BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kinerja
1. Definisi Kinerja
Kinerja merupakan salah satu aspek penting dalam organisasi.
Kinerja sering juga disebut sebagai prestasi kerja. Kinerja berasal dari kata
dalam bahasa inggris “performance” yang dapat diartikan sebagai
“penampilan”, “prestasi”, “pertunjukkan kerja” dan “pelaksanaan tugas”.
Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan organisasi adalah kinerja
dari organisasi itu sendiri. Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh
suatu organisasi atau pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya. Istilah kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau
tingkat keberhasilan dari individu ataupun kelompok individu (organisasi).
Menurut Mahsun ( Mahsun 2009 ; 25) “Kinerja (performance)
adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan / program / kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi
dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi
Berikut ini pendapat Otley dalam Mahmudi (Mahmudi 2007 ; 6)
tentang definisi kinerja:
“Kinerja mengacu pada sesuatu yang terkait dengan kegiatan
melakukan pekerjaan, dalam hal ini meliputi hasil yang telah dicapai
dari pekerjaan tersebut. Kinerja merupakan suatu konstruk yang
bersifat multidimensional dan pengukurannya juga bervariasi
tergantung pada kompleksitas faktor-faktor pembentuk kinerja
tersebut”.
12
13
Selanjutnya pengertian kinerja menurut Joko Widodo pada
hakekatnya berkaitan dengan tanggung jawab individu atau organisasi
dalam menjalankan apa yang menjadi wewenang dan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya. Kinerja adalah melakukan suatu kegiatan dan
menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil
seperti yang diharapkan. (Joko Widodo, 2005; 79)
Menurut Pedoman Penyusunan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia dalam
Widodo menyebutkan bahwa kinerja merupakan gambaran mengenai
tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/ program/ kebijakan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, misi, visi organisasi. (Widodo, 2005 : 79).
Sedangkan menurut Bernardin dan Russel dalam Ruky
mendefinisikan “Performance is defined as the record of outcomes
produced on a specified job function or activity during specified
timeperiod” (kinerja sebagai catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari
fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu
tertentu). (Ruky, 2002 : 15).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa kinerja organisasi dapat diartikan sebagai kemampuan organisasi
untuk melaksanakan kegiatan, aktivitas dan tugas-tugas yang menjadi
tanggung jawabnya dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya. Kinerja juga bisa dijelaskan sebagai gambaran
mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program
14
atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi
yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi.
Istilah kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau
tingkat keberhasilan individu maupun kelompok individu. Kinerja bisa
diketahui hanya jika individu atau kelompok individu tersebut mempunyai
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan ini
berupa tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak dicapai.
Tanpa ada tujuan atau target, kinerja seseorang atau organisasi tidak
mungkin dapat diketahui karena tidak ada tolok ukurnya.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja merupakan suatu konstruk multidimensional yang
mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut Mahmudi
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain:
a. Faktor personal atau individual, meliputi : pengetahuan, keterampilan
(skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang
dimiliki setiap individu;
b. Faktor kepemimpinan, meliputi : kualitas dalam memberikan dorongan,
semangat, arahan dan dukungan yang diberikan oleh manajer atau team
leader;
c. Faktor tim, meliputi : kualitas dukungan dan semangat yang diberikan
oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan sesama anggota tim,
kekompakan anggota tim dan keeratan anggota tim;
4. Faktor sistem, meliputi : sistem kerja, fasilitas kerja, infrastruktur yang
diberikan oleh organisasi, proses organisasi dan kultur kinerja dalam
organisasi;
5. Faktor kontekstual (situasional), meliputi : tekanan dan perubahan
lingkungan eksternal dan internal. (Mahmudi 2007; 20)
Sedangkan Soesilo dalam Hessel Nogi Tangkilisan mengemukakan
bahwa kinerja suatu organisasi birokrasi di masa depan dipengaruhi oleh
faktor-faktor berikut:
15
a. Struktur organisasi sebagai hubungan internal yang berkaitan dengan
fungsi yang menjalankan aktivitas organisasi.
b. Kebijakan pengelolaan, berupa visi dan misi organisasi.
c. Sumber daya manusia, yang berkaitan dengan kualitas karyawan untuk
bekerja dan berkarya secara optimal.
d. Sistem informasi manajemen, yang berhubungan dengan pengelolaan
data base untuk digunakan dalam mempertinggi kinerja organisasi.
e. Sarana dan prasarana yang dimiliki, yang berhubungan dengan
penggunaan teknologi bagi penyelenggaraan organisasi pada setiap
aktivitas organisasi. (Tangkilisan, 2005 : 180-181).
