0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan38 halaman

Pengaruh Kontrasepsi Suntik pada Berat Badan

Proposal ini membahas hubungan antara pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan dengan kenaikan berat badan akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Pematang Kandis tahun 2023. Penelitian ini akan menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan mengumpulkan data secara retrospektif dari rekam medis akseptor KB suntik di puskesmas tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat mengetahui apakah terdapat

Diunggah oleh

Vici Ramona
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan38 halaman

Pengaruh Kontrasepsi Suntik pada Berat Badan

Proposal ini membahas hubungan antara pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan dengan kenaikan berat badan akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Pematang Kandis tahun 2023. Penelitian ini akan menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan mengumpulkan data secara retrospektif dari rekam medis akseptor KB suntik di puskesmas tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat mengetahui apakah terdapat

Diunggah oleh

Vici Ramona
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

HUBUNGAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN


KENAIKAN BERAT BADAN AKSEPTOR KB DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS PEMATANG KANDIS
TAHUN 2023

Disusun Oleh:
SUWAIBAH
PO71241230272

POLTEKKES KEMENKES JAMBI


PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
MAHASISWA KELAS KAB. MERANGIN
TAHUN AKADEMIK 2023/2024

i
DAFTAR ISI

Cover.....................................................................................................................i

Daftar Isi...............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...........................................................................................1

B. Rumusan Masalah.....................................................................................6

C. Tujuan Penelitian.......................................................................................6

D. Manfaat Penelitian.....................................................................................7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kontrasepsi................................................................................................8

B. Kontrasepsi Suntik KB 3 Bulan (Progestin)..............................................11

C. Berat Badan...............................................................................................20

BAB III KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep......................................................................................26

B. Definisi Operasional..................................................................................26

C. Hipotesis....................................................................................................27

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian.......................................................................28

B. Lokasi dan Waktu Penelitian.....................................................................28

C. Populasi dan Sampel..................................................................................29

D. Jenis dan Cara Pengumpuan Data.............................................................31

E. Alat Ukur (Instrument Penelitian).............................................................32

ii
iii

F. Pengolahan dan Teknik Analisa Data........................................................33

G. Etika Penelitian..........................................................................................34
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jumlah penduduk dunia pada tahun 2020 telah mencapai 7,7 milyar.

Indonesia merupakan negara ke-empat yang memiliki jumlah penduduk terbanyak

di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk Indonesia

pada tahun 2020 menurut hasil Sensus Penduduk 2020 (SP 2020) yang dilakukan

oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 adalah 270,20 juta jiwa, bertambah

32,56 juta jiwa dibandingkan SP 2010. Salah satu usaha pemerintah dalam

menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah program keluarga

berencana (KB) dengan menggunakan alat kontrasepsi.

Keluarga Berencana (KB) adalah suatu upaya yang dilakukan manusia untuk

mengatur secara sengaja kehamilan dalam keluarga secara tidak melawan hukum

dan moral Pancasila untuk kesejahteraan keluarga. Menurut WHO (World Health

Organization), keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau

pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak

diinginkan/direncanakan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan,

mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kehamilan dalam

hubungan dengan umur suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Keluarga berencana atau Family Planning/Planned Parenthood adalah suatu usaha

untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan

memakai alat kontrasepsi (Maritalia, 2014).

1
2

Kontrasepsi merupakan cara untuk mencegah dan menjarangkan kehamilan

serta merencanakan jumlah anak untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga

sehingga dapat memberikan perhatian dan pendidikan yang maksimal pada anak.

Setiap jenis kontrasepsi yang digunakan mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Pemilihan kontrasepsi harus disesuaikan dengan status kesehatan wanita, efek

samping, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, kerja sama

pasangan dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak. Efek

samping suatu metode kontrasepsi perlu dipertimbangkan dalam menentukan

keputusan terhadap keberlangsungan pemakaian kontrasepsi sehingga perlu

diupayakan perlindungan efek samping (Hartanto, 2015).

Kontrasepsi hormonal merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling

efektif dan reversibel untuk mencegah terjadinya konsepsi. Metode kontrasepsi

hormonal dibagi menjadi 3 yaitu : metode kontrasepsi pil, metode kontrasepsi

suntik, dan metode kontrasepsi implant (Handayani, 2017). Penggunaan metode

kontrasepsi hormonal memiliki efek samping, diantaranya : perubahan pola

menstruasi, peningkatan berat badan, mual, hipertensi, sakit kepala, peyudara

terasa penuh dan keputihan (Hapsari, dkk, 2012).

Pemilihan metode kontrasepsi bergantung pada banyak faktor yang

mempengaruhi, seperti karakteristik dari metode kotrasepsi, demografi dan faktor

sosial ekonomi yang berkaitan dengan populasi akseptor. Salah satu metode

kontrasepsi adalah kontrasepsi hormonal. Kontrasepsi hormonal adalah alat atau

obat yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan menggunakan

bahan baku preparat estrogen dan progesterone. Terdapat dua jenis kontrasepsi
3

hormonal suntik, yaitu Combined Injectable Contraceptives (CICs) dan

Progestine only Injectable Contraceptives (PICs). Jenis PICs diantaranya adalah

Depo-Medroxyprogesterone Acetate (DMPA), diberikan setiap tiga bulan sekali

sedangkan CICs mengandung kombinasi dari DMPA dan estradiol valerate yang

diberikan sebulan sekali (BKKBN, 2015).

