PROPOSAL SKRIPSI
PENGARUH JOB DEMANDS TERHADAP INTENSI TURNOVER
DENGAN KELELAHAN EMOSIONAL SEBAGAI VARIABEL MEDIASI
PADA KARYAWAN GENERASI ZOOMERS
Arwini Roehan Srimulya
1971042094
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
MAKASSAR
2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi ini, perusahaan dan sumber daya manusia merupakan
dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sebab sumber daya manusia dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada suatu perusahaan. Dalam
memenuhi kebutuhan tenaga kerja, setiap perusahaan tentu mengalami proses
masuk dan keluarnya karyawan, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia
yang produktif untuk mengisi posisi atau jabatan kosong disuatu perusahaan.
Salah satu generasi yang saat ini sudah mulai mengisi pasar tenaga kerja
adalah generasi zoomers atau biasa disingkat generasi Z. Generasi Z
merupakan individu yang lahir antara tahun 1995 hingga 2012 (Dolot, 2018).
Setiap generasi tentu memiliki ciri khas tersendiri, sama halnya dengan
generasi Z. karakteristik generasi Z adalah mereka tidak peduli dengan
stabilitas di tempat kerja, mereka dengan mudah berpindah tempat kerja dan
melarikan diri dari rutinitas (Dolot, 2018). Mendukung pernyataan yang
dikemukakan Dolot, survey yang dilakukan Miller (2019) melibatkan
generasi Y dan generasi Z sebanyak 632 karyawan, hasilnya menyatakan 43%
generasi Y dan 78% generasi Z memiliki rencana meninggalkan tempat kerja
pada tahun 2019. Survey ini disponsori oleh daVinci Payments, sebuah
perusahaan teknologi penggajian.
Karyawan generasi Z yang memiliki niat untuk berpindah tempat kerja
juga terjadi di Indonesia. Hal ini diketahui karena tingkat turnover karyawan
1
2
Indonesia yang tinggi senilai 10% setelah generasi Z mulai memasuki dunia
kerja (Deloitte, 2019). Sebab tingkat turnover dapat dikatakan tinggi apabila
melebihi angka 10% (Roseman, 1981). Hasil data-data penelitian di atas
menunjukkan bahwa intensi turnover merupakan masalah yang terjadi pada
karyawan generasi Z di Indonesia.
Perusahaan dengan tingkat turnover yang tinggi tentunya memiliki
dampak buruk bagi perusahaan. Dampak buruk yang dirasakan oleh
perusahaan yaitu meningkatnya biaya pelatihan yang diberikan untuk
karyawan baru, berkurangnya jumlah produksi atau pencapaian kerja dan
bertambahnya biaya rekruitmen karyawan (Mobley & Hollingsworth, 1978).
Dampak lain yang dirasakan perusahaan adalah berkurangnya modal
pengetahuan, menurunkan reputasi perusahaan serta bertambahnya beban
kerja karyawan karena jumlah karyawan berkurang (Surji, 2017).
Intensi turnover telah banyak dikemukakan oleh beberapa peneliti,
sebagai menyusun model intensi turnover Mobley dan Hollingsworth, (1978)
mengemukakan bahwa pergantian karyawan terjadi ketika seorang individu
berhenti menjadi anggota organisasi disertai pemberian insentif dari
organisasi. R. Zeffane, (1994) menyebutkan bahwa niatan merupakan hasrat
yang muncul pada seorang individu untuk melakukan suatu tindakan,
sedangkan turnover merupakan keadaan ketika individu berhenti atau
menarik diri dari tempat kerja. Intensi turnover didefinisikan sebagai
probabilitas individu yang diprediksi akan melepaskan organisasi secara
permanen di masa depan (Shih & Susanto, 2010). Intensi turnover sama
3
dengan keinginan karyawan untuk beralih tempat kerja ke tempat kerja lain
(Tarigan & Ariani, 2015).
Mobley dan Hollingsworth (1978) mengemukakan sebuah model yang
menjelaskan proses intensi turnover, model ini didahului oleh Intention to
quit yaitu adanya keputusan mempertimbangkan sebelum keluar dari
organisasi, biasanya diawali dengan perilaku absensi dan kemangkiran yang
tinggi sebelum menentukan sikap untuk keluar. Kemudian karyawan akan
melakukan perilaku mencari lowongan pekerjaan di luar tempat karyawan
bekerja (job search). Terakhir, karyawan berpikir untuk keluar (thinking of
quit) yang mencerminkan individu sebelum mengambil sikap, dalam rangka
pengambilan keputusan. Sedangkan menurut Zhang dan Feng, (2011) intensi
turnover terdiri dari tiga komponen yaitu hadirnya pikiran untuk berhenti
(thoughts of leaving), adanya perilaku menelusuri alternatif pekerjaan baru
(looking for new job) dan kemauan untuk menerima peluang pekerjaan lain
jika ada yang lebih baik (willing to accept other better job chance if
available).
Terdapat Kondisi ideal yang tercipta jika tingkat intensi turnover suatu
perusahaan rendah, yaitu karyawan memiliki komitmen terhadap organisasi,
sehingga karyawaan mempunyai tujuan dan keinginan untuk
mempertahankan keanggotaan dalam organisasi (Anggapradja & Wijaya,
2017). Karyawan akan mempertahankan keanggotaan dengan berusaha
membuat organisasi menuju kearah yang lebih baik, organisasi kearah yang
lebih baik, sehingga ketika karyawan memiliki komitmen yang tinggi,
4
kemungkinan rendahnya kinerja dapat dihindari (Anggapradja & Wijaya,
2017). Tingkat komitmen yang tinggi antara individu terhadap perusahaan
atau organisasi akan menciptakan iklim kerja yang profesional.
Berbanding terbalik ketika karyawan memiliki niat untuk keluar dari
organisasi atau perusahaan sebab perusahaan akan kehilangan individu yang
terbaik di perusahaan dan menyebabkan terganggunya proses bisnis
perusahaan serta meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan,
seperti uang pesangon, biaya perekrutan, tes masuk, interview kerja,
penyesuaian gaji, biaya pelatihan, dan lembur. Fenomena intensi turnover
menjadi masalah bagi perusahaan saat ini sebab karyawan yang berpindah
perusahaan dengan cepat dianggap kurang tepat untuk dijadikan aset dalam
mencapai tujuan satau visi misi perusahaan (Suryaratri & Abadi, 2018).
Untuk itu penting bagi perusahaan memperhatikan dan mencegah keluarnya
karyawan terkhususnya pada generasi Z yang dimiliki perusahaan.
Pemahaman mengenai fenomena keluarnya karyawan menjadi sangat
penting bagi perusahaan sebab tingginya keinginan karyawan keluar dari
perusahaan merupakan patokan yang sering digunakan dalam mengindikasi
adanya masalah pada organisasi (Surji, 2017). Para ilmuan juga secara
konsisten memandang intensi turnover sebagai hal yang mampu memprediksi
turnover karyawan pada perusahaan (Bigliardi, Dormio, Galati, & Schiuma,
2012), sehingga organisasi atau perusahaan dapat menanganinya dengan
tepat. Oleh karena itu, suatu perusahaan ditekankan dapat mempertahankan
karyawan yang dimiliki dengan cara memberikan imbalan yang sesuai atau
5
tinggi, serta memahami keinginan karyawan agar karyawan dapat terus
bekerja bersama perusahaan tanpa menurunkan kinerja perusahaan tersebut.
Mobley, Horner dan Hollingsworth (1978) menyebutkan terdapat empat
faktor yang dapat menyebabkan intensi turnover, diantaranya adalah
karakteristik individu, yang meliputi pendidikan, umur, dan status
perkawinan. Faktor kedua adalah lingkungan kerja, yang meliputi lingkungan
fisik dan lingkungan sosial. Kemudian faktor ketiga adalah kepuasan kerja,
yang meliputi kepuasan akan gaji, promosi, supervisi, rekan kerja, dan isi
kerja. Faktor keempat adalah komitmen organisasi yang mengacu pada
respon emosional (affective) individu kepada keseluruhan organisasi.
