Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.
01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
DIABETIC ULCUSES TREATMENTS USING WOUND CARE METHOD IN
ALHUDA WOUND CARE LHOKSEUMAWE
Lasmina Lumban Gaol¹, Liza Phonna²
12
Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe
Email : lasminagaol@[Link], [Link]@[Link]
ABSTRACT
Diabetic ulcers is a complication that often occurs in uncontrolled DM (diabetes
mellitus) patients. These ulcers can exist due to lack of control. To find out an
overview of Wound washing method and Changes in Diabetic Ulcer Wounds. The
research design used by researchers is a descriptive design. Results: after the
study of Mr. S and Mrs. S differs in the healing period due to Mr. S is bigger and
wider, Then has a lot of Necrotic 15%, Slough 55%, Epitalation 10%, Granulation
20% and its at stadium 4 so it takes quite a long time compared to Mrs. S, who
has a wound that is not too big and extensive. And then Mrs. S only has 5%
necrotic and its in stage 1. The conclusion is based on the results that washing
wounds in patients using 0.9% NACL because it contains Sodium which functions
to help balance of body and soap of wound washing, which is very important for
cleaning wounds and eliminating bacteria in wounds. Suggestions based on the
results after the treatment of Mrs. S and Mr. S is now getting better and the
results of observations on the treatment of Mrs. S and Mr. S that has been made
to get good results because of the regularity and patience of patients to be
treated and treated for wounds by professional nurses, especially in wound care
and washing wounds using aqua water and wound washing soap.
Keywords: Diabetes Mellitus, Diabetic Ulcers, Wound Washing Method
65
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
TINDAKAN PERAWATAN LUKA ULKUS DIABETIK DENGAN
MENGGUNAKAN METODE PENCUCI LUKA DI ALHUDA WOUND CARE
KOTA LHOKSEUMAWE
Lasmina Lumban Gaol¹, Liza Phonna²
12
Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe
Email : lasminagaol@[Link], [Link]@[Link]
ABSTRAK
Ulkus diabetikum adalah komplikasi yang sering terjadi pada Pasien DM
(diabetes mellitus) yang tidak terkontrol. Ulkus tersebut dapat terbentuk karena
kurang nya kontrol. Perawatan luka modern adalah tekhnik perawatan luka
dengan menciptakan kondisi lembab pada luka sehingga dapat membantu proses
epitelasi dan penyembuhan luka menggunakan balutan semi occlusive, full
occlusive dan impermeable dressing berdasarkan pertimbangan biaya,
kenyamanan dan [Link] penelitian ini untuk Mengetahui gambaran
tentang metode pencucian Luka dan Perubahan Luka Ulkus diabetik. Metode
penelitian ini adalah Deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sampel
penelitian berjumlah 2 orang pasien ulkus diabetikumHasil: setelah dilakukan
penelitian pasien Tn. S Dan Ny. S berbeda masa penyembuhannya dikarenakan
luka Tn. S lebih besar dan luas Kemudian memiliki banyak Nekrotik 15%, Slough
55 %, Epitalasi 10%, Granulasi 20% dan berada di stage4 sehingga
membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan Ny. S yang
memiliki luka tidak terlalu besar dan luas kemudian pasien Ny. S hanya memiliki
nekrotik 5% dan berada di stage 1. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian
pencucian luka pada pasien menggunakan larutan NACL 0,9 % dikarenakan
mengandung Natrium yang berfungsi untuk membantu keseimbangan tubuh dan
sabun cuci luka yang sangat penting untuk membersihkan luka dan
menghilangkan bakteri pada luka. Saran Diharapkan pasien dapat melakukan
perawatan luka dan pencucian luka menggunakan air agua dan sabun pencuci
luka dengan benar untuk membantu pertumbuhan jaringan granulasi pada luka.
Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Ulkus Diabetik, Metode Pencucian Luka
66
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
1. PENDAHULUAN
Seiring dengan berkembangnya zaman terjadi pergeseran dari
penyakit menular ke penyakit tidak menular, semakin banyak muncul
penyakit degeneratif salah satunya adalah Diabetes Melitus (DM). Diabetes
merupakan penyakit menahun atau penyakit kronis dikarenakan sekresi
insulin endrogen yang tidak efektif. Diabetes diklasifikasikan menjadi
diabetes tipe I Insulin Dependen Diabetes Melitus (IDDM) dan tipe II
disebut Non-Dependen Insulin Diabetes Melitus.