Kontrasepsi suntik lebih di jadikan pilihan karena relatif lebih murah, tidak

terikat dengan koitus, mudah untuk dipergunakan, tidak invasif dan reversibel.

Efek samping penggunaan kontrasepsi suntik yang utama adalah perubahan berat

badan. Efek samping lain yang ditimbulkan dari penggunaan kontrasepsi suntik

diantaranya terganggunya pola haid (amenorea, menoragia dan muncul

bercak/spotting), dan kembalinya kesuburan lambat setelah penghentian

pemakaian. Peningkatan berat badan akibat penggunaan kontrasepsi suntik

disebabkan retensi cairan oleh kurangnya pengeluaran air dan natrium dan efek

metabolik hormonal meningkatkan nafsu makan (Wiknjosastro, 2012).

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2022, angka pencapaian

akseptor Keluarga Berencana (KB) di Indonesia pada tahun 2022 sekitar 55 dari

100 Pasangan Usia Subur (PUS) umur 14 – 59 tahun sedang menggunakan alat

KB atau cara tradisional untuk menunda atau mencegah terjadinya kehamilan.

Sebanyak 55,36% telah menjadi akseptor KB aktif. Jumlah akseptor KB jangka

panjang seperti IUD hanya sebesar 8,35% akseptor, implant 9,49% akseptor,

MOW 3,66% akseptor, MOP 0,24% akseptor, kondom 2,06% akseptor, pil

18,18% akseptor dan jumlah akseptor KB terbanyak masih didominasi akseptor

KB suntik yaitu sebesar 56,01% akseptor.


4

Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), KB

aktif di antara PUS tahun 2019 sebesar 62,5%, mengalami penurunan dari tahun

sebelumnya yaitu sebesar 63,27%. Sementara target Rencana Pembangunan 4

Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang ingin dicapai tahun 2019 sebesar 66%.

Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017 menunjukan angka yang

lebih tinggi pada KB aktif yaitu sebesar 63,6%. Berdasarkan pola dalam pemilihan

jenis alat kontrasepsi, sebagian besar peserta KB aktif memilih suntikan dan pil

sebagai alat kontrasepsi bahkan sangat dominan (> 80%) dibanding metode

lainnya; suntikan (63,7%) dan pil (17,0%).

Wanita yang menggunakan kontrasepsi DMPA atau kontrasepsi suntik 3

bulan rata-rata mengalami peningkatan berat badan sebanyak 11 pon atau 5,5 kg

dan mengalami peningkatan lemak tubuh sebanyak 3,4% dalam waktu 3 tahun

pemakaian. Ibu yang beralih dari kontrasepsi oral atau pil menggunakan

kontrasepsi suntik akan mengalami peningkatan berat sekitar 4 pon atau 2 kg

badan dalam jangka waktu yang sama (Saifuddin, 2014).

Berdasarkan jurnal oleh (Febriani & Ramayanti, 2020) menjelaskan bahwa

sebagian besar akseptor yang menggunakan KB suntik 3 bulan berusia 20-35

tahun yaitu sebanyak 75 akseptor dari total sampel 90 akseptor atau sebanyak

83,3% dengan lama penggunaan KB lebih dari 12 bulan atau 1 tahun lamanya.

Berdasarkan hasil penelitian dari Rahayu dan Wijanarko (2017) tentang efek

samping akseptor KB suntik DMPA setelah dua tahun pemakaian disimpulkan

bahwa dari 74 responden yang mengalami gangguan menstruasi berupa amenorea

sebanyak 39 responden (52,7%), kejadian keputihan pada 74 responden, yang


5

mengalami keputihan (0%), mengalami peningkatan berat badan sebanyak 43

responden (58,1%), mengalami mual dan muntah 72 responden (97,3%).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan Dusun Bangko

Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis di dapatkan jumlah akseptor KB

suntik DMPA selama tahun 2022 sebanyak 197 orang. Penulis melakukan

wawancara terhadap 9 orang ibu yang menjadi akseptor KB suntik DMPA. Isi

wawancara mengenai hal-hal yang berkaitan dengan efek samping yang dirasakan

ibu selama menggunakan KB suntik DMPA. Hasil 5 wawancara menunjukkan

bahwa dari 9 orang akseptor KB suntik DMPA, 5 orang telah menjadi akseptor

selama lebih dari 3 tahun dan 4 orang kurang dari 3 tahun. 7 orang (77,8%)

akseptor mengalami masalah peningkatan berat badan dan 2 orang (22,2%)

akseptor menyatakan tidak mengalami peningkatan berat badan. Penelitian ini

hanya dibatasi untuk melihat ada atau tidaknya hubungan penggunaan kontrasepsi

suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat badan pada akseptor KB di

Kelurahan Dusun Bangko Tahun 2023.

Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan

judul hubungan pemakaian kontrasepsi suntik tiga bulan dengan kenaikan berat

badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja Puskesmas

Pematang Kandis Tahun 2023.


6

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan

(progestin) dengan peningkatan berat badan akseptor KB di Kelurahan Dusun

Bangko Wilayah Kerja Pueskesmas Pematang Kandis Tahun 2023?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan

(progestin) dengan peningkatan berat badan pada akseptor KB di Kelurahan

Dusun Bangko Wilayah Kerja Pueskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik akseptor KB suntik 3 bulan

(progestin) di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja Pueskesmas

Pematang Kandis Tahun 2023.

b. Untuk mengidentifikasi apakah terdapat hubungan antara penggunaan

kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat badan

pada akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja

Pueskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.


