0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan33 halaman

Sistem Plambing dan Penyediaan Air Bersih

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka sistem plambing, termasuk definisi sistem plambing, prinsip dasar sistem penyediaan air bersih, sumber air bersih, pencegahan pencemaran air, sistem penyediaan air bersih seperti sistem sambungan langsung, tangki atap, tangki tekan, dan tanpa tangki, serta penaksiran laju aliran air.

Diunggah oleh

Fahru Rozi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan33 halaman

Sistem Plambing dan Penyediaan Air Bersih

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka sistem plambing, termasuk definisi sistem plambing, prinsip dasar sistem penyediaan air bersih, sumber air bersih, pencegahan pencemaran air, sistem penyediaan air bersih seperti sistem sambungan langsung, tangki atap, tangki tekan, dan tanpa tangki, serta penaksiran laju aliran air.

Diunggah oleh

Fahru Rozi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sistem Plambing

Sistem Plambing merupakan semua pekerjaan yang berkaitan atau


berhubungan dengan instalasi pemipaan. Baik itu instalasi pipa untuk
pemasangan, perawatan serta pemeliharaan pipa yang dipakai untuk menyuplai air
bersih ke tempat yang diinginkan dan menyalurkan air kotor dari tempat yang
disediakan tanpa mencemari tempat lainnya.

2.2 Prinsip Dasar Sistem Penyediaan Air Bersih

Tujuan utama dari sistem penyediaan air ini adalah menyuplai air bersih.
Air dengan kualitas yang tetap baik adalah prioritas nomor satu dari penyediaan
air . Terdapat aspek yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih selain
kualitas adalah kuantitas, kontinyuitas, sistem penyediaan air bersih yang dipakai,
pencegahan pencemaran air, tekanan air dan kecepatan aliran.

2.2.1 Sumber Air Bersih

Salah satu sumber air yang mudah ditemukan adalah sumber air
Perusahaan Daerah Air Bersih atau biasa dikenal dengan PDAM yang sudah dapat
dipastikan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas air nya. Kasus lain untuk gedung
yang dibangun di daerah yang dimana fasilitas PDAM tidak tersedia seperti di
daerah kepulauan atau pegunungan yang terpencil jauh dari kota, maka sumber air
harus diambil dari air tanah atau dari sungai sekitar. Jika terjadi demikian air
tersebut harus diolah terlebih dahulu dengan instalasi pengolahan dalam gedung
hingga dicapai standar kualitas air bersih yang berlaku.

4
5

2.2.2 Pencegahan Pencemaran Air


Semua peralatan sistem penyediaan air seperti tangki air bawah, tangki air
atas, pompa dan pipa dapat dengan mudah mengalami pencemaran. Pencemaran
air ini harus dihindari oleh peralatan-peralatan tersebut agar air tetap bersih
sampai ke tempat tujuan. Dalam bagian manapun pencemaran dapat terjadi
dengan mudah sewaktu-waktu (Sumber: Soufyan Moh. Noerbambang dan Takeo
Morimura, 2005). Berikut ini adalah beberapa contoh dan cara pencegahan
pencemarannya.

a. Larangan Hubungan Pintas

Hubungan fisik atau bersentuhannya dua sistem pipa yang berisi air
dengan kualitas berbeda, yaitu satu sistem pipa untuk air bersih dan sistem
pipa lainnya berisi air kotor adalah pengertian hubungan pintas, jadi ada
kemungkinan air dari satu sistem merembes ke sistem lainnya. Maka
sistem perpipaan air bersih dan peralatannya harus dijauhkan dari
rendaman air atau hal lain yang tercemar.

b. Pencegahan Aliran Balik

Aliran balik adalah masuknya aliran air, zat atau cairan lain ke dalam
sistem perpipaan air bersih, yang bersumber dari tempat lain yang tidak
ditujukan untuk air bersih. Aliran balik juga perlu dipikirkan selain
hubungan pintas dan ini dikarenakan oleh terjadinya efek siphon-balik
(back siphonage). Efek siphon balik adalah terjadinya aliran masuk ke
dalam pipa air bersih dari air kotor, air tercemar, air bekas dan tempat lain
dikarenakan oleh terjadinya tekanan negatif dalam pipa. Peralatan yang
dapat menimbulkan efek siphon-balik seperti menara pendingin, tangki
ekspansi, tangki air, kolam renang, bak cuci dapur, bak cuci tangan dan
lain sebagainya. Air yang berhenti secara mendadak dan perubahan
kecepatan aliran yang naik turun di dalam pipa adalah penyebab terjadinya
tekanan negatif . Tekanan negatif ini menyebabkan air kotor dari kolam
renang atau bak cuci tangan dapat masuk melalui slang air yang terendam.
6

Salah satu pencegahan aliran balik yang bisa dilakukan adalah dengan
memasang penahan aliran balik atau mempersiapkan tempat celah udara.

c. Pukulan air dan pencegahannya

Pukulan air terjadi bilamana aliran air pada pipa diberhentikan dengan
tiba-tiba oleh katup dan keran, tekanan air di bagian atas dapat melonjak
dengan drastis dan mengakibatkan ombak tekanan yang dapat menjalar
dengan kecepatan tertentu, yang setelah itu dapat terpantul kembali ke
tempat sediakala. Tanda ini mengakibatkan kenaikan tekanan yang drastis
sekali hingga mengumpamai sebuah pukulan, dan diberi nama gejala
pukulan air (water hammer). Tekanan yang terjadi diberi nama tekanan
pukulan air (water hammer pressure). Pukulan air tersebut menimbulkan
beberapa persoalan seperti kerusakan pada peralatan plambing. Berikut
adalah keadaan saat pukulan air terjadi:

1) Daerah di mana katup ditutup/dibuka secara tiba-tiba


2) Kondisi di mana tekanan air pada pipa selalu besar
3) Kondisi di mana kecepatan air pada pipa selalu besar
4) Kondisi di mana banyak jalan ke atas dan ke bawah pada sistem
pipa
5) Kondisi di mana banyak kelokan ketimbang jalan lurus
6) Kondisi di mana suhu air panas.

Berikut adalah cara penanganan atau mengatasi keadaan di atas:

1) Membebaskan tekanan kerja yang terlalu besar


2) Membebaskan kecepatan aliran yang terlalu besar
3) Membuat lubang udara atau alat pencegah pukulan air
4) Menerapkan dua katup bola apung dalam tangki air
7

2.2.3 Sistem Penyediaan Air Bersih

Ada berbagai sistem penyediaan air bersih yang biasa dipakai dan dapat
digolongkan seperti berikut (Sumber: Soufyan Moh. Noerbambang dan Takeo
Morimura, 2005).

a. Sistem Sambungan Langsung

Pada sistem ini pipa utama penyediaan air bersih akan langsung
tersambung dengan pipa distribusi pada gedung. Dengan tekanan yang
terbatas pada pipa utama dan terbatasnya dimensi pipa cabang dari pipa
utama tersebut, jadi sistem ini hanya bisa dilakukan untuk gedung kecil
dan perumahan.

