Pelatihan Rigging dan Inspeksi Gear
Pelatihan Rigging dan Inspeksi Gear
Operation Training
PT. Petrosea Tbk.
PENGENALAN MODUL
Sinopsis
Paket pelatihan ini bertujuan membekali Peserta Pelatihan untuk melakukan praktek pengikatan
pada beban yang akan dipindahkan dengan benar, aman dan efectif. Paket pelatihan ini berisi
penjelasan tentang Alat Bantu Angkat/Lifting Gear, yang meliputi, kapasitas maksimum angkat
dengan bermacam-macam ikatan, pemeriksaan sebelum & sesudah dipergunakan dan juga
cara pengikatan yang benar.
Paket pelatihan ini juga memberi penekanan pada tindakan pencegahan dan menguraikan
semua hal yang berkaitan denga prosedur pengoperasian serta memberikan instruksi
bagaimana Riggers melakukan pemeriksaan dan pengikatan dengan benar berdasarkan
karakteristik dari beban yang dipindahkan.
Manual ini disusun sebagai alat bantu pelatihan bagi Instruktur alat angkat dan Peserta
pelatihan Riggers. Selain itu, manual ini juga dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi
para Supervisor yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian Lifting Gear di lokasi
tambang atau dilokasi manapun pada area pengangkatan.
Komposisi Manual
Silabus dalam paket pelatihan ini terdiri dari tujuh topik dan digabung dalam satu urutan
pembelajaran yang logis. Setiap beban menitik beratkan dan menguatkan bagian sebelumnya.
Teks ditulis sedemikian rupa agar lebih mudah dibaca dan dipahami serta didukung dengan
ilustrasi, foto dan gambar yang disederhanakan.
Hasil Pembelajaran
Asumsi
Peserta pelatihan Rigger dianggap telah menjalani seleksi yang dilakukan oleh Supervisor
masing-masing yang didasarkan pada kematangan sikap dan rasa tanggung jawab, serta
memiliki fisik yang baik dalam melakukan pekerjaan pengangkatan dalam jangka waktu yang
panjang.
Peserta pelatihan dianggap sudah memahami pekerjaan pengangkatan yang melibatkan Alat
Angkat & Alat Bantu Angkat serta pekerjaan yang melibatkan beberapa orang dalam satu
pekerjaan, dan juga memahami prosedur Safety pada pengangkatan beban dengan
menggunakan Alat Angkat & Angkut.
Contents
PENGENALAN MODUL .............................................................................................................................. 2
Sinopsis ................................................................................................................................................. 2
Komposisi Manual ................................................................................................................................. 3
Hasil Pembelajaran................................................................................................................................ 3
Asumsi .................................................................................................................................................. 3
Peraturan & Perundangan ........................................................................................................................ 8
Pendahuluan ......................................................................................................................................... 8
UNDANG – UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1970 ........................................................................................ 9
PERMENAKER No. : PER/05/MEN/1985 ............................................................................................... 16
PETROSEA HSE GOLDEN RULES ............................................................................................................ 38
ATURAN 1 – MELAKUKAN IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RESIKO ............................................. 38
ATURAN 2 – PROSEDUR KERJA .............................................................................................................. 38
ATURAN 3 – AKTIFITAS BERESIKO TINGGI .............................................................................................. 38
ATURAN 4 – MENGOPERASIKAN PERALATAN BERGERAK ....................................................................... 38
ATURAN 5 – PEKERJAAN PENGANGKATAN ............................................................................................ 39
ATURAN 6 – PERALATAN PELINDUNG.................................................................................................... 39
ATURAN 7 – BEKERJA DI KETINGGIAN.................................................................................................... 39
ATURAN 8 – ISOLASI ENERGI ................................................................................................................. 40
ATURAN 9 – KESTABILAN TANAH / AREA PELEDAKAN ........................................................................... 40
ATURAN 10 – MENGOPERASIKAN PERKAKAS DAN PERALATAN ............................................................. 40
ATURAN 11 – BEKERJA DI RUANG TERBATAS ......................................................................................... 41
Prinsip Kerja Rigging ............................................................................................................................... 42
Prinsip Kerja Mesin Sederhana ............................................................................................................ 42
Prinsip Kerja Tuas (Lever Principle) ........................................................................................................ 42
Prinsip Kerja Pulley Majemuk (Multiple Sheaves Principles) .................................................................. 44
Prinsip Kerja Ulir (Screw Principles) ....................................................................................................... 45
Prinsip Kerja Roda & Poros (Wheel & Axle Principle) ............................................................................. 45
Prinsip Kerja Papan Miring (Tunggal & Ganda) ...................................................................................... 46
Memperkirakan Berat Barang atau Beban ........................................................................................... 47
Memilih Alat dan Peralatan ................................................................................................................... 47
Memperkirakan Berat Beban ................................................................................................................ 47
Penyesuaian Ukuran dan Berat (Konversi) ............................................................................................. 47
Kumpulan Formulasi............................................................................................................................ 49
Pendahuluan
Komitmen terhadap keselamatan kerja sangat diperlukan dalam pekerjaan di semua sektor
bidang pekerjaan. Mengingat kecelakaan yang melibatkan pesawat angkat dan angkut dalam
penanganannya dan pengendaliannya di lapangan sangat menonjol dibandingkan dengan
peralatan yang lain, maka Pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
berusaha menekan angka kecelakaan yang melibatkan pesawat angkat dan angkut dengan
menerbitkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang KESELAMATAN KERJA dan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja No. PER/05/MEN/1985 tentang PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT serta
Peraturan Menteri Tenaga Kerja NOMOR PER.09/MEN/VII/2010 tentang OPERATOR DAN
PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT.
Diharapkan semua yang terlibat didalam pekerjaan yang melibatkan pesawat angkat dan angkut
dapat mentaati dan menjalankan semua peraturan yang sudah ditetapkan.
Menimbang :
Mengingat :
MEMUTUSKAN:
BAB I
TENTANG ISTILAH – ISTILAH
Pasal 1
BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 2
1) Yang diatur oleh Undang-Undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja,
baik didarat, di dalam tanah, dipermukaan air, didalam air maupun diudara, yang berada
didalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
2) Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja dimana :
a. dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat perkakas,
peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan,
kebakaran atau peledakan;
b. dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut, atau disimpan
bahan atau barang yang : dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun,
menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi;
c. dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau
pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan
pengairan, saluran, atau terowongan dibawah tanah dan sebagainya atau dimana
dilakukan pekerjaan persiapan;
d. dilakukan usaha : pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan,
pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan
kesehatan;
e. dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan : emas, perak, logam atau biji
logam lainnya, batu-batuan, gas, minyak atau mineral lainnya, baik dipermukaan
atau didalam bumi, maupun didasar perairan;
BAB III
SYARAT – SYARAT KESELAMATAN KERJA
Pasal 3
2) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1)
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi serta pendapatan-
pendapatan baru dikemudian hari.
Pasal 4
BAB IV
PENGAWASAN
Pasal 5
Pasal 6
1) Barang siapa tidak dapat menerima keputusan direktur dapat mengajukan permohonan
banding kepada panitia banding.
2) Tata cara permohonan banding, susunan panitia banding, tugas panitia banding dan lain-
lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja.
3) Keputusan Panitia Banding tidak dapat disbanding lagi.
Pasal 7
Pasal 8
BAB V
PEMBINAAN
Pasal 9
1) Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru
tentang:
a. kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat
kerjanya;
b. semua pengamanan dan alat-alata perlindungan yang diharuskan dalamtempat
kerjanya;
c. alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan;
d. cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.
2) Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin
bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat tersebut diatas.
3) Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang
berada dibawah pimpinannya, dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan
kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam pemberian
pertolongan pertama pada kecelakaan.
4) Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan ketentuan-
ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankannya.
BAB VI
PANITIA PEMBINA KESELAMATAN KERJA
Pasal 10
BAB VII
KECELAKAAN
Pasal 11
1) Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang
dipimpinnya, para pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.
2) Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat
(1) diatur dengan peraturan perundangan.
BAB VIII
KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA
Pasal 12
Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga keraj untuk :
a. memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau ahli
keselamatan kerja;
b. memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan;
c. memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan;
d. meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan
kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam
hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih
dapat dipertanggungjawabkan.
BAB IX
KEWAJIBAN BILA MEMASUKI TEMPAT KERJA
Pasal 13
Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk
keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.
BAB X
KEWAJIBAN PENGURUS
Pasal 14
Pengurus diwajibkan :
a. secara tertulis menempatkan dalam tenaga kerja yang dipimpinnya, semua syarat
keselamatan kerja diwajibkan, sehelai Undang-undang ini dan semua peraturan
pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan, pada tempat-
tempat yang mudah dilihat dan terbaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau
ahli keselamatan kerja;
b. memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja
yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat-tempat yang mudah
dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja;
c. menyediakan secara cuma-cuma, semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada
tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain
yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang
diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
BAB XI
KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP
Pasal 15
1) Pelaksanaan ketentuan tersebut pada pasal-pasal diatas diatur lebih lanjut dengan
peraturan perundangan.
2) Peraturan perundangan tersebut pada ayat (1) dapat memberikan ancaman pidana atas
pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau
denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,-- (Seratus Ribu Rupiah).
3) Tindak pidana tersebut adalah pelanggaran.
Pasal 16
Pengusaha yang mempergunakan tempat-tempat kerja yang sudah ada pada waktu Undang-
undang ini mulai berlaku wajib mengusahakan didalam satu tahun sesudah Undang-undang ini
mulai berlaku, untuk memenuhi ketentuan-ketentuan menurut atau berdasarkan Undang-undang
ini.
Pasal 17
Pasal 18
Undang-undang ini disebut "Undang-undang Keselamatan Kerja" dan mulai berlaku pada hari
diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-
undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
Pada tanggal 12 Januari 1970
Presiden Republik Indonesia
Ttd
SOEHARTO
Jenderal T.N.I
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 12 Januari 1970
Sekretaris Negara
Republik Indonesia
PERATURAN MENTERI
TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA
No. : PER. 05/MEN/1985
TENTANG
PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT
MENIMBANG :
a. Bahwa dengan meningkatnya pembangunan teknologi dibidang industry, penggunaan
pesawat angkat dan angkut merupakan bagian integral dalam pelaksaan dan
peningkatan proses produksi ;
b. Bahwa dalam pembuatan, pemasangan, pemakaian, perawatan pesawat angkat dan
angkut mengandung bahaya potensial ;
c. Bahwa perlu adanya perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja setiap tenaga
kerja yang melakukan pembuatan, pemasangan, pemakaian, persyaratan pesawat
angkat dan angkut.
MENGINGAT :
1. Pasal 2 ayat (2) huruf f dan g.
Pasal 3 ayat (1) huruf n dan p.
Pasal 4 ayat (1), Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.
2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi
No. PER. 03/MEN/1978, tentang Persyaratan Penunjukan dan Wewenang serta
Kewajiban Pegawai Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Ahli Keselamatan Kerja.
3. Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi
No. KEP. 79/MEN/1977, tentang Penunjukan Direktur sebagai dimaksud dalam Undang-
undang No. 1 tahun 1970.
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN :
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA TENTANG PESAWAT
ANGKAT DAN ANGKUT.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Pasal 2
Bahan kontruksi serta perlengkapan dari pesawat angkat dan angkut harus cukup kuat, tidak
cacat dan memenuhi syarat.
Pasal 3
1. Beban maksimum yang diijinkan dari pesawat angkat dan angkut harus ditulis pada
bagian yang mudah dilihat dan dibaca dengan jelas;
2. Semua pesawat angkat dan angkut tidak boleh dibebani melebihi beban maksimum yang
diijinkan;
3. Pengangkatan dan penurunan muatan pada pesawat angkat dan angkut harus perlahan-
lahan;
4. Gerak mula dan berhenti secara tiba-tiba dilarang.
Pasal 4
Setiap pesawat angkat dan angkut harus dilayani oleh operator yang mempunyai kemampuan
dan telah memiliki ketrampilan khusus tentang Pesawat Angkat dan Angkut.
BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 5
BAB III
PERALATAN ANGKAT
Pasal 6
Peralatan angkat antara lain adalah Lier, takel, peralatan angkat listrik, pesawat pneumatic,
gondola, keran angkat, keran magnet, keran lokomotif, keran dinding dan keran sumbu putar.
Pasal 7
Baut pengikat yang dipergunakan peralatan angkat harus mempunyai kelebihan ulir sekerup
pada suatu jarak yang cukup untuk pengencang, jika perlu harus dilengkapi dengan mur
penjamin atau gelang pegas yang efektif.
Pasal 8
1) Garis tengah tromol gulung sekurang-kurangnya berukuran 30 kali diameter tali baja dan
300 kali diameter kawat baja yang terbesar.
2) Tromol gulung harus dilengkapi dengan flensa pada setiap ujungnya, sekurang-
kurangnya memproyeksikan 2 ½ kali garis tengah tali baja.
3) Ujung tali baja pada tromol gulung harus dipasang dengan kuat pada bagian dalam
tromol dan sekurang-kurangnya harus dibelit 2 kali secara penuh pada tromol saat kait
beban berada pada posisi yang paling rendah.
Pasal 9
Pasal 10
1) Tali serat untuk perlengkapan pengangkat harus dibuat dari serat alam atau sintetis yang
berkualitas tinggi ;
2) Tali serat sebelum dipakai harus diperiksa dan selama dalam pemakaian untuk
mengangkat, tali harus diperiksa sesering mungkin dan sekurang-kurangnya 3 bulan ;
3) Pemeriksaan dimaksud ayat (2) dilakukan akibat serat yang putus, terkelupas,
berjumbai, perubahan ukuran panjang atau penampang tali, kerusakan pada serat,
perubahan warna dan kerusakan lainnya ;
4) Tali serat harus digulung pada tromol yang tidak mempunyai permukaan yang tajam dan
mempunyai alur sekurang-kurangnya sebesar diameter tali.
Pasal 11
Pasal 12
1) Sling harus dari rantai, tali baja atau tali serat dan mempunyai kekuatan yang memadai;
2) Sling yang cacat dilarang dipakai;
3) Bila digunakan sling lebih dari satu beban harus dibagi rata;
Pasal 13
1) Cakra pengantar harus terbuat dari logam yang tahan kejutan atau bahan lain yang
mempunyai kekuatan yang sama ;
Pasal 14
1) Kait untuk mengangkat beban harus dibuat dari baja tempa yang dipanaskan dan
dipadatkan atau dari bahan lain yang mempunyai kekuatan yang sama;
2) Kait harus dilengkapi kunci pengaman.
Pasal 15
Pasal 16
Semua peralatan angkat harus dilengkapi dengan rem yang secara efektif dapat mengerem
suatu bobot yang tidak kurang 1 ½ beban yang diijinkan.
