0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Pemanfaatan Batu Megalitikum di Nias

Batu megalitikum dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah melalui tiga cara: (1) sebagai bukti kebudayaan zaman batu, (2) sebagai tempat ibadah dan upacara keagamaan, (3) sebagai tempat pemakaman. Batu-batu besar tersebut dapat memberikan pemahaman tentang budaya masa lalu.

Diunggah oleh

onnerid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Pemanfaatan Batu Megalitikum di Nias

Batu megalitikum dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah melalui tiga cara: (1) sebagai bukti kebudayaan zaman batu, (2) sebagai tempat ibadah dan upacara keagamaan, (3) sebagai tempat pemakaman. Batu-batu besar tersebut dapat memberikan pemahaman tentang budaya masa lalu.

Diunggah oleh

onnerid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Batu mengalitikum merupakan berasal dari kata mega yang berarti besar dan

lithos yang artinya batu. Oleh sebab itu, di zaman batu besar, di mana banyak

masyarkat mengunakan batu sebagai peralatan dari berbagai batu yang berukuran

cukup besar. Peninggalan tersebut dapat dijadikan suatu sumber belajar sejarah dalam

meningkatkan aktivasi belajar sejarah.

Mata pelajaran sejarah meupakan bagian dari kelompok ilmu humaniora yang

sangat menarik dan bermanfaat bagi setiap kehidupan manusia. Hal ini sebagaimana

diungkapkan oleh Sartono Kartodirdjo (dalam Suranto,2002:22), Bahwa Sejarah

memiliki tiga fungsi, yaitu genesis, pragmatis, dan didaktis. Sedangkan menurut

Nurgroho Notosusanto (dalam suranto,2002:22), mempelajari sejarah akan

memperoleh empat kegunaan, yaitu guna rekratif, guna inspiratif, guna instruktif, dan

guna edukatif. Menurut Widja (1991:96) salah satu alternatif yang bisa diambil

adalah pengajaran sejarah lokal dengan membawa murid pada sejarah yang ada di

lingkungan murid sejarah lokal Nias.

Pembelajaran sejarah akan lebih mudah dilaksanakan apabila dibantu dengan

sumber belajar yang konkret, dengan adanya sumber belajar yang konkret akan

memudahkan guru untuk menyampaikan materi kepada peserta didik ( Mukti,

1993:5).

Hakekat pembelajaran sejarah yang menyampaikan peristiwa masa lalu

kehidupan manusia kepada sisiwa, sehingga para siswa akan dapat dengan mudah

1
2

menangkap dan menghayati gambaran peristiwa sejarah secara utuh

(Sumarno,2002:13). Berkaitan dengan hal itu di Desa Kecamatan Mandrehe banyak

terdapat situs sejarah yang memiliki arti yang penting dalam perkembangan sejarah

Indonesia dan kemungkinan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di

sekolah.

Pemanfaatan batu mengalitikum sebagai sumber belajar sejarah. Bahkan dapat

mengetahui peristiwa-peristiwa di kehidupan di masa lalu yang dapat digunakan

sebagi daya tarik dalam sumber belajar sejarah di Kecamatan Mandrehe, Nias Barat

Sehingga dalam Pembelajaran Sejarah akan memiliki berbagai sumber yang dapat di

ajarkan oleh guru di kalangan sekolah.

Setiap tahapan dalam proses penelitian tersebut mengadung berbagai lagkah

dan metode yang lebih rincin. Tahapan yang terdapat dalam penelitian membuat

berbagai manfaat dalam penelitian tersebut, khusunya di Kecamatan Mandrehe, Nias

Barat. Tujuan dalam penelitian tersebut untuk memahami berbagia sumber belajar

sejarah di Kecamatan Mandrehe, Nias Barat sehingga mempermudah untuk

menganalisis asal usul batu mengalitikum untuk sumber belajar sejarah.

Sehingga kualitas pendidikan belajar sejarah di Kecamatan Mandrehe, Nias

Barat akan semakin baik hanya saja masih ada tempat-tempat batu mengalikum yang

masih belum bisa terpecahkan asal usulnya. Sehingga masih ada batu mengalitikum

yang dibaiarkan begitu saja. Sehingga menyebabkan banyak batu mengalitikum

tersebut tidak dapat di manfaaatkan sebagi sumber belajar sejarah.


3

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang sudah dipaparkan diatas, maka dapat diambil

rumusan permasalahan sebagi berikut :

1. Bagaimana Pemanfaatan Batu mengalitikum sebagai sumber pembelajaran sejarah

di Kecamatan Mandrehe, Nias Barat..?

2. Apa upaya pengelolaan yang di lakukan dinas pendidikan dalam menfaatkan batu

megalitik sebagai sumber belajar sejarah di Kecamatan Mandrehe, Nias Barat..?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Tujuan Objektif Untuk mengetahui pemanfaatan batu mengalitikum sebagai

sumber belajar sejarah di Kecamatan Mandrehe, Nias Barat.

