatan baik itu adalah buah iman. Orang yang sudah
manunggal kepada Allah dalam penebusan Kristus berbuat baik
bukan “supaya” mendapat keselamatan, namun “karena” telah
menerima keselamatan itu akibat karya Kristus. Dan tujuan berbuat
baik itu bukan untuk mencari pahala, namun untuk menanggapi
karya Roh Kudus bagi suatu pengudusan yang sempurna, sehingga
kita memetik buah dan hasil dari panunggalan kita dengan Kristus
yaitu pemuliaan kekal, atau “theosis” (“ikut ambil bagian dalam
kodrat ilahi – II Pet. 1:4-, dan “menjadi sama seperti Dia” – I Yoh.
3:2).

Kemuliaan hanya bagi Allah yang Maha Tinggi yang telah


mengirimkan FirmanNya turun ke bumi menjadi Manusia, untuk
melepaskan dan memberrikan RohNya sendiri yang Kudus untuk
menguduskan kita sebagai akibat karya Penebusan ini. Amin.

===================
Banyak perspektif lain yang kita bisa lihat dari tulisan ini, salah satu
contoh adalah yang saya BOLD dan warnain diatas

Silahkan dikomentari.....
jerry
Sahabat SPB

Posts: 67
Joined: Thu Jan 24, 2013 11:43 am
Re: [Telaah Tulisan dan Diskusi] ARTI PENEBUSAN DOSA DLM KRI

by jerry » Wed Apr 22, 2015 11:19 pm

Tulisan bagus... di tujukan kepada banyak orang yang masih


mencoba memahami konsep penebusan, saya kira penulis hanya
mencari pijakan lewat (Yeheskiel 18:20) dan (Galatia 6:5) supaya
dapat menjelaskan / memperluas konsep penebusan, dan penulis
mencoba melengkapi kemudian berhasil...

Meskipun ada beberapa kata yang kurang tepat sehingga


membingungkan para pembaca contoh;

Ditanyakan lagi kepadanya, mana mungkin orang lain menebus dosa kita,
kitalah yang harus menebus dosa kita sendiri melalui perbuatan baik kita,
orang lain tak menanggung kesalahan dan dosa kita

Nah... padahal paragraf diatas sebelumnya

Si orang Kristen itu hanya mengerti bahwa semuanya itu dilakukan oleh Yesus
Kristus demi untuk menebus manusia. Jika ditanya kembali, mengapa
manusia perlu ditebus, apakah dia tergadai atau terjual?

Artinya si penulis telah sepakat dengan si orang kristen bahwa ada


penebusan oleh Yesus", tapi kenapa paragraf selanjutnya berubah
permasalahannya ?!. Mungkin penulis hanya pemanasan saja
mencari start awal

(Yeheskiel 18:20) dan (Galatia 6:5) biasa di gunakan oleh para


penuduh tanakh dan injil untuk menggagalkan konsep penebusan,
saya kira kurang tepat kalau di tujukan hanya untuk orang kristen
saja
orange
Sahabat SPB

Posts: 642
Joined: Sun Feb 09, 2014 10:44 pm

Re: [Telaah Tulisan dan Diskusi] ARTI PENEBUSAN DOSA DLM KRI

by orange » Thu Apr 23, 2015 7:01 am

jerry wrote:Tulisan bagus... di tujukan kepada banyak orang yang masih


mencoba memahami konsep penebusan, saya kira penulis hanya mencari
pijakan lewat (Yeheskiel 18:20) dan (Galatia 6:5) supaya dapat menjelaskan /
memperluas konsep penebusan, dan penulis mencoba melengkapi kemudian
berhasil...

Meskipun ada beberapa kata yang kurang tepat sehingga membingungkan


para pembaca contoh;

Ditanyakan lagi kepadanya, mana mungkin orang lain menebus dosa kita,
kitalah yang harus menebus dosa kita sendiri melalui perbuatan baik kita,
orang lain tak menanggung kesalahan dan dosa kita

Nah... padahal paragraf diatas sebelumnya

Si orang Kristen itu hanya mengerti bahwa semuanya itu dilakukan oleh Yesus
Kristus demi untuk menebus manusia. Jika ditanya kembali, mengapa
manusia perlu ditebus, apakah dia tergadai atau terjual?

Artinya si penulis telah sepakat dengan si orang kristen bahwa ada penebusan
oleh Yesus", tapi kenapa paragraf selanjutnya berubah permasalahannya ?!.
Mungkin penulis hanya pemanasan saja mencari start awal

(Yeheskiel 18:20) dan (Galatia 6:5) biasa di gunakan oleh para penuduh
tanakh dan injil untuk menggagalkan konsep penebusan, saya kira kurang
tepat kalau di tujukan hanya untuk orang kristen saja

Thanks Bung Jerry,

Untuk tulisan quote pertama:

“….jika aku (=manusia) berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan
lagi aku (= kemauan dan kehendak sadar manusia) yang memperbuatnya,
tetapi DOSA yang DIAM DI DALAM AKU” ( Roma 7:20). Ditanyakan
lagi kepadanya, mana mungkin orang lain menebus dosa kita,
kitalah yang harus menebus dosa kita sendiri melalui perbuatan baik kita,
orang lain tak menanggung kesalahan dan dosa kita. Si orang Kristen ini tak
tahu lagi bagaimana harus menjawab, meskipun Alkitab dengan jelas
mengatakan:

Gaya penulis memaparkan masalah seperti sedang menceritakan


diskusi antara si Kristen dan orang lain diluar kristen.

Ditanyakan disini, seolah olah mau menggambarkan ada


pertanyaan adari orang luar kristen, ".... mana mungkin orang lain
menebus dosa kita, ..." (itu yang saya mengerti dari tulisan
tersebut...

Kalau quote ke-2


Si orang Kristen itu hanya mengerti bahwa semuanya itu dilakukan oleh Yesus
Kristus demi untuk menebus manusia. Jika ditanya kembali, mengapa
manusia perlu ditebus, apakah dia tergadai atau terjual?

Yang saya tangkap ini adalah keyakinan awal si kristen yang dia
peroleh sejak kecil.... penulis ingin menyampaikan terkadang si
kristen mengerti apa yang disampaikan melalui iman tapi belum
bisa berargumentasi lewat ayat ayat alkitab yang ada, mungkin
kurang tahu atau bahkan "tidak mau tahu / malas tahu" yang
penting percaya saja....

