0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan15 halaman

Terapi Bermain Puzzle untuk Anak 2-6 Tahun

Terapi bermain puzzle bertujuan mengurangi kecemasan anak selama dirawat di rumah sakit dan meningkatkan perkembangan anak. Kegiatan ini melibatkan anak usia 2-6 tahun untuk menyusun puzzle secara individu atau berkelompok selama 30 menit di bawah bimbingan perawat untuk meningkatkan kreativitas, konsentrasi, dan keterampilan sosial anak.

Diunggah oleh

Dimas Rizki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan15 halaman

Terapi Bermain Puzzle untuk Anak 2-6 Tahun

Terapi bermain puzzle bertujuan mengurangi kecemasan anak selama dirawat di rumah sakit dan meningkatkan perkembangan anak. Kegiatan ini melibatkan anak usia 2-6 tahun untuk menyusun puzzle secara individu atau berkelompok selama 30 menit di bawah bimbingan perawat untuk meningkatkan kreativitas, konsentrasi, dan keterampilan sosial anak.

Diunggah oleh

Dimas Rizki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA KEGIATAN TERAPI BERMAIN

“PERMAINAN PUZZLE”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Stase Keperawatan Anak di Ruang Empu
Tantular RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang

Oleh :
Lila Damayanti 2331061003
Riris Nofiati 2331061003
Dina Dwi Fransisca 2331061006
Anggraini Darmawinanti 2331061007
Windy anggraini 2331061016

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN MALANG
WIDYA CIPTA HUSADA
2023
SATUAN ACARA KEGIATAN (SAK) TERAPI BERMAIN

Topik : Terapi Bermain Di Rumah Sakit


Pokok Bahasan : Bermain Puzzle
Sasaran : Anak usia 2-6 tahun
Tempat : R. Bermain Emputantular
Hari/ Tanggal : jum’at, 30 Desember 2022
Waktu : 10.00 WIB

A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan Instruktural Umum
Setelah dilakukan terapi bermain pada anak selama 35 menit, anak diharapkan
mampu mengekspresikan perasanannya dan menurunkan kecemasannya,
merasa tenang selama proses perawatan dirumah sakit dan dapat meningkatkan
tumbuh kembang anak, meningkatkan aktivitas anak dan kreatifitas.
2. Tujuan Instruktural Khusus
Setelah mengikuti permainan selama 30 menit anak mampu :
a. Mengembangkan kreativitas, konsentrasi dan daya pikir anak
b. Bisa merasa tenang selama dirawat
c. Anak bisa merasa senang dan tidak takut lagi dengan dokter atau perawat.
d. Mengurangi ketakutan dan kejenuhan selama dirawat di rumah sakit
e. Dapat melatih koordinasi mata dan tangan
f. Beradaptasi dengan lingkungan
g. Mempererat hubungan antara perawat dan anak

B. Sub Pokok Pembahasan


Sub pokok pembahasan terapi bermain ini focus bermain aktif, dimana dengan
bermain aktif anak akan memperoleh kesenangan, mengurangi kecemasan dan rasa
takut, selain itu dapat melatih motorik halus, koordinasi mata dan tangan dalam
Menyusun permainan puzzle.
C. Sasaran
Sasaran dari kegiatan terapi bermain ini adalah anak yang dirawat di ruang
Emputantular dengan kriteria sebagai berikut :
1. Kesadaran composmentis
2. Usia 2 – 6 tahun
3. Tanda vital stabil
4. Pasien kooperatif
5. Tidak mengganggu perawatan medis
6. Tidak bertentangan dengan pengobatan

D. Kegiatan Terapi Bermain


No Terapis Waktu Subek Terapi
1 Persiapan : 5 menit sebelum Ruangan, alat bermain
[Link] ruangan kegiatan dimulai dan orang tua anak
[Link] anak dan orang tua
c. Menyiapkan alat dan bahan
[Link] anak
2 Pembukaan : 5 menit Mendengarkan, tujuan
[Link] salam dan dari terapi bermain dan
memperkenalkan diri mendengarkan instruksi
[Link] tujuan dan maksud yang diberikan
dari kegiatan
c. Menjelaskan cara kegiatan apa
yang akan dilakukan
3 Proses : 15 menit Bermain dengan sangat
[Link] anak tata cara bermain antusias
puzzle Ekpresi wajah anak rileks
[Link] anak bermain puzzle
c. Fasilitator mendampingi anak dan
memberikan motivasi pada anak
[Link] pada anak apakah
sudah selesi dalam kegiatan
bermain
[Link] pujian pada anak yang
mempu bermain dan
menyelesaikan puzzle dengan baik.
4 Penutup : 5 menit Anak dapat merespon
a. Melakukan review pengalaman dengan ekpresi rileks
anak setelah bermain puzzle
b. Menganalisis kesan yang didapat
anak
c. Menyimpulkan kegiatan acara

