BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Dasar Keluarga Berencana
2.1.1 Definisi Keluarga Berencana
Keluarga Berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai
kesejahteraan dengan jalan memberikan nasihat perkawinan, pengobatan,
kemandulan, dan penjarangan kelahiran serta tidak melawan hukum dan
moral pancasila (Prawirohardjo, 2007). Kontrasepsi atau anti konsepsi
adalah untuk mencegah terjadinya konsepsi dengan alat atau obat-obatan
(Mochtar, 1998).
Menurut (Hartanto, 2004) WHO (World Health Organization),
Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau
pasangan suami istri untuk :
1. Mendapatkan objektif-objektif tertentu
2. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
3. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
4. Mengatur interval diantara kehamilan
5. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami
istri
6. Menentukan waktu anak dalam keluarga.
6
7
Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan. Upaya itu bersifat
sementara, dapat pula bersifat permanen (Prawirohardjo, 2011). Beberapa
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa KB adalah tindakan yang
membantu individu atau suami istri dalam merencanakan kehamilannya
guna menjadikan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.
2.1.2 Tujuan KB
Menurut (Kenrick, 2014)
Tujuan Gerakan KB Nasional di Indonesia adalah
1. Tujuan umum
Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka mewujudkan
NKKBS yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang
sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin
terkendalinya pertambahan penduduk di Indonesia.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi
b. Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi
c. Meningkatnya kesehatan Keluarga Berencana dengan penjarangan
kelahiran.
2.1.3 Sasaran Gerakan KB
Tujuan tersebut dapat dicapai melalui penggarapan Program Nasional KB
diarahkan dalam 2 bentuk sasaran :
1. Sasaran langsung
8
Yaitu Pasangan Usia Subur ( PUS ) 15-19 tahun, dengan jalan mereka
secara bertahap menjadi peserta KB yang aktif lestari, sehingga
memberi efek langsung penurunan fertilitas.
2. Sasaran tidak langsung
Yaitu organisasi-organisasi, lembaga lembaga kemasyarakatan, instansi
pemerintah maupun swasta, tokoh masyarakat (alim ulama, wanita, dan
pemuda), yang diharapkan dapat memberikan dukungan dalam
pelembagaan NKKBS. (Hartanto, 2004).
2.1.4 Menurut (BKKBN, 2013) manfaat mengikuti program KB sesuai anjuran
pemerintah, para peserta akan mendapat tiga manfaat antara lain :
1. Manfaat untuk ibu
a. Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan melalui KB keluarga
dapat merencanakan dan mengatur kelahiran anak-anaknya dengan
menghindari kehamilan “4 terlalu” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu
sering, dan terlalu banyak).
b. Mendekatkan ibu terhadap pelayanan kesehatan saat memperoleh
pelayanan KB, ibu akan mendapat pemeriksaan kesehatan,
informasi tentang KB secara lengkap, yang bermanfaat dalam
merencanakan kehamilan.
c. Mencegah anemia Kandungan Fe yang ada pada salah satu alat atau
obat kontrasepsi (Pil kombinasi), dapat mencegah risiko anemia
berat, sehingga dengan KB ibu dapat menjaga kesehatan fisik dan
kesehatan reproduksinya dengan lebih optimal dengan diimbangi
dengan memperhatikan asupan gizi yang memadai.
9
d. Menyegah perdarahan setelah persalinan mengikuti KB setelah
melahirkan, seorang ibu dapat mencegah terjadinya perdarahan
yang terlalu banyak setelah melahirkan, dan mempercepat pulihnya
kondisi kesehatan rahim.
e. Meningkatkan keharmonisan rumah tangga ibu mempunyai
kesempatan dan waktu luang dalam memperhatikan dan merawat
diri sehingga dapat mengurus, mendidik, merawat keluarga
menjadi lebih baik dan harmonis tanpa rasa takut hamil,
mendiskusikan semua permasalahan dengan suami.
2. Manfaat untuk anak
a. Mencegah kekurangan gizi
KB memberikan peluan pada ibu dalam mempersiapkan
kehamilannya, agar janin yang di kandungan mendapatkan gizi
yang cukup dan lahir secara sempurna dan selamat.
b. Tumbuh kembang anak terjamin
Selain hak anak, maka pengaturan jarak kehamilan memberi
peluang pada setiap anak untuk mendapatkan perhatian dan
kasih sayang orang tua, sehingga mereka dapat tumbuh
kembang secara optimal.
c. Kebutuhan ASI eksklusif selama 6 bulan relatif dapat terpenuhi
Salah satu cara ber KB yang mengandalkan ASI eksklusif
selama 6 bulan pertama dikenal dengan MAL. MAL akan
memberi kesempatan pada bayi untuk mendapatkan gizi yang
sempurna dalam ASI.
