LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN
DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI (DPD)
A. MASALAH UTAMA
Defisit Perawatan Diri
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
1. latar Belakang
Menurut UU Nomor 18 pasal 1 & 3 Tahun 20 20 Kesehatan Jiwa
adalahkondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental,spiritual,dan
sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri, dapat
mengatasi tekanan, bekerja secara produktif serta mampumemberikan kontribusi untuk
komunitasnya (UU Kesehatan Jiwa, 2019).Apabila seseorang/individu tersebut mengalami
kesehatan jiwa baik fisik,mental, spiritual, tapi tidak dapat mengendalikan stres dan tidak
ingin bersosialisasi dengan orang lain maka individu tersebut mengalami gangguan jiwa.
D a t a World Health Organization (WHO) menunjukkan, terdapat sekitar 350 juta
orang mengalami depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta orangmenderita skizofrenia,
serta 47,5 juta orang terkena dimensia. Karena berbagaifaktor biologis, psikologis, sosial dan
keanekaragaman penduduk, maka jumlahkasus gangguan jiwa terus bertambah serta
memberikan dampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia
untuk jangka panjang (WHO, 2019).
2. Definisi
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalan memenuhi kebutuhan guna
mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi
kesehatannya. (Depkes, 2000 dalam Wibowo, 2020).
Seseorang yang tidak dapat melakukan perawatan diri dinyatakan mengalami deficit
perawatan diri. Nurjanah (2019) dalam Wibowo (2021), mengemukakan bahwa Defisit
perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri
(Mandi, berhias, makan, toileting).
pasien yang mengalami gangguan jiwa kronik seringkali tidak memperdulikan perawatan diri.
Hal ini menyebabkan pasien dikucilkan dalam keluarga dan masyarakat (Keliat, 2019).
3. penyebab atau etiologi
a. faktor Predisposisi
- Perkembangan keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
- Biologis penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan
diri.
- Kemampuan realitas turun klien gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang
kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinyan dan lingkungan termasuk perawatan
diri.
- Sosial kurang dukungan dan Latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.
Situasi lingkungan mempengaruhi Latihan kemampuan dalam perawatan diri.
b. faktor Presipitasi
Yang merupakan faktor presipitasi deficit perawatann diri adalah kurang penurunan
motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, Lelah/lemah yang dialami individu
sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. (Depkes,
dalam Anonim 2019). Sedangkan Tarwoto dan Wartonah (2020) mentakan bahwa
kurangnya perawatan diri disebabkan oleh kelelahan fisik dan penurunan kesadaran.
4. Jenis-Jenis/ Klasifikasi
menurut Nanda(2019), jenis perawatan diri terdiri dari:
a. Defisit perawatan diri: Mandi
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan mandi atau beraktifitas
perawatan diri untuk diri sendiri.
b. Defisit perawatan diri: Berpakaian
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau aktifitas berpakaian dan berhias untuk diri
sendiri.
c. Defisit perawatan diri: Makan
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitas makan secara
mandiri.
d. Defisit perawatan diri: Eliminasi/toileting
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitas eleminasi sendiri.
5. Rentang Respon
Menurut Dermawan (2019), adapun rentang respon defisit perawatan diri sebagai
berikut :
Pola perawatan Kadang perawatan Tidak melakukan
diri seimbang diri kadang tidak baik perawatan diri pada
saat stres
6. Pathofisiologi
7. Tanda dan Gejala
Menurut Depkes (2019) tanda dan gejala klien dengan deficit perawatan diri:
a. Fisik
1). Badan bau, pakaian kotor.
2). Rambut dan kulit kotor
3). Kuku panjang dan kotor.
4). Gigi kotor disertai bau mulut
5). Penampilan tidak rapih
b. Psikologi
1). Malas, tidak ada inisiatif
2). Menarik diri, isolasi diri
3). Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c. Sosial
1). Interaksi kurang
2). Kegiatan kurang
3). Tidak mampu berperilaku sesuai norma
4). Cara makan tidak teratur
5). Buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) sembarang tempat
6). Gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri
8. Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Mekanisme koping adaptif mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi
pertumbuhan belajar dan mencapai tujuan. Kategori ini adalah klien busa memenuhi
kebutuhan perawatan diri secara mandiri.
2) Mekanisme koping maladaptif, Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi,
memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.
Kategorinya adalah tidak mau merawat diri (Damaiyanti, 2019).
9. Pemeriksaan Penunjang
10. Penatalaksanaan
a. farmakologi/Medis
- Obat anti psikosis: Penotizin
- Obat anti depresi: Amitripilin
- Obat anti ansietas: Diazepam, Bromozepam, Klobozam
- Obat anti insomnia: Phneobarbital
b. Non Farmakologis
- BHSP (Bina hubungan saling percaya)
- Jangan memancing emosi klien
- Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan keluarga
- Berikan kesempatan klien mengemukakan pendapat
- Dengarkan, bantu dan anjurkan klien untuk mengemukakan masalaha yang
dialaminya.
