0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
192 tayangan8 halaman

Tanggung Jawab Orang Percaya dalam Iman

Dokumen tersebut membahas tentang tanggung jawab seorang Kristen dalam kehidupan sehari-hari, yang terdiri dari tanggung jawab terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, gereja, dan lingkungan. Tanggung jawab terhadap Tuhan meliputi penyerahan diri, kepatuhan, syukur, dan hormat. Tanggung jawab terhadap diri sendiri meliputi pertumbuhan rohani, membuang dosa, dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Diunggah oleh

Petrus Patabo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
192 tayangan8 halaman

Tanggung Jawab Orang Percaya dalam Iman

Dokumen tersebut membahas tentang tanggung jawab seorang Kristen dalam kehidupan sehari-hari, yang terdiri dari tanggung jawab terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, gereja, dan lingkungan. Tanggung jawab terhadap Tuhan meliputi penyerahan diri, kepatuhan, syukur, dan hormat. Tanggung jawab terhadap diri sendiri meliputi pertumbuhan rohani, membuang dosa, dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Diunggah oleh

Petrus Patabo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TANGGUNG JAWAB ORANG PERCAYA (KRISTEN)

Tujuan:
Agar mengerti dan memahami apa yang menjadi tangung jawab orang percaya, sehingga
menjadi pribadi-pribadi yang bertangunggung jawab dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap
Tuhan, Keluarga, Diri sendir, dan Geraja yang sesuai dengan Firman Tuhan.

1. Pengertian Tanggung Jawab


Menurut kamus umum bahasa Indonesia Tanggung jawab adalah kesadaran manusia
akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Atau,
sikap menerima tugas dengan segala konsekuensinya, kemudian melakukannya dengan
setia.
Apa kata Alkitab tentang Tanggung Jawab? Menurut Bilangan 11:11, tanggung jawab
berarti beban, sedangkan dalam ayat 14, tanggung jawab berarti tugas. Gal.5:6 ”Sebab masing-
masing orang memikul tanggung jawab sendiri”.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab orang percaya adalah
kewajiban, tugas, beban yang harus ditanggung dan dijalankan dengan setia dalam kehidupan
sehari-hari.

. Dasar Kita bertangung Jawab


A. Allah yang menjadi pemilik segala sesuatu yang ada.
Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah pemilik atas alam semesta, sebab Ia yang
menciptakannya (Kej. 1:1; Yoh. 1:3). "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan
dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan
menegakkannya di atas sungai-sungai" (Maz. 24:1-2). Sebab Ia yang menjadikan kita, maka kita
menjadi kepunyaan-Nya juga (Maz. 100:3). Allah menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaan-
Nya (Yes. 43:7; Kol. 1:16; Wahyu 4:11) dan kesenangan-Nya (Maz. 149:4).

B. Manusia dipercayakan Tuhan untuk mengurus segala CiptaanNya


Menurut Kej. 1:28; 2:7, Manusia diberi tanggung jawab untuk mengolah bumi, berkuasa
dan memelihara ciptaan Allah yang lain. Tanggung jawab ini hanya diberikan kepada manusia
bukan kepada ciptaan lainnya. Ini berarti manusia mendapat tugas untuk mengatur seluruh alam
dan kehidupan di muka bumi ini.

C. Manusia akan mempertangung jawabkan semua yang di lakukan ( Pkh. 12:14)


Kita sendiri sebagai orang-orang percaya harus memberikan pertanggungjawaban kepada
Allah. Kita harus memberitahukan kepadaNya apa yang telah kita perbuat dengan apa yang Dia
percayakan kepada kita (I Korintus 3:13-15). Rasul Paulus merasakan beratnya tanggung jawab
yang besar ini ketika ia berseru, "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!" (I Korintus
9: 16).
Macam-macam tanggung jawab
Berdasarkan pembagiannya tangung jawab manusia dibagi menjadi tenggung jawab terhadap
Allah, diri sendiri, sesama, keluarga, gereja, bangsa dan negara.

1. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ALLAH


Setiap manusia mempunyai tanggung jawab kepada Allah. Tangung jawab manusia kepada
Allah adalah sebagai berikut:

a. Mempersembahkan Diri dan Milik Kita (Rom. 12:1-2)


Kata mempersembahkan berarti memisahkan sesuatu untuk maksud tertentu. Apabila ini
dipakai dalam hubungan kita dengan Allah, itu berarti memberikan diri dan milik kita kepada
Allah. Yesus menuntut hal yang sama pada waktu Ia berkata, "Berikan kepada Allah apa yang
wajib kamu berikan kepada Allah" (Matius 22:21).

b. Menaati Allah
Ketaatan kepada Allah adalah penyerahan kehendak kita kepada kehendak- Nya. Ini adalah
lebih baik dari apa pun juga yang dapat kita lakukan untuk memperkenankan Allah (I Samuel
15:22). Kita juga harus sering berkata, " ... tetapi bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-
Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42). Tetapi sementara kita belajar, kita boleh berharap pada
pertolongan Roh Kudus, sampai kita mampu untuk berkata, "Aku suka melakukan kehendak-
Mu, ya Allahku!" (Mazmur 40:9).

c. Mengucap Syukur ( 1 Kor. 1:14, Kol 3:15-17, 1 Tes. 5:18)


Betapa baiknya Allah sebagai pemilik! Ia adalah pemilik segala sesuatu, tetapi Ia juga
memberikan segala sesuatu kepada semua orang (Kis. 17:25). Ia juga telah berjanji untuk
"mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia" (Roma 8:32). Karena itu
seharusnyailah kita mengucap syukur kepada-Nya sebab walaupun kita tidak memiliki apa-apa,
Ia memperkenankan kita memperoleh segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Dalam bersyukur kita
menyenangkan Dia sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kita (Kolos 3:15; I Tesalonika
5:18).

d. Penyerahan Diri Sendiri


Jika Allah adalah pemilik kita yang mutlak, maka yang paling tepat bagi kita ialah tunduk
kepada-Nya. Seekor lembu mengenal pemilik dan karena itu menurut kepadanya. Apa lagi kita,
sebagai makhluk-makhluk yang berakal budi, kita harus tunduk kepada Allah! Kiranya Tuhan
tidak perlu berkata kepada kita sebagaimana yang dikatakan-Nya kepada Israel, "Urnat-Ku tidak
memahaminya" (yesaya 1:3).

e. Memberi Hormat
Apabila kita hidup bagi Dia, kita menghormati Dia sebagai pemilik hidup kita.
Akibatnya, Ia juga akan menghormati kita, penatalayan-Nya yang setia (I Samuel 2:30). Sebab
itu kita harus menghormati Dia dengan perkataan dan perbuatan kita. Dalam Maleakhi 1:6-8 kita
baca bagaimana nabi Maleakhi menegur para imam Israel dengan keras karena sikap mereka
yang tidak hormat terhadap Allah. Mereka tidak memperlakukan pemimpin-pemimpin mereka
dengan cara yang sedemikian.
f. Menunjukkan Ketaatan
Sebagai pemilik kita, Allah melaksanakan sifat Ketuhanan-Nya atas kita. Ia adalah Tuhan
dan kita adalah hamba-Nya. Ini berarti bahwa kita harus menaati Dia. Jika kita menaati
pemimpin-pemimpin dunia, maka kita harus lebih lagi menaati Dia yang adalah Tuan atas segala
Tuan! Tetapi, bisa saja seseorang menyebut Allah "Tuhan" tanpa bersedia menaati Dia (Lukas
6:46). Sikap seperti ini adalah tidak jujur dan munafik. Di Israel, seseorang dengan rela dapat
menjadi hamba terus selama tuannya memperlakukannya dengan baik (Keluaran 21:5-6). Allah
telah memperlihatkan diri-Nya sebagai seorang Tuan yang baik terhadap kita. Jadi, adalah masuk
akal apabila kita dengan rela menjadi hamba-Nya yang taat untuk selamanya.