2. Tujuan Subjektif Untuk memperolah data-data sebagi bahan utama dalam

penyusunan proposal agar dapat memenuhi persyaratan Akademik guna

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pada Prodi Pendidikan Sejarah Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sumatera Utara Medan (UISU-

MEDAN)

3. Untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman prnggunaan media Batu

Megalitikum sebagai media pembelaran.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan bagi ilmu

pendidikan sejarah, kaitanya dengan aplikasi pemanfaatan batu mengalitikum


4

sebagi sumber belajar sejarah. Temuan - temuan ini dapat dijadikan bahan

masukan dan bacaan teori pendidikan sejarah yang lebih produktif.

2. Secara Praktis, Hasil penelitian ini diantaranya berguna sebagi bahan bagi

pembelajaran sejarah di Kecamatan Mandrehe, maupuan dikalangan umum untuk

dapat memahami sejarah dan situs batu mengalitikum di kecamatan Mandrehe,

Nias Barat.

3. Sebagia sumbangan pemikiran bagi pembelajaran sejarah di Kecamatan

Mandrehe mengenai sejarah batu mengalitikum sebagia sumber belajar sejarah di

Kecamatan Mandrehe, Nias Barat.


BAB II

KAJIAN TEORETIS

2.1. Pemanfaatan Batu Megalitikum

Secara etimologi, megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan

lithos yang berarti batu. Oleh karena itu, zaman megalitikum biasa disebut dengan

zaman batu besar, di mana masyarakat menggunakan peralatan dari batu yang

berukuran besar. Pada periode ini, Setiap bangunan yang didirikan oleh masyarakat

sudah mempunyai fungsi yang jelas.

Ada beberapa devenisi menurut para ahli di bawah ini adalah:

a. Menurut Geldren,dalam Buku Religi pada masyarakat prasejarah di Indonesia


(2004) Pengertian megalitikum adalah sebagai suatu tardisi yang mengasilkan
batu-batu besar.
b. Menurut Firth dan Meunsterberger dalam Ayu Kusumawati, Haris Sukender
(1999) pengertian megalitik adalah Mengatakan bahwa suatu kesenian
peninggalan megalitik yang bisa dikelompokkan dalam pengertian seni.
c. Menuru Heekeren 1931, 1958, von Heine Geldren1945 dalam Buku Analisis
Kebudayaan (1982) Berpendapat bahwa megalitik adalah suatu situs yang
biasanya dipuja-puja agar mereka sembuh dari penyakit, dan diberikan hasil
panen yang banyak, agar mendapat pendapatan yang melimpah.

Penulis menyimpulkam pendapat para ahli diatas bahwa pengertian

megalitikum suatu zaman batu besar diamana masyarakat pada masa megalitikum

hidup dengan menggunakan alat-alat dari batu sebagai alat untuk sehari-hari baik

dalam menyembahan roh-roh nenek-moyang, sebagai tempat penguburan mayat,

maupun sebagai kegiatan seni pada zaman [Link] batu megalitik

pada umumnya adalah sebagai berikut :

5
6

1. Sebagai Kebudayaan

Kata megalitikum mengarah pada sebuah era zaman batu muda atau yang

dikenal dengan Neolitikum, Kata megalitikum sendiri mengacu pada etimologinya

yaitu mega berarti besar dan lithos yang berrti batu (Soejono 1984). Dengan demikian

dapat dikemukakan bahwa kebudayaan megalitik pada umunya mempunyai cukupan

yang cukup luas, terutama yang menyangkut tinggalan batu besar (Prasetyo, 2005).

Budaya megalitikum terbagi menjadi 2 gelombang yaitu : a) Megalith Tua

menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawah oleh

pendukung kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan

Megalithikum adalah menhir, punden berunduk-unduk, Arca-arca Statis. b) Megalith

Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) di bawah oleh

pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalitnya

adalah peti kubur batu, dolmen, waruga sarkofagus dan arca-arca dinamis, c) Menurut

Prasetyo (2005 : 93), pengertian megalitik telah banyak disinggung oleh para ahli

