0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan4 halaman

Ketakutan dan Perubahan Gerald

Cerita ini menceritakan tentang Gerald yang baru pindah ke Tokyo bersama ibunya. Ia mengalami kesulitan beradaptasi di sekolah barunya namun berhasil berteman dengan Ana, Andre, Deon dan Safira. Di akhir cerita, terjadi gempa besar di Tokyo yang menyebabkan mobil Gerald dan ibunya mengalami kecelakaan. Ibunya meninggal dunia sedangkan Gerald menyaksikan keanehan di kota Tokyo.

Diunggah oleh

yy zzz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan4 halaman

Ketakutan dan Perubahan Gerald

Cerita ini menceritakan tentang Gerald yang baru pindah ke Tokyo bersama ibunya. Ia mengalami kesulitan beradaptasi di sekolah barunya namun berhasil berteman dengan Ana, Andre, Deon dan Safira. Di akhir cerita, terjadi gempa besar di Tokyo yang menyebabkan mobil Gerald dan ibunya mengalami kecelakaan. Ibunya meninggal dunia sedangkan Gerald menyaksikan keanehan di kota Tokyo.

Diunggah oleh

yy zzz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

TAKUT

PYARR!!!

Bunyi pecahan vas bunga keluar dari balik pintu Gerald. Ia langsung tahu apa yang sedang terjadi diluar.
Ya, ibunya pulang, seorang wanita perokok dan pemabuk yang bahkan tidak pernah mengurus anaknya
lagi.

“ARGGHHH! GERALD DIMANA KAMU?!” bentaknya

“Iya ma, kenapa?” Gerald langsung keluar dari kamarnya untuk menemui ibunya. Rasa takut, cemas,
panik bercampur aduk dalam dirinya, enggan sebenarnya untuk ia menemui ibunya.

“KAMU ITU BISA GAK SIH BIKIN MAMA SENENG SEKALI AJA?! CAPEK MAMA PUNYA ANAK KAYAK
KAMU!”

Deg! Omongan yang selalu keluar dari Ibunya itu selalu membuat ia sakit hati, itu yang membuat ia takut
untuk menemui ibunya.

“Iya ma maaf” ia berkata dengan nada selembut mungkin, hanya kata itu yang bisa ia lontarkan di
keadaan ini.

“AGHH UDAHLAH MAMA MAU KE KAMAR, POKOKNYA MAMA GAK MAU TAU RUMAH INI HARUS BERSIH
SEKARANG” bentaknya.

“Iya ma” malam itu Gerald langsung membersihkan rumahnya. Sebenarnya rumah Gerald tidak sekotor
itu, tapi entah mengapa ibunya sering marah karena rumahnya kotor.

Keesokan harinya Gerald bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ya Gerald merupakan seorang siswa
SMP kelas 9, ia baru pindah sekolah tahun ini.

“Gerald udah belum?” tanya ibunya.

“Bentar ma dikit lagi!” teriaknya. Tentu, Gerald belum lupa tentang kejadian semalam, tapi ia juga tidak
perlu mengingat-ingatnya. Gerald beranjak turun menemui ibunya untuk berangkat sekolah.

“Udah ma, ayo”

Sepanjang perjalanan dari balik kaca mobil ia terkagum melihat indahnya pemandangan di kota Tokyo
ini. Sama persis seperti yang ia harapkan ‘kota fantasi’ julukannya untuk Tokyo. Sekitar 15 menit ia
sampai di sekolah barunya. Ia bergegas memasuki keluar dari mobil dan menuju kelasnya karena jam
sudah menunjukkan pukul 07.00 yang artinya Gerald telat.

Gerald sudah sampai di depan kelasnya, ia ragu untuk memasuki kelas tersebut, masalahnya ia akan
perkenalan di depan kelas, di depan banyak orang.

Srekk. Perlahan ia membuka pintu kelasnya, terlihat teman-temannya yang tadinya sunyi melihat
penjelasan bu guru malah berbalik melihatnya. Gugup, itu yang ia rasakan.

“Oh iya anak-anak hari ini kita kedatangan siswa baru, sini nak, perkenalkan dirimu” ucap guru tersebut.
2. ADAPTASI

“Hai semuanya gue Gerald, salam kenal”

“Hai Gerald salam kenal, saya guru IPS sekaligus walikelas mu nanti, saya Bu Gina”

“Yaudah Gerald kamu duduk sebelah situ ya” Gina menunjuk sebuah bangku paling belakang yang dekat
dengan jendela

“Baik bu” Gerald bergegas menuju bangku yang ditunjuk oleh Bu Gina, ia sudah tidak tahan menahan
malu yang ia rasakan.

“Hai gue Ana temen sebangku lo” sapa Ana, perempuan yang sebangku dengan Gerald.

“Oh hai, gue Gerald” sahut Gerald yang sedang sibuk mengeluarkan buku mapel yang sedang dipelajari
dan beberapa alat tulis yang sedang ia bawa tanpa melihat wajah Ana.

“Lo pindahan darimana?” tanya Ana.