Gambar. 2.1 Sistem sambungan langsung.

b. Sistem Tangki Atap

Pada sistem ini, air akan tertampung terlebih dahulu pada tangki bawah,
lalu dipompakan menuju ke tangki atas yang umumnya disetel di lantai
paling atas bangunan atau di atap. Kemudian air akan dialirkan ke semua
bangunan dari tangki air ini. Sistem tangki atap sering dipasang karena
beberapa faktor seperti berikut ini:
8

1) Peralihan tekanan yang berlangsung dalam alat plambing hampir


tidak begitu penting. Peralihan tekanan ini biasanya hanya karena
muka air pada tangki atap.
2) Sistem pompa yang mengangkat air menuju tangki atap bekerja
secara otomatis menggunakan proses yang cukup simpel sehingga
probabilitas munculnya kesulitan sangat kecil. Pompa ini memiliki
alat yang akan mendeteksi muka air dalam tangki atap untuk
menjalankan dan mematikan pompa tersebut .
3) Ketimbang tangki tekan perawatan tangki atap jauh lebih mudah.

Bilamana tekanan air pada pipa utama sangat besar, air bisa langsung
menuju tangki atap tanpa dipendam pada tangki bawah dan dipompa.

Gambar. 2.2 Sistem dengan tangki atap.


c. Sistem Tangki Tekan

Teori kerja sistem ini adalah air akan dipompakan ke dalam suatu tabung
dari tampungan tangki bawah hingga udaranya akan terkompresi. Air bisa
langsung dialirkan ke seluruh sistem aliran bangunan dari tangki tersebut.
Detektor tekanan akan mengatur pompa agar dapat bekerja secara
otomatik, yang bisa menjalankan dan mematikan saklar motor listrik
9

penggerak pompa. Pompa ini akan bekerja ketika tekanan sudah


menggapai ketentuan minimum yang ditentukan dan akan berhenti bekerja
kalau tekanan tangki menggapai suatu ketentuan maksimum yang
ditentukan juga.

Keunggulan-keunggulan sistem tangki tekan diantaranya:

1) Lebih bagus dari segi artistik karena sistem tangki tekan tidak
begitu mencolok daripada tangki atap.
2) Perawatan yang cenderung lebih mudah karena dapat diterapkan
pada ruangan mesin dengan pompa lainnya.
3) Untuk pemasangan awal harga yang ditawarkan lebih murah
ketimbang sistem tangki atap yang diterapkan di atas menara.

Kelemahan-kelemahannya:

1) Tekanan pada daerah fluktuasi ini sebesar 1,0 kg/cm 3 yang


termasuk cukup besar ketimbang tekanan pada sistem tangki atap
yang hampir tidak ada fluktuasinya..
2) Tangki tekan harus dikuras setiap beberapa hari sekali atau
ditambahkan udara menggunakan kompresor karena udara dalam
tangki tekan akan terus berkurang.
3) Sistem tangki tekan tidak bisa seperti sistem tangki atap karena
tidak bisa menyimpan air seperti tangki atap dan hanya sebagai
pompa penyediaan air saja..
4) Pompa lebih sering bekerja karena kapasitas air pada tangki tekan
cukup sedikit dan dengan pompa yang terus bekerja akan
menyebabkan kerusakan pada saklar yang lebih cepat.
10

Gambar. 2.3 Contoh sistem tangki tekan.

Gambar. 2.4 Sistem tangki tekan dengan sumur untuk rumah.

d. Sistem Tanpa Tangki

Inti dari sistem ini adalah tidak dipakainya tangki dengan jenis apapun
seperti tangki atap atau pun tangki tekan. Air langsung dipompakan
menuju sistem distribusi bangunan dan menyedot air langsung dari pipa
utama. Pemerintah Indonesia melarang dan menghimbau perusahaan air
minum untuk tidak menggunakan sistem ini.
11

2.2.4 Penaksiran Laju Aliran Air

Penaksiran laju aliran air untuk seluruh bangunan harus berdasarkan


jumlah peralatan dan dimensi pipa-pipa pada perencanaan sistem penyediaan
bangunan tersebut . Penaksiran jumlah dan laju aliran air perlu didapatkan melalui
peneilitian di lapangan, dan setelah itu dibuat angka-angka penerkaan yang sebisa
mungkin angka tersebut mendekati keadaan di bangunan setelah digunakan.

Tabel 2.1 Pemakaian air dingin minimum sesuai penggunaan gedung

No Pengguna Gedung Pemakaian Air Satuan


1 Rumah Tinggal 120 Liter/penghuni/hari
2 Rumah Susun 100 Liter/penghuni/hari
3 Asrama 120 Liter/penghuni/hari
4 Rumah Sakit 500 Liter/siswa/hari
5 Sekolah Dasar 40 Liter/siswa/hari
6 SLTP 50 Liter/siswa/hari
SMU/SMK dan Lebih
7 80 Liter/siswa/hari
Tinggi
Liter/penghuni dan
8 Ruko/Rukan 100
pegawai/hari
9 Kantor/Pabrik 50 Liter/pegawai/hari
Toserba, Toko
10 5 Liter/m2
Pengecer
11 Restoran 15 Liter/kursi
12 Hotel Berbintang 250 Liter/tempat tidur/hari
Hotel
13 150 Liter/tempat tidur/hari
Melati/Penginapan
Gedung Pertunjukan,
14 10 Liter/kursi
Bioskop
15 Gedung Serba Guna 25 Liter/kursi
Liter/penumpang tiba
16 Stasiun/Terminal 3
dan pergi
Liter/orang belum
17 Peribadatan 5
dengan air wudhu
Sumber : SNI 03-7065-2005
12

Tabel 2.2 Laju Aliran Air Berdasarkan Nilai Unit Alat Plambing Kumulatif

Sistem Penyediaan Tangki Gelontor Sistem Penyediaan Katup Gelontor


Load Water Supply Load Water Supply
Demand Demand
Fixture Units Fixture Units
Liter/second Liter/second
(WSFU) (WSFU)
1 0,19
2 0,32
3 0,41
4 0,51
5 0,59 5 0,95

6 0,68 6 1,10
7 0,74 7 1,25
8 0,81 8 1,40
9 0,86 9 1,55
10 0,92 10 1,70

12 1,01 12 1,80
14 1,07 14 1,91
16 1,14 16 2,01
18 1,19 18 2,11
20 1,24 20 2,21

25 1,36 25 2,40
30 1,47 30 2,65
35 1,57 35 2,78
40 1,66 40 2,90
45 1,76 45 3,03

50 1,84 50 3,15
60 2,02 60 3,41
70 2,21 70 3,66
80 2,41 80 3,86
90 2,59 90 4,06

100 2,74 100 4,26


120 3,03 120 4,61
140 3,31 140 4,86
160 3,60 160 5,11
180 3,85 180 5,39

200 4,10 200 5,68


250 4,73 250 6,37
300 5,36 300 6,81
400 6,62 400 8,01
500 7,82 500 9,02

750 10,73 750 11,17


1000 13,12 1000 13,12
1250 15,08 1250 15,08
1500 16,97 1500 16,97
2000 20,50 2000 20,50

