Asuhan Keperawatan pada Asma Bronkial
Asuhan Keperawatan pada Asma Bronkial
DISUSUN OLEH:
Nama: Lufia Imelani
Kelas: F-1 Keperawatan
i
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan pendahuluan dan laporan kasus ini telah diperiksa, disetujui, dan dievaluasi oleh
guu mata pelajaran ilmu penyakit dalam (IPDD) pada
Hari :
Tanggal :
Tahun :
Mengetahui,
Guru Mapel IPDD
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat dan anugrah Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan
nikmat Serta karunia-Nya diberikan kesempatan untuk menyelesaikan laporan pendahuluan
dengan gangguan sistem pernafasan pada kasus “ASMA” ini. Tujuan dari penyusunan
laporan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk menuntaskan penugasan mata pelajaran
ilmu penyakit dalam (IPDD).
Pada kesempatan ini, Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada ibu guru mapel ipdd,
yaitu Ns. Jinan Estida Hayati Umajan, [Link] atas bimbingan dan arahannya. Saya menyadari
bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya selaku
penyusun laporan sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan laporan ini. Harapan saya, semoga laporan ini memberikan wawasan yang
lebih luas kepada pembaca.
LUFIA IMELANI
iii
DAFTAR ISI
COVER...............................................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN...............................................................................................ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................................iii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................2
1.3 Tujuan..........................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
A. TEORI ASMA..............................................................................................................3
2.1 Definisi........................................................................................................................3
2.2 Anatomi fisiologi.........................................................................................................3
2.3 Etiologi........................................................................................................................9
2.4 Klasifikasi..................................................................................................................11
2.5 Manifestasi Klinis......................................................................................................13
2.6 Patofisiologi...............................................................................................................14
2.7 Pathway.....................................................................................................................16
2.8 Pemeriksaan Penunjang.............................................................................................16
2.9 Pencegahan................................................................................................................18
2.10 Komplikasi...............................................................................................................18
B. KONSEP ASKEP .......................................................................................................19
3.1 Pengkajian.................................................................................................................19
3.2 Diagnosa....................................................................................................................22
3.3 Intervensi...................................................................................................................23
3.4 Implementasi.............................................................................................................24
3.5 Evaluasi.....................................................................................................................24
iv
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………….....25
KESIMPULAN …………………………………………………………………...........25
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................25
v
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya "Bagaimana gambaran
asuhan keperawatan pada klien dengan Asma Bronkial diruang Raflesia RSUD Curup Tahun
2022" ?
1.3 Tujuan
a. Tujuan umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung dan konperhensip pada klien
dengan asma bronkial yang di rawat diruang Raflesia RSUD Curup.
b. Tujuan khusus
1. Mampu melakukan pengkjian keperawatan pada pasien asma bronkial diruang Raflesia
RSUD Curup.
2. Mampu melakukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
pernapasan asma di RSUD Curup Rejang Lebong tahun 2022
3. Mampu membuat rencana keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem perapasan
asma di RSUD Curup Rejang Lebong tahun 2022
4. Mampu melaksanakan tindakan keperaatan sesuai dengan rencana yang telah di buat.
5. Mampu mengevaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah d laksanakan
[Link] mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP TEORI ASMA
2.1 Definisi
Asma adalah penyakit inflamasi kronik pada jalan nafas yang di karakteristikkan dengan
hipperresponsivitas, edema mukosa dan produksi mucus. Inflamasi ini pada akhirnya
bekembang menjadi episode gejala asma yang berulang; batuk, sesak dada, mengi, dan
dipsnea. Pasien asma mungkin mengalami periode bebas gejala bergantian dengan
eksaserbasi akut yang berlangsung dalam hitungan menit, jam, sampai hari.
Asma suatu penyakit kronik yang paling serius muncul pada masa kanak- kanak, dapat
dialami oleh berbagai kelompok usia (faktor paling kuat) dan terpapar zat iritan atau alergen
dalam waktu yang lama, (misalkan: rumput, serbuk sari, jamur, debu dan binatang). Pencetus
yang paling sering memunculkan gejala asma dan eksaserbasi mencakup iritan jalan nafas
(misalkan: pulutan, suhu dingin, bau menyengat, asap dan parfum), Latihan fisik, stress, atau
perasaan marah, obat-obatan, dan infeksi virus pada jalan nafas (Brunner & Suddart, 2016)
2
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan, penyempitan
bersifat berulang namun reversible, dan diantara episode penyempitan bronkus tersebut
terdapat keadaan ventilasi yang lebih baik (Nurarif dan Kusuma, 2015)
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit asma adalah
penyakit pada sistem pernafasan yaitu suatu gagguan pada saluran bronkial yang mempunyai
ciri bronkospasme yang menyebapkan peningkatan hipperresponsif jalan nafas yang
menimbulkan gejala episode berulang berupa wheezing, sesak nafas, dada terasa berat dan
batuk-batuk terutama pada waktu malam atau dini hari.
2.2 Anatomi fisiologi
3
1) Celah antara basis kranii dan muskulus konstriktor faringeus superior di tembus tuba
faringoauditiva platina asendens cbang muskulus levator volipalatini.
2) Celah antara muskulus konstriktor faringeus superior dan muskulus konstriktor faringeus
media ditembus nervus glosofaringeus, ligamentum stilofarngeus, dan muskulus
stilofaringeus.
3) Celah antara muskulus konstriktor faringeus media dan muskulus konstriktor faringeus
inferior ditembus nervus laringikus superior.
