0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan26 halaman

Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Akut

Dokumen ini membahas tentang asuhan keperawatan gagal ginjal akut. Dokumen ini menjelaskan pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, penatalaksanaan, dan komplikasi gagal ginjal akut.

Diunggah oleh

Sonya Otemusu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan26 halaman

Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Akut

Dokumen ini membahas tentang asuhan keperawatan gagal ginjal akut. Dokumen ini menjelaskan pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, penatalaksanaan, dan komplikasi gagal ginjal akut.

Diunggah oleh

Sonya Otemusu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN

GAGAL GINJAL AKUT

OLEH

NAMA

1. SANIA BETE DHO


2. SONYA J. OTEMUSU
3. NIMAI F.X NORONHA
4. SULASTRI SYAMSUDIN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MARANATHA

KUPANG

2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan askep ini yang berjudul “GAGAL
GINJAL AKUT ” dengan baik.

Penyusunan Askep ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan
anak Adapun askep ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu harapan kami
kepada pihak pembaca terutama kepada Dosen pengampuh mata kuliah untuk
memberikan masukan berupa kritikan, saran dan komentar yang dapat membangun dan
mengembangkan wawasan kami, agar dalam penulisan makalah selanjutnya lebih baik
lagi. Atas perhatian kami ucapkan terima kasih.

Kupang, 10 oktober 2023

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................................

Daftar Isi ..............................................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................................

Latar belakang ...............................................................................................................


Rumusan Masalah ..........................................................................................................
Tujuan ............................................................................................................................
Manfaat ..........................................................................................................................

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................................

A. Definisi ....................................................................................................................
B. Etiologi ....................................................................................................................
C. Klasifikasi ................................................................................................................
D. Manifestasi klinis .....................................................................................................
E. Patofisiologi .............................................................................................................
F. Pathway ....................................................................................................................
G. Penatalaksanaan .......................................................................................................
H. Komplikasi ...............................................................................................................

BAB 3 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................

A. Pengkajian ................................................................................................................
B. Diagnosa Keperawatan ............................................................................................
C. Intervensi Keperawatan ...........................................................................................
D. Implementasi ............................................................................................................
E. Evaluasi ....................................................................................................................

BAB 4 PENUTUP ...............................................................................................................

A. Kesimpulan ..............................................................................................................
B. Saran ........................................................................................................................
C. DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Organisasi kesehatan dunia, world health organization ( WHO )


secara global lebih dari 500 juta orang mengalami gagal ginjal akut (ratnawati,
2018). Prevelensi menurut WHO memperkirakan bahwa prevelensi gagal
ginjal akut lebih dari 356. Angka kejadian pada tahun 2010-2011.
Gagal ginjal akut secara umum adalah suatu keadaan penurunan fungsi
ginjal secara mendadak akibat kegagalan sirkulasi renal, serta gangguan
fungsi tubulus dan glomerulus dengan manifestasi penurunan produksi urine dan
terjadi azotemia (peningkatan kadar nitrogen darah, peningkatan kreatinin
serum, dan retensi produk metabolik ang harus di ekresikan pada ginjal)
Berdasarkan data dari riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013 prevelensi

gagal ginjal akut di indonesia sekitar 0,2%. Prevelensi kelompok umur 75 tahun
dengan 0,6% lebih tinggi dari kelompok umur lainnya. Di indonesia kebanyakan
pasien yang melewati gagal ginjal akut dapat sembuh dengan fungsi ginjal
semula dan dapat melanjutkan hidup seperti biasanya. Namun 50% kasus
memiliki gangguan fungsi ginjal sublinis atau dapat ditemukan bekas luka
residual pada biopsi ginjal.
B. Rumusan masalah
1. Pengertian gagal ginjala akut
2. Etiologi
3. Maniefestasi klinis
4. Penatalaksanaan
5. Keperawatan dan non formakologis
6. Pengakajian
7. Itervensi
8. Implementasi
9. Evaluasi
C. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan apa itu gagal ginjal akut

