PROPOSAL
HUBUNGAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN
KENAIKAN BERAT BADAN AKSEPTOR KB DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS PEMATANG KANDIS
TAHUN 2023
Disusun Oleh:
SUWAIBAH
PO71241230272
POLTEKKES KEMENKES JAMBI
PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
MAHASISWA KELAS KAB. MERANGIN
TAHUN AKADEMIK 2023/2024
i
DAFTAR ISI
Cover.....................................................................................................................i
Daftar Isi...............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................6
C. Tujuan Penelitian.......................................................................................6
D. Manfaat Penelitian.....................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kontrasepsi................................................................................................8
B. Kontrasepsi Suntik KB 3 Bulan (Progestin)..............................................11
C. Berat Badan...............................................................................................20
BAB III KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep......................................................................................26
B. Definisi Operasional..................................................................................26
C. Hipotesis....................................................................................................27
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian.......................................................................28
B. Lokasi dan Waktu Penelitian.....................................................................28
C. Populasi dan Sampel..................................................................................29
D. Jenis dan Cara Pengumpuan Data.............................................................31
E. Alat Ukur (Instrument Penelitian).............................................................32
ii
iii
F. Pengolahan dan Teknik Analisa Data........................................................33
G. Etika Penelitian..........................................................................................34
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah penduduk dunia pada tahun 2020 telah mencapai 7,7 milyar.
Indonesia merupakan negara ke-empat yang memiliki jumlah penduduk terbanyak
di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk Indonesia
pada tahun 2020 menurut hasil Sensus Penduduk 2020 (SP 2020) yang dilakukan
oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 adalah 270,20 juta jiwa, bertambah
32,56 juta jiwa dibandingkan SP 2010. Salah satu usaha pemerintah dalam
menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah program keluarga
berencana (KB) dengan menggunakan alat kontrasepsi.
Keluarga Berencana (KB) adalah suatu upaya yang dilakukan manusia untuk
mengatur secara sengaja kehamilan dalam keluarga secara tidak melawan hukum
dan moral Pancasila untuk kesejahteraan keluarga. Menurut WHO (World Health
Organization), keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau
pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak
diinginkan/direncanakan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan,
mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kehamilan dalam
hubungan dengan umur suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga berencana atau Family Planning/Planned Parenthood adalah suatu usaha
untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan
memakai alat kontrasepsi (Maritalia, 2014).
1
2
Kontrasepsi merupakan cara untuk mencegah dan menjarangkan kehamilan
serta merencanakan jumlah anak untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga
sehingga dapat memberikan perhatian dan pendidikan yang maksimal pada anak.
Setiap jenis kontrasepsi yang digunakan mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Pemilihan kontrasepsi harus disesuaikan dengan status kesehatan wanita, efek
samping, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, kerja sama
pasangan dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak. Efek
samping suatu metode kontrasepsi perlu dipertimbangkan dalam menentukan
keputusan terhadap keberlangsungan pemakaian kontrasepsi sehingga perlu
diupayakan perlindungan efek samping (Hartanto, 2015).
Kontrasepsi hormonal merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling
efektif dan reversibel untuk mencegah terjadinya konsepsi. Metode kontrasepsi
hormonal dibagi menjadi 3 yaitu : metode kontrasepsi pil, metode kontrasepsi
suntik, dan metode kontrasepsi implant (Handayani, 2017). Penggunaan metode
kontrasepsi hormonal memiliki efek samping, diantaranya : perubahan pola
menstruasi, peningkatan berat badan, mual, hipertensi, sakit kepala, peyudara
terasa penuh dan keputihan (Hapsari, dkk, 2012).
Pemilihan metode kontrasepsi bergantung pada banyak faktor yang
mempengaruhi, seperti karakteristik dari metode kotrasepsi, demografi dan faktor
sosial ekonomi yang berkaitan dengan populasi akseptor. Salah satu metode
kontrasepsi adalah kontrasepsi hormonal. Kontrasepsi hormonal adalah alat atau
obat yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan menggunakan
bahan baku preparat estrogen dan progesterone. Terdapat dua jenis kontrasepsi
3
hormonal suntik, yaitu Combined Injectable Contraceptives (CICs) dan
Progestine only Injectable Contraceptives (PICs). Jenis PICs diantaranya adalah
Depo-Medroxyprogesterone Acetate (DMPA), diberikan setiap tiga bulan sekali
sedangkan CICs mengandung kombinasi dari DMPA dan estradiol valerate yang
diberikan sebulan sekali (BKKBN, 2015).
Kontrasepsi suntik lebih di jadikan pilihan karena relatif lebih murah, tidak
terikat dengan koitus, mudah untuk dipergunakan, tidak invasif dan reversibel.
Efek samping penggunaan kontrasepsi suntik yang utama adalah perubahan berat
badan. Efek samping lain yang ditimbulkan dari penggunaan kontrasepsi suntik
diantaranya terganggunya pola haid (amenorea, menoragia dan muncul
bercak/spotting), dan kembalinya kesuburan lambat setelah penghentian
pemakaian. Peningkatan berat badan akibat penggunaan kontrasepsi suntik
disebabkan retensi cairan oleh kurangnya pengeluaran air dan natrium dan efek
metabolik hormonal meningkatkan nafsu makan (Wiknjosastro, 2012).
Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2022, angka pencapaian
akseptor Keluarga Berencana (KB) di Indonesia pada tahun 2022 sekitar 55 dari
100 Pasangan Usia Subur (PUS) umur 14 – 59 tahun sedang menggunakan alat
KB atau cara tradisional untuk menunda atau mencegah terjadinya kehamilan.
Sebanyak 55,36% telah menjadi akseptor KB aktif. Jumlah akseptor KB jangka
panjang seperti IUD hanya sebesar 8,35% akseptor, implant 9,49% akseptor,
MOW 3,66% akseptor, MOP 0,24% akseptor, kondom 2,06% akseptor, pil
18,18% akseptor dan jumlah akseptor KB terbanyak masih didominasi akseptor
KB suntik yaitu sebesar 56,01% akseptor.
4
Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), KB
aktif di antara PUS tahun 2019 sebesar 62,5%, mengalami penurunan dari tahun
sebelumnya yaitu sebesar 63,27%. Sementara target Rencana Pembangunan 4
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang ingin dicapai tahun 2019 sebesar 66%.
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017 menunjukan angka yang
lebih tinggi pada KB aktif yaitu sebesar 63,6%. Berdasarkan pola dalam pemilihan
jenis alat kontrasepsi, sebagian besar peserta KB aktif memilih suntikan dan pil
sebagai alat kontrasepsi bahkan sangat dominan (> 80%) dibanding metode
lainnya; suntikan (63,7%) dan pil (17,0%).
Wanita yang menggunakan kontrasepsi DMPA atau kontrasepsi suntik 3
bulan rata-rata mengalami peningkatan berat badan sebanyak 11 pon atau 5,5 kg
dan mengalami peningkatan lemak tubuh sebanyak 3,4% dalam waktu 3 tahun
pemakaian. Ibu yang beralih dari kontrasepsi oral atau pil menggunakan
kontrasepsi suntik akan mengalami peningkatan berat sekitar 4 pon atau 2 kg
badan dalam jangka waktu yang sama (Saifuddin, 2014).
Berdasarkan jurnal oleh (Febriani & Ramayanti, 2020) menjelaskan bahwa
sebagian besar akseptor yang menggunakan KB suntik 3 bulan berusia 20-35
tahun yaitu sebanyak 75 akseptor dari total sampel 90 akseptor atau sebanyak
83,3% dengan lama penggunaan KB lebih dari 12 bulan atau 1 tahun lamanya.
Berdasarkan hasil penelitian dari Rahayu dan Wijanarko (2017) tentang efek
samping akseptor KB suntik DMPA setelah dua tahun pemakaian disimpulkan
bahwa dari 74 responden yang mengalami gangguan menstruasi berupa amenorea
sebanyak 39 responden (52,7%), kejadian keputihan pada 74 responden, yang
5
mengalami keputihan (0%), mengalami peningkatan berat badan sebanyak 43
responden (58,1%), mengalami mual dan muntah 72 responden (97,3%).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan Dusun Bangko
Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis di dapatkan jumlah akseptor KB
suntik DMPA selama tahun 2022 sebanyak 197 orang. Penulis melakukan
wawancara terhadap 9 orang ibu yang menjadi akseptor KB suntik DMPA. Isi
wawancara mengenai hal-hal yang berkaitan dengan efek samping yang dirasakan
ibu selama menggunakan KB suntik DMPA. Hasil 5 wawancara menunjukkan
bahwa dari 9 orang akseptor KB suntik DMPA, 5 orang telah menjadi akseptor
selama lebih dari 3 tahun dan 4 orang kurang dari 3 tahun. 7 orang (77,8%)
akseptor mengalami masalah peningkatan berat badan dan 2 orang (22,2%)
akseptor menyatakan tidak mengalami peningkatan berat badan. Penelitian ini
hanya dibatasi untuk melihat ada atau tidaknya hubungan penggunaan kontrasepsi
suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat badan pada akseptor KB di
Kelurahan Dusun Bangko Tahun 2023.
Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul hubungan pemakaian kontrasepsi suntik tiga bulan dengan kenaikan berat
badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja Puskesmas
Pematang Kandis Tahun 2023.
6
B. Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan
(progestin) dengan peningkatan berat badan akseptor KB di Kelurahan Dusun
Bangko Wilayah Kerja Pueskesmas Pematang Kandis Tahun 2023?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan
(progestin) dengan peningkatan berat badan pada akseptor KB di Kelurahan
Dusun Bangko Wilayah Kerja Pueskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik akseptor KB suntik 3 bulan
(progestin) di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja Pueskesmas
Pematang Kandis Tahun 2023.
b. Untuk mengidentifikasi apakah terdapat hubungan antara penggunaan
kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat badan
pada akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja
Pueskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.
7
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Perkembangan Ilmu Kebidanan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk menambah
wawasan tentang kontrasepsi suntik dan mampu memberikan kontribusi
terhadap perkembangan ilmu kebidanan, khususnya dalam hal kesehatan ibu.
b. Bagi Responden
c. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi dan tambahan
pengetahuan bagi akseptor KB dalam menentukan kontrasepsi yang akan
digunakan.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk referensi penelitian pada kesehatan,
keluarga, dan kedokteran terkait kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) yang
selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kontrasepsi
1. Definisi Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti
mencegah atau melawan sedangkan konsepsi berarti proses bertemunya sel
telur (ovum) dan sel sperma yang mengakibatkan terjadinya pembuahan dan
berakibat pada kehamilan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kontrasepsi
berarti mencegah adanya pertemuan antara sel telur (ovum) dan sel sperma
sehingga tidak terjadi pembuahan dan tidak mengakibatkan kehamilan.
