Aku mau kenalin penulis cerita ini, ialah aku
sendiri wkwk. Hai, Aku Riswanda Himawan Harahap.
Biasanya aku dipanggil Wanda. Aku ini cowo ya teman-
teman. Namaku aja yang kaya cewe. Please jangan salah
gender, hehe. Asal ku dari rahim Ibuku dan tumbuh
besar di daerah Lubuk Dalam. Aku lahir pada tanggal 18
Juli 2005 dan aku menulis cerita ini pada umur 18 tahun.
Alhamdulillah dari kecil aku sudah diajarkan untuk
berpedoman pada agama Islam hingga saat ini aku
memilih Islam sebagai agamaku.
Aku pengen nulis favorite stuff ku disini.
Pertama, aku suka mie ayam bakso dan aku sering
makan itu setelah bantu orang tua ku manen dari ladang.
Bukan ritual atau semacamnya, tapi karna sudah
kebiasaan dan jadi kesukaan deh. Dan aku suka rendang
buatan Ibuku. Beh, masakan Ibu mah gaada lawan.
Kedua, aku suka ngopi. Disaat banyak tugas, lagi
nongkrong, begadang, gabut bahkan ngapain aja minum
ku kopi, hehe. Ketiga, aku suka dengerin musik. One of
my favorite adalah royality, karena setiap kali dengerin
lagu itu jadi energic dan merasa get motivation.
Keempat, aku suka kartun ultraman. Walaupun
kedengaran kekanak-kanakan, percayalah nonton kartun
tidak banyak drama yang lebay wkwk.
Dibeberapa halaman kedepan aku mau
menceritakan sedikit riwayat pendidikan ku. Selama di
sekolah saya gampang banget terpengaruh sama
pergaulan kawan yang membuat minat belajar saya
menurun.
Jenjang pertama, aku dulu tidak masuk TK, tapi
langsung dimasukkan SD di SDN 1 Lubuk Dalam.
Masa-masa SD ku atau masa kecil ku saat itu sungguh
masa yang paling aku rindui karena aku gatau proses
dewasa saat ini yang aku alami ternyata berat banget
cuy. Semasa SD, aku punya temen yang bener-bener
temen, yang bener-bener setia kawan. Setiap pulang
sekolah aku selalu main. Dan setelah pulang main,
terkadang aku melewatkan jam untuk mengerjakan tugas
yang diberikan saat di sekolah. Alhasil aku tertidur dan
tidak mengerjakan tugasku. Jenjang ini adalah awal mula
aku mudah banget terpengaruh dengan pergaulan
temanku sehingga membuat minat belajar saya menurun.
Dan masa puncak ialah kelas 6.
Jenjang kedua, yaitu SMP. Setelah lulus SD, aku
masuk di Sekolah Menengah Pertama yang aku ingin
dan jaraknya juga dekat dari rumah, yaitu SMPN Lubuk
Dalam. Masa SMP ini, jujur ku akui adalah masa
puberku yang agak aneh. Dari kecil, aku yang tidak
memikirkan untuk bergaul dengan siapapun, namun
sekarang aku menjadi lebih pemalu dan sensitif dengan
lawan jenis. Sikapku memang sedikit bandel dan
petakilan saat SMP, namun satu kelemahanku yaitu malu
untuk berinteraksi dengan lawan jenis.
Kejadian yang bikin aku sadar kenapa aku bisa
sulit berinteraksi dengan lawan jenis ialah saat aku
berbicara dengan mereka, aku tidak bisa menatap mata
mereka, pikiran menjadi kabur dan jantungku berdebar.
Apakah itu namanya salting? Apakah seusia ku wajar
dengan kondisi yang seperti itu? Rasanya tidak wajar
tapi itu adalah kondisi ku saat itu. Kalo kalian gimana
kesan masa SMP-nya?
Lanjut jenjang ketiga, ialah masa SMA. Aku
sekolah di SMA N 1 Lubuk Dalam. Dimasa ini masih
jaman-jamannya pandemi Covid-19 dan terjadi lockdown
yang menyebabkan sekolah di tutup dan mulai belajar
dari rumah. Nah disaat diterapkannya belajar tidak tatap
muka di sekolah (DARING). Pada masa ini saya sangat
bersungguh-sungguh dan sangat giat untuk belajar.
Karena saya ingin nilai yang memuaskan untuk
memperbaiki kesalahan saya di jenjang sekolah yang
lalu.
Perbandingan hasil belajar saat SMP, saya tidak
pernah masuk sepuluh besar. Dan saat di SMA, saya
berhasil tembus ke 5 besar. Itu adalah pencapaian yang
saya dapatkan setelah giat belajar saat masa pandemi.
