Efektivitas Ekstrak Tanaman Obat untuk TBC
Efektivitas Ekstrak Tanaman Obat untuk TBC
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) telah muncul sebagai salah satu penyakit yang paling serius dan
menghancurkan yang berkontribusi terhadap hilangnya banyak nyawa dan telah meningkat
pada tingkat pandemi. Indonesia sendiri berada pada posisi kedua (ke-2) dengan jumlah
penderita TBC terbanyak di dunia. Kasus TBC ini masih tergolong tinggi, dengan data
sementara untuk 2023 berkisar 118.438 kasus, dari angka estimasi kasus di Indonesia
mencapai 900 ribu kasus TBC (Nadia, 2023). Di Jawa Barat dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan yang cukup siginifikan. Untuk kasus baru TBC di Jabar dari tahun 2021 sekitar
92 ribu kasus baru, kemudian 2022 ada 159 ribu kasus baru, sedangkan dari Januari - April
2023 ini sudah ada 47 ribu kasus baru. Menurut Kepala Bidang P2P, Dinas Kesehatan
(Dinkes) Jabar, Rochady HS Wibawa, jumlah kasus yang terlaporkan positif TBC setiap
tahun meningkat. Peningkatan kasus TBC di Jabar, sejak 2021 hingga April 2023, kasus baru
terus terlaporkan dari 27 kabupaten dan kota.
Obat-obatan pada penderita TBC, ada beberapa macam, dua diantaranya ada
penderita sensitif obat dan resisten obat. Untuk resisten obat ini tidak bisa pakai obat-obat
biasa dan harga obatnya pun sangat mahal sehingga penderita TB tidak semuanya mampu
membeli obat tersebut, penderita hanya membeli obat asal yang terjangkau harganya tanpa
resep dari dokter. Tuberkulosis Resisten Obat atau TB RO adalah infeksi Tuberkulosis yang
menyerang tubuh yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang kebal obat
akibat dari pengobatan yang tidak benar. Bakteri TB menular melalui udara saat berbicara,
bersin maupun batuk.
Penyakit infeksi TB selama ini diatasi dengan antibiotik, seperti rifampisin,
isoniazid, etambutol, streptomisin, dan pirazinamid. Namun, tingginya angka morbiditas TB
di Indonesia maupun di seluruh dunia berbanding lurus dengan tingginya tingkat resistensi
obat anti-TB atau dikenal dengan Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB). MDR-TB
menunjukan adanya resistensi yang tinggi terhadap lini pertama TB, yaitu isoniazid (INH)
dan rifampisin, dengan atau tanpa resistensi terhadap obat anti-TB lainnya. MDR-TB
berkembang saat terapi tidak adekuat selama masa pengobatan atau gagal. Salah satu
penyebab utama MDR-TB adalah adanya kesalahan dari pihak medis seperti pengobatan
1
yang tidak terstandar, ketidakpatuhan pasien selama masa pengobatan, dan munculnya strain
resisten yang ditransmisikan oleh penderita MDR-TB (A.S, Dean, 2017).
Munculnya strain TB yang resistan terhadap obat (MDR) dan TB yang resistan
terhadap obat secara ekstensif (XDR-TB) merupakan tantangan yang signifikan dalam
memerangi TB. Dengan munculnya COVID-19, jumlah kasus TB meningkat secara tiba-tiba,
karena berdampak langsung pada pengobatan dan diagnosis TB. Dengan mempertimbangkan
situasi saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memindahkan tujuan
pemberantasan TB dari tahun 2025 ke 2035. Strain resisten tersebut merupakan akibat adanya
mutasi atau perubahan pada gen-gen tertentu dalam genom Mtb, tepatnya pada gen yang
merupakan target kerja dari obat anti-TB. Tingkat MDR-TB pada tiap negara dan wilayah
berbeda-beda, sebagai contoh negara dengan tingkat MDR-TB terbesar adalah China, India,
dan Federasi Rusia (WHO, 2022).
Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) adalah penyakit yang disebabkan oleh strain
kompleks Mycobacterium tuberculosis (Mtb) yang resistan terhadap obat TBC apapun. Hal
ini disebabkan oleh mutasi spontan pada kromosom. Pengobatan TBC menyebabkan
hambatan selektif pada populasi kuman Mtb sehingga kuman Mtb sensitif dibunuh,
sementara populasi mutan akan bereproduksi dan menyebabkan terjadinya resistansi terhadap
Obat Anti TBC (OAT). TBC RO pada dasarnya adalah suatu fenomena “buatan
manusia”, sebagai akibat dari pengobatan pasien yang tidak adekuat maupun penularan dari
pasien TBC RO. Menurut Global TB Report 2022, kasus MDR/TB sendiri diperkirakan
mencapai 28.000 kasus dari total 969.000 kasus TBC yang ada di Indonesia pada tahun 2021.
Pasien MDR-TB tahap awal membutuhkan pengobatan kurang lebih selama 24
bulan sedangkan untuk tahap yang lebih parah dibutuhkan pengobatan kurang lebih 36 bulan.
Namun, yang harus diketahui adalah angka kesembuhan pasien MDR-TB adalah berkisar
antara 50-60% sehingga menyebabkan adanya beban ekonomi yang berat, yaitu sekitar 10-
100 kali dibandingkan dengan kasus TB yang tidak mengalami MDR. Pengobatan MDR-TB
dengan second line membutuhkan waktu yang lebih lama dan memiliki efek samping yang
lebih banyak sehingga kontrol terhadap kasus MDR-TB merupakan salah satu pokok utama
kesehatan yang harus diperhatikan dan diprioritaskan (Ding, 2017).
Metode pengobatan TB berkelanjutan hanya untuk TB aktif dan tidak mengatasi
efek samping terkait. Telah ada perjalanan umum untuk sumber baru obat TB dalam beberapa
tahun terakhir karena evolusi TB yang resistan terhadap berbagai obat.
Obat tradisional yang dipraktikkan di Asia Selatan dan Afrika memiliki pengetahuan
asli tentang tanaman obat dan produk nabati yang telah mengobati berbagai penyakit,
2
termasuk TBC. Meskipun metode ini mungkin tidak dapat memberantas infeksi sepenuhnya,
metode ini telah dikenal dengan manajemen yang lebih baik yang berpusat pada kualitas
hidup pasien. Jadi, untuk mengembangkan metodologi pengobatan, meningkatkan
kesejahteraan, dan mengatasi infeksi dengan proporsi morbiditas dan mortalitas yang tinggi,
metode alternatif yang paling dekat dengan sumber alaminya dengan efek samping yang
minimal tampak menjanjikan (Rawat et al., 2022). Phytodrugs yang berbasis tumbuhan dan
memiliki sejarah untuk mengobati TB memberikan alternatif yang menarik dan ampuh untuk
pengobatan konvensional dengan efek samping yang paling sedikit (Singh et al., 2022). Di
negara berkembang, 80% penduduknya bergantung pada pengobatan tradisional (Getachew
et al., 2022). Tumbuhan dengan fitokimia yang menunjukkan aktivitas antibakteri
memberikan alternatif untuk mengobati TB tanpa membahayakan kesehatan manusia lebih
jauh dengan efek samping (Fatima et al., 2021).
MDR-TB terus mendorong penelitian dan pengembangan terhadap obat anti-TB
yang baru. Salah satunya adalah melalui penemuan senyawa aktif yang terdapat pada bahan
alam khususnya tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai
Efektivitas Enkapsulasi Ekstrak Tanaman Obat Terpilih Sebagai Anti-Tuberkulosis
Terhadap TB Resisten Obat.
