0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
78 tayangan16 halaman

Subtes WISC-R untuk Penilaian IQ Anak

WISC-R Subtests memberikan penjelasan tentang 5 subtes penting dalam tes tersebut, yaitu: Information, Similarities, Arithmetic, Vocabulary, dan Comprehension. Subtes-subtes tersebut mengukur berbagai aspek kemampuan kognitif seperti pengetahuan umum, kemampuan berkonsep, penalaran angka, kosa kata, dan pemahaman. Analisis kualitatif dari respon anak dapat mengungkapkan latar belakang sosial dan budaya, proses berpikir

Diunggah oleh

Muthia Annisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
78 tayangan16 halaman

Subtes WISC-R untuk Penilaian IQ Anak

WISC-R Subtests memberikan penjelasan tentang 5 subtes penting dalam tes tersebut, yaitu: Information, Similarities, Arithmetic, Vocabulary, dan Comprehension. Subtes-subtes tersebut mengukur berbagai aspek kemampuan kognitif seperti pengetahuan umum, kemampuan berkonsep, penalaran angka, kosa kata, dan pemahaman. Analisis kualitatif dari respon anak dapat mengungkapkan latar belakang sosial dan budaya, proses berpikir

Diunggah oleh

Muthia Annisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

WISC-R Subtests

1. Information:
 30 pertanyaan yang menggambarkan pengetahuan umum, termasuk pertanyaan yang
tentang nama objek, tanggal, sejarah dan geografi, dan pengetahuan umum lainnya.
Umur anak menentukan item yang digunakan untuk tes, anak umur 6-7 dimulai dari
nomor 1, 8-10 tahun item 5, 11-13 tahun item 7 dan 14-16 tahun item 11. Semua item
diberi skor 1 atau 0 (pass-fail) dan subtes dihentikan setelah salah 5 kali berturut-turut.
 Secara umum, subtes information menggambarkan pengetahuan rata-rata anak yang
didapatkan dari lingkungan rumah dan sekolah yang normal. Respon dari anak-anak
menyediakan clue tentang pengetahuan umum, kesadaran lingkungan, latar belakang
sosial-budaya, sikap terhadap sekolah dan tugas-tugas sekolah. Skor yang tinggi tidak
diinterpretasi sebagai indikasi efesiensi mental dan kompetensi. Tapi, dorongan
intelektual dapat berkontribusi untuk mendapat skor lebih tinggi. Keberhasilan dalam
subtes ini membutuhkan memori dari kebiasaan ataupun overlearned responses. Jadi,
subtes ini menyediakan clue tentang kemampuan anak untuk menyimpan dan
mengingat kembali data-data lama.
 Subtes information berkaitan dengan subtest similarities
 Jawaban-jawaban dari anak harus menjadi catatan, apakah anak tersebut memikirkan
pertanyaan atau hanya menebak-nebak? Apakah jawabannya tepat atau panjang lebar?
Jawaban yang sangat panjang atau jawaban dengan embel-embel lain dapat
mengesankan obsessive-compulsive, anak dengan orientasi tersebut terkadang merasa
terpaksa untuk membuktikan seberapa banyak hal yang mereka tau. Respons yang
berlebihan juga dapat merefleksikan bahwa anak berusaha untuk impress tester.
Ketidak mampuan untuk menjawab pertanyaan dapat mengesankan pertanyaan tersebut
berkaitan dengan conflict-laden (misal anak tidak bisa menjawab berapa kaki anjing
karena ada trauma berkaitan dengan anjing)
 Examine pola dari gagal dan berhasil, kegagalan pada item mudah bersamaan dengan
keberhasilan pada yang lebih susah dapat mengesankan jeleknya motivasi, kecemasan,
ketidakefisienan sementara, atau lingkungan yang tidak konsisten. Kemungkinan
lainnya, pola ini dapat mengindikasikan masalah dalam mengingat informasi dari
ingatan jangka panjang. Analisis konten dari item gagal, apakah dari angka, sejarah,
sains atau geografi? Analisis konten dapat menyediakan clue dari minat ataupun sugesti
dari inquiry setelah tes selesai dilakukan.
2. Similarities
 Terdiri dari 17 pasang dari kata, anak-anak harus menjelaskan kesamaan dari 2 item
dalam tiap pasang. Setiap anak dimulai dari item pertama, 4 pertanyaan pertama diskor
1 atau 0, item 5-17 diskor 2, 1 atau 0 tergantung dengan konseptual dari respons. Subtes
ini dihentikan setelah 3 salah berturut-turut.
 Pada subtes similarities mengukur formasi konsep verbal, kemampuan untuk
menempatkan objek dan peristiwa bersamaan dalam grup-grup bermakna. Kemampuan
dari subtes ini berkaitan dengan kesempatan budaya dan pola minat. Memori juga dapat
berkaitan.
 Respons dari subtes similarities dapat menyajikan insight pada logika dari proses
berpikir anak. Apakah jawabannya konkrit, fungsional atau abstrak? Jawaban konkrit
biasanya merujuk pada kualitas dari objek atau stimuli yang dapat dilihat atau
dipegang. Jawaban fungsional biasanya mengenai fungsi dari objek. Sedangkan
jawaban abstrak biasanya mengenai hal-hal lebih universal atau klasifikasi umum dari
objek. 2 poin respons abstrak tidak selalu menggambarkan kemampuan berpikir
abstrak. Bisa jadi secara konvensional overlearned response. Mengobservasi
bagaimana anak menangani frustasi dari pertanyaan subtes. Apakah anak negativistic
dan tidak koperatif atau dia benar-benar tidak dapat melihat kesamaan yang ada?
Respons “itu tidak sama” dapat mengindikasikan negativisme.
3. Arithmetic
 Subtes ini terdiri dari 18 item, 15 itemnya dibacakan secara oral dan 3 item ditampilkan
pada kartu. Anak 6-7 tahun (termasuk anak yang dicurigai memiliki retardasi mental)
dimulai dari item 1, anak 8-10 dari item 5, 11-13 tahun dari item 8, 14-16 tahun dari
iyem 10. Soal-soal diberi waktu, item 1-13 30 detik, item 14 dan 15 45 detik, item 16-
18 75 detik. Item diskor 1 atau 0, kecuali item 2 dan 3 dapat diberikan nilai 1/2 . subtes
berakir jika gagal 3 kali berturut-turut.
 Soal-soal pada subtes aritmarik mengetes berbagai skill, soal 1, 2 dan 3 membutuhkan
perhitungan langsung dari kuantitas konkrit. Soal 4, 6, 7, 8, 9, 11, 12 membutuhkan
penambahan dan pengurangan sederhana, soal 5, 1, 13, 15 pembagian. Soal 10
perkalian, soal 14, 16, 17 dan 18 operasi angka. Jawaban soal 13 dan 15 dapat berasal
dari intuisi dari pengalaman anak-anak.
 Soal-soal pada subtes aritmatik membutuhkan anak untuk mengikuti arahan verbal
kemudian dengan konsentrasi menjadikan operasi angka. Anak-anak harus memiliki
pengetahuan tambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Titik berat dari soal
bukan dari pengetahuan matematika tetapi mental computation dan konsentrasi
konsentrasi terutama penting pada soal-soal yang kompleks.
 Subtes aritmatik mengukur numerical reasoning, hal ini membutuhkan fungsi
nonkognitif (konsentrasi dan perhatian) bersamaan dengan kemampuan kognitif