4) Celah dibawah muskulus konstriktor faringikus ditembus olehnervus laringikus, nervus
inferior dan nervus rekurens.
c. Laring
Laring atau pangkal tenggorkan merupakan jalan tulang rawan yang dilengkapi dengan otot,
membran, jaringan ikat, dan ligamentum. Sebelah atas pintu masuk laring membentuk tepi
epiglottis, lipatan dari epiglottis arytenoid dan pita intraritenoid, setelah bawah tepi kartilago
krikoid. Tepi tulang dari pita suara asli kiri dan kanan membatasi daerah epiglottis. Bagian
atas disebut supraglotis dan bagian bawah disebut subglotis.
Vokalisasi adalah berbicara melibatkan sistem respirasi yang meliputi pusat khusus
pengaturan bicara dalam korteks serebi, pusat respirasi di dalam batang oatak, dan artikulasi
serta struktur resonansi dari mulut dan rongga hidung.
d. Trakea
Trakea (batang tenggorokan) adalah tabung berbentuk pipa seperti huruf C yang dibentuk
oleh tulang-tulang rawan yang disempurnakan oleh selaput, terletak di antara vertebrae
servikalis VI sampai ke tepi bawah kartilago krikoidea vertebra torakalis V, panjangnya
sekitar 13cm dan diameter 2,5 cm dilapisi oleh otot polos, mempunyai dinding fibreolasis
yang tertanam dalam balok-balok hialin yang memepertahanan trakea tetap terbuka.
Struktur trakea.
Pada ujung bawah trakea, setinggi angulus sterni tepi bawah trakea vertebrae torakalis IV,
trakea bercabang dan menjadi bronkus kiri dan bronkus kanan. Trakea di bentuk oleh tulang-
tulang rawan yang berbentuk cincin yang twerdiri dari 15-20 cincin. Diameter trakea tidak
sama pada seluruh bagian. Pada daerah servikal agak sempit, bagian tengah sedikit melebar,
dan mengecil lagi dekat percabangan bronkus. Bagian dalam trakea terdapat seputum yang
disebut karina, terletak agak ke kiri dari bidang median. Bagian dalam dari trakea terdapat
sel-sel bersilia, berguna untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama udara ke jalan
pernapasan.
1) Sebelah kanan terdaat [Link] dektra, [Link] sinistra, dan [Link]
2) Sebelah kiri terdapat aorta dan nervus rekuren sinister
3) Bagian depan menyilang [Link] sinistra dan fleksus kardiakus profundus.
4
4) Bagian belakang terdapat asofagus, pada sisi trakea berjalan cabang-cabang [Link]
dan trunkus simpatikkus kearah pleksus kardiakus
Fungsi trakea
Mukosa trakea terdiri dari epitel keras seperti lamina yang berisi jeringan serabut-serabut
elastis. jaringan mukosa ini berisi glandula mukosa yang sampai permukaa epitel
menyambung ke pembuluh darah bagian luar. Submukosa trakea menjadikan dinding trakea
kaku dan melindungi swerta mencega trakea mengempis. Kartilago antara trakea dan
esophagus lapisannya menjadi elastis pada saat proses menelan sehingga membuka jalan
makanan dan makanan masukan ke lambung. Rangsangan saraf simpatis memperlebar
diameter trakea dan mengubah besar volume saat terjadinya proses pernafasan.
a. Bronkus
Bronkus (cabang tenggorok) merupakan lanjutan dari trakea. Bronkus terdapat pada
ketinggian vertebrae IV dan V . bronkus mempunyai struktur sama dengan trakea dan dilapisi
oleh sejenis sel yang sama dengan trakea dan berjala ke bawah arah tampuk paru. Bagian
bawah trakea mempunyai cabang dua kiri dan kanan yang dibatasi ole garis pembatas. Setiap
erjalanan cabang utama tenggorokan ke sebuah lekuk yang panjang di tengah permukaan
paru.
f. Pulmo
Pulmo (paru) adalah salah satu organ sistem pernapasan yang berada didalam kantong yang
dibentuk oleh pleura parietalis dan pleura viseralis. Kedua paru sangat lunak, elastis, dan
berada dalam rongga toraks. Sifatnya ringan dan terapung didalam air. Paru berwarna biru
keabu-abuan dan berbintik-bintik karena partikel-partikel debu yang masuk termakan oleh
fagosit. Hal ini terlihat nyata pada pekerjaan tambang.
Masing-masing paru mempunyai aspek yang tumpul menjorok ke atas, masuk ke leher kira-
kira 2,5 cm di atas klavikula. Fasies mediastinalis yang konveks berhubungan dengan dinding
dada dan fasies mediastinalis yang konkaf membentuk pericardium. Sekitar pertengahan
pertemuan kiri terdapat hilus pulmonalis suatau lekukan tempat bronkus, pembuluh darah,
dan saraf masuk ke paru membentuk radiks pulmonalis.
Apeks pulmo berbentuk bundar dan menonjol kea rah dasar yang lebar, melewati aperture
superior 2,5-4 cm di atas permukaan cembung diafragma. Oleh karena kubah diafragma lebih
menonjol keatas maka bagian kanan lebih tinggi dari paru kiri. Dengan adanya insisura atau
fisura pada permukaan, paru dapat dibagi atas beberapa lobus, letak insisura dan lobus di
perlukan dalam penentuan diagnosis. Pada paru kiri terdapat suatu insisura yaitu insisura
obliges. Insisura ini membagi paru kiri atas dua lobus yaitu lobus superior (bagian yang
terletak di atas dan didepan insisura) dan lobus inferior (bagian paru yang terletak di belakang
dan bawah insisura)
g. Pleura
5
Pleura adalah suatu membran serosa yang halus, membentuk suatu kantong tempat paru
berada. Ada dua buah, kiri dan kanan yang masing- masing tidak berhubungan. Pleura
mempunyai dua lapisan.
1) Lapisan permukaan disebut permukaan partietalis: lapisan pleura yang langsung
berhubungan dengan paru dan memasuki fisura paru, memisahkan lobus-lobus dari paru.
