PAPER
PENGENDALIAN HAMA TERPADU
Hama Penyakit dan Gulma Pada Tanaman Sagu
Dosen Pengampu :Ir. Sulhaswardi, Mp
DISUSUN OLEH:
NAMA : ARIEF MUNANDAR
NPM : 214110199
PRODI : AGROTEKNOLOGI 5E
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2023
1
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, serta kesehatan sehingga penulis
dapatmenyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul : “ Hama Penyakit dan
Gulma Pada Tanaman Sagu”
Ucapan terima kasih kepada bapak Ir. Sulhaswardi MP selaku dosen
pengampu mata kuliah pengendalian hama terpadu yang banyak memberikan
arahan dan bimbingan sehingga selesai dalam penulisan makalah ini. Tidak lupa
pula penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang telah memberikan
motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat
kekurangan. Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi
perkembangan ilmu pertanian khususnya bidang agroteknologi.
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................2
DAFTAR ISI.............................................................................................................................3
I. PENDAHULUAN..................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang................................................................................................................4
II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................................6
III. PEMBAHASAN..................................................................................................................8
3.1 Hama Utama Tanaman Sagu dan Cara Pengendaliannya.................................................8
3.2 Penyakit Utama Tanaman Sagu dan Cara Pengendaliannya..........................................10
3.3 Gulma Utama Tanaman Sagu dan Cara Pengendaliannya.............................................10
VI. PENUTUP.........................................................................................................................12
4.1 KESIMPULAN..............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................13
3
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian masih tetap menjadi tulang punggung perekonomian,khususnya bagi
negara-negara berkembang. Produksi pertanian dan pengolahannya merupakan suatu kegiatan
yangterkait dengan perdagangan yang dapat dilakukan oleh suatu negara yang
berpendapatanrendah untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinannya. Tantangan yang
selalu dihadapioleh petani atau pelaku usaha di bidang pertanian yaitu kehadiran OPT
(OrganismePenganggu Tumbuhan) yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada
tanaman sehinggamempengaruhi produktivitas [Link] mengenai serangan patogen
terhadap tumbuhan dapat dilakukan dengantindakan penanganan atau pengendalian terhadap
patogen tumbuhan.
Cara pengendalian yang dilakukan dapat ditempuh melalui beberapa cara, salah
satunya adalah dengan kebijakan perlindungan tanaman melalui perundang-undangan atau
peraturan-peraturan. Bentuk nyatanya yaitu adanya suatu organisasi yang dinamakan dengan
Badan Karantina Tumbuhan
Sagu (Cycas revoluta) adalah tanaman tropis yang populer dan tumbuh subur di
Indonesia. Di wilayah Indonesia bagian Timur, tepatnya di daerah Papua dan Maluku,
tanaman ini banyak dibudidayakan.
Pasalnya, sagu memiliki potensi yang cukup besar untuk ketahanan
pangan dan energi nasional di masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan sagu merupakan
sumber karbohidrat yang sering dimanfaatkan masyarakat sebagai pengganti nasi.
Meski sagu mudah tumbuh tetapi tanaman ini juga sering dihadapi oleh beberapa kendala
seperti terserang hama. Hal ini tentu saja membuat petani menjadi kalang kabut, sebab
tanaman sagu yang dibudidayakan mengalami penurunan hasil panen.
4
1.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui tentang hama dan enyakit pada tanaman padi serta
pengendaliannya secara terpadu.
5
II. TINJAUAN PUSTAKA
Konsep PHT muncul sebagai tindakan koreksi terhadap kesalahan dalam pengendalian
hama yang dihasilkan melalui pertemuan panel ahli FAO di Roma tahun 1965. Di Indonesia,
konsep PHT mulai dimasukkan dalam GBHN III, dan diperkuat dengan Keputusan Presiden
No. 3 tahun 1986 dan undang undang No. 12/1992 tentang sistem budidaya tanaman, dan
dijabarkan dalam paket Supra Insus, PHT menjadi jurus yang dianjurkan. (Arifin dan Iqbal,
1993; Baco, 1993; Soegiarto,et, al.1993 dalam Ida Nyoman Oka. 2005).