Sejalan dengan penjelasan faktor kepuasan kerja yang dikemukakan oleh
Mobley, Horner dan Hollingsworth (1978), pernyataan yang dikemukakan
oleh Safitri dan Astutik (2019) mendukung faktor kepuasan kerja tersebut,
yang mengatakan bahwa beban kerja yang berlebih dan waktu kerja yang
terlalu panjang akan menimbulkan ketidakpuasan kerja. Beban kerja yang
berlebih dan waktu kerja yang terlalu panjang merupakan dimensi dari
tuntutan pekerjaan (Hussain & Khalid, 2014).
Penelitian yang dilakukan Masita (2021) juga mendukung tuntutan kerja
yang berlebih menjadi faktor yang memengaruhi tingkat intensi turnover.
Karyawan yang merasa deskripsi pekerjaan yang karyawan dapatkan tidak
sesuai dengan kecakapan yang karyawan miliki maka akan memunculkan
dampak buruk, seperti kejenuhan, bosan atau bahkan kelelahan. Tidak hanya
sampai di situ, faktor yang juga terkait dengan intensi turnover adalah
6
kelelahan emosional yang merupakan salah satu dimensi dari burnout, yang
telah banyak diteliti dan terbukti berpengaruh terhadap intensi turnover
(Chairiza, Zulkarnain & Zahreni 2018)
Sebagai data pendukung, peneliti melakukan studi pendahuluan terkait
tingkat intensi turnover dan kelelahan emosional sebagai hal yang memediasi
pada karyawan generasi Z. Hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan
pada 13 September dan 2 Oktober 2022 menyatakan bahwa, dari 36 karyawan
yang terlibat dalam pengambilan data awal. Hasilnya menunjukkan bahwa
sebanyak 67,32% karyawan generasi Z diindikasi mengalami intensi turnover
dengan rincian intention to quit sebanyak 67,2%, job search sebanyak
82,40%, serta thinking of quit sebanyak 65,3%. Peneliti juga melakukan
pengukuran terhadap kelelahan emosional sebagai hal yang memediasi
dengan frekuensi sebanyak 46,13%.
Penulis juga melakukan wawancara pada 8 Oktober 2022 dengan tiga
karyawan generasi Z disalah satu perusahaan pertambangan yang terindikasi
mengalami intensi turnover. Wawancara dilakukan untuk mengetahui faktor
yang mempengaruhi responden mengalami intensi turnover. Hasil wawancara
dari ketiga responden menyatakan bahwa faktor yang paling memengaruhi
responden mengalami intensi turnover adalah tuntutan pekerjaan yang tinggi,
mulai dari waktu kerja yang panjang, resiko dari pekerjaan, beban kerja yang
berlebih, tuntutan menghasilkan output yang terbaik serta tuntutan untuk
bersikap professional walaupun dalam keadaan yang tidak memungkinkan
(sakit, stres atau mengalami konflik di luar perusahaan). Tuntutan tersebut
7
berasal dari perusahaan atau atasan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut
jawaban ketiga responden merujuk pada konstruk job demands.
Karasek, Brisson, Kawakami, Houtman, Bongers dan Amick (1998)
mendefinisikan job demands sebagai keadaan ketika karyawan tidak memiliki
waktu atau mengharuskan karyawan bekerja cepat dan bekerja keras untuk
menyelesaikan pekerjaan. Job demands dapat menyebabkan karyawan
terbebani dengan segala tuntutan yang semakin meningkat, terlebih jika
individu dituntut untuk dapat menambah suatu usaha dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan (Lee, Shin & Baek, 2017).
Diana dan Frianto (2020) mengemukakan job demands merupakan
beban berlebih, beban tersebut terbagi menjadi dua yaitu kuantitatif dan
kualitatif. Beban kuantitatif yaitu pekerjaan yang tidak terselesaikan karena
waktu yang tidak cukup sedangkan beban kualitatif yaitu beban yang
menyangkut pemikiran sehingga tidak mempunyai suatu kemampuan yang
dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dengan kata lain,
tuntutan pekerjaan merupakan tuntutan atas tugas yang diberikan kepada
karyawan dengan kemampuan yang lebih dari biasanya untuk menyelesaikan
tugas yang diberikan oleh kelompok atau organisasi, sehingga dapat
memengaruhi kondisi fisik dan psikologis individu.
Terdapat empat dimensi job demands yang dirumuskan oleh Karasek ddk
(1998) diantaranya adalah qualitative demands yaitu sebuah tuntutan dari
perusahaan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan oleh karyawan.
Dimensi kedua adalah employee demands yaitu tuntutan akan kinerja
8
karyawan terhadap perusahaan. Dan dimensi ketiga adalah workload demands
yaitu tuntutan akan beban kerja yang tinggi terhadap karyawan sehingga
membutuhkan kemampuan yang cukup baik agar dapat menyelesaikan
tuntutan tersebut. Dimensi terakhir adalah conflict demands yaitu tuntutan
untuk tidak mencampur adukkan permasalahan pribadi yang dihadapi
karyawan dengan tuntutan yang harus dikerjakan karyawan.
Job demands yang tinggi pada suatu perusahaan dapat menyebabkan
karyawan mengalami kelelahan hingga terjadi burnout (Diana & Frianto,
2020). Burnout terdiri dari tiga dimensi, yaitu kelelahan emosional,
depersonalisasi dan penurunan pencapaian prestasi pribadi (Schaufeli &
Bakker, 1978). Kelelahan emosional diduga memediasi antara job demands
terhadap intensi turnover, sebab masalah kelelahan emosional merupakan
masalah psikologis yang paling banyak diungkap oleh responden dalam studi
pendahuluan. Kelelahan emosional merupakan kelelahan individu yang
berkaitan dengan perasaan, ditandai dengan perasaan tidak memiliki daya,
dan depresi (Houkes, Janssen, Jonge, & Bakker, 2003). Sejalan dengan itu,
hal sama juga diungkapkan Sosialita, Gismin, dan Hayati (2021) yang
menyatakan bahwa kelelahan emosional adalah keadaan seorang individu
yang merasakan ketidakberdayaan dalam bekerja sebab terlalu intens bekerja
dan membuat individu merasa tertekan walaupun telah memiliki waktu
istirahat yang cukup. Houkes dkk (2003) mengemukakan terdapat empat
dimensi yang diyakini dapat memudahkan pengukuran kelelahan emosi, yaitu
9
beban kerja, tekanan waktu, kurangnya dukungan sosial dan adanya stres
karena peran.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Knudsen, Ducharme dan Roman
(2009) dalam judul turnover intention and emotional exhaustion at the top :
Adapting the job demands-resources model to leaders of addiction treatment
organizations, yang bertujuan untuk menguji job demands yang dikaitkan
dengan kelelahan emosional dan intensi turnover serta menguji apakah
kelelahan emosional sepenuhnya atau hanya sebagian memediasi hubungan
antara job related demands dan intensi turnover. Hasilnya hanya memediasi
sebagian model, dua dari empat dimensi job demand berasosiasi dengan
kelelahan emosional dan kelelahan emosional secara positif berasosiasi
dengan intensi turnover. Temuan mengenai hubungan job demands terhadap
intensi turnover juga dilakukan oleh Utami dan Sylvia (2021) yang
menyatakan terdapat hubungan antara job demands terhadap intensi turnover
karyawan yang dimediasi oleh burnout. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Park, Rhee dan Lee (2021) juga menyatakan hal yang sama, yaitu job
demands-resource berkaitan dengan intensi turnover yang secara langsung
maupun tidak langsung melalui kelelahan emosional dan depersonalisasi. Job
demands secara positif berkaitan dengan kelelahan emosional saja sedangkan
jod resource dikaitkan dengan depersonalisasi.