2. Menjelaskan etiologi gagal ginjal akut

3. Menjelaskan manifestasi klinis gagal ginjal akut

4. Menjelaskan pathway gagal ginjal akut

5. Menjelaskan patofisiologi gagal ginjal akut

6. Menjelaskan penatalaksanaan medis gagal ginjal akut


7. Menjelaskan komplikasi gagal ginjal akut
D. Manfaat

Untuk mengetahui gambaran tentang Asuhan Keperawatan Klien Dengan


ACUTE RENAL FAILURE (Gagal Ginjal Akut)
BAB II

TINJAUN PUSTAKA

A. PENGERTIAN ACUTE RENALl FAILURE

Gagal ginjal akut/ Acute Renal Failure adalah suatu keadaan penurunan fungsi
ginjal secara mendadak akibat kegagalan sirkulasi renal, serta gangguan
fungsi tubulus dan glomerulus dengan manifestasi penurunan produksi urine dan
terjadi azotemia (peningkatan kadar nitrogen darah, peningkatan kreatinin serum
dan retensi produk metabolit yang harus diekresikan oleh ginjal. (salemba
medika, asuhan keperawatan sistem perkemihan arif muttaqin : kumala sari ;
2018)
Gagal ginjal akut yaitu penyimpangan progresif, ginjal yang tidak dapat pulih
dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan metabolik,
cairan dan elektrolit mengalami kegagalan yang mengakibatkan uremia
(smeltzer. C, Suzanne, 2017)

B. Etiologi
Sampai saat ini para praktisi klinik masih membagi etiologi gagal ginjal akut
dengan 3 kategori meliputi : prarenal, renal, dan pascarenal.

1. Faktor prarenal

Kondisi prarenal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal dan
turunnya laju filtrasi glomerulus. Kondisi klinis meliputi hal-hal sebagai
berikut :
a. Hipovolemik (pendarahan post partum, luka bakar, kehilangan
cairan dari gastrointestinal, pankreatitis, pemakaian diuretik
berlebih)
b. Vasolidatasi (sepsis atau anafilaksis)

c. Penurunan curah jantung (disritmia, infark miokardium, gagal


jantung kongestif, syok kardiogenik, emboli paru)
d. Obtruksi pembuluh darah ginjal bilateral (emboli, trombosis)

2. Faktor renal
Kondisi renal ginjal akut adalah akibat dari kerusakan struktur glomerulus
atau tubulus ginjal . kondisi klinis yang umum adalah sebagai berikut :
a. Trauma langsung pada ginjal dan cidera akibat terbakar

b. Iskemia (pemakaian NSAID, kondisi syok pascabedah)

c. Reaksi tranfusi (DIC akibat tranfusi tidak cocok)

d. Penyakit glumerovaskular ginjal : glumerulonefritis, hipertensi maligna

3. Faktor pascarenal

Etiologi pasca renal terutama obtruksi aliran urine pada bagian distal ginjal,
seperti pada kondisi berikut ini :
a. Obtruksi muara vesika urianaria : hipertrofi prosta

b. Obtruksi ureter bilateral oleh obsruksi batu saluran kemih, bekuan


darah atau sumbatan dari tumor.
Sistem klasifikasi yang telah di tetapkan menederhanakan mekanisme
yang patlogis yang mendasari terjadinya AKI. Hipoferfusi jaringan parenkim
pada ginjal akibat hipovolemia atau hipotensi awalnya menyebabkan
peningkatan secara reversibel. Oleh karena disfungsi sel secara terus
menerus, sel tubulus ginjal mengalami cidera iskemik yang dapat bertahan
setelah koreksi awal hipoferfusi (Rachion et al, 2012)

[Link] Klinis

1. Peningkatan kreatinin.

Pada pasien gagal ginjal akut terjadi peningkatan kretinin serum dalam 48
jam, baik yang diketahui maupun di asumsikan teradi dalam 7 hari atau
volume cairan < 0,5 ml/jam selama 6 jam (KDIGO, 2012).
2. Anemia

