CHAPTER III
HAMZAH SANG TOKOH UTAMA?
-Mencintai diri sendiri aja lo gak bisa, apalagi mencintai gue.-
"Serius? Sakit tolol." Hamzah memegang pipinya.
"Bawa dia." perintah Indra.
"Hey hey tenang dulu, kalian nih ya gak bisa dibawa santai, gue kesini buat ngajak kalian untuk tempur
di tempat yang kemarin." Ujar Hamzah.
"Buat apa kita susah-susah kesana, mereka aja yang suruh kesini," Indra menaiki motornya.
"Hah?" Hamzah heran dengan respon Indra.
"Dasar tolol, lo bakal dijadikan tawanan," ucap Nichol sambil mengangkat dagu Hamzah. Kedua tangan
Hamzah ditahan dibelakang agar tidak bisa kabur lalu dipaksa untuk masuk ke dalam.
___
The Conqueror sudah ada di tempat, mereka menunggu Hamzah yang masih belum datang. Dan tidak
lama kemudian telpon Angga berdering, seseorang mengajak video call dengan nomor WA Hamzah yang
ternyata itu adalah Indra.
"Nungguin yah?" ucap Indra dengan kamera hp diarahkan ke wajah Hamzah.
"Kampret!!!" Angga berdecak kesal.
"Males gue kesitunya, BBM naik bos,"
"Dimana lo anjing?" Satria yang tidak sengaja melihat Hamzah yang sedang ditahan langsung emosi.
"Sini lah sekolah gue udah sepi nih gak ada guru-guru, satpam nya juga udah kita amanin, itu pun kalau
kalian peduli sama teman." Lanjut Indra menarik rambut Hamzah keatas dan telpon pun dimatikan.
"Gimana ga?" tanya Iqbal.
"Malah nanya bego, ayo van." ujar Satria melangkah menaiki motor nya Devan.
"Heh monyet lo biasa aja bisa gak sih," Bentak Iqbal yang tidak terima dikatai bego.
"Kita berangkat!" tanpa panjang lebar Angga langsung memberikan perintah.
"Ga ini markas musuh loh, lo yakin? Peluang kita untuk menang sangatlah rendah," saran Rizky
"Gue tau ky, bahkan kayanya peluang pun gak ada, tapi ini teman kita, kita tidak bisa meninggalkan nya
begitu saja."
"Apa bukan karena tanggung jawab?" tanya Satria.
"Hah?"
"Kan lo yang udah nyuruh Hamzah buat mancing Destroyer." lanjut Satria.
"Lawak lo, dari awal dia lah yang mengajukan diri buat memancing Destroyer, gue jugabgak tau
alasannya kenapa, sekarangpun dia pasti sedang berbahagia." Angga tersenyum.
___
Hamzah ditahan di sebuah kelas lantai 3 paling atas. Di kelas itu terdapat Angga dan para bawahannya
berjumlah 15 orang sisanya diluar untuk bertarung. Para murid Destroyer berjajar memenuhi selasar
mulai dari lantai satu sampai lantai 3.
"Gapleh yuhuyyy gue menang lagi!!" iyap benar kata Angga, bukannya tegang Hamzah malah santai
bermain gapleh bersama murid Destroyer.
"Indra lo gak mau main? Temen-temen lo gak ada lawan ah," lanjut Hamzah.
"Kenapa lo bisa santai begini? bagaimana kalau the Conqueror tidak kesini?" tanya Indra.
"Orang yang meninggalkan temannya disebut sampah."
"Yaps gue tau itu kata-kata Obito uchiha."
"Dan teman-teman gue gak ada yang sampah, camkan itu Joker."
"Ingat kalau the Conqueror tidak kesini lo bakal habis di gebukin sama semua murid Destroyer." ancam
Indra
"Kalau begitu bagaimana kalau gue tarung sama temen lo yang ada di kelas ini?" Hamzah berdiri guna
pemanasan dengan menekuk bagian kaki kanan kiri.
"Kalau langsung sama gue aja gimana?" tawar Indra.
"Maaf tapi kata pemimpin gue katanya kalau ada yang berhadapan dengan lo disuruh mundur, jadi lain
kali aja yah."
"Kalian dengarkan?" Indra bicara kepada bawahannya dengan nada yang cukup keras, "awas kalau
kalian kalah, gue bakal habisi kalian."