Berdasarkan pada saran penelitian dari literatur terdahulu, penelitian ini
akan meninjau pengaruh job demands terhadap intensi turnover yang
dimediasi oleh kelelahan emosional pada karyawan generasi Z. pelibatan
10
generasi Z sebagai subjek penelitian dikarenakan karyawan generasi Z
merupakan generasi yang umumnya baru memasuki pasar tenaga kerja dan
kedepannya akan mendominasi dunia kerja. Hal menarik lain dari penelitian
ini adalah, penelitian ini mengkaji terkait perilaku kerja generasi Z yang
masih jarang diteliti. Serta mencari tahu konstruk baru yang dapat
memengaruhi karyawan generasi Z sering berpindah tempat bekerja atau
biasa disebut kutu loncat. Oleh sebab itu, peneliti berkeinginan untuk
mengkaji “Pengaruh Job Demands terhadap intensi turnover dengan
Kelelahan Emosional Sebagai Variabel Mediasi pada Karyawan Generasi
Zoomers di Indonesia”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana gambaran intensi turnover pada karyawan generasi
zoomers?
2. Bagaimana gambaran kelelahan emosional pada karyawan generasi
zoomers?
3. Bagaimana gambaran job demands pada karyawan generasi zoomers?
4. Apakah ada pengaruh job demands terhadap intensi turnover pada
karyawan generasi zoomers?
5. Apakah ada pengaruh kelelahan emosional terhadap intensi turnover
pada karyawan generasi zoomers?
11
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui bagaimana gambaran turnover intention pada karyawan
generasi zoomers
2. Mengetahui bagaimana gambaran kelelahan emosional pada
karyawan generasi zoomers
3. Mengetahui bagaimana gambaran job demands pada karyawan
generasi zoomers
4. Mengetahui apakah terdapat pengaruh job demands terhadap intensi
turnover pada karyawan generasi zoomers
5. Mengetahui apakah terdapat pengaruh kelelahan emosional terhadap
intensi turnover pada karyawan generasi zoomers.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat kepada berbagai pihak,
khususnya bagi peneliti dan para akademisi untuk menambah
keilmuan khususnya dalam bidang psikologi industri dan organisasi.
2. Manfaat Praktis
a. Diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai hal-hal yang
mempengaruhi kelelahan emosinal dan intensi trunover sehingga
dapat dijadikan acuan untuk mengoptimalkan kinerja karyawan
12
agar terhindar dari hal yang merugikan pihak perusahaan dan juga
karyawan.
b. Menghindari terjadinya kelelahan emosional dan turnover
intention karyawan generasi zoomers. Agar menjadi acuan untuk
implikasi dan strategi bagi perusahaan dalam mengembangkan
intervensi dan kebijakan dalam mengurangi keluarnya karyawan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Intensi Turnover
1. Pengertian Intensi Turnover
Ajzen (2005) mengemukakan terkait intensi yang merupakan
sebuah niatan individu untuk mengerjakan sebuah tindakan atau
perilaku yang akan dilaksanakan ketika adanya kesempatan yang tepat
untuk diwujudkan secara nyata. Sedangkan turnover menurut Mathis
dan Jackson (2009) didefinisikan sebagai proses keluarnya karyawan
dari organisasi yang mengharuskan perusahaan mendapatkan pengganti.
Mobley, Horner dan Hollingswort (1978) mengemukakan intensi
turnover merupakan hasrat karyawan untuk berhenti dari pekerjaan
kemudian menelusuri pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan
individu tersebut. Meyer dan Tett (1993) menjelaskan bahwa intensi
turnover merupakan tendensi karyawan untuk menemukan alternatif
pekerjaan lain pada perusahaan lain secara sadar. Secara umum, intensi
turnover mengacu pada hasrat karyawan untuk meninggalkan organisasi
namun belum terwujud dalam sebuah perilaku konkrit (Rogelberg,
2017).
Robbins dan Judge (2008) mendefinisikan intensi turnover sebagai
pengunduran diri seorang karyawan secara persisten dari suatu
perusahaan, baik secara sukarela (voluntary) maupun tidak sukarela
(involuntary). Voluntary turnover atau quit merupakan keputusan
13
14
sukarela karyawan untuk meninggalkan organisasi karena tersedianya
alternatif pekerjaan lain dan tidak adanya ketertarikan terhadap
pekerjaan yang saat ini dilakukan. Sebaliknya, involuntary turnover
merupakan pemecatan karyawan secara sepihak tanpa
mempertimbangkan kesanggupan karyawan yang bersangkutan.
Namun, turnover yang dibahas dalam penelitian ini adalah dalam
konteks model sukarela.
Berdasarkan definisi intensi turnover di atas, terdapat beberapa
kesamaan, yaitu adanya keinginan karyawan untuk meninggalkan
perusahaan tempat karyawan bekerja. Namun dari beberapa definisi
tersebut diambil kesimpulkan bahwa keinginan karyawan untuk
meninggalkan pekerjaan yang dijalani karena karyawan ingin
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi dibanding pekerjaan
sekarang. Keinginan tersebut belum diwujudkan dalam bentuk perilaku
sebab dibutuhkan proses berpikir terlebih dahulu, sebelum akhirnya
membuat keputusan untuk melakukan perilaku turnover. Berdasarkan
kajian sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa intensi
turnover adalah keinginan karyawan untuk meninggalkan organisasi
tempat karyawan bekerja ke organisasi yang berbeda guna mendapatkan
pekerjaan yang sesuai atau lebih baik.
15
2. Aspek-Aspek intensi Turnover
Mobley, Horner dan Hollingsworth (1978) mengemukakan
terdapat tiga tahapan dari intensi turnover untuk menggali informasi
mengenai keinginan karyawan untuk mencari pekerjaan lain,
diantaranya:
a. Berpikir untuk keluar (thinking of quitting), seorang individu mulai
berpikir untuk meninggalkan suatu pekerjaan atau bertahan dalam
lingkungan kerja yang diawali dengan ketidakpuasan terhadap
pekerjaan tersebut sehingga menyebabkan karyawan tersebut
mempertimbangkan untuk meninggalkan tempat kerja tersebut.
b. Mulai berkeinginan untuk mencari alternatif pekerjaan lain
(intention to search for alternatives), yaitu ketika karyawan mulai
mencari alternative pekerjaan lain diberbagai tempat untuk
menemukan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.
c. Hadirnya niat untuk keluar (intention to quit), yaitu individu
memiliki niat untuk keluar dari organisasi. Umumnya, karyawan
yang memiliki niat untuk keluar sudah menemukan pekerjaan
yang lebih baik.
Hal lain juga dikemukakan oleh Ajzen dan Fishbein (2005)
bahwa terdapat dua aspek dalam intensi turnover, diantaranya
adalah :
a. Aspek sikap pribadi, yaitu dorongan karyawan untuk menetap
atau meninggalkan perusahaan tempat karyawan bekerja yang
16
dipengaruhi oleh keyakinan pribadi yang berdasar pada
konsekuensi yang akan karyawan dapatkan.
b. Aspek norma subyektif, yaitu dorongan karyawan untuk menetap
atau meninggalkan perusahaan tempat karyawan bekerja yang
dipengaruhi oleh norma di lingkungan sosial karyawan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, terdapat perbedaan para ahli
dalam merumuskan turnover intention, Mobley (1978) merumuskan
aspek intensi turnover menurut prosesnya sedangkan Ajzen dan Fishbein
(2005) mengemukakan aspek turnover intention dalam dua dimensi yaitu
aspek sikap pribadi yang datang dari internal sedangkan aspek norma
subjektif datang dari pengaruh eksternal. Berdasarkan aspek diatas,
peneliti mengacu pada komponen yang dikemukakan oleh Mobley,
Horner dan Hollingsworth (1978) yang membagi tiga aspek, thinking of
quitting, intention to search for alternatives dan intention to quit.
