LAPORAN KASUS
KEJANG PADA ANAK
Laporan kasus ini dibuat untuk melengkapi persyaratan mengikuti kepaniteraa klinik
senior di
Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Haji Medan Sumatera Utara
DISUSUN OLEH :
Syatirah
(71230891039)
PEMBIMBING :
dr. Nurcahaya, Sp.A (K)
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD HAJI
KOTA MEDAN
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulus dapat menyelesaikan “Laporan Kasus” ini guna memenuhi
persyaratan mengikuti Persyaratan Kepanuteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu
Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Haji Medan dengan judul “Kejang Demam”.
Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dr.
Nurcahaya Sp.A (K) atas segala bimbingan dan arahannya dalam menjalani
Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum
Haji Medan dalam pembuatan laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih banyak kekurangannya, oleh
sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
memperbaiki laporan kasus ini di kemudian hari.
Harapan penulis semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan bagi kita semua serta menjadi arahan dalam mengimplementasikan ilmu
kedokteran dalam praktik di masyarakat.
Medan, September 2023
Syatirah
i
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................1
1.1. Latar Belakang ....................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 3
2.1. Defenisi Kejang Demam .....................................................................................3
2.2. Etiologi Kejang Demam ...................................................................................... 3
2.3. Klasifikasi Kejang Demam ................................................................................. 3
2.4. Patofisiologi Kejang Demam .............................................................................. 4
2.5. Pemeriksaan Fisik Kejang Demam ..................................................................... 5
2.6. Pemeriksaan Penunjang Demam ......................................................................... 5
2.7. Tatalaksana Kejang Demam ............................................................................... 6
BAB III PENUTUP .................................................................................................10
3.1. Kesimpulan ...............................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................11
LAPORAN KASUS .................................................................................................12
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang timbul akibat kenaikan suhu
tubuh suhu rektal diatas 38 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranial. Suatu
konsesus mengenai kejang demam membuat definisi kejang demam sebagai suatu
kejadian pada bayi atau anak biasanya terjadi pada umur 6 bulan sampai 5 tahun
disertai demam, tanpa adanya bukti infeksi intrakranial atau penyebab yang pasti.
Lebih dari 90% penderita kejang demam terjadi pada anak berumur dibawah
5 tahun. Terbanyak bangkitan kejang demam terjadi pada anak berumur 6 bulan
sampai 22 bulan. Insiden bangkitan kejang demam tertinggi pada umur 18 bulan. Di
berbagai negara insiden dan prevalensi kejang demam berbeda. Insiden kejang
demam berkisar 2- 5% di Amerika serikat dan Eropa. Insiden kejang demam
meningkat dua kali lipat di Asia bila dibandingkan di Eropa dan di Amerika. Iinsiden
kejang demam di Jepang berkisar 8,3-99%. Bahkan di Guam insiden kejang demam
mencapai 14%. Angka penyakit infeksi di Negara berkembang masih tinggi, maka
kemungkinan terjadinya bangkitan kejang perlu diwaspadai (Anggraini, 2022).
Angka kejadian kejang demam di Indonesia mencapai 2% sampai 4% dari
tahun 2005 sampai 2006. Berdasarkan fenomena yang banyak terjadi di Indonesia
sering terjadi saat demam tidak di tangani dengan baik oleh orang tua, seperti tidak
segera memberikan kompres pada anak ketika terjadi kejang demam, tidak
1
memberikan obat penurunan demam, dan sebagai orang tua justru membawa anaknya
kedukun sehingga sering terjadi keterlambatan bagi petugas dalam menangani yang
berlanjut pada kejang demam. Adapun prilaku-prilaku ibu pada saat kejang berupa :
memasukkan sendok ke mulut anak, memberikan kopi saat anak kejang, memasukkan
gula ke dalam mulut anak, menyembur tubuh anak yang kejang, mengoleskan terasi
dan bawang ke tubuh anak, meletakkan jimat di dekat tubuh anak. Prilaku demikian
berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tercatat terjadi 35% dari kasus
kejang demam yang di tangani dan hal itu dapat lebih besar pada kasus kasus yag tidak
tercatat. Kejang demam yang di perkirakan setiap tahun nya terjadi diantara nya
mengalami komplikasi epilepsi. Di indonesia sendiri komplikasi yang terjadi kejadian
kejang demam berupa kejang berulang, epilepsi, hemiparese dan gangguan mental
(Rasyid et al, 2019).
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kejang Demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan
sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di atas 38oC, dengan
metode pengukuran suhu apa pun) yang tidak disebabkan oleh proses intrakranial
(IDAI, 2016).
