Pemanfaatan Batu Megalitikum di Nias
Pemanfaatan Batu Megalitikum di Nias
PENDAHULUAN
Batu mengalitikum merupakan berasal dari kata mega yang berarti besar dan
lithos yang artinya batu. Oleh sebab itu, di zaman batu besar, di mana banyak
masyarkat mengunakan batu sebagai peralatan dari berbagai batu yang berukuran
cukup besar. Peninggalan tersebut dapat dijadikan suatu sumber belajar sejarah dalam
Mata pelajaran sejarah meupakan bagian dari kelompok ilmu humaniora yang
sangat menarik dan bermanfaat bagi setiap kehidupan manusia. Hal ini sebagaimana
memiliki tiga fungsi, yaitu genesis, pragmatis, dan didaktis. Sedangkan menurut
memperoleh empat kegunaan, yaitu guna rekratif, guna inspiratif, guna instruktif, dan
guna edukatif. Menurut Widja (1991:96) salah satu alternatif yang bisa diambil
adalah pengajaran sejarah lokal dengan membawa murid pada sejarah yang ada di
sumber belajar yang konkret, dengan adanya sumber belajar yang konkret akan
1993:5).
kehidupan manusia kepada sisiwa, sehingga para siswa akan dapat dengan mudah
1
2
terdapat situs sejarah yang memiliki arti yang penting dalam perkembangan sejarah
sekolah.
sebagi daya tarik dalam sumber belajar sejarah di Kecamatan Mandrehe, Nias Barat
Sehingga dalam Pembelajaran Sejarah akan memiliki berbagai sumber yang dapat di
dan metode yang lebih rincin. Tahapan yang terdapat dalam penelitian membuat
Barat. Tujuan dalam penelitian tersebut untuk memahami berbagia sumber belajar
Barat akan semakin baik hanya saja masih ada tempat-tempat batu mengalikum yang
masih belum bisa terpecahkan asal usulnya. Sehingga masih ada batu mengalitikum
Dari latar belakang yang sudah dipaparkan diatas, maka dapat diambil
2. Apa upaya pengelolaan yang di lakukan dinas pendidikan dalam menfaatkan batu
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sumatera Utara Medan (UISU-
MEDAN)
1. Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan bagi ilmu
sebagi sumber belajar sejarah. Temuan - temuan ini dapat dijadikan bahan
2. Secara Praktis, Hasil penelitian ini diantaranya berguna sebagi bahan bagi
Nias Barat.
KAJIAN TEORETIS
Secara etimologi, megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan
lithos yang berarti batu. Oleh karena itu, zaman megalitikum biasa disebut dengan
zaman batu besar, di mana masyarakat menggunakan peralatan dari batu yang
berukuran besar. Pada periode ini, Setiap bangunan yang didirikan oleh masyarakat
megalitikum suatu zaman batu besar diamana masyarakat pada masa megalitikum
hidup dengan menggunakan alat-alat dari batu sebagai alat untuk sehari-hari baik
5
6
1. Sebagai Kebudayaan
Kata megalitikum mengarah pada sebuah era zaman batu muda atau yang
yaitu mega berarti besar dan lithos yang berrti batu (Soejono 1984). Dengan demikian
yang cukup luas, terutama yang menyangkut tinggalan batu besar (Prasetyo, 2005).
Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) di bawah oleh
adalah peti kubur batu, dolmen, waruga sarkofagus dan arca-arca dinamis, c) Menurut
Prasetyo (2005 : 93), pengertian megalitik telah banyak disinggung oleh para ahli
sebagai suatu tradisi yang menghasilkan batu-batu besar. Dengan demikian dapat
kubur. Bangunan itu didirikan untuk menghindari bahaya yang mungkin mengacam
perjalanan arwah dan menjamin penghidupan yang abadi bagi orang-orang yang
mendirikan bangunan maupun unutk mereka yang sudah meninggal (Heine Goldren
1945).