Pasal 17
1) Tali pengatur peralatan angkat harus diperlengkapi dengan peralatan gerakan tali dan
tanda arah yang jelas gerakan muatan jika tali ditarik ;
2) Tuas tali pengatur setiap peralatan angkat harus secara tegas dibedakan terhadap
sekelilingnya;
3) Tuas tali pengatur setiap peralatan angkat harus mempunyai model yang sama dalam
satu perusahaan.
Pasal 18
Menaikan, menurunkan dan mengangkat muatan dengan pesawat pengangkat harus diatur
dengan sandi isyarat yang seragam dan yang benar-benar dimengerti.
Pasal 19
1) Apabila lebih dari seorang tenaga kerja yang bekerja pada peralatan angkat operator
harus bekerja berdasarkan isyarat hanya dari satu orang yang ditunjuk;
2) Penjaga kait, penjaga rantai, penjaga bandul atau orang lain yan ditunjuk harus kelihatan
oleh operator;
3) Apabila oprator menerima isyarat berhenti pesawat harus segera dihentikan.
Pasal 20
1) Muatan harus dinaikan secara vertical untuk menghindari ayunan pada saat diangkat;
2) Untuk mengankat muatan diluar jangkauan pesawat harus diambil langkah-langkah
pengaman yang diperlukan dan disaksikan oleh yang bertanggung jawab.
Pasal 21
Sebelum memberikan isyarat untuk menaikan muatan, pemberi isyarat harus yakin bahwa :
a. Semua tali, rantai, bandul, atau perlengkapan lainnya telah dipasang sebagaimana
mestinya pada muatan yang diangkat;
b. Muatan telah dibuat seimbang sebagaimana mestinya dan tidak akan menyentuh benda
sedemikian rupa sehingga sebagian dari muatan atau benda akan dipindah.
Pasal 22
Jika suatu muatan saat diangkat tidak sebagaimana mestinya, operator harus segera
membunyikan tanda peringatan dan menurunkan muatan untuk mengatur kembali.
Pasal 23
Pasal 24
Untuk memindahkan muatan berbahaya seperti logam cair ataupun pengangkatan dengan
magnit melalui tempat-tempat kerja maka :
a. Sebelumnya harus diberi peringatan secukupnya agar tenaga kerja mempunyai
kesempatan ketempat aman ;
b. Jika tebaga kerja tidak dapat meninggalkan pekerjaan dengan segera, alat harus
dihentikan sampai tenaga kerja meninggalkan daerah yang berbahaya.
Pasal 25
Peralatan angkat tidak diperbolehkan menggantung muatan pada waktu mengalami perbaikan
ataupun bagian-bagian bawahnya digunakan oleh mesin yang bergerak.
Pasal 26
Pasal 27
Operator alat kerek tidak boleh meninggalkan peralatannya dengan muatan yang tergantung.
Pasal 28
Pesawat, alat-alat, bagian instalasi listrik pada peralatan angkat harus dibuat, dipasang,
dipelihara sesuai dengan ketentuan-ketentuan instalasi listrik yang berlaku.
Pasal 29
Semua peralatan angkat yang digerakan dengan tenaga listrik harus dilengkapi dengan alat
batas otomatis yang dapat menghentikan motor, bila muatan melebihi posisi yang diijinkan.
Pasal 30
1) Semua bagian kerangka lier dan dongkrak harus terbuat dari logam ;
2) Kerangka dan tabung pengangkat lier dan dongkrak harus dibuat dengan angka
keamanan sekurang-kurangnya :
a. 12 untuk besi tuang
b. 8 untuk baja tuang ;
c. 5 untuk baja konstruksi atau baja tempa.
3) Kaki dari kerangka lier atau dongkrak harus dipancangkan pada fondasi secara kuat dan
kokoh;
4) Lier atau dongkrak, harus dilengkapi dengan peralatan pengaman untuk mencegah agar
tidak melebihi posisi maksimum yang ditentukan ;
5) Lier atau dongkrak yang digerakan dengan tenaga uap :
a. Tidak boleh bocor ;
b. Uap bekasnya tidak menghambat pandangan operator.
6) Lier atau dongkrak yang digerakan dengan tenaga tangan, muatan tuasnya tidak boleh
melebihi dari 10 kg.
Pasal 31
1) Jenis dan ukuran tali yang digunakan pada blok dan takel harus sesuai dengan cakra
pengantarnya ;
2) Blok dan takel pengantar harus dilengkapi dengan alat yang dapat mengatur gerakan
sehingga pada saat muatan digantung tali atau rantai penarik tidak perlu ditarik atau
ditahan dan muatan tetap berada ditempatnya.
Pasal 32
1) Rantai takel pengangkat dan rantai sling harus dibuat dari besi tempa atau baja tempa
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
2) Angka keamanan untuk rantai takel pengangkat dan sling sekurang-kurangnya 5;
3) Rantai pengangkat dan sling harus dimudahkan atau dinormalisir kembali secara
berkala:
a. 6 bulan untuk rantai berdiameter tidak lebih dari 2 ½ mm;
b. 6 bulan untuk rantai yang digunakan untuk mengangkut logam-logam cair;
c. 12 bulan untuk rantai yang tidak tersebut pada sub. a dan b.
Pasal 33
Pasal 34
Pasal 35
Pasal 36
1) Kemampuan daya angkat mesin pengangkat gondola harus sesuai dengan berat beban
yang diangkat ;
2) Gondola dilarang dimuati melebihi maksimum yang diijinkan ;
3) Beban maksimum yang diijinkan dimaksud ayat (2) termasuk berat tali baja, mesin
pesawat angkat, peralatan, orang dan peralatannya.
Pasal 37
Pasal 38
Dilarang merubah atau menambah perlengkapan-perlengkapan gondola tanpa ijin instasi yang
berwenang.
Pasal 39
Pasal 40
Gondola yang digunakan di daerah dekat laut atau korosif harus diadakan pemeriksaan setiap
hari sebelum bekerja terhadap bagian dan semua perlengkapannya oleh operator.
Pasal 41
Pasal 42
1) Semua bagian yang berbahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan harus dilindungi ;
2) Operator dan tenaga kerja harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai dengan
bahaya yang dihadapi.
Pasal 43
Pasal 44
Pasal 45
Pasal 46
Pasal 47
Motor gondola harus dipasang pada pelataran dengan kuat dan harus dihubung tanahkan
tersendiri.
Pasal 48
Pasal 49
Setiap roda gigi dan alat perlengkapan transmisi dari keran angkat harus dilengkapi dengan
tutup pengaman.
Pasal 50
Keran angkat digerakan dari lantai harus diberi ruang bebas dengan lebar sekurang-kurangnya
90 cm sepanjang jalan gerak keran angkat tersebut.
Pasal 51
Konstruksi dan letak ruang operator harus beban dan mempunyai pandangan luas kesekeliling
operasi muatan.
Pasal 52
1) Keran angkat yang beroperasi dilapangan terbuka harus dilengkapi dengan ruangan
operator yang tertutup dengan jendela pada semua sisinya yang dapat bergerak ke atas
dan ke bawah ;
2) Ruang operator dimaksud ayat (1) harus mempunyai pintu dengan jendela yang dapat
bergerak.
Pasal 53
Dilarang masuk ke ruang operator keran angkat, kecuali orang yang diberi kuasa untuk itu.
Pasal 54
Setiap orang dilarang menumpang pada muatan atau sling keran angkat sewaktu beroperasi.
Pasal 55
Semua keran angkat harus dilengkapi dengan alat otomatis yang dapat memberi tanda
peringatan yang jelas, apabila beban maksimum yang diijinkan.
Pasal 56
Pasal 57
1) Tabung magnit tidak boleh dibiarkan tergantung diudara selama tidak digunakan dan
harus diturunkan ke tanah atau ketempat yang telah disediakan ;
Tabung magnit harus dilepas jika keran angkat akan digunakan untuk operasi lain yang
tidak menggunakan magnit.
Pasal 58
Keran angkat berpindah harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga setiap
saat terdapat ruang bebas yang cukup diantaranya :
a. Titik tertinggi dari keran tersebut dan konstruksi atas ;
b. Bagian-bagian keran dan tembok, pilar atau bangunan tetap lainnya ;
c. Bagian ujung keran satu sama lain dalam dua sudut sejajar.
Pasal 59
Pasal 60
Pasal 61
Perakitan kerangka keran angkat berpindah harus dikeling dan atau dilas.
Pasal 62
Keran angkat berpindah harus dilengkapi peralatan untuk mencegah roda gigi atau roda
penggerak lainnya jatuh, jika putus atau terlepas.
Pasal 63
Keran angkat berpindah monorail harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya satu pengaman
tangkap untuk menahan muatan jika poros penggantungnya rusak.
Pasal 64
Pasal 65
Keran lokomotif harus dilengkapi dengan indicator otomatis yang dapat memberi tanda
peringatan bila muatan yang diangkat melebihi beban angkat maksimum yang diijinkan.
Pasal 66
Pasal 67
Pada ruang kemudi kereta angkut dan ruangan operator keran lokomotif harus dilengkapi
dengan tangga pegangan tangan.
Pasal 68
Pada kedua ujung kereta angkut lokomotif harus dilengkapi dengan penyambung otomatis yang
dapat dilepas dari setiap ujung sisinya.
Pasal 69
Pasal 70
Pelat pasak pondasi tiang keran dinding harus ditempatkan pada pondasi yang kuat dan pelat
pasaknya tersebut harus dikaitkan pada pondasi secara kuat.
Pasal 71
Keran dinding yang dilengkapi dengan dongkrak yang digerakan dengan manusia harus
dipasang :
a. Pasak pengunci dan ulir pengunci untuk menahan muatan yang digantung jika gagang
engkol dilepas ;
b. Rem pengontrol untuk menahan turunnya muatan.
Pasal 72
Roda gigi pada roda keran bersumbu putar harus dihindarkan dari benda-benda yang dapat
mengganggu putaran.
Pasal 73
1) Keran bersumbu putar yang menggunakan tenaga mesin harus dilengkapi dengan rem
yang dapat menghentikan gerakan putar ;
2) Dalam pemakaian bobot imbang harus diketahui secara jelas tentang berat muatan dan
posisi bobot imbang tersebut.
Pasal 74
Keran bersumbu putar harus dilengkapi dengan sebuah daftar atau alat sejenisnya yang dapat
menunjukan perbandingan keseimbangan antara posisi berat muatan dan posisi bobot
imbangnya.
BAB IV
PITA TRANSPORT
Pasal 75
Pita transport antara lain adalah : escalator, ban berjalan dan rantai berjalan.
Pasal 76
1) Konstruksi mekanis pita transport harus cukup kuat untuk menunjang muatan yang telah
ditetapkan baginya ;
2) Semua pita transport harus dibuat sedemikian rupa sehingga titik-titik geser yang
berbahaya antara bagian-bagian atau benda yang berpindah atau tetap ditiadakan dana
tau dilindungi.
Pasal 77
1) Pita transport yang ditinggalkan dan sering dilalui harus dilengkapi dengan tempat jalan
kaki atau teras pada seluruh panjangnya dengan lebar tidak kurang dari 45 cm dan
mempunyai sandaran standar dan atau pengaman pinggir ;
2) Lantai atau teras kerja pada tempat-tempat bongkar dan muat harus dalam kondisi anti
slip ;
3) Lantai, teras dan tempat jalan kaki disamping pita transport harus bersih dari sampah
dan bahan-bahan lain ;
4) Saluran air pada lantai harus disediakan disekitar pita transport ;
5) Penyeberangan pada pita transport harus disediakan jembatan yang memenuhi syarat ;
6) Tenaga kerja dilarang berdiri dikerangka penahan pita transport terbuka pada saat
memuat atau memindahkan barang-barang atau pada saat membersihkan rintangan-
rintangan.
Pasal 78
Sabuk, rantai transmisi, poros penggerak, tabung-tabung atau cakra dan roda gigi pada
peralatan dan penggerak harus diberi pengaman sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk
perlengkapan transmisi tenaga mekanis.
Pasal 79
1) Pita transport yang tidak tertutup yang dilalui tenaga kerja pada bagian bawahnya harus
dipasang tutup pengaman ;
2) Dilarang menaiki ban pita transport, kecuali dengan ijin tertentu.
Pasal 80
1) a. Pita transport tertutup yang digunakan untuk membawa bahan-bahan yang dapat
terbakar atau meledak harus dilengkapi dengan lubang pelepas pengaman yang
langsung menuju ke udara luar ;
b. Lubang pelepas pengaman tidak diperbolehkan dihubungkan dengan cerobong, pipa
lubang angin atau saluran asap untuk tujuan lain.
2) Bila kontruksi pembuangan tidak memungkinkan, saluran lubang pelepasan atau
pengaman pada pita transport harus dilengkapi dengan tutup pelepas.
Pasal 81
1) Pita transport yang digerakan dengan tenaga mekanis pada tempat-tempat membongkar
dan memuat, pada akhir perjalanan dan awal pengambilan dan atau pada berbagai
tempat lain yang memadai harus dilengkapi dengan alat untuk menghentikan mesin ban
transport dalam keadaan darurat ;
2) Pita transport yang membawa muatan melebihi sudut kemiringan harus dilengkapi
dengan alat mekanis yang dapat mencegah mesin berbalik dan membawa muatan
kembali kearah tempat memuat, jika sumber tenaga dihentikan ;
3) Jika dua ban transport atau lebih beroperasi bersama harus dipasang alat pengaman
yang dapat mengatur bekerja sedemikian rupa sehingga kedua pita transport harus
berhenti apabila salah satu pita transport tidak dapat bekerja secara terus menerus.
Pasal 82
Pita transport untuk mengangkut semen, pupuk buatan, serat kayu, pasir atau bahan sejenisnya
harus dilengkapi dengan kilang keruk atau alat lainnya yang sesuai.
Pasal 83
Jika pita transport membentang sampai pada tempat yang tidak kelihatan dari pos kontrol, harus
dilengkapi dengan gong, peluit atau lampu semboyan dan harus digunakan oleh operator
sebelum menjalankan mesin.
Pasal 84
Pasal 85
Dilarang untuk mencoba menyetel atau memperbaiki perlengkapan pita transport tanpa
menghentikan dahulu sumber tenaganya dan mengunci tuas atau tombol dalam keadaan
berhenti.
Pasal 86
Ujung pengisian pita transport yang panjangnya kurang dari 1 (satu) meter diatas lantai, harus
diberi pagas pelindung.
Pasal 87
Setiap penghantar gerakan dari peralatan jejak escalator harus dapat dilalui dengan aman.