Berdasarkan uraian diatas, maka faktor-faktor yang diindikasi dapat
memepengaruhi kinerja organisasi yang menjadi lokus dalam penelitian ini
antara lain;
1. Faktor sumber daya manusia terkait dengan kapasitas, kualitas dan
kuantitas pegawai dimana SDM merupakan salah satu faktor vital yang
mempengaruhi keberhasilan organisasi.
2. Faktor sarana dan prasarana merupakan faktor vital sama halnya dengan
SDM yaitu terkait dengan teknologi peralatan, kualitas teknologi dan
kuantitas teknologi serta fasilitas penunjang yang mempermudah
manusia/organisasi dalam pencapaian tujuan (penyelesaian kerja).
3. Faktor komunikasi merupakan faktor yang terkait dengan komunikasi
antar pegawai, pembagian jobdesc, wewenang, tugas intern organisasi.
Sedangkan komunikasi ekstern organisasi yaitu komunikasi organisasi
dengan masyarakat dan PKL.
3. Penilaian Kinerja
Menilai kinerja organisasi sektor publik ternyata tidaklah semudah
seperti hanya menilai organisasi privat yang lebih berorintasi ke arah profit
motive. Jika pada perusahaan profit motive menilai kinerja biasanya cukup
dengan melihat keuntungan yang didapat, jika untung besar pastilah
16
kinerjanya baik. Sedangkan pada organisasi publik yang lebih mengarah
pada nonprofit orientation maka visi dan misinya masih abstrak. Seperti
yang dikemukakan oleh Mahsun (2009;21): “Pengukuran kinerja
organisasi sektor publik tidak bisa diukur dengan laba karena tujuan utama
organisasi ini bukan memperoleh laba tetapi meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, selain itu output organisasi pada umumnya bersifat intangible
dan indirect”
Kinerja dari organisasi atau individu dapat diketahui jika organisasi
ataupun individu tersebut telah mempunyai kriteria keberhasilan yang
telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan ini dapat berupa tujuan-tujuan,
target-target dan sasaran. Kriteria keberhasilan sangatlah penting karena
berfungsi sebagai tolok ukur penilaian kinerja. T. Hani Handoko (1995 ;
234) mengemukakan tentang penilaian kinerja: “Penilaian kinerja yaitu
sesuatu yang dilakukan dengan membandingkan antara pelaksanaan kerja
dengan standar-standar dan tujuan-tujuan organisasi”.
Whittaker dalam Mahsun menjelaskan bahwa pengukuran kinerja
merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk meningkatkan
kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. (Mahsun, 2009: 25-26).
Pengukuran kinerja mempunyai beberapa manfaat. Simon dalam
Mahsun menyebutkan bahwa pengukuran kinerja membantu manajer
dalam memonitor implementasi strategi bisnis dengan cara
membandingkan antara hasil aktual dengan sasaran dan tujuan strategis.
Dari manfaat ini dapat disimpulkan bahwa pengukuran kinerja adalah
suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan menilai
17
pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran, dan strategi
sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas
pengambilan keputusan dan akuntabilitas. (Mahsun, 2009 : 26)
Evaluasi kinerja dalam Widodo merupakan kegiatan untuk menilai
atau melihat keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi atau unit kerja,
dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang dibebankan kepadanya, karena
itu evaluasi kinerja merupakan analisis dan interprestasi keberhasilan dan
kegagalan pencapaian kinerja. (Widodo 2007:94)
Menurut Agus Dwiyanto bahwa penilaian kinerja merupakan suatu
kegiatan yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai ukuran
keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai misinya selain itu informasi
kinerja berguna untuk menilai seberapa jauh pelayanan yang diberikan
oleh organisasi tersebut mampu memenuhi harapan dan memuaskan para
pengguna jasa. (Agus Dwiyanto 2006; 47)
Penilaian merupakan usaha melihat hasil capaian dari suatu
aktivitas yang telah dilakukan oleh individu ataupun organisasi. Dalam
menilai diperlukan tolok ukur untuk mempermudah penilaian hasil
capaian, tolok ukur inilah yang disebut dengan indikator. Jadi indikator
merupakan alat untuk mempermudah seseorang dalam melakukan
pengamatan dan penilaian terhadap sesuatu hal yang ingin diketahui
hasilnya.