7

D. Manfaat Penelitian

a. Bagi Perkembangan Ilmu Kebidanan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk menambah

wawasan tentang kontrasepsi suntik dan mampu memberikan kontribusi

terhadap perkembangan ilmu kebidanan, khususnya dalam hal kesehatan ibu.

b. Bagi Responden

c. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi dan tambahan

pengetahuan bagi akseptor KB dalam menentukan kontrasepsi yang akan

digunakan.

d. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk referensi penelitian pada kesehatan,

keluarga, dan kedokteran terkait kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) yang

selanjutnya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kontrasepsi

1. Definisi Kontrasepsi

Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti

mencegah atau melawan sedangkan konsepsi berarti proses bertemunya sel

telur (ovum) dan sel sperma yang mengakibatkan terjadinya pembuahan dan

berakibat pada kehamilan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kontrasepsi

berarti mencegah adanya pertemuan antara sel telur (ovum) dan sel sperma

sehingga tidak terjadi pembuahan dan tidak mengakibatkan kehamilan.

Kontrasepsi merupakan usahausaha untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara dan permanen. Kontrasepsi yaitu

pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan

menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim (Nugroho dan

Utama, 2014).

Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah kehamilan yang dapat

bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Sedangkan menurut

Mochtar, kontrasepsi merupakan cara untuk mencegah terjadinya konsepsi

dengan menggunakan alat atau obat-obatan. Mochtar juga menambahkan

definisi keluarga berencana sebagai suatu usaha menjarangkan atau

merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.

Menurut BKKBN sendiri, kontrasepsi merupakan cara menghindari atau

8
9

mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang

matang dengan sel sperma (Aryanti, 2014).

2. Tujuan Kontrasepsi

Tujuan kontrasepsi adalah untuk menunda kehamilan, menjarangkan

kehamilan, dan manghentikan atau mengakhiri kehamilan/ kesuburan.

Kontrasepsi yang ideal seharusnya selain efektif dan aman, haruslah tidak

menimbulkan nyeri, tidak mengganggu spontanitas, tidak mengotori, tidak

berbau, mudah digunakan, harga terjangkau, tidak bertentangan dengan

budaya setempat (Aryanti, 2014).

3. Jenis Kontrasepsi

Terdapat berbagai jenis alat kontrasepsi yang biasa digunakan

masyarakat, yaitu kontasepsi dengan metode alamiah (metode kalender,

metode suhu basal, metode lendir serviks, metode simpto-termal), metode

pantang berkala, kondom, diafragma, spermisida, kontrasepsi hormonal per-

oral (pil), kontasepsi hormonal injeksi (suntik), implant, IUD, MOP, MOW.

Berbagai jenis alat kontrasepsi ini diciptakan untuk mencapai sasaran dari

program keluarga berencana yang heterogen, seperti pasangan usia subur yang

ingin menunda/ menjarangkan/ mengatur jumlah anak, ibu yang memiliki

jumlah anak agar dapat menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian

bayi akibat faktor multiparitas, dan ibu yang mempunya resiko tinggi jika

mengalami kehamilan (menderita penyakit tertentu) (Affandi dkk, 2014).

Ada beberapa metode pencegahan kehamilan atau kontrasepsi yang

tersedia untuk calon akseptor, antara lain Metode Amenore Laktasi (MAL),
10

Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA), sanggama terputus, metode

barier (kondom, diafragma, spermisida), kontrasepsi kombinasi yang berisi

hormon estrogen dan progesterone yang dikemas dalam bentuk pil kombinasi

dan suntikan kombinasi, kontrasepsi progestin (kontrasepsi suntikan

progestin, kontrasepsi pil progestin, kontrasepsi implant, AKDR dengan

progestin), Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), dan kontrasepsi mantap

(tubektomi, vasektomi, rekanalisasi (Saifuddin, 2014).

4. Kontrasepsi Suntik

Kontrasepsi suntik adalah alat kontrasepsi yang disuntikan ke dalam

tubuh dalam jangka waktu tertentu, kemudian masuk ke dalam pembuluh

darah diserap 10 sedikit demi sedikit oleh tubuh yang berguna untuk

mencegah timbulnya kehamilan. Tujuan utama dari kontrasepsi suntik adalah

kontrasepsi yang kerjanya lama dan tidak membutuhkan pemakaian setiap

harinya atau setiap akan bersenggama (Hartanto, 2015).

5. Jenis Kontrasepsi Suntik

Terdapat beberapa jenis kontrasepsi suntik yaitu:

a. Kontrasepsi suntik 1 bulan (Kombinasi)

Sangat efektif (0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun

pertama penggunaan. Cara kerja suntikan kombinasi adalah menekan

ovulasi, membuat lender serviks menjadi kental sehingga penetrasi

sperma terganggu, terjadi perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga

implantasi terganggu, dan menghambat transportasi gamet oleh tuba.

Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat


11

dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali

(Cyclofem), dan 50 mg noretrindron enantat dan 5 mg estrandiol valerat

yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali (Rufaridah, et al., 2017).

b. Kontrasepsi suntik 3 bulan (Progestin)

Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) adalah kontrasepsi yang hanya

mengandung hormon progestin saja. Kontrasepsi suntikan progestin

sangat efektif dan cocok digunakan saat masa laktasi karena tidak

menghambat produksi ASI. Cara kerja kontrasepsi ini mencegah ovulasi,

mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi

sperma, menjadikan selaput lendir rahim tipis 11 dan atrofi, dan

menghambat transportasi gamet oleh tuba. Tersedia dua jenis kontrasepsi

suntikan yang hanya mengangandung progestin, yaitu Depo

metroksiprogesteron asetat (DMPA), yang mengandung 150 mg DMPA,

yang diberikan setiap tiga bulan dengan cara disuntikan intramuskuler

dan Depo noretisteron anantat (Depo Noristerat), yang mengandung 200

mg noretindron enantat, diberikan setiap dua bulan dengan cara

disuntikan intramuskuler (Rufaridah, et al., 2017).