2) Lapisan dalam pleura viseralis: pleura yang berhubungan dengan fasia endororasika,
merupakan permukaan dalam dari dinding toraks, sesuai dengan letaknya.
2. Mekanisme pernapasan.
Mekanisme pernapasan menurut Syaifudin (2016) dan Tarwoto, (2011) sebagai berikut:
Paru dan dinding dada adalah strktur yang elastis, dalam keadaan normal terdapat lapisan
cairan tipis antara paru dan dinding dada. Paru dengan mudah bergeser pada dinding dada.
Tekanan pada ruangan antara paru dan dinding dada di bawah tekanan atmosfer. Paru
teregang dan berkembang pada waktu bayi baru lahir (Syaifudin,2016) Pada waktu menarik
napas dalam, otot berkontraksi tetapi pengeluaran pernapasan dalam proses yang pasif.
Diafragma menutup ketika penarikan napas, diafragma dan tulang daa menutupi ke posisi
semula. Aktivitas bernapas merupakan dasar yang meliputi gerak tulangrusuk ketika bernapas
dalam dan volume udara bertambah (Syaifudin,2016)
Pada waktu inspirasi udara melewati hidung dan faring. Udara dihangatkan dan di ambil uap
airnya. Udara berjalan melalui trakea, bronkus, bronkeolus, dan ductus alveolaris ke alveoli.
Luas total dinding paru yang bersentuhan dengan kapiler-kapiler pada kedua paru kira-kira
70m2 (Syaifudin,2016)
Bernapas atau pulmonary ventalis merupaan proses pemindahan udara dari dan ke paru-
paru. Proses bernapas terdiri dua fase yaitu inspirasi yaitu periode ketika aliran udara luar
masuk ke paru-paru dan ekspirasi yaitu periode ketika udara meninggalkan paru-paru keluar
ke atmosfer, tekanan yang berperan dalam proses bernapas adalah tekanan atmosfer, tekanan
intrapulmonary atau intraalveoli, dan tekanan intrapleura (Tarwoto 2011)
Aktivitas bernapas merupakan dasar yang meliputi gerak tulang rusuk sewaktu bernapas
dalam. Pada waktu istirahat pernapasan menjadi dangkal akibat tekanan abdominal yang
membatasi gerakan diafragma.
a. Inspirasi
Inspirasi terjadi ketika tekanan alveoli dibawah tekanan atmosfer. Otot yang paling penting
dalam inspirasi adalahdiafragma bentuknya melengkung dan melekat pada iga paling bawah
dan otot intrakosta eksterna. Ketika diafragma berkontraksi bentuknya menjadi datar dan
menekan dibawahnya yaitu pada isi abdomen dan mengangkat iga keadaan ini menyebapkan
pembesaran rongga toraks dan paru-paru (tarwoto,2011)
b. Ekspirasi
6
Selama pernafasan biasa, ekspirasi merupakan proses pasif, tidak ada kontraksi otot-otot
aktif. Pada akhir inspirasi otot-otot respirasi relaks, memberikan elasitas paru dan rongga
dada untuk mengisi volume paru. Ekspirasi terjadi ketika tekanan alveolus lebih tinggi dari
pada tekanan atmosfer. Relaksasi diafragma dan otot intrakosta eksterna mengakibatkan
recoil elastis dinding dada dan paru sehingga terjadi peningkatan tekanan alveolus dan
merupakan volume paru, dengan demikian udara bergerak dari paru-paru ke atmosfer
(tarwoto,2011)
c. Reflek batuk
Reflek batuk merupakan cara paru mempertahankan diri bebas dari benda asing penyebap
iritasi lain merangsang reflex batuk. Implus afrens berasal dari jalan pernapasn melalui
nervus vagus ke medulla ablongta. Kejadian rangkalan otomatis dicetuskan oleh sirkulit
neuron medulla oblongata yang menyebapkan efek:
1) Sekitar 2,5 liter udara diinspirasikan
2) Epiglottis menutup dan pita suara menutup rapat untuk udara di dalam paru.
3) Otot perut berkontraksi kuat mendorong diafragma sementara otot ekspirasi lain
berkontraksi kuat. Akibat tekanan dari dalam paru meingkat setinggi 100mmHg atau lebih.
4) Pita suara dan epiglottis tiba-tiba terbuka lebar sehingga udara yang tertekan dalam
paru terdorong keluar. Biasanya udara yang bergerak cepat membawa benda asing yang
terdapat dalam bronkus dan takea.( Menurut syaifudin, 2016)
d. Ruang rugi
Selain udara yang dihirup oleh seseorang tidak pernah sampai pada daerah pertukaran gas ,
tetap berada dalam saluran napas, tempat tidak terjadi pertukaran gas di setiap kali bernapas
dinamakan udara ruang rugi. Pada pertukaran gas di setiap kali bernapas dinamakan udara di
ruang rugi. Pada inspirasi banyak udara baru mula mula harus mengisi berbagai area ruang
rugi jalan napas. ([Link], faring, trakea dan bronkus) sebelum mencapai alveoli. Udara
ruang rugi ini tidak berguna bagi proses pertukaran gas, karena di lokasi ini tidak terjadi
pertukaran gas. Udara ruang rugi normal pada orang muda dewasa kira-kira 150 ml.