Ulkus diabetikum adalah komplikasi yang sering terjadi pada Pasien
DM (diabetes mellitus) yang tidak terkontrol. Ulkus tersebut dapat
terbentuk karena kurang nya kontrol . ulkus tersebut dapat terbentuk
karena kurangnya kontrol glikemik, neuropati, penyakit pembuluh darah
tepi, atau perawatan luka pada kaki yang tidak maksima. Ulkus tersebut
biasanya muncul diarea kaki yang sering atau berulang mengalami trauma
dan tekanan, penyebab dari ulkus diabetikum yaitu multifactorial, Namun
untuk penyebab umum yang mendasari yaitu kurangna mengontrol kadar
glikemik, perawatan luka yang tidak tepat, alas kaki yang tidak pas,
neoropati perifer dan sirkulasi buruk, kulit kering, dan lain lain, Penderita
diabetes sekitar 60% mengalami neuropati yang akhirnya menyebabkan
ulkus kaki. Individu yang memiliki kaki tipe rata lebih berisiko untik
timbulnya ulkus karena mereka mengalami stress yang tidak proporsional
di seluruh kaki kidan menyebabakan peradangan jaringan di ara berisiko
tinggi
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 prevalensi diabetes
mellitus di Indonesia sebesar 8,5%, estimasijumlah penderita diabetes
mellitus mencapai 16 juta jiwa. Presentasi terbesar penderita diabetes
mellitus di provinsi Jakarta 3,4% dan presentasi terendah di Provinsi Nusa
Tengara Timur 0,9%, sedangkan dengan komplikasi penderita ulkus
diabetikum di Indonesi sekitar 15%, angka amputasi 30%, angka
mortalitas 32%.
Menurut Dinkes Aceh penderita DM di Aceh tahun 2019 sebanyak
138,291 penderita, sedangkan yang mendapat pelayanan sesuai standar
sebanyak 95,005 atau sebesar 69%. Penderita Diabetes Mellitus di Aceh
pada tahun 2018 sebanyak 5,9 juta orang dan berdasarkan pola
pertambahan penduduk diperkirakan pada 2030 akan ada 9,3 juta
penyandang Diabetes Mellitus dengan tingkat prevalensi 15,2 % untuk
daerah urban, dan 8,1% daerah rural. Menurut diagnosis atau dengan
gejala sebesar 2,6% penyakit Diabetes Mellitus ini lebih banyak diderita
oleh perempuan berdasarkan diagnosis (1.4%) berdasarkan diagnosis atau
dengan gejala (2,0%) sedangkan laki-laki berdasarkan diagnosis (1.7%)
berdasarkan diagnosis atau dengan gejala (2,3%) (Riskesdas Aceh, 2018).
67
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lhokseumawe pada tahun
2022 dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember terdapat 11,471
penderita DM. Diabetes Mellitus tipe I sebanyak 4221 penderita, Diabetes
Mellitus tipe 2 sebanyak 7175 penderita, dan Diabetes Mellitus Gestasional
sebanyak 75 penderita (Dinkes Lhokseumawe, 2023).
Sekitar 15% dari pasien diabetes melitus mengalami komplikasi
berupa luka pada kaki selama hidup mereka. Apabila penanganan luka ini
dilakukan secara terlambat maka akan memperburuk keadaan dan akan
mengakibatkan jaringan di sekitar luka menjadi mati, dan harus dilakukan
amputasi Bahkan sekitar 50% -70% dari kasus amputasi kaki bagian
bawah disebabkan oleh diabetes. Hal tersebut akan menjadi beban medis,
sosial, dan ekonomi yang signifikan terhadap pasien dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, kebutuhan akan alternatif terapeutik perawatan luka
pasien diabetes melitus sangat dibutuhkan.
Perawatan luka terbagi menjadi 2 yaitu perawatan luka
konvensional dan perawatan luka modern. Perawatan luka konvensional
adalah tindakan yang dilakukan untuk menjaga, memelihara dan
mengembalikan keadaan integritas normal kulit dengan cara kuno yang
masih sering digunakan karena sifatnya yang mudah didapat dan tanpa
pengawet seperti obat obatan kimia saat ini. Contoh luka dan teknik
perawatan secara konvensional misalnya luka gigitan ular menggunakan
bahan rimpang jahe dengan teknik rimpang jahe merah ditumbuk dan di
tambahkan sedikit garam letakkan pada bagian tubuh yang terluka.