Pasal 88
Konstruksi alur penghantar harus dibuat sedemikian rupa sehingga mencegah gerakan
pemindahan, gerakan jejak atau memutuskan jejak rantai penghubung.
Pasal 89
Sudut kemiringan dari setiap escalator harus tidak melebihi 30° dari arah bidang datar.
Pasal 90
Bidang injak escalator terbuat dari bahan yang padat, rata dan tidak licin dan bila terbuat dari
logam yang mempunyai kisi-kisi, tebal kisi sekurang-kurangnya 3 mm.
Pasal 91
Lantai pemberangkatan dan lantai pemberhentian setiap escalator harus dari bahan yang dapat
menghasilkan sesuatu ikatan terhadap jejak kaki pemakai.
Pasal 92
Satu motor listrik dilarang untuk menggerakan 2 atau lebih escalator berdampingan, dan dapat
dilayani secara sendiri.
Pasal 93
Lantai escalator harus mempunyai angka keamanan sekurang-kurangnya 10 kecuali rantai yang
terbuat dari baja tuang yang dianeling dengan angka keamanan sekurang-kurangnya 20.
Pasal 94
Setiap escalator harus dilengkapi dengan sistem elektro mekanis yang bekerja secara otomatis
yang dapat menghentikan escalator apabila sumber tenaga putus.
Pasal 95
1) Untuk menjalankan setiap escalator harus menggunakan sebuah kunci kontak atau alat
sakelar yang hanya dapat dilayani oleh operator ;
2) Tombol penghenti escalator harus ditempatkan pada tempat yang dapat dicapai oleh
masyarat umum pada lantai penghantar atas dan bawah ;
3) Tombol penghenti dimaksud ayat (2) harus mempunyai tanda yang jelas dan bertuliskan
tombol penghenti ;
4) Saat menekan tombol penghenti, mekanis penghenti gerakan harus dapat menghentikan
eskalator secara perlahan-lahan.
Pasal 96
Setiap eskalator yang digerakan dengan listrik yang mempunyai pase banyak harus dilengkapi
dengan peralatan yang dapat mencegah motor berputar balik atau bila adanya kegagalan pase.
Pasal 97
1) Ruang mesin pada setiap eskalator harus mempunyai ukuran tepat sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang berlaku sehingga memudahkan pemeliharaan ;
2) Ruang mesin harus mempunyai penerangan yang cukup dan dilengkapi dengan jalan
masuk yang aman.
BAB V
PESAWAT ANGKUT
DI ATAS LANDASAN DAN DI ATAS PERMUKAAN
Pasal 98
Pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan antara lain : truk, truk derek, traktor,
gerobak, forklift dan kereta gantung.
Pasal 99
Semua peralatan pelayanan pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan harus
dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai keseragaman dalam fungsi, gerak dan warnanya.
Pasal 100
Peralatan pelayanan dimaksud pasal 99 harus cukup baik, tidak berbahaya bagi operator dalam
lingkup geraknya.
Pasal 101
Semua perlengkapan pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan sebelum
digunakan harus diperiksa terlebih dahulu oleh operator.
Pasal 102
Pesawat angkutan di atas landasan dengan motor bakar dilarang dijalankan di daerah yang
terdapat bahaya kebakaran dan atau peledakan dan atau ruang tertutup.
Pasal 103
Pesawat angkutan di atas landasan sebelum memuat dan membongkar muatan rem harus
digunakan jika di atas tanjakan roda harus diganjal.
Pasal 104
Pesawat angkutan di atas landasan dengan motor bakar harus dijalankan dengan aman sesuai
dengan kecepatan yang telah ditentukan.
Pasal 105
Pasal 106
Lebar kiri kanan sisi jalan bebas yang dilalui truck sekurang-kurangnya :
a. 60 cm dari lebar kendaraan atau muatan yang paling lebar jika digunakan lalu lintas satu
arah ;
b. 90 cm dari kedua lebar kendaraan atau muatan yang paling lebar jika digunakan lalu
lintas dua arah.
Pasal 107
Truck, truck derek, tracktor dan sejenisnya harus dilengkapi dengan lampu-lampu penerangan
dan peringatan yang efektif.
Pasal 108
Untuk pelayanan pengangkutan muatan menggunakan gerobak harus sesuai dengan jenis
pekerjaan yang dilakukan.
Pasal 109
Gerobang dorong yang beroda satu atau dua harus dilengkapi dengan pelindung tangan pada
gagangnya dan dilengkapi dengan ban rem.
Pasal 110
Gerobak dorong yang beroda tiga atau empat harus dilengkapi dengan alat pengunci yang
digunakan saat gerobak itu berhenti.
Pasal 111
Jika memuati gerobak dorong beroda tiga, muatan yang berat harus ditempatkan dibagian
belakang bawah dan muatan harus seimbang.
Pasal 112
Forklift harus dilengkapi dengan atap pelindung operator dan bagian yang bergerak atau
berputar diberi tutup pengaman.
Pasal 113
Dalam keadaan jalan garpu harus berjarak setinggi-tingginya 15 cm dari permukaan jalan.
Pasal 114
Pasal 115
Dilarang menggunakan forklift untuk tujuan lain selain untuk mengangkat, mengangkut dan
menumpuk barang.
BAB VI
ALAT ANGKUTAN JALAN RIL
Pasal 116
Alat angkutan jalan ril antara lain adalah : lokomotif, gerbong dan lori.
Pasal 117
Bahan, konstruksi dan perlengkapan jalan ril harus cukup, tidak cacat dan memenuhi syarat.
Pasal 118
Batang tarik wesel, kawat-kawat sinyal atau bagian-bagian lain dari peralatan jalan ril yang
berbahaya harus dilindungi dan atau dilengkapi dengan peralatan pengaman.
Pasal 119
Pasal 120
1) Ril pengaman harus dipasang tidak lebih dari 25 cm dibagian dalam ril dengan lebar
dimana tikungan melebih :
a. 250 pada jalan ril dengan lebar 1.435 meter atau lebih ;
b. 400 pada jalan ril dengan lebar yang kurang dari 1.435 meter ;
c. 200 pada semua jalan ril dengan sudut lereng 2 persen atau lebih.
2) Jalan ril diatas jembatan atau kuda-kuda yang panjangnya 30 meter atau lebih harus
dilengkapi dengan ril pengaman.
Pasal 121
Kuda-kuda jalan ril pada kedua sisinya harus dilengkapi dengan peralatan jalan kaki pada
bagian luarnya dan mempunyai ruang bebas sekurang-kurangnya 1 (satu) meter antara pagar
dan muatan dengan ukuran yang paling besar.
Pasal 122
Lubang-lubang pembongkaran muatan di bawah jalan ril harus diberi tutup terali yang memenuhi
syarat.
Pasal 123
1) Semboyan wesel harus dikonstruksi dan dipasang sedemikian rupa sehingga tuas tidak
akan digeser pada arah memanjang ril ;
2) Sudut pada lidah wesel harus dibulatkan.
Pasal 124
Putaran pada jalan ril harus dilengkapi dengan alat pengunci yang akan mencegah putaran
tersebut berbalik pada waktu putaran dijalankan.
Pasal 125
1) Ruang bebas horizontal sisi-sisi lokomotif gerbong pada muatannya terhadap bangunan
tidak boleh kurang dari 75 cm ;
2) Ketentuan pada ayat (1) tidak berlaku bagi ruang bebas horizontal pada jalan ril yang
menurun ;
3) Ruang bebas antara lokomotif gerbong dan muatannya pada saat bersimpangan dan
lintas berdampingan atau melintas bersama satu arah tidak bolehkurang dari 75 cm ;
4) Jika tenaga diperlukan untuk naik di atas atap gerbong atau muatannya maka ruang
bebas vertical sekurang-kurangnya 2,15 meter sampai kebangunan atau rintangan-
rintangan lainnya, 3 meter sampai ke kawat dan 4,3 meter sampai ke kawat penghatar
listrik ;
5) Apabila ruang bebas yang dimaksud ayat (4) tidak dapat dipenuhi, tanda ukuran harus
dipasang pada jarak yang diperlukan pada tiap sisi bangunan ;
6) Jika halaman pabrik dikelilingi pagar, pintu masuk dan keluar untuk alat angkutan jalan ril
harus cukup lebar ;
7) Apabila ruang bebas tidak ada harus dipasang tanda-tanda yang bertuliskan tidak ada
ruang bebas, secara jelas dan mudah dibaca.
Pasal 126
Jika alat angkutan jalan ril berada didekat bangunan, sehingga tenaga kerja tidak dapat berdiri
atau lewat dengan aman antara bangunan dan pesawat yang berjalan maka :
a. Harus dipasang alat penghalang disamping bangunan ;
b. Dilarang adanya pintu pada banugunan yang menuju keluar jalan ril.
Pasal 127
1) Semua jalan persilangan jalan ril dengan jalan-jalan yang ramai harus dihilangkan
dengan menggunakan jembatan udara atau terowongan untuk lalu lintas kendaraan atau
pejalan kaki ;
2) Jika pemasangan jembatan atau terowongan pada persilangan jalan dengan jalan ril
tidak dapat dilaksanakan :
a. Harus dipasang tanda-tanda yang bertuliskan ʺBAHAYAʺ atau ʺPERSILANGANʺ ;
b. Jalan persilangan harus dibuat rata dengan sebelh atas ril ;
c. Pada persilangan-persilangan yang ramai harus ditambah oleh penjaga ril kereta
atau isyarat lampu suara.
Pasal 128
Balok bentur harus dipasang pada ujung jalan ril, dengan ruangan yang cukup untuk lewat
dibelakang bumper secara aman.
Pasal 129
1) Tanda pemberi peringatan dan alat pengaman atau penghalang pad aril harus jelas ;
2) Apabila alat angkutan jalan ril dijalankan pada waktu malam hari semua tanda pemberi
peringatan, alat penghalang dan semboyan wesel dan perlengkapan lainnya harus diberi
cahaya.
Pasal 130
Pintu putar, pintu dorong dan pintu palang harus dijamin bekerjanya dalam membuka dan
menutup.
Pasal 131
1) Jika arus lokomotif listrik alat angkutan jalan ril harus dipindahkan melalui kawat, troli
harus ditunjang dan diatur sedemikian rupa sehingga putusnya salah satu penghantar
kontak tidak akan menimbulkan tegangan pada troli ;
2) Kawat penghantar dimaksud ayat (1) harus berjarak vertical 3 meter dari tanah atau
tempat umum yang dapat dipakai.
Pasal 132
1) Jika arus listrik pada lokomotif listrik dipindahkan melalui ril yang ketiga yang tidak
terletak pada jalan yang tertutup, maka yang ril bertegangan harus ditutup dengan alat
pengaman yang cukup dengan bahan isolasi dan hanya sisi kotaknya terbuka ;
2) Pada kotak terbukanya harus dipasang tanda peringatan yang bertuliskan ʺBAHAYAʺ
dengan jelas dan terang.
Pasal 133
BAB VII
PENGESAHAN
Pasal 134
1) Setiap perencanaan pesawat angkat dan angkut harus mendapat pengesahan dari
Direktur atau Pejabat yang ditunjuknya, kecuali ditentukan lain ;
2) Permohonan pengesahan dimaksud pada ayat (1) harus diajukan secara tertulis kepada
Direktur atau Pejabat yang ditunjuknya dengan melampirkan :
a. Gambar rencana dan instalasi listrik serta sistem pengamannya dengan skala
sedemikian rupa sehingga cukup jelas dan terang ;
b. Keterangan bahan yang akan digunakan ;
Pasal 135
Pasal 136
Direktur atau Pejabat yang ditunjuk berwenang mengadakan perubahan teknis atas
permohonan yang diajukan tersebut dalam pasal 134 dan pasal 135.
Pasal 137
Pembuatan dan pemasangan pesawat angkat dan angkut harus dilaksanakan oleh pembuat dan
pemasang yang telah mendapat pengesahan oleh Direktur atau Pejabat yang ditunjuk.
BAB VIII
PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN
Pasal 138
1) Setiap pesawat angkat dan angkut sebelum dipakai harus diperiksa dan diuji terlebih
dahulu dengan standar uji yang telah ditentukan ;
2) Untuk pengujian beban lebih, harus dilaksanakan sebesar 125% dari jumlah beban
maksimum yang diujikan ;
3) Besarnya tahanan isolasi dan instalasi listrik Pesawat Angkat dan Angkut harus
sekurang-kurangnya memenuhi yang ditentukan dalam PUIL (Peraturan Umum Instalasi
Listrik) ;
4) Pemeriksaan dan pengujian ulang pesawat angkat dan angkut dilaksanakan selambat-
lambatnya 2 (dua) tahun setelah pengujian pertama dan pemeriksaan pengujian ulang
selanjutnya dilaksanakan 1 (satu) tahun sekali ;
5) Pemeriksaan dan pengujian dimaksud dalam pasal ini dilakukan oleh Pegawai
Pengawas dan atau Ahli Keselamatan Kerja kecuali ditentukan lain.
Pasal 139
Biaya pemeriksaan dan pengujian Pesawat Angkat dan Angkut dibebankan kepada Pengusaha.
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 140
Pesawat angkat dan angkut yang sudah dipakai sebelum peraturan ini ditetapkan pengurus atau
pengusaha yang memiliki pesawat angkat dan angkut diwajibkan memenuhi ketentuan-
ketentuan peraturan Menteri ini dalam waktu 1 (satu) tahun sejak berlakunya peraturan ini.
BAB X
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 141
Pasal 142
BAB X
KETENTUAN PIDANA
Pasal 143
1) Pengurus yang melanggar ketentuan tersebut pasal 142 diancam dengan hukuman
kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,-
(seratur ribu rupiah) sesuai dengan pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. 1
Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah pelanggaran.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 144
Pegawai Pengawas dan Ahli Keselamatan Kerja melakukan pengawasan terhadap ditaatinya
Peraturan Menteri ini.
Pasal 145
Hal-hal yang memerlukan pedoman pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini ditetapkan lebih
lanjut oleh Direktur.
Pasal 146
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 02 Agustus 1985
MENTERI TENAGA KERJA
REPUBLIK INDONESIA
ttd
SUDOMO
Sebelum bekerja, lakukan penilaian resiko dan berdiskusi untuk mengidentifikasi dan
mengendalikan bahaya yang ada sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan selamat.
a) Berhenti, berpikir dan melakukan penilaian resiko sebelum memulai pekerjaan.
b) Hentikan pekerjaan jika tidak aman dan informasikan ke pengawas.
c) Jika ada keraguan tentang keamanan pekerjaan, hentikan pekerjaan dan tanyakan ke
pengawas.
d) Membuat analisis bahaya pekerjaan (JHA) sebelum memulai aktifitas yang beresiko
tinggi / pekerjaan kritikal.
e) Membuat penilaian resiko K3L sebelum di mulainya proyek.
