0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan175 halaman

Etika Sosial dalam Hadis di Pesantren

Skripsi ini membahas implementasi hadis-hadis etika sosial di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui transmisi hadis etika sosial di pesantren tersebut, pemahaman santri, dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Hadis-hadis etika sosial yang dibahas mencakup etika guru-murid, murid-guru, bertamu

Diunggah oleh

iqbal rahmat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan175 halaman

Etika Sosial dalam Hadis di Pesantren

Skripsi ini membahas implementasi hadis-hadis etika sosial di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui transmisi hadis etika sosial di pesantren tersebut, pemahaman santri, dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Hadis-hadis etika sosial yang dibahas mencakup etika guru-murid, murid-guru, bertamu

Diunggah oleh

iqbal rahmat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI HADIS-HADIS ETIKA SOSIAL: STUDI

LIVING HADIS DI YAYASAN PONDOK PESANTREN PUTRI


AL-FATHIMIYAH BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Kelulusan guna Memperoleh Gelar
Sarjana Agama ([Link].)

Oleh:
Mega Berlia Putri
NIM. 53030180018

PROGRAM STUDI ILMU HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SALATIGA

TAHUN 2022
i
Pernyataan keaslian

ii
Persetujuan pembimbing

iii
ENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi Saudari Mega Berlia Putri dengan Nomor Induk Mahasiswa
53030180018 yang berjudul Implementasi Hadis-Hadis Etika Sosial:
Studi Living Hadis di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan telah dimunaqosyahkan dalam Sidang
Majlis Ujian Munaqosyah Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora,
Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga pada tanggal 28 November 2022
dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh
gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Hadis.

Salatiga, 28
November 2022

Majlis Ujian Munaqosyah

Ketua Sidang
Sekretaris Sidang

Prof. Dr. Muh. Irfan Helmy, Lc.,


Suesthi Maharani, [Link].
M.A.
NIDT. 19901114 201608 2 001
NIP. 19740104 200003 1 003

iv
MOTTO

‫لًب‬ُْٛ ٘ َ‫ ا َِّْ اٌ َج ِط ًَ َوبَْ ص‬,ًُ ‫بط‬


ِ ‫ صَ َ٘كَ اٌ َج‬َٚ ‫لُ ًْ َعب َء اٌ َؾ ُّك‬َٚ

Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap”.
Sungguh yang batil itu pasti lenyap.

(Al-Isra‟: 81)

v
PERSEMBAHAN

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan hidup

kepada saya dan dengan segala nikmat yang diberikan akhirnya skripsi

ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini saya persembahkan untuk:

Ibuk Siti Mudrikah dan Bapak M. Abd. Wakhit yang selalu meridhai

semua langkah saya dan tidak pernah berhenti melangitkan do‟a untuk

semua anak-anaknya,

Dan untuk:

Ke-enam saudari saya, satu langkah akhirnya terselesaikan.

vi
ABSTRAK
Etika sosial dalam Islam disebut juga dengan akhlak karena sama-
sama membahas tentang ukuran baik dan buruknya suatu perbuatan yang
dilakukan manusia menurut Islam. Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah dikenal oleh masyarakat sebagai Yayasan Pesantren dengan
etika sosial yang baik dan di dalamnya diajarkan bagaimana tata cara
etika sosial diterapkan dalam pesantren sesuai dengan tradisi dan ajaran
Rasulullah saw. Dari pentingnya akhlak dalam kehidupan yang harus
diketahui dan diamalkan, maka Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah mengajarkan etika sosial yang bersumber dari Al-Qur‟an,
Hadis, dan juga kitab-kitab karangan ulama untuk membentuk pribadi
santri yang beretika sosial baik. Etika sosial mencakup etika terhadap
sesama yang bersangkutan pada hak dan kawajiban manusia. Etika yang
akan dibahas dalam penelitian ini adalah etika sosial terhadap sesama
yang ada di dalam pesantren yaitu etika guru terhadap murid, etika murid
terhada guru, etika bertamu, etika menerima dan melayani tamu, etika
berpapasan, dan juga etika terhadap [Link] dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui transmisi hadis etika social yang ada di YPPPi.
Al-Fathimiyah, untuk mengetahui pemahaman santri mengenai hadis-
hadis etika sosial, serta mengetahui bagaimana implementasi hadis etika
social yang terjadi dalam kehidupan sehari-harinya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis
penelitian lapangan (field research) dan memakai pendekatan living
hadis. Data primer yang digunakan adalah hasil wawancara bersama
pengasuh, ketua yayasan, guru, dan juga santri YPPPi Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan, dan juga kitab hadis diantaranya adalah
Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi.
Data sekundernya berupa buku-buku, jurnal skripsi, dan juga artikel yang
berkaitan dengan penelitian.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah adanya transmisi
pengetahuan hadis etika sosial dari awal berdirinya pesantren oleh KH.
Abdul Hadi Yasin (alm) hingga sekarang melalui pembelajaran
pesantren, pembelajaran formal dan dilaksanakan pada praktiknya seperti
vii
hak dan kewajiban guru dan murid seperti takdzimnya snatri kepada guru
dan pengasuh, tidak membeda-bedakannya murid satu dengan lainnya
oleh guru, etika bertamu seperti cara meminta izin dan cara masuk ke
dalam rumah, etika memuliakan tamu seperti menjamu dengan jamuan
terbaik, etika berpapasan dengan mengucapkan salam, berjabat tangan,
dan juga etika berteman seperti saling menyayangi, dan juga adanya
larangan bakhil.
Kata kunci: Implementasi, Hadis Etika Sosial, Living Hadis, YPPPi. Al-
Fathimiyah.

viii
PEDOMAN TRANSLITERASI
Pedoman transliterasi huruf (pengalihan huruf) dari huruf Arab ke huruf
Latin yang digunakan adalah hasil Keputusan Bersama Menteri Agama
RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 158 Tahun 1987
atau Nomor 0543 b/u 1987, tanggal 22 Januari 1988, dengan melakukan
sedikit modifikasi untuk membedakan adanya kemiripan dalam
penulisan.

A. Penulisan Huruf

No Huruf Arab Nama Huruf Latin


1. ‫ا‬ Alif Tidak dilambangkan
2. ‫ة‬ Ba‟ B
3. ‫د‬ Ta T
4. ‫س‬ Sa ṡ
5. ‫ط‬ Jim J
6. ‫ػ‬ Ha ḥ
7. ‫ؿ‬ Kha Kh
8. ‫د‬ Dal D
9. ‫ر‬ Zal Ż
10. ‫س‬ Ro R
11. ‫ص‬ Za Z
12. ‫ط‬ Sin S
13. ‫ػ‬ Syin Sy

ix
14. ‫ؿ‬ Sad ṣ
15. ‫ض‬ Dad ḍ
16. ‫ط‬ Ta‟ ṭ
17. ‫ظ‬ Za ẓ
18. ‫ع‬ „ain „ (koma terbalik di atas)
19. ‫ؽ‬ Gain G
20. ‫ف‬ Fa‟ F
21. ‫ق‬ Qaf Q
22. ‫ن‬ Kaf K
23. ‫ي‬ Lam L
24. َ Mim M
25. ْ Nun N
26. ٚ Wawu W
27. ٖ Ha‟ H
28. ‫ء‬ Hamzah „ (Apostrof)
29. ٞ Ya‟ Y

B. Vokal:
ََ Fathah A
َِ Kasrah I
َُ Dhammah U

x
C. Vokal panjang:
‫ا‬+ ََ Fathah + alif Ditulis “ā” ‫خ‬١ٍ٘‫عب‬ Jāhiliyah

Fathah + alif
ٜ+ ََ Ditulis “ā” ٝ‫رٕغ‬ Tansā
layyinah

ٞ+
ْ َِ Kasrah + ya‟ mati Ditulis “ī” ُ١‫ؽى‬ Hakīm

ْ َُ
ٚ+ Fathah + wawu mati Ditulis “ū” ‫ض‬ٚ‫فش‬ Furūd

D. Vokal rangkap:

ٞ+
ْ ََ Fathah + ya‟ mati Ditulis “ai” ُ‫ٕى‬١‫ث‬ Bainakum

ٚ+
ْ ََ Fathah + wawu mati Ditulis “au” ‫ي‬ٛ‫ل‬ Qaul

E. Huruf rangkap karena tasydid (ّ) ditulis rangkap:


ّ‫د‬ Ditulis dd ‫ػذّح‬ „Iddah

ّْ Ditulis nn ‫َِٕب‬ Minna

F. Ta’ marbuthah:
1. Bila dimatikan ditulis dengan h
‫ؽىّخ‬ Hikmah

xi
‫خ‬٠‫عض‬ Jizyah

(ketentuan ini tidak berlaku untuk kata-kata bahasa Arab yang sudah
diserap ke dalam bahasa Indonesia)

2. Bila ta‟ marbuthah hidup atau berharakat maka ditulis t:

‫صوبح اٌفطش‬ Zakāt al-fitr

ْ‫بح األٔغب‬١‫ؽ‬ Hayāt al-insān

G. Vokal pendek berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan


Apostrof (‘)
ُ‫أأٔز‬ A‟antum

‫أػذّد‬ U‟iddat

ُ‫ٌئٓ ؽىشر‬ La‟insyakartum

H. Kata sandang alif+lam


Al-Qomariyah ْ‫اٌمشا‬ Al-Qur‟ān

Al-Syamsiyah ‫اٌغّبء‬ Al-samā‟

xii
I. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat
Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya
‫ض‬ٚ‫ اٌفش‬ٞٚ‫ر‬ Żawi al-furūd

‫اً٘ اٌغّٕخ‬ Ahl al-sunnah

xiii
UCAPAN TERIMAKASIH
Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah SWT, yang telah
melimpahkan segala rahmat, nikmat, hidayah, dan inayahNya kepada kita
semua. Berkat rahmat dan nikmatNya, serta ketulusan hati, keikhlasan
niat, dan motivasi dari berbagai pihak sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Implementasi Hadis-
hadis Etika Sosial: Studi Living Hadis di Yayasan Pondok Pesantren
Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan”. Sholawat dan
salam kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad saw.

Terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari pihak-


pihak yang terlibat. Maka dari itu, sudah sepantasnya penulis utuk
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Zakiyuddin, [Link]., selaku Rektor UIN Salatiga


2. Bapak Prof. Dr. Benny Ridwan, [Link]., selaku Dekan Fakultas
Ushuluddon, Adab, dan Humaniora UIN Salatiga
3. Ibu Miftachur Rif‟ah Mahmud, [Link]., selaku Ketua Program
Studi Ilmu Hadis
4. Bapak M. Shofiyyudin, [Link].I., [Link]., dan Ibu Ghaida
Zukhruf Tsaniyatsnaini, [Link]., selaku Dosen Pembimbing
Akademik
5. Bapak Prof. Dr. Muh. Irfan Helmy, Lc., M.A., selaku Dosen
Pembimbing Skripsi yang selalu memberikan waktu, bimbingan,
arahan, dan motivasi selama proses penulisan skripsi sehingga
dapat terselesaikan dengan baik
6. Seluruh dosen dan karyawan di Fakultas Ushuluddin, Adb, dan
Humaniora, khususnya dosen pengajar di Program Studi Ilmu
Hadis
7. Bapak M. Abd. Wakhit dan Ibu Siti Mudrikah selaku orang tua
dan juga sahabat penulis, serta seluruh keluarga yang telah

xiv
memberikan dukungan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan baik studi maupun skripsi
8. Umi Hj. Choiriyah Hadi, serta seluruh Ustad-Ustadzah di YPPPi.
Al-Fathimiyah
9. Sahabat Gewo (Rimayatul, Hartiya, Dzikrul, Soraya, Asmaul,
Yhusnia, Zahrotul, Fairuza, Kuni, Fadhil), dan juga Abdi Prawiro
Arif yang telah memberikan dukungan, bantuan, serta motivasi
kepada penulis
10. Seluruh teman-teman Program Studi Ilmu Hadis angkatan 2018
atas kebersamaan dan pengalamannya selama kuliah
11. Segenap responden yang membantu proses penelitian serta semua
pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata baik, sehingga
saran dan masukan yang membangun sangat penulis harapkan. Penulis
berharap, semoga skripsi ini tidak berhenti sebatas tulisan yang bisa
dibaca, tapi juga sebagai sebuah karya yang dapat diamalkan.

Salatiga, 04 Oktober 2022


Penulis

Mega Berlia Putri

xv
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ............................................ ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................... iii

LEMBAR PENGESAHAN KELULUSAN ....................................... iv

MOTTO ................................................................................................. v

PERSEMBAHAN................................................................................. vi

ABSTRAK ........................................................................................... vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ...................................................... ixix

UCAPAN TERIMAKASIH .............................................................. xiv

DAFTAR ISI ...................................................................................... xvii

DAFTAR TABEL .............................................................................. xix

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... xx

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................. 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah.................................................... 6

xvi
C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 7

D. Manfaat Penelitian ....................................................................... 8

E. Kajian Pustaka.............................................................................. 9

F. Kerangka Teoretik...................................................................... 13

G. Metode Penelitian ...................................................................... 24

H. Sistematika Pembahasan ............................................................ 32

BAB II TEORI ETIKA SOSIAL ISLAM ......................................... 35

A. Etika Sosial dalam Islam ............................................................ 35

B. Hadis-hadis Etika Sosial ............................................................ 38

BAB III TEMUAN PENELITIAN .................................................... 61

A. Profil Lembaga ........................................................................... 61

B. Transmisi Pengetahuan Hadis Etika Sosial di Yayasan Pondok


Pesantren Putri Al-Fathimiyah ......................................................... 73

C. Pemahaman Hadis Etika Sosial di Yayasan Pondok Peantren Putri


Al-Fathimiyah .................................................................................. 82

xvii
BAB IV IMPLEMENTASI HADIS-HADIS ETIKA SOSIAL DI
YAYASAN PONDOK PESANTREN PUTRI AL-FATHIMIYAH ...
............................................................................................................. 105

A. Etika Guru dan Murid ............................................................. .105

B. Etika Bertamu .......................................................................... 107

C. Etika Menerima Tamu ............................................................. 109

D. Etika Bertemu atau Berpapasan ............................................... 110

E. Etika Terhadap Teman ............................................................. 111

BAB V PENUTUP ............................................................................. 113

A. Kesimpulan .............................................................................. 113

B. Saran..................................................................................... …115

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 117

LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................... 123

xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:77 ...................................... 41

Tabel 2.2 Biografi Perawi Hadis Muslim:4007 .................................. 43

Tabel 3.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5772 .................................. 46

Tabel 4.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5781 .................................. 47

Tabel 5.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5559 .................................. 50

Tabel 6.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5670 .................................. 53

Tabel 7.2 Biografi Perawi Hadis Abu Daud:5202 .............................. 55

Tabel 8.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5792 .................................. 57

Tabel 9.2 Biografi Perawi Hadis Muslim:6741 .................................. 59

Tabel 10.3 Jadwal Kegiatan Santri ..................................................... 65

Tabel 11.4 Transmisi Pengetahuan Hadis ........................................... 80

Tabel 12.4 Pemahaman Santri ............................................................ 99

xix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara .................................................... 123

Lampiran 2 Daftar Informan ............................................................. 129

Lampiran 3 Hasil Wawancara ........................................................... 130

Lampiran 4 Surat Izin Melakukan Penelitian ................................... 151

Lampiran 5 Surat Keterangan Telah Melaukan Penelitian ............... 152

Lampiran 6 Dokumentasi Pesantren ................................................. 153

Lampiran 7 Dokumentasi Wawancara .............................................. 155

xx
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah salah satu makhluk yang diciptakan oleh Allah
SWT di muka bumi ini yang tidak bisa terlepas dari makhluk
hidup lain. Manusia juga disebut sebagai al-insan al-kamil yang
mempunyai arti makhluk yang sempurna. Menurut Ibnu Arabi
seorang tokoh filsafat, al-insan al-kamil adalah bahwa manusia
itu sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya.1
Kesempurnaan wujud dan juga pengetahuan manusia adalah
merupakan perwujudan dari kesempurnaan Tuhan sebagai Sang
Pencipta.

Manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan mampu


memahami makhluk lain menunjukkan bahwa selain ia diciptakan
sebagai makhluk individu yang selalu memikirkan tentang
kebutuhan pribadinya, maka ia tidak bisa terlepas dari kehidupan
sosial dan bermasyarakat. Dalam proses kehidupan manusia
sebagai makhluk individu dan sosial maka dibutuhkan tata cara
berinteraksi kepada orang lain. Adanya tata cara berinteraksi
kepada orang lain ini bertujuan supaya tidak ada yang semena-

1
Akilah Mahmud, “Insan Kamil Perspektif Ibnu Arabi”, Jurnal Sulasena
(Vol.9, No.2/2014), 35.
1
mena kepada sesama karena derajat manusia itu sama di hadapan
Allah SWT dan yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Dalam Al-Qur‟an dijelaskan bahwa manusia memiliki


tugas penting sebagai hamba, hal tersebut dijelaskan dalam surat
Al-Baqoroh ayat 30, yang berbunyi:

ُ‫ُ ْف ِغذ‬٠ ْٓ َِ ‫ب‬َٙ ١ْ ِ‫ا أَرَغْ َؼ ًُ ف‬ْٛ ٌُ‫فَ ًۗخً َلب‬١ْ ٍِ ‫ض َخ‬ ِ ‫ ْاْلَ ْس‬ِٟ‫ َعبئِ ًٌ ف‬ِّٝٔ‫ ِإرْ لَب َي َسثُّهَ ٌِ ٍْ ٍَّئِ َى ِخ ِإ‬َٚ
َْْٛ ُّ ٍَ ‫ أَ ْػٍَ ُُ َِ َبْل ر َ ْؼ‬ِّٟٔ ‫ِط ٌَهَ ًۗ لَب َي ِإ‬ ُ ّ‫ُٔمَذ‬َٚ َ‫َٔؾْ ُٓ ُٔ َغ ِّج ُؼ ِث َؾ ّْذِن‬َٚ ًۗ ‫ ْف ِغهُ اٌ ِذّ َِ ؐب َء‬٠َ َٚ ‫ب‬َٙ ١ْ ‫ِف‬

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para


malaikat “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”.
Mereka berkata “Apakah Engkau hendak menjadikan
orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana,
sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan
namaMu?. Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.2

Ada tiga faktor yang mempengaruhi manusia sebagai


individu berinteraksi dengan manusia lain, yaitu:

a. Tekanan emosional. Yaitu keadaan psikologis manusia


apakah sedih, bahagia, dan sebagainya.

2
Al-Qur‟an Al-Quddus. Diterbitkan oleh CV. Mubarokatan Thoyyibah:
Kudus. [Link]-Baqoroh: 30.
2
b. Harga diri yang rendah. Keadaan seperti ini akan membuat
manusia membutuhkan kasih sayang dan juga moral dari
orang lain.
c. Isolasi sosial. Pada keadaan ini manusia membutuhkan orang
yang menurutnya sejalan atau sepemikiran dengan dirinya
sehingga dapat mengajaknya kembali bisa berinteraksi secara
normal dalam kehidupannya.3

Selain itu, dalam Islam sudah dijelaskan bagaimana cara


berinteraksi antara individu kepada individu lain yang disebut
etika hidup bermasyarakat. Beberapa etika hidup bermasyarakat
tersebut adalah etika bertetangga, adab bertamu, adab menerima
tamu, etika persaudaraan, dll. Dalam tafsir Al-Mishbah, Quraish
Shihab menjelaskan di dalam surat An-Nisa ayat 36 bahwa Allah
SWT memerintahkan hambaNya untuk berbuat baik yang
ditunjukkan kepada kedua orang tua, kerabat dekat, anak yatim
(yang belum dewasa), orang miskin, tetangga (baik dekat maupun
jauh), teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya.4 Bahkan
Rasulullah saw, diturunkan ke muka bumi dengan salah satu
tugasnya yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang juga

3
Siti An Nisau Khasanah, “Konsep Manusia Sebagai Makhluk Sosial Menurut
Muhammad Quraish Shihab”, Skripsi (Tulungagung: Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir
Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Satu Tulungagung, 2020), 47.
4
Tim Redaksi, “4 Etika dan Prinsip Bermasyarakat”, Dalam
[Link]
islam/ diakses pada tanggal 13 Juni 2022, pukul 21.45 WIB.
3
dijelaskan di dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan oleh
Imam Baihaqi dalam Sunan Baihaqi no.21301:

ُٛ‫ َؽذَّصََٕب اَث‬ٝ‫ ِذ ْثُٓ األَػ َْشا ِث‬١ْ ‫ع ِؼ‬ َ ُٛ‫ اَ ْٔ َجأََٔب أَث‬ِٝٔ‫ب‬َٙ ‫ص َج‬
ْ َ‫ف اْل‬ َ ‫ع‬ُ ُْٛ ٠ ُٓ‫ ُِ َؾ َّّ ِذ ْث‬ُْٛ ‫أ َ ْخ َج َشَٔب اَث‬
ُٓ‫ ِْض ْث‬٠‫ ٍس َؽذَّصََٕب َػ ْجذ ُ ْاٌ َؼ ِض‬ْٛ ‫ص‬ َ ‫ َؽذَّصََٕب‬ٜ
ُ ْٕ َِ ُٓ‫ذُ ْث‬١ْ ‫ع ِؼ‬ ُّ ‫ ٍذ ْاٌ َّ ْش‬١ْ ‫ػ َج‬
ُّ ‫ ِر‬ٚ‫س‬ٚ ُ ُٓ‫ ُِ َؾ َّّذ ُ ْث‬: ‫َث ْى ٍش‬
ِٝ‫صب ٌِؼٍ َػ ْٓ أَث‬ َ ِٝ‫ ٍُْ َػ ْٓ اَث‬١‫ ُِ َؾ َّّذ ُ ْثُٓ َػغْ ََلَْ َػ ِٓ ْاٌمَ ْؼمَبعِ ث ِْٓ َؽ ِى‬ِٝٔ‫ُِ َؾ َّّ ٍذ أ َ ْخجَ َش‬
ُ‫ إَِّٔ َّب ث ُِؼضْذ‬:َُ ٍَّ‫ع‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬
َ ِ‫ ُي هللا‬ْٛ ‫ع‬ُ ‫ لَب َي َس‬,َ‫ هللاُ َػ ُْٕٗ لَبي‬ٟ َ ‫ض‬ ِ ‫ َْشح َ َس‬٠‫٘ َُش‬
5
.‫َبس ََ ْاْلَ ْخ ََل ُق‬
ِ ‫ِْلُر َ ِ ّّ َُ َِى‬

Memberi kabar kepada kita Abu Muhammad bin Yusuf


al-Ashbahani, memberitahu kepada kita Abu Sa‟id bin al-
A‟robi, menceritakan kepada kita Abu Bakr Muhammad
bin Ubaid al-Marwurrudzi, meceritakan kepada kita Sa‟id
bin Manshur, menceritakan kepada kita Abdul Aziz bin
Muhammad, mengabarkan kepadaku Muhammad bin
Ajlan dari Qo‟qo‟ bin Hakim dari Abi Sholih dari Abu
Hurairah ra, berkata Rasulullah saw bersabda:
Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk
menyempurnakan akhlak.

5
Anonim, “Sunan Baiaqi Kabir no. 21301”, Dalam [Link]
diakses pada tanggal 2 Agustus 2022, pukul: 11.56 WIB. Menurut Al-Albani dalam “as-
silsilah ash-shohihah”, Al-Bukhari “al-adab al-mufrad”, ibnu Sa‟id dalam “at-
thobaqot”, al-Hakim, Ahmad, dan ibnu Asakir dalam “tarikh damasyuq”, dari jalan ibnu
Ajlan dar Qo‟qo‟ bin Hakim dari Abi Sholih dari Abu Hurairah itu marfu‟, hasan
sanadnya. Penilaian dari Imam Malik di Kitab al-muwattho‟ hadis ini mursal hasan al-
isnad maka hadis ini shahih. Dan penilaian dari ibnu Abdu al-bar “Ini Hadis shahih
muttashil min wujuhi shahih an abi hurairah wa ghoiruhu”.

4
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah saw
diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sehingga oleh
para ulama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi
tradisi di dalam majlis-majlis ilmu bahwa akhlak yang baik
merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Pesantren merupakan salah satu majlis ilmu yang


digunakan oleh para ulama selain sebagai tempat transmisi ilmu
pengetahuan, juga sebagai tempat mempraktekkan ajaran-ajaran
Rasulullah saw yang tidak bisa dilihat secara langsung dari kitab-
kitab atau sumber tertulis lainnya seperti cara berjabat tangan
ataupun cara duduk ketika bertamu, dll.

Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah adalah


sebuah lembaga pendidikan formal maupun non formal yang
berada di daerah pantai utara Pulau Jawa tepatnya di Desa
Banjaranyar, Paciran, Lamongan. Yayasan Pondok Pesantren
Putri Al-Fathimiyah dikenal oleh masyarakat sebagai Yayasan
Pesantren dengan etika sosialnya yang baik dan di dalamnya
diajarkan bagaimana tata cara etika sosial diterapkan dalam
pesantren sesuai dengan tradisi dan ajaran Rasulullah saw.
Setelah melaksanakan observasi lapangan maka peneliti
menemukan beberapa etika sosial yang bersumber dari hadis
Nabi, beberapa etika sosial tersebut adalah etika sosial
masyarakat di pesantren yang meliputi Bu Nyai, Kyai, guru, dan
5
juga santri yang sangat penting untuk diterapkan. Dari pentingnya
akhlak dalam kehidupan yang harus diketahui dan juga
diamalkan, maka penulis akan membahas tentang “Impementasi
Hadis-Hadis Etika Sosial: Studi Living Hadis di Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.”
Dengan adanya penelitian ini menjadi alternatif untuk lebih
mengenal etika sosial dan menghidupkan hadis-hadis Nabi saw.

B. Batasan dan Rumusan Masalah


Dalam penelitian ini, untuk membatasi masalah guna
menghindari adanya penyimpangan maupun pelebaran pokok
masalah agar penelitian lebih terarah dan tetap fokus, maka
peneliti membatasi masalah dalam hal-hal sebagai berikut:

1. Hadis-hadis etika sosial yang dibahas merupakan hadis etika


sosial yang diamalkan dalam keseharian sosial di YPPPi. Al-
Fathimiyah.

2. Etika sosial yang terkait adalah etika-etika keseharian yang


dilakukan oleh masyarakat pondok pesantren putri Al-
Fathimiyah yaitu Kyai, Bu Nyai, guru, dan santri.

3. Etika sosial yang akan dibahas meliputi etika guru dan murid
seperti hak dan kewajiban guru dan murid, etika bertamu dan
menerima tamu, etika bertemu atau berpapasan, dan juga etika

6
sesama santri seperti anjuran untuk saling menyayangi dan
juga adanya larangan ghosob.

Dengan adanya batasan masalah diatas, maka peneliti


merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana transmisi pengetahuan hadis yang ada di Yayasan


Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan?
2. Bagaimana pemahaman santri di Yayasan Pondok Pesantren
Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan
mengenai hadis-hadis etika sosial?
3. Bagaimana implementasi Hadis-hadis Etika Sosial dalam
kehidupan sehari-hari di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin peneliti capai dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana transmisi pegetahuan hadis


etika sosial di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan sehingga
pengetahuan hadis etika sosial dapat tersampaikan kepada
santri.

7
2. Untuk mengetahui bagaimana pemahaman santri terhadap
hadis-hadis etika sosial.
3. Untuk mengetahui implementasi Hadis-hadis Etika Sosial di
Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan.

D. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis,
diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
terhadap wacana keilmuan khususnya dalam studi living hadis
terkait dengan Implementasi Hadis Etika Sosial di Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan, dan dapat bermanfaat bagi seluruh civitas
akademika Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin,
Adab, dan Humaniora IAIN Salatiga sebagai bahan penelitian
terhadap studi living hadis.
2. Secara Praktis
Selain diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis,
penelitian ini juga diarapkan dapat memberikan manfaat
secara praktis, yaitu dapat bermanfaat bagi seluruh santri serta
guru di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah
8
Banjaranyar, Paciran, Lamongan dan juga mahasiswa UIN
Salatiga guna memahami Hadis-hadis Etika Sosial yang
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

E. Kajian Pustaka
Menjawab persoalan dan mencapai tujuan sebagaimana yang
telah ditulis diatas, maka perlu adanya tinjauan pustaka guna
mendapatkan kerangka berfikir yang tepat hingga dapat
memperoleh hasil sesuai yang diharapkan. Namun setelah
melakukan penelusuran penelitian terdahulu, belum ada hasil
penelitian yang membahas secara lengkap mengenai hadis etika
sosial yang diterapkan di pesantren secara lengkap. Maka dari itu
beberapa tinjauan pustaka yang akan digunakan adalah sebagai
berikut:

1. Skripsi Muhammad Ulil „Azmi UIN Walisongo Semarang.6


Dalam skripsinya yang berjudul “Pemahaman dan
Implementasi Hadis Takdzim Pada Santri Pondok Pesantren
Hidayatul Qulub Tambakaji Ngaliyan Semarang” yang
disusun pada tahun 2015 ini membahas mengenai
implementasi hadis takdzim yang dibagi menjadi tiga, yaitu
takdzim kepada kyai, takdzim kepada ilmu, dan takdzim kepada

6
Muhammad Ulil „Azmi. “Pemahaman dan Implementasi Hadis Takdzim Pada
Santri Pondok Pesantren Hidayatul Qulub Tambakaji Ngaliyan Semarang”, Skripsi
(Semarang: Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir UIN Walisongo, 2018).
9
teman. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman dan
implementasi hadis tentang takdzim yang sudah dijalankan di
pesantren Hidayatul Qulub. Hasil dari penelitian ini adalah
dengan diketahuinya bahwa santri memahami hadis takdzim
dengan pemahaman bahwa Nabi Muhammad saw telah
memerintahkan sekaligus memberikan contoh kepada umatnya
untuk selalu menyayangi yang lebih muda dan menakdzimi
yang lebih tua dengan cara tunduk dan patuh terhadap apa
yang diperintahkan, dikehendaki dan dikatakan oleh kyainya.
2. Skripsi Sumayya UIN Alauddin Makassar.7 Dalam skripsinya
yang berjudul “Implementasi Nilai-Nilai Akhlakul Karimah
Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Peserta
Didik di SMA Negeri 2 Pangkajene Kabupaten Pangkep” yang
disusun tahun 2014 bertujuan untuk bagaimana akhlakul
karimah siswa yang terbentuk melalui pembelajaran agama
islam dan bagaimana para siswa mengimplementasikannya
dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa implementasi nikai akhlakul karimah
melalui pembelajaran agama Islam yaitu nilai raligius, nilai
jujur, tasamuh, disiplin, kerja keras, demokratis, dll.,
diimplementasikan melalui berjabat tangan dan mengucapkan

7
Sumayya, “Implementasi Nilai-Nilai Akhlakul Karimah Melalui
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Peserta Didik di SMA Negeri 2
Pangkajene Kabupaten Pangkep”. Skripsi (Makassar: Program Pascasarjana Bidang
Pendidikan dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, 2014).
10
salam sewaktu bertemu teman, guru, maupun karyawan.
Melakukan tadarus sebelum pembelajaran dimulai,
melaksanakan sholat dhuha dan dhuhur berjamaah, dll.
3. Skripsi Masruroh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.8
Dalam skripsinya yang berjudul “Upaya Pengembangan Sikap
Sosial Santri di Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah Malang”
disusun pada tahun 2012 membahas tentang upaya penerapan
sikap sosial pada santri dan bertujuan untuk mengetahui upaya
pesantren dalam mengembangkan sikap sosial santri dan
faktor-faktor penunjang dan penghambat dalam pengembangan
sikap sosial yang dilakukan oleh pesantren kepada santri. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa upaya pengembangan sikap
sosial santri melalui beberapa cara yaitu; madrasah diniah yang
kurikulumnya ditentukan oleh pengasuh dengan menyesuaikan
kebutuhan santri, pengajian rutin dengan tausiah oleh
pengasuh, dengan adanya piket harian dan bakti sosial, dan
dengan adanya upaya-upaya tersebut dapat mengembangkan
sikap sosial santri.
4. Artikel Raihan Rasyid UIN Imam Bonjol Padang yang
diterbitkan dalam Indonesian Journal of Religion and Society
yang berjudul “Etika Kenabian dalam Kehidupan Sosial

8
Masruroh, “Upaya Pengembangan Sikap Sosial Santri di Pondok Pesantren
Al-Ishlahiyah Malang”. Skripsi (Malang: Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, 2017).
11
Menurut Muhammad Abdul „Aziz al-Khuly dalam Kitab al-
Adab an-Nabawy.”9 Dalam artikel ini Raihan Rasyid
menjelaskan dalam hasilnya tentang bagaimana akhlak
merupakan peranan penting dalam kehidupan sosial dan etika
kenabian menjadi persoalan penting di kehidupan sosial sehari-
hari yang dapat menjawab bagaimana seharusnya manusia
khususnya umat Islam berperilaku.
5. Annisa Nandya, jurnal Mudarrisa 2010 dengan judul “Etika
Murid Terhadap Guru (Analisis Kitab Ta‟lim Muta‟allim
Karangan Syaikh Az-Zarnuji).”10 Dalam analisisnya, Annisa
Nandya menjelaskan bagaimana etika terhadap guru yang
diajarkan di dalam kitab Ta‟lim Muta‟allim. Murid seharusnya
mempunyai sika wara‟ dalam beretika terhadap guru sehingga
menjadikan ilmu yang didapat mempunyai daya guna baik atau
bermanfaat. Hasil penelitian ini adalah tentang etika murid
terhadap guru dalam pross belajar mengajar ini sangat penting,
karena setiap murid, pelajar, atau siapa saja memiliki etika
yang baik, taat kepada orang alim (guru), maka dengan
harapan kalau dengan guru menjadikan ilmunya bermanfaat,
berkah bagi dirinya maupun orang lain.
9
Raihan Rasyid, “Etika Kenabian dalam Kehidupan Sosial Menurut
Muhammad Abdul „Aziz al-Khuly dalam Kitab al-Adab an-Nabawy”. Indonesian
Journal of Religion and Society (Vol. 03, No. 01, 2021).
10
Anisa Nandya, “Etika Murid Terhadap Guru (Analisis Kitab Ta‟lim
Muta‟allim Karangan Syaikh Az-Zarnuji).” Jurnal Mudarrisa (Vol. 02, No. 01, Juni
2010).
12
Dari beberapa karya ilmiah di atas dapat diketahui bahwa
belum ada karya ilmiah yang membahas tentang Implementasi
Hadis Etika Sosial secara keseluruhan. Dalam karya pertama
membahas tentang takdzim yang merupakan salah satu etika
sosial pesantren. Kedua, karya ilmiah yang membahas tentang
implementasi nilai-nilai akhlakul karimah, ketiga adalah karya
yang membahas tentang sikap sosial santri dan karya ilmiah
kedua serta ketiga bukan merupakan karya ilmiah prespektif
hadis, karya ilmiah ke empat menjelaskan mengenai etika
kenabian yang sangat diperlukan untuk penanaman nilai akhlak
dan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari, dan karya ilmiah ke
lima merupakan analisis dari kitab ta‟lim muta‟allim yang
membahas tentang etika murid terhadap guru dan tidak
membahas hadis-hadis yang ada di dalam kitab tersebut. Maka
dari itu, penulis akan membahas tentang Implementasi Hadis-
hadis Etika Sosial yang mengkaji tentang hadis etika sosial yang
dipraktekkan di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah.