Kontrasepsi merupakan usahausaha untuk mencegah terjadinya kehamilan.
Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara dan permanen. Kontrasepsi yaitu
pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan
menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim (Nugroho dan
Utama, 2014).
Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah kehamilan yang dapat
bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Sedangkan menurut
Mochtar, kontrasepsi merupakan cara untuk mencegah terjadinya konsepsi
dengan menggunakan alat atau obat-obatan. Mochtar juga menambahkan
definisi keluarga berencana sebagai suatu usaha menjarangkan atau
merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Menurut BKKBN sendiri, kontrasepsi merupakan cara menghindari atau
8
9
mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang
matang dengan sel sperma (Aryanti, 2014).
2. Tujuan Kontrasepsi
Tujuan kontrasepsi adalah untuk menunda kehamilan, menjarangkan
kehamilan, dan manghentikan atau mengakhiri kehamilan/ kesuburan.
Kontrasepsi yang ideal seharusnya selain efektif dan aman, haruslah tidak
menimbulkan nyeri, tidak mengganggu spontanitas, tidak mengotori, tidak
berbau, mudah digunakan, harga terjangkau, tidak bertentangan dengan
budaya setempat (Aryanti, 2014).
3. Jenis Kontrasepsi
Terdapat berbagai jenis alat kontrasepsi yang biasa digunakan
masyarakat, yaitu kontasepsi dengan metode alamiah (metode kalender,
metode suhu basal, metode lendir serviks, metode simpto-termal), metode
pantang berkala, kondom, diafragma, spermisida, kontrasepsi hormonal per-
oral (pil), kontasepsi hormonal injeksi (suntik), implant, IUD, MOP, MOW.
Berbagai jenis alat kontrasepsi ini diciptakan untuk mencapai sasaran dari
program keluarga berencana yang heterogen, seperti pasangan usia subur yang
ingin menunda/ menjarangkan/ mengatur jumlah anak, ibu yang memiliki
jumlah anak agar dapat menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian
bayi akibat faktor multiparitas, dan ibu yang mempunya resiko tinggi jika
mengalami kehamilan (menderita penyakit tertentu) (Affandi dkk, 2014).
Ada beberapa metode pencegahan kehamilan atau kontrasepsi yang
tersedia untuk calon akseptor, antara lain Metode Amenore Laktasi (MAL),
10
Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA), sanggama terputus, metode
barier (kondom, diafragma, spermisida), kontrasepsi kombinasi yang berisi
hormon estrogen dan progesterone yang dikemas dalam bentuk pil kombinasi
dan suntikan kombinasi, kontrasepsi progestin (kontrasepsi suntikan
progestin, kontrasepsi pil progestin, kontrasepsi implant, AKDR dengan
progestin), Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), dan kontrasepsi mantap
(tubektomi, vasektomi, rekanalisasi (Saifuddin, 2014).
4. Kontrasepsi Suntik
Kontrasepsi suntik adalah alat kontrasepsi yang disuntikan ke dalam
tubuh dalam jangka waktu tertentu, kemudian masuk ke dalam pembuluh
darah diserap 10 sedikit demi sedikit oleh tubuh yang berguna untuk
mencegah timbulnya kehamilan. Tujuan utama dari kontrasepsi suntik adalah
kontrasepsi yang kerjanya lama dan tidak membutuhkan pemakaian setiap
harinya atau setiap akan bersenggama (Hartanto, 2015).
5. Jenis Kontrasepsi Suntik
Terdapat beberapa jenis kontrasepsi suntik yaitu:
a. Kontrasepsi suntik 1 bulan (Kombinasi)
Sangat efektif (0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun
pertama penggunaan. Cara kerja suntikan kombinasi adalah menekan
ovulasi, membuat lender serviks menjadi kental sehingga penetrasi
sperma terganggu, terjadi perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga
implantasi terganggu, dan menghambat transportasi gamet oleh tuba.
Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat
11
dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali
(Cyclofem), dan 50 mg noretrindron enantat dan 5 mg estrandiol valerat
yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali (Rufaridah, et al., 2017).
b. Kontrasepsi suntik 3 bulan (Progestin)
Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) adalah kontrasepsi yang hanya
mengandung hormon progestin saja. Kontrasepsi suntikan progestin
sangat efektif dan cocok digunakan saat masa laktasi karena tidak
menghambat produksi ASI. Cara kerja kontrasepsi ini mencegah ovulasi,
mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi
sperma, menjadikan selaput lendir rahim tipis 11 dan atrofi, dan
menghambat transportasi gamet oleh tuba. Tersedia dua jenis kontrasepsi
suntikan yang hanya mengangandung progestin, yaitu Depo
metroksiprogesteron asetat (DMPA), yang mengandung 150 mg DMPA,
yang diberikan setiap tiga bulan dengan cara disuntikan intramuskuler
dan Depo noretisteron anantat (Depo Noristerat), yang mengandung 200
mg noretindron enantat, diberikan setiap dua bulan dengan cara
disuntikan intramuskuler (Rufaridah, et al., 2017).