(pengetahuan dari operasi angka). Keberhasilan dari subtes dipengaruhi oleh
pendidikan, minat, fluktuasi dari perhatian dan reaksi emosional sementara.
Information-processing strategies dan juga kemampuan matematika mendasari
kemampuan aritmatik. Termasyk dengan rehearsal dan mengenali kapan respon yang
sesuai dilakukan. Kemampuan matematika termasuk dalam kemampuan untuk
memahami dan mengintergrasikan informasi verbal yang ditunjukan dalam konteks
matematika dan kemampuan numerik.
 Prosedur testing-of-limits dapat memfasilitasi interpretasi dari hasil tes. Anak-anak
dapat mendapatkan tambahan waktu untuk menjawab. Setiap jawaban benar yang telat
dijawab harus dicatat termasuk dengan kelebihan waktunya. Informasi tersebut dapat
membedakan antara inefesien sementara dan keterbatasan pengetahuan. Keberhasilan
yang telat dapat mengindikasikan inefisien sementara atau problem solving yang
lambat. Untuk menentukan kegagalan anak, menggunakan inquiry setelah tes berakhir.
Kegagalan dapat disebabkan buruknya pengetahuan dari operasi aritmatika, adekuatnya
pengkonsepan masalah, inefisien semetara atau kecemasan, buruknya konsentrasi atau
perhatian. Mengizinkan anak untuk menggunakan kertas dan pensil adalah salah satu
prosedur testing-of-limits yang dapat membedakan pengetahuan aritmatika yang tidak
adekuat atau kesulitan konsentrasi. Jika anak dapat menyelesaikan dengan kertas dan
pensil, kegagalan tidak dihubungkan dengan buruknya pengetahuan aritmatika tetapi
berkaitan dengan kesulitan perhatian atau konstrasi yang menghalangi mental
computation. Jika anak gagal di kedua situasi, kegagalan merefleksikan kesulitan
dengan kemampuan aritmatika, walaupun kesulitan perhatian dan konsentrasi dapat
menyimpulkan kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah aritmatika.
4. Vocabulary
 Vocab terdapat 32 kata-kata yang disusun dalam level tes dari termudah hingga
tersulit. Anak-anak diminta untuk menjelaskan secara verbal dari arti dan setiap
kata. Anak-anak 6-7 tahun, >7 Retardasi mental dimulai dari item 1. Umur 8
sampai 10 tahun dimulai dari item 4. Anak 11 sampai 14 tahun item 6. Kemudian
14-16 tahun item 8. Seluruh item dari skor 2, 1 atau 0. Tes diberhentikan ketika
subjek gagal menjawab 5 soal berturut-turut.
 Subtes vocabulary ini mengukurpembendaharaan kata yang di dalamnya terdapat
beragam faktor yang berkaitan dengan kognisi, termasuk kemampuan belajar,
mengumpulkan informasi, kreatifitas, ingatan, konsep formasi, dan pekembangan
bahasa yang berkaitan dengan pengalaman anak dan lingkungan pendidikan.
Subtes ini menyajikan estimasi yang baik dari kemampuan intelektual. Performa
dari subtes yang stabil dari waktu ke waktu dan sceara relative tidak berpengaruh
terhadap neulological deficit and psychological disturbance. Kemampuan dari
subtes ini berguna untuk mengukur kemampuan mental pada anak secara umum.
 Analisis kualitatif dari respon anak terhadap subtes ini dapat mengungkapkan
tentang latar belakang anak, lingkungan budaya, perkembangan sosial, pengalaman
hidup, respon pada frustasi serta proses berpikir. Anak dengan schizophrenia atau
bentuk lain dari mental disorder, gangguan bahasa, kadang-kadang dapat terlihat
dalam mendefinisikan kata-kata.
 Ketika anak di bawah umur 7 tahun atau anak dengan mental retardasi dapat
menjawab skor 0 atau 1 pada subtes pertama, maka subjek akan diberitau terkait
jawaban yang lebih tepat (dengan poin 2) sehingga hal tersebut dapat mendorong
subjek untuk menjawab dengan lebih baik. Respon-respon sugestif dari suatu
daerah atau bahasa tidak formal (slang) diberikan pertanyaan lanjutan (probing).
 Dalam setiap respon, tester mencatat segala bentuk perilaku (observasi) serta
semua respon yang dijawab oleh testee (verbatim).
5. Comprehension
 Subtes ini terdiri dari 17 pertanyaan yang berkaitan dengan situasi-situasi terkait
pengetahuan tentang tubuh seseorang, relasi interpersonal dan norma sosial.
Seluruh anak memulai subtes dengan item yang pertama, kemudian diberikan skor
2, 1 atau 0. Subtes berakhir ketika subjek gagal menjawab pertanyaan empat kali
berturut-turut.
 Subtes ini berkaitan dengan pemahaman tentang suatu situasi dan menyediakan
jawaban pada masalah-masalah yang spesifik. Keberhasilan pada subtes ini
tergantung dengan informasi praktis dan ditambah dengan kemampuan untuk
menggambarkan pengalaman masa lalu dalam menyelesaikan masalah. Respon
dapat merefleksikan pengetahuan anak-anak tentang standar perilaku, serta melihat
beragam budaya, level dari perkembangan hati nurani, atau moral. Keberhasilan
memberi kesan bahwa anak tersebut memiliki penilaian sosial atau akal sehat dan
memahami kehidupan sosial secara konvensional. Karakteristik tersebut
menyiratkan kemampuan untuk menggunakan fakta-fakta secara tepat, bermakna
dan ketepatan emosional.
 Respon dalam subtes ini dapat menyediakan terkait informasi yang berharga
tentang kekhasan kepribadian anak, nilai-nilai etika dan latar belakang sosial
budaya. Tidak seperti subtes information, subtes ini menuntut jawaban yang lebih
kompleks dan istimewa. Karena pertanyaan-pertanyaan itu mengandung penilaian
dari situasi sosial, jawaban mungkin mencerminkan sikap anak. Jawaban-jawaban
ini mengungkapkan pemahaman dan penerimaan dari adat sosial. Tetapi ada juga
yang mengungkapkan pemahaman yang bukan terkait adat sosial. Anak mungkin
mengetahui jawaban yang benar, tetapi tidak bisa menerapkannya. Beberapa anak
dapat mempertahankan bahwa mereka tidak harus menuruti ketentuan adat. Hal
tersebut tidak berkaitan dengan personal mereka. Inisiatif, self reliance,
kepercayaan diri, helplessness, dan sifat-sifat lain yang terungkap dalam jawaban
anak. Contohnya anak dapat mengungkapkan kepribadian dependen dengan
indikasi mereka akan meminta bantuan dari ibunya atau yang lain Ketika
dikonfrontasi dengan berbagai macam masalah. Jawaban untuk pertanyaan 6 dan 9,
yang mana mempertanyakan tentang apa yang harus dilakukan jika anak kecil
mengajak berkelahi dengannya dan mengapa orang yang bertindak kriminal harus
di penjara, dapat mengungkapkan independensi, kecenderungan manipulasi, naif,
solusi kooperatif, permusuhan, atau agresi.
6. Digit Span
 Digit span mengukur memory jangka pendek auditory dan perhatian. Performa ini
dapat dipengaruhi dari kemampuan untuk rileks. Anak yang tenang dan santai