B. Kontrasepsi Suntik 3 Bulan (Progestin)

1. Definisi

Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) adalah kontrasepsi yang hanya

mengandung hormon progestin saja. Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)

yang lebih sering disebut dengan kontrasepsi suntik 3 Bulan DMPA termasuk
12

jenis gestagen alamiah yang berasal dari turunan progesterone yang memiliki

ikatan reseptor yang relative kuat terhadap reseptor glukokortikoid dan

aldosteron. Khasiat glukokortikoidnya baru akan terlihat pada pemberian

dosis tinggi. Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) berisi depo medroksi

progesterone asetat (DMPA) dan diberikan dalam suntikan tunggal 150 mg

secara intramuscular setiap 12 minggu (3 bulan). DMPA adalah suatu sintesa

progestin yang mempunyai efek seperti progestin asli dari tubuh wanita

(Anggraini dan Martini, 2012)

2. Mekanisme Kerja

Menurut Hartanto (2015) mekanisme kerja kontrasepsi suntik 3 bulan

(progestin) terbagi dua yaitu:

a. Primer

Mencegah ovulasi endometrium menjadi dangkal dan atrofis

dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Sering stroma menjadi

oedeomatus. Dengan pemakaian jangka lama, endometrium dapat

menjadi sedemikian sedikitnya, sehingga tidak didapatkan atau hanya

didapatkan sedikit sekali jaringan bila dilakukan biopsi. Tetapi,

perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi normal dalam waktu

90 hari setelah suntikan DMPA yang terakhir.

b. Sekunder

Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga merupakan

barier terhadap spermatozoa dan membuat endometrium menjadi kurang

baik atau kurang layak untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi.
13

Cara kerja kontrasepsi suntik menurut Irianto (2013) adalah sebagai

berikut:

a) Mencegah ovulasi

b) Mengentalkan lendir rahim sehingga sulit ditembus oleh sperma

c) Mencegah transformasi gamet oleh tuba fallopi

3. Kerugian

Menurut Anggraini dan Martini (2012) kerugian kontrasepsi suntik 3 bulan

(progestin) antara lain:

a) Sering ditemukan gangguan haid, seperti:

1) Siklus haid yang memendek atau memanjang

2) Perdarahan yang banyak atau sedikit

3) Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)

4) Tidak haid sama sekali

b) Klien sering mengalami pusing, mual dan muntah

c) Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan

d) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya

e) Permasalahan berat badan

f) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular

seksual, hepatitis B virus dan infeksi virus HIV

g) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian

h) Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang

i) Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan

tulang
14

j) Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan vagina,

menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala dan jerawat.

4. Keuntungan

Menurut Manuaba (2012) keuntungan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)

adalah:

a) Pemberiannya sederhana setiap 12 minggu

b) Tingkat efektivitasnya tinggi

c) Hubungan seks dengan KB suntikan bebas

d) Pengawasan medis yang ringan

e) Dapat diberikan pasca persalinan, pasca keguguran, atau pasca menstruasi

f) Tidak mengganggu proses laktasi dan tumbuh kembang bayi Sedangkan

Menurut Saifuddin (2014), keuntungan suntikan progestin adalah:

a) Sangat efektif

b) Pencegahan kehamilan jangka panjang

c) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

d) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap

penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah

e) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI

f) Sedikit efek samping

g) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik

h) Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopause

i) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik

j) Menurukan kejadian penyakit jinak payudara


15

k) Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul

l) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)

5. Teknik Penyuntikan

Penyuntikan DMPA harus diberikan dalam lima hari pertama masa

menstruasi, tidak dibutuhkan kontrasepsi tambahan. Setelah itu suntikan

selanjutnya diberikan setiap 12 minggu. Suntikan harus diberikan secara

intramuscular pada kuadran luar atas bokong, spuit yang sebelumnya telah

diisi DMPA harus dikocok sebelum diberikan (Anggraini dan Martini (2012).

Cara penyuntikan kontrasepsi suntikan menurut Pinem (2014), yaitu:

a) Kontrasepsi suntik 3 bulan dengan dosis 150 mg secara intramuskuler

dalamdalam di daerah pantat (bila suntikan terlalu dangkal, maka

penyerapan kontrasepsi suntikan berlangsung lambat, tidak bekerja secara

efektif). 15 Suntikan diberikan setiap 90 hari. Jangan melakukan masase

pada daerah suntikan.

b) Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alcohol yang telah

dibasahi dengan isopropyl alcohol 60% - 90%. Tunggu dulu sampai kulit

kering, baru disuntik.

c) Kocok obat dengan baik, cegah terjadinya gelembung udara. Bila terdapat

endapan putih di dasar ampul, hilangkan dengan cara menghangatkannya.