Dari berbagai hal diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran
kinerja mempunyai peran yang penting dalam pengembangan kapasitas
organisasi, mengukur tingkat keberhasilan program dan penentuan strategi
18
selanjutnya dalam melaksanakan tugas dan fungsi organisasi atau instansi.
Selain itu tanpa adanya pengukuran kinerja, maka tidak akan diketahui
mana yang harus dihargai serta dipertahankan dan mana yang harus
diperbaiki oleh organisasi atau instansi tersebut. Pengukuran kinerja pada
intinya dilakukan dengan membandingkan antara indikator yang dapat
berbentuk rencana, sasaran, standar tertentu, ataupun harapan dengan
realisasi yang sudah dilakukan oleh individu atau instansi tersebut.
Sehingga pada akhirnya dapat dilihat berapa besarnya gap yang terjadi.
4. Indikator Kinerja
Penilaian kinerja merupakan upaya untuk memperbaiki kinerja agar
lebih terarah dan sistematis. Maka dari itu dalam penilaian perlu adanya
indikator kinerja yang memudahkan dalam menilai tingkat ketercapaian
tujuan, sasaran dan strategi. Menurut Dwiyanto, dkk. Pengertian kinerja
organisasi dalam birokrasi publik secara lengkap dapat dilihat dari
beberapa indikator, yaitu sebagai berikut :
1. Produktivitas
Konsep produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efisiensi,
tetapi juga efektivitas pelayanan. Produktivitas pada umumnya
dipahami sebagai rasio antara input dengan output.
2. Kualitas Layanan
Isu mengenai kualitas layanan cenderung menjadi semakin
penting dalam menjelaskan kinerja organisasi publik. Banyak
pandangan negatif yang terbentuk mengenai organisasi publik muncul
karena ketidakpuasan masyarakat terhadap kualitas layanan yang
diterima dari organisasi publik. Dengan demikian, kepuasan masyarakat
terhadap layanan dapat dijadikan inidikator kinerja organisasi publik. 3.
Responsivitas Responsivitas adalah kemampuan organisasi untuk
mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda, dan prioritas
pelayanan, dan mengembangkan program-program pelayanan publik
sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat
responsivitas di sini menunjuk pada keselarasan antara program dan
kegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Responsivitas dimasukkan sebagai salah satu indikator kinerja karena
19
responsivitas secara langsung menggambarkan kemampuan organisasi
publik dalam menjalankan misi dan tujuannya, terutama untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Responsivitas yang rendah
ditunjukkan dengan ketidakselarasan antara pelayanan dengan
kebutuhan masyarakat. Hal tersebut jelas menunjukkan kegagalan
organisasi dalam mewujudkan misi dan tujuan organisasi-organisasi
publik. Organisasi yang memiliki responsivitas yang rendah dengan
sendirinya memiliki kinerja yang jelek pula.
4. Responsibilitas
Responsibilitas menjelaskan apakah pelaksanaan kegiatan
organisasi publik itu dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip
administrasi yang benar atau sesuai dengan kebijakan organisasi, baik
yang eksplisit maupun implisit. Oleh sebab itu, responsibilitas bisa saja
pada suatu ketika berbenturan dengan responsivitas.