F. Kerangka Teoretik
1. Etika Sosial

Etika sosial berasal dari kata etika dan social. Etika berasal dari
kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak
kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika berkaitan
dengan konsep yang dimiliki individu ataupun kelompok untuk
13
menilai apakah tindakan yang telah dilakukan benar atau salah,
buruk atau baik. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut
dengan self control, karena segala sesuatunya dibuat dan
diterapkan dari dan untuk kepentingan orang atau kelompok
profesi itu sendiri.11

2. Living Hadis

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori yang terkait


dengan objek penelitian yaitu menggunakan teori living hadis.
Living Hadis adalah suatu gejala yang nampak di masyarakat
berupa pola-pola perilaku yang bersumber dari respon sebagai
pemaknaan terhadap hadis Nabi saw.12 Objek dari kajian living
hadis adalah masyarakat, karena interaksi antara hadis dan
pengamalannya terjadi di dalam masyarakat.

Living hadis terbentuk dari Genealogi, Teori, dan


Aplikasi.13 Genealogi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas
dua kata, yaitu „genca‟ yang artinya keturunan, dan „logos‟ yang
artinya pengetahuan. Pada awalnya, genealogi membahas tentang
silsilah keturunan atau silsilah keluarga dan juga sejarahnya yang

11
Rosihan Adhani, Etika dan Komunikasi Dokter-Pasien-Mahasiswa
(Banjarbaru: PT Grafika Wangi Kalimantan, 2022), 25.
12
Suryadi, Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2009), 193.
13
Saifuddin Zuhri Qudsy, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi”.
Jurnal Living Hadis (Vol.1, No.1, Mei 2016), 177.
14
juga disebut degan genealogi biologis, bisa juga diartika plasma
pembawa sifat-sifat keturunan dan ilmu yang mempelajari tentang
keturunan. Genealogi juga bisa diartikan dengan yang saling
bergantung antara dua hal, yaitu yang muda berasal dari yang tua,
dan murid berasal dari gurunya.14 Jadi, sebagai salah satu
komponen adanya living hadis, genealogi dapat difahami sebagai
hal yang saling bergantung antara dua hal, yaitu transmisi
pengetahuan hadis dari yang tua ke yang muda atau dari guru ke
murid dan dari mana kemunculannya. Teori adalah hal yang bisa
digunakan, dan Aplikasi adalah tekniknya.15

Dalam masyarakat ada tiga bentuk variasi dari living hadis


yaitu tradisi lisan, tradisi tulis, dan tradisi praktek.16

1. Tradisi Tulis
Dalam perkembangan living hadis, tradisi tulis menulis sangatlah
penting. Tulis menulis tidak hanya sebatas sebagai bentuk
ungkapan yang sering dalam tempat-tempat yang strategis seperti
di bus, sekolahan, masjid, pesantren. dll. Ada juga tradisi yang
kuat dalam khazanah khas Indonesia yang bersumber dari hadis
Nabi seperti yang terpampang di tempat-tempat tersebut. Akan
14
Muhajirin, “Genealogi Ulama Hadis Nusantara”. Jurnal Holistic Al-Hadis
(Vol. 02, No. 01, Januari-Juni 2016), 92.
15
Saifuddin Zuhri Qudsy, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi”.
Jurnal Living Hadis (Vol.1, No.1, Mei 2016), 177.
16
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007), 114-116.
15
tetapi tidak semua yang terpampang berasal dari hadis Nabi, atau
diantaranya dianggap sebagai hadis Nabi di dalam masyarakat
dengan tujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme, menjaga
kebersihan dan menciptakan suasana yang nyaman seperti
“Kebersihan sebagian dari iman”, “ḥubbul waṭon minal īmān”,17
dan “Orang beriman membuang sampah pada tempatnya”.
Membahas dan memaknai hadis tidak bisa diartikan secara
tekstual belaka. Diperlukan membaca dan menelaah latar
belakang adanya hadis tersebut karena hadis tidak bisa berlaku
umum dalam semua keadaan. Maka dari itu, pemahaman terhadap
hadis Nabi harus dilakukan dengan pendekatan temporal, lokal,
dan kontekstual sebagaimana yang digagas oleh M. Syuhudi
Ismail.18
2. Tradisi Lisan
Tradisi lisan dalam living hadis sebenarnya muncul seiring
dengan praktik yang dijalankan oleh umat Islam.19 Contoh living
hadis tradisi lisan yaitu tradisi membaca qunut dalam sholat
Maghrib di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Hal
tersebut dilaksanakan di asrama al-Hikmah dan an-Najah yang
dipimpin oleh Bapak Syaiful. Beliau melaksanakan sholat

17
Ibid., 117.
18
Ibid., 118.
19
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007),122
16
Maghrib dengan qunut di rakaat terahir dengan berdasarkan
pada Hadis yang diriwayatkan oleh Barra‟ ra:
ُٓ‫ ْث‬ٚ‫ػ ّْ ِش‬َ ْٓ ‫ؽ ْؼجَخُ َػ‬ ُ َٚ َْ‫َب‬١‫ع ْف‬
ُ ْٓ ‫بْ َػ‬
ِ َّ ‫ِاٌش ْؽ‬َّ ‫ ٍذ َػ ْٓ َػ ْجذ‬١ْ ‫ع ِؼ‬
َ ُٓ‫ذ ُ هللاِ ْث‬١ْ َ‫ػج‬ ُ ‫أ َ ْخجَ َشَٔب‬
ُ َٚ َ‫ؽ ْؼجَخ‬
‫َبَْ لَب َي َؽذَّصََٕب‬١‫ع ْف‬ ُ ْٓ ‫ َػ‬َٝ١‫َ ْؾ‬٠ ‫ لَب َي َؽذَّصََٕب‬ٟ َ ‫ا َ ْخجَ َشَٔب‬َٚ ‫ُِ َّشح َ ػ‬
ٌّ ٍِ ‫ ْث ُٓ َػ‬ٚ‫ػ ّْ ُش‬
ُ‫ هللا‬ٍَّٝ‫ص‬ َّ ِ‫ة ا َ َّْ إٌَّج‬
َ ٟ ِ ‫بص‬
ِ ‫اء ث ِْٓ َػ‬
ِ ‫ػ ِٓ اٌجَ َش‬َ ٍَٝ١ْ ٌَ ِٟ‫ ْث ُٓ ُِ َّشح َػ ْٓ اث ِْٓ اَث‬ٚ‫ػ ّْ ُش‬ َ
ُّ ٌ‫ ا‬ِٟ‫َ ْمُٕذُ ف‬٠ َْ‫عٍَُّ ّوب‬
ِ ‫اٌ َّ ْغ ِش‬َٚ ِ‫صجْؼ‬
‫ة‬ َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ػ‬
َ
Mengabarkan kepada kami „Ubaidillah bin Sa‟id dari
Abdurrohman dari Sufyan dan Syu‟bah dari „Amr bin
Murrah (‫)ػ‬, dan menyampaikan kepada kami „Amr bin
„Ali dia berkata mengabarkan kepada kami Yahya dari
Syu‟bah dan Sufyan, mereka berkata „Amr bin Murrah
mengatakan kepada kami dari Ibnu Laila dari Barra‟ bin
„Azib “Sesungguhnya Nabi saw melakukan Qunut pada
sholat Shubuh dan Maghrib”. (HR. An-Nasa‟i).
Adapun qunut yang dibaca dalam sholat Maghrib
bukanlah qunut Nazilah melainkan qunut biasa seperti ketika
sholat Shubuh. Hal tersebut dengan alasan filosofisnya yaitu
qunut di waktu Shubuh adalah untuk memulai hari yang siang,
sedangkan qunut di sholat Maghrib karena untuk memulai hari
yang malam.20

20
Siti Qurrotul Aini, “Tradisi Qunut dalam Sholat Maghrib di Pondok
Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta (Studi Living Hadis), Jurnal Living Hadis (Vol.1
No. 2/2016), 237-238.
17
3. Tradisi Praktik
Tradisi praktik dalam living hadis cenderung banyak dilakukan
oleh umat Islam. Hal ini didasarkan atas sosok Nabi Muhammd
saw, dalam penyampaian ajaran agama Islam.21 Salah satu
contohnya adalah tradisi mandi balimau yang dilaksanakan di
daerah Kuntu, Riau. Tradisi tersebut digunakan sebagai salah satu
cara berbahagia menyambut datangnya bulan Ramadhan. Hal
tersebut dikaitkan dengan proses Islamisasi di daerah tersebut
karena tradisi mandi belimau sudah ada berabad-abad sejak
datangnya Islam di Iindonesia. Tradisi ini diyakini berdasar pada
salah satu hadis Nabi [Link] diyaini oleh masyhur masyarakat,
yang ditemukan dalam Kitab Durratun Na>shihi>n:
ِ ٌَّٕ‫ ا‬ٍَٝ‫غذَُٖ َػ‬
ََْ‫بسا‬ َ َِ ‫ ِي َس‬ْٛ ‫َِ ْٓ فَ ِش َػ ثِذ ُ ُخ‬
َ ‫ضبَْ َؽ َّش ََ هللا ُ َع‬
“Siapa lega hati menyambut kehadiran bulan Ramadhan, pasti
Allah mengharamkan tubuhnya atas neraka apa saja”.22
Tradisi tersebut merupakan perwujudan dari rasa syukur
masyarakat kepada Allah SWT., atas segala nikmat yang telah
diberikan kepada manusia.

Menurut Nyarminingsih dalam skripsinya menuliskan


bahwa living hadis merupakan kejadian yang terjadi di

21
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007), 125.
22
Dona Kahfi. MA. Iballa, “Tradisi Mandi Balimau di Masyarakat Kuntu:
Living Hadis Sebagai Bukti Sejarah”, Jurnal Living Hadis (Vol. 1, No. 2/2016), 285.
18
masyarakat baik dalam segi tradisi, ritual, atau perilaku yang
hidup di masyarakat serta praktik dalam sosial keagamaan yang
muncul atas dasar landasan hadis Nabi saw.23

Dari uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa suatu


pengamalan hadis dalam tradisi masyarakat terjadi karena adanya
transmisi hadis yang diamalkan secara turun-temurun dan juga
pemahaman dari suatu kelompok masyarakat tersebut mengenai
suatu hadis yang kemudian diamalkan. Jadi, living hadis
merupakan suatu fenomena masyarakat yang menerapkan hadis
ke dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan sosial
ataupun praktik keagamannya yang terjadi karena adanya
transmisi pengetahuan serta pemahaman hadis Nabi saw.

Dalam penelitian living hadis perlu adanya tahap-tahap


sebagai gambaran mengenai penelitian yang dilaksanakan.
Adapun tahap-tahap penelitian living hadis adalah sebagai
berikut:
a. Persiapan
Dalam tahap perisiapan penelitian living hadis kita harus
memastikan adanya fenomena sosial tentang hadis. Fenomena
tersebut harus benar-benar terjadi dan dapat diamati secara

23
Nyarminingsih, “Praktik Salat Awwabin: Studi Living Hadis di Pondok
Pesantren Al-Bahroniyyah Ngemplak, Mranggen, Demak.” Skripsi (Salatiga: Program
Studi Ilmu Hadis IAIN Salatiga, 2020), 13.
19
langsung bukan hanya diamati melalui video atau rekaman
yang diungga oleh orang lain. Setelah itu melakukan tinjauan
ulang terhadap penelitian-penelitian terdahulu, dan memiliki
teori untuk digunakan.24 Persiapan lain yang harus
dilaksanakan yaitu mengurus perizinan, memilih informan,
menyiapkan perlengkapan penelitian, dan mengetahui etika
dalam penelitian.25
b. Merumuskan dan memfokuskan masalah
Setelah melakukan survey lapangan dan literatur, langkah
selanjutnya adalah melakukan perumusan masalah yang
didahului dengan identifikasi masalah.26
c. Menentukan posisi penelitian dan memastikan orisinalitasnya
Hal ini sangat perlu dilakukan dengan tujuan memunculkan hal
baru yang belum pernah dikaji dalam penelitian sebelumnya.27
d. Merumuskan dan mendesain metodologi penelitian
Setelah masalah benar-benar jelas, maka kita harus
menentukan metode apa yang seharusnya kita lakukan agar
tujuan penelitian dapat tercapai.28
e. Proses pengumpulan data
24
Ahmad „Ubaydi Hasbillah, Ilmu Living Qur‟an Hadis Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi, (Tangerang: Unit Penerbitan Darus Sunnah, 2019), 270.
25
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2016), 127-134.
26
Ahmad „Ubaydi Hasbillah, Ilmu Living Qur‟an Hadis Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi, (Tangerang: Unit Penerbitan Darus Sunnah, 2019), 274.
27
Ibid., 280.
28
Ibid.,284.
20
Dalam melakukan pengumpulan data maka yang harus
diperhatikan adalah:
1. Mengenali jenis data yang dibutuhkan
2. Mengenali sumber-sumber data
3. Teknik sampling
4. Metode pengumpulan data
Dalam proses ini, data akan didapatkan dari observasi dan
dokumentasi yang dilakukan terhadap kegiatan sehari-hari dan
juga wawancara terhadap narasumber.29
f. Proses pengolahan data
Pengolahan data biasa disebut dengan analisis data, yaitu proses
peelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran, dan
verivikasi data dengan tujuan agar data yang diperoleh memiliki
nilai sosial, akademis, dan ilmiah.30
g. Penyajian dan penyusunan laporan penelitian
Data yang sudah diperoleh dari penelitian kemudian disajikan
dalam bentuk laporan penelitian.31 Adapun penjelasan
mengenai proses pengolahan dan penyajian data akan
dijabarkan dalam teknik analisis data.

29
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:CV. Remaja
Rosdakarya, 2016), 289.
30
Ibid., 296.
31
Ibid., 301.
21
Dalam kajian living hadis ada beberapa pendekatan yang
bisa digunakan. Beberapa pendekatan tersebut adalah:

a. Fenomenologi

Fenomenologi pada awalnya merupakan salah satu disiplin ilmu


dalam tradisi filsafat yang digagas oleh Edmund Husserl.
Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani phenomenon yang
bermakna sesuatu yang tampak, terlihat. Fenomenologi adalah
ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak dan merupakan
studi tentang makna yang fokusnya adalah mendeskirpsikan apa
yang sama pada semua partisipan ketika mereka mengalami
sebuah fenomena. Contoh penelitian fenomenologi adalah
penelitian Alfatih Suyadilaga yang membahas tentang
pemahaman fenomena joged sholawat mataram.32

b. Studi Naratif

Creswell dengan mengutip Czarniawska menjelaskan bahwa riset


naratif adalah suatu tipe desain kualitatif yang spesifik yang
narasinya difahami sebagai teks yang dituturkan atau dituliskan
dengan menceritakan tetang peristiwa/aksi atau rangkaian
peristiwa yang terhubung secara kronologis. Penelitian naratif

32
Saifuddin Zuhri Qudsi, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi”,
Jurnal Living Hadis (Vol.1, No. 1, Mei/2016), 189.
22
termasuk jenis penelitian yang jarang disentuh atau jarang
digunakan sebagai tugas akhir atau laporan penelitian.33

c. Etnografi

Merupakan penelitian mengenai kebudayaan suatu komunitas


masyarkat yang fokus pada sebuah kelompok yang memiliki
kebudayaan yang sama yang memungkinkan komunitas tersebut
kecil. Etnografi adalah suatu desain kualitatif di mana peneliti
mendeskripsikan dan menafsirkan pola-pola yang sama dari nilai-
nilai, perilaku, keyakinan, dan bahasa dari sebuah kelompok
berkebudayaan sama. Contoh penelitian etnografi dalam kajian
iving hadis adalah laporan penelitian Saifuddin Zuhri Qudsi
“Kisah dua keluarga: Sebuah Kajian etnografis (Memotret
Kebudayaan Islami Berdasar pada Teks Al-Qur‟an dan Hadis
pada Dua Keluarga di Yohyakarta).”34

d. Sosiologi Pengetahuan

Teori kontruksi sosial Berger dan Luckmann sebenarnya memiliki


ekuivalensi tersendiri dengan living qur‟an dan living hadis. jika
living qur‟an dan living hadis merupakan perwujudan Al-Qur‟an
dan Hadis dalam kehidupan nyata, maka kontruksi sosial yang

33
Ibid., 190-191.
34
Saifuddin Zuhri Qudsi, “Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi”,
Jurnal Living Hadis (Vol.1, No. 1, Mei/2016), 191-192.
23
mengadalkan suatu proses dialektika antara individu dan realitas
masyarakat bisa menjadi pijakan untuk melihat bagaimana
seseorang dibentuk oleh Al-Qur‟an dan Hadis pada fenomena
sehari-hari. Contoh penelitiannya adalah living hadis yang
diterapkan di Masjid Jogokariyan.35

G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian dan Pendekatan
Penelitian tentang Implementasi Hadis-Hadis Etika Sosial:
Studi Living Hadis di Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan, merupakan penelitian
kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialamioleh subyek penelitian
misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara
holistik degan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan
bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah,36 dengan jenis
penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang
pengumpulan datanya dilakukan di lapangan secara langsung,
adapun lapangan dari penelitian ini adalah Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah. Adapun pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan living hadis yaitu praktek

35
Ibid., 193-194.
36
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2016), 6.
24
masyarakat terhadap suatu hadis. Penulis meneliti tentang
bagaimana hadis-hadis etika sosial diimplementasikan di
Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan.
2. Teknik Pengumpulan Data
a. Sumber Data
1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara


langsung dari sumber pertama. Dalam penelitian ini,
penulis mencari data berupa informasi dalam bentuk lisan
yang diperoleh dari sumber asli. Data primer yang
digunakan dalam penelitian ini adalah hasil wawancara
dari Pengasuh Pondok, Ketua Yayasan, guru, dan santri di
Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah, dan juga
Kitab-kitab hadis yang terkait diantaranya kitab Shahih
Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-
Tirmidzi.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah sumber yang tidak bisa
memberikan informasi langsung kepada penulis atau bisa
disebut juga dengan sumber penunjang. Jadi, data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah
buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan penelitian.

25
3. Pengumpulan Data
Macam-macam teknik pengumpulan data yang akan
digunakan yaitu gabungan dari beberap teknik pengumpulan
data, yaitu observasi, wawancara, dan dokmentasi.

a. Observasi
Observasi merupakan salah satu metode dalam
penelitian social keagamaan terutama dalam penelitian
kualitatif. Metode ini merupakan metode yang paling
sering digunakan dan paling alamiah bahkan tidak hanya
digunakan dalam penelitian ilmiah tetapi dalam kehidupan
sehari-hari.37
Menurut Black dan Champion yang dikutip oleh
Sahiron Syamsuddin dalam buku Metodologi Penelitian
Living Qur‟an dan Hadis, observasi berguna untuk
mengamati fenomena sosial-keagamaan sebagai peristiwa
aktual yang memungkinkan peneliti memandang
fenomena tersebut sebagai proses, menyajikan kembali
gambaran fenomena sosial-keagamaan dalam laporan
penelitian dan penyajian, melakukan eksplorasi atau social
setting dimana fenomena itu terjadi.38 Pada penelitian ini

37
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007),57
38
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007),57
26
hal-hal yang perlu diobservasi adalah pola perilaku sosial
santri, guru, cara berbicara, dan juga kegiatan harian di
pesantrren.
b. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data
yang cukup efektif dan efisien bagi peneliti, serta hasilnya
merupakan data yang masuk dalam data primer.39 Supaya
data yang dihasilkan dan pertanyaan yang diajukan dapat
sesuai dengan yang dibutuhkan oleh peneliti, maka
peneliti harus menentukan tokoh-tokoh kunci yang akan
dimintai keterangan.40 Orang-orang yang dipilih sebagai
tokoh kunci diantaranya adalah pengasuh pondok, ketua
yayasan, guru, pengurus, dan juga santri.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara memperoleh data
dengan menggunakan data-data yang telah ada. Adapun
dokumentasi yang dikumpulkan adalah jadwal kegiatan
santri, tata tertib pesantren, daftar kepengurusan,
dokumentasi wawancara.
Dalam menemukan data, peneliti memerlukan adanya
informan untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam

39
Ibid., 59.
40
Ibid., 60.
27
penelitian. Adapun teknik penentuan informan yang dilakukan
oleh peneliti adalah sebagai berikut:
Menurut Moloeng dalam buku Metode Penelitian
Kualitatif, informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk
memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang
penelitian.41 Dalam penentuan informan, peneliti akan membagi
informan menjadi dua tahap yaitu informan awal dan informan
kunci. Informan awal yaitu yang memberikan informasi yang
memadai ketika peneliti mengawali penelitian.42 Dan informan
kunci yaitu orang yang dikategorikan paling banyak mengetahui,
menguasai informasi atau data tentang permasalahan penelitian.
Biasanya ia adalah tokoh atau pemimpin atau orang yang telah
lama berada di komunitas yang diteliti atau sebagai perintisnya. 43
a. Informan awal, peneliti akan memperoleh data dari orang-
orang yang memiliki pengetahuan dan hubungan erat
dengan objek penelitian. Yang akan dipilih sebagai
informan awal oleh peneliti adalah pengurus dan santri
Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah. Adapun pengurus
yang dijadikan sebagai informan awal adalah pengurus
yang memiliki pengetahuan terkait objek dan juga yang

41
Lexy J. Moloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2016), 132.
42
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007), 75.
43
Ibid.
28
sangat faham terkait pesantren, maka dari itu peneliti
menetapkan ketua pondok sebagai informan. Selain itu,
santri yang dipilih menjadi informan adalah santri lama
yang mengetahui adanya transmisi pengetahuan hadis, dan
juga beberapa rekomendasi baik dari pengurus ataupun
santri lain.
b. Informan kunci, peneliti akan memilih informan yang
memiliki posisi sangat penting di Pondok Pesantren Putri
Al-Fathimiyah. Peneliti akan memilih pengasuh, ketua
Yayasan, dan guru di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah karena merupakan kunci dari data yang
diperlukan oleh peneliti.
4. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis
data kualitatif. Analisis data adalah proses penting untuk
menginterpretasi pengumpulan data menjadi data yang
bermakna untuk menjawab peratanyaan penelitian.44 Analisis
data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data
ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga
dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja

44
Jogiyanto Hartono M, Metode Pengumpulan dan Tenik Analisis Data
(Yogyakarta: Penerbit Andi, 2018), 72
29
seperti yang disarankan oleh data.45 Adapun komponen-
komponen yang perlu ada dalam suatu analisis data adalah
pemrosesan satuan, mengategorisasikan data, dan menafsirkan
data.46 Setelah data terkumpul maka hal-hal yang dilakukan
peneliti dalam proses analisis data adalah:
a. Reduksi data
Reduksi data dengan menggunakan metode perbandingan
tetap akan melalui proses identifikasi satuan yaitu
mengidentifikasi bagian terkecil yang ditemukan dalam
data yang memiliki makna bila dikaitkan dengan fokus dan
masalah penelitian, lalu setelah satuan diperoleh maka
langkah selanjutnya adalah membuat koding (pengkodean)
sehingga data akan mudah untuk dicari sumbernya.47
Dalam tahap reduksi data inilah, data-data akan dipisahkan
dari data yang tidak diperlukan. Pada penelitian ini, setelah
peneliti melakukan observasi dan juga wawancara kepada
narasumber maka peneliti akan mengelompokkan
pertanyaan dan jawaban dari narasumber dengan
menggunakan kode-kode dan menyusun pertanyaan serta

45
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:CV. Remaja
Rosdakarya, 2016), 280.
46
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:CV. Remaja
Rosdakarya, 2016), 248-257.
47
Ibid., 288.
30
jawaban sehingga menjadi laporan kasar yang kemudian
akan dipakai sebagai jawaban dari rumusan masalah.

b. Penyajian data
Penyajian data pada dasarnya terdiri dari hasil analisis data
berupa cerita rinci para informan sesuai dengan ungkapan
dan pandangan dari mereka apa adanya, dan yang kedua
berupa pembahasan yakni diskusi antara teori dan juga
temuan. Analisis data dalam penelitian dengan pendekatan
kualitatif pada prinsipnya berproses secara induksi-
interpretasi-konseptualisasi.48
Data yang sudah dikumpulkan dan dianalisis setiap
meninggalkan lapangan akan menghasilkan laporan kasar
yang kemudian dalam tahap ini data akan dijadikan sebagai
laporan yang detail (induksi) yang berupa laporan yang
lebih mudah difahamin dicarikan makna sehingga
ditemukan pikiran apa yang tersembunyi dibalik mereka
(interpretasi) dan akhirnya dapat diciptakan konsep
(konseptualisasi).49
Setelah data kasar yang sudah terkumpul, peneliti
akan merangkai hasil wawancara sesuai dengan rumusan

48
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007), 76-77.
49
Sahiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis
(Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007), 77.
31
masalah yang ada untuk menjawab pertanyaan penelitian
dalam rumusan masalah tersebut.
c. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan dalam analisis data akan dilakukan
lewat beberapa teknik, yaitu teknik analisis isi, dan analisis
tematik. Analisis isi adalah memisahkan data dari konteks
wawancara untuk analisis dan menempatkannya dalam file
terpisah, membentuk kategori untuk konseptualisasi dan
analisis lebih lanjut.50 Sedangkan analisis tematik adalah
analisis sesuai degan tema-tema yang nampak ataupun
tersembunyi dibalik teks.51
Dalam penelitian ini, peneliti menarik kesimpulan sesuai
dengan hasil penelitian yang sudah diperoleh dan
menyajikannya sesuai dengan rumusan masalah yang ada.

H. Sistematika Pembahasan
Bab I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang, rumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, kerangka
teoritik, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.

50
Jogiyanto Hartono M, Metoda Pengumpulan dan Tenik Analisis Data
(Yogyakarta: Penerbit Andi, 2018), 73
51
Ibid.
32
Bab II, berisi profil lembaga dan hadis-hadis etika sosial
yang diimplementasikan di Yayasan Pondok Pesantren Putri AL-
Fathimiyah.

Bab III, membahas bagaimana transmisi hadis yang terjadi


dan pemahaman mengenai hadis yang dipraktikkan.

Bab IV, membahas implementasi hadis-hadis etika sosial


di Yayasan Pondok Pesantren Putri AL-Fathimiyah.

Bab V Penutup, berisi kesimpulan dan saran.

33
BAB II
TEORI ETIKA SOSIAL ISLAM
A. Etika Sosial dalam Islam
Etika sosial berasal dari kata etika dan sosial. Etika berasal dari
kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak
kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika berkaitan
dengan konsep yang dimiliki individu ataupun kelompok untuk
menilai apakah tindakan yang telah dilakukan benar atau salah,
buruk atau baik. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut
dengan self control, karena segala sesuatunya dibuat dan
diterapkan dari dan untuk kepentingan orang atau kelompok
profesi itu sendiri.52

Membahas etika sosial dalam Islam berarti membahas


etika sosial dari segi agama Islam atau menurut pandangan Islam.
Etika dan agama merupakan hal yang tidak bisa saling bertolak
belakang karena dalam suatu agama pasti ada etika sebagai yang
mendasari argumen rasional. Dalam Islam, etika diistilahkan
dengan dengan akhlak yang berasal dari bahasa Arab akhlak
bentuk jamak dari khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai,
tingkah laku, atau tabiat. Secara umum etika adalah sepadan
dengan akhlak yang keduanya merupakan filsafat tentang adat

52
Rosihan Adhani, Etika dan Komunikasi Dokter-Pasien-Mahasiswa
(Banjarbaru: PT Grafika Wangi Kalimantan, 2022), 25.
35
kebiasaan yang merupakan cara perilaku manusia. Akan tetapi
ada juga yang memahami jika etika dan akhlak itu berbeda, jika
etika hanya berhubungan dengan sopan santun antara sesama
manusia serta tingkah laku lahiriah, maka akhlak lebih luas
cakupannya yakni mencakup hal-hal yang tidak bersifat lahiriah
saja tetapi masuk dalam sikap batin dan pikiran manusia. Etika
atau akhlak mencakup beberapa hal yaitu etika terhadap Allah,
etika terhadap Rasul, etika terhadap sesama manusia, dan etika
terhadap lingkungan alam sekitar.53

Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa


etika sosial dalam Islam disebut juga dengan akhlak adalah suatu
pedoman yang dijadikan oleh umat Islam sebagai patokan baik
atau buruknya sesuatu yang dilakukan yang mencakup dalam
etika terhadap Allah dan Rasulnya, etika terhadap sesama
manusia, dan etika terhadap alam.

Menurut A. Sonny Keraf, etika dibagi menjadi dua bagian,


yaitu etika umum dan etika khusus.

a. Etika umum, yaitu berbicara mengenai norma dan nilai


moral, kondisi-kondisi dasar bagi manusia untuk bertindak
secara etis dalam mengabil keputusan etis, dan teori-teori

53
Ismutadi, “Penerapan Etika Islam dalam Pembangunan Masyarakat (Studi
tentang Kepemimpinan Tokoh Agama di Desa Bandar Agung”, Skripsi (Lampung:
Fakultas Ushluddin dan Studi Agama UIN Raden Intan Lampung, 2018), 30-31.
36
etika, serta mengacu pada prinsip moral dasar yang menjadi
pegangan dalam bertindak dana tolak ukur atau pedoman
untuk menilai baik buruknya suatu tindakan.

b. Etika khusus yaitu penerapan prinsip-prinsip atau norma-


norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus
yang hal tersebut dibagi menjadi tiga bagian:

1. Etika individual, yaitu etika yang menyangkut kewajiban


dan sika manusia terrhadap dirinya sendiri.

2. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban dan hak,


sikap dan pola perilaku manusia sebagai mahluk sosial
dalam interaksinya dengan sesama.

3. Etika lingkungan hidup, yaitu berbicara mengenai


hubungan manusia baik sebagai individu maupun
kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas.

Dari luasnya ruang lingkup etika sosial, maka etika sosial


dibagi menjadi banyak bagian diantaranya adalah etika terhadap
sesama, etika keluarga, etika profesi, etika politik, etika
lingkungan, etika ideologi.54 Masuk dalam penelitian yang
dilakukan yaitu mengenai etika sosial atau etika terhadap sesama

54
Siti Miftakhul Jannah, “Etika Sosial Pada Pengamal Sholawat Wahidiyah di
Desa Surat Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri”, Skripsi (Kediri: Prodi Tasawuf dan
Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri, 2020), 19-24.
37
adalah bagaimana perilaku seseorang terhadap orang lain yang
bersangkutan dengan hak dan kewajiban. Hal tersebut berkaitan
dengan etika anak terhadap orang tuanya, orang tua terhadap
anaknya, etika terhadap teman, etika terhadap yang lebih muda,
etika bertetangga, dll. Adapun penelitian dilakukan di pesantren,
maka yang akan muncul adalah etika murid terhadap guru, etika
guru terhadap murid, etika bertamu, etika memuliakan dan
menerima atau melayani tamu, etika berpapasan, dan juga etika
terhadap teman.

