0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
121 tayangan29 halaman

Definisi dan Klasifikasi Engine Dasar

Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang konsep dasar mesin pembakaran dalam (engine), termasuk definisi, klasifikasi, prinsip kerja, komponen utama, dan perbandingan mesin diesel dan bensin."

Diunggah oleh

Lina Aliee
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
121 tayangan29 halaman

Definisi dan Klasifikasi Engine Dasar

Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang konsep dasar mesin pembakaran dalam (engine), termasuk definisi, klasifikasi, prinsip kerja, komponen utama, dan perbandingan mesin diesel dan bensin."

Diunggah oleh

Lina Aliee
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Basic Engine

PENGETAHUAN DASAR ENGINE


PENGERTIAN

Engine : Suatu alat yang menghasilkan tenaga melalui proses tertentu , dimana proses termis dirubah
menjadi tenaga mekanis .
Machine : Suatu unit secara keseluruhan, yang mencakup engine sampai power train.

Fungsi dari Engine adalah sebagai sumber tenaga utama unit.

KLASIFIKASI ENGINE

Bagan.

EKSTERNAL COMBUTION ENGINE & INTERNAL COMBUTION ENGINE

Proses Pembakaran bahan bakar Proses Pembakaran bahan bakar


terjadi di luar silinder engine terjadi di dalam silinder engine

Gambar . Proses pembakaran

TIPE ENGINE

Gambar .

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 12
Basic Engine

Beberapa contoh konstruksi engine :

Gambar .
PRINSIP DIESEL ENGINE DAN GASOLIN ENGINE

DIESEL ENGINE
Udara yang dimasukan kedalam ruang bakar, kemudian di kompressikan sehingga mencapai
temperatur 300 – 400o Celcius dan tekanan 30 – 40 kg/cm2, kemudian di semprotkan bahan
bakar sehingga terjadi pembakaran, yang menghasilkan tekanan bekisar 60-80 kg/cm2, dengan
temperature sekitar 600 – 800o C.

GASOLINE ENGINE
Udara dan bahan bakar yang dimasukan kedalam ruang bakar, secara bersama-sama, kemudian
dikompresikan hingga mencapai tekanan 7-15 kg/cm2, dengan temperature sekitar 100o – 150o
Celcius kemudian dipercikkan bunga api lewat busi, sehingga terjadi pembakaran yang
menghasilkan tekanan besar sampai 30 – 60 kg/ cm2 dengan temperature sekitar 1500o C.

Perbedaan antara Diesel Engine dan Gasolin Engine :

ITEM DIESEL ENGINE GASOLINE ENGINE

FUEL SOLAR BENSIN

Fuel Supply Fuel Injection Pump Carburetor / fuel injection

Sistem Penyalaan Penyalaan spontan Penyalaan elektrik (busi)

Perbandingan Kompresi 1 : 15-21 1 : 7-12

Tekanan Pembakaran 60 - 90 kg/cm2 30 – 40 kg/cm2

Ukuran Silinder Ukuran silinder besar, karena kalau Ukuran silinder lebih kecil, karena
kecil sulit dalam mencapai ada perambatan api.
pembakaran

Table.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 13
Basic Engine

PRINSIP KERJA DIESEL ENGINE 4 LANGKAH

Prinsip Kerja Diesel Engine 4 Langkah

INTAKE COMPRESSION POWER EXHAUST


Gambar.

1. INTAKE STROKE
Intake valve terbuka, exhaust valve tertutup, piston bergerak dari Titk Mati Atas (TMA) ke Titik Mati
Bawah (TMB), maka udara masuk ke dalam cylinder .

2. COMPRESSION STROKE
Intake valve tertutup, exhaust valve tertutup, piston bergerak dari TMB ke TMA, udara terkompression
hingga mencapai tekanan antara 30 – 40 kg / cm 2 dan temperature antara 3000 C - 4000 C. Pada
akhir langkah disemprotkan bahan bakar dari nozle.

3. POWER STROKE
Intake valve tertutup, exhaust valve tertutup, piston bergerak dari TMA ke TMB, saat disemprotkan
bahan bakar terjadi pembakaran sehingga mencapai tekanan 60-80 kg / cm 2 dan suhu antara 6000
C– 8000 C, sehingga timbul tenaga ( power).

4. EXHAUST SROKE
Intake valve tertutup, exhaust valve terbuka, piston bergerak dari TMB ke TMA, untuk membuang ke
luar gas pembakaran lewat exhaust valve.

Perbedaan Engine 4 Langkah dan 2 Langkah


Pada Engine 4 Langkah proses kerja di mulai dari langkah intake–kompresi–tenaga–exhaust.
Sehingga dengan 4 langkah piston, 2 kali putaran crankshaft dan sekali pembakaran.

Pada Engine 2 Lagkah proses dimulai dari intake–kompresi–tenaga–exhaust, dengan 2 langkah


piston, sekali putaran crankshaft dan sekali pembakaran. Pada saat kompresi dengan exhaust
hampir bersamaan.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN ENGINE DIESEL

KEUNTUNGAN :
1. Biaya pengoperasian ekonomis, karena bahan bakar menggunakan oil dengan grade rendah. (light
oil)
2. Besarnya kalori pada fuel yang terbakar (Thermal Eficiency) dapat menghasilkan output engine dan
panas yang efektif/tinggi sehingga konsumsi bahan bakar rendah(efisiensi 30–35 %)

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 14
Basic Engine
3. Bahaya kebakaran lebih rendah (titik nyala fuel tinggi)
4. Tidak butuh sistem penyalaan dan carburator
5. Dapat menghasilkan tenaga dan putaran yang rendah

KERUGIAN :
[Link] output HP tinggi
[Link] selama operasi lebih besar
[Link] lebih sulit
[Link] pembuatan lebih tinggi (mahal)

TERMINOLOGY

TOTAL DISPLACEMENT

Total Displacement adalah ukuran umum untuk menggambarkan ukuran engine. Satuannya
adalah cm3 atau liter.