5. Akuntabilitas
Akuntabilitas publik menunjuk pada seberapa besar kebijakan
dan kegiatan organisasi publik tunduk pada para pejabat politik yang
dipilih oleh rakyat. Asumsinya adalah bahwa para pejabat politik
tersebut karena dipilih oleh rakyat dengan sendirinya akan selalu
merepresentasikan kepentingan rakyat. Dalam konteks ini, konsep
akuntabilitas publik dapat digunakan untuk melihat seberapa besar
kebijakan dan kegiatan organisasi publik itu konsisten dengan kehendak
masyarakat banyak. Kinerja organisasi publik tidak hanya bisa dilihat
dari ukuran internal yang dikembangkan oleh organisasi publik atau
pemerintah, seperti pencapaian target. Kinerja sebaiknya harus dinilai
dari ukuran eksternal, seperti nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam
masyarakat. Suatu kegiatan organisasi publik memiliki akuntabilitas
yang tinggi kalau kegiatan itu dianggap benar dan sesuai dengan nilai
dan norma yang berkembang dalam masyarakat. (Agus Dwiyanto, 2006
: 50-51).
Sementara itu Lenvine dalam review literatur yang diketemukan
oleh Ratminto dan Atik dalam buku “Manajemen Pelayanan”
mengemukakan tiga konsep yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur
kinerja organisasi publik, yakni responsivitas (responsiveness),
Responsibilitas (responsibility) dan akuntabilitas (accountability).
1) Responsiveness atau responsivitas ini mengukur daya tanggap providers
terhadap harapan, keinginan dan aspirasi serta tuntutan customers.
2) Responsibility atau responsibilitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan seberapa jauh proses pemberian pelayanan publik itu
dilakukan dengan tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang telah
ditetapkan.
20
3) Accountability atau akuntabilitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan seberapa besar tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan
pelayanan dengan ukuran-ukuran eksternal yang ada di masyarakat dan
dimiliki oleh stakeholders, seperti nilai dan norma yang berkembang di
masyarakat. (Ratminto & Atik, 2005:175)
Selain itu Zeithaml, Parasuraman & Berry (1990) dalam Ratminto
& Atik juga mengungkapkan beberapa indikator kinerja, yaitu : tangibles,
reliability, responsiveness, assurance, empathy.
a) Tangibles atau ketampakan fisik, artinya petampakan fisik dari gedung,
peralatan, pegawai, dan fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki oleh
providers.
b) Reliability atau reliabilitas adalah kemampuan untuk menyelenggarakan
pelayanan yang dijanjikan secara akurat.
c) Responsiveness atau responsivitas adalah kerelaan untuk menolong
customers dan menyelenggarakan pelayanan secara ikhlas.
d) Assurance atau kepastian adalah pengetahuan dan kesopanan para
pekerja dan kemampuan mereka dalam memberikan kepercayaan
kepada customers.
e) Empathy adalah perlakuan atau perhatian pribadi yang diberikan oleh
provider kepada costumers. (Ratminto & Atik, 2005:175-176)
Menurut Ratminto dan Atik, aspek kinerja dapat dikelompokkan
menjadi dua macam, yaitu aspek kinerja yang berorientasi pada proses dan
aspek kinerja yang berorientasi pada hasil. Aspek-aspek tersebut dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1. Ukuran yang berorientasi pada hasil:
a) Efektivitas
Efektivitas adalah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, baik itu
dalam bentuk target, sasaran jangka panjang maupun misi organisasi.
Akan tetapi pencapaian tujuan ini harus juga mengacu pada visi
organisasi.
b) Produktivitas
Produktivitas adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan
pemerintah daerah untuk menghasilkan keluaran yang dibutuhkan
oleh masyarakat.
c) Efisiensi
Efisiensi adalah perbandingan terbaik antara keluaran dan masukan.
Idealnya Pemerintah Daerah harus dapat menyelenggarakan suatu
jenis pelayanan tertentu dengan masukan (biaya dan waktu) yang
sesedikit mungkin. Dengan demikian, kinerja Pemerintah Daerah
21
akan menjadi semakin tinggi apabila tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan dapat dicapai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan
dengan biaya yang semurah-murahnya.
d) Kepuasan
Kepuasan, artinya seberapa jauh Pemerintah Daerah dapat
memenuhi kebutuhan karyawan dan masyarakat.
e) Keadilan
Keadilan yang merata, artinya cakupan atau jangkauan kegiatan dan
pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah harus diusahakan
seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diperlakukan
secara adil.
