0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan17 halaman

Radiologi: Pelayanan dan Risiko Radiasi

Dokumen tersebut membahas tentang instalasi radiologi di rumah sakit yang memberikan layanan diagnostik menggunakan radiasi. Radiasi dapat memberikan efek merugikan bagi pekerja dan pasien, sehingga diperlukan proteksi radiasi untuk mengurangi risiko tersebut. Dokumen juga menjelaskan jenis pemeriksaan radiologi dan efek biologis dari paparan radiasi.

Diunggah oleh

5fcyb22jt7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan17 halaman

Radiologi: Pelayanan dan Risiko Radiasi

Dokumen tersebut membahas tentang instalasi radiologi di rumah sakit yang memberikan layanan diagnostik menggunakan radiasi. Radiasi dapat memberikan efek merugikan bagi pekerja dan pasien, sehingga diperlukan proteksi radiasi untuk mengurangi risiko tersebut. Dokumen juga menjelaskan jenis pemeriksaan radiologi dan efek biologis dari paparan radiasi.

Diunggah oleh

5fcyb22jt7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Radiologi : Pemeriksaan Penunjang Dan Pengobatan di Dunia

Kedokteran Serta Efeknya


Literature Review
Hadi Nurvan
RS Ananda Babelan Bekasi

Email:hadinurvan@[Link]

Abstrak:Instalasi unit radiologi merupakan bagian dari pelayanan di Rumah Sakit,yang memberikan pelayanan
pemeriksaan profesional berupa hasil gambar/image untuk membantu para dokter dalam menegakkan diagnosis
dan pengobatan pasien .Dalam melaksanakan pelayanan instalasi ini menggunakan peralatan radiasi pengion atau
gelombang elektromagnetik dan partikel bermuatan yang mampu mengionisasi media yang dilaluinya maupun
yang bukan radiasi [Link] pemeriksaan di radiologi :radiodiagnostik adalah pemanfaatan radiasi pengion
dengan pesawat sinar-X untuk tujuan diagnostik. Radiografi intervensional adalah pemeriksaan dengan pesawat
sinar-X yang digunakan untuk panduan prosedur terapi. Pesawat sinar-X adalah sumber radiasi yang didesain
untuk tujuan diagnostik yang terdiri dari sistem sinar-X dan subsistem sinar-X atau komponennya. Keselamatan
kerja dalam radiologi mempunyai risiko baik secara langsung maupun tidak langsung, risiko tersebut dapat terjadi
bila kelalaian dan sebab lain di luar kemampuan manusia. Akibat paparan zat radiasi , memberikan dampak pada
tubuh seseorang berupa efek biologis radiasi pada manusia dapat terjadi pada individu yang terkena radiasi tersebut
(efek somatik) ataupun keturunannnya (efek herediter/genetik). Efek pada fisik yang didapat bisa seketika langsung
ataupun tertunda .Efek somatik dibagi menjadi efek non stokastik (deterministik) dan efek stokastik, sedangkan efek
genetik semuanbersifat [Link] tindakan untuk melindungi pasien, pekerja, masyarakat, dan lingkungan
hidup dari bahaya radiasi. Mengingat potensi bahaya radiasi yang besar dalam pemanfaatan sinar-X, faktor
keselamatan merupakan hal yang penting sehingga dapat memperkecil risiko akibat kerja di instalasi radiologi dan
dampak radiasi terhadap pekerja [Link] radiasi hal yang sangat penting dalam pengendalian efek yang
merugikan ini,berupa apron Pb dan tabir radiasi, fasilitas ruangan yang memenuhi syarat serta peralatan sinar-X
sudah dilakukan uji kesesuaian.

Kata kunci: Jenis pemeriksaan radiologi,Efek fisik

Abstract:Radiology unit installation is part of the service at the Hospital, by providing professional examination
services in the form of image results to assist doctors in diagnosing and treating [Link] carrying out this
installation service, ionizing radiation equipment or electromagnetic waves and charged particles are used which are
capable of ionizing the media through which they pass and non-ionizing radiation. Types of examination in
radiology:
radiodiagnostics is the use of ionizing radiation with X-rays for diagnostic purposes. Interventional radiography is an
examination with X-rays used to guide therapeutic procedures. An X-ray apparatus is a radiation source designed for
diagnostic purposes consisting of an X-ray system and an X-ray subsystem or components [Link]
safety in radiology has risks, both directly and indirectly, these risks can occur due to negligence and other causes
beyond human capabilities. As a result of exposure to radiation substances, it has an impact on a person's body in the
form of biological effects of radiation on humans, which can occur in individuals who are exposed to radiation
(somatic effects) or their offspring (hereditary/genetic effects).Effects on the physical obtained can be instantaneous,
direct or delayed. Somatic effects are divided into non-stochastic effects (deterministic) and stochastic effects, while
genetic effects are all stochastic. Action is needed to protect patients, workers, the public and the environment from
radiation [Link] the large radiation hazard potential in the use of X-rays, the safety factor is important
so as to minimize the risks due to work in radiology installations and the impact of radiation on radiation workers.
Radiation protection is very important in controlling these adverse effects, in the form of a Pb apron and radiation
shields, room facilities that meet the requirements and X-ray equipment have been tested for suitability.

Keywords: Types of radiological examinations, Physical effects


Pendahuluan

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan /atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan ,baik promotif,preventif,kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
pemerintah,pemerintah daerah,dan /atau Masyarakat (Menkes,2020).Rumah sakit juga merupakan bagian dari
sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya Kesehatan (Ngurah
Sutapa dan Gde Antha, 2014) .Sehingga harus selalu mengupayakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi seluruh
pekerja di rumah sakit (Hatta et al., 2018)(Ristiono & Azkha, 2009).

Instalasi Radiologi merupakan salah satu Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai unit penunjang medik dan
pengobatan di rumah sakit. Sebagai Standar Pelayanan Minimal, instalasi radiologi diharapkan dapat memberikan
pelayanan yang terbaik bagi pasien yang membutuhkannya, sehingga akan meningkatkan mutu dan kualitas rumah
sakit tersebut (Daenuri Anwar, 2011) (Hantari Rahmawati & Hartono, 2021).Instalasi radiologi yang memberikan
pelayanan kesehatan tetap memiliki risiko terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, , misalnya alat-alat
yang ada dalam radiologi, misalnya Magnetic resonance imaging (MRI), Computed Tomography Scanner (CT scan) dan
lainnya. Contoh pesawat sinar-X sebagai foto ronsen yang berfungsi untuk foto toraks, tulang tangan, kaki dan organ
tubuh yang lainnya (Daenuri Anwar, 2011)(Hatta et al., 2018) .

Radiologi merupakan ilmu yang mempelajari proses pembuatan gambar dari organ tubuh manusia yang
menggunakan radiasi sinar-X yang mempunyai peranan sangat penting di bidang kedokteran dan bidang pelayanan
kesehatan,dengan cara memanfaatkan radiasi pengion dan non pengion .Hasil pemeriksaan berupa gambar
radiografi sangat membantu dalam mendiagnosis suatu, sehingga dokter dapat memberikan pengobatan yang
tepat, dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat menuju masyarakat sehat (Finzia & Ichwanisa,
2017).Pelayanan di Instalasi Radiologi merupakan bagian integral dari pelayanan penunjang medik di rumah sakit
yang menyelenggarakan pelayanan diagnostik meliputi pelayanan x-ray konvensional, penggunaan Computer
Radiografi (CR), Mammografi, Panoramic, Dental, serta pelayanan imajing diagnostik yaitu ultra sonografi (USG)
dan jenis pemeriksaan [Link] pengoperasian menggunakan zat radioaktif atau sumber radiasi pengion
lainnya yang memiliki resiko berbahaya baik terhadap pekerja yang berkontak bahan radiasi, pasien, maupun
lingkungan,dan harus dikelola dikelola oleh tenaga radiografer yang profesional di bidang radiologi untuk menjaga
efek radiasi dalam upaya peningkatan pelayanan (Hasmawati, 2016).

Radiodiagnostik adalah cabang ilmu radiologi yang menggunakan pencitraan/gambar untuk mendiagnosis
penyakit menggunakan radiasi pengion atau gelombang elektromagnetik/foton dan partikel bermuatan, karena
energinya mampu mengionisasi media yang dilaluinya. Radiasi pengion ini adalah sinar-X, yang memiliki manfaat
bagi dunia kedokteran/medis, tetapi juga memberikan efek merugikan bagi petugas radiasi , pasien, dan masyarakat
umum yang mungkin terpapar zat ini (Martem et al., 2015).Paparan Radiasi adalah penyinaran radiasi yang diterima
oleh manusia atau materi, baik disengaja atau tidak, yang berasal dari radiasi interna maupun eksterna(PERKA
BAPETEN, 2010).

Personil adalah tenaga kerja yang berhubungan dengan pesawat sinar-X di instalasi radiologi. Bekerja
menggunakan pesawat sinar-X mamografi, pesawat sinar-X CT-Scan, pesawat sinar-X fluoroskopi, pesawat sinar-X
C-Arm/U-Arm angiografi, pesawat sinar-X CT-Scan angiografi, pesawat sinar-X CT-Scan fluoroskopi, pesawat sinar-
X simulator, dan/atau pesawat sinar-X CArm brakhi, dan [Link] yang bertugas terdiri dari Dokter spesialis
radiologi, tenaga ahli (Quilified Expert) atau fisikiawan medis, petugas proteksi radiasi, dan radiografer (Badan &
Tenaga, 2011).