B. Hadis-hadis Etika Sosial


1. Guru dan Murid
HR. Bukhari: 77
ٟ‫ ِذث ِْٓ َػ ْج ِذ هللاِ َػ ْٓ اَ ِث‬٠ْ ‫عب َِخَ َػ ْٓ ث َُش‬ َ ُ ‫َؽذَّصََٕب ُِ َؾ َّّذ ُ ْثُٓ اٌؼَ ََلعِ َلبي َؽذَّصََٕب َؽ َّّبد ُ ْثُٓ ا‬
َ َِٕ‫ َلب َي َِض َ ًُ َِب ثَ َؼض‬:َُ ٍَّ ‫ع‬
ِٗ ‫ هللاُ ِث‬ٟ َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬ َ ٟ‫ َػ ِٓ إٌَّ ِج‬:ٝ‫ع‬ َ ُِٛ ٟ‫ث ُْشدَح َ َػ ْٓ ا َ ِث‬
‫ذ اٌ َّب َء‬ْ ٍَ‫َّخٌ لَ ِج‬١‫ب َٔ ِم‬َٙ ْٕ ِِ َْ‫بة اَ ْسضًب فَ َىب‬
َ ‫ص‬ ِ ١ْ َ‫اٌ ِؼ ٍْ ُِ َو َّض َ ًِ اٌغ‬َٚ َٜ‫ذ‬ُٙ ٌ‫َِِٓ ا‬
َ َ ‫ ِْش ا‬١‫ش اٌ َى ِض‬
‫ب‬َٙ ِ‫َذ اٌ َّب َء َفَٕفَ َغ هللاُ ث‬ َ ِْ َ‫ب اَ َعبدِةُ ا‬َٙ ْٕ ِِ ‫َذ‬
ْ ‫غى‬ ْ ٔ‫وَب‬َٚ ‫ َْش‬١‫ت اٌ َى ِض‬ َ ‫ػ ْؾ‬ ُ ‫ا‬َٚ َ ‫َذ اٌى َََل‬ ْ ‫فَب َ ْٔجَز‬
‫بْ َْل‬ ٌ َ‫ؼ‬١ِ‫ ل‬ِٟ َ ٘ ‫ أَِّ َّب‬ٜ‫طبئِفَخً ا ُ ْخ َش‬َ ‫ب‬َٙ ْٕ ِِ ‫ذ‬ َ َ ‫ا‬َٚ ‫ا‬ُْٛ ‫صَ َسػ‬َٚ ‫ا‬ْٛ َ‫عم‬
ْ َ‫صبث‬ َ َٚ ُ‫بط فَؾ َِشة‬ َ ٌَّٕ‫ا‬
ِٗ ِ‫ هللاُ ث‬ٟ َ َِٕ‫َٔفَؼَُٗ َِب ثَؼَض‬َٚ ِ‫ ِْٓ هللا‬٠‫ ِد‬ِٟ‫ َْل ر ُ ْٕجِذُ و َََلَ فَزَاٌِهَ َِض َ ًُ َِ ْٓ فَمَُٗ ف‬َٚ ‫ر ُ ّْ ِغهُ َِب ًء‬
ً ْ‫َ ْشفَ ْغ ِثزٌَِهَ َسأ‬٠ ُْ ٌَ ْٓ َِ ًُ َ ‫ َِض‬َٚ َُ ٍَّ‫ َػ‬َٚ َُ ٍِ ‫فَ َؼ‬
ِٗ ‫ أ ُ ْس ِع ٍْذُ ِث‬ِٞ‫ هللاِ اٌَّز‬َٜ‫َ ْمجَ ًْ ُ٘ذ‬٠ ُْ ٌََٚ ‫عب‬

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-A‟la


berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin
Usama dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari
Abu Musa dar Nabi saw, beliau bersabda: “Perumpamaan
38
petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan
membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun
mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat
menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-
tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan diantaranya
ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang)
sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum
hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan lain ada
permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat
menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman.
Perumpamaan itu adalah seperti orang yang paham
Agama Allah dan dapat memanfaatkan apa yang aku
diutus dengannya, dia mempelajarinya dan
mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak
dapat mengangkat derajat dan tidak dapat menerima
hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya.”55

Nama Rowi Wafat Kalangan Komentar ulama

Abdullah bin Qais 50 H Sahabat Sahabat


bin Sulaim bin
Hadldlor
Amir bin „Abdullah 104 H Tabi‟in Yahya bin Ma‟in, Ibnu

55
Shahih Bukhari, No.77 (Ensiklopedi Hadits i-Software)
39
bin Qais kalangan Sa‟d: tsiqoh
pertengahan Ibnu Hibban: ats-
tsiqaat
Al Bukhari: Katsirul
Glalath

Buraid bin Abdullah Tabi‟in (tidak Al-Ajli, Yahya, abu


bin Abi Burdah bin jumpa Daud: tsiqoh
Abi Musa sahabat) An-Nasa‟i: laisa bihi
ba‟s
Ibnu hibban: ats-tsiqaat
Ibnu hajar: tsiqoh
yuthi‟
Adz-dzahabi: shaduuq

Hammad bin Usamah 201 H Tabi‟ut Al-ajli, yahya: tsiqoh


bin Zaid tabi‟in Ibnu hibban: ats-tsiqaat
kalangan Muhammad bin sa‟d:
biasa tsiqoh ma‟mun yudallis
Adz-dzahabi: hujjah

Muhammad bin al- 248 H Tabi‟ul atba‟ Abu hatim: shaduuq


A‟laa bin Kuraib kalangan tua An-nasa‟i: la ba‟sa bih
Ibnu hibban: ats-tsiqaat
Maslamah bin Qasim:

40
‫‪kuufi tsiqoh‬‬
‫‪Ibnu hajar: tsiqoh‬‬
‫‪hafidz‬‬
‫‪Adz-dzahabi: hafidz‬‬

‫‪Tabel 1.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:77‬‬

‫‪Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang‬‬


‫‪diriwayatkan oleh Imam Bukhari derajatnya adalah shahih. Hadis‬‬
‫‪ini disebutkan juga dalam Shahih Muslim: 4232.‬‬

‫‪2. Etika dalam bertamu‬‬


‫‪a. Memohon izin‬‬
‫‪HR. Muslim: 4007‬‬
‫س َػ ْٓ‬ ‫ت َؽذَّصَِٕ‪َ ٟ‬ػ ّْ ُش ْ‪ْ ٚ‬ثُٓ اٌ َؾب ِس ِ‬ ‫طب٘ ِِش أ َ ْخجَ َشِٔ‪َ ٟ‬ػ ْجذ ُ هللاِ ث ِْٓ َ‪ٍ ْ٘ ٚ‬‬ ‫َؽذَّصَِٕ‪ ٟ‬اَث ُْ‪ ٛ‬اٌ َّ‬

‫ع ِّ َغ أَثَب َ‬
‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ اٌ ُخزْ ِس َّ‬
‫‪َ٠ ٞ‬مُ ْ‪ٛ‬يُ‪ُ :‬وَّٕب فِ‪ٟ‬‬ ‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ َؽذَّصَُٗ أََُّٗ َ‬
‫ؽ ّظِ ا َ َّْ ثُغ َْشثَْٓ َ‬
‫ثُ َى‪ِْ ١‬ش ث ِْٓ اْلَ َ‬
‫ضجًب َؽزَّ‪َٚ ٝ‬لَ َ‬
‫ف فَمَب َي‬ ‫‪ْ ُِ ٞ‬غ َ‬ ‫ت فَأَر َ‪ ٝ‬اَث ُْ‪َ ْٛ ُِ ٛ‬‬
‫ع‪ ٝ‬اْلَ ْؽؼَ ِش ُّ‬ ‫‪ ِ ٟ‬ث ِْٓ َو ْؼ ٍ‬ ‫َِغْ ٍِ ٍظ ِػ ْٕذَ ُ‬
‫ػجَ ّ‬
‫ع ٍَّ َُ فَمَبيَ‪:‬‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫ؾذ ُ ًوّش هللاَ ٘ ًَْ َع ِّ َغ ا َ َؽذ ٌ ِِ ْٕ ُى ُْ َس ُ‬ ‫ا َ ْٔ ُ‬
‫س‪ .‬فَب ِْْ اَرَِْ ٌَهَ ‪َٚ ,‬ا َِّْل فَ ْ‬
‫بس ِع ْغ‬ ‫ا ِْل ْعزِئْزَاُْ ص َ ََل ٌ‬
‫د فٍََ ُْ‬ ‫س َِ َّشا ٍ‬ ‫ة اَ ِْ ِظ صَ ََل َ‬
‫طب ِ‬‫ػ َّ َش ث ِْٓ اٌ َخ َّ‬ ‫‪َِ َٚ ٟ‬ب رَانَ لَب َي اِ ْعز َأْرَ ْٔذُ َػٍَ‪ُ ٝ‬‬ ‫لَب َي ا ُ َث ٌّ‬
‫غٍَّ ّْذُ‬‫‪ُ٠‬ؤْ رَ ْْ ٌِ‪ ٝ‬فَ َش َع ْؼذُ ص ُ َُّ ِع ْؼزُُٗ ْاٌ‪ ََ ْٛ َ١‬فَذَخ ٍَْذُ َػٍَ ْ‪ ِٗ ١‬فَأ َ ْخجَ ْشرُُٗ أََّ‪ِ ٟ‬عئْذُ اَ ِْ ِظ فَ َ‬
‫ؽ ْغ ًٍ فٍََ ْ‪َِ ٛ‬ب ا ْعز َأْرَ ْٔذَ‬
‫ع ِّ ْؼَٕبنَ َ‪َٔ ٚ‬ؾْ ُٓ ِع ْ‪َٕ١‬ئِ ٍز َػٍَ‪ُ ٝ‬‬ ‫ص َش ْفذُ لَب َي لَذْ َ‬ ‫ص َ ََلصًب ص ُ َُّ ا ْٔ َ‬
‫عٍَّ َُ لَب َي‬ ‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬ ‫ع ِّ ْؼذُ َس ُ‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫َؽزَّ‪ُ٠ ٝ‬ؤْ رََْ ٌَهَ لَب َي ا ْعز َأْرَ ْٔذُ َو َّب َ‬
‫طَٕهَ ا َ ْ‪ٌَ ٚ‬ز َأْرِ‪ِ َّٓ َ١‬ث َّ ْٓ ‪ْ َ٠‬ؾ َ‪ٙ‬ذُ ٌَهَ َػٍَ‪َ٘ ٝ‬زَا فَمَب َي اُثَ‪ْ ُّ١‬جُٓ‬
‫ظ ْ‪َ ٙ‬شنَ َ‪ٚ‬ثَ ْ‬ ‫فَ َ‪ٛ‬هللاِ َأل ُ ْ‪ِ ٚ‬ع َؼ َّٓ َ‬

‫‪41‬‬
‫ػ َّ َش‬ َ ‫ب اَ َثب‬٠َ ُْ ُ‫ َُ َِ َؼهَ ا َِّْل اَؽْ ذَصَُٕب ِعًّٕب ل‬ْٛ ُ‫م‬٠َ ‫هللاِ َْل‬َٛ َ‫ت ف‬
ُ ُ‫ْذ‬١َ‫ اَر‬َّٝ‫ ٍذ فَمُ ّْذُ َؽز‬١ْ ‫ع ِؼ‬ ٍ ‫َو ْؼ‬
‫ ُي َ٘زَا‬ْٛ ُ‫َم‬٠ َُ ٍَّ‫ع‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬
َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬ ُ ‫ع ِّ ْؼذُ َس‬ َ ْ‫فَمُ ٍْذُ لَذ‬
Telah meceritakan kepadaku Abu At-Thahir, telah
mengabarkan kepdaku „Abdullah bin Wahb, telah
menceritakan kepadaku „Amru bin al-Harits dari Bukair
bin al-Asyaj bahwa Busr bi Sa‟id, telah menceritakan
kepadanya, dia mendengar Abu Sa‟id al-Khudri berkata,
suatu ketika kami sedang berada di majlis Ubay bin
Ka‟ab, tiba-tiba Abu Musa al-Asy‟ari datang dalam
keadaan marah, lalu beliau berdiri seraya berkata “Demi
Allah apakah diantara kalian ada yang pernah mendengar
sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Meminta izin itu
hanya tiga kali, apabila diizinkan kalian boleh masuk, jika
setelah tiga kali tidak ada jawaban maka pulanglah.” Ubay
berkata, memang ada apa dengan hadis tersebut? Abu
Musa menjawab, “Kemarin aku telah meminta izin kepada
Umar sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban, maka
akupun pulang kembali. Lalu pada hari ini aku
mendatanginya lagi dan aku kabarkan kepadanya bahwa
aku telah menemuinya kemarin dan sudah aku ucapkan
salam sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban
akhirnya aku pulang kembali. Dan Umar menjawab, kami
telah mendengarmu yang pada waktu itu kami memang
sedang sibuk hingga tidak sempat mengizinkanmu, tetapi
42
kepada kamu tidak menungguku sampai aku
mengizinkanmu?, Abu Musa menjawab, Aku meminta
izin sebagaimana yang telah aku dengar dari Rasulullah
saw. Lalu Umar berkata, Demi Allah aku akan
menghukum kamu hingga kamu mendatangkan saksi ke
hadapanku mengenai hadis itu. Kemudian Ubay bin Ka‟ab
berkata, Demi Allah tidak akan ada yang menjadi saksi
atasmu kecuali orang yang paling muda diantara kami.
Berdirilah wahai Abu Sa‟id!, lalu akupun berdiri hingga
aku menemui Umar dan aku katakan kepadanya “Aku
telah mendengar Rasulullah saw bersabda mengenai hadis
tersebut.56

Nama Rawi Wafat Kalangan Komentar ulama

Abdullah bin Qais bin 50 H Sahabat Sahabat


Sulaim bin Hadldlor
Sa‟ad bin malik bin 74 H Sahabat Ibnu hajar al-asqolani:
sinan bin „Ubaid sahabat

Busr bin Da‟id, 100 H Tabi‟in Yahya bin main, An-


Maula Ibnu al- kalangan tua nasa‟i, Al-ajli: tsiqoh
Hadlramiy
Bukair bin „Abdullah 122 H Tabi‟in Ahmad bin hambal, Abu

56
Shahih Muslim, No.4007 (Ensiklopedi Hadits i-Software)
43
bin al-Asyajj kalangan hatim, Yahya bin ma‟in,
biasa Al-ajli, Ibnu hajar:
tsiqoh
An-nasa‟i: tsiqoh tsabat
Ibnu hibban: ats-tsiqat

Amru bin al-Harits 149 H Tabi‟ut Yahya bin Ma‟in, al-


bin Ya‟qub tabi‟in Ajli, Abu Zur‟ah, an-
kalangan tua Nasa‟i: tsiqoh
Ibnu Hibban: ats-tsiqat
Ibnu Hajar al-Asqolani:
tsiqoh Faqih Haafid

Abdullah bin Wahab 197 H Tabi‟ut Yahya bin Ma‟in, al-


bi Muslim tabi‟in Ajli: tsiqoh
kalangan An-Nasa‟i: la ba‟sa bih
biasa Ibnu Hajar: tsiqoh hafidz
Adz-dzahabi: salah satu
ahli ilmu

Ahmad bin „Amru 250 H Tabi‟ul Abu Hatim: la ba‟sa bih


bin Abdullah bin atba‟ An-Nasa‟i: tsiqoh
„Amru As-Sarh kalangan tua Ibnu Hajar: tsiqoh

Tabel 2.2 Biografi Perawi Hadis Muslim:4007

44
Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim derajatnya adalah shahih. Hadis
ini juga disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim: 4010, dan
Tirmidzi: 2614

b. Meminta izin demi menjaga pandangan


HR. Bukhari: 5772
ْ ‫ َؽ ِف‬ٞ
ْٓ ‫ظزُُٗ َو َّب أََّهَ َ٘ب َُٕ٘ب َػ‬ ُّ ‫بُْ لَب َي‬١َ ‫ع ْف‬
ُّ ‫اٌض ْ٘ ِش‬ ُ ‫ ْثُٓ َػ ْج ِذهللاِ َؽذَّصََٕب‬ُّٟ ٍِ ‫َؽذَّصََٕب َػ‬
َُ ٍَّ ‫ع‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬
َ ٟ‫ ُؽ َغ ِش إٌَّ ِج‬ِٟ‫طٍَ َغ َس ُع ًٌ ِِ ْٓ عُؾْ ٍش ف‬ َ ‫ع ْؼ ٍذ لَب َي ا‬
َ ِْٓ ‫ ًِ ث‬ْٙ ‫ع‬ َ
ُ ْٕ َ ‫ أ َ ْػٍَ ُُ أ َ َّٔهَ ر‬ْٛ ٌَ ‫عُٗ فَمَب َي‬
‫ظ ُش‬ َ َ‫ ُؾهُّ ِث ِٗ َسأ‬٠َ ٜ‫عٍَّ َُ ِِذ ًْس‬َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬ َ ٟ‫ َِ َغ إٌَّ ِج‬َٚ
َ ‫اْل ْع ِزئْزَاُْ ِِ ْٓ اَعْ ًِ ْاٌ َج‬
‫ص ِش‬ َ ٌَ
ِ ًَ ‫ِٕهَ اِ َّٔ َّب ُع ِؼ‬١ْ ‫ َػ‬ْٟ ‫ط َؼ ْٕذُ ِث ِٗ ِف‬

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah


menceritakan kepada kami Sufyan, Az-Zuhri berkata,
“aku telah menghafalnya sebagaimana dirimu di sini”,
dari Sahl bin Sa‟d dia berkata, “Seorang laki-laki pernah
melongokkan kepalanya ke salah satu kamar nabi saw,
waktu itu nabi saw, tengah membawa sisir untuk menyisir
rambutnya, lalu beliau bersabda, “Sekiranya aku tahu
kamu mengintip, sungguh aku akan mencolok kedua
matamu, sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan
karena pandangan.57

57
Shahih Bukari, No.5772 (Ensiklopedi Hadits i-Software)
45
Nama Rawi Wafat Kalangan Komentar ulama

Sahal bin sa‟d bin 88 H Sahabat Ibnu hajar al-asqolani:


malik sahabat

Muhammad bin 124 H Tabi‟ut Ibnu hajar al-asqolani:


muslim bin ubaidillah tabi‟in Faqih, Hafidz, Mutkin
bin abdullah bin kalangan Adz-dzahabi: seorang
syihab pertengahan tokoh

Sufyan bin uyainah 198 H Tabi‟ut Ibnu hibban: Hafidz,


bin abi imran maimun tabi‟in Mutqin
kalngan Al-ajli: Tsiqqoh tsabat
pertengahan dalam hadis
Adz-dzahabi: ahadul
a‟lam, tsiqqoh tsabat,
hafidz imam

Ali bin abdullah bin 234 H Tabi‟ul atba‟ Ibnu hibban: ats-tsiqot
ja‟far bin najih kalangan tua An-nasa‟i: Tsiqqoh
ma‟mun imam
Ibnu hajar al-asqolani:
tsiqqoh tsabat imam

Tabel 3.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5772

46
Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari derajatnya adalah shahih. Hadis
ini juga disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari: 6392, Shahih
Muslim: 4013-4014, dan Tirmidzi: 2633.

c. Menyebutkan nama ketika ditanya


HR. Bukhari: 5781
‫ؽ ْؼجَخُ َػ ْٓ ُِ َؾ َّّ ِذث ِْٓ اٌ ُّ ْٕ َىذ ِِس لَب َي‬ َ ُْٛ ‫َؽذَّصََٕب أَث‬
ُ ‫ا ٌِ ِذ ِ٘ؾَب َُ ْث ُٓ َػ ْج ِذ اٌ َّ ٍِ ِه َؽذَّصََٕب‬ٌٛ‫ا‬
َُ ٍَّ ‫ع‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬ َ ٟ‫ْذُ إٌَّ ِج‬١َ‫اَر‬:ُ‫ي‬ْٛ ُ‫م‬٠َ ‫ َّب‬ُٙ ْٕ ‫ هللاُ َػ‬ٟ
َ ‫ض‬ ِ ‫ع ِّ ْؼذُ َعب ِث َش ثَْٓ َػ ْج ِذهللاِ َس‬
َ
ََُّٗٔ‫ َوب‬,‫ أََب أََب‬:َ‫ فَمَبي‬,‫ َِ ْٓ رَا؟ فَمُ ٍْذُ أََب‬:َ‫ فَمَبي‬.‫بة‬
َ ‫ فَذَلَ ْمذُ اٌ َج‬ٟ‫ أ َ ِث‬ٍَٝ‫ ٍْٓ َوبَْ َػ‬٠َ‫ د‬ِٟ‫ف‬
‫ب‬َٙ َ٘ ‫و َِش‬

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid Hisyam


bin Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami
Syu‟bah dari Muhammad bin al-Munkadir dia berkata:
saya mendengar Jabir bin Abdullah ra, berkata: “Aku
menemui Nabi saw karena utang ayahku, lalu aku
mengetuk pintu rumah beliau, beliau bertanya: “Siapakah
itu?” aku menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Saya,
saya!” seolah-olah beliau membencinya.58

Nama Rawi Wafat Kalangan Komentar ulama

Jabir bin abdullah bin 78 H Sahabat Sahabat

58
Shahih Bukhari, No.5781 (Ensiklopedi Hadits i-Software)
47
amru bin haram
Muhammad bin al- 131 H Tabi‟in Abu hatim: Tsiqqoh
munkadir bin kalangan Yahya bin ma‟in:
abdullah bin al-hudair pertengahan Tsiqqoh
Ya‟qub ibn syaiban:
shahihul hadis jiddan
Ibn hajar al-asqolani:
Tsiqqoh
Adz-dzahabi: Imam

Syu‟bah bin al-hajjaj 160 H Tabi‟ut tabi‟in Al-ajli: Tsiqqoh tsabat


bin al-warad kalangan tua Ibn sa‟ad: Tsiqqoh
ma‟mun
Abu daud: tidak ada
seorangpun yang lebih
baik haditsnya dari
padanya
Ats-tsauri: Amirul
mukminin fil hadits
Ibn hajar al-asqolani:
Tsiqqoh hafidz
Adz-dzahabi: Tsabat
hujjah

48
Hisyam bin abdul 227 H Sahabat Ahmad bin hambal:
malik Mutqin
Al-ajli: Tsiqqoh
Abu hatim: Tsiqqoh,
Faqih
Ibnu sa‟d: Tsiqqoh
tsabat
Ibnu hibban: ats-
Tsiqaat
Ibn hajar al-asqolani:
Tsiqqoh tsabat
Adz-dzahabi: Hafidz

Tabel 4.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5781

Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang


diriwayatkan oleh Imam Bukhari derajatnya adalah shahih. Hadis
ini juga disebutkan dalam Kitab Shahih Muslim: 4012, dan Ibnu
Majah: 3699

3. Etika dalam menerima tamu


a. Memuliakan tamu
HR. Bukhari: 5559

ْٓ ‫ػ‬ َ ٟ‫ ٍْٓ َػ ْٓ اَ ِث‬١‫ص‬


َ ٍ‫صب ٌِؼ‬ ِ ‫ َؽ‬ٟ‫ػ ْٓ اَ ِث‬
َ ‫اؿ‬ َ ُٓ‫جَخُ ْث‬١ْ َ ‫َؽذَّصََٕب لُز‬
ِ َٛ ْ‫ اْلَؽ‬ُْٛ ‫ ٍذ َؽذَّصََٕب اَث‬١ْ ‫ع ِؼ‬
ِ‫ُؤْ ُِِٓ ِثبهلل‬٠ َْ‫ َِ ْٓ َوب‬: َُ ٍَّ‫ع‬ َ ُ‫ هللا‬ٍَّٝ‫ص‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ ‫ػ‬ ُ ‫ لَب َي َس‬:َ‫ َْشح َ لَبي‬٠‫ ٘ َُش‬ٝ‫اَ ِث‬
َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬
49
َ َْ ‫ُ ْى ِش‬١ٍْ َ‫ َِ اْلَ ِخ ِش ف‬ْٛ ١َ ٌ‫ ْا‬َٚ ِ‫ُؤْ ُِِٓ ِثبهلل‬٠ َْ‫ َِ ْٓ َوب‬َٚ , ُٖ‫بس‬
َُٗ‫ف‬١ْ ‫ض‬ َ ‫ُؤْ ِر َع‬٠ ‫ َِ اْلَ ِخ ِش فَ ََل‬ْٛ ١َ ٌ‫ ْا‬َٚ
.‫ذ‬ْ ُّ ‫ص‬ ْ َ١ٌِ ْٚ َ ‫ ًْشا ا‬١‫َمُ ًْ َخ‬١ٍْ َ‫ َِ اْلَ ِخ ِش ف‬ْٛ ١َ ٌ‫ ْا‬َٚ ِ‫ُؤْ ُِِٓ ثِبهلل‬٠ َْ‫ َِ ْٓ َوب‬َٚ ,

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa‟id, telah


menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari Abu
Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dn hari akhir maka janganlah ia
mengganggu tetangganya. Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia
memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata
yang baik atau diam saja.59

Nama sanad Wafat Kalangan Komentar ulama

Abdur Rahman bin 57 H Sahabat Ibnu hajar al-


Shakr (Abu asqolani: sahabat
Hurairah)
Dzakwan (Abu 101 H Tabi‟in Abu zur‟ah:
Shalih) kalangan mustaqiimul hadis
pertengahan Muhammad bin sa‟d:
tsiqoh banyak
hadisnya

59
Shahih Bukhari, No.5559 (Ensiklopedi Hadits i-Software)
50
As saaji: tsiqoh
shaduuq
Al-ajli: tsiqoh
Ibnu hibban:ats-
tsiqaat
Ibnu hajar: tsiqoh
tsabat
Adz-dzahabi:
termasuk dari imam-
imam tsiqoh

Utsman bin „Ashim 128 H Tabiin klngan Adz-dzahabi: tsiqoh


bin Hushain biasa tsabat
Yahya bin main, Abu
Hatim, an-Nasa‟i:
tsiqoh
Ibnu hibban: dalam
ats-tsiqaat
Ibnu hajar: tsiqoh
tsabat

Salam bin Sulaim 179 H Tabiut tabiin Yahya bin main, ibnu
kalangan tua hajar al-asqolani:
tsiqoh mutqin

51
An-nasa‟i, abu
zur‟ah: tsiqoh
Ibnu hibban: ats-
tsiqaat
ibnu hajar: shaahibu
hadits
adz-dzahabi: al-
hafidz

Qutaibah bin Sa‟id 240 H Tabi‟ul atba‟ Abu hatim, an-nasa‟i,


bin Jamil bin Tharif kalangan tua yahya bin ma‟in:
bin Abdullah tsiqoh
Ibnu hajar: tsiqoh
tsabat

Tabel 5.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5559

Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang


diriwayatkan oleh Imam Bukhari derajatnya adalah shahih. Hadis
ini juga disebutkan di kitab Shahih Bukhari: 5671, 5673, 5994.

b. Melayani tamu
HR. Bukhari: 5670
ّ ‫ ٍذ ْاٌ َّ ْمج ُِش‬١ْ ‫ع ِؼ‬
ْٓ ‫ ِ َػ‬ٞ َ ْٓ ‫ف ا َ ْخجَ َشَٔب َِب ٌِهٌ َػ‬
َ ٟ‫ ِذ ث ِْٓ ا َ ِث‬١ْ ‫ع ِؼ‬ َ ‫ع‬ُ ُْٛ ٠ ُٓ‫ؼ ْث‬ٌٍٙ‫َؽذَّصََٕب َػ ْجذ ُا‬
ِ ‫ُؤْ ُِِٓ ِثب‬٠ َْ‫ع ٍَّ َُ َلب َي َِ ْٓ َوب‬
‫هلل‬ َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬
َ ِ‫ ُي هللا‬ْٛ ‫ع‬ ّ ‫ْؼٍ ْاٌ َى ْؼ ِج‬٠‫ؽ َش‬
ُ ‫ ِ ا َ َّْ َس‬ٟ ُ ٟ‫ا َ ِث‬

52
ّ ِ ٌ‫ا‬َٚ ٌ‫ٍَخ‬١ْ ٌََٚ ٌَ ْٛ ٠َ ُُٗ‫فَُٗ َعب ِئضَ ر‬١ْ ‫ض‬
َ‫ ٍَّبَ فَ َّب َث ْؼذَ رَاٌِه‬٠َ‫بفَخُ ص َ ََلصَخُ ا‬١َ ‫ض‬ َ َْ ‫ُ ْى ِش‬١ٍْ َ‫ َِ اْلَ ِخ ِش ف‬ْٛ ١َ ٌ‫ ْا‬َٚ
ُٗ‫ُؾْ ِش َع‬٠ َّٟ‫ ِػ ْٕذَُٖ َؽز‬ٞ َ ِٛ ْ‫َض‬٠ ْْ َ ‫َ ِؾ ًُّ ٌَُٗ ا‬٠ ‫ َْل‬َٚ ٌ‫صذَلَخ‬
َ َٛ ُٙ َ‫ف‬
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf,
telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sa‟id bin Abu
Sa‟id al-Maqburi dari Abu Suraih al-Ka‟bi bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya
dan menjamunya sing dan malam, dan bertamu itu tiga
hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, da tidak halal
bagi tamu tinggal (berlama-lama) sehingga
memberatkannya.60

Nama sanad Wafat Kalangan Komentar ulama

Khuwailid bin „Amru 68 H Sahabat Sahabat


bin Shakr
Sa‟id bin Abi Sa‟id 123 H Tabi‟in Ibnu Madini,
Kaisan kalangan Muhammad bin
pertengahan Sa‟d, al-Ajli, Abu
Zur‟ah, An-Nasa‟I,
Ibnu Kharasy: tsiqoh
Abu Hatim: Shaduuq
Ibnu Hajar: tsiqoh
berubah sebelum

60
Shahih Bukhari, No.5670 (Ensiklopedi Hadits i-Software)
53
wafat

Malik bin Anas bin 179 H Tabi‟ut Yahya bin Ma‟in:


Malik bin Abi‟Amir Tabi‟in tsiqoh
kalangan tua Muhammad bin
Sa‟d: tsiqoh ma‟mun

Abdullah bin Yusuf 218 H Tabi‟ul atba‟ Al-ajli, ibnu Hajar:


kalangan tua tsiqoh
Ibnu hibban: ats-
tsiqaat
Adz-Dzahabi: Hafidz

Tabel 6.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5670

Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang


diriwayatkan oleh Imam Bukhari derajatnya adalah shahih.

4. Etika bertemu atau berpapasan


a. Mengucap salam
HR. Abu Daud: 5202

ٍ‫صب ٌِؼ‬ َ ُٓ‫خُ ْث‬٠َ ِٚ ‫ ُِؼَب‬ِٝٔ‫ت لَب َي أ َ ْخجَ َش‬ ٍ ْ٘ َٚ ُٓ‫ َؽذَّصََٕب ا ْث‬ُّٝ ِٔ‫ ّْذَا‬َٙ ٌ‫ ٍذ ْا‬١‫ع ِؼ‬
َ ُٓ‫َؽذَّصََٕب أَؽْ َّذ ُ ْث‬
َ ُ١ٍْ َ‫ أَ َؽذُ ُو ُْ أَخَبُٖ ف‬ٝ
ُْ ٍِّ ‫غ‬ َ ‫ َْشح َ لَب َي إِرَا ٌَ ِم‬٠‫ ٘ َُش‬ِٝ‫ػ ْٓ أَث‬َ َُ َ٠‫ َِ ْش‬ِٝ‫ػ ْٓ أَث‬ َ ٝ‫ع‬ َ ُِٛ ِٝ‫َػ ْٓ أَث‬
‫ لَب َي‬.‫ضًب‬٠ْ َ ‫ ِٗ أ‬١ْ ٍَ‫ػ‬ َ ُ١ٍْ َ‫َُٗ ف‬١‫ َؽ َغ ٌش ص ُ َُّ ٌَ ِم‬ْٚ َ‫اس أ‬
َ ُْ ٍِّ ‫غ‬ ٌ َ‫ ِعذ‬ْٚ َ ‫ؽ َغ َشح ٌ أ‬ ْ ٌَ‫ ِٗ فَئ ِ ْْ َؽب‬١ْ ٍَ‫َػ‬
َ ‫ َّب‬ُٙ َٕ١ْ َ‫ذ ث‬
ٝ‫ػ ِٓ األَػ َْشطِ َػ ْٓ أَ ِث‬ َ ‫اٌضَٔب ِد‬ ّ ِ ٝ‫ذ َػ ْٓ أ َ ِث‬ ٍ ‫ة ْثُٓ ث ُْخ‬ ِ ‫ َّ٘ب‬َٛ ٌ‫ َػ ْجذ ُ ْا‬َِٕٝ‫ َؽذَّص‬َٚ ُ‫خ‬٠َ ِٚ ‫ُِ َؼب‬
َ ٍَُْٗ‫ ِِض‬-‫ملسو هيلع هللا ىلص‬- ِ‫َّللا‬
‫ا ًء‬َٛ ‫ع‬ ُ ‫ َْشح َ َػ ْٓ َس‬٠‫٘ َُش‬
َّ ‫ ِي‬ٛ‫ع‬
54
Telah menceritakan kepada kita Ahmad bin Sa‟id Al-
Hamdani, menceritakan kepada kita Ibnu Wahab berkata,
mengabarkan kepadaku Mu‟awiyah bin Sholih dari Abi
Musa dari Abi Maryam dari Abi Hurairah ra, berkata
Rasulullah saw bersabda: “Jika salah seorang dari kamu
bertemu dengan saudaranya maka berilah salam
kepadanya. Dan andaikata diantara kamu itu terpisah oleh
pohon, dinding atau batu lalu bertemu lagi maka
hendaklah kamu memberi salam lagi.” Berkata
Mu‟awiyah, dan menceritakan kepadaku Abdul Wahab
bin Bukhti, dari Abi Zinad, dari A‟roj, dari Abu Hurairah
ra, dari Rasulullah saw, hadisnya sama.61

Nama Rawi Wafat Kalangan Komentar ulama

Abdur Rahman bin


Ibnu hajar al-asqolani:
Shakr (Abu 57 H Sahabat
sahabat
Hurairah)
Ibnu Hajar: Tsiqoh
Roba‟i bin Harosy
Tabi‟in Abid
bin Jahasy bin Amru 100 H
kalangan tua Adz-Dzahabi: Hujjah,
bin Abdullah
tidak ada kebohongan

Anas bin Sayrin al- 118- Tabi‟in Al-Ajli, Ibnu Hajar,

61
Sunan Abu Daud, No.5202 (Maktabah Syamilah i-Software)
55
Anshori 120 H kalangan Ibnu Sa‟id: Tsiqoh
pertengahan

Ibnu Hajar: Shuduuq


Adz-dzahabi: shuduuq

Mu‟awiyah bin Tabi‟ut tabi‟in imam


158 H
Sholih bin Hadir kalangan tua Al-Ajli: tsiqoh
Al-Bizar: tsiqoh, laisa
bihi ba‟s

Ibnu Hajar: tsiqoh,

Abdullah bin Wahab Tabi‟ut tabi‟in hafidz, abid


197 H
bin Muslim al-kursyi kalangan biasa Adz-dzahabi: ahadul
a‟lam

Ibnu Hajar: shuduuq


Al-Ajli: tsiqoh
Tabi‟ul atba‟
Ahmad bin Sa‟id bin Zakariya as-Saji:
253 H kalangan
Basyar Al-Mahdani tsabit
pertengahan
Ibnu Hibban: ats-
tsiqaat

Tabel 7.2 Biografi Perawi Hadis Abu Daud:5202

Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang


diriwayatkan oleh Abu Daud derajatnya adalah shahih.

56
b. Berjabat tangan
HR. Bukhari: 5792

ِٟ‫صفَ َؾخُ ف‬ ِ َٔ‫ اَوَب‬, ‫ لُ ٍْذُ ِألَٔ ٍَظ‬: ‫بص ٍُ َؽذَّصََٕب َ٘ َّّب ٌَ َػ ْٓ لَزَبدَحَ لَب َي‬
َ ُّ ٌ‫ذ ا‬ ِ ‫ ْثُٓ َػ‬ٚ‫َؽذَّصََٕب َػ ّْ ُش‬
ُْ َ‫ َٔؼ‬:َ‫عٍَّ َُ ؟ لَبي‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬
ُ ‫ة َس‬
ِ ‫ص َؾب‬ْ َ‫ا‬

“Telah menceritakan kepada kami „Amru bin „Ashim, telah


menceritakan kepada kami Hammam dari Qotadah dia berkata,
aku bertanya kepad Anas, “Apakah diantara para sahabat Nabi
sering berjabat tangan?” dia menjawab, “ya”.62

Nama Rawi Wafat Kalangan Komentar ulama

Anas bin Malik bin 91 H Sahabat Sahabat


An-Nadlir bin
Dlamdlom bin Zaid
bin Haram
Qotadah bin 117 H Tabi‟in Yahya bin Ma‟in:
Da‟amah bin kalangan tsiqoh
Qotadah biasa Muhammad bin Sa‟d:
tsiqoh ma‟mun
Ibnu Hajar: tsiqoh
tsabat
Adz-Dzahabi: Hafidz

62
Shahih Bukhari, No.5792 (Ensiklopedi Hadits i-Software)
57
Hammam bin Yahya 165 H Tabi‟in (tidak Ahmad bin Hambal,
bin Dinar jumpa Yahya bin Ma‟in, ibnu
sahabat) Sa‟d, al-Ajli, Hakim,
ibnu Hajar: tsiqoh
Ibnu hibban: ats-tsiqaat
As saji: Shaduuq, buruk
hafalannya
Adz-dzahabi: Hafidz

Amru bin Ashim bin 213 H Tabi‟ut Yahya bin Ma‟in:


Ubaidillah bin Al Tabi‟in shalih
Wazi‟ kalangan An-Nasa‟i: laisa bih
biasa ba‟s
Ibnu hibban: ats-tsiqaat
Ibnu Hajar: Shaduuq
dalam hafalannya ada
sesuatu
Adz-dzahabi: Hafidz

Tabel 8.2 Biografi Perawi Hadis Bukhari:5792

Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang


diriwayatkan oleh Imam Bukhari derajatnya adalah shahih. Hadis
ini juga disebutkan dalam kitab Sunan At-Tirmidzi: 2653.