7
a) Menhir
Bentuk fisik menhir seperti tiang atau tugu yang berfungsi sebagai tanda
Belu (Timor), Bada-besoha dan Tana Toraja (Sulawesi Tengah dan Sulawesi
pusara/kuburannya. Menhir ada yang sudah dihaluskan dan ada pula yang
b) Dolmen
Dolmen berbentuk seperti meja batu yang berkakikan menhir. Fungsi dolmen
sebagai tempat pemujaan san saseji roh nenek moyang. Kadangkala ada pula
c) Waruga
Waruga adalah kubur batu yang mempunyai bentuk kubus atau bulat dengan
Sulawesi Tengah.
8
d) Sarkofagus
Sarkofagus adalah berbentuk paling atau lesung, tetapi mempunyai tutup dan
e) Kubur Batu
Bentuknya hampir sama seperti peti mayat dari batu. Pada keempat sisinya
terbuat dari papan batu. Kubur batu dapat ditemukan di Cipari Kecamatan
merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Hal inilah yeng
hidup makin berkembang dan mabnusia pada waktu ia sudah tidak lagi
sekitarnya seta aktif membuat perubahan-perubahan. Salah satu segi yang menonjol
dalam masyarakat adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati. Kepercayaan
bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang meninggal, sangat mempengaruhi
9
penguburan dilakukan dengan cara langsung maupun tidak langsung, di tempat yang
sering dihubungkan dengan asal –usul anggota masyarakat atau tempat-tempat yang
sudah dianggap sebagai tempat tinggal arwah nenek –moyang. Si mati biasanya
lain-lain yang dikubur bersama-sama dengan maksud agar perjalanan si mati ke dunia
tersebut terlalu jauh atau sukar dicapai, maka si mati cukup dikuburkan di suatu
tempat yang diamksud. Tujauanya ialah agar roh si mati tidak tersesat dalam
Biasanya hanya orang-orang terkemuka atau yang telah pernah berjasa dalam
masyarakat sajalah yang akan mencapai tenpat khusus di alam baka. Tetapi di pihak
laina, amal atau kebaikan, yaitu bekal untuk mendapaatkan tempat khusus di dunia
akhirat, dapat diperloleh dengan mengadakan pesta-pesta tertentu yang mencapai titik
dalam tempat yang terbentuk dari susunan batu besar (seperti misalnya peti batu, bilik
batu, sarkofagus dan sebaginya), baik yang diukir maupun yang dilukis dengan
berbagai lambing kehidupan dan lambing kematian, merupakan tindakan yang akan
saling menguntungkan kedua belah pihak, yaitu si mati dan yang ditinggalkan. Jadi
10
batu-batu besar ini menjadi lambang perlindungan bagi manusia berbudi baik.
Gagasan hidup diakhirat berisi: keistimewaan yang belum atau yang sudah
didapatkan di dunia fana, hanya akan dapat dicapai didunia akhirat berdasarkan
batu) selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup
dan yang mati, terutama kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari yeng telah mati
kerabat yang telah mati diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar.
daerah Asia Tenggara. Di sini tradisi yang berhubungan dengan pendirian bangunan
megalitik ini sekarang sebagia sudah musnah dan ada yang masih berlangsungan.