3
1.3.2 Tujuan Penelitian
1. Mendapatkan ekstraksi tanaman obat terpilih daya hambat efektif sebagai anti-
tuberkulosis.
2. Mendapatkan ekstraksi tanaman obat terpilih yang mampu menghambat penderita TB
Resisten Obat.
3. Mendapatkan enkapsulasi yang efektif pada ekstrak tanaman obat terpilih secara in-
vivo dan in-vitro.
4
BAB II
5
bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit
Tuberkulosis (Utami, 2019).
Bakteri Tuberkulosis ini mati pada pemanasan 100°C selama 5-10 menit atau pada
pemanasan 60°C selama 30 menit, dan dengan alkohol 70 – 95% selama 5-30 detik. Bakteri
ini tahan selama 1–2 jam di udara terutama di tempat yang lembab dan gelap (bisa berbulan-
bulan), namun tidak tahan terhadap sinar atau aliran udara. Paparan sinar matahari selama 5
menit dapat membunuh Mycobacterium tuberculosis dan dalam rumah suhu udara yang ideal
antara 18- 30°C. Suhu optimal dalam pertumbuhan bakteri sangat bervariasi, Mycobacterium
tuberculosis dapat tumbuh optimal pada suhu 37°C. Mycobacterium tuberculosis dapat
terbunuh dengan paparan sinar matahari selama 5 menit dapat membunuh Mycobacterium
tuberculosis dan tahan hidup pada tempat gelap, sehingga perkembangbiakan bakteri tersebut
lebih banyak di rumah yang gelap (Anggraini et al., 2020).
Aerosol udara yang membungkus MTB dihirup oleh pasien. Kemudian (1) Sistem
kekebalan paru dengan cepat mengeliminasi pathogen MTB; (2) menyebabkan TB aktif; (3)
infeksi berkembang menjadi TB laten; (4) TB laten diaktifkan kembali dengan cara endogen
atau eksogen atau keduanya; (5) infeksi MT aktif, terjadi penyebaran dan penularan (Silvi et
al, 2023).
6
Gambar 2. Interaksi [Link]-host resisten obat pada paru-paru di berbagai tahap infeksi
(A) Setelah kontak dekat dengan individu dengan penyakit TB aktif, infeksi dapat
dimulai melalui penghirupan droplet yang mengandung [Link] yang resistan terhadap obat
(DR). Basil [Link] mengandung kadar lipid amplop sel yang berubah seperti asam lemak
bebas (FA), trehalosa dimycolate (TDM), Phthiocerol dimycocerosates (PDIM), glikolipid
fenolik (PGL), dan gliserofosfolipid, antara lain. Setelah melewati penghalang saluran
pernapasan bagian atas, [Link] pada akhirnya akan mencapai alveoli, struktur seperti
kantung yang terdiri dari lapisan tipis sel epitel alveolar tipe I (ATIs, dengan fungsi struktural
dan pertukaran gas) dan sel epitel alveolar tipe II (ATII, dengan fungsi sekretor) dikelilingi
oleh kapiler. Makrofag alveolar (AM) adalah fagosit residen yang mengisi ruang alveolar,
sedangkan ruang interstitial yang mengelilingi alveoli mengandung makrofag interstitial
(IM), sel dendritik (DC), neutrofil (N), dan sel T, di antara sel inang lainnya. (B) Di ruang
alveolar, basil [Link] pertama kali berinteraksi dengan komponen bawaan inang yang
dapat larut yang ada dalam cairan pelapis alveolar (ALF), di mana hidrolase (diwakili sebagai
7
gunting) dapat membelah dan memodifikasi amplop sel [Link], melepaskan fragmen selubung
sel ke dalam ruang alveolar. (C) Selanjutnya, basil [Link] yang dimodifikasi ALF akan
berinteraksi dengan AM (fagosit profesional) dan/atau dengan AT (fagosit non-profesional),
serta dengan sel imun bawaan inang lainnya (misalnya, neutrofil, DC) . Fragmen [Link]
yang dirilis bersifat imunogenik dan dapat menarik neutrofil ke lokasi infeksi yang
mendorong stres oksidatif dan pembengkakan lokal, yang dapat membantu AM yang
beristirahat untuk membersihkan infeksi. (D) Hasil dari interaksi awal ini akan teratasi dalam
pembersihan [Link] yang terpajan ALF, pembentukan infeksi yang berhasil mendorong
penyakit TB aktif primer, atau infeksi [Link] laten yang ditentukan oleh [Link] persisten dalam
granuloma, suatu ceruk yang menyediakan lingkungan yang protektif terhadap obat anti-TB,
sehingga meningkatkan fenotip [Link]. Sel induk mesenchymal (MSC) di sekitarnya juga
dapat meredam respons imun dan menyediakan lingkungan intraseluler yang protektif untuk
persistensi [Link]. (E) Reaktivasi dan perkembangan selanjutnya menjadi penyakit TB aktif
dapat terjadi ketika granuloma gagal mengandung [Link], dengan pertumbuhan [Link]
ekstraseluler yang menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru dan pembentukan rongga.
Telah disarankan bahwa dalam skenario ini, [Link] mengeluarkan asam lemak bebas,
menciptakan semacam matriks ekstraseluler (EM) yang selanjutnya melindungi [Link]
terhadap obat TB.
Sumber penularan penyakit tuberkulosis paru adalah penderita yang terinfeksi
dengan BTA(+). Penularan terjadi karena individu yang terinfeksi batuk atau bersin sehingga
bakteri keluar dalam bentuk droplet nuclei di udara. Partikel ini dapat menetap dalam udara
bebas selama 1-2 jam bergantung pada ada atau tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang
buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap bakteri dapat bertahan berhari-hari
sampai berbulan-bulan (Zaman, 2021).
Bakteri biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernapasan ke dalam
paru dan dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah,
sistem saluran limfa, melalui saluran napas (bronchus) atau menyebar langsung ke bagian-
bagiantubuh lainnya serta dapat terjadi pada sekelompok umur, baik di paru maupun di luar
paru. Sumber penularan penyakit tuberkulosis paru BTA positif, dengan kontak erat pada saat
batuk/bersin dapat menularkan bakterikepada orang yang berada [Link]
menyebarkan bakteri ke udara dalam bentuk droplet (dalam bentuk percikan dahak). Droplet
yang mengandung bakteri dapat bertahan di udara pada suhu kamar. Percikan dahak yang
mengandung bakteri tuberkulosis yang dibatukan keluar, dihirup oleh orang sehat melalui
jalan nafas dan selanjutnya berkembang biak di paru-paru (Anggraini et al., 2020).
8
Individu yang sehat dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup dan masuk
kedalam saluran pernapasan. Bakteri tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh
lainnya melalui pembuluh darah, saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung
kebagian-bagian lainnya (Purnama,2016). Daya penularan dari penderita tuberculosis paru
ditentukan oleh banyaknya bakteri yang terhadap dalam paru penderita, penyebaran bakteri
diudara dan penyebaran bakteri bersama dahak berupa droplet (Lestiyaningsih, 2021)
TB paru pada manusia dapat dijumpai dalam dua bentuk, yaitu: Tuberculosis primer
dan Tuberculosis sekunder. Pada infeksi primer berlangsung tanpa gejala, hanya batuk dan
nafas berbunyi. Namun, pada orang sistem imun lemah terjadi radang paru yang hebat
dengan ciri-ciri batuk kronik dan sifatnya sangat menular. Infeksi sekunder berlangsung
beberapa bulan atau tahun, ciri khas dari tuberkulosis primer adalah kerusakan paru dengan
terjadi efusi pleur. Faktor resiko eksternal menjadi penyebab sabagian besar terjadi infeksi
tuberkulosis ialah faktor lingkungan rumah tak sehat, pemukiman padat dan kumuh.