5. Etika terhadap teman


58
a. Larangan bakhil
HR. Muslim: 6741
ُ ْٓ ‫ َػ‬- ‫ ٍْظ‬١َ‫ اثَْٓ ل‬ِٕٝ‫َ ْؼ‬٠ - ُ ‫د‬ٚ‫ت َؽذَّصََٕب دَ ُا‬
َّ ‫ ِذ‬١ْ َ‫ػج‬
ِ‫َّللا‬ ٍ َٕ ‫َّللاِ ْثُٓ َِ ْغٍَ َّخَ ث ِْٓ لَ ْؼ‬
َّ ُ ‫َؽذَّصََٕب َػ ْجذ‬
َُ ٍْ ‫ظ‬
ُّ ٌ‫ظ ٍْ َُ فَئ ِ َّْ ا‬
ُّ ٌ‫ا ا‬ُٛ‫ ارَّم‬:‫ لَب َي‬-‫ملسو هيلع هللا ىلص‬- ِ‫َّللا‬ ُ ‫َّللاِ أ َ َّْ َس‬
َّ ‫ َي‬ٛ‫ع‬ َّ ‫غ ٍُ َػ ْٓ َعبثِ ِش ث ِْٓ َػ ْج ِذ‬ َ ‫ث ِْٓ ِِ ْم‬
ْْ َ ‫ أ‬ٍَٝ‫ ُْ َػ‬ُٙ ٍََّ ‫ؾ َّؼ أ َ ٍَْ٘هَ َِ ْٓ َوبَْ لَ ْجٍَ ُى ُْ َؽ‬
ُّ ٌ‫ؾ َّؼ فَئ ِ َّْ ا‬ُّ ٌ‫ا ا‬ُٛ‫ارَّم‬َٚ ‫َب َِ ِخ‬١‫ ََ ْاٌ ِم‬ْٛ َ٠ ٌ‫ظٍُ َّبد‬ ُ
ُْ ُٙ َِ ‫بس‬ِ ‫ا َِ َؾ‬ٍُّٛ ‫ا ْعز َ َؾ‬َٚ ُْ ُ٘ ‫ا ِد َِب َء‬ٛ‫عفَ ُى‬ َ

Telah menceritakan kepada kita Abdullah bin Maslamah


bin Qo‟nab, telah menceritakan kepada kita Dawud yakni
ibnu Qois, dari Ubaidillah bin Miqsam, dari Jabir bin
Abdullah, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
“Takutlah kamu dari aniaya, sebab aniaya itu merupakan
kegelapan di hari kiamat. Dan takutlah kamuu dari sikap
bakhil, sebab bakhil/kikir itu telah membinasakan orang-
orang yang sebelum kamu dimana mereka terdorong
untuk mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan
semua yang diharamkan oleh Allah SWT.63

Nama Rawi Wafat Kalangan Komentar ulama

Jabir bin abdullah bin 78 H Sahabat Sahabat


amru bin haram
Ubaidillah bin - Tabi‟in Abu Zar‟ah, Abu Daud,
Miqsam kalangan An-Nasa‟i, Abu Hazim:

63
Shahih Muslim, No.6741 (Maktabah Syamilah i-Software)
59
pertengahan tsiqoh
Abu Hatim: la ba‟sa
bih
Ibnu hibban: ats-tsiqaat

Daud bin qois - Tabi‟in Ibnu Hajar: tsiqoh


kalangan fadhil
muda Adz-dzahabi: tsiqoh
min ibadi

Abdullah bin 221 H Tabi‟ul atba‟ Ibnu Ma‟in, Ibnu


Maslamah bin Madini: Tsiqoh abid
Qo‟nab Adz-dzahabi: ahadul
a‟lam
Abu Hatim: tsiqoh
Hujjah
Abu Zur‟ah: ma kataba
„an ahadu ajali „aini
minhu

Tabel 9.2 Biografi Perawi Hadis Muslim:6741

Dari predikat para perowi ini, maka hadis yang


diriwayatkan oleh Imam Muslim derajatnya adalah shahih.

60
BAB III
TEMUAN PENELITIAN
A. Profil Lembaga
1. Sejarah dan Letak Geografis Yayasan Pondok Pesantren
Putri Al-Fathimiyah
Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah adalah
Yayasan Pondok Pesantren yang bergerak dalam bidang
pendidikan keagamaan yang memfokuskan pada pendidikan
Al-Qur‟an. Embrio dari Yayasan ini adalah sebuah Pondok
Pesantren khusus putri yang didirikan pada tahun 1991 M. oleh
beliau KH. Abdul Hadi Yasin (alm), disebelah barat Pondok
Pesantren Sunan Drajat, tepatnya di jln. Sunan Drajat Barat
n0.164, Dsn. Banjaranyar, Ds. Banjarwati, Kec. Paciran, Kab.
Lamongan, Jawa Timur.
Pada awal berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah, KH. Abdul Hadi dan Umi Hj. Choiriyah tidak
berniat untuk membangun pesantren, akan tetapi karena atas
desakan wali santri yang ingin anaknya bisa mengaji maka
dibangunlah kamar santri. Pembangunannya sedikit demi
sedikit. Pertama itu pembangunannya bersama Pak Majid (adik
KH. Abdul Hadi Yasin) yang pada saat itu mondok di
Pesantren Langitan. beliau mengajak teman-temannya dari
Langitan untuk membantu pembangunan. Bangunan pertama

61
kali yang didirikan adalah kamar yang sekarang ada di dekat
sumur atau sebelah selatan ndalem di asrama timur. Setelah itu
sedikit demi sedikit ke belakang atau sebelah barat bangunan
pertama sampai di Masjid Gendingan atau juga disebut Masjid
Tiban (Masjid Sunan Drajat asli dan pernah digunakan untuk
perkumpulan Walisongo). Sempat suatu saat Masjid
Gendingan akan ditutup akan tetapi oleh Umi Hj. Choiriyah
(istri KH. Abdul Hadi) tidak diperbolehkan karena digunakan
santri untuk sholat berjamaah. Setelah itu pembangunan lanjut
di asrama barat. Asrama barat pada awal pembangunannya
difungsikan sebagai gedung sekolah pada pagi hari dan untuk
diniyah pada sore harinya karena belum ada gedung khusus.
Perkembangan jumlah santri membuat kamar yang ada di
asrama timur tidak muat dan pada akhirnya pembangunan
asrama barat yang masih beberapa blok akan dikembangkan
lagi menjadi tiga lantai.64

Seiring bertambahnya usia, Pondok Pesantren yang


awalnya hanya memiliki 1 blok kamar santri kini memiliki
beberapa lembaga pendidikan yang concern dalam
pengembangan ilmu keagamaan berbasis Al-Qur‟an. Lembaga-
lembaga tersebut adalah Mts. dan MA Al-Fathimiyah, Pondok

64
Hj. Choiriyah Hadi (64 tahun), 28 Juli 2022, wawancara tentang “Sejarah
Berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
62
Pesantren Putri Al-Fathimiyah, Madrasah Diniyah Putri Al-
Fathimiyah, dan Madrasah Qur‟aniyah Putri Al-Fathimiyah
atau Lembaga Pengembangan Tahfidzul Qur‟an (LPTQ).
1. Visi dan Misi
Visi : “Unggul dalam Prestasi, Berakhlaq Qur‟ani.”

Misi:

“Sebagai pusat kajian Al-Qur‟an baik lafdhon, ma‟nan wa


amalan”

“Mewujudkan kader umat yang mampu memiliki hafalan Al-


Qur‟an 30 juz yang mampu menggali nilai-nilai Al-Qur‟an
serta mengaktualisasikannya dalam sehari-hari”.

2. Susunan Kepengurusan
SUSUNAN KEPENGURUSAN YPPPi. AL-FATHIMIYAH
MASA ABDI 2021-2023
Pemangku : Ibu Nyai Hj. Khoiriyah
Ketua Yayasan : Ustd. K.H. Abdullah Adib Haad,
[Link].I.
Majlis Tahkim : Ustd. K.H. Abd. Majid, [Link].
Ustd. K.H. Abdullah Adib Haad,
[Link].I.
Ustd. Abdullah Najib Faaz, Lc.
Ustd. Abdulloh Thibbun Wikab,
[Link].
Ustd. Nur Hamim, [Link].I
63
Ustd. Ahmad Nidlom, [Link].I.
Ustd. M. Mauluddin, [Link].
Ustd. Ahmad Fathullah, [Link].I.
Pembimbing : Ustdz. Haulik Layyinah, [Link].I.
Ustdz. [Link] Awwaliyah
Q.F, [Link].I.
Ustdz. Urifatul Luthfiyah, [Link].
Ustdz. Ayu Fidyawati, [Link].
Ustdz. Wahidatur Rahmah, Lc.
Ustdz. Dia Aubah Danillah
Ketua I : Amirotul Izzah
Ketua II : Eric Susanty
Sekretaris I : Vetty Nur Jannah
Sekretaris II : Alfiyatus Sa‟adah
Bendahara I : Muchlichotul Faizah
Bendahara II : Dwi Yulia Nur Rohmah
Dep. Pendidikan : Fitrotin
Nuriyah Rohmanah
Safira Nur Rohmah
Dhian Nhafisa Alifi
Siti Khoirotun Nisa‟
Lathifatul Qolbiyah
Dep. Keamanan : Sarah Farhana Alifah
Afifatuz Zulfah
Alif Fithriyah
Aulia Wisda Nur Fitriana
Ayu Indah Jayanti
Dep. Kesejahteraan
Bidang Fitri Nur Rohmah
kebersihan
Zahrotus Sa‟adah
64
Dina Aula Habibah
Syarotul Falahiyah
Shofia Salma
Hidayatul Maghfiroh
Nurul Ainiyah
Riska
Bid. irigasi, : Nur Laily Fitria
perlengkapan,
dan donator
Barrotut Taqiyah

3. Jadwal kegiatan, Tata Tertib dan Sanksi65


a. Jadwal Kegiatan

PENANGG
No JENIS KEGIATAN WAKTU TEMPAT UNG
JAWAB
HARIAN
03.00
1 Sholat lail Masjid Bid Jama‟ah
-04.00
Jama‟ah Subuh & Baca 04.00- Masjid &
2 Bid Jama‟ah
S. Waqi‟ah 05.00 Musholla
05.00- Bid
3 Piket Pagi Pondok
05.30 Kebersihan
05.15- Musholla & Ibu Nyai &
4 MQ Pagi
06.15 Masjid Guru MQ
Pengajian kitab tafsir 06.00- Ust. KH
5 Dalem
munir,Itqon 06.30 Abd. Adib

65
Amirotul Izzah (21 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang “Jadwa
Kegiatan, Tata Tertib, dan Sanksi di Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan” di YPPPi Al-Fathimiyah.
65
Pengajian Kitab Tafsir 06.30- [Link]
6 Dalem
Jalalain 07.15 Abd. Majid
06.30-
7 Sekolah formal Madrasah Kep Sekolah
13.30
07.30- Bid
8 Kegiatan Santri Udzur Musholla
08.15 Pendidikan
Pengajian Al Qur‟an (Bil 10.00-
9 Masjid Ibu Nyai
Ghoib) 12.30
12.45- Masjid &
10 Jama‟ah Dhuhur Bid Jama‟ah
13.30 Musholla
13.30- Bid
11 Piket Siang Pondok
14.00 Kebersihan
13.00- Bid.
12 Istirahat Kondisional
14.45 Keamanan
14.45- Masjid &
13 Jama‟ah Ashar Bid Jama‟ah
15.30 Musholla
15.30-
14 Sekolah Diniyah Kelas Kasek Madin
17.00
Pembacaan surat Al 17.00- Masjid &
15 Bid Jama‟ah
kahfi 17.35 Musholla
17. 35- Bid.
16 Istirahat Kondisional
17.45 Keamanan
Jama‟ah Maghrib & 17.45- Masjid &
17 Bid Jama‟ah
Baca S. Yasin 18.30 Musholla
18.30- Kelas &
18 MQ Malam Kep. MQ
21.00 Musholla
21.00- Masjid &
19 Jama‟ah Isya‟ Bid Jama‟ah
21.15 Musholla
21.15-
20 Wiridan Masjid Bid Jama‟ah
21.30
21.30- Masjid & Bid
21 Takror
22.30 Musholla Musyawaroh

66
23.00- Bid.
22 Istirahat Kondisional
03.00 Keamanan
MINGGUAN
Khitobiyah, Dibaiyah, 19.50- Bid
1 Musholla
Manaqib 21.00 Pendidikan
06.00- Halaman Bid
2 Senam santri
06.30 pondok Kesehatan
Pengajian Kitab 09.00- Bid
3 Masjid
(Kasyifatus Sajah) 10.30 Pendidikan
18.30- Masjid & Bid
4 Tahlil bersama
19.00 Musholla Pendidikan
pengajian
19.00- Masjid & Bid
5 Kitab(Durrotun
20.00 Musholla Pendidikan
Nashihin)
Istighosah, Asma‟ul
husna, 20.35- Musholla & Bid
6
Burdah,Khitobiyah,Man 21.30 Masjid Pendidikan
aqib,Berzanji
Pengajian Kitab 05.30- Bid
7 Masjid
(Nashoihul „Ibad ) 07.00 Pendidikan
07.00-07- Bid
8 Ro'an Pondok
30 Kebersihan
Tadarus Al-Qur'an Bin 07.30- Masjid & Bid
9
nadhor 08.30 Musholla Pendidikan
09.00- Gedung Munadhoma
10 Ekstrakulikuler madin
10.30 Madding h at Thullab
12.30- [Link]
11 Jam'iyatul Qurro' Masjid
13.30 Minat
15.30- Bid
12 Ziaroh Makam
16.30 Pendidikan
BULANAN

67
Tadarus/ Tahtiman 06.00- Bid
1 Masjid
Qur'an 16.00 Pendidikan
Kondision
2 Musyawaroh pengurus Kantor Pengurus
al
06.00- Makam Sunan Bid
3 Ziaroh
07.30 Drajat Kesehatan
Dekor, Kaligrafi, tata 09.00- Bid Bakat
4 Pondok
Boga, Hasta karya 11.00 Minat
TAHUNAN
Kondision Pengurus +
5 PHBI Pondok
al Panitia
Tabel 10.3 Jadwal Kegiatan Santri

b. Tata Tertib dan Sanksi


TATA TERTIB
PONDOK PESANTREN PUTRI AL-FATHIMIYAH
Banjaranyar Paciran Lamongan
BAB I
Pasal 01
HAK
1. Santri diperbolehkan pulang sesuai dengan ketentuan pondok
pesantren
a Santri formal, ketentuannya mengacu pada lembaga
masing-masing dan kebijakan pengurus
b Santri yang mempunyai keperluan sangat penting dengan
syarat dijemput walinya dan batas pulang sesuai dengan
kepentingan
68
2. Santri diperbolehkan menghadiri undangan sesuai dengan
kebijakan pondok pesantren (undangan yang boleh dihadiri
santri adalah undangan yang berhubungan dengan kepentingan
pondok serta undangan yang dianggap perlu)
3. Santri diperbolehkan keluar maksimal dua kali setiap bulan
4. Santri diperbolehklan menemui tamu sesuai jam kunjung
dengan membawa kartu kunjung santri (KKS)
Pasal 02
KEWAJIBAN
1. Sowan kepada Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah dengan diserahkan orang tua/wali/yang mewakili
2. Mentaati dan menghormati Pengasuh Pondok dan keluarganya
3. Mematuhi peraturan pondok baik tertulis maupun tidak tertulis
4. Menyetorkan identitas diri kepada pengurus serta memenuhi
persyaratan administrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku
5. Menjaga nama almamater Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah serta sopan dalam perbuatan, perkataan,
berpakaian baik di dalam maupun di luar pondok
6. Mengikuti seluruh aktivitas dan kegiatan pondok (sesuai jenis
dan jadwal kegiatan pondok sebagaimana terlampir)
7. Mengikuti jama‟ah sholat maktubah serta wiridan yang
diamalkan juga melaksanakan qiyamul lail

69
8. Memakai seragam almamater yang telah ditentukan ketika
keluar, pulang & kembali ke pondok. Serta lapor kepada
keamanan & wajib sowan kepada pengasuh
Kriteria berpakaian:
a. Bawahan: meksi, rok dan sarung
b. Baju :
- baju panjang dengan ukuran (tangan kebawah sampai ibu
jari)
- Tidak ketat
- Tidak transparan (terawang)
- Terompet/lengan baju seperempat
- Tidak kain kaos
- Tidak keretan kecuali bagian tangan
- Tidak baju yang menyerupai laki-laki (hem laki-laki)
9. Menjaga kebersihan lingkungan
10. Santri wajib lapor kepada pengurus apabila mempunyai tamu
yang bermalam (baik keluarga, teman alumni, dll)
11. Santri wajib membayar Infaq Yayasan
Pasal 03
LARANGAN
1. Pulang atau pergi tanpa izin kepada pemangku
pondok/pengurus
2. Memakai perhiasan selain anting-anting dan dua cincin
3. Menggasap milik pondok dan milik orang lain
70
4. Menerima tamu yang bukan mahram selain di ruang tamu pada
jam kunjung
5. Melakukan aktivitas yang menimbulkan kegaduhan/keresahan
terutama pada jam-jam tertentu
6. Memasuki kamar orang lain tanpa izin
7. Tidak diperkenankan tidur di kamar orang lain
8. Membawa barang elektronik kecuali kamera digital
a. Alat elektronik yang dilarang adalah alat elektronik yang
banyak madharatnya dari pada manfaatnya seperti Hp,
dan Laptop.
b. Konsekuensi tidak akan pernah dikembalikan
9. Mengambil barang orang lain tanpa izin pemilik
10. Mewarnai rambut (semiran)
11. Memotong rambut dengan gaya laki-laki
12. Berkata tidak sopan
13. Memegang/menggunakan HP meskipun saat jam kunjung
(hanya boleh menggunakan HP wartel & HP pondok)
14. Kuku panjang
15. Memakai mahendi di tangan, pitex/kutex. (hanya boleh
mahendi kuku selain warna hitam)
16. Meminta SMS tetangga ataupun menginap di rumah tetangga

71
BAB II
Pasal 01
SANKSI
Macam-macam sanksi:
1. Ringan:
a. Diperingatkan
b. Kondisional/disesuaikan dengan kebijakan pengurus
2. Sedang:
a. Disidang pengurus
b. Kerja bakti
c. Membaca/menghafal Al-Qur‟an, Tahlil, Nadlom, dll.
d. Membayar denda sesuai yang ditentukan
e. Disita
f. Memakai jilbab pelanggaran
g. Sesuai dengan kebijakan pengurus
3. Berat:
a. Disidang keamanan
b. Memakai jilbab pelanggaran
c. Barang tidak akan pernah dikembalikan
d. Sesuai dengan kebijakan pengurus & dewan Pembina
e. Pemberitahuan kepada wali santri
f. Pemanggilan wali santri
g. Penyerahan kepada wali santri
Pasal 02
72
APLIKASI SANKSI
RINGAN : Pasal 02 ayat: 09
Pasal 03 ayat: 02, 03, 05, 06, 14, 15
SEDANG : Pasal 02 ayat: 07
Pasal 03 ayat: 02, 04, 07, 10, 11, 12,
13,16
BERAT : Pasal 02 ayat: 02,03, 05, 08
Pasal 03 ayat: 01, 05, 08, 09
B. Transmisi Pengetahuan Hadis Etika Sosial di Yayasan
Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah
Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah merupakan
yayasan pendidikan yang menaungi baik pendidikan formal
maupun non-formal. Hal tersebut menandakan adanya transmisi
ilmu pengetahuan yang sangat luas cakupannya, baik ilmu
pengetahuan umum, maupun keagamaan. Seperti halnya
kebanyakan pesantren, Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah juga menjadi pusat pendidikan akhlak bagi para
santrinya.

1. Transmisi Pengetahuan Hadis Etika Sosial Melalui


Pembelajaran Pesantren
Pesantren sebagai tempat pendidikan Islam dimana para
santrinya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan
seorang kyai telah memainkan fungsi-fungsi tradisionalnya,

73
yaitu transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam, pemeliharaan
tradisi, dan reproduksi ulama.66 Pesantren menjadi komponen
utama dalam kehidupan para santri, selain sebagai tempat
untuk istirahat dan tidur, juga menjadi pusat dari kegiatan
sehari-hari santri.
Di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah,
pesantren juga menjadi pusat dari kegiatan para santrinya. Di
pesantren, para santri belajar bagaimana cara untuk
bersosialisasi dengan santri lainnya yang setiap hari akan
saling bertemu dan berpapasan dan saling membutuhkan satu
sama lainnya yang kemudian mereka akan saling
mempraktekkan bagaimana etika sosial yang baik tersebut.
Selain mengaji Al-Qur‟an, para santri juga mengaji kitab-
kitab mu‟tabar yang mengajarkan mengenai adab menjadi
seorang santri seperti kitab adabul „alim wal muta‟allim,
akhlakul murid, akhlakul banat, dsb., yang disitu langsung
dicontohkan yang mana bersumber hadis-hadis dan bidayatul
hidayah (akhlak tasawuf).67
Pembelajaran kitab-kitab mu‟tabar di pesantren
dilaksanakan setiap malam Jum‟at untuk kitab Idhotun

66
Zainudin, “Tradisi Keilmuan dalam Dunia Pesantren dan Pendidikan
Formal” Jurnal Schemata (Vol. 6, no. 1, Juni 2017), 84.
67
H. Abdullah Adib Haad (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang “Kitab-
kitab pedoman pembelajaran etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
74
Nasihin dan juga Jum‟at pagi untuk kitab Ta‟limul
Muta‟allim, Adabul „Alim wal Muta‟allim. Sedangkan untuk
kitab Akhlakul Murid, Akhlakul Banat diajarkan di Madrasah
diniah. Untuk kitab-kitab hadis diajarkan di bulan Ramadhan
seperti Kitab Arba‟in Nawawi, Sirah an-Nabi wa adabuhu,
Al-Arba‟u>na fi al-„ilm, Ada>bu as-Shuhbah, dll.
Selain pembelajaran dari kitab-kitab mu‟tabar yang
juga merujuk pada hadis-hadis Nabi, di Pesatren Putri Al-
Fathimiyah juga terjadi adanya transmisi pengetahuan hadis
yang memang tidak langsung diajarkan secara tertulis. Hal
tersebut dibuktikan dengan adanya kitab-kitab hadis yang ada
di ndalem milik KH. Abdul Hadi Yasin (alm), “Sedanten
diwaos kaleh abi mbak”.68 Hal tersebut membuktikan bahwa
pendiri pesantren putri Al-Fathimiyah mengajarkan etika
yang bersumber dari Hadis Nabi.
Adanya kitab-kitab hadis milik KH. Abdul Hadi
Yasin (alm) yang menjadi bukti adanya transmisi hadis yang
kemudian transmisi pengetahuan hadis tersebut diajarkan
dengan mendidik secara sosial kepada putra-putra beliau
salah satunya H. Abdullah Adib Haad, dengan memberikan
contoh keseharian di tengah masyarakat yang kemudian

68
Hj. Choiriyah Hadi (64 tahun), 28 Juli 2022, wawancara tentang “Transmisi
pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
75
diajarkan kepada para santrinya dengan memberikan contoh
lalu dibuatkan pedoman-pedoman keterangan dari kitab-
kitab, dan ditransmisikan melalui kegiatan-kegiatan secara
langsung ataupun melalui ngaji kitab.69
Selain dari kitab-kitab dan pengajaran secara
langsung, transmisi pengetahuan hadis juga dipraktekkan
melalui adanya peraturan-peraturan pesantren yang wajib
ditaati oleh semua santri. Di dalam pasal 02 no. 2, tentang
kewajiban santri disebutkan bahwa “Mentaati dan
menghormati Pengasuh Pondok dan keluarganya” merupakan
cerminan dari adanya hadis tentang menghormati guru dan
menempatkan pada tempatnya. Dalam pasal 3, juga
disebutkan larangan-larangan yang memang sesuai dengan
hadis-hadis dan ajaran Nabi saw, seperti larangan menggasab,
mengambil barang orang lain, dan juga larangan-larangan
lain yang dapat merusak etika sosial santri.70
2. Transmisi Pengetahuan Hadis Etika Sosial Melalui
Pembelajaran Formal
Dalam pendidikan formal, transmisi pengetahuan hadis etika
sosial di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah
69
H. Abdullah Adib Haad (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang
“Transmisi pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
70
Amirotul Izzah (21 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang “Kesesuaian
peraturan pesantren dengan hadis-hadis etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
76
terjadi melalui beberapa faktor, salah satunya adanya mata
pelajaran Hadis Ilmu Hadis di Madrasah Aliyah Al-
Fathimiyah. Mata pelajaran tersebut diawali dengan
pengenalan apa itu hadis dan juga macam-macamnya, hingga
mengenal bunyi-bunyi hadis yang bisa diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Melalui mata pelajaran yang diajarkan di kelas, maka
para siswa akan mendapatkan pengetahuan hadis yang dapat
difahami dan juga diamalkan melalui pendidikan formal.
Selain dari buku mata pelajaran, faktor pengetahuan guru
juga sangat diperlukan dalam menunjang pemahaman siswa.
Selain buku panduan mata pelajaran hadis, guru juga
mengajarkan kepada siswa ilmu pengetahuan dari buku
pedoman Depag, buku modul cetakan dari MA. Al-
Fathimiyah sendiri yang merupakan rangkuman dari kitab-
kitab Hadis dan Ilmu Hadis, dan kitab minhatul mughits.
Bahkan di mata pelajaran hadis untuk kelas XII diajarkan
secara khusus mengenai hadis tentang etika sosial. Hal
tersebut bertujuan karena pentingnya mengenalkan hadis
kepada para siswa agar tidak memaknai Al-Qur‟an secara

77
sempit dan agar siswa mengetahui bahwa hadis juga
merupakan sumber hukum Islam.71
3. Transmisi Pengetahuan Hadis Etika Sosial Melalui Uswah
Hasanah dan Tradisi
Pengamalan Hadis Etika sosial yang sesuai dengan apa yang
telah diajarkan oleh Nabi saw, tidak lepas dari tradisi turun
temurun yang dibawa oleh para ulama terdahulu. Hadis-hadis
tersebut berhasil dipraktekkan di Yayasan Pondok Pesantren
Putri Al-Fathimiyah dengan adanya transmisi pengetahuan
mengenai hadis etika sosial yang diajarkan baik melalui
pengajian kitab, pengajaran di sekolah, maupun contoh
langsung dalam kehidupan yang diajarkan secara turun
temurun.

Dalam penerapannya, etika sosial khas pesantren juga


dicontoh dari para sesepuh yang tidak banyak memakai dalil
dalam pelafalannya akan tetapi banyak memakai dalil baik
Al-Qur‟an, Hadis, ataupun sirah nabawiyah sebagai pedoman
utama dalam praktek. Transmisi pengetahuan hadis etika
sosial di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah,
selain yang diajarkan oleh KH. Abdul Hadi Yasin (alm)
kepada Ustad H. Abdullah Adib Haad, juga bersumber dari

71
Ilmu Ilhafadh (34 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang “Transmisi
pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
78
Kyai Hannan Maksum yang oleh Kyai Faqih Langitan
dijuluki sebagai kitab bidayatul hidayah berjalan karena
akhlak yang ditulis oleh Imam Ghozali dalam kitab bidayatul
hidayah dipraktekkan kepada beliau, yang kemudian
dicontoh oleh Ustad H. Abdullah Adib Haad dan diajarkan
kepada santri.72

Perilaku keseharian yang dibawa oleh santri terdahulu


juga dipraktekkan hingga sekarang agar pengetahuan
mengenai hadis etika sosial tetap diamalkan. Seperti contoh
penerapannya dalam peraturan pesantren yang melarang
santri melakukan aktivitas yang menimbulkan kegaduhan dan
keresahan pada jam 11 malam karena dapat mengganggu
teman yang lain atau juga dapat mengganggu tetangga
pondok. Hal tersebut sudah diajarkan oleh KH. Abdul Hadi
Yasin (alm), kepada para santrinya dan diamalkan hingga
sekarang.73

Selain pentingnya mengenalkan bunyi hadis etika


sosial kepada santri, memberikan contoh real life juga
sangatlah penting karena apabila mengenalkan bunyi
72
H. Abdullah Adib Haad (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang
“Transmisi pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
73
Ilmu Ilhafadh (34 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang “Transmisi
pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
79
hadisnya tanpa dibarengi dengan praktek maka hal tersebut
akan mati sebagai materi saja. Seperti contoh, santri diberi
satu hadis mengenai menghormati ilmu dan perantara ilmu,
jika tidak dibarengi dengan prakteknya seperti bagaimana
cara berinteraksi kepada guru, bagaimana cara berjalan di
depan guru, dsb., maka hadis tersebut akan dimaknai hormat
saja, dan pengetahuan tentang praktek-praktek tersebut
didapatkan dari tradisi turun temurun yang sudah
74
berlandaskan dari apa yang diajarkan oleh Nabi saw.

No. Informan Keterangan Transmisi Pengetahuan

Transmisi Pengetahuan Hadis Etika


Sosial di YPPPi. Al-Fathimiyah
diawali oleh pendirinya, H. Abdul
1. Hj. Choiriyah Hadi
Hadi Yasin (alm), yang dibuktikan
dengan adanya Kitab-kitab Hadis di
ndalem

Diajarkan secara langsung oleh H.

H. Abdulloh Adib Haad, Abdul Hadi Yasin (alm), dan juga


2. oleh Kyai Hannan Ma‟sum (Kediri),
[Link].
kemudian diajarkan kepada santri
melalui pembelajaran pesantren,

74
Ibid.
80
memberikan contoh keseharian secara
langsung, ataupun pedoman-pedoman.

Merupakan salah satu alumni YPPPi.


Al-Fathimiyah yang masih bertemu
dan diajar oleh H. Abdul Hadi Yasin
(alm), dan mengajar mata pelajaran
Hadis Ilmu Hadis di MA. Al-
Fathimiyah sehingga Hadis Etika
3. Ilmu Ilhafadh, [Link].
Sosial dapat tertransmisikan kepada
santri. Selain itu transmisi
pengetahuan Hadis Etika Sosial juga
didapatkan dari tradisi santri-santri
terdahulu yang tetap menerapkannya
hingga sekarang

Selain dari pembelajaran yang ada di


YPPPi. Al-Fathimiyah, Hadis Etika
Sosial juga ditransmisikan melalui
4. Amirotul Izzah peraturan pesantren yang diterapkan
dari peraturan-peraturan terdahulu dan
juga bimbingan langsung dari H.
Abdulloh Adib Haad

Tabel 11.4 Transmisi Pengetahuan Hadis

81
C. Pemahaman Hadis Etika Sosial di Yayasan Pondok Peantren
Putri Al-Fathimiyah
Di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah, setelah
menerima suatu pengetahuan maka santri selanjutnya akan
memahami ilmu pengetahuan tersebut, baik ilmu pengetahuan
umum atau pengetahuan terhadap hadis. Dalam transmisinya,
pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi. Al-Fathimiyah banyak
dikenalkan baik melalui hadisnya secara langsung ataupun
pemahaman bahwa etika sosial yang diajarkan Rasulullah itu
prakteknya seperti ini (praktek dalam kegiatan sehari-hari).

Etika sosial menurut H. Abdullah Adib Haad, adalah


segala bentuk perilaku yang disitu mencerminkan hubungan
hidup antar manusia, dan manusia dengan makhluk lain. Perilaku
hidup atau tata cara untuk bisa hidup yang terdapat unsur untuk
saling memahami, saling mengerti, dan lain sebagainya.75
Penjelasan lain disampaikan oleh Ustadzah Ilmu Ilhafadh bahwa
etika sosial itu sama seperti adab, etika itu adab, yang kalau
disambungkan dengan santri YPPPi. Al-Fathimiyah berarti adab
kebiasaan anak-anak di sekitar Fathimiyah itu seperti apa, apakah

75
H. Abdullah Adib Haad (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman tentnag etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan.
82
bisa bersosialisasi dengan baik sesuai yang diajarkan atau tidak.76
Menurut pemahaman Amirotul Izzah, etika sosial adalah sikap
ataupun perbuatan kita kepada masyarakat ataupun lingkungan
sesuai dengan ketentuan yang ada, tidak sembarangan, dan sesuai
dengan aturan.77 Ishfi Hamidatul dan Iffatun Izzah Af‟idah
mendeskripsikan hal yang sama yaitu etika sosial sebagai adab
bagaimana kita bersikap kepada lingkungan sosial kita.78
Pemahaman mengenai hadis tentang guru dan murid, HR.
Bukhari: 77
ِٟ‫ ِذث ِْٓ َػ ْج ِذ هللاِ َػ ْٓ اَث‬٠ْ ‫عب َِخَ َػ ْٓ ث َُش‬ َ ُ ‫َؽذَّصََٕب ُِ َؾ َّّذ ُ ْثُٓ اٌؼَ ََلعِ َلبي َؽذَّصََٕب َؽ َّّبد ُ ْثُٓ ا‬
َ َِٕ‫ َلب َي َِض َ ًُ َِب ثَ َؼض‬:َُ ٍَّ ‫ع‬
ِٗ ‫ هللاُ ِث‬ٟ َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬ َ ٟ‫ َػ ِٓ إٌَّ ِج‬:ٝ‫ع‬ َ ُِٛ ٟ‫ث ُْشدَح َ َػ ْٓ ا َ ِث‬
‫ذ اٌ َّب َء‬ْ ٍَ‫َّخٌ لَ ِج‬١‫ب َٔ ِم‬َٙ ْٕ ِِ َْ‫بة اَ ْسضًب فَ َىب‬
َ ‫ص‬ ِ ١ْ َ‫اٌ ِؼ ٍْ ُِ َو َّض َ ًِ اٌغ‬َٚ َٜ‫ذ‬ُٙ ٌ‫َِِٓ ا‬
َ َ ‫ ِْش ا‬١ِ‫ش اٌ َىض‬
‫ب‬َٙ ِ‫َذ اٌ َّب َء َفَٕفَ َغ هللاُ ث‬ َ ِْ َ‫ب اَ َعبدِةُ ا‬َٙ ْٕ ِِ ‫َذ‬
ْ ‫غى‬ ْ ٔ‫وَب‬َٚ ‫ َْش‬١‫ت اٌ َى ِض‬ َ ‫ػ ْؾ‬ ُ ‫ا‬َٚ َ ‫َذ اٌى َََل‬ ْ ‫فَب َ ْٔجَز‬
‫بْ َْل‬ ٌ َ‫ؼ‬١ِ‫ ل‬ِٟ َ ٘ ‫ أَِّ َّب‬ٜ‫طبئِفَخً ا ُ ْخ َش‬ َ ‫ب‬َٙ ْٕ ِِ ‫ذ‬ ْ َ‫صبث‬ َ َ ‫ا‬َٚ ‫ا‬ُْٛ ‫صَ َسػ‬َٚ ‫ا‬ْٛ َ‫عم‬ َ َٚ ُ‫بط فَؾ َِشة‬ َ ٌَّٕ‫ا‬
ِٗ ِ‫ هللاُ ث‬ٟ َ َِٕ‫َٔفَؼَُٗ َِب ثَؼَض‬َٚ ِ‫ ِْٓ هللا‬٠‫ ِد‬ِٟ‫ َْل ر ُ ْٕجِذُ و َََلَ فَزَاٌِهَ َِض َ ًُ َِ ْٓ فَمَُٗ ف‬َٚ ‫ر ُ ّْ ِغهُ َِب ًء‬
ً ْ‫َ ْشفَ ْغ ِثزٌَِهَ َسأ‬٠ ُْ ٌَ ْٓ َِ ًُ َ ‫ َِض‬َٚ َُ ٍَّ‫ َػ‬َٚ َُ ٍِ َ‫فَؼ‬
ِٗ ‫ أ ُ ْس ِع ٍْذُ ِث‬ِٞ‫ هللاِ اٌَّز‬َٜ‫َ ْمجَ ًْ ُ٘ذ‬٠ ُْ ٌََٚ ‫عب‬
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-A‟la
berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin
Usama dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari

76
Ilmu Ilhafadh (34 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang “Pemahaman
tentang etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
77
Amirotul Izzah (21 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang “Pemahaman
tentang etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
78
Ishfi Hamidatul (25 tahun), dan Iffatun Izzah Af‟idah (24 tahun), 29 Juli
2022, wawancara tentang “Pemahaman tentang etika sosial”, di YPPPi. Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
83
Abu Musa dar Nabi saw, beliau bersabda: “Perumpamaan
petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan
membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun
mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat
menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-
tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan diantaranya
ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang)
sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum
hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan lain ada
permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat
menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman.
Perumpamaan itu adalah seperti orang yang paham
Agama Allah dan dapat memanfaatkan apa yang aku
diutus dengannya, dia mempelajarinya dan
mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak
dapat mengangkat derajat dan tidak dapat menerima
hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya.79

Hadis ini menjelaskan mengenai kedudukan guru dan


murid, kewajiban serta hak mereka masing-masing. Guru

79
Shahih Bukhari, No.77 (Ensiklopedi Hadits i-Software), hadis shahih
menurut Ijma‟ ulama. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadldlor
(sahabat), Amir bin „Abdullah bin Qais (tsiqqoh, katsirul ghalath), Buraid bin Abdullah
(tsiqqoh, laitsa bihi ba‟s. shuduuq), Hammad bin Usamah bin Zaid (tsiqqoh, hujjah,
tsiqqoh ma‟mun), Muhammad bin al-A‟laa bin Kuraib (shaduuq, la ba‟sa bihi, tsiqqoh,
hafidz)
84
diibaratkan sebagai hujan yang lebat, dan murid diibaratkan
sebagai tanah. Seorang guru itu tidak diperbolehkan untuk
membeda-bedakan antara murid satu dengan yang lainnya, sama
seperti hujan yang tidak membeda-bedakan tempat turunnya.
Sedangkan murid adalah tanah yang bermacam jenisnya, ada
tanah yang dapat langsung menyerap air hujan, ada juga yang
mempunyai sifat menampung dan tidak menyerap semua air yang
diturunkan, dan semuanya akan ada manfaat masing-masing.80
Narasumber mengaku bahwa belum pernah mendengar hadis
tersebut, akan tetapi memahami bahwa Rasulullah tidak pernah
membeda-bedakan muridnya dan hal tersebut yang seharusnya
tetap dipraktekkan oleh guru kepada santri-santri.