"Ba-baik bos."
Ruangan kelas yang dipenuhi meja dan kursi tidak menghalangi mereka berkelahi. Indra duduk di meja
guru guna mengamati Hamzah berkelahi. Tendangan melayang ke dada murid Destroyer oleh Hamzah,
lalu dari belakang datang menyerang tetapi Hamzah dengan sigap langsung memukul ke arah dagu
hingga orang itu mental ke atas dan jatuh.
Perkelahian semakin menegangkan, Hamzah tidak kewalahan sedikitpun. Dia menghampiri
lawannya,mengangkat kepalanya terus dihantamkan ke meja dengan cukup keras.
"Huhhh sisa 12 nih," ucap Hamzah menghindari sebuah pukulan dan tendangan secara bersamaan
dengan mementalkan diri nya sendiri ke belakang namun tertahan oleh meja.
Para siswa The Conqueror sudah sampai, mereka memakirkan motor-motornya di tempat parkir. Waktu
itu sudah menunjukan pukul setengah 6 yang membuat para guru sudah pulang. Dengan pakaian jaket
hitam ciri khas sekolah The Conqueror Angga berjalan didepan menunjukan bahwa dia pemimpinnya,
melihat lapangan yang kosong Angga memantau area sekolah yang begitu sepi. Namun tak lama
kemudian datang rombongan siswa berjalan dari arah selasar dengan jumlah yang tidak lengkap karena
sebagian ada di selasar dalam.
"Hamzah menunggu di lantai 3!" teriak Nichol dibelakang bawahannya.
"ARGHHHHHHH!!!" Angga berteriak menandakan perintah untuk menyerang, para siswa Destroyer
justru mundur mengajak The Conqueror untuk masuk ke dalam. Di dalam selasar sekolah Nichol dan
bawahannya balik melawan karena semua anggotanya sudah lengkap. Angga dan Satria menghajar
sambil berjalan menaiki tangga, urusan di selasar biar teman-teman The Conqueror yang mengurus.
"Ayo ga duluan." ucap Iqbal menendang bagian perut Nichol ketika dia hendak menyerang Angga.
"Bosen gue lawan lo, kali-kali lah lawan Angga," terdengar nada kesakitan Nichol sambil memegang
perutnya lalu bangun.
"Yang ada lo bakal masuk rumah sakit kalau lawan pemimpin kami." Iqbal kembali mengayunkan sebuah
pukulan tepat mengarah ke area dagu, Nichol lantas menghindar ke samping dan kembali melawan
dengan tendangan cepat mengarah ke telinga sehingga Iqbal terpental ke ruang kelas.
"Upss sorry, sakit yah." Nichol tersenyum karena tendangan nya mengenai Iqbal.
"Segini doang hah?" Iqbal yang masih berdiri tidak tinggal diam dan berlari menyerang Nichol.
Sekolah Destroyer yang tadinya sepi berubah menjadi area perkelahian, semua tempat hampir dipenuhi
oleh para murid The Conqueror dan Destroyer. Dimulai dari kantin, lapang basket, taman, ruang kelas
hingga ke toilet. Tak lupa hari sudah mulai malam, cahaya lampu putih menyinari area sekolah,
meskipun banyak CCTV mereka mengacuhkannya begitu saja.
Kembali di ruang kelas lantai 3 wajah Hamzah mulai babak belur, wajahnya dipenuhi luka lebam dan
jaketnya mulai dipenuhi oleh darah yang keluar dari mulut diakibatkan pukulan-pukulan yang terus
menghantam perutnya. Sisa musuh 4 orang tetapi Hamzah mulai sempoyongan yang celah itu langsung
dipakai oleh lawannya. Mereka menyerang bersamaan satu ke arah perut, dua ke arah pipi kanan dan
kiri dan satu lagi menyerang dari belakang dengan sasaran punggung.
"ANJIIINGGG!!!" teriak Hamzah yang masih semangat dia menyerang ke arah depan, ke musuh yang
mau menyerang tepat ke arah perut dengan tendangan lurus. Dia memegang kaki siswa yang berusaha
menendangnya, menahan sisa 3 serangan yang menghantam lalu melempar orang itu ke kiri dan
bertabrakan dengan siswa yang menyerangnya dan terjatuh secara bersamaan. Kesempatan itu dipakai
Hamzah untuk menyerang sisa 2 siswa yang masih berdiri di arah kanan dan belakang, Hamzah dengan
cepat langsung mundur ke belakang dan memegang kepala siswa itu dan dihantamkan ke pundak
dengan keras, sedangkan siswa yang di kanan mundur karena takut.