Penderita tuberkulosis paru dengan keadaan sembuh (BTA negatif) masih dapat
mengalami batuk berdarah. Keadaan ini seringkali dikira kasus kambuh, pada kasus seperti
itu pengobatan dengan anti tuberkulosis (OAT) tidak diperlukan lagi tetapi cukup diberikan
pengobatan simtomatis. Resistensi pengobaan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
tergantung dengan kepatuahan minum obat (Pamungkas, 2018).
9
Diagnosis TB paru sesuai dengan Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis
Kementerian Kesehatan RI sebagai berikut:
1. Suspek TB paru diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu – pagi –
sewaktu.
2. Diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB
(BTA). Penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis
utama.
3. Pemeriksaan foto toraks digunakan sebagai penunjang diagnosis.
[Link] Pengobatan
Tujuan dari pengobatan TB paru adalah untuk menyembuhkan penderita, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, dan menurunkan tingkat penularan. Obat yang diberikan
10
dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis dengan dosis tepat selama 6-8 bulan, agar semua
kuman (termasuk kuman resisten) dapat sembuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap
lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal, sebaiknya pada saat perut kosong. Apabila panduan
obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan), kuman TB
paru akan berkembang menjadi bakteri kebal obat.
Pengobatan TB adalah pengobatan yang komprehensif dan berkelanjutan, setidaknya
diperlukan waktu 6 bulan dengan sedikitnya kombinasi 4 macam obat anti tuberculosis
(OAT) yaitu isoniazid (INH), rifampisin (RIF), pyrazinamide (PZA), dan ethambutol
(EMB).6 OAT ini sendiri memiliki beberapa efek samping diantaranya yaitu hepatotoksik,
intoleransi saluran pencernaan, rash (2%), demam (1,2%), jaundice (0,6%), optic neuritis dan
neuritis perifer (0,2%) (Anggoro, 2015).
1. Isoniazid (INH)
Isoniazid menimbulkan efek samping yang cukup rendah kecuali karena alergi, efek-efek tak
diinginkan tersebut berkaitan dengan dosis dan lama pemakaian obat. Berikut adalah efek
samping yang ditimbulkan isoniazid yaitu:
o Neuritis perifer
Efek samping yang paling sering timbul karena efisiensi piridoksin yang relative. Ini
disebabkan karena suatu kompetisi INH dengan piridoksal fosfat untuk enzim
apotriptofanase. Sebagian besar reaksi toksik diperbaiki dengan penambahan piridoksin.
(catatan : INH dapat mencapai konsentrasi dalam air susu ibu yang cukup tinggi untuk
menyebabkan suatu defisiensi piridoksin pada bayi kecuali si ibu diberikan vitamin tersebut).
o Hepatitis dan Hepatotoksisitas Idiosinkrasi
Hepatitis yang kemungkinan fatal adalah efek samping INH yang paling berat. Telah
disarankan bahwa ini disebabkan oleh suatu metabolit toksik monoasetilhidrazin ynag
terbentuk selam metabolism INH. Kejadian meningkat pada penderita-penderita dengan
bertambahnya usia, juga pada penderita-penderita yang mendapatkan rifampisin atau diantara
mereka yang minum alkohol setiap hari.
2. Rifamisin
11
Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan
simptomatis ialah:
Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang
Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah kadang-kadang diare
Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah kadang-kadang diare
Efek samping yang berat sering terjadi ialah :
Hepatitis imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus distop dulu dan
penatalaksanaan sesuai pedoman Tb paru pada keadaan khusus
Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah satu dari gejala
ini terjadi, rifampisin harus segera dihentikan dan jangan diberikan lagi walaupun
gejalanya telah menghilang
Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas Rifampisin dapat menyebabkan
warna merah pada air seni, keringat, air mata dan air liur. Warna merah tersebut terjadi
karena proses metabolisme obat dan tidak berbahaya. Hal ini harus diberitahukan kepada
pasien agar mereka mengerti dan tidak perlu khawatir.
3. Pirinizamid
Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai pedoman Tb
paru pada keadaan khusus). Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan kadang-kadang
dapat menyebabkan serangan arthritis Gout, hal ini kemungkinan disebabkan berkurangnya
ekskresi dan penimbunan asam urat. Kadang-kadang terjadi reaksi demam, mual, kemerahan
dan reaksi kulit yang lain.
4. Etambutol
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya
ketajaman, buta warna untuk warna merah dan hijau. Meskipun demikian keracunan okuler
tersebut tergantung pada dosis yang dipakai, jarang sekali terjadi bila dosisnya 15-25 mg/kg
BB perhari atau 30 mg/kg BB yang diberikan 3 kali seminggu. Gangguan penglihatan akan
kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat dihentikan. Sebaiknya etambutol tidak
diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit untuk dideteksi.
5. Streptomisin
Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan
keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring
dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur pasien. Risiko tersebut akan meningkat
pada pasien dengan gangguan fungsi ekskresi ginjal. Gejala efek samping yang terlihat ialah
12
telinga mendenging (tinitus), pusing dan kehilangan keseimbangan. Keadaan ini dapat
dipulihkan bila obat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi 0,[Link] pengobatan
diteruskan maka kerusakan alat keseimbangan makin parah dan menetap (kehilangan
keseimbangan dan tuli). Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi berupa demam yang timbul
tiba-tiba disertai sakit kepala, muntah dan eritema pada kulit. Efek samping sementara dan
ringan (jarang terjadi) seperti kesemutan sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat
terjadi segera setelah suntikan. Bila reaksi ini mengganggu maka dosis dapat dikurangi 0,25gr
Streptomisin dapat menembus sawar plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada perempuan
hamil sebab dapat merusak syaraf pendengaran janin.
13
Selain resistensi yang disebabkan oleh mutasi target, beberapa mekanisme khas
resistensi bawaan [Link] juga telah dijelaskan (Singh et al., 2020). Ini termasuk:
aksesibilitas obat ke target karena rendahnya permeabilitas selubung sel [Link], modifikasi
obat oleh enzim [Link], adanya pompa penghabisan [Link] yang mengeluarkan obat yang
mampu melintasi sel [Link] amplop, modulasi [Link] dari ekspresi gennya untuk beradaptasi
dengan efek obat (atau keberadaannya), dan toleransi obat fenotipik terkait dengan keadaan
laju pertumbuhan yang lambat dan penghentian metabolisme. Dalam hal ini, selama infeksi
[Link], subpopulasi bakteri tertentu, yang dikenal sebagai persistensi, dapat menjadi toleran
secara fenotip terhadap obat antimikobakteri tanpa memperoleh mutasi genetik (Kester dan
Fortune, 2014). Fenomena reversibel ini biasanya disebabkan oleh tekanan eksternal seperti
hipoksia atau terapi obat, antara lain faktor (Vilcheze dan Jacobs, 2019), dan dikaitkan
dengan status basil yang tidak bereplikasi. Beberapa faktor [Link] dan sifat metabolik terkait
dengan persistensi [Link] (Lee et al., 2019), meskipun bukti menunjukkan bahwa persistensi
terdiri dari serangkaian keadaan dan mekanisme fisiologis yang heterogen (Hartman et al.,
2017). Mekanisme persistensi [Link] masih dijelaskan; namun, status metabolisme bakteri
yang berbeda selama tahap awal infeksi mungkin menjelaskan mengapa beberapa
subpopulasi [Link] dapat menjadi kebal obat secara fenotip.
