0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan11 halaman

Crossbreeding Sapi Simmental dan PO

Artikel ini membahas program persilangan antara sapi Simmental dengan sapi Peranakan Ongole untuk menghasilkan sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) yang memiliki produktivitas tinggi dan mampu beradaptasi dengan iklim tropis. Dibandingkan dengan sapi induknya, sapi SIMPO memiliki bobot badan, lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak yang lebih besar secara nyata.

Diunggah oleh

Ardian Fitra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan11 halaman

Crossbreeding Sapi Simmental dan PO

Artikel ini membahas program persilangan antara sapi Simmental dengan sapi Peranakan Ongole untuk menghasilkan sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) yang memiliki produktivitas tinggi dan mampu beradaptasi dengan iklim tropis. Dibandingkan dengan sapi induknya, sapi SIMPO memiliki bobot badan, lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak yang lebih besar secara nyata.

Diunggah oleh

Ardian Fitra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM CROSSBREEDING ANTARA SAPI SIMMENTAL DENGAN SAPI

PERANAKAN ONGOLE DAN PENILAIAN KEMAJUAN GENETIKNYA PADA


SIFAT KUANTITATIF

Crossbreeding Program of Simmental Cows with Ongole Breed Cattle and The Value of
Their Genetic Progress on Quantitative Traits

Maulana Yusuf Febrian


Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran,
Malang, 65145, Jawa Timur, Indonesia

Email: maulanayusuff@[Link]

RINGKASAN

Sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) merupakan hasil persilangan antara sapi
Simmental dengan sapi Peranakan Ongole melalui metode Inseminasi Buatan (IB) dengan
pasangan induk sapi Peranakan Ongole dengan pejantan sapi Simmental. Persilangan
tersebut menghasilkan ternak sapi yang memiliki produktivitas tinggi, dalam arti bobot
badan, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis yang cenderung panas. Tujuan dari
pembuatan artikel ini adalah untuk menunjukkan apakah ada perbedaan yang nyata terhadap
sifat kuantitatif sapi cross breed SIMPO dengan induknya sapi PO. bahwa rata-rata bobot
badan, Lingkar dada, Panjang Badan, dan Tinggi Pundak Sapi PO dan Sapi Simpo dengan
gigi seri berganti 2 di Kecamatan Terbanggi Besar berbeda sangat nyata (P<0,01).

Kata Kunci: Sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO), Sapi PO, Sifat Kuantitatif
PENDAHULUAN
a. Sapi Simmental

Berasal dari wilayah Swiss Simmental, sapi Simmental memiliki sejarah yang kaya dan
bermanfaat. Setelah awalnya digunakan sebagai hewan pekerja, ras ini telah menjadi bagian
penting dari pertanian sejak abad ke-17. Dengan tubuhnya yang besar dan berotot serta pola
warna yang mencolok dengan tubuh berwarna kuning hingga merah gelap dan bintik-bintik
putih ia sangat menarik secara visual dan profesional. Sapi Simmental berkembang menjadi
hewan ternak yang produktif seiring dengan perubahan kebutuhan pertanian (Wiener et al.
2003). Hewan ini dikenal karena kemampuannya menghasilkan daging berkualitas tinggi dan
susu yang melimpah. Dia telah menyebar ke banyak negara karena kemampuan untuk
beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan dan iklim (Menzi et al. 1987)

b. Sapi Peranakan Ongole (PO)

Sapi Peranakan Ongole adalah salah satu sapi lokal Indonesia yang sangat produktif
dan sehat. Sapi PO berasal dari persilangan sapi Jawa dengan sapi Ongole yang berasal dari
India yang dibawa ke Pulau Sumba sekitar tahun 1930. Sapi PO menjadi lebih mirip dengan
sapi Ongole murni (Hardjosubroto 1994). Sapi PO adalah jenis sapi dwiguna yang memiliki
kualitas dan kuantitas pakan yang terbatas. Mereka juga tahan terhadap penyakit parasit
karena udara panas dan lembap rendah dan area kering. (Aryogi et al. 2007), juga sapi PO
memiliki daya adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan peternakan tradisional (Astuti
2004; Desinawati dan Isnaini 2010; Nuryadi dan Wahjuningsih 2011; Siswanto et al. 2013).
Hasil penelitian Yulianto et al. (2014) melaporkan penampilan reproduksi sapi PO lebih baik
dan efisien dibandingkan dengan sapi Peranakan Limousin.
PEMBAHASAN
a. Crossbreeding