2. TANGGUNGJAWAB TERHADAP DIRI SENDIRI


Bagaimana Caranya bertanggung jawab bagi diri sendiri?
a. kita harus memperhatihan Pertumbuhan Rohani
Seperti kita dilahirkan ke dunia ini sebagai seorang bayi, "dilahirkan kembali" saat kita
percaya dalam Yesus Kristus (Yoh. 3:1-16) dan seperti kita juga bertumbuh dari seorang anak
menjadi seorang yang dewasa, begitu pulalah kita akan tumbuh dalam kehidupan Kekristenan
kita. Kita dipanggil untuk menjadi dewasa/matang dan karena panggilannya adalah untuk
mencapai kedewasaan seperti Bapa kita yang di surga (Mat. 5:48),hal ini tidak pernah lengkap
dalam hidup kita (Flp. 3:12-15).
b. Orang Kristen bertanggung jawab untuk membuang dosa (Titus 2:12).
Dosa menghambat berkat Allah. Dosa membutakan mata rohani orang percaya untuk
melihat dan melakukan kehendak Tuhan. Setelah menerima Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat, kita menjadi "manusia baru". Ada hal-hal yang memalukan yang tidak pantas
dilakukan oleh orang percaya yang sudah lahir baru dan menyandang gelar manusia baru (Efesus
4:20-31).
c. Hidup Menurut Rencana Allah
Saudara tidak perlu menyelesaikan persiapan saudara sebelum saudara mulai hidup
menurut rencana Allah. Kita harus hidup untuk Tuhan, dan bukannya untuk diri kita sendiri,
sebab kita adalah milik Tuhan (Roma 14:7-8). Inilah salah satu segi dari penatalayanan
seseorang.
d. Bekerja
Kerja adalah bagian yang penting dari kehidupan Kristen. Ketika Allah menciptakan
manusia, Ia menempatkannya dalam taman Eden untuk mengolahnya (Kejadian 2:1S). Taman itu
akan menghasilkan makanan yang ia butuhkan jika ia mengolahnya dan memeliharanya
(Kejadian 2: 16). Rasul Paulus mengulangi prinsip ini ribuan tahun kemudian di dalam
ucapannya, "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (II Tesalonika 3: 10). Tetapi,
Allah juga menghendaki agar kita bekerja supaya kita dapat menolong mereka yang
berkekurangan (Efesus 4:28). Sebab itu, saudara harus bekerja dengan jujur, dengan segenap
hati (Efesus 6:5 -7; Kolese 3:23), seperti untuk Tuhan.
j. Berbuat baik
Allah ingin agar kita memakai kehendak kita, bukan saja untuk menghasilkan keinginan-
keinginan yang baik, tetapi yang terutama ialah menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik
(Yakobus 1:22; Matius 5: 16). Paulus berkata, "Marilah kita berbuat baik kepada semua orang"
(Galatia 6: 10).
l. Memakai tubuh demi Kemuliaan Allah

Janganlah saudara memakai tangan untuk mencuri atau memukul tetangga saudara

(Efesus 4:28), janganlah memakai kaki saudara untuk pergi ke tempat-tempat yang

mencurigakan, janganlah juga memakai mulut saudara untuk berbohong dan mengeluarkan kata-

kata yang kotor dan keji (Efesus 4:25,29; 5:4). Janganlah saudara memakai mata saudara untuk

memandang hal-hal yang tidak pantas atau memandang seorang perempuan dengan maksud yang

tidak baik di dalam hati (Matius 5:28); janganlah memakai tubuh saudara untuk percabulan (I

Korintus 6: 13,18). Akan tetapi, cara yang terbaik untuk mengakui Allah sebagai pemilik tubuh

kita ialah dengan mempersembahkannya kepada Dia (Roma 6:13; 12:1l. Persembahan ini

meliputi penggunaan anggota-anggota tubuh kita untuk memuliakan dan melayani Allah (Roma

6:19; I Korintus 6:20).