Sebelum memulai pekerjaan, pastikan ada prosedur kerja aman dan dipahami oleh pekerja yang
terlibat.
a) Apabila ada prosedur kerja aman, wajib ditaati.
b) Apabila tidak ada prosedur kerja aman untuk pekerjaan beresiko tinggi, maka JHA wajib
dibuat sebelum pekerjaan dimulai.
c) Jika prosedur aman meragukan, hentikan pekerjaan dan laporkan ke pengawas.
d) Pekerja harus kompeten untuk melakukan pekerjaan.
e) Lakukan pengecekan yang cukup saat proses pengembalian ke operasi normal.
Jangan memulai pekerjaan tanpa menggunakan izin kerja yang tepat untuk pekerjaan yang
berkaitan dengan ruang terbatas, bekerja pada sistem energi, melakukan penggalian tanah dan
peledakan, pekerjaan berdampingan / bersamaan, atau pekerjaan panas yang berpotensi terjadi
peledakan.
a) Wajib menaati sistem izin kerja.
b) Ruang lingkup prosedur kerja harus jelas.
c) Mengidentifikasi dan melakukan pengendalian terhadap bahaya khusus.
d) Melakukan komunikasi dengan pekerjaan lain yang punya kaitan izin kerja atau
pekerjaan lain yang berdampingan.
e) Membangun komunikasi yang baik dengan semua orang yang terlibat dalam pekerjaan.
f) Memastikan pekerjaan diawasi dan diizinkan oleh orang yang bertanggung jawab /
berwenang.
c) Tidak diizinkan menggunakan telepon genggam, mengirim atau membaca pesan singkat
pada saat mengoperasikan peralatan bergerak.
d) Tidak mengoperasikan kendaraan atau peralatan yang diketahui mengalami kerusakan
pada : rem, klakson, sinyal peringatan, lampu, roda kemudi, pemantau beban dan sabuk
pengaman.
e) Mengoperasikan kendaraan sesuai kondisi.
f) Selalu menggunakan sabuk pengaman yang disetujui dan menggunakannya dengan
benar saat di dalam kendaraan.
g) Berhenti bekerja apabila mengalami kelelahan / mengantuk (dan mengimpormasikan ke
pengawas).
Pekerjaan pengangkatan dengan menggunakan alat angkat, kerekan dan alat bantu angkat
mekanik, wajib memperhatikan ;
a) Operator alat angkat dan juru ikat harus terlatih, memenuhi kualifikasi, memiliki sertifikat
dan memiliki wewenang.
b) Tidak boleh berjalan atau berdiri di bawah beban yang sedang diangkat.
c) Alat angkat beserta alat bantunya harus diinspeksi, bersertifikat dan dalam kondisi layak
dipakai.
d) Benda yang diangkat harus terkait secara aman dan terikat secara benar.
e) Beban yang terangkat harus terkendali setiap waktu (contoh ; menggunakan tali
pengendali).
f) Area pengangkatan diberi tanda untuk membatasi akses.
g) Juru sinyal wajib selalu ada dan memberikan arahan kepada operator alat angkat.
Menggunakan APD dan memasang perangkat pengaman mesin adalah persyaratan wajib
dalam melakukan pekerjaan.
a) Alat Pelindung Diri (APD) harus dalam keadaan baik dan layak digunakan.
b) Selalu menggunakan APD dasar di area yang telah ditentukan misalnya ; pelindung
kepala, pelindung telinga, sepatu keselamatan, sarung tangan, rompi keamanan / baju
seragam dan kacamata pelindung.
c) Menggunakan APD khusus apabila ditentukan dalam JHA seperti peralatan pernafasan,
saringan pelindung pernafasan, alat pemantau perorangan untuk racun kimia, alat
pendeteksi api / alat pelindung sengatan panas / sarung tangan khusus, alat pengaman
badan saat kerja di ketinggian, alat pelindung muka.
d) Memastikan alat pelindung peralatan dalam keadaan bagus seperti pengaman mesin,
tombol berhenti darurat, pengaman kelebihan beban, alat cegah blok pada kerekan alat
angkat dan sistem sinyal kondisi darurat.
Bekerja di ketinggian di atas 1.8 meter atau lebih dari permukaan maka harus memperhatikan
hal-hal berikut ;
a) Tidak boleh bekerja di ketinggian tanpa alat pelindung jatuh dan tidak ada alat pengaman
lainnya.
b) Menggunakan alat pelindung badan, tali gantung terkait dan kaitkan pada bagian yang
kuat saat bekerja.
c) Memastikan perancah sesuai dengan persyaratan, diinspeksi secara rutin dan dipasang
label oleh orang yang bersertifikat.
d) Bekerja di atas atap bangunan atau tangka harus melakukan pengkajian analisis resiko
khusus dan membuat jalur jalan yang memiliki pagar di kedua sisi atau bekerja dengan
selalu menggunakan tali pengaman.
Memastikan semua sumber energi telah diisolasi dan energi sisa telah dikeluarkan / diamankan
sebelum pekerjaan dilakukan pada sebuah sistem peralatan.
Dilarang masuk ke lokasi kerja tertentu tanpa izin dan selalu mematuhi aturan dan standar di
lokasi kerja tersebut.
a) Tidak ada orang atau kendaraan yang diizinkan memasuki lokasi kerja yang sedang atau
sudah dipasang bahan peledak tanpa izin juru ledak dan sarjana teknik.
b) Lingkaran normal lokasi aman dari proses peledakan adalah di atas 500 m untuk
manusia dan 300 m untuk peralatan. Apabila ada peralatan dan atau bangunan di dalam
lingkaran tidak normal lokasi aman, JHA wajib dilakukan terlebih dahulu.
c) Tetap waspada pada saat bekerja untuk berlindung dari ancaman bahaya yang tak
terduga.
d) Lakukan tindakan pencegahan untuk mengisolasi potensi energi seperti pergerakan
tanah, tekanan / aliran.
Titik tumpum (Axis) berada diantara beban (Weight) dengan gaya (Force)
Keseimbangan akan terjadi apabila :
Wxa=Fxb
Dimana :
W Beban
a Jarak titik tumpu ke beban
b Jarak titik tumpu ke gaya
F Gaya
W F
Axis
a b
Beban (Weight) berada diantara titik tumpu (Axis) dengan gaya (Force).
Axis F
a
b
Gaya (Force) berada diantara titik tumpu (Axis) dengan beban (Weight).
F
Axis
Semakin banyak jumlah pulley yang digunakan maka semakin besar pula keuntungan mekanis
yang didapat baik itu penggunaan pulley majemuk yang terpasang secara tetap (Static Sheaves)
dan pulley bergerak (Dynamic Sheaves).
Keterangan :
W: Berat Beban
P: Single Line Pull / Kekuatan Tarik Tunggal Tali
f : Faktor Gesekan
n : Jumlah Phase Tali / Jumlah Lilitan
Semakin panjang lengan engkol / putar maka semakin besar keuntungan mekanis yang didapat
atau semakin besar batang ulir, maka semakin besar pula keuntungan mekanis yang dihasilkan.
Maka :
Keliling Screw / Panjang Lengan Engkol
F=
Jarak Ulir
Rasio perbandingan antara roda besar dengan roda kecil, semakin besar rasio roda maka
semakin besar pula keuntungan mekanis yang di dapat.
Maka :
Jari- jari Roda Besar (R1)
W=
Jari- jari Roda Kecil (R2)
Perbandingan antara panjang papan yang miring dengan tinggi tumpuan merupakan
keuntungan mekanis yang didapat pada prinsip kerja pada papan miring tunggal.
Sedangkan pada papan miring ganda atau beji (Wedge) adalah perbandingan panjang bidang
miring dengan panjang bidang datar.
Maka :
Papan Tunggal
Memilih alat dan peralatan yang tepat akan memudahkan dalam pekerjaan pengangkatan,
pemilihan peralatan pengangkat meliputi ;
Crane yang akan dipergunakan untuk mengangkat dan memindahkan barang atau
beban.
Pealatan yang dipergunakan untuk menjaga atau meratakan barang (chain block, lever
block, dongkrak).
Ganjal yang dipergunakan untuk mengganjal atau menopang beban atau barang.
Peralatan rigging yang diperlukan untuk mengikat, menghubungkan, mengencangkan
dan meratakan barang atau beban.
Dalam usaha untuk mengetahui atau memperkirakan berat beban atau barang dapat dilaukan
dengan berbagai cara, antara laian ;
Surat pengiriman barang (cargo manifest)
Pemilik barang (owner)
Label pada barang (name plate)
Memperkirakan berat barang (load estimated) ;
- Bentuk dan ukuran barang
- Jenis bahan / material barang
- Jenis dan isi apabila berbentuk rongga.
- Tambahkan 10 % s/d 25 % dari hasil perhitungan.
Ukuran Volume
1 meter ³ 35,336 kaki ³
1 inci ³ 16.387,064 milimeter ³
1 kaki ³ 0,0283 meter ³
1 yard ³ 0.7636 meter ³
1 meter ³ 1.000 liter
1 gallon (Eng) 0,004545 meter ³
1 gallon (US) 0,003785 meter ³
Kumpulan Formulasi
RUMUS LUAS DAN KELILING
P
L. PERSEGI PANJANG = P x L
t D
a
2 2
L. SEGI TIGA = 1/2 a x t L. LINGKARAN = 22/7 x r atau π x 1/4 x D
KEL. LINGKARAN = 2 x 22/7 x r
VOLUME KUBUS
= S x S x S (SISI)
L
S
P
S
VOLUME TABUNG
= L. ALAS x t
t
t
r L. BOLA = 4 x 22/7 x r
Secara umum crane adalah salah satu peralatan yang sangat potensial dalam menunjang
pekerjaan rigging, terutama pada proses pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lain
yang tidak dapat menggunakan tenaga manusia dalam proses pemindahan.
Oleh karena itu sebagai seorang rigger dan terutama bagi seorang pengawas dalam pekerjaan
pengangkatan wajib memiliki pengetahuan tentang crane khususnya yang berhubungan dengan
pengoperasian.
Fungsi Crane :
Mengangkat dan menurunkan beban secara tegak lurus (Vertical) dan memindahkan secara
mendatar (Horizontal) dengan aman.
Tenaga Penggerak
Crane lipat dengan landasan truck, dimana untuk pengoperasian pada jenis crane ini
digerakan dari luar kabin mobil dan ada juga yang pengoperasiannya menggunakan
remote control. Jenis crane ini biasa juga di sebut dengan Knuckle Crane.
Pada Crane jenis ini, crane berada diatas chassis dari sebuah truck, dimana
pengoperasian crane berbeda tempat dengan pengoperasian kendaraan atau truck.
Crawler Crane
Salah satu jenis dari mobile crane dimana untuk pengoperasian, baik itu untuk berjalan /
travel dengan pengoperasian crane berada dalam satu kabin operator.
Untuk pengoperasian crane langsung berdiri pada landasan track atau crawler.
Salah satu dari jenis mobile crane yang mana untuk pengoperasian mobil / travel dan
pengoperasian crane dalam satu kabin operator.
Untuk pengoperasian crane jenis ini pada umumnya menggunakan Outriggers untuk
mendapatkan beban yang maximal dan lebih aman.
Locomotive Crane
Salah satu jenis darat crane darat yang penempatannya pada rel atau sering disebut
dengan crane kereta api
Overhead Crane
Portal Crane
Crane yang semua winch nya terikat pada struktur gantry dan pada umumnya dengan
portal yang terbuka diantara tiang gatry atau kaki. Portal crane dapat terpasang secara
tetap atau bagian bawahnya dapat dijalankan / travel.
Container Crane
Crane yang fungsi utamanya hanya untuk mengangkat atau memindahkan container,
dan biasanya jenis crane ini banyak ditemukan pada pelabuhan-pelabuhan untuk
bongkar muat container dari atau ke atas truck.
Tower Crane
Jenis crane yang umumnya dipergunakan pada pekerjaan erection, sedangkan untuk
penempatan crane pada pondasi yang tetap atau permanen
Salah satu jenis crane yang mana pada bagian bawah atau lower structure terpasang
secara tetap atau permanen dan hanya pada bagian atas atau upperstructure yang
dapat digerakan (Swing, Boom & Hoist).
Umumnya crane jenis ini banyak dipergunakan pada anjungan minyak lepas pantai (Rig)
Floating Crane
Salah satu jenis crane lepas pantai yang penempatannya pada ponton atau barge
secara tetap atau permanen, dan bagian atas saja yang dapat dioperasiakan (Swing,
Boom & Hoist).
Derrick Crane
Salah satu jenis alat angkat atau crane yang ditempatkan pada ponton atau barge, bisa
menggunakan boom atau tanpa menggunakan boom dan kontruksi utamanya bisa
berbentuk A-Frame.
Jenis Boom
Telescopic Boom
Salah satu dari jenis boom pada crane yang dapat dipanjang atau dipendekan pada saat crane
dioperasikan dan boom dapat dibawa sepenuhnya. Pemanjangan dan pemendekan teleskopik
ada yang dilakukan dengan menggunakan tekanan oli hidrolik ataupun dengan menggunakan
rantai penarik.
Pemajangan teleskopik dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan pengangkatan pada saat
crane dioperasikan.
Sedangkan untuk fungsi menaikan atau menurunkan boom dengan menggunakan Cylinder
(Boom Lift Cylinders).
Lattice Boom
Jenis boom yang berbentuk kerangka yang terdiri dari Boom Chord & Boom Lacing, pada boom
jenis lattice terdiri dari tiga bagian :
Boom Base
Boom Section
Boom Tip
Pada pengaturan panjang boom yang digunakan biasanya untuk kebutuhan dalam jangka waktu
yang lama, dan untuk pemanjangan ataupun pemendekan membutuhkan peralatan angkat lain.
Untuk gerakan boom naik atau turun menggunakan Boom Hoist atau Boom Suspension yang
dihubumgkan dengan Boom Pendant pada bagian atas atau ujung dari boom (Boom Head).
Konstruksi Crane
Dari semua sistem gerakan crane diatas, ada jenis crane tertentu yang tidak memiliki semua
sistem gerakan diatas.
Laod Chart
Rough Terrain Crane Grove RT640-LC
Hand Signal
Signal atau aba – aba adalah sarana komunikasi antara crane operator dengan pemberi aba-
aba atau signalman selama pekerjaan pengangkatan dengan menggunakan crane atau selama
pergerakan crane berlangsung.