"Sini lo anjing." Hamzah mencekik siswa itu lalu di senderkan ke tembok untuk dipukuli secara brutal.
"Jago juga lo." ucap Indra setelah menarik kerah baju Hamzah dari belakang lalu memukulnya hingga
Hamzah tersungkur jatuh.
Angga dan Satria sudah berada dilantai 3 mereka mencari ruang kelas tempat Hamzah di tahan. Fokus
mereka berdua terganggu akibat dari serangan yang terus di lancarkan oleh para siswa Destroyer, tapi
beruntungnya beberapa teman dari The Conqueror sudah ada yang berhasil naik.
"Nyari Hamzah?" tanya Gerard setelah menghantam satu tendangan ke siswa The Conqueror.
"Dimana dia bangsat!!!" teriak Satria yang langsung menyerang tetapi berhasil dihindari oleh Gerard.
"Dia ada di ruang kelas pojok tapi kayanya dia udah bonyok deh sama Indra."
"Lo mau kemana anjing," lanjut Gerard dengan dibarengi tendangan yang tepat mengenai punggung
Satria hingga dia sedikit terpental. Satria hanya mengusap debu tanah yang menempel di baju
belakangnya akibat dari tendangan Gerard.
Angga yang menyadari bahwa Satria akan melawan Gerard pergi begitu saja,"jangan lama kasihan adik
lo," pesan Angga ke Satria sebelum meninggalkan nya. Dan benar saja ketika Angga sudah memasuki
ruangan kelas nampak Hamzah sedang dihajar habis-habisan oleh Indra, hingga matanya sipit dengan
lebam yang memenuhi area wajah.
"Datang juga nih bos." Indra mundur melepaskan Hamzah lalu diiringi Angga yang berjalan menghampiri
Hamzah.
"Sorry gue kalah," ucap Hamzah meringis kesakitan.
"Udah gue bilang mundur, dasar tolol." bales Angga lalu membangunkan Hamzah yang terbaring
kesakitan.
"Penasaran hehe." Hamzah hanya tersenyum
"Ga," Hamzah menahan tangan Angga sebelum dia memulai baku hantam.
"Sasar area wajah sebelah kanan," lanjut Hamzah karena waktu pertarungan tadi dia terus menghajar
wajah kanan nya dimulai dari pipi, telinga, mata. Angga memperhatikan Indra yang memegang bagian
wajah kanannya mengisyaratkan bahwa Indra sedang menahan sakit.
Angga memerhatikan area ruangan kelas yang di dipenuhi dengan siswa Destroyer terbaring
membuktikan bahwa Hamzah lah yang sudah menghabisi mereka semua.
"Sepertinya lo kewalahan lawan Hamzah?" Angga lalu bergerak mendekati Indra.
"Ngaca woy, lawan bawahan gue aja udah penuh tuh wajah." sindir Indra karena melihat wajah Angga
dipenuhi bekas pukulan, sambil membangun kan bawahannya agar tidak menghalanginya berkelahi.
"Udahlah jangan bacot!!" Angga berlari menghajar Indra.
"Woy bangun," Satria datang menepuk pipi Hamzah karena dia tidak sadarkan diri.
"Oh abang gue datang, bangunin gue nya nanti aja kalau si Angga udah menang." ucap Hamzah lalu
kembali pingsan lagi, tidak Main character itu hanya tidur memulihkan energinya seperti luffy dalam
anime one piece.
Perkelahian yang tidak pernah mendapatkan hasil ditentukan dari sekarang. Angga dari tadi terus
melayangkan serangannya ke area wajah sebelah kanan, tetapi Indra menyadarinya dia tau bahwa area
itu udah menjadi celah baginya, apalagi serangan terakhir Hamzah berupa tendangan berputar berhasil
mengenai matanya. Indra tidak tinggal diam dia kembali melawan dengan teknik andalannya yaitu
sebuah pukulan beruntun yang sulit untuk dihindari oleh Angga. Meskipun begitu Angga berhasil
menangkis serangan itu dan kembali memukul mata kanannya, efek dari teknik pukulan beruntun yang
dilancarkan oleh Indra itu membuat dia cepat menguras tenaga sehingga momen itu dimanfaatkan oleh
Angga untuk menyerang balik.
