Sistem Plambing dan Penyediaan Air Bersih
Sistem Plambing dan Penyediaan Air Bersih
TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan utama dari sistem penyediaan air ini adalah menyuplai air bersih.
Air dengan kualitas yang tetap baik adalah prioritas nomor satu dari penyediaan
air . Terdapat aspek yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih selain
kualitas adalah kuantitas, kontinyuitas, sistem penyediaan air bersih yang dipakai,
pencegahan pencemaran air, tekanan air dan kecepatan aliran.
Salah satu sumber air yang mudah ditemukan adalah sumber air
Perusahaan Daerah Air Bersih atau biasa dikenal dengan PDAM yang sudah dapat
dipastikan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas air nya. Kasus lain untuk gedung
yang dibangun di daerah yang dimana fasilitas PDAM tidak tersedia seperti di
daerah kepulauan atau pegunungan yang terpencil jauh dari kota, maka sumber air
harus diambil dari air tanah atau dari sungai sekitar. Jika terjadi demikian air
tersebut harus diolah terlebih dahulu dengan instalasi pengolahan dalam gedung
hingga dicapai standar kualitas air bersih yang berlaku.
4
5
Hubungan fisik atau bersentuhannya dua sistem pipa yang berisi air
dengan kualitas berbeda, yaitu satu sistem pipa untuk air bersih dan sistem
pipa lainnya berisi air kotor adalah pengertian hubungan pintas, jadi ada
kemungkinan air dari satu sistem merembes ke sistem lainnya. Maka
sistem perpipaan air bersih dan peralatannya harus dijauhkan dari
rendaman air atau hal lain yang tercemar.
Aliran balik adalah masuknya aliran air, zat atau cairan lain ke dalam
sistem perpipaan air bersih, yang bersumber dari tempat lain yang tidak
ditujukan untuk air bersih. Aliran balik juga perlu dipikirkan selain
hubungan pintas dan ini dikarenakan oleh terjadinya efek siphon-balik
(back siphonage). Efek siphon balik adalah terjadinya aliran masuk ke
dalam pipa air bersih dari air kotor, air tercemar, air bekas dan tempat lain
dikarenakan oleh terjadinya tekanan negatif dalam pipa. Peralatan yang
dapat menimbulkan efek siphon-balik seperti menara pendingin, tangki
ekspansi, tangki air, kolam renang, bak cuci dapur, bak cuci tangan dan
lain sebagainya. Air yang berhenti secara mendadak dan perubahan
kecepatan aliran yang naik turun di dalam pipa adalah penyebab terjadinya
tekanan negatif . Tekanan negatif ini menyebabkan air kotor dari kolam
renang atau bak cuci tangan dapat masuk melalui slang air yang terendam.
6
Salah satu pencegahan aliran balik yang bisa dilakukan adalah dengan
memasang penahan aliran balik atau mempersiapkan tempat celah udara.
Pukulan air terjadi bilamana aliran air pada pipa diberhentikan dengan
tiba-tiba oleh katup dan keran, tekanan air di bagian atas dapat melonjak
dengan drastis dan mengakibatkan ombak tekanan yang dapat menjalar
dengan kecepatan tertentu, yang setelah itu dapat terpantul kembali ke
tempat sediakala. Tanda ini mengakibatkan kenaikan tekanan yang drastis
sekali hingga mengumpamai sebuah pukulan, dan diberi nama gejala
pukulan air (water hammer). Tekanan yang terjadi diberi nama tekanan
pukulan air (water hammer pressure). Pukulan air tersebut menimbulkan
beberapa persoalan seperti kerusakan pada peralatan plambing. Berikut
adalah keadaan saat pukulan air terjadi:
Ada berbagai sistem penyediaan air bersih yang biasa dipakai dan dapat
digolongkan seperti berikut (Sumber: Soufyan Moh. Noerbambang dan Takeo
Morimura, 2005).
Pada sistem ini pipa utama penyediaan air bersih akan langsung
tersambung dengan pipa distribusi pada gedung. Dengan tekanan yang
terbatas pada pipa utama dan terbatasnya dimensi pipa cabang dari pipa
utama tersebut, jadi sistem ini hanya bisa dilakukan untuk gedung kecil
dan perumahan.