Untuk menghitung Total Displacement adalah :

/4 x Bore x stroke x jumlah silinder

PERBANDINGAN KOMPRESI

[ V1 + V2 ]
V1

Perbandingan Kompresi = V1 = Combution Chamber Capacity


V2 = Stroke Capacity

Gambar.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 15
Basic Engine
TORQUE
Torsi adalah gaya yang menyebabkan Crankshaft engine berputar. Maksimum torsi dalah nilai terbesar
dari gaya putar.

Torsi (kg m) =FxR


=PxAxR

P = Tekanan Pembakaran
A = Luas Permukaan Piston
R = Panjang Cranksahft

Gambar.

OUTPUT (HORSE POWER)


Maksimum Ouptput engine adalah tenaga yang dapat dikeluarkan. Output adalah beban kerja yang
dilakukan dalam periode waktu yang tetap.
Yang dimaksud dengan 1 HP adalah kerja untuk menarik sebuah beban seberat 75 Kg setinggi 1
meter dalam waktu 1 detik.

FIRING ORDER (FO)


Firing Order adalah urutan pembakaran yang terjadi pada engine yang memiliki jumlah silinder lebih
dari satu.
Contoh :
- Engine dangan 4 silinder, memilki FO : 1-2-4-3, maka proses pembakaran dimulai dari
silinder No. 1, dilanjutkan Silinder No. 2, No. 4 dan No. 3.
- Engine dengan 6 silinder, memiliki FO : 1-5-3-6-2-4
Tujuannya adalah untuk meratakan hasil power, agar gaya yang ditimbulkan oleh piston
seimbang. Baik pada saat kompresi maupun pembakaran, tidak menimbulkan puntiran dan
getaran yang tinggi.

KOMPONEN DALAM ENGINE

CYLINDER BLOCK

Gambar.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 16
Basic Engine
Konstruksi cylinder block dibuat sedemikian rupa sehingga terdapat saluran untuk pelumasan dan
pendinginan.

Fungsi dari Cylinder block adalah tempat kedudukan :


5. Block 4. Connecting rod 7. Idler
6. Liner 5. Crank shaft 8. Crank gear
7. Piston 6. Fuel pump gear 9. Cam gear

CYLINDER HEAD

Gambar. Cylinder Head

Fungsi :
7. Tempat kedudukan valve dan injector
8. Tempat masuk dan keluar udara / gas buang
9. Mengatur sirkulasi pendingin ke sekeliling valve dan injectors / nozzle .

Keterangan Gambar :
- Cylinder head 5. Nozzle 9. Intake valve
- Rocker arm shaft 6. Glow plug 10. Exhaust valve
- Rocker arm 7. Pre combution chamber 11. Valve seat
- Valve spring 8. Valve guide

PISTON
Fungsi :
4. Tempat kedudukan ring piston
5. Tempat kedudukan pin piston
6. Meneruskan tekanan pembakaran ke crank shaft
7. Meneruskan panas melalui ring piston

Keterangan Gambar :
[Link]
[Link] ring (ring kompresi)
[Link] ring (ring kompresi)
[Link] ring
[Link] piston
[Link] ring

Gambar. Piston

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 17
Basic Engine
CONNECTING ROD
Fungsi :
1 2 3 4 5
1. Menjaga ketegak lurusan jalannya piston
2. Meneruskan tekanan gerak naik turun dari piston ke
crank shaft

Keterangan Gambar :
1. Conecting rod bushing [Link] rod – bolt
2. Conecting rod [Link] rod cap
A. Small boost
B. Large
A B

CRANK SHAFT
Fungsi :
Merubah gerak naik turun dari piston menjadi gerak
tenaga putar (Reciprocating)

Keterangan Gambar :
1. Crank shaft pulley
2. Crank gear
2 3. Crank shaft
1 3 4. Fly wheel

4
CAM SHAFT
Fungsi :
Merubah gerak rotary ( berputar ) dari cam shaft,
menjadi gerak naik turun ke push rod

 Cam shaft
 Cam gear

d. Cam shaft journal


e. Intake cam
f. Exhaust cam
g. Injector cam

TIMING GEAR
Fungsi :
Untuk menghubungkan gigi poros engkol dengan gigi
poros kam, dan sebagai penggerak pompa injeksi,
serta gigi penggerak lainnya.

Keterangan Gambar :
 Balance gear (RH) 8. Balance gear (LH)
 Idler gear 9. Crank shaft gear
 Timing gear 10. Crank shaft gear
 Cam gear 11. Crank shaft for driving
 Idler gear (large) oil pump
 FIP Driving gear 12. Crank shaft
 Idler gear (LH) 13. Crank shaft pulley

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 18
Basic Engine
FLY WHEEL
Fungsi :
Memindahkan tenaga putar dari engine ke power
train.

Keterangan Gambar :
- Rear support
- Fly wheel housing
- Fly wheel
- Fly wheel mounting bolt
- Rear seal
- Starting motor pinion gear
- Ring gear

VIBRATION DUMPER
Berfungsi :
Mengimbangi getaran torsional yang terjadi pada
poros engkol .
Pada umumnya engine yang dilengkapi dengan
vibration damper mempunyai poros engkol yang
panjang (engine dengan cylinder, dsb)

Keterangan Gambar :
4. Cam shaft 4. Damper case
5. Elastic rubber 5. Inertia ring
6. Hub 6. Silicon Oil

SISTEM ENGINE

Sistem Engine terdiri dari :


1. Intake & Exhaust System
2. Fuel System
3. Lubrication System
4. Cooling System

INTAKE & EXHAUST SYSTEM

Terdapat 3 jenis Intake & Exhaust System yaitu :

4.1. Naturally Aspirated


Pada jenis ini, udara yang masuk ke dalam silinder terjadi akibat hisapan piston dari
engine itu sendiri.

4.2. Turbocharged Aspirated


Pada jenis ini, udara yang masuk ke dalam silinder dipaksakan, sehingga berat
jenis udara bertambah

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 19
Basic Engine

4.3. Turbocharged Aspirated

Pada jenis ini juga dilengkapi dengan after cooler sehingga kerapatan udara meningkat yang pada
akhirnya tenaga engine juga meningkat.