Proses produksi dan/atau perakitan pesawat sinar-X di Indonesia hingga kini belum memiliki ketentuan yang
jelas dalam hal menjamin mutu produk yang dihasilkan (Nurhikmah, 2022)(Etlidawati & Diyah Yulistika Handayan,
2017).Unit radiologi masih perlu memastikan terlaksananya sistem manajemen keselamatan radiasi sinar x agar
pekerja merasa aman dan professional (Sari, 2012) .

Beberapa penyakit yang di deteksi dengan radiologi yaitu tumor, jantung, kelainan pada paru-paru, stroke,
kanker, gangguan yang terjadi pada pembuluh darah, sendi, tulang, ginjal, fungsi hati, saluran cerna, saluran
reproduksi, kelenjar getah bening, dan kelenjar tiroid. Sinarenergi rendah digunakan untuk mengambil gambar foto
yang dikenal sebagai radiograf. Sinar-X energi tinggi digunakan untuk memusnahkan sel-sel kanker (Ermiza, 2022) .
Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir No. 8 Tahun 2011 Proteksi radiasi adalah tindakan
yang dilakukan untuk mengurangi pengaruh radiasi yang merusak sel tubuh akibat paparan radiasi pada radiologi
diagnostic,radioterapi dan [Link] yang berhubungan dengan pekerjaan harus dicegah dan
lingkungan kerja harus secara memenuhi persyaratan kesehatan untuk melindungi pekerja radiasi(Ristiono &
Azkha, 2009) (Fairusiyyah et al., 2016).

Radiasi pengion langsung berinteraksi secara langsung dengan molekul ,sel dan [Link] dosis tinggi
maupun rendah bisa menyebabkan kerusakan DNA langsung dan menghasilkan spesies oksigen reaktif dan radikal
bebas, yang mengarah ke DNA, protein, dan lipid serta kerusakan membran. Kerusakan sel ini dapat menyebabkan
apoptosis, nekrosis, teratogenesis, atau karsinogenesis. Sebanyak 2%kanker dan 15.000 kematian terkait setiap tahun)
yang hanya berupa radiasi terhadap paparan tomografi terkomputasi saja (Smith et al., 2017).
Di setiap tempat kerja tetap terdapat bahaya yang dapat mengancam keselamatan atau kesehatan pekerjanya.,
baik dari bahan baku, proses kerja, hingga produk dan limbah (cair, padat dan gas) yang dihasilkan.(Pratiwi et al.,
2021).Risiko dalam bekerja bisa di dapat secara langsung maupun tidak [Link] risiko ini dapat terjadi pada
kelalaian dan sebab-sebab lain di luar kemampuan manusia. Seperti dampak radiasi yang dikaitkan dengan
pemakaian Alat Pelindung Diri(APD),penggunaan APD atau peralatan proteksi radiasi dan personal monitor radiasi
dapat mengurangi dan melindungi pekerja radiasi dalam menjalankan tugasnya (Hendra et al., 2011) (Oemiati &
Umar, 2021).

Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber
Radioaktif. Berdasarkan peraturan tersebut setiap instansi yang menggunakan radiasi pengion wajib menerapkan
keselamatan radiasi sabagai usaha pencegahan dan penanggulangan kecelakaan radiasi. Peraturan Kepala BAPETEN
No.8 Tahun 2011 tentang keselamatan radiasi dalam penggunaan pesawat Sinar-X radiologi diagnostik dan
intervensi untuk keselamatan radiasi pada inslatasi radiologi yang mencakup persyaratan manajemen, persyaratan
proteksi radiasi, persyaratan teknik, dan persyaratan verifikasi keselamatan (Oemiati & Umar, 2021) .

Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus diselenggarakan agar produktivitas kerja yang optimal di semua
tempat kerja, khususnya tempat yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit [Link] sakit
termasuk kriteria tempat kerja dengan berbagai potensi bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan seperti
potensi bahaya radiasi (Menkes,2010). Data dari Kementerian Ketenagakerjaan, pada kecelakaan kerja triwulan I
tahun 2018 meningkat yaitu terjadi 5.318 kasus kecelakaan kerja , korban meninggal sebanyak 87 pekerja, dan 52
pekerja mengalami cacat serta 1.361 pekerja sembuh setelah menjalani perawatan . Data ini meningkat dibanding
periode tahun sebelumnya (Ridasta, 2020).Pentingnya pengetahuan mengenai manfaat dan pengaruh akibat paparan
zat radiasi dan upaya proteksi untuk meningkatkan pemahaman seluruh warga (Irsal, 2022).Di perkirakan sekitar
5807 kanker didiagnosis di Inggris pada tahun 2010 adalah hasil dari paparan dari bahan ,radiasi sekitar 1,8% dari
kasus (Parkin & Darby, 2011).

Jika tubuh manusia terkena dampak kerusakan jaringan dari paparan radiasi, kondisi ini disebut cedera radiasi.
Beberapa jenis cedera radiasi tidak memiliki gejala klinis, dan karenanya tidak dapat terdeteksi tanpa pemeriksaan
yang tepat. Efek radiasi pengion yang dapat menyebabkan efek fisik pada tubuh atau efek biologi atau somatic yaitu
efek yang berakibat untuk dirinya sendiri dan genetik/keturunannya. Efek somatik terbagi atas efek deterministik
atau langsung /non stokastik seperti cedera kulit dan lensa, dan efek stokastik atau tidak langsung. Pengaruh
terhadap keturunan atau genetik termasuk efek stokastik (Monita et al., 2021) .
Sehingga diperlukan upaya perlindungan terhadap kesehatan dan keselamatan kerja bagi petugas radiasi,
dokter ,pasien dan lingkungan sekitar nya dengan meminimalkan pajanan radiasi dengan mengikuti SOP (Standar
Operasional Prosedur) kerja (Santamareta, 2023).

Kajian ini mengumpulkan tulisan dari penelitian yang sangat banyak manfaatnya untuk mengetahui kegunaan
radiasi yang di pakai pada instalasi unit radiologi dalam menegakan diagnosis, penyembuhan dan pengobatan bisa
berhasil sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. Tetapi disamping manfaat yang luar biasa zat
radiasi pengionyang di pakai di instalasi unit radiologi ini dapat juga menimbulkan efek yang merugikan pada
pasien atau pekerja yang terpapar bahan [Link] penulis membuat pencarian mengenai alat – alat yang di
pakai di instalasi radiologi yang menggunakan bahan radiasi dan efek atau pengaruhnya terhadap fisik individu
yang terpapar terhadap zat ini. Dan di harapkan ke depannya banyak penelitian- penelitian yang dapat
menurunkan resiko terhadap efek fisik radiasi ini.
Metode

Tulisan ini merupakan kajian literatur yang mengambil dari beberapa sumber artikel yang terpercaya mengenai
jenis- jenis alat yang di gunakan pada instalasi unit radiologi yang menggunakan bahan radioaktif dan efek yang di
timbulkannya. Sumber untuk melakukan tinjauan literatur ini meliputi studi pencarian sistematis database
terkomputerisasi dalam bentuk jurnal penelitian dan artikel review . Penulis mengambil tema penting dari setiap
tulisan dan menggabungkan kepada masing masing tema sesuai fokus penting yang ada pada artikel tersebut
sehingga penulis dapat membuat kesimpulan mengenai Radiologi Sebagai Pemeriksaan Penunjang Dan Pengobatan
di Dunia Kedokteran Serta Efeknya .