Pada sistem ini, air akan tertampung terlebih dahulu pada tangki bawah,
lalu dipompakan menuju ke tangki atas yang umumnya disetel di lantai
paling atas bangunan atau di atap. Kemudian air akan dialirkan ke semua
bangunan dari tangki air ini. Sistem tangki atap sering dipasang karena
beberapa faktor seperti berikut ini:
8
Bilamana tekanan air pada pipa utama sangat besar, air bisa langsung
menuju tangki atap tanpa dipendam pada tangki bawah dan dipompa.
Teori kerja sistem ini adalah air akan dipompakan ke dalam suatu tabung
dari tampungan tangki bawah hingga udaranya akan terkompresi. Air bisa
langsung dialirkan ke seluruh sistem aliran bangunan dari tangki tersebut.
Detektor tekanan akan mengatur pompa agar dapat bekerja secara
otomatik, yang bisa menjalankan dan mematikan saklar motor listrik
9
1) Lebih bagus dari segi artistik karena sistem tangki tekan tidak
begitu mencolok daripada tangki atap.
2) Perawatan yang cenderung lebih mudah karena dapat diterapkan
pada ruangan mesin dengan pompa lainnya.
3) Untuk pemasangan awal harga yang ditawarkan lebih murah
ketimbang sistem tangki atap yang diterapkan di atas menara.
Kelemahan-kelemahannya:
Inti dari sistem ini adalah tidak dipakainya tangki dengan jenis apapun
seperti tangki atap atau pun tangki tekan. Air langsung dipompakan
menuju sistem distribusi bangunan dan menyedot air langsung dari pipa
utama. Pemerintah Indonesia melarang dan menghimbau perusahaan air
minum untuk tidak menggunakan sistem ini.
11
Tabel 2.2 Laju Aliran Air Berdasarkan Nilai Unit Alat Plambing Kumulatif
6 0,68 6 1,10
7 0,74 7 1,25
8 0,81 8 1,40
9 0,86 9 1,55
10 0,92 10 1,70
12 1,01 12 1,80
14 1,07 14 1,91
16 1,14 16 2,01
18 1,19 18 2,11
20 1,24 20 2,21
25 1,36 25 2,40
30 1,47 30 2,65
35 1,57 35 2,78
40 1,66 40 2,90
45 1,76 45 3,03
50 1,84 50 3,15
60 2,02 60 3,41
70 2,21 70 3,66
80 2,41 80 3,86
90 2,59 90 4,06
Terdapat tiga metoda untuk menentukan laju aliran air, seperti jumlah
penghuni, berdasar jenis dan jumlah alat plambing, dan berdasar unit beban alat
plambing (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005) Lebih
jelasnya sebagai berikut:
Jumlah penghuni :
.……...............................………. (2.1)
Qh = ................................................................................ (2.2)
( )
𝑌𝑛 = 𝑌1 – (𝑌 [ 𝑌 ) ( )
]...................................... (2.5)
Dimana : Yn = Faktor pemakaian (%)
Y1 = Jenis alat plambing pada jumlah 1
Y2 = Jenis alat plambing pada jumlah 2
X1 = Jumlah alat plambing 1
X2 = Jumlah alat plambing 2
Xn = Jumlah alat plambing yang akan dicari
15
Tabel 2.4 Pemakaian air tiap alat plambing dan laju aliran airnya
Pemakaian
air Waktu
Nama alat Laju aliran
No untuk Penggunaan untuk
plambing air
penggunaan per jam pengisian
alat (liter/menit)
satu (detik)
kali (liter)
Kloset (dengan
1 13,5-16,5 6 - 12 110-180 8,2-10
katup gelontor)
Kloset (dengan
2 13-15 6 - 12 15 60
tangki gelontor)
Peturasan
3 (dengan katup 5 12-20 30 10
gelontor)
Peturasan, 2-4
9 – 18
4 orang (dengan 12 1,8-3,6 300
(@4,5)
tangki gelontor)
Peturasan, 5-7
22,5-31,5 300
5 orang (dengan 12 4,5-6,3
(@4,5)
tangki gelontor)
Bak cuci
6 3 12-20 10 18
tangan kecil
Bak cuci
10 6 - 12
7 tangan biasa 15 40
(lavatory)
Bak cuci dapur
8 (sink) dengan 15 6-12 15 60
keran 13 mm
Bak cuci dapur
9 (sink) dengan 25 6-12 25 60
keran 22 mm
Bak mandi
10 rendam 125 3 30 250
(bathtub)
Pancuran mandi
11 24-60 12 120-300
(shower)
Bak mandi gaya Tergantung
12 3 30
Jepang ukurannya
Sumber : (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005)
c. Penaksiran Berdasarkan Unit Beban Alat Plambing
Unit beban (fixture unit) setiap alat plambing perlu ditetapkan pada
metode ini . Untuk setiap komponen pipa ditambahkan besarnya unit
beban dari semua alat plambing yang dijalankan, lalu besarnya laju aliran
dicari menggunaka kurva. Jalinan antara laju aliran air dengan jumlah unit
alat plambing dapat diketahui dengan kurva , dengan menginputkan faktor
kemungkinan pemakaian serentak dari semua alat plambing.