mendapatkan skor yang tinggi daripada anak yang penuh ketegangan atau
kecemasam. Subtes ini menguji kemampuan anak untuk mempertahankan
beberapa elemen yang tidak berkaitan secara logika antara satu dengan yang
lainnya. Karena informasi auditori harus diingat dan diulangi secara oral dalam
urutan yang benar dimana tugasnya telah disebutkan sebelumnya yaitu untuk
mengurutkan angka. Kalau digit forward berkaitan dengan hafalan sedangkan digit
backward berkaitan dengan stimulus agar bisa di recall untuk bisa diingat kembali.
Jika skor backward pada digit span tinggi, dapat mengindikasikan fleksibilitas,
toleransi yang baik pada stress dan konsentrasi yang baik. Jika digit forward,
sequential processing, sedangkan digit backward ada kemampuan planning dan
sequential processing. Lalu, digit backward dapat melibatkan kemampuan untuk
membentuk gambaran mental dan kemampuan untuk mengamati gambaran visual
yang didapat dari stimulus auditori.
7. Picture Completion
 Subtes ini terdiri dari 26 gambar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Di
setiap gambar, terdapat suatu elemen penting yang hilang. Tugas anak adalah
menyebutkan elemen yang hilang tersebut dalam waktu 20 detik. Anak yang
berusia 6-7 tahun, dan anak yang memiliki retardasi mental memulai dengan item
nomor 1. Untuk anak yang berusia 8-16 tahun di mulai dengan item nomor 5.
Semua skor diberikan skor 1 atau 0. Subtes diberhentikan jika sudah 4 kali salah
berturut-turut.
 Subtes ini, mengukur kemampuan persptual dan konseptual anak yang melibatkan
recogisi visual danidentifikasi objek-objek familiar. Persepsi, kognisi, penilaian,
dan delay impuls, dan semuanya dapat mempengaruhi perfororma. Kekayaan dari
pengalaman hidup anak dapat mempengaruhi performance dari tesnya.
 Anak-anak harus mengetahui bahwa ada batas waktu agar anak-anak lebih cepat
dalam menjawab. Anak-anak yang menjawab kurang dari 5 detik, mungkin lebih
impulsive, lebih percaya diri, dan jika jawabannya benar maka akan lebih cerdas
dari yang membutuhkan waktu lebih lama. Anak-anak yang secara umum
menjawab setelah waktu berakhir, mungkin lebih cerdas dari yang merespon salah
sebelum waktunya habis. Jika terdapat jawaban yang benar namun melebihi batas
waktu, dapat mengesankan bahwa ketidakefisiensian sementara atau depresi.
Sedangkan jawaban sangat cepat tapi salah menandakan impulsive.
8. Picture Arrangement
 Pada subtes ini, anak-anak harus menyusun gambar untuk menjadi cerita yang
logis.
 Subtes ini mengukur kemampuan anak untuk memahami dan mengevaluasi dari
keseluruhan situasi. Dalam menyelesaikan tugasnya, anak harus memahami inti
ceritanya meskipun ada trial dan error. Penilaian dari situasi seluruhnya,
digambarkan dalam kartu itu penting untuk keberhasilan penyelesaian. Subtes ini
merupakan nonverbal reasoning test yang dapat dilihat untuk mengukur
kemampuan perencanaan. Antisipasi, organisasi visual, dan temporal sequenting,
terlibat dalam subtes ini. Beberapa anak mungkin akan menghasilkan covert,
analitis, deskripsi verbal untuk mengarahkan untuk menyusun kartu stimulus.
Kapasitas untuk antisipasi, penilaian, dan memahami pendahuluan dan
konsekuensi dari kejadian, peristiwa adalah penting untuk memberikan
kebermaknaan dalam pengalaman sehari-hari.
9. Block Design
 Subtes ini terdiri dari 11 item dengan bidang dua dimensi yaitu gambar berwarna
merah dan putih dengan design yang abstrak.
 Block design melibatkan kemampuan untuk penerimaan dan menganalisis bentuk
dengan cara memecahkan dari kesatuan design ke dalam bagian-bagian komponen,
kemudian Menyusun komponen tersebut menjadi design yang identic. Proses ini
menggambarkan analisis dan sintesis. Subtes ini menggabungkan dari organisasi
visual dengan aspek reproduktif dari koordinasi visual motor. Keberhasilan pada
subtes ini melibatkan pengaplikasian dari logika dan penalaran dalam masalah
hubungan spasial. Performa dapat dipengaruhi dari tingkatan dari aktivitas motor
dan penglihatan. Performa yang tidak adekuat seharusnya tidak diinterpretasikan
sebagai bukti nyata dari ketidakmampuan visual dan persepsi pada suatu pola.
 Block design adalah subtes yang baik untuk mengobservasi pendekatan pemecahan
masalah pada anak. Jika gagal dalam membentuk pola maka dapat
mengindikasikan adanya kecemasan pada anak.
10. Object Assembly
 Mengetes kemampuan anak untuk mensintesis (menggabungkan hal untuk
membentuk suatu objek yang familiar). Pada subtes ini membutuhkan koordinasi
visual motor dengan aktivitas motor yang dituntun oleh persepsi visual dan
sensori motor feedback. Object assembly juga mengetes dari kemampuan
pengorganisasian visual. Performa dapat juga berkaitan dengan peningkatan
presisi dari aktivitas motorik yaitu : Ketika banyak muncul trial and error dan
ingatan visual jangka panjang. Object assembly juga mengobservasi cara berpikir
anak dan kebiasaan kerja. Anak yang membutuhkan waktu yang lama dalam satu
gambar, mencoba posisi dalam lokasi yang salah dapat menggambarkan
kecemasan dan kekakuan.
11. Coding
 Coding itu kemampuan mempelajari tugas-tugas yang tidak familiar dan
melibatkan kecepatan dan ketepatan dari koordinasi visual motorik, kemampuan
dalam memusatkan perhatian, memori jangka pendek, fleksibiltas kognitif
(merubah dengan cepat dari satu ke pasangan yang lain) dan motivasi. Subtes ini
juga melibatkan kecepatan dalam operasi mental atau psikomotor speed dalam
beberapa taraf ketajaman visual. Keberhasilan tidak hanya berasarkan dari
memahami tugas tapi juga kemampuan dari menggunakan pensil dan kertas
dengan baik. Performa dapat ditingkatkan ketika symbol tercatat dalam bentuk
label verbal. Dalam coding A melibatkan verbal encoding process. Kecepatan
dan ketepatan dalam melakukan tugas menggambarkan kemampuan intelektual
anak. Coding juga dapat dikonsepkan sebagai tes yang mengukur proses
informasi yang melibatkan pembedaan dan memori dari pola symbol visual.
Subtes ini khususnya berguna untuk mengevaluasi perhatian anak ketika adanya
kesulitan perhatian seperti setelah ada cedera kepala. Penyimpangan dari bentuk
dapat menggambarkan anak tersebut kesulitan dalam fungsi perseptual.
12. Mazes
 Subtes ini mengukur kemampuan perencanaan dan organisasi perseptual.
Keberhasilan subtes ini membutuhkan control visual motor dan kecepatan yang
dikombinasikan dengan ketepatan.

