0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan28 halaman

Konsep Model Problem Based Learning

Diunggah oleh

siti.rosidah280491
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan28 halaman

Konsep Model Problem Based Learning

Diunggah oleh

siti.rosidah280491
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KONSEP MODEL PROBLEM BASED LEARNING


Bab ini akan menjawab rumusan masalah satu yakni mengenai konsep
model Problem Based Learning. Penelitian ini menggunakan metode studi
pustaka atau studi literatur. Dalam bab kali ini mencakup beberapa pembahasan
seperti definisi, karakteristik, kelebihan, kekurangan mengenai model Problem
Based Learning yaitu:
A. Konsep Model Problem Based Learning
1. Pengertian Model Problem Based Learning
Model pembelajaran dalam proses belajar mengajar sangatlah penting,
dimana dengan adanya model pembelajaran maka proses pembelajaran akan
berjalan dengan baik dan membantu mencapai tujuan pembelajaran. salah satu
model pembelajaran yaitu model Problem Based Learning. Menurut
Wisudawati dan Sulistyowati (2014, hlm. 89) menjelaskan bahwa model
Problem Based Learning yang dikembangkan oleh Johns Hopkins University
yang diharapkan dapat membantu suatu proses pembelajaran sehingga siswa
belajar memahami pengetahuan dan kemampuan pemecahan masalah dengan
dihubungkan dengan situasi masalah yang terdapat di dunia nyata. Adapun
Hamdayama (2016, hlm. 116) berpendapat bahwa model Problem Based
Learning merupakan pembelajaran yang memusatkan pada masalah yang
bermakna bagi peserta didik. Adapun Hosnan (2014, hlm. 295) menjelaskan
bahwa Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran
dengan adanya suatu pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik
sehingga siswa dapat menyusun pengetahuan sendiri, menumbuhkembangkan
keterampilan yang lebih tinggi.
Menurut Purnaningsih (2019, hlm. 367-375) menjelaskan bahwa model
Problem Based Learning ialah suatu model strategi pembelajaran yang
siswanya secara kolaboratif memecahkan masalah dan merefleksi pengalaman.
Selain itu, Ultrafani dan Turnip (dalam Rerung, Iriwi dan Sri 2017, hlm. 49)
menjelaskan bahwa Problem Based Learning merupakan model pembelajaran
yang mengikutsertakan siswa untuk mencari solusi dan memecahkan masalah
melalui metode ilmiah sehingga siswa dapat mencari tahu dan mempelajar

56
57

suatu pengetahuan yang dapat dikaitkan dengan masalah yang sedang


dipecahkan serta dapat menambah keterampilan siswa untuk memecahkan
masalah. Amir (2016, hlm. 21) mengemukakan bahwa model Problem Based
Learning merupakan model yang menggunakan pendekatan sistematik untuk
memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang akan diperlukan dalam
kehidupan nyata. Selain itu menurut Cahyo (2013, hlm. 283) menjelaskan
bahwa Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran yang
didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan
integrasi pengetahuan baru.
Selanjutnya menurut Hasiao (dalam Yamin 2011, hlm. 30) menjelaskan
bahwa model Problem Based Learning yaitu pembelajaran yang
mengutamakan adanya suatu permasalahan yang harus dipecahkan, bukan
suatu pembelajaran yang dimulai untuk menjelaskan suatu materi pembelajaran
saja. selain itu menurut menurut Surya (2017, hlm. 41) menjelaskan bahwa
model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang inovatif
yang berangkat dari masalah yang dapat dihubungan dengan dunia nyata
sehingga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada siswa dalam
mencari solusi. Sejalan itu Amin (2017, hlm. 26) menjelaskan bahwa model
Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang
menggunakan masalah nyata sebagai konteks utama dalam proses
pembelajaran bagi peserta didik dalam memecahkan masalah dan berpikir
kritis untuk memperoleh pengetahuan dan belajar dalam mengambil
keputusan.
Selain itu menurut Trianto (2010, hlm. 44) model pembelajaran berbasis
masalah yaitu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya
permasalahan yang menggunakan penyelidikan autentik yaitu penyelidikan
dengan adanya suatu penyelesaian nyata dari permasalahan nyata. Selanjutnya
menurut Yusri (2018, hlm. 53) menjelaskan bahwa model Problem Based
Learning didesain dalam bentuk pembelajaran yang diutamakan dengan
struktur masalah nyata yang saling terkait dengan konsep yang sedang
dipelajari sehingga siswa ikut berperan aktif dalam pembelajaran. Menurut
Dewi dan Oksiana (2015, hlm. 937) menjelaskan bahwa model Problem Based
58

Learning merupakan pembelajaran yang menitikberatkan pada masalah nyata


sebagai konteks utama dalam proses pembelajaran bagi siswa untuk
mengembangkan keterampilan dalam menyelesaikan permasalahan dan
berpikir kritis, serta membangun pengertahuan baru.
Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa model Problem
Based Learning merupakan model pembelajaran yang memfokuskan
permasalahan pada pembelajaran. Pembelajaran yang diberikan
mengorientasikan siswa pada permasalahan yang harus dipecahkan, serta
memberikan pengetahuan baru serta materi atau solusi yang didapatkan bisa
dikaitkan dengan pengalaman atau pengetahuan autentik, sehingga siswa dapat
dengan mudah mencari solusi dan memecahkan masalah yang diberikan.
Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang
memusatkan pembelajaran masalah yang diberikan, sehingga siswa diharapkan
bisa memecahkan masalah dan dapat menambah pengetahuannya sendiri. Dari
hasil analisis beberapa teori di atas mengenai pengertian/definisi model
Problem Based Learning penulis menemukan permasamaan pengertian/definisi
mengenai model Problem Based Learning diantaranya seperti teori yang
dijelaskan oleh Wisudawati dan Sulistyowati (2014), Hamdayama (2016),
Hosnan (2014), Purnaningsih (2019), Ultrafani dan Turnip dalam Rerung, iriwi
dan Sri (2017), Amir (2016), Cahyo (2013), Hasiao dalam Yamin (2011),
Surya (2017), Amin (2017), Trianto (2010), Yusri (2018), Dewi dan Oksiana
(2015).
Dari beberapa teori tersebut menjelaskan mengenai model Problem
Based Learning yaitu bahwa model Problem Based Learning merupakan
model pembelajaran yang memusatkan pada permasalahan, sehingga siswa
dapat menyusun pengetahuannya sendiri, mencari solusi, mengembangkan
keterampilan, serta menciptakan pembelajaran yang aktif, dan mempelajari
suatu pengetahuan yang dapat mengasah siswa dalam memecahkan masalah.
Sejalan dengan itu sesuai yang dijelaskan oleh Purnaningsih (2019, hlm. 367-
375) menjelaskan bahwa model Problem Based Learning ialah suatu model
strategi pembelajaran yang siswanya secara kolaboratif memecahkan masalah
dan merefleksi pengalaman. Melalui model tersebut diharapkan siswa lebih
59

aktif dan pembelajaran lebih bermakna dengan pengalaman yang dimiliki.