Crossbreeding merupakan metode pemuliaan tanaman atau hewan yang


melibatkan persilangan individu yang memiliki karakteristik genetik yang berbeda.
Proses ini bertujuan untuk menggabungkan sifat-sifat yang diinginkan dari dua
individu yang berbeda untuk menciptakan keturunan dengan kombinasi gen yang
lebih unggul. Keberhasilan crossbreeding sangat tergantung pada pemahaman
mendalam tentang sifat-sifat genetik yang dimiliki oleh individu yang akan
disilangkan. Pemilihan induk yang tepat berdasarkan karakteristik genetik yang
diinginkan sangat krusial dalam mencapai keberhasilan. Faktor-faktor seperti
kesesuaian lingkungan, keberlanjutan keturunan, dan perkembangan teknologi
biologi molekuler turut berkontribusi dalam meningkatkan tingkat keberhasilan
crossbreeding. Referensi penting untuk memahami konsep ini dapat ditemukan dalam
literatur ilmiah seperti "Principles of Plant Breeding" karya Robert W. Allard dan
"Animal Breeding: Principles and Practices" karya Warren E. Gwazdauskas, yang
memberikan wawasan mendalam tentang metodologi dan faktor-faktor yang
memengaruhi keberhasilan crossbreeding pada tanaman dan hewan.
Program pemuliaan melalui crossbreeding antara Sapi Simmental dan Sapi
Peranakan Ongole dengan inseminasi buatan (IB) telah menjadi strategi yang populer
untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan ternak sapi di berbagai daerah.
Simmental, dengan sifat adaptabilitas dan kemampuan produksinya yang tinggi,
dipasangkan dengan Peranakan Ongole yang terkenal karena ketahanan terhadap
kondisi iklim panas dan ketahanan penyakit (Buzankas et al. 2018). Hasil dari
persilangan ini diharapkan menggabungkan keunggulan genetika kedua ras tersebut,
menciptakan keturunan yang memiliki pertumbuhan yang cepat, efisiensi konversi
pakan yang baik, serta ketahanan yang optimal terhadap kondisi lingkungan yang
beragam (Thiruvenkadan et al. 2011)
b. Sapi Simmental Peranakan Ongole (Simpo)

Sapi Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) adalah keturunan dari persilangan


sapi Simmental dan sapi Peranakan Ongole yang dihasilkan melalui metode
inseminasi buatan (IB). Pasangan induk sapi Simmental dan pejantan sapi Simmental
digunakan untuk menghasilkan sapi Simmental. Mereka memiliki ciri-ciri yang mirip
dengan sapi PO atau Simmental, seperti: 1) bulu penutup badan berwarna putih
hingga coklat kemerahan, 2) kipas ekor, ujung hidung, lingkar mata, dan tanduk
berwarna hitam dan coklat kemerahan, 3) profil kepala datar, panjang, dan lebar,
dengan dahi berwarna putih, 4) tidak ada kalasa, 5) ada gelambir kecil, 6) postur yang
panjang dan besar, tubuh yang ramping, dan ekor yang lebar (Trifena., dkk, 2011).
Tujuan dari persilangan ini adalah untuk menghasilkan sapi yang produktif dalam hal
bobot badan dan mampu beradaptasi dengan iklim panas tropis (Suliani., dkk, 2017).
Dibandingkan dengan sapi simmental peranakan lainnya di Indonesia, sapi
Simmental Peranakan Ongole, atau Simpo, memiliki hasil silangan yang lebih baik,
termasuk bobot lahir, bobot sapih, kawin postpartum, dan jarak beranak. Karena
habitatnya yang lebih cocok di daerah dataran tinggi, sapi simmental peranakan
ongole banyak ditemukan di daerah dataran tinggi pulau jawa, terutama yang beriklim
sejuk. Respon fenotip yang tidak sesuai dengan potensi genetik sapi Simpo
ditunjukkan oleh kondisi udara panas dan pakan yang terbatas di daerah rendah
(Dudi., dan Dedi, 2017).

c. Karakteristik Kuantitatif Sapi PO dan Sapi Simpo


Perbandingan karakteristik kuantitatif antara kedua ras ini melibatkan aspek-
aspek seperti bobot badan, lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak.