2. Ukuran yang berorientasi pada proses
a) Responsivitas
Adalah kemampuan provider untuk mengenali kebutuhan
masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, serta
mengembangkan program-program pelayanan sesuai dengan
kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat dapat dikatakan
bahwa responsivitas ini mengukur daya tanggap providers terhadap
harapan, keinginan dan aspirasi serta tuntutan customers.
b) Responsibilitas
Ini adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar tingkat
kesesuaian antara penyelenggaraan pemerintahan dengan hukum
atau peraturan dan prosedur yang telah ditetapkan.
c) Akuntabilitas
Ini adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar tingkat
kesesuaian antara penyelenggaraan pemerintahan dengan
ukuranukuran eksternal yang ada di masyarakat dan dimiliki oleh
stakeholders, seperti nilai dan norma yang berkembang di
masyarakat.
d) Keadaptasian
Keadaptasian adalah ukuran yang menunjukkan daya tanggap
organisasi terhadap tuntutan perubahan yang terjadi di
lingkungannya.
e) Kelangsungan hidup
Kelangsungan hidup artinya seberapa jauh Pemerintah Daerah atau
program pelayanan dapat menunjukkan kemampuan untuk terus
berkembang dan bertahan hidup dalam berkompetisi dengan daerah
atau program lain.
f) Keterbukaan/transparansi
Adalah bahwa prosedur/tatacara, penyelenggaraan pemerintahan dan
hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan umum wajib
diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami
oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta.
g) Empati
Empati adalah perlakuan atau perhatian Pemerintah Daerah atau
penyelenggara jasa pelayanan atau providers terhadap isu-isu aktual
yang sedang berkembang di masyarakat. (Ratminto & Atik,
2005:180-181)
22
Dari berbagai aspek yang telah dikemukakan diatas, peneliti dalam
penelitian ini akan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Ratminto
& Atik, (2005:175) dalam buku “Manajemen Pelayanan” mengemukakan
tiga konsep yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja organisasi
publik, yakni responsivitas (responsiveness), Responsibilitas
(responsibility) dan akuntabilitas (accountability).
Adapun alasan peneliti menggunakan teori ini, peneliti akan lebih
mudah dalam memaknai suatu fenomena ataupun gejala sosial. Teori akan
digunakan sebagai pembanding informasi yang didapatkan peneliti.
Dengan kata lain dalam penelitian kualitatif, teori berperan sebagai
penguat sehingga peneliti mampu menggali data penelitian secara
menyeluruh.
2.2 Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)
Berdasarkan PP Nomor 6 Tahun 2010 pasal 3, Satuan Polisi Pamong
Praja merupakan bagian perangkat daerah dibidang penegakan Perda,
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat yang dipimpin oleh seorang
Kepala Satuan dan berkedudukan dibawah dan bertangung jawab kepada
Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah.
Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Sampang Nomor 7 Tahun 2015
Pedagang kaki lima yang selanjutnya disebut PKL adalah seseorang yang
melakukan kegiatan usaha perdagangan dan jasa yang menempati
tempattempat prasarana kota dan fasilitas umum baik yang mendapat izin dari
pemerintah daerah maupun yang tidak mendapat izin pemerintah daerah
23
Selanjutnya, Yetty Sarjono (2005 ; 5) menjelaskan akan pedagang
kaki lima dari sudut pandang sosiolagi, bahwa: “Pedagang kaki lima ini
merupakan entitas sosial yang didalamnya terdapat pengelompokan menurut
karakteristik tertentu seperti etnik, bahasa, agama, adat istiadat, asal daerah
dan jenis kegiatan. Keragaman inilah yang di dalam konteks sosiologi dikenal
dengan istilah pluralisme.”
Sementara itu, Popkin, 1979 dalam bukunya Yetty Sarjono (2005;5)
menjabarkan bahwa pedagang kaki lima merupakan jaringan kerja sendiri
yang melalui mekanisme sosial tradisional seperti keluarga, ikatan
kedaerahan atau teknik, serta agama, untuk memperoleh peluang kerja. Atau
mereka dapat menjalin hubungan yang inten dengan sektor lain sehingga
mereka bisa diterima dengan kompe yang saling menguntungkan kedua belah
pihak. Demikian pula yang terjadi dengan banyaknya pedagang kaki lima
ditempat-tempat strategis di tengah kota, maka pemerintah kota tidak dapat
tinggal diam. Apalagi keberadaan mereka sudah tentu akan dapat
memberikan dampak positif terhadap pendapatan daerah apabila dikelola
dengan baik, terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkan.