“Dari Fukushima”

“Ohh ngapain lo pindah?”

“Ortu gue kerja disini, biar ga bolak balik akhirnya pindah deh”

“Ohh teru-“

“Eh lo kebanyakan tanya deh An” sahut teman Ana yang satu bangku didepannya.

“Hai Ge, Gue Andre, ini Safira, sama ini Deon” ucap Andre sambal menunjuk teman disebelahnya.

“Oh hai salken ya”

Mereka pun lanjut berbincang-bincang dengan Gerald hingga tak sadar bahwa Bu Gina memperhatikan
mereka.

“HEI KALIAN BEREMPAT BUKANNYA MERHATIIN SAYA, MALAH MERHATIIN GERALD” bentak Bu Gina

“Lebih enak merhatiin Gerald bu daripada merhatiin Bu Gina” bantah Andre

“ANDRE KAMU ITU YA!! MAU SAYA HUKUM KAMU?!”

“Yaelah bu baperan amat” kata Andre dengan nada pelan tapi samar-samar terdengar oleh Bu Gina.

“APA NDRE? BAPERAN?! KAMU BILANG SAYA BAPERAN?!”

“Nggak bu saya ga bilang gitu, saya cuman bilang saya gamau dihukum, itu aja kok bu” ucap Andre
dengan tampang polos seakan membujuk Bu Gina.

Gerald, Ana, Deon, Safira hanya tertawa melihat kelakuan temannya itu. Memang, Andre terkenal
sebagai anak yang jail, lucu, dan suka membantah, tak heran jika Bu Gina sering memarahinya.

“Bener ya, yaudah kita lanjutin, sekarang buka buku tugas IPS, saya mau kasih soal”
“Baik buu” sahut anak sekelas.

3. MENDADAK BERUBAH

Sepulang sekolah Gerald dijemput ibunya, awalnya Andre sudah mengajaknya untuk pulang bareng tapi
Gerald menolak karena belum izin juga pada ibunya.

Seperti saat ia berangkat tadi pagi, ia masih memperhatikan jalanan di balik kaca mobil.

“Gimana sekolahnya tadi Ge?”

“Biasa aja ma” ia kaget saat ibunya bertanya tentang sekolahnya, karena selama ini ibunya selalu
membisu dan tak pernah bertanya apapun tentang sekolah Gerald.

“Oh itu akademi terbagus di London, mama daftarin kamu disitu biar nilai kamu ningkat, jadi jangan
ngecewain mama ya Ge” ya, ibu Gerald merupakan seorang ibu yang terobsesi dengan nilai anaknya, ia
tak pernah menerima jika nilai anaknya dibawah rata-rata.

“Iya ma” ucap Gerald.

Hening, tak ada dari mereka memulai pembicaraan lagi. Ibunya yang fokus menyetir mobil dan Gerald
yang sedang melihat pemandangan di luar kaca mobilnya.

Samar-samar Gerald melihat cahaya putih di langit dan tiba-tiba tanah bergetar, cahaya putih itu
semakin terang dan semakin besar, getaran tanah pun semakin hebat. Terlihat diluar bangunan runtuh
dan jalanan terpisah membuat orang-orang panik dan ada banyak orang yang tertimbun remahan
bangunan tersebut. Ibu Gerald yang sedang menyetir itu pun kebingungan dan panik, ia menambah
kecepatan mobilnya, Gerald bingung kenapa suasananya tiba-tiba berubah begini. Setir ibunya
kehilangan kendali membuat mereka terhuyung-huyung ke kanan dan ke kiri.

Sampai akhirnya,

BRAKKK!! mobil tersebut menubruk pengendara lain.

Gerald bangkit dari kursi duduk mobilnya melihat ibunya di bangku setir.

Deg! Kaget. Ibunya sudah berlumuran banyak darah di dahinya, ia mencoba membangunkan ibunya
berkali-kali namun ibunya tidak kunjung bangun. Ia berusaha membuka pintu mobil dan mencoba
keluar, ia melihat keadaan disekelilingnya yang tadinya tentram menjadi berantakan.

Bangunan berjatuhan, banyak korban meminta pertolongan, orang-orang sibuk berlarian menjahui
bangunan. Gerald berlari sekencang yang ia bisa untuk meminta pertolongan namun tak ada
seorangpun yang memerhatikannya, kemudian tanah kembali bergetar kali ini getarannya melebihi tadi,
jalanan menjadi semakin terpecah, gundukan tiba-tiba keluar dari dalam tanah, muncul sebuah tower
yang menjulang tinggi, muncul cahaya putih dikepala tower tersebut, semua mata memusat kepada
cahaya putih itu, termasuk Gerald.

DEG! Jantung Gerald terasa sakit seperti ada yang menusuknya, anehnya tidak hanya Gerald yang
merasakan hal tersebut namun semua orang yang melihat cahaya itu. Bruk, Gerald dan orang-orang
tergeletak di tanah seakan kesadaran mereka diambil.

Anda mungkin juga menyukai