Langkah-Langkah Interpretasi
a. Membangun profile analysis: analisis profil adalah interpretasi atau analisis pola dari
scale score dan defiasi IQ dari subjek. Berikut Langkah-langkah dalam melakukan
analisis profil:
 Melakukan perbandingan antara VIQ dengan PIQ. Dikatakan signifikan bila
terdapat perbedaan sebesar 12 poin pada VIQ dan PIQ dengan signifikansi
0.05 dan sebesar 15 poin dengan signifikansi 0.01.
 Melakukan perbandingan masing-masing subtes verbal scale dengan rata-rata
dari verbal scale. Membuat rata-rata dari subtes verbal scale, lalu dilakukan
perbandingan dengan hasil subtes verbal.
 Melakukan perbandingan masing-masing subtes performance scale dengan
rata-rata dari performance scale. Membuat rata-rata dari subtes performance
scale, lalu dilakukan perbandingan dengan hasil subtes performance.
 Melakukan perbandingan scale score masing-masing subtes dengan rata-rata
scale score subtes pada keseluruhan tes. Membuat rata-rata dari subtes setiap
subtes, lalu dilakukan perbandingan dengan hasil subtes subjek.
 Melakukan perbandingan scale score pada keseluruhan dari setiap subtes. Jika
perbedaan hasil tes antara tertinggi dan terendah pada subtes scaled score
kurang dari tujuh poin, multiple comparision antara individul subtes tidak
perlu dilakukan perbandingan.
 Melakukan perbandingan verbal comprehension, perceptual organization, dan
kebebasan dari nilai distrability factor score. Halaman 814
 Melakukan perbandingan pada scale score subtes pada setiap faktor dengan
perspektif rata-rata skor faktor.
b. Pendekatan dalam melakukan interpretasi tes
 Full Scaled IQ memperikaran kemampuan intelektual yang paling valid
 2a VIQ = memberikan kemampuan verbal pada individu dan PIQ =
memberikan kemampuan terkait organisasi perseptual. Verbal scale
bergantung pada akumulasi pengalaman anak. Verbal scale dipertimbangkan
sebagai index dari kemampuan verbal dan pembentukan kecerdasan.
Sedangkan Performance scale bergantung pada kemampuan anak dalam
melakukan pemecahan masalah. PS membuat anak pada berada pada situasi
yang baru dan menerapkan penglaman masa lalu, kemudian membentuk
kemampuan akan tuntutan baru. Stimulusnya nonverbal dan diberikan secara
visual. Output dalam Performance scale ini adalah respon motorik dan lebih
sedikit dalam penggunaan respon verbal. Performance scale dipertimbangkan
sebagai indeks dari kemampuan nonverbal dan kecerdasaan fluid.
Perbedaan yang signifikan antara V dan P scale dapat mengindikasikan pola
minat, kognitif, psikopatologis, kekuatan dan kekurangan dalam memproses
informasi, kekuatan dan kekurangan dalam cara berekspresi, kekuatan dan
kekurangan dalam kerja di bawah tekanan, dan defisiensi sensori. Jika ada
perbedaan yang signifikan antara V scale, P Scale dan full scale IQ maka perlu
dibuat hipotesis terkait perbedaan tersebut.