10
3. Ekonomi
a. Mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga
Minimal ddengan mengikuti KB tidak akan menambah anggota
baru dalam keluarga, sehingga keluarga lebih leluasa mengatur
kebutuhan sehari – hari.
b. Menambah pendapatan ekonomi
Dengan mengatur jarak kelahiran antar anak, anggota keluarga
khususnya ibu mempunyai peluang dan kesempatan untuk berusaha
misal ikut dalam usaha UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan
Keluarga Sejahtera).
4. Sosial budaya
a. Meningkatkan kesempatan masyarakat
Ibu memiliki kesempatan dan waktu yang lebih banyak untuk
bersosialisasi dan aktif kegiatan sosial.
b. Meningkatkan peran ibu dalam pengambilan keputusan
Ibu mempunyai kesempatan dan kontribusi sebagai mitra yang
setara dalam pengambilan keputusan seperti memilih jenis
kontrasepsi, menentukan jumlah anak dan jarak kehamilan yang
diinginkan.
2.1.5 Macam Metode Kontrasepsi
Menurut (Hartanto, H., 2004)
1. Metode Sederhana
a. Tanpa Alat (Alamiah)
1) Metode kalender
11
2) Metode suhu badan basa
3) Metode lendir serviks
b. Dengan Alat
1) Mekanis
a) Kondom prima
b) Barier intra - vaginal :
(1) Diafragma
(2) Kap serviks
(3) Spons
(4) Kondom wanita
2) Kimiawi
a) Spermisid
(1) Vaginal cream
(2) Vaginal foam
(3) Vaginal jelly
(4) Vaginal suppositosial
(5) Vaginal tablet
(6) Vaginal sauble film
2. Metode Modern
a. Kontrasepsi Hormonal
1) Per-oral
2) Injeksi atau suntikan
3) Sub kutis : implant
12
b. Intra uterine devices (IUD, AKDR)
[Link] Mantap
1) Pada wanita
a) Penyinaran
b) Operatif, medis operatif wanita
c) Penyumbatan tuba fallopi secara mekanis.
d) Penyumbatan tuba fallopi secara kimiawi
2) Pada pria
a) Operatif, medis operatif pada pria
b) Penyumbatan vas deferens secara mekanis
c) Penyumbatan vas deferens secara kimiawi
2.1.6 Syarat Yang Harus Dipenuhi Oleh Suatu Metode Kontrasepsi Yang Baik
menurut (Mochtar, 1998) sebagai berikut :
1. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya.
2. Efek samping yang merugikan tidak ada.
3. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan.
4. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan.
5. Tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama
pemakaiannya.
6. Cara penggunaannya sederhana.
7. Harganya murah supaya dapat dijangkau masyarakat luas.
13
8. Dapat diterima oleh pasangan suami istri.
2.2 Konsep Dasar Kontrasepsi Suntikan
2.2.1 Definisi Kontrasepsi Suntik
Kontrasepsi suntikan adalah suatu metode atau cara kontrasepsi dengan
menyuntikkan hormon untuk mencegah kehamilan pada wanita usia subur
(Prawirohardjo, 2006).
Kontrasepsi suntik dapat dikelompokkan dalam 2 macam yaitu hanya
mengandung hormone progesterone dengan masa perlindungan 3 bulan
dan suntik 1 bulan (suntikan bulanan) yang mengandung gabung hormon
progesteron dan estrogen (BKKBN, 2004).
2.2.2 Bentuk Suntikan KB menurut (Hartanto, 2004) sebagai berikut :
1. Depo provera mengandung progesteron sebanyak 150 mg bentuk
partikel kecil, suntikan setiap 12 minggu
2. Cyclofem mengandung progerteron sebanyak 50 mg dan estrogen
disuntikan tiap bulan.
2.2.3 Syarat Kontrasepsi Suntikan menurut (Hartanto, 2004) sebagai berikut :
1. Aman atau tidak berbahaya penggunaannya.
2. Dapat diandalkan.
3. Pemakaiannya sederhana, sedapat-dapatnya tidak usah dikerjakan oleh
seorang dokter.