Hasil
Pemeriksaan radiologi ada tiga jenis pelayanan radiologi diagnostik meliputi: 1. Pelayanan Radiodiagnostik
adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi pengion (sinar-X/ gelombang
elektromagnetik dan partikel bermuatan yang karena energi yang dimilikinya mampu mengionisasi media yang
dilaluinya), yaitu pelayanan sinar X konvensional, Computed Tomography Scan (CT Scan) dan mammografi. 2.
Pelayanan Pencitraan Diagnostik pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi non pengion (
non pengion untuk diagnosis dan/atau terapi), antara lain pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI),
dan ultrasonografi (USG). 3. Pelayanan Radiologi Intervensional: pelayanan untuk melakukan diagnosis dan terapi
intervensi dengan menggunakan peralatan radiologi sinar-X (angiografi, CT Scan). Pelayanan ini memakai radiasi
pengion dan radiasi non pengion. Radiologi intervensi adalah area spesialisasi dalam bidang radiologi yang
menggunakan teknik radiologi seperti radiografi sinar-X, pemindai CT, pemindai MRI, dan ultrasonografi untuk
menempatkan kabel, tabung, atau instrumen lain di dalam tubuh pasien untuk mendiagnosa atau mengobati
berbagai kondisi (Menkes, 2008),(Septiyanti et al., 2020).Foto toraks adalah pemeriksaan radiologis sederhana yang
paling banyak dilakukan di semua rumah sakit dibandingkan dengan pemeriksaan radiologi yang lain (Yusri, 2015).
Sinar-X ditemukan oleh Wilhelm Conrad Rontgen pada tahun 1895 (Aisah et al., 2021). Sifat sinarX menurut
Beiser : yaitu merupakan gelombang elekromagnetik dengan panjang gelombang (0,0210) Å, sehingga termasuk
gelombang di luar daerah cahaya tampak. SinarX dapat merambat seperti halnya laju cahaya. SinarX tidak dapat
dibelokkan oleh lensa atau prisma, namun dapat dihamburkan oleh kristal. SinarX mengalami serapan selama
proses transmisi di dalam bahan sehingga daya tembusnya bergantung pada jenis materi dan energinya(Susilo;
Rudi; Pratiwi;, 2013).
Pemanfaatan teknik nuklir di bidang kesehatan kedokteran pada instalasi radiologi meliputi radioterapi dan
radiodiagnostik . Penggunaan teknik nuklir dapat memberikan bahaya radiasi yang merugikan pada
[Link] sinar-X atau pesawat Rontgen adalah suatu alat yang digunakan untuk melakukan diagnosis
medis dengan menggunakan sinar-X ,diarahkan pada tubuh yang akan [Link]-X menembus pada
tubuh dan ditangkap oleh film, sehingga akan terbentuk gambar dari bagian tubuh yang [Link]
terbentuk akibat adanya perbedaan intensitas sinar-X yang mengenai permukaan film setelah sebagian sinar-X
diserap oleh tubuh manusia. Sinar-X yang berinteraksi dengan tubuh manusia juga akan diteruskan dan
dihamburkan. Banyaknya sinar-X yang diteruskan dan dihamburkan akan berpengaruh terhadap kualitas
radiograf (gambar) yang dihasilkan, sedangkan yang diserap akan berpengaruh pada dosis radiasi yang
diterima pasien. Sebelum pengoperasian pesawat sinar-X dilakukan setting parameter untuk mendapatkan
sinar-X yang dikehendaki. Parameter- parameter tersebut adalah tegangan (kV), arus tabung (mA) dan waktu
paparan (s) (Silvia ariska, 2022). Jika dosis yang di beri pada pasien berlebih,akan membahayakan jaringan
sehat lainnya sehingga dapat timbul berbagai penyakit. Dosis serap radiasi yang akan diterima oleh pasien
dapat diukur, menurut kategori usia, berat dan tinggi badan(Aisah et al., 2021).
Akibat paparan zat radiasi ,akan memberikan dampak pada tubuhnya sendiri berupa efek biologis radiasi
pada manusia dasebut (efek somatik) ataupun keturunannnya (efek herediter/genetik).Efek somatik dibagi
menjadi efek non stokastik /langsung (deterministik) rusaknya /kematian sel, karena paparan dosis radiasi
tinggi ( melebihi dosis ambang). Efek stokastik tidak langsung , sedangkan efek genetik semuanya bersifat
[Link] ini dapat diamati secara klinis dan disebut dengan istilah tissue reaction/ efek
[Link] pada kulit ( kemerahan/eritema), mata ( katarak), paru-paru, tiroid (kelenjar gondok),
organ reproduksi, gangguan hemopoetik,sumsum tulang,kelainan rambut,kanker
payudara,kemandulan ,gangguan ovarium ,kematian janin /embrio atau sindroma radiasi lainnya(Nugraheni
et al., 2022) .Keparahan efek ini sesuai dengan dosis yang diterima jadi apabila belum dilewati tidak akan
menimbulkan efek pada tubuh (Badan & Tenaga, 2009).
Efek stokastik / tidak langsung bila tubuh terkena paparan dosis rendah terus menerus ,tidak mengenal dosis
baik tinggi maupun rendah ,tidak menyebabkan kerusakan sel atau kematian sel tetapi efeknya perubahan fungsi sel.
kerusakan somatik (kanker) atau kerusakan genetik (cacat keturunan). Contoh efek stokastik yaitu leukimia dan
beberapa neoplasma, kanker ,kelainan genetik ,rusaknya DNA sel dalam sperma dan sel telur dan abnormalitas
kongenital pada keturunan individu yang teradiasi. Dengan dosis radiasi rendah mengurangi jumlah
limfosit ,penyimpanan kromosom dan risiko kanker (Pratiwi et al., 2021) (Monita et al., 2021).
Dikenal Nilai Batas Dosis adalah dosis terbesar yang diizinkan oleh BAPETEN yang dapat diterima oleh
pekerja radiasi dan anggota masyarakat dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan
somatik yang berarti akibat pemanfaatan tenaga nuklir (Badan & Tenaga, 2009)(Milda Utari1, Dian Milvita1,
Nunung Nuraeni2, 2014) .

Pembahasan
[Link] Pemeriksaan

Sarana atau fasilitas bangunan harus memadai dalam hal kualitas dan kuantitas agar dapat menunjang fungsi
dan proses pelayanan radiologi untuk menjamin lingkungan kerja yang aman bagi petugas dan pasien. Rumah Sakit
diharapkan dapat memberikan terhadap pemeliharaan,perawatan peralatan radiologi(Amanah & Mustakim, 2020).

Pemeriksaan radiologi diagnostik ini umumnya menggunakan bahan radiasi pengion kecuali USG dan MRI.
Pemeriksaan radiologi yaitu:Radiologi diagnostikmelihat struktur di dalam tubuh menggunakan teknologi
pencitraan atau gambar, mendiagnosis gejala yang dikeluhkan, memantau respons tubuh pada perawatan yang
dijalani, serta skrining penyakit yaitu:1)PemeriksaanComputed tomography, computerized axial
tomography (CT/CAT) scan: melihat kondisi di dalam tubuh dengan lebih jelas dan akurat. Menggunakan mesin
pemancar dengan sinar-X dan sistem komputer yang dirancang khusus,( berputar mengelilingi tubuh untuk
mendapatkan gambaran organ yang dituju dari berbagai sisi.) Gambar yang muncul terlihat [Link] CT Scan,
gambaryang dihasilkan bisa jauh lebih detail( pada rontgen gambar yang dihasilkan dua atau tiga
dimensi).Seperti bagian dalam kepala, tulang belakang, jantung, perut, dada, dan organlainnya,mengetahui letak
tumor atau kanker,mempelajari struktur pembuluh darah, kelainan otot, patah tulang hingga memantau
keberhasilan perawatan dijalani pasien. 2)Pemeriksaan fluoroskopi :memanfaatkan sinar-X Digunakan untuk
diagnosis ,membantu dokter menjalankan prosedur pengobatan, sepertikateterisasi jantung. Pemeriksaan
menggunakan sinar-X dengan gambar tubuh bergerak secara real-time( bentuk video) , seperti stent untuk
pembuluh yang menyempit/kateterisasi , saluran pencernaan ( melihat bagian dalam tubuh secara langsung,
saat organ keadaan bergerak). Pemeriksaan ini bisa dilakukan untuk melihat kondisi berbagai organ tubuh
seperti tulang, sendi, otot, jantung, ginjal, hingga paru-paru secara rinci.3)MRI (magnetic resonance imaging) dan
MRA (magnetic resonance angiography) [Link] mengetahui kondisi dalam tubuh. Memakai bantuan mesin
medan magnet yang sangat kuat agar tercipta gambar bagian dalam tubuh dengan waktu pemeriksaan lebih
dari satu jam. PemeriksaaMRImemakai teknologi komputer yang digabung dengan magnet sehingga hasil lebih
[Link] untuk mendiagnosis aneurisma pembuluh darah otak,kelainan mata dan telinga bagian dalam,
stroke, gangguan sumsum tulang belakang, cedera otak akibat trauma,gangguan ginjal, pankreas, prostat,
multiple sclerosis dan organ dalam lainnya.4)Pemeriksaan mamografi. Memakai sinar-X untuk memeriksa
jaringan payudara,tumor atau kanker payudara.5)Pemeriksaan nuklir, seperti bone scan, tiroid scan, dan tes stres
jantung. Kedokteran nuklir ini memanfaatkan kamera gamma yang disematkan pada mesin pemindai.
Sebelumnya tubuh disuntikcairan radioaktif berskala kecil, sehingga mesin dapat menangkap gambar yang
muncul (fungsi zat radioaktif untuk menghasilkan citra atau gambar). Tenaga nuklir yang memancarkan
gelombang radioaktif ditembakkan ke organdan memancarkan,kemudian ditangkap oleh komputer, lalu muncul
berupa [Link] ini biasanya digunakan untuk memeriksa struktur tulang, tiroid, dan jantung.6)Positron
Emission Tomography (PET scan)metode yang berbeda dibanding pemeriksaan radiologi lainnya. Pemeriksaan ini
digunakan untuk melihat struktur serta aliran darah dari dan ke organ. Dikenal juga sebagai PET Imaging, PET
Scan, atau PET-CT( ketika dikombinasi dengan pemeriksaan CT).Pada pemeriksaan ini, petugas
memasukkanzat radioaktif ke pembuluh darah vena,zat akan mengalir bersama darah, sehingga dokter dapat
melihat organ dalam lebih jelas.7)Radiografi atau rontgen: sinar-Xuntuk menggambarkan tulang, dada, dan
perut(hampir sama dengan fluoroskopi), rontgen dilakukan dengan memanfaatkan gelombang sinar-X. Berbeda
pada hasil citraan / gambarnya( fluoroskopi hasil dalam bentuk video, rontgen berupa gambar 2D).
Pemeriksaan sinar X digunakan untuk membantu diagnosis penyakit, mulai dari gigi berlubang, abses dan kista
pada gusi, hingga Covid-19/rongent dada dan trauma fisik 8) USG: gelombang suara dengan frekuensi tinggi
dan ditujukan langsung pada tubuh yang mau diperiksa,gelombang suara tadi selanjutnya terpantul ketika
bersentuhan dengan benda padat(memakai alat probe, pantulan diubah menjadi gambar2D atau 3D dan gambar
bergerak dimonitor) berlangsung 20-40 menit.(Oemiati & Umar, 2021)(Monita et al., 2021).