Saya bersyukur ada yang mau membagikan perspektif perspektif


lain terhadap suatu masalah (tafsir berdasarkan ayat2 yang ada),
minimal menambah wawasan daripada saya harus "terima bulat
bulat" apa yang disampaikan tanpa mengkaji lebih jauh... tapi itu
saya lho...

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 14652
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: [Telaah Tulisan dan Diskusi] ARTI PENEBUSAN DOSA DLM KRI

by BP » Thu Apr 23, 2015 7:21 am

orange wrote:” Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak
akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut
menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat
kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.”
(Yeheskiel 18:20). Jika jelas dikatakan bahwa “Anak tidak akan turut
menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung
kesalahan anaknya.”, maka jelas pula bahwa orang lain termasuk Yesus tak
akan menanggung dosa atau pelanggaran moral masing-masing
orang, tanggung jawab moral harus ditanggung masing-masing orang,

Konteks Yehezkiel 18:20 dikemukakan kepada bangsa Israel untuk


menegur kesalahan mereka, dan mengajak mereka untuk
memperbarui hidup. (Silahkan Baca keseluruhan Kitab Yehezkiel
pasal 18 ini). Pada jaman nabi Yehezkiel, berkembang sebuah
pemikiran yang salah mengenai "kutukan turunan." Bangsa Israel
saat itu merasa bahwa mereka hidup di bawah penghukuman
akibat dosa/kesalahan yang dilakukan oleh generasi-generasi
sebelum mereka (ayat 2). Orang pada saat itu percaya bahwa sifat
baik dan sifat buruk merupakan faktor keturunan, sehingga mereka
merasa tidak perlu untuk merubah diri.

Pemahaman seperti ini muncul akibat mereka salah mengerti


firman Allah dalam Keluaran 20:5 "Jangan sujud menyembah
kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN,
Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan
bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan
keempat dari orang-orang yang membenci Aku"

Jadi Yehezkiel 18:20 berbeda dengan konteks penebusan Yesus


Kristus.

Perlu dipahami bahwa:


Bersihnya kita dari dosa bukan karena "the absence of sin"
tapi karena Yesus Kristus yang sudah mati di kayu salib.

Jadi, manusia meski telah menjadi Kristen dan mengimani korban


Yesus di kayu salib, karena masih hidup di dunia, ia masih dapat
berbuat dosa. Walaupun kita masih orang berdosa sampai kita
wafat nanti, Yesus sudah terlebih dahulu mati bagi kita.

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus perlu mengajar bahwa


manusia yang sudah ditebus harus senantiasa perpandangan pada
kehidupan yang seturut dengan Kristus, yaitu menjauhi dosa.
Galatia 5:16-25 dituliskan sebagai peringatan bahwa meski manusia
itu sudah ditebus, ia dapat melakukan dosa. Dan ini perlu dihindari,
sebab dosa-dosa yang disebutkan dalam pasal tsb. Jika perbuatan
dosa-dosa yang disebutkan itu tetap dipelihara ini sangat
berbahaya sebab orang itu telah menyia-nyiakan keselamatan
seperti yang disinggung dalam Ibrani 2:3. Apabila orang yang
sudah ditebus itu terus berbuat dosa tidak ada bedanya dengan
"orang-orang dunia" maka perbuatannya itu akan dapat menyeret
manusia lebih jauh, yaitu murtad kepada Allah. Maka, jangan
sampai ada dosa yang terus-menerus, yang kemudian menyeret
kita kepada kemurtadan.

MEN_SUPERNOVA
Sahabat SPB

Posts: 1378
Joined: Fri Mar 28, 2008 12:53 pm

Re: [Telaah Tulisan dan Diskusi] ARTI PENEBUSAN DOSA DLM KRI
by MEN_SUPERNOVA » Fri May 08, 2015 10:16 pm

Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut
menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung
kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan
kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.” (Yeheskiel 18:20). Jika jelas
dikatakan bahwa “Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan
ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya.”, maka jelas pula
bahwa orang lain termasuk Yesus tak akan menanggung dosa atau
pelanggaran moral masing-masing orang, tanggung jawab moral harus
ditanggung masing-masing orang,

tulisan itu menyangkal makna central dari salib Kristus yaitu


“substitusi”. Padahal di Alkitab ditulis “....Ia menanggung dosa
banyak orang....” (Yes 53:12)

Utk mendalami makna substitusi dari Salib Kristus, silakan baca


buku “Salib Kristus” karya John Stott,
penerbit Momentum.

Pertanyaan: Apa artinya penebusan Kristen?

Jawaban: Setiap orang membutuhkan penebusan. Kondisi alami


kita dinodai oleh dosa: “Karena semua orang telah berbuat dosa
dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
Penebusan Kristus telah membebaskan kita dari belenggu dosa:
“dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma
karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:23, 24).

Manfaat penebusan meliputi hidup kekal (Wahyu 5:9-10),


pengampunan dosa (Efesus 1:7), pembenaran (Roma 5:17), lepas
dari kutukan Taurat (Galatia 3:13), diangkat menjadi anggota
keluarga Allah (Galatia 4:5), bebas dari belenggu dosa (Titus 2:14;
1 Petrus 1:14-18), didamaikan dengan Allah (Kolose 1:18-20), dan
berdiamnya Roh Kudus di dalam diri kita (1 Korintus 6:19-20).

Ditebus itu berarti diampuni, kudus, dibenarkan, diberkati, bebas,


diangkat anak, dan didamaikan. Lihat pula Mazmur 130:7-8, Lukas
2:38; dan Kisah Rasul 20:28.

Kata tebus berarti “dibeli.” Istilah ini khususnya digunakan dalam


konteks ketika seseorang membebaskan budak. Pemakaian istilah
ini pada kematian Kristus di atas salib menggambarkan hal ini
dengan amat jelas. Jika kita “ditebus,” maka situasi dan kondisi
kita sebelumnya adalah dalam perbudakan.

Allah telah membeli kebebasan kita, dan kita tidak lagi berada di
bawah penawanan dosa atau hukum Perjanjian Lama. Penggunaan
penebusan secara metafora ini bisa ditemukan di Galatia 3:13 dan
4:5.

Berhubungan dengan konsep mengenai penebusan ini, muncul


istilah harga tebusan. Yesus membayar harga pembebasan kita
dari dosa (Matius 20:28; 1 Timotius 2:6). KematianNya itu untuk
menggantikan hidup kita. Kitab Suci amat jelas menyatakan
penebusan hanya mungkin terjadi “melalui darahNya,” yaitu
melalui kematianNya (Kolose 1:14).

