0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan11 halaman

Kerusakan dan Pemeliharaan Tali Kawat

Wire rope terdiri dari kawat, strand, dan inti. Digunakan untuk haulage slope, hoisting shaft, dan cable way. Perlu dipahami kerusakan seperti aus, putus, korosi, deformasi, dan pemeliharaan agar umur wire rope maksimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan11 halaman

Kerusakan dan Pemeliharaan Tali Kawat

Wire rope terdiri dari kawat, strand, dan inti. Digunakan untuk haulage slope, hoisting shaft, dan cable way. Perlu dipahami kerusakan seperti aus, putus, korosi, deformasi, dan pemeliharaan agar umur wire rope maksimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

WIRE ROPE (TALI KAWAT)

Wire rope merupakan sejenis kabel yang terdiri dari 3 komponen : wire, strand, dan core.

Penggunaan wire rope antara lain :

1) Slope haulage rope, seperti pada rope scraper; rope haulage system

2) Shaft hoisting system

3) Cable way

Umur wire rope sedapat mungkin digunkana seumur tambang, oleh karena itu harus dibuat dari
baja berkualitas tinggi. Serta perlu memahami kerusakan yang akan timbul dan
pemeliharannya.

A. Kerusakan Dan Pemeliharaan Tali Kawat

A.1 Kerusakan Tali Kawat

(1) Keausan

Ada dua macam keausan pada tali kawat, yaitu keausan dalam dan keausan luar yang
mengakibatkan berkurangnya diameter.

Keausan dalam terjadi karena gesekan di antara sesama kawat penyusun tali, sedangkan
keausan luar adalah aus yang disebabkan kontak antara tali kawat dengan drum, sheave,
guide wheel, dan lain-lain, serta keausan karena korosi.

Apabila alur sheave aus secara tidak merata, tali kawat tidak akan aus merata dalam arah
melingkar (keausan konsentris), dan kadang kala hanya satu sisi tali yang aus (keausan
eksentris), yang mana meningkatkan kelemahannya, dan pengurangan beban putusnya
menjadi maksimum (gampang putus).

Untuk mencegah keausan, bukan saja dengan memberi minyak pelumas pada tali kawat,
tetapi harus berusaha memelihara trek, guide wheel, sheave dan lain-lain.

(2) Putus

Pada tabel 1 ditunjukkan penyebab putus dan kondisi putus tali kawat.

Tabel 1 : Penyebab putus dan kondisi putus tali kawat

Penyebab putus Kondisi putus yang dominan pada kawat

Gaya tarik terlalu besar,


Gaya tarik kejutan (sentakan), beban Penampang putus menyusut dan mengerut
berlebih

Keausan Penampang patah meruncing dan seperti diasah

Permukaan tidak rata dan kasar, dan penampang


Korosi Kurang pelumas, air, gas
patah menjadi kecil

Tekuk (primer, sekunder, Permukaan patah tegak lurus terhadap sumbu


Kelelahan
tersier) kawat dan halus

Geser (Shear) Penampang patah miring terhadap sumbu kawat

Kawat terpuntir dan penampang patah tegak lurus


Puntir Kink
terhadap sumbu kawat

Kawat menjadi gepeng di dekat penampang patah


Tekanan
dan menjadi datar

Dari bagian luar yang rusak terjadi retakan yang


Kerusakan luar
mengakibatkan putus

Bidang yang mengalamai keausan sangat


Martensit lokal Spark, panas akibat gesekan mengkilap (metalik) dan permukaan menjadi
martensit

Menjadi gepeng di permukaan aus dan di dekat


Pengerasan kerja Tekanan kontak terlalu besar permukaan mengalami pengerasan kerja yang
hebat

Penggetasan Penampang patah seperti ranting kayu tua yang


Pickling yang kurang baik
Hidrogen dipatahkan dan relatif kasar
Kesalahan dalam Pengelasan kawat yang
Bagian kawat yang dilas terpisah/lepas
proses produksi kurang baik

(3) Korosi

Secara garis besar korosi dibagi menjadi korosi luar dan korosi dalam, di mana korosi luar
disebabkan oleh terlepas atau melelehnya lapisan minyak pelumas karena kelembaban, air
hujan atau gas beracun, sehingga permukaan logam kawat terbuka. Sedangkan, apabila
kandungan minyak pelumas kawat inti berkurang, air akan merembes masuk
menggantikan minyak pelumas, dan mengakibatkan keausan dalam. Ada kalanya diameter
tali kawat berkurang banyak oleh keausan dalam dan korosi, walaupun keausan luarnya
kecil.