Beberapa alveoli dengan sendirinya tidak berfungsi atau hanya sebagian berfungsi karena
tidak ada atau jeleknya aliran darah melalui paru-paru yang berdekatan, sehingga harus di
pertimbangkan sebagai ruang rugi. Bila ruang rugi alveoli dimasukkan ke dalam ruang rugi
total maka dinamakan ruang rugi fisiologik yang berawalan dengan ruangrugi anatomic. Pada
orang normal, ruang rugi anatomi dan fisiologis hampir sama karena semua alveoli berfungsi
pada paru normal. Pada orang yang alveolinya tidak berfungsi atau berfungsi sebagian, di
bagian paru kadang- kadang ruang rugi fisiologik 10 kali ruang rugi anatomic (1-2 liter)
(Syaifudin 2016).
e. Ventilasi mekanis
Syaifudin (2016) mengataka bahwa ventilasi mekanis sebagai berikut:
Udara mengalir dari tekanan tinggi kebagian tekanan rendah. Namun demikian bila tidak
ada aliran udara masuk atau keluar dari paru-paru tekana alveolar dan atmosfer dalam
keadaan seimbang. Untuk memulai pernapasan aliran udara dalam paru-paru harus
7
dicetuskan oleh turunnya tekanan dalam alveoli. Karena ventilasi melibatkan adanya
elastisitas, complain, tekanan dan gravitasi.
a) Elastisitas: kembalinya bentuk asli setelah perubahan karena kekuatan dari luar. Paru dan
dada bersifat elastis, memerlukan energi untuk bergerak dengan cepat, dan kembali kebentuk
awalnya bila energi tidak efektif lagi.
b) Complain: kemampuan mengembang baru merupakan ukuran elastis, ditunjukkan sebagai
peningkatan volume dalam paru, untuk tiap unit peningkatan tekanan intraveolar
Complain= perubahan volume paru(liter)
Perubahan tekanan paru (cm H2O)
Complain paru total pada kedua paru adalah 0,13 l/cm
c) Tekanan: udara yang ditangkap jalan napas adalah campuran nitrogen dan oksigen (99,5%)
dan sejumlah kecil karbon dioksida dan uap air (0,5%) molekul berbagai gas menunjukkan
gerakan karena pelepasan molekul ini konstan. Volume gas menimbulkan tekanan terhadapa
dinding penampung karena gas dan campuran gas berusaha untuk bergerak dari batas
lingkungan yang da.
d) Gravitasi: adalah akibat banyaknya udara yang terjadi pada bagian atas paru dapi pada
dasar jumlah upaya yang dibutuhkan untuk ventilasi dimana ventilasi bagian ini menurun dan
ventilasi lain dari area yang kurang meningkat.
f. Difusi gas melalui jaringan
Yang penting dalam gas-gas pernapasan/respirasi adalah daya larut yang sangat tinggi dalam
lemak, akibatnya juga sangat larut dalam membrane sel gas ini berdifusi melalui membrane
sel dengan rintangan. Pembatas utama gerakan gas di dalam jaringan adalah percepatan
disfusi melalui cairn jaringan bukan melalui membrane sel. Oleh karena itu difusi gas melalui
air terutama yang harus diperhatikan bahwa karbon dioksida berdisfusi 20 kali kesepatan
oksigen.
g. Pengaturan pernapasan
Pernapasan spontan ditimbulkan oleh rangsangan ritmis neuron motoris yang mempersarafi
otot pernapasan otak. Rangsangan ini secara keseluruhan bergantung pada implus saraf.
Pernapasan berhenti bila medulla spinalis dipotong melintang di atas nervus prenikus.
Terdapat dua mekanisme saraf yang terpisah pernapasan dan terdapat pada korteks serebri.
Rangsangan ritmik pada medulla oblongata menimbulkan pernapsan otomatis. Daerah
medulla oblongan berhubungan dengan pernapasan secara klasik. Rangsangan ritmis neuron
pusat pernapasan (Tarwoto, 2011)
8
cadangan dari molekul hemoglobin, khususnya panas atom di dalam unit pusat adalah
HB+O2=HBO2.
Molekul hemoglobin oksigen segera berkembang pada keadaan seimbang. Jika dari semua
hemoglobin ini menggantikan HBO2 darah ini 100% oksigenasi atau pemenuhan bersama
oksigen terjadi. Sebagian PO2 mencapai permukaan lebih tinggi sekitar 250 mmHg, pada
konsentrasi oksigen rendah, darah hanya memenuhi sebagian, tetapi tekanan alveolar
pemenuhannya masih tinggi. Hemoglobin mempunyai oksigen kuat pada konsentrasi udara
alveolar 97,5% dari hemoglobin dalam bentuk HBO2 (Tarwoto 2011)
2.3 Etiologi
Obstruksi jalan nafas pada asma disebapkan oleh:
1. Kontraksi otot sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.
2. Pembengkakan membran bronkus.
3. Bronkus teratasi oleh mucus yang kental (Brunner & Suddart, 2013)
Faktor predisposisi dapat dibagi menjadi beberapa macam diantaranya adalah:
1) Genetik
Diturunkannya bakat alergi dari keluarga dekat, meski belum diketahui bagaimana
penrunannya dengan jelas, karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena asma apabila dia terpapar dengan faktor pencetus.
2) Alergen
Adalah suatu penyebap alergi. Dimana ini dibagi menjadi 3 yaitu :
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan (debu, bulu binatang, serbuk bunga,
bakteri dan polusi)
b) Ingestan yang masuk melalui mulut (makana dan obat-obatan)
c) c) Kontak, yang masuk melalui kontak dengan kulit (perhiasan, logam, dan jam
tangan)
3) Perubahan cuaca
Cuaca yang lembab dan hawa yang dingin sering mempengaruhi asma, perubahan cuaca
menjadi pemicu serangan asma kadang serangan berhubungan dengan asma seperti: musim
hujan, musim bunga dan musim kemarau. Hal ini berhubungan dengan angin, serbuk bunga
dan debu.
4) Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya asma, hal ini berkaitan
dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja dipabrik kayu, polusi lalu
lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
5) Olagraga
Sebagian besar penderita akan mendapat serangan atau apabila sedang bekerja dengan
berat/ aktivitas berat. Serangan asma karena aktivitas biasanya segera setelah aktivitas
selesai. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.