Table 1. Perbandingan Sifat Kuantitatif Sapi Simpo dan Sapi PO


d. Sifat Kuantitatif
▪ Bobot Badan
Tabel 1 menunjukkan berat badan rata-rata sapi PO dan sapi Simpo
dengan gigi seri berganti 2 di Kecamatan Terbanggi Besar, yang menunjukkan
perbedaan yang sangat nyata di antara keduanya (P<0,01). Ini menunjukkan
bahwa sapi PO dengan gigi seri berganti 2 dan sapi Simpo dengan gigi seri
berganti 2 di Kecamatan Terbanggi Besar lebih kurus dibandingkan dengan
temuan penelitian Christoffor (2004), yang menemukan bahwa sapi PO
dengan gigi seri berganti 2 beratnya lebih rendah daripada sapi Bangsa ternak
memengaruhi berat badan ternak (Depison, 2002). Pertambahan bobot hidup
sapi Bos Taurus lebih baik daripada Bos Indicus. Faktor udara yang tinggi
dapat mempengaruhi tingkat konsumsi pakan pada ternak. Temperatur udara
di Kecamatan Terbanggi Besar yaitu 22,32-32,36 °C. Menurut Muntalib
(2002), suhu lingkungan ternak dapat mempengaruhi suhu tubuh ternak,
aktivitas organ organ tubuh, kegiatan merumput (makan) dan Produksi.
▪ Lingkar Dada
Rata-rata lingkar dada Sapi PO dan Sapi Simpo dengan gigi seri berganti
2 di Kecamatan Terbanggi Besar terdapat pada Tabel 1. Hasil uji-t
menunjukkan perbedaan yang sangat nyata antara lingkar dada sapi PO dan
sapi Simpo (P<0,01). Lingkar dada sapi PO dengan gigi seri berganti 2 kelas
I lebih besar dibandingkan dengan SNI (2015), dan lingkar dada sapi PO
dengan gigi seri berganti 2 kelas I lebih rendah dibandingkan dengan Agung
et al. (2014) (182,96 cm). Menurut Soeparno (2005), umur memengaruhi
pertumbuhan badan sapi dan bobot sapi. Pertumbuhan tubuh hewan
mempunyai peran penting dalam proses produksi karena pertumbuhan yang
cepat memungkinkan produksi yang tinggi.
▪ Panjang Badan
Perbandingan rata-rata panjang badan Sapi Simpo dengan gigi seri
berganti 2 menunjukkan bahwa hasil uji-t rata-rata panjang badan Sapi PO
dan Sapi Simpo yaitu berbeda sangat nyata (P<0,01). Lingkungan yang
nyaman bagi sapi dapat mempengaruhi termoregulasi tubuh mereka, yang
membantu mereka menghasilkan produksi yang paling tinggi. Menurut
Manurung (2008), laju pertumbuhan dipengaruhi oleh umur, lingkungan, dan
genetik. Fase pertumbuhan awal mempengaruhi fase pertumbuhan
berikutnya. Di Kecamatan Terbanggi Besar, panjang sapi PO dan sapi Simpo
dengan gigi seri berganti 2 kelas I rata-rata lebih pendek dibandingkan dengan
hasil penelitian SNI (2015). Menurut Agung et al. (2014) panjang badan Sapi
Simpo (129,71cm). Hal tersebut diduga perbedaan suhu lingkungan. Suhu
lingkungan di Kecamatan Terbanggi Besar yaitu sekitar 23,32— 32,360C
sedangkan menurut Kusnadi et al. (1992) menyatakan kisaran suhu yang baik
untuk pemeliharaan sapi di Indonesia yaitu 18-28°C.

▪ Tinggi Pundak
Hasil uji-t dari data tabel 1 untuk sapi PO dan sapi Simpo dengan gigi
seri berganti 2 di Kecamatan Terbanggi Besar menunjukkan perbedaan yang
signifikan dalam tinggi pundak kedua jenis sapi, yaitu sangat nyata (P<0,01).
Pengukuran pada tubuh ternak dapat digunakan untuk menentukan apakah
ternak sedang mengalami pertumbuhan atau tidak. Tinggi pundak diukur dari
titik tertinggi pundak hingga belakang scapula tegak lurus ke tanah, menurut
Sarbaini (2004). Tinggi pundak sapi PO dengan gigi seri berganti 2 kelas I,
133 cm, rataratanya lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian SNI
(2015). Rata-rata tinggi pundak Sapi Simpo dengan gigi seri berganti 2 di
Kecamatan Terbanggi Besar lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Agung et al. (2014) yaitu 119,40 cm.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik
kuantitatif sapi PO dan sapi Simpo jantan dengan gigi seri berganti 2 masing-masing sangat
berbeda nyata (P<0,01).
DAFTAR PUSTAKA
Budisatria, I.G.S. and Hartatik, T., 2011. Perubahan fenotip sapi Peranakan Ongole,
Simpo, dan Limpo pada keturunan pertama dan keturunan kedua (Backcross).
Buletin Peternakan, 35(1), pp.11-16.

Buzanskas, M. E., Grossi, D. A., Ventura, R. V., Schenkel, F. S., Chud, T. C. S., Silveira,
F., ... & Munari, D. P. (2018). Accuracy of genomic predictions in Bos indicus
(Nellore) cattle. Genetics, Selection, Evolution, 50(1), 53.