sebagai suatu tradisi yang menghasilkan batu-batu besar. Dengan demikian dapat

dikemukakan bahwa kebudayaan megalitik pada umumnya mempunyai cakupan yang

cukup luas,terutama yang menyangkut tinggalan batu-batu besar. R. Von Heine

Geldren menyimpulkan bahwa bagunan megalitik dapat dihubungkan dengan alam

kubur. Bangunan itu didirikan untuk menghindari bahaya yang mungkin mengacam

perjalanan arwah dan menjamin penghidupan yang abadi bagi orang-orang yang

mendirikan bangunan maupun unutk mereka yang sudah meninggal (Heine Goldren

1945).
7

a) Menhir

Bentuk fisik menhir seperti tiang atau tugu yang berfungsi sebagai tanda

peringatan dan melambangkan roh nenek moyang, sehingga menjadi

bangunan pemujaan. Menhir banyak di temukan di Sumatera, Jawa Barat, dan

Sulawesi Tengah. Dalam upacara pemujaan, menhir juga berfungsi untuk

menambatkan hewan kurban. Tempat-tempat penemuan menhir di Indonesia,

yaitu Pasemah (Sumatera Selatan), Pugungharjo (Lampung), Kosala, Lebak

Sibedung, Leles, Karang Muara, Cisolok (Banten, Jawa Barat), Pekauman

Bondowoso (Jawa Timur), Trunyan dan Sembiran (Bali), Ngada (Flores),

Belu (Timor), Bada-besoha dan Tana Toraja (Sulawesi Tengah dan Sulawesi

Selatan). Menhir biasanya disimpan atau ditancapkan di atas

pusara/kuburannya. Menhir ada yang sudah dihaluskan dan ada pula yang

paling masih kasar

b) Dolmen

Dolmen berbentuk seperti meja batu yang berkakikan menhir. Fungsi dolmen

sebagai tempat pemujaan san saseji roh nenek moyang. Kadangkala ada pula

ada dolmen yang ditambahkan kuburan di bawahnya. Bangunan ini ditemukan

di Pulau Samosir (Sumatera Utara), Pasemah (Sumatera Selatan), Leles (Jawa

Barat), serta Pekauman dan Pakian di Bondowoso (Jawa Timur).

c) Waruga

Waruga adalah kubur batu yang mempunyai bentuk kubus atau bulat dengan

tutup yang berbentuk menyerupai atap rumah. Waruga banyak terdapat di

Sulawesi Tengah.
8

d) Sarkofagus

Sarkofagus adalah berbentuk paling atau lesung, tetapi mempunyai tutup dan

berfungsi sebagai keranda jenazah. Pada sarkofagus sering dipahatkan motif

kedok/topeng dalam berbagai ekspresi untuk melindungi roh si mati dari

gangguan gaib. Sarkofagus banyak ditemukan di Indonesia terutama di

Bondowoso (Jawa Timur), Pulau Samoris, dan bali.

e) Kubur Batu

Bentuknya hampir sama seperti peti mayat dari batu. Pada keempat sisinya

berdindingkan papan-papan batu. Demikian pula alas dan bidang atasnya

terbuat dari papan batu. Kubur batu dapat ditemukan di Cipari Kecamatan

Cigugur, Jawa Barat.

2. Sebagai Konsepsi Kepercayaan

Masyarakat masa bercocok-tanam memiliki ciri khas yang sesuai dengan

perkembangan penemuan-penemuan barunya. Timbullah anggapan bahwa tanah

merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Hal inilah yeng

membangkitkan gairah untuk lebih memanfaatkan kegunaan tanah di samping

penguasa terhadapa binatang-binatang yang akhirnya mulai diijinkannya. Nilai-nilai

hidup makin berkembang dan mabnusia pada waktu ia sudah tidak lagi

menggantungkan kehidupan pada alam, tetapi sudah menguasai alam lingkungan

sekitarnya seta aktif membuat perubahan-perubahan. Salah satu segi yang menonjol

dalam masyarakat adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati. Kepercayaan

bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang meninggal, sangat mempengaruhi
9

kehidupan manusia. Roh dianggap mempunyai kehidupan di alamnya tersendiri

sesudah orang meninggal.

Upacara yang paling mencolok adalah upacara pada waktu penguburan,

terutama bagi mereka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat. Pelaksanaan

penguburan dilakukan dengan cara langsung maupun tidak langsung, di tempat yang

sering dihubungkan dengan asal –usul anggota masyarakat atau tempat-tempat yang

sudah dianggap sebagai tempat tinggal arwah nenek –moyang. Si mati biasanya

dibekali bermacam-macam barang keperluan sehari-hari seperti perhiasan, periuk dan

lain-lain yang dikubur bersama-sama dengan maksud agar perjalanan si mati ke dunia

arwah dan kehidupan selanjutnya akan terjamin sebaik-baiknya. Jika tempat-tempat

tersebut terlalu jauh atau sukar dicapai, maka si mati cukup dikuburkan di suatu

tempat yang diamksud. Tujauanya ialah agar roh si mati tidak tersesat dalam

perjalanan menuju ketempat arwah nenek-moyang atau tempat asal mereka.

Kematian dipandang tidak membawa perubahan ensensial dalam kedudukan,

Biasanya hanya orang-orang terkemuka atau yang telah pernah berjasa dalam

masyarakat sajalah yang akan mencapai tenpat khusus di alam baka. Tetapi di pihak

laina, amal atau kebaikan, yaitu bekal untuk mendapaatkan tempat khusus di dunia

akhirat, dapat diperloleh dengan mengadakan pesta-pesta tertentu yang mencapai titik

puncaknya dengan mendirikan bengunan-bangunan batu besar. Menepatkan si mati di

dalam tempat yang terbentuk dari susunan batu besar (seperti misalnya peti batu, bilik

batu, sarkofagus dan sebaginya), baik yang diukir maupun yang dilukis dengan

berbagai lambing kehidupan dan lambing kematian, merupakan tindakan yang akan

saling menguntungkan kedua belah pihak, yaitu si mati dan yang ditinggalkan. Jadi
10

batu-batu besar ini menjadi lambang perlindungan bagi manusia berbudi baik.