Fungsi dari aba – aba tangan adalah sebagai pengganti informasi secara lisan agar dalam
pekerjaan pengangkatan tidak terjadi kesalah pahaman dalam gerakan crane yang dilakukan
oleh crane operator, aba – aba sangat efektif dilakukan dalam kondisi jarak yang jauh antara
crane operator dan pemberi aba – aba (signalman), kondisi yang bising dan jarak pandang yang
sangat terbatas.
Sedangkan dalam keadaan darurat dalam pengoperasian crane siapa saja berhak memberikan
aba-aba atau signal untuk menghentikan pengoperasian crane, apabila melihat adanya bahaya
dalam pekerjaan pengangkatan yang melibatkan pengoperasian crane.
Penggunaan aba-aba atau signal lokal yang berlaku di lokasi diperbolehkan apabila sudah ada
kesepakatan antara pemberi aba-aba / signal dan saling dipahami diantara kedua belah pihak.
Komposisi pada tali kawat baja / wire rope dibagi menjadi 3 bagian ;
Kawat baja / Steel Wire ; kawat yang berdiri secara sendiri (single kawat)
Untaian / Strand ; kumpulan dari beberapa kawat yang dipilin atau digabungkan menjadi
satu kesatuan.
Inti / Core ; komponen dari sebuah tali kawat baja yang berada dibagian tengah dari tali
kawat baja.
Inti / core dari tali kawat baja di bagi menjadi tiga jenis ;
Inti Serat / Fiber Core (FB)
Inti dari kawat baja yang terbuat dari serat alam atau serat sintetis.
Fiber Core
Strand Core
Diameter ( Ø )
Mengukur diameter pada tali kawat baja secara benar dilakukan dengan jalan menentukan
diameter luar yang paling besar dari tali kawat baja.
Salah
Benar
Susunan kawat dalam untaian atau strand berdasarkan pada posisi di bedakan ;
Posisi Sejajar / Equal Lay ; pemilinan kawat baja dimana kawat – kawatnya pada tiap
lapisan terpilin sedemikian rupa sehingga singgungan atau pertemuan kawat baja adalah
saling sejajar.
Posisi Silang / Cross Lay ; pemilinan kawat baja dimana kawat – kawatnya pada tiap
lapisan terpilin sedemikian rupa sehingga singgungan atau pertemuan secara
bersilangan pada satu titik.
Jenis untaian pada strand tali kawat baja berdasarkan arah pilinan untaian / strand dengan arah
pilinan pada kawat baja / wire, dibedakan ;
Arah Pilinan Searah / Lang’s Lay ; arah pilinan kawat baja searah dengan arah
pemintalan pilinan pada untaian atau strand.
Arah Pilinan Berlawanan / Ordinary atau Regular Lay ; arah pilinan kawat baja
berlawanan arah dengan pemintalan pilinan untaian atau strand.
Multi Strand ; arah pintalan kawat luar berlawanan arah dengan pintalan kawat bagian
dalam, untaian berlapis – lapis dengan ketentuan untaian bagian luar berbeda jenis
dengan untaian bagian dalam (selang seling), dapat dimulai dengan jenis regular lay
kemudian dilanjutkan dengan jenis lang’s lay atau sebaliknya.
Alternate Lay ; arah untaian di selang seling antara jenis regular lay dan lang’s lay
dengan ketentuan perbandingan 1:1
Arah Strand ;
Right Hand Lang’s Lay
Left Hand Lang’s Lay
Herringbone Lay atau Twin Strand ; arah untaian di selang seling antara jenis regular lay
dan lang’s lay dengan ketentuan perbandingan 1:2
Arah Strand ;
Right Hand Regular Lay
Left Hand Regular Lay
Seale ; konstruksi kawat dalam strand dengan kombinasi antara kawat besar dan kecil
pada bagian luar dan dalam. Jika pada lapisan bagian luar diameternya besar maka
lapisan kedua/setelahnya berdiameter lebih kecil dan lapisan selanjutnya berdiameter
besar (sama besar dengan diameter lapisan luar).
Warrington ; konstruksi kawat dalam strand antara besar dan kecil secara selang seling
dalam lapisan bagian luar. Contoh ; 19 Warrington [1-6-(6+6)].
Filler ; konstruksi kawat dalam strand dimana diantara kawat dengan diameter yang
lebih besar disisipkan kawat dengan diameter lebih kecil (diantara baris satu dengan
baris yang lain). contah ; 25 filler wire (1-6-6f-12) strand.
Bentuk kawat baja dalam untaian/strand dibedakan menjadi ; Preformed dan Non Preformed.
Yang dimaksud dengan beban kerja aman (SWL) adalah batas beban maximum yang boleh
ditanggung/diangkat oleh sebuah tali kawat baja.
Formula beban kerja aman (SWL) pada tali kawat baja adalah ;
Breaking Strength
SWL =
Safety Factor
Dimana Faktor Pengaman / Safety Factor (SF) untuk tali kawat baja adalah :
SWL = 8 x ( D ) ²
Safety Factor : 5
Simpan pada landasan yang kering atau letakan di atas ganjal dan jauhkan dari bahan
kimia serta panas matahari dan hujan secara langsung.
Jangan menggulung tali dengan membuat angka delapan, tapi lakukan penggulungan
sesuai dengan prosedur atau gulung pada gulungan tali yang tersedia.
Mengurai tali dari gulungan dilakukan pada landasan yang kering dan bersih serta
jangan ditarik atau diseret secara paksa.
Hindari beban kejut (sock load) pada saat tali dipergunakan.
Pergunakan tali sesuai identitas dan kekuatannya (SWL).
Berkarat (Corrotion)
Karat yang berada pada permukaan tali dan masih dapat dibersihkan sebelum masuk ke
dalam, namun harus segera dibersihkan dan diberi pelumasan secukupnya. Adapun
karat yang telah memasuki inti (Core) dari tali dan dapat merapuhkan inti (core). Dalam
kondisi seperti ini, maka tali maka tali kawat baja dinyatakan rusak.
Faktor gesekan bantalan (bearing) yang umum dipergunakan pada sebuah pulley
Keterangan ;
n f=3% f=5% f = 10 %
1 1,03 1,05 1,10
2 1,06 1,10 1,21
3 1,09 1,16 1,33
4 1,13 1,22 1,46
5 1,16 1,28 1,61
6 1,20 1,34 1,77
7 1,23 1,41 1,94
8 1,27 1,48 2,14
9 1,31 1,55 2,36
10 1,35 1,63 2,60
Jika berat sebuah beban atau barang adalah 1.000 lbs dan diangkat dengan menggunakan
winch dan hook block serta melalui beberapa buah takel/snatch blok.
Pulley / Sheave
Pulley dipergunakan untuk mengubah arah dari wire rope atau tali kawat baja, semakin
banyak jumlah pulley yang dipergunakan pada tali hoist (hoist rope) maka keuntungan
mekanis yang di dapat semakin besar.
Ketidak sesuaian penggunaan antar diameter tali kawat baja (wire rope) dengan alur
pada pulley akan dapat menyebabkan kerusakan pada hoist rope, wire rope cepat aus
maupun kerusakan pada pulley.
Alur pada pulley harus lebih halus dan sedikit lebih besar dari diameter tali hoist untuk
mencegah tali hoist terjepit pada pulley.
Pada bagian bawah dari alur pulley harus memiliki sudut setidaknya dan pada sisi dari
alur harus bersinggungan secara langsung, hal ini menunjukan lengkungan yang tepat
antara tali hoist dengan pulley.
Penggunaan diameter tali hoist yang terlalu besar atau terlalu kecil dapat merusak tali
hoist ataupun pulley.
Jika alur pada pulley terlalu besar, maka tali hoist tidak benar-benar berada pada posisi
yang tepat pada pulley.
Untuk kedalaman alur pulley minimal harus 2 ½ diameter dari tali kawat baja (wire rope)
dan dinding pada alur tali tidak boleh runcing dan sudut yang terbentuk tidak lebih besar
dari 18º terhadap titik tengah dari alur pulley.
Flange harus rata, dan pada bantalan harus dilumasi secara berkala.
Drum
Hoist drum berfungsi untuk menggulung tali angkat (hoist rope) dan hoist drum juga
berfungsi untuk menurunkan, mengangkat, menahan dan menghentikan secara
mendadak.
Hoist drum yang memiliki alur pada bagian dasar berfungsi sebagai tempat untuk
menyusun pada bagian pertama atau awal dari tali angkat / hoist rope.
Tali angkat (hoist rope) dililitkan atau digulung dari sisi flange ke arah sisi flange yang
lainnya, baris tali angkat dari flange satu ke flange lainnya di sebut lapisan.
Minimal drum terisi penuh oleh tali angkat (wire rope hoist) adalah 2x dari diameter tali
angkat (wire rope hoist) di bawah dari dinding atas dari flensa.
Sedangkat minimum lilitan pada drum pada saat tali diulur (lower) adalah 3 lilitan yang
tersisa pada drum hoist.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat pemasangan tali angkat / tali kawat baja
(wire rope hoist) pada drum ;
- Pastikan arah putaran drum dengan benar pada saat mengangkat dan
menurunkan tali angkat (hoist rope).
- Ujung tali angkat (hoist rope) yang dikatkan pada drum harus benar-benar
dikencangkan dengan baik.
- Pada saat menggulung tali angkat (hoist rope) tali harus benar-benar kencang
atau dibebani supaya tali dapat tersusun dengan rapi.
- Setiap lapisan pada drum harus tersusun secara penuh baru melanjutkan pada
lapisan selanjutnya atau lapisan diatasnya.
- Pastikan pada saat tali diulur (lower) minimum tali yang tersisa pada brum adalah
3 lilitan.
Ini menunjukan crossover tali pada lapisan kedua dan seterusnya pada lilitan di drum
hoist.
Dimensi Drum
Kapasitas Tromol = [ A + B ] A x C x F
Keterangan ;
Fleet Angle
Untuk melakukan gulungan dengan tepat dan juga untuk mencegah keausan yang
berlebihan pada alur drum, sudut fleet adalah sudut pada tali hoist yang mengarah ke
drum dan harus berada dalam batas yang ditentukan.
Pada alur drum yang halus, sudut drum yang direkomendasikan antara 1º sampai
dengan 2º, sedangkan pada alur drum kasar atau drum yang beralur sudut yang
direkomdasikan tidak boleh lebih dari 1 ¼ º.
Jika sudut terlalu kecil maka akan menimbulkan getara dan tali hoist akan menumpuk
pada satu sisi flange sedangkan apabila sudut terlalu besar maka tali hoist akan
bergesekan dengan flensa pulley dan dapat mengakibatkan kerusakan pada alur pulley.
Fiber Rope
Fiber rope atau tali serat banyak dipergunakan sebagai tali pengendali atau tagline dalam
pekerjaan pengangkatan.
Tali serat juga dapat dipergunakan sebagai alat bantu angkat (sling), sama seperti alat bantu
angkat yang lain, harus memiliki kapasitas (WLL) yang jelas pada tali serat.
Jenis-jenis Fiber Rope atau tali serat yang umumnya dipergunakan adalah ;
1. Manila ; Tali serat manila berasal dari serat alam yaitu dari tanama abaca yang
termasuk dalam jenis keluarga pisang. Tali serat manila memiliki elastisitas yang cukup
tinggi, kuat dan lebih tahan terhadap kerusakan atau keausan.
2. Sisal ; Tali sisal terbuat dari tanaman tropis yaitu ; sisalana dan henequen. Tali sisal
memiliki kekuatan 80% dari tali manila dengan kualitas yang tinggi, dan pada umumnya
tali sisal lebih cocok dipergunakan di daerah perairan, karena lebih baik dalam
mengatasi paparan terhadap air laut.
Minimum diameter tali serat untuk tujuan pengangkatan beban adalah 12 mm, dan minimum
diameter tali serat yang baik untuk tali pengendali atau tagline adalah 16 mm.
Rule of Thumb
SWL = D x D atau D ²
Perawatan yang tepat akan memperpanjang umum dari tali serat, ada beberapa petunjuk yang
perlu diperhatikan dalam memperpanjang umur dari tali serat ;
Pastikan bahwa tali dalam kondisi kering dan disimpat di tempat yang sejuk dan kering,
hal ini dapat mengurangi jamur yang akan menempel pada tali dan pembusukan pada
tali.
Gulung tali yang tidak digunakan dan gantung pada tempat yang ada sirkulasi udaranya.
Hindari menyeret tali pada landasan atau tanah atau menarik tali pada sudut-sudut yang
tajam pada material atau benda-benda. Pasir atau kerikil yang berada diantara serat tali
dapat memutus serat tali dan bisa mengurangi kekuatan tali.
Hindarkan tali terkena air hujan dan kelembaban, karena tali dapat menyusut dan putus.
Keringkan tali yang basah sebelum dipergunakan, apabila akan merusak tali karena tali
susah ditekuk.
Hindarkan tali dari paparan panas yang berlebihan dan terus menurus serta hindarkan
tali dari uap bahan kimia, tali akan berkurang kekuatannya hingga 20% jika terkena
panas atau air yang mendidih.
Short Splice
Anyaman pada tali serat yang bertujuan untuk menyambung dua ( 2 ) tali.
Kedua ujung tali yang akan dibuka seperlunya dan digabungkan jadi satu, dan
selanjutnya ujung tali satu dianyam ke tali yang lain secara berselang seling diantar
strand tali.
Clove Hitch
Jenis ikatan ini bisa digunakan pada kayu ataupun material yang berbentuk silinder,
ikatan ini mengurangi ketegangan pada tali.
Timber Hitch
Pengikatan yang biasanya dipergunakan pada kayu atau pada papan, pengikatan ini
cukup aman karena terdapat dua ikatan bagian bawah dan atas, ikatan ini mudah
melonggar apabila ketegangan pada tali berkurang.
Sheet Bend
Jenis pengikatan yang bertujuan untuk menyambung kedua ujung tali yang berbeda, dan
biasanya diameter tali tidak sama besar.
Bowline
Jenis ikatan yang bertujuan untuk membuat mata pada tali serat secara temporary atau
sementara.
Carrick Bend
Jenis ikatan yang digunakan untuk menyambung tali yang memiliki diameter sama.
Becket Hitch
Jenis pengikatan yang biasa dilakukan pada ring atau cincin, penggunaan ikatan ini
(Becket Hitch) akan mengurangi kapasitas tali 25 %.
Stop Hitch
Digunakan untuk mengikat pada ujung tali dimana pada salah satu ujung tali akan
dilonggarkan atau diatur ulang kembali.
Barrel Hitch
Jenis ikatan ini dipergunakan untuk tujuan mengangkat beban yang berbentuk bulat dan
akan diangkat secara tegak lurus atau vertical.
