0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan8 halaman

Pertemuan Tak Terduga Gerhana dan Hakim

Dokumen ini menceritakan pertemuan Gerhana dengan Hakim. Hakim mengajak Gerhana bertemu lagi meski Gerhana masih trauma dengan mantan kekasihnya.

Diunggah oleh

Kris Dianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan8 halaman

Pertemuan Tak Terduga Gerhana dan Hakim

Dokumen ini menceritakan pertemuan Gerhana dengan Hakim. Hakim mengajak Gerhana bertemu lagi meski Gerhana masih trauma dengan mantan kekasihnya.

Diunggah oleh

Kris Dianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ia tidak seharusnya mengesampingkan fakta bahwa ia adalah pemeran utama dalam hidupnya

sendiri, dan kesempatan sekali dalam seumur hidup adalah hal langkah yang perlu di
pertimbangkan baik baik penolakannya.

Tapi pikiran itu musnah seketika saat sosok jangkung, berpakaian necis bermerek mahal,
rambut tertata rapi tanpa gel, dan detak jantungnya yang berdegup lebih kencang dari
biasanya,menghampiri dan tawaran terlontar dari mulut sang pria, Gerhana tak tahu kalau
kesialannya di mulai saat itu juga.

“Berkeinginan menjadi pendamping hidup saya tidak? Kalau iya, kita akan berjumpa lagi esok
pagi, disini, tempat pertama saya bertemu garis takdir saya.”

Sahabat dan niat baik mengenalkan yang patut dihajar, Gerhana akan menyepak tengkuk si
perempuan berkaki panjang itu nanti, ingatkan saja.
MEET ME

Jangankan menyapa, bergerak saja ia tidak bisa. Bibirnya seolah di bungkam oleh lem tak kasat
mata dan pria di depannya tidak menunjukkan pertanda akan mengalihkan pandangan dari
wajahnya barang sebentar saja. Gerhana tidak merasa kalau wajahnya cantik, keturunan Jawa
tidak selalu cantik, tapi Luna, teman bayinya, berkata kalau perempuan berlatar belakang Jawa,
apalagi sampai keturnannya bangsawan, pasti manis manis.

Tangan terjulur di depan wajah, lehernya spontan terlempar kebelakang karena gerakannya
terlalu cepat. Suara berat bergumam memperkenalkan diri bersama seulas senyum lebar
berhias lesung pipi di kedua sisi wajah.

“Nama saya Hakim Abinawa, umur tiga puluh dua, punya anak satu di rumah, kamu mau tau
juga pekerjaan saya?”

Menjabat dengan gerakan hati hati sembari menggeleng kecil, suaranya melantun halus dengan
aksen Jawa medok yang lucu “Tidak usah mas, tahu nama saja saya sudah senang.”

Hakim mengangguk kecil, Gerhana tidak bisa menolak fakta kalau duda sudah pasti menarik,
seperti kata Luna. Jarak umur yang terpaut empat tahun mengusik pikiran cukup dalam.

Jabatan di lepas, pria didepannya menyantap nasi goreng yang di pesan bersama nasi uduknya.
Keheningan merayapi suasana diantara mereka, kafe tempat mereka pertama kali bertemu
buka pukul Sembilan pagi, dan Gerhana diminta bertemu pukul tujuh pagi oleh calon pacar
virtualnya. Tidak punya pilihan lagi selain mengajak kenalannya duduk di warung pinggir jalan
yang tidak ramai, mungkin karena dekat rimbunnya pohon jadi Hakim suka suka saja.

“Mas punya aplikasi cari teman kencan juga?”

Hakim menggeleng “Anak saya berkonspirasi dengan ibunya untuk mencarikan saya teman
kencan, kalau tahu manis begini saya harus punya aplikasi itu dari lama.” Kekehnya mengudara,
dan Gerhana kembali terpana.

Menyahut setelah akal kembali ke kepala, suaranya berubah mencicit karena takut dimarah,
“Sebenarnya saya juga di isengin sama mama dan teman saya, seperti kata mas, berkonspirasi
mereka.”