Riwayat prestasi dari kelas satu hingga kelas dua masih
masuk sepuluh besar.
Namun hal itu berubah saat kelas 3. pembelajaran
tatap muka diterapkan kembali. Saat ini, minat belajar
saya sudah mulai menurun lagi karena saya mulai ikut
teman-teman yang suka sering keluar dan tidak belajar.
Dulu saya yang masuk 10 besar, sekarang aja udah
engga masuk, huhu. Saya sangat menyesal karena ini
merupakan final belajar di SMA dan ajang penentuan
masuk universitas. Tapi meskipun saya kurang dalam hal
mengontrol pergaulan, saya tidak pernah melawan guru,
membangkang pada guru dan mendengarkan apa yang
dikatakan guru. Karena menurut saya manner dan
atittude lebih penting dari apapun.
Beralih ke jenjang lebih tinggi, saya melanjutkan
universitas di Universitas Islam Riau (UIR). Alasan
masuk UIR karena saat daftar di UNRI melalui jalan
SNPMB sekolah saya telat menginput data yang
menyebabkan satu angkatan saya tidak dapat mengikuti
SNPMB. Setelah jalur itu, saya tidak menyerah saya
mulai lanjut mencoba dari jalur UTBK tapi sama saja
tidak lolos juga mungkin belum rejeki dan pada akhir
nya saya dan orangtua saya diskusi yang dimana kami
memutuskan untuk melanjutkan di UIR saja.
Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan campur
aduk. Rasanya senang, karena akhirnya aku akan
memulai kuliah. Tapi juga ada rasa gugup, karena aku
akan bertemu dengan banyak orang baru dan memulai
hidup yang baru.
Aku adalah seorang mahasiswa baru di sebuah
universitas di kota besar. Aku berasal dari desa kecil di
daerah Lubuk Dalam, dan aku sangat antusias untuk
memulai kehidupan baru di kota.
Aku tiba di kampus tepat waktu. Kampusnya
sangat besar dan megah, jauh berbeda dengan sekolah
menengahku yang kecil dan sederhana. Aku melihat
banyak mahasiswa baru yang sedang berkeliaran, dan
aku merasa seperti anak kecil yang tersesat.
Aku kemudian mengikuti acara pengenalan
kampus. Di acara itu, aku bertemu dengan dosen-dosen,
mahasiswa senior, dan mahasiswa baru lainnya. Aku
mulai merasa lebih nyaman, dan aku mulai merasa
bahwa aku akan bisa menyesuaikan diri dengan
kehidupan kampus.
Sejak hari itu, aku mulai menjalani kehidupan
sebagai mahasiswa. Aku belajar hal-hal baru yang
menarik, dan aku bertemu dengan orang-orang baru yang
menyenangkan. Aku juga mulai terlibat di berbagai
kegiatan kampus, seperti kegiatan sosial.
Kuliah adalah pengalaman yang sangat berharga
bagiku. Aku belajar banyak hal, baik dari segi akademis
maupun non-akademis. Aku juga berkembang sebagai
pribadi dan profesional.
Salah satu pengalaman yang paling tak
terlupakan bagiku adalah ketika aku mengikut kelas dan
aku bisa menjelaskan materi yang aku kuasai setelah
belajar jauh hari sebelum tampil. Aku menjelaskan
dengan lantang dan cool. Sehingga itu membuat aku
menjadi lebih percaya diri, menjadikan aku seseorang
dengan versi yang lebih baik lagi. Dari aku yang pemalu
menjadi orang yang berani mengungkapkan pendapar
adalah hal yang harus aku banggakan. I’m proud of me.
Pengalaman itu sangat mengubah hidupku. Aku
belajar banyak hal tentang diriku sendiri. Aku menjadi
lebih mandiri dan lebih percaya diri.
Kuliah telah mengubah hidupku menjadi lebih
baik. Aku bersyukur telah memiliki kesempatan untuk
kuliah, dan aku akan selalu mengingat pengalaman
kuliahku sebagai salah satu pengalaman terbaik dalam
hidupku.
Lalu ada satu momen disaat mengikuti acara
pengenalan kampus. Di acara itu, aku bertemu dengan
dosen-dosen, mahasiswa senior, dan mahasiswa baru
lainnya. Aku mulai merasa lebih nyaman, dan aku mulai
merasa bahwa aku akan bisa menyesuaikan diri dengan
kehidupan kampus.
Salah satu orang yang aku temui di acara itu
adalah seorang gadis bernama Andin. Andin adalah
gadis yang cantik dan ramah. Kami berbicara selama
beberapa saat, dan aku merasa kami langsung klik.