3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Intensi Turnover
Menurut Mobley (2011) ada banyak faktor yang membuat individu
memiliki keinginan untuk berpindah. Faktor-faktor tersebut diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja karyawan menyangkut beberapa aspek operasional
yaitu kepuasan terhadap gaji atau sistem pembayaran, kepuasan
terhadap atasan, kepuasan terhadap bobot pekerjaan, kepuasan
17
terhadap promosi atau kepuasan terhadap kondisi kerja di
perusahaan. Karyawan yang puas dengan pekerjaan merasa bahagia
di tempat kerja dan tidak mencoba untuk mempertimbangkan
pilihan pekerjaan lain. Sebaliknya, karyawan yang tidak puas
dengan pekerjaan condong memiliki pemikiran untuk keluar dari
pekerjaan individu dan mempertimbangkan pilihan pekerjaan lain
karena berharap menemukan pekerjaan yang lebih memuaskan.
b. Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi mengacu pada respon emosional individu
kepada keseluruhan organisasi, sedangkan kepuasan mengarah pada
respon emosional atas aspek khusus dari pekerjaan.
c. Karakteristik individu
Karakteristik individu mengacu pada usia, masa kerja, jenis kelamin,
pendidikan, dan status perkawinan. Hal tersebut dapat
mempengaruhi keinginan pindah kerja karyawan.
d. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja terbagi menjadi dua jenis, yaitu lingkungan fisik
dan non-fisik. Lingkungan fisik meliputi kondisi suhu, cuaca,
arsitektur, bangunan, dan tempat kerja. Lingkungan non fisik
meliputi sosial budaya dan kualitas hidup kerja di lingkungan kerja .
18
Faktor-faktor yang memengaruhi turnover dikelompokkan dalam
tiga bagian (Robbins, 2001), yaitu :
a. Organizational-level characteristics, yang meliputi desain pekerjaan,
stres kerja, imbalan dan jaminan hari tua, dan sistem evaluasi kinerja.
b. Group-level characteristics, yang meliputi kelompok demografik dan
kelompok kohesivitas.
c. Individual-level characteristics, yang meliputi usia, masa kerja, status
marital, kepuasan kerja, dan personality-job fit.
B. Job Demands
1. Pengertian Job demands
Karasek, Brisson, Kawakami, Houtman, Bongers dan Amick
(1979) mendefinsikan job demands sebagai keadaan tidak mempunyai
waktu yang cukup untuk menuntaskan pekerjaan, walaupun individu
tersebut sudah bekerja keras dan bekerja dengan cepat. Job demands
merupakan permintaan organisasi di lingkungan kerja terhadap
karyawan dan berpotensi menjadi sumber stress bagi karyawan
(Karasek dkk, 1979).
Robbins, S (1996) mengemukakan bahwa job demands merupakan
salah satu hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang dapat
menimbulkan tekanan jika frekuensi tugas yang dirasakan karyawan
berlebihan sehingga dapat meningkatkan kecemasan dan stres. Bakker
dan Demerouti (2007) menjelaskan bahwa job demands terdiri dari
19
aspek psikologi, fisik, dan sosial dari sebuah pekerjaan yang
membutuhkan skill atau ketahanan psikologis maupun fisik untuk dapat
menyelesaikan tuntutan atau tugas. Menurut Love, Irani, Standing, dan
Themistocleous, (2007) job demands didefinisikan sebagai sebuah
tuntukan dari pekerjaan yang dapat memicu kelelahan secara
psikologis.
Berdasarkan beberapa definisi sebelumnya, maka peneliti
menyimpulkan bahwa job demands merupakan tuntutan dari suatu
pekerjaan yang membutuhkan kemampuan yang lebih dari biasanya,
baik itu fisik maupun psikologis untuk dapat menyelesaikan tugas yang
diberika
2. Aspek-Aspek Job Demands
Bakker dan Demerouti (2007) mengemukakan tiga aspek job
demands, yaitu :
a. Workload, berkaitan dengan jumlah atau frekuensi terhadap
beban tugas dalam pekerjaan yang harus diselesaikan.
b. Emotional demands, berkaitan dengan tuntutan akan kemampuan
mengelolah emosi yang muncul pada saat melakukan pekerjaan.
c. Mental demands, berkaitan dengan proses kinerja otak yang
melakukan pemrosesan informasi pada saat melakukan pekerjaan.
20
Griffin dan Moorhead (2013) membagi aspek job demands menjadi
empat, yaitu:
a. Tuntutan tugas (task demands), yaitu tuntutan akan tugas yang
harus dilakukan karyawan dan bersifat spesifik, seperti isi
pekerjaan, keamanan dan beban kerja.
b. Tuntutan fisik (physical demands) yaitu tuntutan yang bersifat fisik
yang memengaruhi situasi fisik karyawan, seperti temperatur udara,
pencahayaan, serta alat alat kerja yang digunakan karyawan.
c. Tuntutan peran (role demands) yaitu tuntutan terhadap peran yang
diinginkan organisasi terhadap karyawan untuk melakukan
tindakan tertentu, karyawan juga akan merasakan harapan terhadap
peran yang diharapkan.
d. Tuntutan antarpersonal (interpersonal demands) yaitu tuntutan
akan adanya hubungan terhadap tiga sumber tekanan yaitu
kelompok, kepemimpinan dan konflik kepribadian.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, peneliti memilih
menggunakan pendapat Bakker dan Demerouti (2007) sebab
dimensi tersebut mudah dipahami dan lebih sederhana bagi peneliti
dan sudah mencakup secara teoritis mengenai hal yang akan
diteliti.
21
C. Kelelahan Emosional
1. Pengertian Kelelahan Emosional
Maslach dan Jackson (1981) mengemukakan bahwa kelelahan
merupakan tahapan awal dari gejala kelelahan mental. Kelelahan
emosional timbul akibat adanya kelebihan permintaan atau tugas yang
individu alami, dan dapat menyebabkan terkurasnya sumber daya
emosional seorang individu. Jackson (1987) mengatakan kelelahan
emosional adalah reaksi spesifik terkait stres yang mengacu pada
keadaan energi terkuras oleh tuntutan berlebih terhadap psikologis dan
emosional yang terjadi di antara individu yang bekerja dengan orang-
orang dalam kapasitas tertentu.
Pines dan Aronson (1988) mengemukakan kelelahan emosi adalah
kelelahan yang dirasakan individu yang ditandai dengan
ketidakberdayaan dan depresi. Hal itu menggambarkan perasaan
emosional yang berlebihan dan kelelahan atas pekerjaan individu, sebab
emosi bukanlah sumber daya yang tidak dapat habis (Fridja, 1996).
Sosialita, Gismin dan Hayati (2021) menyatakan bahwa kelelahan
emosional yaitu kelelahan yang dirasakan individu yang dapat
menyebabkan individu merasa tidak berdaya dan lelah walaupun
memiliki watku istirahat yang cukup karena bekerja terlalu intens.
Dari beberapa penelitian sebelumnya, maka peneliti dapat
menyimpulkan bahwa kelelahan emosional merupakan perasaan lelah
dan tertekan secara psikologis yang individu rasakan walaupun
22
memiliki waktu istirahat yang cukup akibat bekerja terlalu intens atau
terus menerus sehingga menyebabkan individu kekurangan energi.
2. Aspek-Aspek Kelelahan Emosional
Houkes, Janssen, De Jonge dan Bakker (2003) mengemukakan
terdapat empat indikator yang diyakini akan memudahkan dalam
pengukuran kelelahan emosi, yaitu :
a. Beban kerja (workload), yaitu tekanan yang muncul dari
pekerjaan yang sedang dikerjakan individu.
b. tekanan waktu (time pressure), yaitu tekanan dalam
menyelesaikan pekerjaan dalam rentan waktu yang ditetapkan
sehingga menimbulkan ketegangan.
c. Sedikitnya dukungan sosial (lack of social support), yaitu
keadaan ketika individu tidak memiliki dukungan yang cukup
dari orang yang berada di sekitar individu dalam melakukan
pekerjaan.
d. Stres karena peran, (role stress), yaitu keadaan ketika individu
dihadapkan pada konflik dalam pekerjaan.
Maslach dan Jackson, (1981) mengemukakan indikator
kelelahan emosional ditandai dengan:
a. Emosi tenganggu, tidak dapat berkonsentrasi, kesulitan berfikir,
pelupa, kurang memiliki kepercayaan diri, dan sulit
mengendalikan sikap.