Eight Knot
Umumnya simpul ini dilakukan pada ujung tali dan digunakan untuk menghindari ujung
tali terbuka. Mudah dilakukan dan cepat serta mudah dibuka, simpul ini juga berfungsi
untuk menghindari tali melewati blok.
Running Bowline
Jenis ikatan pada tali serat yang berfungsi untuk menggantung atau mengikat obyek.
Sebuah tali serat atau fiber rope tanpa adanya ikatan dan simpul memiliki kekuatan 100% dari
nilai atau kekuatan yang tertera pada tali serat atau fiber rope.
Jika tali serat atau fiber rope dibuat simpul dan ikatan maka :
Jika tali dibuat simpul dengan cara diikat, maka tali akan kehilangan kekuatan 50% dari
kapasitas yang sebenarnya.
Ketika tali digunakan untuk menyambung dengan tali yang lain, maka tali akan
kehilangan 50% dari kekuatan yang sebenarnya.
Ketika tali dipergunakan untuk mengikat, maka tali akan kehilangan 25% dari kekuatan
sebenarnya.
Ketika tali dibuat mata atau digunakan untuk menyambung tali dengan cara dianyam,
maka tali kehilangan 15% dari kekuatan sebenarnya.
Chain Sling
Chain Sling atau rantai angkata adalah salah satu jenis alat bantu angkat yang terbuat dari
bahan metal dengan kualitas bahan tertentu atau ditandai dengan kelas bahan/material, sama
seperti dengan alat bantu angkat yang lain, maka chain sling atau rantai angkat harus memiliki
identitas :
Manufacture / Pabrik pembuatnya
Diameter
Kelas Bahan / Grade
Panjang
Rated Capacity
Safety Factor
Jenis rantai angkat atau Chain Sling yang baik dan boleh dipergunakan untuk mengangkat
beban minimal harus memiliki Grade 80 (T 08).
Pada Rantai Angkat atau Chain Sling, ada beberapa komponen / assesoris yang terkait satu
dengan yang lainnya menjadi satu kesatual yang tidak dapat terpisahkan.
Komponen-komponen atau asssesoris yang umumnya terdapat pada Rantai Angkat atau Chain
Sling :
Chain
Master Link
Hook
Hammer Lock
Shorterner
2
5
Pemeriksaan pada rantai angkat atau chain sling maximum dilakukan dalam jangka waktu satu
tahun sekali untuk tujuan sertifikasi, sedangkan untuk pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah
sebelum dan setelah rantai angkat atau chain sling dipergunakan.
Efek Panas Terhadap Beban Kerja Aman (SWL / WLL) Pada Chain Sling
Maximum SWL / WLL Chain Sling Tipe ʺ A ʺ Untuk Sling Tunggal Tegak Lurus
Wear
Pemanjangan Rantai
Maximum pemanjangan rantai dengan mata rantai 10 s/d 20 mata rantai adalah 3% dari
panjang awal.
Perubahan Bentuk
Kerusakan yang umumnya terjadi pada Rantai Angkat atau Chain Sling karena
perubahan bentuk, bagian – bagian yang mengalami perubahan bentuk ; bengkok
(Bend) dan terpelintir (Twist).
Bend
Bend Twisted
Untuk menuntukan batas maximum yang diijinkan, apabila terdapat sayatan (Cuts), lihat
pada tabel keausan (Worn) atau akibat karat (Corrotion).
Crack
Tabel kapasitas chain sling atau rantai angkat berdasarkan diameter ( Ø ) dan sudut yang
terbentuk atau digunakan diantara dua chain sling, apabila chain sling yang digunakan untuk
pengangkatan menggunakan 2, 3 atau 4 kaki sling (legs). Dalam perhitungan kapasitas beban
maximum yang diperbolehkan tetap menmperhitungkan 2 kaki sling.
Penggunaan chain sling dengan benar dan tepat akan menghindarkan kerusakan pada chain
sling dan juga meminimalkan kecelakaan yang diakibatkan kesalahan pemakaian.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat menggunakan chain sling untuk tujuan
pengikatan dan pengangkatan pada beban :
Pergunakan chain sling dari bahan baja Alloy dengan minimal Grade 80.
Lakukan pemeriksaan chain sling secara berkala atau pada saat chain sling akan
dipergunakan.
Pastikan beban yang akan diangkat diketahui beratnya sebelum menggunakan chain
sling.
Hindari terjadinya beban benturan (Impact Load) dan beban kejut (Shock Load) pada
pemakaian chain sling.
Simpan chain sling di tempat yang tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara
langsung.
Jangan memendekan chain sling dengan cara dibuat simpul, serta hindari kaki sling
melilit satu dengan yang lainnya.
Gunakan ganjal atau alas pada sisi – sisi atau tepi beban yang tajam.
Jangan mempergunakan perlengkapan chain sling yang tidak sesuai dengan mata rantai
atau bikinan sendiri.
Jangan memperbaiki rantai yang rusak, kecuali dilakukan oleh manufacture atau oleh
orang yang berwenang.
Selalu pergunakan alas pada bawah beban dan jangan menarik chain sling dengan
menggunakan alat angkat.
Jangan menarik rantai pada landasan atau tanah dan menjatuhkan rantai dari ketinggian.
Pergunakan chain sling sesuai dengan kapasitas angkat maximumnya (SWL).
Hindari penggunaan chain sling untuk menggantung beban terlalu lama.
Jangan memperguunakan chain sling untuk menarik beban.
Jangan memukul chain sling untuk maksud atau tujuan tertentu.
Setiap alat bantu angkat, termasuk juga pada webbing sling harus memiliki identitas yang jelas,
yang akan menentukan layak tidaknya webbing sling tersebut dipergunakan.
Type I (Triangle Fitting – Choker Fitting) ; Jenis webbing sling yang pada kedua
ujungnya terdapat attachment berbentuk segitiga (Triangle), dimana salah satu
attachmentnya lebih kecil. Pada type I ini dapat dipergunakan untuk semua jenis ikatan
(Direct, Choker & Basket).
Type II (Triangle – Triangle) ; Jenis webbing sling ini juga terdapat attachment pada
kedua ujungnya yang berbentuk segitiga (Triangle), dimana kedua attachment memiliki
besar yang sama. Pada type II ini hanya dapat dipergunakan untuk jenis ikatan ; Direct
dan Basket Hitch.
Type III (Eye & Eye With Flat Eyes) ; Jenis webbing sling dimana pada kedua ujungnya
berbentuk lingkaran (Loop Eye) dengan lebar sama dengan body dari webbing sling.
Biasanya pada type ini sering juga disebut dengan webbing sling mata datar, mata dan
mata atau dobel mata.
Type IV (Eye & Eye With Twisted Eyes) ; Jenis webbing yang pada kedua ujungnya
berbentuk lingkaran/mata (Loop Eye) sama seperti pada type III, tapi pada type IV ini
mata atau lingkaran (Loop Eye) diputar atau dipelintir dan kemudian disatukan kembali
dengan body dari webbing sling. Jenis ini juga sering disebut webbing sling mata
dipelintir.
Type V (Endless Type); Endless Webbing Sling, jenis ini sering juga disebut dengan
Grommet, dimana pada jenis ini dibentuk dengan cara menyambung kedua ujung dari
webbing sling.
Type VI (Return Eye) ; Pada webbing jenis ini, mata (Loop Eye) dibentuk dengan cara
melipat kembali ujung webbing kearah body sling, yang dimulai dari sisi/tepi webbing
yang satu kearah sisi/tepi lainnya mengikuti lebar dari webbing sling.
Kekuatan webbing sling tidak dipengaruhi oleh type nya, tapi type ini hanya sebagai variasi dari
macam - macam jenis webbing sling.
Pewarnaan pada synthetic sling ini bertujuan untuk memudahkan dalam memilih
synthetic sling yang akan dipergunakan untuk memindahkan beban, sebelum
menggunakan synthetic sling harus dipastikan kembali kapasitasnya (WLL).
Pewarnaan pada synthetic sling dengan kapasitas 10 t ke atas hanya ditandai dengan
satu warna, yaitu dengan warna orange.
Tabel kapasitas pada Synthetic Sling ini berdasarkan kapasitas angkat maximumnya
(WLL) dengan jenis-jenis ikatan yang yang dipergunakan.
Round Sling
Ada banyak kerusakan yang biasa terjadi pada Synthetic Sling, baik itu dikarenakan kesalahan
dalam penggunaan maupun karena perawatan yang tidak benar, berikut ini macam-macam
kerusakan pada Synthetic Sling ;
Heat Damage
Jenis kerusakan yang diakibatkan oleh benda atau material yang panas yang
bersentuhan langsung dengan Synthetic Sling pada saat pemakaian.
Cuts
Kerusakan pada Synthetic Sling yang diakibatkan terjadinya kontak secara langsung
antara Synthetic Sling dengan benda atau material yang tajam, terutama pada saat
melakukan pengikatan tanpa memberi pelindung pada sisi-sisi beban atau benda yang
tajam.
Abrasion
Kerusakan yang bisa diakibatkan pada saat penggunaan Synthetic Sling dipakai untuk
mengangkat beban dengan cara melilitkan melilitkan Synthetic Sling di bawah beban
ataupun bisa diakibatkan adanya gesekan dengan material.
Acid Damage
Kerusakan yang diakibatkan oleh cairan kimia yang dapat merusak struktur dari
Synthetic Sling, cairan yang mengandung sulfur, cairan pada battery merupakan contoh
cairan yang dapat mengakibatkan kerusakan pada Synthetic Sling
Puncture or Snags
Kerusakan yang diakibatkan oleh tonjolan atau material yang tidak rata pada waktu
Synthetic Sling dipergunakan untuk mengikat beban dengan cara melilitkan pada beban
atau material.
Overload Damage
Kerusakan yang diakibatkan pembebanan Synthetic Sling yang melebihi kapasita angkat
maximumnya (WLL).
Setiap penggunaan Synthetic Sling dengan benar dalam penanganan dengan beban, akan
sangat mempengaruhi umur dari Synthetic Sling tersebut, beberapa hal yang penting untuk
diperhatikan dalam pemakaian Synthetic Sling ;
Jangan memendaekan Synthetic Sling dengan cara dibuat simpul atau pun dengan cara
dipelintir.
Selalu pergunakan alas atau ganjal diantara Synthetic Sling dengan beban yang memiliki
sisi-sisi yang tajam.
Jangan menarik Synthetick Sling di atas landasan, apalagi pada landasan yang tidak rata
dan berpasir.
Hidari beban kejut pada saat pemindahan atau pengangkatan beban atau barang.
Hindari menggantung beban dengan menggunakan Synthetic Sling dalam jangka waktu
yang lama (diam di tempat).
Jangan mempergunakan Synthetic Sling untuk menarik beban apapun alasannya.
Hindari penggunaan Synthetic Sling yang sudah rusak atau yang terindikasi terdapat
kerusakan.
Metode pengikatan pada Synthetic Sling dan pada Sling umunya dibagi menjadi tiga (3);
Direct Hitch atau pengikatan langsung ; metode pengikatan dengan mengaitkan sling
secara langsung pada lifting point dengan bentuan peralatan bantu angkat lain (shackle,
hook, dll.), metode pengikatan jenis ini memiliki kapasitas 100 % sesuai dengan yang
terdapat pada sling.
Choker Hitch ; metode pengikatan dengan cara melilitkan sling pada dimensi dari beban
atau barang yang akan dinagkat/dipindahkan dan salah satu dari ujung atau mata (loop)
dari sling diikatkan pada body sling, jenis pengikatan ini memiliki kapasitas 80 % dari
kapasitas sling atau kapasitas sling yang digunakan akan berkurang 20 % dari kapasitas
sling sebenarnya.
Basket Hitch ; metode pengikatan pada beban atau barang dengan cara menempatkan
sling pada bagian bawah dari beban dan kedua ujung atau mata dari sling dikaitkan
secara bersama-sama pada hook block, jenis pengikatan ini memiliki kapasitas 200%
dari kapasitas sebenarnya dari sling atau dua kali lipat.
Shackle
Shackle adalah salah satu jenis dari alat bantu angkat yang fungsi utamanya sebagai pengikat
atau menyambung antara sling dengan lifting point ataupun penghubung antara sling dengan
hook pada crane.
Seperti pada umumnya pada peralatan bantu angkat lainnya, shackle juga harus memiliki
identitas yang jelas yang akan menentukan layak tidaknya sebuah shackle dipergunakan.
Ada beberapa hal yang harus diketahui dan dilakukan sebelum menggunakan atau pada saat
melakukan pemeriksaan terhadap identitas dari shackle ;
Trademark of Manufacture / Pabrik Pembuat
Rated Load / WLL
Diameter
Screw Pin ; jenis pin yang pada salah satu ujung terdapat
thread dan pada salah satu sisi dari lubang pin pada Bow juga
terdapat thread yang berfungsi untuk mengikat shackle.
Identitas Shackle
Setiap peralatan bantu angkat (lifting gears) termasuk juga dengan shackle, harus memiliki
identitas yang jelas, yang meliputi ;
Penggunaan shackle pada sudut tertentu dapat mengurangi kapasitas dari shackle apabila
penggunaan shackle dari arah samping, batas maximum sudut yang boleh dipergunakan untuk
pengangkatan samping adalah 90º.
Sebisa mungkin hindari penggunaan shackle dari arah samping apalagi melebihi sudut 90º, dan
pada saat penggunaan shackle dari arah samping, harus diperhatikan pengurangan kapasitas
(WLL) pada shackle.
Penggunaan Shackle
Pemakaian shackle untuk tujuan pengikatan dan pengangkatan beban/barang, ada beberapa
yang harus diperhatikan ;
Hindari lifting point shackle pada kedua sisi dari Bow shackle.
Jangan menggunakan shackle melebihi kapasitas yang sudah ditetapkan oleh
manufacture.
Jangan mempergunakan shackle untuk tujuan menarik beban.
Kontak langsung antara shackle dengan sisi beban yang tajam dapat merusak struktur
dari shackle.
Jika shackle dipergunakan untuk menggantung sling lebih dari satu, jangan
menggunakan shackle dengan jenis screw pin.
Jika shackle dipergunakan untuk dua sling, maka posisi sling harus pada bow shackle.
Jika shackle dipergunakan untuk menyambung sling, maka posisi sling harus berada
pada pin dan bow shackle.
Apabila shackle dipergunakan dari arah samping, maka harus diperhatikan pengurangan
kapasitas dari shackle.
Jika menggunakan shackle cotter pin, maka cotter pin harus selalu terpasang dengan
benar dan apabila menggunakan shackle dengan screw pin untuk pengangkatan dalam
waktu lama, sebaiknya pin diikat dengan bow shackle.
Apabila shackle dipergunakan mengikat beban dengan jenis ikatan choker, maka posisi
pin shackle harus berada pada attatchment atau mata dari sling.