Pada umumnya, tali kawat menjadi lemah terhadap korosi dengan bertambah besarnya
kekuatan tarik. Untuk tali kawat dengan diameter yang sama, ketahanan terhadap korosi
menjadi rendah dengan mengecilnya diameter kawat.

Untuk mencegah korosi sudah barang tentu harus menghindari air, gas dan penyebab
lainnya, tetapi adalah sulit melakukannya secara sempurna, sehingga korosi
ditangggulangi dengan plating (pelapisan) dan pengolesan minyak pelumas. Pelapisan
yang umum dilakukakan adalah galvanisasi. Sebagai minyak pelumas terdapat pelumas
tali hitam dan pelumas tali merah. Yang pertama digunakan untuk tali kawat polos dan
yang kedua digunakan untuk tali kawat yang berlapisan.

Pelumas tali kawat harus memenuhi kondisi sebagai berikut :

① Tidak mengandung asam atau basa (alkali) yang beracun atau air.

② Tidak larut dalam air.

③ Tidak berubah sifat oleh cairan asam dan cairan basa.

④ Tidak mudah menguap (volatile).

⑤ Harus tahan cuaca, tidak kehilangan fleksibilitas dan juga tidak berubah sifat serta dapat
mempertahankan viskositas, walaupun terbuka terhadap udara luar dalam waktu lama.

⑥ Mudah meresap masuk ke dalam celah kawat inti dan tali kawat.

⑦ Mudah melekat dan tidak mudah terlepas.

⑧ Memiliki viskositas yang mudah untuk dioles.

⑨ Tidak mudah retak atau terlepas walaupun temperatur tali turun.


⑩ Tidak mudah meleleh dan mengalir walaupun temperatur tali naik.

Karena pelumas harus memenuhi kondisi seperti yang ditunjukkan di atas yang kadang
saling bertolak belakang, maka biasanya pelumas dipanaskan dulu, sebelum dimasukkan
ke dalam bak celup atau dioles dengan kuas. Dalam hal ini, batas pemanasan adalah 60oC,
dan telah diketahui, bahwa hasil yang lebih baik dicapai oleh pelumas yang dapat dioles
pada temperatur yang lebih rendah dari 60oC.

(4) Deformasi

Jenis deformasi tali kawat sangat beragam, dan untuk deformasi yang sama kadang
diberikan nama yang bervariasi. Pada tabel 2 ditunjukkan klasifikasi deformasi tersebut.

Tabel 2 : Jenis deformasi

Nama Kondisi dominan pada deformasi Penyebab

Tergosok (ironing), pengikatan


Kebulatan Penyok, strand yang masuk tenggelam
ujung tali yang tidak baik

Kelurusan Menekuk, berombak, kink, melengkung Tergosok, kink

Inti tali keluar, terbuka, mengambang, Reaksi dari kawat yang putus,
Pilinan
kawat samping dan kawat inti strand keluar dies yang kurang kencang