4. Harganya murah.
5. Dapat diterima oleh orang banyak.
14
6. Pemakaian jangka lama.
2.2.4 Jenis Kontrasepsi Sunti menurut (Hartanto, 2004) sebagai berikut :
1. Depo provera.
2. Depo progestin.
3. Depo gestIn.
4. Noristerat.
5. Cyclofem.
2.2.5 Cara Kerja
Kontrasepsi suntikan diberikan setiap 8-12 minggu yang mencegah
kehamilan melalui proses sebagai berikut :
1. Mencegah pematangan dan lepasnya sel telur dari indung telur
wanita.
2. Mengentalkan lendir mulut rahim, sehingga spermatozoa (sel mani )
tidak dapat masuk ke dalam rahim. (Hartanto, 2004).
2.2.6 Cara penggunaaan
Menurut (Saifuddin, 2003) sebagai berikut :
1. Kontrasepsi suntikan DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara
disuntik intramuskular dalam di daerah pantat. Apabila suntikan
diberikan terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi suntikan akan
lambat dan tidak bekerja segera dan efektif. Suntikan diberikan setiap
90 hari. Pemberian kontrasepsi suntikan Noristerat untuk 3 injeksi
berikutnya diberikan setiap 8 minggu. Mulai dengan injeksi ke 5
diberikan setiap 12 minggu.
15
2. Cyclofem disuntikkan setiap bulan dengan suntikan intramuskular
dalam. Klien diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan ulang dapat
diberikan 7 hari lebih awal, dengan kemungkinan terjadi gangguan
perdarahan. Dapat juga di berikan setelah 7 hari dari jadwal yang
telah ditentukan, asal saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak
dibenarkan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau
menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja.
2.2.7 Efektifitas
Efektifitas sangat tinggi, kegagalan kurang dari 1 % .
2.2.8 Keuntungan dan Kerugian Kontrasepsin Suntik menurut (Hartanto, 2004)
sebagai berikut :
1. Keuntungan
a. Praktis, efektif dan aman.
b. Tidak memengaruhi ASI, cocok digunakan untuk ibu menyusui.
c. Dapat menurunkan kemungkinan anemia.
2. Kerugian
[Link] terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian
pemakaian.
b. Kadang-kadang dapat menyebabkan kenaikan BB
c. Dapat menyebabkan tidak teraturnya siklus haid.
2.2.9 Kontra Indikasi Suntikan
WHO menganjurkan tidak menggunakan kontrasepsi suntikan pada :
1. Kehamilan.
2. Karsinoma payudara.
16
3. Karsinoma traktus genetalis.
4. Payudara abnormal uterus.
(Hartanto, 2004)
2.2.10 Efek Samping
Menurut (Hartanto, 2004)
1. Gangguan haid ini yang paling sering terjadi dan yang paling
mengganggu
a. Efek pada pola haid tergantung pada lama pemakaian, perdarahan
intermenstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan jalannya
waktu. Sedangkan kejadian amenorrhoe bertambah besar.
b. Insiden yang tinggi dari amenorrhoe diduga berhubungan dengan
atrofi endometrium. Sedangkan sebab dari perdarahan ireguler
masih belum jelas.
2. Berat badan yang bertambah
a. Umumnya pertambahan berat badan antara 1 kg sampai 5 kg dalam
tahun pertama.
b. Hipotesa para ahli DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan
di hipotalamus, yang menyebabkan peserta makan lebih banyak dari
pada biasanya.
3. Sakit Kepala
Insiden sakit kepala terjadi pada < 1-17 % peserta.
4. Pada sistem kardiovaskuler
17
Perubahan dalam metabolisme lemak, terutama penurunan HDL,
kolesterol dicurigai dapat menambah besar resiko kardiovaskuler, HDL
kolesterol yang rendah menyebabkan timbulnya aterosdosis.
2.2.11 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang paling utama adalah dengan memberikan
pelayanan konseling. Memberikan penjelasan pada calon akseptor suntik
bahwa pada pemakaian suntikan dapat menyebabkan gejala akibat
pengaruh hormon suntik.
1. Bila akseptor ingin haid dapat dilaksanakan pemberian pil KB hari 1
sampai 11 masing-masing 3 tablet, selanjutnya hari ke-4 1 x 1 selama 4-
5 hari.
2. Bila terjadi perdarahan dapat pula diberikan preparat estrogen,
misalnya cynosal 2 x 1 sehari sampai perdarahan berhenti.
3. Perubahan berat badan
Menjelaskan pada peserta suntik bahwa kenaikan berat badan adalah
satu efek samping dari pemakaian KB suntik akan tetapi tidak selalu
kenaikan berat badan tersebut diakibatkan dari pemakaian suntik KB
bila peserta merasa berat badan bertambah setelah memakai KB suntik
3 bulan, peserta dapat dianjurkan diet rendah kalori disertai olahraga
seperti senam atau diet tinggi kalori, bila tidak berhasil dianjurkan
untuk mengganti cara kontrasepsi non hormonal.