Pengetian tersebut dapat didukung oleh Purnaningsih (2019, hlm. 367-375)
menjelaskan bahwa model Problem Based Learning ialah suatu model strategi
pembelajaran yang siswanya secara kolaboratif memecahkan masalah dan
merefleksi pengalaman. Melalui model tersebut diharapkan siswa lebih aktif
dan pembelajaran lebih bermakna dengan pengalaman yang dimiliki.
Selanjutnya penulis juga mendapatkan perbedaan dari beberapa teori
mengenai model Problem Based Learning tersebut, seperti teori yang
dijelaskan oleh Wisudawati dan Sulistyowati (2014), Hosnan (2014),
Purnaningsih (2019), Amir (2016), Surya (2017), Trianto (2010) serta Yusri
(2018) menjelasan bahwa dalam model Problem Based Learning menjelaskan
adanya suatu permasalahan yang didapatkan atau dilakukan dengan dikaitkan
dengan dunia nyata atau penyelidikan autentik. Sejalan dengan pendapat Islam,
dkk (2018, hlm. 613-628) memaparkan bahwa model Problem Based Learning
merupakan model yang menggunakan masalah autentik (nyata) yang dijadikan
suatu konteks bagi siswa untuk memecahkan permasalahan dan berpikir kritis
untuk memperoleh pengetahuan dan belajar mengambil keputusan.
Sedangkan, teori menurut Hamdayama (2016), Ultrafani dan Turnip dalam
Rerung, iriwi dan Sri (2017), Cahyo ((2013), Hasiao dalam Yamin (2011),
Amin (2017), serta Dewi dan Oksiana (2015) tidak menjelaskan adanya suatu
permasalahan yang dikaitkan atau dilakukan dengan dunia nyata hanya
menjelaskan tentang adanya suatu permasalahannya saja dan membangun
kemampuan baru bagi siswa.
Jadi penulis dapat menyimpulkan dari perbedaan dan persamaan teori di
atas mengenai pengertian/definisi model Problem Based learning. Model
Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang inovatif yang
digunakan dalam proses pembelajaran yang berakar dari masalah nyata atau
autentik untuk meningkatkan keterampilan berfikir siswa serta
mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan mencari solusi dalam
proses pembelajara sehingga siswa dapat memperdayakan, mengasah, menguji,
dan mengembangkan pengetahuan baru yang menggunakan instruktur sebagai
pelatihan dan diakhiri dengan penyajian serta analisis kerja siswa. Dari
60

beberapa teori di atas tidak ada teori yang salah, karena dalam setiap teori
memiliki teorinya masing-masing untuk mendefinidikan pengertian mengenai
model Problem Based Learning.

2. Karakteristik Model Problem Based Learning


Model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran
tentunya memiliki beberapa karakteristik yang berbeda. Di bawah ini
merupakan karakteristik model Problem Based Learning, menurut Barrow dan
Min Liu (dalam shoimin, 2018, hlm. 130) menjelas bahwa karakteristik
Problem Based Learning yaitu :
a. Kegiatan belajar harus berorientasi pada peserta didik.
b. Permasalahan bersifat otentik atau berdasarkan dunia nyata.
c. Peserta didik secara aktif mencari sendiri sumber informasi baru yang
relevan.
d. Pembelajaran dilakukan dengan cara berdiskusi di dalam kelompok atau
tim kecil.
e. Guru bertindak sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.
Adapun karakteristik yang dijelaskan oleh Mulyasa (2016, hlm. 133):
a. Pemberian gagasan inti. Pada pembelajaran ini siswa diberikan gagasan
agar menjadikan petunjuk atau sumber informasi yang dibutuhkan oleh
siswa dalam pengumpulan informasi kegiatan belajar mengajar.
b. Mendefinisikan masalah. Siswa diberikan skenario atau permasalahan
yang akan dihadapi oleh kelompoknya dalam melakukan berbagai
kegiatan.
c. Belajar secara mandiri. Siswa secara mandiri mengumpulkan informasi
yang dibutuhkan agar mampu menyelesaikan permasalahan yang tengah
dihadapi.
d. Saling bertukar informasi atau pengetahuan. Siswa melakukan diskusi
bersama teman sebayanya atu kepada anggota kelompoknya dalam
memecahkan suatu pembelajaran sehinga pembelajaran akan lebih mudah
diselesaikan.
61

Adapun karateristik yang dijelaskan oleh Setyawati (2015, hlm. 93-99)


menyebutkan karakteristik model Problem Based Learning, yaitu:
a. Adanya pengajuan pertanyaan atau masalah.
b. Berfokus pada keterkaitan antara disiplin.
c. Penyelidikan autentik.
d. Menghasilkan karya.
e. Kerjasama.
Selain itu terdapat beebrapa karakteristik yang dijelaskan oleh Barrow
dan Anderson (dalam Amin, 2017, hlm. 26) diantaranya:
a. Pembelajaran Problem Based Learning merupakan pembelajaran yang
berbasis masalah. Dimana siswa dihadapkan pada masalah-masalah yang
diberikan.
b. Model Problem Based Learning bersifat memecahkan masalah dan
mengarahkan siswa menemukan solusi atas masalah yang dihadapi sehari-
hari.
c. Model Problem Based Learning yaitu pembelajaran yang bersifat pada
siswa.
d. Model Problem Based Learning bersifat mandiri. Sehinga siswa selalu
berusaha tanpa bergantung pada orang lain.
e. Bersifat reflektif, dengan demikian siswa dapat mengidentifikasi masalah,
mengumpulkan informasi penting, dan menemukan alternatuf solusi
pemecah permasalahannya melalui diskusi bersama kelompok.
Selanjutnya karakteristik yang dideskripsikan oleh Suyadi (2013,
hlm.131) diantaranya:
a. Model Problem Based Learning merupakan serangkaian suatu aktivitas.
Dimana model ini memiliki beberapa rangkaian kata yang harus
dilaksanakan oleh siswa. Tidak diharapkan mendengar guru, melainkan
siswa juga harus berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah
informasi, serta menyimpulkan.
b. Aktivitas pembelajaran diorientasikan pada penyelesaian masalah. Dalam
pembelajaran ini menempatkan masalah sebagai kata kunci dalam proses
62

pembelajaran. dengan kata lain, tanpa adanya masalah maka pembelajaran


tidak akan berlangsung.
c. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir
secara ilmiah. Berfikir secara ilmiah yaitu proses berfikir deduktif dan
induktif. Proses berfikir ini dilakukan dengan sistematis dan empiris.
Selain itu karakteristik pembelajaran Problem Based Learning menurut
Nur dan Ibrahim (dalam Yuyun, 2017, hlm. 59) antara lain:
a. Pengajuan masalah atau pertanyaan secara sosial penting dan secara
pribadi bermakna untuk siswa karena sesuai dengan kehidupan nyata
autentik, dihadiri oleh jawaban sederhana dan memungkinkan adanya
berbagai macam solusi untuk berbagai situasi.
b. Berfokus pada keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu.
c. Penyelidikan autentik dimana siswa menganalisis dan mengidentifikasikan
masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika
diperlukan), membuat referensi dan merumuskan kesimpulan.
d. Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya.
Adapun karakteristik yang dijelaskan oleh Rusman (2014, hlm. 56)
diantaranya yaitu:
a. Starting point dalam belajar adalah permasalahan.
b. Permasalahan bersifat realistis dan tidak terstuktur.
c. Harus ada perseptif ganda dalam permasalahan.
d. Permasalahan diperlukan untuk menggali kemampuan siswa baik sikap
maupun kompetensi yang bertujuan guna mengidentifikasi kebutuhan
belajar siswa dan bidang baru yang dibutuhkan.
e. Yang menjadi hal penting dalam belajar ialah pengarahan diri.
f. Proses esensial dalam PBL terdiri dari pemanfaatan sumber informasi
yang variatif, pengaplikasiannya dan evaluasi sumber informasi.
g. Belajar harus bersifat kolaboratif, interaktif, dan kooperatif.
h. Pencarian solusi permasalahan dilakukan dengan penguasaan isi
pengetahuan, keterampilan memecahkan masalah.
i. Integrasi dan sintesis dari sebuah proses belajar merupakan bagian dari
keterbukaan PBL.
j. PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman peseta didik dan
proses belajar.