Kami mulai menghabiskan lebih banyak waktu
bersama. Kami sering belajar bersama, makan siang
bersama, dan pergi ke perpustakaan bersama. Aku mulai
merasakan perasaan yang berbeda terhadap Andin.
Aku tidak yakin apakah perasaan itu adalah cinta,
tetapi aku tahu bahwa aku sangat menyukainya. Aku
merasa bahagia ketika berada di dekatnya, dan aku selalu
ingin menghabiskan waktu bersamanya.
Suatu hari, aku memberanikan diri untuk
mengungkapkan perasaanku kepada Andin. Aku
mengajaknya berjalan-jalan di taman kampus, dan aku
mengatakan kepadanya bahwa aku menyukainya.
Andin tersenyum dan mengatakan bahwa dia
juga menyukaiku. Kami berpelukan dan berciuman
untuk pertama kalinya.
Kami mulai berkencan, dan kami menjalani
hubungan yang indah. Kami selalu bersama, dan kami
selalu saling mendukung.
Namun, seperti semua cinta monyet, hubungan
kami tidak bertahan selamanya. Setelah beberapa bulan,
kami menyadari bahwa kami memiliki perbedaan yang
tidak bisa diatasi.
Kami putus, tetapi kami tetap berteman. Kami
masih saling mendukung, dan kami masih saling
menyayangi.
Kisah cinta monyetku dengan Andin adalah
pengalaman yang tak terlupakan. Itu adalah pengalaman
pertamaku merasakan cinta, dan itu adalah pengalaman
yang sangat berharga bagiku.
Kisah cinta monyet bisa menjadi pengalaman
yang indah, tetapi juga bisa menjadi pengalaman yang
menyakitkan. Jika Anda mengalami cinta monyet,
penting untuk menikmatinya, tetapi juga penting untuk
bersiap untuk kemungkinan putus.
Saat aku melangkah ke tahun kedua sebagai
mahasiswa, aku merasa seperti telah melewati badai
cinta monyet dengan kepala tegak. Kini, aku melihat
masa depan dengan ceria, siap menghadapi tantangan
baru, dan tentu saja, siap membuka hati untuk cinta yang
sejati, yang mungkin menanti di masa depan.
Setiap langkahku di kampus ini menjadi peluang
untuk mengeksplorasi minat dan passion yang selama ini
mungkin terlupakan. Aku terlibat dalam berbagai
organisasi, mulai dari klub seni, penulisan, hingga
kegiatan sosial. Dalam perjalanan ini, aku menemukan
bahwa ketika hati terbuka untuk hal-hal baru, dunia
menjadi labirin tak terduga yang penuh kejutan.
Dalam suatu workshop seni, aku menemukan
bakat dalam melukis yang selama ini terpendam. Warna-
warna di atas kanvas menjadi pelarian dari kenangan
cinta monyet yang dulu menyakitkan. Setiap goresan
menjadi ekspresi perasaan, dan melukis menjadi cara
yang luar biasa untuk menyembuhkan luka hati.
Aku juga mulai mengeksplorasi bidang studi
yang selama ini hanya kutelan mentah-mentah. Aku
menemukan ketertarikan baru, mengejar mata kuliah
yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dengan fokus
pada pengembangan diri, aku menyadari bahwa kampus
ini adalah panggung pertunjukan besar untuk
menemukan identitas diri.
Dalam mencari passion dan fokus, aku tidak
sendirian. Teman-teman sekelas yang juga sedang
mencari jati diri mereka menjadi sahabat-sahabat setia.
Bersama-sama, kami menjalani perjalanan akademis dan
sosial yang mengubah pandangan hidup kami. Hubungan
persahabatan yang semakin erat memberikan dukungan
tanpa syarat.
Kami tidak hanya berbagi kegembiraan di atas
sukses bersama, tetapi juga menyemangati satu sama lain
dalam mengatasi tantangan. Dalam kebersamaan ini, aku
menemukan bahwa cinta monyet yang dulu menyiksa
hatiku telah memberiku hadiah berupa persahabatan
yang tulus dan berharga.
Melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan,
aku menyadari bahwa pertumbuhan pribadi bukan hanya
tentang penemuan minat dan fokus, tetapi juga tentang
perkembangan karakter. Setiap tantangan yang dihadapi,
baik dalam bidang akademis maupun sosial, menjadi
bahan bakar untuk meningkatkan ketangguhan diri.
Aku belajar untuk menjadi lebih sabar, tangguh,
dan terbuka terhadap keberagaman. Keberanian untuk
mencoba hal baru dan berani menghadapi ketidakpastian
menjadi bekal berharga untuk menjalani kehidupan di
luar kampus.