18
2.3 Konsep Dasar Depo Medroxy Progesterone Acetat (DMPA)
2.3.1 DefinisiDepo Medroxy Progesterone Asetat
Depo Medroxy Progesterone Asetat ( Depoprovera ) yang mengandung
medroxy progesterone asetat 150 mg diberikan setiap 3 bulan sekali dengan
cara disuntik intramuskuar di bokong (BKKBN, 2012).
Depoprovera adalah Depo Medroxy Progesterone Asetatatau DMPA adalah
suatu metode kontrasepsi suntik yang dapat disuntikkan dengan interval 3
bulan (12-14 minggu) Intramuskuler (Manuaba, 2010).
2.3.2 Cara Kerja
Menurut ( Manuaba, 2010 ) sebagai berikut :
1. Sentral
a. Menghindari terjadinya ovulasi
2. Perifer
a. Endometrium mengalami atrofi sehingga tidak mungkin menerima
nidasi.
b. Lendir serviks kental sehingga menghalangi kemampuan penetrasi
sperma.
c. Perubahan lendir endometrium sehingga menghalangi
kemampuannya untuk kapitasi spermatozoa.
2.3.3 Indikasi
Menurut ( Saifuddin, 2003 ) sebagai berikut :
1. Usia reproduksi
2. Nulipara atau telah memiliki anak
3. Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan memiliki efektifitas tinggi.
19
4. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
5. Setelah melahirkanatau menyusui
6. Setelah abortus atau keguguran
7. Telah banyak anak tapi belum menghendaki tubektomi
8. Perokok
9. Tekanan darah < 180/110 mmHg dengan masalah pembekuan darah atau
anemia bulan sabit
10. Menggunakan obat untuk epilepsy ( fenitoin dan barbiturate )
11. Tidak menggunakan kontrasepsi yang mengandung estrogen
12. Sering lupa memakai pil kontrasepsi
13. Anemia defisiensi besi
14. Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh
menggunakan pil kontrasepsi kombinasi.
2.3.4 Kontra Indikasi Kontrasepsi Suntik 3 Bulan ( DMPA ) menurut (BKKBN,
2012) sebagai berikut :
1. Hamil atau dicurigai hamil risiko cacat pada janin 7 per 100.000
kelahiran
2. Perdarahan pervagina yang belum jelas penyebabnya
3. Tidak dapat menerima gangguan haid terutama amenorrhoe
4. Menderita kangker payudara atau riwayat kangker payudara
20
5. Diabetes militus disertai komplikasi
2.3.5 Keuntungan Kontrasepsi Suntik 3 Bulan ( DMPA ) menurut (BKKBN,
2012) sebagai berikut :
1. Sangat efektif 0,3 kehamilan per 100 perempuan dalam satu tahun
pertama
2. Pencegah kehamilan jangka panjang
3. Tidak pengaruh hubungan suami istri
4. Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah
5. Tidak memengaruhi ASI
6. Sedikit efek samping
7. Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopause
8. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
9. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
10. Menyegah beberapa penyakit radang panggul
11. Menurunkan krisis anemia bulan sabit ( Sickle Cell ).
2.3.6 Keterbatasan
1. Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus
kembali sesuai dengan jadwal suntik)
2. Tidak dapat dihentikan sewaktu waktu sebelum suntikan berikutnya
3. Tidak mencegah Penyakit Menular Seksual
21
4. Terlambatnya kembalinya kesuburan setelah penghentian pemakaian.
2.3.7 Efektifitas
Kedua kontarsepsi ini memiliki efektifitas sangat tinggi, dengan 0,3
kehamilan per 100 perempuan per tahun, asal penyuntikannya dilakukan
secara teratur sesuai jadwal yang ditentukan.(BKKBN, 2011)
2.3.8 Cara Pemberian Kontrasepsi Suntik Depo ( DMPA ) menurut (Manuaba,
2001) sebagai berikut :
1. Pasca menstruasi hari ke 5
2. Post partum abortus segera
3. Laktasi tunggu sampai 0-12 minggu
4. Penggantian menuju Depo ( DMPA )
a. Pemakaian pil tunggu mendapatkan menstruasi, diberikan hari ke 5
b. Dari IUD segera diberikan Depo ( DMPA )
2.3.9 Efek Samping Suntik Depo ( DMPA ) dan Penanggulangannya.
1. Gangguan haid
2. Depresi
3. Keputihan
4. Jerawat
5. Perubahan libido
6. Perubahan berat badan
7. Pusing
8. Peningkatan tekanan darah
22
2.4 Konsep Dasar Lama Pemakaian
2.4.1 Definisi Lama Pemakaian
Lama pemakaian adalah panjangnya waktu peserta menggunakan
kontrasepsi sampai berhentinya peserta menggunakan kontrasepsi.