TB dengan resistensi ganda dimana basil [Link] resisten terhadap rifampisin dan
isoniazid, dengan atau tanpa OAT lainnya (WHO,1997). TB resistensi ganda dapat berupa
resistensi primer dan resistensi sekunder. Resistensi primer adalah resistensi yang terjadi pada
pasien yang tidak pernah mendapat OAT sebelumnya. Resistensi primer ini dijumpai
khususnya pada pasien-pasien dengan positif HIV. Sedangkan resistensi sekunder yaitu
resistensi yang didapat selama terapi pada orang yang sebelumnya sensitif obat. Terdapat
empat jenis kategori resistensi terhadap OAT yaitu:
Mono-resistance : resisten terhadap salah satu OAT
Poly-resistance : resisten terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid
dan rifampisin
Multidrug-resistance (MDR) resisten terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan
rifampisin
Extensive drug-resistance (XDR) : TB-MDR ditambah dengan resisten salah satu obat
golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua
(kapreomisin, kanamisin, dan amikasin).
14
Basil mengalami mutasi resisten terhadap satu jenis bat dan mendapatkan terapi
OAT tertentu yang tidak kuat. Terapi yang tidak kuat dapat disebabkan oleh konsumsi hanya
satu jenis obat saja atau konsumsi obat kombinasi tetapi hanya satu saja yang sensitif
terhadap basil tersebut. Selanjutnya resistensi sekunder terjadi mutasi baru dalam
pertumbuhan populasi basil menyebabkan resistensi obat yang banyak bila terapi yang tidak
kuat terus berlanjut. Transmisi difasilitasi oleh adanya infeksi HIV, dimana perkembangan
penyakit lebih cepat, adanya prosedur kontrol infeksi yang tidak adekuat,dan terlambatnya
penegakan diagnostik.
Ada beberapa hal penyebab terjadinya resistensi terhadap OAT yaitu sebagai
berikut:
1. Penggunaan paduan OAT yang tidak adekuat yaitu karena jenis obatnya yang kurang
atau karena lingkungan tersebut telah terdapat resitensi yang tinggi terhadap OAT yang
digunakan misal rifampisin atau INH.
2. Fenomena "addition syndrome" yaitu suatu obat ditambahkan dalam suatu paduan
pengobatan yang tidak berhasil. Bila kegagalan itu terjadi karena kuman TB telah
resisten pada paduan yang pertama,maka "penambahan:" (addition) satu macam obat
hanya akan menambah panjangnya daftar obat yang resisten saja.
3. Masa infeksius yang terlalu panjang akibat keterlambatan diagnosis akan menyebabkan
penyebaran galur resistensi obat. Penyebaran ini tidak hanya pada pasien di rumah sakit,
tetapi juga pada petugas rumah sakit, asrama, penjara dan keluarga pasien.
4. Penyediaan obat yang tidak regular, kadang-kadang terhenti pengirimannya sampai
berbulan-bulan.
5. Pasien dengan OAT yang resisten terhadap bakteri tuberkulosis yang mendapat
pengobatan jangka pendek dengan monoterapi akan menyebabkan bertambah banyak
OAT yang resisten. Hal ini menyebabkan seleksi mutasi resisten karena penambahan
obat yang tidak multipel dan tidak efektif.
6. Pengobatan TB jangka waktunya lama lebih dari 6 bulan sehingga membosankan pasien,
ditambah dengan efek samping dari OAT.
7. Edukasi yang kurang baik, sehingga pasien tidak mengetahui cara menggunakan OAT,
sehingga pasien meminum rifampisin setelah makan. Hal ini menyebabkan penyerapan
obat tidak maksimal
8. HIV akan mempercepat terjadinya terinfeksi TB menjadi sakit TB dan akan
memperpanjang periode infeksious.
15
2.1.5 Tanaman Obat Anti TB
[Link] Piper nigrum
Tumbuhan marga Piper merupakan salah satu marga tumbuhan yang sering
digunakan sebagai rempah, obat tradisional dan tanaman hias yang memiliki ciri-ciri
morfologi tumbuhan yaitu, tanaman perdu batang basah dengan tumbuh memanjat, memiliki
daun tunggal. Bunga terdiri dari bulir-bulir dengan buah batu (Tjitrosoepomo, 2004).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, Kandungan air yang lebih
banyak memungkinkan kapang khamir untuk melakukan aktivitas yang menghasilkan reaksi
enzimatis dan mempengaruhi reaksi hidrolisis. Semakin rendah enzim yang dihasilkan, maka
kadar piperin semakin tinggi. Piper nigrum bersifat higroskopis sehingga menarik air dari
udara dan memperbesar kemungkinan untuk piperin terhidolisis. Semakin tinggi kadar air
dalam Piper sp., maka kadar piperin akan semakin kecil karena piperin mudah terhidrolisis
(Hamka, 2023).
Piper nigrum (MIC 50 μg/mL) sebagai anti-TB karena terdapat kandungan piperin
yang tinggi. Piperin menginduksi proliferasi dari sel T dan B, meningkatkan sitokin Th-1
(IFN-γ dan IL-2), dan meningkatkan aktivasi makrofag (Sharma, et al., 2014). Efikasi piperin
sebagai anti- TB juga sudah dilakukan pada pasien TB yang secara radiologi didiagnosis
menderita TB paru (Chawla, 2010).
Aktivitas antibakteri piperin terhadap [Link] galur H37Rv lemah tetapi memberikan
aktivitas yang signifikan [Link] MDR, pada konsetrasi 100μg/ml ekstrak acetone, telah
dilakukan oleh Liu et al., (2019). Didukung oleh Sabina et al., (2013) mendapatkan bahwa
Piper nigrum memiliki aktivitas terhadap [Link] pada kondisi aerobik, mikroaerifilik dan
anaerobik yang menunjukkan adanya berbagai komponen yang bekerja pada tingkat yang
berbeda pada [Link]. Untuk penelitian selanjutnya ekstrak buah lada hitam yang mengandung
piperin sangat baik untuk direkomendasikan sebagai terapi tambahan atau supportif dalam
pengobatan Tuberkulosis (Hegeto et al., 2018).
Penelitian (Hegeto et al., 2018) piperin yang dikombinasi dengan rifampicin dan
streptomycin memberikan efek yang sinergis dalam terapi [Link] H37RV. Pada hasil
penelitian, bahwa pemberian ekstrak Piper nigrum pada kombinasi OAT dapat meningkatkan
efek terhadap bakteri [Link] resisten INH, senyawa Piperin mampu menghambat pertumbuhan
[Link] resisten INH dalam konsentrasi 15 ppm. Senyawa Piperin memiliki potensi sebagai obat
antituberculosis, dilihat dari aktivitasnya terhadap bakteri [Link] resisten INH.
