Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Akut
Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Akut
OLEH
NAMA
KUPANG
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan askep ini yang berjudul “GAGAL
GINJAL AKUT ” dengan baik.
Penyusunan Askep ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan
anak Adapun askep ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu harapan kami
kepada pihak pembaca terutama kepada Dosen pengampuh mata kuliah untuk
memberikan masukan berupa kritikan, saran dan komentar yang dapat membangun dan
mengembangkan wawasan kami, agar dalam penulisan makalah selanjutnya lebih baik
lagi. Atas perhatian kami ucapkan terima kasih.
Penulis
DAFTAR ISI
A. Definisi ....................................................................................................................
B. Etiologi ....................................................................................................................
C. Klasifikasi ................................................................................................................
D. Manifestasi klinis .....................................................................................................
E. Patofisiologi .............................................................................................................
F. Pathway ....................................................................................................................
G. Penatalaksanaan .......................................................................................................
H. Komplikasi ...............................................................................................................
A. Pengkajian ................................................................................................................
B. Diagnosa Keperawatan ............................................................................................
C. Intervensi Keperawatan ...........................................................................................
D. Implementasi ............................................................................................................
E. Evaluasi ....................................................................................................................
A. Kesimpulan ..............................................................................................................
B. Saran ........................................................................................................................
C. DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
gagal ginjal akut di indonesia sekitar 0,2%. Prevelensi kelompok umur 75 tahun
dengan 0,6% lebih tinggi dari kelompok umur lainnya. Di indonesia kebanyakan
pasien yang melewati gagal ginjal akut dapat sembuh dengan fungsi ginjal
semula dan dapat melanjutkan hidup seperti biasanya. Namun 50% kasus
memiliki gangguan fungsi ginjal sublinis atau dapat ditemukan bekas luka
residual pada biopsi ginjal.
B. Rumusan masalah
1. Pengertian gagal ginjala akut
2. Etiologi
3. Maniefestasi klinis
4. Penatalaksanaan
5. Keperawatan dan non formakologis
6. Pengakajian
7. Itervensi
8. Implementasi
9. Evaluasi
C. Tujuan Penelitian
TINJAUN PUSTAKA
Gagal ginjal akut/ Acute Renal Failure adalah suatu keadaan penurunan fungsi
ginjal secara mendadak akibat kegagalan sirkulasi renal, serta gangguan
fungsi tubulus dan glomerulus dengan manifestasi penurunan produksi urine dan
terjadi azotemia (peningkatan kadar nitrogen darah, peningkatan kreatinin serum
dan retensi produk metabolit yang harus diekresikan oleh ginjal. (salemba
medika, asuhan keperawatan sistem perkemihan arif muttaqin : kumala sari ;
2018)
Gagal ginjal akut yaitu penyimpangan progresif, ginjal yang tidak dapat pulih
dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan metabolik,
cairan dan elektrolit mengalami kegagalan yang mengakibatkan uremia
(smeltzer. C, Suzanne, 2017)
B. Etiologi
Sampai saat ini para praktisi klinik masih membagi etiologi gagal ginjal akut
dengan 3 kategori meliputi : prarenal, renal, dan pascarenal.
1. Faktor prarenal
Kondisi prarenal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal dan
turunnya laju filtrasi glomerulus. Kondisi klinis meliputi hal-hal sebagai
berikut :
a. Hipovolemik (pendarahan post partum, luka bakar, kehilangan
cairan dari gastrointestinal, pankreatitis, pemakaian diuretik
berlebih)
b. Vasolidatasi (sepsis atau anafilaksis)
2. Faktor renal
Kondisi renal ginjal akut adalah akibat dari kerusakan struktur glomerulus
atau tubulus ginjal . kondisi klinis yang umum adalah sebagai berikut :
a. Trauma langsung pada ginjal dan cidera akibat terbakar
3. Faktor pascarenal
Etiologi pasca renal terutama obtruksi aliran urine pada bagian distal ginjal,
seperti pada kondisi berikut ini :
a. Obtruksi muara vesika urianaria : hipertrofi prosta
[Link] Klinis
1. Peningkatan kreatinin.
Pada pasien gagal ginjal akut terjadi peningkatan kretinin serum dalam 48
jam, baik yang diketahui maupun di asumsikan teradi dalam 7 hari atau
volume cairan < 0,5 ml/jam selama 6 jam (KDIGO, 2012).
2. Anemia
0 0
Gagal ginjal akut dapat menyebabkan kekurangan sel darah merah
Kondisi ketika kadar kalium dalam aliran darah tinggi, asidosis metabolik
yaitu gangguan ketika sttus asam-basa bergeser ke sisi asam akibat hilangnya
basa atau retesi asam nonkarbonat dalam tubuh, asidosis merupakan kondisi
dimana terjadi akumulasi asam dan ion hidrogen dalam darah dan jaringan
tubuh sehingga menurunkan pH.