6) Stress
Gangguan emosi dapat menjadi pencetus terjadinya serangan asma, selain itu juga
bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disampaing gejala asma harus
segera diatasi, penderita asma yang mengalami stress harus diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalahnya menurut (Amin Hardi, 2015)
Etiologi asma dapat dibagi atas:
9
Asma yang di sebapkan oleh alergi yang di ketahui masalahnya sudah terdapat sejak
anak-anak seperti tahap protein, serbuk sari, bulu halus, binatang dan debu.
7) Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya asma, hal ini berkaitan
dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja dipabrik kayu, polusi lalu
lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
Olagraga
Sebagian besar penderita akan mendapat serangan atau apabila sedang bekerja
dengan berat/ aktivitas berat. Serangan asma karena aktivitas biasanya segera setelah
aktivitas selesai. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.
Stress
Gangguan emosi dapat menjadi pencetus terjadinya serangan asma, selain itu juga
bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disampaing gejala asma harus
segera diatasi, penderita asma yang mengalami stress harus diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalahnya menurut (Amin Hardi, 2015)
Etiologi asma dapat dibagi atas:
2.4 Klasifikasi
1. Berdasarkan kegawatan asma, maka asma dapat dibagi menjadi:
a. Asma bronkhiale
Asthma Bronkiale merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya respon yang
berlebihan dari trakea dan bronkus terhadap bebagai macam rangsangan, yang
mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang tersebar luas diseluruh paru dan derajatnya
dapat berubah secara sepontan atau setelah mendapat pengobatan
b. Status asmatikus
Yakni suatu asma yang refraktor terhadap obat-obatan yang konvensional (Smeltzer, 2001).
status asmatikus merupakan keadaan emergensi dan tidak langsung memberikan respon
terhadap dosis umum bronkodilator (Depkes RI, 2007). Status Asmatikus yang dialami
penderita asma dapat berupa pernapasan wheezing, ronchi ketika bernapas (adanya suara
bising ketika bernapas). kemudian bisa berlanjut menjadi pemapasan labored (perpanjangan
ekshalasi), pembesaran vena leher, hipoksemia, respirasi alkalosis, respirasi sianosis, dyspnea
dan kemudian berakhir dengan tachypnea. Namun makin besamya obstruksi di bronkus maka
suara wheezing dapat hilang dan biasanya menjadi pertanda bahaya gagal pemapasan
(Brunner & Suddarth, 2001).
c. Asma ekstrinsik
10
Asma ekstrinsik adalah bentuk asma paling umum yang disebabkan karena reaksi alergi
penderita terhadap allergen dan tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap orang yang sehat.
d. Asma intrinsik
Asma intrinsik adalah asma yang tidak responsif terhadap pemicu yang berasal dari allergen.
Asma ini disebabkan oleh stres, infeksi dan kodisi lingkungan yang buruk seperti klembaban,
suhu, polusi udara dan aktivitas olahraga yang berlebihan.
11
[Link] tingkat V
Yaitu status asmatikus yang merupakan suatu keadaan darurat medis beberapa serangan
asma yang berat bersifat refrakter sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. Karena
pada dasarnya asma bersifat reversible maka dalam kondisi apapun diusahakan untuk
mengembalikan nafas ke kondisi normal.
2.6 Patofisiologi
Wijaya dan Puji (2013) mengatakan bahwa patofisiologi asam adalah obstruksi jalan napas
difusi refersible. Obstruksi disebapkan oleh satu atau lebih dari kontraksi otot-otot yang
melindungi bronchi, yang menyempitkan jalan napas, atau pembengkakan membrane yang
melapisi bronkial, atau penghisap bronchi, dengan mukosa yang kental. Selain itu otot-otot
bronkial dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli
menjadi hiperinflasi, dengan udara tertangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti
dengan perubahan ini belum diketahui, tetapi ada yang paling diketahui adalah keterlibatan
sistem imunologis dan sistem otonom.
Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan
mereka. Antibody yang dihasilkan (igE) kemudian menyerang sel-sel mast salam paru.
Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan gen dengan antibody. Menyebapkan
pelepasan produk sel- sel mast (disebut mediator) seperti histamine, bradikinin, dan
prostaglandin serta anafilaksis dari subtansi yang beraksi lambat (SRS-A). pelepasan
mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas,
menyebapkan bronkospasme, pembengkakan membrane mukosa dan pembentukan mucus
yang sangat banyak.
Sistem saraf otonom mempengaruhi paru. Tonus otot bronkial diatur oleh inplus saraf vagal
melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau nonalergik, ketika ujung saraf pada
jalan napas dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, digin, merokok, emosi dan polutan,
jumlah asetikolin yng dilepaskan meningkat. Pelepasan asetikolin ini secara langsung
menyebapkan
bronkonstriksi juga merangsang pembentukan mediator kimiawi yang dibahas diatas.
Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon parasimpatis.
Selain itu, reseptor a- dan b- adrenergic dari semua sistem simpatis terletak dalam bronchi.
Ketika reseptor a- adrenergic dirangsang terjadi bronkokonstrinsik, bronkodilatasi ketika
reseptor b- adrenergic yang dirangsang. Keseimbangan antara reseptora- dan b- adrenergic
dikendalikan terutama oleh sklik adenosine monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor alfa
mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang
dilepaskan oleh sel-sel mastbronkokons.
12
2.5 Pathway
13
2.6 Pemeriksaan penunjang
14
Pemeriksaan dignostik menurut wahid (2013) ada dua yaitu pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan penunjang yaitu meliputi:
1. Pemeriksaan laboratorium
a) Pemeriksaa seputum, pemeriksaan ini untuk melihat adanya:
1) Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan granulasi dari kristal esinopil.
2) Spiral chrusmen, yakni merupakan cast cell dari cabang bronkus.
3) Crole yang merupakan figmen dari epitel bronkus
4) Netrofil dan eosinophil yang terdapat pada seputum umumnya bersifat mukoid dengan
vikositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b) Pemeriksaan darah
1) Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat terjadi hipoksemia, hipercapnia
atau sianosis.
2) Kadang pada darah terdapat peningkatan SGOT dan LDH
3) Hiponatremia dan kadar leukosit kadang diatas 15.00/mm3 yang menandakan adanya
infeksi.
4) Pemeriksaan alergi menunjukkan peningkatan igE pada waktu serangan dan menurun saat
bebas serangan asma
2. Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan radiologi
Pada waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi paru yakni raadiolensi yang
bertambah dan peleburan rongga interkostalis, serta diafragma yang menurun. Pada
penderita dengan komplikasi terdapat gambaran sebagi berikut:
1) Bila disertai dengan bronchitis, maka becak-bercak dihalus akan bertambah.
2) Bila ada episema (COPD) gambaran radiolusen semakin bertambah
3) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrase paru.
5) Dapat menimbulkan gambaran atelektasi paru
6) Bila terjadi pneumonia gambarannya adalah radiolusen pada paru.
b) Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor allergen yang dapat beraksi positif pada asma.
c) Elektrokardiografi
1) Terjadi right aksis deviation
2) Adanya hipertrofi otot jantung right budlebranch bock
3) Tanda hipoksemia yaitu takikardi, SVES, VES, atau terjadi depres segemen ST
negative.
a) Scanning paru
Melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma
tidak menyeluruh pada paru-paru
15
b) Spirometri
Menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible, cara tepat diagnosis asma
salah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer
dilakukan sebelum atau sesudah pemberian aerosol
bronkodilator, peningkatan FEVI atau FCV sebnyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis
asma.
2.8 Pencegahan
Pencegahan:
Pencegahan merupakan komponen penting dalam manajemen asma. Langkah-langkah
pencegahan yang akan diambil untuk pasien ini adalah sebagai berikut:
a) Edukasi Pasien: Pasien dan keluarganya akan diberikan edukasi yang komprehensif
tentang asma, termasuk pengertian tentang penyakit ini, pemicu serangan, dan cara
mengelolanya. Hal ini akan membantu pasien mengenali gejala lebih awal dan mengambil
tindakan yang tepat.
b) Identifikasi Pemicu: Kami akan membantu pasien mengidentifikasi pemicu-pemicu yang
mungkin memicu serangan asma, seperti alergen atau faktor lingkungan tertentu. Pasien akan
diminta untuk menghindari pemicu-pemicu ini sebisa mungkin.
c) Penggunaan Terapi Obat: Pasien akan diberikan resep obat-obatan yang sesuai, termasuk
bronkodilator dan kortikosteroid inhalasi. Pasien akan diinstruksikan tentang cara
penggunaan yang benar dan kapan harus menggunakannya.
d) Rencana Tindakan Krisis: Pasien akan dilatih dalam mengenali tanda-tanda serangan asma
yang memburuk dan apa yang harus dilakukan dalam situasi tersebut, termasuk kapan harus
mencari bantuan medis darurat.
e) Jadwal Kunjungan Rutin: Pasien akan dijadwalkan untuk kunjungan rutin ke dokter untuk
evaluasi dan penyesuaian rencana perawatan sesuai dengan perkembangan kondisinya
2.9 KOMPLIKASI
16
Asma yang parah dapat menyebabkan status asmatikus. Kondisi ini terjadi ketika
penderita asma tidak merespons pengobatan biasa sehingga perlu ditangani di rumah sakit.
Status asmatikus dapat menimbulkan sejumlah komplikasi pada penderita asma, yaitu:
B. KONSEP ASKEP
17
Konsep asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan praktik
keperawatan Langsung pada klien di bagian tatanan Pelayanan kesehatan yang
pelaksanaannya berdasarkan kaidah profesi keperawatan Dan merupakan inti dari
[Link] asuhan keperawatan identik dengan standar asuhan keperawatan berguna
sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan dan mutu asuhan keperawatan ,mutu dan
asuhan keperawatan yang baik adalah yang mencapai atau memenuhi standar asuhan
keperawatan dan standar profesi yang ditetapkan ,sumber daya untuk pelayanan asuhan
[Link] asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang
menggunakan konsep manajemen secara umum didalamnya seperti perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi. Peningkatan pelayanan adalah
derajat pemberikan pelayanan secara efisien dan efektif sesuai dengan standar pelayanan,
standar profesi yang dilaksanakan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan pasien,
menggunakan teknologi yang tepat agar hasil penelitian dalam pengembangan pelayanan
kesehatan/ keperawatan agar tercapai derajat kesehatan yang optimal.
3.1 Pengkajian
1. Pengkajian
Dalam proses pemberian asuhan keperawatan hal yang paling penting dilakukan pertama
oleh seorang perawat adalah melakukan pengkajian. Pengkajian dibedakan menjadi dua jenis
yaitu pengkajian skrining dan pengkajian mendalam. Kedua pengkajian ini membutuhkan
pengumpulan data dengan tujuan yang berbeda. Pengkajian pada pasien asma menggunakan
pengkajian mendalam mengenai kesiapan peningkatan manajemen kesehatan, dengan
kategori perilaku dan subkategori penyuluhan dan pembelajaran. Pengkajian disesuaikan
dengan tanda mayor kesiapan peningkatan manajemen kesehatan yaitu dari data subjektifnya
pasien mengekspresikan keinginannya untuk mengelola masalah kesehatan dan
pencegahannya dan data objektifnya pilihan hidup sehari-hari tepat untuk memenuhi tujuan
program kesehatan.