16
Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman buah berupa herba dari family
Caricaceae. Pepaya merupakan tanaman asli Amerika tropis yang berasal dari persilangan
alami Carica peltata Hook. & Arn. dan sekarang tersebar luas di seluruh daerah tropik dan
subtropik di seluruh dunia (Villegas, 1991). Indonesia yang merupakan salah satu daerah
tropika, hampir di seluruh daerahnya terdapat tanaman pepaya. Buah pepaya banyak disukai
oleh masyarakat karena memiliki rasa yang manis dan mengandung banyak nutrisi dan
vitamin.
C. papaya merupakan tanaman yang mengandung zat-zat bakteriosidal yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri. Daun pepaya memiliki sifat-sifat bakteriosidal hal
tersebut diakibatkan kandungan antioksidan dalam daun pepaya tersebut. Beberapa penelitian
mendapatkan bahwa daun pepaya memiliki efek bakterosid terhadap strain bakteri
stafilokokus dan streptokokus. Walaupun basil TB memiliki sifat morfologi yang berbeda.
Sifat toksik antioksidan dari daun papaya dapat membunuh basil TB (Bruton et al., 2010).
Aktivitas anti-TB juga ditunjukan oleh Carica papaya (MIC 100 μg/mL), senyawa
aktif yang berfungsi sebagai anti- TB adalah flavonoid, tanin, dan steroid. Efek tanin yang
diberikan sebagai antibakteri adalah merusak membran sel bakteri dan dapat menginduksi
pembentukan kompleks tanin dengan ion logam sehingga dapat menambah daya toksisitas
tanin. Selain itu, tanin mampu mengkerutkan dinding dan membran sel yang dapat
mengganggu permeabilitas sel sehiingga pertumbuhannya dapat terhambat dan mati
(Anggoro, 2015).
Secara tradisional tumbuhan obat yang digunakan untuk pengobatan TBC antara lain
asap dari daun Artemisia afra yang dibakar, seluruh tanaman daun Carica papaya yang
dihirup 3 –4 kali setiap hari. Perawatan terapi semacam itu diberikan selama sekitar dua
minggu hingga satu bulan, bergantung pada reaksi pasien terhadap formulasi dan toleransi
terhadap obat dan pemberian (Silvia et al., 2023).
Tumbuhan pepaya dapat dimanfaatkan sebagai bat tradisional pada bagian daun dan
akarnya. Hal ini disebabkan daun pepaya mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu
flavonoid, tanin, saponin, steroid. Flavonoid merupakan senyawa pereduksi yang baik,
menghambat banyak reaksi oksidasi, baik secara enzim maupun non enzim. Flavonoid
merupakan golongan terbesar senvawa fenol. Mekanisme kerja flavonoid berfungsi sebagai
antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein extraseluler yang
mengganggu keutuhan membran sel bakteri. Mekanisme kerianya dengan cara mendenaturasi
protein sel bakteri dan merusak membran sel tapa dapat diperbaiki lagi (Nale et al., 2012).
17
Sesbania grandiflora (L.) Pers. adalah pohon kecil, tegak, cepat tumbuh, dan
bercabang jarang milik keluarga Leguminosae. Tumbuhan ini asli Asia tropis dan tersebar
luas di Malaysia, india, Filipina, dan India. Nama melayu tumbuhan ini adalah turi dan geti.
Seluruh bagian S. grandiflora telah digunakan secara empiris sebagai obat tradisional dalam
pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit seperti radang selaput lendir
hidung, disentri, demam, sakit kepala, cacar, sakit tenggorokan, dan stomatitis (Hasan et al.,
2012).
Studi fitofarmakologi sebelumnya pada daun, bunga, dan bagian atas tanaman ini
telah mengisolasi sterol, saponin, dan tanin. Konstituen kimia ini terkenal dengan potensi
manfaat kesehatannya dan telah dilaporkan memiliki aktivitas biologis yang berharga seperti
antibakteri dan antijamur, antioksidan, antiurolithiatik, antikonvulsan dan ansiolitik, dan sifat
hepatoprotektif (Goun et al., 2007). Dalam studi penelitian ini, ditemukan bahwa
suplementasi daun S. grandiflora juga dapat memberikan efek hipolipidemik yang signifikan
terhadap hiperlipidemia yang diinduksi Triton pada tikus (Saravanakumar et al., 2007).
Meskipun S. grandiflora dipelajari secara ekstensif oleh peneliti lain untuk potensi
fitofarmakologisnya, terutama daun, bunga, dan bagian atas tanaman, tidak ada studi
fitokimia dan farmakologis yang dilakukan pada akar S. grandiflora (Hasan et al., 2012).
Hasan et al., (2012), melaporkan di sini penyelidikan fitokimia dari ekstrak metanol
dan aseton dari akar S. grandiflora, yang mengarah pada isolasi dan identifikasi tiga
isoflavanoid: isovestitol (1), medicarpin (2), dan sativan (3), bersama dengan betulinic yang
diketahui. asam (4). Semua senyawa hasil isolasi dievaluasi aktivitas penghambatannya
terhadap pertumbuhan M. tuberculosis H37Rv. Ini adalah laporan pertama dari empat
senyawa yang diisolasi dari akar S. grandiflora dan sifat antituberkulosisnya.
Menurut Hasan et al., (2010), menjelaskan bahwa tiga isoflavanoids, isovestitol (1),
medicarpin (2), dan sativan (3), bersama dengan senyawa lain yang diketahui, asam betulinic
(4), diisolasi dari akar Sesbania grandiflora. Struktur senyawa hasil isolasi dicirikan dengan
cara teknik spektroskopi (UV, IR, MS, 1H- dan 13C-NMR, DEPT, COSY, HMQC, HMBC,
dan analisis MS). Semua senyawa yang diuji 1–4 menunjukkan aktivitas antituberkulosis
terhadap Mycobacterium tuberculosis H37Rv, dengan nilai MIC 50 μg/mL untuk senyawa 1–
3, dan 100 μg/mL untuk senyawa 4, sedangkan ekstrak metanol menunjukkan aktivitas
antituberkulosis 625 μg/ ml. Ini adalah laporan pertama terjadinya isoflavonoid pada tanaman
ini dan aktivitas antituberkulosisnya.
18
Mengkudu (Morinda citrifolia) adalah tanaman asli Asia Tenggara. Pohon tersebut
bisa tumbuh setinggi 6 m dengan warna cerah hijau, daun berbentuk oval dengan ukuran 10
sampai 30 cm. Buahnya berbentuk bulat telur dan bila sudah matang bau asam mentimun
yang tidak enak. Benihnya memiliki kantung udara di salah satu ujungnya yang
memungkinkannya untuk mengambang. Sebagian menjelaskan distribusi luas tumbuhan
mengkudu di Kepulauan Indo-Pasifik (Torres et al, 2017).
Pemanfaatan tanaman sebagai bahan pengobatan telah digunakan ribuan tahun yang
lalu, namun penggunaannya belum dapat didokumentasikan dengan baik salah satu tumbuhan
obat yang sering dikonsumsi oleh masyarakat ialah mengkudu (Morinda citrifolia L).
Mengkudu merupakan tanaman yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat
tradisional untuk berbagai macam penyakit. Beberapa penelitian melaporkan tentang khasiat
mengkudu antara lain sebagai efek kemoterafi, antidepresan, antioksidan, antimikroba,
immunomodulator. Aktivitas tersebut diperkirakan salah satunya karena adanya aktivitas
antioksidan dalam mengkudu dengan kandungan flavonoid dan senyawa fenolik (Rao dan
Subramanian, 2009).