23
b. Rasa lelah dipenghujung hari kerja yang disebabkan oleh beban
kerja yang telalu banyak sehingga karyawan kurang istirahat.
c. Merasa lelah saat terbangun dipagi hari, ditandai dengan sakit
punggung, nyeri pada anggota tubuh, kelopak mata kaku akibat
kurang istirahat.
d. Depresi saat menghadapi pekerjaan, ditandai dengan rendahnya
rasa nyaman dalam bekerja, yang membuat individu mudah
mangkir dari pekerjaan tanpa penjelasan yang jelas.
e. Merasa lelah saat menghadapi jadwal kerja, ditandai dengan
perasaan cemas saat memulai kerja, lesu dan kurang bersemangat.
f. Merasa frustasi dalam bekerja, ditandaii dengan tidak mampu
menyelesaikan tuegas dengan baik serta ceroboh.
g. Merasa bekerja terlalu keras, ditandai dengan sikap menunda-
nunda pekerjaan, merasa tidak ingin menuntaskan tugas sesuai
waktu yang telah ditentukan.
h. Merasa sudah pada ambang batas, ditadai dengan sikap malas,
acuh terhadap kondisi sekitar dan cenderung mengurung diri.
Ketika karyawan tidak mampu mengatasi tekanan-tekanan dari
pekerjaan yang sedang karyawan lakukan maka kemungkinan karyawan
akan mengalami kelelahan emosional dengan indikator-indikator yang
telah dipaparkan di atas.
24
D. Pengaruh Job Demands Terhadap Kelelahan Emosional
Job demands atau tuntutan pekerjaan didefinisikan sebagai bekerja
sangat cepat, bekerja sangat keras, dan tidak mempunyai cukup waktu
untuk menyelesaikan pekerjaan (Karasek dkk, 1998). Job demands
merupakan tuntutan yang muncul di lingkungan kerja dan dapat menjadi
sumber stress bagi karyawan (Bakker & Demerouti, 2007). Senada dengan
itu, Safitri dan Astutik, (2019) mengemukakan hal yang dapat
menyebabkan adanya ketidakpuasan kerja adalah beban kerja yang
berlebih dan waktu kerja yang terlalu panjang. Beban kerja yang berlebih
dan waktu kerja yang terlalu panjang merupakan dimensi dari job demand
(Hussain & Khalid, 2014).
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara job
demands terhadap kelelahan emosional seperti penelitian yang dilakukan
oleh Clements dan Kinman (2021) yang menyatakaan bahwa job demands
dalam bentuk beban kerja dan kekerasan yang dialami berkontribusi secara
signifikan terhadap kelelahan emosional. Hal senada juga diungkapkan
Hall, Dollard, Tuckey, Winefield dan Thompson (2010) dalam
penelitiannya mengenai hubungan job demands, work family conflict dan
kelelahan emosional pada kantor polisi, hasilnya menunjukkan bahwa job
demands berkorelasi dengan work family conflict dan kelelahan emosional.
Berdasarkan beberapa penelitian tentang job demands terhadap
kelelahan emosional, peneliti menyimpulkan bahwa ketika individu
mendapatkan tuntuan pekerjaan yang tinggi maka karyawan akan
25
mengalami kelelahan emosional yang dipengaruhi oleh tingginya tuntutan
akan kualitas pekerjaan, tuntutan akan kinerja karyawan, tuntutan akan
beban kerja, tuntutan untuk tidak mencampur adukkan konflik internal
karyawan.
E. Pengaruh Kelelahan Emosional Terhadap Intensi Turnover
Kelelahan emosional secara khusus telah dikaji dalam konstruk
burnout yang disusun oleh Maslach dan Jackson (1981), salah satu
dimensi dari burnout mengungkap bahwa kelelahan emosional merupakan
salah satu aspek yang dapat merepresentasikan tingkat burnout individu.
Kelelahan emosional meruapakan proses awal dari kelelahan secara
mental. Kelelahan emosional timbul akibat adanya kelebihan permintaan
atau tugas yang individu alami, dan dapat menyebabkan terkurasnya
sumber daya emosional seorang individu. (Maslach & Jackson, 1981).
Sedangkan menurut Jackson dkk (1987) kelelahan emosional adalah reaksi
spesifik terkait stres yang mengacu pada keadaan energi terkuras yang
disebabkan oleh tuntutan berlebih secara psikologis yang terjadi di antara
individu yang bekerja dengan orang-orang dalam kapasitas tertentu pada
suatu perusahaan.
Sebagai salah satu dimensi dari burnout yang telah banyak diteliti dan
terbukti berpengaruh terhadap intensi turnover (Chairiza, Zulkarnain, &
Zahreniet, 2018) kelelahan emosional juga telah diteliti dan terbukti
berpengaruh terhadap intensi turnover. Hasil penelitian yang dilakukan
26
oleh Nazar (2015) yang menyatakan bahwa kelelahan emosional memiliki
hubungan negatif dengan komitmen organisasi dan hubungan positif
dengan niat berpindah. Azharudeen dan Arulrajah (2018) dalam judul the
relationships among emotional demand, job demand, emotional
exhaustion and turnover intention yang bertujuan untuk menguji hubungan
emotional demand, job demands, kelelahan emosional dan intensi turnover
pada karyawan, hasilnya mengungkapkan terdapat hubungan yang
signifikan antara kelelahan emosional dan intensi turnover.
Berdasarkan pemaparan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa,
ketika individu mengalami kelelahan emosional yang menyebabkan
terkurasnya energi karena tuntutan psikologis dan emosional yang
berlebihan pada perusahaan, individu cenderung berpikir dan berkeinginan
untuk melakukan turnover.
F. Pengaruh Job Demands Terhadap Intensi Turnover Dimediasi
Kelelahan Emosional
Meyer dan Tett (1993) menjelaskan bahwa intensi turnover
merupakan tendensi karyawan untuk menemukan alternatif pekerjaan lain
pada perusahaan lain secara sadar. Secara umum, intensi turnover
mengacu pada hasrat karyawan untuk meninggalkan organisasi namun
belum terwujud dalam sebuah perilaku konkrit (Rogelberg, 2017).
Robbins dan Judge (2008) mendefinisikan intensi turnover sebagai
pengunduran diri seorang karyawan secara persisten dari suatu perusahaan,
27
baik secara sukarela (voluntary) maupun tidak sukarela (involuntary).
Intensi turnover yang dibahas dalam penelitian ini adalah dalam konteks
model sukarela.
Intensi turnover yang dilakukan karyawan secara sukarela dipengaruhi
oleh beberapa faktor, salah satunya kepuasan (Mobley 1976). Safitri dan
Astutik, (2019) mengemukakan hal yang dapat menyebabkan adanya
ketidakpuasan kerja adalah beban kerja yang berlebih dan waktu kerja
yang terlalu panjang. Beban kerja yang berlebih dan waktu kerja yang
terlalu panjang merupakan dimensi dari job demand (Hussain & Khalid,
2014). job demands merupakan keadaan tidak mempunyai waktu yang
cukup untuk menuntaskan pekerjaan, walaupun individu tersebut sudah
bekerja keras dan bekerja dengan cepat (Karasek dkk, 1979).
Job demands adalah konstruk baru yang ditemukan memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap intensi turnover. Beberapa penelitian
yang menunjukkan hal tersebut seperti penelitian yang dilakukan oleh Park
dkk (2021) juga menyatakan job demands-resource berkaitan dengan
intensi turnover yang secara langsung maupun tidak langsung melalui
kelelahan emosional dan depersonalisasi. Job demands secara positif
berkaitan dengan kelelahan emosional saja sedangkan jod resource
dikaitkan dengan depersonalisasi. Azharudeen dan Arulrajah (2018)
dalam judul the relationships among emotional demand, job demand,
emotional exhaustion and turnover intention yang bertujuan untuk menguji
hubungan antara emotional demand, job demands, kelelahan emosional
28
dan intensi turnover pada karyawan, temuan penelitian ini
mengungkapkan bahwa ada hubungan positif yang kuat antara job
demands dan intensi turnover.
Berdasarkan beberapa penelitian tentang job demands peneliti
menyimpulkan bahwa ketika individu mendapatkan tuntuan pekerjaan
yang tinggi baik tuntutan akan kualitas pekerjaan, tuntutan akan kinerja
karyawan, tuntutan akan beban kerja, tuntutan untuk tidak mencampur
adukkan konflik internal karyawan, maka kemungkinan besar hal yang
akan muncul adalah adanya keinginan karyawan untuk keluar dari
perusahaan yang dimediasi oleh kelelahan emosional.