Selanjutnya dijelaskan oleh Putra (2013, hlm. 72-73) bahwa


karakteristik model Problem Based Learning yaitu:
63

a. Proses pembelajaran menggunakan kelompok kecil dan berdiskusi.


b. Diawalinya dengan permasalahan yang telah disediakan.
c. Permasalahan yang diberikan kepada siswa harus berkaitan dengan dunia
nyata peserta didik.
d. Memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ditungtut untuk bisa
mendemostrasikan atau mempresentasikan mengenai materi yang sudah
dipelajari dalam bentuk kerja kelompok.
e. Konsep dalam pembelajaran lebih mengarahkan kepada pengorganisasian
pembelajaran berbasis masalah, bukan disiplin ilmu.
f. Guru memberikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk membentuk
dan menjalankan secara langsung kegiatan proses belajar.
Selain itu karakteristik model Problem Based Learning menurut Eggen
dan Kauchack (2012, hlm. 47), diantaranya :
a. Pelajaran berfokus pada memecahkan masalah,
b. Tanggung jawab untuk memecahkan masalah bertumpu pada siswa,
c. Guru mendukung proses saat siswa mengerjakan masalah.
Adapun menurut Tan (dalam Amir, 2013 hlm. 22) mengemukakan
bahwa karakteristisk model Problem Based Learning diantaranya:
a. Menggunakan masalah sebagai awal pembelajaran.
b. Biasanya masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata
yang disajikan secara mengambang.
c. Masalah biasanya menuntut perspektif majemuk. Dalam hal ini dapat
menuntut siswa menggunakan dan mendapatkan konsep dari
beberapa ilmu yang sebelumnya telah diajarkan atau lintas ilmu
bidang lainnya.
d. Masalah membuat siswa tertantang untuk mendapatkan
pembelajaran diranah pembelajaran yang baru.
e. Sangat mengemukakan belajar mandiri (self directed learning)
f. Memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak dari satu
sumber saja.
g. Pembelajaran kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif. Sisea bekerja
dalam kelompok, berinteraksi, saling mengerjakan (peer teaching),
dan melakukan presentasi.
Adapun menurut Gijblc (dalam Mahyana, 2018 hlm. 10) menjelaskan
karakteristik model Problem Based Learning yaitu:
a. Pembelajaran dimulai dengan mengankat suatu permasalahan atau suatu
pertanyaan yang akan menjadi focal poin untuk keperluan usaha-usaha
64

b. Siswa memiliki tanggung jawab utama dalam menyelidiki masalah-


masalah dan memburu pertanyaan-pertanyaan.
c. Guru dalam pembelajaran Problem Based Learning berperan sebagai
fasilitator.
Selanjutnya menurut Sanjaya (2010, hlm. 214-215) terdapat tiga
karakteristik dalam model Problem Based Learning (PBL) diantarannya:
a. Aktivitas pembelajaran diarahkan agar siswa aktif berpikir,
berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan,
b. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Masalah
sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Tanpa masalah tidak
mungkin ada proses pembelajaran, dan
c. pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir
ilmiah. Berpikir ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif.
Selain itu karakteristik menurut Zabit (2010, hlm. 20) mengemukakan
bahwa karakteristik model Problem Based Learning yaitu:
a. Berpusat pada siswa,
b. Berbasis pada masalah,
c. Penyelesaian masalah,
d. Menentukan sendiri cara untuk menyelesaikan masalah,
e. Siswa mendapatkan informasi kembali dari permasalahan yang ada dan
mereka baru menyelesaikannya,
f. Kolaboratif,
g. Merefleksi diri,
h. Mengevaluasi kembali untuk mengetahui perkembangan dari apa yang
diperoleh.

Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik


model Problem Based Learning yaitu model pembelajaran mememusatkan
pembelajaran pada permsalahan, guru menjadi fasilitator dalam proses
pembelajaran, membuat siswa aktif dan kreatif dalam memecahkan suatu
msalah dan dapat dikaitkan dengan dunia nyata sehingga mendapatkan
pengetahuan yang baru.
65

Model pembelajaran tentunya memiliki karakteristik yang berbeda


dengan model-model lainnya. Dari hasil analisis penulis menemukan
persamaan karakteristik dari beberapa teori yang digunakan yaitu teori Min
Liu dalam Shoimin (2018), Mulyasa (2016), Sanjaya (2010), Barrow dan
Anderson dalam Amin (2017), Suyadi (2013), Nur dan Ibrahim dalam Yuyun
(2017), Rusman (2014), Putra (2013), Eggen dan Kauchack (2012), Tan
dalam Amir (2013), Gijblc, Sanjaya (2010), serta Zabit (2010). Persamaan
karakteristik dari beberapa teori tersebut menjelaskan bahwa karakteristik
model Problem Based Learning merupakan model yang memiliki masalah
yang harus dipecahkan dan proses pembelajarannya berpusat pada masalah
yang diberikan. Hal tersebut dapat diperkuat dengan teori dari salah satu buku
Huriah (2018, hlm. 14), karakteristik model Problem Based Learning bersifan
Student Center, guru hanya sebagai fasilitator, masalah menjadi fokus
pembelajaran, sebagai sarana pengembangan kemampuan pemecahan
masalah, dan pengetahuan baru diperoleh dari hasil belajar mandiri (Self
Directed Learning).
Selanjutnya persamaan pertama juga ditemukan dari beberapa teori
seperti teori yang dijelaskan oleh Min Liu dalam Shoimin (2018), Mulyasa
(2016), Setyawati (2015), Rusman (2014), Putra (2013), dan Zabit (2010)
menjelaskan bahwa karakteristik model Problem Based Learning yaitu proses
pembelajarannya melibatkan kelompok, bersifat kolaboratif, interaktif, dan
pembelajaran dilakukam secara diskusi bersama tim. Selain itu persamaan
kedua yaitu teori Min Liu dalam Shoimin (2018), Putra (2013), Eggen dan
Kauchack (2012), menjelaskan bahwa karakteristik model Problem Based
Learning yaitu guru sebagai fasilitator dan membimbing dalam proses
pembelajaran dalam memecahkan masalah. Adapun persamaan yang ketiga
yaitu teori Sanjaya (2010), Suyadi (2013), menjelaskan bahwa karakteristik
model Problem Based Learning yaitu pemecahan masalah dilakukan dengan
menggunakan pendekatan berfikir ilmiah dan proses berfikir induktif dan
deduktif. Selain itu persamaan yang keempat dari teori Min Liu dalam
Shoimin (2018), Barrow dan Anderson dalam Amin (2017), Suyadi (2013),
Nur dan Ibahim dalam yuyun (2017), Rusman (2014), Putra (2013), serta Tan
66