2500 23,97 2500 23,97


13

3000 27,32 3000 27,32


4000 33,12 4000 33,12
5000 37,41 5000 37,41
Sumber : Pedoman Plambing Indonesia

Terdapat tiga metoda untuk menentukan laju aliran air, seperti jumlah
penghuni, berdasar jenis dan jumlah alat plambing, dan berdasar unit beban alat
plambing (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005) Lebih
jelasnya sebagai berikut:

a. Penaksiran Berdasarkan jumlah Penghuni

Ini metode paling praktis untuk perencanaan dan prancangan. Penggunaan


air rata-rata sehari dari total jumlah penghuni pada bangunan tersebut
digunakan sebagai dasar metode ini. Dengan begitu total pemakaian air
dalam sehari dapat diestimasi, meskipun jenis ataupun jumlah semua alat
plambing belum ditentukan. Kapasitas tangki air bawah, tangki air atap,
pompa, dan yang lain biasanya bisa ditetapkan dengan metode ini
menggunakan angka penggunaan air yang diperoleh . Sebaliknya dimensi
pipa tidak bisa ditentukan menggunakan metode jumlah penghuni, dimensi
pipa yang dapat ditentukan menggunakan metode ini hanya pipa dinas
penyediaan air saja.

 Perhitungan Jumlah Penghuni

Jumlah penghuni :

.……...............................………. (2.1)

 Pemakaian Air Rata-Rata Perhari

Qh = ................................................................................ (2.2)

Keterangan : Qd = Jumlah penghuni x pemakaian air per orang/hari.


Qh = Pemakaian air rata-rata (m3/hari)
Qd = Pemakaian air rata-rata sehari (m3/hari)
T = Jangka waktu pemakaian (h)
14

 Pemakaian Air Pada Jam Puncak


Qh-max = (C1) x (Qh)..................………….......................... (2.3)
Konstanta yang dipakai untuk “C1” antara 1,5 sampai 2,0 bergantung
pada penggunaan gedung, lokasi dan sebagainya, konstanta untuk “C2”
diantara 3,0 sampai 4,0. Sebaliknya berikut adalah rumus untuk
menyatakan pemakaian air waktu menit puncak :
( ) ( )
Qh-max = …………..….......................…............ (2.4)

b. Penaksiran Berdasarkan Jenis dan Jumlah Alat Plambing

Untuk menggunakan metode ini, perlu diketahui kondisi plambing dan


jumlah seluruh alat plambing pada gedung tersebut. Metode ini bisa
digunakan untuk gedung kecil ataupun perumahan.

Tabel 2.3 Faktor pemakaian (%) dan jumlah alat plambing.

Jumlah Alat Plambing


1 2 4 8 12 16 24 32 40 50 70 100
Jenis Alat Plambing
Kloset dengan katup 50 50 40 30 27 23 19 17 15 12 10
1
gelontor Satu 2 3 4 5 6 7 7 8 9 10
100 75 55 48 45 42 40 39 38 35 33
Alat plambing biasa 1
Dua 3 5 6 7 10 13 16 19 25 33
Sumber : Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005

Faktor pemakaian dapat dihitung menggunakan rumus berikut ini :

( )
𝑌𝑛 = 𝑌1 – (𝑌 [ 𝑌 ) ( )
]...................................... (2.5)
Dimana : Yn = Faktor pemakaian (%)
Y1 = Jenis alat plambing pada jumlah 1
Y2 = Jenis alat plambing pada jumlah 2
X1 = Jumlah alat plambing 1
X2 = Jumlah alat plambing 2
Xn = Jumlah alat plambing yang akan dicari
15

Tabel 2.4 Pemakaian air tiap alat plambing dan laju aliran airnya
Pemakaian
air Waktu
Nama alat Laju aliran
No untuk Penggunaan untuk
plambing air
penggunaan per jam pengisian
alat (liter/menit)
satu (detik)
kali (liter)
Kloset (dengan
1 13,5-16,5 6 - 12 110-180 8,2-10
katup gelontor)
Kloset (dengan
2 13-15 6 - 12 15 60
tangki gelontor)
Peturasan
3 (dengan katup 5 12-20 30 10
gelontor)
Peturasan, 2-4
9 – 18
4 orang (dengan 12 1,8-3,6 300
(@4,5)
tangki gelontor)
Peturasan, 5-7
22,5-31,5 300
5 orang (dengan 12 4,5-6,3
(@4,5)
tangki gelontor)
Bak cuci
6 3 12-20 10 18
tangan kecil
Bak cuci
10 6 - 12
7 tangan biasa 15 40
(lavatory)
Bak cuci dapur
8 (sink) dengan 15 6-12 15 60
keran 13 mm
Bak cuci dapur
9 (sink) dengan 25 6-12 25 60
keran 22 mm
Bak mandi
10 rendam 125 3 30 250
(bathtub)
Pancuran mandi
11 24-60 12 120-300
(shower)
Bak mandi gaya Tergantung
12 3 30
Jepang ukurannya
Sumber : (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005)
c. Penaksiran Berdasarkan Unit Beban Alat Plambing
Unit beban (fixture unit) setiap alat plambing perlu ditetapkan pada
metode ini . Untuk setiap komponen pipa ditambahkan besarnya unit
beban dari semua alat plambing yang dijalankan, lalu besarnya laju aliran
dicari menggunaka kurva. Jalinan antara laju aliran air dengan jumlah unit
alat plambing dapat diketahui dengan kurva , dengan menginputkan faktor
kemungkinan pemakaian serentak dari semua alat plambing.
16

Tabel 2.5 Unit alat plambing untuk penyediaan air dingin.1)


Jenis Penyediaan Unit Alat
Jenis Alat Plambing2) Keterangan
Air Plambing
Pribadi3) Umum4)
Kloset Katup gelontor 6 10
Kloset Tangki gelontor 3 5
Peturasan dengan
Katup gelontor 10
tiang
Peturasan terbuka
Katup gelontor 5
(urinall stall)
Peturasan terbuka
Tangki gelontor 3
(urinall stall)
Bak cuci (kecil) Keran 0,5 1
Bak cuci tangan Keran 1 2
Bak cuci tangan,
Keran 3
untuk kamar operasi
Bak mandi rendam Keran pencampur
2 4
(Bath Tub) air dingin dan panas
Pancuran mandi Keran pencampur
2 4
(Shower) air dingin dan panas
Pancuran mandi Keran pencampur
2
Tunggal air dingin dan panas
Bak cuci bersama (untuk tiap keran) 2
Gedung kantor,
Bak cuci pel Keran 3 4
dsb.
Untuk umum:
Bak cuci dapur Keran 2 4 hotel atau
restoran, dll
Bak cuci piring Keran 5
Bak cuci pakaian
Keran 3
(satu sampai tiga)
Pancuran minimum Keran air bersih 2
Pemanas air Katup bola 2
Sumber : (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005)
Catatan:
1) Jumlah unit alat plambing baru bisa ditambahkan dengan alat
plambing yang airnya bergerak dengan kontinyu secara terpisah.
2) Alat plambing yang tidak ada pada tabel bisa diperhitungkan,
dengan mencocokkan dengan alat plambing yang menyerupai.
3) Alat plambing untuk kepentingan pribadi ditujukan untuk
apartemen atau rumah pribadi, di mana penggunaannya cukup
jarang.
4) Alat plambing untuk kepentingan umum ditujukan dalam gedung
pabrik, sekolah, kantor, dsb, di mana penggunaannya cukup sering.
17