o. Mempergunakan Waktu dengan Sebaik-baiknya


Tuhan memberikan waktu kepada kita untuk digunakan, sehingga waktu yang kita punya
bukanlah benar-benar milik kita, melainkan milik Tuhan. Bagaimana kita dapat menggunakan
waktu yang telah diberikan Tuhan dengan cara yang terbaik? (Maz. 90:12, Pengkhotbah 12:1,
dan Ef. 5:15-16).
Kita harus merencanakan bagaimana kita ingin menggunakan waktu , sebagaimana
Tuhan memimpin kita (Maz. 19:8). Kita harus mendaftar segala sesuatu yang ingin kita lakukan,
termasuk berdoa, belajar Alkitab, berbakti dan semua kegiatan kita.
Waktu untuk Berdoa: Bagian terpenting dari setiap hari adalah memulai hari bersama
dengan Tuhan (Maz. 5:4). Kita harus merencanakan untuk menyediakan waktu bersama-Nya
setiap pagi sebelum kita melakukan hal lainnya. Selama waktu itu kita akan memuji Tuhan dan
bersyukur atas berkat-berkat- Nya.
Waktu untuk Bekerja: "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan,
kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat
dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi (Pengkhotbah 9:10)."
3. TANGGUNGJAWAB MANUSIA TERHADAP KELUARGA
Bagaimana Caranya bertanggung jawab bagi keluarga?
Setiap orang percaya juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam rumah
tangga Kristen (Markus 10:2-12; Efesus 5:21-6:4; 1 Petrus 3:1-7). Hal ini sangatlah penting
karena setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus.
a. Tanggung Jawab dalam Pernikahan
Alkitab mengajar dengan pasti bahwa Allah menghendaki pernikahan di dalam hidup kita
(Markus 10:2-12). Satu masalah yang sangat serius yang dihadapi orang-orang pada masa ini
ialah bahwa perpisahan dan perceraian sudah menjadi masalah yang dihadapi seluruh dunia, baik
oleh para suami istri Kristen maupun para suami istri bukan Kristen. Tetapi Alkitab berkata,
"Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Markus 10:9). Para suami
dan istri Kristen harus berusaha hidup menurut Alkitab. Mereka tentunya akan mengalami masa-
masa sulit dalam pernikahan mereka. Mereka harus membuat janji setia dalam pernikahan dan
mencari jalan keluar untuk setiap permasalahan yang mereka hadapi.

b. Tanggung Jawab dalam Hubungan Keluarga (Suami dan Istri serta Anak-anak)
Tuhan memberi suatu dasar untuk membangun rumah tangga Kristen yang kuat. Ia
berkata "dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus" (Efesus
5:21).
Orang Tua : Allah telah memerintahkan kepada para orang tua untuk mengajar, mendidik, dan
mengasihi anak-anak mereka (Efesus 6:4; Titus 2:4).
Anak-anak : kewajiban anak-anak ialah menaati orang tuanya (Efesus 6:1-3; Kolose 3:20).
Suami-suami : Allah menetapkan satu kewajiban utama kepada para suami: mengasihi isterinya
(Efesus 5:25; Kolose 3: 19).
Isteri-Isteri: isteri diberi kewajiban untuk Tunduklah kepada suamimu sebagaimana jemaat
tunduk kepada kepemimpinan Kristus (Efesus 5:22,24; Kolose 3:18; Titus 2:5; I Petrus 3:1,5)
dan Kewajiban lain yang telah Allah bebankan pada para isteri ialah Jadilah isteri-isteri yang
baik (Titus 2:5).