dalam Amir (2013) menjelaskan bahwa karakteristik model Problem Based


Learning yaitu menyangkutkan masalah dengan dunia nyata atau
penyelidikan autentik. Selanjutya persamaan yang ke lima dari teori Nur dan
Ibrahim dalam Yuyun (2017), Suyadi (2013) serta Barrow dan Anderson
dalam Amir (2017) mendeskripiskan bawah karakteristik model Problem
Based Learning yaitu siswa dapat menganalisis, mengidentifikasi dan
mengumpulkan informasi sebagai bahan untuk mecari solusi dalam
memecahkan masalah. Permasaan yang terakhir yaitu dari teori Min Liu
dalam Shoimin (2018), Barrow dan Anderson (2017) menjelaskan bahwa
karakteristik model Problem Based Learning yaitu berorientasi pada siswa.
Sejalan dengan pendapat Agustin (2013, hlm. 36-44) memaparkan mengenai
karakteristik model Problem Based Learning, diantaranya: a). ada model
Problem Based Learning guru lebih berperan sebagai pembimbing dan
fasilitator, b). iswa dituntut untuk belajar berpikir kritis dan memecahkan
masalah mereka sendiri, dan c). siswa dituntut lebih aktif.
Dari beberapa persamaan tersebut penulis juga mendapatkan perbedaan
yaitu menurut teori Barrow dan Anderson (2017) menjelaskan bahwa
karakteristik model Problem Based learning yaitu model yang bersifat
mandiri dan siswa tidak bergantung pada temannya, selanjutnya perbedaan
dari teori Rusman (2014) yaitu menjelaskan dalam karakteristiknya bahwa
model Probem Based Learning merupakan model yang berintegrasi dan
sintesis dari sebuah proses belajar merupakan bagian dari keterbukaan
Problem Based Learning. Jadi itulah perbedaan yang tida terapat dari teori-
teori sebelumnya. Dari hasil analisis penulis tersebut tidak ada teori yang
salah dalam mendeskripsikan karakteristik mengenai mode Problem Based
learning, hanya berbeda dari cara menyampaikan dan menjelaskannya saja.
Dari beberapa teori hasil analisis penulis di atas dapat disimpulkan
bahwa karakteristik model Problem Based learning sebagai berikut:
a. Model pembelajaran yang berpusat pada siswa.
b. guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.
c. Memusatkan pembelajaran pada permasalahan.
d. Melakukan dan mencari solusi secara berkelompok.
67

e. Saling bertukar pengetahuan satu sama lain sehingga memberikan


pengetahuan baru pada siswa.
f. Penyeledikan secara autentik atau dapat dikaitkan dengan dunia nyata.
g. Diharapkan menciptakan suatu pembelajaran yang bermakna.
h. Dapat mencapai tujuan pembelajaran.
i. Adanya suatu karya yang dihasilkan.
j. Adanya evaluasi dan mereview pengalaman pesert didik dalam
pembelajaran.

3. Kelebihan Model Problem Based Learning


Model Problem Based Learning memeliki kelebihan yang berbeda
dengan model-model lainnya. berikut kelebihan yang dijelaskan menurut
Barret (dalam Dewi dan Oksiana, 2015 hlm. 938) diantaranya:
a. Siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan suatu
permasalahan dalam situasi nyata.
b. Siswa diharapkan memiliki kemampuan membangun pengetahuannya
sendiri melalui aktivitas belajar.
c. Pembelajaran berfokus pada maalah sehingga materi yang tidak ada
hubungannya tidak perlu saat itu dipelajari oleh siswa.
d. Terjadinya suatu aktivitas ilmiah pada siswa melalui kerja kelompok.
e. Sumber-sumber pengetahuan yang biasa digunakan siswa bisa didapatkan
dari perpustakaan, internet, wawancara dan observasi.
f. Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri.
g. Siswa mememiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah
dalam pelaksaan diskusi atau presentasi hasil pekerjaannya.
h. Kesulitasn belajar siswa secara individual dapat diatasi melalui kerja
kelompok dalam bentuk peer teaching.
Selanjutnya kelebihan model Problem Based Learning menurut Nisa
(2016, hlm. 49) yaitu:
a. Pelaksanaan pembelajaran siswa terlibat aktif dan Siswa belajar materi
secara bermakna dengan belajar dan berfikir.
68

b. Orientasi pembelajaran merupakan suatu investasi dan penemuan yang ada


pada dasarnya merupakan suatu pemecahan masalah sehingga perhatian
siswa dapat terpusat.
c. Pengetahuannya bertahan lama, dapat diingat, jika dibandingkan dengan
pengetahuan yang diperoleh dengan sebagian model pembelajaran.
d. Penalaran dan berfikir kritis siswa dapat ditingkatkan
e. Dapat membangkitkan keinginan siswa, memotivasi untuk bekerja terus
sampai menemukan jawaban.
f. Menjadikan siswa lebih mandiri dan tidak bergantung pada siapapun.
g. Dapat memeberikan pembelajaran yang lebih luas dan lebis kongkrit.
Selain itu beberapa kelebihan yang dideskripsikan oleh Wasonawati,
Redjki dan Araini (2014, hlm. 66) yaitu:
a. Model Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar
siswa dalam proses pembelajaran, jadi siswa dapat lebih tertarik dan tidak
cepat bosan sehingga dapat meningkatkan kreativitas dan aktivitas lainnya
dalam kelas.
b. Model Problem Based Learning dapat memberi kesempatan kepada siswa
untuk menerapkan suatu pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia
nyata untuk dijadikan sebagai solusi dalam memecahkan masalah.
Sejalan dengan pendapat menurut Yuyun (2017, hlm. 59) menjelaskan
bahwa kelebihan model Problem Based Learning yaitu:
a. Proses pembelajaran bermana bagi peserta bagi peserta didik dimana siswa
belajar memecahkan masalah melalui penerapan pengetahuan yang
dimilikinya.
b. Peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara
stimulan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relavan.
c. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis,menumbuhkan inisiatif peserta
didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Selain itu, kelebihan model Problem Based Learning menurut Suyadi
(2013, hlm. 142)
a. Pembelajaran berbasis masalah merupakan teknik yang cukup baik
untuk mempermudah peserta didik memahami isi pelajaran.
69

b. Pembelajaran berbasis masalah dapat memberikan tantangan kepada


peserta didik untuk mengembangkan kemampuan nya dalam
menemukan informasi dan pengetahuan baru.
c. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk meningkatkan
aktivitas pembelajaran peserta didik.
d. Melalui suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, peserta
didik mampu memecahkan suatu permasalahan.
e. Dengan diterapkan nya model PBL, pembelajaran yang berlangsung
akan melatih tingkat berpikir kritis serta mengembangkan
kemampuan peserta didik dengan tujuan untuk beradaptasi dengan
pengetahuan baru.
f. Pembelajaran berbasis masalah dapat membantu peserta didik dalam
mentransfer pengetahuan yang mereka milliki untuk memahami
permasalahan yang ada dalam kehidupan nyata.
g. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk memberikan
kesempatan kepada peserta didik dalam mengaplikasikan
pengetahuan yang peserta didik miliki terhadap dunia nyata. 8)
Pembelajaran berbasis masalah digunakan oleh guru untuk
membantu mengembangkan pengetahuan baru peserta didik.
h. Model PBL digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik
dalam mengembangkan konsep-konsep belajar secara terusmenerus,
karena masalah tidak ada henti-hentinya. Ketika seorang individu
menyelesaikan satu permasalahan, masalah lainnya muncul, dan
tentu diperlukakannya penyelesaian secepatnya.
Adapun menurut Sanjaya (2011, hlm. 218-219) menjelaskan bahwa
kelebihan model Problem Based Learning yaitu:
a. Pembelajaran dalam isi pelajaran yang dilakukan dengan teknik
memecahkan masalah.
b. Siswa merasa ada tertantang dan merasa puas dalam menemukan
pengetahuan baru.
c. Aktivitas siswa dalam pembelajaran menjadi meningkat.
d. Siswa dilatih agar dapat mentransfer pengetahuan kepada masalah di
dalam kehidupan nyata.
e. Siswa dihantui pengetahuan barunya dapat berkembang dan bertanggung
jawab dalam pembelajaran yang dilakukan.
f. Siswa lebih menyukakasi memecahkan masalah karena dianggap
menyenangkan.
g. Mampu mengembangkan pola fikir siswa bahwa semua mata pelajaran
pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti
oleh siswa., bukan hanya sekadar belajar dari guru atau buku-buku saja.
70