Kontrasepsi suntikan ini tidak perlu didinginkan.

d) Semua obat harus diisap kedalam alat suntik


16

6. Farmakologi

Menurut Anggraini dan Martini (2012) farmakologi dari kontrasepsi

suntik 3 bulan (progestin):

a) Tersedia dalam larutan mikrokristalin

b) Setelah satu minggu penyuntikan 150 mg, tercapai kadar puncak, lalu

kadarnya tetap tinggi untuk 2-3 bulan, selanjutnya menurun kembali.

c) Ovulasi mungkin sudah dapat timbul setelah 73 hari penyuntikan, tetapi

umumnya ovulasi baru timbul kembali setelah 4 bulan atau lebih.

d) Pada pemakaian jangka lama, tidak terjadi efek akumulatik dari DMPA

dalam darah atau serum.

7. Efektivitas

Kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) sangat efektif sebagai metode

kontrasepsi. Kurang dari 1 per 100 wanita akan mengalami kehamilan dalam

satu tahun pemakaian DMPA. Dosis DMPA dengan daya kerja kontraseptif

yang paling sering dipakai 150 mg setiap 3 bulan adalah dosis tinggi. Setelah

disuntik, 16 ovulasi tidak akan terjadi untuk minimal 14 minggu (Hartanto,

2015). DMPA memiliki efektifitas yang tinggi dengan 0,3 kehamilan per 100

perempuan pertahun asal penyuntikan dilakukan secara benar sesuai jadwal

yang telah ditentukan (Pinem, 2015).

8. Indikasi

Pinem (2015), menganjurkan pemakaian kontrasepsi suntik pada:

a) Usia reproduktif.
17

b) Menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang, atau klien telah

mempunyai anak sesuai harapan

c) Klien yang sedang menyusui

d) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

e) Setelah abortus atau keguguran

f) Klien yang mendekati massa menopause, atau sedang menunggu proses

sterilisasi juga cocok menggunakan kontrasepsi suntik.

9. Kontraindikasi

WHO (dalam Hartanto, 2015) menganjurkan untuk tidak

menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) pada:

a) Kehamilan

b) Karsinoma payudara

c) Karsinoma traktus genetalia

d) Perdarahan abnormal uterus

e) Pada wanita diabetes atau riwayat diabetes selama kehamilan, harus

dilakukan follow up dengan teliti, karena dari beberapa percobaan 17

laboratorium ditemukan bahwa DMPA mempengaruhi metabolisme

karbohidrat.

10. Peringatan

Peringatan yang harus diperhatikan saat pemakaian KB suntik 3 bulan

DMPA menurut Anggraini dan Martini (2012)

a) Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan hamil


18

b) Nyeri abdomen bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan ektopik

terganggu

c) Sakit kepala migraine, sakit kepala berulang yang berat, atau kaburnya

penglihatan

d) Perdarahan yang berat 2 kali lebih panjang dari masa haid atau 2 kali

lebih banyak dalam satu periode masa haid

11. Waktu Mulai Penggunaan

Waktu mulai penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan menurut Pinem

(2015) adalah setiap saat selama hamil siklus haid, asal ibu tersebut diyakini

tidak hamil, mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid. Pada ibu yang

tidak haid, asalkan ibu tersebut tidak hamil, suntikan pertama dapat diberikan

setiap saat. Selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh bersanggama.

Perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin

mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Bila kontrasepsi sebelumnya dipakai

dengan benar dan ibu tidak hamil, suntikan pertama dapat segera diberikan.

Tidak perlu menunggu haid berikutnya datang. Ibu yang sedang menggunakan

kontrasepsi lain dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi suntikan yang

lain lagi, kontrasepsi yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal

kontrasepsi suntikan yang sebelumnya. Ibu yang menggunakan kontrasepsi

non hormonal dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal, suntikan

pertama kontrasepsi yang akan diberikan dapat segera disuntikkan, asal saja

ibu tidak hamil. Pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang.

Bila ibu disuntik setelah suntikan ibu tidak boleh bersenggama.


19

12. Lama Pemakaian Konrasepsi

Masalah utama pada penggunaan depo medroksi progesteron asetat

(DMPA) adalah perdarahan, menstruasi yang tidak teratur, nyeri payudara,

peningkatan berat badan, dan depresi. Sejauh ini, masalah yang paling umum

adalah perubahan pada menstruasi. Dalam sebuah penelitian internasional,

alasan medis paling umum untuk menghentikan DMPA selama 2 tahun

penggunaan adalah sebagai berikut: sakit kepala (2,3%), penambahan berat

badan (2,1%), pusing (1,2%), nyeri perut (1,1%), kecemasan (0,7%). Depresi,

kelelahan, penurunan libido, dan hipertensi juga dijumpai, namun apakah

DMPA menyebabkan efek samping ini sulit diketahui karena mereka adalah

keluhan yang sangat umum terjadi pada non 12 pengguna (Speroff & Darney,

2011).

Efek pada kepadatan tulang, penggunaan kontrasepsi DMPA dikaitkan

dengan hilangnya kepadatan tulang jangka pendek, hal ini dikaitkan dengan

fakta bahwa kadar estrogen dalam darah dengan DMPA relatif lebih rendah

dibandingkan dengan siklus menstruasi normal, sebuah penjelasan yang

didukung oleh demonstrasi bahwa pengobatan estrogen mencegah terjadi

kehilangan kepadatan tulang. Perbandingan antara pengguna DMPA dengan

bukan pengguna, kepadatan tulang di pinggul dan tulang belakang pengguna

DMPA menurun 0,5-3,5% setelah 1 tahun dan 5,7-7,5% setelah 2 tahun

penggunaan. Tingkat kehilangan terbesar selama 1-2 tahun pertama

penggunaan (Speroff & Darney, 2011). Penggunaan kontrasepsi hormonal

seperti pil dan suntikan tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang
20

mengingat efek samping yang dapat ditimbulkannya. Kontrasepsi hormonal

sebaiknya digunakan tidak lebih dari dua tahun, jika ingin menggunakan

kontrasepsi jangka panjang maka bisa direkomendasikan untuk menggunakan

kontrasepsi jenis intra uterin device (IUD) atau tubektomi/vasektomi jika

tidak ingin merencanakan kehamilan lagi (Affandi, dkk, 2014).