2.2 Etiologi Kejang Demam
Beberapa faktor yang berperan menyebabkan kejang demam antara lain adalah
demam, demam setelah imunisasi DPT dan morbili, efek toksin dari mikroorganisme,
respon alergi atau keadaan imun yang abnormal akibat infeksi, perubahan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah
riwayat kejang demam dalam keluarga, usia kurang dari 18 bulan, temperatur tubuh
saat kejang. Makin rendah temperatur saat kejang makin sering berulang, lamanya
demam. Adapun faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah adanya
gangguan perkembangan neurologis, kejang demam kompleks, riwayat epilepsi dalam
keluarga, lamanya demam (Anggraini, 2022).
3
2.3 Klasifikasi Kejang Demam
Menurut (Anggraini,2022), kejang demam dibagi atas dua, yaitu :
1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)
Kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung kurang dari 15 menit,
kejang tonik klonik umum, sembuh spontan, tanpa kejang fokal, dan tidak berulang
dalam 24 jam. Kejang demam tipe ini adalah 80% di antara seluruh kejang demam.
2. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)
Kejang demam kompleks adalah kejang fokal atau parsial, berlangsung lebih dari 15
menit, berulang dalam 24 jam, didapatkan abnormalitas status neurologi, dan
didapatkan riwayat kejang tanpa demam pada orangtua atau saudara kandungnya.
2.4 Patofisiologi Kejang Demam
Patofisiologi kejang demam belum diketahui secara pasti. Namun, terjadinya
infeksi di ekstrakranial seperti otitis media akut, tonsillitis dan bronchitis dapat
menyebabkan bakteri yang bersifat toksik tumbuh dengan cepat, toksik yang
dihasilkan dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui hematogen dan limfogen. Pada
keadaan ini tubuh mengalami inflamasi sistemik. Dan hipotalamus akan merespon
dengan menaikkan pengaturan suhu tubuh sebagai tanda tubuh dalam bahaya secara
sistemik. Disaat tubuh mengalami peningkatan suhu 1°C secara fisiologi tubuh akan
menaikkan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen sebesar 20%. Pada
4
seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,
dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh
tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam
waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui
membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini
demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel
tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah
kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung tinggi
rendahnya ambang kejang seeorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu
tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu
38°C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi
pada suhu 40°C atau lebih.
Dari kenyataan inilah dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih
sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya
perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. Faktor terpenting adalah
gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan
permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel
neuron otak. Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat
serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi “matang” di kemudian hari,
sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung
lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi (Anggraini,
2022).
5
2.5 Pemeriksaan Fisik Kejang Demam
Menurut (Shodikin, 2017) pemeriksaan fisik kejang demam, meliputi :
1. Suhu tubuh tinggi (>38° C).
2. Kesadaran pasca kejang compos mentis.
3. Tanda rangsang meningeal tidak ada.
4. Pemeriksaan nervus cranialis normal.
5. Tiada peningkatan tekanan intra kranial (TIK) misal: UUB cembung, edema papil.
6. Didapatkan tanda infeksi di luar SSP misal: ISPA, GEA, ISK, OMA.
7. Pemeriksaan motorik, sensorik, refleks fisiologis normal, tidak ada refleks patologis.
2.6 Pemeriksaan Penunjang Kejang Demam
Menurut (IDAI 2016) pemeriksaan penunjang untuk kejang demam, yaitu :
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi
dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam. Pemeriksaan
laboratorium yang dapat dikerjakan atas indikasi misalnya darah perifer, elektrolit,
dan gula darah (level of evidence 2, derajat rekomendasi B).
6
2. Pungsi lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis. Berdasarkan bukti-bukti terbaru, saat ini pemeriksaan
pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin pada anak berusia <12 bulan yang
mengalami kejang demam sederhana dengan keadaan umum baik. Indikasi pungsi
lumbal yaitu :
- Terdapat tanda dan gejala rangsang meningeal.
- Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
klinis
- Dipertimbangkan pada anak dengan kejang disertai demam yang sebelumnya telah
mendapat antibiotik dan pemberian antibiotik tersebut dapat mengaburkan tanda dan
gejala meningitis.
3. Elektroensafalografi (EEG)
Indikasi pemeriksaan EEG yaitu pemeriksaan EEG tidak diperlukan untuk kejang
demam, KECUALI apabila bangkitan bersifat fokal.