Fungsi Komponen :
a. Pre Cleaner
Sebagai penyaring awal udara yang akan masuk kedalam air cleaner terhadap debu dan kotoran–
kotoran kasar.

b. Air Cleaner
Menyaring udara secara total / sebersih – bersihnya sebelum udara tersebut masuk keruang bakar
(Cylinder Liner).

c. Turbo Charger
Meningkatkan jumlah pemasukan udara ke engine sehingga bahan bakar yang dapat dibakar
menjadi lebih banyak dan tenaga engine menjadi lebih besar tanpa merubah bentuk/konstruksi
engine.
Turbocharger ini mempunyai dua impeller, yaitu turbin dan blower. Turbin di putar oleh gas buang
dengan kecepatan yang sangat tinggi. Pada ujung poros turbin ini dipasang blower dengan ikatan
nut, sehingga putaran blower akan sama dengan putaran turbin. Putaran dari turbocharger ini
berkisar antara 50.000-150.000 RPM.
Di tengah-tengah rumah turbin dilengkapi dengan saluran oil untuk pelumasan bearing. Dan
pelumasan ini menggunakan oil engine

Gambar.
Turbocharger

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 20
Basic Engine

d. Intake Manifold
Merupakan saluran udara masuk keruang pembakaran setelah udara tersebut melewati air cleaner.

e. After Cooler
Mendinginkan udara yang akan masuk keruang bakar, sehingga kerapatan udara meningkat dan
tenaga engine akan bertambah 5 – 10 . Adapun media pendingin yang dipakai adalah air (water)
yang diambil dari air radiator. Udara didinginkan karena adanya panas akibat dari turbocharger
sebelum masuk ke ruang pembakaran. selain itu, aftercooler digunakan untuk mengurangi oksidasi
nitrogen pada gas buang.

Keterangan Gambar :
5. Udara panas dari turbocharger
6. Inti pendingin
7. Manifold
8. Koil pemanas
9. Saluran air pendingin
10. Pembuangan air

f. Intake Valve
Mengatur udara yang akan masuk keruang bakar ( Cylinder Liner ) dengan mekanisme kerja
membuka dan menutup yang diatur oleh perputaran cam shaft.

g. Piston
Menghisap dan memamfatkan udara didalam ruang pembakaran sesuai dengan langkah prinsip
kerjanya.

h. Cylinder Liner
Tempat terjadinya proses pembakaran dimana bertemunya udara yang bertekanan (Temperature
Tinggi), hasil dari langkah compressi dengan bahan bakar yang berbentuk kabut.

i. Exhaust Valve
Mengatur udara yang keluar dari ruang pembakaran berupa gas buang / bekas.

j. Exhaust Manifold
Sebagai saluran keluarnya udara dari ruang bakar menuju ke muffler.

k. Muffler
Sebagai peredam suara engine, menahan percikan api dan menurunkan temperature gas buang.

l. Exhaust Pipe
Sebagai saluran akhir gas buang / bekas yang akan keluar ke udara bebas.

m. Dust Indicator
Mengetahui kondisi air cleaner, apakah tersumbat atau tidak.

n. Vacuator Valve
Membuang debu atau kotoran yang masuk ke dalam ruangan Air Cleaner.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 21
Basic Engine
FUEL SYSTEM

Keterangan Gambar :
3 Fuel Tank
4 Strainer
5 Fuel Filter
6 Fuel Injection Pump
7 Feed Pump
8 Nozzle

Fungsi Komponen :
1. Fuel Tank
Sebagai tempat penyimpangan/penampungan bahan bakar dan
tempat pengendapan kotoran.

2. Water Separator
Memisahkan bahan bakar dengan air dari fuel tank sebelum
masuk ke feed pump. water separator

3. Feed Pump
Mengirimkan bahn bakar dari fuel tank
kesistem dengan tekanan rendah yaitu
berkisar antara 1,2 – 2,6 Kg/cm.

Gambar. Feed pump

4. Fuel Filter
Menyaring bahan bakar dari kotoran sebelum masuk ke Fuel Injection Pump (FIP).

5. Fuel Injection Pump


Mengirimkan bahan bakar ke nozzle dengan tekanan tinggi (Max.300 Kg/cm2), juga
menentukan jumlah bahan bakar yang akan disemprotkan serta menentukan timing
penyemprotan.

6. Nozzle
Sebagai penyemprot dan pengabut bahan bakar dengan tekanan tinggi keruang bakar.

7. Fuel Return
Sebagai saluran kembalinya bahan bakar yang tersisa dari nozzle untuk diteruskan ke fuel
tank.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 22
Basic Engine
8. Over Flow Valve
Sebagai katup pengaman apabila terjadi tekanan yang berlebihan didalan FIP dikarenakan
volume fuel terlalu banyak. Pada akhirnya katup ini akan terbuka dan fuel yang berlebihan
itu akan kembali ke fuel tank.

LUBRICATION SYSTEM

1. Oil pan
2. Oil level sensor
3. Oil pump
4. Main relief valve
5. Piston cooling valve
6. Oil Cooler
7. Oil cooler by pass valve
8. Oil filter
9. Safety valve
10. Main galery
11. Crankshaft
12. Camshaft
13. Rocker arm
14. Piston cooling nozzle
15. Timing gear
16. Fuel injection pump
17. Turbocharger
18. Oil Pressure Gauge
19. Oil by pass valve

Gambar. Skema lubricating system


Fungsi Komponen :

a. Oil Pan
Sebagai tempat penampungan oil engine.

b. Oil Level Sensor


Mendeteksi ketinggian permukaan oil engine dan oil pan.

c. Oil Pump
Mengirimkan oil dengan tekanan antara 3–6 Kg/cm 2 dari oil pan ke sistem. Adapun debit
oil yang disuplai ke sistem berkisar antar 50–300 liter/menit.

d. Main Relief Valve


Membatasi tekanan maksimum oil yang bersirkulasi didalam engine dengan cara
mengembalikan oil yang berlebihan ke oil pan.