Sedangkan Perawatan luka modern adalah tekhnik perawatan luka dengan
menciptakan kondisi lembab pada luka sehingga dapat membantu proses
epitelasi dan penyembuhan luka menggunakan balutan semi occlusive, full
occlusive dan impermeable dressing berdasarkan pertimbangan biaya,
kenyamanan dan keamanan. Contoh perawatan membersihkan luka
modern dengan cara menggunakan cairan fisiologi seperti normal saline
(NaCl 0.9%). Dari pernyataan tersebut bahwa perawatan pencucian luka
pada diabetes tipe II terdiri dari macam metode pencucian luka yaitu
rendam Air rebus daun sirih dan penggunaan sabun antiseptic serta
larutan NaCl 0,9% dengan infusa daun sirih merah 40% yang dapat
mengatasi penyembuhan luka secara lokalisasi dan efisien. Cairan Nacl
0,9% merupakan cairan fisiologis yang efektif untuk perawatan luka
dengan cara menjaga kelembaban, menjaga granulasi tetap kering,
namun NaCl 0,9% merupakan elektrolit yang kandungan garamnya cukup
tinggi, bila dibandingkan larutan gula (D40% atau madu) akan lebih
mempercepat kesembuhan luka.
2. METODE
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian ini adalah
deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian kasus
ini adalah dua orang pasien Ulkus Diabetik dengan kriteria pasien dengan
68
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
diagnosa diabetes dengan adanya ulkus diabetiuku, Pasien yang dirawat di
klinik Alhuda Wound Care dan bersedia menjadi subjek penelitian
Instrumen yang digunakan adalah berupa Instrumen Pengumpulan
Data Klinis. Penggunaan instrumen ini memungkinkan peneliti untuk
mengumpulkan data demografis, riwayat kesehatan, dan karakteristik
klinis penderita ulkus diabetik yang menjadi subjek penelitian. Instrumen
ini berupa kuesioner atau lembar observasi. Selain itu penelitian ini juga
menggunakan Instrumen Penilaian Efektivitas: Instrumen ini membantu
mengukur efektivitas larutan NACL dalam pencucian luka.
3. HASIL
Kasus 1
a. Mencuci Luka
Pencucian luka Tn. S diawali dengan membuka balutan luar dalam
dengan perlahan - lahan. Basahi luka menggunakan air aqua secara
menyeluruh dari daerah kulit sekitar luka dan digosok/swabbing secara
lembut menggunakan kasa yang telahdibasahi dan diberi sabun. Teknik
ini harus dilakukan dengan hati- hati karena menggosok yang terlalu
keras dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pada luka sehingga
luka kembali ke fase awal yaitu fase inflamasi. Setalah itu bersihkan
kembali luka menggunakan air aqua. Keringkan luka dan sekitar luka
menggunakan kasa.
b. Debribement
Teknik debridement yang dilakukan ada luka Tn S
1) CSWD (Conserative Sharp Wourd Debridement). Teknik ini
menggunakan gunting jaringan untuk mengangkat jaringan mati.
2) Mechanicall Debridement (Gause). Teknik ini menggunakan kasa
dan inset anatomi untuk mangangkat jaringan mati.
3) Autolysis Debridement. Teknik ini menggunakan tubuh sebagai alat
untuk menciptakan suasana lembab dengan bantuan topical dresing.
c. Dressing Primer
1) Epitel Salf.
Salf ini dioleskan pada area luka dan sekitarnya, berfungsi untuk
mempercepat proses penyembuhan luka. Salf ini mengandung anti
inflamasi dan anti-microbial.
2) Iodosorb Powder.
Iodosorb Powder ini merupakan serbuk yang berwarna kuning
kunyit, berfungsi untuk menghilangkan bau dan bakteri pada luka.
d. Secondary Dressing
1) Foam Dressing digunakan utuk menutup luka yang telah dilapisi
dengan epitel salf. Berfungsi untuk menyerap eksudat pada luka.
69
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
Foa. Dressing ini merupakan tumpukan bahan balutan yang tebal, di
dalamnya
terdapat kapas dengan daya serapcukup tinggi, dan jika bercampur
dengan cairan luka, dapat berubah menjadi gel.
2) Kasa Steril Digunakan untuk menutupi luka yang dilapisi foam
dressing. Kasa steril ini berfungsi untuk menampung cairan luka
yang sedikit.
3) Kasa Gulung Digunakan untuk menutupi kasa steril, berfungsi untuk
membantu balutan dalam agar tidak terlepas.
e. Tersier Dressing
Crepe Bandage, digunakan sebagai balutan luar berfungsi untuk
menutupi balutan dalam.