Gagasan hidup diakhirat berisi: keistimewaan yang belum atau yang sudah

didapatkan di dunia fana, hanya akan dapat dicapai didunia akhirat berdasarkan

perbuatan-perbuatan amal yang pernah dilakukan selama hidup manusia, ditambah

dengan besarnya upacara kematian yang pernah diselenggarakan.

2.2. Tradisi Megalitik

Menurut Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho Notosusanto (1984: 205)

tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik (mega berarti besar, lithos berarti

batu) selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup

dan yang mati, terutama kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari yeng telah mati

terhadap kesejahteraan masyarakat akan kesuburan tanaman. Jasa dari seorang

kerabat yang telah mati diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar.

Bangunan ini kemudiana menajadi medium penghormatan, tempat singgah dan

sekaligus menjadi lambang si mati. Bangunan-bangunan megalitik tersebar luas di

daerah Asia Tenggara. Di sini tradisi yang berhubungan dengan pendirian bangunan

megalitik ini sekarang sebagia sudah musnah dan ada yang masih berlangsungan.

Sisa-sisa bangunan dari tradisi yang sudah musnah terdpat di daerah-daerah Laos,

Tonkin, Indonesia dan Pasifik sampai Polinesia. Tradisi megalitik yang masih hidup

hingga kini ialah antara lain di Assam, Birma, (suku Naga, Khasi dan Ischim) dan

beberapa daerah diindonesia (Nias, Torajo, Flores, dan Sumba).

Usaha kearah rekonstruksi yang wajar dalam bidang penelitian ini

memperhatikan pula teori dan pendapat R. Von Heine Geldern mengenai tradisi

mengalitik di Asia Tenggara pada Pasifik sejak tahun 1928. Teori-teorinya menjadi
11

dasar pendapat ilmiahwan-ilmiawan lain mengenai beberapa masalah, seperti

misalnya:

a. Fungsi megalit tenyata lebih kompleks daripada dugaan semula.

b. Penggolongan tradisi megalitik dalam dua tradisi besar, yaitu Megalitik Tua

yang bersusia kurang lebih 2500-1500 sebelum Masehi dan Megalitik Muda

yang berusia kira-kira melenium pertama sebelum masehi

Dalam pengkajian-pengkajian selanjutnya terjadilah pembangian dalam gaya-

gaya Pasifik Tua, Dineistro-Donau, Shang, Chou Tua, Chou Muda dan gaya Dong

Son. Pembedaan gaya ini di hasilkan menjelang tahun 1937 dan peninjauan kembali

dilakukan dalam tahun 1958 yang menghasilakan pendapat bahwa penyebaran

budaya megalitik di Asia telah berlangsung dari daerah Laut Tengah. Pada tahun

1966 von Heine Geldren meninjau kemabali pembedaan orisional dan fundamental

antara Megalitik Tua dan Mengalitik muda.

Baik teori-teori yang terdahulu maupun yang diajukan kemudian oleh von

Heine Geldren, telah terima oleh sebagian besar para ahli. Pada pembedaan Megalitik

Tua dan Megalitik Muda, von Heine Goldren mamasukkan Megalitik Tua ke dalam

masa Neolitik. Tradisi ini didukung oleh para pemakai bahasa Austronesia yang

menghasilakan alat-alat beliung persegi dan mulai membuat pula benda atau

bangunan yang disusun dari batu besar, seperti dolmen, unduk batu, lima (piramid)

berunduk dan pelinggih. Penelitian lebih lanjut yang bertolak dari gagasan kosmo-

magis mengungkapkan unsur-unsur yang lebih asli lagi seperti diantara lain tembok

batu dan jalan batu.


12

Mengalitik muda berkembang dalam masa Perundingan dengan

memperlihatkan bentuk-bentuk kubur peti batu, dolmen semu, sarkofogus dan bejana

batu. Kedua gelombang tersebut akhirnya bercampur, tumpang-tindih dalam

perkembangannya membentuk variasi-variasi lokal dalam tingkah-tingkah

perkembangnnya kemudian bercampur dengan budaya-budaya India, Islam dan Eropa

yang bertahap-tahap telah meluaskan pengaruhnya di kepulauan Indonesia. Unsur-

unsur megalitik dengan keanekaragamannya dari berbagai bentuk peradaban masih

dapat dipelajari sebagai bagian intergral dari budaya yang kini masih hidup di

Indonesia.

Pengikut-pengikut teori tentang Megalitik Tua dan Megalitik Muda antar lain

ialah A. N. J. Th. A Th. Van der Hoop, B. A. G. Vroklage dan H. G. Quaritch Wales.