e. Piston Cooling Valve


Mengatur pengiriman oil ke piston cooling nozzle.

f. Oil Cooler
Mendinginkan oil engine sebelum bersirkulasi ke sistem dengan menggunakan media
pendingin air radiator.

g. By Pass Valve
Sebagai katup pengaman sirkulasi apabila terjadi penyempitan pada oil cooler. Diharapkan
oil tetap masuk ke sistem walaupun tidak sempat masuk ke pendingin
h. Engine Oil Filter
Menyaring partikel – partikel/gram yang terkandung dalam oil.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 23
Basic Engine
i. Safety Valve
Sebagai katup pengaman apabila terjadi kebuntuan pada oil filter supaya oil tetap bisa
bersirkulasi didalam sistem walaupun oil tersebut tidak tersaring.

j. Main Galery
Sebagai saluran utama oil didalam block engine dan sebagai pusat pendistribusian oil
keseluruh komponen yang memerlukan pelumasan.

k. Scavenging Pump
Membantu memindahkan oli pada waktu unit mendaki atau menurun sehingga selalu ada
pelumasan pada lubricating system.

PELUMAS (OIL)

Fungsi dari Oli (Pelumas) adalah :


- Membentuk lapisan film
- Sebagai pendingin
- Sebagai penyekat
- Sebagai pembersih
- Sebagai pencegah anti karat

VISCOSITAS OIL :

Yang dimaksud dengan viscositas adalah derajat kekentalan suatu oli (minyak pelumas),
semakin besar viscositas minyak pelumas maka akan semakin kental. Standard yang digunakan
untuk menentukan besarnya kekentalan suatu pelumas adalah SAE (Society of Automatic Engineer).
Contoh : SAE 10, SAE 20, SAE 30, dsb.

OIL MULTI GRADE :

Oil Multi Grade adalah oli yang memiliki kekentalan ganda, dan kekentalannya menyeseuaikan
dengan perubahan temperatur. Contoh : SAE 15W40.
Keuntungan oli jenis ini adalah pada saat dingin mudah start, oli cepat bersikulasi ke seluruh area
peluamasan, kerja pompa lebih ringan pada saat panas.

KLASIFIKASI OLI :

Klasifikasi yang dimaksud adalah menunjukkan tingkat kualitas suatu oli, dan hal ini
distandardkan dalam API (American Petroleum Institute)

Class
Aplikasi
Baru Lama
CA DG Diesel Engine Natural Aspirated, Operasi Ringan
CB DH Diesel Engine Natural Aspirated, Operasi Menengah
CC DM Diesel Engine Turbocharger, Operasi Menengah
CD DS Diesel Engine Turbocharger, Operasi Berat

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 24
Basic Engine

COOLING SYSTEM

1. Water pump
2. Oil cooler
3. Corrosion resistor
4. Cylinder linier
5. Cylinder block
6. Water temperatu sensor
7. Water manipol
8. Thermostat
9. Radiator
[Link]

1. From oil pump


2. To engine each
component

Gambar. Skema cooling sistem

Fungsi Komponen :
1. Radiator
Tempat penampung air pendingin engine dan
pendingin air tersebut dengan bantuan udara luar.

2. Fan
Untuk menghembuskan udara kearah sirip–sirip radiator agar sirkulasi udara lebih
sempurna, sehingga air panas di sirip–sirip radiator cepat dingin.

3. Thermostat
Mengatur air bekas pendinginan ke radiator atau ke engine lagi sehingga temperature air
pendingin tetap konstan 70-900 C atau mempercepat temperature kerja engine saat
bekerja maupun mencegah over heat.

4. Water Pump
Mensuplay/memompakan air dengan aliran yang bertekanan tinggi kedalam system
pendingin.

5. Water Temperature Gauge


Untuk mengetahui suhu air pendingin engine.

6. Water Manifold
Menampung / membagi air ke bagian – bagian yang memerlukan pendinginan.

7. Corrosion Resistor
Mencegah korosi, sebagai pembersih endapan karat pada system pendingin air.

8. Oil Cooler
Mendinginkan oil baik oil engine maupun oil transmission dan hydraulic dengan media air.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 25
Basic Engine
9. Radiator Safety Valve
a. Pressure Valve
- Untuk menaikkan temperature air dalam radiator (mendidih s.d 1000 C).
- Menghindari gelembung udara masung dalam cooling system.
b. Vacum Valve
Berfungsi untuk mencegah kevakuman di dalam radiator, jadi apabila tekanan di
dalam lebih kecil dari tekanan udara luar (1 atm) maka vacuum valve akan terbuka.

ISTILAH – ISTILAH PADA ENGINE

- OIL UP
Adalah kebocoran oli dikarenakan keausan pada ring piston atau cylinder linier, shingga oli masih
ada yang tertinggal ketika piston bergerak dari TMA ke TMB dan oli ikut terbakar.

- OIL DOWN
Adalah kebocoran oli yang disebabkan keausan pada valve guide atau insert valve, sehingga oli
bisa masuk turun ke ruang bakar melalui batang valve.

- BLOW BY
Adanya kebocoran tekanan kompresi yang disebabkan keausan pada ring kompresi ( top ring )
atau cylinder linier , sehingga sebagian tekanan berbalik ke oil pan dan memaksa oil yang ada
pada oil pan menguap melalui breather. Yaitu saat piston bergerak dari TMB ke TMA.

- ENGINE HUNTING
Tidak normalnya suply bahan bakar yang masuk kesistem bahan bakar, yaitu adanya gelembung
– gelembung udara pada saluran masuk bahan bakar.

- OVER FUELING
Kelebihan bahan bakar pada nozzle di karenakan saluran kembali ( return ) [Link]
engine agak sulit untuk di matikan.

- ENGINE OVER SPEED


Adalah terjadinya putaran berlebihan pada engine yang di sebakan putaran engine tidak mampu
menahan beban yang di dorong oleh putaran power train. Sehingga engine mengalami over
running, yaitu putaran engine melebihi batas maksimum.

