Permainan Jaring Hip Hop dan Sepak Sila
Permainan Jaring Hip Hop dan Sepak Sila
PROPOSAL SKRIPSI
Disusun Oleh
ARDIAN FIRDA
20060464020
Ardian Firda
Usulan Penelitian oleh :
20060464020
NIM :
Penerapan Permainan Jaring Hip Hop
Judul :
Terhadap Hasil Belajar Sepak Sila
Surabaya, ……………………
Pembimbing
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahuwata’ala atas berkat,
rahmat dan hidayah-Nya oleh karena itu penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi
ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad
Shalallahu’alaihiwasallam. Penulisan skripsi ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan program Sarjana S1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan
Rekreasi,Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Surabaya.
Dalam proposal skripsi ini penulis mengangkat judul “PENERAPAN PERMAINAN
JARING HIP HOP TERHADAP HASIL BELAJAR SEPAK SILA ” Perkenankan penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam
penyusunan tugas akhir ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, [Link]., [Link]. selaku Dekan Fakultas Fakultas Ilmu
Keolahragaan dan Kesehatan, UNESA
2. Mochamad Ridwan, S. Pd., M. Pd selaku kaprodi S1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan,
dan Rekreasi
3. Mochamad Ridwan, S. Pd., M. Pd selaku dosen pembimbing skripsi
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih kurang sempurna. Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan
proposal skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Surabaya,10 Oktober 2023
Penulis
ii
DAFTAR ISI
halaman
iii
DAFTAR GAMBAR
iv
DAFTAR TABEL
v
DAFTAR LAMPIRAN
vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkat rasa bosan pada peserta didik dalam mata pelajaran pendidikan
jasmani olahraga dan kesehatan dimateri sepak sila cenderung mendominasi pada
kelas, hal ini dikarenakan kurangnya variasi pada proses pembelajaran. Peran guru
lebih dibutuhkan dalam proses aktifitas di sebuah kelas, permasalahanya peran guru
sebagai penanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran dikelas ataupun diluar
cenderung tidak memperhatikan metode pembalajaran yang efektif (Wibowo, 2016).
Permasalahan yang sering dihadapi dunia pendidikan adalah lemahnya proses
pembelajaran. Proses kegiatan belajar mengajar, siswa lebih banyak belajar secara
teori (Abdillah, 2021). Pembelajaran di kelas lebih diarahkan pada kemampuan anak
untuk memahami materi pelajaran. Teori yang di pelajari siswa kurang adanya
penerapan dalam kehidupan sehari- hari. Masalah seperti ini menyebabkan siswa
kurang mengerti lebih dalam dari materi suatu pelajaran (Teni Nurrita, 2018).
Permasalahan yang ada pada pembelajaran Pendidikan jasmani, olahraga dan
kesehatan untuk materi bola besar seperti sepak takraw di lingkungan sekolah
adalah kurangnya metode pembelajaran pada kebutuhan siswa dalam praktik materi
sepak sila khususnya teknik dasar sepak sila (Suparman et al., 2022), hal tersebut
menyebabkan hasil belajar yang tidak maksimal dalam menyerap materi dan
bermain sepak takraw (Jasmani et al., 2013).
Metode permainan jarring hip hop pada permainan sepak sila diterapkan pada
tingkat pendidikan sekolah menengah atas, kelebihan dari permainan ini yaitu
meningkatkan fleksibiltas gerakan kaki, menambah gerakan semakin cepat,
menambah aktivitas belajar dari peserta didik, membuat peserta didik lebih
semangat dalam belajar dan menambah keahlian dipermainan sepak takraw.
Permainan jaring hip hop pada permainan sepak sila juga tidak membuat peserta
didik merasakan sakit dari bola sepak takraw Karena menggunakan bola dari
plastik. Pendidikan sendiri merupakan upaya untuk meningkatkan ilmu
1
pengetahuan yang diperoleh dari lembaga formal dan informal untuk menghasilkan
manusia yang berkualitas. Mutu pendidikan yang baik ditentukan dari tujuan
pendidikan yang tepat. Tujuan pendidikan Pendidikan memiliki peran penting
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Diki Maulansyah et al., 2023).
Proses penentuan tujuan pendidikan memerlukan penelitian yang cermat, teliti dan
menyeluruh agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Tujuan pendidikan
yang memandang moralitas sebagai landasan yang sangat penting dalam setiap
peradaban bangsa.
Pendidikan pada dasarnya urutan proses yang berkelanjutan dan tak pernah
berujung, oleh karena itu akan menghasilkan kualitas yang berkesinambungan, demi
mengarah pada masa yang akan datang serta berakar pada nilai-nilai budaya bangsa
serta pancasila (Syafitri et al., 2023). Tujuan pendidikan nasional dalam pembukaan
UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa Kecerdasan yang dimaksud
disini bukan sekadar kecerdasan yang ditujukan pada kecerdasan intelektual,
melainkan kecerdasan global yang mengandung makna lebih luas. Sebagaimana
tercantum dalam didalam undang-undang No. 20 Tahun 2003 (Syafitri et al., 2023)
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 berbunyi: “bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.” (Aziizu, 2015). Tujuan pendidikan dapat diartikan lebih luas menjadi sebuah
tatanan untuk mengatur sikap dan perilaku warga negara menjadi yang baik, karena
pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju ke
arah cita-cita yang diinginkan.
Masalah pokok bagi pendidikan ialah memiliki sebuah tindakan agar dapat
mencapai sebuah tujuan dan juga untuk menyediakan lingkungan yang
memungkinkan siswa untuk mengembangkan potensi, bakat dan kemampuannya
yang optimal, sehingga mereka mampu mewujudkan dirinya dan berfungsi
sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya dalam meraih prestasi maupun
kebutuhan dalam masyarakat. Tujuan pendidikan secara umum menurut
(Syahbudin et al., 2023) adalah mewujudkan perubahan positif yang diharapkan
2
pada peserta didik setelah menjalani proses pendidikan, baik perubahan pada
tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun pada kehidupan
masyarakat dan alam sekitarnya dimana subjek didik menjalani kehidupan.
Pendidikan sekarang semakin berkembang baik secara isi, bentuk dancara
penyelenggaraan yang dilakukan, proses pembelajaran dilakukan tanpa melihat
tempat maupun usia, karena pendidikan merupakan proses yang terjadi sepanjang
hayat, dari seorang anak dilahirkan hingga akhir hidupnya.
Pendidikan memiliki peranan penting dalam didalam kehidupan dan
kemajuan manusia. Proses pendidikan yang diperoleh seorang anak dapat
mendukung perkembangan jasmani maupun rohani anak bila ditempuh sesuai
dengan keterampilan yang dikuasai dan sesuai dengan bidang yang digeluti agar
mereka menjadi manusia yang mendapat kebahagiaan yang tinggi. Pendidikan
jasmani, olah raga dan kesehatan (selanjutnya disingkat PJOK) pada dasarnya adalah
suatu proses pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani untuk menciptakan
perubahan menyeluruh dalam kualitas pribadi, baik jasmani, rohani, jasmani, mental
dan emosional. Mata pelajaran Pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan
merupakan hasil dari aktivitas fisik yang memengaruhi kinerja, daya tahan, dan
kekuatan tubuh.
Pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan menurut (Zalal et al., 2023)
merupakan sarana untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis,
motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (mental-emosional-
olahraga-spiritual-sosial), serta mesmbentuk kebiasaan hidup sehat yang efektif
untuk merangsang pertumbuhan dan keseimbangan perkembangan kualitas fisik
dan psikologis (Purnama, 2020). Belajar efektif menurut (Adawiyah et al., 2023)
adalah proses belajar mengajar yang berhasil berguna, dan proses pembelajaran itu
mampu memberikan pemahaman, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan kualitas
yang lebih baik serta dapat memberikan perubahan perilaku dan dapat diaplikasikan
atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga hasil dari pembelajaran itu
akan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Belajar yaitu hal yang
berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu
yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang,perubahan tingkah laku
3
itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan,kematangan
atau keadaan sesaat seseorang (Lestari et al., 2020). Kemandirian didasarkan pada
kecenderungan reaksi alami, kedewasaan, atau kondisi sementara seseorang
(misalnya kelelahan, efek obat, dan lain-lain) (Aedi, 2016). Proses belajar dan hasil
belajar dipengaruhi oleh dua faktorya itu faktor internal dan faktor ekstenal. Faktor
internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor ekternal adalah
faktor yang berasal dari luar siswa.
SMA Negeri 2 Lamongan merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas yang
berlokasi di lamongan, Kabupaten Lamongan. SMA Negeri Lamongan adalah
sekolah yang memiliki daya minat dan mempunyai banyak prestasi. SMA Negeri 2
Lamongan menjelaskan bahwa tugas sebuah instansi atau sekolah salah satunya
merupakan mengembangkan pribadi anak didik secara menyeluruh dengan
melakukan proses pembinaan yang lebih baik. SMA Negeri 2 Lamongan
memberikan fasilitas sarana prasana untuk menunjang proses pembelajaran.
Kurikulum pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang dijadwalkan seminggu
satu kali dengan alokasi waktu 3 x40 menit. Semua siswa kelas XII IPS 1 dan XII IPS
3 berantusias dalam pembelajaran ini, hal ini dikarenakan juga dalam kelas XII IPS 1
dan XII IPS 3 termasuk dalam usia remaja dan termasuk dalam usia produktif,
peneliti mengambil sampel kelas XII IPS 1 dan XII IPS 3.
Berdasarkan pengamatan peneliti pada waktu pengenalan lapangan
persekolahan, yang dilakukan di kelas XII IPS 1 dan XII IPS 3 SMA Negeri 2
Lamongan tampak bahwa pada siswa perlu mendapat perhatian lebih, Ada banyak
hambatan yang biasa dihadapi oleh pelajar dan yang paling umum adalah karena
rasa malas. Banyak hal yang membuat siswa tidak ada dorongan motivasi untuk
belajar, karena siswa menganggap belajar itu hal yang tidak menarik, membosankan,
tidak jelas tujuannya untuk apa (Adawiyah et al., 2023). Fenomena ini terlihat dari
antusiasme, kesadaran, keaktifan dalam belajar dan mengutarakan ide sebagai upaya
siswa untuk memahami materi pada saat proses pembelajaran berlangsung masih
kurang, seperti dalam pembelajaran olahraga khususnya pada materi sepak sila
banyak siswa yang kurang berminat dan mempunyai nilai pengamatan/tugas yang
tidak bagus.
4
Fenomena yang terjadi membuat peneliti tertarik untuk menerapkan
permainan jaring hip hop pada materi sepak sila, Sepak takraw olahraga yang cukup
popular didunia maupun dikalangan masyarakat (Putra, 2020). Permainan Sepak
takraw bola dikembalikan ke lapangan lawan menggunakan kaki, kepala, dan badan
(Abdillah, 2021). Keunggulan dalam permainan jala hip hop dalam permainan
takraw adalah suatu permainan menggunakan bola yang terbuat dari rotan, lalu
dimainkan di atas lapangan yang berukuran 44 kaki yakni panjangnya 13,42 m, dan
20 kaki lebarnya 6,1 m. kemudian ditengah-tengah dibatasi oleh jaring atau yang
dikenal net seperti dalam permainan bola voli (Abdillah, 2021). Teknik dasar sepak
takraw antara lain adalah sepakan, menyundul, mendada, memaha, dan membahu
(Edukatif et al., 2018).
Teknik sepakan (menyepak) merupakan teknik utama dari yang paling banyak
digunakan dalam permainan sepak takraw (Tamrin, 2018). Permainan ini
merupakan permainan yang dikerjakan secara sederhana baik dari segi permainan,
bola maupun lapangan yang digunakan. Kenggungulan dari pengembangan ini
yaitu bola yang digunakan adalah bola plastik, sehingga anak tidak merasa tersiksa
saat melempar dan mempasing bola, sedangkan jaringnya terbuat dari tali karet dan
akan berbunyi hip hop, pada penelitian ini yang memebedakan dari peneltian lainya
merupakan penggunaan metode permainan yang sederhana, menggunakan bahan
dan alat yang tidak membuat peserta didik sakit dan juga pada permainan ini bisa
memberikan dampak yang positif seperti semakin aktif dan bisa memberikan
dampak positif terhadap hasil belajar, dengan menggunakan metode pembelajaran
yang inovatif nantinya dapat digunakan secara maksimal untuk meningkatkan
proses pembelajaran serta prestasi siswa. Perbedaan kemampuan masing-masing
guru dalam menyampaikan materi pembelajaran serta kemampuan masing-masing
siswa dalam menangkap materi yang disampaikan oleh guru dapat mempengaruhi
efektifitas dari jalannya proses pembelajaran. Guru harus dapat memilih metode
pembelajaran yang tepat agar materi yang disampaikan dapat benar-benar dipahami
oleh siswa. Berdasarkan pemaparan diatas peneliti tertarik untuk meneliti pada
pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dengan judul “Penerapan
Permainan Jaring Hip Hop Terhadap Hasil Belajar Sepak Sila”.
5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan batasan masalah di atas,
maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana kelayakan instrumen penelitian yang dibuat untuk siswa kelas kelas
XII IPS 1 dan XII IPS 3 di SMAN 2 Lamongan?.
2. Apakah penerapan permainan jarring hip hop berpengaruh terhadap hasil belajar
pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan kelas XII IPS 1
dan XII IPS 3 di SMAN 2 Lamongan?.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan merupakan salah satu alat kontrol yang dapat dijadikan sebagai
petunjuk agar penelitian ini dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan.
Berdasarkan perumusan masalah maka tujuan diadakan penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui kelayakan metode permainan jaring hip hop pada penelitian
yang dibuat untuk siswa kelas kelas XII IPS 1 dan XII IPS 3 di SMAN 2 Lamongan
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada permainan hip hop untuk siswa
SMAN 2 Lamongan.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Secara Teoritis
Pada Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah
mengenai Penerapan Permainan Jaring Hip Hop Terhadap Hasil Belajar Sepak
Sila.
b. Secara Praktis
1. Bagi sekolah
Pada penelitian bisa menjadi informasi dan data bagi SMAN 2 Lamongan
pentingnya meningkatkan hasil belajar siswa dalam pada mata pelajaran
pendidikan jasmani, olaharaga dan kesehatan.
2. Bagi guru
6
Pada penelitian yang dilakukan diharapkan bisa memperoleh sebuah
data, informasi serta bahan evaluasi untuk memberikan pembelajaran yang
optimal dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, olaharaga dan
kesehatan.
3. Bagi siswa
Manfaat penelitian untuk siswa dapat membantu meningkatkan motivasi
belajar dan hasil belajar, mempermudah memahami materi yang disampaikan
pada pembelajaran .
4. Bagi penulis
Menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal
apabila nanti menjadi tenaga pendidik, juga menguji kemampuan terhadap
bekal teori yang didapat dibangku kuliah.
E. Batasan Penelitian
Permasalahan yang telah diidentifikasi, selanjutnya dari penelitian ini akan
dilakukan batasan masalah yaitu fokus untuk penerapan permainan jaring hip hop
pada sepak sila dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa SMAN 2 Lamongan.
F. Asumsi Penelitian
Penelitian yang dilakukan pastinya mempunyai asumsi, menurut (Firdaus et
al., 2023) Asumsi atau anggapan merupakan perkiraan atau kesimpulan sementara
oleh peneliti yang belum dibuktikan melalui sebuah penelitian. Asumsi yang
dikemukaan oleh peneliti adalah penerapan permainan jaring hip hop pada sepak
sila mempunyai pengaruh besar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran
pendidikan jasmani, olaharaga dan kesehatan.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari keseluruhan proses
pendidikan, menurut (Dai et al., 2022) pendidikan jasmani bertujuan untuk
meningkatkan kinerja manusia melalui media kegiatan fisik yang telah dipilih
dengan tujuan untuk mewujudkan hasilnya. Pendidikan jasmani memberikan
kesempatan anak untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus
mengembangkan potensi anak, dalam aspek fisik, mental sosial, emosional dan
moral (Zalal et al., 2023). Pendidikan jasmani merupakan tahap proses pendidikan
total, membantu dalam mewujudkan tujuan dari pendidikan, Pendidikan jasmani
juga merupakan suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang
dirancang untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan
keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku gaya hidup yang sehat, aktif,
dan spiritual, atletis, dan kecerdasan emosional. Pendidikan jasmani merupakan
satu-satunya mata pelajaran dimana anak mempunyai kesempatan untuk
memperoleh keterampilan motorik dan memperoleh pengetahuan untuk
berpartisipasi dalam berbagai aktivitas fisik, hal ini juga erat kaitannya dengan
pendidikan olahraga karena berhasil mensimulasi komunitas olahraga yang ada,
menuju lingkungan belajar yang mencakup aspek elite, atletik, eksklusif dan
individualism (Mustafa & Dwiyogo, 2020).
Tujuan kebijakan pendidikan jasmani di Indonesia adalah: (1)
Mengembangkan keterampilan manajemen diri dengan tujuan mengembangkan
dan memelihara kebugaran jasmani dan pola hidup sehat melalui aktivitas fisik
lainnya baik secara individu maupun atlet putri terpilih; (2) Pertumbuhan fisik
dan perkembangan psikis yang lebih baik; (3) Meningkatkan keterampilan dan
kemampuan dasar motorik; (4) Membangun landasan karakter moral yang kuat
dengan menanamkan nilai-nilai dalam pendidikan jasmani, olahraga, dan
8
kesehatan; (5) Menumbuhkan semangat sportivitas, kejujuran, disiplin, tanggung
jawab, kerjasama, percaya diri, demokrasi; (6) Mengembangkan keterampilan
menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan; (7) Pemahaman
konsep aktivitas jasmani dan olah raga dalam lingkungan yang bersih bersifat
informatif untuk mencapai pertumbuhan jasmani yang sempurna, pola hidup
dan kebugaran yang sehat, keterampilan dan sikap yang positif (Mustafa &
Dwiyogo, 2020).
a. Tujuan Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan
Pokok-pokok Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani
menurut (Mustafa & Dwiyogo, 2020) mencakup empat komponen, yakni :
a. komponen organik, merupakan gambaran tujuan aspek fisik dan psikomotor
yang harus dicapai pada setiap proses pembelajaran, yang meliputi;
kapasitas fungsional dari organ-organ seperti daya tahan jantung dan otot.
b. komponen neuromuskuler merupakan gambaran tujuan yang meliputi
aspek kemampuan unjuk kerja keterampilan gerak yang didasari oleh
kelenturan, kelincahan, keseimbangan, dan kecepatan.
c. komponen intelektual, merupakan gambaran yang dapat dipadankan
dengan kognitif
d. komponen emosional, merupakan gambaran yang dapat dipadankan
dengan afektif Jika mengamati tujuan mata pelajaran Pendidikan Jasmani,
Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut:
1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya
pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup
sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih
2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih
baik.
3) pengembangan pengalaman belajar (Mustafa & Dwiyogo, 2020).
4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-
nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan
kesehatan.
9
5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab,
kerjasama, percaya diri dan demokratis
6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri,
orang lain dan lingkungan
7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang
bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang
sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap
yang positif.
b. Manfaat Pendidikan Jasmani, Olargara dan Kesehatan
Pendidikan jasmani sangat penting karena melibatkan aktivitas motorik
secara langsung. Itulah mengapa, pendidikan jasmani tidak boleh disepelekan
atau dinomorduakan (D. Pranata & Kumaat, 2022). Berikut ini beberapa tujuan
pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk peserta didik:
1. Pembentukan Tubuh
Peranan pendidikan jasmani terhadap pembentukan tubuh, dapat
dilihat dari semua bentuk pembelajaran materinya yang memerlukan
aktivitas fisik yang pasti melibatkan aktivitas otot.
2. Pembentukan Prestasi
Mencapai suatu prestasi maksimal banyak komponen fisik yang perlu
dipenuhi. Pembelajaran pendidikan jasmani adalah salah satu sarana untuk
membentuk dan mengembangkan komponen fisik.
3. Pembentuk Sosial
Kehidupan manusia tidak terlepas dari norma-norma kehidupan dan
tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan sosial. Dikehidupan sosial,
anak-anak akan tumbuh berkembang serta akan menemukan pribadinya
masing-masing. Ia akan menyadari keadaan dirinya, bahwa ia berada di
tengah-tengah manusia yang lainnya. Keadaan masa-masa berada di sekolah
anak-anak akan dapat merasakan terjadinya perubahan dan memperoleh
berbagai pengalaman, hal ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan perkembangan anak. Mereka tentu akan mengubah sifat-sifat dan
10
perhatiannya dari keadaan lingkungan keluarga kepada keadaan lingkungan
di sekolahnya.
4. Keseimbangan Mental
Kehidupan di zaman modern seperti sekarang ini, banyak tuntutan
yang serba kompleks hingga akan menimbulkan ketegangan-ketegangan
dan konflik-konflik batin yang serba tidak menentu.
5. Kecepatan Proses Berpikir
Proses pendidikan jasmani menuntut peserta didik untuk sensitiv
terhadap situasi yang dihadapinya. Mereka harus memiliki daya
pengindraan dan kecepatan di dalam proses berpikirnya, serta harus dapat
dengan segera mengambil suatu keputusan yang harus dilakukan dengan
cepat dan tepat, yaitu agar segera dapat bertindak dalam melakukan
kegiatannya sehingga tidak tertinggal oleh lawan-lawan bermainnya.
6. Pembentukan Kepribadian
Pelajaran pendidikan jasmani, hendaknya dapat dimanfaatkan oleh
anak-anak sebaik-baiknya dengan dibimbing dan dikembangkan, serta
diarahkan kepada halhal yang positif agar bermanfaat bagi kelangsungan
hidupnya.
11
Permainan sepak takraw terdiri dari beberapa teknik dasar, untuk dapat
bermain dengan baik, harus menguasai teknik dasar tersebut. Salah satu teknik
dasar dalam permainan sepak takraw, yaitu sepak Mula yang diperankan oleh
tekong. Teknik dasar ini sangat menentukan keberhasilan dalam suatu
pertandingan. Tekong yang menguasai sepak mula dengan benar, akan
membawah regunya berpeluang besar memenangkan pertandingan.
1) Lapangan peramainan Sepak Takraw kompetisi dimainkan di lapangan
berbentuk persegipanjang dengan permukaan lapangan yang rata (flat),
lapangan dapat dibuat di dalam gedung (in-door) ataupun di luar gedung
(out-door).
2) Panjang lapangan 13,4 meter dan lebar 6,1 meter. Lapangan dibuat di dalam
gedung, maka tinggi loteng (roof) minimal 8 meter dari lantai, dan lantai
tersebut terbuat dari kayu yang memiliki kelenturan. Kalau lapangan dibuat
di luar gedung sebaiknya lapangan tanah, bukan rumput/ pasir.
3) Garis pinggir lapangan (lines) ditandai dengan kapur / cat atau lakband
yang lebarnya 4 sentimeter diukur dari dalam lapangan, artinya bahwa garis
4 sentimeter tersebut berada dalam lapangan. Hal ini sesuai aturan
permainan kalau bola menyentuh garis dinyatakan masuk.
4) Luas lapangan 13,4 meter x 6,1 meter dibagi dua sama besar oleh garis
tengah (center line) lapangan yang ukurannya 2 cm
5) Disudut garis tengah pada kedua sisinya dibuat setengah lingkaran yang jari
- jarinya 90 sentimeter diukur dari garis sebelah dalam, sehingga terjadi 4
buah ¼ lingkaran.
6) Lingkaran tempat servis dibuat dengan jari-jari 30 cm, ditempatkan pada
kedua bagian lapangan, dengan jarak 2,45 m dari garis belakang (base-line),
4,25 meter dari garis tengah lapangan (centre-line), 3,05 meter dari garis tepi
(side-line).
7) Kedudukan tiang net minimal 30 sentimeter dari garis tepi lapangan diujung
pangkal garis tengah lapangan permainan.
12
8) Dalam pertandingan resmi, lapangan pertandingan harus bebas dari
hambatan permainan, minimal sejauh 3 meter dari batas lapangan kearah
luar (Wiliyan & Sepriani, 2023).
9) Perlengkapan permainan
Selain lapangan permainan, untuk melakukan permainan diperlukan
perlengkapan lapangan dalam bermain sepak takraw. Perlengkapan bermain
yang dibutuhkan meliputi:
a) Net / Jaring
Net terbuat dari benang kuat atau nilon, besarnya mata jaring
(lubangjaring) 6 - 8 cm. Panjang net yang merentangi lapangan 6,1 m,
sedangkan lebarnya 70 cm. Net diberi pita pada bagian atasnya selebar 5 cm.
Disamping itu net diberi pembatas samping, tepatnya diatas garis tepi kanan
dan kiri dengan lackband 5 cm.
13
Gambar 2. 2 net lapangan
b) Tiang Net / Tiang Jaring Tiang
Tiang net terbuat dari besi dengan diameter 4 cm, tertanam
kuatdilantai. Tinggi tiang net 155 cm. Sedangkan dalam pertandingan resmi,
tinggi net adalah sebagai berikut :
1) Putra, ditepi : 155 cm dan ditengah : 152 cm.
2) Putri, ditepi : 145 cm dan ditengah : 142 cm.
c) Bola Takraw Bola
Bola sepak takraw awalnya terbuat dari rotan, sedang yang
digunakansekarang terbuat dari plastik (synthetic fibre) terdiri dari 12 lubang,
20 titik persimpangan, dengan 9 - 11 anyaman. Bola yang digunakan untuk
pertandingan memiliki ukurannya sebagai berikut: 1) Lingkaran bola : putra
: 42 - 44 cm; putri : 43 - 45 cm. 2) Berat bola : putra : 170 - 180 gram; putri : 150
-160 gram. Saat ini dua merek bola yang standar digunakan secara resmi
dalampertandingan nasional maupun internasional, yaitu bola merek
“Marathon” buatan Thailand dan “Gajah Emas” buatan dari Malaysia
(Rijalul Fikri, 2022).
14
Gambar 2. 3 bola sepak takraw
3. Hasil Belajar
a. Pengertian hasil belajar
Belajar adalah suatu perubahan perilaku yang relatif permanen dan
dihasilkan dari pengalaman masa lalu ataupun dari pembelajaran yang
bertujuan atau direncanakan. Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
tiap individu dalam seluruh proses pendidikan untuk memperolah perubahan
tingkah laku dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan dan sikap, menurut
(Rahman, 2021) Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang
sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan.
Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan pengetahuan, namun proses mental
yang terjadi dalam diri seseorang. Menurut Rusman, belajar pada hakikatnya
adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu.
Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa
belajar merupakan perubahan tingkah laku yang dilakukan oleh individu
sehingga adanya penambahan ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap sebagai
rangkaian kegiatan menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya
(Nurrita, 2018).
16
Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh tiap individu dalam
seluruh proses pendidikan untuk memperolah perubahan tingkah laku dalam
bentuk pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Belajar adalah kegiatan berproses
dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis
dan jenjang pendidikan. Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang
dilakukan oleh individu sehingga adanya penambahan ilmu pengetahuan,
ketrampilan, sikap sebagai rangkaian kegiatan menuju perkembangan pribadi
manusia seutuhnya (Rahman, 2021). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar adalah hasil yang diberikan kepada siswa berupa penilaian
setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menilai pengetahuan, sikap,
ketrampilan pada diri siswa dengan adanya perubahan tingkah laku (Teni
Nurrita, 2018).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar yang baik harus dapat dilihat dari banyak faktor, mulai dari
faktor internal dan ekternal. Faktor internal merupakan factor yang berasal dari
diri sendiri sedangkan faktor eksternal berasal dari luar, adapun faktor yang
dapat mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1) Faktor internal
a) Motivasi
Motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai–nilai yang
mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai tujuan
individu. Sikap dan nilai tersebut merupakan suatu hal yang memberikan
kekuatan untuk mendorong individu dalam mencapai tujuan. Selain itu
motivasi dapat diartikan sebagai dorongan individu untuk melakukan
tindakan karena mereka ingin melakukannya. Apabila individu
termotivasi,mereka akan membuat pilihan yang positif untuk melakukan
sesuatu karena dapat memuaskan keinginan mereka (Khinta Sani Rahman
& Padli, 2020).
17
b) Potensi diri
Potensi adalah kemampuan fisik dan mental serta kelebihan
seseorang yang dapat dikembangkan apabila dilatih dan didukung oleh
fasilitas yang baik. Potensi diri jika dikembangkan dengan baik akan
memerikan sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain
c) Disiplin
Disiplin merupakan upaya memperbaiki perilaku individu agar
konsisten dengan prinsip dan sesuai dengan aturan dan norma yang telah
ditetapkan. Displin bisa membuat peserta didik lebih teratur dalam proses
belajar sehingga hasil yang didapatkan lebih baik jika bisa melakukan hal
itu.
2) Faktor eksternal
a) Lingkungan
Lingkungan belajar yang baik akan memberikan dampak positif
terhadap proses belajar, dari lingkungan ini memberikan pengaruh yang
besar dalam proses peserta didik dilingkup belajar, lingkungan yang baik
akan memberikan dampak baik bagi individu dan berlaku sebaliknya juga
apabila lingkungan belajar tidak baik bisa menghabmbat proses belajar
b) Fasilitas belajar
Selain lingkungan, fasilitas dalam belajar juga berperan untuk
mempermudah peserta didik agar bisa memaksimalkan proses belajarnya.
Fasilitas yang baik dan mampu mengakomodir kebutuhan peserta didik
dalam belajar bisa mempermudah peserta didik dalam belajar,
memberikan motivasi untuk selalu belajar dan bisa memberikan hasil
belajar yang maksimal
18
V Sd Bk Mabere. Hasil penelitian ini adalah Siswa yang tuntas pada observasi
awal sebesar 20% dan siswa yang tidak tuntas sebesar 80% selanjutnya siklus I
belum memuaskan, meskipun telah mengalami kenaikan dari tes awal yang
dilakukan sebelumnya. Pada siklus I mengalami ketuntasan sebesar 43% dan
ketidak tuntasan 57% dengan begitu telah mangalami peningkatan sebesar 23%.
Sedangkan pada siklus II mengalami ketuntasan sebesar 90% dan ketidaktuntasan
sebesar 10%. Maka dapat disimpulkan bahwa pada siklus 2 telah melewati batas
ketuntasan yaitu sebesar 80% dengan ini tidak perlu lagi melakukan siklus
berikutnya adapun selisih kenaikan persentase ketuntasan adalah sebesar 47%.
Hal ini ditandai dengan rata-rata nilai yang dicapai yakni 78.03, maka penelitian
ini tidak dilanjutkan lagi dan hipotesis tindakan yang diajukan dapat diterima jadi
melalui modifikasi bola dapat meningkatkan efektifitas juggling pada siswa kelas
V SD BK Mabere.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Ketut Ria Darmiyanti1, I Ketut Budaya Astra2, I
Made Satyawan3 pada tahun 2020 yang berjudul pengaruh model pembelajaran
kooperatif tipe student teams achievement division terhadap hasil belajar teknik dasar
sepak sila dalam permainan sepak takraw. Data hasil belajar dikumpulkan
melalui tes objektif, observasi dan unjuk kerja. Analisis data menggunakan Uji-t
dengan angka signifikansi yang diperoleh adalah p=0.012 < 0,05, yang
menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar teknik dasar sepak sila dalam
permainan sepak takraw (Astra & Satyawan, 2020).
3) Penelitian yang dilakukan oleh Muchammad Faizin pada tahun 2014 yang
berjudul penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student teams
achievment division (stad) terhadap hasil belajar sepak sila pada sepak takraw
(studi pada siswa kelas v sdn pademonegoro sidoarjo). Hasil penelitian adalah 1.
Terdapat perbedaan hasil belajar sepak sila dengan penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division (STAD) dalam
pembelajaran sepak sila SDN Pademonegoro kelas V Kabupaten Sidoarjo, dilihat
dari kenaikan pre-test dan post-test yaitu untuk kaki kanan meningkat
sebesar 11,11% dan untuk kaki kiri meningkat sebesar 2,35%. 2. Besarnya
19
perbedaan pembelajaran kooperatif Tipe Student Teams Achievement
Division (STAD) hasil belajar sepak sila kaki kanan untuk uji-t maka
didapatkan 7,294 sedangkan ttabel 2,048 jadi thitung > ttabel (7,294 > 2,048)
dan untuk kaki kiri didapatkan 2,116 sedangkan ttabel 2,048 jadi thitung >
ttabel (2,116 > 2,048) (8587-28146-1-PB [Link], n.d.).
4) Penelitian yang dilakukan oleh Suprayitno pada tahun 2018 dengan judul hasil
belajar sepak sila permainan sepak takraw (Studi Ekperimen Tentang Pengaruh
Gaya Mengajar Dan Kemampuan Motorik Pada Mahasiswa PJKR FIK Unimed).
Secara keseluruhan, terdapat perbedaan yang signifikan antara gaya mengajar
resiprokal dengan gaya mengajar latihan terhadap hasil belajar sepak sila
permainan sepak takraw. 2) Terdapat interaksi antara gaya mengajar dengan
kemampuan motorik terhadap hasil belajar sepak sila permainan sepak takraw.
(3) Kelompok siswa yang memiliki kemampuan motorik tinggi diajar dengan gaya
mengajar resiprokal (A1B1) lebih tinggi hasil belajar sepak sila permainan sepak
takraw dari kelompok siswa yang memiliki kemampuan motorik tinggi diajar
dengan metode latihan (A2B1). (4) Kelompok siswa yang memiliki kemampuan
motorik rendah diajar dengan gaya mengajar resiprokal (A1B2) lebih rendah hasil
belajar sepak sila permainan sepak takraw dari siswa yang memiliki kemampuan
motorik rendah yang diajar dengan gaya mengajar latihan (A2B2) (Edukatif et al.,
2018).
5) Penelitian yang dilakukan oleh I Kadek Yudha Pranata 1)*, I Putu Eri Kresnayadi
2), I Gede Agus Adi Saputra 3), Agustinus pada tahun 2023 dengan judul
Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Course Riview Horay (CRH)
untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw.
hasil tersebut diperoleh rata-rata aktivitas belajar secara klasikal adalah 5,18.
Sebagian siswa baru memenuhi 5 sampai 6 dari 12 indikator yang di observasi,
dan aktivitas siswa berada pada kategori kurang aktif kemudian meningkat pada
siklus II menjadi 4 siswa (10,5%) berada kategori sangat aktif, 34 siswa (89,5%)
berada kategori aktif. Rata aktivitas belajar secara klasikal pada siklus II sebesar
7,58. Tingkat ketuntasan hasil belajar menimang bola sepak takraw yaitu 4 siswa
(10,5%) tuntas, dan 34 siswa (89,5%) yang tergolong tidak tuntas kemudian
20
meningkat pada siklus II menjadi siswa tuintas sebanyak 35 (92,10%) dan siswa
tidak tuntas sebanyak 3 siswa. Peningkatan hasil sepak sila sepak takraw pada
siklus II secara klasikal yaitu 83,52 berada pada rentang 75-89 yaitu kategori baik
(I. K. Y. Pranata et al., 2023).
6) Penelitian yang dilakukan Dony Setiawan pada tahun 2014 dengan judul Hasil
analisis data menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan pada media
pembelajaran bola plastik terhadap hasil belajar sepak sila. Hal ini berdasarkan
dari hasil tes sepak sila setelah diberi perlakuan (treatment), dimana mean posttest
lebih besar dari mean pretest (17,5 > 14,3), hal ini berarti bahwa hasil belajar sepak
sila pada siswa kelas X SMA Negeri 6 Pontianak mengalami peningkatan. Oleh
karena itu, penggunaan media pembelajaran dengan bola plastik dapat diterapkan
untuk pembelajaran sepak [Link] (No Title, 2014).
7) Penelitian yang dilakukan oleh Barep Sucipto pada tahun 2017 dengan judul
Upaya Meningkatkan Kemampuan Sepak Sila Melalui Variasi Latihan
Berpasangan Pada Permainan Sepak Takraw Siswa Kelas V Sd Negeri 18 Kota
Bengkulu. Hasil persentase observasi aktivitas siswa pada siklus 1 adalah 60%,
siklus 2 adalah 86,67%. Persentase observasi aktivitas guru pada siklus 1 adalah
66,67% dan pada siklus 2 adalah 93,34%. Hasil rata-rata tes keterampilan pada
siklus 1 adalah 17,72 dan pada siklus 2 yaitu 22,96 dengan standar ketuntasan 20
sepakan dalam waktu satu menit. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa
penggunaan variasi latihan berpasangan dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran sepak sila serta mampu menumbuhkan kegembiraan dan
memotivasi siswa dalam belajar (S. Kelas et al., 2017).
21
C. Kerangka Berfikir
22
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah dan konsep penelitian diatas, dirumuskanlah
hipotesis penelitian. Hipotesis adalah jawaban sementara yang hendak diuji
kebenarannya melalui penelitian (Yam & Taufik, 2021). Penelitian ini hipotesis yang
rumuskan yaitu:
2. Instrumen penelitian layak untuk diimplementasikan pada siswa kelas kelas XII
IPS 1 dan XII IPS 3 di SMAN 2 Lamongan
3. Penerapan permainan jarring hip hop berpengaruh terhadap hasil belajar pada
mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan kelas XII IPS 1 dan XII
IPS 3 di SMAN 2 Lamongan.
23
BAB III
METODE PENELITIAN
B. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksankan di SMAN 2 Lamongan yang beralamat di Jl. Veteran
No.01, Banjar Anyar, Banjarmendalan, Kec. Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa
Timur 62212 yang dimana pelaksanaan peneliti dilaksankan pada bulan Januari
tahun 2024.
24
Penyampelan acak sederhana dimaksudkan bahwa sebanyak n sampel diambil
dari populasi N dan tiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk
terambil (Ramadhani Khija, ludovick Uttoh, 2015).
D. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
Variabel independen yang sering juga disebut dengan variabel bebas adalah
variabel yang mempunyai pengaruh pada variabel. Variabel bebas juga dapat
dipahami sebagai suatu kondisi atau nilai yang apabila terjadi akan menimbulkan
(mengubah) kondisi atau nilai yang lain (N. Purwanto, 2019). Variabel bebas
dalam penelitian ini yaitu permainan jarring hip hop.
2. Variabel terikat
Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel yang secara struktur
berpikir keilmuan menjadi variabel yang disebabkan oleh adanya perubahan
variabel lainnya (N. Purwanto, 2019). Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu
hasil belajar sepak sila.
E. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel adalah batasan dan cara pengukuran variabel
yang akan diteliti (N. Purwanto, 2019). Definisi operasional sebagai berikut ini :
Tabel 3. 1 definisi operasional
Variavel Definisi Parameter Alat Ukur
Operasional
(Variabel usaha menyepak 4. Menerima Tes
bola dengan bola dengan
bebas)
menggunakan kaki
permainan kaki bagian dalam 5. Menimbang
jarring yang bertujuan bola dengan
hip hop untuk menerima kaki bagian
atau menimbang dalam
bola, menguasai 6. Menguasi
bola, mengoper bola
bola ke teman dan 7. Dapat
menyelamatkan mengoper
serangan lawan bola ke teman
8. Bisa
melakukan
shooting ke
25
lawan
(Variabel 1. Informasi tes
terikat) Verbal
hasil 2. Intelektual
belajar 3. Strategi
sepak Kognitif
sila
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan sesuatu yang terpenting dan strategis
kedudukannya di dalam keseluruhan kegiatan penelitian. Instrumen penelitian
tergantung jenis data yang diperlukan dan sesuai dengan masalah penelitian.
Keberadaan instrumen penelitian merupakan bagian yang sangat integral dan
termasuk dalam komponen metodologi penelitian karena instrumen penelitian
merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki
suatu masalah yang sedang diteliti (Котлер, 2008). Instrumen penelitian digunakan
dalam penelitian sebagai alat dalam tes, alat pengukuran dan pengumpulan data
dalam penilitian ini menggunakan instrumen berupa tes. Tabel instrumen penelitian
dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.
Tabel 3. 2 instrumen penelitian
metode Jenis instrumen Tujuan instrumen
Lembar validasi Angket validasi Kevalidan hasil
pengembangan
kuisioner Tes Hasil belajar
G. Sumber Data
Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini merupakan sumber data
primer dan sekunder.
1. Sumber data primer
Sumber data primer merupakan data yang dihasilkan secara langsung dari
sumber asli yang dimana dalam hal ini diperoleh dan dikumpulkan dari lapangan
secara langsung oleh peneliti yang bersangkutan yaitu dari Kelas XII IPS 1 dan XII
IPS 3 dan juga dari guru olahraga SMAN 2 Lamongan.
2. Sumber data sekunder
26
Data sekunder dapat diperoleh dari sumber yang telah ada. Data-data
tersebut bisa saja didapatkan dari perpustakaan, dokumen, buku ilmiah, laporan
ilmiah, laporan penelitian, dan sumber sumber yang berkaitan dengan penelitian
yang dilakukan. Data sekunder yang didapatkan oleh peneliti berupa arsip nilai
siswa Kelas XII IPS 1 dan XII IPS 3.
27
2 Lapangan sepak sila Panjang dan lebar
lapangan
Tinggi net
3 Teknik dasar sepak sila Teknik Sepakan
Sepak kuda
Sepak sila
4 Perlengkapan sepak sila Bola sepak sila
Net/jaring
I. Analis Data
Teknik analisis deskriptif merupakan teknik analisis data yang dilakukan
dalam penelitian ini, yang mana dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif.
Teknik ini merupakan teknik analisis data yang sering digunakan dalam penelitian
kuantitatif. Menurut Arikunto (2020:278). Secara garis besar, pekerjaan analisis data
meliputi tiga langkah yaitu persiapan, tabulasi, dan penerapan data sesuai dengan
pendekatan penelitian. Analisis data disini bertujuan untuk menjawab permasalahan
hingga membentuk kesimpulan. Metode analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
1. Uji validitas
Terdapat tiga instrumen validasi yaitu validasi ahli materi dan validasi ahli
media serta Bahasa. Adapun uji kelayakan tes dengan menggunakan data dari 3
ahli yang diukur dengan menggunakan skala linkert dengan diberikan skor 1,2,3,
dan 4. dengan skala likert, maka variabel yang akan di ukur dijabarkan menjadi
indikator variabel. Indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk
menyusun item-item innstrumen yang dapat berupa pertanyaan dan pernyataan.
Berikut merupakan rentang skala Likert:
28
Tabel 3. 4 rubrik penilaian validasi
Kriteria Skor
Sangat baik 4
Baik 3
Tidak baik 2
Sangat tidak baik 1
Penilaian yang didapat dari para ahli yang diperoleh, dianalisis dengan
menghitung skor penilaian setiap komponen dengan pilihan jawaban sesuai
kriteria untuk memperoleh interpretasi skor. Perhitungan persentase dari data
yang diperoleh diolah dengan menggunakan rumus perhitungan yang
ditunjukkan pada persamaan dibawah ini:
61-80% Layak
2. Uji rebilitas
Uji reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran cocok dengan item
sama, menghasilkan data yang sama. Uji reabilitas ini dilakukan kepada
responden. Dengan menggunakan pertanyaan pertanyaan yang telah di uji dan
dinyatakan valid pada pengujian validitas dan akan ditentukan reabilitasnya
29
dengan menggunakan aplikasi SPSS 26.0 for windows. Variabel dikatakan riabel
dengan menggunakan kriteria sebagai berikut ini :
1. Jika r-alpha positif dan lebih besar dari r-tabel maka pernyataan tersebut
reliabel.
2. Jika r-alpha negatif dan lebih kecil dari r-tabel maka pernyataan tersebut
dinyatakan tidak reliabel.
a. Jika nilai cronbanch alpha >0,05 maka reliabel
b. b. Jika nilai cronbanch alpha <0,05 maka tidak reliabel
Variabel baik dinyatakan baik apabila memiliki nilai cronbach’s alpha > dari
0,05.
3. Uji normalitas
Uji normalitas yang paling sederhana adalah membuat grafik distribusi
frekuensi atas skor yang ada. Pengujian kenormalan tergantung pada kemampuan
kita dalam mencermati plotting data. Jika jumlah data cukup banyak dan
penyebarannya tidak 100% normal ( tidak normal sempurna), maka kesimpulan
yang ditarik kemungkinan akan salah. Pada saat sekarang ini sudah banyak cara
yang dikembangkan para ahli untuk melakukan pengujian normalitas (Usmadi,
2020).
4. Uji hipotesis
Uji hipotesis dalam penelitian ini bertujuan mengetahui ada tidaknya
hubungan yang signifikan antara variabel bebas dengan variable terikat baik
secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Namun dalam penelitian ini
analisis data uji hipotesis dengan menggunakan bantuan program SPSS.
30
DAFTAR PUSTAKA
31
keolahragaan unimed 58. 17(1), 58–68.
firdaus, a., anggriawan, a., nurfauziah, a., & mahmudah, g. (2023). asumsi-asumsi dasar
penelitian tindakan kelas. jurnal kreativitas mahasiswa, 1(2), 204–210.
hera, t., & elvandari, e. (2021). pengaruh model pembelajaran explicit instruction pada
pembelajaran tari daerah sebagai dasar keterampilan menari tradisi. jurnal sitakara,
6(1), 40. [Link]
iii, b. a. b., penelitian, a. p., & penelitian, p. (n.d.). metodologi penelitian. 57–74.
jasmani, p., dan, k., keolahragaan, f. i., & semarang, u. n. (2013). melalui pendekatan
permainan jala hip hop siswa kelas v sd negeri keputran 01 kota pekalongan tahun
pelajaran 2012 / 2013.
kelas, p. t. (n.d.). no title.
kelas, s., negeri, v. s. d., & bengkulu, k. (2017). jurnal ilmiah pendidikan jasmani, 1 (1) 2017.
1(1), 1–5.
khinta sani rahman, & padli. (2020). tinjauan kemampuan teknik dasar sepak bola.
jurnal patriot, 2(2), 1259–1273.
lestari, p., tirka, w., & suarni, k. (2020). development of instrumens for learning
independence scale in middle school students. jurnal bimbingan konseling indonesia,
4(2), 121–127. [Link]
masa, r. s., ruskin, & haryanto, a. i. (2022). perbedaan pengaruh model latihan bermain
dan drill terhadap kemampuan sepak sila dalam permainan sepak takraw pada
atlet putri ukm utp surakarta tahun 2015. jurnal ilmiah spirit, 4(1), 10–16.
mustafa, p. s., & dwiyogo, w. d. (2020). kurikulum pendidikan jasmani, olahraga, dan
kesehatan di indonesia abad 21. jartika jurnal riset teknologi dan inovasi pendidikan,
3(2), 422–438. [Link]
no title. (2014). 1–11.
nurrita. (2018). kata kunci : media pembelajaran dan hasil belajar siswa. misykat, 03,
171–187.
pranata, d., & kumaat, n. (2022). pengaruh olahraga dan model latihan fisik terhadap
kebugaran jasmani remaja: literature review. jurnal universitas negeri surabaya,
10(02), 107–116. [Link]
olahraga/article/view/45189
32
pranata, i. k. y., kresnayadi, i. p. e., agus, i. g., & saputra, a. (2023). implementasi model
pembelajaran kooperatif tipe course riview horay ( crh ) untuk meningkatkan aktivitas dan
hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw. 9(2), 286–292.
purnama, i. k. t. (2020). buku_2021_08_tn_gr_pjok.
purwanto, d., rifandy, a. a., & sardiman, s. (2022). analisis kemampuan teknik dasar
permainan sepak takraw pada tim kabupaten toli-toli. penjaga : pendidikan jasmani
& olahraga, 2(2), 35–41. [Link]
purwanto, n. (2019). variabel dalam penelitian pendidikan. jurnal teknodik, 6115, 196–
215. [Link]
putra, v. w. (2020). pengembangan model pembelajaran teknik dasar sepak sila melalui
modifikasi bola pada permainan sepak takraw siswa sd negeri 238 palembang.
rahman, s. (2021). pentingnya motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar.
merdeka belajar, november, 289–302.
ramadhani khija, ludovick uttoh, m. k. t. (2015). teknik pengambilan sampel_. ekp, 13(3),
1576–1580.
rijalul fikri. (2022). upaya meningkatkan keterampilan control sepaktakraw melalui
latihan sepak kuda berpasangan di ekstrakulikuler sepak takraw mts
muhammadiyah 3 tretep kabupaten temanggung. cendekia: jurnal ilmu sosial, bahasa
dan pendidikan, 2(4), 89–103. [Link]
suparman, s., ilham, i., & indriyani, i. (2022). pengembangan video tutorial sepak sila
pada pembelajaran sepak takraw siswa sekolah dasar. jurnal manajemen pendidikan
dan ilmu sosial, 3(2), 961–967. [Link]
syafitri, i. r., halimahturrafiah, n., sucipto, e., & sabandi, a. (2023). merumuskan visi dan
misi pada pendidikan dasar dalam mencapai tujuan pendidikan di indonesia.
aulad : journal on early childhood, 6(3), 234–243.
[Link]
syahbudin, a., fidzi, r., sabda, s., & yaqin, h. (2023). tujuan pendidikan islam:
multidisipliner (tinjauan filosofis, teoritis, dan praktis). cendikia : media jurnal
ilmiah pendidikan, 13(3), 432–439.
tamrin, m. (2018). upaya meningkatkan hasil belajar permainan sepak takraw dengan
memoditifikasi permainan pada murid kelas v negeri 79 kota parepare. 1(12), 1–15.
33
teni nurrita. (2018). kata kunci :pengembangan media pembelajaran untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. jurnal misykat, 03(01), 171.
[Link]
[Link]
usmadi, u. (2020). pengujian persyaratan analisis (uji homogenitas dan uji normalitas).
inovasi pendidikan, 7(1), 50–62. [Link]
wibowo, n. (2016). upaya peningkatan keaktifan siswa melalui pembelajaran
berdasarkan gaya belajar di smk negeri 1 saptosari. elinvo (electronics, informatics,
and vocational education), 1(2), 128–139. [Link]
wiliyan, r., & sepriani, r. (2023). hubungan kelincahan dan kelentukan togok dengan sepak sila
atlet sepak takraw club cengkok berasap kecamatan koto baru. 6(9), 155–162.
yam, j. h., & taufik, r. (2021). hipotesis penelitian kuantitatif. perspektif : jurnal ilmu
administrasi, 3(2), 96–102. [Link]
zalal, a., nugraheni, w., & saleh, m. (2023). dampak penghapusan mata pelajaran pjok
terhadap kebugaran siswa kelas xii smk. jurnal educatio fkip unma, 9(4), 1777–1782.
[Link]
котлер, ф. (2008). no titleмаркетинг по котлеру. 282.
34