Gambar. 2.5 Grafik hubungan antara unit beban alat plambing dengan laju aliran
2.2.5 Tekanan Air dan Kecepatan Aliran
Penggunaan air dengan tekanan yang kurang sesuai dapat menimbulkan
masalah. Tekanan yang terlalu besar bisa menyebabkan rasa sakit karena
semprotan air serta menimbulkan masalah peralatan plambing, dan menambah
probabilitas terbentuknya pukulan air. Besaran tekanan air yang bagus beredar
pada suatu tempat yang agak luas dan tergantung dalam ketentuan pengguna atau
alat yang perlu dijalankan.
Secara garis besar dapat disebutkan besarnya tekanan standar adalah 1,0
kg/cm2, sebaliknya tekanan statik seharusnya diusahakan antara 4,0 sampai 5,0
kg/cm2 untuk perkantoran dan antara 2,5 sampai 3,5 kg/cm 2 untuk perumahan dan
18

hotel. Selain itu, kurang lebih jenis peralatan plambing tidak bisa berjalan dengan
semestinya jikalau tekanannya kurang dari satu ketentuan minimum, ini adalah
ketentuan-ketentuan minimumnya:
Tabel 2.6 Tekanan yang dibutuhkan alat plambing.
Tekanan yang dibutuhkan Tekanan standar
Nama Alat
(kg/cm2) (kg/cm2)
Katup gelontor kloset 0.71)
Katup gelontor peturasan 0.42)
Keran yang menutup sendiri 0.7
Pancuran mandi dengan 1,0
0.7
pancaran halus/tajam
Pancuram mandi biasa 0.35
Keran biasa 0.3
Sumber : (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005)
Catatan:
1), 2) Untuk katup gelontor kloset dan katup gelontor peturasan, tekanan yang ada
pada tabel ini hanyalah tekanan statis saat air mengalir, untuk tekanan
maksimumnya sebesar 4 kg/cm2.
3) Khusus keran dengan katup otomatis, jikalau tekanan air tidak memenuhi
ketentuan minimum yang dipakai maka katup tidak bisa tertutup dengan
sempurna, alhasil air akan terus mengalir dari keran.
Cara menghitung tekanan untuk tiap lantai digunakan rumus berikut:
P = ρ x g x h…………………………….(2.6)
Keterangan: P = Tekanan (N/m2)
ρ = Kerapatan air (998,2 kg/m3)
g = Gravitasi (9,81 m/s2)
h = Tinggi Potensial (m)
Pukulan air berkemungkinan terjadi akibat kecepatan pada aliran air yang
terlewat tinggi, sedangkan ketentuan maksimumnya berkisar angka 1,5 sampai 2,0
m/detik. Untuk penentuan dimensi awal pipa selayaknya menggunakan ketentuan
kecepatan 2,0 m/detik (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo,
2005).
19

V= ............................................................... (2.7)

Keterangan : V = Kecepatan aliran (m/det)


Q = Laju aliran (m3/det)
D = Diameter pipa (m)

2.2.6 Peralatan Penyediaan Air Bersih


Terwujudnya sebuah sistem plambing tidak terhindar dari peralatan pada
penyediaan air bersih. Semua peralatan yang digunakan di seluruh daerah gedung
bagian dalam dan luar merupakan peralatan penyediaan air bersih. Berikut adalah
alat-alat penyediaan air bersih:
[Link] Pipa
Pipa adalah suatu selongsong lingkaran yang dipakai untuk mengalirkan
fluida. Ada berbagai macam pipa yang biasanya dipakai untuk instalasi pada
gedung seperti:
a) Pipa PVC (Poly Vinyl Chloride)
Pipa PVC biasanya dipakai untuk instalasi air bersih dan air kotor. Pipa ini
dibuat menggunakan campuran material vinyl plastic yang membuat pipa
memiliki sifat kuat, tidak berkarat, ringan dan memiliki viskositas yang
cukup tinggi.
b) Pipa HDPE (High Density Poly Ethylene)
Pipa HDPE merupakan pipa yang dibuat dari bahan poly ethylene yang
memiliki kepadatan tinggi alhasil bisa membendung daya tekan yang
cukup besar. Itulah kenapa pipa ini lebih cocok dipakai untuk instalasi air
panas.
c) Pipa PPR PN (Poly Propylene Random)
Pipa PPR PN dibuat menggunakan bahan plastik polypropylene yang
sesuai untuk instalasi air panas, bertekanan kuat, dan tidak mudah bocor di
daerah sambungan dan sangat kuat, pipa ini mempunyai dinding yang licin
dan telah menyandang ketentuan untuk instalasi air minum.
20

Kecepatan aliran, debit air serta jenis fluida yang akan dialirkan perlu
diperhatikan saat memutuskan jenis pipa yang akan dipakai. Aspek-aspek itu tadi
juga digunakan untuk menemukan dimensi pipa yang akan dipakai. Berikut ini
adalah cara untuk menemukan dimensi pipa yang akan dipakai:
Q = V.A

Q = V

4Q = πD2V

D2 =

D =√ ..........................................(2.8)

Keterangan : Q = Laju aliran air yang dibutuhkan (m3/s)


V = Kecepatan aliran air yangelalui pipa (m/s)
A = Luas penampang pipa (m2)
Kerugia-kerugian pasti dapat terjadi saat air mengalir pada pipa, diantara
lain kerugian gesek saat air mengalir dalam pipa, kerugian ketika melewati
belokan, katup, reducer dan lainnyaa, berikut adalah contoh kerugian:
a) Kerugian Head Mayor (Mayor Looses)
Kerugian pertama adalah head mayor yang dikarenakan oleh gesekan
antara fluida dengan bagian dinding dalam pipa atau karena kecepatan
fluida yang berubah-ubah (kerugian kecil). Sebelum menentukan kerugian
gesek pada pipa perlu diketahui terlebih dahulu jenis aliran yang mengalir,
apakah aliran turbulen, laminer, atau transisi. Cara untuk menentukan jenis
aliran tersebut dipakai persamaan Reynolds seperti berikut:
Re = ...................................................................... (2.9)