Radiologi Intervensi pemeriksaandengan prosedur medis yang minim sayatan,untuk mendiagnosis dan
mengobati penyakit, membantu jalannya prosedur pengobatan, gambar yang dipancarkan dari alat akan
membantu dokter melihat bagian dalam tubuh tanpa harus membuka banyak jaringan,( seperti CT Scan,
ultrasound, dan MRI).Dokter memasukkan kamera, kateter, kabel, atau alat lainnya yang dibutuhkan ke dalam
tubuh pasien lalu disambungkan ke alat radiologi,sehingga diperoleh [Link] bisa melakukan operasi
pengambilan jaringan ,memasang alat medis tanpa harus melakukan pembedahan besar dan hanya sayatan
kecil,seperti pada pemeriksaan jantung, kanker, fibroid pada rahim, arteri dan pembuluh vena yang tersumbat,
gangguan ginjal dan hati, hingga sakit pada [Link] radiologi intervensi terdiri daripemasangan
kateter, kemoterapimelalui pembuluh darah arteri, angiografi, angioplasti ,pemasangan ring pada pembuluh
darah, embolisasi menghentikan perdarahan , penempatan tabung makanan,selang makanan, biopsi payudara
dipandu dengan teknik stereotactic atau ultrasound, dan biopsi jarum (pada paru-paru dan kelenjar tiroid). Juga
sebagaipengobatan penyakit jantung, penyumbatan di vena dan arteri, kanker, fibroid dirahim, sakit punggung,
gangguan fungsi ginjal dan hati, dan lainnya (Septiyanti et al., 2020). Risiko radiasi pada radiologi intervensional
relatif lebih besar dibandingkan dengan radiologi diagnostik, terutama risiko radiasi yang diterima oleh pekerja
yang melakukan tindakan atau prosedur intervensional (D. Wulandari et al., 2023) .Seperti yang telah disebutkan
tadi pemeriksaan radiologi ada yang memakai radiasi pengion yaitu sinar-X/ gelombang elektromagnetik dan
partikel bermuatan yang energinya mampu mengionisasi media yang dilaluinya( sinar X konvensional,
Computed Tomography Scan (CT Scan) dan mammografidan atau non pengion yaitu radiologi intervensi (Oemiati
& Umar, 2021).Penggunakan radioterapi dengan teknik IMR di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kankeryaitu
pada kanker payudara (I. Wulandari et al., 2021).

Hasil studi pada tiga rumah sakit di kota Makassar, Sukabumi, dan Pontianak menunjukkan bahwa data dosis
radiasi yang diterima pasien pada pemeriksaan thorax AP/PA, thorax lat, abdomen, kepala AP/PA, kepala lat,
lumbosacral AP, lumbosacral lat dan pelvis AP menunjukkan nilai yang tidak melebihi nilai tingkat acuan diagnostik
yang berlaku di Indonesia, dan dosis radiasi yang diterima pasien anak lebih rendah daripada dosis pasien
dewasa(Hiswara & Kartikasari, 2015).

Pembentukan gambar di tentukan oleh faktor antara lain jenis film, pengaturan parameter, dan pemrosesan film.
Daya tembus pesawat sinar-x dipengaruhi oleh pengaturan tegangan tinggi (kV). 3 Pesawat sinar-X sebelum
digunakan perlu di lakukan uji kesesuaian atau uji fungsi, supaya memenuhi persyaratan keselamatan radiasi. 4.
Gambar dalam film hasil pencitraan juga ditentukan oleh mAS pesawat Sinar-x (Bachtiar, 2011).

Radiografi digital menunjukkan keunggulandalam dosis radiasi,dan efektivitas kinerja penggunaannya


dibandingkan dengan radiografi konvensional,seperti dosis radiasi kurang, lebih cepat dan lebih mudah
pengolahannya, kualitas pencitraan yang lebih baik untuk akurasi yang lebih baik yang meningkatkan kinerja proses
diagnosis (Hatta et al., 2018).

Di instalasi radiologi terdapat radiografer atau pekerja radiasi yang bertugas mengoperasikan peralatan sinar–
X ,sehingga perlu dijalankanpenerapan keselamatan radiasi pada pekerja radiasi, dalam hal ini menyangkut prinsip
proteksi [Link] operator dan koridor cukup aman dari adanya paparan radiasi yang berlebihan, sedangkan
ruang tunggu memiliki nilai yang mendekati nilai batas dosis. Bahwa semakin jauh jaraknya dengan sumber
radiasinya maka nilai paparan radiasi dosis yang yang terukur akan semakin rendah atau kecil (Ancila & Hidayanto,
2016).
Proteksi radiasi merupakan tindakan melindungi pasien, pekerja, anggota masyarakat dan lingkungan dari
bahaya radiasi. Dilakukan agar mengurangi efek berbahaya radiasi dari paparan radiasi. Batas dosis (NBD) untuk
pekerja radiasi tidak boleh melebihi rata-rata 20 mSv (millisievert) per tahun selama 5 tahun berturut-turut dan 50
mSv pada tahun tertentu, sedangkan NBD untuk anggota masyarakat tidak boleh melebihi 1 mSv dalam 1 tahun.
Pemeriksaan dosis radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi dapat dilakukan dengan menggunakan film badge atau
Thermoluminisence Dosemeter (TLD) badge, dan dosimeter pembacaan langsung yang [Link] upaya
terus menerus untuk melakukan kegiatan keselamatan kerja di bidang radiasi pengion, salah satunya adalah uji
kesesuaian pesawat X-ray (Hidayatullah, 2017).Perlunya pelatihan proteksi radiasi pada pekerja radiasi seperti
dokter spesialis radiologi, petugas proteksi radiasi, fisikawan medis, dan [Link] mengetahui
peraturan perundang- undangan ketenaganukliran, perkembangan sumber radiasi untuk pemanfaatan tenaga
nuklir, efek biologi radiasi, prinsip proteksi dan keselamatan radiasi, alat ukur radiasi, dan tindakan dalam keadaan
kedaruratan yang sesuai dengan perkembangan radiologi sehingga dapat mendukung upaya pemanfaatan tenaga
nuklir dengan tingkat keselamatan yang tinggi (Dianasari & Koesyanto, 2017).
Membuat pelatihan mengenai keselamatan kerja radiasi sinar-X dan memantau pekerja khususnya unit radiologi
agar selalu bertindak sesuai aturan keselamatan dan kesehatan kerja (Ferusge A. BerutuA, 2018).Kesehatan dan
keselamatan kerja merupakan suatu upaya untuk menekan atau mengurangi risiko kecelakaan dan penyakit akibat
kerja untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja (Pane & Astuti, 2009).
Dosis radiasi yang diterima pekerja merupakan salah satu masalah kesehatan bagi pekerja radiasi, dimana jumlah
dosis yang diterima dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti masa kerja, bidang/jenis pekerjaan, besarnya
aktivitas radiasi yang ditangani, frekuensi bekerja dengan radiasi, penggunaan peralatan proteksi radiasi dan lain
sebagainya(Monita et al., 2021).Bila nilai dosis tidak dikendalikan dalam jangka waktu yang lama maka nilai dosis
akan terakumulasi, maka dosis yang diterima akan semakin tinggi sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah
limfosit secara drastis. penyimpangan kromosom, yang merupakan penanda risiko kanker (Sopandi & Salami,
2013).Keadaan ini menimbulkan efek dermanistik maupun stokastik(Mayerni, Ahmad, A., Abidin, 2013) .
Nilai dosis yang diterima radiographer dan masyarakat sekitar dengan nilai batas dosis yaitu 2.5 µSv/jam
(Septiyanti et al., 2020).Pada penelitian di ruang radiologi RSUD Kota Makassar nilai paparan radiasi hambur yang
diterima pekerja radiasi ruang radiologi yaitu dosis radiasi yang diterima oleh pekerja dengan lama waktu
pemakaian radiasi yang terbesar diterima oleh operator XIII yaitu sebesar 0.1769 mSv/h sedangkan nilai dosis yang
terkecil diterima oleh operator XI sebesar 0.0593 mSv/h dan dosis rata-rata yang diterima oleh operator
0.1570mSv/[Link] disimpulkan bahwaparameter jarak dan waktu dari sumber radiasi berpengaruh besar terhadap
dosis paparan radiasi, semakin jauh jarak dari sumber radiasi maka dosis yang diterima semakin kecil. Sedangkan
pengaruh besarnya waktu terhadap paparan sinar radiasi yaitu semakin lama waktu penyinaran maka semakin
besar pula dosis radiasi yang diperoleh (Yuliamdani et al., 2020).

[Link] fisik

Efek akibat radiasi ini bukan hanya terhadap manusia yang berdampak tetapi pada setiap makhluk yang
berada di sekitarnya baik itu hewan maupun [Link] tulisan ini mengambil beberapa penelitian mengenai
efek radiasi pemeriksaan radio diagnostik dan radioterapi danlainnya yang menyebabkan gangguan pada tubuh
manusia dan lingkungan sekitarnya (Hiswara & Kartikasari, 2015) .

Pada tulisan ini di kutip tulisan tentang efek pada tubuh akibat papara oleh bahan [Link] pada
penelitian yang dilakukan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung padaempat lokasi yaitu ruang periksa dan operator
pada tindakan kardiologi intervensi, ruang periksa dan operatortindakan fluoroskopi,ruang operator tindakan
CTScan dan [Link] adalah tanaman cepa yang ditempatkan pada masing-masing ruang tindakan
tersebut. Efek yang didapat terlihat lihat pada tanaman A. cepa adalah terjadinyamitotic dan terjadi aberasipada
kromosom tanaman tersebut (Sopandi & Salami, 2013).

Pada penelitian Suwarda di batan tentang efek radiasi pada pekerja termasuk petugas yang ada di instalasi
radiologi menunjukan bahwa terjadinya penurunan limfosit sebesar 17% pada pekerja radiasi yang menggunakan
sumber radiasi dan 5% pada pekerja yang tidak menggunakan sumber radiasi (Monita et al., 2021).