Kasus 2
a. Mencuci Luka
Pencucian luka Ny. S diawali dengan membuka balutan luar dalam
dengan perlahan- lahan. Basahi luka menggunakan air aqua secara
menyeluruh dari daerah kulit sekitar luka dan digosok/swabbing secara
lembut menggunakan kasa yang telah dibasahi dan diberi sabun. Teknik
ini harus dilakukan dengan hatihati karena menggosok yan terlalu keras
dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pada luka sehingga luka
kembali ke fase awal yaitu fase inflamasi. Setalah itu bersihkan kembali
luka menggunakan air aqua. Keringkan luka dan sekitar luka
menggunakan kasa dengan cara tap- tap.
b. Debribement
Teknik debridement yang dilakukan ada luka Tn. S
1) CSWD (Conserative Sharp Wourd Debridement). Teknik ini
menggunakan gunting jaringan untuk mengangkat jaringan mati.
2) Mechanicall Debridement (Gause). Teknik ini menggunakan kasa dan
inset anatomi untuk mangangkat jaringan mati.
3) Autolysis Debridement. Teknik ini menggunakan tubuh sebagai alat
untuk menciptakan suasana lembab dengan bantuan topical dresing.
c. Dressing Primer
1) Epitel Salf.
Salf ini dioleskan pada area luka dan sekitarnya, berfungsi untuk
mempercepat proses penyembuhan luka. Salf ini mengandung anti
inflamasi dan anti-microbial.
2) Iodosorb Powder.
Iodosorb Powder ini merupakan serbuk yang berwarna kuning kunyit,
berfungsi untuk menghilangkan bau dan bakteri pada luka.
70
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
d. Secondary Dressing
1) Foam Dressing digunakan utuk menutup luka yang telah dilapisi
dengan epitel salf. Berfungsi untuk menyerap eksudat pada luka. Foa.
Dressing ini merupakan tumpukan bahan balutan yang tebal, di
dalamnya terdapat kapas dengan daya serapcukup tinggi, dan jika
bercampur dengan cairan luka, dapat berubah menjadi gel.
2) Kasa Steril Digunakan untuk menutupi luka yang dilapisi foam
dressing. Kasa steril ini berfungsi untuk menampung cairan luka
yang sedikit.
3) Kasa Gulung Digunakan untuk menutupi kasa steril, berfungsi untuk
membantu balutan dalam agar tidak terlepas.
e. Tersier Dressing
Crepe Bandage, digunakan sebagai balutan luar berfungsi untuk
menutupi balutan dalam
4. PEMBAHASAN
Setelah dilakukan penelitian kurang lebih seminggu dengan 3 kali
kunjungan bahwa dalam penelitian ini pasien Tn. S Dan Ny. S berbeda
dengan proses penyembuhannya dikarenakan luka Tn.S lebih besar dan
luas. Kemudian memiliki banyak Nekrotik 15%, Slough 55 %, Epitalasi
10%, Granulasi 20% dan berada di stage 4 sehingga membutuhkan waktu
yang cukup lama dibandingkan dengan Tn.S yang memiliki luka yang tidak
terlalu besar dan luas kemudian pasien Tn.S hanya memiliki nekrotik 5%
dan berada di stage 1 berbeda dengan pasien Ny.S yang memerlukan
waktu yg lebih lama proses penyembuhan luka dibandingkan dengan Tn.S
yang proses penyembuhan lukanya lebih cepat Pencucian luka Ny.S dan
Tn. S yang digunakan adalah air aqua dan sabun cuci luka (Wound Clear),
air aqua sangat baik untuk pencucian luka karena air aqua mengandung
Natrium yang berfungsi untuk membantu keseimbangan tubuh, adapun
kalsium megnesium berfungsi untuk menjaga kesehatan pembuluh darah
dan kontraksi otot.
Pencucian luka Tn. S dan Ny. S yang digunakan adalah larutan NACL
0,9% dan sabun cuci luka (Wound Clear), air aqua sangat baik untuk
pencucian luka karena air aqua mengandung Natrium yang berfungsi
untuk membantu keseimbangan tubuh, adapun kalsium megnesium
berfungsi untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan kontraksi otot.