16
Gambar. 2.5 Grafik hubungan antara unit beban alat plambing dengan laju aliran
2.2.5 Tekanan Air dan Kecepatan Aliran
Penggunaan air dengan tekanan yang kurang sesuai dapat menimbulkan
masalah. Tekanan yang terlalu besar bisa menyebabkan rasa sakit karena
semprotan air serta menimbulkan masalah peralatan plambing, dan menambah
probabilitas terbentuknya pukulan air. Besaran tekanan air yang bagus beredar
pada suatu tempat yang agak luas dan tergantung dalam ketentuan pengguna atau
alat yang perlu dijalankan.
Secara garis besar dapat disebutkan besarnya tekanan standar adalah 1,0
kg/cm2, sebaliknya tekanan statik seharusnya diusahakan antara 4,0 sampai 5,0
kg/cm2 untuk perkantoran dan antara 2,5 sampai 3,5 kg/cm 2 untuk perumahan dan
18
hotel. Selain itu, kurang lebih jenis peralatan plambing tidak bisa berjalan dengan
semestinya jikalau tekanannya kurang dari satu ketentuan minimum, ini adalah
ketentuan-ketentuan minimumnya:
Tabel 2.6 Tekanan yang dibutuhkan alat plambing.
Tekanan yang dibutuhkan Tekanan standar
Nama Alat
(kg/cm2) (kg/cm2)
Katup gelontor kloset 0.71)
Katup gelontor peturasan 0.42)
Keran yang menutup sendiri 0.7
Pancuran mandi dengan 1,0
0.7
pancaran halus/tajam
Pancuram mandi biasa 0.35
Keran biasa 0.3
Sumber : (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, 2005)
Catatan:
1), 2) Untuk katup gelontor kloset dan katup gelontor peturasan, tekanan yang ada
pada tabel ini hanyalah tekanan statis saat air mengalir, untuk tekanan
maksimumnya sebesar 4 kg/cm2.
3) Khusus keran dengan katup otomatis, jikalau tekanan air tidak memenuhi
ketentuan minimum yang dipakai maka katup tidak bisa tertutup dengan
sempurna, alhasil air akan terus mengalir dari keran.
Cara menghitung tekanan untuk tiap lantai digunakan rumus berikut:
P = ρ x g x h…………………………….(2.6)
Keterangan: P = Tekanan (N/m2)
ρ = Kerapatan air (998,2 kg/m3)
g = Gravitasi (9,81 m/s2)
h = Tinggi Potensial (m)
Pukulan air berkemungkinan terjadi akibat kecepatan pada aliran air yang
terlewat tinggi, sedangkan ketentuan maksimumnya berkisar angka 1,5 sampai 2,0
m/detik. Untuk penentuan dimensi awal pipa selayaknya menggunakan ketentuan
kecepatan 2,0 m/detik (Sumber: Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo,
2005).
19
V= ............................................................... (2.7)
Kecepatan aliran, debit air serta jenis fluida yang akan dialirkan perlu
diperhatikan saat memutuskan jenis pipa yang akan dipakai. Aspek-aspek itu tadi
juga digunakan untuk menemukan dimensi pipa yang akan dipakai. Berikut ini
adalah cara untuk menemukan dimensi pipa yang akan dipakai:
Q = V.A
Q = V
4Q = πD2V
D2 =
D =√ ..........................................(2.8)
f= ............................................................................ (2.11)
Akan tetapi jika aliran bersifat turbulen maka rumus yang dipakai berbeda seperti
berikut:
hf = λ ............................................................... (2.12)
Untuk menentukan nilai λ harus memakai formula Darcy Weisbach untuk aliran
turbulen, persamaan yang digunakan seperti berikut :
3. Global Valve
Kurang lebih katup ini memiliki kegunaan yang sama seperti katup
sorong (gate valve), fungsi katup ini adalah membatasi atau mengatur
laju aliran dalam pipa cabang.
