II.
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Jasa Pendidikan
Jasa memiliki definisi yang luas dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya yang kita
ketahui jasa adalah sesuatu yang kita butuhkan tidak terlihat namun dapat
dirasakan manfaatnya. Jasa juga dapat diartikan sebagai dari pelayanan yang
diberikan oleh manusia, yang dapat dilihat maupun yang tidak bisa dilihat dengan
fasilitas-fasilitas pendukung yang harus tersedia dalam penjualan jasa benda-
benda lain.
Menurut Kotler (2000:428) “Jasa ialah setiap tindakan atau unjuk kerja yang
ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip tidak berwujud
dan menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksinya bisa dan bisa
juga tidak terikat pada suatu produk.”
Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Hurriyati (2005:28) ”Jasa pada dasarnya
adalah seluruh aktivitas ekonomi dengan output selain produk dalam pengertian
fisik, dikonsumsi dan diproduksi pada saat bersamaan, memberikan nilai tambah
dan secara prinsip tidak berwujud (intangible) bagi pembeli pertamanya.
([Link]
Menurut Valarie A. Azeithaml dan Mary Jo Bitner dalam Bukhari Alma (2007 :
243) : Broad definition is one that defined services included all economic actifities
whose output is not a physical product or construction, is generally consumed at
the time it is produced, and provides added value in form (such as convenience,
amusement, timeless, comfort, or health) that are essentially intangible concerns
of its first purchaser.”
Jasa adalah suatu kegiatan ekonomi yang outputnya bukan produk di konsumsi
bersamaan dengan waktu produksi dan memberikan nilai tambah (seperti
kenikmatan, hiburan, santai, sehat) bersifat tidak berwujud.
Kotler dalam Ety Rochaety dkk (2006 : 15) : “a service is any or performance
that one party can offer to another that is essentially intangible and does not
result in the ownership of anything. Its production may or may not be tied to
physican product.” Jasa merupakan sesuatu yang tidak berwujud yang melibatkan
hubungan antara penyaji jasa dengan konsumen pemakai dan tidak ada
perpindahan kepemilikan (transfer for ownership) antara keduanya. Dalam
menghasilkan jasa tersebut digunakan produk fisik untuk mendukung aktifitasnya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat diasumsikan bahwa jasa merupakan
setiap kegiatan atau tindakan namun bukan benda, yang diberikan atau ditawarkan
kepada orang lain, yang tidak berwujud (intangible), dan konsumen juga terlibat
aktif dalam prose produksi dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu.
Jasa pendidikan merupakan jasa yang bersifat kompleks karena bersifat padat
karya dan padat modal. Artinya dibutuhkan banyak tenaga kerja yang memiliki
skill khusus dalam bidang pendidikan dan padat modal karena membutuhkan
insfrastruktur (peralatan) yang lengkap dan cukup mahal. (Ety Rochaety
(2006:102)
Jadi, jasa pendidikan adalah sesuatu yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak
lain yang sifatnya tidak berwujud dan bersifat kompleks karena bersifat padat
modal dan padat karya yang dalam aktivitasnya berupa proses belajar mengajar
melibatkan tenaga pengajar dan mahasiswa yang mempunyai tujuan untuk
membuat perubahan sikap, perilaku dan pengembangan potensi mahasiswa.
(Woro Eka D. (2008 : 16)
2. Karakteristik Jasa Pendidikan
Pada dasarnya jasa adalah sesuatu yang diberikan satu pihak kepada pihak lain
yang tidak berwujud dan tidak memiliki dampak perpindahan hak milik. Hal ini
sangat erat kaitannya denagn karakteristik jasa yang perlu dipertimbangkan dalam
merancang program pemasarannya. Jasa pendidikan secara umum memiliki
karakteristik sebagai berikut : Produk jasa memiliki karakteristik yang berbeda
dengan produk barang (fisik) menurut Giffin dalam Rambat Lupiyoadi (2006 : 6)
menyatakan bahwa ada tiga karakteristik jasa sebagai berikut :
a. Intangible (tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar
atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini adalah nilai tak
berwujud yang dialami konsumen dalam bentuk kenikmatan, kepuasan, dan
kenyamanan.
b. Unstorability (tidak dapat disimpan). Jasa tidak mengenal persediaan atau
penyimpanan dari produk yang dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga
Inseparatibility (tidak dapat dipisahkan), mengingat pada umumnya jasa
dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
c. Customization (kustomisasi). Jasa sering kali didesain khusus untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan.
Kotler dan Keith Cox (1984:302), mengemukakan 3 karakteristik jasa, yaitu :
1. Lebih bersifat tidak berwujud daripada berwujud.
2. Produksi dan konsumsi bersamaan waktu.
3. Kurang memiliki standar dan keseragaman.
([Link]
pelayanan/)
Menurut Griffin dalam Rambat Lupioadi dan A Hamdani (2006 : 6), Produk jasa
bagaimanapun juga tidak ada yang benar-benar sama satu sama lain. Oleh karena
itu, untuk memahami sector jasa, ada beberapa cara pengklafisikasian produk
tersebut. Pertama, didasarkan pada tingkat kontak konsumen dengan pemberi jasa
seba gai bagian dari system saat jasa tersebut dihasilkan. Kedua, jasa juga
diklasifikasikan berdasarkan kesamaannya dengan operasi manufakur.