“Kewajiban murid terhadap guru adalah menghormatinya,


guru itu sebagai perantara ilmu, jika ingin menghormati ilmu
maka hormatilah yang membawa dan menyampaikan ilmu itu
kepada kita agar ilmu itu manfaat dan dapat memberikan manfaat.
Kalau untuk hadisnya saya belum mengetahuinya, tapi sampai

80
Iffatun Izzah Af‟idah (24 tahun), 29 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika sosial”, di YPPPi. Al-Fathimiyah Banjaranyar,
Paciran, Lamongan.
85
saat ini yang menjadi pedoman adalah “Wa bil khidmati intafa‟u
Wa bil hurmati irtafa‟u”.81

Rasulullah saw, merupakan sosok teladan yang


memberikan contoh kepada umat manusia salah satunya dalam
hal tamu-menamu atau bertamu dan menerima tamu. Dalam
hadis-hadisnya, beliau mengajarkan bahwa dalam bertamu ada
beberapa etika yang harus dilaksanakan, dimulai dari bagaimana
cara salam dan lain sebagainya, apalagi jika bertamu tersebut
adalah bertamu kepada guru. Dalam pemahamannya, santri
YPPPi. Al-Fathimiyah mengemukakan bahwa etika bertamu yang
diterapkan di YPPPi. Al-Fathimiyah seperti yang diajarkan oleh
Rasulullah.

Etika bertamu yang pertama harus diterapkan adalah


meminta izin yang dijelaskan dalam HR. Muslim: 400782

ْٓ ‫س َػ‬ ِ ‫ ْثُٓ اٌ َؾ‬ْٚ ‫ َػ ّْ ُش‬ِٟٕ َ ‫ت َؽذَّص‬


ِ ‫بس‬ ٍ ْ٘ َٚ ِْٓ ‫ َػ ْجذ ُ هللاِ ث‬ِٟٔ ‫اٌطب٘ ِِش أ َ ْخ َج َش‬ َّ ُْٛ ‫ اَث‬ِٟٕ َ ‫َؽذَّص‬

َ ‫ع ِّ َغ أَثَب‬
َّ ‫ ٍذ اٌ ُخزْ ِس‬١ْ ‫ع ِؼ‬
ِٟ‫ ُوَّٕب ف‬:ُ‫ي‬ْٛ ُ‫َم‬٠ ٞ َ ََُّٗٔ‫ ٍذ َؽذَّصَُٗ ا‬١ْ ‫ع ِؼ‬
َ َْٓ‫ؽ ّظِ ا َ َّْ ثُغ َْشث‬
َ َ‫ ِْش ث ِْٓ اْل‬١‫ثُ َى‬

81
Ishfi Hamidatul (25 tahun), 29 Juli 2022,wawancara tentang “Pemahaman
mengenai hadis etika sosial”, di YPPPi. Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan.
82
Shahih Muslim, No.4007 (Ensiklopedi Hadits i-Software), hadis shahih
menurut Ijma‟ ulama yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqqoh, yaitu Abdullah bin
Qais (sahabat), Sa‟ad bin malik (sahabat), Busr bin Da‟id, Maula Ibnu al-Hadlramiy
(tsiqqoh), Bukair bin „Abdullah bin al-Asyajj (tsiqqoh, tsiqqoh tsabat), Amru bin al-
Harits bin Ya‟qub (tsiqqoh, faqih, hafidz), Abdullah bin Wahab bi Muslim (tsiqqoh, la
ba‟sa bihi, hafidz), Ahmad bin „Amru bin Abdullah bin „Amru As-Sarh (tsiqqoh, la
ba‟sa bihi).
86
َ ‫ َل‬َٚ َّٝ‫ضجًب َؽز‬
‫ف فَمَب َي‬ َ ‫ ُِ ْغ‬ٞ
ُّ ‫ اْلَ ْؽ َؼ ِش‬ٝ‫ع‬
َ ْٛ ُِ ُْٛ ‫ اَث‬َٝ ‫ت فَأَر‬ ٍ ‫ ِ ث ِْٓ َو ْؼ‬ٟ ُ َ‫َِغْ ٍِ ٍظ ِػ ْٕذ‬
ّ ‫ػ َج‬
:َ‫عٍَّ َُ فَمَبي‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬ ُ ‫َس‬ ُْ ‫ؾذ ُ ًوّش هللاَ ٘ ًَْ َع ِّ َغ ا َ َؽذ ٌ ِِ ْٕ ُى‬ ُ ْٔ َ ‫ا‬
ْ َ‫ا َِّْل ف‬َٚ , َ‫ فَب ِْْ اَرَِْ ٌَه‬.‫س‬
‫بس ِع ْغ‬ ٌ ‫ا ِْل ْعزِئْزَاُْ ص َ ََل‬
ُْ ٍََ‫د ف‬ ٍ ‫س َِ َّشا‬ َ ‫ة اَ ِْ ِظ صَ ََل‬
ِ ‫طب‬َّ ‫ػ َّ َش ث ِْٓ اٌ َخ‬ ُ ٍَٝ‫ َِب رَانَ لَب َي اِ ْعز َأْرَ ْٔذُ َػ‬َٚ ٟ ٌّ َ‫لَب َي اُث‬
ُ‫غٍَّ ّْذ‬َ َ‫ ِعئْذُ اَ ِْ ِظ ف‬ََّٟٔ‫ ِٗ فَأ َ ْخجَ ْشرُُٗ ا‬١ْ ٍَ ‫ ََ َفذَخ ٍَْذُ َػ‬ْٛ َ١ٌ‫ َف َش َع ْؼذُ ص ُ َُّ ِع ْؼزُُٗ ْا‬ٌِٝ ْْ َ‫ُؤْ ر‬٠
َ‫ َِب ا ْعز َأْرَ ْٔذ‬ْٛ ٍََ‫ؽ ْغ ًٍ ف‬
ُ ٍَٝ‫َٕئِ ٍز َػ‬١ْ ‫ َٔؾْ ُٓ ِع‬َٚ َ‫ع ِّ ْؼَٕبن‬ َ ْ‫ص َش ْفذُ لَب َي لَذ‬ َ ْٔ ‫ص َ ََلصًب ص ُ َُّ ا‬
‫ع ٍَّ َُ لَب َي‬ َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫َػ‬ ُ‫ هللا‬ٍَّٝ ‫ص‬
َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬ُ ‫ع ِّ ْؼذُ َس‬ َ ‫لَب َي ا ْعز َأْرَ ْٔذُ َو َّب‬ َ‫ُؤْ رََْ ٌَه‬٠ َّٝ‫َؽز‬
ُٓ‫ُّ ْج‬١َ‫َ٘زَا فَمَب َي اُث‬ ٍَٝ‫ذُ ٌَهَ َػ‬َٙ ‫َ ْؾ‬٠ ْٓ َّ ِ‫َ َّٓ ث‬١ِ‫ ٌَز َأْر‬ْٚ َ ‫طَٕهَ ا‬
ْ َ‫ث‬َٚ َ‫ َشن‬ْٙ ‫ظ‬ َ َّٓ َ‫ ِعؼ‬ْٚ ُ ‫هللاِ َأل‬َٛ َ‫ف‬
‫ػ َّ َش‬ َ ‫َب اَثَب‬٠ ُْ ُ‫ َُ َِؼَهَ ا َِّْل اَؽْ ذَصَُٕب ِعًّٕب ل‬ْٛ ُ‫َم‬٠ ‫هللاِ َْل‬َٛ َ‫ت ف‬
ُ ُ‫ْذ‬١َ‫ اَر‬َّٝ‫ ٍذ فَمُ ّْذُ َؽز‬١ْ ‫ع ِؼ‬ ٍ ‫َو ْؼ‬
‫ ُي َ٘زَا‬ْٛ ُ‫َم‬٠ َُ ٍَّ‫ع‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬
َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬ُ ‫ع ِّ ْؼذُ َس‬ َ ْ‫فَمُ ٍْذُ لَذ‬
Telah menceritakan kepadaku Abu At-Thahir, telah
mengabarkan kepadaku „Abdullah bin Wahb, telah
menceritakan kepadaku „Amru bin al-Harits dari Bukair
bin al-Asyaj bahwa Busr bi Sa‟id, telah menceritakan
kepadanya, dia mendengar Abu Sa‟id al-Khudri berkata,
suatu ketika kami sedang berada di majlis Ubay bin
Ka‟ab, tiba-tiba Abu Musa al-Asy‟ari datang dalam
keadaan marah, lalu beliau berdiri seraya berkata “Demi
Allah apakah diantara kalian ada yang pernah mendengar
sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Meminta izin itu
hanya tiga kali, apabila diizinkan kalian boleh masuk, jika
setelah tiga kali tidak ada jawaban maka pulanglah.” Ubay
berkata, memang ada apa dengan hadis tersebut? Abu
Musa menjawab, “Kemarin aku telah meminta izin kepada
87
Umar sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban, maka
akupun pulang kembali. Lalu pada hari ini aku
mendatanginya lagi dan aku kabarkan kepadanya bahwa
aku telah menemuinya kemarin dan sudah aku ucapkan
salam sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban
akhirnya aku pulang kembali. Dan Umar menjawab, kami
telah mendengarmu yang pada waktu itu kami memang
sedang sibuk hingga tidak sempat mengizinkanmu, tetapi
kepada kamu tidak menungguku sampai aku
mengizinkanmu?, Abu Musa menjawab, Aku meminta
izin sebagaimana yang telah aku dengar dari Rasulullah
saw. Lalu Umar berkata, Demi Allah aku akan
menghukum kamu hingga kamu mendatangkan saksi ke
hadapanku mengenai hadis itu. Kemudian Ubay bin Ka‟ab
berkata, Demi Allah tidak akan ada yang menjadi saksi
atasmu kecuali orang yang paling muda diantara kami.
Berdirilah wahai Abu Sa‟id!, lalu akupun berdiri hingga
aku menemui Umar dan aku katakan kepadanya “Aku
telah mendengar Rasulullah saw bersabda mengenai hadis
tersebut.
Pada kesempatan wawancara bersama Ustad H. Abdullah
Adib Haad, beliau menjelaskan mengenai bagaimana etika dalam
bertamu. “Dalam Al-Qur‟an jelas diterangkan bahwa ketika
Rasulullah saw, ketika sedang istirahat maka para sahabat tidak
88
akan berani mengganggu, dalam bahasanya adalah tu‟dhinnabiy,
teori menjadi guru yang baik adalah guru tidak akan pernah
merasa tersakiti atau terganggu, dan murid memahami waktu
yang tepat ketika ingin bertamu kepada gurunya. Dalam Hadis
juga dijelaskan bahwa dalam bertamu untuk mengetuk pintunya
tidak boleh keras dan berkali-kali, caranya adalah mengetuk
pintu-salam-jeda-mengetuk pintu-salam-jeda dan ulangi sampai
tiga kali. Jika tiga kali masih belum ada jawaban maka kembali di
lain waktu, untuk etika pesantren seperti itu”.83
Dari Farha Kamila memahami hadis tersebut bahwa
Rasulullah itu pernah bersabda apabila kita bertamu kalau sudah
salam sebanyak tiga kali terus tidak ada respon atau jawaban itu
tidak apa-apa ditinggal dan lebih baik kembali di lain
kesempatan.84
Dalam etika bertamu selanjutnya adalah adanya hadis
yang menjelaskan tentang perintah menjaga pandangan, hadis
tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih
Bukhari no. 577285:

83
H. Abdullah Adib Haad (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang “Etika
bertamu di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan.
84
Farha Kamilatun N.A. (20 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika bertamu” di YPPPi. Al-Fathimiyah Banjaranyar,
Paciran, Lamongan.
85
Shahih Bukari, No.5772 (Ensiklopedi Hadits i-Software), hadis shahih
menurut ijma‟ ulama. Diriwayatkan oleh Sahal bin sa‟d bin malik (sahabat),
89
ْ ‫ َؽ ِف‬ٞ
ْٓ ‫ظزُُٗ َو َّب أََّهَ َ٘ب َُٕ٘ب َػ‬ ُّ ‫بُْ لَب َي‬١َ ‫ع ْف‬
ُّ ‫اٌض ْ٘ ِش‬ ُ ‫ ْثُٓ َػ ْج ِذهللاِ َؽذَّصََٕب‬ُّٟ ٍِ ‫َؽذَّصََٕب َػ‬
َُ ٍَّ‫ع‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬
َ ِٟ‫ ُؽ َغ ِش إٌَّج‬ِٟ‫طٍَ َغ َس ُع ًٌ ِِ ْٓ عُؾْ ٍش ف‬ َ ‫ع ْؼ ٍذ لَب َي ا‬
َ ِْٓ ‫ ًِ ث‬ْٙ ‫ع‬ َ
ُ ْٕ َ ‫ أ َ ْػٍَ ُُ أ َ َّٔهَ ر‬ْٛ ٌَ ‫عُٗ فَمَب َي‬
‫ظ ُش‬ َ َ‫َ ُؾهُّ ثِ ِٗ َسأ‬٠ ٜ‫عٍَّ َُ ِِذ ًْس‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬َ ِٟ‫ َِ َغ إٌَّج‬َٚ
َ َ‫اْل ْعزِئْزَاُْ ِِ ْٓ اَعْ ًِ ْاٌج‬
‫ص ِش‬ َ ٌَ
ِ ًَ ‫ِٕهَ اِ َّٔ َّب ُع ِؼ‬١ْ ‫ َػ‬ْٟ ِ‫طؼَ ْٕذُ ثِ ِٗ ف‬

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah


menceritakan kepada kami Sufyan, Az-Zuhri berkata,
“aku telah menghafalnya sebagaimana dirimu di sini”,
dari Sahl bin Sa‟d dia berkata, “Seorang laki-laki pernah
melongokkan kepalanya ke salah satu kamar nabi saw,
waktu itu nabi saw, tengah membawa sisir untuk menyisir
rambutnya, lalu beliau bersabda, “Sekiranya aku tahu
kamu mengintip, sungguh aku akan mencolok kedua
matamu, sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan
karena pandangan.

Dalam beberapa wawancara bersama santri, peneliti


mendapatkan jawaban pemahaman yang bermacam-macam.
Menurut Iffatun Izzah hadis tersebut menjelaskan tentang adanya
larangan untuk melihat ke dalam rumah ketika menunggu
jawaban salam dari pemilik rumah karena dikhawatirkan pemilik
rumah sedang melakukan kegiatan tertentu, bahkan Rasulullah
pun marah ketika ada yang mengintip karena hal tersebut

Muhammad bin muslim (faqih, hafidz, mutqin), Sufyan bin uyainah (hafidz, mutqin,
tsiqqoh tsabat), Ali bin abdullah bin ja‟far bin najih (tsiqqoh, tsiqqoh tsabat, mutqin).
90
merupakan suatu hal yang tercela dan tidak sopan.86 Menurut
Farha Kamila, hadis tersebut menyebutkan adanya larangan
ketika bertamu tidak boleh inceng-inceng atau mengintip tanpa
izin tuan rumah. Jika bertamu di rumah orang, dan ada suatu
ruangan yang terbuka atau apapun itu, kita tidak boleh melihatnya
ketika belum meminta izin kepada tuan rumah, jadi bahasanya
adalah “lancang”, tidak boleh melihat-lihat sebelum ada izin dari
pemilik rumah. “Jadi ketika bertamu hendaknya menjaga
pandangan, jangan sampai mata kita melihat-lihat”.87
Menyimpulkan dari pemahaman mereka adalah salah satu etika
bertamu yaitu meminta izin salah satunya berfungsi untuk
menjaga pandangan dari perbuatan yang tidak sopan, baik
sebelum dipersilahkan masuk ke dalam rumah ataupun ketika
sudah berada di dalam rumah.
Tidak jarang dijumpai ketika bertamu adalah tuan rumah
bertanya siapa sebelum membukakan pintu, hal tersebut juga
terjadi di zaman Rasulullah saw., sehingga umat Islam tahu
bagaimana cara yang baik untuk menjawabnya. Dalam sebuah

86
Iffatun Izzah (24 tahun), 29 Juli 2022, wawancara tentang “Pemahaman
mengenai hadis etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
87
Farha Kamilatun N.A. (20 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika sosial”, di YPPPi. Al-Fathimiyah Banjaranyar,
Paciran, Lamongan.
91
hadis riwayat Imam Bukhari no. 5781,88 dijelaskan bahwa cara
menjawab yang baik adalah dengan menyebutkan nama.
‫ؽ ْؼجَخُ َػ ْٓ ُِ َؾ َّّ ِذث ِْٓ اٌ ُّ ْٕ َىذ ِِس لَب َي‬ َ ُْٛ ‫َؽذَّصََٕب أَث‬
ُ ‫ا ٌِ ِذ ِ٘ؾَب َُ ْث ُٓ َػ ْج ِذ اٌ َّ ٍِ ِه َؽذَّصََٕب‬ٌٛ‫ا‬
َُ ٍَّ‫ع‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬ َ ِٟ‫ْذُ إٌَّج‬١َ‫اَر‬:ُ‫ي‬ْٛ ُ‫م‬٠َ ‫ َّب‬ُٙ ْٕ ‫ هللاُ َػ‬َٟ ‫ض‬ ِ ‫ع ِّ ْؼذُ َعبثِ َش ثَْٓ َػ ْج ِذهللاِ َس‬
َ
ََُّٗٔ‫ َوب‬,‫ أََب أََب‬:َ‫ فَمَبي‬,‫ َِ ْٓ رَا؟ فَمُ ٍْذُ أََب‬:َ‫ فَمَبي‬.‫بة‬
َ َ‫ فَذَلَ ْمذُ اٌج‬ٟ‫ أ َ ِث‬ٍَٝ‫ ٍْٓ َوبَْ َػ‬٠َ‫ د‬ِٟ‫ف‬
‫ب‬َٙ َ٘ ‫و َِش‬

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid Hisyam


bin Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami
Syu‟bah dari Muhammad bin al-Munkadir dia berkata:
saya mendengar Jabir bin Abdullah ra, berkata: “Aku
menemui Nabi saw karena utang ayahku, lalu aku
mengetuk pintu rumah beliau, beliau bertanya: “Siapakah
itu?” aku menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Saya,
saya!” seolah-olah beliau membencinya.

Menurut pemahaman Farha Kamila, hadis tersebut


menjelaskan bahwa ketika bertamu semisal ditanya siapa itu
menyebutkan nama agar lebih sopan lebih etis, jika hanya
menyebutkan “saya” itu terkesan kurang sopan. Maka dari itu
dalam hadis disebutkan bahwa Nabi terlihat seolah membencinya,
hal tersebut menunjukkan bahwa jika bertamu dan ditanya siapa

88
Shahih Bukhari, No.5781 (Ensiklopedi Hadits i-Software), hadis shahih
diriwayatkan oleh Jabir bin abdullah bin amru bin haram (sahabat), Muhammad bin al-
munkadir (tsiqqoh, shahihul hadis jiddan), Syu‟bah bin al-hajjaj (tsiqqoh tsabat, tsiqqoh
makmun), Hisyam bin abdul malik (tsiqqoh, mutqin, hafidz).
92
maka seharusnya tamu harus menyebutkan namanya.89 Selain itu
menurut Iffatun Izzah, penyampaian nama secara langsung juga
berfungsi jika ketika bertamu yang menerima adalah bukan tuan
rumah secara langsung melainkan keluarga yang lain atau bisa
juga dalam dunia pesantren ketika bertamu kepada bu nyai yang
menerima bukan bu nyai langsung dan diterima oleh abdi ndalem
yang tidak mengenal tamu tersebut.90

Bertamu merupakan sebuah kegiatan yang memberikan


manfaat bagi kehidupan sosial, salah satunya menyambung
silaturrahim. Selain etika bertamu yang harus diperhatikan, ada
juga etika dalam menerima tamu. Dalam hadis yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhari: 555991, disebutkan:

ْٓ ‫ػ‬ َ ِٟ‫ ٍْٓ َػ ْٓ اَث‬١‫ص‬


َ ٍ‫صب ٌِؼ‬ ِ ‫ َؽ‬ِٟ‫ػ ْٓ اَث‬
َ ‫اؿ‬ َ ُٓ‫جَخُ ْث‬١ْ َ ‫َؽذَّصََٕب لُز‬
ِ َٛ ْ‫ اْلَؽ‬ُْٛ ‫ ٍذ َؽذَّصََٕب اَث‬١ْ ‫ع ِؼ‬
ِ‫ُؤْ ُِِٓ ِثبهلل‬٠ َْ‫ َِ ْٓ َوب‬: َُ ٍَّ ‫ع‬ َ ُ‫ هللا‬ٍَّٝ ‫ص‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ ‫ػ‬ َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬ ُ ‫ لَب َي َس‬:َ‫ َْشح َ لَبي‬٠‫ ٘ َُش‬ٝ‫اَ ِث‬
َ َْ ‫ُ ْى ِش‬١ٍْ َ‫ َِ اْلَ ِخ ِش ف‬ْٛ ١َ ٌ‫ ْا‬َٚ ِ‫ُؤْ ُِِٓ ِثبهلل‬٠ َْ‫ َِ ْٓ َوب‬َٚ , ُٖ‫بس‬
َُٗ‫ف‬١ْ ‫ض‬ َ ‫ُؤْ ِر َع‬٠ ‫ َِ اْلَ ِخ ِش فَ ََل‬ْٛ ١َ ٌ‫ ْا‬َٚ
.‫ذ‬ْ ُّ ‫ص‬ ْ َ١ٌِ ْٚ َ ‫ ًْشا ا‬١‫َمُ ًْ َخ‬١ٍْ َ‫ َِ اْلَ ِخ ِش ف‬ْٛ ١َ ٌ‫ ْا‬َٚ ِ‫ُؤْ ُِِٓ ثِبهلل‬٠ َْ‫ َِ ْٓ َوب‬َٚ ,

89
Farha Kamilatun N.A. (20 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika bertamu” di YPPPi. Al-Fathimiyah Banjaranyar,
Paciran, Lamongan.
90
Iffatun Izzah (24 tahun), 29 Juli 2022, wawancara tentang “Pemahaman
mengenai hadis etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
91
Shahih Bukhari, No.5559 (Ensiklopedi Hadits i-Software), hadis shahih
diriwayatkan oleh perowi yang memenuhi derajat shahih, yaitu Abdur Rahman bin
Shakr (sahabat), Dzakwan/Abu Shalih (tsiqqoh, shuduuq), Utsman bin „Ashim bin
Hushain (tsiqqoh tsabat,tsiqqoh), Salam bin Sulaim (mutqin, tsiqqoh, shahibu hadis,
hafidz), Qutaibah bin Sa‟id bin Jamil bin Tharif bin Abdullah (tsiqqoh, tsiqqoh tsabat).
93
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa‟id, telah
menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari Abu
Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dn hari akhir maka janganlah ia
mengganggu tetangganya. Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia
memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata
yang baik atau diam saja.

HR. Bukhari: 567092


ّ ‫ ٍذ ْاٌ َّ ْمج ُِش‬١ْ ‫ع ِؼ‬
ِٟ‫ ِ َػ ْٓ اَث‬ٞ َ ْٓ ‫ف ا َ ْخجَ َشَٔب َِب ٌِهٌ َػ‬
َ ِٟ‫ ِذ ث ِْٓ اَث‬١ْ ‫ع ِؼ‬ َ ‫ع‬ُ ُْٛ ٠ ُٓ‫َؽذَّصََٕب َػ ْجذ ُهللا ْث‬
ِ‫ُؤْ ُِِٓ ِثبهلل‬٠ َْ‫عٍَّ َُ َلب َي َِ ْٓ َوب‬ َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬َ ِ‫ ُي هللا‬ْٛ ‫ع‬ ّ ‫ْؼٍ ْاٌ َى ْؼ ِج‬٠‫ؽ َش‬
ُ ‫ ِ ا َ َّْ َس‬ٟ ُ
ّ ِ ٌ‫ا‬َٚ ٌ‫ٍَخ‬١ْ ٌََٚ ٌَ ْٛ َ٠ ُُٗ‫فَُٗ َعبئِضَ ر‬١ْ ‫ض‬
َ‫ ٍَّبَ فَ َّب ثَ ْؼذَ رَاٌِه‬٠َ‫َبفَخُ ص َ ََلصَخُ ا‬١‫ض‬ َ َْ ‫ُ ْى ِش‬١ٍْ َ‫ َِ اْلَ ِخ ِش ف‬ْٛ َ١ٌ‫ ْا‬َٚ
ُٗ‫ُؾْ ِش َع‬٠ َّٟ‫ ِػ ْٕذَُٖ َؽز‬ٞ َ ِٛ ْ‫ض‬٠َ ْْ َ ‫ ِؾ ًُّ ٌَُٗ ا‬٠َ ‫ َْل‬َٚ ٌ‫صذَلَخ‬
َ َٛ ُٙ َ‫ف‬
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf,
telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sa‟id bin Abu
Sa‟id al-Maqburi dari Abu Suraih al-Ka‟bi bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya

92
Shahih Bukhari, No.5607 (Ensiklopedi Hadits i-Software), hadis shahih
munurut Ijma‟ ulama, diriwayatkan oleh Khuwailid bin „Amru bin Shakr (sahabat),
Sa‟id bin Abi Sa‟id Kaisan (tsiqqoh, shaduuq, menurut Ibn Hajar tsiqqoh tetapi berubah
sebelum wafat), Malik bin Anas bin Malik bin Abi‟Amir (tsiqqoh, tsiqqoh ma‟mun).
94
dan menjamunya sing dan malam, dan bertamu itu tiga
hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, da tidak halal
bagi tamu tinggal (berlama-lama) sehingga
memberatkannya.

Hadis mengenai anjuran memuliakan tamu tersebut, Farha


Kamilatun memahaminya sebagai berikut: “Nabi memang
mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan tamu, dan ada
juga pribahasa yang menyatakan bahwa tamu adalah raja. Jadi
saking mulianya tamu, maka ketika ada tamu yang bertamu ke
rumah kita itu dijamu sebaik mungkin, dipersilahkan, disuguhi
makanan yang enak-enak itu cara kita menghormat tamu, tapi
tetap dengan kemampuan masing-masing. Misal orang yang dari
segi finansial tidak mampu memberi apa-apa maka cukup
seadanya saja semisal teh saja itu tidak masalah yang penting kita
dalam rangka niat hormat tamu. Jadi misal tidak ada ya jangan
mengada-ada sampai hutang-hutang itu yang tidak baik, jadi
harus semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.”93

Selain hal bertamu dan menerima tamu, hadis etika sosial


yang lain yang diterapkan di pesantren adalah mengucap salam
atau menyapa, serta berjabat tangan ketika bertemu atau

93
Farha Kamilatun N.A. (20 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika menerima tamu” di YPPPi. Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
95
berpapasan. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Daud: 5202 dan Bukhari: 5792

ٍ‫صب ٌِؼ‬ َ ُٓ‫خُ ْث‬٠َ ِٚ ‫ ُِ َؼب‬ِٝٔ‫ت لَب َي أ َ ْخ َج َش‬ ٍ ْ٘ َٚ ُٓ‫ َؽذَّصََٕب ا ْث‬ُّٝ ِٔ‫ ّْذَا‬َٙ ٌ‫ ٍذ ْا‬١‫ع ِؼ‬
َ ُٓ‫َؽذَّصََٕب أَؽْ َّذ ُ ْث‬
َ ُ١ٍْ َ‫ أَ َؽذُ ُو ُْ أَخَبُٖ ف‬ٝ
ُْ ٍِّ ‫غ‬ َ ‫ َْشح َ لَب َي ِإرَا ٌَ ِم‬٠‫ ٘ َُش‬ٝ‫ػ ْٓ أ َ ِث‬ َ َُ ٠َ ‫ َِ ْش‬ٝ‫ػ ْٓ أ َ ِث‬ َ ٝ‫ع‬ َ ُِٛ ٝ‫َػ ْٓ أ َ ِث‬
‫ لَب َي‬.‫ضًب‬٠ْ َ ‫ ِٗ أ‬١ْ ٍَ‫ػ‬ َ ُ١ٍْ َ‫َُٗ ف‬١‫ َؽ َغ ٌش ص ُ َُّ ٌَ ِم‬ْٚ َ ‫اس أ‬
َ ُْ ٍِّ ‫غ‬ ٌ َ‫ ِعذ‬ْٚ َ ‫ؽ َغ َشح ٌ أ‬ ْ ٌَ‫ ِٗ فَئ ِ ْْ َؽب‬١ْ ٍَ‫َػ‬
َ ‫ َّب‬ُٙ َٕ١ْ َ‫ذ ث‬
ٝ‫ػ ِٓ األَػ َْشطِ َػ ْٓ أَ ِث‬ ّ ِ ِٝ‫ذ َػ ْٓ أَث‬
َ ‫اٌضَٔب ِد‬ ٍ ‫ة ْثُٓ ث ُْخ‬ ِ ‫ َّ٘ب‬َٛ ٌ‫ َػ ْجذ ُ ْا‬َِٕٝ‫ َؽذَّص‬َٚ ُ‫َخ‬٠ِٚ ‫ُِؼَب‬
َ ٍَُْٗ‫ ِِض‬-‫ملسو هيلع هللا ىلص‬- ِ‫َّللا‬ ُ ‫ َْشح َ َػ ْٓ َس‬٠‫٘ َُش‬
94
‫ا ًء‬َٛ ‫ع‬ َّ ‫ ِي‬ٛ‫ع‬

Telah menceritakan kepada kita Ahmad bin Sa‟id Al-


Hamdani, menceritakan kepada kita Ibnu Wahab berkata,
mengabarkan kepadaku Mu‟awiyah bin Sholih dari Abi
Musa dari Abi Maryam dari Abi Hurairah ra, berkata
Rasulullah saw bersabda: “Jika salah seorang dari kamu
bertemu dengan saudaranya maka berilah salam
kepadanya. Dan andaikata diantara kamu itu terpisah oleh
pohon, dinding atau batu lalu bertemu lagi maka
hendaklah kamu memberi salam lagi.” Berkata
Mu‟awiyah, dan menceritakan kepadaku Abdul Wahab
bin Bukhti, dari Abi Zinad, dari A‟roj, dari Abu Hurairah
ra, dari Rasulullah saw, hadisnya sama.
94
Sunan Abu Daud, No.5202 (Maktabah Syamilah i-Software), hadis shahih
diriwayatkan oleh Abdur Rahman bin Shakr (sahabat), Roba‟i bin Harosy bin Jahasy
(tsiqqoh abid, hujjah), Anas bin Sayrin al-Anshori (tsiqqoh), Mu‟awiyah bin Sholih bin
Hadir (tsiqqoh, shuduuq, laisa bihi ba‟s), Abdullah bin Wahab bin Muslim al-kursyi
(tsiqqoh, hafidz, abid, ahadul a‟lam), Ahmad bin Sa‟id bin Basyar Al-Mahdani
(shuduuq, tsiqqoh, tsabit).
96
ِ َٔ‫ اَوَب‬, ‫ لُ ٍْذُ ِألَٔ ٍَظ‬: ‫بص ٍُ َؽذَّصََٕب َ٘ َّّب ٌَ َػ ْٓ َلز َبدَحَ لَب َي‬
‫ذ‬ ِ ‫ ْثُٓ َػ‬ٚ‫َؽذَّصََٕب َػ ّْ ُش‬
95
ُْ َ‫ َٔؼ‬:َ‫عٍَّ َُ ؟ لَبي‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬
َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬
ُ ‫ة َس‬ ْ َ ‫ ا‬ِٟ‫صفَ َؾخُ ف‬
ِ ‫ص َؾب‬ َ ُّ ٌ‫ا‬

“Telah menceritakan kepada kami „Amru bin „Ashim,


telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qotadah dia
berkata, aku bertanya kepad Anas, “Apakah diantara para sahabat
Nabi sering berjabat tangan?” dia menjawab, “ya”

Hadis tersebut menjelaskan tentang anjuran bagi sesama


muslim untuk saling menyapa baik dengan salam maupun
berjabat tangan karena muslim satu dengan muslim lainnya
adalah saudara. Bahkan dijelaskan di hadis kedua (berjabat
tangan), para sahabat Nabi juga saling berjabat tangan, jadi jika
hal-hal positif tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
santri akan memberikan dampak yang positif juga. 96 Menurut
Farha Kamila “Kalau bertemu orang itu kita salam, terus salim,
tapi juga harus mengetahui posisi dan keadaannya. Saya
memahami hadis ini mengajarkan hal-hal tersebut.”97

95
Shahih Bukhari, No.5792 (Ensiklopedi Hadits i-Software), hadis shahih
diriwayatkan oleh Anas bin Malik (sahabat), Qotadah bin Da‟amah bin Qotadah
(tsiqqoh tsiqqoh ma‟mun, tsiqqoh tsabat, hafidz), Hammam bin Yahya bin Dinar
(tsiqqoh, shaduuq tetapi buruk hafalannya menurut As-Saji, hafidz).
96
Iffatun Izzah (24 tahun), 29 Juli 2022, wawancara tentang “Pemahaman
mengenai hadis etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
97
Farha Kamilatun N.A. (20 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika menerima tamu” di YPPPi. Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
97
Hal lain yang sangat penting diperhatikan dalam
kehidupan pesantren adalah kata bakhil atau pelit. Sifat pelit yang
ada dalam diri manusia akan banyak mendatangkan mudharat
salah satunya akan mempersempit hubungan pertemanan.
Rasulullah saw., dalam hadisnya memperingatkan umatnya untuk
tidak bakhil, hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim:
674198

ُ ْٓ ‫ َػ‬- ‫ ٍْظ‬١َ‫ اثَْٓ ل‬ِٕٝ‫َ ْؼ‬٠ - ُ ‫د‬ٚ‫ت َؽذَّص ََٕب دَ ُا‬


َّ ‫ ِذ‬١ْ َ‫ػج‬
ِ‫َّللا‬ ٍ َٕ ‫َّللا ْثُٓ َِ ْغٍَ َّخَ ث ِْٓ لَ ْؼ‬
ِ َّ ُ ‫َؽذَّصََٕب َػ ْجذ‬
َُ ٍْ ‫ظ‬
ُّ ٌ‫ظ ٍْ َُ فَئ ِ َّْ ا‬
ُّ ٌ‫ا ا‬ُٛ‫ ارَّم‬:َ‫ لَبي‬-‫ملسو هيلع هللا ىلص‬- ِ‫َّللا‬ ُ ‫َّللاِ أ َ َّْ َس‬
َّ ‫ َي‬ٛ‫ع‬ َّ ‫غ ٍُ َػ ْٓ َعبثِ ِش ث ِْٓ َػ ْج ِذ‬ َ ‫ث ِْٓ ِِ ْم‬
ْْ َ ‫ أ‬ٍَٝ‫ ُْ َػ‬ُٙ ٍََّ ‫ؾ َّؼ أ َ ٍَْ٘هَ َِ ْٓ َوبَْ لَ ْجٍَ ُى ُْ َؽ‬
ُّ ٌ‫ؾ َّؼ فَئ ِ َّْ ا‬ُّ ٌ‫ا ا‬ُٛ‫ارَّم‬َٚ ‫َب َِ ِخ‬١‫ ََ ْاٌ ِم‬ْٛ َ٠ ٌ‫ظٍُ َّبد‬ ُ
ُْ ُٙ َِ ‫بس‬ِ ‫ا َِ َؾ‬ٍُّٛ ‫ا ْعز َ َؾ‬َٚ ُْ ُ٘ ‫ا ِد َِب َء‬ٛ‫عفَ ُى‬ َ
Telah menceritakan kepada kita Abdullah bin Maslamah
bin Qo‟nab, telah menceritakan kepada kita Dawud yakni
ibnu Qois, dari Ubaidillah bin Miqsam, dari Jabir bin
Abdullah, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
“Takutlah kamu dari aniaya, sebab aniaya itu merupakan
kegelapan di hari kiamat. Dan takutlah kamuu dari sikap
bakhil, sebab bakhil/kikir itu telah membinasakan orang-
orang yang sebelum kamu dimana mereka terdorong

98
Shahih Muslim, No.6741 (Maktabah Syamilah i-Software), hadis shahih
menurut Ijma‟ ulama, diriwayatkan oleh Jabir bin abdullah bin amru bin haram
(sahabat), Ubaidillah bin Miqsam (tsiqqoh, la ba‟sa bihi, masuk dalam ats-tsiqoh),
Daud bin qois (tsiqqoh fadhil, tsiqqoh min ibadi), Abdullah bin Maslamah bin Qo‟nab
(tsiqqoh abid, ahadul a‟lam, tsiqqoh hujjah, ma kataba „an ahadu ajali „aini minhu).
98
untuk mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan
semua yang diharamkan oleh Allah SWT.