Keterangan : Re = Bilangan Reynolds (tak berdimensi)


v = Kecepatan rata-rata aliran dalam pipa (m/s)
D = Diameter pipa (m)

 = Viskositas kinematik zat cair (m2/s)


21

Umtuk Re < 2000, berarti aliran laminar


Re > 4000, berarti aliran turbulen
Re = 2000 - 4000, berarti aliran transisi
Selain itu kerugian gesek pada pipa bisa ditentukan dengan memakai
persamaan Darcy-Weisbach seperti :
hf = f ..................................................................... (2.10)

Keterangan : hf = Kerugian head karena gesekan (m)


F = Faktor gesekan (didapat dari diagram moody)
D = Diameter pipa (m)
L = Panjang pipa (m)
V = Kecepatan rata-rata aliran dalam pipa (m/s)
G = Percepatan gravitasi (9,81 m/s2)
Tabel 2.7 Nilai Kekasaran Untuk Berbagai Jenis Pipa
Kekasaran (e)
Bahan
Mm Ft
Brass 0.0015 0.000005
Concrete
- Steel forms, smooth 0.18 0.0006
- Good joints, average 0.36 0.0012
- Rough, visible form mark 0.6 0.002
Copper 0.0015 0.000005
Corrugated metal (CMP) 45 0.15
Iron
- Asphalted lined 0.12 0.0004
- Cast 0.26 0.00085
- Ductile ; DIP-Cement
0.12 0.0004
mortar lined
- Galvanized 0.15 0.0005
- Wrought 0.045 0.00015
Polyvinyl Chloride (PVC) 0.0015 0.000005
Polyethlene High Density
0.0015 0.000005
(HDPE)
Steel
- Enamel coated 0.0048 0.000016
- Riveted 0.9 - 9.0 0.003 - 0.03
- Seamless 0.004 0.000013
- Commercial 0.045 0.00015
22

Gambar 2.6. Diagram Moody


Hagen Poiseuille berpendapat untuk aliran laminar (Re<2000), hanya bilangan
Reynolds yang digunakan sebagai faktor gesekan. Alhasil rumus untuk
menentukan faktor geskan seperti berikut:

f= ............................................................................ (2.11)

Akan tetapi jika aliran bersifat turbulen maka rumus yang dipakai berbeda seperti
berikut:

hf = λ ............................................................... (2.12)

Untuk menentukan nilai λ harus memakai formula Darcy Weisbach untuk aliran
turbulen, persamaan yang digunakan seperti berikut :

λ = 0.020 + ...................................................... (2.13)

b) Kerugian Head Minor (Minor Looses)


Kerugian head minor dikarenakan oleh pergantian tiba-tiba dari geometri
aliran akibat aksesoris seperti belokan, perubahan dimensi pipa, reducer,
katup beserta bermacam-macam sambungan lain. Kerugian minor bisa
ditentukan dengan rumus berikut:
23

k n hf = ∑n.k. ................................................... (2.14)

Keterangan : hf = Kerugian head (m)


∑n = Jumlah kelengkapan pipa
K = Koefisien kerugian
v2 = Kecepatan aliran dalam pipa (m/s)
g = Percepatan gravitasi (9.81 m/s2)
c) Perlengkapan dan Aksesoris Pipa
1) Flens
Flens berguna sebagai penyambung pada ujung pipa antara pipa dengan
pipa lainnya dengan menggunakan mur dan baut. Biasanya flens
digunakan pada sambungan yang tidak tetap supaya mudah dirombak atau
diperbaiki.
2) Belokan
Belokan merupakan perlengkapan pada pipa yang berfungsi untuk
mengganti arah pipa ke sudut yang sesuai standar dan ketentuan dari sudut
belokan tersebut.
3) Katup (Valve)
Ada beberapa jenis katup yang bisa dipakai dalam sistem perpipaan.
Berikut adalah jenis-jenis katup yang biasa dipakai pada sistem plambing:
1. Katup Sorong (Gate Valve)
Apabila ada perbaikan atau kerusakan, katup ini dapat berguna untuk
membuka dan menutup instalasi pipa jika diperlukan. Pada umumnya
katup ini akan diaplikasikan di pipa cabang yang terletak sedekat
mungkin dengan pipa utama.
2. Katup searah (Check Valve)
Katup ini merupakan katup yang berguna untuk menghindari arus
balik yang berasal dari air pompa ketika aliran mati listrik.
24

3. Global Valve
Kurang lebih katup ini memiliki kegunaan yang sama seperti katup
sorong (gate valve), fungsi katup ini adalah membatasi atau mengatur
laju aliran dalam pipa cabang.
[Link] Tangki Air
Kebutuhan air bersih pada sistem plambing gedung yang terus menerus
mengharuskan direncanakannya peralatan penampung air atau biasa disebut
tangki air. Tangki air juga harus dapat menjamin kualitas air didalamnya. Berikut
adalah jenis-jenis tangki air:
a. Tangki Air Bawah
Sebelum air dari jaringan air bersih kota dipompa menuju jaringan pipa
penyediaan air gedung, air akan dialirkan melewati katup bola dan
ditampung kedalam tangki air bawah. Berikut rumus hubungan antara
kapasitas pipa dinas dengan kapasitas tangki air bawah:
Kapasitas tangki air untuk air bersih adalah:
VR = Qd – (Qs x T)....................................................... (2.15)
Keterangan : VR = Volume tangki air (m3)
Qd = Jumlah kebutuhan air per hari (m3/hari)
Qs = Kapasitas pipa dinas (m3/jam)
T = Rata–rata pemakaian air per hari (jam/hari)
b. Tangki Air Atas
Air dari tangki air bawah akan disedot menggunakan pompa menuju ke
tangki ini. Tangki atas direncanakan untuk memuat kebutuhan puncak, dan
pada umumnya direncanakan dengan kapasitas yang cukup untuk waktu
kebutuhan puncak tersebut, yang biasanya 30 menit. Pada kejadian
tertentu bisa terjadi jika kebutuhan puncak dimulai ketika muka air berada
pada kondisi terendah dalam tangki atas, alhasil harus ditentukan jumlah
air yang bisa ditampung pada waktu 10 hingga 15 menit dengan pompa
angkat. Berikut rumus untuk menentukan kapasitas efektif tangki atas:
VE= (Qp-Qmax) Tp-QpuxTpu.............................. (2.16)
25

Keterangan: VE = Kapasitas efektif tangki atas (m3)


QP = Kebutuhan puncak (m3/s)
Qmax = Kebutuhan jam puncak (m3/s)
Qpu = Kapasitas pompa pengisi (m3/s)
Tp = Jangka waktu kebutuhan puncak (menit)
Tpu = Jangka waktu kerja pompa pengisi (menit)
[Link] Pompa
a. Pompa Transfer
Air dapat mengalir dari tangki air bawah menuju ke tangki air atas dengan
menggunakan pompa transfer. Pada suatu sistem yang menggunakan
tangki air atas pada umumnya kapasitas pompa angkat dipilih sama
dengan kebutuhan air saat jam puncak (Qhmax). Berikut adalah rumus
untuk menentukan besar head pompa memakai persamaan bernouli:

H = Ha + ΔHp + Hi + .................................. (2.17)

Keterangan :
 Tinggi Potensial (Ha)
Jangka antara permukaan air tangki bawah gedung dengan permukaan air
tangki atas merupakan tinggi potensial.
 Perbedaan Head Tekanan pada Kedua Permukaan Air (ΔHp) berhubung
P1 dan P2 adalah tangki terbuka, jadi P1 dan P2 = 0, sehingga:
ΔHp = HP2 - HP1 =0m ...................................... (2.18)
 Kerugian head pada pipa (Hi)

 Tekanan kecepatan di lubang keluar pipa ( ) Sesudah memperoleh besar

head pompa angkat, lalu ditentukan besar daya pompa dengan memakai
persamaan:
Nh = (0.163) (Q) (H) (ɣ) .......................................... (2.19)
Keterangan: H = Tinggi angkat total (m)
Q = Kapasitas pompa (m3/menit)
ɣ = Berat spesifik (kg/liter)
26

b. Pompa Air Dorong (Booster Pump)


Air pada lantai 5 sampai roof floor dapat didistribusikan menggunakan
pompa air ini. Tidak diperlukan perincian head total untuk pompa ini,
sebab tekanan yang bisa dihasilkan adalah hal paling utama untuk pompa
ini. Tekanan pompa booster yang digunakan perlu mencukupi tekanan
minimum alat-alat plambing yaitu 2 kg/cm2 atau 196000 N/m2. Jumlah
penghuni yang menempati lantai 5 dapat menentukan kapasitas pompa
booster.
Q = n x kebutuhan air rata-rata ............................. (2.20)
Keterangan: Q = Kapasitas pompa angkat (m3/menit)
N = Jumlah pemakai (orang)
2.3 Dasar-dasar Sistem Pembuangan
Sistem pembuangan memiliki tujuan untuk menyalurkan air kotor atau air
bekas menuju ke tempat pengolahan sebelum diteruskan ke tempat pembuangan
umum supaya tidak mencemari lingkungan sekitar dan penggunanya. Sistem
pembuangan sama pentingnya dengan sistem penyediaan air bersih, jadi perlu
untuk direncanakan dengan matang menurut ketentuan dan syarat syarat yang
berlaku agar sistem pembuangannya bekerja dengan baik tanpa memberikan
dampak buruk kepada lingkungan luar gedung ataupun dalam gedung.
2.3.1 Jenis Air Buangan
Menurut buku Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing oleh
Soufyan Moh. Noerbambang dan Takeo Morimura bahwa air buangan dibagi
menjadi empat golongan. Air limbah atau yang biasa disebut air buangan, adalah
seluruh carian yang dibuang, entah itu mengandung kotoran hewan, tumbuhan,
manusia, ataupun yang mengandung sisa bahan-bahan dari pabrik. Berikut adalah
golongan-golongan air buangan:

1. Air kotor: air buangan yang mengandung kotoran manusia yang berasal
dari bidet, peturasan, kloset dan alat-alat plambing sejenisnya.
2. Air bekas: air buangan yang tidak sekeruh air kotor, air bekas berasal dari
alat-alat plambing seperti bak mandi (bath up), bak dapur, bak cuci tangan
dsb.
27

3. Air hujan: air buangan dari atap, genting, halaman dsb.


4. Air buangan khusus: air buangan yang mengandung racun, gas dan bahan
berbahaya yang berasal dari industri, air buangan dari rumah pemotongan
hewan yang bercampur dengan darah dan daging hewan, tempat
pengobatan, tempat pusat listrik tenaga nuklir yang berbahaya, tempat
pemeriksaan di rumah sakit, tempat laboratorium pengobatan atau
penelitian yang memakai bahan yang bersifat radioaktif. Selain itu salah
satu air buangan yang baru-baru ini digolongkan ke dalam kelompok ini
adalah air buangan restoran yang mengandung banyak lemak dan
mengandung heksan.

Air bekas dan air kotor juga disebut dengan air buangan harian karena
keduanya mudah dijumpai pada kehidupan sehari-hari.

2.3.2 Klasifikasi Sistem Pembuangan Air

Berikut adalah beberapa klasifikasi sistem pembuangan air pada umumnya


menurut lokasi mana yang cocok untuk dipasang, cara membuang air, dan
menurut jenis air buangan tersebut. (Sumber: Noerbambang, Soufyan &
Morimura, Takeo, 2005)

1. Klasifikasi menurut jenis air buangan


a) Sistem pembuangan air bekas
Merupakan sistem pembuangan di mana air bekas dari pancuran
mandi, bak cuci tangan pada gedung dicampurkan dan dibuang
keluar.
b) Sistem pembuangan air kotor
Merupakan sistem pembuangan di mana air kotor dari bidet,
peturasan, kloset pada gedung dicampurkan dan dibuang keluar.
c) Sistem pembuangan air hujan
Merupakan sistem pembuangan di mana hanya air hujan yang
turun ke atap gedung dialirkan dan dibuang ke luar.
28

d) Sistem air buangan khusus


Adalah sistem pembuangan di mana air buangan khusus dialirkan
dan dibuang ke luar dengan diproses terlebih dahulu agar
kandungan berbahaya pada air ini hilang sehingga menghindari
pencemaran lingkungan.
e) Sistem pembuangan air dari dapur
Merupakan sistem pembuangan di mana air dari dapur dialirkan
dan dibuang ke luar dengan diproses terlebih dahulu agar
kandungan lemak pada air ini hilang sehingga menghindari
pencemaran lingkungan.
2. Klasifikasi menurut cara pembuangan air
a) Sistem pembuangan air campuran
Adalah sistem pembuangan, di mana seluruh jenis air buangan
dicampurkan menuju suatu saluran dan dibuang ke luar gedung,
tanpa menggolongkan air buangan tersebut.
b) Sistem pembuangan terpisah
Adalah sistem pembuangan, di mana pembuangan ke luar gedung
dilakukan secara terpisah menurut jenis air buangan tersebut.
c) Sistem pembuangan tak langsung
Merupakan sistem pembuangan, di mana setiap lantai memiliki
sistem sendiri untuk mengumpulkan air buangan ke suatu
kelompok. Perlu pemecah aliran yang harus dipasang pada akhir
gabungan.
3. Klasifikasi menurut cara pengaliran
a) Sistem gravitasi
Di mana tidak diperlukan pompa karena seluruh sistem pengaliran
akan diletakkan lebih tinggi dari pada saluran umum sekitar.
b) Sistem bertekanan
Di mana saluran umum yang posisinya berada diatas sistem
pengaliran gedung, maka perlu bantuan dari pompa untuk
menaikkan air menuju ketinggian saluran umum.
29

4. Klasifikasi menurut letaknya


a) Sistem pembuangan gedung
Adalah sistem pembuangan dimana peralatan pembuangan berada
di dalam gedung hingga bagian luar gedung maksimal satu meter.
b) Sistem pembuangan di luar gedung atau roil gedung
Adalah sistem pembuangan dimana peralatan pembuangan berada
satu meter dari luar gedung hingga ke saluran umum.