C. Berat Badan

1. Definisi

Berat badan adalah suatu ukuran yang diperlukan untuk sebuah

pengukuran pertumbuhan fisik dan diperlukan untuk seseorang menerima

dosis obat yang diperlukan. Definisi lain dari berat badan yaitu beberapa

jumlah komponen tubuh seperti protein, lemak, air, mineral. Sedangkan untuk

peningkatan berat badan adalah kondisi dimana jumlah berat badan seseorang

melebihi normal dan melebihi berat badan semula (Anggraeni, 2012).

Berat badan adalah hasil dari penurunan maupun peningkatan pada

semua jaringan tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, dan cairan tubuh

lainnya. Sehingga, peningkatan berat badan dapat diartikan berubahnya

ukuran berat, yang di akibatkan dari peningkatan maupun penurunan

konsumsi makan yang diubah menjadi lemak dan disimpan dibawah kulit

(Istiany, 2014).

2. Peningkatan Berat Badan

Berat badan adalah suatu ukuran yang diperlukan untuk sebuah

pengukuran pertumbuhan fisik dan diperlukan untuk seseorang menerima


21

dosis obat yang diperlukan. Definisi lain dari berat badan yaitu beberapa

jumlah komponen tubuh seperti protein, lemak, air, mineral. Sedangkan untuk

peningkatan berat badan adalah kondisi dimana jumlah berat badan seseorang

melebihi normal dan melebihi berat badan semula (Anggraeni, 2012).

Berat badan adalah hasil dari penurunan maupun peningkatan pada

semua jaringan tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, dan cairan tubuh

lainnya. Sehingga, peningkatan berat badan dapat diartikan berubahnya

ukuran berat, yang di akibatkan dari peningkatan maupun penurunan

konsumsi makan yang diubah menjadi lemak dan disimpan dibawah kulit

(Istiany, 2014).

3. Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Berat Badan

a) Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan juga mempengaruhi kondisi tubuh atau berat badan

seseorang seperti, makanan apa yang dikonsumsi, frekuensi makan dalam

satu hari, dan bagaimana aktivitas yang dilakukan (Hardinsyah, 2017).

b) Usia

Ketika usia bertambah atau semakin tua dan seseorang tersebut kurang

aktif bergerak maka masa otot tubuh akan cenderung menurun dan

menyebabkan perlambatan tingkat pembakaran kalori, sehingga tubuh

akan sulit membakar kalori yang masuk dan terjadi penumpukan energi

(Hardinsyah, 2017).

c) Faktor Psikis
22

Seseorang yang sedang mengalami stress atau kekecewaan dapat

mengakibatkan gangguan pola makan, seperti peningkatan nafsu makan

(Hardinsyah, 2017).

d) Menurunnya aktivitas fisik

Jika aktivitas fisik seseorang kurang dan orang tersebut mengkonsumsi

makanan yang mengandung banyak lemak akan berdampak negatif

terhadap kondisi tubuh seseorang. Sedangkan aktivitas fisik itu sendiri

diperlukan untuk membakar energi dalam tubuh (Kurdanti, 2015).

e) Kebiasaan pola makan

Misalnya, tingginya asupan karbohidrat pada seseorang. Sedangkan

karbohidrat memiliki kadar gula yang tinggi yang dapat memicu

penambahan berat badan. Di dalam tubuh, pada sebagian karbohidrat di

sirkulasi darah dalam bentuk glukosa. Sebagian lagi di jaringan otot dan

sebagian lagi di jaringan otot dan di hati dalam bentuk glikogen dan

sisanya menjadi simpanan lemak yang nantinya berfungsi untuk cadangan

energy dalam tubuh (Rahmandita, 2017).

f) Pemakaian KB

Pemakaian KB terutama pada KB hormonal. Hal ini karena kandungan

hormon estrogen dan progesteron yang ada pada kontrasepsi hormonal.

Progesteron dapat merangsangkan peningkatan nafsu makan, sehingga

kontrasepsi hormonal dapat mengakibatkan bertambahnya berat badan

(Khoiriah, 2017).

4. Akibat dari kenaikan berat badan yang berlebih


23

Peningkatan berat yang berlebih akan menyebabkan timbulnya

beberapa penyakit seperti obesitas, hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit

jantung. Upaya yang perlu dilakukan tenaga kesehatan memberikan KIE

(Komunikasi, Informasi serta Edukasi) tentang penyebab terjadinya, dan

anjurkan klien untuk melakukan diet rendah kalori serta olahraga yang teratur

(Hardinsyah, 2017).

5. Hubungan KB suntik dengan peningkatan berat badan

KB suntik adalah alat kontrasepsi yang berupa cairan lalu disuntikkan

kedalam tubuh, ada yang 1 bulan sekali yang berisi estrogen dan progesteron,

tetapi ada juga yang 3 bulan sekali yang hanya berisi progesteron (Irianto,

2014). KB suntik 1 bulan dan 3 bulan sama-sama mengandung hormon

progesteron yang mempunyai efek terhadap meningkatnya nafsu makan.