4. CT Scan atau MRI
Pemeriksaan neuroimaging (CT scan atau MRI kepala) tidak rutin dilakukan pada
anak dengan kejang demam sederhana (level of evidence 2, derajat rekomendasi B).
7
Pemeriksaan tersebut dilakukan bila terdapat indikasi, seperti kelainan neurologis
fokal yang menetap, misalnya hemiparesis atau paresis nervus kranialis.
2.7 Tatalaksana Kejang Demam
Pada umumnya kejang berlangsung singkat (rerata 4 menit) dan pada waktu pasien
datang, kejang sudah berhenti. Apabila saat pasien datang dalam keadaan kejang, obat
yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam intravena. Dosis
diazepam intravena adalah 0,2-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 2
mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 10 mg. Secara umum,
penatalaksanaan kejang akut mengikuti algoritma kejang pada umumnya.
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orangtua di rumah (prehospital) adalah
diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5
mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan 10 mg untuk berat badan
lebih dari 12 kg.
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali
pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah
sakit dapat diberikan diazepam intravena. Jika kejang masih berlanjut, lihat algoritme
tatalaksana status epileptikus. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya
tergantung dari indikasi terapi antikonvulsan profilaksis.
8
Pemberian Obat pada saat demam, yaitu :
1. Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya
kejang demam (level of evidence 1, derajat rekomendasi A). Meskipun demikian,
dokter neurologi anak di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan.
Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan tiap 4-6 jam.
Dosis ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari.
2. Antikonvulsan
Yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan yang
diberikan hanya pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada kejang
demam dengan salah satu faktor risiko di bawah ini:
- Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
- Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun
- Usia < 6 bulan.
- Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius
9
- Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat
dengan cepat.
Obat yang digunakan adalah diazepam oral 0,3 mg/kg/kali per oral atau rektal 0,5
mg/kg/kali (5 mg untuk berat badan 12 kg), sebanyak 3 kali sehari, dengan dosis
maksimum diazepam 7,5 mg/kali. Diazepam intermiten diberikan selama 48 jam
pertama demam. Perlu diinformasikan pada orangtua bahwa dosis tersebut cukup
tinggi dan dapat menyebabkan ataksia, iritabilitas, serta sedasi.
Pemberian obat antikonvulsan rumatan, yaitu :
Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat
dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan, maka pengobatan rumat
hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek (level of evidence
3, derajat rekomendasi D). Indikasi pengobatan rumat:
1. Kejang fokal
2. Kejang lama >15 menit
3. Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya palsi
serebral, hidrosefalus, hemiparesis.
Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada
10
sebagian kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun, asam valproat dapat
menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat adalah 15-40 mg/kg/hari
dibagi dalam 2 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis.
Pengobatan rumat diberikan selama 1 tahun, penghentian pengobatan rumat untuk
kejang demam tidak membutuhkan tapering off, namun dilakukan pada saat anak
tidak sedang demam (IDAI, 2016).
11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang timbul akibat kenaikan suhu
tubuh suhu rektal diatas 38 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranial. Suatu
konsesus mengenai kejang demam membuat definisi kejang demam sebagai suatu
kejadian pada bayi atau anak biasanya terjadi pada umur 6 bulan sampai 5 tahun
disertai demam, tanpa adanya bukti infeksi intrakranial atau penyebab yang pasti.
Lebih dari 90% penderita kejang demam terjadi pada anak berumur dibawah
5 tahun. Terbanyak bangkitan kejang demam terjadi pada anak berumur 6 bulan
sampai 22 bulan. Insiden bangkitan kejang demam tertinggi pada umur 18 bulan. Di
berbagai negara insiden dan prevalensi kejang demam berbeda. Insiden kejang
demam berkisar 2- 5% di Amerika serikat dan Eropa. Insiden kejang demam
meningkat dua kali lipat di Asia bila dibandingkan di Eropa dan di Amerika. Iinsiden
kejang demam di Jepang berkisar 8,3-99%. Bahkan di Guam insiden kejang demam
mencapai 14%. Angka penyakit infeksi di Negara berkembang masih tinggi, maka
kemungkinan terjadinya bangkitan kejang perlu diwaspadai (Anggraini, 2022).
12
Daftar Pustaka
Aliabad GM, Khajeh A, Fayyazi A, Safdari L. Clinical, Epidemiological and
Laboratory Characteristics of Patients with Febrile Convulsion. Journal of
Comprehensive Pediatrics. 2013;4(3):134-7.