Ruangan kelas berubah menjadi seperti pesawat hancur, meja dan kursi tergelatak tak beraturan bahkan
sampah yang menyarang di kolong meja pun terbawa keluar. Terlihat mereka berdua sudah mengalami
kelelahan, masing-masing berdiri sempoyongan seperti orang yang sedang mabok, tak lama Indra
menutupi wajah kanannya dengan tangan menandakan bahwa dia sudah tidak kuat lagi menahan rasa
sakit.
"Sepertinya sudah jelas siapa pemenangnya." ledek Angga.
"Diam lo, ayo kita akhiri dengan cepat,"
"Kenapa mau nonton Tayo dirumah belum mulai kali,"
"ARGGHH!!!" teriak Indra memukul perut Angga hingga dia memuntahkan darah. Angga pun melakukan
hal yang sama tapi dia tetap mengarahkan serangan nya ke celah yang sudah dibuat oleh Hamzah.
Begitu terus serangan balik yang dilakukan mereka berdua hingga akhirnya pukulan Angga membuat
Indra sedikit menjauh membuka momen untuk Angga, dia mengeluarkan seluruh tenaganya berupa
sebuah tendangan memutar hal yang sama dilakukan oleh Hamzah.
"Anjing sakit." Hamzah bangun setelah ditampar oleh Angga.
"Ayo kita pulang." ajak Angga.
Hamzah melihat Indra yang sudah berbaring kalah, dia pingsan yang artinya Destroyer akhirnya kalah
dan sekolah terkuat di pegang oleh the Conqueror. Mereka bertiga berjalan menuruni tangga demi
tangga dengan Angga yang masih kuat berdiri sedangkan Hamzah harus di pegang oleh Satria.
Sekolah Destroyer dipenuhi oleh teriakan bahagia siswa The Conqueror, mereka tidak menyangka
akhirnya bisa menang juga melawan musuh bebuyutannya itu. Semua berjalan ke parkiran menaiki
motornya masing-masing ada juga yang dibonceng.
"Anterin gue ke rumah Rani." ucap Hamzah kepada Satria.
"Kita rehat dulu genre action nya, lalu kembali ke genre romansa."
___
Malam itu di sebuah kamar seorang perempuan sedang duduk di bangku belajarnya dengan telinga
ditutupi oleh earphone. Tugas yang selalu ada setiap hari menjadi alasan Rani betah duduk hingga satu
jam kurang bahkan lebih.
Hamzah:
"Ran buka jendela,"
Rani heran dengan sebuah chat mendadak dari Hamzah, dengan tanpa pikir panjang perempuan itu
melepaskan earphone nya, berjalan menuju jendela dengan pakaian tidur piyama panjang Rani
membuka gorden jendela.
"Aaaaa!!!! Zombie," kaget Rani ketika melihat wajah Hamzah yang penuh darah dan luka lebam.
"Hey ini gue,Hamzah" ucap Hamzah panik sambil menggedor kaca jendela dengan kepalanya.
"Ehhh elu Zah," Rani bergegas membuka kaca jendela itu.
"Wajah lo kenapa anjir?" lanjut tanya Rani.
"Biasa Ran." Hamzah langsung berbaring di kasurnya Rani.
"Ih itu jaket banyak darah jangan tidur di kasur, nanti nempel lagi darahnya." larang Rani dengan
berjalan mengambil kotak P3K nya.
"Terus dimana dong?"
"Udah dibawah sini." ajak Rani supaya duduk dilantai, dan lagi Hamzah malah tidur dipangkuan Rani,
"mau nyium gue lagi hah?".
"Emang boleh?"
"Ngarep, udah duduk cepat susah kalau gini mah." Rani mencubit hidung nya Hamzah.
"Gini." Hamzah mendekatkan wajah nya ke Rani hingga berjarak 1 cm. Dengan cepat Rani mendorong
wajah Hamzah lalu mengobati lukanya.
"Jadi ini kamer lo, ada buku, sepatu, baju dan bidadari," Hamzah melirik area sekitaran kamar dengan
akhiran melirik wajah Rani.