B. Kontrasepsi Suntik 3 Bulan (Progestin)
1. Definisi
Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) adalah kontrasepsi yang hanya
mengandung hormon progestin saja. Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)
yang lebih sering disebut dengan kontrasepsi suntik 3 Bulan DMPA termasuk
12
jenis gestagen alamiah yang berasal dari turunan progesterone yang memiliki
ikatan reseptor yang relative kuat terhadap reseptor glukokortikoid dan
aldosteron. Khasiat glukokortikoidnya baru akan terlihat pada pemberian
dosis tinggi. Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) berisi depo medroksi
progesterone asetat (DMPA) dan diberikan dalam suntikan tunggal 150 mg
secara intramuscular setiap 12 minggu (3 bulan). DMPA adalah suatu sintesa
progestin yang mempunyai efek seperti progestin asli dari tubuh wanita
(Anggraini dan Martini, 2012)
2. Mekanisme Kerja
Menurut Hartanto (2015) mekanisme kerja kontrasepsi suntik 3 bulan
(progestin) terbagi dua yaitu:
a. Primer
Mencegah ovulasi endometrium menjadi dangkal dan atrofis
dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Sering stroma menjadi
oedeomatus. Dengan pemakaian jangka lama, endometrium dapat
menjadi sedemikian sedikitnya, sehingga tidak didapatkan atau hanya
didapatkan sedikit sekali jaringan bila dilakukan biopsi. Tetapi,
perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi normal dalam waktu
90 hari setelah suntikan DMPA yang terakhir.
b. Sekunder
Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga merupakan
barier terhadap spermatozoa dan membuat endometrium menjadi kurang
baik atau kurang layak untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi.
13
Cara kerja kontrasepsi suntik menurut Irianto (2013) adalah sebagai
berikut:
a) Mencegah ovulasi
b) Mengentalkan lendir rahim sehingga sulit ditembus oleh sperma
c) Mencegah transformasi gamet oleh tuba fallopi
3. Kerugian
Menurut Anggraini dan Martini (2012) kerugian kontrasepsi suntik 3 bulan
(progestin) antara lain:
a) Sering ditemukan gangguan haid, seperti:
1) Siklus haid yang memendek atau memanjang
2) Perdarahan yang banyak atau sedikit
3) Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
4) Tidak haid sama sekali
b) Klien sering mengalami pusing, mual dan muntah
c) Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan
d) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya
e) Permasalahan berat badan
f) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular
seksual, hepatitis B virus dan infeksi virus HIV
g) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
h) Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
i) Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan
tulang
14
j) Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan vagina,
menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala dan jerawat.
4. Keuntungan
Menurut Manuaba (2012) keuntungan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)
adalah:
a) Pemberiannya sederhana setiap 12 minggu
b) Tingkat efektivitasnya tinggi
c) Hubungan seks dengan KB suntikan bebas
d) Pengawasan medis yang ringan
e) Dapat diberikan pasca persalinan, pasca keguguran, atau pasca menstruasi
f) Tidak mengganggu proses laktasi dan tumbuh kembang bayi Sedangkan
Menurut Saifuddin (2014), keuntungan suntikan progestin adalah:
a) Sangat efektif
b) Pencegahan kehamilan jangka panjang
c) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah
e) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
f) Sedikit efek samping
g) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
h) Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopause
i) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
j) Menurukan kejadian penyakit jinak payudara
15
k) Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
l) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
5. Teknik Penyuntikan
Penyuntikan DMPA harus diberikan dalam lima hari pertama masa
menstruasi, tidak dibutuhkan kontrasepsi tambahan. Setelah itu suntikan
selanjutnya diberikan setiap 12 minggu. Suntikan harus diberikan secara
intramuscular pada kuadran luar atas bokong, spuit yang sebelumnya telah
diisi DMPA harus dikocok sebelum diberikan (Anggraini dan Martini (2012).
Cara penyuntikan kontrasepsi suntikan menurut Pinem (2014), yaitu:
a) Kontrasepsi suntik 3 bulan dengan dosis 150 mg secara intramuskuler
dalamdalam di daerah pantat (bila suntikan terlalu dangkal, maka
penyerapan kontrasepsi suntikan berlangsung lambat, tidak bekerja secara
efektif). 15 Suntikan diberikan setiap 90 hari. Jangan melakukan masase
pada daerah suntikan.
b) Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alcohol yang telah
dibasahi dengan isopropyl alcohol 60% - 90%. Tunggu dulu sampai kulit
kering, baru disuntik.
c) Kocok obat dengan baik, cegah terjadinya gelembung udara. Bila terdapat
endapan putih di dasar ampul, hilangkan dengan cara menghangatkannya.
Kontrasepsi suntikan ini tidak perlu didinginkan.
d) Semua obat harus diisap kedalam alat suntik
16
6. Farmakologi
Menurut Anggraini dan Martini (2012) farmakologi dari kontrasepsi
suntik 3 bulan (progestin):
a) Tersedia dalam larutan mikrokristalin
b) Setelah satu minggu penyuntikan 150 mg, tercapai kadar puncak, lalu
kadarnya tetap tinggi untuk 2-3 bulan, selanjutnya menurun kembali.
c) Ovulasi mungkin sudah dapat timbul setelah 73 hari penyuntikan, tetapi
umumnya ovulasi baru timbul kembali setelah 4 bulan atau lebih.
d) Pada pemakaian jangka lama, tidak terjadi efek akumulatik dari DMPA
dalam darah atau serum.