Ilustrasi hipotesis jika Vscale lebih besar dari Pscale:


 Kemampuan verbalnya berkembang lebih baik dari pada kemampuan
performanya
 Auditory vocal processing skills dikembangkan lebih baik daripada visual
motor discrimination skills.
 Pengetahuan yang didapatkan dari akumulasi pengalaman masa lalu
dikembangkan lebih baik daripada kemampuan dalam memecahkan masalah.
 Anak bisa jadi diindikasikan mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-
tugas praktis.
 Diindikasikan adanya kekurangan pada kemampuan performa, termasuk
perilaku meniru
 Keterbatasan dalam integrasi visual motor dapat memengaruhi performa
 Ada indikasi mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas yang
menuntut kecepatan

Ilustrasi hipotesis jika P scale lebih besar dari V scale


 Kemampuan performa dikembangkan lebih baik dari pada kemampuan verbal
 Kemampuan diskriminasi visual motor dikembangkan lebih baik daripada
keterampilan Auditory vocal processing skills.
 Kemampuan dalam memecahkan masalah secara spontan berkembang lebih
baik daripadi akumulasi pengetahuan pengalaman masa lalu
 Adanya indikasi kesulitan dalam membaca dan prestasi akademis
 Adanya indikasin pada penurunan kemampuan bahasa
 Keterbatasan dalam Auditory conceptual skills dengan Auditory processing
skills dapat memengaruhi performa
 Kesulitan dapat dialami ketika melakukan tugas-tugas secara efektif tanpa
tekanan waktu

2b skor faktor memiliki beberapa faktor yang dipertimbangkan diantaranya:


 Verbal Comprehension Factor (Information, Similarities, V, COM)
 Perceptual Organization (PC, PA, BD, OA)
 Freedom Distractibility Factor (A, DS, CODING) Jika FDF skornya
lebih tinggi maka subjek menunjukan adanya kemampuan dalam
memusatkan perhatian, short term memory yang baik, kemampuan
numerik, kemampuan pengkodean (kemampuan mengurutkan),
penggunaan strategi latihan, kemampuan untuk mengubah operasi
mental secara cepat dalam material simbolik dan kemampuan dalam
memonitoring diri. Jika FDF rendah maka ada indikasi kesulitan dalam
memusatkan perhatian. Mudah teralihkan fokusnya, adanya
kecemasan, kemampuan dalam ingatan jangka pendek tergolong
kurang baik, adanya kesulitan dalam melakukan pengkodean, strategi
latihan yang buruk, kesulitan untuk mengubah operasi mental secara
cepat dalam material simbolik, ketidakmampuan dalam memonitor
diri. Skor FDF tidak dimasukan pada psychological report, skor factor
itu hanya digunakan untuk membuat hipotesis dari performa anak-
anak.