Berdasarkan tingkat kontak konsumen, jasa dapat dibedakan kedalan kelompok
sistem kontak tinggi (high-contact system) dan sistem kontak rendah (low-contact
system). Pada kelompok system tinggi, konsumen harus menjadi bagian dari
system untuk menerima jasa. Contohnya adalah jasa pendidikan, rumah sakit dan
[Link] kelompok kontak rendah konsumen tidak perlu menjadi
bagian dari system untuk menerima jasa. Contohnya adalah jasa reparasi mobil
dan jasa perbankan. Konsumen tidak harus dalam kontak pada saat mobilnya yang
rusak diperbaiki oleh teknisi bengkel. Berdasarkan kesamaan dengan operasi
manufaktur, jasa dapat dibedakan menjadi tiga [Link] jasa murni, jasa
semifaktur, dan jasa campuran. Jasa murni (pure service) merupakan jasa yang
tergolong kontak tinggi, tanpa persediaan atau dengan kata lain sangat berbeda
dengan manufaktur. Contohnya adalah jasa tukang cukur atau ahli bedah yang
memberikan perlakuan khusus (unik) dan memberikan jasanya pada saat
konsumen ditempat. Sebaliknya jasa semimanufakur (quasimanufacturing
service) merupakan jasa yang tergolong kontak rendah, memiliki dengan
kesamaan dengan manufaktur dan konsumen tidak harus menjadi bagian dari
proses produksi jasa. Contohnya jasa pengantaran. Perbankan, asuransi, dan
kantor pos. Sedangkan jasa campuran (mixing service) merupakan kelompok jasa
yang tergolong kontak menengah (moderate contact) gabungan beberapa sifat jasa
murni dan jasa semimanufakturing. Contohnya jasa bengkel, dry cleaning,
ambulance, pemadam kebakaran, dan lain-lain. Menurut Kotler dalam Ety
Rochaety dkk (2006:102-104)
Jasa mempunyai empat karakteristik yang sangat mempengaruhi suatu desain atau
rancangan untuk menetapkan program pemasarannya. Empat karakteristik jasa itu
diuraikan sebagai berikut :
1. Ketidaknyataan (Intangibility)
Jasa adalah tidak nyata, sehingga pengguna jasa pendidikan tidak dapat
melihat, mendengar, dan merasakan hasilnya sebelum mereka
mengonsumsinya.
2. Tidak terpisahkan (Inseparibility)
Jasa pendidikan tidak dapat terpisahkan dari sumbernya, yaitu lembaga
pendidikan yang menyediakan jasa tersebut. Artinya, jasa pendidikan
dihasilkan dikonsumsi secara serempak (simultan) pada waktu yang sama.
3. Bervariasi (Variability)
Jasa pendidikan yang diberikan seringkali berubah-ubah. Hal ini akan sangat
tergantung kepada siapa yang akan menyajikannya, kapan, serta dimana
disajikan jasa pendidikan tersebut. Oleh karena itu jasa pendidikan sulit untuk
mencapai kualitas yang sesuai dengan standar.
4. Mudah musnah (Perishability)
Jasa pendidikan tidak dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu atau jasa
pendidikan tersebut mudah musnah sehingga tidak dapat dijual pada waktu
mendatang.
Menurut Edward W. Wheatliey terdapat sejumlah perbedaan antara jasa dan
barang, yaitu :
1. Pembelian jasa sangat dipengaruhi oleh motif yang didorong oleh emosi.
2. Jasa itu bersifat tidak berwujud, berbeda dengan barang yang bersifat
berwujud, dapat dilihat, dicium, memiliki berat, ukuran dan sebagainya.
3. Barang bersifat tahan lama, tetapi jasa tidak, jasa dapat dibeli dan dikonsumsi.
4. Barang dapat disimpan sedang jasa tidak.
5. Usaha jasa sangat mementingkan unsur manusia.
6. Distribusinya bersifat langsung dari produsen ke konsumen.
([Link]
Ditambahkan Kotler dan Fox dalam Ety Rochaety (2006:104) mengemukakan
bahwa karkteristik lembaga pendidikan adalah sebagai berikut :
a. Lembaga pendidikan adalah termasuk jasa murni (pure service) dimana
pemberian jasa yang dilakukan didukung alat kerja atau sarana pendukung
semata, seperti kelas, kursi, meja dan buku-buku.
b. Jasa yang diberikan lembaga pendidikan membutuhkan kehadiran pengguna
jasa. Jadi dalam hal ini pelanggan yang mendatangi lembaga pedidikan untuk
mendapatkan jasa yang diinginkan.
c. Penerima jasa pendidikan adalah orang (people). Jadi merupakan hubungan
dengan pengguna jasa adalah high contact system, yaitu hubungan pemberi jasa
terus berinteraksi selama proses memberikan jasa berlangsung. Untuk
menerima jasa pedidikan pelanggan harusmenjadi bagian dari system lembaga
pendidikan tersebut.