Kesamaan diameter Tali inti putus, pemusatan tali inti Penekukan yang mendadak

Memanjang dan menyusutnya pitch,


Perubahan jalinan Tergosok
ketidaksamaan pitch

A.2 Kelelahan Tekuk

Terjadinya tali yang putus oleh kelelahan tekuk disebabkan tekukan tali itu sendiri oleh
sheave atau drum (tekukan primer), kemudian tekukan yang disebabkan kawat yang
tertekan oleh lapisan dalam di bawah ketika kawat bersilangan dengan lapisan dalam
(tekukan sekunder), dan tekukan lokal atau tekukan berulang lokal yang disebabkan
deformasi atau mengambangnya kawat (tekukan tersier). Dahulu, tekukan primer saja
yang dianggap penting, sehingga tali kawat yang terdiri dari kawat halus dianggap lebih
baik terhadap kelelahan tekuk. Tetapi, sekarang, telah diketahui, bahwa kadang kala
tekukan sekunder dan tersier demikian besar, sehingga tidak dapat diabaikan. Tali 619
dengan jalinan kontak titik, lebih lemah terhadap kelelahan tekuk dari pada tali 67 dengan
kawat besar yang jalinan kontak garis. Hal ini disebabkan, jalinan kontak titik lebih kuat
menerima tekukan sekunder. Berdasarkan alasan ini, dapat diketahui urutan ketahanan tali
tehadap tekukan mulai dari yang lemah ke kuat adalah jalinan kontak titik, jalinan kontak
garis dan jalinan kontak bidang. (Lihat gambar 22)

A.3 Sentakan dan Kelelahan

Apabila drum dijalankan atau direm secara mendadak, atau kecepatannya diubah
mendadak, atau diberi sentakan pada tali yang gulungan di drumnya tidak teratur, maka
tali akan bergetar, yang bukan saja menyebabkan tali menghantam drum, tetapi kadang
kala menghantam juga benda-benda di dekatnya. Kalau proses ini berulang-ulang, kawat
akan tertekan penyok dan mengalami kelelahan. Terutama pada tali yang tua, energi yang
menyerap gaya sentakan (tumbukan), yakni regangan maksimumnya (berkurang karena
kelelahan) telah berkurang, sehingga harus hati-hati. Persentase regangan pada uji potong
tali kawat baru, untuk tali 67 adalah sekitar 3,8~4,5%, dan untuk tali konsentris sekitar
3,9~4,9%. Dari berbagai eksperimen diketahui, bahwa tali yang persentase regangan uji
potongnya telah turun menjadi sekitar 2%, kekuatan sisanya tinggal 80%, sehingga lebih
baik dihentikan penggunaannya dan disingkirkan.

Selain itu, ada hasil eksperimen lain, yaitu tali bekas pakai yang luas penampang efektifnya
telah berkurang 10~15%, regangan dan ketahanan tumbukannya menjadi setengah.

Cara menjalin dandangambar


Cara menjalin penampang
gambar penampang tali biasa tali jalinan
sejajar
Jalinan kontak titik

Cara menjalin dan gambar penampang tali jalinan sejajar

Tipe filler (tipe Fi)


Jalinan kontak garis

Cara menjalin dan gambar penampang star rope

Star rope
Jalinan kontak bidang

Kawat samping dan kawat inti


mengalami kontak bidang

Cara menjalin dan gambar penampang sun rope, slough


rope, tough rope, corona rope dan lain-lain

Setiap kawat dalam


keadaan kontak bidang

Gambar 1 : Kondisi kontak sesama kawat


Penyimpanan Tali Kawat

(1) Jangan membiarkan tali kehujanan dan kepanasan (kena terik matahari). Pada waktu
menyimpannya, tali digulung pada drum kayu, dan sebaiknya diletakkan di dalam
bangunan yang ventilasinya bagus dan kering.

(2) Hindari tempat dengan temperatur dan kelembaban yang tinggi, serta tempat yang terlalu
kering.

(3) Apabila penyimpanannya menjadi lama, kandungan minyak pelumas pada kawat inti
berkurang, dan pada waktu digunakan akan mengakibatkan keausan bagian dalam dan
korosi bagian dalam, sehingga harus ditambahkan minyak pelumas baru.

A.4 Cara Mengurai Tali Kawat Dan Seizing (Lihat gambar 2)

Tali kawat mempunyai sifat untuk cenderung kink, sehingga menggulung dan mengulur
tali harus dilakukan dengan cara yang benar. Pengulungan dan penguluran dilakukan
dengan memutar batang yang melalui bingkai tali sedikit demi sedikit, sambil hati-hati
agar tidak terlalu banyak mengeluarkan tali. Untuk tali kawat berdiameter besar, sebaiknya
dipasang rem pada bingkai tali kawat yang dapat mengatur putaran.