Namun demikian masih ada yang tidak sependapat dengan penempatan tardisi

megalitik dalam Neolitik, seperti misalnya van Heekeren. Tetapi kenyataannya bahwa

tradisi Megalitik Muda ada hubungannya dengan masa perundingan telah banyak

diakui oleh para ahli, Perkembangnya tardisi Megalitik Tua masih menjadi masalah,

dengan tidak didapatkannya temuan-temuan “neolitik murni” bersama-sama dengan

bangunan megalitik dalam penggalian-penggalian di Indonesia.

2.3. Pengaruh Terhadap Perkembangan Masyarakat

Menurut Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho Notosusanto (1984: 208)

konsep pemujaan nenek-moyang melahirkan tata-cara yang menjaga tingkah-laku

masyarakata di dunia fana supaya sesuai dengan tuntutan hidup di dunia akhirat di

samping menambah kesejahteraan di dunia fana. Pada masa ini organisasi masyarakat

telah teratur. Pengetahuan tentang teknologi yang berguna dan nilai-nilai hidup terus
13

berkembang, antara lain cara-cara pembiakan ternak, pemilihan benih-benih

tanamana dan penemuan alat-alat baru yang lebih cocok untuk keperluan sehari-hari

makin bertambah. Sikap hidup selalu berkisar pada persoalan-persoalan manusia,

bumi, hewan dan tabu. Perkampungan merupakan pusat kehidupan setelah pola

hidup mengembara ditinggalkan sama sekali.

Batas antara segi profane dan segi sacral dalam kehidupan tidak begitu jelas.

Rasa satu dengan alam menghasilkan karya yang kini dipandang sebagai hasil seni

yang berarti. Puncak dari karya-kaya ini terdapat pada suatu masa setelah masyarakat

mulai mengenal logam, dan dari bahan ini dibuat berbagai bentuk benda upacara dan

benda keperluan sehari-hari dengan ukir-ukiran yang menggamabarkan alam pikiran

dan lingkungan masyarakat waktu itu.

2.4. Bangunan Megalitik

Bangunan megalitik tersebar hampir diseluruh kepulauan Indonesia. Bentuk

bangunan ini bermacam-macam dan meskin-pun sebuah bentuk berdiri sendiri

ataupun beberapa bentuk merupakan suatu kelompok, maksud utama dari pendirian

bengunan tersebut tak luput dari latar belakang pemujaan nenek-moyang, dan

pengharapan kesejahteraan bagi yang masih hidup, serta kesempurnaan bagi si mati.

Bangunan yang paling tua mungkin berfungsi sebagai kuburan dengan bentuk yang

beranekaragam. Dari bentuk-bentuk tersebut dapat diduga umumnya secara nisbi.

Bentuk-bentuk tempat penguburan dapat berupa benjana batu, waruga, batu kandang

dan temugelang. Di tempat kuburan-kuburan semacam itu biasanya terdapat beberapa

batu besar lainnya sebagai pelengkap pemujaan nenek-moyang, seperti menhir,


14

patung nenek-moyang, batu saji, batu lumping, batu lesung, batu dakon, pelinggih

batu, tembok batu atau jalan berlapis batu.

Beberapa bentuk megalitik tadi mempunyai fungsi lain, seperti dolmen yang

memiliki variasi bentuk yang menyerupai dolmen dibuat untuk pelinggih roh atau

tempat persajian. Dolmen berfungsi sebagai pelinggih di kalangan masyarakat

megalitik yang telah maju serta digunakan sebagai tempat duduk oleh kepala suku

atau raja-raja, dan dipandang sebagai tempat keramat dalam hubungan dengan

pemujaan arwah leluhur. Hal ini jelas sekali memperlihatkan suatu kepercayaan

bahwa yang masih hidup dapat memperoleh berkah dari hubungan magis dengan

nenek-moyang melalui bangunan megalitik tersebut sebagai medium. Sebagai contoh

lumping batu atau lesung batu dan batu dakon, sering didapatkan di lading atau sawah

dan di pinggiran dusun, yang menempatannya mungkin bertujuan untuk mendapatkan

kekuatan magis.

Di Sumatera, bangunan megalitik terdapat di bagian selatan pulau tersebut,

yaitu di dataran tinggi Pasemah. Daerah ini terletak di antar Bukit Barisan dan

Pegunungan Gumai, di lereng Gunung Dempo (3150 m). Peninggalan megalitik di di

daerah ini pernah dilaporkan oleh Ullman (1850), Tembrink (1870), Engelhard

(1891), Krom (1918), Westenenk (1922), dan Hoven (1927), yang hampir semuanya

beranggapan bahwa bengunan-bangunan tersebut merupakan peninggalan Hindu.

Baru setelah van Eerde mengujungi tempat sersebut pada tahun 1929, diperoleh

pendapat yang berbeda dengan anggapan-anggapan terdahulu. Van Eerde menyatakan

bahwa peninggalan di Pasemah tidak dipengaruhi oleh budaya Hindu, dan masih
15

termasuk dalam jangkauan masa prasejarah. Bentuk megalitik tampak nyata pada

peninggalan tersebut seperti menhir, dolmen dan lain-lain.