SISTEM KELISTRIKAN (ELECTRIC SYSTEM)

PREHEATING SYSTEM

Gambar. Skema sistem kelistrikan

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 26
Basic Engine
Preheating sistem ditujukan untuk memanaskan udara yang akan masuk ke ruang bakar dengan
tujuan untuk mempermudah menghidupkan engine pada waktu udara disekeliling engine masih
dingin.
Komponen yang terdapat dalam sistem ini adalah :
1. Starting Switch 4. Glow plug
2. Battery 5. Circuit Breaker
3. Battery Relay

STARTING SYSTEM

Gambar. Skema Starting Sistem

Bertujuan untuk menghidupkan starting motor sehingga engine bisa menyala (running)

CHARGING SYSTEM

[Link] Charging System

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 27
Basic Engine
LIGHTING SYSTEM

Sistem ini bertujuan untuk mengaktifkan lampu-lampu yang ada pada unit
Gambar. Skema Lighting System

FUNGSI KOMPONEN PADA ELECTRIC SYSTEM

1. Starting Switch
Fungsi Starting switch untuk memutuskan atau menghubungkan komponen-komponen dalam
sistem start.

2. Battery Relay Switch


Berfungsi untuk memutuskan atau menghubungkan negatif battery dengan body / chassis.

3. Battery
Sebagai penyimpan arus listrik dengan cara merubah tenaga kimia menjadi tenaga elektrik

A. Vent plug
Fungsi dari vent plug agar tersedia saluran untuk membebaskan gas dan memungkinkan
terbentuknya lagi asam sulfat yang terkandung didalam uap asam yang terbentuk pada
saat pengisian battery. Dan juga mencegah masuknya debu / kotoran ke dalam sel.

B. Plat positif , plat negatif, dan separator


Plat positif terbuat dari material PbO2 (lead proxide), plat negatif terbuat dari Pb (spongy
lead). Untuk mencegah plat positif dan negatif bersinggungan, dipasang separator yang
terbuat dari polyvynil choride ( PVC ) yang berpori-pori.

C. Elektrolit ( H2SO4 )
Larutan elektrolit terdiri dari pencampuran antara Asam Sulfat ( H2SO4 ) dan air ( H2O ),
dengan komposisi 64 % air dan 36% Asam sulfat sehingga berat jenis elektrolitnya 1.270
pada suhu 27 C.

4. Alternator
Sebagai pembangkit listrik yang akan dipergunakan untuk pengisian battery dengan prinsip
merubah energi mekanis menjadi energi listrik

5. Regulator
- Menjaga agar tegangan yang keluar dari alternator / generator tetap konstan 28-29 V.
- Menjaga agar arus yang keluar dari generator tidak lebih dari 13 Amper.
- Menghubungkan generator dengan battery bila tegangan generator lebih tinggi.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 28
Basic Engine

6. Starting Motor
Berfungsi untuk menghidupkan engine dengan prinsif merubah energi listrik menjadi energi
mekanis.

7. Safety Relay
- Mencegah mengalirnya arus ke starting motor jika strating switch diputar ke posisi START
sementara engine masih hidup.
- Secara otomatis memutuskan arus ke strating motor, sehingga starting motor lepas dari
flywheel engine, sementara starting switch di posisi start.

8. Glow Plug
Sebuah alat pemanas yang dengan komponen-komponen lain akan memanaskan udara untuk
pembakaran.

9. Circuit Breaker
Untuk mencegah kerusakan komponen-komponen dan kabel kabel pada sistem pemanasan
awal dikarenakan arus berlebihan (short circuit).

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 29
Power Train
POWER TRAIN

SPESIFIKASI

KOMPONEN TIPE ISI (Kapasitas silinder) OIL GRADE


Engine 9 series 20 – 27 SAE 30
11 series 22 – 30 SAE 15W-40
14 series 22 – 30.
Clutch (Kopling) 0.33 DOT 3/ DOT 4
Gear box (Transmisi) GR 87i 11.5 SAE 90
GR 890 12.5 SAE 75-140
13.5
(Termasuk Oil cooler)
Cooling Sistem P 93 42
(Sistem pendinginan) P 113 47 -
P 143 79
Axle Gears RB 652 12 SAE 90
(Gardan) R 653 11 SAE 75-140
RBP 831 14 + 1
RP 831 14
Hub Reduction gear R 770 11,5
AMD 105 0,6
AD 100 2+2

KOMPONEN TIPE ISI (KAPASITAS LITER) OIL GRADE


Spring Bearing H/E 6x4 6x6 8x4 1.5 – 1.7
(Bantalan Bogie)
Steering Tanpa Servo Silinder 3.8 - 4 ATF DEXTRON II
SAE 10/ DOT 3
Tag axle lift 5.5
Cabtilt pump 0.8
(pompa kabin)
Washer reservoir 14

ARTI KODE POWER TRAIN

P 12 4 C B 6X4 E H Z 380

P : TYPE CABIN (PRETTY)


12 : ENGINE SWEPT VOLUME
4 : DEVELOPMENT STAGE
C : CHASIS CLASS (CONSTRUCTION)
B : CHASIS ADAPTION (BASIC)
6X4 : WHEEL CONFIGURATION
E : DUTY CLASS (EXTRA HEAVY)
H : TINGGI CHASIS
Z : TYPE OF SUSPENSION
380 : POWER OUTPUT (HP)

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 30
Power Train
KOMPONEN UTAMA
High Beam

Sign lamp
Work lamp

POWER TRAIN

Cross Join

Front
Axle

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 31
Power Train

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 32
Power Train
SISTEM STEERING

PENGERTIAN
Suatu sistem pengendalian peralatan yang digunakan untuk membelokkan arah gerak lurus menjadi
kekanan atau kekiri pada sudut – sudut tertentu dari 00 sampai dengan 3600 atau kearah gerak
semula