Dalam kesempatan, peneliti menanyakan pemahaman


anggota Kamar Muria Asrama Timur mengenai kesepakatan
untuk mengumpulkan makanan atau jajan setelah dijenguk,
mereka memberikan penjelasan dari tujuan tersebut adalah untuk
saling berbagi karena tidak semua anggota kamar akan dijenguk
di hari yang sama. Mereka tahu kalau bakhil adalah salah satu
sikap dan sifat yang tidak disukai Rasulullah karena dapat
mengakibatkan perpecahan dalam persaudaraan, akan tetapi
mereka tidak mengetahui hadis tersebut. Menurut Iffatun Izzah,
adanya larangan bakhil karena Rasulullah mengetahui adanya
suatu kaum yang binasa dan Allah SWT, tidak menyukai orang-
orang yang bakhil. Maka dari itu, santri dan umat Islam dilarang
bakhil atau pelit baik terhadap temannya atau orang lain.99

No. Hadis Informan Pemahaman

1. HR. Iffatun Izzah Hadis ini menjelaskan mengenai


Bukhari: 77 Af‟idah kedudukan guru dan murid,
kewajiban serta hak mereka
Guru & Ishfi Hamidatul
masing-masing. Seorang guru

99
Iffatun Izzah (24 tahun), 29 Juli 2022, wawancara tentang “Pemahaman
mengenai hadis etika sosial”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
99
Murid tidak diperbolehkan untuk
membeda-bedakan muridnya
karena tidak semua mempunyai
karakter yang sama, Rasulullah
saw tidak pernah membeda-
bedakan muridnya. Dan
kewajiban murid terhadap guru
adalah menghormatinya, guru
adalh perantara ilmu maka
menghormati guru adalah
termasuk menghormati ilmu.
Yang dijadikan pedoman adalah
“wa bil khidmati intafa‟u, wa bil
hurmati irtafa‟u”

2. HR. H. Abdulloh Etika bertamu yang pertama


Muslim: Adib Haad adalah meminta izin. Dalam Hadis
4007 tersebut dijelaskan etika meminta
Farha Kamilatun
izin adalah sebanyak tiga kali, jika
Etika N.A.
tidak ada jawaban maka
bertamu
kembalilah di lain kesempatan.
meminta
Dalam Hadis juga dijelasan tidak
izin
boleh keras dan berkali-kali ketika
mengetuk pintu, dan caranya

100
adalah mengetuk pintu-salam-
jeda, mengetuk pintu-salam-jeda,
mengetuk pintu-salam-jeda
sampai tiga kali. Selain itu juga
harus tahu waktu yang tepat,
kalau bahasa sahabat ketika
bertamu ke Rasulullah adalah
“tu‟dhinnabiy”

3. HR. Iffatun Izzah Salah satu etika bertamu yaitu


Bukhari: Af‟idah meminta izin salah satunya
5772 berfungsi untuk menjaga
Farha Kamilatun
pandangan dari perbuatan yang
Etika N.A.
tidak sopan, baik sebelum
bertamu
dipersilahkan masuk ke dalam
menjaga
rumah ataupun ketika sudah
pandangan
berada di dalam rumah.

4. HR. Iffatun Izzah Menjelaskan bahwa cara


Bukhari: Af‟idah menjawab pertanyaan “siapa”
5781 ketika bertamu adalah dengan
Farha Kamilatun
menyebutkan nama, hal tersebut
Etika N.A.
juga berfungsi ketika yang
bertamu,
menerima bukan orang yang ingin
menjawab

101
pertanyaan ditemui melainkan keluarga lain
“siapa” atau seseorang yang tidak
mengenal tamu tersebut.

5. HR. Farha Kamilatun Rasulullah saw., mengajarkan


Bukhari: N.A. kepada umatnya untuk
5559 & memuliakan tamu, dalam
5670 pribahasa tamu adalah raja, maka
jamulah dengan jamuan yang
Etika
terbaik, dengan makanan yang
menerima
enak dan terbaik, akan tetapi
tamu
sesuai dengan kemampuannya.
Jadi jika tidak ada yang enak
maka jamulah dengan yang
terbaik.

6. HR. Abu Iffatun Izzah Hadis tersebut menjelaskan


Daud: 5202 Af‟idah tentang anjuran bagi sesama
muslim untuk saling menyapa
HR. Farha Kamilatun
baik dengan salam maupun
Bukhari: N.A.
berjabat tangan karena muslim
5792
satu dengan muslim lainnya
Etika adalah saudara. Bahkan dijelaskan
berpapasan, di hadis kedua (berjabat tangan),

102
mengucap para sahabat Nabi juga saling
salam dan berjabat tangan, jadi jika hal-hal
berjabat positif tersebut diterapkan dalam
tangan kehidupan sehari-hari akan
memberikan dampak yang positif.
Akan tetapi juga harus
mengetahui keadaan dan
posisinya.

7. HR. Anggota kamar Bakhil adalah salah satu sikap dan


Muslim: Muria sifat yang tidak disukai Rasulullah
6741 karena dapat mengakibatkan
Iffatun Izzah
perpecahan dalam persaudaraan.
Larangan Af‟idah
Maka dari itu, santri ataupun umat
bakhil
Islam tidak diperbolehkan
memiliki sikap dan sifat bakhil.

Tabel 12.4 Pemahaman Santri

103
BAB IV
IMPLEMENTASI HADIS-HADIS ETIKA SOSIAL DI YAYASAN
PONDOK PESANTREN PUTRI AL-FATHIMIYAH
A. Etika Guru dan Murid
Dalam kehidupan sehari-hari di Yayasan Pondok Pesantren Putri
Al-Fathimiyah, guru yang menjadi jembatan utama penyambung
ilmu kepada para santri ditutut untuk menjadi sosok yang
sederhana low profile, tidak boleh meminta untuk dihormati
namun harus berupaya bagaimana untuk layak menjadi seorang
pendidik, akan menjadi contoh teladan bagi para santri agar tetap
menjadi manusia yang selalu sederhana. Selain itu, santri
memiliki kewajiban untuk menghormati guru karena lewat para
guru mereka akan mendapatkan kemanfaatan ilmu yang mereka
pelajari. Dari hal tersebut apabila berjalan beriringan akan
menciptakan suatu etika yang luar biasa, guru bisa low profile dan
santri akan mengerti kewajiban dan keharusan yang melekat pada
dirinya.100

Guru juga memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan


kepada muridnya yaitu menyampaikan ilmu, dan juga tidak pilih
kasih atau membeda-bedakan dalam menyampaikan ilmu. Maka
dari itu, jika guru melakukan kewajibannya maka murid akan

100
H. Abdullah Adib Haad (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang
“Implementasi hadis etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
105
mendapatkan haknya yaitu bisa belajar dari gurunya, tidak
dibeda-bedakan sehingga ilmu akan mudah masuk. Setelah
mendapatkan haknya, murid juga akan serta merta melakukan
kewajibannya kepada guru. Seperti yang diajarkan dalam kitab
ta‟limul muta‟allim karya Syekh Az-Zurnuji, murid memiliki
kewajiban sebagai berikut:

1) Menghormati guru
2) Taat kepada guru
3) Takdzim
Adapun takdzim yang diajarkan seperti yang dijelaskan dalam
kitab Ta‟limul Muta‟allim karya Syekh Az-Zurnuji, adalah
sebagai berikut:
a. Tidak berkata kasar kepada guru
b. Berbicara dengan sopan
c. Jangan sampai berjalan di depan guru
d. Tidak duduk di tempat duduk guru
e. Jangan sampai memulai berbicara ketika bersama guru
apabila tidak dipersilahkan
f. Jangan bertanya ketika guru sedang merasa letih atau lebih
mengetahui kondisi guru
g. Tidak mengetuk pintu ketika bertamu
h. Memuliakan keluarga dan segala yang ada hubungan
dengan guru

106
i. Jangan duduk didepan guru dengan menoleh-noleh tapi
duduklah dengan menundukkan kepala.101

B. Etika Bertamu
Dalam kehidupan sehari-hari, bertamu menjadi hal yang biasa
dilakukan oleh manusia. Sesorang bertamu kepada orang lain
pasti dikarenakan adanya suatu alasan entah untuk bertanya,
mengundang, ataupun hanya sekedar untuk silaturrahim saja.
Berikut etika bertamu yang diterapkan di Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah:

1. Meminta izin
Meminta izin ketika bertamu dilakukan dengan mengucapkan
salam. Adapun cara mengucapkan salam ketika izin adalah
dengan mengetuk pintu-mengucapkan salam-jeda, dan hal
tersebut dilakukan sebanyak tiga kali. Akan tetapi etika
meminta izin yang diterapkan oleh santri yaitu dengan tanpa
mengetuk pintu.
2. Duduk disamping pintu
Santri akan duduk di samping pintu ketika salam sebelum
dipersilahkan masuk atau sebelum ditanya ada keperluan apa.

101
Muhammad Ulil „Azmi. “Pemahaman dan Implementasi Hadis Takdzim
Pada Santri Pondok Pesantren Hidayatul Qulub Tambakaji Ngaliyan Semarang”, Skripsi
(Semarang: Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir UIN Walisongo, 2018), 36-37.
107
3. Menjawab pertanyaan ketika bukan tuan rumah yang
membukakan pintu
Biasanya ketika mbak-mbak ndalem atau Ning yang tidak
mengenal tamu akan bertanya “kaleh mbak sinten, ajenge
kepangge sinten?”, “dengan mbak siapa, mau bertemu dengan
siapa?”, maka santri akan menjawab dengan menyebutkan
namanya dan nama orang yang ingin ditemui.
4. Berjalan dengan menggunakan lutut
Ketika dipersilahkan masuk, maka santri akan masuk dengan
berjalan jongkok menggunakan lutut bukan berjalan dengan
berdiri.
5. Salim/berjabat tangan
Jika bertamu kepada Bu Nyai atau Ning, santri akan berjabat
tangan dan jika kepada Gus maka santri tidak melakukan hal
tersebut karena bukan mahrom.
6. Menundukkan pandangan
Santri akan menundukkan pandangan untuk menjaga agar
mata tidak melihat kemana-mana.
7. Segera mengutarakan maksud bertamu
8. Berpamitan
Setelah menyelesaikan urusan, maka santri akan segera
berpamitan karena dikhawatirkan masih ada urusan atau
sesuatu yang akan dilaksanakan oleh Bu Nyai atau siapapun
tuan rumah tersebut.
108
9. Keluar
Setelah berpamitan, santri akan berjabat tangan dan berjalan
jongkok dengan lutut dan tidak membelakangi sampai di
depan pintu.102

C. Etika Menerima Tamu


Selain etika bertamu yang harus diperhatikan, etika menerima
tamu tidak kalah penting untuk diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari karena memuliakan tamu adalah kewajiban bagi umat
Muslim. Adapun etika menerima tamu yang diterapkan di
Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah, adalah sebagai
berikut:
1. Menyiapkan tempat
2. Menyambut kedatangan tamu
3. Menjawab salam
4. Mempersilahkan masuk
5. Menanyakan kabar
6. Memberikan suguhan atau menjamu tamu
Tamu akan diberikan hidangan terbaik oleh Bu Nyai.
Biasanya akan disuguhi dengan makanan yang sudah
disiapkan di ruang tamu atau untuk tamu yang berasal dari

102
Ishfi Hamidatul (25 tahun), 29 Juli 2022. “Etika Bertamu di Yayasan
Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah” di YPPPi. Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan.
109
jauh pasti akan dibuatkan masakan yang terbaik.103 Dalam
kitab ta‟limul muta‟allim dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim
merupaka contoh tauladan yang sangat baik dalam
memuliakan tamunya, dikenal dengan julukan “akeh awu
pawone”. Maka dari itu, di YPPPi. Al-Fathimiyah diharuskan
untuk sangat menghormati tamu.104

D. Etika Bertemu atau Berpapasan


Kehidupan sosial santri tidak lepas dari bertemu dan berpapasan
baik kepada guru ataupun sesama santri. Maka dari itu, ada
beberapa etika yang dilakukan oleh santri ketika bertemu atau
berpapasan baik kepada guru ataupun sesama teman santri. Hal-
hal tersebut adalah:

1. Menepi
Ketika berpapasan dengan guru, santri akan menepi dan
memberikan jalan kepada guru untuk lewat terlebih dahulu.
2. Mengucap salam atau menyapa
Ada beberapa etika dalam mengucap salam ketika berpapasan,
yaitu:
a. Yang muda mengucapkan salam kepada yang tua

103
Hj. Choiriyah Hadi (64 tahun), 28 Juli 2022, wawancara tentang
“Implementasi hadis etika menerima tamu di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
104
H. Abdullah Adib Haad (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang
“Implementasi hadis etika menerima tamu di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
110
b. Yang berjalan mengucapkan salam kepada yang duduk
c. Yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak
3. Berjabat tangan
Santri akan berjabat tangan kepada yang mahrom, seperti
ketika berpapasan dengan guru, teman, ataupun wali santri.105

E. Etika Terhadap Teman


Seperti yang diterapkan dalam dunia pesantren pada umumnya,
berikut adalah etika-etika terhadap teman yang diterapkan di
Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah:

1. Memilih orang yang baik sebagai teman dan tidak memusuhi


yang lain
Teman menjadi pengaruh utama dalam lingkungan yang akan
membentuk karakter santri di pondok pesantren. Jadi santri
akan memilih teman yang baik versi mereka masing-masing
tanpa memusuhi teman yang lainnya.
2. Saling membantu dan tolong menolong
3. Setia kawan
4. Saling menyayangi
5. Tidak bakhil atau pelit

105
Ilmu Ilhafadh (34 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang “Implementasi
hadis etika berpapasan di YPPPi Al-Fathimiyah”, di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar,
Paciran, Lamongan.
111
Bakhil merupakan hal utama yang dilarang dalam dunia
pesantren bahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Selain mendatangkan mudharat bagi orang lain, bakhil juga
akan mendatangkan mudharat yang lebih besar bagi diri
sendiri. Jadi sudah menjadi hal lumrah dalam dunia pesantren
untuk saling berbagi baik makanan atau hal-hal lainnya.106
Seperti contoh di Asrama Timur, Kamar Muria, terdapat satu
loker khusus yang berisi makanan atau jajanan untuk berbagi
sesama teman di kamar. Di Asrama Aisyah, kamar 3, juga
terdapat tempat khusus untuk makanan yang halal untuk
dimakan oleh siapa saja di kamar.

106
Iffatun Izzah Af‟idah (24 tahun), 29 Juli 2022, wawancara tentang
“Implementasi hadis-hadis etika sosial di YPPPi. Al-Fathimiyah”, di YPPPi. Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
112
BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian, analisis, serta penyajian data hasil
penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Transmisi pengetahuan hadis yang terjadi berupa pengetahuan


yang diajarkan melalui materi sekolah formal, pengajaran di
pesantren, dan juga adanya tradisi turun temurun yang
mengajarkan bagaimana cara menerapkan etika sosial yang
sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Hadis-hadis etika sosial
diajarkan oleh pendiri pesantren dari kitab-kitab induk hadis
yang beliau miliki kepada putra dan santri-santrinya. Selain itu
pembelajaran kitab kuning seperti kitab ta‟limul muta‟allim,
adabul „alim wal muta‟allim, akhlakul murid, akhlakul banad
yang diajarkan di pesantren dan juga mata pelajaran hadis ilmu
hadis yang berisi etika sosial diajarkan di sekolah formal
memberikan pengetahuan tambahan mengenai etika sosial
yang ada di pesantren. Dan melalui tradisi pesantren yang
turun temurun dipraktekkan dalam kehidupan sosial santri
akan mengajarkan bagaimana etika sosial tersebut
dipraktekkan.

113
2. Dalam pemahamannya, santri tidak hanya berpatok pada teks
hadis yang ada saja, akan tetapi hadis-hadis tersebut difahami
dengan konteks yang terjadi seperti dalam pemahaman santri
mengenai hadis perintah menjaga pandangan. Perintah dalam
hadis tersebut tidak hanya dilakukan ketika izin saja, tetapi
juga dilakukan ketika sudah berada di dalam rumah. Dalam
keseluruhan, santri memahami hadis-hadis tersebut dengan
baik tanpa ada yang bertentangan antara pemahaman mereka
dengan teks hadis.

3. Dalam implementasinya, hadis etika sosial diimplementasikan


menjadi etika-etika sosial yang dipratekkan dalam keseharian
santri di YPPPi. Al-Fathimiyah. Etika sosial tersebut tidak
hanya bersumber dari teks hadis yang diajarkan saja, tetapi
juga dari kitab-kitab kuning yang ditulis oleh para ulama dan
juga tradisi pesantren yang bersumber dari Al-Qur‟an dan
Hadis. Dalam keseharian santri mempraktekkan hadis etika
sosial seperti etika guru dan murid, etika bertamu, etika
menerima tamu, etika berpapasan atau bertemu, dan juga etika
terhadap teman memang sesuai dengan pemahaman mereka
terhadap hadis etika sosial yang ada. Selain itu ada faktor lain
yang membuat implementasi dan pemahaman masyarakat di
YPPPi. Al-Fathimiyah menjadi etika yang hidup dan
berkembang tanpa adanya perbedaan dengan hadis-hadis Nabi

114
seperti dalam implementasi hadis etika bertamu yang dimulai
dengan meminta izin sebanyak tiga kali disertai adanya
perintah menjaga pandangan yang kemudian dengan adanya
pengetahuan dari kitab-kitab kuning, mapel Hadis di sekolah
formal, dan tradisi pesantren yang membuat hadis etika
bertamu difahami dan diimplementasikan dalam cakupan etika
yang lebih luas yaitu dimulai dari cara masuk dan berjalan,
cara berbicara dengan menundukkan kepala, sampai etika
berjalan keluar setelah berpamitan tanpa adanya pertentangan
dengan teks hadis.

B. Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka
saran yang dapat peneliti berikan adalah

Kepada peneliti selanjutnya, banyak sekali macam etika


sosial yang ada dalam kehidupan, dan yang telah diteliti ini
merupakan sebagian saja, maka dari itu kepada peneliti setelah ini
untuk meneliti lebih banyak lagi hadis-hadis etika sosial yang
diterapkan di dalam kehidupan masyarakat dan juga menunjukkan
bahwa Islam mengajarkan bagaimana etika sosial itu seharusnya
diterapkan dalam kehidupan melalui Al-Qur‟an dan juga tentunya
hadis-hadis yang diajarkan Rasulullah saw.

115
Untuk YPPPi. Al-Fathimiyah untuk tetap
mempertahankan nilai-nilai positif yang sudah diajarkan turun-
temurun ke dalam akhlak santri. Selain itu untuk menjaga sanad
keilmuan yang ada bisa juga dengan lebih banyak memberikan
teks hadis yang sudah diajarkan karena santri akan lebih banyak
dilihat karena baiknya akhlak mereka.

Dan untuk teman-teman pembaca semuanya baik dari


akademisi hadis ataupun umum, dengan terus berjalannya zaman,
alangkah baiknya selalu memperbaiki diri dan etika sosial kita
sesuai dengan apa yang sudah diajarkan dalam agama kita. Selain
tulisan ini maka akan ada banyak sekali tulisan-tulisan lain
tentang hadis-hadis etika sosial yang dari itu dapat membuktikan
bahwa sebagai generasi penerus, kita tetap sellau perduli dengan
etika yang seharusnya tidak keluar dari ajaran Islam.

116
DAFTAR PUSTAKA
Adhani, Rosihan, Etika dan Komunikasi Dokter-Pasien-Mahasiswa.
Banjarbaru: PT Grafika Wangi Kalimantan, 2022.
Af‟idah, Iffatun Izzah (24 tahun), 29 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika sosial”, dan “Implementasi
hadis-hadis etika sosial di YPPPi. Al-Fathimiyah” di YPPPi.
Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
Aini, Siti Qurrotul. “Tradisi Qunut dalam Sholat Maghrib di Pondok
Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta (Studi Living Hadis)”,
Jurnal Living Hadis, Vol.1 No. 2, Oktober 2016.

Aplikasi Ensiklopedi Hadis (i-software)


Aplikasi Maktabah Syamilah (i-software)
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta
: Penerbit Bulan Bintang, 1974.
Baqi, Muhammad Fuad „Abdul. Terjemah Kitab Al-Lu‟lu‟ Wal Marjan.
Semarang: Ar-Ridha, 1993.

Haad, H. Abdullah Adib (38 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang


“Kitab-kitab pedoman pembelajaran etika sosial di YPPPi Al-
Fathimiyah”, “Transmisi pengetahuan hadis etika sosial di
YPPPi Al-Fathimiyah”, “Pemahaman etika sosial”,
“Implementasi hadis etika sosialdi YPPPi Al-Fathimiyah”di
YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.

117
Hadi, Hj. Choiriyah (64 tahun), 28 Juli 2022, wawancara tentang
“Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah”,
“Transmisi pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi Al-
Fathimiyah”, dan “Implementasi hadis etika menerima tamu di
YPPPi Al-Fathimiyah” di YPPPi Al-Fathimiyah Banjaranyar,
Paciran, Lamongan.
Hamidatul, Ishfi (25 tahun), dan Iffatun Izzah Af‟idah (24 tahun), 29 Juli
2022, wawancara tentang “Pemahaman tentang etika sosial”,
“Pemahaman mengenai hadis etika sosial” dan “Implementasi
hadis etika bertamu di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah” di YPPPi. Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran,
Lamongan.
Hartono M, Jogiyanto. Metode Pengumpulan dan Tenik Analisis Data.
Yogyakarta: Penerbit Andi, 2018.

Hasbillah, Ahmad „Ubaydi, Ilmu Living Qur‟an Hadis Ontologi,


Epistemologi, dan Aksiologi. Tangerang: Unit Penerbitan
Darus Sunnah, 2019.

Iballa, Dona Kahfi. MA. “Tradisi Mandi Balimau di Masyarakat Kuntu:


Living Hadis Sebagai Bukti Sejarah”, Jurnal Living Hadis,
Vol. 1, No. 2, Oktober 2016.

Ilhafadh, Ilmu (34 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang “Transmisi


pengetahuan hadis etika sosial di YPPPi Al-Fathimiyah”,

118
“Pemahaman tentang etika sosial”, dan “Implementasi hadis
etika berpapasan di YPPPi Al-Fathimiyah” di YPPPi Al-
Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
Ismutadi. “Penerapan Etika Islam dalam Pembangunan Masyarakat
(Studi tentang Kepemimpinan Tokoh Agama di Desa Bandar
Agung”. Skripsi. Lampung: Fakultas Ushluddin dan Studi
Agama UIN Raden Intan Lampung, 2018.
Izzah, Amirotul (21 tahun), 26 Juli 2022, wawancara tentang “Jadwal
Kegiatan, Tata Tertib, dan Sanksi di Pondok Pesantren Putri
Al-Fathimiyah Banjaranyar, Paciran, Lamongan”,
“Pemahaman hadis etika sosial”, dan “Kesesuaian peraturan
pesantren dengan hadis-hadis etika sosial” di YPPPi Al-
Fathimiyah.
Jannah, Siti Miftakhul. “Etika Sosial Pada Pengamal Sholawat
Wahidiyah di Desa Surat Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri”.
Skripsi. Kediri: Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas
Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri, 2020.
Kamilatun N.A., Farha (20 tahun), 27 Juli 2022, wawancara tentang
“Pemahaman mengenai hadis etika sosial”, dan “Implementasi
hadis-hadis etika sosial” di YPPPi. Al-Fathimiyah
Banjaranyar, Paciran, Lamongan.
Khasanah, Siti An Nisau. “Konsep Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Menurut Muhammad Quraish Shihab.” Skripsi. Tulungagung:

119
Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin,
Adab, dan Dakwah UIN Satu Tulungagung, 2020.
Mahmud, Akilah. “Insan Kamil Perspektif Ibnu Arabi.” Jurnal Sulesana,
Vol. 9, No.2/2014.
Masruroh, “Upaya Pengembangan Sikap Sosial Santri di Pondok
Pesantren Al-Ishlahiyah Malang”. Skripsi. Malang: Jurusan
Ilmu Pengetahuan Sosial UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, 2017.
Muhajirin. “Genealogi Ulama Hadis Nusantara”. Jurnal Holistic Al-
Hadis, Vol. 02, No. 01, Januari-Juni 2016.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV.
Remaja Rosdakarya, 2016.
Nandya, Anisa. “Etika Murid Terhadap Guru (Analisis Kitab Ta‟lim
Muta‟allim Karangan Syaikh Az-Zarnuji).” Jurnal Mudarrisa,
Vol. 02, No. 01, Juni 2010.
Nyarminingsih. “Praktik Salat Awwabin: Studi Living Hadis di Pondok
Pesantren Al-Bahroniyyah Ngemplak, Mranggen, Demak.”
Skripsi. Salatiga: Program Studi Ilmu Hadis IAIN Salatiga,
2020.
Al-Qur‟an Al-Quddus. CV Mubarokatan Thoyyibah: Kudus.
Rahman, M. Taufiqi. Glosari Teori Sosial. Bandung: Ibnu Sina Press,
2011.
Rasyid, Raihan. “Etika Kenabian dalam Kehidupan Sosial Menurut
Muhammad Abdul „Aziz al-Khuly dalam Kitab al-Adab an-
120
Nabawy”. Indonesian Journal of Religion and Society, Vol. 03,
No. 01, 2021.
Sumayya. “Implementasi Nilai-Nilai Akhlakul Karimah Melalui
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Peserta Didik di
SMA Negeri 2 Pangkajene Kabupaten Pangkep”. Skripsi.
Makassar: Program Pascasarjana Bidang Pendidikan dan
Keguruan UIN Alauddin Makassar, 2014.

Suryadi, Muhammad Alfatih Suryadilaga. Metodologi Penelitian Hadis,


Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2009.

Syamsuddin, Sahiron. Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis,


Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007.

Takhrīj hadīṡ Cari Hadis Online.” Dalam [Link] diakses


pada 2 Agustus 2022.

Takhrīj hadīṡ Maktabah Syamilah book.” Dalam [Link]


[Link]/book/31869/11636 pada 2 Agustus 2022.

Tim Redaksi mui. Dalam [Link]


prinsip-bermasyarakat-menurut-tuntunan-islam/ diakses pada
13 Juni 2022.
Ulil „Azmi. Muhammad. “Pemahaman dan Implementasi Hadis Takdzim
Pada Santri Pondok Pesantren Hidayatul Qulub Tambakaji

121
Ngaliyan Semarang”. Skripsi. Semarang: Jurusan Ilmu Al-
Qur‟an dan Tafsir UIN Walisongo, 2018.
Zainuddin. “Tradisi Keilmuan dalam Dunia Pesantren dan Pendidikan
Formal”. Jurnal Schemata, Vol.6, No.1, 2017.

Zuhri, Muh. Hadis Nabi (Sejarah dan Metodologinya). Yogyakarta: PT


Tiara Wacana Yogya, 1997.
Zuhri Qudsi, Saifudin. “Living Hadis: Genealogi, Teori, Aplikasi”.
Jurnal Living Hadis, Vol. 1 No. 1, 2016.

122
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Wawancara

1. Pedoman wawancara kepada Pengasuh, Ketua Yayasan, dan


Ustadzah
a) Bagaimana sejarah berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-
Fathimiyah?
b) Bagaimana pemahaman anda mengenai etika sosial dan bagaimana
penerapannya?
c) Apakah etika sosial yang diterapkan di Yayasan Pondok Pesantren
Putri Al-Fathimiyah sesuai dengan yang diajarkan dalam Al-
Qur‟an dan Hadis?
d) Dalil apakah yang menjadi landasan penerapan hadis etika sosial di
Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah?
e) Yang bersangkutan dengan anda seperti etika bertamu, etika
memuliakan tamu, etika santri terhadap guru, dan etika guru
terhadap santri. Lalu apakah hal-hal tersebut sudah sesuai dengan
yang diajarkan oleh Nabi dalam hadis-hadisnya?
f) Apakah di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah ini
terjadi transmisi pengetahuan mengenai hadis-hadis etika sosial?
g) Bagaimana cara anda mentransmisikan hadis-hadis etika sosial
kepada santri sehingga santri dapat menerapkannya?

123
h) Apakah ada faktor-faktor lain yang melatarbelakangi sehingga
hadis-hadis etika sosial dapat terimplementasikan dalam kegiatan
sehari-hari?
i) Apakah ada kitab-kitab khusus yang digunakan sebagai pedoman?