Sisa-sisa bangunan dari tradisi yang sudah musnah terdpat di daerah-daerah Laos,
Tonkin, Indonesia dan Pasifik sampai Polinesia. Tradisi megalitik yang masih hidup
hingga kini ialah antara lain di Assam, Birma, (suku Naga, Khasi dan Ischim) dan
memperhatikan pula teori dan pendapat R. Von Heine Geldern mengenai tradisi
mengalitik di Asia Tenggara pada Pasifik sejak tahun 1928. Teori-teorinya menjadi
11
misalnya:
b. Penggolongan tradisi megalitik dalam dua tradisi besar, yaitu Megalitik Tua
yang bersusia kurang lebih 2500-1500 sebelum Masehi dan Megalitik Muda
gaya Pasifik Tua, Dineistro-Donau, Shang, Chou Tua, Chou Muda dan gaya Dong
Son. Pembedaan gaya ini di hasilkan menjelang tahun 1937 dan peninjauan kembali
budaya megalitik di Asia telah berlangsung dari daerah Laut Tengah. Pada tahun
1966 von Heine Geldren meninjau kemabali pembedaan orisional dan fundamental
Baik teori-teori yang terdahulu maupun yang diajukan kemudian oleh von
Heine Geldren, telah terima oleh sebagian besar para ahli. Pada pembedaan Megalitik
Tua dan Megalitik Muda, von Heine Goldren mamasukkan Megalitik Tua ke dalam
masa Neolitik. Tradisi ini didukung oleh para pemakai bahasa Austronesia yang
menghasilakan alat-alat beliung persegi dan mulai membuat pula benda atau
bangunan yang disusun dari batu besar, seperti dolmen, unduk batu, lima (piramid)
berunduk dan pelinggih. Penelitian lebih lanjut yang bertolak dari gagasan kosmo-
magis mengungkapkan unsur-unsur yang lebih asli lagi seperti diantara lain tembok
memperlihatkan bentuk-bentuk kubur peti batu, dolmen semu, sarkofogus dan bejana
dapat dipelajari sebagai bagian intergral dari budaya yang kini masih hidup di
Indonesia.
Pengikut-pengikut teori tentang Megalitik Tua dan Megalitik Muda antar lain
ialah A. N. J. Th. A Th. Van der Hoop, B. A. G. Vroklage dan H. G. Quaritch Wales.
Namun demikian masih ada yang tidak sependapat dengan penempatan tardisi
megalitik dalam Neolitik, seperti misalnya van Heekeren. Tetapi kenyataannya bahwa
tradisi Megalitik Muda ada hubungannya dengan masa perundingan telah banyak
diakui oleh para ahli, Perkembangnya tardisi Megalitik Tua masih menjadi masalah,
masyarakata di dunia fana supaya sesuai dengan tuntutan hidup di dunia akhirat di
samping menambah kesejahteraan di dunia fana. Pada masa ini organisasi masyarakat
telah teratur. Pengetahuan tentang teknologi yang berguna dan nilai-nilai hidup terus
13
tanamana dan penemuan alat-alat baru yang lebih cocok untuk keperluan sehari-hari
bumi, hewan dan tabu. Perkampungan merupakan pusat kehidupan setelah pola
Batas antara segi profane dan segi sacral dalam kehidupan tidak begitu jelas.
Rasa satu dengan alam menghasilkan karya yang kini dipandang sebagai hasil seni
yang berarti. Puncak dari karya-kaya ini terdapat pada suatu masa setelah masyarakat
mulai mengenal logam, dan dari bahan ini dibuat berbagai bentuk benda upacara dan
ataupun beberapa bentuk merupakan suatu kelompok, maksud utama dari pendirian
bengunan tersebut tak luput dari latar belakang pemujaan nenek-moyang, dan
pengharapan kesejahteraan bagi yang masih hidup, serta kesempurnaan bagi si mati.
Bangunan yang paling tua mungkin berfungsi sebagai kuburan dengan bentuk yang
Bentuk-bentuk tempat penguburan dapat berupa benjana batu, waruga, batu kandang
patung nenek-moyang, batu saji, batu lumping, batu lesung, batu dakon, pelinggih
Beberapa bentuk megalitik tadi mempunyai fungsi lain, seperti dolmen yang
memiliki variasi bentuk yang menyerupai dolmen dibuat untuk pelinggih roh atau
megalitik yang telah maju serta digunakan sebagai tempat duduk oleh kepala suku
atau raja-raja, dan dipandang sebagai tempat keramat dalam hubungan dengan
pemujaan arwah leluhur. Hal ini jelas sekali memperlihatkan suatu kepercayaan
bahwa yang masih hidup dapat memperoleh berkah dari hubungan magis dengan
lumping batu atau lesung batu dan batu dakon, sering didapatkan di lading atau sawah
kekuatan magis.