Peningkatan tekanan darah terjadi karena lamanya pemakaian kontrasepsi
suntik KB 3 bulan. Penggunaan alat atau obat kontrasepsi suntik KB 3 bulan
dipengaruhi oleh lama pemakaian yaitu kontrasepsi suntik baik kontrasepsi
suntik bulanan maupun tribulanan mempunyai efek samping utama yaitu
peningkatan tekanan darah, yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan
darah pesserta KB suntik adalah adanya hormon progesteron yang kuat
sehingga merangsang di hipotalamus, yang lebih banyak dari biasanya
tubuh akan kelebihan zat – zat gizi. Kelebihan zat gizi oleh hormone
progesteron dirubah menjadi lemak penumpukan lemak yang berlebih hasil
sintesa dari karbohidart menjadi lemak ( Hartono, 2004 ).
Faktor diantaranya yang mempengaruhi lama pemakaian adalah :
1. Mudah di jangkau
2. Murah
3. Efek samping rendah
4. > 5 tahun
5. Ibu menyusui
2.5 Faktor Resiko Tekanan Darah Tinggi
Pengertian dan klasifikasi tekanan darah yang dimaksud dengan tekanan
darah adalah jumlah tenaga darah yang ditekan terhadap dinding arteri
23
(pembuluh nadi) saat jantung memompakan darah ke seluruh tubuh
manusia. Tekanan darah merupakan salah satu pengukuran yang penting
dalam menjaga kesehatan tubuh, karena Tekanan darah yang tinggi atau
Hipertensi dalam jangka panjang akan menyebabkan perenggangan
dinding arteri dan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah. Pecahnya
pembuluh darah inilah yang menyebabkan terjadinya Stroke. Beberapa
penyakit yang diakibatkan oleh Tekanan darah tinggi diantaranya adalah
Stroke, Penyakit Jantung, Penyakit Ginjal dan Aneurisma.
Pada umumnya Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi tidak
menunjukan gejala ataupun tanda-tanda yang berarti sehingga seorang
penderita Hipertensi sangat sulit untuk mengetahui apakah dirinya
mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan
untuk memeriksa Tekanan darahnya secara rutin dan berkala.
Terdapat 2 (dua) pengukuran penting dalam Tekanan darah, yaitu Tekanan
Sistolik dan Tekanan Diastolik.
Tekanan Sistolik (Systolic Pressure) adalah Tekanan Darah saat Jantung
berdetak dan memompakan darah.
Tekanan Diastolik (Diastolic) adalah Tekanan darah saat Jantung
beristirahat di antara detakan.
Tekanan Darah yang Normal adalah berkisar antara 90mmHg sampai
119mmHg untuk Tekanan Sistolik sedangkan untuk Tekanan Diastolik
adalah sekitar 60mmHg sampai 79mmHg. Tekanan darah dibawah 90/60
mmHg dikategorikan sebagai Hipotensi (Hypotension) atau Tekanan
24
Darah Rendah, sedangkan diatas 140/90mmHg sudah dikategorikan
sebagai Tekanan Darah Tinggi atau Hipertensi (Hypertension).
Pada umumnya, setelah dokter maupun perawat memeriksa tekanan darah
kita, mereka akan memberitahukan kepada kita hasil pengukuran Tekanan
Darah dengan menyebutkan Tekanan Sistolik dan Tekanan Diastoliknya baik
secara lisan maupun tulisan. Contohnya 120/80. Dari contoh angka tersebut,
maka kita dapat mengetahui bahwa Tekanan Sistolik adalah 120mmHg dan
Tekanan Diastolik adalah 80mmHg. Untuk mencegah Tekanan Darah Tinggi,
kita perlu menjalani gaya hidup sehat dengan menghindari atau berhenti
merokok, mengurangi konsumsi Garam dan Natrium yang berlebihan,
membatasi konsumsi Alkohol, menjaga berat badan, mengonsumsi makanan
yang berserat tinggi (sayur dan buah) serta rutin berolahraga.