E. Setting Tempat

Keterangan :

: Fasilitator : Anak dan orang tua

: observer

F. Media Terapi Bermian


Media yang digunakan untuk terapi bermian adalah puzzle

G. Metode Terapi Bermain


Metode yang digunakan adalah demontrasi langsung yang dilakukan oleh anak
sesuai dengan instruksi yang diberikan.
H. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Koordinasi dengan pihak pembimbing ruangan
b. Koordinasi dengan sesama anggota kelompok terkait persiapan kegiatan.
c. Kontrak waktu kegiatan dengan anak dan orang tua
2. Evaluasi proses
a. Semua peserta mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
b. Leader dapat memimpin jalannya permainann dengan tertib dan teratur
c. Fasilitator dapat memfasilitasi dan memotivasi anak dalam permainan
3. Evaluasi hasil
a. Presentasi kehadiran peserta adalah 80% dari total semua peserta
b. Anak telah belajar memecahlan masalah melalui eksplorasi alat mainnya, anak dapat
mengembangkan hubungan sosial, komunikasi, belajar sabar dan saling menghargai.
c. Anak merasa terlepas dari ketegangan dan stress selama dirawat.
d. Target peserta 3 orang.

I. Materi Terapi Bermian (Terlampir)


Materi Terapi Bermain Puzzle
A. Definisi
Bermain merupakan stimulasi yang tepat bagi [Link] dapat
meningkatkan daya pikir anak sehingga anak mendayagunakan aspek emosional,
social, serta fisiknya. Bermain juga dapat meningkatkan kemampuan fisik,
pengalaman dan pengetahuannya, serta berkembangnya keseimbangan menta anak
(Pitriana, 2019). Bermain merupakan cara alamiah bagi seorang anak untuk
mengungkapkan konflik yang ada dalam dirinya yang pada awalnya anak belum
sadar bahwa dirinya sedang mengalami koflik. Melalui bermain anak dapat
mengekspresikan pikiran, perasaan, fantasi serta daya kreasi dengan tetap
mengembangkan kreatifitasnya dan beradaptasi lebih efektif terhadap berbagai
sumber stress (Farida Sri Rahayu, 2018).
Bermain sangat penting bagi mental, emosional dan kesejahteraan anak,
seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada
saat anak sakit atau anak rawat dirumah sakit (Farida Sri Rahayu, 2018). Bermain
merupakan cara alamiah bagi seorang anak untuk mengungkapkan konflik yang ada
dalam dirinya yang pada awalnya anak belum sadar bahwa dirinya sedang
mengalami koflik. Melalui bermain anak dapat mengekspresikan pikiran, perasaan,
fantasi serta daya kreasi dengan tetap mengembangkan kreatifitasnya dan
beradaptasi lebih efektif terhadap berbagai sumber stress (Farida Sri Rahayu, 2018).
Puzzle merupakan alat bermain yang dapat membantu perkembangan
psikososial pada anak Ball, dalam Fitriani (2017), Puzzle merupakan permainan yang
dapat memfasilitasi permainan asosiatif dimana pada usia prasekolah anak senang
bermain dengan anak lain sehingga Puzzle dapat dijadikan sarana bermain anak
sambil [Link] bermain puzzle merupakan salah satu alat bermain yang
dapat membantu perkembangan psikososial pada anak. Puzzle merupakan
permainan yang dapat memfasilitasi permainan asosiatif dimana pada usia
prasekolah ini anak senang bermain dengan anak lain sehingga puzzle dapat
dijadikan sarana bermain anak sambil bersosialisasi (Fitriani, 2017)
B. Manfaat Terapi Bermain
Permainan yang terapeutik didasari oleh pandangan bahwa bermain bagi anak
merupakan aktivitas yang sehat dan diperlukan untuk kelangsungan tumbuh kembang
anak dan memungkinkan untuk dapat menggali dan mengekspresikan perasaan,
pikiran, mengalihkan nyeri, dan relaksasi. Sehingga kegiatan bermain harus menjadi
bagian integral dari pelayanan kesehatan anak di rumah sakit (Farida Sri Rahayu,
2018).
Menurut Adriana menyatakan bahwa aktivitas bermain yang dilakukan di rumah sakit
memberikan manfaat:
1. Membuang energi ekstra.
2. Mengoptimalkan pertumbuhan sseluruh bagian tubuh.
3. Aktivitas yang dilakukan dapat meningkatkan nafsu makan anak.
4. Anak belajar mengontrol diri.
5. Meningkatkan daya kreativitas.
6. Cara untuk mengatasi kemarahan, kecemasan, kedukaan dan iri hati.
7. Kesempatan untuk belajar bergaul dengan orang lain atau anak lainnya.
8. Kesempatan untuk belajar mengikuti aturan
9. Dapat mengembagkan kemampuan intelektualnya (Farida Sri Rahayu, 2018).
Manfaat Terapi Bermain Puzzle sebagai berikut :
1. Meningkatkan Ketrampilan Kognitif Keterampilan kognitif berhubungan dengan
kemampuan dalam belajar dan memecahkan masalah. Dengan bermain Puzzle
anak akan mencoba memecahkan masalah yaitu menyusun gambar
2. Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Keterampilan motorik halus berkaitan
dengan kemampuan anak menggunakan otot-otot kecilnya khusunya tangan dan
jari-jari tangan.
3. Meningkatkan Ketrampilan Sosial Keterampilan social berkaitan dengan
kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Bermain Puzzle dapat dilakukan
secara individu namun dapat juga dilakukan secara kelompok atau bersama.
4. Melatih Koordinasi Mata dan Tangan Anak menjadi belajar mencocokan keeping-
keping puzzle dan menyusunya menjadi satu gambar. Ini merupakan langkah
penting menuju pengembangan ketrampilan membaca.
5. Melatih Logika Melalui puzzle anak dilatih menggunakan logikanya. Misalnya
puzzle bergambar manusia, anak akan dilatih menyimpulkan letak kepala, tangan
dan kaki sesuai logika.
6. Melatih kesabaran Bermain puzzle membutuhkan kesabaran, ketekunan dan
memerlukan waktu untuk berfikir dalam menyelesaikan tantangan (Pitriana,
2019).