Anggraini D, Hasni D. 2022. Kejang Demam. Padang. Fakultas Kedokteran
Universitas Baiturahman
American Academy of Pediatrics. Committee on Quality Improvement, Subcommittee
on Febrile Seizures. Practice Parameter: Long-term Treatment of the Child With
Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999; 103 (6): 1307-9.
Deliana M. Tata Laksana Kejang Demam pada Anak. Sari Pediatri. 2002;4(2):59 – 62
Fuadi. Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak: Universitas Diponegoro;
2010.
Graves RC, Oehler K, Tingle LE. Febrile Seizures : Risks, Evaluation, and Prognosis.
American Family Physician. 2012;85(2):149-53.
IDAI. 2016. Penatalaksanaa Kejang Demam. Jakarta. IDAI.
IDAI. 2013. Kejang Demam Anak. Jakarta. IDAI
Pasaribu AS. Kejang Demam Sederhana Pada Anak yang Disebabkan karena Infeksi
Tonsil dan Faring. Medula. 2013;1(1):65-71.
Shodikin M. 2017. Kejang Demam. Jember. Fakultas Kedokteran Universitas Jember
Wardhani AK. Kejang Demam Sederhana Pada Anak Usia Satu Tahun. Medula.
2013;1(1):57-64.
13
LAPORAN KASUS
I. Anamnesa Pribadi O.S
Nama : M. Tio Alfarizi Saragih
Umur : 1 tahun 5 bulan 0 hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 14 April 2022
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Indonesia
Alamat : Bandar Setia Gg. Buntu
Nama Ayah : Fandi Saragih
Nama Ibu : Fernanda Nehemia Lubis
Tanggal Masuk : 12 September 2023
[Link] : 00403679
Berat Badan : 10.5 kg
Tinggi Badan : 100 cm
Lingkar Kepala : 51
Status Gizi : Baik
II. Anamnesa Mengenai Orang Tua O.S
Identitas Ayah Ibu
Nama Fandi Saragih Nehemia Lubis
Umur 33 Tahun 30 Tahun
Suku/Bangsa Indonesia Indonesia
Agama Islam Islam
Pendidikan D3 SMA
Pekerjaan Perawat Ibu Rumah Tangga
14
III. Riwayat Kelahiran O.S
Pasien lahir aterm (37 minggu) pada tanggal 08 Januari 2021 secara normal di
tolong oleh bidan dengan berat 3500 gram, panjang badan lahir 50 cm. pada saat
lahir pasien segera menangis.
IV. Riwayat Nutrisi
ASI Eksklusif : sampai usia 14 bulan
Susu Formula : sejak usia 15 bulan
Bubur Susu :-
Nasi Tim : sejak usia 6 bulan
Makanan Dewasa : sejak usia 12 bulan
V. Riwayat Imunisasi
- BCG : 1 kali
- Polio : 1 kali
- Hepatitis B :-
- DPT : 1 kali
- Campak : 1 kali
VI. Riwayat Tumbuh Kembang
- Menegakkan kepala : 4 bulan
- Membalikkan badan : 5 bulan
- Duduk : 8 bulan
- Merangkak : 10 bulan
- Berdiri : 11 bulan
- Berjalan : 12 bulan
15
VII. Anamnesa Mengenai Penyakit O.S
(Keterangan didapat dari keluarga pasien/Aloanamnesa)
Keluhan Utama : Demam 3 hari ini
Telaah : Pasien dengan keluhan Demam 3 hari ini, disertai
Kejang 3x dirumah dan 1x di RS Haji dengan durasi
kejang < 5x/ hari. Riwayat kejang pertama kali 3 hari
yang lalu
Riwayat Penyakit Terdahulu : Tidak ada
Riwayat Penggunaan Obat : Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang
mengalami keluhan yang sama.