Buah mengkudu adalah tanaman yang memiliki rasa pahit dan bau yang tidak sedap,
sehingga penggunaannya merasa tidak nyaman. Salah satu membuat penggunaan tidak
merasakan rasapahit karena penggunaannya secara transdermal bukan melalui oral sehingga
akan meningkatkan nilai produk masyarakat dan digunakan untuk mengurangi efek toksin,
dan meningkatkan kelarutan dan penetrasi senyawa yang dibawanya dan mengandung
triterpene dan tanin. Tanin sendiri merupakan kandungan yang bersipat racun ( Pasaribu,
2016 ).
Menurut Gaby (2019), berdasarkan hasil skrining beberapa tanaman obat diperoleh
hasil bahwa ekstrak etanol daun mengkudu (M. citrifolia) telah terbukti dapat menghambat
pertumbuhan Mtb galur sensitif (H37Rv) dan resisten (HE) dengan metode MODS
(Microscopically Observed Drug Susceptibility). Hasil identifikasi dengan metode skrining
fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mengkudu (M. citrifolia) mengandung
senyawa flavonoid, kuinon, steroid, tannin, dan saponin setelah ditambahakn beberapa
pereaksi sesuai dengan jenis senyawa yang akan diuji. Senyawa aktif inilah yang
menyebabkan ekstrak etanol daun mengkudu (M. citrifolia) bersifat antibakteri terhadap
Mycobacterium tuberculosis galur sensitif (H37Rv) dan galur resisten (HE).
Berdasarkan hasil penelitian uji aktivitas menunjukan bahwa ekstrak etanol 50%
daun mengkudu dapat menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis dengan KHM
4,0×10-6 μg/ml. Sedangkan scopoletin dengan konsentrasi yang setara dengan kandungan
19
pada ekstrak tidak menunjukan aktivitas anti-Mycobacterium tuberculosisnya (Mahanani,
2012).
Ekstrak etanol masing-masing tanaman obat diuji aktifitas antituberkulosis secara in
vitro pada kedua galur Mtb. Hasil skrining menunjukkan bahwa dari keempat tanaman obat
yang diuji hanya daun mengkudu (M. citrifolia) yang memiliki aktivitas antituberkulosis.
Kedua galur Mtb yaitu galur sensitif (H37Rv) dan resisten (HE) dapat dihambat
pertumbuhannya oleh ekstrak mengkudu (M. citrifolia) pada konsentrasi tertinggi 2000 ppm
(Gaby, 2019).
Daun mengkudu memiliki kandungan senyawa antibakteri seperti flavonoid, kuinon,
steroid, tannin, dan saponin. Kandungan kimia yang memberikan pengaruh penghambatan
Mtb adalah senyawa flavonoid yang merupakan salah satu golongan fenol yang menyebabkan
kerusakan struktur protein pada bakteri (Aryadi, 2014). Efektifitas ekstrak daun mengkudu
(M. citrifolia) terhadap pertumbuhan Mtb bersifat bakteriostatik yaitu kemampuan antibiotik
menghambat pertumbuhan bakteri dan bersifat sementara. Sedangkan untuk OAT bersifat
bakteriosidal yang dapat membunuh pertumbuhan Mtb, namun dibutuhkan waktu yang rutin
dan lama.
[Link] Mentha piperita (Mint)
Upaya untuk mengurangi sesak nafas dapat menggunakan obat-obatan medis dan
menggunakan obat-obatan non medis. Salah satu cara yang dapat mengurangi sesak nafas
adalah dengan terapi pemberian aroma daun mint dengan metode inhalasi atau evaporasi
sederhana. Bahan terpenting dalam mint adalah mentol. Daun mint mengandung mentol 30-
45%, menthone 17-35%, menthyl acetate 5-13%, limonene 2-5% dan neomenthol 2,5-4%
(Elshabrina, 2015). Daun mint mengandung mentol sehingga sering digunakan sebagai bahan
baku obat flu (Jefry, 2014). Aroma mentol yang terdapat pada daun mint memiliki sifat
antiradang, sehingga nantinya akan membuka saluran pernapasan.
Selain itu, daun mint juga akan membantu mengobati infeksi akibat serangan
bakteri. Karena daun mint memiliki sifat antibakteri. Daun mint akan melonggarkan bronkus
sehingga melancarkan pernapasan. Untuk melegakan pernafasan bisa dengan menghirup daun
mint secara langsung. Sedangkan inhalasi sederhananya adalah menghirup uap hangat dari air
mendidih yang dicampur dengan aromaterapi sebagai penghangat, contohnya daun mint.
Essential oil diffuser adalah alat untuk mengubah essential oil menjadi butiran-butiran kecil
untuk kemudian dibaurkan (spread/diffuse) ke seluruh ruangan (Siti et al., 2019).
Pada pasien TB Paru yang mengalami gejala klinis salah satunya sesak nafas,
biasanya keluarga pasien panik dengan cara apa yang harus dilakukan atau mengurangi gejala
20
sesak nafas selain menggunakan oksigen bila di rumah pasien TB Paru tidak memiliki alat
oksigen maka hal tersebut pasien perlu diajari cara-cara sederhana dengan metode penguapan
atau inhalasi sederhana.
Menurut Siti et al., (2019), pada penderita tuberkulosis paru yang tidak segera
diobati, dampaknya akan diakibatkan oleh luasnya kerusakan parenkim paru dan dapat
menimbulkan beberapa komplikasi. Mengingat beratnya kerusakan parenkim paru dan
komplikasi yang akan terjadi, pasien harus dirawat untuk mengatasi sesak napas. Dengan
pengobatan ini diharapkan dapat mengurangi sesak nafas.
Hasil Uji Wilcoxon menunjukkan aromaterapi daun mint (menthapiperita) terhadap
penurunan sesak nafas pada pasien tuberkulosis paru kelompok perlakuan menunjukkan
bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, artinya ada pengaruh yang signifikan penurunan sesak
nafas pada kelompok eksperimen. antara sebelum dan sesudah intervensi (Siti et al., 2019).
21
Aktivitas anti-TB juga ditunjukan oleh Carica papaya (MIC 100 μg/mL), senyawa
aktif yang berfungsi sebagai anti- TB adalah flavonoid, tanin, dan steroid. Efek tanin yang
diberikan sebagai antibakteri adalah merusak membran sel bakteri dan dapat menginduksi
pembentukan kompleks tanin dengan ion logam sehingga dapat menambah daya toksisitas
tanin. Selain itu, tanin mampu mengkerutkan dinding dan membran sel yang dapat
mengganggu permeabilitas sel sehiingga pertumbuhannya dapat terhambat dan mati
(Anggoro, 2015).
Hasan et al., (2012), melaporkan di sini penyelidikan fitokimia dari ekstrak metanol
dan aseton dari akar S. grandiflora, yang mengarah pada isolasi dan identifikasi tiga
isoflavanoid: isovestitol (1), medicarpin (2), dan sativan (3), bersama dengan betulinic yang
diketahui. asam (4). Semua senyawa hasil isolasi dievaluasi aktivitas penghambatannya
terhadap pertumbuhan M. tuberculosis H37Rv. Ini adalah laporan pertama dari empat
senyawa yang diisolasi dari akar S. grandiflora dan sifat antituberkulosisnya.