h. Siswa diberikan kesempatan mengaplikasikan apa yang mereka ketahui


pada dunia nyata.
i. Siswa dapat berpikir kritis dan cepat menyelesaikan diri pada pengetahuan
baru.
j. Membutuhkan minat belajar siswa secara maksimal.
Kelebihan model Problem Based Learning yang dijelaskan oleh
Kurniasih dan Berlin (2015, hlm. 49-50) yaitu:
a. Pemikiran kritis siswa dan pemikiran kreatif siswa dapat dikembangkan.
b. Meningkatnya kemampuan memecahkan permasalahan pada peserta didik
dengan mandiri.
c. Meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar.
d. Membantu peserta didik dalam belajar untuk mentransfer pengetahuan
dengan situasi yang baru.
e. Mendorong peserta didik mempunyai inisiatif untuk belajar secara
mandiri.
f. Mendorong kreativitas peserta didik dalam pengungkapan penyelidikan
masalah yang telah ia lakukan.
g. Dengan model pembelajaran ini akan terjadi pembelajaran yang bermana.
h. Model ini mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara
stimultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relavan.
i. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja, moivasi internal untuk
belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dan bekerja
kelompok.
Selain itu kelebihan model Problem Based Learning yang dikemukakan
oleh Hamnuri (2011, hlm. 114) diantaranya yaitu:
a. Teknik yang bagus untuk lebih memahami isi pembelajaran.
b. Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk
menemukan pengetahuan yang baru bagi siswa.
c. Meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Membantu siswa mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami
masalah dalam kehidupan nyata.
e. Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan
bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
71

f. Mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri, baik terhadap


hasil maupun proses belajar.
g. Lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h. Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan
kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j. Mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar
meskipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
Sejalan dengan hal itu kelebihan yang dijelaskan oleh Wee dan Kek
(dalam amir 2010, hlm. 32) ialah:
a. Mempunyai keaslian seperti dunia nyata. Jadi materi yang sedang
dipelajari dapat dikaitkan dengan masalah nyata.
b. Dibangun dengan memperhitungkan pengetahuan sebelumnya. Masalah
yang dirancang, dapat membangun kembali pemahaman pembelajaran
atau pengetahuan yang telah didapatkan sebelumnya.
c. Membangun pengaturan yang metakognitif dan kontruktif. Metakognitif
artinya mencoba merefleksi seperti apa pemikiran kita atau satu hal, jadi
dalam model Problem Based Learning menguji pemikiran,
mempertanyakan, mengkritisi gagasannya sendiri sekaligus mengeksplor
hal yang baru.
d. Meningkatkan minat dan motivasi dalam pembelajaran. dengan adanya
permasalahan yang menarik maka siswa akan tertangtang untuk
membangunkan semangat dalam belajar.
Selanjutnya menurut Al-Tabany (2014, hlm. 68) menjelaskan bahwa
kelebihan model Problem Based Learning diantaranya yaitu:
a. Peserta didik dapat menemukan ide sendiri dan adanya keterlibatan secara
aktif pada saat proses pembelajaran.
b. Meningkatkan motivasi dan ketertarikkan peserta didik untuk mengikuti
proses pembelajaran.
c. Dapat menjadikan peserta didik lebih mandiri dalam proses
pembelajarannya.
d. Menerapkan sikap sosial yang positif kepada peserta didik.
e. Meningkatkan hubungan antara peserta didik, sehingga peserta didik bisa
mencapai suatu ketuntasan dalam belajar.
72

Adapun kelebihan model Problem Based Learning menurut Sumantri


(2015, hlm. 46) yaitu:
a. Melatih peserta didik dalam untuk dapat merangcang penemuan dan
membuat hasil karya sendiri.
b. Peserta didik dapat berfikir dan bertindak dengan kreatif.
c. Peserta dapat mengindentifikasi dan mengevaluasi penyelidikan suatu
permasalahan.
d. Peserta didik dapat terbiasa menyelesaikan masalah yang mereka temua
secara kasatmata.
e. Peserta didik dapat dirangsang dalam mengembangkan kemampuan
berpikir dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi secara tepat.
f. Dapat menjadikan peserta didik lebih relevan dengan kehidupan.
Selain itu menurut Nata (2011, hlm. 250-255) menjelaskan bahwa
kelebihan model Problem Based Learning yaitu:
a. Dapat membuat Pendidikan sekolah Dasar menjadi lebih relevan dengan
kehidupan, khususnya dengan dunia nyata.
b. Dapat membiasakan siswa dalam mengdapai dan memecahkan masalah
secara terampil, sehingga dapat digunakan dalam mengahadapi masalah
yang sesungguhnya di masyarakat kelas.
c. Dapat merangsangnya perkembangan kemampuan berpikir secara kreatif,
menyeluruh, karena dalam proses pembelajarannya para siswa bnyak
melakukan proses mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai
asfek.
Selain itu menurut Shoimin (2016, hlm. 49) menjelaskan bahawa
kelebihan dari model Problem Based Learning yaitu:
a. Peserta didik dilatih untuk memiliki kemampuan memecahkan
masalah dalam keadaan nyata.
b. Mempunyai kemampuan membangun pengetahuannya sendiri
melalui aktivitas belajar.
c. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada
hubungannya tidak perlu dipelajari oleh peserta didik. Dalam hal ini
mengurangi beban peserta didik dalam menghafal atau menyimpan
informasi.
d. Terjadi aktivitas ilmiah pada peserta didik melalui kerja kelompok.
e. Peserta didik terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan,
baik dari perpustakaan, internal, wawancara, dan observasi.
73

f. Peserta didik memiliki kemapuan menilai kemampuan belajarnya


sendiri.
g. Peserta didik memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi
ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan
mereka.
h. Kesulitan belajar peserta didik secara individual dapat diatasi
melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching.