 Keberagaman subtes dalam scale: berfokus pada standar deviasi dari beragam subtes
pada rata-rata VScale atau Pscale. Hal tersebut akan menunjukan kekurangan dan
kelebihan pada subjek.
 Variasi inter subtes: perbandingan antar subtes atau kelompok dalam subtes
Jika scaled score nya 1 sampai 7 menggambarkan weakness atau di bawah rata-rata, 8
– 12 menggambarkan rata-rata, 13 – 19 di atas rata-rata, berkembang dengan baik.
 Variasi intra subtes: Item pada setiap Subtes pada WISC disusun dari soal termudah
hingga tersulit. Maka pola-pola pada setiap jawaban yang berhasil dan gagal perlu
diperhatikan untuk melihat kualitas jawaban. Jika polanya tidak sama, ada
kemungkinan bahwa subjek memiliki kognitif atau atensi yang tidak efisien, sehingga
perlu ditindak lanjut.
 Kualitatif analisis: dengan melakukan kualitatif analisis, maka dapat memahami
pengetahuan anak atau informasi yang spesifik. Setiap respon anak secara verbal
ataupun nonverbal yang unik dapat menjadi informasi tambahan untuk melakukan
evaluasi atau interpretasi. Contoh: anak dengan tedensi paranoid akan banyak
mengeluh, tidak percaya, memberikan jawaban yang kaku. Jika anak depresi biasanya
jawaban akan lambat, ragu-ragu, dan menolak untuk merespon.
Analisis kualitatif dilakukan ketika ada jawaban-jawaban tambahan dari anak yang
perlu ditambahkan untuk menambahkan hipotesis baru, hipotesis-hipotesis lainnya itu
adalah :
- Beberapa anak menunjukan pola dari gagal di item yang mudah dan berhasil pada
item yang sulit. Hal ini dapat terjadi ketika anak bosan dengan item yang mudah
sehingga anak ceroboh atau bahkan memberikan jawaban yang tidak jelas. Anak
hanya tertantang apabila diberikan item yang lebih sulit untuk mereka
memperlihatkan kemampuannya. Pola ini juga dapat memperlihatkan perhatian
yang tidak konsisten atau usaha dari kecemasan atau factor-faktor lain.
- Beberapa pertanyaan dan kata-kata dapat berkaitan dengan kekerasan atau
permusuhan. Misalnya pada Vocabulary terdapat kata pisau dan penderitaan
didalam similiarities jawaban seperti apel dan pisang adalah mirip karena dua-
duanya dapat meracuni orang lain yang menunjukan kesulitan psikologis
- Jawaban dari PC dapat menyajikan informasi kesulitan anak. Anak-anak dalam
mengatasi kecemasan tentang isu perpisahan, mungkin tidak dapat menjawab
beberapa item dan bertanya pada tester kenapa harus ada yang hilang. Anak-anak
yang menderita dispasia (tidak mampu berkata/gangguan bicara) kesulitan dalam
mencari kata-kata/anomia. Contohnya anak akan hanya menunjuk yang hilang tapi
tidak menyebutkan bagian mana yang hilang.
- Anak-anak yang selalu mengecek kembali pekerjaannya dalam block design dapat
mengindikasikan obsesif.
- Tugas coding yang telaten mungkin lebih sulit untuk anak yang waspada, kreatif,
dan intuitive daripada anak yang jumawa, pasif, dan lambat.
- Kesalahan pada maze dapat mengindikasikan adanya impulsifitas, kehilangan
control, atau buruknya koordinasi atau memiliki perhatian yang berlebihan,
perfeksionis atau depresi.
- Pada individu yang paranoid, konteks responnya, gaya responnya, dan pola dari
skornya dapat saling berhubungan. Konteks dari responnya dapat memperlihatkan
kecurigaan terkait perekaman dari jawaban atau merasa dijebak. Anak yang
paranoid gaya responnya dapat lebih hati-hati sementara yang autis akan lebih
waspada, kaku dan legal. Skornya akan tinggi pada area yang berkaitan dengan
subtes yang membutuhkan perhatian pada detail seperti PC atau PA dan untuk
menyatukan serta menghubungkan hal-hal yang berbeda (Similiarities)

Perbandingan antar subtes :