C. Macam – Macam Bermain


Menurut Wong, bahwa permainan dapat diklasifikasikan antara lain :
1. Berdasarkan Isinya :
a. Bermain afektif sosial (social affective play) Permainan ini adalah adanya
hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain.
Anak mendapatkan kesenangan dari hubungannya dengan orangtuannya.
b. Bermain untuk senang-senang (sense of pleasure) Permainan ini akan
menimbulkan kesenangan bagi anak- anak. Permainan ini membutuhkan alat
yang mampu memberikan kesenangan pada anak, misalnya menggunakan
pasir untuk membuat gunung-gunung, menggunakan air yang dipindahkan
dari botol, atau menggunakan plastisin untuk membuat sebuah konstruksi.
c. Permainan keterampilan (skill play) Permainan ini akan meningkatkan
keterampilan bagi anak. Khususnya keterampilan motorik kasar dan motorik
halus. Keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan dari
permainan yang dilakukan.
d. Permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role) Permainan anak yang
dilakukan dengan cara memainkan peran dari orang lain. Dalam permainan ini
akan membuat anak melakukan percakapan tentang peran apa yang mereka
tiru. Dalam permainan ini penting untuk memproses atau mengidentifikasi
anak terhadap peran tertentu.
2. Berdasarkan Karakteristik Sosial
a. Solitary Play Permainan ini dimulai dari usia bayi dan merupakan permainan
sendiri atau independent. Walaupun ada orang disekitarnya bayi atau anak
tetap melakukan permainan sendiri. Hal ini karena keterbatasan mental, fisik,
dan kognitif.
b. Paralel Play Permainan ini dilakukan oleh sekelompok orang. Permainan ini
dilakukan anak balita atau prasekolah yang masing-masing mempunyai
permainan yang sama tetapi satu sama lainnya tidak ada interaksi dan tidak
saling bergantung, dan karakteristik pada usia todler dan prasekolah.
c. Asosiative play Permainan kelompok dengan atau tanpa tujuan kelompok.
Permainan ini dimulai dari usia toddler dan dilanjutkan sampai usia
prasekolah. Permainan ini merupakan permainan dimana anak dalam
kelompok dengan aktivitas yang sama tetapi belum terorganisir secara formal.
d. Cooperative play Suatu permainan yang dimulai dari usia prasekolah.
Permainan ini dilakukan pada usia sekolah dan remaja.
e. Therapeutik play Merupakan pedoman bagi tenaga dan tim kesehatan,
khususnya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikososial anak selama
hospitalisasi. Dapat membantu dalam mengurangi stress, cemas, memberikan
instruksi dan perbaikan kemampuan fisiologis (Farida Sri Rahayu, 2018).