7. Efektivitas
Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) sangat efektif sebagai metode
kontrasepsi. Kurang dari 1 per 100 wanita akan mengalami kehamilan dalam
satu tahun pemakaian DMPA. Dosis DMPA dengan daya kerja kontraseptif
yang paling sering dipakai 150 mg setiap 3 bulan adalah dosis tinggi. Setelah
disuntik, 16 ovulasi tidak akan terjadi untuk minimal 14 minggu (Hartanto,
2015). DMPA memiliki efektifitas yang tinggi dengan 0,3 kehamilan per 100
perempuan pertahun asal penyuntikan dilakukan secara benar sesuai jadwal
yang telah ditentukan (Pinem, 2015).
8. Indikasi
Pinem (2015), menganjurkan pemakaian kontrasepsi suntik pada:
a) Usia reproduktif.
17
b) Menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang, atau klien telah
mempunyai anak sesuai harapan
c) Klien yang sedang menyusui
d) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
e) Setelah abortus atau keguguran
f) Klien yang mendekati massa menopause, atau sedang menunggu proses
sterilisasi juga cocok menggunakan kontrasepsi suntik.
9. Kontraindikasi
WHO (dalam Hartanto, 2015) menganjurkan untuk tidak
menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) pada:
a) Kehamilan
b) Karsinoma payudara
c) Karsinoma traktus genetalia
d) Perdarahan abnormal uterus
e) Pada wanita diabetes atau riwayat diabetes selama kehamilan, harus
dilakukan follow up dengan teliti, karena dari beberapa percobaan 17
laboratorium ditemukan bahwa DMPA mempengaruhi metabolisme
karbohidrat.
10. Peringatan
Peringatan yang harus diperhatikan saat pemakaian KB suntik 3 bulan
DMPA menurut Anggraini dan Martini (2012)
a) Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan hamil
18
b) Nyeri abdomen bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan ektopik
terganggu
c) Sakit kepala migraine, sakit kepala berulang yang berat, atau kaburnya
penglihatan
d) Perdarahan yang berat 2 kali lebih panjang dari masa haid atau 2 kali
lebih banyak dalam satu periode masa haid
11. Waktu Mulai Penggunaan
Waktu mulai penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan menurut Pinem
(2015) adalah setiap saat selama hamil siklus haid, asal ibu tersebut diyakini
tidak hamil, mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid. Pada ibu yang
tidak haid, asalkan ibu tersebut tidak hamil, suntikan pertama dapat diberikan
setiap saat. Selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh bersanggama.
Perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin
mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Bila kontrasepsi sebelumnya dipakai
dengan benar dan ibu tidak hamil, suntikan pertama dapat segera diberikan.
Tidak perlu menunggu haid berikutnya datang. Ibu yang sedang menggunakan
kontrasepsi lain dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi suntikan yang
lain lagi, kontrasepsi yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal
kontrasepsi suntikan yang sebelumnya. Ibu yang menggunakan kontrasepsi
non hormonal dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal, suntikan
pertama kontrasepsi yang akan diberikan dapat segera disuntikkan, asal saja
ibu tidak hamil. Pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang.
Bila ibu disuntik setelah suntikan ibu tidak boleh bersenggama.
19
12. Lama Pemakaian Konrasepsi
Masalah utama pada penggunaan depo medroksi progesteron asetat
(DMPA) adalah perdarahan, menstruasi yang tidak teratur, nyeri payudara,
peningkatan berat badan, dan depresi. Sejauh ini, masalah yang paling umum
adalah perubahan pada menstruasi. Dalam sebuah penelitian internasional,
alasan medis paling umum untuk menghentikan DMPA selama 2 tahun
penggunaan adalah sebagai berikut: sakit kepala (2,3%), penambahan berat
badan (2,1%), pusing (1,2%), nyeri perut (1,1%), kecemasan (0,7%). Depresi,
kelelahan, penurunan libido, dan hipertensi juga dijumpai, namun apakah
DMPA menyebabkan efek samping ini sulit diketahui karena mereka adalah
keluhan yang sangat umum terjadi pada non 12 pengguna (Speroff & Darney,
2011).
Efek pada kepadatan tulang, penggunaan kontrasepsi DMPA dikaitkan
dengan hilangnya kepadatan tulang jangka pendek, hal ini dikaitkan dengan
fakta bahwa kadar estrogen dalam darah dengan DMPA relatif lebih rendah
dibandingkan dengan siklus menstruasi normal, sebuah penjelasan yang
didukung oleh demonstrasi bahwa pengobatan estrogen mencegah terjadi
kehilangan kepadatan tulang. Perbandingan antara pengguna DMPA dengan
bukan pengguna, kepadatan tulang di pinggul dan tulang belakang pengguna
DMPA menurun 0,5-3,5% setelah 1 tahun dan 5,7-7,5% setelah 2 tahun
penggunaan. Tingkat kehilangan terbesar selama 1-2 tahun pertama
penggunaan (Speroff & Darney, 2011). Penggunaan kontrasepsi hormonal
seperti pil dan suntikan tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang
20
mengingat efek samping yang dapat ditimbulkannya. Kontrasepsi hormonal
sebaiknya digunakan tidak lebih dari dua tahun, jika ingin menggunakan
kontrasepsi jangka panjang maka bisa direkomendasikan untuk menggunakan
kontrasepsi jenis intra uterin device (IUD) atau tubektomi/vasektomi jika
tidak ingin merencanakan kehamilan lagi (Affandi, dkk, 2014).