Pencucian luka menggunakan sabun cuci luka itu sangat penting
untuk membersihkan luka dan menghilangkan bakteri pada luka (Abbas,
Hussain, Ali, & Abbas, 2016). Sabun cuci luka merupakan antiseptic yang
mengandung antibakteri pada umunya adalah Triclosan dan
Parachlorometxilenol (PCMX) atau Chloroxylenol yang berfungsi untuk
mengurangi atau menghancurkan mikroorganisme penyebab infeksi (Obi,
71
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
2014). Pencucian luka dengan menggunakan sabun antibakteri untuk
pembersihan dinilai efektif, aman dan murah. Pencucian luka berguna
untuk menyiapkan dasar luka, mengurangi bakteri dan mencegah biofilm.
Biofilm merupakan sebuah arsitektur koloni mikroorganisme yang
dilingkupi oleh matriks substansi polimerik ekstraseluler yang mereka
hasilkan. Secara epidemiologi biofilm telah terbukti dapat menyebabkan
infeksi, oleh karena itu dibutuhkan beberapa strategi intervensi untuk
menghilangkan biofilm. Menurut Ariani et al (2015) menunjukkan bahwa
chlorhexidine (CHG) efektif dalam menghilangkan biofilm. Sabun
chlorhexidine (CHG) merupakan cairan antiseptic yang mempunyai
komponen aktif cetimide 0,5% dan chlorexidine gluconate 0,1%.
Chlorexidine adalah antiseptic yang sangat baik.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pada kondisi luka sesudah perawatan
dengan menggunakan air aqua pada pasien ulkus diabetikum didapat hasil
ke efektivan vaskularisasi yang baik dan mengalami granulasi. Pencucian
luka yang telah dilakukan sebanyak 3 kali mendapatkan hasil perubahan
yang baik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih
mendalam tentang efektivitas dan manfaat penggunaan larutan aqua pada
perawatan luka dalam mempercepat penyembuhan ulkus diabetikum,
sehingga dapat memberikan panduan yang lebih baik dalam pengelolaan
ulkus diabetikum dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kesehatan Aceh. (2018). Profil kesehatan provinsi aceh.
Huda, N. (2017) BUKU AJAR Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus dan
Penggunaan SFE dalam Perawatan Luka Kaki Diabetes. sidoarjo: Indomedika
Pustaka.
Kartika, R. W. (2017). Pengelolaan gangren kaki Diabetik. Continuing Medical
Education, 44(1), 18–22.
[Link] en Luka Yang Benar Harapan
Penyembuhan Luka. [Link] [Link]://[Link]/news/
detail/186.
Setiyani, O. S. (2020). Aplikasi Brisk Walking Guna Mengontrol Kadar Glukosa
Darah Pada Penderita Luka Diabetes Mellitus Tipe 2. 4– 11.
Tholib, A. M. (2016) BUKU PINTAR Perawatan Luka DIABETES MELITUS. Jakarta
Selatan: Salemba Medika.
Hariani, Mustari, N., Ardi, M. & J, A. H. (2018). Efektifitas Rendam Air Rebus
DaunSirih Dan Moist Wound Healing Terhadap Penyembuhan Luka Pada
Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Efektifitas Rendam Air Rebus Daun Sirih Dan
Moist Wound Healing Terhadap Penyembuhan Luka Pada Pasien Diabetes
Mellitus, 16, 81–86.
72
Jurnal Kesehatan Akimal, Vol.2 No.01Edisi Juli,Tahun 2023,ISSN: 2615-0573
Megawati. (2019). Gambaran Kejadian Angiopati Pada Lansia Dengan Diabetes
Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Jongaya Makassar.
Mukhtar,M., Patellongi, I. & Yusuf, S. (2020). Perbandingan Efek Antara
Irrigation Dan Swabbing Terhadap Kolonisasi Bakteri Pada Luka Kaki
Diabetik : Crossover Menurut Data Riset Kesehatan. Jurnak Kesehatan Karya
Husada, 1(8), 13–24.
Rahmaniar. (2018). Gambaran Perawatan Luka Diabetik Dengan Modern
Dressing Di Rumah Perawatan Luka ETN Centre Makassar Ramdayani, I.
(2021). Gambaran Pengetahuan Perawat Tentang Pencucian Luka Di Rumah
Sakit Umum Daerah Labuha Maluku Utara.
Kementerian Kesehatan. [Link] en Luka Yang Benar Harapan
penyembuhan Luka. Maksimal. [Link]://[Link]/news/
detail/186.
Setiyani, O. S. (2020). Aplikasi Brisk Walking Guna Mengontrol Kadar Glukosa D
arah Pada Penderita Luka Diabetes Mellitus Tipe 2. 4– 11.
73