d. Hubungan antara lembaga pendidikan dengan pelanggan berdasarkan member
relationship, yaitu pelanggan telah menjadi anggota lembaga pendidikan
tersebut. Sistem pemberian jasanya secara terus menerus dan teratur sesuai
dengan kurikulum yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengertian di atas karakteristik utama yang membedakan jasa dengan
produk adalah sifat jasa yang tidak dapat dilihat (tidak nyata) dan konsumen
secara aktif dalam proses penyampaian jasa. Jasa pendidikan adalah salah satu
kelompok sistem kontak tinggi dimana konsumen harus menjadi bagian dari
system untuk menerima jasa. Lembaga pendidikan adalah termasuk jasa murni
dimana pemberi jasa yang dilakukan oleh guru didukung oleh sarana pendukung
semata, seperti kelas, kursi, meja dan buku-buku. Jasa yang diberikan lembaga
pendidikan membutuhkan kehadiran pengguna jasa.
3. Kualitas jasa Pendidikan
Kualitas merupakan jaminan terbaik kita atas kesetiaan pelaanggan, pertahanan
terkuat kita dalam menghadapi persaingan asing, dan satu-satunya jalan menuju
pertumbuhan dan pendapatan yang langgeng. (John F Welch dalam Philip Kotler :
48). Sedangkan Philip kotler sendiri mengemukakan bahwa kualitas adalah
keseluruhan ciri dari suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada
kemampuanya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. (Yesi
Budiarti (2007:12)).
Berdasarkan definisi di atas, bahwa kepuasan konsumen sebenarnya berpusat pada
konsumen. Sebuah perusahaan atau lembaga pendidikan telah membuat
konsumen merasa puas jika lembaga pendidikan telah memberikan kualitas
pelayanan dengan baik yaitu sesuai dengan harapan konsumen. Harapan
konsumen merupakan hasil dari perkataan orang lain, pengalaman, atau bahkan
iklan lembaga pendidikan.
Joseph M. Juran dalam Tjiptono dan Anastasia Diana (2001:53) mendefinisikan
kualitas sebagai suatu produk atau jasa yang harus dapat memenuhi apa yang
diharapkan oleh para konsumennya.
Definisi ini mempunyai dua aspek utama yang mempunyai kaitan erat mengenai
suatu kualitas :
1. Ciri-ciri produk yang mmemenuhi permintaan pelanggan
Kualitas yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan meningkatkan kepuasan
konsumen, membuat produk laku jual, dapt bersaing dengan pesaing,
meningkatkan pasngsa pasar, serta dapt dijual dengaan harga yang tinggi.
2. Bebas dari kekurangn
Kualitas yang tinggi menyebabkan perusahaan dapt mengurangi tingkat
kesalahan, mengurangi pekerjaan kembali dan pemborosan, mengurangi
garansi, serta mengurangi ketidakpuasan konsumen.
Konsumen yang bijak yang teliti tentunya tidak mengevaluasi kualitas jasa hanya
pada hasilnya saja, tetapi juga mempertimbangkan penyampaiannya. Sehingga,
dimensi kualitas jasa harus diramu dengan baik bila tidak hal tersebut akan
menimbulkan kesenjangan antara lembaga pendidikan dan konsumen karena
perbedaan persepsi mereka tentang wujud pelayanan. Menurut Parasuraman,
Zeithaml dan Berry lima kesenjangan (gab) yang menyebabkan adanya perbedaan
persepsi mengenai kualitas jasa adalah :
a. Kesenjangan 1 : Kesenjangan antara harapan pelanggan dan persepsi
manajemen lembaga pendidikan. Kesenjangan terbentuk akibat pihak
manajemen lembaga pendidikan salah memahami apa yang menjadi harapan
pelanggan lembaga pendidikan.
b. Kesenjangan 2 : kesenjangan antara persepsi pihak manajemen lembaga atas
harapan pelanggan dan spesifikasi kualitas pelayanan. Kesenjangan tersebut
terjadi aibat kesalahan dan menerjemahkan persepsi pihak manajemen lembaga
pendidikan yang tepat atas harapan para pelanggan dalam bentuk tolak ukur
kualitas layanan.
c. Kesenjangan 3 : Kesenjangan antara spesifikasi kualitas layanan dan pemberi
layanan kepada pelanggan. Kesenjangan tersebut akibat oleh ketidakmampuan
sumber daya manusia lembaga pendidikan untuk memenuhi standar mutu
layanan yang telah ditetapkan.
d. Kesenjangan 4 : Kesenjangan antara pemberi layanan kepada pelanggan dan
komunikasi eksternal lembaga pendidikan. Kesenjangan ini tercipta karena
lembaga pendidikan tidak mampu memenuhi janjinya yang dikonsumsikan
secara eksternal melalui berbagai berbentuk promosi.
e. Kesenjangan 5 : Kesenjangan antara harapan pelanggan dan kenyataan lyanan
ayang diterima. Kesenjangan tersebut sebagai akibat tidak terpenhinya harapan
para pelanggan karena mereka memiliki cara yang berbeda dan persepsi yang
keliru atas jasa yang akan mereka terima. (Ety Rochaety, dkk (2006 : 1)
Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar 1
Gambar 1. Kesenjangan layanan jasa
Komunikasi dari Kebutuhan pribadi Pengalaman masa lalu
mulut ke mulut
Jasa yang diharapkan
kesenjangan 5
Jasa yang dialami
Konsumen
Pemasar
Penyampaian jasa Komunikasi
sebelum dan Kesenjangan 4
eksternal ke
sesudah kontak pelanggan
Kesenjangan 3
Tranlasi persepsi
Kesenjangan 1 menjadi spesifikasi
kualitas jasa
Kesenjangan 2
Persepsi manajemen
tentang harapan
konsumen
Sumber : Pasaruman, Valarie A. Zeithaml dan Leonard L. Berry
Dalam J. Supranto : 1997:232
Gambar di atas menunjukkan pengaruh dari dimensi kualitas pelayanan terhadap
harapan para pengguna jasa pendidikan dan kenyataan yang mereka terima.