Penelitian mengenai analisis faktor risiko paparan radiasi sinar-X terhadap perubahan jumlah limfosit pada
radiografer di kota Palembang terdapat hubungan bermakna antara paparan radiasi sinar-X pada variabel dosis
radiasi dan beban kerja terhadap perubahan jumlah limfosit pada radiographer yang mengalami penurunan jumlah
limfosit(Ernawidiarti et al., 2017).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Gaza palestina menunjukkan bahwa beberapa keluhan kesehatan
seperti sakit kepala dialami pekerja radiasi. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan (di Mesir pada
2013) yang menemukan bahwa kelompok yang terpapar mengalami sakit kepala, kelelahan, dan pusing
dibandingkan dengan kelompok yang tidak terpapar. Mengenai penyakit kulit, penelitian ini menggambarkan
bahwa masalah kulit dua kali lipat di alami pekerja radiasi (Tjiptono, 2015)(Alnahhal et al., 2017).

Penelitian yang dilakukan di Iran terhadap pekerja radiasi menunjukkan bahwa memiliki kadar trombosit dan
limfosit lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak terpapar radiasi (Sabagh & Chaparian, 2019).

Indonesia pernah terjadi dua kasus, kasus pertama pada tahun 1998 di salah satu rumah sakit dengan sumber
radiasi LINAC menyebabkan satu orang meninggal. Kasus kedua terjadi pada tahun 2000 dengan sumber radiasi Cs-
137, dalamkasus ini tidak ada korban jiwa karena sumber dapat dikembalikan ke wadahnya (Uthami et al., 2010).

Penelitian yang dilakukan terhadap Radiografer di kota Palembang didapatkan gambaran bahwa jumlah
limfosityang tidak normal sebanyak 16 orang (18,4%) dari 87 radiografer yang menjadi responden (Ernawidiarti et
al., 2017).

Penelitian ( R Aryawijayanti ,dkk 2015 ) bahwa sinar-X mempengaruhi jumlah komposisi eritrosit, leukosit dan
hemoglobin mencit. Semakin tinggi dosis radiasi yang digunakan, maka komposisi darah semakin jauh dari kriteria
normal (Pohan et al., 2022).

Pengaruh pajanan radiasi sinar x dari radiografi periapikal terhadap penurunan jumlah fibroblas pada soket
pencabutan pada tikus wistar. Kelompok yang diberi pajanan radiasi sinar x setelah dilakukan pencabutan memiliki
nilai rata-rata jumlah fibroblas lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang diberi pajanan radiasi sinar x dari
radiografi periapikal sebelum pencabutan gigi (Salsabila et al., 2020).

Berdasarkanpenelitian yang telah dilakukan, maka paparan radiasi dari radiografi panoramik pada saliva dapat
menyebabkan perubahan terhadap saliva, yaitu pada pH, viskositas, volume, cairan 8 buffering, serta kondisi
kalsium gigi (Pitaloka, 2021).

Pada penelitian di Banjarmasin terdapat perbedaan rerata kadar kalsium kepada radiografer (4,13) dan non
radiografer (6,17) dengan rerata dosis yang diterima sebesar 0,16 mSv per tiga bulan menunjukkan bahwa dosis yang
diterima radiografer pertahun masih lebih rendah dari nilai yang diizinkan oleh BAPETEN pertahun sebesar 20
mSv(Ajani et al., 2019).

Faktor kepekatan air ludah (viskositas saliva) sebagai bagian dari host (ketahanan atau kekuatan permukaan gigi)
berpengaruh terhadap kesehatan rongga mulut, viskositas saliva yang lebih tinggi akan menurunkan laju aliran (flow
rate) saliva yang menyebabkan penumpukkan sisa-sisa makanan. Aliran saliva merupakan sistem pertahanan rongga
mulut dan dapat menurunkan penumpukan plak pada permukaan gigi, oleh sebab itu paparan yang berlebih
terhadap saliva mampu mempengaruhi kondisi mulut menjadi lebih asam hingga terjadi karies (Sulendra et al.,
2013).Kelenjar Saliva di mulut menandakan mulut dalam keadaan normal Terdapat pengaruh radiasi terhadap pH
saliva setelah terkena paparan radiasi pasca radioterapi (Patricia, 2008).Perbedaan pH saliva sebelum dan setelah
radiography panoramic ,dijumpai penurunan pH saliva atau terjadi penurunan produksinya (Nurgalih et al., 2019)
(Aisah et al., 2021).

Penelitian oleh Indah dan Dinanda (2020) dari 40 responden yang di teliti dari periode tahun 2017-2020 pada
pekerja radiasi di tempat yang sama,dijumpai sebagian besar kadar leukosit pekerja radiasi dalam batas normal
( periode tahun 2017 sebanyak 36 orang (92,7%), tahun 2018 sebanyak 38 orang (97,4%), tahun 2019 sebanyak 38
orang (97,4%), dan tahun 2020 sebanyak 35 orang (89,7%)) dan hanya 4 orang yang tidak normal, dan ternyata
diketahui keempat pekerja radiasi telah bekerja lebih dari dosis jam yang seharusnya sehingga menimbulkan
peningkatan leukosit (Oemiati & Umar, 2021) .

Dari 39 responden pada pekerja radiasi didapatkan hasil paparan dosis radiasi dalam kategori normal seluruhnya
yaitu berjumlah 39 orang (100%) dari tahun 2008 hingga tahun 2011. Dari 39 responden pada pekerja radiasi
didapatkan hasil kadar leukosit pekerja radiasi dalam batas normal yaitu pada periode tahun 2008 sebanyak 36
orang (92,7%), tahun 2009 sebanyak 38 orang (97,4%), tahun 2010 sebanyak 38 orang (97,4%), dan tahun 2011
sebanyak 35 orang (89,7%) dan hanya 4 orang yang tidak normal, dan diketahui keempat pekerja radiasi tidak
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)(Oemiati & Umar, 2021) (Siburian, 2012).
Beberapa penelitian mempelajari efek radiasi khususnya dampak radiasi terhadap kanker (efek stokastik). Studi
korban bom atom, yaitu dalam kelompok studi Life Span Study (LSS) menunjukkan risiko kanker [Link]
Richardson, et al, membuktikan hubungan kuat antara radiasi dan kejadian leukemia; relative risk mortalitas
leukemia akibat radiasi adalah 2,96 per Gy,5 menunjukkan dampak radiasi terhadap kelainan hematologis. Li, et al,
dan Preston, et al, juga menunjukkan risiko tumor akibat paparan radiasi. Preston, et al,menilai bahwa kenaikan
tingkat kanker tetap ada sepanjang hidup tanpa memandang usia saat terpapar. Daniels dan Schubauer-Berigan
mengevaluasi beberapa penelitian primer menunjukkan bahwa paparan akut meningkatkan risiko kanker lebih besar
dibandingkan paparan jangka [Link], et al, menunjukkan paparan dosis radiasi dapat menyebabkan
kematian embrio atau fetus dan penurunan IQ (Maleachi & Tjakraatmadja, 2018).

Pada penelitian dari 11 pasien yang menjalani radioterapi hingga 20 Gy, dan 11 subyek sehat sebagai kontrol.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar kerusakan DNA akibat dosis radiasi fraksinasi 20 Gy pada
pasien dengan variasi kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata frekuensi sel yang rusak pada pasien
80,54 ± 12,52% dengan rerata panjang ekor komet 49,98 ± 12,93 µm terdapat perbedaan nyata baik pada frekuensi sel
yang rusak maupun nilai rerata panjang ekor komet terhadap kelompok kontrol (p < 0,001). Penelitian ini
menyimpulkan bahwa radiasi dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan DNA sel limfosit darah tepi (Yusuf et al.,
2021).

Pengaruh radiasi pada organ tubuh manusia dapat bermacam–macam bergantung kepada jumlah dosis dan luas
lapangan radiasi yang diterima. Radiasi pada jumlah tertentu dapat menyebabkan ionisasi pada sel–sel tubuh
manusiayang sebagian besar tersusun dari molekul air (H2O). Ionisasi ini dapat mengakibatkan kematian,
kerusakan. Pengaruh radiasi ini tergantung pada dosis yang diterima sel jaringan tersebut , dengan ukuran satuan
dosis untuk manusia disebut Rem (1 Rem = 1000 mRem)(Oemiati & Umar, 2021).