Adapun tujuan PHT adalah meningkatkan pendapatan petani, memantapkan
produktifitas pertanian, mempertahankan populasi hama tetap pada taraf yang tidak
merugikan tanaman, dan mempertahankan stabilitas ekosistem pertanian. Di Indonesia, PHT
sudah didukung oleh beberapa kebijakan pemerintah seperti UU no. 12 tahun1992 tentang
budidaya tanaman, Inpres no.3/1986 mengenai larangan penggunaan 57 jenis pestisida,
kebijakan pengurangan subsidi pestisida yang dilakukan secara bertahap sampai penghapusan
keseluruhan subsidi pada tahun 1989, dan PP no. 6 tahun 1995 tentang perlindungan
tanaman. Selanjutnya, tahun 1996 keluar keputusan bersama antara Menteri Kesehatan dan
Menteri Pertanian tentang Batas Maksimum Residu serta UU no.7 tahun 1996 tentang
pangan. PHT adalah suatu sistem pengendalian hama dalam konteks hubungan antara
dinamika populasi dan lingkungan suatu jenis hama, menggunakan berbagai teknik yang
kompatibel untuk menjaga agar populasi hama tetap berada di bawah ambang kerusakan
ekonomi.
Dalam konsep PHT, pengendalian hama berorientasi kepada stabilitas ekosistem dan
efisiensi ekonomi serta sosial. Dengan demikian, pengendalian hama dan penyakit harus
memperhatikan keadaan populasi hama atau patogen dalam keadaan dinamik fluktuasi
disekitar kedudukan kesimbangan umum dan semua biaya pengendalian harus mendatangkan
keuntungan ekonomi yang maksimal Arifin dan Agus, 1993) dalam Untung (2001).
Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan jika populasi hama atau intensitas
kerusakan akibat penyakit telah memperlihatkan akan terjadi kerugian dalam usaha pertanian.
Penggunaan pestisida merupakan komponen pengendalian yang dilakukan, jika; (a) populasi
hama telah meninggalkan populasi musuh alami, sehingga tidak mampu dalam waktu singkat
menekan populasi hama, (b) komponen-komponen pengendalian lainnya tidak dapat
berfungsi secara baik, dan (c) keadaan populasi hama telah berada di atas Ambang Ekonomi
(AE), yaitu batas populasi hama telah menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada
6
biaya pengendalian (Soejitno dan Edi, 1993). Karena itu secara berkelanjutan tindakan
pemantauan atau monitoring populasi hama dan penyakit perlu dilaksanakan.
PHT merupakan sistem pengendalian dengan mengombinasikan berbagai cara
pengendalian yang dapat diterapkan menjadi satu kesatuan program yang serasi agar populasi
hama tetap selalu ada dalam keadaan yang tidak menimbulkan kerugian ekonomi dan aman
bagi lingkungan. PHT adalah sebuah pendekatan baru untuk melindungi tanaman dalam
konteks sebuah sistem produksi tanaman (Sucipto 1992). Selanjutnya, Untung (2001)
menyatakan, bahwa PHT memiliki beberapa prinsip yang khas, yaitu:
(a) sasaran PHT bukan eradikasi atau pemusnahan hama tetapi pembatasan atau
pengendalian populasi hama sehingga tidak merugikan,
(b) PHT merupakan pendekatan holistik maka penerapannya harus mengikutsertakan
berbagai disiplin ilmu dan sector pembangunan sehingga diperoleh rekomendasi yang
optimal,
(c) PHT selalu mempertimbangkan dinamika ekosistem dan variasi keadaan sosial
masyarakat maka rekomendasi PHT untuk pengendalian hama tertentu juga akan sangat
bervariasi dan lentur,
(d) PHT lebih mendahulukan proses pengendalian yang berjalan secara alami (non-
pestisida), yaitu teknik bercocok tanam dan pemanfaatan musuh alami seperti parasit,
predator, dan patogen hama. Penggunaan pestisida harus dilakukan secara bijaksana dan
hanya dilakukan apabila pengendalian lainnya masih tidak mampu menurunkan populasi
hama, dan,
(e) program pemantauan atau pengamatan biologis dan lingkugan sangat mutlak dalam
PHT karena melalui pemantauan petani dapat mengetahui keadaan agro-ekosistem sawah
pada suatu saat dan tempat tertentu, menganalisis untuk memilih tindakan pengelolaan
tanaman yang benar.