Terdapat lima dimensi kualitas pelayanan dimana jasa pendidikan merupakan
bentuk jasa yang melibatkan tingkat interaksi yang tinggi antara penyedia jasa
pendidikan (lembaga pendidikan) dan pengguna jasa pendidikan, dimensi jasa
pendidikan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Lembaga pendidikan dalam upaya mempertahankan kualitas pelayanan jasa,
menurut Gaspertz yang harus dilakukan adalah melalui atribut perbaikan kualitas
jasa yang berkesinambungan. Antara lain :
1. Ketepatan waktu pelayanan, hal-hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan
lamanya pendidikan dan proses pendidikan.
2. Akurasi pelayanan, berkaitan dengan rehabilitasi pelayanan secara continue
dan menekan kesalahan yang dilakukan dalam pelayanan.
3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan. Terutama bagi
mereka yang berinteraksi langsung kepada masyarakat umum.
4. Tanggung jawab berkaitan dengan penerimaan saran, dan penanganan
keluhan pelanggan.
5. Kelengakapan ketersediaan sarana pendukung serta sarana yang saling
menunjang dan melengkapi.
6. Variasi model pelayanan. Mahasiswa dapat memilih waktu binmbingan
belajar.
7. Kemudahan mendapatkan pelayanan.
8. Pelayanan pribadi, berkaitan dengan fleksibilitas penanganan khusus kelmpok
pelanggan yang meminta penanganan khusus.
9. Kenyamanan dalm memperoleh pelayanan dan keterkaitan dengan lokasi
lembaga pendidikan, ruang tempat pelayanan, dan ketersediaan informasi.
10. Atribut pendukung pelayanan lainnya seperti prasarana lingkungan lembaga
pendidikan, kebersihan ruang fasilitas kantin, dan pelayanan kesehatan.
(Ety Rochaey dkk, 2006 : 109)
Lembaga pendidikan yang memikirkan kelangsungan hidup usahanya dalam
jangka panjang akan memberikan jasa yang lebih baik dari pesaingnya secara
konsisten. Sebagai kuncinya adalah memenuhi atau melebihi harapan konsumen
atas jasa yang ditawarkan.
4. Dimensi Kualitas jasa
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Yesi Budiarti (2007:17) mengukur
kualitas jasa menggunakan sepuluh poin dimensi kualitas pelayanan jasa sebagai
berikut :
1. Akses lembaga pendidikan mudah didapat.
2. Komunikatif, staf lembaga pendidikan dapat menjelaskan dengan bahasa yang
baik kepada konsumen.
3. Kompetitif, staf lembaga pendidikan memiliki keahlian dan pengetahuan yang
luas.
4. Kesopanan, lembaga pendidikan harus bersikap ramah, cepat tanggap dan
tenang.
5. Kredibilitas, lembaga pendidikan dan stafnya dapat dipercaya dan mempunyai
tempat dihati konsumen.
6. Keandalan, lembaga pendidikan dapat memberikan pelayanan yang konsisten.
7. Responsif, pelayanan atau respon staf karyawan yang cepat dan kreatif
terhadap permasalahan yang dihadapi konsumen.
8. Keamanan, pelayanan yang diberikan lembaga pendidikan harus bebas dari
bahaya dan resiko.
9. Nyata, bagian dari pelyanan jasa yang berbentuk fisik benar-benar
mencerminkan kualitas jasa tersebut.
10. Memahami konsumen, staf lembaga pendidikan membuat uasaha untuk
memahami kebutuhan konsumen dan memberikan perhatian secara individual.
Dalam studi empiris yang dilakukan Parasuraman (1988) di Amerika Serikat
diketahui bahwa terdapat lima dimensi kualitas pelayanan jasa yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Tangible (bukti fisik)
Yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan karyawan atau staf dan sarana
komunikasi. Misalnya, fasilitas pembelajaran (gedung), fasilitas laboratorium,
fasilitas perpustakaan, media pembelajaran, kantin, tempat parkir, sarana
ibadah, fasilitas olah raga serta busana dan penampilan staf administrasi
maupun staf mengajar.
2. Reliability (keandalan)
Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang menjanjikan dengan segera
atau cepat, akurat dan memuaskan. Misalnya mata ajaran yang benar-benar
sesuai dengan kebutuhan, jadwal pembelajaran, proses pembelajaran yang
akurat, penilaian yang objektif, bimbingan dan penyuluhan, serta akivitas
lainnya yang semua untuk memperlancar proses pembelajaran peserta didik.