Hakim tertawa, dan untuk kesekian kalinya pagi ini Gerhana benar benar terpana. Tertarik
untuk mengetahui bagaimana bisa lesung pipi itu melekuk dalam hingga membuatnya mati
kutu karena gemas, apakah anaknya punya lesung yang sama seperti ayahnya? Gerhana ingin
tahu seluk beluknya, tapi realita kembali menghantam ekspetasi bahwasannya Hakim bisa saja
sekedar menghilangkan penat dengan mengajak perempuan muda sepertinya berkencan.

Di pundung pikiran negative malah membuatnya berburuk sangka. Bibirnya terbuka bertanya
setelah mengumpulkan keberanian yang membara.

“Mas Hakim, saya tidak berniat terlalu egois. Tapi, kalau mas berencana kencan seminggu lalu
pergi, saya akan mengundurkan diri.”

Alisnya meliuk ke atas, sudut bibir tertarik ke atas sampai taring terlihat, Gerhana makin gugup
dibuat karena takut di anggap lancang. “Maaf kalau mas merasa tidak nyaman,” katanya
menunduk, meringis begitu mendengar hela nafas yang terhembus kasar.

“Punya pengalaman buruk tentang teman kencan, Sradisumita Gerhana?”

Menggeleng ragu, “Kalau di anggap teman kencan setelah hampir ditiduri, itu termasuk
pengalaman mas?”

Hakim diam, spontan mengepalkan tangan dan berdiri dari duduknya. Gerhana sampai
terlonjak kaget dan meraih lengan yang bersangkutan cepat. Ujaran maaf terlontar dengan
gerut di lengan yang terlalu erat.

“Maaf mas, saya benar benar minta maaf.”

Hakim mengurut pangkal hidung lalu mendengus kencang.

“Bawa saya bertemu ibu kamu.”

“Huh?”

“…atau mau saya cari langsung pria yang buat kamu takut menjalin hubungan seperti ini, dan
memotong tangannya di depan mata kamu?”

“Lho? Kenapa harus potong tangannya?”

“Karena dia berani sentuh milik saya.”


2

Pekarangan rumah diisi maserrati bukan hal familiar untuknya, komplek perumahannya saja
tidak punya tetangga yang pulang pergi pakai mobil semacam itu. Dan sekarang, kendaraan
roda empat yang harganya bisa buat dia beli makan bersama penduduk sekampung, terparkir
apik dekat mobil butut Bapak, si Corolla 97.

Menyahuti teriak Ibu dari dapur, Gerhana bergegas menghampiri begitu ibunya berkata butuh
bantuan. Langkahnya melewati taman belakang tempat dimana bapak dan Hakim bermain
catur beralas karpet tebal peninggalan mendiang nenek. Karisma dari kemeja yang di gulung
sampai siku, juga rambut yang di biarkan terpapar angin hingga berantakan, membuat Gerhana
makin terpesona.

Dirinya bertanya sepanjang hari kepada hatinya sendiri, apakah ini yang disebut jatuh pada
pandangan pertama? Dan Gerhana melengos begitu rasa trauma kembali muncul karena
kejadian masa lalu yang membuatnya enggan menjalani kembali cerita asmara. Tapi merasakan
rasa hangat ketika pertama kali melihat matanya, mendengar suaranya, adalah perasaan déjà
vu dan Gerhana tidak merasa risih sama sekali. Entahlah, mungkin karena sosok yang berbeda,
atau memang tuhan memberinya kesempatan kedua?.

Lamunan itu terburai begitu ibunya memberikan nampan berisi dua gelas kopi ke hadapannya,
dan Gerhana menjauh setelah di beri wejangan agar tidak tumpah. Hakim mendongak,
menatap kedatangannya dengan senyum terulas ramah. Sedangkan bapak memperhatikan dari
samping sembari terkekeh jumawa.

“Makan siangnya sudah siap, nduk?”

Meletakkan hati-hati, Gerhana memindahkan dua gelas ke arah yang berbeda. Menggeleng
sambil balas tersenyum kecil, ia menyahuti pertanyaan bapak berhias senyum sarat makna.

“Mboten, pak. Nasinya belum matang, tunggu sebentar lagi ya?”

“Oh, gitu? Bapak sih manut aja, tapi bagaimana dengan calon mantu bapak ini,” berpaling
menatap Hakim yang mengangguk pelan lalu beralih menatap Gerhana yang kembali berdiri
membawa nampan.