Namun demikian, kandungan hormon progesteron pada KB suntik DMPA

lebih besar dibandingkan KB suntik kombinasi yaitu 25 mg untuk suntik

kombinasi dan 150 mg untuk suntik DMPA. Kandungan hormon progesteron

pada KB suntik DMPA lebih besar dibandingkan dengan KB suntik

kombinasi, sehingga pengaruh terhadap peningkatan berat badan juga lebih

besar DMPA dibanding kombinasi (Setyoningsih, 2020).

Hormon progesteron yang nantinya dapat merangsang pusat

pengendali nafsu makan yang disebut dengan hipotalamus. Semakin banyak

hormon progesteron yang merangsang hipotalamus, maka semakin besar

nafsu makan seseorang. Sehingga akseptor KB suntik DMPA dapat lebih

besar nafsu makannya dibanding KB suntik 1 bulan (Setyoningsih, 2018).


24

Penambahan berat badan terjadi karena progesteron yang dapat meningkatkan

nafsu makan serta mempermudah perubahan karbohidrat menjadi lemak,

sehingga penumpukan lemak yang menyebabkan berat badan semakin

bertambah. Sedangkan estrogen juga mempengaruhi metabolisme lipid yang

mengarah ke peningkatan cadangan lemak tubuh, khususnya di daerah perut,

sehingga mengakibatkan peningkatan berat badan (Rufaridah, et al, 2017).

Selain itu, komponen estrogen juga dapat menyebabkan retensi cairan

sehingga terjadi pertambahan berat badan (Hariadini, et al, 2017). Peningkatan

berat badan pada KB suntik 3 bulan ini rata-rata 1-5 kg pada tahun pertama.

Sedangkan, Peningkatan berat badan pada KB suntik 1 bulan rata 2-3 kg pada

tahun pertama pemakaian (Rufaridah, et al, 2017).

6. Hubungan KB suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat

badan

Menurut para ahli DMPA KB suntik mempengaruhi adanya perubahan

berat badan. Pengaruh KB suntik terhadap perubahan berat badan yaitu bahwa

kandungan hormone progesterone dalam bentuk hormone sintetis Depo

Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) mempermudah metabolisme perubahan

karbohidrat dan gula menjadi lemak sehingga lemak dibawah kulit bertambah

dan menurunkan aktivitas fisik. Selain itu hormone Progesteron (DMPA) juga

merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan

nafsu makan bertambah sehingga akseptor makan lebih banyak dari biasanya.

Akibatnya pemakaian kontrasepsi dapat menyebabkan perubahan berat badan

diantaranya terjadi peningkatan berat badan (Prawirohardjo, 2014).


25

Kegemukan yang terjadi pada akseptor KB suntik DMPA pada

dasarnya dikarenakan hormon progesteron yang dapat menyebabkan nafsu

makan bertambah apabila dosis yang tinggi dan berlebihan karena menurut

para ahli DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus

yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya (Hartanto,

2015).
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat

dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar

variabel, baik variabel yang diteliti maupun variabel yang tidak diteliti. Variabel

independent dalam penelitian ini adalah kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)

sedangkan variabel dependent dalam penelitian ini adalah peningkatan berat badan

Variabel Independent Variabel Dependent

Kontrasepsi progestin Peningkatan Berat


(KB suntik 3 bulan) badan

B. Definisi Operasional

3.1 Tabel Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur


1 Penggunaan Pernah/ menggunakan Kuesioner Nominal 1. 1-2 tahun
kontrasepsi kontrasepsi hormonal 2. > 2 tahun
suntik 3 bulan dengan jenis suntik
(progestin) progestin dengan lama
pemakaian minimal 1
tahun
2 Peningkatan Berat badan Kuesioner dan Ordinal 1. Ada
Berat Badan merupakan hasil timbangan peningkatan
peningkatan/penuruna BB
n semua jaringan yang 2. Tidak ada
ada pada tubuh,antara peningkatan
lain tulang, otot, BB
lemak, cairan tubuh
dan lain-lainnya.

26
27

C. Hipotesis

Menurut Sugiyono (2014) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap

rumusan masalah penelitian, dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan

baru didasarkan pada teori. Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang

merupakan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan.

1. Ha: Ada hubungan penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) dengan

peningkatan berat badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah

Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.

2. Ho: Tidak ada hubungan penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin)

dengan peningkatan berat badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko

Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, yaitu penelitian yang

digunakan untuk meneliti populasi/sampel tertentu, pengumpulan data dengan

instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan

menguji hipotesis yang ditetapkan (Sugiyono, 2014). Desain ini menggunakan

pendekatan cross sectional study dengan tujuan untuk mengetahui hubungan

penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan (progestin) dengan peningkatan berat

badan akseptor KB di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja Puskesmas

Pematang Kandis Tahun 2023 yang diamati pada periode waktu yang sama.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah

Kerja Puskesmas Pematang Kandis.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari 2024 sampai dengan

Februari 2024.