G. Kerangka Teori
Kerangka pikir pada gambar 1 menjelaskan ketika perusahan memiliki
job demands yang tinggi terhadap karyawan generasi zoomers, maka akan
memengaruhi tingkat kelelahan emosional seorang karyawan dan
kemudian berdampak pada tingginya keinginan karyawan untuk
melakukan turnover. Berbanding terbalik ketika perusahaan memiliki job
demands rendah, karyawan generasi zoomers akan memiliki kelelahan
emosional yang rendah kemudian berdampak pada rendahnya keinginan
karyawan generasi zoomers untuk melakukan turnover. Rumusan
kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1, sebagai
berikut :
29
Kelelahan
Intensi
Job Demands emosional
Turnover
Tinggi tinggi
tinggi
Karyawan
Generasi
Zoomers
Kelelahan Intensi
Job Demands Emosional Turnover
Rendah rendah rendah
Gambar 1. Kerangka Pikir
H. Hipotesis
Berdasarkan uraian teori diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
H0 : Tidak ada pengaruh job demands terhadap kelelahan emosional pada
karyawan generasi zoomers.
H1 : Ada pengaruh job demands terhadap kelelahan emosional pada
karyawan generasi zoomers.
H0 : Tidak ada pengaruh kelelahan emosional terhadap intensi turnover
pada karyawan generasi zoomers.
H2 : Ada pengaruh kelelahan emosional terhadap intensi turnover pada
karyawan generasi zoomers.
H0 : Tidak ada pengaruh job demands terhadap intensi turnover dimediasi
kelalahan emosional pada karyawan generasi zoomers.
H3 : Ada pengaruh job demands terhadap intensi turnover dimediasi
kelalahan emosional pada karyawan generasi zoomers.
30
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel
Variabel Terikat (Y) : Intensi Turnover
Variabel Bebas (X) : Job Demands
Variabel Mediasi (Z) : Kelelahan Emosional
B. Operasionalisasi Variabel
Adapun definisi operasional dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1. Definisi operasional job demands
Job demands merupakan tuntutan dari suatu pekerjaan yang
membutuhkan kemampuan yang lebih dari biasanya, baik itu fisik maupun
psikologis agar dapat menuntaskan tugas pekerjaan yang diberikan.
Aspek yang diukur dari job demands dalam penelitian ini terdiri dari
workload, emotional demands dan mental demands.
2. Definisi operasional intensi turnover
Intensi turnover adalah suatu keinginan karyawan untuk
meninggalkan organisasi tempat karyawan bekerja ke organisasi yang
berbeda guna mendapatkan pekerjaan yang sesuai atau lebih baik. Aspek
yang diukur dari intensi turnover dalam penelitian ini terdiri thinking of
quitting, intention to search for alternatives dan intention to quit.
31
3. Definisi operasional kelelahan emosional
Kelelahan emosional merupakan perasaan lelah secara psikologis
seorang individu walaupun memiliki waktu istirahat yang cukup akibat
bekerja terlalu intens atau terus menerus sehingga menimbulkan perasaan
tertekan dan kekurangan energi. Aspek yang diukur dari intensi turnover
dalam penelitian ini terdiri dari kelelahan fisik dan kelelahan psikologis.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah suatu kesatuan individu atau subjek pada wilayah dan
waktu dengan kualitas tertentu yang akan diamati/diteliti (Supardi, 1993).
Sebagai populasi, kelompok subjek dalam penelitian harus memiliki
karakteristik yang sama dan membedakannya dari kelompok lain (Supardi,
1993). Populasi dalam penelitian ini merupakan karyawan generasi
milenial seluruh Indonesia yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Individu yang sedang bekerja disalah satu perusahaan
(Swasta/BUMN/Pemerintahan)
b. Lahir pada rentang tahun 1995 – 2005.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Menurut (Supardi, 1993) sampel penelitian adalah bagian dari populasi
yang dijadikan subjek penelitian sebagai "wakil" dari para anggota
populasi. Teknik pengambilan sampel pada populasi karyawan generasi
milenial adalah teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan
32
sampel dengan cara menentukan kriteria dari suatu populasi yang dipilih .
Penilaian itu diambil tentunya apabila memenuhi kriteria tertentu yang
sesuai dengan topik penelitian (Supardi, 1993). Peneliti menentukan
beberapa kriteria dalam suatu populasi, kemudian menyebar kuisioner
melalui jejaring internet, individu yang memenuhi kriteria dan bersedia
mengisi kuisioner kemudian dijadikan responden dalam pengambilan data
penelitian. Penentuan jumlah sampel didasarkan pada tabel Isaac dan
Michael dengan taraf signifikansi 95% (Widiyanto, 2013).
D. Teknik Pengumpulan data
Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
metode skala. Skala merupakan sekumpulan pertanyaan atau penyataan tertulis
yang digunakan dalam mengungkap suatu konstruk psikologis yang
menggambarkan keadaan individu (Azwar, 2019). skala yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan skala likert yang diadaptasi dari peneliti yang telah
menggunakan pengukuran dari variabel tersebut. Dalam penelitian ini, terdapat
dua jenis aitem, yaitu favorable dan unfavorable dengan empat alternatif
pilihan jawaban, yaitu STS (sangat tidak sesuai), TS (tidak sesuai), S (sesuai)
dan SS (sangat sesuai). Pemberian bobot skor untuk aitem favorable yaitu
STS=1, TS=2, S=3, SS=4. Untuk atem unfavorable pemberian skornya yaitu
STS=4, TS=3. S=2, SS=1.
Penelitian ini menggunakan tiga macam skala untuk mengungkap masing-
masing variabel, yaitu skala intensi turnover, skala job demands, dan skala
33
kelelahan emosional. Adapun gambaran secara lengkap mengenai ketiga skala
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Skala Intensi Turnover
Peneliti menggunakan skala intensi turnover yang disusun oleh Yin-
Fah (2010). Untuk mengukur tingkatan intensi turnover pada karyawan di
perusahaan swasta. Skala ini yang terdiri dari tiga aspek yaitu thingking of
quitting, intention to search for alternatives dan intention to quit. Sebelum
menggunakan skala ini, peneliti memodifikasi skala dengan blueprint skala
intensi turnover dijelaskan pada table 3.1.
Tabel 3. 1 : Blue print skala intensi turnover sebelum uji coba
No Aspek Indikator Aitem Total
FAV UNFAV
1 Thinking of Terdapat 1,3 5,7 4
quitting pemikiran untuk
keluar dari
perusahaan
2 Intention to Terdapat 2,4 6,8 4
search for pemikiran untuk
alternatives mencari
alternative
pekerjaan lain
3 Intention to Keinginan untuk 9,11 10,12 4
quit meninggalkan
perusahaan
12
2. Skala Job Demands
Peneliti menggunakan skala job demands yang dimodifikasi dari QEEW
2.0 (Questionnaire for the Experience and Evaluation of Work) yang telah
diperbarui oleh Van Veldhoven dan Meijman (2016). Skala ini terdiri dari
34
tiga aspek yaitu workload, emotional demands dan mental demands yang
berjumlah 15 item. Blueprint skala job demands dijelaskan pada table 3.2.
Tabel 3. 2 : Blue print skala job demands sebelum uji coba
No Aspek Indikator Aitem Total
FAV UNFAV
1 Workload - Beban kerja yang 1,2,3 4,5,6 6
berlebih
- Waktu kerja yang
berlebih
- Tuntutan akan
kualitas dan
kuantitas kerja
yang tinggi
2 Emotional - Tuntutan secara 7,8,9 10,11,12 5
demands emosional
- Mempengaruhi
respon emosional
3 Mental - Membutuhkan 12,13 14,15 4
demands kehati-hatian dalam
bekerja
- Membutuhkan
perhatian penuh
dalam bekerja
Jumlah 15
3. Skala Kelelahan emosional
Peneliti menggunakan skala measurement burnout inventory (MBI)
yang disusun oleh Maslach dan Jackson (1981). Dengan hanya
menggunakan dimensi kelelahan emosional dalam penyusunan itemnya
untuk menggukur tingkatan kelelahan emosional karyawan. Skala MBI
untuk dimensi kelelahan emosional terdiri dari Sembilan item. Blueprint
skala kelelahan emosional dijelaskan pada table 3.3
35
Tabel 3. 3 : Blue print skala kelelahan emosional sebelum uji coba
No Aspek Indikator Aitem Total
FAV UNFAV
1 Kelelahan - Mengalami 2,3 - 2
fisik kelelahan secara
fisik
2 Kelelahan - Mengalami 1,4,5,6,7,8,9 - 7
psikologis tekanan pada
psikologis
- Munculnya
respon emosional
negatif
9
E. Teknik Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
deskriptif, uji prasyarat yang melalui dua tahap, yaitu uji normalitas dan uji
linearitas, serta analisis jalur.