JENIS – JENIS STEERING PADA PERALATAN / KENDARAAN


1. Linkage & Rod Sistem
Unit yang menggunakannya adalah motor grader, mobil, truck dan forklift
2. Articulating Sistem
Unit yang menggunakannya adalah wheel loader, skider, motor Scraper, DT Articulating
3. Clutch & Brake System
Unit yang menggunakannya crawler tractor

KONSTRUKSI STEERING & KOMPONEN UMUM

Gambar. Prinsip Kerja Sistem Steering

Komponen
~ Steering Wheel ~ Steering Knokle
~ Steering columm Assy ~ Lingkage Arm
~ Steering Gear Box ~ Tie Rod
~ Pit Arm ~ Steering Oil Tank
~ Drag Ling ~ Steering Oil Pump
~ Knokle Arm ~ Cylinder Steering Hydraulic

Gambar. Steering Column Assy & Gear Box

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 33
Power Train
FUNGSI KOMPONEN

1. Steering Wheel
Sebagai control steering ( kemudi ).
2. Steering Column Assy
Merupakan rangkaian yang menghubungkan steering wheel ke steering gear box yang berfungsi
meneruskan putaran dari steering wheel.
3. Steering Gear Box
Merubah putaran dari steering wheel menjadi gerakan maju mundur pada drag link.
4. Pit Arm
Meneruskan gerakan dari gear box ke drag link.
5. Drag Link
Meneruskan gerakan maju mundur dari pit arm menuju knuckle arm.
6. Knuckle Arm
Meneruskan gerakan dari drag link ke roda.
7. Tie Rod
Menyamakan arah ke dua roda ( kanan & kiri )
8. Steering Oil Tank & Oil Pump
Untuk meringankan putaran dari steering wheel ( menuju gear box ).

POWER STEERING

Agar power steering dapat difungsikan secara sempurna yang perlu dilakukan adalah mengikuti
petunjuk – petunjuk mengenai penggunaan minyak pelumas. Juga pada kasus yang lain, seandainya
saat beroperasi terjadi suatu hal dimana kondisi roda dapat terblock baik karena lumpur yang dalam
atau selokan. Sebaiknya untuk membebaskan roda tersebut agar keluar dari hambatan tidak perlu
memainkan steer berlebihan. Karena hal ini hanya akan membuat sibuk buka tutup valve yang ada
dan secara bersamaan akan menaikkan tekanan oil steering. Kalau tekanan oil ini mencapai maximum
yaitu 50 – 130 bar ( 5 – 13mpa ) maka secara automatis temperature oil akan meningkat dan ini akan
memanaskan pompa. Kalau pompa menerima panas yang berlebihan kemungkinan besar ancaman
kebocoran dan kerusakan pompa akan terjadi. Kalau sampai terjadi kegagalan pada sistem hydraulic
dan mengakibatkan power steering kurang berfungsi maka steering akan menjadi berat. Hal ini tentu
akan banyak menggunakan tenaga untuk pengoperasiannya.

SISTEM CLUCTH ( MAIN CLUTCH )

DEFINISI
Adalah suatu komponen penghubung dalam rangkaian penerus tenaga pada suatu kendaraan / alat.

Gambar. Sistem clutch

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 34
Power Train
LOKASI
Terpasang antara engine dan transmissi

FUNGSI
1. Menghubungkan dan memutuskan tenaga dari engine ke transmisi melalui dua buah benda padat
yaitu disc dan clutch
2. Sebagai sarana untuk mengaktifkan gear transmissi, baik saat melulai maupun pemindahan

PERSYARATAN
1. Harus mampu menghubungkan dan memutuskan tenaga engine ke transmissi dengan baik ( tidak
slip )
2. Harus memiliki kemampuan meneruskan tenaga yang cukup dan tidak dipengaruhi oleh
temperature kerja

KOMPONEN – KOMPONEN DAN FUNGSI CLUTCH

1. Fluid Reservoir
Berfungsi sebagai Tempat penampungan oil clutch
2. Clutch Master Cylinder
Berfungsi sebagai Tempat oil clutch yang stand by pressure dan siap dikirim keservo clutch untuk
membuka valve
3. Clutch Pedal
Digerakkan oleh operator untuk mengirim oil clutch dengan tekanan keservo clutch
4. Clutch Servo
Berfungsi untuk Meringankan beban operator untuk mengoperasikan pedal clutch dengan prinsip
membuka valve udara menggunakan tenaga oil clutch yang bertekanan
5. Air Reservoir
Berfungsi sebagai Tempat penyimpanan udara yang bertekanan tinggi berfungsi untuk menekan
power piston dalam pengoperasian clutch engage dan disengage

YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA SISTEM CLUTCH


 Oil clutch harus cukup
 Pastikan tidak ada kebocoran pada sistem ini
 Jangan operasikan clutch jika tekanan udara dalam air reservoir belum mencapai standart operasi
 Jika sistem clutch control kemasukan udara, maka buanglah melalui saluran pembuangan hingga
busa yang bercampuran oil clutch tidak ada ( habis )
 Dalam pengoperasian clutch tidak dibenarkan kaki menempel pada pedal clutch saat clutch engage
dan setiap penekanan pedal harus penuh.

SISTEM HIDROLIK

FUNGSI
Untuk menggerakkan attachment ( alat kerja ) atau untuk system
– system tertentu seperti dump body.