0 0
Gagal ginjal akut dapat menyebabkan kekurangan sel darah merah

3. Hiperkalemi, asidosis metabolic

Kondisi ketika kadar kalium dalam aliran darah tinggi, asidosis metabolik
yaitu gangguan ketika sttus asam-basa bergeser ke sisi asam akibat hilangnya
basa atau retesi asam nonkarbonat dalam tubuh, asidosis merupakan kondisi
dimana terjadi akumulasi asam dan ion hidrogen dalam darah dan jaringan
tubuh sehingga menurunkan pH.
4. Edema

Hal yang sering terjadi pada pasien AKI, CKD karena meningkatnya volume
cairan di luar sel (ekstraseluler) dan di luar pembuluh darah (ekstravaskuler)
disertai dengan penimbunan di jaringan serosa.
5. Anoreksia, nause, vomitus

a. Anoreksia adalah sebuah gangguan makanan yang di tandai dengan


penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut ang
berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang
menyimpang.
b. Nausea adalah mual, perasaan ingin muntah atau rasa tidak nyaman di
lambung yang dapat mengakibatkan keinginan untuk segera memuntahkan.
c. Vomitus adalah muntah, mengeluarkan isi lambung ( gastric ) melalui mulut
saluran cerna bagian napas atau keluarnya isi lambung sampai ke mulut
dengan paksa atau dengan kekuatan.
6. Turgor kulit jelek gatal-gatal pada kulit

Berasal dari dehidrasi atau penurunan volume, yang menggerakkan cairan


interstitial ke tempat vaskular untuk mempertahankan volume darah
sirkulasi, menebabkan kekenduran pada lapisan dermal kulit.
7. Kelemahan otot

Kelemahan otot merupakan masalah yang sering terjadi,tetap sering kali


memberikan arti yang berbeda kepada setiap penderitanya. Beberapa
penderita hanya merasakan lelah. Kelemahan bisa terjadi di seluruh tubuh,

0 0
atau hanya terbatas di satu lengan, tungkai, tangan, atau jari tangan.
8. Perubahan pola berkemih ( oligouri / poliuri )

Produksi urine melebihi normal, tanpa peningkatan intake cairan

9. Perubahan suhu tubuh

demam ( dehidrasi )

10. Nafas bau amoniak

0 0
2.4 Pathway Intertilitas

0 0
0 0
D. Patofisiologi GGA (Al-Haija, 2017)

Menurut price, (2018) ada beberapa kondisi yang menjadi faktor


predisposisi yang dapat menyebabkan pengurangan aliran darah renal
dan gangguan fungsi ginjal, yaitu sebagai berikut :
1. Obtruksi tubulus

2. Kebocoran cairan tubulus

3. Penurunan permeabilitas glomerulus

4. Disfungsi vasomotor

5. Glomerulus feed back


6. Obtruksi tubulus

7. Kebocoran cairan tubulus

8. Penurunan permeabilitas glomerulus

9. Disfungsi vasomotor

10. Glomerulus feed back

Teori obtruksi glomerulus menyatakan bahwa NTA ( necrosis


tubular acute ) menyebabkan deskuamasi sel-sel tubulus yang nekrotik
dan materi protein lainnya, yang kemudian membentuk silinder-silinder
dan menumbat lumen tubulus. Pembengkakan selular akibat iskemia
awal, juga ikut menyokong terjadinya obtruksi dan memperberat
iskemia. Tekanan tubulus meningkat sehingga tekanan filtrasi
glomerulus menurun. Hipotesis kebocoran tubulus menyatakan bahwa
filtrasi glomerulus terus berlangsung normal keluar melalui sel-sel
tubulus yang rusak dan masuk dalam sirkulasi peritubular. Kerusakan
membran basalis dapat terlihat NTA yang berat. Pada ginjal normal,
90% aliran darah didistribusikan ke korteks (tempat dimana terdapat
glomerulus) dan 10% pada medulla.
Dengan demikian, ginjal dapat memekatkan urine dan

0 0
menjalankan fungsinya. Sebaliknya pada gagal ginjal akut, perbandingan
antara distribusi korteks dan medulla menjadi terbalik sehingga terjadi
iskemia relatif pada korteks ginjal. Kontriksi dari arterior aferen
merupakan dasar penurunan laju filtrasi glomerulus. Iskemia ginjal
akan mengaktivasi sistem reninangiotensin dan memperberat iskemia
korteks luar ginjal setelah hilangnya rangsangan awal. Pada disfungsi
vasomotor, prostaglandin dianggap bertanggung jawab terjadinya GGA (
gagal ginjal akut ), dimana dalam keadaan normal, hipoksia merangsang
ginjal untuk melakukan vasodilator sehingga aliran darah ginjal
direstribusikan ke kortek yang mengakibatkan diuresis. Ada
kemungkinan iskemia akut yang berat atau berkepanjangan dapat
menghambat ginjal untuk menintesi prostaglandin.