4. TANGGUNG JAWAB TERHADAP GEREJA


a. Bertanggung Jawab dalam Hal Bersaksi
Orang-orang Kristen adalah saksi dari apa yang telah Yesus lakukan untuk kita. Yesus
telah menyelamatkan kita dari dosa (Kisah Para Rasul 1:8; Kisah Para Rasul 4:18-20; Yohanes
15:8). "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu
akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung
bumi" (Kisah Para Rasul 1:8). Dalam ayat ini, Yesus memberikan perintah kepada setiap orang
Kristen untuk bersaksi, dimulai dari dalam kota atau kotanya sendiri dan kota berikutnya.
b. Bertanggung Jawab dalam Hal Memuridkan Orang Lain
"Jadikan semua bangsa murid-Ku" merupakan perintah yang dinyatakan Yesus dalam
Amanat Agung-Nya sebelum Dia naik ke surga (Matius 28:18-20). Sebab itu, setiap orang yang
menerima Kristus dipanggil untuk memuridkan orang lain yang belum mengenal Yesus. Supaya
bisa menjadikan murid, maka seseorang harus terlebih dulu mengalami proses menjadi seorang
murid.
Alasan lain mengapa kita harus memuridkan orang lain adalah untuk menghasilkan
orang-orang Kristen yang kuat yang akan membuat gereja-gereja menjadi kuat. Dalam 2
Timotius 2:2, mengajarkan bahwa pemuridan menolong untuk membuat orang-orang Kristen
menjadi kuat agar mereka juga memuridkan orang lain. Inilah buah yang tinggal tetap itu. Tujuan
dari pemuridan adalah, "Supaya kita boleh menampilkan orang- orang yang dewasa di dalam
Kristus" (Kolose 1:28).
c. Bertanggung Jawab Meningkatkan Keadaan Keuangan
Rencana keuangan untuk gereja sangat erat berhubungan dengan pemenuhan Amanat
Agung. Dalam kenyataannya, dengan tidak mengajarkan rencana keuangan bagi pekerjaan Allah
ini kepada orang-orang Kristen telah menimbulkan tiga kerugian:
1. Bagi orang-orang Kristen, sebab hal itu menyebabkan terhilangnya berkat Allah bagi mereka
yang turut serta dalam rencana-Nya.
2. Bagi gereja, sebab dengan demikian, gereja tidak mempunyai sumbersumber pendapatan yang
cukup untuk melaksanakan Amanat Agung.
3. Bagi gembala, sebab ia tidak akan menerima jaminan yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya.
d. Bertanggung Jawab ber ibadah dan bersekutu
Beribadah adalah pusat dari kehidupan seorang Kristen (1 Tawarikh 16:23-34). Seseorang yang
benar-benar mengasihi Allah tidak dapat hidup tanpa menyembah Tuhan, bukan untuk
mendapatkan sesuatu dari Dia, tetapi karena kita mengasihi-Nya. Kita menyenangkan hati Tuhan
saat kita menyembah-Nya melalui pujian penyembahan dan ucapan syukur. (1 Tawarikh 16:23-
24). "Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah
menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan." (1
Tawarikh 16:29)
"Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada, Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan!" (1
Tawarikh 16:28) Semua bangsa dipanggil untuk menghormati Tuhan. Di dalam Alkitab ada
waktu-waktu untuk penyembahan pribadi, tetapi lebih dititikberatkan pada penyembahan secara
berkelompok. (baca Mazmur 42:5 dan Ibrani 10:25).
Persekutuan adalah suatu bagian yang penting pada gereja mula-mula (Kisah Para Rasul
2:42). Itu berarti untuk berbagi dengan seseorang yang lain dan termasuk bukan hanya hal-hal
fisik (Roma 15:26; 2 Korintus 8:4; 9:13; Ibrani 13:16) tetapi juga hal-hal rohani (1Yohanes 1:3,
7). Persekutuan termasuk kumpulan penyembahan yang mana telah dibicarakan bagi individu-
individu di Bagian 1 dari Bab ini. Menyembah Tuhan bersama adalah suatu hasil pertumbuhan
dari penyembahan pribadi.
Persekutuan Rohani dengan orang percaya lainnya (2 Korintus 6:14) didasarkan atas
persekutuan kita bersama Yesus Kristus (1 Yohanes 1:7) dan dibawa melalui persekutuan kita
oleh Roh Kudus (2 Korintus 13:14). Hal itu dibangun pada iman (Filemon 1:6) dan membawa
kesatuan didalam Tubuh Kristus (Filipi 2:1-2). Kita dipanggil masuk kedalam persekutuan ini (1
Korintus 1:9) yang mana tidak dapat dicapai selagi kita masih berjalan didalam kegelapan (1
Yohanes 1:6).
5. TANGGUNGJAWAB MANUSIA TERHADAP SESAMA
a. Mengasihi Sesama Kita
Yesus mengajarkan bahwa mengasihi sesama itu adalah sama pentingnya seperti
mengasihi Allah (Matius 22:37-39; Markus 12:30,31). Sebagai orang Kristen, kita berkewajiban
untuk berbuat baik kepada setiap orang, dan terutama kepada mereka yang seiman dengan kita
(Galatia 6: 10). Artinya kita harus menolong saudara-saudara yang memerlukan pertolongan
(Kisah Para RasuI4:34; Yakobus 2:15,16; I Yohanes 3:17). Demikia, juga kita harus menolong
orang-orang yang tidak kita kenal (asing) (Matius 25:34-40; Yakobus 1:27).
b. Membagi Pengetahuan Saudara
Akal budi kita dapat membawa kemuliaan bagi Allah dan menjadi berkat bagi orang lain
jika kita membagikan apa yang kita ketahui. Beberapa cara untuk melakukan hal ini antara lain
ialah bersaksi tentang apa yang telah dikerjakan Kristus dalam hidup saudara (Kisah Para
Rasu123: 11), atau memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 8:4) dan mengajarkan Firman Allah (I
Timotius 4:6). Saudara juga dapat mengajarkan membaca kepada mereka yang buta huruf atau
membagikan kekhususan lain yang saudara miliki. Dapatkah saudara bermain musik? Ajarkan
kepada yang lain di gereja. Dapatkah saudara menjahit, atau menyulam? Ajarlah pengetahuan ini
pada kelompok kaum wanita dalam gereja saudara.
c. Mempengaruhi Masyarakat Kita
Murid-murid yang pertama dianggap sebagai orang-orang yang sangat berbahaya
terhadap tata masyarakat yang sudah ada. Bahkan mereka dituduh "mengancam seluruh dunia"
(Kisah Para Rasul 17:6). Orangorang Kristen dari jemaat yang mula-mula mempunyai pengaruh
terhadap masyarakat pada masa itu; kita juga dapat memberi pengaruh terhadap masyarakat kita.
Kita dapat membela keadilan dengan bersuara memerangi kejahatan masyarakat pada zaman
kita. "Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa" (Amsal 14:34).