Selain pengertian diatas, istilah PKL biasanya dikaitkan juga dengan
peralatan atau cara pedagang tersebut dalam berdagang. PKL biasa digunakan
untuk mengistilahkan pedagang yang menjajakan dagangannya dengan kereta
dorong. Kereta dorong tersebut memiliki 2 roda, dan jika berhenti harus
ditambah 1 tiang penyangga. Apabila dijumlahkan dengan 2 kaki orang atau
penjualnya, maka jumlah kaki atau roda atau tiang penyangganya adalah
berjumlah 5, sehingga disebut dengan istilah Pedagang Kaki Lima.
24
Selanjutnya, John Cross dalam bukunya Yetty Sarjono (2005;11)
mengatakan bahwa: “Pedagang kaki lima merupakan suatu bentuk usaha
sektor informal, dimana sektor ekonomi informal ini merupakan aktivitas
ekonomi yang cenderung berlangsung diluar norma-norma sektor ekonomi
formal transaksi ekonomi yang ditetapkan oleh negara dan praktik bisnis
formal.”
Sedangkan De Soto 1989 dalam buku yang sama mengatakan bahwa
Sektor informal dalam hal ini pedagang kaki lima sebagian terdiri atas
aktivitas enterpreneur yang tidak dapat berkembang secara penuh karena
adanya cost of formality yang tinggi di negara tengah berkembang, karena
adanya peraturan yang rumit dan memakan biaya serta waktu yang lama
dalam pengurusannya.
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Arik Restu Cahyo Susilo (2013) yang
berjudul “Peran Satuan Polisi Pamong Praja Dalam Penataan Tempat Usaha
Pedagang Kaki Lima Di Sekitar Wilayah Pasar Keputran Kota Surabaya”.
Hasil dari penelitian ini adalah: 1. Memberikan suatu kebijakan kepada
pedagang kaki lima untuk berjualan di sebagian jalan. 2. Peran Satpol PP
dalam Pelaksanaan kebijakan pemeliharaan dan penyelenggaraan
ketentraman dan ketertiban Pedagang Kaki Lima disekitar Pasar Keputran
Kota Surabaya sudah berperan. 3. Pelaksanaan kebijakan penegakan
Peraturan belum berperan dengan baik. 4. Dalam hal penataan Pedagang Kaki
Lima di wilayah sekitar pasar Keputran, pihak Satuan Polisi Pamong Praja
hanya berkoordinasi dengan pihak Satuan Polisi Pamong Praja Kecamatan 5.
25
Pelaksanaan pengawasan terhadap masyarakat agar mematuhi dan menaati
Perda belum berperan.
Penelitian berikutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Fredi
Anton Saputro (2013) yang berjudul “Peranan Satuan Polisi Pamong Praja
Dalam Mengimplementasikan Peraturan Daerah Tentang Pedagang Kaki
Lima Di Surakarta”. Hasil dari penelitian ini adalah 1) Peranan Satpol PP
dalam pelaksanaan Perda tentang PKL adalah penertiban dan sosialisasi,
penertiban dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang sangat baik. 2) Kendala
yang dialami Satpol PP dalam penataan PKL di Kota Surakarta.
Dari berbagai penelitian yang pernah dilakukan diatas ada persamaan
dan perbedaannya dengan penelitian yang penulis lakukan. Persamaan dengan
penelitian yang sudah ada yaitu mengenai Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol
PP), tetapi fokus penelitian berbeda-beda baik dari segi setting penelitian
ataupun pokok permasalahan yang diteliti yaitu dalam penataan tempat PKL
dan peraturan tentang PKL. Penulis melihat bahwa sejauh ini belum ada
penelitian yang membahas tentang peran Satuan Polisi Pamong Praja
(SATPOL PP) Kabupaten Sampang terhadap kenakalan pelajar di Kabupaten
Temanggung.