C. Berat Badan
1. Definisi
Berat badan adalah suatu ukuran yang diperlukan untuk sebuah
pengukuran pertumbuhan fisik dan diperlukan untuk seseorang menerima
dosis obat yang diperlukan. Definisi lain dari berat badan yaitu beberapa
jumlah komponen tubuh seperti protein, lemak, air, mineral. Sedangkan untuk
peningkatan berat badan adalah kondisi dimana jumlah berat badan seseorang
melebihi normal dan melebihi berat badan semula (Anggraeni, 2012).
Berat badan adalah hasil dari penurunan maupun peningkatan pada
semua jaringan tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, dan cairan tubuh
lainnya. Sehingga, peningkatan berat badan dapat diartikan berubahnya
ukuran berat, yang di akibatkan dari peningkatan maupun penurunan
konsumsi makan yang diubah menjadi lemak dan disimpan dibawah kulit
(Istiany, 2014).
2. Peningkatan Berat Badan
Berat badan adalah suatu ukuran yang diperlukan untuk sebuah
pengukuran pertumbuhan fisik dan diperlukan untuk seseorang menerima
21
dosis obat yang diperlukan. Definisi lain dari berat badan yaitu beberapa
jumlah komponen tubuh seperti protein, lemak, air, mineral. Sedangkan untuk
peningkatan berat badan adalah kondisi dimana jumlah berat badan seseorang
melebihi normal dan melebihi berat badan semula (Anggraeni, 2012).
Berat badan adalah hasil dari penurunan maupun peningkatan pada
semua jaringan tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, dan cairan tubuh
lainnya. Sehingga, peningkatan berat badan dapat diartikan berubahnya
ukuran berat, yang di akibatkan dari peningkatan maupun penurunan
konsumsi makan yang diubah menjadi lemak dan disimpan dibawah kulit
(Istiany, 2014).
3. Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Berat Badan
a) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan juga mempengaruhi kondisi tubuh atau berat badan
seseorang seperti, makanan apa yang dikonsumsi, frekuensi makan dalam
satu hari, dan bagaimana aktivitas yang dilakukan (Hardinsyah, 2017).
b) Usia
Ketika usia bertambah atau semakin tua dan seseorang tersebut kurang
aktif bergerak maka masa otot tubuh akan cenderung menurun dan
menyebabkan perlambatan tingkat pembakaran kalori, sehingga tubuh
akan sulit membakar kalori yang masuk dan terjadi penumpukan energi
(Hardinsyah, 2017).
c) Faktor Psikis
22
Seseorang yang sedang mengalami stress atau kekecewaan dapat
mengakibatkan gangguan pola makan, seperti peningkatan nafsu makan
(Hardinsyah, 2017).
d) Menurunnya aktivitas fisik
Jika aktivitas fisik seseorang kurang dan orang tersebut mengkonsumsi
makanan yang mengandung banyak lemak akan berdampak negatif
terhadap kondisi tubuh seseorang. Sedangkan aktivitas fisik itu sendiri
diperlukan untuk membakar energi dalam tubuh (Kurdanti, 2015).
e) Kebiasaan pola makan
Misalnya, tingginya asupan karbohidrat pada seseorang. Sedangkan
karbohidrat memiliki kadar gula yang tinggi yang dapat memicu
penambahan berat badan. Di dalam tubuh, pada sebagian karbohidrat di
sirkulasi darah dalam bentuk glukosa. Sebagian lagi di jaringan otot dan
sebagian lagi di jaringan otot dan di hati dalam bentuk glikogen dan
sisanya menjadi simpanan lemak yang nantinya berfungsi untuk cadangan
energy dalam tubuh (Rahmandita, 2017).
f) Pemakaian KB
Pemakaian KB terutama pada KB hormonal. Hal ini karena kandungan
hormon estrogen dan progesteron yang ada pada kontrasepsi hormonal.
Progesteron dapat merangsangkan peningkatan nafsu makan, sehingga
kontrasepsi hormonal dapat mengakibatkan bertambahnya berat badan
(Khoiriah, 2017).
4. Akibat dari kenaikan berat badan yang berlebih
23
Peningkatan berat yang berlebih akan menyebabkan timbulnya
beberapa penyakit seperti obesitas, hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit
jantung. Upaya yang perlu dilakukan tenaga kesehatan memberikan KIE
(Komunikasi, Informasi serta Edukasi) tentang penyebab terjadinya, dan
anjurkan klien untuk melakukan diet rendah kalori serta olahraga yang teratur
(Hardinsyah, 2017).
5. Hubungan KB suntik dengan peningkatan berat badan
KB suntik adalah alat kontrasepsi yang berupa cairan lalu disuntikkan
kedalam tubuh, ada yang 1 bulan sekali yang berisi estrogen dan progesteron,
tetapi ada juga yang 3 bulan sekali yang hanya berisi progesteron (Irianto,
2014). KB suntik 1 bulan dan 3 bulan sama-sama mengandung hormon
progesteron yang mempunyai efek terhadap meningkatnya nafsu makan.