4. Edema
Hal yang sering terjadi pada pasien AKI, CKD karena meningkatnya volume
cairan di luar sel (ekstraseluler) dan di luar pembuluh darah (ekstravaskuler)
disertai dengan penimbunan di jaringan serosa.
5. Anoreksia, nause, vomitus
0 0
atau hanya terbatas di satu lengan, tungkai, tangan, atau jari tangan.
8. Perubahan pola berkemih ( oligouri / poliuri )
demam ( dehidrasi )
0 0
2.4 Pathway Intertilitas
0 0
0 0
D. Patofisiologi GGA (Al-Haija, 2017)
4. Disfungsi vasomotor
9. Disfungsi vasomotor
0 0
menjalankan fungsinya. Sebaliknya pada gagal ginjal akut, perbandingan
antara distribusi korteks dan medulla menjadi terbalik sehingga terjadi
iskemia relatif pada korteks ginjal. Kontriksi dari arterior aferen
merupakan dasar penurunan laju filtrasi glomerulus. Iskemia ginjal
akan mengaktivasi sistem reninangiotensin dan memperberat iskemia
korteks luar ginjal setelah hilangnya rangsangan awal. Pada disfungsi
vasomotor, prostaglandin dianggap bertanggung jawab terjadinya GGA (
gagal ginjal akut ), dimana dalam keadaan normal, hipoksia merangsang
ginjal untuk melakukan vasodilator sehingga aliran darah ginjal
direstribusikan ke kortek yang mengakibatkan diuresis. Ada
kemungkinan iskemia akut yang berat atau berkepanjangan dapat
menghambat ginjal untuk menintesi prostaglandin.
F. Penatalaksanaan medic
1. Penanganan hyperkalemia
0 0
digunakan sebagai dasar untuk terapi pengganti cairan.
G. Komplikasi
0 0
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengumpulan Data
Biodata identitas klien dan penanggung jawab
1. Identitas Klien
Dikaji nama, jenis kelamin, agama, alamat, suku bangsa, pekerjaan dan lain-lain.
2. Identitas penanggung jawab
Dikaji nama, alamat, pekerjaan dan hubungan dengan klien.
3. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
(Menjelaskan keluhan yang paling dirasakan oleh klien saat ini)
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
(Menjelaskan uraian kronologis sakit klien sekarang sampai klien dibawa ke
RS, ditambah dengan keluhan klien saat ini yang diuraikan dalam konsep
PQRST)
1) P : Palitatif /Provokatif
(Apakah yang menyebabkan gejala, apa yang dapat memperberat dan
menguranginya)
2) Q : Qualitatif /Quantitatif
(Bagaimana gejala dirasakan, nampak atau terdengar, sejauhmana
merasakannya sekarang)
3) R : Region
(Dimana gejala terasa, apakah menyebar)
4) S : Skala
(Seberapakah keparahan dirasakan dengan skala 1 s/d 10)
5) T : Time
(Kapan gejala mulai timbul, berapa sering gejala terasa, apakah tiba-tiba
atau bertahap)
0 0
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
(Mengidentifikasi riwayat kesehatan yang memiliki hubungan dengan atau
memperberat keadaan penyakit yang sedang diderita klien saat ini. Termasuk
faktor predisposisi penyakit dan ada waktu proses sembuh)
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
(Mengidentifikasi apakah di keluarga klien ada riwayat penyakit turunan atau
riwayat penyakit menular)
e. Pola Aktivitas Sehari-hari
(Membandingkan pola aktifitas keseharian klien antara sebelum sakit dan saat
sakit, untuk mengidentifikasi apakah ada perubahan pola pemenuhan atau
tidak)
4. Pemeriksaan Fisik
(Fokus pada struktur dan perubahan fungsi yang terjadi dengan tehnik
pemeriksaan yang digunakan Head to Toe yang diawali dengan observasi
keadaan umum klien. Dan menggunakan pedoman 4 langkah yaitu Inspeksi,
Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
5. Data Psikologis
(Berisi tentang status emosi klien, kecemasan, pola koping, gaya komunikasi,
dan konsep diri)
6. Data Sosial
(Berisi hubungan dan pola interaksi klien dalam keluarga dan masyarakat)
7. Data Spiritual
(Mengidentifikasi tentang keyakinan hidup, optimisme terhadap kesembuhan
penyakit, gangguan dalam melaksanakan ibadah)
8. Data Penunjang
(Berisi tentang semua prosedur diagnostik dan laporan laboratorium yang
dijalani klien, dituliskan hasil pemeriksaan dan nilai normal, dituliskan hanya 3
kali pemeriksaan terakhir secara berturut-turut. Bila hasilnya fluktuatif, buat
keterangan secara naratif)