Dari beberapa teori tentang kelebihan model Problem Based Learning


dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning yaitu pembelajaran
yang dapat membuat siswa aktif karena berusaha dan mencari solusi dalam
proses pemecahan masalah, siswa dapat meningkatkan kemampuan untuk
berkomunikasi serta dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan dapat
meningkatkan motivasi belajar yang kuat, jadi siswa tidak mudah bosan
dalam melakukan kegiatan belajar di dalam kelas.
Selanjutnya dalam penerapan model pembelajaran akan memiliki
kelebihannya masing-masing, seperti model Problem Based Learning yang
memiliki kelebihannya. Dari hasil analisis penulis menemukan persamaan
dari beberapa teori diantaranya teori Barret dalam Dewi dan Oksiana (2015),
Nisa (2016), Redjki dan Araini (2014), Yuyun (2017), Suyadi (2013),
Sanjaya (2011), Kurniasih dan Berlin (2015), Hamnuri (2011), Wee dan Kek
dalam Amir (2010), Al-Tabany (2014), Sumantri (2015), Nata (2011),
Shoimin (2016) dalam ke tiga belas teori tersebut terdapat persamaan
kelebihan yang dideskripsikan yaitu sama-sama menyebutkan bahawa
kelebihan model Problem Based Learning memiliki kelebihan bahwa siswa
dapat menstranfer pengetahuannya dan kemampuan memecahkan suatu
permasalahan dengan dikaitkan dengan dunia nyata untuk dijadikan solusi
dalam memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapinya.
Selanjutnya penulis juga menemukan persamaan pertama juga
ditemukan dari beberapa teori seperti teori yang dijelaskan oleh Barret dalam
Dewi dan Oksiana (2015), Nisa (2016), Kurniasih dan Berlin (2015),
Hamnuri (2011), Al-Tabany (2014), Shoimin (2016), menjelaskan bahwa
kelebihan model Problem Based Learning yaitu siswa dapat memiliki
kemampuan membangun pengetahuannya sendiri, sehingga siswa dapat
mengevalusi hasil kerjanya sendiri dan tidak bergantung pada siapapun
74

melalui aktivitas belajaranya. Teori tersebut dapat didukung oleh Surya


(2017, hlm. 38-53) memaparkan kelebihan model Problem Based Learning,
diantaranya: pemecahan masalah sangat efektif digunakan untuk memahami
isi pembelajaran, pemecahan masalah mampu menantang kemampuan siswa,
menemukan pengetahuan yang baru bagi siswa, pemecahan masalah
meningkatkan aktivitas belajar siswa, pemecahan masalah dapat membantu
siswa mentransfer pengetahuan siswa dalam kehidupan nyata, dan siswa
menjadi lebih peka terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya.
Selanjutnya persamaan yang ke dua yaitu oleh Nisa (2016), Yuyun (2017),
Suyadi (2013), Sanjaya (2011), Kurniasih dan Berlin (2015), Hamnuri
(2011), menjelaskan bahwa kelebihan model Problem Based Learning yaitu
pembelajaran yang berlangsung akan melatih berfikir kritis serta
mengembangkan keterampilan dengan beradaptasi dengan pengetahuan baru.
Teori tesrsebut dapat diperkuat oleh Islam, dkk (2018, hlm. 613-628)
kelebihan yang dapat diambil dalam penerapan model ini ialah memberikan
tantangan pada siswa sehingga mereka bisa memperoleh kepuasan dengan
menemukan pengetahuan baru bagi dirinya sendiri serta mengembangkan
keterampilan berpikir kritis setiap siswa.
Adapun persamaan yang ke tiga yaitu oleh Barret dalam Dewi dan
Oksiana (2015), Yuyun (2017), Kurniasih dan Berlin (2015), Shoimin (2016),
menjelaskan bahwa kelebihan model Problem Based Learning yaitu
meningkatkan dan menumbuhkan peserta didik dalam berkerja kelompok dan
menyelesaikan masalah secara bersama-sama. dapat didukung oleh
Purnaningsih (2019, hlm. 367-375) memaparkan kelebihan model Problem
Based Learning, antara lain: sesuai dengan kehidupan nyata siswa, konsep
sesuai dengan kebutuhan siswa, memupuk sifat inkuiri siswa, retensi konsep
yang kuat, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Selain itu
persamaan yang ke empat oleh Nisa (2016), Hamnuri (2011), Wee dan Kek
dalam Amir (2010), Al-Tabany (2014), Suyadi (2013), menjelaskan bahwa
kelebihan model Problem Based Learning yaitu dapat meningkatkan minat
dan motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik
75

tidak mudah merasa bosan dalam proses pembelajaran yang sedang


dilakukan.
Selanjutnya persamaan yang ke lima yaitu oleh Sanjaya (2011),
Kurniasih dan Berlin (2015), Hamnuri (2011), Suyadi (2013) menjelaskan
bahwa kelebihan model Problem Based Learning yaitu siswa dapat tertantang
dalam memecahkan masalah dan meningkatkan kemampuan menemukan dan
mengaitkan pengetahuan barunya melalui pemecahan masalah. Selanjutnya
persamaan yang ke enam yaitu oleh Yuyun (2017), Kurnisih dan Berlin
(2015), Redjki dan Araini (2014), Sumantri (2015), Nata (2011) menjelaskan
bahwa model Problem Based Learning dapat mengintegrasikan pengetahuan
dan keterampilannya secara stimulant dan mengaplikasikannya dalam konteks
yang relevan. Persamaan yang ke tujuh yaitu oleh Barret dalam Dewi dan
Oksiana (2015) dan Shoimin (2016) menjelaskan bahwa pembelajaran hanya
berfokus pada permasalahan sehingga materi yang tidak ada hubungannya
tidak perlu dipelajari sehingga mengurangi beban peserta didik dalam
mengahapal dan menyimpan informasi.
Selanjutnya persamaan yang terakhir yaitu oleh Barret dalam Dewi
dan Oksiana (2015) dan Shoimin (2016) juga bahwa pengumpulan infromasi
yang didapatkan untuk memecahkan masalah dapat didapatkan dari
wawancara, perpustakaan, internal, dan observasi. Hal tersebut dapat
didukung oleh Setyawati (2019, hlm. 93-99) memaparkan kelebihan model
Problem Based Learning, yaitu: siswa didorong untuk memiliki kemampuan
memecahkan masalah dalam situasi nyata, siswa memiliki kemampuan
membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar, pembelajaran
berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak
perlu dipelajari siswa. Hal ini mengurangi beban siswa dalam menghafal atau
menyampaikan informasi, dan terjadi aktivitas ilmuah pada siswa melalui
kerja kelompok.
Dari beberapa persamaan tersebut penulis juga mendapatkan
perbedaan yaitu menurut teori Al-Tabany (2014) menjelaskan bahwa
kelebihan model Problem Based Learning yaitu meningkatkan sikap sosial
yang positif, selanjutnya menurut Wee dan Kek dalam Amir (2010) bahwa
76

kelebihan model Problem Based Learning yaitu dapat membangun


pengaturan yang metakognitif, dan kontrutif. Jadi dari dua pebedaan tersebut
hanya dua teori saja memiliki perbedaan dari kelebihan model Problem Based
Learning. Dari hasil analisis penulis tersebut tidak ada teori yang salah dalam
mendeskripsikan kelemahan mengenai model Problem Based learning, hanya
berbeda dari cara menyampaikan dan menjelaskannya saja.
Dari persamaan dan perbedaan beberapa teori di atas penulis dapat
menyimpulkan bahwa kelebihan model Problem Based Learning yaitu:
a. Mendorong siswa dalam kemampuan memecahkan masalah.
b. Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan dalam kehidupan
sehari- hari.
c. Siswa akan terbiasa dalam memecahkan suatu permasalahan dalam
situasi nyata.
d. Memiliki pengetahuan baru melalui aktivitas belajar siswa.
e. Pelaksanaan pembelajaran siswa terlibat aktif dan pembelajaran semakin
bermakna dengan belajar berfikir.
f. Pemecahan masalah memberikan tantangan kepada kemampuan siswa.
g. Siswa akan terbiasa berdiskusi kelompok sehingga saling bertukar
informasi dan menambah pengetahuan baru.
h. Konsep pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan siswa.
i. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa.
j. Menjadikan siswa aktor dalam proses pembelajaran.
k. Belajar menganalisis masalah serta mengembangkan rasa percaya diri.
l. Mengembangkan minat dan motivasi belajar siswa.