2. Pedoman wawancara kepada pengurus


a) Bagaimana pemahaman anda mengenai etika sosial dan hadis-
hadis etika sosial?
b) Apakah etika sosial yang diterapkan di Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah sesuai dengan yang diajarkan
dalam Al-Qur‟an dan Hadis?
c) Dalil apakah yang menjadi landasan penerapan hadis etika sosial
di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah?
d) Bagaimana pemahaman anda mengenai hadis-hadis berikut?
َ َ‫عب َِخ‬
َ‫ ث ُْشدَح‬ٟ‫ ِذث ِْٓ َػ ْج ِذ هللاِ َػ ْٓ اَ ِث‬٠ْ ‫ػ ْٓ ث َُش‬ َ ُ ‫( َؽذَّصََٕب ُِ َؾ َّّذ ُ ْثُٓ اٌ َؼ ََلعِ لَبي َؽذَّصََٕب َؽ َّّبد ُ ْثُٓ ا‬-)
َٜ‫ذ‬ُٙ ٌ‫ هللاُ ثِ ِٗ َِِٓ ا‬ٟ َ َِٕ‫ لَب َي َِضَ ًُ َِب ثَؼَض‬:َُ ٍَّ‫ع‬ َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ‫ص‬ َ ِٟ‫ َػ ِٓ إٌَّج‬:ٝ‫ع‬ َ ُِٛ ِٟ‫َػ ْٓ اَث‬
‫ت‬ ُ ‫ا‬َٚ َ ‫َذ اٌى َََل‬
َ ‫ػ ْؾ‬ ْ ٍَِ‫َّخٌ لَج‬١‫ب َٔ ِم‬َٙ ْٕ ِِ َْ‫بة ا َ ْسضًب فَ َىب‬
ْ ‫ذ اٌ َّب َء فَب َ ْٔجَز‬ َ ‫ص‬ ِ ١ْ َ‫اٌ ِؼ ٍْ ُِ َو َّض َ ًِ اٌغ‬َٚ
َ َ ‫ ِْش ا‬١ِ‫ش اٌ َىض‬
‫ا‬ُْٛ ‫صَ َسػ‬َٚ ‫ا‬ْٛ َ‫عم‬ َ َٚ ُ‫بط فَؾ َِشة‬ َ ٌَّٕ‫ب ا‬َٙ ِ‫َذ اٌ َّب َء فََٕفَ َغ هللاُ ث‬ ْ ‫غى‬ َ ِْ َ ‫ب ا َ َعبدِةُ ا‬َٙ ْٕ ِِ ‫َذ‬ ْ ٔ‫وَب‬َٚ ‫ َْش‬١ِ‫اٌ َىض‬
ْٓ َِ ًُ َ‫ََل َفزَاٌِهَ َِض‬ َ َ ‫ َْل ر ُ ْٕ ِجذُ و‬َٚ ‫بْ َْل ر ُ ّْ ِغهُ َِب ًء‬ ٌ ‫ َؼ‬١ِ‫ ل‬ِٟ َ ٘ ‫ أَِّ َّب‬ٜ‫طبئِفَخً ا ُ ْخ َش‬ َ ‫ب‬َٙ ْٕ ِِ ‫ذ‬ ْ َ‫صبث‬َ َ ‫ا‬َٚ
ً ْ‫ ْشفَ ْغ ِثزٌَِهَ َسأ‬٠َ ُْ ٌَ ْٓ َِ ًُ َ ‫ َِض‬َٚ َُ ٍَّ‫ َػ‬َٚ َُ ٍِ ‫ هللاُ ِث ِٗ فَ َؼ‬ٟ
ًْ ‫ ْم َج‬٠َ ُْ ٌََٚ ‫عب‬ َ َِٕ‫َٔفَ َؼُٗ َِب َث َؼض‬َٚ ِ‫ ِْٓ هللا‬٠‫ ِد‬ِٟ‫فَمَُٗ ف‬
ِٗ ‫ أ ُ ْس ِع ٍْذُ ِث‬ِٞ‫ هللاِ اٌَّز‬َٜ‫ُ٘ذ‬
ِٓ ‫ ِْش ْث‬١‫س َػ ْٓ ثُ َى‬ ِ ‫ ْثُٓ اٌ َؾ‬ْٚ ‫ َػ ّْ ُش‬َِٟٕ‫ت َؽذَّص‬
ِ ‫بس‬ ٍ ْ٘ َٚ ِْٓ ‫ َػ ْجذ ُ هللاِ ث‬ِٟٔ‫طب٘ ِِش أ َ ْخجَ َش‬ َّ ٌ‫ ا‬ُْٛ ‫ اَث‬َِٟٕ‫( َؽذَّص‬-)

ِّٟ َ‫ػج‬ُ َ‫ َِغْ ٍِ ٍظ ِػ ْٕذ‬ِٟ‫ ُوَّٕب ف‬:ُ‫ي‬ْٛ ُ‫َم‬٠ ٞ َ ‫ع ِّ َغ أَثَب‬


َّ ‫ ٍذ اٌ ُخزْ ِس‬١ْ ‫ع ِؼ‬ َ ََُّٗٔ‫ ٍذ َؽذَّصَُٗ ا‬١ْ ‫ع ِؼ‬
َ َْٓ‫ؽ ّظِ ا َ َّْ ثُغ َْشث‬
َ َ‫اْل‬
124
‫ع ِّ َغ اَ َؽذٌ‬
‫هللا ٘ ًَْ َ‬ ‫ؾذُ ًوّش َ‬ ‫ضجًب َؽزَّ‪َٚ ٝ‬لَ َ‬
‫ف فَمَب َي اَ ْٔ ُ‬ ‫‪ْ ُِ ٞ‬غ َ‬ ‫ع‪ ٝ‬اْلَ ْؽ َؼ ِش ُّ‬ ‫ت فَأَر َ‪ ٝ‬اَث ُْ‪َ ْٛ ُِ ٛ‬‬‫ث ِْٓ َو ْؼ ٍ‬
‫بس ِع ْغ‬‫س‪ .‬فَب ِْْ اَرَِْ ٌَهَ ‪َٚ ,‬ا َِّْل فَ ْ‬‫عٍَّ َُ فَمَبيَ‪ :‬ا ِْل ْعزِئْزَاُْ صَ ََل ٌ‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬ ‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫ِِ ْٕ ُى ُْ َس ُ‬
‫د فٍََ ُْ ‪ُ٠‬ؤْ رَ ْْ ٌِ‪ٝ‬‬ ‫س َِ َّشا ٍ‬ ‫ة ا َ ِْ ِظ ص َ ََل َ‬‫طب ِ‬ ‫‪َِ َٚ ٟ‬ب رَانَ لَب َي اِ ْعز َأْرَ ْٔذُ َػٍَ‪ُ ٝ‬‬
‫ػ َّ َش ث ِْٓ اٌ َخ َّ‬ ‫لَب َي اُثَ ٌّ‬
‫غٍَّ ّْذُ ص َ ََلصًب ص ُ َُّ ا ْٔ َ‬
‫ص َش ْفذُ‬ ‫فَ َش َع ْؼذُ ص ُ َُّ ِع ْؼزُُٗ ْاٌ‪ ََ ْٛ َ١‬فَذَخ ٍَْذُ َ‬
‫ػٍَ ْ‪ ِٗ ١‬فَأ َ ْخجَ ْشرُُٗ أََّ‪ِ ٟ‬عئْذُ ا َ ِْ ِظ فَ َ‬
‫ؽ ْغ ًٍ فٍََ ْ‪َِ ٛ‬ب ا ْعز َأْرَ ْٔذَ َؽزَّ‪ُ٠ ٝ‬ؤْ رََْ ٌَهَ لَب َي ا ْعزَأْرَ ْٔذُ َو َّب‬ ‫ع ِّ ْؼَٕبنَ َ‪َٔ ٚ‬ؾْ ُٓ ِع ْ‪َٕ١‬ئِ ٍز َػ ٍَ‪ُ ٝ‬‬ ‫لَب َي لَذْ َ‬
‫طَٕهَ ا َ ْ‪ٌَ ٚ‬زَأْرِ َ‪ِ َّٓ ١‬ث َّ ْٓ‬
‫ظ ْ‪َ ٙ‬شنَ َ‪َ ٚ‬ث ْ‬ ‫عٍَّ َُ لَب َي فَ َ‪ٛ‬هللاِ َأل ُ ْ‪ِ ٚ‬ع َؼ َّٓ َ‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬ ‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫ع ِّ ْؼذُ َس ُ‬‫َ‬
‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ فَمُ ّْذُ‬ ‫ت فَ َ‪ٛ‬هللاِ َْل َ‪٠‬مُ ْ‪َ َِ َُ ٛ‬ؼهَ ا َِّْل اَؽْ ذَصَُٕب ِعًّٕب لُ ُْ َ‪٠‬ب ا َ َثب َ‬
‫َ‪ْ ٠‬ؾ َ‪ٙ‬ذ ُ ٌَهَ َػٍَ‪َ٘ ٝ‬زَا فَمَب َي ا ُ َث ُّ‪ْ ١‬جُٓ َو ْؼ ٍ‬
‫عٍَّ َُ ‪َ٠‬مُ ْ‪ُ ٛ‬ي َ٘زَا‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬ ‫ػ َّ َش فَمُ ٍْذُ لَذْ َ‬
‫ع ِّ ْؼذُ َس ُ‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫َؽزَّ‪ ٝ‬اَرَ‪ْ١‬ذُ ُ‬
‫ع ْ‪ ًِ ٙ‬ث ِْٓ‬‫ظزُُٗ َو َّب ا َ َّٔهَ َ٘ب َُٕ٘ب َػ ْٓ َ‬ ‫‪َ ٞ‬ؽ ِف ْ‬ ‫ع ْف‪َ١‬بُْ َلب َي ُّ‬
‫اٌض ْ٘ ِش ُّ‬ ‫‪ْ ٟ‬ثُٓ َػ ْج ِذهللاِ َؽذَّصََٕب ُ‬
‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب َػ ٍِ ُّ‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ‬ ‫عٍَّ َُ َ‪َ َِ ٚ‬غ اٌ َّٕجِ‪َ ٟ‬‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬‫طٍَ َغ َس ُع ًٌ ِِ ْٓ عُؾْ ٍش فِ‪ُ ٟ‬ؽ َغ ِش إٌَّجِ‪َ ٟ‬‬ ‫ع ْؼ ٍذ لَب َي ا َ‬
‫َ‬
‫ط َؼ ْٕذُ ِث ِٗ فِ ْ‬
‫‪َ ٟ‬ػ ْ‪ِٕ١‬هَ أَِّ َّب ُع ِؼ ًَ‬ ‫عُٗ فَمَب َي ٌَ ْ‪ ٛ‬أ َ ْػٍَ ُُ أََّٔهَ رَ ْٕ ُ‬
‫ظ ُش ٌَ َ‬ ‫عٍَّ َُ ِِذ ًْس‪ُ َ٠ ٜ‬ؾهُّ ِث ِٗ َسأ َ َ‬
‫َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ا ِْل ْعزِئْزَاُْ ِِ ْٓ اَعْ ًِ ْاٌ َج َ‬
‫ص ِش‬
‫ؽ ْؼجَخُ َػ ْٓ ُِ َؾ َّّ ِذث ِْٓ اٌ ُّ ْٕ َىذ ِِس لَب َي َ‬
‫ع ِّ ْؼذُ‬ ‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب أَث ُْ‪َ ٛ‬‬
‫اٌ‪ٛ‬ا ٌِ ِذ ِ٘ؾَب َُ ْثُٓ َػ ْج ِذ اٌ َّ ٍِ ِه َؽذَّصََٕب ُ‬
‫عٍَّ َُ فِ‪ ٟ‬دَ‪َ ٍْٓ ٠‬وبَْ‬‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬ ‫‪ ٟ‬هللاُ َػ ْٕ ُ‪َّ ٙ‬ب ‪َ٠‬مُ ْ‪ٛ‬يُ‪:‬اَرَ‪ْ١‬ذُ إٌَّجِ‪َ ٟ‬‬ ‫ض َ‬ ‫َعبثِ َش ثَْٓ َػ ْج ِذهللاِ َس ِ‬
‫بة‪ .‬فَمَبيَ‪ ْٓ َِ :‬رَا؟ فَمُ ٍْذُ أََب‪ ,‬فَمَبيَ‪ :‬أََب أََب‪َ ,‬وبََُّٔٗ و َِش َ٘ َ‪ٙ‬ب‬‫َػٍَ‪ ٝ‬أَثِ‪ ٟ‬فَذَلَ ْمذُ اٌجَ َ‬
‫ػ ْٓ اَ ِث‪ٝ‬‬ ‫صب ٌِؼٍ َ‬ ‫ص‪َ ٍْٓ ١‬ػ ْٓ اَ ِث‪َ ٟ‬‬ ‫اؿ َػ ْٓ ا َ ِث‪َ ٟ‬ؽ ِ‬ ‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب لُز َ ْ‪١‬جَخُ ْثُٓ َ‬
‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ َؽذَّصََٕب اَث ُْ‪ ٛ‬اْلَؽْ َ‪ِ ٛ‬‬
‫عٍَّ َُ ‪َ ْٓ َِ :‬وبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ِثبهللِ َ‪ْ ٚ‬اٌ‪ َِ ْٛ َ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ََل‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫٘ َُش‪َْ ٠‬شح َ لَبيَ‪ :‬لَب َي َس ُ‬
‫هلل‬ ‫بسُٖ ‪َ ْٓ َِ َٚ ,‬وبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ِثبهللِ َ‪ْ ٚ‬اٌ َ‪ َِ ْٛ ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ٍْ‪ْ ُ١‬ى ِش َْ َ‬
‫ض ْ‪١‬فَُٗ ‪َ ْٓ َِ َٚ ,‬وبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ِثب ِ‬ ‫‪ُ٠‬ؤْ ِر َع َ‬
‫ذ‪.‬‬ ‫َ‪ْ ٚ‬اٌ‪ َِ ْٛ َ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ٍْ‪َ١‬مُ ًْ َخ‪ًْ ١‬شا اَ ْ‪ْ َ١ٌِ ٚ‬‬
‫ص ُّ ْ‬

‫ؽ َش‪ْ٠‬ؼٍ‬ ‫‪َ ِ ٞ‬ػ ْٓ اَثِ‪ُ ٟ‬‬ ‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ ْاٌ َّ ْمج ُِش ّ‬ ‫ف ا َ ْخجَ َشَٔب َِب ٌِهٌ َػ ْٓ َ‬
‫ع ِؼ ْ‪ِ ١‬ذ ث ِْٓ اَثِ‪َ ٟ‬‬ ‫ع َ‬‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب َػ ْجذ ُهللا ْثُٓ ‪ُ ُْٛ ٠‬‬
‫عٍَّ َُ لَب َي َِ ْٓ َوبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ثِبهللِ َ‪ْ ٚ‬اٌ‪ َِ ْٛ َ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ٍْ‪ْ ُ١‬ى ِش َْ‬ ‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬‫ع ْ‪ُ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫‪ ِ ٟ‬اَ َّْ َس ُ‬ ‫ْاٌ َى ْؼجِ ّ‬
‫صذَلَخٌ َ‪َْ ٚ‬ل ‪ِ َ٠‬ؾ ًُّ ٌَُٗ اَ ْْ‬ ‫ض ْ‪١‬فَُٗ َعبئِضَ رُُٗ ‪ٍَ١ْ ٌََٚ ٌَ ْٛ َ٠‬خٌ َ‪ٚ‬اٌ ِ ّ‬
‫ض‪َ١‬بفَخُ ص َ ََلصَخُ اَ‪ٍَّ ٠‬بَ فَ َّب ثَ ْؼذَ رَاٌِهَ فَ ُ‪َ َٛ ٙ‬‬ ‫َ‬
‫‪ِ ٞ‬ػ ْٕذَُٖ َؽزَّ‪ُ٠ ٟ‬ؾْ ِش َعُٗ‬ ‫َ‪٠‬ضْ ِ‪َ ٛ‬‬

‫‪125‬‬
ْٓ ‫صب ٌِؼٍ َػ‬َ ُٓ‫خُ ْث‬٠َ ِٚ ‫ ُِ َؼب‬ِٝٔ ‫ت َلب َي أ َ ْخ َج َش‬ ٍ ْ٘ َٚ ُٓ‫ َؽذَّصََٕب ا ْث‬ٝ ُّ ِٔ ‫ ّْذَا‬َٙ ٌ‫ ٍذ ْا‬١‫ع ِؼ‬
َ ُٓ‫( َؽذَّصََٕب أ َؽْ َّذ ُ ْث‬-)
‫ذ‬ َ ُ١ٍْ َ‫ أ َ َؽذ ُ ُو ُْ أَخَبُٖ ف‬ٝ
ْ ٌَ‫ ِٗ فَئِ ْْ َؽب‬١ْ ٍَ‫غ ٍِّ ُْ َػ‬ َ ‫ َْشح َ لَب َي إِرَا ٌَ ِم‬٠‫ ٘ َُش‬ِٝ‫َ َُ َػ ْٓ أَث‬٠‫ َِ ْش‬ِٝ‫ َػ ْٓ أَث‬ٝ‫ع‬ َ ُِٛ ِٝ‫أَث‬
َ ُ١ٍْ َ‫َُٗ ف‬١‫ َؽ َغ ٌش ص ُ َُّ ٌَ ِم‬ْٚ َ ‫اس أ‬
ُ‫ َػ ْجذ‬َِٕٝ‫ َؽذَّص‬َٚ ُ‫َخ‬٠ِٚ ‫ لَب َي ُِؼَب‬.‫ضًب‬٠ْ َ‫ ِٗ أ‬١ْ ٍَ‫غ ٍِّ ُْ َػ‬ ٌ َ‫ ِعذ‬ْٚ َ ‫ؽ َغ َشح ٌ أ‬
َ ‫ َّب‬ُٙ َٕ ١ْ َ‫ث‬
‫ هللا‬ٍٝ‫ص‬- ِ‫َّللا‬ َّ ‫ ِي‬ٛ‫ع‬ ُ ‫ػ ْٓ َس‬َ َ‫ َْشح‬٠‫ ٘ َُش‬ِٝ‫ػ ْٓ أَث‬ َ ِ‫اٌضَٔب ِد َػ ِٓ األَػ َْشط‬ ّ ِ ِٝ‫ػ ْٓ أَث‬ ٍ ‫ة ْثُٓ ث ُْخ‬
َ ‫ذ‬ ِ ‫ َّ٘ب‬َٛ ٌ‫ْا‬
‫ لُ ٍْذُ ِألَٔ ٍَظ‬: ‫بص ٍُ َؽذَّصََٕب َ٘ َّّب ٌَ َػ ْٓ لَزَبدَح َ لَب َي‬ َ ٍَُْٗ‫ ِِض‬-ٍُ‫ع‬ٚ ٗ١ٍ‫ػ‬
ِ ‫ ْثُٓ َػ‬ٚ‫( َؽذَّصََٕب َػ ّْ ُش‬-)‫ا ًء‬َٛ ‫ع‬
ُْ ‫ َٔ َؼ‬:َ‫ع ٍَّ َُ ؟ لَبي‬
َ َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫ هللاُ َػ‬ٍَّٝ ‫ص‬
َ ِ‫ ِي هللا‬ْٛ ‫ع‬
ُ ‫ة َس‬
ِ ‫ص َؾب‬ْ َ ‫ ا‬ِٟ‫صفَ َؾخُ ف‬ ِ َٔ‫ اَوَب‬,
َ ُّ ٌ‫ذ ا‬
ُ ْٓ ‫ َػ‬- ‫ ٍْظ‬١َ‫ اثَْٓ ل‬ِٕٝ ‫ ْؼ‬٠َ - ُ ‫د‬ٚ‫ت َؽذَّصََٕب دَ ُا‬
َّ ‫ ِذ‬١ْ ‫ػ َج‬
ِْٓ ‫َّللاِ ث‬ ٍ َٕ‫َّللاِ ْثُٓ َِ ْغٍَ َّخَ ث ِْٓ لَ ْؼ‬
َّ ُ ‫( َؽذَّصََٕب َػ ْجذ‬-)
ََ ْٛ َ٠ ٌ‫ظٍُ َّبد‬ ُ َُ ٍْ ‫ظ‬
ُّ ٌ‫ظ ٍْ َُ فَئِ َّْ ا‬
ُّ ٌ‫ا ا‬ُٛ‫ ارَّم‬:َ‫ لَبي‬-‫ملسو هيلع هللا ىلص‬- ِ‫َّللا‬
َّ ‫ َي‬ٛ‫ع‬ ُ ‫َّللاِ أ َ َّْ َس‬
َّ ‫غ ٍُ َػ ْٓ َعبثِ ِش ث ِْٓ َػ ْج ِذ‬ َ ‫ِِ ْم‬
َ ْْ َ ‫ أ‬ٍَٝ‫ ُْ َػ‬ُٙ ٍَ َّ ‫ؾ َّؼ أ َ ٍَْ٘هَ َِ ْٓ َوبَْ لَ ْجٍَ ُى ُْ َؽ‬
ُْ ُ٘ ‫ا ِد َِب َء‬ٛ‫عفَ ُى‬ ُّ ٌ‫ؾ َّؼ فَئ ِ َّْ ا‬ ُّ ٌ‫ا ا‬ُٛ‫ارَّم‬َٚ ‫َب َِ ِخ‬١‫ْاٌ ِم‬
ِ ‫ا َِ َؾ‬ٍُّٛ‫ا ْعز َ َؾ‬َٚ
ُْ ُٙ َِ ‫بس‬
e) Apakah di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah hadis-
hadis tersebut sudah diterapkan?
f) Apakah ada dalil yang menjadi landasan dalam penerapan
kebijakan peraturan pesantren?
g) Siapakah yang mengajarkan hal-hal tersebut kepada anda?
h) Sebagai pengurus, bagaimana cara anda mentransmisikan
pengetahuan hadis etika sosial yang sudah anda ketahui kepada
santri-santri di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah?

3. Pedoman wawancara kepada santri


a) Bagaimana pemahaman anda tentang etika sosial dan hadis etika
sosial?
b) Bagaimana pemahaman anda mengenai hadis berikut?

126
‫عب َِخَ َػ ْٓ ث َُش ْ‪ِ ٠‬ذث ِْٓ َػ ْج ِذ هللاِ َػ ْٓ ا َ ِث‪ ٟ‬ث ُْشدَحَ‬
‫ع لَبي َؽذَّصََٕب َؽ َّّبد ُ ْثُٓ ا ُ َ‬
‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب ُِ َؾ َّّذ ُ ْثُٓ اٌ َؼ ََل ِ‬
‫‪ ٟ‬هللاُ ثِ ِٗ َِِٓ اٌ ُ‪ٙ‬ذَ‪ٜ‬‬ ‫عٍَّ َُ‪ :‬لَب َي َِضَ ًُ َِب ثَؼَضَِٕ َ‬ ‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬ ‫ع‪َ :ٝ‬ػ ِٓ إٌَّجِ‪َ ٟ‬‬ ‫َػ ْٓ اَثِ‪َ ُِٛ ٟ‬‬
‫ت‬ ‫َذ اٌى َََل َ َ‪ٚ‬ا ُ‬
‫ػ ْؾ َ‬ ‫بة ا َ ْسضًب فَ َىبَْ ِِ ْٕ َ‪ٙ‬ب َٔ ِم‪َّ١‬خٌ لَجٍَِ ْ‬
‫ذ اٌ َّب َء فَب َ ْٔجَز ْ‬ ‫ص َ‬ ‫َ‪ٚ‬اٌ ِؼ ٍْ ُِ َو َّض َ ًِ اٌغَ ْ‪ِ ١‬‬
‫ش اٌ َىضِ‪ِْ ١‬ش ا َ َ‬
‫عمَ ْ‪ٛ‬ا َ‪ٚ‬صَ َسػ ُْ‪ٛ‬ا‬ ‫بط فَؾ َِشةُ َ‪َ ٚ‬‬ ‫َذ اٌ َّب َء فََٕفَ َغ هللاُ ثِ َ‪ٙ‬ب إٌَّ َ‬ ‫غى ْ‬ ‫َذ ِِ ْٕ َ‪ٙ‬ب ا َ َعبدِةُ ا َ ِْ َ‬ ‫اٌ َىضِ‪َْ ١‬ش َ‪ٚ‬وَبٔ ْ‬
‫ََل َفزَاٌِهَ َِضَ ًُ َِ ْٓ‬ ‫بْ َْل ر ُ ّْغِ هُ َِب ًء َ‪َْ ٚ‬ل ر ُ ْٕ ِجذُ و َ َ‬ ‫ِ‪ ٟ‬لِ‪َ ١‬ؼ ٌ‬ ‫طبئِفَخً ا ُ ْخ َش‪ ٜ‬أَِّ َّب ٘ َ‬ ‫ذ ِِ ْٕ َ‪ٙ‬ب َ‬ ‫صبثَ ْ‬‫َ‪ٚ‬ا َ َ‬
‫‪ ٟ‬هللاُ ِث ِٗ فَ َؼ ٍِ َُ َ‪َ ٚ‬ػٍَّ َُ َ‪َِ ٚ‬ضَ ًُ َِ ْٓ ٌَ ُْ َ‪ْ ٠‬شفَ ْغ ِثزٌَِهَ َسأْ ً‬
‫عب َ‪ْ ٠َ ُْ ٌَٚ‬م َج ًْ‬ ‫فَمَُٗ فِ‪ِ ٟ‬د‪ ِْٓ ٠‬هللاِ َ‪َٔٚ‬فَ َؼُٗ َِب َث َؼضَِٕ َ‬
‫ُ٘ذَ‪ ٜ‬هللاِ اٌَّزِ‪ ٞ‬أ ُ ْس ِع ٍْذُ ِث ِٗ‬
‫س َػ ْٓ ثُ َى‪ِْ ١‬ش ث ِْٓ‬ ‫ت َؽذَّصَِٕ‪َ ٟ‬ػ ّْ ُش ْ‪ْ ٚ‬ثُٓ اٌ َؾ ِ‬
‫بس ِ‬ ‫طب٘ ِِش أ َ ْخجَ َشِٔ‪َ ٟ‬ػ ْجذ ُ هللاِ ث ِْٓ َ‪ٍ ْ٘ ٚ‬‬ ‫)‪َ (-‬ؽذَّصَِٕ‪ ٟ‬اَث ُْ‪ ٛ‬اٌ َّ‬

‫‪ِٟ‬‬
‫ػجَ ّ‬‫‪َ٠ ٞ‬مُ ْ‪ٛ‬يُ‪ُ :‬وَّٕب فِ‪َِ ٟ‬غْ ٍِ ٍظ ِػ ْٕذَ ُ‬ ‫ع ِّ َغ أَثَب َ‬
‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ اٌ ُخزْ ِس َّ‬ ‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ َؽذَّصَُٗ أََُّٗ َ‬
‫ؽ ّظِ ا َ َّْ ثُغ َْشثَْٓ َ‬
‫اْلَ َ‬
‫ؾذُ ًوّش هللاَ ٘ ًَْ َ‬
‫ع ِّ َغ اَ َؽذٌ‬ ‫ضجًب َؽزَّ‪َٚ ٝ‬لَ َ‬
‫ف فَمَب َي اَ ْٔ ُ‬ ‫‪ْ ُِ ٞ‬غ َ‬ ‫ت فَأَرَ‪ ٝ‬اَث ُْ‪َ ْٛ ُِ ٛ‬‬
‫ع‪ ٝ‬اْلَ ْؽؼَ ِش ُّ‬ ‫ث ِْٓ َو ْؼ ٍ‬
‫س‪ .‬فَب ِْْ اَرَِْ ٌَهَ ‪َٚ ,‬ا َِّْل فَ ْ‬
‫بس ِع ْغ‬ ‫ع ٍَّ َُ َف َمبيَ‪ :‬ا ِْل ْعزِئْزَاُْ صَ ََل ٌ‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫ِِ ْٕ ُى ُْ َس ُ‬
‫د فٍََ ُْ ‪ُ٠‬ؤْ رَ ْْ ٌِ‪ٝ‬‬
‫س َِ َّشا ٍ‬‫ة ا َ ِْ ِظ ص َ ََل َ‬
‫طب ِ‬ ‫‪َِ َٚ ٟ‬ب رَانَ لَب َي اِ ْعزَأْرَ ْٔذُ َػٍَ‪ُ ٝ‬‬
‫ػ َّ َش ث ِْٓ اٌ َخ َّ‬ ‫)‪(-‬لَب َي ا ُ َث ٌّ‬
‫ص َش ْفذُ‬‫غٍَّ ّْذُ ص َ ََلصًب ص ُ َُّ ا ْٔ َ‬ ‫فَ َش َع ْؼذُ ص ُ َُّ ِع ْؼزُُٗ ْاٌ‪ ََ ْٛ َ١‬فَذَخ ٍَْذُ َ‬
‫ػٍَ ْ‪ ِٗ ١‬فَأ َ ْخجَ ْشرُُٗ أََّ‪ِ ٟ‬عئْذُ ا َ ِْ ِظ فَ َ‬
‫ؽ ْغ ًٍ فٍََ ْ‪َِ ٛ‬ب ا ْعز َأْرَ ْٔذَ َؽزَّ‪ُ٠ ٝ‬ؤْ رََْ ٌَهَ لَب َي ا ْعزَأْرَ ْٔذُ َو َّب‬ ‫ع ِّ ْؼَٕبنَ َ‪َٔ ٚ‬ؾْ ُٓ ِع ْ‪َٕ١‬ئِ ٍز َػ ٍَ‪ُ ٝ‬‬ ‫لَب َي لَذْ َ‬
‫طَٕهَ ا َ ْ‪ٌَ ٚ‬زَأْرِ‪ َّٓ َ١‬ثِ َّ ْٓ‬ ‫عٍَّ َُ لَب َي فَ َ‪ٛ‬هللاِ َأل ُ ْ‪ِ ٚ‬عؼَ َّٓ َ‬
‫ظ ْ‪َ ٙ‬شنَ َ‪ٚ‬ثَ ْ‬ ‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬‫ع ِّ ْؼذُ َس ُ‬ ‫َ‬
‫ت فَ َ‪ٛ‬هللاِ َْل َ‪٠‬مُ ْ‪َِ َُ ٛ‬ؼَهَ ا َِّْل اَؽْ ذَصَُٕب ِعًّٕب لُ ُْ ‪َ٠‬ب اَثَب َ‬
‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ فَمُ ّْذُ‬ ‫‪ْ َ٠‬ؾ َ‪ٙ‬ذ ُ ٌَهَ َػٍَ‪َ٘ ٝ‬زَا فَمَب َي اُثَ‪ْ ُّ١‬جُٓ َو ْؼ ٍ‬
‫ع ٍَّ َُ ‪َ٠‬مُ ْ‪ُ ٛ‬ي َ٘زَا‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػ ٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫ع ِّ ْؼذُ َس ُ‬‫ػ َّ َش فَمُ ٍْذُ لَذْ َ‬ ‫َؽزَّ‪ ٝ‬اَرَ‪ْ١‬ذُ ُ‬
‫ع ْ‪ ًِ ٙ‬ث ِْٓ‬‫ظزُُٗ َو َّب اَ َّٔهَ َ٘ب َُٕ٘ب َػ ْٓ َ‬ ‫‪َ ٞ‬ؽ ِف ْ‬ ‫ع ْف َ‪١‬بُْ َلب َي ُّ‬
‫اٌض ْ٘ ِش ُّ‬ ‫‪ْ ٟ‬ثُٓ َػ ْج ِذهللاِ َؽذَّصََٕب ُ‬
‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب َػ ٍِ ُّ‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ‬ ‫عٍَّ َُ َ‪َ َِ ٚ‬غ إٌَّجِ‪َ ٟ‬‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬‫طٍَ َغ َس ُع ًٌ ِِ ْٓ عُؾْ ٍش فِ‪ُ ٟ‬ؽ َغ ِش إٌَّجِ‪َ ٟ‬‬ ‫ع ْؼ ٍذ لَب َي ا َ‬
‫َ‬
‫طؼَ ْٕذُ ثِ ِٗ فِ ْ‬
‫‪َ ٟ‬ػ ْ‪ِٕ١‬هَ أَِّ َّب ُع ِؼ ًَ‬ ‫عُٗ فَمَب َي ٌَ ْ‪ ٛ‬أ َ ْػٍَ ُُ أََّٔهَ ر َ ْٕ ُ‬
‫ظ ُش ٌَ َ‬ ‫عٍَّ َُ ِِذ ًْس‪ُ َ٠ ٜ‬ؾهُّ ثِ ِٗ َسأَ َ‬
‫َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ا ِْل ْعزِئْزَاُْ ِِ ْٓ اَعْ ًِ ْاٌجَ َ‬
‫ص ِش‬
‫ؽ ْؼجَخُ َػ ْٓ ُِ َؾ َّّ ِذث ِْٓ اٌ ُّ ْٕ َىذ ِِس لَب َي َ‬
‫ع ِّ ْؼذُ‬ ‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب أَث ُْ‪َ ٛ‬‬
‫اٌ‪ٛ‬ا ٌِ ِذ ِ٘ؾَب َُ ْثُٓ َػ ْج ِذ اٌ َّ ٍِ ِه َؽذَّصََٕب ُ‬
‫ع ٍَّ َُ فِ‪ ٟ‬دَ‪َ ٍْٓ ٠‬وبَْ‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬ ‫‪ ٟ‬هللاُ َػ ْٕ ُ‪َّ ٙ‬ب َ‪٠‬مُ ْ‪ٛ‬يُ‪:‬اَرَ‪ْ١‬ذُ إٌَّ ِج‪َ ٟ‬‬ ‫ض َ‬ ‫َعب ِث َش ثَْٓ َػ ْج ِذهللاِ َس ِ‬
‫بة‪ .‬فَمَبيَ‪ ْٓ َِ :‬رَا؟ فَمُ ٍْذُ أََب‪ ,‬فَمَبيَ‪ :‬أََب أََب‪َ ,‬وبََُّٔٗ و َِش َ٘ َ‪ٙ‬ب‬ ‫َػٍَ‪ ٝ‬أ َ ِث‪ ٟ‬فَذَلَ ْمذُ اٌ َج َ‬
‫‪127‬‬
‫صب ٌِؼٍ َػ ْٓ اَ ِث‪ٝ‬‬ ‫ػ ْٓ ا َ ِث‪َ ٟ‬‬ ‫ص‪َ ٍْٓ ١‬‬ ‫اؿ َػ ْٓ ا َ ِث‪َ ٟ‬ؽ ِ‬ ‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب لُز َ ْ‪َ ١‬جخُ ْثُٓ َع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ َؽذَّصََٕب اَث ُْ‪ ٛ‬اْلَؽْ َ‪ِ ٛ‬‬
‫عٍَّ َُ ‪َ ْٓ َِ :‬وبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ثِبهللِ َ‪ْ ٚ‬اٌ‪ َِ ْٛ َ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ََل‬
‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫٘ َُش‪َْ ٠‬شح َ لَبيَ‪ :‬لَب َي َس ُ‬
‫بسُٖ ‪َ ْٓ َِ َٚ ,‬وبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ثِبهللِ َ‪ْ ٚ‬اٌ‪ َِ ْٛ َ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ٍْ‪ْ ُ١‬ى ِش َْ َ‬
‫ض ْ‪١‬فَُٗ ‪َ ْٓ َِ َٚ ,‬وبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ثِبهللِ‬ ‫‪ُ٠‬ؤْ ِر َع َ‬
‫ذ‪.‬‬ ‫َ‪ْ ٚ‬اٌ‪ َِ ْٛ َ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ٍْ‪َ١‬مُ ًْ َخ‪ًْ ١‬شا اَ ْ‪ْ َ١ٌِ ٚ‬‬
‫ص ُّ ْ‬