Apabila penggunaan dua shackle dalam satu tempat, pastikan bahwa titik beban (point
load) pada posisi tegak lurus, baik itu point load pada pin maupun pada bow shackle.
Ada beberapa jenis kerusakan yang mengharuskan shackle tidak boleh dipergunakan lagi
karena adanya kerusakan pada strukturnya.
Jenis-jenis kerusakan yang umumnya terdapat pada shackle ;
Identitas shackle tidak dapat terbaca dengan jelas atau hilang, seperti;manufacture,
diameter dan WLL.
Adanya indikasi kerusakan akibat panas dan percikan dari pengelasan.
Terdapat korosi
Bend, Twisted, Distorted, Stretched, Elongated, Cracked atau Broken Load-Bearing
Component.
Nick atau Gouges (goresan) yang berlebihan.
Pengurangan diameter, batas maximu pengurangan diameter 10% dari diameter awal
atau aslinya pada pin maupun pada bow.
Posisi pin sudah tidak pas atau tepat pada bow shackle.
Adanya kerusakan pada thread.
Adanya bekas pengelasan.
Pin shackle diganti dengan material lain.
Dalam upaya menjaga agar shackle dapat bertahan lebih lama, maka diperlukan penangan
yang tepat.
Bersihkan shackle dari kotoran yang menempel dan tempatkan shackle pada tempat
yang kering.
Hindarkan shackle pada saat penyimpanan dari kemungkinan-kemungkinan terkena
bahan kimia aktif yang dapat merusak komponen / struktur dari shackle (acid, fumes atau
caustic / larutan asam, soda api)
Hindarkan shackle dari temperature yang terlalu panas atau extreme.
Temperatur
HOOK
Hook pada umumnya berfungsi sebagai pengait, baik itu untuk beban ataupun untuk
menggantung atau mengaitkan sling.
Jika hook dipasang sebagai attatchment pada sling, maka kapasitas dari hook harus mengikuti
kekuatan sling secara keseluruhan.
Identitas Hook
Setiap hook juga harus memiliki identitas jelas yang tertera pada body dari hook, identitas pada
hook meliputi :
6
3
4 1
2
5
Dan biasanya ada manufacture yang hanya menuliskan kode-kode tertentu pada hook, dari
kode-kode tersebut juga menandakan identitas dari hook.
Jika hook dipasang dalam satu rangkaian dengan sling, maka pada hook akan ditentukan
berapa diameter sling yang harus dipasangkan dengan hook, dari diameter sling tersebut, kita
dapat mengetahui berapa kapasitas dari hook tersebut.
Untuk mendapatkan kekuatan maximu dari hook, maka posisi lifting load pada hook harus
benar-benar berada ditengah-tengah dari hook atau hook benar-benar berada pada posisi
vertical.
Jika posisi hook terhadap beban tidak berada pada posisi vertical maka akan terjadi
pengurangan pada kapasitas hook.
Penggunaan Hook
Pada penggunaan hook, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya
menjaga keamanan daripada hook itu sendiri,
Jangan mengangkat beban melebihi kapasitas angkat maximum dari hook.
Hindari terjadinya beban kejut pada saat pengangkatan.
Beban harus benar-benar terpusat ditengah-tengah dari hook untuk mendapatkan beban
angkat maximum hook.
Pastikan semua hook memiliki safty latch dan berfungsi dengan baik, dan jika jenis hook
self locking, maka sebelum beban diangkat pastikan sudah benar-benar mengunci
latchnya.
Jangan menumpuk sling terlalu banyak pada hook.
Beberapa jenis kerusakan yang pada umumnya terjadi pada hook, dan mengharus hook tidak
boleh dipergunakan ;
Crack, Gouges, Nick, Bend, Elangotion, Twisted, Corrotion.
Terjadi keausan atau pengurangan diameter (wear) pada bagian-bagian dari hook
melebihi batas maximum keausan, batas keausan pada hook adalah 10% dari diameter
awal atau aslinya.
Terjadi pelebaran pada hook (Throat Opening) lebih dari 5% dari lebar awal atau aslinya
pada hook.
Adanya bekas pengelasan pada hook atau terkena panas yang berlebihan.
Safety latch tidak berfungsi atau terjadi kerusakan pada safety latch.
Identitas tidak dapat terbaca dengan jelas atau hilang (manufacture, WLL).
Apabila pada saat melakukan pemeriksaan terdapat kerusakan-kerusakan seperti diatas, maka
hook tidak boleh dipergunakan.
EYEBOLT
Eyebolt merupakan salah satu dari alat bantu angkat yang penempatannya secara permanen
pada sebuah lubang (hole) di beban atau barang yang akan dipindahkan / diangkat. Sedangkan
pada penggunaan eyebolt harus memperhatikan banyak faktor, seperti; posisi thread pada
beban, sudut pengangkatan, arah eyebolt pada saat pengangkatan.
Identitas Eyebolt
Untuk dapat menggunakan eyebolt, hal pertama yang harus diperhatikan adalah identitas dari
eyebolt ;
Penggunaan Eyebolt
Penggunaan eyebolt dengan tepat akan memperkecil resiko terjadinya kecelakaan dalam
pekerjaan pengangkatan yang bisa berakibat pada kerugian terhadap material, peralatan
maupun personel dan juga dapat menjaga umur dari eyebolt lebih lama.
Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan apabila mempergunakan eyebolt untuk tujuan
pengnangkatan dan pemindahan beban atau barang ;
Pastikan bahwa thread eyebolt sudah benar-benar masuk dengan maksimal pada lubang
(hole).
Jika eyebolt dipergunakan pada lubang (hole) yang buntu, maka efektifitas panjang
thread pada eyebolt adalah 1 ½ kali diameter dari bolt.
Pergunakan nut / baut apabila thread lebih panjang daripada lubang (hole) dan pastikan
bahwa tidak ada jarak antara atas beban dengan eyebolt.
Jangan mempergunakan Unshouldered Eyebolt untuk pengangkatan yang membentuk
sudut, tapi pergunakan hanya untuk pengangkatan tegak lurus.
Hindari beban kejut pada saat pengangkatan dengan menggunakan eyebolt.
Pastikan eyebolt dalam kondisi bagus sebelum dipergunakan.
Jika mempergunakan eyebolt untuk pengangkatan beban yang membentuk sudut, maka
selalu perhatikan pengurangan kapasitasnya.
Ada banyak kerusakan yang umumnya terjadi pada eyebolt, kerusakan-kerusakan ini
mengharuskan eyebolt tidak boleh dipergunakan untuk tujuan pekerjaan penngangkatan.
Kerusakan-kerusakan yang mengharuskan eyebolt tidak boleh dipergunakan lagi, antara lain :
Identitas eyebolt tidak dapat terbaca dengan jelas atau hilang.
Ada indikasi adanya bekas pengelasan atau panas yang berlebihan.
Bend, Twisted, Distorted, Stretched, Elongated, Cracked, Corrotion.
Wear / pengurangan diameter, batas maximum penguranngan diameter pada komponen
adalah 10% dari diameter awal atau aslinya.
Adanya kerusakan atau keausan pada thread.
Adanya bekas modifikasi pada eyebolt.
HOIST RING
Hoist ring pada dasarnya fungsi dan penggunaannya sama dengan eyebolt, Cuma yang
membedakan pada hoist ring terdapat swivel yang memungkinkan hoist ring berputar dalam
jangkauan 360º
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat pemakaian hoist ring ;
Penggunaan hoist ring yang efektif pada lubang (hole) yang ada threadnya adalah
panjang thread 1 ½ kali diameter dari thread.
Jika hoist ring dipergunakan pada lubang (hole) yang tidak ada threadnya dan lebih
pendek daripada panjang thread, maka pergunakan washer dan nut yang
direkomdasikan oleh manufacture.
Jika hoist ring menggunakan washer, pastikan tidak ada jarak antara bagian atas beban
dengan bushing flange.
Pengikatan atau mengencangkan hoist ring harus sesuai dengan petunjuk dari
manufacture.
Washer tidak boleh dipasang diantara bushing flange dengan bagian atas dari beban /
barang yang diangkat.
Swivel harus bergerak bebas dan bail atau ring tidak boleh bersentuhan dengan beban
pada saat pengangkatan.
Pastikan hoist ring memiliki identitas yang jelas, dan pada saat dipergunakan untuk
pengangkatan tidak boleh melebihi kapasitasnya.
Hindari terjadinya beban kejut pada saat pengangkatan beban.
Hoist ring yang sudah dimodifikasi tidak boleh dipergunakan.
TURBUCKLE
Turnbuckle adalah salah satu alat bantu angkat yang penggunaannya dapat disesuaikan sesuai
kebutuhan atau biasa disebut Adjustable Hardware.
Identitas Turbuckle
Penggunaan Turnbuckle
Ada beberapa yang perlu diperhatikan pada saat menggunakan turnbuckle untuk pengangkatan:
Jika turntbuckle akan dipergunakan untuk mengnagkat, maka harus selalu mengikuti
petunjuk dari manufacture.
Kapasitas pada turnbuckle tidak boleh dilebihi pada saat dipergunakan untuk
pengangkatan.
Jangan menggunakan turnbuckle yang rusak dan lakukan pemeriksaan sebelum
penggunaan dan secara berkala.
Semua komponen pada turnbuckle (nut, pin atau cotter pin) harus dalam kondisi bagus
sebelum digunakan.
Hindari kontak dengan penghalang atau beban secara langsung pada saat
pengangkatan.
Hindari terjadinya beban kejut pada saat pengangkatan.
Beban pada turnbuckle harus dalam posisi tegak lurus dan dalam posisi kencang.
Turnbuckle tidak boleh dipergunakan untuk mengangkat beban dari arah samping.
Jangan menyeret turnbuckle diatas tanah atau landasan.
Pengaturan turnbuckle harus dengan tepat dan dikencangkan pada nutnya.
Pengikataan Beban
Terminologi
Working Load Limit ( WLL ) ; Batas kerja aman yang dapat diangkat, diturunkan dan
ditahan oleh peralatan bantu angkat.
Safe Working Load ( SWL ) ; Beban kerja aman yang mampu diangkat, diturunkan dan
ditahan oleh peralatan angkat.
Lifting ; Suatu proses pengangkatan atau penempatan peralatan, komponen atau beban
/ barang dengan menggunakan peralatan angkat.
Pekerjaan Rigging ; Suatu pekerjaan yang lakukan secara sistematis dan terencana,
dimana obyek atau benda dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dengan
menggunakan peralatan angkat.
Terencana berarti ; sebelum pekerjaan yang sesungguhnya dilakukan, sudah dibuat
sebuah perencanaan sebelumnya.
Lifting Equipment / Lifting Gears ; Peralatan yang dikaitkan atau diikatkan pada beban
dan dihubungkan dengan peralatan angkat, dan lifting gear atau lifting equipment tidak
bisa mengangkat dan menurunkan beban sendiri tanpa bantuan dengan peralatan
angkat.
Breaking Load / Breaking Strenght ; Kekuatan putus sebuah tali secara maksimum.
Center of Gravity ; Titik tengah keseimbangan pada beban saat beban diangkat atau
dipindahkan.
Rated Capacity ; Beban kerja maksimum yang diijinkan yang boleh diangkat
berdasarkan dengan metode ikatan yang dipergunakan.
Vertical / Direct Hitch ; Salah satu metode pengikatan pada beban dengan cara
menempatkan salah satu ujung sling secara langsung pada lifting point dan ujung
satunya pada hook atau pengikatan secara tegak lurus.
Choker Hitch ; Metode pengikatan yang dilakukan dengan cara melewatkan atau
melilitkan sling dibawah beban dan ujung satunya diikatkan pada sling tersebut.
Basket Hitch ; Metode pengikatan yang dilakukan dengan cara melewatkan atau
melilitkan sling dibawah beban dan semua ujung sling dikaitkan pada hook atau
attatchment.
Cara Pengikatan
Dalam pekerjaan pengangkatan yang melibatkan alat angkat dan alat bantu angkat, metode
pengikatan dibedakan menjadi tiga ( 3 ) ;
Direct / Vertical Hitch ;
Pada metode pengikatan ini kekuatan sling sama dengan kapasitas yang terdapat pada
sling yang digunakan, atau 100% dari WLL.
Choker Hitch
Metode pengikatan ini, kekuatan sling akan berkurang 20% dari kapasitas yang
sebenarnya, atau kekuatan sling 80% dari WLL
Basket Hitch
Pada metode pengikatan ini, kekuatan sling akan bertambah 100% dari kapasitas sling
yang sebenarnya, atau kekuatan sling 200% dari WLL.
Efisiensi Pengikatan
Berat Beban
SWL Sling = x Faktor (F)
Jumlah Kaki Sling
2 ton 2 ton
SWL Sling = x1 =2 SWL Sling = x 1,15 = 1,15
2 2
60º
2 ton
2 ton
2 ton 2 ton
SWL Sling = x 1,5 = 3 t SWL Sling = x2 =4t
1 1
2 ton
2 ton
2 ton 2 ton
SWL Sling = x1 =1t SWL Sling = x2 =2t
2 2
2 ton
2 ton
2 ton
SWL Sling = x 1,4 = 1,4 t
2
90º
2 ton
Kapasitas angkat yang tertera pada sebuah sling dalam posisi mengangkat tegak lurus.
Kapasitas sling akan berubah karena metode pengikatan yang dilakukan pada beban dan juga
sudut yang terbentuk diantara dua (2) kaki sling sangat mempengaruhi kekuatan atau kapasitas
dari sling.
Kapasitas sling akan berkurang karena sudut yang terbentuk diantara dua (2) kaki sling dan juga
metode ikatan yang dipergunakan.
Untuk mendapatkan sudut kerja yang aman, maka jarak diantara lifting point pada beban tidak
boleh melebihi panjang dari sling.
Sudut maksimum yang direkomendasikan diantara dua (2) kaki sling adalah 90º dan pabila sling
yang dipergunakan lebih dari dua (2) sling, maka ketegangan yang dihitung hanya dua (2) kaki
sling.
Dalam kondisi dan situasi apapun, seorang rigger dilarang untuk menggunakan sling melebihi
kapasitas yang direkomendasikan. Dan penting untuk selalu memperhatikan kapasitas yang
sudah ditentukan oleh manufacture.
Kalkulasi Beban
Sebelum melakakukan pengangkatan, pastikan berat beban yang akan diangkat harus diketahui
berat pastinya.
Apabil akan menghitung berat suatu benda atau beban, maka harus diketahui jenis dari beban
atau berat jenis beban atau barang tersebut.
Untuk mendapatkan berat beban yang sebenarnya, maka berat beban yang sudah didapat
harus dikalikan dengan berat jenis dari beban tersebut.