2.5.1 Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol
1. Riwayat Keluarga/Hereditas/Genetik
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan)
mepertinggi resiko terkena hipertensi, terutama pada hipertensi essensial
(primer). Faktor genetik mempunyai peran yang besar untuk timbulnya
penyakit hipertensi pada seorang penderita. Pada 70-80% kasus hipertensi
primer disebabkan oleh factor riwayat hipertensi di dalam keluarga.
Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu
telur), apabila salah satunya menderita hipertensi.
2. Umur
Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. dengan bertambahnya umur,
resiko terkena hipertensi menjadi lebih besar sehingga prevalensi di
25
kalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40%. Hipertensi biasanya
muncul seiring dengan bertambahnya usia, karena semakin bertambah usia
seseorang pengaturan metabolisme zat kapur (kalsium) terganggu, sehingga
banyak zat kapur yang beredar bersama darah, Banyaknya kalsium dalam
darah menyebabkan darah menjadi kental, sehingga tekanan darah menjadi
meningkat Endapan kalsium di dinding pembuluh darah (arteriosclerosisi)
menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Akibatnya aliran darah
menjadi terganggu, hal ini dapat memicu peningkatan tekanan darah.
Bertambahnya usia juga menyebabkan elastisitas arteri berkurang. Arteri
tidak dapat lentur dan cenderung kaku, sehingga volume darah yang
mengalir sedikit dan kurang lancar, agar kebutuhan darah di jaringan
mencukupi, maka jantung harus memompa darah lebih kuat lagi.
2. Jenis kelamin
Faktor jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya hipertensi, di mana pria
lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan wanita, dengan
resiko 2,29 untuk peningkatan darah sistolik.
2.5.2 Faktor Resiko yang Bisa Dikontrol
a. Obesitas
Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan
dan metabolisme energi yang dikendalikan beberapa faktor biologik
spesifik. Faktor genetik diketahui sangat berpengaruh bagi
perkembangan obesitas, Secara fisiologis obesitas didefinisikan sebagai
suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau
26
berlebihan dari jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan
(Sudoyo, 2006)
Jumlah lemak yang diperlukan tubuh maksimum 150 mg/dl, kandungan
lemak baik (HDL) optimum 45 mg/dl dan kandungan lemak jahat
maksimum 130 mg/dl. Lemak baik masih diperlukan oleh tubuh, sedang
lemak jahat justru merusak organ tubuh. Penimbunan lemak di pembuluh
darah menyebabkan penyempitan pembuluh darah, akibatnya aliran
darah menjadi kurang lancar. Pada orang yang memiliki kelebihan lemak
(hyperlipidemia), dapat menyebabkan penyumbatan darah sehingga
tengganggu suplai oksigen dan zat makanan ke organ tubuh.
Penyempitan dan sumbatan lemak memacu jantung untuk memompa
darah lebih kuat, agar dapat memasok kebutuhan darah ke jaringan,
akibatnya tekanan darah menjadai meningkat, maka terjadilah tekanan
darah tinggi. Resiko relatif untuk penderita pada orang-orang gemuk 5
kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang badannya normal.
Sedangkan pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki
berat badan lebih (overweight).
2. Merokok
Rokok mengandung ribuan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh, seperti
nikotin, dan gas karbon monoksida. merupakan bahan yang dapat
meningkatkan kekentalan darah, sehingga memaksa jantung untuk
memompa darah lebih kuat lagi. Nikotin dapat memacu pengeluaran zat
catecholamine tubuh seperti hormone adrenalin, hormone adrenalin
mamacu kerja jantung untuk berdetak 10–20 kali permenit, dan
27
meningkatkan tekanan darah 10–20 skala. Hal ini berakibat volume darah
meningkat dan jantung menjadi cepat lelah. Karbon monoksida (CO)
dapat meningkatkan keasaman sel darah sehingga darah menjadi lebih
kental dan menempel di dinding pembuluh darah.
3. Minuman Alkohol
Alkohol dapat merusak fungsi syaraf pusat maupun tepi. Apabila syaraf
simpatis terganggu, maka pengaturan tekanan darah akan mengalami
gangguan. Pada seorang yang sering minum-minuman dengan kadar
alcohol tinggi, tekanan darah mudah berubah dan cenderung meningkat
tinggi. Alkohol juga meningkatkan keasaman darah. Darah menjadi lebih
kental. Kekentalan darah ini memaksa jantung memompa darah lebih
kuat lagi, agar darah dapat sampai ke jaringan yang membutuhkan
dengan cukup, ini berarti terjadi peningkatan tekanan darah (Depkes,
2007).