2.5. Pemanfaatan Batu Megalitik Sebagai Sumber Belajar Sejarah di

Kecamatan Mandrehe

Sumber belajar sejarah adalah semua sumber (baik berupa data-data, orang

atau benda) yang dapat di manfaatkan atau dapat dugunakan untuk memberi fasilitas

(kemudahan) terhadap belajar bagi pelajar. Sumber belajar dapat di manfaatkan

dalam memberikan sumbangan yang positif untuk peningkatan mutu pendididkan dan

pembelajaran. Oleh sebab itu, pemanfaatan batu megalitik sebagai sumber belajar

yang digunakan dalam dunia pendidikan, baik pada pendidikan dasar, menengah,

ataupun pendidikan tinggi.

Salah satu sumber belajar adalah salah satunya seperti peningalan sejarah

antara lain yaitu: batu megalitikum, karena dalam pemanfaatan sejarah batu ini

sebagai sumber belajar dapat memotivasi belajar sejarah kepada pelajar, Mendukung

pencapaian program pembelajaran. Nilai dari peninggalan sejarah yang terdapat

dalam batu megalitikum ini dapat menjadi salah satu referensi kesadaran bagi bangsa

Indonesia khusunya terhadapa kalangan pelajar sebagai generasi penerus untuk

membangun kehidupan masa depan yang lebih baik, tidak hanya pada tatanan

kemakmuran serta ekonomis, namun dapat memiliki indetitas bangsa yang beradap

dan menuntut suatu rekonstruksi sejarah sebagai sejarah Nasional yang akan

mewujudkan kristalisasi indentitas bangsa Indonesia. Rekonstruksi sejarah hanya

akan mampu dipahami oleh warga masyarakat di Indonesia secara keseluruhan,

apabila melalui dunia pendidikan khususnya pembelajaran sejarah di kalangan


16

pelajar. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan kunjungan ke tempat batu-batu

megalitikum peninggalan sejarah dan pengenalan sejarah sejak dini pada kalangan

pelajar. Secara tidak langsung keberadaan peninggalan batu megalitikum sangat erat

dengan pendidikan sejarah dan merupakan salah satu sumber belajar sejarah.

Peninggalan batu-batu megalitikum tidak hanya melengkapi informasi, melainkan

juga merangsang minat dan menjadi saranan penting terhadap kaum pelajar untuk

lebih mengerti sejarah.

Belajar sejarah berarti pelajar mampu berpikir kritis dan mampu mengkaji

satiap perubahan di lingkungannya, serta memiliki kesadaran akan perubahan dan

nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah. Dalam pengembangan

kurikulum dapat digunakan metode karya wisata melakukan kunjungan ke tempat-

tempat batu megalitikum peninggalan sejarah. Dengan koleksi yang dimanfaatkan

sebagai sunber belajar sejarah, membuat pelajar lebih senang dan aktif dalam proses

pembelajaran karena bersifat visual. Beberapa peningglan sejarah yang terdapat di

areal batu megalitikum di Kecamatan Mandrehe dapat dijadikan sebagai sumber

belajar sejarah, adapun cara memanfaatkanya direlevansikan dengan standar

kompetensi dan kompetensi dasar. Dalam pembelajaran dengan menfaatakan

peningglan-peninggalan baru megalitikum sebagai sumber belajar sejarah, guru

berperan sebagai motivator, fasilitator dan evaluator. Aktifitas pelajar dalam

pembelajaran ini menuntut pelajar lebih aktif, kreatif dan antusias. Hal ini akan

membantu siswa memecahkan masalah yang sedang dibahas karena dengan

berkunjung ke objekk tempat-tempat peninggalan sejarah yang sesuai dengan materi


17

akan membuat pelajar memperoleh banyak informasi dari pada hanya di dalam kelas

mendengarkan guru ceramah.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan sumber

belajar dalam pembelajaran sejarah sangat penting. Pelajaran sejarah selama ini

kurang diminati oleh kaum pelajar dikarenakan mereka hanya mendengarkan

dongeng dan cerita tanpa mengetahui kenyataannya. Penggunaan sumber belajar

sejarah bertujuan agar pembelajaran tidak monoton dan untuk membangkitkan minat

belajar terhadap pelajar serta memotivasi pelajar untuk berdapatasi dengan

leingkungan sekitar, untuk menggali informasi dan kebenaran informasi peninggalan-

peninggalan sejarah.

2.6. Sumber Belajar Sejarah

Menurut Robi dalam (Pradanaa 2019, hal. 141) dalam proses pembelajaran

mata pelajaran sejarah ilmu sosial penggunaan perlu menggunakan media

pembelajaran secara luas. Karena banyak sekali mata pelajaran ilmu sosial berisi

pesan abstrak, konsep angina, kontinuitas waktu, arah dasar, leingkungan adaptif,

kekuasaan, populasi, nilai, peran, peryaratan, atau kelengkapan, penampilan alam,

berbagi waktu untuk saat mempelajari mata pelajaran sains perlu pengetahuan sosial,

peta simbol, bagan konsep abstrak mempermudah siswa untuk menemukannya

pahami materinya. Media pembelajaran agar berjalan dengan lancar.