1. Analisis deskriptif
(Azwar, 2013) mengemukakan bahwa analisis data deskriptif
merupakan data analisis yang berguna untuk memberikan deskripsi
mengenai partisipan penelitian yang digunakan berdasarkan pada data
variabel yang diperoleh pada partisipan yang diteliti. Analisis data
deskriptif dalam penelitian ini tidak dimaksudkan untuk melakukan
pengujian hipotesis seta membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum dan generalisasi. Azwar (2015) menemukan bahwa hasil analisis
deskriptif dikonversikan ke dalam tiga kategori, yaitu tinggi, sedang,
dan rendah dengan ketentuan sebagai berikut
( x
( x (
36
Keterangan :
= mean hipotetik
= standar deviasi
2. Uji Linearitas
Santoso (2010) mengemukakan bahwa analisis regresi mengaruskan
data bersifat linier, dengan menggunakan uji linearitas. Uji linearitas
dalam penelitian ini menggunakan Test for linierity dengan bantuan
program SPSS 16.0 for windows. Hasil uji linearitas didasarkan pada
kriteria sebagai berikut :
1) Jika p ≥ 0,05 maka data dinyatakan berdistribusi normal.
2) Jika p ≤ 0,05 maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal.
3. Uji Normalitas
Sugiyono (2012) mengemukakan bahwa dalam sebuah penelitian,
peneliti perlu melakukan pengujian data melalui uji normalitas. Uji
normalitas digunakan untuk menguji asumsi bahwa data setiap variabel
yang akan dianalisis membentuk distribusi normal. Tingkat kesalahan
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 0,05 atau 5%. Apabila nilai
signifikansi lebih kecil dari nilai alpha(tingkat kesalahan), maka data
yang dianalisis dalam penelitian ini terdistribusi normal.
4. Analisis jalur (path analysis)
Dalam melakukan pengujian hipotesis. Peneliti menggunakan
analisis jalur. Ghozali (2006) mendefinisikan analisis jalur sebagai
37
perluasan dari regresi linear berganda dalam menentukan keterkaitan
atau kausalitas antara variabel yang telah ditentukan. Analisis jalur
dapat digunakan dalam menguji besarnya kontribusi sebuah variabel
bebas terhaadap variabel terikat yang dinyatakan oleh koefisien jalur
pada diagram jalur hubungan kausalitas yang tercipta. Pada dasarnya
perhitungan koefisien jalur membutuhkan perhitungan dari analisis
korelasi dan regresi dengan menggunakan software SPSS for windows.
Baron dan Kenny (1986) menjelaskan terdapat beberapa langkah
dalam menggunakan analisis jalur, Langkah pertama yang dilakukan
terlebih dahulu adalah regresikan variabel bebas terhadap mediasi,
kemudian lakukan regresi linear berganda variabel bebas dan variabel
mediasi terhadap variabel terikat, setelah itu, lakukan perhitungan nilai
path/jalur dengan menambahkan nilai variabel bebas terhadap variabel
terikat, setelah nilai jalur sudah ditemukan, lakukan analisis pengaruh
langsung sekaligus tidak langsung (analisis pengaruh mediasi) dengan
uji sobel, Uji sobel dilakukan dengan cara menguji kekuatan pengaruh
tidak langsung variabel bebas (X) ke variabel terikat (Y) melalui
variabel mediasi (Z) (Ghozali, 2006).
Setelah mengetahui peran variabel mediasi, maka dilakukan uji
hipotesis dengan menghitung t statistic pengaruh mediasi, jika t-hitung
lebih besar dari t-table maka variabel mediasi dapat terbukti signifikan.
Begitupun sebaliknya, jika t-hitung lebih kecil dati t-table maka
variabel mediasi dalam penelitian tidak dapat dibutikan.
38
F. Tahapan Penelitian
1. Tahap Persiapan
Dalam tahap ini, peneliti melakukan beberapa kegiatan yaitu: peneliti
melakukan identifikasi masalah yang kemudian digunakan dalam penelitian
ini sebagai variabel terikat, setelah identifikasi masalah, peneliti melakukan
pengambilan data awal terkait variabel terikat sekaligus melakukan
wawancara untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan responden
mengalami masalah yang kemudian dirumuskan menjadi variabel bebas.
Setelah ditemukan data awal dan variabel bebas sekaligus variabel mediasi
dalam penelitian, peneliti kamudian menyusun kajian teoritis terhadap
variabel dan mencari skala yang sama dengan variabel dan aspek yang
digunakan, kemudian menyusun skala untuk ketiga variabel yang digunakan
dalam penelitian ini.
2. Tahap Pengumpulan Data
Hasil uji coba skala penelitian diolah agar dapat mengungkap standar
validitas dan reabilitas pada masing-masing aitem dalam penelitian ini. Aitem
yang memenuhi standar validitas dan reabilitas akan digunakan untuk
mengumpulkan data penelitian. Peneliti melakukan pengambilan data dengan
menyebar kuisioner melalui internet dengan media website goggleform..
3. Tahap Analisis Data
Peneliti menganalisis data dengan menggunakan uji normalitas untuk
mengetahui distribusi data penelitian, data yang terdistribusi normal
39
kemudian digunakan dalam analisis jalur untuk menentukan hasil hipotesis
penelitian menggunakan SPSS for window. Jadwal penelitian meliputi
persiapan, pengumpulan data. Analisis data dan penyusunan hasil penelitian,
tahap penelitian yaitu sebagai berikut :
Table 3.4 Tahapan Penelitian.
No Uraian Bulan
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
1 Tahap
persiapan
2 Tahap
Pengumpulan
data
3 Tahap
Analisis Data
4 Penyusunan
DAFTAR PUSTAKA
Anggapradja, I. T., & Wijaya, R. (2017). Effect of Commitment Organization,
Organizational Culture, and Motivation To Performance of Employees.
Jurnal Aplikasi Manajemen, 15(1), 74–80.
[Link]
Azharudeen, N. T., & Arulrajah, A. A. (2018). The Relationships among
Emotional Demand, Job Demand, Emotional Exhaustion and Turnover
Intention. International Business Research, 11(11), 8.
[Link]
Azwar, S. (2019). Metode Penelitian Psikologi (2nd ed.).
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2007). The Job Demands-Resources model: State
of the art. Journal of Managerial Psychology, 22(3), 309–328.
[Link]
Bakker, A. B., Hakanen, J. J., Demerouti, E., & Xanthopoulou, D. (2007). Job
resources boost work engagement, particularly when job demands are high.
Journal of Educational Psychology, 99(2), 274–284.
[Link]
Baron, R.N. and Kenny, D. A. 1986. The Moderator-Mediator Variable
Distintcion in Social Psychological Research: Conceptual, Strategic and
Statistical Consideractions. Journal of Personality and Social Psychology,
51(6): 1173- 1182.
Bigliardi, B., Dormio, A. I., Galati, F., & Schiuma, G. (2012). The impact of
organizational culture on the job satisfaction of knowledge workers. Vine,
42(1), 36–51. [Link]
Chairiza, D., Zulkarnain, Z., & Zahreni, S. (2018). Pengaruh Burnout dan
Employee Engagement terhadap Intensi Turnover Karyawan Hotel.
13
41
Analitika, 10(2), 69. [Link]
Chan Yin-Fah, B., Foon, Y. S., Chee-Leong, L., & Osman, S. (2010). An
Exploratory Study on Turnover Intention among Private Sector Employees.