4. Stress dan Tekanan Mental
Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam,
rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang anak ginjal mengeluarkan
hormon adrenalin. Hormon ini dapat mengakibatkan jantung berdenyut
lebih cepat dan menyebabkan penyempitan kapiler darah tepi, sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan darah.
5. Konsumsi Garam (Natrium)
28
Natrium memegang peranan penting terhadap timbulnya hipertensi.
Natrium dan klorida merupakan ion utama cairan ekstraseluler.
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di
dalam cairan ekstraseluler meningkat, untuk menormalkannya, cairan
intraseluler ditarik keluar, sehingga volume cairanekstraseluler
meningkat. Meningkatnya volume ekstrseluler tersebut menyebabkan
meningkatnya volume darah, sehingga berdampak timbulnya hipertensi
(Astawan, 2009).
6. Konsumsi Kopi
Tekanan darah dapat meningkat jika seseorang sering minum kopi.
Kafein dalam kopi memacu kerja jantung dalam memompa darah.
Peningkatan tekanan dari jantung juga diteruskan pada arteri, sehingga
tekanan darah meningkat.
7. Aktifitas Fisik.
Pola hidup pasif cenderung meningkatkan kegemukan dan aterosklerosis,
yang beresiko terhadap timbulnya hipertensi. Pada fisik yang senantiasa
aktif, pembuluh darah cenderung elastis, sehingga mengurangi tahanan
perifer (Warburton, 2006).
2.5.3 Dampak Hipertensi
Hipertensi dapat menimbulkan dampak pada diri si penderita antara lain :
1. Sakit kepala, pegal-pegal, perasaan tidak nyaman di tengkuk, perasaan
berputar/ingin jatuh,berdebar-debar, detak jantung yang cepat, telinga
berdenging.
29
2. Gagal jantung, karena jantung bekerja lebih keras sehingga otot
jantung membesar
3. Berkembangnya plak lemak dalam dinding pembuluh darah
(atherosclerosis) dan plak garam-garaman (arteriosclerosis)
4. Atherosclerosis dan arteriosclerosis menyebabkan sumbatan aliran
darah, sehingga meningkatkan potensi kebocoran pembuluh darah.
Sumbatan di pembuluh nadi leher dapat menyebabkan berkurangnya
suplai oksigen ke sel-sel otak. Apabila otak mengalami kekurangan
oksigen dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan matinya sel-
sel saraf otak (stroke iskhemik).
5. Pecahnya pembuluh darah kapiler di otak menyebabkan pendarahan,
sehingga sel-sel saraf dapat mati. Penyakit ini disebut stroke
hemoragik (stroke pendarahan). Stroke pendarahan sering
menimbulkan kematian mendadak.
6. Pecahnya pembuluh darah menyebabkan matinya beberapa organ
sehingga terjadi kelumpuhan. Lumpuh separuh badan sering terjadi
pada penderita stroke.
7. Pecahnya pembuluh darah tajuk di jantung, menyebabkan matinya
sebagian sel otot jantung. Hipertensi menyebabkan resiko gagal
jantung 6 X lebih besar dari orang yang tekanan darahnya normal.
8. Pecahnya pembuluh darah ginjal menyebabkan pendarahan pada ginjal
dan terjadi gagal ginjal
9. Pecahnya pembuluh darah retina menyebabkan pandangan mata
menjadi kabur bahkan bisa buta.
30
10. Bersamaan dengan hipertensi akan mengalami kencing manis
(Diabetes mellitus), hiperfungsi kelenjar tiroid (hyperthyroid),
rematik, serta meningkatnya kadar lemak (hyperlipidemia).
2.6 Hubungan Kontrasepi Suntik Dengan Perubahan Tekanan Darah
Menurut Prawiroharja (2002) kontrasepsi adalah usaha untuk
mencegah terjadinya kehamilan. Usaha tersebut dapat bersifat sementara,
dapat pula bersifat permanen. Syahlan (2006) membedakan metode
kontrasepsi menjadi metode sederhana dan metode modern. Teori
menyebutkan metode kontrasepsi dapat mempengaruhi tekanan darah, baik
estrogen maupun progesterone. Estrogen merupakan salah satu hormone
yang dapat meningkatkan retensi elektrolit dalam ginjal, sehingga terjadi
peningkatan reabsorbsi natrium dan air yang menyebabkan hipervolemi
kemudian curah jantung meningkat dan mengakibatkan kadar LDL
kolesterol, sehingga terjadi aterosklerosis kadar LDL – kolesterol tinggi
dalam darah yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan
retensi perifer pembuluh darah kemudian mengakibatkan peningkatan
pembuluh darah (Hartanto,2010) Metode sederhana dapat dilakukan
dengan alat maupun tanpa alat. Sedangkan metode kontrasepsi modern
dapat dilakukan dengan kontrasepsi hormonal antara lain per oral atau pil,
suntikan, implant, dan kontrasepsi non hormonal ntara lain IUD (Intra
Uterine Device) dan kontrasepsi mantap yaitu tubektomi pada istri dan
vasektomi pada suami. Menurut Mansjoer (2001), kontrasepsi suntik
merupakan suatu cara kontrasepsi dengan jalan menyuntikkan hormon
31
pencegah kehamilan pada wanita yang masih subur. Kontraspsi suntik
dibedakan dalam tiga jenis yaitu Depo provera, Cyclofem, dan Norigest.