Menurut Gaby (2019), berdasarkan hasil skrining beberapa tanaman obat diperoleh
hasil bahwa ekstrak etanol daun mengkudu (M. citrifolia) telah terbukti dapat menghambat
pertumbuhan Mtb galur sensitif (H37Rv) dan resisten (HE) dengan metode MODS
(Microscopically Observed Drug Susceptibility). Hasil identifikasi dengan metode skrining
fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mengkudu (M. citrifolia) mengandung
senyawa flavonoid, kuinon, steroid, tannin, dan saponin setelah ditambahakn beberapa
pereaksi sesuai dengan jenis senyawa yang akan diuji. Senyawa aktif inilah yang
menyebabkan ekstrak etanol daun mengkudu (M. citrifolia) bersifat antibakteri terhadap
Mycobacterium tuberculosis galur sensitif (H37Rv) dan galur resisten (HE).
Daun mint membantu mengobati infeksi akibat serangan bakteri. Karena daun mint
memiliki sifat antibakteri. Daun mint akan melonggarkan bronkus sehingga melancarkan
pernapasan. Untuk melegakan pernafasan bisa dengan menghirup daun mint secara langsung.
Sedangkan inhalasi sederhananya adalah menghirup uap hangat dari air mendidih yang
dicampur dengan aromaterapi sebagai penghangat, contohnya daun mint. Essential oil
diffuser adalah alat untuk mengubah essential oil menjadi butiran-butiran kecil untuk
kemudian dibaurkan (spread/diffuse) ke seluruh ruangan (Siti et al., 2019).
22
1. Mendapatkan ekstraksi Piper Nigrum, Carica papaya, Sesbania Grandiflora, Morinda
citriflora dan Mentha piperita daya hambat efektif sebagai anti-tuberkulosis.
2. Terdapat ekstraksi lebih efektif diantara tanaman obat terpilih yang mampu menghambat
TB Resisten Obat.
3. Memberikan hasil enkapsulasi yang efektif pada tanaman obat terpilih secara in-vivo dan
in-vitro
BAB III
hasil pengurangan diatas dikalikan 103 (ml), modified agar, inkubasi pada 37 oC selama 4
minggu, vortex kembali sampai homogen, diamkan 15 menit. Diperoleh suspensi bakteri 10 8
cfu/ml. Ambil 100 μl suspensi bakteri, ratakan pada permukaan media LJ (Media Lowenstein
Jensen (LJ) dibuat menggunakan larutan garam (salt solution), terdiri atas: 2,4 g KH2PO4,
6,5 g sodium piruvat. Larutan tersebut dilarutkan dalam aquades hingga 600 mL,
dihomogenkan dengan stirer, kemudian diautoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.
Larutan tersebut ditambah 1.000 mL whole egg, dihomogenkan, dan diberi 20 mL malachite
green 2%).
aquades ditambah 1 ml gliserol. Setelah semua terlarut, sterilkan dengan autoklaf pada 121 oC
selama 20 menit. Masukkan 1 vial OADC ketika akan digunakan, campurkan dengan dengan
sempurna.
24
Ekstrak kering ditimbang masing-masing sebanyak 300 mg, tambahkan 3 ml
aquades, vortex sampai larut dan homogen. Ambil larutan ekstrak dengan spuit, saring
dengan filter steril ukuran 0,2 μm, tampung filtrat dalam tabung tutup ulir steril. Beberapa
sampel langsung menggunakan infus yang baru dibuat, tanpa dikeringkan terlebih dahulu.
menggunakan bakteri hasil peremajaan. Untuk membuat suspensi bakteri 10 6 cfu/ml, dengan
menyiapkan media middlebrook 7H9 broth sebanyak 3 tabung, masing-masing berisi 30 ml,
ambil 300 μl buang. Ambil 300 μl suspensi bakteri 10 8 cfu/ml masukkan dalam media, bolak
balik sampai homogen.
(+), kontrol (-), obat standar. Masukkan 1 ml suspensi bakteri 10 6 cfu/ml, inkubasi pada
37oC selama 2 minggu. Semua sampel, kontrol dan obat standar dibuat dengan 3x
pengulangan.
larutan tersebut disterilkan dengan autoklaf pada 121 oC selama 20 menit, kemudian
dinginkan. Telur itik kampung yang masih baru dan kondisinya baik (maksimal 1 minggu
setelah ditelurkan) dicuci bersih dengan sabun dan disikat, selanjutnya rendam dalam alkohol
70% selama 15 menit. Sebanyak 12 butir telur yang dipecahkan satu persatu kemudian
blender dengan kecepatan rendah sampai merata. Saring telur dengan kain kasa steril dan
ukur sebanyak 500 ml. Tuangkan malachite green ke dalam larutan a, kemudian telur juga
dimasukkan, homogenkan dengan stirer magnetik. Media yang sudah homogen dituangkan ke
botol mc Cartney sebanyak ± 8 ml kemudian dimiringkan diatas nampan, selanjutnya
masukkan ke dalam oven blower 85oC selama 45 menit sampai mengeras. Keluarkan media
pada suhu ruangan dan amati selama 2 hari terhadap adanya kontaminasi.
25
Masing-masing sampel pengulangan pada tahap h) dibuat dalam 2 botol media LJ.
Ambil sebanyak 100 μl suspensi pada tahap h), tuangkan pada permukaan media LJ
modified, kemudian ratakan hingga keseluruh permukaan. Selanjutnya inkubasikan miring
pada 37oC selama 48 jam, dilanjutkan pada posisi botol tegak sampai 3 minggu.
26
Edward- Lévy, 2011). Kitosan yang digunakan dengan kadar 0,5 mg/ml dilarutkan dalam
asam asetat pH 5. Natrium trifolifosfat yang digunakan adalah 1 mg/ml. Selanjutnya
dilakukan karakterisasi enkapsulasi berupa ukuran partikel dan efisiensi enkapsulasi,
sedangkan untuk interaksi antara ekstrak dengan kitosan dan TPP dikarakterisasi dengan
FTIR (Fourier transform infrared).
3.2.14 Efisiensi Enkapsulasi
Sebanyak 50 mg kapsul ditimbang dan dilarutkan ke dalam 100 ml bufer fosfat pH
7.2. Campuran tersebut dikocok selama 24 jam lalu disaring. Kemudian filtrat di analisis
kadar tanaman obat di spektrofotometer UV pada λ 262 nm. Absorbans yang diperoleh
digunakan untuk menentukan konsentrasi tanaman obat dengan bantuan kurva standar.
% efisiensi encapsulasi = jumlah obat terencapsulasi x 100%
jumlah obat mula-mula
27
DAFTAR PUSTAKA
Anggoro, Agam. 2015. Potensi Daun Pepaya (Carica papaya Sp.) sebagai Obat Anti Tuberkulosis.
Jurnal Agromed Unila 2(2):86-89.
Aryadi, I.G.A.I.P. 2014. “Pengaruh ekstrak daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap
Pertumbuhan Staphylococcus aureus sebagai penyebab abses periodontal secara in vitro.”
Skripsi. Universitas Mahasaraswati Denpasar. Denpasar.
Chawla, PC. 2010. Resorine A novel CSIR drug curtails TB treatment. CSIR News 60:52-54.
Ding P, Li X, Jia Z, Lu Z. 2017. Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) disease burden in China:
a systematic review and spatio-temporal analysis. BMC Infectious Diseases.17:57.
doi:10.1186/s12879-016-2151-5.