Christoffor, W.T.H.M. and Baliarti, E., 2008. Kinerja Reproduksi Induk Sapi Silangan
Simmental Peranakan Ongole dan Sapi Peranakan Ongole Periode Postpartum.
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan, 6(2), pp.45-53.

Depison. 2002. Nilai heritabilitas bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh serta nilai
pemuliaan pejantan yang digunakan dalam inseminasi buatan pada induk sapi
Bali di Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Bunga Tebo. Jurnal Ilmiah Ilmu-
ilmu Peternakan. Vol 5 (1): 1- 20.

Dhita, N.T., Hamdan, M.D.I. and Adhianto, K., 2017. Karakteristik kualitatif dan
kuantitatif sapi Peranakan Ongol dan Sapi Simpo jantan pada gigi seri berganti 2
di Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal Riset dan
Inovasi Peternakan (Journal of Research and Innovation of Animals), 1(2), pp.28-
32.

Haryadi, S., Humaidah, N., Susilowati, S. and Setiyono, A., 2023. PENGARUH BODY
CONDITION SCORE (BCS) PADA SAPI SIMENTAL DAN PERANAKAN
ONGOLE TERHADAP KUALITAS SEMEN SEGAR. Dinamika Rekasatwa:
Jurnal Ilmiah (eJournal), 6(2).

Menzi, M., & Staiger, E. A. (1987). Simmental: Status and perspectives. Journal of Animal
Science, 65(6), 1593-1603.

Munthalib, R.A. 2002. Kajian beberapa faktor genetik dan non genetik terhadap
produktivitas kambing PE di Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi. Jurnal
Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. Vol 5 (3): 112-119.
Ngadiyono, N., Baliarti, E., Widi, T.S.M., Maulana, H. and Atmoko, B.A., 2019,
November. Effect of breed and initial body weight on daily weight gain of
Simmental Ongole Crossbred Cattle and Ongole Grade Cattle. In IOP Conference
Series: Earth and Environmental Science (Vol. 387, No. 1, p. 012044). IOP
Publishing.

Ongole, S.P., Evaluasi Program Pemuliaan Berdasarkan Parameter Genetik dan Fenotipik
Pada. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan, 9(3), pp.144-150.

Rahmat, D.D., 2018. Strategi Pemuliaan Sapi Potong Yang Berkelanjutan Untuk
Pemenuhan Kebutuhan Hewan Qurban (Sustainable Cattle Breeding Strategy for
Eid Al-Adha Sacrifice). JANHUS Jurnal Ilmu Peternakan Journal of Animal
Husbandry Science, 2(1), pp.19-25.

Sarbaini. 2004. Kajian keragaman karakteristik eksternal dan DNA mikrosatelit sapi
Pesisir Sumatera Barat (disertasi S3). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Siswanto, M., N. W. Patmawati, N. N. Trinayani, I. N. Wandia, & I. K. Puja. 2013.


Penampilan reproduksi sapi Bali pada peternakan intensif di instalasi pembibitan
Pulukan. J Ilmu dan Kesehatan Hewan. 1:11-15.

Standar Nasional Indonesia (SNI). 2015. Bibit Sapi Potong Peranakan Ongole SNI
7651.5:2015. Badan Standardisasi Nasional.

Suliani, S., Pramono, A., Riyanto, J. and Prastowo, S., 2017. Hubungan ukuran-ukuran
tubuh terhadap bobot badan sapi Simmental Peranakan Ongole jantan pada
berbagai kelompok umur di rumah pemotongan hewan sapi Jagalan Surakarta.
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan, 15(1), pp.16-21.

Thiruvenkadan, A. K., Karunanithi, K., Rajendran, R., & Ramasamy, S. (2011). Factors
influencing the improvement of Ongole cattle through selective breeding.
Tropical Animal Health and Production, 43(2), 437-442.

Yulyanto, C. A., T. Susilawati, & M. N. Ihsan. 2014. Penampilan reproduksi sapi


Peranakan Ongole (PO) sapi Peranakan Limousin di Kecamatan Sawoo
Kabupaten Ponorogo dan Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Jurnal Ilmu-
Ilmu Peternakan. 24(2):49-57.

Wiener, G., Hanotte, O., Ojango, J. M., & Rege, J. E. O. (2003). An up-date of the bovine
HapMap project. Animal Genetics, 34(3), 183-193.
BIOGRAFI PENULIS

Nama : Maulana Yusuf Febrian

Instansi : Universitas Brawijaya

Motto Hidup : “Tidak ada noda tidak belajar”

Anda mungkin juga menyukai