Depo provera adalah Depo Medroksi Progesterone Asetat (DMPA) yang
diberikan tiap 3 bulan sekali dengan dosis 150 mg. Keuntungan dari Depo
provera yaitu peserta hanya datang 3 bulan sekali, sedangkan kerugiannya
yaitu sering terjadi keterlambatan datang bulan (amenore) meskipun
akseptor telah menghentikan pemakaian kontrasepsi suntik, dapat terjadi
perdarahan yang berkepanjangan di luar menstruasi serta dapat
menyebabkan liang senggama menjadi kering. Cyclofem adalah suntikan
yang mengandung progesterone sebanyak 50 mg dan estrogen yang
diberikan setiap bulan dengan harapan akan mendapatkan menstruasi
setiap bulan setelah penyuntikan 4 sampai 5 kali. Keuntungan dari
Cyclofem yaitu dapat menstruasi dengan teratur setiap bulannya karena
adanya hormone estrogen, sedangkan kerugiannya yaitu dapat terjadi
perdarahan yang berkepanjangan di luar menstruasi sehingga
menyebabkan perdarahan menjadi tidak teratur. Sedangkan Norigest
berupa ampul berisi 200 mg zat aktif yang disuntikkan di intramuscular
agak dalam pada otot gluteus. Untuk 6 bulan pertama, suntikan diberikan
setiap 8 minggu, setelah itu diberikan setiap 12 minggu. Keuntungan dan
kerugian Norigest sama dengan Depo provera yaitu dapat terjadi
keterlambatan datang bulan meskipun akseptor telah menghentikan
pemakaian kontrasepsi suntik, dapat terjadi perdarahan yang
berkepanjangan di luar menstruasi serta dapat menyebabkan liang
senggama menjadi kering (Mochtar, 2002).
32
Menurut BKKBN (2007), kontrasepsi suntik mempunyai keuntungan yang
sangat efektif yaitu praktis, aman di gunakan, tidak mempengaruhi ASI
sehingga cocok digunakan untuk ibu menyusui dan dapat pula
menurunkan terjadinya anemia. Sedangkan kerugian dari kontrasepsi
suntik yaitu dapat menyebabkan terlambatnya pemulihan kesuburan
setelah penghentian pemakaian kontrasepsi suntik. Dalam hal ini kadang-
kadang dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan dapat pula
menyebabkan ketidakteraturan siklus haid. Mekanisme kerja dari
kontrasepsi suntik yaitu menghambat sekresi hormon, yaitu hormon
Gonadotropin terutama luteinizing hormone (LH). Sehingga mencegah
terjadinya ovulasi dimana hal ini dapat mempengaruhi perubahan-
perubahan menjelang stadium sekresi yang diperlukan sebagai persiapan
endometrium untuk memungkinkan terjadinya nidasi (pembuahan) dari
ovum (sel telur) yang telah dibuahi. Selain itu kontrasepsi suntik juga
dapat menambah viskositas (kepekatan) lendir serviks sehingga
menghalangi masuknya spermatozoa kedalam rahim dan dapat pula
merubah transportasi ovum (sel telur) melalui tuba ke uterus (Manuaba,
2002). Indikasi kontrasepsi suntik yaitu dilakukan pada ibu dengan usia
33
subur, pada ibu yang menyusui dan ibu dengan riwayat siklus haid yang
teratur. Sedangkan pada kontra indikasinya WHO menganjurkan untuk
tidak menggunakan kontrasepsi suntikan terutama pada saat terjadi
kehamilan, pada penderita karsinoma payudara, penderita karsinoma
traktus genetalia, dan perdarahan abnormal pada uterus (Hartanto, 2006).