Fatima, S.; Kumari, A.; Dwivedi, V.P. 2021. Advances in adjunct therapy against tuberculosis:
Deciphering the emerging role of phytochemicals. MedComm, 2, 494–513.
Gaby Maulida Nurdin. 2019. Evaluasi Aktivitas Anti Mikroba Tanaman Obat terhadap
Mycobacterium tuberculosis Galur Sensitif dan Resisten. Prosiding Seminar Nasional Biologi
VI. Universitas Negeri Makassar.
Garmana A.N., Sukandar, E.Y., Fidrianny I. 2011. “Uji aktivitas ekstrak beberapa tumbuhan terhadap
Mycobacterium tuberculosis galur sensitif dan resisten.” Acta Pharmaceutica Indonesia 36(3)
2011-2035.
Getachew, S.; Medhin, G.; Asres, A.; Abebe, G.; Ameni, G. 2022. Traditional medicinal plants used
in the treatment of tuberculosis in Ethiopia: A systematic review. Heliyon, 8, e09478.
Goun, E.; Cunningham, G.; Chu, D.; Nguyen, C.; Miles, D. Antibacterial and antifungal activity of
Indonesian ethnomedical plants. Fitoterapia 2003, 76, 592–596.
Hamka, Z. 2022. Potensi Ekstrak Buah Lada Hitam (Piper Nigrum L.) Dan Piperin Dalam
Meningkatkan Aktivitas Antibakteri Obat-Obat Antituberkulosis. Jurnal Kesehatan Yamasi
Makassar, 7(1), 123–134.
Hasan N, Osman H, Mohamad S, Chong WK, Awang K, Zahariluddin AS. 2012. The Chemical
Components of Sesbania grandiflora Root and Their Antituberculosis Activity. Pharmaceuticals
(Basel). 5(8):882-9. doi: 10.3390/ph5080882.
Hegeto, L. A., Caleffi-Ferracioli, K. R., Nakamura-Vasconcelos, S. S., de Almeida, A. L., Baldin, V.
P., Nakamura, C. V., Siqueira, V. L. D., Scodro, R. B. L., & Cardoso, R. F. 2018. In vitro
combinatory activity of piperine and anti-tuberculosis drugs in Mycobacterium tuberculosis.
Tuberculosis, 111, 35–40.
28
Hillemann, D., Rüsch-Gerdes, S., & Richter, E. 2007. Evaluation of the GenoType MTBDR plus
assay for rifampin and isoniazid susceptibility testing of Mycobacterium tuberculosis strains
and clinical specimens. Journal of Clinical Microbiology, 45(8), 2635–2640.
Liu, J., Shi, W., Zhang, S., Hao, X., Maslov, D. A., Shur, K. v, Bekker, O. B., Danilenko, V. N., &
Zhang, Y. 2019. Mutations in efflux pump Rv1258c (Tap) cause resistance to pyrazinamide,
isoniazid, and streptomycin in M. tuberculosis. Frontiers in Microbiology, 10, 216.
Nale LP, More PR, More BK, Ghumare BC, Shendre SB, Mote CS. 2012. Protective effect of Carica
papaya L. seed extract in gentamicin induced hepatotoxicity and nephrotoxicity in rats.
International Journal of Pharma and Bio Sciences. 3(3):508-15.
Pasaribu G, Iskandarsyah, sagita E. 2016 uji aktivitas antipoliferasi formula liposom ekstrak etanol
kunyit (Curcuma domestika) terhadap sel kangker payudara T47D. Pharma Sci Res ISSN 2407-
2354 Vol 3 No.
Rao, U.S.M. and Subramanian, S. 2009. Biochemical Evalution of Antihyperglycemic and
Antioxidative Effects of Morinda citrifolia Fruit Extract Studied in streptozotocin-Induced
Diabetic Rats. Medicinal Chemistry Research, 18 :433- 446.
Rawat, B.; Rawat, J.M.; Purohit, S.; Singh, G.; Sharma, P.K.; Chandra, A.; Shabaaz Begum, J.P.;
Venugopal, D.; Jaremko, M.; Qureshi, K.A. 2022. A comprehensive review of Quercus
semecarpifolia Sm.: An ecologically and commercially important Himalayan tree. Front. Ecol.
Evol, 10.
Sabina, E. P., Nasreen, A., Vedi, M., & Rasool, M. 2013. Analgesic , Antipyretic and Ulcerogenic
Effects of Piperine : An Active Ingredient of Pepper. Journal of Pharmaceutical Sciences and
Research, 5(10), 203–206.
Saravanakumar, A.; Vanitha, S.; Ganesh, M.; Jayaprakash, J.; Ramaswamy, N.M. 2010.
Hypolipidemic activity of Sesbania grandiflora in triton wr-1339 induced hyperlipidemic rats.
Int. J. Phytoremediation 2, 52–58.
Savitri, L.P.V.A., Ariantari, N.P., Dwija, I.B.N.P. 2013. Potensi antituberkulosis ekstrak n-heksana
daun kedondong hutan (Spondias pinnata (L.f) Kurz.).” Jurnal Farmasi Udayana 105-108.
Sharma, S., Kalia, N. P., Suden, P., Chauhan, P. S., Kumar, M., Ram, A. B., Khajuria, A., Bani, S., &
Khan, I. A. 2014. Protective efficacy of piperine against Mycobacterium tuberculosis.
Tuberculosis (Edinburgh, Scotland), 94(4), 389–396.
[Link]
Silvi Gautam, Kamal A. Qureshi, Shabaaz Begum Jameel Pasha, Sugapriya Dhanasekaran,
Ashok Aspatwar, Seppo Parkkila, Samyah Alanazi, Akhtar Atiya, Mohd Masih Uzzaman Khan
and Divya Venugopal. 2023. Medicinal Plants as Therapeutic Alternatives to Combat
Mycobacterium tuberculosis: A Comprehensive Review. Antibiotics Journal, 12, 541.
Singh, V.K.; Mishra, A.; Jagannath, C.; Khan, A. 2022. 21-Emerging natural product based
alternative therapeutics for tuberculosis. In Herbal Medicines; Sarwat, M., Siddique, H., Eds.;
Academic Press: Cambridge, MA, USA ; pp. 453–471.
Siti Marlina, Novrika Silalahi, Septa Dwi Insani, Herri Novita Tarigan, Friska Ernita Sitorus. 2019.
The Effects of Simple Inhalation using Mint (Mentha Piperita) Aromatherapy on Decreased
Shortness of Breath in Lung Tuberculosis Patients. Proceedings of the International Conference
on Health Informatics and Medical Application Technology (ICHIMAT 2019), pages 286-292.
Torres MAO, de Fátima Braga Magalhães I, Mondêgo-Oliveira R, de Sá JC, Rocha AL, Abreu-Silva
AL. 2017. One plant, many uses: a review of the pharmacological applications of Morinda
citrifolia. Phytother Res. 31(7):971.
Tjitrosoepomo, G. 2004. Tumbuhan Taksonomi (Spermatophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
29
Villegas, V. N., 1991. Carica papaya L., p. 108- 112. In E. W. M. Verheij and R. E. Coronel (Eds.).
Plant Resources of South- East Asia No. 2: Edible fruits and nuts. Pudoc. Wageningen, The
Netherlands.
WHO. 2022. Global Tuberculosis Report; WHO: Geneva, Switzerland; p. 68.
30