F. Penatalaksanaan medic

1. Penanganan hyperkalemia

Keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan masalah utama


pada gagal ginjal akut ; hiperkalemia merupakan kondisi yang
paling mengancam jiwa pada gangguan ini. Oleh karena itu pasien
dipantau akan adanya hiperkalemia melalui serangkaian pemeriksaan
kadar elektrolit serum ( nilai kalium > 5.5 mEq/L ;SI:5.5mmol/L),
perubahan EKG (tinggi puncak gelombang T rendah atau sangat
tinggi), dan perubahan status klinis. Pningkatan kadar kalium dapat
dikurangi dengan pemberian ion pengganti resin (Natrium polistriren
sulfonat, secara oral atau melalui retensi enema
2. Mempertahankan keseimbangan cairan

Penatalaksanaan keseimbanagan cairan didasarkan pada berat badan


harian, pengukuran tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan
serum, cairan yang hilang, tekanan darah dan status klinis
pasien. Masukkan dan haluaran oral dan parentral dari urine,
drainase lambung, feses, drainase luka dan perspirasi dihitung dan

0 0
digunakan sebagai dasar untuk terapi pengganti cairan.

G. Komplikasi

Komplikasi metabolik berupa kelebihan cairan, hiperkalemia,


asidosis metabolik, hipokalasemia, serta peningkatan ureum yang lebih
cepat pada keadaan hiperkatabolik. Pada oliguria dapat timbul edema
kaki, hipertensi dan edema paru, yang dapat menimbulkan keadaan
gawat.

0 0
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengumpulan Data
Biodata identitas klien dan penanggung jawab
1. Identitas Klien
Dikaji nama, jenis kelamin, agama, alamat, suku bangsa, pekerjaan dan lain-lain.
2. Identitas penanggung jawab
Dikaji nama, alamat, pekerjaan dan hubungan dengan klien.
3. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
(Menjelaskan keluhan yang paling dirasakan oleh klien saat ini)
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
(Menjelaskan uraian kronologis sakit klien sekarang sampai klien dibawa ke
RS, ditambah dengan keluhan klien saat ini yang diuraikan dalam konsep
PQRST)
1) P : Palitatif /Provokatif
(Apakah yang menyebabkan gejala, apa yang dapat memperberat dan
menguranginya)
2) Q : Qualitatif /Quantitatif
(Bagaimana gejala dirasakan, nampak atau terdengar, sejauhmana
merasakannya sekarang)
3) R : Region
(Dimana gejala terasa, apakah menyebar)
4) S : Skala
(Seberapakah keparahan dirasakan dengan skala 1 s/d 10)
5) T : Time
(Kapan gejala mulai timbul, berapa sering gejala terasa, apakah tiba-tiba
atau bertahap)