Apabila akan memotong tali kawat atau mengurai ujungnya, perlu melakukan seizing yang
cukup untuk mencegah membaliknya jalinan tali. Diameter kawat besi galvanis atau tali
kawat yang digunakan untuk seizing dipilih yang sekitar 0,5~3mm, tergantung dari
diameter tali. Panjang seizing yang standar adalah sekitar 3 kali diameter tali. Tali jalinan
Lang lebih mudah terdeformasi dibanding dengan tali jalinan biasa, sehingga perlu
dilakukan seizing 6~9 kali diameter tali dan dilaksanakan di lebih dari 4 posisi.
Tali jalinan Z Tali jalinan S
Penguraian yang betul Penguraian yang salah Tangan kanan Tangan kiri
(telapak tangan

+ kink
di bawah)
Tali atas

- kink

Cara menguraikan tali


(telapak tangan
Tali bawah
di atas)

Betul

Cara menggulung pada drum

Salah

Cara menggulung tali yang betul Seizing

Gambar 2
A.5 Kink (Lihat gambar 3)

Kink adalah keadaan yang terjadi dengan memberikan puntiran dan kendor pada tali
kawat. Kink terdiri dari plus (+) kink, yaitu kink yang terjadi karena puntiran ke arah
jalinan tali, dan minus (−) kink, yaitu kink yang terjadi karena puntiran ke arah yang
berlawanan dengan arah jalinan. Persentase pengurangan beban putus adalah 20~40%
untuk plus kink, dan untuk minus kink dapat mencapai 50~80 %, sehingga tali kawat yang
telah mengalami kink harus dihindari penggunaannya. Kink mudah terjadi pada kasus-
kasus sebagai berikut :

(1) Apabila cara mengulur tali tidak tepat.


(2) Apabila tali terlalu kendor pada waktu diulur.
(3) Apabila tali tergosok (ironing).
(4) Apabila tali mempunyai kecederungan berombak atau melengkung.

- kink + kink

luput - kink luput + kink

Gambar 3 : Kink
A.5 Pengaruh Drum, Sheave Dan Guide Roller

Semakin besar diameter drum dan sheave, kelelahan tali


Sheave
semakin sedikit. Material dan kekerasan sheave dipilih
yang tepat. Umur tali akan bertambah, dengan memasang
 : fleet angle
liner karet keras pada sheave.

Agar tali tidak lepas dari drum, harus dilakukan minimum


5 baris gulungan dasar. Kemudian, pada penggulungan
dengan banyak tingkat, untuk mencegah kerusakan tali,
sebaiknya dilakukan penggulungan dasar pada seluruh
drum
tingkat pertama, dan lebih dari 6~7 baris pada tingkat
kedua, termasuk kelebihan gulungan untuk pemotongan
tali. Pada waktu pemotongan ujung tali, sebanyak 3~4
Gambar 4 : Fleet angle
gulungan tali pada drum akan mengendor, sehingga harus
hati-hati agar bagian peralihan tingkat gulungan dasar
tidak ikut kendor.

Selain itu, sudut antara ujung drum dengan sheave yang terdekat, yakni fleet angle,
haruslah kurang dari 1o30’. Untuk drum beralur juga harus kurang dari 2o. Apabila fleet
angle terlampau besar, pada waktu tali mendekati ujung drum, tali akan saling termakan
yang dapat memperpendek umur pemakaian. Apabila fleet angle terlampau kecil, akan
mempersulit peralihan tingkatan gulungan di bagian flens. Oleh karena itu, apabila tidak
digunakan cara bantuan lain, fleet angle minimum diperlukan 30’. (Lihat gambar 4)

A.6 Pengoperasian Pemanasan

Pada waktu masih baru, tali memiliki berbagai macam tegangan, sehingga dari segi
struktur tidak stabil. Oleh karena itu, diperlukan pengoperasian pemanasan selama waktu
tertentu sebelum operasi normal, dengan beban ringan dan kecepatan rendah, untuk
mengadaptasi tali terhadap drum dan sheave, agar kekencangannya cukup.