“Tidak apa, pak, mending disini aja main catur, bosen periksain dokumen tiap hari.”

Dan mereka tergelak bersama, Gerhana mengerjap heran begitu kemistri keduanya yang sudah
seperti bapak dan anak. Duh, Gerhana jadi baper sendiri melihatnya.
“Ya sudah, Gerhana pamit kebelakang bantu ibu lagi.”

Usai kepergian anak bungsunya, Ronggo, pria paru bayah itu lanjut menggerakan pion dengan
senyum terulas kecil. Hakim berpikir sebentar sebelum menarik pion kuda dan menyingkirkan
pion prajurit milik Ronggo.

“Gerhana berusia dua puluh dua tahun sewaktu aku membawanya yang kejang ke rumah sakit.
Dokter menyatakan adanya pelecehan seksual tapi tidak sampai di perkosa,” memindahkan raja
ke kanan, Ronggo tersenyum semakin lebar ketika pion benteng menggantikan posisi rajanya
berikut gumam kemenangan dari lelaki di depannya. “ia rela melepas karirnya sebagai
pramugari karena trauma, dan menjadi kurator museum sejak enam tahun silam. Mantan
kekasihnya tidak lagi muncul ataupun meminta maaf melalui surat. Tahun itu adalah tahun
terburuk sepanjang hidupku, nak, karena sebagai ayah, aku merasa gagal tidak bisa melakukan
apapun untuk membuat tangisnya mereda setiap malam.”

“Kalau boleh tahu, berapa lama mereka bersama?”

“Dua tahun, bukankah itu terdengar sangat menyakitkan? Aku memberinya kepercayaan dan
itu di sia siakan begitu saja.”

Ronggo mengusap bahu Hakim yang tegang, mencoba memberitahu rasa sesaknya melalui
sebuah sentuhan khas seorang ayah.

“Aku tidak akan memberikan restunya sekarang, jadi…. cobalah menaklukan hatikku?”

“Dengan senang hati, pak.”

(&)

“Mari bertemu lagi pekan depan.”

Mengerjap, Gerhana mengangguk patah patah seolah mempertimbangkan. Aslinya ia malu


sampai ke ujung kaki karena di ajak berkencan lagi.

“Say—“

“Aku,” sela yang bersangkutan menimpali, menatap manik cokelat tua sembari memiringkan
kepala “sepertinya saya lebih suka mendengar kamu berbicara tanpa panggilan terlalu formal.
Tidak apa?”
Mengangguk lagi, Gerhana menyetujui dengan senyum malu-malu. Berdiri disamping jendela
mobil Hakim, pria itu membuka kaca mobilnya sedikit dan mengerling sebelum memundurkan
kuda besi mahalnya dan meninggalkan pelataran rumah.

Gerhana terdiam untuk sesaat. Ini adalah kali pertama usai kejadian naas enam tahun lalu.
Bahkan tidak sekalipun terbesit di kepala untuk menjalani kontak fisik tidak lebih dari berbicara
bersama lawan jenis seperti tadi.

Ia ingin mencoba walau susah. Ingin kembali memberikan kepercayaannya pada seseorang agar
di jaga. Dan demi tuhan, Gerhana tidak akan menerima ajakkan lainnya jika sosok satu ini
bersikap sama saja seperti orang sebelumnya.

Baru saja hendak berbalik dan kembali memasuki rumah, sebuah motor besar familiar berhenti
di depan gerbang rumahnya. Sosok itu membuka helmet dan menyibak rambut panjangnya
sebelum menoleh pada Gerhana yang mendadak kaku di tempat.

Tubuhnya bergetar kecil seiring langkah kaki lelaki itu yang semakin dekat menghampirinya. Ia
tahu lelaki itu, seseorang yang nyaris meraup segala kewarasannya karena perlakuan tak
senonoh yang tak di harapkan.

“Selamat sore, bolehkah saya bertanya dimana rumah Pak Damang?”

Lantun suara santun membuatnya mengerutkan dahi, apakah di hadapannya ini adalah hayalan
belaka berupa nostalgia, atau memang nyata.

“Maaf, saya hendak bertanya dari atas motor tapi takut tidak sopan,” ujarnya sembari
menepikan kedua lengan, meringis tak enak dan mencoba tersenyum walau kurang lebar.

Gerhana terpaku, “Ian,” panggilnya.