Pembelajaran menjadi sangat penting karena dalam kegiatan ii ada proses

interaktif antara guru sebagai pembawa pesan/pemikiran dan siswa sebagai penerima

pesan/ide. Dari sudut pandang ini, pembelajaran merupakan alat untuk, transformasi

dan kebangkitan budaya dari suatu negara. Dalam pembelajaran sejarah peran penting
18

pembelajaran tidak hanya tercermin dalam sebuah proses pemindahan ide juga

merupakan proses pendewasaan siswa memahami jati diri, jati diri dan kepribadian

bangsa dengan memahami peristiwa sejarah. Strategi pembelajaran yang digunakan

hendaknya tidak melumpuhkan kreativitas, tetapi hanya memaksa siswa ingat fakta

dan buku teks. Saatnya mengajarkan sejarah dengan cara yang berbeda dan

menghentingkan pembelajaran. Inti biasanya terjadi karena pembelajaran sejarah.

Akibatnya sering terjadi kelelahan menjadi faktor utama yang dihadapai guru dalam

mengajar siswa. Pembelajaran sejarah merupakan salah satu ilmu yang studi sejarah

yang bersifat kronologis. Data historis tidak dapat dipisahkan dari priodisasi dan

urutan waktu kejadian. Belajar kronologis ini mengajarkan siswa untuk berpikir

sistematis dan berurutan dan pahami hukum sebab dan akibat. Pembelajaran sejarah

terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia artinya berusaha memahami

negaranya dibentuk oleh sikap sosial yang baik dari para penerus bangsa (Heri, 2014,

56-62).

Pembelajaran sejarah adalah pelajaran yang dipelajari agar menemukan

hakikat atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Belajar sejarah dapat mempelajari

tentang kemanusiaan dari berbagai aspek. Pembelajaran sejarah membangkitkan

pemahaman masyarakat tentang hakikat budaya manusia dan perkembangan

peradaban, hasil pembelajaran ini sangat terkenal sebagai kesadaran historis (historis

kesadaran). Proses pembelajaran sejarah di sekolah juga merupakan suatau keharusan

dorong terciptanya situasi ini dapat meningkatkan pemahaman pesrta didik tentang

sejarah. Jadi pembelajaran sejarah bertujuan untuk mengembangkan pemahaman

pesrta didik yang mempelajari tentang tentang proses pembentukan bangsa Indonesia
19

melalui sejarah panjang dan masih dalam proses sampai masa kini dan masa yang

akan datang. Serta menumbuhkan rasa apresiasi pesrta didik terhadap bukti peradaban

sebuah bangsa pada masa lampau, yaitu benda-benda peninggalan bersejarah

(Sayono,2015, hal. 12-13).

Menurut penulis Sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang

memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar. Di dalamnya meliputi

lingkungan fisik seperti tempat belajar, bahan, dan alat yang dapat digunakan,

personal seperti guru, petugas perpustakaan dan ahli media, dan siapa saja yang

berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk keberhasilan dalam

pengalaman belajar, Dalam proses perencanaan pembelajaran, perencana harus dapat

menggambarkan apa yang harus dilakukan guru dalam siswa dalam memanfaatkan

sumber belajar optimal. Sedangkan dalam mendesain pembelajaran para desainer

perlu menentukan sumber belajar apa dan bagaimana cara memanfaatkanya.

a. Karakteristik sumber Belajar

Menurut Rohani (1997) yang dikutip oleh juri, penyebutan ciri-ciri sumber

belajar antara lain, yaitu :

1. Sumber belajar harus mampu memberikan kekuatan dalam proses belajar

mengajar,sehingga tujuan instruksional dapat tercapai dapat tercapai secara

maksimal.

2. Sumber belajar harus mampu mempunyai nilai-nilai instruksional edukatif yaitu

dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku

sesuai dengan tujuan yang ada


20

3. Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang

dimanfaatkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Tidak terorganisai dan tidak sistematis baik dalam bentuk maupun isi

b. Tidak mempunyai tujuan instruksional yang eksplisit

c. Hanya digunakan menurut keadaan dan tujuan tertentu.

d. Dapat digunakan untuk berbagai tujuan instruksional.

b. Fungsi Sumber Belajar

Sumber belajar memiliki fungsi yang sangat penting dalam kegiatan

pembelajaran. Kalau media pembelajaran lebih sekedar sebagai media pembelajaran

lebih sekedar sebagai media untuk menyampaikan pesan sedangkan sumber belajar

tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga termasuk tsrategi, metode, dan tekniknya.

Sumber belajar memiliki fungsi berikut :

1. Meningkatkan produktifitas pembelajaran, dengan jalan :

a. Mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu

secara lebih baik.

b. Mengurangi beban guru dalama menyajikan informasi, sehingga dapat lebih

banyak membina dan mengembangkan galara belajar siswa.

2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan

jalan :

a. Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional.

b. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan

kemampuannya.

3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan jalan :


21

a. Perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis.

b. Pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh peneliti.