D. Alat Permainan Edukatif


Alat Yang digunakan untuk Terapi Bermain Puzzel :(Suprapto, 2021)
1. Puzzel yang sudah dipilih
2. Tempat untuk kegiatan
3. Lembar observasi
Beberapa alat yang bisa digunakan sebagai terapi bermain edukatif antara lain :
1. Lembar Observasi
2. Catatan kemajuan anak
3. Alat permaian untuk mengekspresikan perasaan: alat tulis, crayon, kertas gambar,
papan tulis putihe board, spidol white board, musik.
4. Alat permainan untuk distraksi: Game watch, pancing pancingan, boneka, balon
warna-warni, gambar tokoh anak-anak dalam ukuran besar, buku cerita
5. Alat permainan untuk relaksasi: musik yang lembut, bermain irama pernafasan,
nonton TV.
6. Alat untuk mengembangkan ide dan kreatifitas: plastisin, bongkar pasang, puzzle,
balok-balok berpasangan, menara kubus, menara warna, kertas lipat.
7. Alat permainan untuk memfasilitasi komunikasi: boneka tangan, alat-alat rumah
tangga, aneka macam permainan buah-buahan, aneka macam model sayur-
sayuran, aneka macam lauk-pauk.
8. Alat permainan menumbuhkan perasaan mandiri: gunting kertas, lem, tempat
menempel Alat permainan untuk menumbuhkan rasa senang: menyanyikan lagu-
lagu anak, balon berbunyi, mainan berputar, mainan menimbulkan bunyi.
9. Bermain kata-kata, kartu (Rohmah, 2018).

E. Hal – Hal Yang harus diperhatikan dalam bermain


Menurut Sujono, faktor-faktor yang mempengaruhi pola bermain pada anak yaitu:
a. Tahap perkembangan, setiap perkembangan mempunyai potensi atau
keterbatasan dalam permainan. Alat permainan pada tiap umur berbeda
b. Status kesehatan, pada anak yang sedang sakit kemampuan psikomotor/kognitif
terganggu. Sehingga ada saat-saat dimana anak sangat ambisius pada
permainannya dan ada saat-saat dimana anak sama sekali tidak punya keinginan
untuk bermain.
c. Jenis kelamin, anak laki-laki dan perempuan sudah membentuk komunitas
tersendiri. Tipe dan alat permainan pun berbeda, misalnya anak laki-laki suka
main bola dan anak perempuan suka bermain boneka.
d. Lingkungan, lokasi dimana anak berada sangat mempengaruhi pola permainan
anak.
e. Alat permainan yang cocok, disesuaikan dengan tahap perkembangan sehingga
anak menjadi senang (Suprapto, 2021).

F. Bentuk – Bentuk Permainan


Menurut Saputro dan Intan (2017), terapi bermain diklasifkasikan menjadi 2 yaitu:
a. Bermain Aktif
Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukaan anak, apakah
dalam bentuk kesenangan bemain alat misalnya mewarnai gambar, melipat kertas
origami dan menempel gambar. Bermain aktif juga dapat dilakukan dengan
bermain peran misalnya bermain dokter-dokteran dan bermain dengan menebak
kata.
b. Bermain Pasif
Dalam bermain pasif, hiburan atau kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain.
Pemain menghabiskan sedikit energi, anak hanya menikmati temannya bermain
atau menonton televisi dan membaca buku. Bermain tanpa mengeluarkan banyak
tenaga, tetapi kesenangannya hampir sama dengan bermain akti