Namun demikian, kandungan hormon progesteron pada KB suntik DMPA
lebih besar dibandingkan KB suntik kombinasi yaitu 25 mg untuk suntik
kombinasi dan 150 mg untuk suntik DMPA. Kandungan hormon progesteron
pada KB suntik DMPA lebih besar dibandingkan dengan KB suntik
kombinasi, sehingga pengaruh terhadap peningkatan berat badan juga lebih
besar DMPA dibanding kombinasi (Setyoningsih, 2020).
Hormon progesteron yang nantinya dapat merangsang pusat
pengendali nafsu makan yang disebut dengan hipotalamus. Semakin banyak
hormon progesteron yang merangsang hipotalamus, maka semakin besar
nafsu makan seseorang. Sehingga akseptor KB suntik DMPA dapat lebih
besar nafsu makannya dibanding KB suntik 1 bulan (Setyoningsih, 2018).
24
Penambahan berat badan terjadi karena progesteron yang dapat meningkatkan
nafsu makan serta mempermudah perubahan karbohidrat menjadi lemak,
sehingga penumpukan lemak yang menyebabkan berat badan semakin
bertambah. Sedangkan estrogen juga mempengaruhi metabolisme lipid yang
mengarah ke peningkatan cadangan lemak tubuh, khususnya di daerah perut,
sehingga mengakibatkan peningkatan berat badan (Rufaridah, et al, 2017).
Selain itu, komponen estrogen juga dapat menyebabkan retensi cairan
sehingga terjadi pertambahan berat badan (Hariadini, et al, 2017). Peningkatan
berat badan pada KB suntik 3 bulan ini rata-rata 1-5 kg pada tahun pertama.
Sedangkan, Peningkatan berat badan pada KB suntik 1 bulan rata 2-3 kg pada
tahun pertama pemakaian (Rufaridah, et al, 2017).
6. Hubungan KB suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat
badan
Menurut para ahli DMPA KB suntik mempengaruhi adanya perubahan
berat badan. Pengaruh KB suntik terhadap perubahan berat badan yaitu bahwa
kandungan hormone progesterone dalam bentuk hormone sintetis Depo
Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) mempermudah metabolisme perubahan
karbohidrat dan gula menjadi lemak sehingga lemak dibawah kulit bertambah
dan menurunkan aktivitas fisik. Selain itu hormone Progesteron (DMPA) juga
merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan
nafsu makan bertambah sehingga akseptor makan lebih banyak dari biasanya.
Akibatnya pemakaian kontrasepsi dapat menyebabkan perubahan berat badan
diantaranya terjadi peningkatan berat badan (Prawirohardjo, 2014).
25
Kegemukan yang terjadi pada akseptor KB suntik DMPA pada
dasarnya dikarenakan hormon progesteron yang dapat menyebabkan nafsu
makan bertambah apabila dosis yang tinggi dan berlebihan karena menurut
para ahli DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus
yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya (Hartanto,
2015).
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat
dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar
variabel, baik variabel yang diteliti maupun variabel yang tidak diteliti. Variabel
independent dalam penelitian ini adalah kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)
sedangkan variabel dependent dalam penelitian ini adalah peningkatan berat badan
Variabel Independent Variabel Dependent
Kontrasepsi progestin Peningkatan Berat
(KB suntik 3 bulan) badan
B. Definisi Operasional
3.1 Tabel Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur
1 Penggunaan Pernah/ menggunakan Kuesioner Nominal 1. 1-2 tahun
kontrasepsi kontrasepsi hormonal 2. > 2 tahun
suntik 3 bulan dengan jenis suntik
(progestin) progestin dengan lama
pemakaian minimal 1
tahun
2 Peningkatan Berat badan Kuesioner dan Ordinal 1. Ada
Berat Badan merupakan hasil timbangan peningkatan
peningkatan/penuruna BB
n semua jaringan yang 2. Tidak ada
ada pada tubuh,antara peningkatan
lain tulang, otot, BB
lemak, cairan tubuh
dan lain-lainnya.
26
27
C. Hipotesis
Menurut Sugiyono (2014) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penelitian, dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan
baru didasarkan pada teori. Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang
merupakan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan.
1. Ha: Ada hubungan penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) dengan
peningkatan berat badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah
Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.
2. Ho: Tidak ada hubungan penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)
dengan peningkatan berat badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko
Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, yaitu penelitian yang
digunakan untuk meneliti populasi/sampel tertentu, pengumpulan data dengan
instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan
menguji hipotesis yang ditetapkan (Sugiyono, 2014). Desain ini menggunakan
pendekatan cross sectional study dengan tujuan untuk mengetahui hubungan
penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat
badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja Puskesmas
Pematang Kandis Tahun 2023 yang diamati pada periode waktu yang sama.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah
Kerja Puskesmas Pematang Kandis.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari 2024 sampai dengan
Februari 2024.