Ayat Penutup Roma 14: 12 ;mat.12:36


Ciri –ciri orang yang tidak bertanggung jawab
- Selalu biki alasan, (terlambat masuk kerja)
- Suka menyalahkan/mengorbankan orang lain

Ciri-ciri orang yang bertanggung jawab

 Menepati setiap perkataan yang terucap/perkataanya dapat dipercaya


 Mampu menjaga kehormatan diri dan menghargai peraturan.
 Mampu berkomunikasi dengan baik.
 Tidak menyalahkan orang lain secara berlebihan.
 Berani meminta maaf sekaligus menanggung beban atas kesalahan yang dilakukan.
 Memegang teguh komitmen.
 Memilih jalan yang benar.
 Selalu memotivasi diri sendiri.
 Menjaga dan menghormati diri sendiri.
 Senantiasa bersikap waspada.
 Memiliki komitmen untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.

Common questions

Didukung oleh AI

Tanggung jawab terhadap diri sendiri melibatkan perhatian pada pertumbuhan rohani, membuang dosa, hidup menurut rencana Allah, dan menggunakan waktu secara bijaksana . Sedangkan tanggung jawab terhadap sesama menekankan pada mengasihi dan menolong orang lain, termasuk membagi pengetahuan dan mempengaruhi masyarakat secara positif . Dalam kehidupan sehari-hari, implikasinya adalah orang percaya harus bersikap bertanggung jawab pribadi sekaligus aktif dalam komunitas sosial untuk memberikan pengaruh positif dan menegakkan keadilan.

Ketaatan kepada Allah dianggap sebagai bentuk tanggung jawab tertinggi karena ini adalah penyerahan total kehendak manusia kepada kehendak Allah, yang lebih baik dari pengorbanan lain (1 Samuel 15:22, Lukas 22:42). Dibandingkan dengan tanggung jawab kepada keluarga atau gereja, tanggung jawab kepada Allah mengatur semua tindakan dan motivasi, memastikan bahwa dalam semua relasi dan tugas, kehendak Tuhan tetap menjadi prioritas utama. Ini mewakili integritas spiritual yang memandu cara hidup dalam batasan yang telah Allah tentukan .

Penatalayanan tubuh dalam Kekristenan dianggap penting karena tubuh adalah pemberian dari Allah yang harus digunakan untuk memuliakan Dia (I Korintus 6:19-20). Memahami penatalayanan tubuh berarti tidak menyalahgunakan anggota tubuh, tetapi menggunakannya untuk melakukan perbuatan baik dan pelayanan, mempersembahkannya sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1). Ini memastikan bahwa seluruh keberadaan orang percaya—fisik dan spiritual—diarahkan untuk memuliakan Allah, bukan mengikuti kedagingan. Dengan demikian, pemahaman ini menegaskan kemandirian spiritual dalam pelayanan dan tindakan sehari-hari.

Penggunaan waktu secara bijaksana dalam kerangka tanggung jawab Kristen merupakan aspek penting karena waktu adalah pemberian Tuhan yang harus digunakan untuk maksud yang memuliakan-Nya (Efesus 5:15-16). Memiliki rencana untuk aktivitas sehari-hari, termasuk waktu untuk berdoa, belajar Alkitab, dan berbakti, memastikan bahwa setiap tindakan dan keputusan selaras dengan kehendak Tuhan . Implikasinya bagi pelayanan dan kehidupan sehari-hari adalah agar orang percaya hidup secara efisien, seimbang, dan bertanggung jawab dalam semua segi kehidupan, termasuk dalam kontribusi terhadap komunitas gereja dan masyarakat secara keseluruhan.