yaitu di dataran tinggi Pasemah. Daerah ini terletak di antar Bukit Barisan dan
daerah ini pernah dilaporkan oleh Ullman (1850), Tembrink (1870), Engelhard
(1891), Krom (1918), Westenenk (1922), dan Hoven (1927), yang hampir semuanya
Baru setelah van Eerde mengujungi tempat sersebut pada tahun 1929, diperoleh
bahwa peninggalan di Pasemah tidak dipengaruhi oleh budaya Hindu, dan masih
15
termasuk dalam jangkauan masa prasejarah. Bentuk megalitik tampak nyata pada
Kecamatan Mandrehe
Sumber belajar sejarah adalah semua sumber (baik berupa data-data, orang
atau benda) yang dapat di manfaatkan atau dapat dugunakan untuk memberi fasilitas
dalam memberikan sumbangan yang positif untuk peningkatan mutu pendididkan dan
pembelajaran. Oleh sebab itu, pemanfaatan batu megalitik sebagai sumber belajar
yang digunakan dalam dunia pendidikan, baik pada pendidikan dasar, menengah,
Salah satu sumber belajar adalah salah satunya seperti peningalan sejarah
antara lain yaitu: batu megalitikum, karena dalam pemanfaatan sejarah batu ini
sebagai sumber belajar dapat memotivasi belajar sejarah kepada pelajar, Mendukung
dalam batu megalitikum ini dapat menjadi salah satu referensi kesadaran bagi bangsa
membangun kehidupan masa depan yang lebih baik, tidak hanya pada tatanan
kemakmuran serta ekonomis, namun dapat memiliki indetitas bangsa yang beradap
dan menuntut suatu rekonstruksi sejarah sebagai sejarah Nasional yang akan
pelajar. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan kunjungan ke tempat batu-batu
megalitikum peninggalan sejarah dan pengenalan sejarah sejak dini pada kalangan
pelajar. Secara tidak langsung keberadaan peninggalan batu megalitikum sangat erat
dengan pendidikan sejarah dan merupakan salah satu sumber belajar sejarah.
juga merangsang minat dan menjadi saranan penting terhadap kaum pelajar untuk
Belajar sejarah berarti pelajar mampu berpikir kritis dan mampu mengkaji
sebagai sunber belajar sejarah, membuat pelajar lebih senang dan aktif dalam proses
pembelajaran ini menuntut pelajar lebih aktif, kreatif dan antusias. Hal ini akan
akan membuat pelajar memperoleh banyak informasi dari pada hanya di dalam kelas
belajar dalam pembelajaran sejarah sangat penting. Pelajaran sejarah selama ini
sejarah bertujuan agar pembelajaran tidak monoton dan untuk membangkitkan minat
peninggalan sejarah.