Akibat paparan radiasi pengion seseorang dapat mengalami efek yang merugikan dan berdampak
menyebabkan penyakit pada dirinya / efek [Link] pada diri sendiri (efek somatik) atau pada
keturunannnya (efek herediter/genetik). Efek ini bisa terjadi langsung ,bisa kurang dari setahun akibat radiasi
dosis tinggi/melewati dosis ambang,dan efek tidak langsung/tunda, radiasi dosis rendah namun berlangsung
terus menerus (tidak segera menampakan efeknya.)Efek somatik dibagi menjadi efek non stotastik (deterministik)
yaitu kerusakan /kematian sel tubuh yang terpapar radiasi bila dosis radiasi yang diterima tinggi/melebihi dosis
[Link] di kulit( kemerahan/eritema), mata ( katarak), paru-paru, tiroid (kelenjar gondok), organ
reproduksi, dan janin. Keparahan efek ini sesuai dengan dosis yang diterima jadi apabila belum dilewati tidak
akan menimbulkan efek pada tubuh. Agar efek non stokastik ini tidak terjadi diperlukan nilai batas dosis seluruh
jaringan tubuh (Amanah & Mustakim, 2020).Efek ini dapat diamati secara klinis dan langsung jika dosis paparan
radaisi melebihi nilai ambang batas tertentu dan disebut dengan istilah tissue reaction/ efek deterministik
(Amanah & Mustakim, 2020)(Pratiwi et al., 2021).Efek stokastik/ efek tidak langsung terjadi apabila tubuh manusia
terkena paparan dosis rendah secara terus menerus sehingga menyebabkan kerusakan somatik (kanker) atau
kerusakan genetik (cacat keturunan).Efek ini tidak mengenal dosis ambang karena sekecil apapun dosis radiasi
yang diterima akan mengakibatkan perubahan pada sistem biologi, bukan kematian sel tetapi perubahan fungsi
sel. Jika paparan dosis rendah , dapat muncul kanker (kerusakan somatik) atau cacat pada keturunan (kerusakan
genetik)(Hiswara & Kartikasari, 2015)(Amanah & Mustakim, 2020).Efek stokastik bisa menimbulkan penyakit
seberapa pun besar dosis radiasinya ,sehingga tidak ada jaminan nilai ambang sejati yang benar-benar aman.
Contoh efek stokastik yaitu leukimia dan beberapa neoplasma, kanker ,kelainan genetik ,rusaknya DNA sel dalam
sperma dan sel telur dan abnormalitas kongenital pada keturunan individu yang teradiasi. Berdasarkan data
UNSCEAR ( United Nations Scientific Committee on The Effects of AtomicRadiation), paparan radiasi 95% bersumber
dari radiasi buatan manusia, terutama kegiatan diagnosis (Rachma, 2020).

Keparahan efek sesuai dengan dosis yang diterima jadi apabila belum dilewati tidak akan menimbulkan efek di
[Link] paparan yang menimbulkan efek lokal ,seperti pada kulit berupa kerusakan non malignan kulit,
erythema kulit (terpapar radiasi sebesar 3.000 ± 6.000 mSv,), rambut rontok ( paparan radiasi sebesar 6.000 ± 12.000
mSv), kerusakan sistem hematopoietik sumsum tulang (terjad kelainan darah ) , kerusakan sel kelamin
(kemandulan), dan pada lensa mata( katarak) serta sindrom [Link] nafsu makan berkurang, mual, lesu,
lemah, demam, berkeringat hingga [Link] lebih khusus yaitu nyeri perut, rambut rontok, shock
bahkan kematian. Efek deterministik lainnya akibat radiasi dosis tinggi yaitudosis radiasi 100.000 mSv (100 KmSv)
terjadikerusakan sistem saraf pusat diikuti kematian setelah beberapa jam. Dosis radiasi 10 ± 50 mSv terjadi
kerusakan saluran pencernaan dan kematian 1 -2 minggu. Dosis radiasi 3 ± 5 mSv terjadi kerusakan organ
pembentukan sel darah merah di sumsum tulang belakang dan kematian setelah 1 ± 2 bulan dan efek somatik di
organ reproduksi ( gangguan produksi sperma dan kerusakan ovum ) mengakibatkan kemandulan. Radiasi dosis 2
± 5 mSvdapat terjadi kerusakan pada lensa mata ( katarak).Efek lain paparan radiasi sinar - x bagi tubuh manusia
yaituefek kerusakan biologis( kerontokan rambut dan kerusakan kulit/kemerahan), terlihat sewaktu kulit berubah
warna akibat penyinaran. Di saat awalmulai interaksi radiasi pengion dengan sel atau jaringan tubuh manusia.
Tetapi jika dalam dosis yang tinggi menimbulkan tumor ganas atau kanker kulit. Efek radiasi ionisasi pada rongga
mulut dan gigi akantimbul kemerahan dan inflamasi,mukosa mulut pecah-pecah dan terbentuk “Pseudomembran”
sehinnga terjadi infeksi sekunder,sampai bisa menyebabkan penderita kehilangan kemampuan pengecapandan
produksi saliva berkurang disebutXerostomiasehingga penderita sulit menelan . Contoh dosis radiasi 20-30Gy untuk
terapi kanker mulut dan orofarings. Efek dosis terapi radiasi pada gigi, terjadi destruksi gigi ( karies gigi) setelah
mengabsorsi dosis 5.000 R radiasi [Link] radiasi yang bisa terjadi pada anak - anak terjadi bintik kemerahan
di kulit, kerontokan rambut, serostomia, gangguan perkembangan benih gigi, papila, [Link] dalam waktu
lama bisa meningkatkan resiko leukemia [Link] radiasi pada perempuan menyebabkan kanker
payudara,kandung kemih, dan ovarium jika terpapar sinar radiasi dosis berlebih.. Efek radiasi pada ibu
hamil(radiodiagnostik sebelum kehamilan) memberikan efek biologis terhadap perkembangan janin , seperti gross
congenital malformation, mental retardation, kematian sebelum proses kelahiran, spontaneous abortion, pertumbuhannya
terbatas di dalam kandungan (intrauterine growthlimitation), ukuran kepala yang kecil (small head size), malformasi
organ, kematian zigot/embrio pada tahap embironik stage, kanker pada usia kanak – [Link] Musa, et al,
paparan dosis radiasi 100 mGy pada ibu hamil usia gestasi 2 minggu dapat menimbulkan kematian embrio; dosis
radiasi 5000 mGy menimbulkan 100% kematian embrio atau fetus di bawah usia gestasi 18 minggu dan
menunjukkan penurunan IQ pada fetus yang terkena khususnya dosis [Link] 50 - 100mGy dapat ditemukan
efek signifikan pada usia gestasi 8-25 minggu. Pemeriksaan dosis di atas 100 mGy tidak boleh pada ibu hamil( di
bawah usia gestasi 18 minggu) meskipun fluoroskopi, barium enema, dan radioterapi fetus,pada penelitian itu juga
menunjukkan penurunan IQ fetus pada dosis tinggi. Pada dosis radiasi di bawah 50 mGy tidak terdeteksi
menimbulkan efek kesehatan pada fetus,tetapidosis 50 - 100mGy dapat ditemukan efek signifikan pada usia gestasi
8-25 minggu. Dan pemeriksaan di atas 100 mGy tidak boleh pada ibu hamil meskipun fluoroskopi, barium enema,
dan radioterapi(Nugraheni et al., 2022)(Rachma, 2020).

Risiko bahaya yang mungkin terjadi pada pekerja radiasi yaitu efek deterministik dan efek stokastik. Pengaruh
sinar X dapat menyebabkan kerusakan haemopoetik (kelainan darah) seperti: anemia, leukimia, dan leukopeni yaitu
menurunnya jumlah leukosit (dibawah normal < 6000m2) Pada manusia dewasa, leukosit dapat dijumpai sekitar
7.000 sel per mikroliter darah(Mayerni, Ahmad, A., Abidin, 2013) (Mayerni dkk, 2013). Selain itu,efek determinisitik
yang dapat ditimbulkan pada organ reproduksi atau gonad adalah strerilitas atau kemandulan serta menyebabkan
menopause dini sebagai akibat dari gangguan hormonal system reproduksi (Purba & Sari, 2020)(Dianasari &
Koesyanto, 2017).

Di instalasi radiologi efek radiasi yang muncul pada pekerja karena tingginya penggunaan radiasi untuk
kegiatan medis dan umumnya pekerja yang terpapar diakibatkan kesalahan prosedur pengoperasian alat dan
kalibrasi, sehingga pelayanan di instalasi unit radiologi harus memperhatikan aspek keselamatan para pekerja
[Link] dimaksud radiasi dosis rendah radiasi dari 0,25 sampai dengan 1.000 mSv,semakin kecil dosis radiasi
semakin kecil kemungkinan kerusakan sel (Nugraheni et al., 2022).Pentingnya untuk mewaspadai risiko jangka
panjang atau stokastik dari paparan terus menerus terhadap radiasi dosis rendah pada pekerja medis yang
menggunakan radiasi, terutama pekerja dengan masa kerja yang sudah [Link] jauh jaraknya dengan sumber
radiasi maka nilai paparan radiasi dosis yang terukur akan semakin rendah (Septiyanti et al., 2020)(Hantari
Rahmawati & Hartono, 2021).
Nilai Batas Dosis ( NBD) ialah dosis maksimal yang diizinkan oleh BAPETEN yang dapat diterima oleh pekerja
radiasi dan anggota masyarakat dalam jangka waktu tertentu dan tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik
yang berarti akibat pemanfaatan tenaga [Link] terbesar dosis radiasi yang diterima oleh penduduk dunia
adalah penggunaan radiasi di bidang kedokteran, dan lebih dari 90% kontribusi ini berasal dari sinar X diagnostik.
Keselamatan pekerja radiasi tidak terlepas dari dosis radiasi. Di Indonesia laporan pemantauan tahun 2013 dosis
pekerja radiasi, dosis tertinggi yang diterima pekerja sebesar 21,85 mSv, nilai dosis terendah 1,20 mSv, dan rata-rata
1,20 [Link] 2011-2012 nilai minimum dosis yang diterima pekerja radiasi masing-masing sebesar 1,20 mSv dan
nilai maksimum dosis yang diterima masing-masing sebesar 25,03 mSv dan 23,64 mSv. Dan nilai rata-rata dosis yang
diterima secara keseluruhan sebesar 1,20 mSv, dan nilai ini di bawah NBD (Nilai Batas Dosis) yang dipersyaratkan
yaitu sebesar 20 mSv (BAPETEN, 2011).International Committee Radiation Protection (ICRP) mendefenisikan nilai batas
dosis adalah dosis yang diterima dalam jangka waktu tertentu atau dosis yang berasal dari penyinaran intensif
seketika, yang memberikan kemungkinan yang dapat diabaikan untuk terjadinya cacat somatik gawat atau cacat
genetik(Akhadi, 2000) (Rachma, 2020).