Tanggung jawab dalam menyediakan kesejahteraan finansial bagi gereja sangat erat kaitannya dengan pemuridan karena dana yang cukup diperlukan untuk menjalankan amanat Kristus dalam memuridkan bangsa (Matius 28:18-20). Tanpa dukungan keuangan yang memadai, gereja tidak dapat sepenuhnya melaksanakan panggilan ini yang mengakibatkan hilangnya berkat Allah dan pengaruh positif dari komunitas gerejawi . Oleh karena itu, tanggung jawab keuangan ini menjadi sarana penting untuk memastikan pertumbuhan dan kesehatan spiritual gereja.

Menurut Alkitab, tanggung jawab dapat berarti beban dan tugas (Bilangan 11:11, 14). Ini mencerminkan kewajiban yang harus dilaksanakan dengan setia oleh orang percaya dalam kehidupan sehari-hari . Tanggung jawab ini didasari oleh keyakinan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu, dan manusia diberi mandat untuk mengelola dan memelihara ciptaannya (Maz. 24:1-2, Kejadian 1:28). Oleh karena itu, tanggung jawab orang percaya meliputi pemberian diri sepenuhnya kepada Allah dan hidup berdasarkan kehendak-Nya.

Dalam rumah tangga Kristen, tanggung jawab didistribusikan berdasarkan peran masing-masing sesuai panduan Alkitab. Suami memiliki kewajiban untuk mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri untuknya (Efesus 5:25). Sementara itu, istri diberikan tugas untuk tunduk kepada suaminya dalam ketakutan akan Kristus (Efesus 5:22). Urgensinya adalah membangun hubungan yang harmonis dan penuh kasih berdasarkan saling menghormati, yang esensial bagi kesejahteraan dan kesatuan rumah tangga serta berfungsi sebagai saksi hidup dari ajaran Kristus .

Kewajiban orang percaya untuk bersyukur kepada Allah berakar pada kenyataan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu dan hanya melalui-Nya kita diberi segala sesuatu (Kis. 17:25, Rom. 8:32). Bersyukur kepada Allah adalah inti penyembahan karena menunjukkan pengakuan atas keberadaan dan kemurahan-Nya yang melampaui semua keterbatasan manusia . Praktik bersyukur seharusnya diwujudkan dengan menyertakan ucapan syukur dalam doa-doa harian dan kehidupan sehari-hari, mengikuti nasihat Alkitab untuk selalu mengucap syukur dalam segala keadaan (1 Tes. 5:18).

Hubungan antara membuang dosa dan pertumbuhan rohani dalam kehidupan seorang Kristen sangat erat, karena dosa menghambat berkat Allah dan membutakan mata rohani untuk melihat dan mengikuti kehendak Tuhan (Titus 2:12). Proses ini krusial untuk pertumbuhan spiritual, yang mengarahkan orang percaya menjadi manusia baru, jauh dari perilaku dosa, dan berkembang ke arah kedewasaan spiritual (Efesus 4:20-31). Pengaruhnya pada pertanggungjawaban personal terletak pada kemampuan untuk hidup selaras dengan ajaran Yesus dan memanfaatkan setiap peluang untuk bertindak sebagai saksi yang setia, bertanggung jawab atas perbuatan kita di hadapan Allah .

Bersaksi merupakan peran fundamental dalam kehidupan seorang Kristen karena berfungsi sebagai pernyataan iman pribadi dan pengakuan publik terhadap keselamatan oleh Yesus (Kisah Para Rasul 1:8). Tanggung jawab bersaksi berkaitan dengan kepatuhan terhadap perintah untuk memberitakan Injil di mana pun berada, mulai dari komunitas lokal hingga internasional. Ini merupakan aspek vital dari tanggung jawab terhadap gereja dalam melaksanakan Amanat Agung, sekaligus memenuhi tanggung jawab untuk mengasihi sesama dengan berbagi kabar baik dan membawa orang kepada Kristus . Bersaksi menjadi sarana utama bagi pertumbuhan dan penguatan tubuh Kristus secara kolektif.

Anda mungkin juga menyukai