Surga dipenuhi oleh orang-orang yang dulunya adalah tawanan,


yang jelas bukan karena jasa mereka sendiri, mendapatkan
pengampunan dan kebebasan. Para budak dosa sekarang menjadi
orang-orang suci.

Tidak heran mereka menyanyikan nyanyian baru – nyanyian pujian


kepada sang Penebus yang telah disembelih (Wahyu 5:9).

Kita dulunya adalah hamba dosa, dihukum untuk terpisah selama-


lamanya dari Allah. Yesus membayar harga untuk menebus kita,
menghasilkan kebebasan kita dari perbudakan dosa, dan
menyelamatkan kita dari konsekuensi kekal dosa itu

3. “Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya” 1


Kor 15:27a
Kebangkitan Kristus sekaligus mendeklarasikan bahwa kematian
dan maut tidak dapat menguasai diriNya. KebangkitanNya dari
kubur menyatakan bahwa Kristus dapat menaklukkan kuasa maut.

“Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah,
Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan
maut.” Wahyu 1:17b-18
Iblis adalah bapa penipu dan dia akan selalu menipu kita dengan
segala tipu muslihatnya. Iblis tidak suka jika kita menerima
keselamatan dari surga dan dia akan berusaha dengan segala cara
untuk dapat menarik kita untuk jatuh kembali kepada dosa.

Segala tuduhan yang muncul dari dalam pikiran kita merupakan


salah satu cara dari iblis agar kita tidak menggunakan kuasa yang
telah diberikan kepada kita (Kis 1:8). Iblis akan selalu membuat kita
merasa tidak layak dan kalah dalam setiap pergumulan kita.

Jangan mau diperdaya oleh si iblis, karena Yesus Kristus telah


menang untuk memberi kita kemenangan. Cukup satu kali saja
karya salib Kristus dan kita menjadi menang untuk selamanya.
*courtesy of [Link]
Singkirkan segala keraguan dan tudingan yang muncul dalam
pikiran kita, yakinlah dan gunakan kuasa yang telah diberikan bagi
kita untuk mengalahkan musuh, sehingga kita dapat berkata, “Hai
iblis, kau tidak berhak lagi menganggu hidupku!”
“Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di
manakah sengatmu?” 1 Korintus 15:54b-55
.
Kebangkitan Kristus memberikan kita keselamatan sekaligus kuasa
untuk menjalani hidup ini sebagai pemenang. Mari raih kemenangan
itu dengan hidup berjalan bersama Kristus. Haleluya!
Konsep Teologis keselamatan dalam Perjanjian Lama
I. PENDAHULUAN
Salah satu konsep utama yang membedakan Kekristenan
dengan agama-agama lain adalah konsep yang dimilikinya tentang
“keselamatan.” Konsep teologi ini menjadi salah satu keunikan
kekristenan. Kekristenan mengajarkan bahwa keselematan hanya ada
dalam dan melalui Kristus. Dengan kata lain, tidak ada keselamatan
diluar Kristus. Kristus adalah Tuhan, yang menjadi manusia untuk
menebus orang-orang yang semenjak dari semula telah dipilih-Nya
sebelum dunia dijadikan.
Konsep ini, seringkali menimbulkan satu pertanyaan dalam
Kekristenan sendiri yaitu tentang Keselamatan dalam Perjanjian
Lama. Yesus belum lahir sebagai manusia dalam Perjanjian Lama, jika
demikian bagaimana dengan keselamatan bagi orang-orang dalam
masa sebelum kedatangan Kristus atau masa Perjanjian Lama?
Pertanyaan ini pulalah yang seringkali dibuat menjadi alasan untuk
membela orang-orang yang mati sebelum mendengarkan Injil.
Dengan alasan bahwa hal itu bukanlah suatu hal yang adil, jika
seseorang harus masuk neraka karena “belum” mendengarkan Injil.
Pertanyaan ini menjadi sulit jika seseorang memiliki
pemahaman Alkitab yang salah, yang melihat Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, menjadi dua bagian yang terpisah. Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru adalah “satu” yang tidak bisa dipisahkan satu
dengan yang lain. Memahami teologi Kekristenan harus dilihat dalam
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara menyeluruh. Perjanjian
Baru adalah kegenapan dari Perjanjian Lama. Dengan demikian dapat
dipahami bahwa keselamatanpun harus dilihat sebagai satu kesatuan
dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru
diberikan bukanlah sebagai akibat dari kegagalan Allah untuk
menyelamatkan manusia dalam Perjanjian Lama. Keselamatan
“hanya” dalam Kristus itulah inti pengajaran Alkitab, baik dalam
Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