Perlu menerapkan prosedur proteksi radiasi atau Alat Pelindung Diri , dan juga sesuai ketentuan yang
ditetapkan pemerintah adalah tanggung jawab pekerja radiasi .ketentuan pemerintah yang dituangkan dalam
pemegang izin penggunaan tenaga nuklir harus menerapkan dan menyusun program proteksi radiasi. Salah satu
yang ditekankan ialah adanya alat pelindung diri di suatu instalasi radiologi yang digunakan dalam pelaksaan
kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir. Pemeriksaan atau pengecekan apron ini dilakukan dengan cara uji visualisasi,
uji raba dan diuji menggunakan sinar-X pada permukaan apron, sehingga apron benar – benar dapat melindungi
pekerja atau keluarga pasien dari bahaya radiasi Untuk mengurangi paparan radiasipetugas diharuskan memakai
baju pelindung yang disebut lead [Link] penerimaan paparan radiasi setiap sekitar 12 – 18 bulan sekali.
Apron Pb adalah merupakan alat pelindung diri yang digunakan oleh pekerja radiasi. Apron Pb adalah celemek
timbal yang dirancang untuk melindungi tubuh dari bahaya radiasi (Damayanti, 2021) (Kasalak et al., 2021)(Hantari
Rahmawati & Hartono, 2021).

Pekerja diharapkan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai radiasi sinar X dan tindakan aman selama
bekerja guna mencegah penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja akibat radiasi sinar X dengan cara mengikuti
pelatihan yang dibuat oleh pihak rumah sakit serta mampu menerapkan pelatihan itu selama bekerja(Ferusge A.
BerutuA, 2018).

Dalam Perka BAPETEN Nomor 9 Tahun 2011, dilakukan uji kesesuaian pesawat sinar-X merupakan suatu uji
untuk memastikan pesawat sinar X dalam kondisi andal, baik untuk kegiatan diagnostik maupun intervensional dan
memenuhi peraturan perundang-undangan (Badan & Tenaga, 2011).

Pemantauan kesehatan dilakukan secara sistematis terhadap kesehatan pekerja untuk mengidentifikasi adanya
gejala atau tanda kerusakan awal akibat paparan radiasi dan menentukan tindakan pencegahan dampak kesehatan
jangka panjang atau permanen. Kegiatan pengawasan terhadap kesehatan pekerja radiasi di instalasi radiologi,
meliputi pemeriksaan kesehatan, konseling, dan penatalaksanaan pekerja yang terkena paparan radiasi berlebih.
Pemantauan kesehatan dilakukan oleh dokter dan psikologi(PERKA BAPETEN, 2010)(Badan & Tenaga, 2011).

Kesimpulan
Di instalasi unit radiologi pemanfaatan sumber radiasi pengion digunakan dalam meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan, dan tetap memperhatikan aspek keselamatan pasien, tenaga kesehatan, dan lingkungan
[Link] pencegahan efek biologi yang di timbulkannya yaitu efek deterministik dan efek stokastik .Faktor
yang berperan seperti melakukan kegiatan pengujian untuk memastikan peralatan yang digunakan dalam
pelayanan dalam kondisi andal ,pada saat digunakan sehingga aman bagi keselamatan radiasi pasien, tenaga di
fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat (permenkes 2020).Dosis radiasi yang diterima pekerja merupakan
salah satu masalah kesehatan bagi pekerja radiasi. Jumlah dosis yang diterima dapat disebabkan oleh beberapa
faktor seperti masa kerja, bidang/jenis pekerjaan, besarnya aktivitas radiasi yang ditangani, frekuensi bekerja
dengan radiasi, penggunaan peralatan proteksi radiasi dan lain sebagainya. Alat proteksi radiasi bagi pekerja radiasi
meliputi: apron Pb (Timbal), tabir radiasi yang dilapisi Pb, kacamata Pb, sarung tangan Pb, pelindung tiroid Pb,
pelindung ovarium dan/atau pelindung gonad. Pekerja radiasi diwajibkan untuk menggunakan peralatan proteksi
radiasi (Bapeten,no 8 Tahun 2011).Semua peraturan yang ada di instalasi unit radiologi harus di patuhi dalam semua
kegiatannya ,sebagai upaya untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat efek fisik yang zat radiasi.
Daftar Pustaka

Aisah, A. N., Ngurah Sutapa, I. G., & Wendri, N. (2021). Penentuan Dosis Paparan Radiasi Pesawat Sinar-X
Pemeriksaan Thorax Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Kappa Journal, 5(2), 240–245.
[Link]

Ajani, N., Sukmana, B. I., & Erlita, I. (2019). Pengaruh Sinar Radiasi Terhadap Kalsium Saliva Pada Radiografer Di
Banjarmasin. Dentin (Jurnal Kedokteran Gigi), 3(1), 29–34.

Akhadi. (2000). Analisis Dampak Radiasi Sinar-X Pada Mencit Melalui Pemetaan Dosis Radiasi Di Laboratorium
Fisika Medik. Jurnal MIPA, 38(1), 25–30.

Alnahhal, M., Alajerami, Y., Jaber, S., Abushab, K., & Najim, A. (2017). Radiation exposure and immunity status of
radiographers at government hospitals. International Journal of Medical Science and Public Health, 6(2), 1.
[Link]

Amanah, P., & Mustakim. (2020). Analisis Waktu Tunggu Pelayanan Radiologi Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah
Tahun 2018. Visikes, 19(1), 118–127.
Ancila, C., & Hidayanto, E. (2016). Radiologi Dental Panoramik. Youngster Physics Journal, 5(4), 441–450.

Bachtiar, S. (2011). Analisis Pembentukan Gambar Dan Batas Toleransi Uji Kesesuaian Pada Pesawat Sinar-X
Diagnostik. Batan, 157–163.

Badan, K., & Tenaga, P. (2009). [Link].

Badan, K., & Tenaga, P. (2011). BAPETEN 2011.

Daenuri Anwar, E. (2011). Sistem Proteksi Radiasi : Analisis Terhadap Bidang Radiologi Rumah Sakit. Jurnal
Phenomenon, 1(1), 47–63.

Damayanti, O. (2021). Hasil Uji Kebocoran Alat Pelindung Diri Dengan Tiga Cara Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit
Umum Karawang. Jurnal Teras Kesehatan, 4(1), 22–28. [Link]

Dianasari, T., & Koesyanto, H. (2017). Penerapan Manajemen Keselamatan Radiasi Di Instalasi Radiologi Rumah
Sakit. Unnes Journal of Public Health, 6(3), 174. [Link]

Ermiza, L. (2022). Perlindungan Hukum Pemakaian Alat Perlindungan Diri Apron Untuk Pasien Pada Pemeriksaan
Radiologis Panoramik. Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan Dan Humaniora (JISPENDIORA), 1(1), 159–177.

Ernawidiarti, Malaka, T., & Novrikasari. (2017). Analisis faktor risiko paparan radiasi sinar-x terhadap perubahan
jumlah limfosit pada radiografer di kota Palembang Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Analytic
Cross Sectional Study yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel shift d. Jurnal Kedokteran
Dan Kesehatan (JKK), 4(1), 1–7.

Etlidawati, & Diyah Yulistika Handayan. (2017). Hubungan Kualitas Mutu Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan
Pasien Peserta Jaminan Kesehatan Nasional. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Kesehatan, 15(3), 142–147.

Fairusiyyah, N., Widjasena, B., & Ekawati, E. (2016). Analisis Implementasi Manajemen Keselamatan Radiasi Sinar-X
Di Unit Kerja Radiologi Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang Tahun 2016. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro, 4(3), 514–527.

Ferusge A. BerutuA. (2018). Faktor yang Mempengaruhi Tindakan Keselamatan Radiasi. Journal of Borneo Holistic
Health, Volume, 1(2), 264–270.

Finzia, P. Z., & Ichwanisa, N. (2017). GAMBARAN PENGETAHUAN RADIO GRAFER TENTANG KESEHATAN
DAN KESELAMATAN KERJA DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH.
Jurnal Aceh Medika, 1(2), 67–73.

Hasmawati. (2016). Analisis Dosis Paparan Radiasi Sinar-X Diunit.

Hatta, R., Yunus, M., & Walkhoff, O. (2018). Radiografi Konvensional dan Digital dalam Bidang Kedokteran Gigi.
Bagian Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, 4(1).

Hendra, Y. ., Utomo, M. ., & Salawati, T. (2011). Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Praktik Pemakaian Alat
Pelindung Diri (Apd) Pada Radiografer Di Instalasi Radiologi 4 Rumah Sakit Di Kota Semarang. Tahun, 7(1), 9–
14.

Hidayatullah, R. (2017). Dampak Tingkat Radiasi Pada Tubuh Manusia. Jurnal Mutiara Elektromedik, 1(1), 16–23.