Riwayat Alergi : Tidak ada
VIII. Pemeriksaan Jasmani
Pemeriksaan Umum
Kesan Umum
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah :-
Frekuensi Nadi : 100 x/menit
Frekuensi Nafas : 26 x/menit
Suhu : 37,8 C
Berat Badan : 10.5
Panjang Badan : 100
Status Gizi : Baik
Status Lokalis
a) Kepala : Normosefali
Mata : Pupil isokor, refleks cahaya (+/+), anemis (-/-), sklera ikterik
16
(-/-), secret (-/-)
Hidung : Deviasi septum nasi (-/-), pernafasan cuping hidung (-)
Telinga : Dalam batas normal, secret (-/-), serumen (-/-), hiperemis (-)
Mulut : Bibir pucat (-), lidah kotor (-), sianosis (-), mukosa bibir kering
(-)
b) Leher : Pembesaran KGB (-)
c) Thorax
Jantung
Inspeksi : Ictus codis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak, batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : Bising jantung (-), murmur (-), gallop (-)
Paru
Inspeksi : Simetris, bentuk dada fusiformis, retraksi (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Auskultasi : Sonor (+/+)
Perkusi : Suara pernapasan : Vesikuler (+/+)
Suara tambahan : Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
d) Abdomen
Inspeksi : Dalam batas normal, simetris (+), disetensi (-), asites (-),
jaundice (-)
Palpasi : Soepel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik usus (+) normal
e) Extremitas
Atas : Akral hangat (+/+), sianosis (-), oedem (-), CRT < 2 detik
Bawah : Akral hangat (+/+), sianosis (-), oedem (-), CRT < 2 detik
f) Genitalis : Dalam batas normal
17
Status Neurologis (Tanda Rangsangan Meningeal)
- Kaku kuduk : (-/-)
- Brudzinsky I : (-/-)
- Brudzinsky II : (-/-)
- Kernig : (-/-)
Pemeriksaan Darah Rutin tgl 25 Juni 2023
Pemeriksaan Hasil Nilai Satuan
Rujukan
HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Hemoglobin 10.9 11.7 – 15.5 g/dL
Hematokrit 32.2 37 – 45 %
Leukosit 11.30 4 - 11 ribu/mm3
Trombosit 234 150 - 440 ribu/mm3
Eritrosit 4.26 3.95 – 5.26 juta/uL
PDW 15.7 9.0-13.0 fL
RDW-CV 12.6 11.5-14.5 %
MPV 8.6 7.2-11.1 fL
PCT 0.202 0.150—0.400 %
Index Eritrosit
MCV 76 75 – 87 fL
MCH 26 24 – 30 pg
MCHC 34 31 - 37 g/dL
18
Hitung Jenis Leukosit
Basofil 0 0–1 %
Eosinofil 1 1–3 %
Neutrofil segmen 56 50 -70 %
Limfosit 29 20 – 45 %
Monosit 14 4 -8 %
Jumlah Total Sel
Total Lymphosit 3.30 0.58 – 4.47 ribu/uL
Total Basofil 0.00 0 – 0.1 ribu/uL
Total Monosit 1.57 0.17 – 1.22 ribu/uL
Total Eosinofil 0.05 0 – 0.61 ribu/uL
Total Neutrofil 6.4 1.88 – 7.82 ribu/uL
Imunoserologi
Swab Antigen Rapid Negatif Negatif
Covid 19
19
Diagnosa Kerja : Demam Kejang Kompleks
Diagnosa Banding :
Terapi IGD :-
Terapi dr Syarifah Sp.A :
- RL 20 gtt/I micro
- Inj Phenobarbital 50 mg/12jam
- PCT syr 3x1cth
20
Follow Up Pasien
Hari, S O A P
Tanggal
Rabu, Demam HR : 100x/i Epilepsi • IVFD D5% s/i NaCl
13 (+) RR : 25x/i 20 gtt/micro
September Temp : 36℃ • Asam Valproat 2x2.5
2023 SpO2 : 99% cc
• Ibu profen 3x5cc
Kamis, Demam HR : 102x/i Epilepsi • IVFD D5% s/i NaCl
14 (+) RR : 26x/i 20 gtt/micro
September Temp : 37℃ • Asam Valproat 2x2.5
2023 SpO2 : 99% cc
• Ibu profen 3x5cc
Jum at, Demam HR : 102x/i Epilepsi • IVFD D5% s/i NaCl
15 (+) RR : 26x/i 20 gtt/micro
September Temp : 37℃ • Asam Valproat 2x2.5
2023 SpO2 : 99% cc
• Ibu profen 3x5cc
Sabtu, Demam HR : 78x/i Epilepsi • IVFD D5% s/i NaCl
16 (+) RR : 22x/i 20 gtt/micro
September Temp: • Asam Valproat 2x2.5
2023 37,5℃ cc
21
SpO2 : 99% • Ibu profen 3x5cc
Mingu, Demam HR : 82x/i Epilepsi • Asam Valproat 2x2.5
17 (+) RR : 20x/i cc
September Temp: 36℃ • Ibu profen 3x5cc
2023 SpO2 : 99%
Senin, Demam (-) HR : 82x/i Epilepsi • Asam Valproat 2x2.5
18 RR : 29x/i cc
September Temp: 36℃ • Ibu profen 3x5cc
2023 SpO2 : 99% • PBJ
22