II. KESELAMATAN DALAM PERJANJIAN LAMA


II.1. Akibat Kejatuhan Manusia kedalam dosa; memahami
latar belakang pentingya keselamatan sebagai karya
mutlak Allah.
Akibat kejatuhan manusia kedalam dosa, mengakibatkan
kerusakan yang begitu tragis. Manusia yang semulanya diciptakan
serupa dan segambar dengan Allah telah rusak secara “total,”
demikianlah Calvin menjelaskan kondisi manusia sejak kejatuhan
kedalam dosa. Persekutuan dengan Tuhan yang dinikmati Adam dan
Hawa ditaman Eden, terputus akibat dosa yang dilakukannya, bahkan
bukan hanya itu, manusia mengalami kematian secara spiritual yang
ada akhirnya akan membawa pada “penghukuman kekal” Allah. Dosa
memasuki dan mempengaruhi setiap dimensi kehidupan manusia,
spiritual, intelektual, fisik dan social.[1]
Semenjak keterpisahan hubungan atau relasi antara Tuhan
dengan manusia, manusia bukannya mencari Allah, melainkan segala
keinginannya sekarang seutuhnya dikendalikan oleh iblis yang
menjadi tuan atas dirinya. Atas kehendak, kemauan dan tujuannya.
Manusia menjadi penentang-penentang Allah dengan segala tindakan
kejahatannya. Hal ini mematahkan segala prinsip duniawi, yang
memegang kepercayaan bahwa manusia pada akhirnya akan semakin
baik, yang akan menjadikan dunia juga semakin baik. Pada akhirnya
akan nyata bahwa Alkitab benar, dengan menyatakan bahwa manusia
dalam dosa akan semakin jahat bukan semakin baik.
Dengan nature manusia yang telah jatuh kedalam dosa, maka
manusia juga tidak memiliki kehendak dan keinginan untuk mencari
Tuhan. Allah sendirilah yang berinisiatif mencari manusia dan
menyelamatkan manusia. Keselamatan seutuhnya adalah karya Allah.
Manusia tidak memiliki peran apapun dalam karya keselamatan
Tuhan, bahkan kemampuan yang ia milikipun hanyalah karena
anugerah Tuhan saja. Agama-agama lain hanya mencoba
menawarkan keselamatan dengan mengandalkan kekuatan dan usaha
untuk melakukan kebaikan setinggi mungkin, yang akhirnya hanya
akan berakhir pada kesia-siaan belaka.
II.2. Makna Keselamatan dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, Alkitab secara radikal dan
komprehensif menunjukkan betapa celakanya manusia.[2] Betapa
besarnya dan dalamnya manusia telah jatuh kedalam dosa. Maka
jawaban Allah bagi penyelamatan manusia dari keadaan kejatuhan
manusia, paling sedikit bobotnya harus sama besarnya bahkan
melebihi besarnya dosa tersebut. Perjanjian Lama dengan kejujuran
dan realismenya menunjukkan akan hakikat dosa dan penyelamatan
yang dibutuhkan dan bahwa hanya Allah yang dapat dan mampu
menyediakannya.
Kalau kita meneliti dalam Perjanjian Lama, konsep keselamatan
memiliki makna yang sangat luas dan dalam-cukup untuk
menanggulangi semua akibat dosa dalam alam semesta ciptaan.
Penyelamatan itu bersifat:[3]
a. Pribadi dan social
b. Rohani dan jasmani
c. Politis dan ekonomis
d. Manusiawi dan ekologis
e. Lokal dan Kosmik
f. Sekarang dan Esok.
Allah sebagai Juruselamat memenuhi setiap dimensi kehidupan
manusia. Keselamatan dalam Perjanjian Lama, mempunyai unsur-
unsur baik yang tertuju kepada manusia maupun yang tertuju kepada
Allah. Manusia terancam bahaya, musibah fisik, penganiayaan oleh
lawan dan kematian.[4] Keselamatan bukan hanya semata mengenai
kehidupan kekal setelah kematian melainkan juga keselamatan secara
fisik. Intinya dalam Perjanjian Lama-secara keseluruhan
menunjukkan akan betapa dalam dan besarnya kebutuhan dan dosa
manusia.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menggambarkan rencana-Nya
dan tindakan-Nya bagi penyelamatan manusia melalui dan dalam
umat-Nya Israel. Semuanya dimulai dengan pemanggilan Allah atas
Abraham. Perjanjian Allah dengan Abraham dengan jelas
menggambarkan rencana Allah bagi Keselamatan manusia. Allah
memilih secara khusus bangsa Israel untuk menyatakan berkat
keselamatan bagi semua bangsa.[5]
Sejarah Keselematan berkembang dalam sepanjang sejarah
iman dalam Perjanjian Lama sampai akhirnya mereka berfokus pada
tujuan akhir, yaitu pengharapan eskatologikal, Allah penyelamat,
sekalipun mereka masih tetap tinggal di bumi dan dihubungkan
dengan situasi sesungguhnya yang akan membawa kepada akhir final
bersama dengan Raja Penyelamat.[6] Sungguh mengagumkan
menyadari bahwa banyak teks dalam perjanjian Lama menubuatkan
nubuatan mesianik.
II.2. Unsur-unsur penebusan dan keselamatan dalam
Perjanjian Lama
1. Kata untuk penebusan dalam Perjanjian Lama adalah hd'P'.[7]
Yang memiliki arti mengangkat sesuatu atau seseorang keluar
dari kepemilikan seseorang untuk menjadi miliknya, dengan
memberikan sesuatu yang sepadan (Kel. 13:13; Ayub 6:22-dst). Untuk
menebus maka sama maksudnya dengan sistim yang dipegang pada
saat itu, yaitu dengan memberikan ganti yang setara. Dalam 33 Kitab
Perjanjian Lama, dinyatakan bahwa Allahlah satu-satunya yang
pantas atau layak untuk menebus, tetapi kata ini tidak ditemukan
dalam Amos, Hosea, Yesaya, Mika dan Yehezkiel-tidak ada kata yang
setara dengan itu disebutkan.
Semenjak Allah memilih bangsa Israel, sebagai umat pilihannya
maka Allah menebusnya. Alasan Allah untuk menebus adalah untuk
menunjukkan kasih saying-Nya (Maz. 44:26; 2 Sam. 7:23; 1 Taw.
17:21), dikatakan bahwa Tuhan Israel adalah satu-satunya Tuhan yang
menebus umat kepunyaan-Nya. Allah menebus umat-Nya dari
perbudakan di Mesir. Tuhan selalu menebus orang-orang kudus-Nya:
David dilepaskan dari segala kemalangan (2 Sam. 4:9); melepaskan
Yeremia dari tangan orang-orang yang berniat jahat padanya (Yer.
15:21), Ayub dari kelaparan (Ayub 5:20). Dan pada akhirnya akan
ada penebusan pada hari keselamatan. Pada hari itu Tuhan akan
menebus umatnya dari segala kejahatannya (Maz. 130:8).
Ada tiga tahap penyelamatan Allah melalui penebusan. Pertama,
pada waktu keluarnya bangsa Israel dari dari perbudakan Mesir, yang
kedua secara terus-menerus dalam kehidupan orang-orang kudus-
Nya, dan yang ketiga akan dinyatakan ketika hari keselamatan tiba.
2. Kata lainnya untuk penebusan adalah la;G".[8]
Kata ini digunakan sebanyak 40 kali oleh Tuhan, namun tidak
terdapat dalam Amos, Yesaya, Mikha dan Yehezkiel. Muncul satu kali
dalam Hosea, namun hanya dalam bentuk pertanyaan retorikal.
Konsep penebusan pertama sekali muncul dalam peristiwa Keluaran,
dalam Mazmur peristiwa ini menjadi suatu peristiwa yang selalu
diingat. Ketika Allah menebus, Ia menebus karena kasih dan rasa
kasihan (Yes 63:9).
Pengertian sebenarnya dari kata la;G", adalah melakukan suatu
tugas sebagai penebus, dimana darah telah dicurahkan, dalam
pengertian Allah telah menebus orang tersebut dari kekuasaan atau
kekuatan orang lain. Namun dalam peristiwa Keluaran (Kel. 6:6),
Allah tidak menebus bangsa Israel dengan apapun, karena Dia adalah
Allah. Allah juga dikenal sebagai pembebas, yang membebaskan
bangsa Israel dari tangan bangsa-bangsa asing. Bangsa Israel
menyadari akan hal ini bahwa pembebas mereka adalah Allah yang
Kudus, Allah Israel.
3. Janji akan penebusan pertama sekali dipenuhi dalam peristiwa
Keluaran [9]Pembuangan dan penyebaran bangsa Israel keseluruh
dunia yang akan diiukuti kemudian oleh hari penyelamatan. Akan ada
beberapa tahap sebelum hari kedatangan-Nya tiba.
Hanya sisa-sisa Israel yang akan ditebus. Sisa-sisa ini disebukan
oleh Amos, dan juga mendapat penambahan penting dalam kitab
Yesaya.
4. Dalam sisa-sisa ini, akan muncul tunas baru dari pohon tua
yang sudah jatuh, suatu tunas yang kudus (Yesaya 6:13). [10] Tuhan
akan kembali memulihkan Israel, Amos 9:14: “Aku akan memulihkan
kembali umat-Ku Israel.” Kata ini juga data berarti memulihkan
kembali nasib merek, keberuntungan dan kekayaan mereka, kembali
kepada kebaikan, untuk kesembuhan dam kembali ketanah asalnya.
5. Setelah masa kesukaran dan penyebaran (1 Raj. 14:15; Yeh.
5:10; Maz. 44:12), akan tiba waktunya masa pengumpulan. [11] Dia,
Tuhan yang menyebarkan bangsa Israel akan mengumpulkan mereka
kembali (Yer. 31:10). TUHAN akan mengumpulkan sisa-sisa Israel,
menjadi suatu kumpulan besar manusia, Ia sendiri akan menjari raja
yang berjalan didepan mereka dan akan menjadi pemimpin mereka.
6. Setelah masa pengumpulam bangsa Israel akan mengalami