3. Responsiveness (daya tanggap)
Yaitu kemauan/kesediaan para staf untuk membantu para pesertadidik dan
memberikan pelayanan cepat tanggap. Misalnya guru bimbingan mudah
ditemui untuk konsultasi. Proses pembelajaran interaktif sehingga
memudahkan peserta didik lebih memperluas wawasan berfikir dan
kreatifitasnya, prosedur administrasi lembaga pendidikan menjadi lebih
sederhana.
4. Assurance (jaminan)
Yaitu mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, respek terhadap peserta
didik, serta memiliki sifat dapat dipercaya, bebas dari bahaya dan keragu-
raguan. Misalnya, seluruh staf administrasi, staf pengajar, maupun staf pejabat
strukural harus benar-benar berkompeten dibidangnya sehingga reputasi
lembaga pendidikan positif dimata masyarakat.
5. Emphaty (empati)
Yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi dengan baik,
perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan peserta didiknya. Misalnya, staf
pengajar mengenal mahasiswanya yang mengikuti proses pembelajaran, guru
bisa benar-benar berperan sebagai fungsinya, perhatian yang tulus diberikan
kepada mahasiswanya berupa kemudahan mendapatkan pelayanan, keramahan,
komunikasi, serta kemampuan memahami kebutuhan mahasiswanya. (Ety
Rochaety dkk, 2006:106)
Ada 8 dimensi kualitas yang dikembangkan oleh garvin dalam Yesi Budiarti
(2007:16)
1. Kinerja (performance)
2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features)
3. Kehandalan (reliabilty)
4. Kesesuaian dengan spesifikasi (coformance to specification)
5. Daya tahan (durability)
6. Serviceability meliputi kecakapan, kompetensi, kenyamanan, penangan
keluhan
7. Estetika yaitu daya tarik jasa terhadap panca indra
8. Kualitas yang direputasikan
5. Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumen merupakan sasaran utama sekaligus sarana untuk
memasarkan suatu lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang mencapai
kepuasaan konsumen akan meningkatkan pangsa pasar. Dengan demikian
konsumen mengetahui bahwa lembaga pendidikan tersebut adalah lembaga
pendidikan yang berkualitas.
Menurut Day dkk, menyatakan bahwa kepuasan pelanggan (konsumen) adalah
respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang dirasakan antara
harapan sebelumnya (atau norma kinerja lainnya) dari kinerja actual produk yang
dirasakan setelah pemakaiannya. Wilkie mendefinisikannya sebagai tanggapan
emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa.
Sedangkan Kotler menandaskan bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan
dibandingkan dengan harapannya. (dalam Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana,
2001:102)
Jadi kepuasan konsumen terhadap suatu jasa adalah perbandingan antara persepsi
nya terhadap jasa yang diterimadengan harapannya sebelum menggunakan jasa
tersebut. Mahasiswa sebagai konsumen lembaga pendidikan seharusnya menjadi
tujuan utama dari lembaga pendidikan itu sendiri yang harus diperhatikan
pelayanannya untuk mencapai tingkat kepuasan pelanggan yang diharapkan.
Mahasiswa yang harapannya terpenuhi oleh lembaga pendidikan tentu akan
merasa puas dengan layanan yang telah diberikan. ([Link],2005:233)
Berdasarkan definisi di atas, tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan
antara kinerja dengan harapan konsumen. Apabila kinerja yang dilakukan
dibawah harapan, maka pelanggan akan kecewa. Bila kinerja sesuai dengan
harapan pelanggan akan merasa puas. Sedangkan apabila kinerja melebihi harapan
maka pelanggan akan merasa sangat puas. Harapan pelanggan dapat dibentuk oleh
komentar dari kerabat, pengalaman masa lalu, dan informasi pemasaran.
Pelanggan yang puas akan setia lebih lama sehingga kurang sensitif terhadap
harga dan akan memberi komentar yang baik tentang lembaga atau perusahaan
tersebut.
Lupiyoadi (2001) menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan dalam
kaitannya dengan kepuasan konsumen, antara lain:
a. Kualitas Produk
Konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk
yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan berkualitas bagi
seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhanya. (Montgomery dalam
Lupiyoadi, 2001). Kualitas produk ada dua yaitu eksternal dan internal. Salah
satu kualitas produk dari faktor eksternal adalah citra merek.
b. Kualitas Pelayanan
Konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan yang baik atau yang
sesuai dengan harapan.
c. Emosional
Konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena menggunakan merek
yang mahal.
d. Harga
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang
relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
e. Biaya
Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas
terhadap produk atau jasa tersebut.
([Link]
Lembaga Pendidikan harus mengetahui tentang kepuasan konsumen, apakah
meningkat atau menurun. Menurut Philip Kotler (1997:38) terdapat empat metode
untuk mengetahui kepuasan konsumen seperti berikut :
a. Sistem keluhan dan saran
Untuk mengidentifikasikan masalah maka perusahaan harus mengumpulkan
informasi langsung dari konsumen dengan cara menyediakan kotak saran.