International Journal of Business and Management, 5(8), 57–64.
[Link]
Clements, A. J., & Kinman, G. (2021). Job demands, organizational justice, and
emotional exhaustion in prison officers. Criminal Justice Studies, 34(4),
441–458. [Link]
Cooper, D. R. And P.S. Schindler. (2011). Businees Research Methods, 11 Th,
Mc Graw-Hill, International Edition
Cris, I. (1987). Center for Digital Economy Research Stem School of Business
IVorking Paper IS-87-09. August, 41.
Deloitte. (2016). Winning over the next generation of leaders. The 2016 Deloitte
Millenial Survey, 27.
[Link]
Deloitte/[Link]
Diana, A. M., & Frianto, A. (2020). Hubungan Antara Job Demand Terhadap
Kinerja Karyawan Melalui Burnout. BIMA : Journal of Business and
Innovation Management, 3(1), 17–33.
[Link]
Dolot, A. (2018). The characteristics of Generation Z. E-Mentor, 74, 44–50.
[Link]
Fishbein, M. (2021). The Influence of Attitudes on Behavior. The Handbook of
Attitudes, January 2005, 187–236. [Link]
13
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Undip.
42
Hall, G. B., Dollard, M. F., Tuckey, M. R., Winefield, A. H., & Thompson, B. M.
(2010). Job demands, work-family conflict, and emotional exhaustion in
police officers: A longitudinal test of competing theories. Journal of
Occupational and Organizational Psychology, 83(1), 237–250.
[Link]
Houkes, I., Janssen, P. P. M., De Jonge, J., & Bakker, A. B. (2003). Specific
determinants of intrinsic work motivation, emotional exhaustion and
turnover intention: A multisample longitudinal study. Journal of
Occupational and Organizational Psychology, 76(4), 427–450.
[Link]
Hussain, N., & Khalid, K. (2014). Impact of Karasek Job Demand Control Model
on the Job Satisfaction of the Employees of Nadra. Interdisciplinary Journal
of Contemporary Research in Business, 3, 566–594.
Karasek, R., Brisson, C., Kawakami, N., Houtman, I., Bongers, P., & Amick, B.
(1998). The Job Content Questionnaire (JCQ): an instrument for
internationally comparative assessments of psychosocial job characteristics.
Journal of Occupational Health Psychology, 3(4), 322–355.
[Link]
Khatri, N., Fern, C. T., & Budhwar, P. (2001). Explaining employee turnover in
an Asian context. Human Resource Management Journal, 11(1), 54–74.
[Link]
Knudsen, H. K., Ducharme, L. J., & Roman, P. M. (2009). Turnover Intention and
Emotional Exhaustion “at the Top”: Adapting the Job Demands-Resources
Model to Leaders of Addiction Treatment Organizations. Journal of
Occupational Health Psychology, 14(1), 84–95.
[Link]
Lee, S., Shin, Y., & Baek, S. I. (2017). The Impact Of Job Demands. The Journal
of Applied Business Research, 33(4), 829–842.
43
Love, P. E. D., Irani, Z., Standing, C., & Themistocleous, M. (2007). Influence of
job demands, job control and social support on information systems
professionals‟ psychological well-being. International Journal of Manpower,
28(6), 513–528. [Link]
Masita, I. (2021). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Turnover Intention (Studi
Kasus Pada Karyawan Yayasan Cendikia Bunayya Kabanjahe). Jurnal
Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya, 9(2), 1–14.
Maslach, C., & Jackson, S. E. (1981). The measurement of experienced burnout.
Journal of Organizational Behavior, 2(2), 99–113.
[Link]
Meyer, J. P., & Tett, R. P. (1993). Job Satisfaction, Organizational Commitment,
Turnover Intention, and Turnover: Path Analyses Based on Meta-analytical
Findings. Personnel Psychology, 46, 259–293.
Miller, S. (2019). Generation Z and millennials seek recognition at Work. SHRM
website. [Link]
topics/benefits/pages/generation-z-an [Link]
Mobley, W. H., Horner, S. O., & Hollingsworth, A. T. (1978). An evaluation of
precursors of hospital employee turnover. Journal of Applied Psychology,
63(4), 408–414. [Link]
Nazar. (2015). Impact of Emotional Exhaustions on Turnover Intentions: A
Mediating Role of Organizational Commitment in Higher Education
Institutes of Saudi Arabia. International Journal of Economics and Business
Administration, III(Issue 3), 13–26. [Link]
Öhman, A. (1996). The nature of emotion: Fundamental questions. Biological
Psychology, 44(1), 62–65. [Link]
Park, Soo Kyung, Rhee, Min-Kyoung, and Lee, Seon Woo. (2021). „The Effects
44
of Job Demands and Resources on Turnover Intention: The Mediating Roles
of Emotional Exhaustion and Depersonalization‟. 1 Jan. : 301 – 309.
R. Zeffane. (1994). Understanding Employee Turnover: The Need for a
Contingency Approach. International Journal of Manpower, 15(9), 22–37.
Rogelberg, S. G. (2017). The SAGE Encyclopedia of Industrial and
Organizational Psychology, 2nd edition. The SAGE Encyclopedia of
Industrial and Organizational Psychology, 2nd Edition, September.
[Link]
Roseman, E. (1981). Managing employee turnover: A positive approach.
AMACOM.
Safitri, L. N., & Astutik, M. (2019). Pengaruh Beban Kerja Terhadap Kepuasan
Kerja Perawat Dengan Mediasi Stress Kerja. JMD: Jurnal Riset Manajemen
& Bisnis Dewantara, 2(1), 13–26. [Link]
Schaufeli, W. B., & Bakker, A. B. (1978). 3. Symposium des Arbeitskreises für
Osteologie. Zu den Themen: 1. Reaktionen des Knochengewebes auf
Implantatwerkstoffe und 2. Aseptische Knochennekrosen wurden die
folgenden Vorrträge gehalten. Kurzfassungen, besorgte H. Plenk jr. Acta
Medica Austriaca. Supplement, 11(March 2003), 1–18.
Sosialita, A. A. N., Gismin, S. S., & Hayati, S. (2021). Emotional exhaustion
terhadap prokrastinasi akademik mahasiswa yang mengerjakan skripsi.
Jurnal Pikologi Karakter, 1(2), 94–100.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Supardi, S. (1993). Populasi dan Sampel Penelitian. Unisia, 13(17), 100–108.
[Link]
Surji, K. (2017). The Negative Effect and Consequences of Employee Turnover
and Retention on the Organization and Its Staff The Negative Effect and
45
Consequences of Employee Turnover and Retention on the Organization and
Its Staff. February. [Link]
Suryaratri, R. D., & Abadi, M. A. (2018). Modal psikologis dan intensi job
hopping pada pekerja generasi millenial. IKRAITH-Humaniora, 2(2), 77–83.
Tarigan, V., & Ariani, D. W. (2015). Empirical Study Relations Job Satisfaction,
Organizational Commitment, and Turnover Intention. Advances in
Management and Applied Economics, 5(2), 21–42. [Link]
[Link]/docview/1664818489?accountid=1466
4%5Cn[Link]
+in+Management+and+Applied+Economics&volume=5&issue=2&date=20
15-03-01&atitle=Empirical+Study+Relations+Job+S
Utami, N. Y., & Sylvia, V. S. S. (2021). Pengaruh Job Demands Dan Job
Resources Terhadap Turnover Intention Karyawan Godrej Indonesia. JIMEN
Jurnal Inovatif Mahasiswa Manajemen, 2(1), 76–82.
Agus, Mikha widiyanto. (2013). Statistika Terapan. Konsep dan Aplikasi dalam
Penelitian Bidang Pendidikan, Psikologi dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta:
PT Elex Media
Van Veldhoven, M., Prins, J., Van der Laken, P., & Dijkstra, L. (2016). Manual
QEEW2.0 : 42 short scales for survey research on work , well-being and
performance (Issue November).
Zhang, Y., & Feng, X. (2011). The relationship between job satisfaction, burnout,
and turnover intention among physicians from urban state-owned medical
institutions in Hubei, China: A cross-sectional study. BMC Health Services
Research, 11(1), 235. [Link]
46