Hiswara, E., & Kartikasari, D. (2015). Dosis Pasien Pada Pemeriksaan Rutin Sinar-X Radiologi Diagnostik. Jurnal
Sains Dan Teknologi Nuklir Indonesia, 16(2), 71. [Link]

Irsal, M. (2022). Pemahaman Terhadap Radiasi Dan Proteksi Radiasi Pada Warga Bumi Mas Ciseeng Blok B5/05
Kelurahan Kuripan Kecamaatan Ciseeng Kab Bogor. Jurnal Teras Kesehatan, 4(2), 73–80.
[Link]

Kasalak, Ö., Alnahwi, H. A. A., Dierckx, R. A. J. O., Yakar, D., & Kwee, T. C. (2021). Requests for radiologic imaging:
Prevalence and determinants of inadequate quality according to RI-RADS. European Journal of Radiology,
137(January). [Link]

Maleachi, R., & Tjakraatmadja, R. (2018). Pencegahan Efek Radiasi pada Pencitraan Radiologi. Cermin Dunia
Kedokteran, 45(7), 537–539. [Link]
embryonic-and-fetal-during-developmental-pregnancy-

Martem, D. R., Milvita, D., Yuliati, H., & Kusumawati, D. D. (2015). SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM)
BAITURRAHMAH PADANG MENGGUNAKAN SURVEYMETER UNFORS- XI. 4(4), 414–418.

Mayerni, Ahmad, A., Abidin, Z. (2013). Pekerja Radiasi Di Rsud Arifin Achmad ,. Jurnal Ilmu Lingkungan, 7(1), 114–
127. [Link]

Milda Utari1, Dian Milvita1, Nunung Nuraeni2, H. Y. (2014). Analisis Dosis Radiasi Terhadap Radioterapis
Menggunakan Pocket Dosemeter, Tld Badge Dan Tld-100 Di Instalasi Radioterapi Rsup Dr. M. Djamil Padang
Studi Kasus (Mei –Oktober) 2014. Jurnal Fisika Unand, 3(4), 262–268.

Monita, R., Rasyid, Z., Muhamadiah, M., Edigan, F., & Masribut, M. (2021). Analisis Penerapan Keselamatan Radiasi
Sinar-X Pada Petugas Radiasi Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (Pmc). Al-Tamimi
Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Sciences), 9(1), 39–49.
[Link]

Ngurah Sutapa dan Gde Antha, G. I. (2014). EFEK INDUKSI MUTASI RADIASI GAMMA 60 Co PADA
PERTUMBUHAN FISIOLOGIS TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum L.). 5–11. [Link]/ptkmr/jrkl

Nugraheni, F., Anisah, F., & Susetyo, G. A. (2022). Analisis Efek Radiasi Sinar-X pada Tubuh Manusia. Prosiding
SNFA (Seminar Nasional Fisika Dan Aplikasinya) 2022, 19–25.

Nurgalih, P. W., Pramanik, F., & Tjahajawati, S. (2019). Differences of pH saliva before and after panoramic
radiography. Journal of International Dental and Medical Research, 12(2), 558–562.

Nurhikmah. (2022). HUMANTECH JURNAL ILMIAH MULTI DISIPLIN INDONESIA PERBEDAAN KUALITAS
CITRA PADA PEMERIKSAAN MRI ANKLE JOINT DENGAN MENGGUNAKAN COIL ANKLE DAN FLEX
COIL DI INSTALASI RADIOLOGI RS. UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR Nurhikmah. 2(2), 235–248.

Oemiati, R., & Umar, A. F. (2021). Review Penelitian K3 di Bagian Radiologi Rumah Sakit. Jurnal Persada Husada
Indonesia, 8(29), 15–23. [Link]

Pane, J., & Astuti, S. D. (2009). Pengaruh Budaya Organisasi, Kepemimpinan, Transformasional, Dan Kompensasi
Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Kasus Pada Kantor Telkom Divre IV di Semarang). TEMA: Telaah
Manajemen, 6(1), 67–85.

Parkin, D. M., & Darby, S. C. (2011). Cancers in 2010 attributable to ionising radiation exposure in the UK. British
Journal of Cancer, 105(S2), S57–S65. [Link]

Patricia. (2008). Saliva Composition and Functions : 9(3), 72–80.

PERKA BAPETEN. (2010). Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Pemantauan
Kesehatan Untuk Pekerja Radiasi. 1–25.

Pitaloka, D. (2021). Pengaruh Paparan Radiasi dari Radiografi Panoramik terhadap Kelenjar Saliva.

Pohan, M. Y., Siregar, T. Z., & Panjaitan, B. (2022). Analisa Paparan Radiasi Pada Instalasi Radiologi di Rumah Sakit
Islam Malahayati Medan Tahun 2021. Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi| JIITUJ|, 6(1), 66–72.

Pratiwi, A. D., Indriyani, & Yunawati, I. (2021). Penerapan Proteksi Radiasi di Instalasi Radiologi Rumah Sakit. Higeia
Journal of Public Health Research and Development, 5(3), 409–420.
[Link]

Purba, Y. S., & Sari, I. P. (2020). Pengukuran Paparan Dosis Sinar X Sebelum dan Sesudah Pengendalian Pada Proses
Pekerjaan Radiologi di RS Islam Jakarta. Angewandte Chemie International, 6(11), 1–10.

Rachma, A. N. (2020). Deteksi Perubahan Struktur Kimia Asam Lemak ω-9 Akibat Paparan Radiasi Sinar-X. Tesis -
Naskah Publikasi, 1–20.

Ridasta, B. (2020). Penilaian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Kimia. HIGEIA
Journal of Public Health Research and Development, 4(1), 64–75. [Link]

Ristiono, B., & Azkha, N. (2009). Regulasi Dan Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Rumah Sakit Di
Propinsi Sumatera Barat. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 4(1), 53–59.
[Link]

Sabagh, M., & Chaparian, A. (2019). Evaluation of blood parameters of the medical radiation workers. Iranian Journal
of Medical Physics, 16(6), 439–443. [Link]

Salsabila, G. L., Prasetyarini, S., & Yuwono, B. (2020). Pengaruh Pajanan Radiasi Sinar X Dari Radiografi Periapikal
Terhadap Penurunan Jumlah Fibroblas Pada Soket Pencabutan Gigi Tikus Wistar. Majalah Kedokteran Gigi
Klinik, 6(1), 8–13.

Santamareta. (2023). AN ANALYSIS OF THE RADIATION SAFETY APPLICATION. 14, 10–16.

Sari, S. (2012). Pengembangan Sistem Manajemen Keselamatan Radiasi Sinar-X di Unit Kerja Radiologi Rumah Sakit
XYZ Tahun 2011. Universitas Indonesia, 10–50.

Septiyanti, I., Khalif, M. A., & Anwar, E. D. (2020). Analisis Dosis Paparan Radiasi Pada General X-Ray II Di Instalasi
Radiologi Rumah Sakit Muhammadiyah Semarang. Jurnal Imejing Diagnostik (JImeD), 6(2), 96–102.
[Link]

Siburian, A. (2012). Gambaran Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Terhadap Keselamatan Kerja Perawat IGD
RSUD Pasar Rebo Jakarta. Skripsi, 1–56. [Link]

Smith, T. A., Kirkpatrick, D. R., Smith, S., Smith, T. K., Pearson, T., Kailasam, A., Herrmann, K. Z., Schubert, J., &
Agrawal, D. K. (2017). Radioprotective agents to prevent cellular damage due to ionizing radiation. Journal of
Translational Medicine, 15(1), 1–18. [Link]

Sopandi, Y., & Salami, I. R. S. (2013). EVALUASI PENGARUH PAPARAN RADIASI TERHADAP EFEK
SITOTOKSIK DAN GENOTOKSIK PADA Allium cepa SEBAGAI BIOINDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN
KERJA BAGIAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT. Jurnal Tehnik Lingkungan, 19(2), 205–214.
[Link]

Sulendra, K. T., Fatmawati, D. W. A., & Nugroho, R. (2013). Hubungan pH dan Viskositas Saliva terhadap Indeks
DMF-T pada Siswa-siswi Sekolah Dasar Baletbaru I dan Baletbaru II Sukowono Jember. Repository Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember, 2. [Link]

Susilo; Rudi; Pratiwi; (2013). PENGUKURAN PAPARAN RADIASI PESAWAT SINAR X DI INSTALASI
RADIODIAGNOSTIK UNTUK PROTEKSI RADIASI Info Artikel Abstrak. 1(2252).

Tjiptono, F. (2015). Manajemen Jasa. Andy offset.

Uthami, R., Mutahar, R., & Hasyim, D. H. (2010). Analisis Manajemen Keselamatan Radiasipada Insta Lasi Radiologi Rsud
Dr. H. M. Rabain Muara Enim Tahun 2009. 15–16.

Wulandari, D., Putu, I., & Kusman. (2023). Evaluasi Implementasi Proteksi Radiasi Di Ruang Radiologi Intervensi
Instalasi RIR RSUP Prof, Dr, I.G.N.G Ngoerah. Jurnal Ilmiah Multi Disiplin Indonesia, 2(3), 604–619.

Wulandari, I., Apriantoro, N. H., Haris, M., Radioterapi, I., Sakit, R., & Dharmais, K. (2021). dikumpulkan dengan
menggunakan cara observasi partisipatif di mana peneliti ikut serta melakukan penatalaksanaan dalam observasi dan
pengambilan data sampel .

Yuliamdani, R., Sahara, S., & Fuadi, N. (2020). Pengujian Paparan Radiasi Sinar-X Di Unit Radiologi Rsud Kota
Makassar. In JFT : Jurnal Fisika dan Terapannya (Vol. 7, Issue 1). [Link]

Yusri, M. (2015). Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Waktu Tunggu Pemeriksaan Foto Toraks Pasien Rawat
Jalan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2015. Jurnal Administrasi
Rumah Sakit Indonesia, 2(1), 64–71. [Link]

Yusuf, D., Devita Tetriana, Tur Rahardjo, Teja Kisnanto, Yanti Lusiyanti, Erawati, D., & Rahajeng, N. (2021). Analisis
Kerusakan Dna Pada Sel Limfosit Pasien Pasca-Radioterapi. Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), 8(1),
105–113. [Link]

Anda mungkin juga menyukai