a. Anamnesis
Data yang dikumpulkan saat pengkajian meliputi nama, umur, dan jenis kelamin. Hal ini
perlu dilakukan pada pasien asma karena sangat berkaitan. Status atopik sangat mungkin
terjadi pada serangan asma di usia dini karena dapat memberikan implikasi, sedangkan faktor
non-atopik menyerang pada usia dewasa. Lingkungan klien akan tergambarkan berdasarkan
kondisi tempat tinggal menggambarkan kondisi lingkungan klien berada. Melalui tempat
tinggal tersebut, maka dapat diketahui faktor-faktor yang memungkinkan menjadi pencetus
serangan asma. Selain itu status perkawinan dan gangguan emosional yang dapat muncul di
keluarga atau lingkungan juga merupakan faktor pencetus serangan asma. Perkerjaan serta
suku bangsa juga perlu dikaji untuk mengetahui adanya pemaparan bahan alergen. Hal lain
yang perlu dikaji dari identitas klien ini adalah tanggal masuk rumah sakit (MRS), nomor
rekam medis, asuransi kesehatan, dan diagnosis medis. Keluhan utama meliputi sesak napas,
bernapas terasa berat pada dada, dan adanya keluhan sulit untuk bernapas.
18
b. Keluhan Utama
biasanya pada pasien asma keluhan utama yang dirasakan adalah sulit bernapas atau
sesak napas.
c. Riwayat penyakit saat ini
Klien dengan serangan asma datang mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak
napas yang hebat dan mendadak, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti
wheezing, penggunaan otot bantu napas, kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis, dan
perubahan tekanan darah. Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga
stadium. Stadium pertama ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi
karena iritasi mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema dan
pembengkakan bronkhus. Stadium kedua ditandai dengan batuk disertai mukus yang jernh
dan berbusa. Klien merasa sesak napas, berusaha untuk bernapas dalam, ekspirasi memanjang
diikuti bunyi mengi (wheezing). Pada stadium ini posisi yang nyaman dan disukai klien
adalah duduk dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, tampak pucat, tampak
gelisah serta warna kulit mulai membiru. Stadium ketiga ditandai dengan suara napas hampir
tidak terdengar ini dikarenakan aliran udara kecil, batuk (-), pernapasan tidak teratur dan
dangkal, asfiksia yang mengakibatkan irama pernapasan meningkat. Obat-obatan yang biasa
dimiut harus dikaji oleh perawat serta memeriksa kembali apakah obat masih relevan untuk
digunakan kembali.
19
Gaya hidup sangat berperan mengakibatkan serangan asma, sehingga klien dengan asma
harus mengubah gaya hidupnya sesuai keadaan untuk menghindari terserang asma. Selain itu
gejala asma dapat membatasi manusia untuk berperilaku hidup normal.
g. Pola hubungan dan peran
Klien perlu menyesuaikan kondisinya dengan hubungan dan peran klien, baik di lingkungn
rumah tangga, masyarakat, maupun lingkungan kerja serta perubahan peran yang terjadi
setelah klien mengalami serangan asma.
h. Pola persepsi dan konsep diri
Terhambatnya respons kooperatif pasien juga dapat dipengaruhi oleh persepsinya. Cara
memandang diri yang salah juga akan menjadi stresor dalam kehidupan klien. Kemungkinan
terserang asma pun akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya stress dalam
kehidupan.
i. Pola penanggulangan stres
Salah satu faktor intrinsik serangan asma ialah stres dan keteganggangan emosional,
sehingga pengkajian terhadap stres sangat diperlukan meliputi penyebab, frekuensi dan
pengaruh stress terhadap kehidupan klien serta cara klien mengatasinya.
j. Pola sensori dan kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri klien dan
akhirnya mempengaruhi jumlah stressor yang dialami klien sehingga kemungkinan terjadi
serangan asma berulang pun akn semakin tinggi
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Kedekatan klien pada sesuatu yang diyakini di dunia dipecaya dapat meningkatkan kekuatan
jiwa klien. Mendekatkan diri dan keyakinan kepada-Nya merupakan metode stres yang
konstruktif.
l. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum: hal yan perlu dikaji perawat mengenai tentang kesadaran klien,
kecemasan, kegelisahan, kelemahan suara bicara, denyut nadi, frekuensi pernapasan yang
meningkat, penggunaan otot- otot bantu pernapasan, sianosis, batuk dengan lendir lengket,
dan posisi istirahat klien.
2) B1 (Breathing)
-Inpeksi: pada klien asma terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta
penggunaan otot bantu napas. Inpeksi dada terutama melihat postur bentuk dan kesimetrisan,
peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otot-otot interkostalis, sifat dan irama
pernapasan dan frekuensi.
-Palpasi: biasanya kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal
-Perkusi: pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma
menjadi datar dan rendah.
20
-Auskultasi: terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4
detik atau lebih dari tiga kali inspirasi, dengan bunyi napas tambahan utama wheeezing pada
akhir ekspirasi.
3) B2 (blood)
Dampak asma pada status kardiovaskuler perlu dimonitor oleh perawat meliputi: keadaan
hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dan CRT.
4) B3 (Brain)
Tingkat kesadaran saat infeksi perlu dikaji. Disamping itu diperlukan pemeriksaan GCS,
untuk menentukan tingkat kesadaran klien apakah composmentis, somnolen, atau koma.
5) B4 (Bladder)
Berkaitan dengan intake cairan maka perhitungan dan pengukuran volume output urine
perlu dilakukan, sehingga perawat memonitor apakah terdapat oliguria, karena hal tersebut
merupakan tanda awal dari syok.