[Link] Tangki Air
Kebutuhan air bersih pada sistem plambing gedung yang terus menerus
mengharuskan direncanakannya peralatan penampung air atau biasa disebut
tangki air. Tangki air juga harus dapat menjamin kualitas air didalamnya. Berikut
adalah jenis-jenis tangki air:
a. Tangki Air Bawah
Sebelum air dari jaringan air bersih kota dipompa menuju jaringan pipa
penyediaan air gedung, air akan dialirkan melewati katup bola dan
ditampung kedalam tangki air bawah. Berikut rumus hubungan antara
kapasitas pipa dinas dengan kapasitas tangki air bawah:
Kapasitas tangki air untuk air bersih adalah:
VR = Qd – (Qs x T)....................................................... (2.15)
Keterangan : VR = Volume tangki air (m3)
Qd = Jumlah kebutuhan air per hari (m3/hari)
Qs = Kapasitas pipa dinas (m3/jam)
T = Rata–rata pemakaian air per hari (jam/hari)
b. Tangki Air Atas
Air dari tangki air bawah akan disedot menggunakan pompa menuju ke
tangki ini. Tangki atas direncanakan untuk memuat kebutuhan puncak, dan
pada umumnya direncanakan dengan kapasitas yang cukup untuk waktu
kebutuhan puncak tersebut, yang biasanya 30 menit. Pada kejadian
tertentu bisa terjadi jika kebutuhan puncak dimulai ketika muka air berada
pada kondisi terendah dalam tangki atas, alhasil harus ditentukan jumlah
air yang bisa ditampung pada waktu 10 hingga 15 menit dengan pompa
angkat. Berikut rumus untuk menentukan kapasitas efektif tangki atas:
VE= (Qp-Qmax) Tp-QpuxTpu.............................. (2.16)
25
Keterangan :
Tinggi Potensial (Ha)
Jangka antara permukaan air tangki bawah gedung dengan permukaan air
tangki atas merupakan tinggi potensial.
Perbedaan Head Tekanan pada Kedua Permukaan Air (ΔHp) berhubung
P1 dan P2 adalah tangki terbuka, jadi P1 dan P2 = 0, sehingga:
ΔHp = HP2 - HP1 =0m ...................................... (2.18)
Kerugian head pada pipa (Hi)
head pompa angkat, lalu ditentukan besar daya pompa dengan memakai
persamaan:
Nh = (0.163) (Q) (H) (ɣ) .......................................... (2.19)
Keterangan: H = Tinggi angkat total (m)
Q = Kapasitas pompa (m3/menit)
ɣ = Berat spesifik (kg/liter)
26
1. Air kotor: air buangan yang mengandung kotoran manusia yang berasal
dari bidet, peturasan, kloset dan alat-alat plambing sejenisnya.
2. Air bekas: air buangan yang tidak sekeruh air kotor, air bekas berasal dari
alat-alat plambing seperti bak mandi (bath up), bak dapur, bak cuci tangan
dsb.
27
Air bekas dan air kotor juga disebut dengan air buangan harian karena
keduanya mudah dijumpai pada kehidupan sehari-hari.
Berikut bagian sistem pembuangan dengan nama dan istilah yang sama
dalam buku Pedoman Plambing Indonesia 1979.