4. Kelemahan Model Problem Based Learning


Model pembelajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar,
tentunya ada bebrapa kelemahan yang harus kita ketahui. Menurut Sumantri
(2016, hlm. 47) menjelaskan bahwa kelemahan model Problem Based
Learning diantaranya yaitu:
a. Memiliki beberapa pokok bahasan yang sulit untuk diterapkan dalam
model ini, seperti terbatasnya sarana prasarana, atau media pembelajaran.
77

b. Membutuhkan alokasi waktu yang lebih panjang.


c. Pembelajaran hanya berfokus pada permasalahan.
Selain itu kelemahan model Problem Based Learning yang dijelaskan
oleh Nisa (2016, hlm. 49) bahwa kelemahan model tersebut yaitu:
a. Kapasitas siswa yang terkalu banyak dapat menyulitkan guru dalam
penerapan model ini.
b. Waktu yang diperlukan kurang efektif dan efesien.
c. Tidak semua siswa dapat dengan mudah memahami model ini.
Adapun menurut Warsono dan Hariyanto (2013, hlm. 163) menjelaskan
bahwa kelemahan model Problem Based Learning yaitu sebagai berikut:
a. Tidak banyak peserta didik akan terbiasa menghadapi masalah dan
merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya terkait
materi pembelajaran saja di dalam kelas, melainkan juga dalam
kehidupan sehari-hari.
b. Siswa yang terbiasa dengan informasi yang diperoleh dari guru sebagai
narasumber utama, akan merasa kurang nyaman dengan cara belajar
sendiri.
c. Jika siswa tidak mempunyai rasa kepercayaan bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa enggan
untuk mencoba masalah.
d. Tanpa adanya pemahaman siswa mengapa mereka berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari maka belajar apa yang
ingin mereka pelajari.
Selanjutnya kelemahan model Problem Based Learning menurut
Sanjaya (2011, hlm. 218-219) diantaranya yaitu:
a. Siswa akan kesulitan untuk mencoba menyelesaikan masalah kembali
apabila siswa tersebut merasa gagal menyelesaikan masalah sebelumnya.
b. Membutuhkan waktu yang cukup persiapan demi mencapai tujuan dan
keberhasilan model Problem Based Learning.
c. Pembelajaran tidak akan menarik bagi siswa jika siswa masih belum
paham dalam memecahkan suatu permasalahan.
78

Lebih lanjut menurut Mustaji (2017, hlm. 60) mengemukakan


kelemahan model Problem Based Learning diantaranya:
a. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak memiliki
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka
mereka akan merasa susah untuk mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka yang sedang dipelajari, maka mereka
tida akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
Menurut Kuniarsih dan Berlin (2015, hlm. 50-51) kelemahan Model
Problem Based Leaning, diantaranya yaitu:
a. Model ini membutuhkan pembiasaan, karena dalam teknis pelaksanaanya
yang rumit dan peserta didik dituntut untuk berkonsentrasi dan daya kreasi
yang tinggi.
b. Persiapan proses pembelajaran membutuhkan waktu yang lama, hal ini
tersebut karena sedapat mungkin persoalan yang ada harus dipecahkan
sampai tuntas, agar maknanya tida terpotong.
c. Peserta didik tida dapat benar-benar tahu apa yang mungkin penting bagi
mereka untuk belajar, terutama bagi mereka yang tida memiliki
pengalaman sebelumnya.
d. Guru merasa kesulitasn karena dalam menjadi fasilator dan mendorong
peserta didik untuk mengajukan pertanyaan yang tepat daripada
menyerahkan solusi.
Selain itu menurut Nata (2011, hlm. 250-255) menjelaskan bahwa
kelemahan model Problem Based Learning yaitu:
a. Seringnya terjadi kesulitan dalam menemukan permasalahan yang sesuai
dengan tingkan berfikir siswa. Jadi dengan adanya hal seperti itu maka
guru terkadang kesulitan dalam membuat permasalahanya yang harus di
sesuaikan dengan siswa.
b. Banyaknya waktu yang harus diperlukan dibandingkan dengan
penggunaan model lain. Karena dalam pemecahan masalah siswa harus
79

diberikan waktu yang cukup sehingga dalam pencarian solusi lebih


terencana.
c. Seringnya mengalami kesulitan dalam perubahan dan kebiasaan belajar
dari semula belajar yang hanya mendengar, menulis, dan menghafal
informasi yang diberikan oleh guru menjadi belajar yang mencari data,
menganalisis, menyusun dan memecahkan masalah sendiri.
Lebih lanjut lagi menurut Suyadi (2013, hlm. 143) mendeskripsikan
kelemahan model Problem Based Learning yaitu:
a. Siswa yang tidak mempunyai minat belajar yang tinggi dan kurangnya
rasa percaya diri pada siswa cenderung memilih diam dan tida melakukan
apa-apa karena dirinya takut merasa gagal atau salah.
b. Peserta didik tidak akan belajar apa yang mereka pelajari jika mereka tidak
memahmai mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang dipelajari. Jadi jika siswa belum mnegerti konsep tersebut
maka akan mengahambat tercapainya tujuan pembelajaran.
c. Pembelajaran model Problem Based Learning membutuhkan waktu yang
lama atau panjang, karena peserta didik membutuhkan cukup waktu ama
dalam mencari solusi dan memecahkan masalah yang diberikan.
Adapun kelebihan model Problem Based Learning menurut
Hamdayama (2016, hlm. 117) menjelaskan juga bahwa kelemahan model
Problem Based Learning, yaitu:
a. Peserta didik yang merasa malas, maka pencapaian suatu tujuan
pembelajaran akan sulit dicapai.
b. Membutuhkan banya waktu dan dana.
c. Tidak semua pelajaran dapat diterapkan pada model ini.
Selanjutnya kelemahan Problem Based Learning menurut Todd (dalam
Wulandari dan Herman (2013, hlm. 182) sebagai berikut:
a. Siswa akan mengalami kegagalan apabila siswa kurang percaya diri minat
belajar yang rendah maka siswa enggan mencoba lagi.
b. PBL membutuhkan waktu yang cukup lama untuk persiapannya.
c. Pemahaman yang kurang tentang mengapa masalah-masalah yang
dipecahkan maka siswa kurang termotivasi untuk belajar.
80

Selanjutnya kelemahan model Problem Based Learning menurut


Shoimin (2016, hlm. 49) antara lain:
a. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat diterapkan untuk setiap materi
pelajaran, ada beberapa bagian guru berperan aktif dalam meyajikan
materi. Jadi pembelajaran berbasis masalah ini lebih cocok untuk
pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan
pemecahan masalah.
b. Kelas yang memiliki tingkat keberagaman peserta didik yang tinggi terjadi
akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.
Selain itu, kelemahan seperti yang dikemukakan oleh Abidin (2014,
hlm. 163) adalah sebagai berikut:
a. Siswa yang terbiasa dengan informasi yang diperoleh dari guru
sebagai narasumber utama, akan merasa kurang nyaman dengan cara
belajar sendiri dalam pemecahan masalah.
b. Jika siswa tidak mempunyai rasa kepercayaan bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan makan mereka akan merasa enggan
untuk memcoba masalah.
c. Tanpa adanya pemahaman siswa mengapa mereka berusaha untuk
memecahkan msalah yang sedang dipelajari maka mereka tidak akan
belajar apa yang ingin mereka pelajari.