28
29
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek dalam pengamatan yang dilakukan
(Arikunto, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB
suntik 3 bulan (progestin) di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja
Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2022 yang berjumlah 197 orang.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat digunakan
sebagai subyek penelitian melalui sampling yang mewakili populasi yang ada
(Nursalam, 2016). Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus
Lameshow (1990) dengan jumlah populasi diketahui sebagai berikut:
2
N . Z 1−a /2 . p . q
2 2
e ( N−1 )+ Z 1−a/ 2 . p . q
( 197 ) . ( 1 , 96 )2 . ( 0 , 5 ) . ( 0 ,5 )
n= 2 2
( 0 ,15 ) ( 197−1 )+ ( 1, 96 ) . ( 0 , 5 ) . ( 0 , 5 )
189 ,2
n=
4 , 41+0 ,96
189 , 2
n=
5 , 37
n=35 , 23=35
Keterangan:
n : Besar sampel
N : Jumlah Populasi
2
Z1−a / 2 : Nilai distribusi normal baku (table z) (Z=1,96 untuk α=
30
0,05)
p : Proporsi pada populasi sebesar 0,5 (q = 1- p)
e : Kesalahan absolut yang dapat ditoleransi = 15%
Jadi total sampel pada penelitian ini adalah 35 akseptor KB suntik 3 bulan
(progestin) yang akan di jadikan sampel penelitian. Dan teknik pengambilan
sampel menggunakan purposive sampling dengan berdasarkan kriteria penelitian
yang sesuai untuk responden.
Kriteria inklusi:
1) Akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) bertempat tinggal di
Kelurahan Dusun Bangko
2) Bersedia menjadi responden
3) Menggunakan alat kontrasepsi suntik progestin (KB suntik 3 bulan) lebih
dari satu tahun
4) Tidak buta huruf
Kriteria eksklusi:
1) Akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) bertempat tinggal di luar
desa Sialambue
2) Tidak bersedia menjadi responden
3) Menggunakan alat kontrasepsi suntik progestin (KB suntik 3 bulan) kurang
dari satu tahun
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
31
1. Jenis Data
a) Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diperoleh dari responden
atau objek penelitian langsung. Pada penelitian ini responden nya adalah
Akseptor KB suntik 3 bulan (progestin).
b) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek
yang diteliti. Data ini diperoleh dari Arsip Kunjugan Kontrasepsi Akseptor
KB suntik 3 bulan (progestin).
2. Cara Pengumpulan Data
Menurut Sugiono (2017), cara pengumpulan data yang dapat dilakukan
sebagai berikut:
a) Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik
terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
b) Kuesioner & Angket
Pengumpulan data dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau
pernyataan kepada responden untuk dijawab.
c) Interview (Wawancara)
Cara pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan Tanya
jawab langsung dengan responden
d) Dokumen
32
Cara pengumpulan data yang diambil dari dokumen atau catatan peristiwa
yang sudah berlalu.
E. Alat Ukur (Instrument Penelitian)
Instrumen penelitian menurut Arikunto (2013) merupakan alat bantu bagi
peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya
lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis, sehingga mudah
diolah. Instrumen yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah kuesioner
yang berisi:
a) Data identitas akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) berupa umur,
pendidikan dan pekerjaan.
b) Data lama pemakaian KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) yang terdiri
dari 1-2 tahun dan > 2 tahun.
c) Data berat badan akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan), terdiri
dari:
1) Berat badan sebelum pemakaian KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan)
2) Berat badan setelah pemakaian KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan).
3) Peningkatan berat badan selama pemakaian KB suntik progestin (KB
suntik 3 bulan).
Pengukuran berat badan setelah pemakaian KB suntik progestin (KB suntik
3 bulan) dilakukan dengan menggunakan timbangan yang sudah dipersiapkan.
33
F. Pengolahan dan Teknis Analisa Data
1. Pengolahan Data
Dalam melakukan analisis data, data yang telah terkumpul diolah
dengan tujuan mengubah data menjadi informasi. Pengolahan data dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Pengeditan Data (data editing)
Dilakukan dengan memeriksa kuesioner yang telah terisi. Bisa terdapat
kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data dan akan dilakukan
pengecekan ulang dengan tujuan agar data yang masuk dapat diolah
secara benar, sehingga dapat memberikan hasil yang menggambarkan
masalah yang diteliti.
b. Coding
Pemberian kode pada setiap data yang telah dikumpulkan untuk
memperoleh memasukkan data ke dalam tabel.
c. Skoring
Memberikan skor pada setiap jawaban yang diberikan pada responden,
selanjutnya menghitung skor jawaban dari pertanyaan yang diberikan.
d. Tabulating
Untuk mempermudah analisa data pengolahan data serta pengambilan
kesimpulan, data dimasukkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan
34
memberikan skor terhadap pernyataan yang diberikan kepada responden
(Notoatmodjo, 2012).
2. Teknik Analisa Data
Setelah data-data yang penulis perlukan terkumpul, maka langkah
selanjutnya adalah menganalisis data. Analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan dua acara, yaitu:
a. Analisis univariate
Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2012).
b. Analisis bivariate
Analisis bivariate dilakukan terhadap dua variabel yang diduga
berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini
dilakukan analisis bivariate pada setiap variabel independen terhadap
variabel dependen. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square
dengan nilai α = 0,05 yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar
variabel.
G. Etika Penelitian
1. Informed Consent (persetujuan)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan
responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.
2. Anonimity (tanpa nama)
35
Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan jaminan
dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak mencantumkan nama
responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar
pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya
(Hidayat, 2017).