‫ؽ َش‪ْ٠‬ؼٍ‬ ‫‪َ ِ ٞ‬ػ ْٓ اَ ِث‪ُ ٟ‬‬ ‫ع ِؼ ْ‪ٍ ١‬ذ ْاٌ َّ ْمج ُِش ّ‬ ‫ف ا َ ْخجَ َشَٔب َِب ٌِهٌ َػ ْٓ َ‬
‫ع ِؼ ْ‪ِ ١‬ذ ث ِْٓ اَ ِث‪َ ٟ‬‬ ‫ع َ‬‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب َػ ْجذ ُهللا ْثُٓ ‪ُ ُْٛ ٠‬‬
‫عٍَّ َُ لَب َي َِ ْٓ َوبَْ ‪ُ٠‬ؤْ ُِِٓ ِثبهللِ َ‪ْ ٚ‬اٌ َ‪ َِ ْٛ ١‬اْلَ ِخ ِش فَ ٍْ‪ْ ُ١‬ى ِش َْ‬ ‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬‫ع ْ‪ُ ٛ‬ي هللاِ َ‬ ‫‪ ِ ٟ‬ا َ َّْ َس ُ‬‫ْاٌ َى ْؼ ِج ّ‬
‫صذَلَخٌ َ‪َْ ٚ‬ل َ‪ِ ٠‬ؾ ًُّ ٌَُٗ اَ ْْ‬ ‫ض ْ‪١‬فَُٗ َعب ِئضَ رُُٗ َ‪ٍَ١ْ ٌََٚ ٌَ ْٛ ٠‬خٌ َ‪ٚ‬اٌ ِ ّ‬
‫ض َ‪١‬بفَخُ ص َ ََلصَخُ اَ‪ٍَّ ٠‬بَ فَ َّب َث ْؼذَ رَاٌِهَ فَ ُ‪َ َٛ ٙ‬‬ ‫َ‬
‫‪ِ ٞ‬ػ ْٕذَُٖ َؽزَّ‪ُ٠ ٟ‬ؾْ ِش َعُٗ‬ ‫‪َ٠‬ضْ ِ‪َ ٛ‬‬
‫صب ٌِؼٍ َػ ْٓ‬‫ت َلب َي أ َ ْخجَ َشِٔ‪ُِ ٝ‬ؼَب ِ‪َ٠ٚ‬خُ ْثُٓ َ‬ ‫‪َ ٝ‬ؽذَّصََٕب ا ْثُٓ َ‪ٍ ْ٘ ٚ‬‬ ‫ع ِؼ‪ٍ ١‬ذ ْاٌ َ‪ّْ ٙ‬ذَأِ ُّ‬
‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب أَؽْ َّذ ُ ْثُٓ َ‬
‫ذ‬ ‫‪ ٝ‬أ َ َؽذُ ُو ُْ أَخَبٖ ُ فَ ٍْ‪َ ُ١‬‬
‫غ ٍِّ ُْ َػٍَ ْ‪ ِٗ ١‬فَئِ ْْ َؽبٌَ ْ‬ ‫ع‪َ ٝ‬ػ ْٓ أَثِ‪ْ َِ ٝ‬ش‪َ َُ َ٠‬ػ ْٓ أَثِ‪َُ ٘ ٝ‬ش‪َْ ٠‬شح َ لَب َي ِإرَا ٌَ ِم َ‬ ‫أَثِ‪َ ُِٛ ٝ‬‬
‫اس أ َ ْ‪َ ٚ‬ؽ َغ ٌش ص ُ َُّ ٌَ ِم‪ َُٗ١‬فَ ٍْ‪َ ُ١‬‬
‫غ ٍِّ ُْ َػٍَ ْ‪ ِٗ ١‬أ َ ْ‪٠‬ضًب‪ .‬لَب َي ُِ َؼب ِ‪َ٠ٚ‬خُ َ‪َ ٚ‬ؽذَّصَِٕ‪َ ٝ‬ػ ْجذُ‬ ‫ؽ َغ َشح ٌ أ َ ْ‪ِ ٚ‬عذَ ٌ‬
‫ثَ ْ‪َّ ُٙ َٕ ١‬ب َ‬
‫َّللاِ ‪-‬صٍ‪ ٝ‬هللا‬ ‫ع‪ِ ٛ‬ي َّ‬ ‫ػ ْٓ َس ُ‬ ‫ػ ْٓ أ َ ِث‪َُ ٘ ٝ‬ش‪َْ ٠‬شحَ َ‬ ‫اٌضَٔب ِد َػ ِٓ األَػ َْشطِ َ‬ ‫ػ ْٓ أ َ ِث‪ّ ِ ٝ‬‬ ‫ة ْثُٓ ث ُْخ ٍ‬
‫ذ َ‬ ‫ْاٌ َ‪َّ٘ ٛ‬ب ِ‬
‫بص ٍُ َؽذَّصََٕب َ٘ َّّب ٌَ َػ ْٓ لَزَبدَح َ لَب َي ‪ :‬لُ ٍْذُ ِألَٔ ٍَظ‬ ‫ػٍ‪ٚ ٗ١‬عٍُ‪ِِ -‬ضٍَُْٗ َ‬
‫ع َ‪ٛ‬ا ًء)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب َػ ّْ ُش‪ْ ٚ‬ثُٓ َػ ِ‬
‫عٍَّ َُ ؟ لَبيَ‪َٔ :‬ؼَ ُْ‬‫صٍَّ‪ ٝ‬هللاُ َػٍَ ْ‪َ َٚ ِٗ ١‬‬
‫ع ْ‪ِ ٛ‬ي هللاِ َ‬
‫ة َس ُ‬
‫ص َؾب ِ‬ ‫صفَ َؾخُ فِ‪ ٟ‬ا َ ْ‬ ‫‪ ,‬اَوَبَٔ ِ‬
‫ذ اٌ ُّ َ‬
‫ت َؽذَّصََٕب دَ ُا‪ٚ‬د ُ ‪ْ َ٠ -‬ؼِٕ‪ ٝ‬اثَْٓ لَ‪ٍْ ١‬ظ ‪َ -‬ػ ْٓ ُ‬
‫ػجَ ْ‪ِ ١‬ذ َّ‬
‫َّللاِ ث ِْٓ‬ ‫َّللاِ ْثُٓ َِ ْغٍَ َّخَ ث ِْٓ لَ ْؼَٕ ٍ‬
‫)‪َ (-‬ؽذَّصََٕب َػ ْجذ ُ َّ‬
‫ظٍُ َّبدٌ ‪ََ ْٛ َ٠‬‬ ‫اٌظ ٍْ َُ ُ‬
‫اٌظ ٍْ َُ فَئِ َّْ ُّ‬
‫َّللاِ ‪-‬ملسو هيلع هللا ىلص‪ -‬لَبيَ‪ :‬ارَّمُ‪ٛ‬ا ُّ‬
‫ع‪َ ٛ‬ي َّ‬ ‫َّللاِ أ َ َّْ َس ُ‬
‫غ ٍُ َػ ْٓ َعب ِث ِش ث ِْٓ َػ ْج ِذ َّ‬ ‫ِِ ْم َ‬
‫ؾ َّؼ أ َ ٍَْ٘هَ َِ ْٓ َوبَْ لَ ْجٍَ ُى ُْ َؽ ٍََّ ُ‪َ ُْ ٙ‬ػٍَ‪ ٝ‬أ َ ْْ َ‬
‫ع َف ُى‪ٛ‬ا ِد َِب َء ُ٘ ُْ‬ ‫ؾ َّؼ فَئ ِ َّْ اٌ ُّ‬ ‫ْاٌ ِم‪َ١‬ب َِ ِخ َ‪ٚ‬ارَّمُ‪ٛ‬ا اٌ ُّ‬
‫َ‪ٚ‬ا ْعز َ َؾ ٍُّ‪ٛ‬ا َِ َؾ ِ‬
‫بس َِ ُ‪ُْ ٙ‬‬
‫?‪c) Bagaimana etika santri terhadap ustad-ustadzah‬‬
‫‪d) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda‬‬
‫?‪mengetahui dalil tersebut‬‬
‫?‪e) Bagaimana etika ketika bertamu/sowan‬‬
‫)‪f‬‬ ‫‪Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda‬‬
‫?‪mengetahui dalil tersebut‬‬
‫‪128‬‬
g) Bagaimana etika terhadap teman?
h) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
i) Mengapa anda melakukan hal-hal tersebut, apakah karena disuruh
atau memang menurut anda hal-hal tersebut sudah sesuai dengan
ajaran Nabi?

Lampiran 2 Daftar Informan

1. Pengasuh: Umi Hj. Choiriyah Hadi (64 tahun)


2. Katua Yayasan: Ust. H. Abdulloh Adib Haad, [Link]. (38 tahun)
3. Ustadzah: Ilmu Ilhafadh (34 tahun)
4. Pengurus: Amirotul Izzah (21 tahun)
5. Santri: Ishfi Hamidatul (25 tahun)
Farha Kamilatun N.A. (20 tahun)
Iffatun Izzah Af‟idah (24 tahun)

129
Lampiran 3 Hasil Wawancara

Wawancara Bersama Pengasuh (Umi Hj. Choiriyah Hadi)

a) Bagaimana sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-


Fathimiyah?
Dulu itu awalnya di Timur (Pondok Pesantren Sunan Drajat) itu
yang ngajar ngaji itu kan saya, terus saya pindah ke sini. Lah ada
santri yang lama tidak bisa-bisa mengaji terus sama orang tuanya
diantar ke sini, terus orang tuanya bilang “harus disini, harus
diterima” karena anak itu tidak bisa mengaji sama sekali, terus saya
juga mengajar tetangga-tetangga ngaji. Kemudian ya dibuatkan
kamar di situ yang pinggir sumur itu. Sekitar tahun 1991 M. ternyata
setelah itu bertambah-bertambah terus pembangunannya juga mulai
ditambah kamar-kamar. Dulu itu Pak Majid (adik Abi) yang ngajak
teman-temannya dari Langitan buat mulai bantu pembangunan awal.
Lama-lama pembangunan sampai di Masjid gendingan, terus mau
ditutup masjidnya tidak saya perbolehkan karena dipakai mbak-
mbak jamaah, dan juga Masjid itu kan peninggalan Sunan Drajat asli
yang pernah dipakai perkumpulan Walisongo. Setelah itu lanjut
pembangunan di barat (asrama barat) yang dulunya dipakai untuk
gedung sekolah pas pagi terus sorenya buat diniyah karena belum
ada gedung khusus. Setelah berkembang ternyata santrinya
bertambah juga, lalu dibangun gedung di lokal utara untuk sekolah.

130
b) Apakah etika sosial yang diterapkan di Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah sesuai dengan yang diajarkan
dalam Al-Qur’an dan Hadis?
Kalau saya tidak tahu secara langsung ya mbak apa yang diajarkan
oleh Nabi itu seperti apa, tapi kalau yang diajarkan lewat tradisi ya
seperti ini.
c) Yang bersangkutan dengan anda seperti etika bertamu, etika
memuliakan tamu, etika santri terhadap guru, dan etika guru
terhadap santri. Lalu apakah hal-hal tersebut sudah sesuai
dengan yang diajarkan oleh Nabi dalam hadis-hadisnya?
Ya kalau ada tamu dipersilahkan masuk, dikasih suguhan, ditanyai
kabar “pripun kabare bu, mbak”. Kalau pandangan orang terkait baik
atau tidaknya perilaku itu kan berbeda-beda ya mbak, jadi diajarkan
saja dengan cara yang terbaik.
d) Apakah di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah ini
terjadi transmisi pengetahuan mengenai hadis-hadis etika
sosial?
Itu Kitab-kitab Abi mbak, semuanya dibaca sama Abi.
e) Bagaimana cara anda mentransmisikan hadis-hadis etika sosial
kepada santri sehingga santri dapat menerapkannya?
Dengan memberikan contoh itu yang utama, kalau saya kan ngajar
ngajinya jadi ya pas itu.

131
Wawancara bersama Ketua Yayasan (Ust. H. Abdulloh Adib Haad,
[Link].I.)

a) Bagaimana pemahaman anda mengenai etika sosial dan


bagaimana penerapannya?
Etika sosial itu adalah segala bentuk perilaku yang disitu
mencerminkan hubungan hidup antar manusia dengan manusia, dan
manusia dengan makhluk lain. Perilaku hidup atau tatacara untuk
bisa hidup yang disitu ada unsur untuk saling memahami, saling
mengerti, dan lain sebagainya. Selanjutnya yang saya tekankan
seperti yang sudah-sudah bahwa guru itu punya pakem tersendiri
yakni tidak boleh meminta untuk dihormati namun harus selalu
berupaya bagaimana layak untuk menjadi seorang pendidik.
Sedangkan untuk murid disana ada kewajiban untuk menghormati
gurunya, karena lewat menghormati gurunya tersebut akan mudah
utuk mendapatkan kemanfaatan ilmu sehingga hal ini ketika berjalan
beriringan akan memunculkan etika yang luar biasa, guru bisa low
profile, dan murid akan bisa mengerti kewajiban dan keharusan yag
melekat pada dirinya. Masing-masing nanti ada timbal balik da nada
batas tingkatannya masing-masing.
b) Apakah etika sosial yang diterapkan di Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah sesuai dengan yang diajarkan
dalam Al-Qur’an dan Hadis?

132
Di dalam Al-Qur‟an dan di dalam Hadis seperti itu, dalam Al-Qur‟an
itu dijelaskan dalam Surat An-Nur, jangan sampai mendatangi Rasul
ketika bisa membuat keluarganya ada yang tersakiti hatinya atau apa,
dan disitu juga Rasul mengajarkan dalam hadis kepada para
santrinya para muridnya untuk tetap low profile dan kewajiban
murid itu juga tertuang dalam hadis untuk senantiasa untuk
menghormati. Lalu dalam kitab-kitab mu‟tabar seperti ta‟lim dan
sejenisnya semuanya mengacu bahwa menghormati ilmu itu juga
menghormati perantara ilmu, dan perantara ilmu ya dewan guru, bu
Nyai, dan hal tersebut dasarnya jelas.
c) Dalil apakah yang menjadi landasan penerapan hadis etika
sosial di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah?
Untuk dalilnya nanti dicari ya, dalam kaidah-kaidah yang ada di
kitab ta‟lim menghormati itu ada dalam bab adab tata karma
menghormati ilmu, di sana ada dengan jelas. Lalu di dalam Al-
Qur‟an surat An-Nur juga dijelaskan, dan juga dalam kitab-kitab
hadis seperti shahih bukhari, muslim, dan yang lainnya ada juga di
dalam bab adab.
d) Yang bersangkutan dengan anda seperti etika bertamu, etika
memuliakan tamu, etika santri terhadap guru, dan etika guru
terhadap santri. Lalu apakah hal-hal tersebut sudah sesuai
dengan yang diajarkan oleh Nabi dalam hadis-hadisnya?
Iya sesuai, dalam Al-Qur‟an dan hadis juga sudah jelas. Ketika Rasul
sedang makan atau sedang istirahat maka para sahabat tidak
133
bertamu. Teori untuk menghormat guru dan teori menjadi murid
yang baik juga sudah dijelaskan. Etika dalam pesantren seperti itu.
e) Apakah di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah ini
terjadi transmisi pengetahuan mengenai hadis-hadis etika
sosial?
Transmisi yang terjadi itu khas pesantren, itu juga dicotoh di
Fathimiyah. Dari para sesepuh itu tidak banyak menggunakan dalil
tapi aplikatif dalam lapangan. Sebuah aplikasi yang diharuskan
untuk dilaksanakan oleh para santri yang hal tersebut bersumber dari
dalil-dalil pasti baik itu Al-Qur‟an, hadis, atau sirah Nabawiyah.
f) Bagaimana cara anda mentransmisikan hadis-hadis etika sosial
kepada santri sehingga santri dapat menerapkannya?
Saya mencontoh orang tua yaitu Abi dan Umi khususnya Abi yang
dulu mendidik secara sosial ke saya pribadi langsung menunjukkan
keseharian di tengah masyarakat dengan memberikan contoh. Untuk
santrinya pertama juga memberikan contoh lalu dibuatkan sebuah
pedoman-pedoman keterangan dari kitab-kitab. Saya juga
mencontoh dari kyai saya, kyai Hannan Ma‟sum, beliau memberikan
contoh tauladan yang luar biasa. Bahasanya Kyai Faqih Langitan itu
Kyai Hannan adalah kitab bidayatul hidayah berjalan. Jadi akhlak
yang ditulis oleh Imam Ghozali dalam kitab bidayah itu
dipraktekkan dalam keseharian beliau. Ulama terdahulu seperti itu.

134
g) Apakah ada faktor-faktor lain yang melatarbelakangi sehingga
hadis-hadis etika sosial dapat terimplementasikan dalam
kegiatan sehari-hari?
Yang jelas adalah suri tauladan. Bahasanya guru saya “sesuatu yang
tersirat itu lebih luar biasa dari pada sesuatu yang tersurat” sesuatu
yang tersirat itu ya yang dipraktekkan. Dicontohkan secara langsung
itu lebih mengena daripada sekedar kewajiban-kewajiban yang
tertulis, maka contoh secara langsung itu hal yang luar biasa
pentingnya dan didampingi dengan keseharian lewat ngaji kitab atau
ketika ada waktu-waktu yang lain untuk memberikan penjelasan.
h) Apakah ada kitab-kitab khusus yang digunakan sebagai
pedoman?
Untuk pedoman tetap menggunakan Al-Qur‟an, kitab-kitab hadis,
tafsir-ilmu tafsir, ada juga beberapa kitab mu‟tabar seperti kitab
adabul alim wal muta‟allim, ta‟limul muta‟allim, akhlakul murid,
akhlakul banad, dsb., dan untuk kitab hadis biasanya ada dalam
kitab-kitab Ramadhan

135
Wawancara Bersama Guru Mata Pelajaran (Ustdz. Ilmu Ilhafadh)

a) Bagaimana pemahaman anda mengenai etika sosial dan


bagaimana penerapannya?
Etika itu sama seperti adab, yaitu kebiasaan anak-anak di sekitar
Fathimiyah itu seperti apa. Kalau disini anak-anak ya baik, bisa
bersosialisasi baik dengan guru-guru, murid atau sesame teman,
tetangga, juga dengan penjual.
b) Apakah etika sosial yang diterapkan di Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah sesuai dengan yang diajarkan
dalam Al-Qur’an dan Hadis?
Sesuai, karena jika tidak sesuai maka langsung mendapat teguran
dari Gus Adib.
c) Dalil apakah yang menjadi landasan penerapan hadis etika
sosial di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah?
Untuk dalilnya juga diajarkan di pelajaran hadis kelas 3 MA.
d) Yang bersangkutan dengan anda seperti etika bertamu, etika
memuliakan tamu, etika santri terhadap guru, dan etika guru
terhadap santri. Lalu apakah hal-hal tersebut sudah sesuai
dengan yang diajarkan oleh Nabi dalam hadis-hadisnya?
Sesuai mbak, dalam bertamu jadi salam dulu baru ngomong apa
yang diinginkan. Sama guru juga tunduk, patuh, takdzim juga.

136
e) Apakah di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah ini
terjadi transmisi pengetahuan mengenai hadis-hadis etika
sosial?
Ada mbak
f) Bagaimana cara anda mentransmisikan hadis-hadis etika sosial
kepada santri sehingga santri dapat menerapkannya?
Caranya dengan perilaku keseharian yang dibawa oleh mbak-mbak
dulu, karena mbak-mbak dulu sudah diajarkan oleh Abi kemudian
yang baik-baik masih diterapkan sampai sekarang. Contohnya ya
seperti adanya peraturan bahwa jam 10/11 malam dilarang ramai
karena dapat mengganggu teman-teman yang lain juga dapat
mengganggu tetangga.
g) Apakah ada faktor-faktor lain yang melatarbelakangi sehingga
hadis-hadis etika sosial dapat terimplementasikan dalam
kegiatan sehari-hari?
Faktor lain yaitu mata pelajaran, contoh keseharian, dan hadis itu
bisa diterapkan dengan contoh. Hadis itu pejelasannya melebar, la di
NU itu dijelaskan juga perilaku-perilaku yang sesuai dengan Hadis.
Selain NU juga memakai Hadis, tapi karena kita NU ya manut
dengan yang diajarkan oleh NU. NU mengajarkan kalau yang baik
ya dipakai dan yang jelek dibuang. Walaupun orang terdahulu
adatnya ada yang jelek ya dibuang dan yang baiknya dipakai terus.
Sama seperti peraturan pondok semisal peraturan tahun kemaren jika

137
diterapkan baik maka akan dipakai dan jika diterapkan tidak baik
maka akan dibuang.
h) Apakah ada kitab-kitab khusus yang digunakan sebagai
pedoman?
Buku pedoman yang ada dari Depag, buku modul dari sekolahan,
dan buku-buku saya yang dulu masih MAK, ada juga Kitab Hadis
dengan sampul hitam lupa karyanya siapa, kitab minhatul mughits.
Dan itu diajarkan di kelas 2 dan 3, sedangakan di kelas 1 itu untuk
pengenalan Hadis ilmu Hadis.
i) Urgensi mengenalkan bunyi dalilnya seperti apa?
Perlu ya mbak, tapi soalnya anak sekarang itu pintar-pintar jadi
missal hanya dikasih bunyi hadisnya kayak gini dalilnya gini maka
agak susah karena hanya omongan saja. Jadi selain hanya bunyi
hadisnya, maka anak-anak lebih perlu dikasih contoh. Kemudian jika
tidak ada hadis maka Al-Qur‟an akan dimaknai secara sempit karena
Al-Qur‟an itu global, lalu dijabarkan di dalam hadisnya. Hadis itu
perlu dan juga harus dikenalkan karena memang itu milik kita.

138
Wawancara bersama Pengurus (Amirotul Izzah)

a) Bagaimana pemahaman anda mengenai etika sosial dan hadis-


hadis etika sosial?
Sikap ataupun perbuatan kitaepada masyarakat atau lingkungan sesuai
dengan ketentuan yang ada, tidak sembarangan, dan sesuai dengan
aturan. Kalau untuk disini pastinya mengutamakan akhlak, sudah
menjadi kajian setiap hari untuk santri pasti diingatkan untuk sifat,
sikap, baik kepada sesame teman ataupun kepada yang lebih tua, baik
di sekolah, di pondok, ataupun di rumah selalu diingatkan. Bahkan
tidak hanya ketika melakukan pelanggaran, tapi juga sehari-hari
sedikit demi sedikit selalu diingatkan.
b) Apakah etika sosial yang diterapkan di Yayasan Pondok
Pesantren Putri Al-Fathimiyah sesuai dengan yang diajarkan
dalam Al-Qur’an dan Hadis?
Selalu berusaha diselaraskan sesuai dengan apa yang diajarkan
Rasulullah saw, dalam hadis-hadisnya. Seperti dalam peraturan-
peraturan itu juga disesuaikan dengan yang sudah diajarkan oleh
Rasul, yaitu taat dan hormat kepada guru, ada juga larangan
menggasap, mengambil barang milik orang lain, dan larangan-
larangan lain yang dapat merusak etika santri.
c) Dalil apakah yang menjadi landasan penerapan hadis etika sosial
di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah?

139
Kalau untuk dalilnya memang saya belum tahu ya mbak, tapi untuk
yang diterapkan saya menggunakan dalil “Al Muhafadhotu „ala
qodimi as-shilihi wal akhdzu bil jadidi al-ashlahi”
d) Bagaimana pemahaman anda mengenai hadis-hadis berikut?
Untuk hadis etika dalam bertamu itu sudah diterapkan. Disini sangat
ditekankan terkait adab dengan tamu itu seperti apa, terus bagaimana
menjamu tamu itu seperti memperlakukan mereka dengan baik,
seperti jika ada tamu wali santri ke kantor ya dipersilahkan masuk,
ditanyai ada yang bisa dibantu, disuguhi minum atau apa yang ada
seperti itu.
e) Apakah di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah hadis-
hadis tersebut sudah diterapkan?
Sudah ya mbak dalam keseharian, tapi saya sendiri belum mengetahui
bagaimana bunyi hadisnya. Tapi untuk prakteknya kita langsung
mendapat bimbingan, dan hal tersebut pasti sesuai dengan yang sudah
diajarkan dalam Al-Qur‟an ataupun Hadis.
f) Apakah ada dalil yang menjadi landasan dalam penerapan
kebijakan peraturan pesantren?
Al Muhafadhotu „ala qodimi as-shilihi wal akhdzu bil jadidi al-
ashlahi
g) Siapakah yang mengajarkan hal-hal tersebut kepada anda?
Dapat bimbingan langsung, dan juga mendapat contoh dari yang lebih
tua, ini seperti apa bagaimana caranya, dan lain-lain

140
h) Sebagai pengurus, bagaimana cara anda mentransmisikan
pengetahuan hadis etika sosial yang sudah anda ketahui kepada
santri-santri di Yayasan Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah?
Kalau dari guru biasanya pengetahuan lewat pengaosan, pelajaran
sekolah, untuk saya sendiri dan teman-teman dalam mentransmisikan
kepada teman-teman santri ya dengan saling mengingatkan. Tapi tidak
langsung dengan menggunakan dalilnya seperti apa melainkan dengan
intisari adab yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Allah dan
RasulNya.

141
Wawancara Bersama Santri 1 (Ishfi Hamidatul Wahibah)

a) Bagaimana pemahaman anda tentang etika sosial dan hadis


etika sosial?
Etika sosial adalah adab bagaimana kita bersikap kepada lingkungan
kita. Hadis etika sosial berarti hadis-hadis yang menjelaskan tentang
etika-etika sosial
b) Bagaimana pemahaman anda mengenai hadis-hadis berikut?
Untuk hadis pertama ini menjelaskan tentang kewajiban murid
terhadap guru yaitu menghormatinya, guru itu sebagai perantara
ilmu. Jika inging menghormati ilmu maka hormatilah yang
membawa dan menyampaikan ilmu itu kepada kita agar ilmu
manfaat dan manfaati (memberikan manfaat).
c) Bagaimana etika santri terhadap ustad-ustadzah?
Menghormati, mentaati, takdzim
d) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Kalau untuk hadisnya ini saya belum pernah mengetahuinya, tapi
sampai saat ini yang menjadi pedoman adalah “Wa bil khidmati
intafa‟u Wa bil hurmati irtafa‟u”. Tapi dalam ngaos-ngaos entah
malam Jum‟at atau Jum‟at pagi selalu dijelaskan tentang hadis-
hadisnya.
e) Bagaimana etika ketika bertamu/sowan?

142
Salam dulu minta izin, itu dengan duduk di samping pintu atau di
depan samping, terus jika dipersilahkan masuk ya masuk berjalan
dengan lutut, salim, terus ngomong mau apa, terus kalau selesai ya
pamit, salim, balik kaluar dengan lutut lagi.
f) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Belum mengetahuinya
g) Bagaimana etika terhadap teman?
Ya seperti ini, saling membantu, makan bareng, dll.
h) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Belum mengetahuinya, tapi ya memang seperti itu.
i) Mengapa anda melakukan hal-hal tersebut, apakah karena
disuruh atau memang menurut anda hal-hal tersebut sudah
sesuai dengan ajaran Nabi?
Sudah diajarkan baik dari yang santri dahulu, maupun biasanya
dalam ngaos-ngaos dan jelas sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad.

143
Wawancara Bersama Santri 2 (Farha Kamilatun N.A.)

a) Bagaimana pemahaman anda tentang etika sosial dan hadis


etika sosial?
Etika sosial itu merupakan etika atau adab tata cara kita untuk
bersosial di lingkungan masyarakat, apa lagi kita di pondok
pesantren. Jadi mungkin seperti semacam tata cara, sikap, etika kita
selama bersosial. Kalau hadis-hadis etika sosial berarti hadis-hadis
yang membahas tentang itu.
b) Bagaimana pemahaman anda mengenai hadis berikut?
Dari hadis etika bertamu ini memahami bahwa ketika bertamu
semisal ditanya siapa itu menyebutkan nama agar lebih sopan lebih
etis, jika hanya menyebutkan saya itu terkesan kurang sopan. Maka
dari itu dalam hadis disebutkan bahwa Nabi terlihat seolah
membencinya, hal tersebut menunjukkan bahwa jika bertamu dan
ditanya siapa maka seharusnya tamu harus menyebutkan namanya.
ketika bertamu, kita itu tidak boleh inceng-inceng atau mengintip
tanpa izin tuan rumah. Jika kita bertamu di rumah orang, da nada
suatu ruangan yang terbuka atau apapun itu, kita tidak boleh
melihatlihatnya ketika kit belum meminta izin kepada tuan rumah,
jadi bahasa kita itu “lancang”, tidak boleh melihat-lihat sebelum ada
izin dari pemilik rumah. Jadi ketika bertamu hendaknya menjaga
pandangan, jangan sampai mata kita melihat-lihat. Rasulullah itu
pernah bersabda apabila kita bertamu kalau sudah salam sebanyak

144
tiga kali terus tidak ada respon atau jawaban itu tidak apa-apa
ditinggal dan lebih baik kembali dilain kesempatan.
Lalu kemudian hadis etika terhadap tamu, Nabi memang
mengajarkan kepada umatnya untuk memuliakan tamu, dan ada juga
pribahasa yang menyatakan bahwa tamu adalah raja. Jadi saking
mulianya tamu, maka ketika ada tamu yang bertamu ke rumah kita
itu dijamu sebaik mungkin, dipersilahkan, disuguhi makanan yang
enak-enak itu cara kita menghormat tamu, tapi tetap dengan
kemampuan masing-masing, missal orang yang dari segi finansial
tidak mampu memberi apa-apa maka cukup seadanya saja semisal
teh saja itu tidak masalah yang penting kita dalam rangka niat
hormat tamu. Jadi misal tidak ada ya jangan mengada-ada sampai
hutang-hutang itu yang tidak baik, jadi harus semaksimal mungkin
sesuai dengan kemampuannya. kewajiban tuan rumah adalah
menjamu tamu dengan sebaik-baiknya. Dan kewajiban dari tamu
adalah memahami posisi dia sebagai tamu. Karena misal tamu
berlama-lama menginap maka tuan rumah juga tetap memiliki
kewajiban dan kesibukan lain yang harus dilakukannya. Jadi semisal
tamu memiliki kepentingan sehingga dia perlu bertamu, maka
setelah keperluannya selesai hendaknya dia berpamitan, karena
takutnya memberatkan tuan rumah. Saya pernah membaca di salah
satu postingan Gus Muslim putranya Kyai Hannan, beliau
memposting di facebooknya bahwa Kyai Hannan itu pernah
ngendikan kalau bertamu itu jangan lama-lama, karena itu tadi kita
145
tidak tahu bahwa tuan rumah mempunyai kesibukan atau tidak, jadi
kalau urusan selesai ya langsung pamit.
Lalu untuk etika bertemu berpapasan, dari hadis ini difahami bahawa
kalau bertemu berpapasan ya berjabat tangan, mengucap salam.
c) Bagaimana etika santri terhadap ustad-ustadzah?
Seperti apa yang sudah dicontohkan dalam sehari-hari yaitu ketika
kita berjumpa hendaknya kita menghormatinya dengan cara berdiri,
menundukkan kepala, mengucapkan salam, kalau bisa ya salim itu
jika beliau dalam keadaan tidak mendesak.
d) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Kalau menurut saya, hal-hal seperti itu memang seperti yang
diajarkan Rasulullah, tapi untuk dalilnya saya kurang tahu pasti, tapi
sering waktu ngaos kitab itu dijelaskan oleh Gus mengenai hadis-
hadis terkait adab santri terhadap guru
e) Bagaimana etika ketika bertamu/sowan?
Untuk sowan atau kita bertamu ya kita minta izin terlebih dahulu
dengan salam sampai tiga kali seperti yang dijelaskan dalam hadis.
Lalu masuk, salim. Salah satu poin plus yang saya dapat di pondok
ini adalah dalam etika menghormati tamu. Bu Nyai saya sendiri yang
mencontohkan ketika ada tamu, beliau itu sangat menghormati,
selalu menjamu seperti itu, kalau ada tamu selalu dijam apalagi tamu
yang dari luar kota atau jauh ya itu di ndalemi selalu dimasakkan.
Ada acara-acara ataupun kegiatan yang bertempat di sini tidak akan
146
lupa dihidangi masakan, entah itu dari orang-orang besar yang
menempatkan acaranya disini, entah kunjungan, itu selalu disuguhi
dengan makanan dengan berbagai macam banyaknya.
f) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Tidak mbak, saya belum mengetahuinya secara pasti bagaimana
bunyinya, tapi hal tersebut memang sudah menjadi kewajiban. Dan
sering juga dijelaskan ketika ngaos.
g) Bagaimana etika terhadap teman?
Simpelnya, saya pernah baca “Hormati yang lebih tua, sayangi yang
lebih muda”.
h) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Belum mengetahuinya
i) Mengapa anda melakukan hal-hal tersebut, apakah karena
disuruh atau memang menurut anda hal-hal tersebut sudah
sesuai dengan ajaran Nabi?
Pertama kita harus mencontoh Rasul, seperti apa yang diajarkan oleh
Nabi. Lalu sudah menjadi tradisi orang jawa atau tradisi masyarakat.
Dan tradisi yang dianut juga dari tradisi-tradisi yang diajarkan oleh
Nabi

147
Wawancara Bersama Santri 3 (Iffatun Izzah Af’idah)

a) Bagaimana pemahaman anda tentang etika sosial dan hadis


etika sosial?
Kalau etika itu tata cara, berarti kalau hadis etika sosial berarti hadis-
hadis yang di dalamnya mengatur tentang bagaimana etika manusia
kepada manusia lain.
b) Bagaimana pemahaman anda mengenai hadis berikut?
Hadis ini menjelaskan mengenai kedudukan guru dan murid,
kewajiban serta hak mereka masing-masing. Guru diibaratkan
sebagai hujan yang lebat, sedangkan murid itu sebagai tanah. Guru
tidak boleh membeda-bedakan muridnya, sama seperti hujan. Murid
itu bermacam-macam sama seperti macam-macam tanah, ada tanah
yang langsung menyerap ada juga yang mempunyai sifat untuk
menampung, dan mereka akan ada manfaat masing-masing. Lalu
untuk hadis etika bertamu , hadis ini menjelaskan tentang adanya
larangan untuk melihat ke dalam rumah ketika menunggu jawaban
salam dari pemilik rumah karena khawatir si pemilik rumah sedang
melakukan kegiatan tertentu, bahkan Rasulullah pun marah ketika
ada yang mengintip karena hal tersebut merupakan suatu hal yang
tercela dan tidak sopan. Kemudian hadis tentang perintah
menyebutkan nama ketika ditanya itu berfungsi ketika bertamu yang
menerima adalah bukan tuan rumah secara langsung melainkan
keluarga yang lain atau juga dalam pesantren ketika bertamu kepada

148
Bu Nyai yang menerima bukan Bu Nyai secara lansung atau diterima
oleh mbak ndalem atau orang lain yang tidak mengenal tamu itu.
Hadis etika berpapasan ini menjelaskan bahwa anjuran kepada
sesame muslim ketika berpapasan adalah saling menyapa atau
mengucap salam, berjabat tangan juga, karena para sahabat pun
berjabat tangan. Dan etika kepada teman yaitu larangan bakhil, disini
Rasulullah mengetahui adanya kaum yang binasa dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang bakhil, maka dari itu santri dan umat
Islam dilarang bakhil baik kepada temannya maupun orang lain.
c) Bagaimana etika santri terhadap ustad-ustadzah?
Takdzim itu nomer satu agar ilmunya manfaat.
d) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Biasanya dalam ngaos sering dijelaskan tapi saya tidak hafal.
e) Bagaimana etika ketika bertamu/sowan?
Kalau biasanya sowan umi itu ya pertama salam dulu, terus salim,
terus sanjang mau apa.
f) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Ya itu tadi, kalau yang salam 3 kali itu saya pernah mendengar tapi
juga tidak hafal.
g) Bagaimana etika terhadap teman?
Tidak boleh pelit, saling tolong menolong, sumeh juga.

149
h) Apakah anda mengetahui dalilnya dan dari manakah anda
mengetahui dalil tersebut?
Belum tahu.
i) Mengapa anda melakukan hal-hal tersebut, apakah karena
disuruh atau memang menurut anda hal-hal tersebut sudah
sesuai dengan ajaran Nabi?
Sejatinya manusia itu harus memiliki etika sosial yang baik karena
hidup berdampingan dengan manusia yang lain. Untuk hal-hal
tersebut sering dijelaskan dalam ngaos, berarti yah al-hal tersebut
memang sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi.

150
Lampiran 4 Surat Izin Melakukan Penelitian

151
Lampiran 5 Surat Keterangan Telah Melaukan Penelitian

152
Lampiran 6 Dokumentasi Pesantren

153
154
Lampiran 7 Dokumentasi Wawancara

155
156

Anda mungkin juga menyukai