Adapun menurut Mohamad Syarif (2015, hlm. 47) model Problem


Based Learning (PBL) memiliki beberapa kekurangan diantaranya :
a. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan model ini,
misalnya: terbatasnya sarana dan prasarana atau media pembelajaran yang
dimiliki dapat menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta
akhirnya dapat menyimpulkan konsep yang diajarkan.
b. Membutuhkan alokasi waktu yang lebih panjang.
c. Pembelajaran hanya berdasarkan masalah.
Dari beberapa teori mengenai kelemahan model Problem Based
Learning yaitu tidak semua siswa dapat memecahkan masalah dikarenakan
siswa tidak tebiasa dalam proses pembelajaran model ini, tidak semua materi
pemlajaran dapat diterapkan dalam model ini, selanjutnya guru merasa
kesulitan dalam menyampaikan materi dan dalam pelaksaan model ini
membutuhkan biaya dan waktu yang cukup lama sehingga pembeajaran tidak
efektif dan efesien.
81

Selain kelebihannya, model Problem Based Learning juga tentunya


memiliki kelemahan, dari beberapa teori yang dianalisis oleh penulis
menemukan persamaan kelemahan model Problem Based Learning yaitu oleh
Sumantri (2016), Warsono dan Hariyanto (2013), Sanjaya (2011), Mustaji
(2017), Kuniasih dan Berlin (2015), Nata (2011), Suyadi (2013), Hamdayama
(2016), Todd dalam Wulandari dan Herman (2013), Shoimin (2016), Abidin
(2014), Syarif (2015). Dari persamaan beberapa teori tersebut yaitu sama-sama
menjelaskan bahwa kelemahan model Problem Based Learning yaitu
pembelajaran pemecahan masalah tidak akan tercapai karena apabila siswa
tidak terbiasa dalam memecahkan masalah maka siswa akan kesulitan dalam
mencari solusi, serta siswa akan merasa gagal dan kurangnya rasa percaya diri
karena pembelajaran pemecahan masalah sulit dipecahkan dan siswa akan
kehilangan motivasi belajarnya lagi karena merasa takut salah dan siswa tidak
mau lagi mencoba karena pernah gagal sebelumnya.
Selanjutnya penulis juga menemukan persamaan yang pertama dari
teori lainnya yaitu teori Sumantri (2016), Sanjaya (2011), Mustaji (2017),
Kuniasih dan Berlin (2015), Nata (2011), Suyadi (2013), Hamdayama (2016),
Todd dalam Wulandari dan Herman (2013), Syarif (2017), menjelaskan bahwa
model Problem based Learning ini membutuhkan waktu yang cukup lama
sehingga pembelajaran tidak efektif dan tidak efesien karena membutuhkan
waktu lama dalam memecahkan suatu permasalahannya. Teori tersebut dapat
diperkuat oleh Surya (2017, hlm. 38-53) memaparkan kekurangan model
Problem Based Learning, diantaranya: kesulitan memecahkan masalah bagi
siswa yang tidak percaya diri, membutuhkan waktu yang cukup lama, dan jika
tidak diberikan pemalahaman yang jelas mengenai pemecahan masalah yang
sedang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang mereka ingin
dipelajari.
Selanjutnya persamaan yang ke dua yaitu oleh Sumantri (2016), Nisa
(2016), Kurniasih dan Berlin (2015), Nata (2011), menjelaskan bahwa
kelemahan model Problem Based Learning yaitu sulitnya guru merasa
kesulitan karena dalam menjadi fasilitator dan mendorong peserta didik untuk
mengajukan pertanyaan, jadi guru sulit untuk menyampaikan suatu
82

permasalahan karena siswa tidak terbiasa dengan pemecahan masalah. Teori


tersebut dapat didukung oleh Rahmadani dan Indri (2017, hlm. 241-250)
memaparkan kekurangan model Problem Based Learning, diantaranya: a).
Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan siswa kepada pemecahan
masalah, b). Seringkali memerlukan biaya yang mahal dan waktu yang
panjang, dan c). Aktivitas siswa yang dilaksanakan di luar sekolah sulit
dipantau guru. Persamaan yang ke tiga yaitu oleh Sumantri (2016) dan Syarif
(2015) menjelaskan bahwa kelemahan model Problem Based Learning yaitu
siswa hanya difokuskan pada permasalahan saja sehingga kurang berkesannya
dalam pembelajaran. Persamaan yang ke empat oleh Warsono dan Harianto
(2013) serta Abidin (2014) menjelaskan bahwa kelemahan model Problem
Based Learning bahwa siswa yang terbiasa dengan informasi yang diperoleh
hanya mendengar dari guru sebagai narasumber utama akan merasa kurang
nyaman dengan cara belajar sendiri dalam pemecahan masalah.
Dari beberapa persamaan tersebut penulis juga mendapatkan perbedaan
yaitu menurut teori Hamdayama (2016) menjelaskan bahwa kelemahan model
Problem Based Learning yaitu tidak semua materi atau pembelajaran dapat
diterapkan oleh model ini, selanjutnya perbedaan yang ke dua oleh Abidin
(2014) mendeskripiskan bahwa kelas yang memaliki tingkat keberagaman yang
tinggi akan menjadi kesulitan dalam membagikan tugas dalam proses
pembelajaran. Dari hasil analisis penulis tersebut tidak ada teori yang salah
dalam mendeskripsikan kelemahan mengenai model Problem Based learning,
hanya berbeda dari cara menyampaikan dan menjelaskannya saja. sejalan
dengan pendapat Islam dkk (2018, hlm. 613-628) memaparkan kekurangan
model Problem Based Learning, diantaranya: a). Bagi siswa yang malas tujuan
dari metode tersebut tidak dapat dicapai, b). Membutuhkan banyak waktu dan
dana, c). Tidak semua mapel dapat diterapkan model Problem Based Learning,
dan d). Guru yang kurang menguasai model pasti dalam kesulitan kegiatannya.
Jadi dari hasil analisis persaman dan perbedaam mengenai kelemahan
model Problem Based Learning dapat disimpulkan bahwa model Problem
Based Learning ialah:
a. Model pembelajaran yang membutuhkan waktu dan biaya yang banyak.
83

b. Tidak semua mata pelajaran bisa menggunakan model Problem Based


Learning tanpa adanya pemahaman yang jelas.
c. Pembelajaran serta siswa tidak akan belajar tentang apa yang ingin
dipelajari, hanya cocok untuk pembelajaran yang berkaitan dengan
pemecahan masalah.
d. Pembelajaran hanya berfokus pada permasalahan.
e. Pembelajaran tida akan bermakna jika siswa masih belum paham dengan
penerapan model ini.
f. Siswa yang tidak mempunyai minat belajar akan kurang percaya diri dan
diam saat proses pembelajaran.
g. Membutuhkan pembiasaan dalam penerapan model ini.
h. Kelas yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi akan menyulitkan
guru dalam proses pembagian tugas.
i. Bagi siswa yang malas tujuan dari model Problem Based Learning sulit
dicapai.
j. Guru akan sulit untuk menyampaikan permasalahannya jika siswa tidak
terbiasa dalam belajar sendiri dan memecahkan masalah sendiri.

Anda mungkin juga menyukai