Tabel 2.9 Diameter Minimum, Perangkap dan Pipa Buangan Alat Plambing
Diameter Diameter Pipa Buangan
No Alat Plambing Perangkap Alat Plambing Minimum
Minimum (mm) (mm)
1 Kloset 75 75
2 Peturasan
- Tipe menempel dinding 40 40
- Tipe gantung di dinding 40 – 50 40 – 50
- Tipe dengan kaki, siphon
jet 75 75
atau blow-out
- Untuk umum : untuk 2
50 50
orang
untuk 3 - 4 orang 65 65
untuk 5 - 6 orang 75 75
3 Bak cuci tangan (Lavatory) 32 32-40
Bak cuci tangan (wash
4
bashin)
- Ukuran biasa 32 32
- Ukuran kecil 25 25
Bak cuci, praktek dokter
5 gigi, 32 32-40
salon dan tempat cukur
31
6 Pancuran bersih 32 32
7 Bak mandi
- Berendam (bath tub) 40 – 50 40 – 50
- Model jepang (untuk
40 40 - 50
dirumah)
- Untuk umum 50 – 75 50 – 75
Pancuran mandi (dalam
8 50 50
ruangan)
9 Bidet 32 32
10 Bak cuci, untuk pel 65 65
- Ukuran besar 75 – 100 75 – 100
11 Bak cuci pakaian 40 40
Kombinasi bak cuci biasa
12 dan bak 50 50
cuci pakaian
Kombinasi bak cuci tangan,
13 untuk 40 – 50 40 – 50
2 - 4 orang
Bak cuci tangan, rumah
14 40 40-50
sakit
Bak cuci, laboratorium
15 40 – 50 40 – 50
kimia
16 Bak cuci, macam-macam
- Dapur, untuk rumah 40 – 50 40 – 50
- Hotel, Komersial 50 50
- Bar 32 32
- Dapur kecil, cuci piring 40-50 40-50
- Dapur, untuk cuci sayuran 50 50
- Penghancur kotoran
(disposer) 40 40
untuk rumah
- Penghancur kotoran
(disposer) 50 50
besar (untuk restoran)
Buangan Lantai (floor
17 40 – 75 40 – 75
drain)
Sumber : Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, (2005)
Tabel 2.10 Unit Alat Plambing Sebagai Beban, Setiap Alat atau Kelompok
Diameter
Unit Alat
Perangkap
No Alat Plambing Plambing
Minimum
Sebagai Beban
(mm)
1 Kloset : tangki gelontor 75 4
katup gelontor 8
2 Peturasan
- Tipe menempel dinding 40 4
- Tipe gantung di dinding 40 – 50 4
- Tipe dengan kaki, siphon jet atau blow-out 75 8
- Untuk umum, model palung setiap 0.60 m 2
3 Bak cuci tangan (Lavatory) 32 1
4 Bak cuci tangan (wash bashin)
- Ukuran biasa 32 1
32
Tabel 2.11 Beban Maksimum Unit Alat Plambing yang Diizinkan, Untuk Cabang Horisontal dan Pipa Tegak Buangan.
Beban Maksimum Unit Alat Plambing yang Diizinkan, untuk Cabang Horisontal dan Pipa Tegak Buangan
Diameter
Satu pipa tegak setinggi 3 Pipa tegak dengan tinggi lebih dari 3 tingkat
pipa Cabang Mendatar
tingkat, atau untuk 3 interval Jumlah untuk satu pipa tegak Jumlah untuk cabang satu tingkat
Unit Unit
Unit
alat alat
Redu alat Redu Unit alat Unit alat Unit alat Unit alat Unit alat
plambi plambi Reduk Reduk
(mm) ksi plambi ksi plambing plambing plambing plambing plambing
ng ng si (%) si (%)
(%) ng (%) (NPC) (praktis) (NPC) (praktis) (NPC)
(prakti (prakti
(NPC)
s) s)
32 1 100 1 2 100 2 2 100 2 1 100 1
40 3 100 3 4 100 4 8 100 8 2 100 2
50 5 90 6 9 90 10 24 100 24 6 100 6
65 10 80 12 18 90 20 48 90 42 9 100 9
75 14 70 20 27 90 30 54 90 60 14 90 16
100 96 60 160 192 80 240 400 80 500 72 80 90
125 216 60 360 432 80 540 880 80 1100 160 80 200
150 372 60 620 768 80 960 1520 80 1900 280 80 350
200 840 60 1400 1760 80 2200 2880 80 3600 480 80 600
250 1500 60 2500 2660 70 3800 3920 70 5600 700 70 1000
300 2340 60 3900 4200 70 6000 5880 70 8400 1050 70 1500
375 3500 50 7000 - - - - - - - - -
Sumber : Noerbambang, Soufyan & Morimura, Takeo, (2005)
34
[Link] Perangkap
Sistem plambing pasti ada dalam setiap gedung, akan tetapi alat plambing
tersebut tidak selalu terus terusan dipakai. Sebab itulah pipa pembuangan yang
kosong bisa terdapat gas berbau atau bahkan serangga.
[Link] Penangkap
a. Penangkap lemak
b. Penangkap minyak
35
c. Penangkap gips
d. Penangkap rambut
e. Penangkap pasir
f. Penangkap pada tempat cuci pakaian