2.3.4 Bagian-bagian Sistem Pembuangan

[Link] Pipa Sistem Pembuangan

Berikut bagian sistem pembuangan dengan nama dan istilah yang sama
dalam buku Pedoman Plambing Indonesia 1979.

a. Pipa pembuangan alat plambing


Merupakan pipa tegak yang dipasang untuk menghubungkan pipa
pembungan lainnya dengan perangkap alat plambing.
b. Cabang mendatar
Merupakan seluruh pipa mendatar yang berfungsi untuk menghubungkan
pipa tegak air buangan dengan pipa pembuangan alat plambing.
c. Pipa tegak air buangan
Merupakan pipa tegak yang menjadi tujuan pipa-pipa cabang mendatar
untuk mengalirkan air buangan.
d. Pipa tegak air kotor
Merupakan pipa tegak yang menjadi tujuan pipa-pipa cabang mendatar
untuk mengalirkan air kotor.
e. Pipa atau saluran pembuangan gedung
Merupakan pipa pembuangan air bekas, air kotor, dan air hujan, dari pipa-
pipa tegak yang berada dalam gedung.
f. Roil gedung
Merupakan pipa penghubung antara instalasi pengolahan dengan pipa
pembuangan, atau dengan roil umum yang berada di halaman gedung.
30

Bagian-bagian padat biasanya terkandung dalam pipa air buangan jadi


sistem pembuangan harus mampu mengalirkan dengan cepat . Jadi dengan
banyaknya air buangan yang harus dialirkan maka pipa pembuangan perlu dan
harus memiliki dimensi dan kemiringan yang cukup.

Tabel 2.8 Kemiringan Pipa Pembuangan Horisontal


Diameter pipa (mm) Kemiringan Minimum
75 atau kurang 1 / 50
100 atau kurang 1 / 100
Sumber : Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, (2005)
Pipa dengan kecepatan antara 0,6 sampai 1,2 m/detik adalah kecepatan
terbaik. Pipa dengan kecepatan 0,6 m/detik bisa diaplikasikan jika kemiringan
pipa pembuangan gedung dan roil gedung dibuat lebih landai. Bila kecepatan
dibawah ketentuan maka kotoran dalam air buangan dapat mengendap dan
menyumbat pipa. Namun apabila terlalu cepat dapat mengakibatkan turbulensi
aliran, yang bisa mengakibatkan perubahan tekanan dalam pipa. Kemudian ini
dapat merusak perangkap alat plambing dan fungsi air penutup. Selain itu, efek
sifon dapat terjadi di kemiringan yang lebih curam dari 1/50 yang dapat menyedot
air penutup dalam perangkap alat plambing.

Tabel 2.9 Diameter Minimum, Perangkap dan Pipa Buangan Alat Plambing
Diameter Diameter Pipa Buangan
No Alat Plambing Perangkap Alat Plambing Minimum
Minimum (mm) (mm)
1 Kloset 75 75
2 Peturasan
- Tipe menempel dinding 40 40
- Tipe gantung di dinding 40 – 50 40 – 50
- Tipe dengan kaki, siphon
jet 75 75
atau blow-out
- Untuk umum : untuk 2
50 50
orang
untuk 3 - 4 orang 65 65
untuk 5 - 6 orang 75 75
3 Bak cuci tangan (Lavatory) 32 32-40
Bak cuci tangan (wash
4
bashin)
- Ukuran biasa 32 32
- Ukuran kecil 25 25
Bak cuci, praktek dokter
5 gigi, 32 32-40
salon dan tempat cukur
31

6 Pancuran bersih 32 32
7 Bak mandi
- Berendam (bath tub) 40 – 50 40 – 50
- Model jepang (untuk
40 40 - 50
dirumah)
- Untuk umum 50 – 75 50 – 75
Pancuran mandi (dalam
8 50 50
ruangan)
9 Bidet 32 32
10 Bak cuci, untuk pel 65 65
- Ukuran besar 75 – 100 75 – 100
11 Bak cuci pakaian 40 40
Kombinasi bak cuci biasa
12 dan bak 50 50
cuci pakaian
Kombinasi bak cuci tangan,
13 untuk 40 – 50 40 – 50
2 - 4 orang
Bak cuci tangan, rumah
14 40 40-50
sakit
Bak cuci, laboratorium
15 40 – 50 40 – 50
kimia
16 Bak cuci, macam-macam
- Dapur, untuk rumah 40 – 50 40 – 50
- Hotel, Komersial 50 50
- Bar 32 32
- Dapur kecil, cuci piring 40-50 40-50
- Dapur, untuk cuci sayuran 50 50
- Penghancur kotoran
(disposer) 40 40
untuk rumah
- Penghancur kotoran
(disposer) 50 50
besar (untuk restoran)
Buangan Lantai (floor
17 40 – 75 40 – 75
drain)
Sumber : Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, (2005)

Tabel 2.10 Unit Alat Plambing Sebagai Beban, Setiap Alat atau Kelompok
Diameter
Unit Alat
Perangkap
No Alat Plambing Plambing
Minimum
Sebagai Beban
(mm)
1 Kloset : tangki gelontor 75 4
katup gelontor 8
2 Peturasan
- Tipe menempel dinding 40 4
- Tipe gantung di dinding 40 – 50 4
- Tipe dengan kaki, siphon jet atau blow-out 75 8
- Untuk umum, model palung setiap 0.60 m 2
3 Bak cuci tangan (Lavatory) 32 1
4 Bak cuci tangan (wash bashin)
- Ukuran biasa 32 1
32