Menurut Robi dalam (Pradanaa 2019, hal. 141) dalam proses pembelajaran
pembelajaran secara luas. Karena banyak sekali mata pelajaran ilmu sosial berisi
pesan abstrak, konsep angina, kontinuitas waktu, arah dasar, leingkungan adaptif,
berbagi waktu untuk saat mempelajari mata pelajaran sains perlu pengetahuan sosial,
interaktif antara guru sebagai pembawa pesan/pemikiran dan siswa sebagai penerima
pesan/ide. Dari sudut pandang ini, pembelajaran merupakan alat untuk, transformasi
dan kebangkitan budaya dari suatu negara. Dalam pembelajaran sejarah peran penting
18
pembelajaran tidak hanya tercermin dalam sebuah proses pemindahan ide juga
merupakan proses pendewasaan siswa memahami jati diri, jati diri dan kepribadian
hendaknya tidak melumpuhkan kreativitas, tetapi hanya memaksa siswa ingat fakta
dan buku teks. Saatnya mengajarkan sejarah dengan cara yang berbeda dan
Akibatnya sering terjadi kelelahan menjadi faktor utama yang dihadapai guru dalam
mengajar siswa. Pembelajaran sejarah merupakan salah satu ilmu yang studi sejarah
yang bersifat kronologis. Data historis tidak dapat dipisahkan dari priodisasi dan
urutan waktu kejadian. Belajar kronologis ini mengajarkan siswa untuk berpikir
sistematis dan berurutan dan pahami hukum sebab dan akibat. Pembelajaran sejarah
negaranya dibentuk oleh sikap sosial yang baik dari para penerus bangsa (Heri, 2014,
56-62).
hakikat atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Belajar sejarah dapat mempelajari
peradaban, hasil pembelajaran ini sangat terkenal sebagai kesadaran historis (historis
dorong terciptanya situasi ini dapat meningkatkan pemahaman pesrta didik tentang
pesrta didik yang mempelajari tentang tentang proses pembentukan bangsa Indonesia
19
melalui sejarah panjang dan masih dalam proses sampai masa kini dan masa yang
akan datang. Serta menumbuhkan rasa apresiasi pesrta didik terhadap bukti peradaban
lingkungan fisik seperti tempat belajar, bahan, dan alat yang dapat digunakan,
personal seperti guru, petugas perpustakaan dan ahli media, dan siapa saja yang
menggambarkan apa yang harus dilakukan guru dalam siswa dalam memanfaatkan
Menurut Rohani (1997) yang dikutip oleh juri, penyebutan ciri-ciri sumber
maksimal.
dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku
a. Tidak terorganisai dan tidak sistematis baik dalam bentuk maupun isi
lebih sekedar sebagai media untuk menyampaikan pesan sedangkan sumber belajar
tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga termasuk tsrategi, metode, dan tekniknya.
jalan :
kemampuannya.
c. Pengertian Media
berkomunilkasi yang selalu ingin untuk berekspresi. Pada awalnya manusia memikili
menggambarkan gambar di dinding gua. Sekitar 400 SM, manusia menulis piktogram
di tablet tanah liat, sebuah gambar sederhana yang melambangkan sebuah objek atau
seperti sinyal asap, semaphone, (bendera), burung marpati telah digunakan untuk
d. Pengertian Pembelajaran
kata dasar ajar, yang menurut Kamus Bahasa Indonesia berarti “pentunjuk yang
learning dalam bahasa inggris, yang berarti sesuatu proses untuk mendapatkan
22
pengetahuan atau keahlian melalui pengalaman, belajar dan diajar. Belajar adalah
kegiatan yang tidak mengenal batas umur dan suatu yang berlangsung seumur hidup
melalui interaksi dengan lingkungan yang dapat merubah kebiasaan atau perilaku
seseorang. Salah satu tujuan dari kegiatan belajar adalah perubahan perilaku dari
menyampaikan materi ke pelajar dengan menggunakan alat tertentu agar pelajar dapat
Menurut penulis Media pembelajaran sebuah alat bantu yang berupa suatu
benda atau objek yang dapat di manfaatkan oleh pelajar dalam belajar sehingga dapat
Manfaat media pembelajaran dapat dirasakan tidak hanya bagi pelajar yang
menikmati materi menggunakan berbagai media tetapi juga oleh pengajar yang dapat
memengaruhi beban dalam menjelaskan dan dapat menyampaikan materi secara lebih
2011:10).
oleh pelajar.
d. Pelajar menjadi lebih aktif, karena dengan media pembelajaran yang baik dapat
membuat pelajar menjadi lebih ikut serta dan berinteraksi dengan media
Tabel 2.1
Manfaat Media Pembelajaran