pembaharuan secara spiritual. Tuhan akan mengembalikan hati yang
takut akan Tuhan dalam hati mereka, sehingga mereka tidak akan lagi
berpaling darinya (Yer. 32:37-40). Ia akan memberikan mereka hati
yang lembut, bukan hati yang keras seperti batu; memberi mereka roh
yang baru, Roh Allah akan ada bersama mereka, Tuhan akan
menghapus semua keberdosaan mereka (Yer32:29)
7. Pembaharuan akan segera diikuti oleh kesatuan yang
sempurna. Kesatuan secara politik juga mendapat pengaruh dalam
keselamatan Tuhan. Orang-orang yang telah ditebus oleh Allah akan
menjadi satu, satu umat (Yeh. 37:15-22)
8. Maka setelah itu akan tiba masa Perjanjian akan keselamatan.
Ini akan menjadi Perjanjian yang baru (Yer. 31:31). Janji yang berbeda
dengan janji yang telah Allah berikan sebelumnya kepada bangsa
Israel ketika mereka keluar dari Mesir dan yang telah mereka
gagalkan. Janji ini akan mengkarakterisasikan kenyataan bahwa
mereka telah memiliki hati yang baru dan Tuhan telah memberi
mereka hati yang takut akan Tuhan. Mereka tidak akan meminta
diajari oleh orang lain tentang Tuhan; karena setiap mereka memiliki
pengetahuan tentang Tuhan, dari yang kecil sampai yang besar. Allah
akan mengampuni akan segala keberdosaan mereka dan tidak akan
mengingatnya lagi. TUHAN akan menjadi Allah mereka, dan mereka
akan menjadi umat-Nya (Yer. 31:31-34). Ini akan menjadi Perjanjian
keselamatan, perjanjian kekal (Yeh. 37:26).[12]
9. Pengharapan Mesianik[13]
Nubuatan dalam masa nabi-nabi, menunjukkan bahwa dalam
sejarah Israel tidak ada masa dimana tidak ada nubuatan keselamatan
di dengungkan. Hal ini juga menunjukkan bahwa nubuatan itu
disesuaikan dengan situasi yang mereka alami. [14] Dalam Perjanjian
Lama, para nabi Israel tiada henti-hentinya menubuatkan akan
penyataan Allah kepada manusia melalui bangsa Israel tentang
kedatangan Mesias dalam berbagai bentuk seperti: asal-usul, nama,
peristiwa, lambang-lambang atau istilah-istilah yang disesuaikan
dengan konteks kesejarahan Israel. Tujuannya adalah untuk
mengingatkan bangsa Israel, bahwa Allah tidak pernah lalai dalam
menepati janji-Nya dalam melepaskan umat-Nya dari perbudakan
dosa. Beberapa pernyataan dan tanda-tanda dan nubuat dalam
Perjanjian Lama, tentang kedatangan Mesias yang sangat dinanti-
nantikan oleh bangsa Israel antara lain:
a. Keturunan Perempuan
Sejak kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, Allah
merencanakan penebusan dunia melalui “keturunan perempuan”,
yang akan mengalahkan keturunan ular (Kej.3:15). Ini adalah
pernyataan pertama Allah yang mengindikasikan akan datangnya
seorang melalui keturunan perempuan yang akan membebaskan umat
manusia dari dosa.
b. Anak Daud
Tokoh Daud selalu dikaitkan dengan datangnya Mesias. Allah
selalu mengingatkan umat Israel akan datangnya seorang “Raja”
melalui keturunan Daud yang akan membebaskan Israel dari
ketertindasan. Raja itu akan memerintah umat Israel yang setia, juga
semua bangsa di dunia ini. Ia akan menyelamatkan manusia dari dosa
(Za. 13:1)
c. Immanuel
Nubuatan tentang Immanuel disampaikan dalam nubuatan Nabi
Yesaya kepada Ahas, raja Yehuda, yang sedang ketakutan “gemetar
seperti pohon-pohon hutan yang bergoyang ditiup angin” (Yes 7:2),
pada saat menghadapi raja Aram dan Raja Israel. Yesaya memberi
tanda: “bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan akan
melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Dia
Immanuel (Yes. 7:14). Namun tentunya bagi mereka yang hidup pada
saat itu tidaklah mudah untuk memahami akan nubuatan Yesaya
tersebut sebagai penggenapan akan Mesias, yang akan mengalami
penggenapannya dalam Kristus, beberapa ratus tahun kemudia.
d. Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai
Dalam Yesaya 9:6, Nabi Yesaya menubuatkan akan kelahiran
Mesias, seorang yang mempunyai Hikmah Adikodrati, yang akan
menyingkapkan rencana keselamatan umat manusia secara
sempurna. Sebagai Raja Damai, Ia akan datang membawa damai ke
seluruh dunia, Ia berlaku sebagai Bapa yang mengasihi, memelihara,
melindungi, serta menyediakan kebutuhan anak-anak-Nya.
e. Anak manusia
Istilah “Anak Manusia” diutarakan dalam penglihatan Daniel
dalam mimpi, ketika seorang anak manusia datang dengan awan-
awan dari langit, kepada “yang lanjut Usianya.” Selanjutnya
kepadanya diberikan kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja universal
yang akan memerintah segala bangsa. Kekuasaannya adalah kekal ,
tidak akan lenyap, demikian pula kerajaannya tidak akan musnah
sampai selama-lamanya (Dan. 7:13-14)
f. Raja Mesias
Tujuh Ratus tahun sebelum kedatangan-Nya dalam rupa
manusia, Nabi Mikha bernubuat bahwa Mesias akan lahir di Betlehem
Efrata. Ia akan memerintah Israel dengan damai di atas takhta Daud.
Seorang pemimpin Israel yang asal usulnya “sudah sejak purbakala”
(Mi. 5:1). Nabi Mikha juga menubuatkan bahwa Mesias akan lahir
dari seorang perempuan (Mi. 5:2). Dia akan menggembalakan umat-
Nya yang tercerai berai dan kelaparan dengan benar. Kekuasaan-Nya
tidak terbatas hanya pada umat Israel saja, melainkan juga keseluruh
bumi (Mi. 5:3). Kerajaan-Nya adalah kerajaan damai (Mi. 5:4).
g. Raja yang adil dan Jaya
Nabi Zakaria menubuatkan, bahwa Mesias yang akan datang
tersebut adalah raja yang adil dan jaya serta lemah lembut. Ia akan
memberitakan damai kepada bangsa-bangsa sampai ke ujung bumi.
Wilayah kekuasaan-Nya akan terbentang dari Laut dan dari sungai
Efrat sampai keujung-ujung bumi (Za. 9:9-10).
h. Penyaliban
Jauh sebelum Yesus disalibkan di Golgota, peritiwanya sudah
dinubuatkan oleh para pemazmur: “Allahku, Allahku, mengapa
Engkau meninggalkan aku” (Mzm 22:2). “Mereka membagi-bagi
pakaianku diantara mereka dan membuang undi atas jubahku” (Mzm.
22:19). Penderitaan Yesus bukanlah terjadi secara kebetulan,
melainkan menurut maksud dan rencana Allah, supaya seluruh kaum
Israel tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi
Tuhan dan Kristus.
i. Penyataan melalui symbol-simbol
Perjanjian Lama juga mencatat penyataan akan kedatangan
Mesias melalui simbol-simbol, yang menggambarkan keberadaan-
Nya, misalnya:
[Link] Kirmizi
Merah Kirmizi merupakan lambing penderitaan dan
pengorbanan. Menunjukkan akan penderitaan Kristus karena
manusia. Kitab suci mengatakan dalam Yesaya 53:5, bahwa Dia
tertikam oleh karena pemberontakan manusia, diremukkan oleh
karena kejahatan manusia; ganjaran yang mendatangkan keselamatan
ditimpakan kepada-Nya dan oleh bilur-bilurnya kita sembuh.
[Link]
Ungu melambangkan kebesaran seorang raja (Hak 8:26). Ketika
Daniel mempunyai kedudukan sebagai orang ketiga yang berkuasa di
Kerajaan Babel, kepadanya dipakaikan pakaian dari kain ungu (Dan.
5:29). Sewaktu Pilatus menyerahkan Yesus kepada orang banyak
untuk disesah, para prajurit Romawi memakaikan Jubah ungu
kepada-Nya. Sekalipun dalam penggenapannya dalam Perjanjian
Lama adalah sebagai penghinaan dan pelecehan, secara tidak sadar
itu menunjukkan akan kebesaran dan kedudukan Kristus.
Dengan demikian kita dapat melihat bahwa sesungguhnya
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tertuju kepada satu gagasan
yaitu kedatangan “seorang” yang akan merupakan jawaban penebusan
manusia dari keberdosaan. Konsep Keselamatan dalam Perjanjian
Lama, tetap mengacu kepada pengharapan akan kedatangan dan
penebusan Kristus.
Konsep tentang ketaatan kepada hukum memegang peranan
penting peranan penting dalam Perjanjian Lama sebagai antithesis
antara dua jalan keselamatan, yaitu keselamatan yang dicapai melalui
ketaatan kepada hukum dan keselamatan memalui pemberian
Kristus, dalam tulisan Paulus dan Yohanes. Dalam Perjanjian Lama
sendiri ketaatan kepada hukum tidak pernah dimengerti atau
dipahami sebagai jalan keselamatan. Ketaatan terhadap hukum taurat
dan perintah Allah lebih ditujukan sebagai sumber berkat Allah,
secara khusus dalam kitab Ulangan, tetapi tidak pernah sebagai
landasan bagi penyelamatan Allah.[15]
10. Tipolgy tentang Kristus dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, bila kita mengamati dengan teliti, maka