KOMPONEN UTAMA SISTEM HYDRAULIC & FUNGSINYA

1. Hydraulic Oil Tank


a. Sebagai penampungan oil hydraulic
b. Membantu pendinginan
2. Hydraulic Oil Pump
Menyuplai oil dari hydraulic tank kesystem bersama – sama
dengan komponen lain menimbulkan tekanan
3. Hydraulic Control Valve
Mengarahkan Oil hydraulic ketempat yang dikehendaki (
sesuai kemauan pengoperasian )
4. Hydraulic Relief Valve

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 35
Power Train
Membatasi tekanan maximum oil hydraulic didalam system
5. Hydraulic Control Lever
Menggeser – geser spool yang terdapat dalam control valve ( membuka dan menutup saluran oil
dalam control valve ) dioperasikan oleh operator.
6. Pressure Line
Merupakan saluran oil hydraulic yang bertekanan tinggi baik berbentuk pipa maupun hose
7. Hydraulic Cylinder ( Actuator )
Mengubah tenaga hydraulic menjadi tenaga mekanik dan berhubungan langsung dengan sasaran
akhir system (attachement).
8. Hydraulic Oil Filter
Menyaring kotoran – kotoran yang terdapat dalam hydraulic oil ( partikel / gram )

YANG HARUS DIPERHATIKAN

 Pastikan volume oil hydraulic cukup dan kondisinya baik


 Perhatikan kalau – kalau terdapat kebocoran pada sistem
 Perhatikan / patuhi jadwal penggantian oil berikut filternya
 Operasikan attachment hydraulic dengan lembut ( smooth ) dan hindarilah hentakan yang tidak
wajar sebab akan membahayakan komponen – komponen hydraulic itu sendiri seperti cylinder
hydraulic, hose dan lain – lain

POWER TAKE OFF (PTO)

Didefinisikan sebagai peralatan pendukung luar untuk menggerakkan


berbagai peralatan pembantu (attachment: dump body cylinder ). PTO terdiri
dari gear-gear PTO dan pompa untuk mengirimkan oli dengan tekanan tinggi
pada sistem hidrolik. PTO mengambil tenaga dari komponen transmisi.

SISTEM BRAKE

JENIS
1. Exhaust Brake : Pengereman pada gas buang.
2. Service Brake : Pengereman pada semua roda.
3. Parking Brake : Pengereman pada roda paling belakang.

PRINSIP KERJA BRAKE & PENYETELAN

 Semua brake yang berhubungan dengan roda prinsip kerjanya / power untuk mengaktifkannya
menggunakan tekanan udara sepenuhnya.
 Sedangkan untuk penyetelan seluruh brake brake yang berhubungan dengan roda adalah manual

KOMPONEN – KOMPONEN UMUM BRAKE & FUNGSINYA

1. Air Compressor
Memproduksi dan menyuplai udara ke tanki udara
2. Air Dryer
Memisahkan air dan kotoran dari udara yang di kompresikan ,karena untuk menghindari resiko
gelembung es dalam sistim kompresi udara pemisahan ini terdapat dalam filter ceramic
3. Air Reservoir
Tempat penampungan udara serta penyuplaian kesistem
4. Air Governoor
Mengatur penyuplaian udara dari air compressor ke air resorvoir supaya tidak terjadi berlebihan
5. Pedal, Lever & Switch valve
Untuk mengaktifkan brake brake yang berhubungan dengan pointnya masing masing dengan
prinsif kerja sebagai pembuka dan penutup valve saluran udara bertekanan
6. Relay Valve
Mengatur tekanan udara yang keluar dari air resor voir menuju ke chamber brake

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 36
Power Train

7. Chamber brake
Memproses perubahan tenaga dari air pressure menjadi tenaga mekanis
8. Linning & Drum
Sebagai komponen utama brake ( point pengereman ) yang terjadi pada brake roda

JENIS – JENIS CHAMBER BRAKE, COMPONENT & PRINSIP KERJA

Chamber Brake Double


Action

Chamber Brake Single


Action

1. Chamber Brake Single Action

2. Chamber Brake Double Action

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 37
Power Train

 Pada saat engine hidup, udara masuk ke ruang B dari reservoir tank melalui piping1. Udara
mendorong diapraghma yang ditahan oleh spring loaded yang bertumpuan pada piston A,
sehingga piston B release.
 Pada saat kita menggunakan foot brake udara masuk ke chamber C melalui piping 2 sehingga
udara dengan bertekanan menekan diapraghma yang selanjutnya menekan piston D untuk
menggerakkan slack adjuster untuk merenggangkan brake shoe yang selanjutnya mnekan drump
brake, maka terjasilah proses pengereman.
 Pada saat angina yang ada di reservoir tank habis, maka spring loaded A menekan piston A
melalui diapraghma menekan piston B selanjutnya menekan piston D melalui rod mendorong slack
adjuster yang kemudian meregangkan brake shoe.

Pada saat engine hidup udara masuk ke ruang B dari reservoir tank, udara mendorong diapraghma
yang ditahan oleh spring loaded yang bertumpuan pada piston A sehingga spring loaded tertekan.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 38
Power Train
Pada saat foot brake digunakan udara masuk ke chamber C,
sehingga udara menekan diapraghma yang selanjutnya
menekan piston D untuk menggerakkan slack adjuster untuk
meraganggakan brake shoe dan menekan drump brake,
maka terjadilah proses pengereman.

Pada saat udara dalam reservoir tank habis, maka spring


loaded A menekan piston A melalui diapraghma menekan
piston B selanjutnya menekan piston D melalui rod
mendorong slack adjuster yang kemudian meregangkan
brake shoe.
Gambar . Chanmber Brake

Propeller shaft

Menerusakan putaran dari transmisi ke differential melalui universal/


cross join. Terletak diantara transmisi dan differential dan berbentuk
seperti rod atau batang silinder.

DIFFERENTIAL

Differential meneruskan putaran dari propeller shaft menuju final drive dengan membedakan rasio
putaran antara roda pada sisi kanan dan kiri bergantung dengan traksi atau beban yang diterima
masing-masing roda. Perbedaan putaran diperlukan sebagai konsekuensi atas gaya yang dterima saat
berbelok. Namun perbedaan putaran ini akan hilang saat Diffential Lock diaktifkan sehingga putaran
roda pada semua sisi akan sama.
Di dalam differential terdapat komponen seperti : bevel gear, side dan pinion gear.