0 0
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
(Mengidentifikasi riwayat kesehatan yang memiliki hubungan dengan atau
memperberat keadaan penyakit yang sedang diderita klien saat ini. Termasuk
faktor predisposisi penyakit dan ada waktu proses sembuh)
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
(Mengidentifikasi apakah di keluarga klien ada riwayat penyakit turunan atau
riwayat penyakit menular)
e. Pola Aktivitas Sehari-hari
(Membandingkan pola aktifitas keseharian klien antara sebelum sakit dan saat
sakit, untuk mengidentifikasi apakah ada perubahan pola pemenuhan atau
tidak)
4. Pemeriksaan Fisik
(Fokus pada struktur dan perubahan fungsi yang terjadi dengan tehnik
pemeriksaan yang digunakan Head to Toe yang diawali dengan observasi
keadaan umum klien. Dan menggunakan pedoman 4 langkah yaitu Inspeksi,
Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
5. Data Psikologis
(Berisi tentang status emosi klien, kecemasan, pola koping, gaya komunikasi,
dan konsep diri)
6. Data Sosial
(Berisi hubungan dan pola interaksi klien dalam keluarga dan masyarakat)
7. Data Spiritual
(Mengidentifikasi tentang keyakinan hidup, optimisme terhadap kesembuhan
penyakit, gangguan dalam melaksanakan ibadah)
8. Data Penunjang
(Berisi tentang semua prosedur diagnostik dan laporan laboratorium yang
dijalani klien, dituliskan hasil pemeriksaan dan nilai normal, dituliskan hanya 3
kali pemeriksaan terakhir secara berturut-turut. Bila hasilnya fluktuatif, buat
keterangan secara naratif)
9. Program dan Rencana Pengobatan
(Berisi tentang program pengobatan yang sedang dijalani dan yang akan dijalani
oleh klien)

0 0
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri Akut b.d Agen Pencedera Fisik (pada bagian perut yang bengkak terasa nyeri)
( D.0077 )

2. Inkontinensia urin berlebih b.d Kerusakan atau ketidakadekuatan jalur afaren ( D.0043)

3. Difisit nutrisi b.d Ketidakmampuan menelan makanan ( D.0019)

[Link] KEPERAWATAN

NO SDKI SIKI SLKI


1. Setelah di lakukan Manajemen nyeri
Nyeri Akut b.d Agen
intervensi keperawatan
Pencedera Fisik (pada bagian
selama 2x24jam Observasi
perut yang bengkak terasa
dharapakan tingkat nyeri - Identifikasi lokasi,
nyeri)
membaik dengan kriteria karakteristik,
( D.OO77 )
hasil: durasi, frekuensi,
1. Keluhan nyeri kualitas, intensitas
menurun (5) nyeri
2. Meringis
- Identifikasi skala
menurun( 5)
nyeri
3. Gelisah menurun( - Identifikasi respon
5) nyeri non verbal
- Identifikasi factor
4. Skala nyeri
yang memperberat
menurun ( 5)
dan memperingan
5. Tekanadarah
nyeri
membaik 5
- Identifikasi
pengetahuan dan

0 0
keyakinan tentang
nyeri
- Identifikasi
pengaru budaya
terhadap respon
nyeri
- Identifikasi
pengaruh nyeri
pada kualitas
hidup
- Monitor
kerberhasilan
komplementer
yang sudah
diberikan
- Monitor
penggunaan efek
samping analgetik

Terapeutik
- Berikan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
- Control lingkungn
yang memperberat
rasa nyeri
- Fasilitas istirahat
dan tidur
- Pertimbangkan
jenis dan sumber

0 0
nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri

Edukasi
- Jelaskan periode
dan penyebab
pemicu nyeri
- Jelaskan stragi
meredakan nyeri
- Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
- Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepatajarkan teknik
nofarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri

Kolaborasi
- Kolaborasi
pemberian
analgetik jika perlu
2. Inkontinensia urin berlebih Setelah di lakukan Katerisasi urin

b.d Kerusakan atau intervensi keperawatan Observasi

ketidakadekuatan jalur afaren selama 1x24jam


- Periksa kondisi
( D.0043 ) dharapakan kemampuan
pasien (mis.
untuk mengontrol buang
Kesadaran, tanda-
air kecil membaik
tand vital, daerah

0 0
dengan kriteria hasil:
perineal, distensi
1. Distensikandung
kandung kemih,
kemih menurun(
inkontinensia
5)
urine, refleks
2. Residu volume
berkemih)
urin setelah
berkemih
Terapeutik
menurun (5)
- Siapakan
3. Hesitancy
peralatan, bahan
menurun ( 5)
bahan dan ruangan
4. Enuresis
tindkan
menurun ( 5 )
- Siapka
pasien :bebaskan
pakian bahwa dan
posisikan dorsal
rekumben ( untuk
wanita ) dan
supine untuk ( laki
– laki )
- Pasang sarung
tangan
- bersihkan daerah
perineal atau
preposium dengan
cairain NaCl atau
aquades
- Lakukan insersi
kateter urine
dengan
menerapkan