"Udah diem gue jadi susah ngobatinnya, eh tapi lo ke kamer gue gimana caranya? Kan kamar gue tinggi,
gak mungkin lompat dong." Memang kamar Rani berada di lantai atas.
"Gak liat itu ada tangga," Wajah Hamzah melirik ke arah pintu jendela.
"Kenapa gak lewat depan?"
"Yang ada bokap nyokap lo bakal histeris melihat muka gue."
"Makanya jangan berantem terus, mencintai diri sendiri aja gak bisa, apalagi mencintai gue."
"Maksud nya?" tanya Hamzah bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rani.
Rani tidak menjawab pertanyaan Hamzah dia hanya fokus mengobati wajah Hamzah yang dipenuhi
dengan luka lebam itu. Hamzah terus menerus mendesak Rani agar menjawab pertanyaan nya, "selesai,
masih sakit gak?" setelah mengobati luka Hamzah Rani berdiri menyimpan alat P3K membuat Hamzah
berdiri mengikuti nya.
"Sayang."
"Bokap gue," Rani panik ketika suara ayah nya terdengar memanggil, penyebabnya karena ada Hamzah
cowo yang masuk kamar tanpa seizin dari orang tuanya.
Tidak banyak pikir Hamzah langsung melirik bawah ranjang yang mungkin bakal aman buat dijadikan
tempat sembunyi. Rani cepat-cepat menutup pintu kamar jendela dan menutupkan tirai agar tangga
yang dipakai Hamzah tidak terlihat. Ayah Rani masuk tanpa curiga sedikitpun dan dia menanyakan hal-
hal yang Rani lakukan hari ini. Keluarga bahagia itulah yang dirasakan Rani tidak ada larangan, yang ada
hanya dukungan karena itulah sifat ayahnya. Meskipun begitu bukan berarti ayah nya selalu
membolehkan Rani berbuat hal semau dirinya, ada batasan yang harus dilarang atau tidak boleh
dilakukan oleh Rani.
"Sayang Mamah lupa masak," Ibu nya masuk ke kamar sontak Rani langsung memeluknya.
"Si bibi kan masih pulang kampung kamu pesen online aja yah, nih pilih mau pesen apa?" lanjut Ibunya.
"Ini aja pesen dua yah, Rani laper banget hehe." tawar Rani karena dia ingat bahwa dia sedang bersama
Hamzah.
"Oke deh siap."
" Mamah tau gak anak kita katanya tertarik jadi ketua OSIS," ucap Ayah Rani.
"Wahhh bagus dong, coba-coba cerita dong ke Mamah jangan ke Ayah mulu."
Singkat setelah pesanan Rani datang bokap nyokap nya langsung pergi untuk tidur,"Mimpi indah, I love
you." mereka berdua mencium kening Rani secara bergantian, "Love you All." Rani membalas ciuman.
Pintu pun ditutup wanita kesayangan itu berjalan membuka kembali tirai pintu jendela dan pintu
jendelanya. Dia duduk di kursi yang terdapat di halaman kamarnya, meskipun tidak terlalu luas tapi
cukup untuk ditempati oleh satu sampai tiga orang.
"Keluarga yang bahagia." Hamzah keluar dari bawah ranjang lalu duduk di kursi samping Rani.
"Makan dulu nih," titah Rani.
"Gue bersyukur bokap sama nyokap sayang sama gue, bahkan lo juga tau lah mereka selalu pulang
malam, hebatnya meskipun gue tau itu cape tapi mereka tetap selalu meluangkan waktu buat gue. Ibu
dia sangat perhatian dan Ayah dia adalah tempat curhat yang tepat buat gue ketika ada masalah." lanjut
Rani panjang lebar.
"Beruntung juga lo," singkat Hamzah.
"Bisa dibilang gitu karena diluaran sana banyak anak yang kurang kasih sayang akhirnya mereka mencari
perhatian orang tuanya dengan berbuat nakal, oh iya kalau lo gimana gue belum tau loh cerita mengenai
keluarga lo gak papa kan?"
"Bolehlah apa sih yang nggak buat calon pacar," Hamzah meminum minuman yang dipesan tadi lalu
meneruskan omongannya.
"Keluarga gue baik-baik aja kecuali bokap, semenjak kakek meninggal dia jadi jarang eh bukan jarang sih
emang gak pernah satu kali pun tinggal dirumah,"
"Emangnya bokap lo kemana?" tanya Rani penasaran.