- Terapi music, Terapi bermain.
11. Pengkajian
a. Data Subjektif
1. Klien mengatakan dirinya malas mandi karna airnya dingin atau dirumah sakit tidak
tersedia alat mandi.
2. Klien mengatakan dirinya malas berdandan.
3. Klien mengatakan ingin disuapi makan.
4. Klien mengatakan jarang membersihkan alat kelaminnya setelah BAB maupun BAK.
b. Data Objektif
1. Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit
berdaki dan berbau serta kuku panjang dan kotor.
2. Ketidakmampuan berpakaian atau berhias ditandai dengan rambut acak-acakan, pakaina
kotor dan tidak rapih, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur(laki-laki), atau tidak berdandan
(wanita).
3. Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ketidakmampuan mengambil
makan sendiri, makan berceceran dan makan tidak pada tempatnya.
4. Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai dengan BAB/BAK tidak pada
tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK.
12. Pohon Masalah
13. Diagnosa Keperawatan
1). Defisit perawatan diri
2). Isolasi social: Menarik diri
3). Gangguan pemeliharaan kesehatan
14. Intervensi
Menurut dermawan (2019), penatalaksanaan defisit perawatan diridapat dilakukan dengan
pendekatan strategi pelaksanaan (SP). Strategi pelaksanaan tersebut adalah :
SP 1 pasien :
identifikasi masalah perawatan diri : kebersihan diri, berdandan,makan/minum,
BAB/BAK.
Jelaskan pentingnya kebersihan diri.
Jelaskan cara dan alat kebersihan diri.
Latih cara menjaga kebersihan diri : mandi dan ganti pakaian, sikatgigi, cuci rambut,
potong kuku.
Masukkan pada jadwal kegiatan harian untuk latihan mandi,sikat gigi (2 kali per hari),
cuci rambut ( 2 kali per minggu), potongkuku (satu kali per minggu).
SP 2 pasien :
Evaluasi kegiatan kebersihan diri. Beri pujian.
Jelaskan cara dan alat untuk berdandan.
Latih cara berdandan setelah kebersihan diri : sisiran, rias mukauntuk perempuan; sisiran,
cukuran untuk pria.
Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri dan berdandan.
SP 3 pasien :
Evaluasi kegiatan kebersihan diri dan berdandan. Beri pujian.
Jelaskan cara dan alat makan dan minum.
Latih cara dan alat makan dan minum.
Latih cara makan dan minum yang baik.
Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan kebersihan diri, berdandan, makan dan
minum yang baik.
SP 4 pasien :
Evaluasi kegiatan kebersihan diri, berdandan, makan dan [Link] pujian.
Jelaskan cara buang air besar dan buang air kecil yang baik.
Latih buang air besar dan buang air kecil yang baik.
Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan kebersihan diri, berdandan, makan dan
minum serta buang air besar dan buang air kecil
15. Implimentasi
implementasi tindakan keperawatan disesuikan dengan rencana tindakan keperawatan.
Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncnakan, perawata perlu memvalidasi
dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh pasien saat ini.
Semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon pasien disokumentasikan
(Prabowo,2019)
16. Evaluasi
Menurut Direja (2011), evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk m e n i l a i e f e k d a r i
t i n d a k a n k e p e r a w a t a n k e p a d a p a s i e n . E v a l u a s i d a p a t dibagi dua yaitu:
Evaluasi proses atau formatif yang dilakukan setiap selesaimelaksanakan tindakan,
evaluasi hasil tau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan antara respons
pasien dan tujuan khusus serta umum yangtelah [Link] dapat dilakukan dengan
menggunakan pendekatan SOAP,sebagai berikut
S : Respon subjektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan dapat di ukur dengan menanyakan kepada pasienlangsung.
O : Respon objektif pasien terhadap tinddakan keperawatan yang
telahdilaksanakan. Dapat diukur dengan mengobservasi perilaku pasien pada saat tindakan
dilakukan.
A :Analisis ulang atas data subjektif data subjektif dan objektif
untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baruatau ada data
yang kontradiksi dengan masalah yang ada .
P :Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisis pada respon pasien yang terdiri
dari tindakan lanjut pasien dan tindakan lanjut oleh perawat
17. Daftar pustaka
[Link]
Ayuningtyas-1
[Link]
LAPORAN_PENDAHULUAN_DEFISIT_PERAWATAN_DIRI_docx
[Link]
[Link]
askep-keperawatan-jiwa/lp-defisit-perawatan-diri/38204389
[Link]