banyak sekali peristiwa, lembaga atau upacara yang melambangkan
akan tipology Kristus antara lain:[16]
1. Korban-Korban
Dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Imamat, secara
panjang lebar diceritakan tentang korban-korban. Korban karena
dosa, korban karena salah, korban makanan, korban pendamaian, dan
korban bakaran. Semua korban itu menunjuk kepada pribadi dan
pekerjaan Kristus sebagaimana diterangkan dalam Perjanjian Baru.
Korban-korban itu menjadikan tuntutan utama tentang penumpahan
darah dipenuhi di dalam rencana ilahi bagi keselamatan orang-orang
yang terhilang dan bagi orang-orang kudus yang jatuh ke dalam dosa.
2. Keimaman dalam Perjanjian Lama
Baik keimaman Harun maupun Melkisedek merupakan
gambaran dari keimaman Kristus. Macam keimaman yang mula-mula
dalam Perjanjian Lama mengikuti pola patriarch (kepala keluarga).
Dalam sistem ini ayah atau kepala keluarga juga memegang peranan
sebagai imam. Secara umum bahwa keimaman macam ini juga
menunjuk kepada Kristus, tetapi dalam Harun dan Melkisedek ada
diberikan pernyataan yang lengkap dan terperinci.
a. Keimaman Melkisedek menunjukkan akan keunggulan Kristus
sebagai imam dibandingkan dengan imam-imam manapun.
Keunggulan Kristus dapat dilihat sebagai berikut: kekal, tak punya
pengganti, tak punya permulaan dan akhir, serta tidak dapat
dipindahkan kepada orang lain (Ibrani 7:24)
b. Keimaman Kristus dan keimaman Harun, memiliki kesamaan dan
perbedaan. Dalam seluk beluknya keimaman Harun memberikan
terang ke atas pekerjaan dari Kristus sebagai Imam dan kwalifikasi
rohani yang dimiliki Kristus bagi jabatan itu. Perbedaannya antara
lain:
 Harun melayani di bumi, Kristus di sorga (Ibrani 8:1-5).
 Kristus melayani yang sebenarnya, bukan hanya bayangan
(Ibrani 8: 5).
 Kristus melayani suatu perjanjian yang baru, bukan perjanjian
Musa (Ibrani 8:6).
 Kristus dalam mempersembahkan diriNya sebagai korban
merupakan korban terakhir bagi dosa yang sekali untuk selama-
lamanya, dan tidak perlu mempersembahkan korban setiap hari
3. Hari-Hari Besar TUHAN
Paskah merupakan yang pertama dan dalam banyak hal adalah
pesta yang paling penting. Paskah ini dirayakan di bulan pertama dan
menunjukkan kelepasan dari hukuman di Mesir. Domba yang
dikorbankan jelas menggambarkan Kristus.
Pesta kedua, hari raya Roti Tak Beragi, yang dirayakan segera
sesudah Paskah. Perayaan ini menggambarkan Kristus sebagai Roti
Hidup, berjalan dalam kesucian bagi orang percaya sesudah ditebus,
dan persekutuan dengan Kristus. Tidak memakai ragi itu
menggambarkan Kristus yang tak berdosa dan persekutuan orang-
orang percaya dalam kesucianNya.
Hari Raya Pendamaian, ini menggambarkan secara luas
pekerjaan Kristus di kayu salib. Tentu saja korban bagi imam besar
dan segala persiapannya tidak perlu bagi Kristus, tetapi korban dan
upacara bagi segenap umat itu membayangkan pekerjaan Kristus.
Hari raya Pendamaian ini berpusat pada pekerjaan imam besar, sama
seperti pekerjaan keselamatan berpusat pada Kristus.
Imam besar yang dipersiapkan dan diberi pakaian menurut
aturan tertentu mengerjakan upacara-upacara yang diperlukan bagi
kepentingan umat Israel dan segenap rakyat itu. Seluruh upacara
kurban ini menggambarkan akan Kristus, yang mati menjadi kurban,
untuk menebus umat-Nya.
4. Kota-Kota Perlindungan
Dalam hukum Musa dibuat suatu perlindungan bagi mereka
yang tidak bersalah telah mengambil nyawa orang lain. Enam kota
perlindungan dibangun, tiga di sebelah sisi sungai Yordan dan tiga di
sisi lainnya, dan keenam kota itu ditempatkan cli bawah pengawasan
orang-orang Lewi (Bilangan 35; Ulangan 19:1-13; Yosua 20). Apabila
diputuskan tidak bersalah dalam sesuatu pembunuhan, pihak yang
tidak bersalah itu dapat menyelamatkan diri dari pembalasan darah
selama ia tinggal di kota perlindungan itu. Bila imam besar meninggal
dunia, ia dapat pulang dengan aman ke rumahnya, tetapi tidak
sebelumnya.
Kota-kota perlindungan tersebut jelas merupakan gambaran
perlindungan di dalam Kristus di mana orang berdosa mendapatkan
perlindungan dari hukuman dosa dan dibebaskan oleh kematian
Imam Besar yaitu Kristus. Allah sering disebut sebagai tempat
perlindungan di dalam Perjanjian Lama (Mazmur 46:2; 142:6; Yesaya
4:6) dan juga di dalam Perjanjian Baru (Roma 8:33 -34; Ibrani
6:18~19). Walaupun Allah senantiasa tempat perlindungan bagi
orang-orang kudusNya, tetapi hanyalah oleh kematian Imam Besar,
yang digenapkan di dalam Kristus, maka kelepasan sempurna itu
diberikan
II. 3. Pengertian Bangsa Israel tentang Hukum
Pertanyaan yang seringkali ditanyakan mengenai keselamatan
dalam Perjanjian Lama adalah mengenai ,”apakah bangsa Israel
mengalami atau mendapatkan keselamatan dengan cara melakukan
ketaatan atau kepatuhan kepada hukum?” Pertanyaan ini menjadi
satu pertanyaan penting, karena bila jawabannya ketaatan pada
hukum dapat menyelamatkan maka akan ada dua jalan keselamatan
dalam Perjanjian Lama, yaitu melalui ketaatan melakukan hukum
(Perjanjian Lama) dan melalui Kristus (Perjanjian Baru).
Ternyata pemberian hukum tidak memberikan tidak
memberikan atau mengakibatkan suatu perubahan yang fundamental,
tetapi hanya sekedar memulai perubahan dalam bentuk eksternal
saja. Hukum tidak menggantikan janji dan iman, juga tidak
digantikan oleh pekerjaan. Sesungguhnya banyak diantara kaum
Israel yang gagal melihat tujuan pemberian hukum itu. Mereka
seringkali memiliki konsep yang salah dengan melihat hukum sebagai
cara legalistic dan berusaha mendasarkan klaim mereka akan
keselamatan pada pemenuhan cara hidup yang tidak mau melakukan
kekeliruan terhadap hukum itu sebagai suatu badan peraturan
eksternal.[17]
Bahkan pada zaman hukum ini, iman jelas bersifat soteorologis
dan mereka mencari keselamatan dalam Mesias. Iman berupa
kepercayaan kepada Tuhan yang memberikan keselamatan dan suatu
kepercayaan yang bersandar teguh pada janji-janji-Nya untuk masa
yang akan datang.[18]
II.4. Tujuan pekerjaan penyelamatan Allah
Allah menyatakan dirinya, dalam Alkitab merupakan suatu cara
Allah menyatakan kebenaran tentang diri-Nya. Ia mengungkapkan
diri-Nya dalam Alkitab bukanlah sebagai cara Allah untuk menjawab
rasa penasaran atau keingintahuan manusia akan diri-Nya, melainkan
sebagai cara untuk menggenapkan rencana-Nya yang paling utama
yaitu keselamatan. Allah bermaksud memulihkan manusia yang telah
jatuh ke dalam dosa kepada hakikatnya yang semula pada saat
diciptakan.[19] Dan selanjutnya Ia akan memimpin mereka kepada
pemahaman yang sempurna mengenai diri-Nya dan persekutuan yang
sempurna yang merupakan titik puncak keselamatan.
Penyataan Firman Tuhan menuntut kepercayaan dan ketaatan
terhadap apa yang dinyatakan oleh Tuhan. Penyataan Allah kepada
Abraham akan mencapai tujuannya, pertama-tama yang Tuhan tuntut
darinya adalah ketaatan kepada Firman Allah yang dinyatakan
kepadanya. Demikianlah tuntutan Allah kepada umat-Nya sepanjang
sejarah Alkitab, yaitu ketaatan kepada Firman-Nya. Namun pada
kenyataan-Nya umat pilihan Allah-pun gagal dalam mentaati
perintah-Nya seutuhnya. Maka satu-satunya jalan adalah dengan
menyatakan keselamatan dalam diri Mesias, Juruselamat yang sudah
dijanjikan semenjak lama.
Karya Keselamatan Allah melalui perantaraan “hamba-
Nya,” akan merealisasikan penyelamatan umat perjanjian-Nya.
Dimana umat-Nya akan diam dengan aman di negeri yang akan
diberikan-Nya dan dimana Tuhan akan memperlihatkan keadilan-
Nya. Semuanya ini berulang-ulangkali diserukan dalam kalimat,”Aku
akan menjadi Allah mereka dam mereka akan menjadi umat-Ku.”
Seruan ini terdapat beberapa kali dalam kitab Yeremia, Yehezkiel dan
Zakaria. Menurut Yeremia hal ini berarti bahwa semua orang akan
mengenal Tuhan dari yang kecil sampai yang besar (Yeremia 31:31-
34). Hosea berkata-kata tentang umat Allah sebagai istri Tuhan dalam
keadilan dan kebenaran (Hos. 2:18). Hal ini merupakan suatu
perubahan yang sangat radikal sehingga hanya dapat digambarkan
sebagai kebangkitan tulang-tulang kering (Yeh. 37:4-10), pemberian
hati yang baru (Yeh. 36:26), yang berarti penempatan Roh Allah
sendiri di dalam diri umat-Nya. [20]