Informasi yang terkumpul untuk memberikan masukan bagi perusahaan.
b. Survei kepuasan konsumen
Survei kepuasan konsumen dapat dilakukan dengan cara survei melalui pos
surat, telephone, maupun wawancara pribadi. Dengan metode ini perusahaan
dapat menciptakan komunikasi 2 arah dan menunjukkan perhatiannya kepada
konsumen.
c. Ghost Shopping
Metode ini digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan
pesaing dan membandingkannya dengan perusahaan yang bersangkutan.
d. Analisis kehilangan konsumen
Tingkat kehilangan konsumen menunjukkan kegagalan perusahaan dalam
memuaskan konsumennya. Perusahaan seharusnya menganalisa dan
memahami mengapa konsumen tersebut berhenti mengkonsumsi produk kita.
Menurut Fandy Tjiptono (1997:35), metode yang digunakan untuk mengukur
kepuasan konsumen dapat dengan cara :
1. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan pertanyaan.
2. Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka
mengharapkan suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang dirasakan.
3. Responden diminta untuk menuliskan masalah yang mereka hadapi
berkaitan dengan penawaran dari perusahan dan juga diminta untuk
menuliskan masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan
penawaran dari perusahan dan juga diminta untuk menuliskan perbaikan
yang mereka sarankan.
4. Responden dapat diminta untuk meranking berbagai elemen dari
penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen dan seberapa
baik kinerja perusahan dalam mas ing-masing elemen.
([Link]
Setiap konsumen tentunya memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda,
sehingga akan menyulitkan Lembaga Pendidikan untuk mengetahui tingkat
kepuasan konsumen. Terkadang konsumen dengan sedikit membeli suatu barang
dalam jumlah tertentu akan lebih merasa puas dibanding dengan beberapa jumlah
suatu barang yang lain. Hal ini mencerminkan bahwa tingkat maksimum kepuasan
konsumen merupakan suatu hal yang sulit diukur.
Kurva Indiferensi (kurva kepuasan sama) adalah kurva yang menunjukkan
berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat
kepuasan yang sama bagi konsumen. Kurva ini menggambarkan bahwa seseorang
konsumen (dimisalkan) hanya akan membeli dan mengkonsumsi dua macam
barang saja. Semakin jauh kurva indiferensi dari titik nol menunjukkan tingkat
kepuasan yang semakin tinggi.
([Link]
konvensional-dan-ekonomi-islam/.)
Untuk menggambarkan kurva kepuasan sama perlu dimisalkan bahwa seseorang
konsumen hanya akan membeli dan mengkonsumsi dua macam barang saja.
Contoh kedua barang tersebut adalah pakaian dan makanan. Misalkan seorang
konsumen akan merasa puas jika mengkonsumsi 4 makanan dan 1 pakaian.
Namun hal ini juga akan memberikan kepuasan yang sama jika konsumen
tersebut mengkonsumsi 1 makanan dan 3 pakaian. Gabungan manapun akan
memberikan kepuasan yang sama besarnya.
Gambar 2. Kurva Indiferensi
Setiap kurva kepuasan sama menggambarkan suatu tingkat kepuasan tertentu.
Kurva yang lebih tinggi menggambarkan tingkat yang lebih besar dari kurva yang
dibawahnya.
Gambar 3. Peningkatan Kepuasan Konsumen
Dengan demikian U1, U2, dan U3 masing-masing menggambarkan suatu tingkat
kepuasan tertentu. Tingkat kepuasan yang digambarkan oleh U3 adalah lebih
besar daripada yang digambarkan oleh U2. Sedangkan yang digambarkan oleh U2
lebih besar daripada yang digambarkan oleh U1. Bahwa setiap kurva kepuasan
konsumen sama yang lebih tinggi menggambarkan tingkat kepuasan yang lebih
besar. Namun kurva indeferensi sulit digunakan untuk melihat besarnya kepuasan
konsumen dalam bidang pelayanan jasa karena kurva indeferensi ini dapat
digunakan dalam perbandingan tingkat kepuasan sama terhadap suatu barang,
tepatnya dalam dua jenis barang. Sedangkan untuk melihat tingkat kepuasan
konsumen dalam suatu pelayanan jasa dapat dilihat dari bertambahnya jumlah
konsumen, kesetiaan dan sikap loyalitas konsumen terhadap lembaga.
6. Kualitas Jasa dan Kepuasan Konsumen
Semua bentuk usaha menejemen tentunya mengarah pada satu tujuan utama yaitu
terciptanya kepuasan konsumen. Adapun yang dilakukan pihak menejemen
menjadi tidak akan berarti apabila tidak menghasilkan kepuasan konsumen.
Kepuasan yang dirasakan oleh konsumen tentunya dapat menghasilkan
keuntungan yang lebih besar terhadap lembaga pendidikan atau usaha menejemen
bidang apapun.
Kualitas jasa dan kepuasan konsumen memiliki kaitan yang sangat erat. Kepuasan
konsumen sangat bergantung pada kualitas pelayanan suatu jasa. Kepuasan
konsumen bersifat subjektif karena hanya konsumen saja yang mampu
menentukan kepuasan yang dirasakan terhadap pelayanan yang diterimanya.