G. Bermain Ketika Anak Masuk Rawat Inap


Perawatan di Rumah Sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stress, baik
bagi anak maupun orang tua. Untuk itu anak memerlukan media yang dapat
mengeskpresikan perasaan tersebut dan mampu bekerja sama dengan petugas
Kesehatan selama masa perawatan. Aktivitas bbermain yang dilakukan perawat pada
anak di RS akan memberikan keuntungan sebagai berikut :
1. Meningkatkan hubungan perawat dan klien.
2. Memulihkan rasa mandiri.
3. Dapat mengekspresikan rasa tertekan.
4. Permainan terapeutik dapat meningkatkan penguasaan pengalaman yang
terapeutik.
5. Permainan kompetisi dapat menurunkan setres.
6. Alat komunikasi antara perawat dan klien (Suprapto, 2021).
Prinsip bermain di rumah sakit menurut Vanfeet (2010), dalam Saputro (2017) antara
lain :
1. Waktu bermain
Waktu yang diperlukan untuk terapi bermain pada anak yang dirumah sakit adalah
20-30 menit. Waktu tersebut dapat membuat kedekatan antara orang tua dan anak
serta tidak mengakibatkan anak kelelahan akibat bermain.
2. Mainan harus aman
Permainan harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Anak kecil perlu
rasa nyaman dan yakin terhadap benda yang dikenalinya dan tidak berbahaya
bagi anak.
3. Sesuai kelompok usia
Perlu dijadwalkan dan di kelompokkan sesuai dengan kebutuhan bermain anak
dan usianya. Pada rumah sakit yang ada tempat bermainnya perlu diperhatiakan
dan dimanfaatkan secara baik.
4. Tidak bertentangan dengan terapi
Terapi bermain harus memperhatikan kondisi anak. Bila program terapi
mengharuskan anak harus istirahat, maka aktivitas bermain hendaknya dilakukan
ditempat tidur. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan yang
dilakukan ditempat tidur
5. Perlu keterlibatan orang tua
Keterlibatan orang tua dalam terapi adalah sangat penting, hal ini disebabkan
karena orang tua mempunyai kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya
stimulasi tumbuh kembang pada anak walaupun sedang dirawat di rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Farida Sri Rahayu. (2018). Penerapan terapi bermain puzzle terhadap tingkat kecemaan
pada hospitalisasi anak usia prasekolah di bangsal dahlia RSUD wonosari. In Karya
Tulis Ilmiah Penerapan.
Fitriyani, W, 2017. Terapi Bermain Puzzle Terhadap Kecemasan pada Anak Usia
Prasekolah (3-6 tahun) yang Menjalani Kemoterapi di Ruang Hematologi Onkologi
Anak. Jurnal Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung
Mangkurat
Lestari, T. (2016). Asuhan Keperawatan Anak. Jakarta: EGC
Pitriana, L. (2019). Efektifitas Terapi Bermain Puzzle Dan Terapi Bermain Menggambar
Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah (3-6 Tahun) Dalam
Menghadapi Hospitaliisasi Di RSU Darmayu Ponorogo. Carbohydrate Polymers, 6(1),
5–10.
Rohmah, N. (2018). Terapi Bermain (Vol. 4, Issue 1).
Saputro, 2017. Buku Ajar Anak Sakit Penerapan Terapi Bermain Anak Sakit Proses,
Manfaat dan Pelaksanaannya. Ponorogo: Forum Ilmiah Kesehatan (FORIKES
Setiawati, S. (2017). Keterampilan Khusus Praktik Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba
Medika.
Sofyan Ismael, H. D (Eds). (2016). Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam. Badan
Penerbit IDAI
Suprapto, A. R. (2021). Efektifitas Terapi Bermain Puzzle Dan Mewarnai Terhadap
Kecemasan Anak Usia Prasekolah Selama Proses Perawatan Di Ruang Rawat Inap
Bougenvile RSUD [Link] Ngawi. Pesquisa Veterinaria Brasileira, 26(2), 173–
180.

LEMBAR EVALUASI KEGIATAN


Evaluasi Proses :
a. Mahasiswa Yang mengikuti terapi bermain 4 orang, dan bertugas sesuai dengan
peran yang sudah ditentukan. Fasilitator Usia 2-4 tahun (Olga Dan Dimas), Fasilitator
usia 5-6 tahun (alfina Ashari), Leader (dimas) dan Observer (Melni).
b. Peserta yang mengikuti berjumlah 4 anak, dengan pembagian usia yaitu An. Aisyah
(2th,3 bln), An. Tegar (2th 5bln), [Link] (5 th) dan rifki (4 th 2 bln).
c. Saat sesi perkenalan dan menunjukkan alat permainan semua anak tampak Bahagia
dan tersenyum senang. Terapi bermain ini dilaksanakan pada pukul 10.20 dan selesai
10.45.
d. Saat terapi bermain berlangsung kendalanya adalah ada satu anak kurang di ajak
berkomunikasi, Sebagian besar anak mengikuti instruksi yang diberikan oleh
fasilitator dalam kegiatan terapi bermain ini. Pada saat awal permulaan permainan
anak belum mau berkomunikasi dengan baik, akan tetapi setelah beberapa menit
anak aktif bertanya dan komunikasi baik sehingga observer mudah dalam menggali
kemampuan motorik halu dan kasar pada setiap anak.
e. Kekurangan dalam kegiatan terapi bermain ini adalah personal sosial anak tidak
dikaji, komunikasi antara fasilitator dengan anak kurang, menggali kemampuan
motorik pada anak kurang dalam.

DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai