0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan10 halaman

Peran Pendidikan Agama Islam bagi Remaja

Bab ini membahas landasan teori pendidikan agama Islam dan konsep pendidikan bagi remaja. Pendidikan agama Islam bertujuan untuk membentuk manusia beriman dan bertakwa sesuai ajaran agama. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan agama Islam antara lain keluarga, lingkungan pergaulan, dan lembaga pendidikan formal. Keluarga, khususnya orang tua, memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter anak.

Diunggah oleh

Anjelli Sinaga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan10 halaman

Peran Pendidikan Agama Islam bagi Remaja

Bab ini membahas landasan teori pendidikan agama Islam dan konsep pendidikan bagi remaja. Pendidikan agama Islam bertujuan untuk membentuk manusia beriman dan bertakwa sesuai ajaran agama. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan agama Islam antara lain keluarga, lingkungan pergaulan, dan lembaga pendidikan formal. Keluarga, khususnya orang tua, memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter anak.

Diunggah oleh

Anjelli Sinaga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORITIS

1. Tinjauan Pustaka

A. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama adalah salah satu hal yang penting bagi kehidupan manusia, Pendidikan agama
merupakan alat untuk mengontrol pengembangan pikiran manusia, tingkah laku dan emosional sesuai
dengan norma-norma agama. Misi yang diemban Pendidikan Agama Islam adalah mendidik manusia
untuk menjadi insan yang beriman dan bertaqwa sehingga muaranya adalah terciptanya situasi dan
kondisi masyarakat yang sejahtera, masyarakat dalam kehidupan dialam semesta yang Rahmatan Lil
‘alamiin. Namun dalam konteks kehidupan masyarakat di Indonesia yang sosialis-religius, PAI memiliki
peran yang lebih spesifik sekaligus strategis karena beberapa hal.

Pertama, secara epistimologis Islam sangat menjunjung tinggi komitmen keilmuan yang menjadi sumber
kemajuan suatu bangsa dijelaskan dalam surat al-maidah ayat 11 berbunyi :

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu ketika suatu kaum
bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari [Link]
bertaqwalah kepada Allah dan hanya kepada Allah-lah lah hendaknya orang-orang beriman itu
bertawakal”

Kedua, secara sosiologis dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritasnya beragama islam, maka
PAI memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan negeri ini. Kemajuan
berlandaskan spirit of Islam yang mendorong pemeluknya selalu menempa diri agar berguna bagi
masyarakat luas karena etosnya sebagai manusia yag senantiasa bekerja keras, sekaligus bekerja cerdas
dan bekerja ikhlas. Yang kesemuanya itu harus tetap dalam koridor bingkai ketaqwaan dan mencari
ridha Allah SWT.

Dalam alquran surat al-Hasyr ayat 18 dijelaskan :

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan
apa yang diperbuatnya untuk esok hari (akhirat) dan bertaqwalah kepada kepada Allah, sungguh Allah
maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ketiga, secara historis Islam telah memberi sumbangsih besar terhadap peradaban dunia. Di millennium
pertama, didunia Islam bermunculan tokoh-tokoh muslim dan filosof muslim sebagai ikon kemajuan
peradaban Islam saat itu yang diakui oleh dunia sampai saat ini. Pendidikan Agama Islam sebagai kawah
pengembangan intelektualitas memiliki peran penting untuk mengembalikan kejayaan peradaban dan
Pendidikan Islam dengan melahirkan kembali sosok-sosok intelektual muslim yang memiliki integritas
secara intelektual, moral dan spiritual.

Keempat, secara sosio-histori dalam islam Indonesia menjadi ikon bagi munculnya bangsa, karena itu
karakter kebangsaan bagi umat Islam Indonesia sesungguhnya merupakan sisi lain dari satu mata uang
karakter keIslaman.

Kelima, Pendidikan Agama Islam tentunya mempunyai peran penting dalam transformasi nilai-nilai
ajaran islam yang menyejukan dan membangun semangat optimis bukan menyebar ketakutan ataupun
semangat [Link] Agama Islam juga berperan dalam mencegah dan mengatasi konflik yang
terjadi antar umat islam sendiri.

Pendidikan islam sebagaimana Pendidikan lainnya memiliki berbagai aspek yang tercakup didalamnya,
aspek tersebut dapat dilihat dari segi cakupan materi didikannya, filsafatnya, sejarahnya,
kelembagaannya, sistemnya, dan dari segi kedudukannya sebagai sebuah ilmu. Dari segi materi
didikannya, Pendidikan islam sekurang-kurangnya mencakup Pendidikan fisik, akal, agama (akidah dan
Syariah), akhlak kejiwaan, rasa keindahan, dan sosial kemasyarakatan.

Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan agama islam bagi remaja adalah usaha sadar yang
dilakukan guna memperkenalkan, memahami, menghayati ajaran agama islam melalui bimbingan,
pengajaran dan latihan dengan memberikan tuntunan untuk mengamalkan ajaran agama Islam serta
sebagai pandangan hidup guna memperoleh kehidupan yang nyaman didunia serta memperoleh
kebahagian di akhirat. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. Dalam surat Ali “Imran ayat 104 :

Artinya :

“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
(berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung”.

B. Konsep Pendidikan Bagi Remaja


Konsep diri merupakan pandangan atau penilaian remaja terhadap diri sendiri. Konsep diri yang tepat
akan membantu remaja untuk mengenali dirinya dan merupakan alat kontrol bagi perilaku remaja.
Apabila konsep diri remaja positif maka perilaku yang ditampilkan juga positif. Sebaliknya, apabila
konsep diri remaja negatif maka perilaku yang ditampilkan akan negatif. Lingkungan keluarga, khususnya
pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor penting bagi pembentukan konsep diri remaja.

Dilihat dari pandangan Islam, karakter merupakan kesamaan yang menyangkut akhlak atau kepribadian.
Dalam kepribadian ada tiga konsep yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya
mencakup: ilmu pengetahuan, sikap, dan perilaku. Akhlak atau karakter sering diajarkan dengan melalui
metode internalisasi, dengan teknik pendidikannya ialah peneladanan, pembiasaan, penegakan,
peraturan, dan pemotivasian. Saat ini Indonesia mengalami krisis remaja yang memiliki karakter kuat,
hal ini dibuktikandengan melambannya pembangunan negara dan tingginya tingkat kenakalan remaja
sebagai wujud kegagalan remaja dalam memanfaatkan potensi yang dimilikinya.

C. Lingkungan Pendidikan Islam

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia. Lingkungan dapat berupa manusia
dan dapat pula nonmanusia. Bahkan, selain itu ada pula sesuatu yang berada diluar diri manusia dan
tidak tampak (ghaib), tetapi keberadaannya pasti. Lingkungan Pendidikan Islam meliputi :

1. Lingkungan Keluarga

Artinya :

“Dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu berkata, Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah
ada dari bayi yang lahir melainkan terlahir diatas fitrah. Lalu kedua orang tuanya lah yang
meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya. Sebagaimana seekor binatang yang
melahirkan binatang dengan anggota tubuh yang sempurna. Adakah kalian mendapatinya cacat?” Lalu
Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu membaca, “(Tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia diatas fitrah itu.” (HR. Bukhori, no. 1358)

Komponen utama dalam lingkungan keluarga adalah orangtua. Mereka adalah orang yang paling
berpeluang mempengaruhi peserta didik. Hal itu dimungkinkan karena merekalah yang paling awal
bergaul dengan anaknya, paling dekat dalam berkomunikasi, dan paling banyak menyediakan waktu
untuk anak-anak terutama ketika ia masih kecil. Untuk melihat lebih jelas bagaimana kewajiban dan
tanggung jawab terhadap anak, para pendidik khususnya orangtua harus mengetahui hakekat anak itu
yg sebenarnya. Sedangkan dalam Islam mengajarkan bahwa anak adalah amanah dan titipan yang
diberikan oleh Allah SWT kepada orangtuanya, yang harus diberikan pengetahuan, Pendidikan yang
sesuai dengan ajaran agama Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits terutama mendidik
untuk membentuk kepribadian anak agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak diinginkan baik oleh
orangtuanya maupun oleh ajaran agama Islam.

Orangtua harus melaksanakan proses pendidikan terhadap anak-anak dan begitu juga anggota keluarga
yang lain Pendidikan yang dilaksanakan harus sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam yang disebut
Pendidikan Islam. Menurut Al-Jamali, “Pendidikan Islam adalah proes yang mengarahkan manusia
kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan
dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).” Anggota keluarga yang tinggal di tempat
yang sama dengan seseorang juga mempunyai pengaruh yang besar. Besar atau kecilnya pengaruh
masing-masing tergantung kepada kadar komunikasi dan kualitas pengaruh yang diberikan kepada
peserta didik.

Perkembangan religiusitas remaja sering dikaitkan dengan pola asuh orang tua. Glock & Stark seperti
yang dikutip oleh Ancok & Suroso (1995) mengidentifikasi 5 dimensi religiusitas, yaitu : keyakinan
(ideologi), peribadatan (ritualistic), pengalaman (ecperience), pengetahuan (intellectual), dan
pengamalan (konsekuensi). Sedangkan pola asuh meliputi empat tipe, yaitu: authoritarian, authoritative,
indulgent, dan neglectful/uninvolved (King, 2010) Pola asuh yang diterapkan orang tua sangat
berpengaruh terhadap karakter remaja, termasuk terhadap karakter religiusnya. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh French, Purwono, Eisenberg, Sallquist, Lu, dan Christ (2013) terhadap 296 remaja
Indonesia menunjukkan adanya hubungan antara religiusitas orang tua dengan religiusitas remaja
dengan kehangatan orang tua selama pengasuhan sebagai variabel moderatornya. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa orang tua yang religius akan menghasilkan anak yang juga religius jika orang tua
memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup dalam proses pengasuhan anaknya.

Bandura (1989) dalam studinya menjelaskan bahwa keluarga, kelompok masyarakat, dan media massa
secara sistematis dapat mem- bentuk pola ingatan yang tergambar dalam kebiasaan bertingkah laku
individu melalui peniruan (imitating) dan pemodelan (modeling). Keluarga menjadi faktor yang penting
dalam perkembangan psiko- logi anak. Orang tua juga memberikan dasar kehidupan emosi dan dasar
kehidupan moral anak. Kehidupan emosional keluarga dapat menjamin perkembangan emosional anak
dalam pembentukan pribadinya. Demikian juga dengan ketela- danan orang tua dalam bertutur kata dan
berperilaku sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak untuk membentuk manusia
susila. Keluarga merupakan peletak dasar pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan
tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang

tua dan anggota keluarga yang lainnya.

2. Lingkungan Pergaulan

Selain orangtua, teman, atau orang yang terdekat juga memiliki pengaruh besar terhadap
perkembangan perilaku anak, terutama padamasa remaja. Seperti yang disebutkan dalam hadits :
Artinya :

“Dari Abu Musa meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang
buruk bagaikan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Terhadap pemilik minyak wangi kamu dapat
menikmati minyak wangi dengan cara membeli kepadanya atau minimal mencium aroma aromanya
yang harum. Sementara itu terhadap pandai besi mungkin badan atau pakaianmu terbakar atau kamu
mencium bau yang tidak sedap.”(H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Konsep pergaulan pada hakikatnya merupakan jalinan hubungan sosial antaraseseorang dengan orang
lain yang berlangsung dalam jangka relatif lama sehingga terjadi saling mempengaruhi satu dengan
lainnya. Pergaulan merupakan kelanjutan dari proses hubungan sosial yang terjalin antara individu
dalam lingkungan sosialnya. Kuat lemahnya suatu interaksi sosial mempengaruhi erat tidaknya
pergaulan yang terjalin. Seorang anak yang selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang lain dalam
jangka waktu relatif lama akan membentuk pergaulan yang lebih. Berbeda dengan orang yang hanya
sesekali bertemu atau hanya melakukan interaksi sosial secara tidak langsung.

Teman sangat bervariasi, ada yang membawa berkah, rezeki, dan kebahagiaan. Akan tetapi, perlu juga
berhati-hati karena banyak juga orang yang rusak bahkan sengsara karena teman. Dengan demikian,
teman ada yang baik dan ada pula yang buruk.

D. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah dua kata yang mempunyai makna berbeda. Pendidikan adalah proses
pendewasaan untuk mamanusiawikan manusia melalui proses pembelajaran, sedangkan karakter
adalah “Identitas diri” (jatri diri) yang melekat pada sosok masyarakat bangsa dan negara, yang
mempunyai sifat terbuka dan lentur untuk menghadapi perubahan, dan untuk memilah-milah secara
kritis.31 Menurut pusat Bahasa Depdiknas pengertian karakter adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian,
budi pekerti, perilaku, personality, sifat, tabiat, temperament, watak. Adapun berkarakter adalah
berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, berwatak. Menurut tadkirrotun musfiroh karakter
mengacu kepada serangkaian sikap, perilaku, motivasi, dan keterampilan.

Karakter adalah watak, sikap, sifat, atau hal-hal yang memang sangat mendasar yang ada pada diri
seseorang, karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah Swt, diri
sendiri, sesame manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat
istiadat. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil
internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara
pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Dilihat dari sudut pengertiannya ternyata karakter dan
akhlah tidak memiliki perbedaan yang signifikan, keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang
terjadi karena sudah tertanam dalam pikiran, atau disebut kebiasaan. Karakter dapat diartikan juga
sebagai akhlak atau budi pekerti, sehingga karakter bangsa identic dengan akhlak atau budi pekerti
bangsa. spek-aspek dari tiga komponen karakter adalah : moral knowing.

Terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu :

1) kesadaran moral (moral awareness)

2) mengetahui nilai moral (knowing moral values)

3) perspective talking

4) penalaran moral (moral reasoning)

5) membuat keputusan (decision making)

6) pengetahuan diri (self knowledge). Unsur moral knowing mengisi ranah kognitif mereka.

Terdapat enam hal yang merupakan aspek dari moral feeling yang harus mampu dirasakan oleh
seseorang untuk menjadi manusia berkarakter, yakni :

1) nurani (conscience)

2) penghargaan diri (self esteem)

3) empati (empathy)

4) cinta kebaikan (loving the good)

5) kontrol diri (self control), dan kerendahan hati (humality).

Kemampuan adaptasi remaja dibutuhkan agar tetap mandiri dan siap menghadapi masa depan yang
sudah direncanakan bahkan menjadi tuntutan keluarga dan lingkungan. Kondisi biologis, psikologis
sosial dan spiritual remaja tidak terlepas dari aturan norma agama dan sosial dalam wujud kebudayaan.
Karena manusia sebagai mahkluk berbudaya maka manusia dan kebudayaan merupakan kesatuan yang
tidak terpisahkan, dan mahkluk manusia dalam rangka kebudayaannya akan diteruskan kepada generasi
berikutnya atau dapat dikomunikasikan dengan individu lainnya karena memiliki kemampuan
mengembangkan gagasan-gagasan dalam bentuk lambing-lambang vocal berupa Bahasa serta
dikomunikasikan dengan orang lain melalui berbicara dan menulis.

E. Remaja

1. Pengertian Remaja
Remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua
aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa, Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai
dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut
Zakiah Darajat remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa.

Ayah memiliki peran yang khas padasetiap tahapan perkembangan anak. Hal ini terkait dengan adanya
tugas perkembangan yang berbeda pada setiap tahapannya. tahapan perkembangan remaja yang
berkisar dari usia 12 hingga 21 tahun. Jika pada anak usia sekolah yakni 6 hingga 12 tahun, ayah memiliki
peran penting dalam membangun harga diri anak dan juga perasaan kompeten anak secara akademik
dan sosial.

Remaja adalah calon generasi penerus kehidupan dan peradaban dalam sebuah Negara ataupun
lingkungan masyarakat. Tentu saja para tokoh Negara ataupun masyarakat di suatu daerah tidak
menghendaki jika rantai kehidupan berikutnya dilanjutkan oleh orang-orang yang tidak kompeten dalam
segala hal, termasuk yang akhlaknya buruk. Karena sudah barang tentu cepat atau lambat akan
membawa pada kehancuran. Apalagi belakangan ini kita banyak mendengar keluhan-keluhan orang tua,
ahli-ahli pendidik dan orang-orang yang berkecimpung dalambidang agama dan social, anak- anak
terutama yang sedang berumur belasan tahun dan mulai remaja, banyak yang sukar dikendalikan, nakal,
keras kepala, berbuat keonaran, maksiat dan hal-hal yang mengganggu ketenteraman umum.

2. Kenakalan Remaja

Dalam masa ini perlu diimplementasikan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda negeri ini.
Krisis tersebut antara lain adalah pergaulan bebas yang semakin meningkat, seperti penyalahgunaan
obat-obatan terlarang (narkoba) dan pornografi. Selain dua kasus tersebut, saat ini juga marak terjadi
kekerasan terhadap anak dan remaja, pencurian, kebiasaan menyontek, serta tawuran yang sudah
menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Masalah kenakalan remaja telah menjadi salah satu masalah pokok yang dihadapi oleh sebagian besar
masyarakat terutama masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Selain frekuensi kejadiannya yang
cenderung terus meningkat, kualitasnya juga terus meningkat. Kenakalan di kalangan remaja yang pada
awalnya berupa tawuran pelajar antar sekolah dan perkelahian dalam sekolah, saat ini semakin
mengarah pada tindakan-tindakan yang tergolong sebagai tindak kriminalitas seperti pencurian,
pemerkosaan hingga penggunaan narkoba. Fenomena kenakalan dan kriminalitas di kalangan remaja
dewasa ini perlu menjadi perhatian tersendiri.

Kemudian masalah moralitas dan seks di luar nikah yang menjadi masalah kronis bagi remaja pada saat
ini. Jika kita menganalisis data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang terdapat, 32
persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar di Indonesia pernah berhubungan seks.
Seksualitas adalah aspek penting dalam kehidupan manusia. Ketidak tahuan terhadap masalah ini, dapat
mengakibatkan permasalahan yang lebih kompleks dalam segala bidang kehidupan. Seperti beredarnya
penyakit menular seksual, kejahatan seksual, perilaku seksual menyimpang dan sebagainya. Dampak
negatif lebih besar yang dapat terjadi akibat masalah seks ini adalah hancurnya suatu bangsa, yang
moral penduduknya rusak karena terjerumus masalah seksualitas yang salah.
F. Model Pendidikan Karakter Bagi Remaja

Setelah mengetahui penyebab merosotnya moral, seperti yang telah kita bahas diatas, menunjukan
betapa pentingnya Pendidikan karakter moral bagi bagi anak anak khususnya remaja dan betapa pula
besarnya bahaya yang terjadi akibat kurangnya moral. Sehubungan dengan itu, maka Pendidikan nilai
moral harus di intensifkan dan perlu dilaksanakan serentak di lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat. Adapun model-model yang bisa dilaksanakan yaitu :

1. Pendidikan Nilai Moral dalam keluarga

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan nilai moral bagi anak-anaknya,
termasuk nilai dan moral dalam beragama.. Untuk melaksanakannya, orang tua sebagai tokoh- tokoh
inti dalam keluarga itu terlebih dulu harus menciptakan iklim religius dalam keluarga itu, yang dapat
dihayati seluruh anggotanya, terutama anak-anaknya. Model Pendidikan nilai moral dalam keluarga
antara lain :

a) pendidikan moral harus dilaksanakan sejak anak masih kecil, dengan jalan membiasakan
mereka kepada peraturan dan sifat yang baik, benar, jujur dan adil.
b) Pendidikan moral yang paling baik terdapat dalam agama, karena nilai moral yang dapat
dipatuhi dengan suka rela tanpa ada paksaan dari luar hanya dari kesadaran sendiri, itu
datangnya dari keyakinan beragama
2. Pendidikan Nilai Moral di Sekolah

Sekolah merupakan tempat yang sangat penting dalam pembinaan moral anak setelah keluarga. Guru di
sekolah merupakan orang tua kedua setelah Ibu-Bapak dalam keluarga. model pendidikan moral yang
dapat dilaksanakan disekolah antara lain:

a) Pendidikan agama, harus dilakukan secara intensif, ilmu dan amal supaya dapat dirasakan oleh
anak didik di sekolah. Karena apabila pendidikan agama diabaikan atau diremehkan oleh
sekolah, maka didikan agama yang diterimanya di rumah tidak akan berkembang.
b) Pergaulan anak didik hendaknya mendapat perhatian dan bimbingan dari guru supaya
pendidikan itu betul-betul pembinaan yang sehat bagi anak-anak.
c) Sekolah harus dapat memberikan bimbingan dalam pengisian waktu luang anak dengan
menggerakkannya kepada aktivitas yang menyenangkan, tapi tidak merusak dan tidak
berlawanan dengan ajaran agama.
3. Pendidikan Nilai Moral di Masyarakat

Lingkungan masyarakat juga sangat besar pengaruhnya terhadap moral anak-anak. Bagaimana pun
baiknya pendidikan keluarga dan sekolah, kalau lingkungan masyarakatnya buruk akan besar
pengaruhnya terhadap moral anak-anak. Oleh karena itu, diperlukan model pendidikan nilai moral
dalam masyarakat, sebagaimana dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Model Pendidikan yang dapat
dilaksanakan di lingkungan masyarakat antara lain :
a) Mengusahakan supaya masyarakat, termasuk pemimpin dan penguasanya menyadari akan
pentingnya pendidikan anak, terutama pendidikan agama.
b) Mengintensifkan pendidikan agama, baik bagi anak maupun orangtua, karena keyakinan
beragama yang dirasakan atas pengertian dan pengalaman yang sungguh-sungguh akan dapat
menjaga merosotnya moral dan menjamin ketenteraman dan ketenangan jiwa.
c) Sebelum menghadapi pendidikan anak, maka masyarakat yang telah rusak moralnya perlu
diperbaiki mulai dari diri sendiri, keluarga dan orag terdekat pada kita. Karena kerusakan
masyarakat itu sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan moral anak.

G. Tujuan Umum Pendidikan Agama Islam Bagi Remaja

Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan atau karakter yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Tujuan Pendidikan
agama diantaranya :

1. Terbentuknya kepribadian yang utuh jasmani dan rohani (insan kamil) yang tercermin dalam
pemikiran maupun tingkah laku terhadap sesama manusia, alam serta Tuhannya, dapat
menghasilkan manusia yang tidak hanya berguna bagi dirinya, tapi juga berguna bagi
masyarakat dan lingkungan, serta dapat mengambil manfaat yang lebih maksimal terhadap alam
semesta untuk kepentingan hidup di dunia dan akhirat.
2. Merupakan sumber daya pendorong dan pembangkit bagi tingkah laku dan perbuatan yang
baik, dan juga merupakan pengendali dalam mengarahkan tingkah laku dan perbuatan manusia.
3. Membentuk kepribadian seseorang agar berperilaku jujur, baik dan bertanggungjawab,
menghormati dan menghargai orang lain, adil, tidak diskriminatif, egaliter, pekerja keras dan
karakter-karakter unggul lainnya.

H. Faktor-faktor Pengamalan Keagamaan Pada Remaja

Menurut Thouless (1992) dinamika perkembangan religiusitas remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor,
faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain :

1. Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial, tradisi-tradisi sosial,
tekanan lingkungan sosial, tekanan lingkungan sosial yang disepakati oleh lingkungan itu.
2. Berbagai pengamalan yang membentuk sikap keagamaan terutama pengamalan-pengamalan
mengenai keindahan, keselarasan, dan kebaikan dunia ini, serta konflik oral dan pengalaman
emosi beragama.
3. Kebutuhan yang belum terpenuhi terutama kebutuhan keamanan, cinta kasih, harga diri serta
adanya ancaman kematian.
4. Berbagai proses pemikiran verbal atau factor intelektual.

Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan
dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan ke dalam bentuk peribadatan kepada Allah. Penyebab
terjadinya problematika pengamalan keagamaan pada anak diantaranya :

1. Lingkungan keluarga dan kurangnya perhatian orang tua.


2. Kurangnya pengetahuan terhadap pengamalan keagamaan.
3. Kemalasan.
4. Bergaul dengan teman-teman yang amoral.
5. Kerusakan moral.
6. Anggapan bahwa ibadah mengganggu aktivitas individual.
7. Sombong dan takabur.
8. Kebiasaan menunda pekerjaan
9. Lemah idiologi.
10. Perilaku buruk sebagian tokoh agama.

Common questions

Didukung oleh AI

Islamic Education in Indonesia faces several challenges that impact its contribution to national progress: 1) Socio-cultural Diversity: The diverse cultural backgrounds and varying interpretations of Islamic teachings can lead to inconsistencies in educational outcomes . 2) Resource Allocation: There is often insufficient investment in educational infrastructure, which limits the effectiveness of delivering comprehensive religious and secular education . 3) Relevance to Modern Contexts: Adapting traditional Islamic teachings to align with modern educational needs and global challenges, such as technological advancements, remains a significant task . 4) Socio-political Factors: Balancing religious education within a secular governance framework without losing the essence of spiritual teachings poses another challenge . Addressing these obstacles requires strategic policy interventions and a commitment to embrace inclusive and holistic educational reforms.

Peer influence and family upbringing interact closely to shape an adolescent's religious and moral development. Families instill foundational values, religious beliefs, and moral principles through direct teaching and modeling behavior . This primary influence provides a basis for adolescents to interpret and respond to peer norms and pressures. Peers, on the other hand, contribute to socialization by either reinforcing family-taught morals or challenging them, depending on the peer group’s behavior . For instance, surrounding oneself with peers who embody similar values reinforces positive behaviors modelled at home, as illustrated by the Hadith comparing good and bad companions . This dynamic interaction suggests that adolescents' moral resilience or susceptibility is significantly shaped by the alignment or conflict between peer influence and family upbringing, necessitating cohesive guidance from both spheres.

In the Indonesian context, Islam is intricately linked with national identity, reflecting in educational objectives that aim to embody dual allegiance: Islamic values and national ideals. Islamic Education strives to cultivate citizens who are conscious of their religious duties while being patriotic to Indonesia, where Islam acts as a unifying identity that complements national character . This dual focus is evident in the curricular design that promotes spiritual-patriotic education, fostering individuals who uphold national integrity and contribute to societal progress in harmony with Islamic ethical principles. The concept of the “insan kamil” in education exemplifies this dual commitment: developing well-rounded individuals with strong religious, moral, and civic foundations .

Islamic Education plays a vital role in addressing adolescent delinquency by providing a structured framework for moral and ethical guidance. Islamic teachings emphasize accountability, discipline, and community service, which directly counteract tendencies towards delinquency . Offering religious education that fosters understanding, respect, and self-discipline helps mitigate factors contributing to delinquent behavior, such as lack of moral guidance and peer pressure . By stressing values like empathy, responsibility, and conscientiousness through both theoretical learning and practical applications, Islamic Education aids in cultivating dispositions that deter engagement in delinquency . Furthermore, involving family and community in these educational endeavors strengthens the collective influence on adolescent behavior, creating an environment where positive peer relationships and family support reduce the likelihood of delinquent acts. Thus, Islamic Education not only addresses immediate behavioral issues but also instills long-term values that promote constructive community participation.

To foster moral values among adolescents through Islamic Education, several pedagogical strategies are proposed: 1) Integrative Learning: Combining religious teachings with contemporary issues to enhance relevance and applicability . 2) Role Modeling: Teachers and community leaders set moral examples through behavior that students can emulate, reinforcing good character and practice (Bandura's social learning). 3) Interactive Pedagogy: Engage students in discussions, role plays, and community projects that challenge ethical reflections and moral reasoning . 4) Consistent Reinforcement: Utilizing rituals, regular religious practices, and reflection sessions to solidify moral values . 5) Value Clarification: Encouraging students to reflect on their values and believe in them actively through personal experiences . These approaches aim to interlink cognitive, emotional, and behavioral components of moral education, providing a comprehensive foundation for moral development.

Islamic Education plays a critical role in addressing the moral decay among Indonesian adolescents by emphasizing strong moral foundations through comprehensive value education. It operates at multiple levels: family, school, and community, where moral teachings intertwined with Islamic faith are inculcated . At the family level, parents play a vital role by fostering a religious atmosphere and modeling moral behavior . In schools, intense religious instruction helps reinforce moral values and ethical behavior . The broader community provides support through religious rituals and social norms promoting moral values . Collectively, these elements create a cohesive environment for adolescents to navigate moral challenges, thereby preventing moral decay. Thus, Islamic Education serves as a cornerstone for moral resilience, fostering individuals who can positively contribute to societal well-being.

Parental religiosity significantly impacts the religious development of adolescents. The study by French et al. (2013) indicates a strong relationship between the religiosity of parents and their children, with parental warmth during upbringing acting as a moderating factor . This means that parents who exhibit religious behaviors and provide a nurturing and caring environment are more likely to cultivate a similar level of religious commitment in their children. Additionally, the style of parenting—authoritative being preferred—affects how the child adopts and expresses their religious beliefs .

'Fitrah' refers to the natural state of purity and inclination towards the divine present at birth. In family settings, it suggests that parents bear the primary responsibility for nurturing education according to Islamic teachings, aligning with the Quran and Hadith . Parents influence their child's moral, emotional, and social development, as well as religiosity, through deliberate upbringing practices that reinforce their faith from an early age. Maintaining the 'Fitrah' in children ensures that they grow without external influences that could lead astray, as supported by Hadith reporting that a child is born with 'Fitrah,' and it is the parents who shape their religious identity .

In the socio-religious context of Indonesia, Islamic Education (Pendidikan Agama Islam or PAI) has several key responsibilities: 1) Epistemological: PAI champions a commitment to knowledge that propels national progress, as stated in the Quran (Al-Maidah: 11). 2) Sociological: PAI holds the specific duty to contribute to the nation's advancement by inspiring adherents to be industrious and spiritually devoted, ensuring that all efforts are within the framework of faithfulness and the pursuit of Allah's pleasure (Al-Hasyr: 18). 3) Historical: PAI serves as a breeding ground for intellectual talents, aimed at reviving the glory of Islamic civilization by producing intellectuals with integrity . 4) Socio-historical: It acts as a national icon that integrates the Islamic and national identities of Indonesian Muslims . 5) Conflict prevention: PAI is crucial in promoting a peaceful, optimistic Islamic teaching, thereby reducing fear and mitigating intra-faith conflicts .

Adolescent religious identity development is influenced by various dimensions of religiosity: 1) Ideological or belief-based religiosity frames cognition about religious tenets . 2) Ritualistic religiosity involves participating in religious practices, which reinforces routine and community belongingness . 3) Experiential religiosity provides personal encounters with the divine, strengthening emotional aspects of faith . 4) Intellectual religiosity involves acquiring knowledge about religious doctrines, promoting a deeper understanding and internalization . 5) Consequential religiosity examines the translation of belief into action, impacting moral and ethical behavior in social contexts . Each dimension contributes uniquely to equilibrating personal belief, practice, and community involvement in adolescents. These factors synthesizes to complete an individual's comprehensive religious identity.

Anda mungkin juga menyukai