Umumnya, tali kawat mengalami perubahan cepat pada waktu mulai digunakan hingga
mencapai kondisi stabil tertentu. Setelah terjadi perubahan regangan 0,2~0,4%,
pengurangan diameter 0,5~1,0% dan peningkatan elastisitas 20~30%, tali kawat akan
menunjukkan keadaan yang stabil.

A.7 Pembalikan Posisi Atas-Bawah Dan Pemotongan Sisi Capel

Tujuan dari pembalikan posisi tali atas-bawah, serta pemotongan tali sisi capel ini adalah
memindahkan tempat yang secara lokal banyak terjadi keausan, kelelahan, korosi, dan
lain-lain. Pemotongan sisi capel, bukan berarti hanya memotong buang sisi capel yang
banyak mengalami keausan, kelelahan dan korosi, tetapi untuk memperoleh percontoh tali
dari bagian yang dipotong, yang diteliti dengan seksama, baik tampak luarnya maupun
bagian dalamnya, untuk dimanfaatkan dalam pemeliharaan.

Pembalikan posisi tali dilaksanakan 2~4 kali selama masa penggunaannya, sedangkan
pemotongan sisi capel dilakukan setiap 2~6 bulan, dan biasanya dipotong sekitar 2~8 m.

A.8 Metode Pemeriksaan Tali Kawat

Jenis pemeriksaan tali kawat antara lain adalah pemeriksaan umum, perkiraan penurunan
kekuatan dengan metode ABCDE, serta pemeriksaan kerusakan secara elektromagnetik.
Apabila pemeriksaan ini diandaikan sebagai pemeriksaan tubuh manusia, maka
pemeriksaan umum itu sama dengan pemeriksaan bagian luar, metode ABCDE berperan
sebagai stetoskop untuk mengetahui penyakit secara lebih akurat dan pemeriksaan
kerusakan secara elektromagnetik adalah pemeriksaan dengan sinar-X.

A.9 Pemeriksaan Tali Kawat Yang Umum

Pemeriksaan tali dilakukan setelah permukaan tali dibersihkan dalam keadaan diberi beban
tertentu. Pemeriksaan dengan mata, antara lain mencakup ada tidaknya kawat putus,
keausan, tingkat korosi, deformasi, kerusakan bagian luar dan kondisi pelumasan.
Pengukuran diameter tali 6 strand harus dilakukan secara tepat dengan jangka sorong, dari
3 arah di 1 tempat.

Sedangkan, pengukuran diameter tali dan perpanjangan pitch tali biasanya dilakukan
setiap 30~50m. Namun demikian, di bagian yang dekat ke capel perlu diukur lebih teliti
(misalnya setiap 5~10m).

A.10 Metode ABCDE Sistem Nishioka

Metode ini dicetuskan oleh Nishioka Tasaburo, yaitu cara memperkirakan beban putus tali
yang rusak, tanpa melalui uji potong. Dalam metode ini, kerusakan tali dikelompokkan
menjadi 5 pokok, di mana untuk setiap pokok tersebut diperkirakan persentase penurunan
beban putusnya, kemudian semuanya dijumlahkan untuk memperoleh persentase
penurunan beban putus tali yang rusak.

A Gesekan
B Kawat putus
C Korosi
D Deformasi
E Eksentrisitas dan lain-lain
Dengan metode ini, perkiraan persentase pengurangan beban putus dapat dilakukan
dengan cepat (sekitar 15 menit untuk 1 tempat), dan kesalahan perkiraannya juga kecil,
yaitu di bawah 5%, oleh karena itu digunakan secara luas di sektor pertambangan dan
sektor industri lainnya.

Pada gambar 5 ditunjukkan cara pengukuran diameter tali dan pitch tali.