0 0
prinsip aseptic
- Sambungkan
kateter urine
dengan

urine bag

- Isi balon dengan


NaCl 0,9% sesuai
anjuran pabrik
- Fiksasi selang
kateter diatas
simpisis atau di
paha
- Pastikan kantung
urine ditempatkan

lebih rendah dari


kantung kemih
- Berikan lebel
waktu
pemasangan
Edukasi
- Jelaskan tujuan dan
prosedur
pemasangan
kateter urine

- Anjurkan menaik
napas saat insersi
selang kateter

3. Difisit nutrisi b.d Setelah di lakukan Manajemen nutrisi


intervensi keperawatan

0 0
Ketidakmampuan menelan selama 1x24jam Observasi

makanan dharapakan nutrisi klien - Identifikasi status

( D.0019 ) membaik dengan kriteria nutrisi


hasil: - Identifikasi alergi
1. Porsi makan yang dan intoleransi
dihabiskan makanan
meningkat (5)
- Identifikasi
2. Kekuatan otot
makanan yang
menelan meningkat disukai
(5)
- Identifikasi
3. Berat badan kebutuhan kalori
meningkat ( 5) dan jenis nutrien
- Identifikasi
4. Indeks Masa Tubuh
perlunya
(IMT) membaik
penggunaan selang
(5)
nasogastric
5. Nafsu makan
- Monitor asupan
membaik (5)
makanan
- Monitor berat
badan
- Monitor hasil
laboratorium

Terapeutik
- Lakukan oral
hygiene sebelum
makan , jik perlu
- Fasilitas
menentukan
pedoman diet

0 0
- Sajikan makanan
secara menarik
dan suhu yang
sesuai
- Berikan makanan
tinggi serat untuk
mencegah
konstipasi
- Berikan makanan
tinggi kalori dan
tinggi protein
- Berikan suplemen
makanan, jika
perlu
- Hentikan
pemberian
makanan melalui
selang nasogastric
jika asupan oral
dapat ditoleransi

Edukasi
- Anjurkan posisi
duduk , jika
mampu
- Ajarkan diet yang
diprogramkan

Kolaborasi
- Kolaborasi
pemberian

0 0
medikasi sebelum
makan
- Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan
jumlah kalori dan
jenis nutrient yang
dibutuhkan , jika
perlu

E. IMPLEMENTASI
Implementasi yang dilakukan berdasarkan perencanaan sebelumnya, semua yang telah
direncanakan harus dilakukandiimplmentasi .Setelah dilakukan tindakan tersebut jangan
lupa melihat respon pasien baik dari data subyektif maupun data objektif.

F. EVALUASI

Tindakan semua telah dilakukan dan melihat respon atau kondisi pasien secara umum
atau biasa disebut evaluasi. Apabila masalah hanya teratasi sebagian, intervensi bisa
dilanjutkan atau dimodifikasi. Apabila masalah sudah teratasi, intervensi dipertahankan
atau dihentikan.

0 0
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Gagal ginjal akut/ Acute Renal Failure adalah suatu keadaan penurunan fungsi ginjal
secara mendadak akibat kegagalan sirkulasi renal, serta gangguan fungsi tubulus dan
glomerulus dengan manifestasi penurunan produksi urine dan terjadi azotemia
(peningkatan kadar nitrogen darah, peningkatan kreatinin serum dan retensi produk
metabolit yang harus diekresikan oleh ginjal.
Hiperkalemi, asidosis metabolic Kondisi ketika kadar kalium dalam aliran darah
tinggi, asidosis metabolik yaitu gangguan ketika sttus asam-basa bergeser ke sisi asam
akibat hilangnya basa atau retesi asam nonkarbonat dalam tubuh, asidosis merupakan
kondisi dimana terjadi akumulasi asam dan ion hidrogen dalam darah dan jaringan
tubuh sehingga menurunkan pH.

0 0
DAFTAR PUSTAKA

0 0

Anda mungkin juga menyukai