6) B5 (Bowel)
Nyeri, turgor, dan tanda-tanda infeksi sebaiknya juga dikaji, hal-hal tersebut dapat
merangsang serangan asma. Pengkajian tentang status nutrisi klien meliputi jumlah,
frekuensi, dan kesulitan- kesulitan dalam memnuhi kebutuhannya. Pada klien dengan sesak
napas, sangat potensial terjadi kekurangan pemenuhan kebutuhan nutrisi, hal ini karena
terjadi dipneu saat makan, laju metabolisme, serta kecemasan yang dialami klien.
7) B6 (Bone)
Mengkaji edema ekstremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas. Pada
integumen perlu dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor
kulit, kelembaban, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, eksim, dan adanya bekas
atau tanda urtikraria atau dermatitis. Pada rambut, dikaji warna rambut, kelembaban, dan
kusam. Tidur, dan istirahat klien yang meliputi: berapa lama klien tidur dan istirahat, serta
berapa besar akibat kelelahan yang dialami klien juga dikaji, adanya wheezing, sesak, dan
ortopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat klien. Aktivitas sehari-hari klien juga
diperhatikan seperti olahraga, bekerja, dan aktivitas lainnya. Aktivitas fisik juga dapat
menjadi faktor pencetus asma yang disebut dengan exercise induced asma.
3.2 Diagnosa
21
Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap
masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya, baik yang berlangsung aktual
maupun potensial.
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d hambatan upaya napas ditandai dengan dispnea, pola
napas abnormal, penggunaan otot bantu napas
2. Intoleransi aktifitas b.d Ketidak seimbangan suplai dan kebutuhan oksigen, ditandai
dengan Frekuensi jantung menjngkat >20% dari kondisi istirah
3.3 Intervensi
Intervensi keperawatan atau perencanaan merupakan keputusan awal yang memberi arah
bagi tujuan yang ingin dicapai, hal yang akan dilakukan, termasuk bagaimana, kapan dan
siapa yang akan melakukan tindakan keperawatan.
22
selama 8 detik 3. Membantu dalam
3. Anjurkan mengulang meningkatkan
tarik nafas dalam kenyamanan serta
hingga 3 kali memaksimalkan
pengeluaran sekret
4. Memaksimalkan
4. Anjurkan batuk pengeluaran sekret
dengan kuat langsung
setelah tarik nafas
: dalam yang ke 3
Kolaborasi : Kolaborasi :
1. Kolaborasi 1. Untuk menurunkan
pemberian mukoliti kekentalan sekret
atau ekspektoran, jika
perlu
Kolaborasi ; Kolaborasi ;
[Link] dengan 1. Agar nutrisi pasien
ahli gizi tentang cara terpenuhi dan dapat
meningkatkan asupan menambah energi bagi
makanan pasien
3.4 Implementasi
Pada proses keperawatan, implementasi adalah fase ketika perawat
mengimplementasikan intervensi keperawatan. Berdasarkan terminologi NIC,
implementasi terdiri atas melakukan dan mendokumentasikan tindakan yang merupakan
23
tindakan keperawatan yang khusus yang diperlukan untuk melaksanakan intervensi (atau
program keperawatan).Perawat melaksanakan atau mendelegasikan tindakan keperawatan
untuk intervensi yang disusun dalam tahap perencanaan dan kemudian mengakhiri tahap
implementasi dengan mencatat tindakan keperawatan dan respons klien terhadap tindakan
tersebut (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2011).
3.5 Evaluasi
Evaluasi adalah fase kelima dan fase terakhir proses keperawatan. Dalam konteks ini,
evaluasi adalah aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan, dan terarah ketika klien dan
profesional kesehatan menentukan kemajuan klien menuju pencapaian tujuan/hasil, dan
keefektifan rencana asuhan keperawatan. (Kozier et al., 2011). Tujuan evaluasi adalah
untuk menilai pencapaian tujuan pada rencana keperawatan yang telah ditetapkan,
mengidentifikasi variabel-variabel yang akan mempengaruhi pencapaian tujuan, dan
mengambil keoutusan apakah rencana keperawatan diteruskan, modifikasi atau dihentikan
(Manurung, 2011).
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Asma adalah penyakit inflamasi kronik pada jalan nafas yang di karakteristikkan dengan
hipperresponsivitas, edema mukosa dan produksi mucus. Inflamasi ini pada akhirnya
bekembang menjadi episode gejala asma yang berulang; batuk, sesak dada, mengi, dan
dipsnea. Pasien asma mungkin mengalami periode bebas gejala bergantian dengan
eksaserbasi akut yang berlangsung dalam hitungan menit, jam, sampai hari.
24
Asma suatu penyakit kronik yang paling serius muncul pada masa kanak- kanak, dapat
dialami oleh berbagai kelompok usia (faktor paling kuat) dan terpapar zat iritan atau alergen
dalam waktu yang lama, (misalkan: rumput, serbuk sari, jamur, debu dan binatang). Pencetus
yang paling sering memunculkan gejala asma dan eksaserbasi mencakup iritan jalan nafas
(misalkan: pulutan, suhu dingin, bau menyengat, asap dan parfum), Latihan fisik, stress, atau
perasaan marah, obat-obatan, dan infeksi virus pada jalan nafas (Brunner & Suddart, 2016)
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan,
penyempitanbersifat berulang namun reversible, dan diantara episode penyempitan bronkus
tersebut terdapat keadaan ventilasi yang lebih baik (Nurarif dan Kusuma, 2015)
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit asma adalah
penyakit pada sistem pernafasan yaitu suatu gagguan pada saluran bronkial yang mempunyai
ciri bronkospasme yang menyebapkan peningkatan hipperresponsif jalan nafas yang
menimbulkan gejala episode berulang berupa wheezing, sesak nafas, dada terasa berat dan
batuk-batuk terutama pada waktu malam atau dini hari
[Link]
lp-asma-sdki/40013490
[Link]
[Link]
25
26