Dengan berkembangnya minat dan hubungan
persahabatan yang kuat, aku mulai merasakan
kebahagiaan yang sejati. Kehidupan di kampus tidak lagi
hanya tentang mencari cinta romantis, tetapi juga tentang
menemukan kepuasan dalam pencapaian pribadi dan
memberi arti pada kehidupan sehari-hari.
Aku belajar untuk menghargai setiap momen,
memandang kehidupan dengan mata yang lebih positif,
dan menyadari bahwa kebahagiaan sejati berasal dari
dalam diri kita sendiri. Sementara cinta monyet mungkin
telah membuka jalan bagi pertumbuhan ini, akhirnya aku
menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari
kemampuan kita untuk mencintai dan menghargai
kehidupan sendiri.
Setelah empat tahun yang penuh petualangan di
kampus, saatnya untuk meninggalkan dunia akademis
dan melangkah ke dunia nyata. Saat wisuda tiba, rasa
bangga dan rindu bercampur aduk. Namun, dengan toga
wisuda yang memeluk tubuhku, aku merasakan kekuatan
dan kesiapan untuk menyongsong masa depan yang
belum terjawab.
Saat itu pula aku menyadari bahwa kisahku
sebagai mahasiswa baru yang sembuh dari cinta monyet
hanya bab awal dari buku hidupku. Lulus kuliah bukan
akhir dari petualangan, melainkan awal dari babak baru
yang menantang dan penuh potensi.
Setelah lulus, aku memutuskan untuk menjelajahi
dunia kerja. Dengan tekad dan semangat yang masih
menyala, aku mulai mencari karir yang sesuai dengan
minat dan keterampilanku. Proses mencari pekerjaan
terkadang penuh tantangan, tetapi ketekunan dan
dedikasi membawaku pada jalan yang tepat.
Melalui beberapa wawancara dan pertemuan
networking, akhirnya aku menemukan pekerjaan yang
sesuai dengan bidang studi dan minatku. Mulai dari sana,
setiap hari di kantor menjadi ladang pengalaman dan
pembelajaran baru.
Selama menjalani karir profesional, aku juga
mulai menjalin hubungan yang lebih matang. Pergi dari
cinta monyet, aku menyadari bahwa hubungan yang
sehat dan berarti membutuhkan waktu dan komitmen.
Bersama pasangan baru, kami membangun fondasi yang
kokoh, saling mendukung, dan tumbuh bersama dalam
setiap langkah kehidupan.
Dalam perjalanan karir dan hubungan, aku
merasa bahwa sudah saatnya untuk menyuarakan kisah
hidupku. Menulis buku tentang pengalaman sebagai
mahasiswa baru yang sembuh dari cinta monyet dan
menjalani kehidupan setelah lulus kuliah menjadi
panggilan hati. Aku ingin berbagi perjalanan pribadi ini
sebagai inspirasi bagi orang lain yang mungkin
mengalami hal serupa.
Kini, aku menyadari bahwa kehidupan adalah
perjalanan yang terus berkembang. Dari mahasiswa baru
yang terjebak dalam cinta monyet hingga profesional
yang menjalani karir dan hidup bersama pasangan, setiap
bab dalam buku hidupku memberikan pelajaran
berharga.
Dengan hati yang penuh rasa syukur, aku melihat
ke masa depan dengan optimisme. Setiap kisah hidup
memiliki nilai dan arti yang unik. Dengan semangat dan
tekad, aku siap menyongsong babak-babak baru yang
menunggu, siap menulis kisah hidup yang semakin
memikat dan berwarna.
Setelah beberapa tahun menjalani kehidupan
profesional dan membangun hubungan yang kokoh, tiba
saatnya untuk membuka bab baru: menikah. Pernikahan
menjadi langkah besar yang diambil dengan keyakinan
dan cinta yang tumbuh dari pengalaman hidup. Bersama
pasangan, kami berdua mengarungi petualangan baru
sebagai suami dan istri.
Sementara pernikahan membawa kebahagiaan
baru, kehidupan kami semakin berwarna saat berita
kehamilan menyapa. Mempersiapkan diri menjadi orang
tua adalah tantangan baru yang dihadapi dengan
sukacita. Bersama-sama, kami belajar tentang
kehamilan, merencanakan masa depan, dan berbagi
mimpi tentang keluarga kecil yang bahagia.
Momen yang dinanti tiba ketika si kecil akhirnya
lahir. Kehadirannya membawa kebahagiaan yang tiada
tara, tetapi juga tanggung jawab baru. Menjadi orang tua
membutuhkan kesabaran, dedikasi, dan cinta tanpa batas.