Fandy Tjiptono (2006:68) mengemukakan bahwa :
“Kualitas dan kepuasan konsumen pelanggan berkaitan sangat erat. Kualitas
memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan yang kuat
dengan perusahaan. Dalam jangka waku panjang ikatan seperti ini memungkinkan
perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta kebutuhan
mereka. Dengan demikian perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan di
mana perusahaan memaksimumkan pengalaman pelanggan yang menyenangkan
dan meminimukan atau meniadakan pengalaman pelanggan yang kurang
menyenangkan. Pada glirannya kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan
atau loyalitas pelanggan kepada perusahaan yang memberikan kualitas
memuaskan.”
Menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2006:102) mengemukakan
beberapa manfaat terhadap kepuasan konsumen, sebagai berikut :
1. Hubungan antara perusahaan dan pelanggan nya menjadi harmonis.
2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
3. Dapat mendorong terciptanya loyalitas pelanggan.
4. Membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth).
5. Reputasi perusahaan menjadi baik di mata pelanggan.
6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.
Penyedia jasa pendidikan akan mendapatkan keuntungan apabila mereka benar-
benar peduli kepada kepuasan konsumen yang nantinya dapat menciptakan
kesetiaan pelanggan, keuntungan itu antara lain sbb:
1. Tetap setia lebih lama.
2. Menggunakan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan ketika perusaahan
memperkenalkan dan memperbaharui produk baru.
3. Membicarakan hal yang baik tentang perusahaan dan produknya.
4. Memberikan perhatian yang lebih sedikit kepada merek dan iklan pesaing
serta kurang peka terhadap harga.
5. Menawarkan gagasan jasa kepada perusahaan.
6. Biaya untuk pelayanan lebih kecil dibandingkan biaya pelanggan baru karena
transaksi yang sudah rutin.
(Sunarto dalam Yesi Budiarti, 2007:21)
Perbandingan antara pelayanan yang diterima konsumen dengan harapan
selanjutnya dipakai konsumen sebagai ukuran dalam menentukan kualitas atau
mutu pelayanan lembaga. Bila pelayanan yang diterima lebih baik dari yang
diharapkan, maka konsumen akan merasa senang dan sangat puas. Bila kualitas
pelayanan yang diterima sama dengan yang diharapkan, maka konsumen merasa
puas (positif). Akan tetapi bila pelayanan yang diterima konsumen lebih rendah
dari yang diharapkan, maka konsumen akan merasa tidak puas (negatif).
Pelanggan merupakan orang yang menerima hasil kinerja suatu perusahaan yang
menjadi tolak ukur kualitas suatu perusahaan. Dengan demikian perusahaan dalam
mempertahankan eksistensinya lembaga pendidikan harus mampu menciptakan
kepuasan konsumen yang merupakan focus utama dalam lembaga pendidikan.
Semakin tinggi tingkat kualitas jasa akan mengakibatkan semakin tingginya
tingkat kepuasan konsumen.
7. Penelitian Relevan
No Penulis Judul Hasil Penelitian
1 Heppy Novadila Analisis Kepuasan Ada pengaruh yang sangat
(2006) Konsumen Ditinjau dari signifikan dari kelima
Kualitas Jasa Pendidikan dimensi di atas terhadap
Pada Lembaga Pendidikan kepuasan konsumen pada
Primagama Cabang lembaga pendidikan
Pahoman Bandar Primagama Cabang
Lampung tahun Pahoman Bandar Lampung
2005/2006. yang ditunjukan oleh
koefisien determinasi ganda
(R2) sebesar 0,757 dan
Fhitung=60,911 > Ftabel=2,135.
2 Woro Eka Pengaruh Kualitas Ada pengaruh antara kualitas
Despriyanti Pelayanan Terhadap pelayanan jasa terhadap
(2008) Kepuasan Konsumen Pada kepuasan konsumen dengan
Lembaga Pendidikan diperoleh Fhitung 45,703 >
Primagama Cabang Ftabel 2,135 dengan koefisien
Pahoman Bandar korelasi R=0,873 dan
Lampung tahun koefisien determinasi (R2)
2005/2006. sebesar 0,763.
3 Yesi Budiarti Pengaruh Kualitas Jasa Ada pengaruh antara kualitas
(2007) Pendidikan Terhadap jasa pendidikan terhadap
kepuasan konsumen pada kepuasan konsumen dengan
Perguruan Tinggi AMIK diperoleh
Dian Cipta Cendikia Fhitung3,943>Ftabel2,293
(DCC) Lampung Kampus dengan korelasi R=0,580 dan
Pringsewu Kabupaten koefisien determinasi
Tanggamus Tahun 2007. (R2)=0,161.
B. Kerangka Pikir
Kepuasan konsumen merupakan hal penting bagi Lembaga pendidikan maupun
perusahaan lain yang bergerak di bidang jasa untuk mengembangkan atau
mempertahankan bidang usaha yang dijalankan. Jika antara harapan dan kinerja
yang dilakukan oleh lembaga pendidikan baik, maka akan meningkatkan
kepercayaan masyarakat tentang lembaga pendidikan tersebut. Namu jika antara
harapan dan kinerja tidak dilakukan dengan baik, maka akan mengecewakan
knsumen yang akan berakibat terhadap nama baik lembaga pendidikan.