Lelaki itu mengerjap, lalu mengangguk ragu dan menyahuti “Ya, itu nama saya. Kok mbak bisa
tahu ya?”

Gerhana berbalik dalam sekejap mata dan melarikan diri masuk ke dalam rumah. Meninggalkan
pemuda itu dengan raut bingung yang kentara.

Ronggo terkejut mendapatinya berpeluh di dekat pintu masuk, pun sigap meraih kepalanya dan
berkata bahwa tidak ada yang terjadi sebelumnya. Gerhana memang tidak berucap apa apa,
namun luruhnya air mata menyatakan bahwa kejadiannya begitu di luar dugaan.

“Apa terjadi sesuatu?”


Kerjap bola mata berwarna merah semakin memantik rasa penasaran di dalam diri ayahnya,
Gerhana menggeleng kecil dan berucap terima kasih lalu pamit diri kembali ke kamarnya.

Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, bahwa pemilik surai panjang yang menghampirinya tadi
adalah orang yang sama dengan orang yang pernah ia cintai keberadaannya. Namun kenapa, ia
bertanya seolah tidak saling mengenal sebelumnya.

Gerhana hendak mendudukkan diri dan urung begitu telponnya berdering nyaring di atas meja.
Tampak dengan jelas nama seseorang yang sedang mencoba mendapatkan hatinya.

Jemarinya bergerak menjawab panggilan tersebut, menempelkan ke dekat telinga dan dengan
suara yang bergetar ia membalas sapaan di sebrang.

“Selamat malam.”

“Ya, selamat malam.”

Bibir bawahnya di gigit keras, ada sesuatu yang terasa tidak asing dalam suaranya. Gerhana
merasa nyaman walau ia sadar bahwa pemilik suara yang ada di benaknnya bukanlah Hakim,
tapi sosok lain dengan suara nyaris sama.

“Begini, kemungkinan besar saya akan pergi ke luar kota besok, kalau kamu berkenan, bolehkah
bila ku pinta ijin dari ayahmu agar kamu bisa pergi bersama saya?”

Tangisnya pecah dalam diam, menggenggam erat erat ponselnya dan menjawab setenang yang
ia bisa.

“Tak perlu ijin, aku bukan lagi anak kecil. Datanglah besok pagi, akan ku sajikan sarapan
sebelum kamu membawaku pergi.”

“…perintah di terima.”

Gerhana mengusap air matanya, menyeka hidung dan berdeham kecil. “Ada yang lain, mas?” ia
bertanya karena tak kunjung mendengar sahutan dari sebrang.

“Tidak ada, kalau begitu saya matikan. Mimpi indah.”

Gerhana menyimpan suara berat itu dalam diam, dan membiarkan panggilan terputus sebelum
berujar

“…semoga mimpimu lebih indah dari mimpiku.”


3

Rambut di ikat bersama kedip semangat membuat nasi goreng di pagi hari. Ibunya
memerhatikan selagi mengupas bawang, dan Ronggo yang baru selesai mandi tertawa melihat
kelakuan anaknya.

“Ada kabar baik ya?”

Cengir lebar bersemat taring kecil menyembul mempesona, Gerhana menggeleng sembari
bergidik bahu “Bapak jangan kepo deh.”

“Bilang aja calon mantu bapak mau kesini kan? “

“ah, bapak jangan sok tahu begitu.”

Ronggo membuang muka, anaknya memang paling jago dalam menipu semua orang termasuk
dirinya sendiri. Hendak berkata untuk kembali membuka obrolan, ketukan di pintu membuat
Ronggo mengurngkan niat dan melangkah untuk membukakan pintu bagi tamu yang datang
pagi buta.

“Selamat pagi, pak.”

Ronggo tersenyum lebar, merangkul lelaki semampai di ambang pintu dan menggiringnya
masuk sambil membalas sapaan juga memulai percakapan.

“Mita! Nih calon suamimu sudah datang! Bawakan kopi sekalian sarapan!”

Hakim menggeleng dengan berkata agar tidak perlu disuguhi apa apa, lalu menjelaskan maksud
kedatangannya. “Saya mau mengajak Gerhana pergi pak.”

“Hm, kemana?” Ronggo meliukkan alis sembari

Anda mungkin juga menyukai