VERBAL
1. Information dibandingkan dengan Comprehension
Subtes comprehension, berhubungan dengan subtes informasi, perbandingan ini
berhubungan dengan jumlah informasi yang didapatkan terkait kemampuan untuk
menggunakan informasi tersebut. Informasi membutuhkan pengetahuan factual
dimana comprehension membutuhkan pengetahuan factual dan juga penilaian.
a. Misalkan I > Comp artinya pengetahuan umum subjek adekuat tetapi ada kesulitan
dalam mensintesis dan menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sosial.
b. Misalkan I < Comp, artinya walaupun memiliki keterbatasan pengetahuan factual
tetapi kemampuan tersebut membuat judgement nya lebih baik
2. Comprehension dibandingkan dengan Aritmatik
Compre dan Arit sama-sama membutuhkan kemampuan penalaran atau lebih tepatnya
kemampuan untuk menganalisa material yang diberikan dan mengenali elemen yang
dibutuhkan untuk solusi pada masalah tertentu.
a. Jika Comp > A artinya kemampuan penalaran adekuat dalam situasi sosial tetapi
tidak dalam situasi yang melibatkan angka-angka.
b. Jika Comp < A artinya kemampuan penalarannya lebih baik untuk pekerjaan-
pekerjaan abstrak daripada yang melibatkan kemampuan sosial.
3. Aritmatik dibandingkan dengan Digit Span
Kedua subtes ini sama-sama membutuhkan kemudahan dalam angka-angka dan
kemampuan untuk mengingat kembali secara spontan. Untuk membandingkan antar
subtes ini menyajikan indeks dari keseimbangan antara perhatian jangka pendek dan
konsentrasi jangka panjang.
a. Jika DS > A artinya perhatian Subjek berkembang lebih baik daripada
konsentrasinya.
b. Jika DS < A artinya konsentrasinya berkembang lebih baik daripada perhatiannya
4. Similiarities dibandingkan dengan Comprehension
Subtes ini sama-sama mengukur kemampuan untuk membuat konsep.
a. Jika S > Comp artinya Subjek memiliki kemampuan berpikir abstrak yang baik
tetapi kesulitan dalam mengaplikasikan kemampuan untuk membuat konsep
dalam menyelesaikan masalah pada situasi sosial. Konsep ini mungkin
mengesankan adanya verbal expressive deficit berkaitan dengan berpikir
proporsional.
b. Jika S < Comp artinya Subjek memiliki kekurangan dalam kemampuan formasi
konsep verbal berkaitan dengan kemampuan mengkonsepkan dengan kehidupan
nyata.
5. Vocabulary dibandingkan dengan Similiarities
Kedua subtes ini mengukur level berpikir secara abstrak dan kemampuan untuk
membuat konsep tetapi similiarities lebih baik dalam mengukur kemampuan berpikir
abstrak.
a. Jika S > V artinya Subjek memiliki kemampuan yang baik dalam berpikir abstrak
tetapi terbatas untuk memahami arti dari kata-kata.
b. Jika S < V artinya Subjek memiliki kesulitan dalam membentuk konsep secara
abstrak, tetapi kemampuan Subjek baik untuk memahami arti dari masing-masing
kata.
6. Vocabulary dan Information dibandingkan dengan Comprehension
a. V, I > C artinya adanya ketidak mampuan untuk menggunakan kemampuan verbal
dan pengetahuan umum secara utuh di dalam kehidupan dan bisa jadi
mengindikasikan gangguan penilaian.
b. V,I < C artinya adanya keterbatasan dalam membuat konsep formasi kecuali
ketika kemampuan mengkonsep di aplikasikan untuk menyelesaikan masalah di
kehidupan sosial
7. Digit Span : Digit Forward dibandingkan dengan Digit Backward
a. Jika DSF > DSB dan perbedaanya lebih dari sama dengan 3 pada raw score
menunjukan Subjek ada indikasi tidak memberikan usaha lebih untuk menguasai
tugas-tugas yang lebih sulit dari mengingat kembali urutan digit backward nya.
Atau mungkin menunjukan hal lainnya yaitu adanya memori auditori yang baik
tetapi short term visual memory yang buruk, hal ini merupakan hipotesis yang
tentative.
b. DSF < DSB artinya anak melihat DSB sebagai tantangan bukan sebagai tugas
untuk mengulang angka.
8. Similiarities dibandingkan dengan Digit Span
a. Jika Sim > DS artinya Subjek memiliki kemampuan mengkonsepkan yang baik
dibarengi oleh buruknya hapalan yang ditangkap melalui pendengaran.
b. Jika Sim < DS artinya buruknya kemampuan mengkonsepkan dibarengi oleh
baiknya kemampuan hapalan yang ditangkap melalui pendengaran.