III. KESIMPULAN
Maka dengan uraian diatas, kita dapat menemukan bahwa
sesungguhnya inti pengajaran dari Perjanjian Lama, juga adalah
menyangkut akan karya keselamatan Allah, yang dalam puncaknya
akan digenapi dalam diri Kristus. Perjanjian Lama, tidak sedang
mengajarkan bahwa ada keselamatan diluar Kristus. Perjanjian Lama
mengajarkan keselamatan sebagai suatu kepercayaan atau iman akan
“Penggenapan Janji Allah” dalam diri Mesias. Konsep tentang
keselamatan dalam Perjanjian Lama, tidak selalu menyangkut pada
kehidupan setelah kematian, tetapi memiliki cakupan yang cukup
luas, termasuk didalamnya kesembuhan dari penyakit, kelepasan dari
tangan musuh, keselamatan bangsa dari serangan atau jajahan bangsa
lain dan lain sebagainya.
Kurban adalah sebagai tipologi tentang Kristus, sehingga bangsa
Israel dapat terus mengingat dan menantikan akan sang Mesias.
Kurban tidak memberikan suatu penebusan yang sempurna, hanya
dalam Kristuslah kesempurnaan penebusan dinyatakan oleh Allah,
sekali untuk selama-lamanya. Oleh karena itulah penebusan Kristus
menjadi satu-satunya pengharapan yang sempurna bagin
keselamatan.
Perjanjian Barupun sering menyatakan bahwa kedatangan
Kristus adalah sebagai penggenapan dari Perjanjian Lama. Penulis
Surat Ibrani mengemukakan bahwa Yesus adalah pewaris dari semua
yang telah dikatakan Allah melalui para nabi (Ibrani 1:1-2). Yesus
sendiri menandaskan bahwa Ia datang untuk menggenapi Taurat dan
kitab nabi-nabi (Matius 5:17). Setelah kebangkitan-Nya yang penuh
kemuliaan, Ia menunjukkan kepada para pengikut-Nya dari Taurat
Musa, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur (yaitu, ketiga bagian utama
Perjanjian Lama Ibrani) bahwa Allah sudah sejak lama menubuatkan
segala sesuatu yang terjadi pada diri-Nya (Lukas 24:25-27, 44-46).
Perjanjian Lama "adalah penuntun bagi orang-orang yang percaya
pada Tuhan sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena
iman" (Galatia 3:24).