Kreativitas dan keterampilan mahasiswa dalam menjalankan program sangat
diharapkan dalam implementasi di masyarakat. Sehingga dapat membantu
mahasiswa dalam mencari pekerjaan dengan kemampuan yang tidak diragukan.
Di dalam persaingan yang pesat mengakibatkan lembaga pendidikan harus
mengedepankan kepuasan konsumen sebagai hal paling penting agar kepuasan
terpenuhi. LPP Master Komputer Cabang Metro harus memperhatikan dan
meningkatkan kualitas jasa yang diberikan kepada mahasiswa.
Kualitas pelayanan jasa merupakan hal penting untuk mempengaruhi kepuasan
konsumen. Harapan konsumen akan pelayanan jasa yang diberikan di peroleh dari
membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan konsumen setelah
mengonsumsi (pelayanan) jasa tersebut. Jika hasil atau kinerja yang diterima baik,
dan memberikan kualitas pelayanan jasa yang baik maka akan membuat
konsumen merasa puas. Akan tetapi bila pelayanan yang diterima konsumen lebih
rendah dari yang diharapkan, maka konsumen akan merasa tidak puas (negatif).
Tangible merupakan salah satu factor penentu kualitas jasa. Aspek tangible
seperti fasilitas fisik, peralatan dan perlengkapan sarana belajar siswa, penampilan
staf mengajar dan karyawan merupakan salah satu sumber yang mempengaruhi
pendapat konsumen. Ketersediaan modul belajar juga menjadi salah satu bukti
fisik yang mampu mempengaruhi pendapat konsumen. Bukti fisik dapat menjadi
persepsi awal konsumen terhadap lembaga pendidikan.
Factor selanjutnya adalah Emphaty, sikap karyawan dan para pengajar yang dapat
memberikan ikatan emosional kepada mahasiswa. Mahasiswa akan merasa puas
jika diperlakukan dengan baik seperti bersikap ramah, bersahabat, dan
memberikan perhatian mahasiswa selama proses mengajar. Kemampuan
memahami dan mengenali pribadi siswa merupakan salah satu bentuk emphaty.
Reliability juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan
pelanggan. Jasa pendidikan yang diberikan oleh Lembaga pendidikan harus
memberikan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Keandalan adalah
kemampuan yang dapat diandalkan, akurat dan konsisten dalam mengerjakan jasa
sesuai dengan yang diharapkan konsumen. Seperti ketepatan dan kesesuaian
jadwal perkuliahan, kesesuaian promosi dengan kenyataan pelayanan yang
diberikan, kesesuaian mata kuliah dengan kurikulum, dan proses penilaian yang
objektif kepada mahasiswa.
Dimensi responsiveness, setiap mahasiswa tentunya memiliki kebutuhan yang
berbeda-beda, sehingga lembaga pendidikan diharapkan untuk cepat tanggap
terhadap apa yang dibutuhkan oleh mahasiswa seperti memberikan pelayanan
konsultasi belajar jika mahasiswa mengalami kesulitan belajar. Lembaga
pendidikan juga diharapkan tanggap dan cepat dalam menentukan jadwal belajar,
dan memberitahukan mahasiswa yang harus mengikuti remedial jika nilai
mahasiswa tersebut tidak memenuhi persyaratan kelulusan. Ketanggapan dosen
dan karyawan dalam melaksanakan tugas sangat dibutuhkan.
Selanjutnya adalah dimensi assurance, lembaga pendidikan harus dapat menjamin
kebenarannya dengan memperkerjakan staf yang sesuai dengan bidangnya dan
mampu dipercaya. Faktor-faktor kualitas pelayanan jasa harus benar-benar
diperhatikan untuk mencapai kepuasan konsumen. Dimensi kualitas pelayanan
jasa terdiri dari Tangible, Reliability, Responsibveness, Assurance, dan Emphaty.
Berdasarkan kerangka pikir di atas maka paradigma dalam penelitian ini dapat
dijabarkan dalam gambar berikut :
Gambar 4. Paradigma Penelitian Analisis Kualitas Pelayanan Jasa Terhadap
Kepuasan Konsumen
Tangible (X1)
Emphaty (X2)
Reliability (X3) Kepuasan Konsumen
(Y)
Responsiveness (X4)
Assurance(X5)
C. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Ada pengaruh Tangible terhadap kepuasan konsumen pada LPP Master
Komputer Cabang Metro Tahun Akademik 20011/2012.
2. Ada pengaruh Reliability terhadap kepuasan konsumen pada LPP Master
Komputer Cabang Metro Tahun Akademik 20011/2012.
3. Ada pengaruh Responsibility terhadap kepuasan konsumen pada LPP Master
Komputer Cabang Metro Tahun Akademik 20011/2012.
4. Ada pengaruh Emphaty terhadap kepuasan konsumen pada LPP Master
Komputer Cabang Metro Tahun Akademik 20011/2012.
5. Ada pengaruh Assurance terhadap kepuasan konsumen pada LPP Master
Komputer Cabang Metro Tahun Akademik 20011/2012.
Ada pengaruh Tangible, Emphaty, Responsibility, Reliability, dan Assurance
secara simultan terhadap kepuasan konsumen pada LPP Master KomputerCabang
Metro Tahun Akademik 20011/2012.