VERBAL DAN PERFORMANCE


9. Similiarities dengan BD
Subtes ini menggambarkan kemampuan untuk berpikir abstrak.
a. Jika S > BD artinya Subjek memiliki kemampuan penalaran abstrak yang lebih
baik ketika dibarengi dengan stimulus verbal daripada non verbal.
b. Jika S < BD artinya Subjek memiliki kemampuan penalaran abstrak lebih baik
ketika dibarengi stimulus non verbal daripada verbal
10. Compre dengan PA
Subtes ini sama-sama berisi tentang stimulus yang berkaitan dengan interaksi sosial.
a. Jika PA > Comp artinya Subjek memiliki sensitifitas kepada lingkungan
interpersonal tetapi mengabaikan kebiasaan sosial
b. Jika PA < Comp artinya Subjek memiliki pemahaman dari situasi sosial yang
abstrak tetapi adanya kesulitan dalam menentukan makna dari situasi atau
Tindakan yang harus diambil saat terlibat dalam situasi tersebut.
11. PC dengan Aritmatik
Subtes ini masing-masing melibatkan konsentrasi. Dalam PC konsentrasi secara
langsung dalam bentuk yang terlihat melalui stimulus visual dimana aritmatik
konsentrasi diarahkan pada stimulus internal atau penelusuran memori.
a. Jika PC > A artinya Subjek memiliki konsentrasi yang adekuat untuk stimulus
visual tetapi tidak untuk stimulus auditori.
b. Jika PC < A artinya Subjek memiliki konsentrasi yang adekuat untuk stimulus
auditori tetapi tidak untuk stimulus visual
PERFORMANCE SCALE
12. PC dengan PA
Perbandingan ini menyajikan estimasi dari perhatian khusus dibandingkan dengan
pengorganisasian secara mendetail.
a. Jika PC > PA artinya Subjek memiliki persepsi dari detail yang dikembangkan
dengan baik untuk tugas yang tidak mengurut daripada tugas yang membutuhkan
pengorganisasian dan pengurutan
b. Jika PC < PA artinya persepsi dari detail kurang berkembang dengan baik untuk
tugas-tugas yang tidak membutuhkan pengurutan daripada tugas-tugas untuk
mengurutkan dan mengorganisasikan
13. PC dengan BD
Mengukur persepsi visual kepada koordinasi visual-motor-spatial.
a. Jika PC > BD artinya menunjukan adekuat pada kemampuan non spatial persepsi
visual, tetapi inadekuat pada kemampuan visualisasi spatial.
b. Jika PC < BD artinya menunjukan adekuat pada kemampuan visualisasi spatial
tetapi inadekuat pada kemampuan non spatial persepsi visual.
14. OA dengan PA
a. Jika OA > PA artinya mengesankan adanya perkembangan yang lebih baik dalam
kemampuan penalaran induktif visual daripada kemampuan pengurutan secara
visual.
b. Jika OA < PA mengesankan adanya perkembangan yang lebih baik dalam
kemampuan pengurutan secara visual daripada kemampuan penalaran induktif
visual.
15. BD OA MA
Ketiga subtes ini membutuhkan koordinasi visual motor dan melibatkan kemampuan
aktifitas motoric yang diarahkan dari organisasi perseptual.
a. Jika BD > MA artinya ada kemampuan organisasi visual yang melibatkan analisis
dan sintesis dikembangkan lebih baik daripada yang melibatkan perencanaan
masa depan.
b. Jika BD < MA artinya kemampuan organisasi visual yang melibatkan analisis dan
sintesis yang tidak dikembangkan dengan baik daripada yang melibatkan
perencanaan masa depan.
c. OA > BD artinya kemampuan penalaran induktif nonverbal dikembangkan lebih
baik daripada kemampuan penalaran deduktif nonverbal
d. OA < BD artinya kemampuan penalaran deduktif nonverbal dikembangkan lebih
baik daripada kemampuan penalaran induktif nonverbal atau adanya kekurangan
ide dalam merepresentasikan objek secara visual.
MEMBANDINGKAN TIGA ATAU LEBIH SUBTES
16. Inf Arit Compre dibandingkan dengan Similiarities Vocab Digit Span
a. Jika Inf Arit Compre > Sim Vocab Digit Span tandanya anak dapat tampil lebih
baik ketika diberikan stimulus verbal yang panjang dibandingkan stimulus verbal
yang pendek. Anak memberikan usaha yang lebih keras untuk memperhatikan
materil verbal dengan durasi yang panjang. Pola ini memperlihatkan kemampuan
anak untuk memanfaatkan isyarat kontekstual dalam pertanyaan yang panjang.
b. Jika Inf Arit Compre < Sim Vocab Digit Span, artinya anak tampil lebih baik
ketika stimulus verbalnya pendek dibandingkan dengan stimulus verbal yang
panjang. Anak membutuhkan usaha yang lebih keras untuk memperhatikan materi
verbal yang memiliki durasi relative singkat. Pola ini dapat mengesankan adanya
kekurangan pada resepsi auditori berkaitan dengan makna dari Bahasa yang
diucapkan.
17. Similiarities Vocab Compre dengan Information Aritmatik Digit Span
[Link] Voc Compre > Inf Arit Digit Span artinya anak-anak tampil lebih baik ketika
tugas membutuhkan jumlah yang cukup dari ekspresi verbal daripada ketika
mereka membutuhkan ekspresi verbal yang lebih sedikit. Salah satu kemungkinan
bahwa anak membutuhkan usaha yang lebih keras dalam situasi yang
membutuhkan ekspresi verbal tetapi tidak pada situasi yang membutuhkan
ekspresi verbal yang sedikit.
b. Sim Voc Compre < Inf Arit Digit Span artinya anak-anak tampil lebih baik pada
tugas yang membutuhkan jumlah yang cukup dari ekspresi verbal yang lebih
sedikit daripada ekspresi verbal yang cukup. Pola ini berkaitan dengan masalah
komunikasi atau malu apabila harus berbicara dengan kalimat yang panjang.
18. PC PA OA dibandingkan dengan BD Coding
a. PC PA OA > BD Coding artinya anak tampil lebih baik ketika diberi stimulus
visual yang bermakna daripada ketika diberikan stimulus abstrak atau tidak
bermakna.
b. PC PA OA < BD Coding artinya anak tampil lebih baik ketika diberi stimulus
abstrak secara visual daripada stimulus yang konkrit.
19. PC PA dibandingkan dengan BD OA Coding MA
a. PC,PA > BD OA Coding MA artinya anak menampilkan performa lebih baik
ketika diberikan tugas yang membutuhkan pengorganisasian perseptual daripada
ketika perceptual ditambah dengan koordinasi visual motor.
b. PC, PA < BD OA Coding MA artinya kebalikannya yaitu anak menampilkan
performa lebih baik ketika diberi tugas yang membutuhkan perseptual ditambah
dengan koordinasi visual motor dibanding dengan tugas yang membutuhkan
pengorganisasian perseptual saja.

Anda mungkin juga menyukai