"Iya karena itu Ran gue gak tau, nyokap juga gak pernah ngasih tau tentang dimana dan sedang apa dia
sampai keluarga nya dilupakan begitu saja, kata nyokap tadi malam dia pulang tapi dia sama sekali gak
membangunkan gue jadi kaya jaga jarak lah."
"Gue hanya rindu Ran, lo bisa bayangin lah orang yang sayang sama kita dan dekat dengan kita bahkan
selalu ada disamping kita tiba tiba dia pergi begitu saja."
"Kejadian kakek lo meninggal kapan itu?" Rani kembali bertanya.
"Kalau gak salah waktu gue kelas 4, lo tau kakek gue adalah kakek terbaik yang pernah ada, dan rasanya
sakit Ran kehilangan 2 orang tersayang sekaligus." Hamzah menyender kan punggung ke kursi kedua
tangan nya diletakan dibelakang kepala dan mengalihkan pandangan ke langit dengan makanan di meja
yang belum habis.
"Masa kecil lo kelam juga," dengan nada sedikit bercanda Rani berusaha mencairkan suasana.
"Udah ah jangan bersedih tuhan bersama kita, bersedih juga tidak akan mengembalikan apa yang telah
pergi. Sekarang yang harus lo lakuin tetap hidup karena masih ada orang yang sayang sama lo, nyokap
lo, Satria, Nayla, teman-teman lo mereka semua gak mau kehilangan lo." Rani memberikan motivasi
sambil memegang pundak nya Hamzah.
"Thanks Ran." Hamzah memegang tangan Rani lalu mengelus bagian punggung tangan, Rani diam
sejenak lalu melepaskan tangannya dan kembali makan.
Malam yang bahagia bagi Hamzah karena bisa duduk berdua dengan Rani, apalagi ditambah
pemandangan bulan dan bintang yang bersinar dengan indah, ditambah angin ikut memberikan suasana
yang begitu adem.
"Main ludo?" seperti biasa Hamzah menyodorkan hp nya.
"Boleh."
___
Sebuah kelas yang berantakan terdapat semua murid Destroyer berkumpul dengan dipenuhi luka akibat
perkelahian dengan the Conqueror, Indra yang terbaring di meja guru hanya merenungi kekalahannya.
Bawahannya juga sama mereka terbaring duduk dilantai memegang area tubuh yang sakit,
"Kalau begini 3 sekolah yang sudah kita kalahkan bakal memberontak," ucap Nichol yang sedang duduk
di kaca jendela.
"Kita ikuti rencana orang itu." Indra bangun lalu menegaskan kepada bawahannya.
___
"Yuhuyyy sekarang gue yang menang." Hamzah berteriak lalu menggoyangkan pantatnya ke Rani seolah
meledek.
"Iya iya, sekarang apa permintaan lo?" ekpresi kesal keluar dari wajah Rani.
"Cihhh dasar woman gak mau kalah." breaking the fourth wall.
"Oke gue mau mulai saat ini lo harus berangkat pulang sekolah bareng gue, sampe lo jadi pacar gue,"
ucap Hamzah menyebutkan permintaan nya.
"Kok lo bisa sih dengan lantangnya menyebutkan bahwa gue bakal jadi pacar lo?" Rani bangun lalu
menghampiri Hamzah sehingga jarak mereka menjadi dekat.
"Kalau gue udah bilang pasti bakal jadi, meskipun lo nolak gue, gue gak akan menyerah," belum berhenti
Hamzah kembali berbicara,"Karena tidak menyerah adalah kekuatan ku." setelah itu Hamzah mencubit
hidungnya Rani.
Rani hanya diam dia memandang wajah Hamzah yang serius itu, angin yang mulai kencang membuat
rambut Hamzah gerak menambahkan kesan ganteng di wajahnya.
"Udah ah kita akhiri chapter ini gue mau pulang, seluruh tubuh gue udah mulai kerasa."
Hamzah lalu turun menuruni tangga, ketika dipertengahan tangga Rani yang mulai menyadari Hamzah
pergi dia berlari ke tangga,"besok jemput jam setengah 7 jangan telat." yang dibalas oleh Hamzah
dengan sebuah sebuah jempol menandakan oke.