9. Program dan Rencana Pengobatan
(Berisi tentang program pengobatan yang sedang dijalani dan yang akan dijalani
oleh klien)
0 0
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri Akut b.d Agen Pencedera Fisik (pada bagian perut yang bengkak terasa nyeri)
( D.0077 )
2. Inkontinensia urin berlebih b.d Kerusakan atau ketidakadekuatan jalur afaren ( D.0043)
[Link] KEPERAWATAN
0 0
keyakinan tentang
nyeri
- Identifikasi
pengaru budaya
terhadap respon
nyeri
- Identifikasi
pengaruh nyeri
pada kualitas
hidup
- Monitor
kerberhasilan
komplementer
yang sudah
diberikan
- Monitor
penggunaan efek
samping analgetik
Terapeutik
- Berikan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
- Control lingkungn
yang memperberat
rasa nyeri
- Fasilitas istirahat
dan tidur
- Pertimbangkan
jenis dan sumber
0 0
nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
- Jelaskan periode
dan penyebab
pemicu nyeri
- Jelaskan stragi
meredakan nyeri
- Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
- Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepatajarkan teknik
nofarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi
- Kolaborasi
pemberian
analgetik jika perlu
2. Inkontinensia urin berlebih Setelah di lakukan Katerisasi urin
0 0
dengan kriteria hasil:
perineal, distensi
1. Distensikandung
kandung kemih,
kemih menurun(
inkontinensia
5)
urine, refleks
2. Residu volume
berkemih)
urin setelah
berkemih
Terapeutik
menurun (5)
- Siapakan
3. Hesitancy
peralatan, bahan
menurun ( 5)
bahan dan ruangan
4. Enuresis
tindkan
menurun ( 5 )
- Siapka
pasien :bebaskan
pakian bahwa dan
posisikan dorsal
rekumben ( untuk
wanita ) dan
supine untuk ( laki
– laki )
- Pasang sarung
tangan
- bersihkan daerah
perineal atau
preposium dengan
cairain NaCl atau
aquades
- Lakukan insersi
kateter urine
dengan
menerapkan
0 0
prinsip aseptic
- Sambungkan
kateter urine
dengan
urine bag
- Anjurkan menaik
napas saat insersi
selang kateter
0 0
Ketidakmampuan menelan selama 1x24jam Observasi
Terapeutik
- Lakukan oral
hygiene sebelum
makan , jik perlu
- Fasilitas
menentukan
pedoman diet
0 0
- Sajikan makanan
secara menarik
dan suhu yang
sesuai
- Berikan makanan
tinggi serat untuk
mencegah
konstipasi
- Berikan makanan
tinggi kalori dan
tinggi protein
- Berikan suplemen
makanan, jika
perlu
- Hentikan
pemberian
makanan melalui
selang nasogastric
jika asupan oral
dapat ditoleransi
Edukasi
- Anjurkan posisi
duduk , jika
mampu
- Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
- Kolaborasi
pemberian
0 0
medikasi sebelum
makan
- Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan
jumlah kalori dan
jenis nutrient yang
dibutuhkan , jika
perlu
E. IMPLEMENTASI
Implementasi yang dilakukan berdasarkan perencanaan sebelumnya, semua yang telah
direncanakan harus dilakukandiimplmentasi .Setelah dilakukan tindakan tersebut jangan
lupa melihat respon pasien baik dari data subyektif maupun data objektif.
F. EVALUASI
Tindakan semua telah dilakukan dan melihat respon atau kondisi pasien secara umum
atau biasa disebut evaluasi. Apabila masalah hanya teratasi sebagian, intervensi bisa
dilanjutkan atau dimodifikasi. Apabila masalah sudah teratasi, intervensi dipertahankan
atau dihentikan.
0 0
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Gagal ginjal akut/ Acute Renal Failure adalah suatu keadaan penurunan fungsi ginjal
secara mendadak akibat kegagalan sirkulasi renal, serta gangguan fungsi tubulus dan
glomerulus dengan manifestasi penurunan produksi urine dan terjadi azotemia
(peningkatan kadar nitrogen darah, peningkatan kreatinin serum dan retensi produk
metabolit yang harus diekresikan oleh ginjal.
Hiperkalemi, asidosis metabolic Kondisi ketika kadar kalium dalam aliran darah
tinggi, asidosis metabolik yaitu gangguan ketika sttus asam-basa bergeser ke sisi asam
akibat hilangnya basa atau retesi asam nonkarbonat dalam tubuh, asidosis merupakan
kondisi dimana terjadi akumulasi asam dan ion hidrogen dalam darah dan jaringan
tubuh sehingga menurunkan pH.
0 0
DAFTAR PUSTAKA
0 0