Persegi Panjang
P
W/T
T
OM : Pengukuran Luar ( P x L )
IM : Pengukuran Dalam ( P x L )
Silinder / Bulat
ID OD
W/T
Jika berat beban atau benda yang akan dipindahkan atau diangkat sudah diketahui, jika
beban akan diangkat menggunakan dua sling atau lebih, harus diperhatikan sudut yang
terbentuk diantara dua kaki sling, apabila beban / barang diangkat menggunakan empat
kaki sling, maka sudut pada kaki sling yang dihitung adalah sudut yang terbentuk
diantara dua kaki sling yang diukur secara diagonal atau menyilang.
Pada saat menghitung kapasitas maximum dari alat bantu angkat yang akan
dipergunakan maka harus diperhatikan jenis ikatan yang dipergunakan pada beban, jenis
ikatan sangat mempengaruhi kapasitas dari sling.
Formula =
Max. Load = WLL Sling x Angle Factor x Reeve Factor
Contoh =
Jika WLL Sling yang digunakan adalah 8 ton dan sudut diantara dua ( 2 ) kaki sling 60º
(1,73) serta iakatan yang dipergunakan pada beban berbentuk segi empat adalah ikatan
choker, maka maksimal beban yang mampu diangkat adalah 6,92 ton.
Apabila WLL sling yang dipergunakan adalah 5 ton, beban yang berbentuk bulat atau
silinder diikat dengan jenis ikatan choke, maka maksimum beban yang boleh diangkat
adalah 5,2875 ton.
90º
5t
?t
Ketegangan Sling
Perhitungan pada ketegangan sling atau WLL sling yang diperlukan untuk mengangkat
beban, dengan sudut yang terbentuk diantara dua (2) kaki sling dan jenis ikatan yang
dipergunakan untuk mengikat beban diketahui.
Formula =
WLL = Load : Angle Factor : Reeve Factor
Atau
Load
WLL =
Angle Factor x Reeve Factor
Contoh ;
Load = 4 ton
AF = 60º (1,73)
RF = 0,75 (beban bulat atau silinder)
WLL = W : AF : RF
= 4 : 1,73 : 0,75
= 3,082 ton
Jika beban 4 ton berbentuk bulat atau silinder dan ikat dengan jenis ikatan choker,
sedangkan sudut yang terbentuk diantara dua (2) sling adalah 60º, maka WLL sling yang
diperlukan adalah 3,082 ton.
60º
?t
4t
Load = 20 ton
AF = 60º (1,73)
RF = 0,5 (beban segi empat)
WLL = W : AF : RF
= 20 : 1,73 : 0,5
= 23,121 ton
Jika beban berbentuk segi empat seberat 20 ton, diikat dengan ikatan choker dan
membentuk sudut 60º diantara dua (2) kaki sling, maka WLL Sling yang diperlukan
adalah 23,121 ton.
60º ?t
20 t
Jika pada saat melakukan pengangkatan beban dengan menggunakan alat bantu angkat
lebih dari satu dan dipasang secara berurutan atau disambung, maka alat bantu angkat
Load = 6.3 T
Load = 6.3 T
Center of Gravity
Titik tengah keseimbangan pada beban pada saat diangkat sangat penting, ttitik tengah
keseimbangan pada beban harus berada dibawah dari hook secara tegak lurus sebelum beban
diangkat.
Titik tengah keseimbangan (center of gravity) berada pada titik dimana beban dalam keadaan
seimbang pada saat diangkat dan selama beban dipindahkan.
Untuk memastikan beban dalam kondisi seimbang sebelum diangkat, tempatkan atau posisikan
hook block berada diatas titik tengah keseimbangan pada beban, sehingga pada saat beban
diangkat tidak bergeser ataupun miring.
Jika sebuah beban berbentuk simetris, maka titik tengah keseimbangan akan berada pada titik
tengah dari beban.
Dan apabila sebuah beban tidak simetris, maka akan agak susah dalam menentukan titik tengah
keseimbangan, langkah paling mudah adalah dengan melakukan percobaan pengangkatan, dan
pada saat dilakukan percobaan beban dalam posisi miring, selanjutnya tarik garis lurus dari titik
tengah hook block kea rah titik tengah beban, kemudian selanjutnya lakukan pengaturan pada
alat bantu angkat (sling).
Titik keseimbangan pada beban akan selalu mengarah mendekati tanah atau landasan, oleh
sebab itu selalu tempatkan lifting point berada diatas dari titik tengah keseimbangan pada beban
(center of gravity) dan apabila lifting point berada di bawah dari titik keseimbangan pada beban
(center of gravity) maka beban akan bergeser atau miring dan bahkan bisa jatuh.
Apabila titik tengah keseimbangan pada beban (center of gravity) lebih dekat pada salah satu
sling, maka sling yang dekat dengan center of gravity akan menanggung beban lebih besar
dibandingkan dengan sling yang lainnya.
Lakukan pengaturan ulang apabila beban dalam posisi miring pada saat diangkat, untuk
menghindari pembebanan berlebihan pada salah satu sling.
Dalam usaha menciptakan rasa aman dalam pekerjaan pengangkatan dengan menggunakan
alat bantu angkat atau lifting gear, maka langkah pertama sebelum dipergunakan untuk tujuan
pemindahan beban, maka harus dilakukan pemeriksaan terhadap alat bantu angkat yang akan
dipergunakan.
Pemeriksaan pada alat bantu angkat / lifting gears meliputi pemeriksaan pada :
Identitas dari lifting gear / alat bantu angkat ; Pemeriksaan yang menyangkut identitas
dari alat bantu angkat / lifting gears antara lain ; manufacture, WLL / batas maximum
beban angkat atau rated load, diameter / lebar, panjang.
Kerusakan - kerusakan ; pada pemeriksaan terhadap kerusakan yang mungkin terdapat
pada alat bantu angkat / lifting gear dan yang mengharuskan alat bantu angkat / lifting
gears tidak dapat dipergunakan lagi.
Cara pengukuran diameter pada wire rope adalah dengan menggunakan vernie caliper yaitu
dengan cara mengukur diameter terluar terbesar dari wire rope, yaitu pada dua strand pada sisi
yang berlawanan.
Wear / Aus ; untuk keausan pada wire rope, batas maximum keausan yang diijinkan
adalah 1/3 dari diameter kawat terkecil.
Corrotion & Heat Damage ; kerusakan akibat korosi yang sudah merusak struktur dari
kawat, hal ini bisa diakibatkan karena kurangnya pelumasan pada wire rope dan wire
rope dipergunakan pada suhu diatas 400°F (204°C).
Wire Cuts / Kawat Putus ; jika jumlah kawat putus melebihi batas maximum yang
diperbolehkan, maka wire rope tidak boleh dipergunakan lagi untuk tujuan pengangkatan
beban. Batas maximum kawat putus pada wire rope tergantung pada penggunaannya,
berikut ini adalah batasan kawat putus pada wire rope sesuai fungsinya ;
Hight Stranding ; Kerusakan yang terjadi karena salah satu dari strand dalam kondisi
longgar atau salah satu strand menonjol keatas. Kondisi strand yang menonjol bersifat
permanen.
Bird Cage ; Kondisi wire rope dimana semua strand dalam kondisi longgar, hal ini bisa
diakibatkan karena pemasangan tali pada pulley yang terlalu kecil. Kondisi strand yang
longgar bersifat permanen.
Core Protrution ; jenis kerusakan dimana inti atau core dari wire rope menonjol keluar
melewati cela diantara strand.
Crushing ; kerusakan pada wire rope yang diakibatkan karena wire rope tertidih dengan
beban atau material.
Kink ; kerusakan karena adanya pembengkokan pada wire rope dan bersifat permanen.
Kerusakan pada jenis ini biasanya diakibatkan pemakain wire rope yang tidak tepat,
posisi wire rope yang masih terlilit sudah dibebani tanpa dirapikan terlebih dahulu.
3. Master Link ; Pemeriksaan pada master link (timble) terhadap kemungkinan terjadinya
kerusakan ; Wear, Twisted, Gouges, Crack, Bend, Elongation & Corrotion.
5. Attachment Hook ; pada pemeriksaan untuk attachment hook, ada beberapa yang harus
diperiksa; pengurangan diameter, pelebaran pada mulut hook (Opening Throat), Safety
Latch, Twisted, Bend, Crack & Nick / Gouges dan Identification Hook.
Batas maximum pengurangan diameter pada hook adalah 10% dari diameter awal atau
aslinya,dan untuk batas maximum pelebaran pada mulut hook atau opening throat adalah
5% dari lebar mulut hook awal atau aslinya. Jika batas maximum yang diperbolehkan sudah
dilewati, maka hook tidak dapat dipergunakan untuk tujuan pengangkatan beban.
Chain Sling
Pada saat melakukan pemeriksaan pada chain sling, langkah pertama yang harus diperiksa
adalah kondisi chain sling secara menyeluruh, selanjutnya lakukan pemeriksaan terhadap :
1. Name Plate ; pastikan name plate dapat terbaca dengan jelas dan pastikan pada
name plate tertera : Identitas Chain Sling, Grade Chain, Panjang Chain Sling, WLL
Chain Sling dengan berbagai jenis ikatan dan variasi sudut yang dapat dipergunakan.
2. Panjang Chain Sling ; untuk melakukan pemeriksaan pada panjang chain sling,
lakukan pengukuran dari sisi dalam dari master link bagian atas sampai dengan sisi
dalam dari hook atau attachment lainnya atau pengukuran dari arah sebaliknya.
3. Hammer Lock ;
a
c
Pastikan kerusakan – kerusakan yang terjadi pada chain, seperti ; Crack, Gouge,
Bend, Corrotion, Twisted, Alongation, Wear.
Untuk batas maximum korosi pada chain adalah ;
Berikut ini jenis – jenis kerusakan yang terdapat pada chain sling ;
Synthetic Sling
Selanjutnya lakukan pemeriksaan terhadap kondisi fisik synthetic sling terhadap kerusakan yang
memungkinkan terdapat pada synthetic sling ;
2. Heat Damage ; kerusakan yang diakibatkan oleh panas yang berlebihan, dimana
mengakibatkan perubahan pada structure dari synthetic sling.
3. Cuts ; kerusakan anyaman pada synthetic sling yang diakibatkan oleh gesekan benda
atau sisi benda / beban yang tajam, jika pada structure dari synthetic sling terdapat
anyaman yang putus, maka synthetic sling tidak dapat dipergunakan lagi untuk tujuan
pengangkatan beban.
4. Broken / Worn Stitches ; Jenis kerusakan dimana ada jahitan yang lepas atau putus
pada bagian loops atau mata dari synthetic sling.
5. Weld Splatter ; Jenis kerusakan pada synthetic sling yang diakibatkan oleh percikan api
dari pekerjaan pengelasan, dimana pada bagian dari structure synthetic sling mengalami
kerusakan akibat percikan api dari pekerjaan pengelasan.
6. Abration Damage ; Salah satu jenis kerusakan yang terdapat pada synthetic sling,
dimana pada bagian dari anyaman atau serat pada synthetic sling mengalami abrasi
atau pengikisan yang diakibatkan gesekan dengan material lain. Apabila abrasi sudah
sampai memutus serat atau anyaman pada synthetic sling, maka synthetic sling tidak
dapat digunakan lagi untuk tujuan pekerjaan pengangkatan.
7. Acid Damage ; Kerusakan pada synthetic sling akibat larutan asam yang berlebihan, jika
synthetic sling terkena larutan asam, maka anyaman pada synthetic sling akan menjadi
longgar dan synthetic sling akan mudah putus apabila jika dipakai untuk mengangkat
beban.
8. Puncture ; Kerusakan pada synthetic sling dimana pada bagian tengah dari synthetic
sling terdapat lubang atau mengalamai perenggangan. Jenis kerusakan ini biasanya
diakibatkan karena bersentuhan langsung dengan permukaan beban yang kasar atau
tidak rata.
9. Ilegrible / Missing Tag ; Kerusakan dimana identitas dari synthetic sling tidak dapat
terbaca dengan jelas atau tagging/identitas synthetic sling dari manufacture tidak ada
atau hilang.
Apabila pada saat melakukan pemeriksaan pada synthetic sling terdapat salah satu jenis
kerusakan diatas, maka synthetic sling tidak boleh dipergunakan lagi untuk pekerjaan
pengangkan beban dan synthetic sling harus dimusnahkan.
Shackle
Semua identitas diatas harus tertera dengan jelas pada body shackle dan selanjutnya lakukan
pemeriksaan terhadap kerusakan yang mungkin terdapat pada shackle.
1
Pemeriksaan terhadap kondisi fisik shackle meliputi;
1. Diameter Shackle / Bow ; batas maximum
pengurangan diameter shackle adalah 10%
dari diameter awal atau aslinya.
Apabila pada saat melakukan pemeriksaan terdapat kerusakan yang melebihi ketentuan, maka
shackle tidak boleh dipakai dalam pekerjaan rigging dan harus diberi tanda khusus yang
menandakan peralatan rusak atau dimusnahkan.
Eye Bolt
6
2
Eyebolt tidak diperbolehkan dilas atau dipanasi untuk tujuan apapun, jika sudah terdapat
kerusakan maka eyebolt tidak dapat dipergunakan lagi.
Eyebolt yang tidak memiliki identitas yang jelas tidak boleh dipergunakan untuk tujuan
pengangkatan .
Hoist Ring
Langkah pertama pada saat melakukan pemeriksaan pada alat bantu angkat adalah
memastikan bahwa identitas cukup jelas dibaca dan lengkap.
Pada Hoist Ring pastikan juga bahwa identitasnya cukup jelas terbaca, yang meleiputi ;
1. Manufacture
2. WLL / Kapasitas Angkat Maximum
3. Torque / Batas Maximum Kekencangan Baut pada Hoist Ring.
1
Selanjutnya lakukan pemeriksaan terhadap kondisi fisik
atau struktur dari Hoist Ring ;
1. Diameter Shank / Ring ; batas maximum keausan
pada shank / ring adalah 10% dari diameter awal
atau aslinya.
2. Swivel ; lakukan pemeriksaan terhadap fungsi
swivel terhadap gerakan memutar (360°).
3. Shoulder Pin ; lakukan pemeriksaan terhadap
gerakan Bail memutar 180°.
5
4. Bushing ; periksa kondisi bushing terhadap
kemungkinan terjadinya perbubahan pada struktur
dan fungsi.
2 3 5. Washer
6. Thread ; periksa kondisi thread dari kerusakan pada
4
thread, Bend, Wear Twisted dan kemungkinan baut
6
diganti dengan material lain
Turnbuckle
1
6 2
Referensi