28
29

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek dalam pengamatan yang dilakukan

(Arikunto, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB

suntik 3 bulan (progestin) di Kelurahan Dusun Bangko Wilayah Kerja

Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2022 yang berjumlah 197 orang.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat digunakan

sebagai subyek penelitian melalui sampling yang mewakili populasi yang ada

(Nursalam, 2016). Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus

Lameshow (1990) dengan jumlah populasi diketahui sebagai berikut:


2
N . Z 1−a /2 . p . q
2 2
e ( N−1 )+ Z 1−a/ 2 . p . q

( 197 ) . ( 1 , 96 )2 . ( 0 , 5 ) . ( 0 ,5 )
n= 2 2
( 0 ,15 ) ( 197−1 )+ ( 1, 96 ) . ( 0 , 5 ) . ( 0 , 5 )

189 ,2
n=
4 , 41+0 ,96

189 , 2
n=
5 , 37

n=35 , 23=35

Keterangan:

n : Besar sampel

N : Jumlah Populasi
2
Z1−a / 2 : Nilai distribusi normal baku (table z) (Z=1,96 untuk α=
30

0,05)

p : Proporsi pada populasi sebesar 0,5 (q = 1- p)

e : Kesalahan absolut yang dapat ditoleransi = 15%

Jadi total sampel pada penelitian ini adalah 35 akseptor KB suntik 3 bulan

(progestin) yang akan di jadikan sampel penelitian. Dan teknik pengambilan

sampel menggunakan purposive sampling dengan berdasarkan kriteria penelitian

yang sesuai untuk responden.

Kriteria inklusi:

1) Akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) bertempat tinggal di

Kelurahan Dusun Bangko

2) Bersedia menjadi responden

3) Menggunakan alat kontrasepsi suntik progestin (KB suntik 3 bulan) lebih

dari satu tahun

4) Tidak buta huruf

Kriteria eksklusi:

1) Akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) bertempat tinggal di luar

desa Sialambue

2) Tidak bersedia menjadi responden

3) Menggunakan alat kontrasepsi suntik progestin (KB suntik 3 bulan) kurang

dari satu tahun

D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data


31

1. Jenis Data

a) Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diperoleh dari responden

atau objek penelitian langsung. Pada penelitian ini responden nya adalah

Akseptor KB suntik 3 bulan (progestin).

b) Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek

yang diteliti. Data ini diperoleh dari Arsip Kunjugan Kontrasepsi Akseptor

KB suntik 3 bulan (progestin).

2. Cara Pengumpulan Data

Menurut Sugiono (2017), cara pengumpulan data yang dapat dilakukan

sebagai berikut:

a) Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik

terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.

b) Kuesioner & Angket

Pengumpulan data dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau

pernyataan kepada responden untuk dijawab.

c) Interview (Wawancara)

Cara pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan Tanya

jawab langsung dengan responden

d) Dokumen
32

Cara pengumpulan data yang diambil dari dokumen atau catatan peristiwa

yang sudah berlalu.

E. Alat Ukur (Instrument Penelitian)

Instrumen penelitian menurut Arikunto (2013) merupakan alat bantu bagi

peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya

lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis, sehingga mudah

diolah. Instrumen yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah kuesioner

yang berisi:

a) Data identitas akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) berupa umur,

pendidikan dan pekerjaan.

b) Data lama pemakaian KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan) yang terdiri

dari 1-2 tahun dan > 2 tahun.

c) Data berat badan akseptor KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan), terdiri

dari:

1) Berat badan sebelum pemakaian KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan)

2) Berat badan setelah pemakaian KB suntik progestin (KB suntik 3 bulan).

3) Peningkatan berat badan selama pemakaian KB suntik progestin (KB

suntik 3 bulan).

Pengukuran berat badan setelah pemakaian KB suntik progestin (KB suntik

3 bulan) dilakukan dengan menggunakan timbangan yang sudah dipersiapkan.


33

F. Pengolahan dan Teknis Analisa Data

1. Pengolahan Data

Dalam melakukan analisis data, data yang telah terkumpul diolah

dengan tujuan mengubah data menjadi informasi. Pengolahan data dilakukan

dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Pengeditan Data (data editing)

Dilakukan dengan memeriksa kuesioner yang telah terisi. Bisa terdapat

kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data dan akan dilakukan

pengecekan ulang dengan tujuan agar data yang masuk dapat diolah

secara benar, sehingga dapat memberikan hasil yang menggambarkan

masalah yang diteliti.

b. Coding

Pemberian kode pada setiap data yang telah dikumpulkan untuk

memperoleh memasukkan data ke dalam tabel.

c. Skoring

Memberikan skor pada setiap jawaban yang diberikan pada responden,

selanjutnya menghitung skor jawaban dari pertanyaan yang diberikan.

d. Tabulating

Untuk mempermudah analisa data pengolahan data serta pengambilan

kesimpulan, data dimasukkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan


34

memberikan skor terhadap pernyataan yang diberikan kepada responden

(Notoatmodjo, 2012).

2. Teknik Analisa Data

Setelah data-data yang penulis perlukan terkumpul, maka langkah

selanjutnya adalah menganalisis data. Analisis data yang digunakan dalam

penelitian ini menggunakan dua acara, yaitu:

a. Analisis univariate

Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2012).

b. Analisis bivariate

Analisis bivariate dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini

dilakukan analisis bivariate pada setiap variabel independen terhadap

variabel dependen. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square

dengan nilai α = 0,05 yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar

variabel.

G. Etika Penelitian

1. Informed Consent (persetujuan)

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.

2. Anonimity (tanpa nama)


35

Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan jaminan

dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak mencantumkan nama

responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar

pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan

kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya

(Hidayat, 2017).

Anda mungkin juga menyukai