7
III. PEMBAHASAN
CARA PENGENDALIAN HAMA, PENYAKIT DAN GULMA UTAMA
DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PHT
3.1 Hama Utama Tanaman Sagu dan Cara Pengendaliannya
Berikut beberapa Hama utama pada sagu:
1. Kumbang Sagu
Kumbang sagu yang memiliki nama latin Rhynochophorus sp adalah hama yang juga
kerap menyerang tanaman sagu. Hama ini biasanya menyerang melalui serangan sekunder,
setelah kumbang oryctes biasanya meletakkan telur di luka bekas oryctes. Jika hama ini
menyerang pada titik tumbuh tanaman sagu maka bisa membuat kematian pada pohon.
Pengendalian ini juga bisa dilakukan dengan 2 cara. Pertama secara biologis yaitu
dengan cara memanfaatkan musuh alami dari kumbang tersebut. Kedua secara mekanis yang
dilakukan dengan menebang dan membakar pohonsagu yang diserang oleh hama jenis ini.
2. Ulat Daun Artona
Ulat jenis artona (Artona catoxantha, Hamps. Atau Brachartona catoxantha) juga
menjadi salah satu hama yang dapat merusak tanaman sagu. Ulat ini menyerang jaringan
bagian dalam daun dari tanaman sagu.
8
Namun selain menyerang daun, hama ini juga menyerang daging buah. Cara
pengendalian pada jenis hama ini, dapat dilakukan dengan cara biologis dan juga dengan cara
mekanis.
3. Babi hutan
Hama tidak hanya berupa serangga atau ulat, binatang lain seperti babi hutan juga bisa
merusak tanaman sagu. Pohon yang diserang yaitu yang memiliki tingkat semai dan sapihan
(umur 1-3 tahun).
Biasanya babi memakan umbut (pucuk batang yang masih muda). Pengendalian hama
binatang ini bisa dilakukan dengan cara memburu dan membunuhnya agar populasi
terkendali, sehingga mengurangi kerusakan pohon sagu.
4. Kera
Kera atau Macaca irus adalah binatang yang juga berpotensi sebagai hama perusak
tanaman sagu. Kera ini biasanya akan merusak bagian sagu muda dan selalu merusak lebih
banyak daripada yang dibutuhkan.
Sama seperti babi hutan, pengendaliannya bisa dilakukan dengan memburu dan juga
membunuhnya.
9
3.2 Penyakit Utama Tanaman Sagu dan Cara Pengendaliannya
1. Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum)
Gejala dan Penyebaran:
Gejala awal termasuk layu pada daun dan batang, serta pembusukan jaringan
vaskular. Penyakit ini menyebar melalui air tanah dan benih yang
terkontaminasi.
Pencegahan dan Pengendalian:
Pilih bibit yang tahan terhadap penyakit ini.
Praktik sanitasi yang ketat, termasuk membersihkan peralatan dan alat
pertanian.
Implementasikan rotasi tanaman untuk mengurangi risiko penyebaran
penyakit.
2. Busuk Umbi (Phytophthora palmivora)
Faktor Pemicu dan Penularan:
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora yang menyebar
melalui air dan tanah yang terkontaminasi.
Tindakan Pencegahan dan Pengobatan:
Pilih lokasi tanam yang baik dengan drainase yang optimal.