4. Lebih menetapkan pembelajaran, dengan jalan :

a. Meningkatkan kemampuan sumber belajar.

b. Penyajian informasi dan bahan secara lebih konkrit.

c. Pengertian Media

Pengerian Media adalah media berasal dari keinginan manusia untuk

berkomunilkasi yang selalu ingin untuk berekspresi. Pada awalnya manusia memikili

kemampuan berkomunikasi dengan berbicara dan kemuadia manusia

menggambarkan gambar di dinding gua. Sekitar 400 SM, manusia menulis piktogram

di tablet tanah liat, sebuah gambar sederhana yang melambangkan sebuah objek atau

kata, untuk dapat mengkomunikasikan informasi sederhana atau kejadian sehari-hari.

Selama berabad-abad, berbagai media untuk berkomukasi dikembangkan,

seperti sinyal asap, semaphone, (bendera), burung marpati telah digunakan untuk

mengirim pesan dengan cepat dan efektif.

d. Pengertian Pembelajaran

Pengertian pembelajaran adalah berasal dari kata belajar yang berdasarkan

kata dasar ajar, yang menurut Kamus Bahasa Indonesia berarti “pentunjuk yang

diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Belajar sendiri berarti “

berusaha/berlatih memperoleh kepandaian atau ilmu, Pembelajaran berarti "pr“ses,

cara, perbuatan menjadikan belajar”. Pembelajaran diterjemahkan dengan kata

learning dalam bahasa inggris, yang berarti sesuatu proses untuk mendapatkan
22

pengetahuan atau keahlian melalui pengalaman, belajar dan diajar. Belajar adalah

kegiatan yang tidak mengenal batas umur dan suatu yang berlangsung seumur hidup

melalui interaksi dengan lingkungan yang dapat merubah kebiasaan atau perilaku

seseorang. Salah satu tujuan dari kegiatan belajar adalah perubahan perilaku dari

peserta ajar yang di harapkan ke arah yang positif.

e. Pengertian Media Pembelajaran

Pengertian media pembelajaran adalah perantara yang digunakan untuk

menyampaikan materi ke pelajar dengan menggunakan alat tertentu agar pelajar dapat

mengerti dengan cepat dan menerima pengetahuan dari pengajar.

a. Menurut National Education Association (NEA), media adalah perangkat


yang dapat dimanipulasi, didengar, dilihat dan dibaca berikut dengan
instrument yang digunakan baik dalam belajar mengajar yang dapat
memengaruhi tingkat efektivitas penyampaian materi ajar.
b. Menurut Assciation of Education Communication Technology (AECT),
media pembelajaran adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau
benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar
bagi pelajar. Media pembelajaran itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan,
teknik, dan lingkungan/latar.

Menurut penulis Media pembelajaran sebuah alat bantu yang berupa suatu

benda atau objek yang dapat di manfaatkan oleh pelajar dalam belajar sehingga dapat

memudahkan pelajar dalam memahami pelajaran yang akan di ajarkan.

f. Manfaat Media Pembelajaran

Manfaat media pembelajaran dapat dirasakan tidak hanya bagi pelajar yang

menikmati materi menggunakan berbagai media tetapi juga oleh pengajar yang dapat

memengaruhi beban dalam menjelaskan dan dapat menyampaikan materi secara lebih

detail kepada para pengajar.


23

Ada beberpa manfaat menggunkan media pembelajaran menurut (Nurseto),

2011:10).

a. Dapat menumbuhkan motivasi belajar para Pelajar karena materi yang

disampaikan dapat lebih menarik perhatian mereka

b. Penguasaaan materi menjadi lebih baik karena memungkinkan bahan pengajaran

disampaikan dengan berbagai media yang dapat diakses secara berulang-ulang

oleh pelajar.

c. Metode pembelajaran menjadi lebih bervariasi dan tidak hanya menggunakan

kata-kata verbal saja.

d. Pelajar menjadi lebih aktif, karena dengan media pembelajaran yang baik dapat

membuat pelajar menjadi lebih ikut serta dan berinteraksi dengan media

pembelajaran yang digunakan.

Tabel 2.1
Manfaat Media Pembelajaran

Aspek Manfaat Media Pembelajaran


Bagi Guru Bagi Siswa
Penyampaian Memudahkan guru dalam Memudahkan siswa dalam
materi menjelaskan materi memahami materi
pembelajaran pembelajaran
Konsep Materi yang bersifat Konsep materi mudah
abstrak menjadi konkret dipahami konkret mediannya,
konkrit pemahamannya
Waktu Lebih efektif dan efesien, Memiliki waktu yang lebih
mengulang materi banyak dalam mempelajari
pembelajaran hanya materi dan menambahkan
seperlunya saja materi yang relevan
Minat Mendorong minat belajar Menbangkitkan minat belajar
dan mengajar guru siswa
Situasi belajar Interaktif Multi Aktif
Hasil belajar Kualitas hasil mengajar Lebih mendalam dan utuh
lebih baik

Anda mungkin juga menyukai