(A) (B)
Cara pengukuran Cara pengukuran
yang benar yang salah

Pengukuran diameter dengan jangka sorong Pengukuran pitch tali

Gambar 5

A.11 Metode Pemeriksaan Tanpa Merusak

Metode ini dapat dilakukan dengan metode pemeriksaan kerusakan elektromagnetik dan
metode pemeriksaan kerusakan isotop. Pemeriksaan kerusakan elektromagnetik terdiri
dari metode arus searah dan metode arus bolak-balik. Metode arus searah yang memiliki
rangkaian sederhana, cocok untuk pemeriksaan kawat putus pada tali. Sedangkan, metode
arus bolak-balik cocok untuk pemeriksaan pengurangan luas penampang efektif akibat
korosi gesekan. Mitsui rope tester bikinan Mitsui Miike Manufacturing yang saat ini
dipakai di berbagai tambang di Jepang, adalah sistem arus searah dengan kecepatan
pengukuran 0,5~15,0m/detik.

Metode pemeriksaan kerusakan isotop yang menggunakan sinar-γ seperti CO60, dapat
mengukur perubahan penampang efektif secara akurat, tetapi kecepatan pengukurannya
lamban (5~10mm/detik). Oleh karena itu, metode ini cocok untuk pemeriksaan kerusakan
bagian tertentu, seperti bagian capel yang sulit dilakukan dengan metode pemeriksaan
kerusakan elektromagnetik.

Contoh Standar Peremajaan Tali Kawat Pada Sektor Pertambangan

Pada tabel 5 di bawah, diperkenalkan “Standar peremajaan tali kawat pada sektor
pertambangan” yang dikeluarkan oleh Sub Komisi Perlistrikan dari Komisi Penentuan dan
Pertimbangan Teknik Keselamatan Pertambangan Jepang, sebagai satu contoh standar
peremajaan.

Tabel 3 : Standar peremajaan tali

Sumuran miring
Sumuran miring, sumuran tegak dan pengangkutan manusia
(kecuali lori manusia)

1. 67 (JIS G3525 No. 1) 1. 67 (JIS G3525 No. 1) 1. 619 (JIS G3525 No. 1. Konsentris
Lingku pemakaian tali

3)
2. Tali yang konstruksinya sama 2. Tali yang konstruksinya sama 195+8F (10) C/L
dengan 1 dan bentuk kawat yang dengan 1 dan bentuk kawat
beda yang beda

3. 6F{(32+3)+7}

(JIS G3525 No. 8)

4. 6F(+7)

1. Keausan 1. Keausan 1. Keausan 1. Keausan

Di bawah 90% dari diameter Di bawah 90% dari diameter Di bawah 95% dari Sama dengan kiri
nominal beban ekuivalen diameter beban
2. Sama dengan kiri
ekuivalen
2. Mengalami deformasi dan korosi 2. Sama dengan kiri
3. Kawat putus, retak
berat 2. Sama dengan kiri
3. Kawat putus, retak vertikal vertikal
3. Kawat putus, retak vertikal 3. Kawat putus, retak
(1) Pemeriksaan dengan mata (1) Sama dengan kiri
vertikal
a) lebih dari 3 di dalam strand
a) lebih dari 3 setiap 1 pitch tali a) lebih dari 4 (s.d.k)
yang sama pada panjang 3 pitch (1) Sama dg kiri (s.d.k)
Standar peremajaan

tali (2) Pemeriksaan kerusakan b) lebih dari 10 (s.d.k)


a) lebih dari 4 (s.d.k)
elektromagnetik
4. Beban putus (2) Sama dengan kiri
b) lebih dari 6 (s.d.k)
a) lebih dari 4 setiap 1 pitch tali
Di bawah 70% dari kekuatan putus a) lebih dari 10 (s.d.k)
(2) Sama dengan kiri
nominal, di mana terdapat b) lebih dari 5 setiap 3 pitch tali
b) lebih dari 20 (s.d.k)
keausan, korosi, kawat putus, retak a) lebih dari 8 (s.d.k)
4. Beban putus
vertikal dan deformasi 4. Beban putus
b) lebih dari 10 (s.d.k)
Di bawah 80% dari kekuatan
Sama dengan kiri
putus nominal, di mana terdapat 4. Beban putus
keausan, korosi, kawat putus,
Sama dengan kiri
retak vertikal dan deformasi

5. Perpanjangan

Di bawah 2% dari hasil uji


potong

Anda mungkin juga menyukai