FINAL DRIVE

Komponen akhir dari suatu power train. Final


drive mereduksi putaran yang diterima dari
engine untuk menghasilkan daya dorong yang
lebih besar.
Di dalam final drive terdapat komponen seperti
: planetary gear, ring gear dan sun gear.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 39
Power Train
SUSPENSION

P124CB6x4EHZ380
Sistem suspensi yang digunakan pada SCANIA P380
menggunakan jenis Multileaf spring, atau baja berlapis.
Penomoran pada leaf spring dimulai dari yang paling
panjang, contoh pada suspensi belakang, spring nomer satu
adalah yang paling bawah

TRUNION/ BOGIE

Komponen yang berfungsi sebagai kedudukan atau


penyangga suspensi belakang. Terletak diantara roda
yang berada pada front rear axle dan rear-rear axle

U-BOLT

Komponen yang berfungsi sebagai pengikat lapisan


suspensi (leaf spring)

TORQ ROD

Komponen yang berfungsi untuk mempertahankan kedudukan


axle – axle tetap teguh pada chasis. Berbentuk seperti rod atau
batang.

Operational Training Department


PT. PAMAPERSADA NUSANTARA 40

Common questions

Didukung oleh AI

Sistem hydraulic menggerakkan attachment pada kendaraan berat seperti dump body. Komponen utama adalah hydraulic oil tank untuk penampungan dan pendinginan oli, hydraulic pump untuk menyuplai oli bertekanan, control valve yang mengarahkan oli ke tempat yang dibutuhkan, dan hydraulic cylinder yang mengubah tenaga hydraulic menjadi mekanik . PTO (Power Take Off) mendukung pergerakan attachment dengan mengambil tenaga dari komponen transmisi dan memompakan oli bertekanan tinggi ke sistem hydraulic, memastikan operasi yang efektif .

Turbocharger meningkatkan jumlah udara masuk ke mesin, memungkinkan lebih banyak bahan bakar yang dibakar dan meningkatkan tenaga mesin tanpa mengubah struktur mesin . Turbocharger memiliki dua impeller, yaitu turbin dan blower. Turbin diputar oleh gas buang berkecepatan tinggi, dan pada ujung poros turbin dipasang blower yang berputar dengan kecepatan sama. Putaran turbocharger berkisar antara 50.000-150.000 RPM, dan pelumasan bearing dilakukan dengan oil engine untuk mempertahankan kinerja optimal .

Cylinder block berfungsi sebagai rumah bagi saluran pendinginan dan pelumasan. Pendinginan mencegah overheating yang bisa merusak mesin, sementara pelumasan memastikan komponen bergerak lancar tanpa gesekan berlebihan yang bisa menyebabkan keausan cepat. Bersama-sama, keduanya memastikan mesin beroperasi dengan efisien dan pada suhu optimal, memperpanjang umur mesin dan meningkatkan kinerjanya .

Aftercooler mendinginkan udara yang telah dipadatkan oleh turbocharger, meningkatkan kerapatan udara yang masuk ke ruang bakar dan meningkatkan tenaga mesin sebesar 5-10% . Pendinginan udara mencegah oksidasi nitrogen secara berlebihan, yang penting dalam mengurangi emisi nitrogen oksida pada gas buang .

Keuntungan utama mesin diesel adalah biaya operasional yang ekonomis karena bahan bakar yang digunakan lebih murah dan memiliki kalori tinggi, sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar . Mesin ini juga memiliki risiko kebakaran lebih rendah dan tidak memerlukan sistem penyalaan dan karburator. Kerugiannya termasuk berat output HP tinggi, getaran operasi lebih besar, kesulitan dalam memulai operasi, dan biaya pembuatan yang lebih mahal .

Mesin diesel mencapai efisiensi termal yang lebih tinggi karena bahan bakar memiliki kalori lebih besar dan titik nyala lebih tinggi dibandingkan bensin, yang mengurangi risiko kebakaran dan meningkatkan efisiensi pembakaran. Efisiensi thermis berkisar antara 30-35% . Faktor lain yang menentukan efisiensi adalah sistem pembakaran yang tidak memerlukan komponen seperti karburator, dan kemampuan untuk bekerja pada tekanan pembakaran lebih tinggi .

Mesin 4 langkah melalui proses intake, kompresi, tenaga, dan exhaust dengan 2 kali putaran crankshaft dan satu kali pembakaran, yang mengarah pada efisiensi kerja yang lebih baik tetapi proses yang lebih lambat . Mesin 2 langkah juga melalui proses serupa tetapi dengan satu putaran crankshaft dan satu kali pembakaran. Ini memungkinkan siklus kerja lebih cepat, tetapi sering kali kurang efisien dalam pembakaran dan membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk mencapai output tenaga serupa .

Exhaust brake digunakan dalam pengereman gas buang, service brake pada semua roda, dan parking brake pada roda belakang. Semua rem berfungsi dengan memanfaatkan tekanan udara sepenuhnya. Komponen penting termasuk air compressor yang menyuplai udara ke sistem dan air dryer yang memisahkan kotoran, menjaga sirkulasi udara bersih untuk menghindari kerusakan akibat es atau kotoran . Relay valve dan chamber brake mengatur distribusi dan konversi tekanan udara menjadi tenaga mekanik, memastikan pengereman yang efektif dan aman .

Oil cooler berfungsi mendinginkan oil engine sebelum bersirkulasi ke sistem dengan menggunakan media pendingin air radiator, menghindari overheating pada oil . Penyempitan pada oil cooler harus dihindari karena bisa menghambat sirkulasi oil, meningkatkan risiko overheat dan keausan prematur pada komponen mesin. Bypass valve harus memastikan oil tetap dapat bersirkulasi meski melalui jalur pendinginan terhalang .

Sistem fuel pada mesin diesel memanfaatkan beberapa komponen untuk mempertahankan kebersihan dan performa optimal. Fuel tank menyimpan bahan bakar dan mengendapkan kotoran. Water separator memisahkan bahan bakar dari air, sedangkan fuel filter membersihkan kotoran sebelum bahan bakar mencapai fuel injection pump . Fuel injection pump mengirimkan bahan bakar dengan tekanan tinggi ke nozzle, yang kemudian menyemprotkan dan mengabutkan bahan bakar ke ruang bakar. Saluran fuel return dan overflow valve mengelola tekanan dan kelebihan volume bahan bakar, mencegah kerusakan sistem .

Anda mungkin juga menyukai