Dalam setiap suara tawa dan tangisannya, kami
menemukan keindahan menjadi orang tua yang penuh
kasih.
Kami berdua belajar untuk berbagi tanggung
jawab dalam merawat anak. Setiap malam membaca
cerita, setiap tantangan pertumbuhannya, dan setiap
momen kecil menjadi pengalaman berharga. Pemahaman
dan kerjasama dalam membesarkan anak menjadi
fondasi yang kuat untuk keluarga kecil kami.
Saat keluarga berkembang, tantangan untuk
menjaga keseimbangan antara karir dan keluarga
muncul. Kami berdua berusaha menciptakan lingkungan
yang seimbang, di mana baik karir maupun keluarga
mendapat perhatian yang layak. Dalam perjalanan ini,
kami menyadari bahwa komunikasi dan dukungan saling
melengkapi adalah kunci utama.
Mengantar anak ke sekolah dan membantu dalam
pendidikannya menjadi bagian tak terpisahkan dari peran
sebagai orang tua. Menyusuri jalan pendidikan anak,
kami berusaha memberikan dukungan tanpa syarat dan
memastikan bahwa si kecil memiliki lingkungan yang
mendukung pertumbuhannya.
Saat ini, sambil menatap masa depan, keluarga
kecil kami merasa diberkati dengan cinta dan
kebahagiaan. Meskipun setiap bab dalam cerita hidup
membawa tantangan dan perubahan, kami bersama-sama
melewati setiap langkah dengan penuh keyakinan dan
harapan.
Melalui setiap perjalanan, kami menyadari bahwa
kisah kehidupan kami terus berlanjut. Kami berdua
bertekad untuk menjalani hidup ini dengan penuh
kebahagiaan, tumbuh bersama dalam cinta yang semakin
kuat, dan melihat anak kami tumbuh menjadi pribadi
yang tangguh dan berharga.
Cerita hidup kami, yang dimulai dari kisah
sembuh dari cinta monyet hingga pembentukan keluarga
kecil, menjadi bukti bahwa cinta, dedikasi, dan
komitmen adalah pondasi yang kokoh untuk membangun
kehidupan yang penuh makna dan bahagia. Sambil
merangkai cerita ini, kami bersyukur dan menantikan
setiap bab baru yang akan membawa petualangan,
kebahagiaan, dan pertumbuhan bagi keluarga kami.
Pesan moral dari kisah ini adalah:
Proses Pemulihan: Meskipun cinta monyet dan
kekecewaan mungkin menjadi bagian dari perjalanan
hidup, penting untuk mengenali dan menjalani proses
pemulihan. Pemulihan memerlukan waktu, tekad, dan
kemauan untuk tumbuh dari pengalaman pahit.
Eksplorasi dan Pertumbuhan Pribadi: Kesadaran
terhadap minat dan passion yang sesungguhnya serta
komitmen untuk mengeksplorasi dan mengembangkan
diri membawa pada pertumbuhan pribadi yang positif.
Kampus dan kehidupan setelah lulus merupakan
panggung untuk menemukan identitas dan potensi diri.
Nilai Hubungan Persahabatan: Hubungan
persahabatan yang kuat dan mendukung memainkan
peran penting dalam membantu melewati masa-masa
sulit dan mencapai pertumbuhan pribadi. Dalam
membangun hubungan, penting untuk memberi dan
menerima dukungan dengan tulus.
Kesiapan Menyongsong Masa Depan: Menyadari
bahwa kelulusan bukanlah akhir, tetapi awal dari babak
baru, merupakan kunci untuk menyongsong masa depan
dengan semangat dan kesiapan. Karir, hubungan, dan
pencapaian hidup lainnya adalah bagian dari perjalanan
yang terus berkembang.
Mencari Arti dalam Pencapaian Pribadi:
Pencarian makna hidup bukan hanya tentang hubungan
romantis, tetapi juga melibatkan pencapaian pribadi,
eksplorasi minat, dan memberikan arti pada setiap
langkah perjalanan. Kehidupan memiliki banyak aspek
yang dapat memberikan kebahagiaan dan kepuasan.
Menjadi Sumber Inspirasi: Berbagi kisah hidup
sebagai sumber inspirasi bagi orang lain adalah tindakan
mulia. Terkadang, perjalanan seseorang bisa menjadi
cahaya bagi yang lain yang mengalami kesulitan serupa,
dan melalui kisah hidup, kita dapat memberikan harapan
dan dorongan positif kepada orang lain.