DAFTAR PUSTAKA

Berkof, Louis, Teologi Sistematika: Doktrin Keselamatan, Yudha Thianto, Surabaya:

Momentum, 2006.

Dyrness, William, Tema-tema dalam Teology Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1990.

Foaster, W. dkk, “Keselamatan” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, J. D Douglas, penyunting,

Jakarta: Yayasan Bina Kasih OMF, 2007


Kohler, Ludwig, Old Testament Theology, Philadelphia: The Westminster Press, 1957.

Lasor, W. S., Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan Sejarah, Jakarta: BPK Gunung Mulia,

2006.

Preuss, Horst Dietrich, Old Testament Theology, Volume II, Kentucky, Westminster John Knox

Press, 1992.

Surbakti, Elisa B., Benarkah YESUS Juruselamat Universal, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Walvoord, John F, Yesus Kristus Tuhan Kita, Jakarta: Yakin, 1969.

Westerman, Claus, Elements Of Old Testament Theology, Atlanta: John Knox Press, 1978.

Westerman, Clauss, Prophetic Oracles of salvation in The Old Testament, Kentucky: John Knox

Press, 1991.

Wright, Christ, Tuhan Yesus memang khas dan unik, Jakarta: Yayasan Bina Kasih OMF, 2003.

Anda mungkin juga menyukai