Gunakan fungisida yang sesuai pada tanaman yang terinfeksi.
Pastikan tidak ada genangan air di sekitar tanaman untuk mencegah penularan.
3.3 Gulma Utama Tanaman Sagu dan Cara Pengendaliannya
1. Alang-Alang (Imperata cylindrica)
10
Dampak Gulma Alang-Alang pada Tanaman Sagu:
Alang-alang dapat bersaing dengan tanaman sagu untuk mendapatkan air, nutrisi, dan
cahaya matahari, menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Metode Pengendalian yang Berkelanjutan:
Pembersihan Lahan secara Teratur:
Lakukan pembersihan lahan secara rutin untuk menghilangkan alang-alang
dan mencegah pertumbuhannya.
Pemotongan Mekanis:
Gunakan metode pemotongan mekanis untuk mengurangi populasi alang-
alang secara fisik.
Penggunaan Mulsa:
Terapkan lapisan mulsa organik atau anorganik di sekitar tanaman sagu untuk
menekan pertumbuhan gulma.
11
VI. PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Di Indonesia, konsep PHT mulai dimasukkan dalam GBHN III, dan diperkuat dengan
Keputusan Presiden No. 3 tahun 1986 dan undang undang No. 12/1992 tentang sistem
budidaya tanaman, dan dijabarkan dalam paket Supra Insus, PHT menjadi jurus yang
dianjurkan.
Adapun tujuan PHT adalah meningkatkan pendapatan petani, memantapkan
produktifitas pertanian, mempertahankan populasi hama tetap pada taraf yang tidak
merugikan tanaman, dan mempertahankan stabilitas ekosistem pertanian. 12 tahun1992
tentang budidaya tanaman, Inpres no.3/1986 mengenai larangan penggunaan 57 jenis
pestisida, kebijakan pengurangan subsidi pestisida yang dilakukan secara bertahap sampai
penghapusan keseluruhan subsidi pada tahun 1989, dan PP no. PHT adalah suatu sistem
pengendalian hama dalam konteks hubungan antara dinamika populasi dan lingkungan suatu
jenis hama, menggunakan berbagai teknik yang kompatibel untuk menjaga agar populasi
hama tetap berada di bawah ambang kerusakan ekonomi. Penggunaan pestisida merupakan
komponen pengendalian yang dilakukan, jika; (a) populasi hama telah meninggalkan
populasi musuh alami, sehingga tidak mampu dalam waktu singkat menekan populasi hama,
(b) komponen-komponen pengendalian lainnya tidak dapat berfungsi secara baik, dan (c)
keadaan populasi hama telah berada di atas Ambang Ekonomi (AE), yaitu batas populasi
hama telah menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada biaya pengendalian (Soejitno
dan Edi, 1993).
12
DAFTAR PUSTAKA
Baehaki S.E., P. Sasmita, D. Kertoseputro, dan A. Rifki. 1996. Pengendalian
hama berdasar ambang ekonomi dengan memperhitungkan musuh alami serta
analisis usaha tani dalam PHT. Temu Teknologi dan Persiapan Pemasyarakatan
Pengendalian Hama Terpadu. Lembang. 81 hlm.
Untung, K. 2000. Pelembagaan konsep pengendalian hama terpadu Indonesia.
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 6(1): 1-8.
Hariyanto, B. (2011). Manfaat tanaman sagu (Metroxylon SP) dalam
penyediaan pangan dan pengendalian kualitas lingkungan. Teknologi
Lingkungan, 12, 143-152.
Kurniawan, A., Darma, & Istalaksana, P. (2012). Pengembangan agroindustri
pengolahansagu di provinsi Papua untuk mendukung ketahanan dan
disversifikasi [Link] Insinas, (pp. 214-216). Papua.
Listriyarini, T. (2016, 1 5). Selain di Papua, Pohon Sagu Juga Ada di Daerah
Ini. Retrieved from [Link]
[Link] [Diakses 3 Februari
2018]
13