- Ukuran kecil 25 0,5


5 Bak cuci, praktek dokter gigi 32 1
- alat perawatan gigi 32 0,5
6 Bak cuci, salon dan tempat cukur 32 2
7 Pancuran bersih 32 0,5
8 Bak mandi
- Berendam (bath tub) 40-50 3
- Model jepang (untuk dirumah) 40 2
- Untuk umum 50 – 75 4–6
Pancuran mandi :
9 2
- untuk rumah 50
- untuk umum, tiap pancuran 3
10 Bidet 32 3
11 Bak cuci, untuk pel 75 – 100 8
12 Bak cuci pakaian 40 2
13 Kombinasi bak cuci biasa dan bak cuci pakaian 50 3
Kombinasi bak cuci dapur dengan penghancur 40
14 4
kotoran (terpisah)
15 Bak cuci tangan, kamar bedah
- Ukuran besar 2
- Ukuran kecil 1,5
1,5
16 Bak cuci, laboratorium kimia 40 – 50
17 Bak cuci, macam-macam
- Dapur, untuk rumah 40 – 50 2-4
- Dapur, dengan pengahancur makanan, untuk
40 – 50 3
rumah
- Hotel, Komersial 50 4
- Bar 32 1,5
- Dapur kecil, cuci piring 40 – 50 2–4
18 Mesin cuci
- Untuk rumah 40 2
- Paralel, dihitung setiap orang - 0,5
19 Buangan Lantai (floor drain) 40 0,5
50 1
75 2
Kelompok alat plambing dalam kamar mandi
20 terdiri dari satu kloset, satu bak cuci tangan, satu
bak mandi rendam atau satu pancuran mandi :
- Dengan kloset tangki gelontor 6
- Dengan kloset katup gelontor 8
Pompa penguras (sump pump), untuk setiap 3.8
21 2
liter/min
Sumber : Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, (2005)
33

Tabel 2.11 Beban Maksimum Unit Alat Plambing yang Diizinkan, Untuk Cabang Horisontal dan Pipa Tegak Buangan.
Beban Maksimum Unit Alat Plambing yang Diizinkan, untuk Cabang Horisontal dan Pipa Tegak Buangan
Diameter
Satu pipa tegak setinggi 3 Pipa tegak dengan tinggi lebih dari 3 tingkat
pipa Cabang Mendatar
tingkat, atau untuk 3 interval Jumlah untuk satu pipa tegak Jumlah untuk cabang satu tingkat
Unit Unit
Unit
alat alat
Redu alat Redu Unit alat Unit alat Unit alat Unit alat Unit alat
plambi plambi Reduk Reduk
(mm) ksi plambi ksi plambing plambing plambing plambing plambing
ng ng si (%) si (%)
(%) ng (%) (NPC) (praktis) (NPC) (praktis) (NPC)
(prakti (prakti
(NPC)
s) s)
32 1 100 1 2 100 2 2 100 2 1 100 1
40 3 100 3 4 100 4 8 100 8 2 100 2
50 5 90 6 9 90 10 24 100 24 6 100 6
65 10 80 12 18 90 20 48 90 42 9 100 9
75 14 70 20 27 90 30 54 90 60 14 90 16
100 96 60 160 192 80 240 400 80 500 72 80 90
125 216 60 360 432 80 540 880 80 1100 160 80 200
150 372 60 620 768 80 960 1520 80 1900 280 80 350
200 840 60 1400 1760 80 2200 2880 80 3600 480 80 600
250 1500 60 2500 2660 70 3800 3920 70 5600 700 70 1000
300 2340 60 3900 4200 70 6000 5880 70 8400 1050 70 1500
375 3500 50 7000 - - - - - - - - -
Sumber : Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, (2005)
34

[Link] Lubang Pembersih dan Bak Kontrol

Sering kali kotoran terendap di pipa pembuangan yang menyebabkan


tersumbatnya pipa, maka dari itu perlu dilakukan pencegahan yaitu dengan lubang
pembersih. Lubang pembersih berfungsi untuk membersihkan dan mencegah pipa
tersumbat karena pengendapan ataupun yang lainnya, dan penempatannya harus
di tempat yang mudah di jangkau agar mudah dalam melaksanakan pembersih
pipa. Bagian luar gedung juga perlu dipasang bak kontrol yang akan mengkontrol
air kotor dari dalam gedung menuju ke riol umum.

[Link] Perangkap

Sistem plambing pasti ada dalam setiap gedung, akan tetapi alat plambing
tersebut tidak selalu terus terusan dipakai. Sebab itulah pipa pembuangan yang
kosong bisa terdapat gas berbau atau bahkan serangga.

Karena itu perlu diaplikasikan sebuah perangkap yang umumnya


berbentuk huruf “U” yang berfungsi untuk meredam komponen terakhir dari air
gelontor, jadi perangkap akan menutup pipa pembuangan agar mencegah gas atau
serangga masuk. Menurut (Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005)
perangkap alat plambing dapat dikelompokkan seperti berikut:

1. Perangkap pada alat plambing


2. Perangkap pada pipa pembuangan
3. Perangkap yang bergabung dengan alat plambing

[Link] Penangkap

Secara umum penangkap berfungsi untuk menangkap benda-benda atau


bahan yang menyumbat sistem plambing ataupun membahayakan lingkungan
sekitar setelah keluar menuju ke riol umum. Akan tetapi penangkap tidak akan
selalu menangkap semua bahan berbahaya tersebut. Beberapa jenis penangkap
menurut (Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005):

a. Penangkap lemak
b. Penangkap minyak
35

c. Penangkap gips
d. Penangkap rambut
e. Penangkap pasir
f. Penangkap pada tempat cuci pakaian

[Link] Bak Ekualisasi

Bak ekualisasi perlu digunakan untuk proses pengolahan air buangan,


karena konsentrasi polutan organik dan jumlah air buangan sangat berfluktuasi
sehingga dengan adanya bak ekualisasi pengolahan dapat berjalan dengan baik.
Pengolahan air buangan yang stabil adalah ketika debit air buangan yang diolah
untuk meratakan konsentrasi zat pencemarannya dapat diatur oleh bak ekualisasi.
Sebenarnya bak ekualisasi hanya berfungsi sebagai tampungan sementara, karena
air buangan pada nantinya akan dialirkan menutuju bangunan pengolah limbah
atau Sewage Treatment Plant (STP) setelah air buangan sudah tidak mengandung
bahan bahan berbahaya.
Perkiraan volume air buangan perlu ditentukan terlebih dahulu untuk
menghitung volume tampungan bak ekualisasi. Dengan tidak terpautnya koefisien
apapun pada perhitungan volume air buangan maka volume air buangan dapat
ditentukan dengan menggunakan rumus berikut:
Qab = Qd total x 80% ................................... (2.21)
Keterangan: Qab = Volume air buangan (m3/hari)
Qd = Jumlah debit total (m3/hari)
Hydraulic Retention Time (HRT) atau waktu tinggal dalam bak ekualisasi
biasanya berkisar antara 6 - 10 jam, Jadi untuk menentukan volume bak ekualisasi
dapat menggunakan rumus:

Volume Bak Ekualisasi = x a ...................................... (2.22)

Keterangan: HRT = Hydraulic retention time (jam)


A = Volume air buangan (m3/hari)
36

[Link] Pompa Pembuangan

Menurut buku Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, (2005) pompa


pembuangan dibedakan menjadi berbagai macam:

a. Jenis pompa menurut penggunaannya


1. Pompa air kotor
2. Pompa drainase
3. Pompa penguras
b. Jenis pompa menurut konstruksinya
1. Pompa horizontal
2. Pompa vertical
3. Pompa yang terbenam
c. Jenis pompa menurut pemasangannya
1. Pompa bak basah
2. Pompa bak kering

Anda mungkin juga menyukai