0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan15 halaman

Metode Penelitian Eksperimental Batako

Bab 3 membahas metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode eksperimental untuk menguji sifat batako yang dibuat dari campuran kapur, padas putih, air dan tetes tebu. Benda uji berupa balok-balok batako yang diuji porositas, kuat tekan dan serapannya. Tahapan penelitian meliputi persiapan, pengujian bahan, pembuatan dan perawatan benda uji, pengujian, analisis data, dan penari

Diunggah oleh

Djordan Rs Ghea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan15 halaman

Metode Penelitian Eksperimental Batako

Bab 3 membahas metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode eksperimental untuk menguji sifat batako yang dibuat dari campuran kapur, padas putih, air dan tetes tebu. Benda uji berupa balok-balok batako yang diuji porositas, kuat tekan dan serapannya. Tahapan penelitian meliputi persiapan, pengujian bahan, pembuatan dan perawatan benda uji, pengujian, analisis data, dan penari

Diunggah oleh

Djordan Rs Ghea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Uraian Umum

Dalam suatu penelitian agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai, maka
dilaksanakan suatu metode. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui langkah-langkah penelitian suatu masalah, kasus, gejala atau
fenomena tertentu dengan jalan ilmiah untuk menghasilkan jawaban yang rasio.

Metode yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental.


Metode eksperimental adalah metode yang dilakukan dengan mengadakan suatu
percobaan serta langsung untuk mendapatkan hasil ataupun data-data yang akan
menegaskan hubungan antara variabel – variabel yang diselidiki. Metode ini dapat
dilaksanakan didalam laboratorium ataupun diluar laboratorium. Dalam penelitian
ini eksperimen dilaksanakan didalam laboratorium dan diluar laboratorium.
Laboratorium yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laboratorium Bahan
dan Struktur.

3.2. Benda Uji Penelitian

Benda uji pada penelitian ini berupa balok dengan dimensi panjang 30 cm, lebar
20 cm dan tinggi 10 cm. Banyaknya benda uji untuk masing – masing kombinasi
dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Dan kombinasi campuran pada masing-masing benda uji :
Sampel 1 = 1 kapur + 2 padas putih + air* + tetes tebu**
Sampel 2 = 1 kapur + 4 padas putih + air* + tetes tebu** ( Kontrol )
Sampel 3 = 1 kapur + 6 padas putih + air* + tetes tebu**
Sampel 4 = 1 semen + 10 pasir + 1 air ( Contoh di lapangan )

* Komposisi air adalah 0,5 dari commit to user


berat kapur.
** Tetes tebu yang digunakan adalah 0,03 % dari berat air.
20
[Link] 21
[Link]

20cm

10cm

30cm

Gambar 3.1. Benda Uji Batako

Tabel 3.1 Jumlah Benda Uji Untuk Pengujian Tekan


Sampel 1 Kapur : 2 1 Kapur : 4 1 Kapur : 6 Batako
Uji Padas Putih Padas Putih Padas Putih diLapangan
Porositas P2A P4A P6A PLA
P2B P4B P6B PLB
P2C P4C P6C PLC
P2D P4D P6D PLD
Kuat Tekan T2A T4A T6A TLA
T2B T4B T6B TLB
T2C T4C T6C TLC
T2D T4D T6D TLD
Serapan S2A S4A S6A SLA
S2B S4B S6B SLB
S2C S4C S6C SLC
S2D S4D S6D SLD

3.3. Tahap dan Posedur Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan beberapa tahap penelitian, mulai dari
pemilihan material batako (air, padas putih, kapur dan tetes tebu), pengujian
material, pembuatan benda uji, pengujian benda uji, analisis data, dan penarikan
kesimpulan hasil penelitian. Sebagai penelitian ilmiah, maka penelitian ini harus
dilaksanakan dalam sistematika dan urutan yang jelas dan teratur sehingga
commit todan
nantinya diperoleh hasil yang memuaskan user
dapat dipertanggung jawabkan.

21
[Link] [Link]

Tahapan – tahapan pelaksanaan penelitian sebagai berikut :


a. Tahap I (Tahap persiapan)
Pada tahap ini seluruh bahan dan peralatan yang dibutuhkan dipersiapkan
terlebih dahulu agar penelitian dapat berjalan dengan lancar.

b. Tahap II (Tahap pengujian Bahan)


Pada tahap ini dilakukan penelitian terhadap agregat halus yang digunakan.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui sifat dan karakteristik bahan tersebut
sehingga dapat diketahui apakah bahan yang dipergunakan memenuhi
persyaratan atau tidak.

c. Tahap III (Tahap pembuatan Benda Uji)


Pembuatan benda uji batako berbentuk balok 30 x 20 x 10cm, 10 x 10 x 10cm
dan 5 x 5 x 5cm..

d. Tahap IV (Tahap perawatan Benda uji/Curing )


Melakukan perawatan terhadap benda uji yang telah dibuat pada tahap III.
Perawatan dilakukan dengan cara menutup benda uji dengan karung goni yang
setiap harinya disiram air dan diangin-anginkan dan dilakukan pengujian
setelah batako berumur 28 hari.

e. Tahap V (Tahap Pengujian Benda Uji)


Pengujian serapan, kuat tekan dan porositas setelah sempel batako mencapai
umur 28 hari.

f. Tahap VI (Tahap Analisis Data)


Melakukan analisis data yang diperoleh dari hasil pengujian dianalisa untuk
mendapatkan suatu kesimpulan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti
dalam penelitian.

g. Tahap VII (Tahap Pengambilan Kesimpulan)


Melakukan pengambilan kesimpulan dari hasil analisis pengujian yang
commit to user
berhubungan dengan tujuan penelitian.

22
[Link] 23
[Link]

Tahapan penelitian secara skematis dalam bentuk bagan alir ditunjukkan dalam
Gambar 3.2.

Mulai

Persiapan

Tahap I

Kapur Agregat Halus Air + tetes


(padas putih) tebu

Uji Bahan:
1. Kadar Lumpur
2. Kadar Organik
3. Specific Garafity
4. Gradasi Tahap II

Pembuatan adukan bata

Tahap III

Pembuatan benda uji

Perawatan (Curing) Tahap IV

Pengujian benda uji Tahap V

Analisa data Tahap VI

Kesimpulan dan saran Tahap VII

Selesai

Gambar 3.2. Bagan alir tahap-tahap penelitian


commit to user

23
[Link] [Link]

3.4. Standar Penelitian dan Spesifikasi Bahan Dasar

Sifat-sifat karakteristik bahan dasar pembentuk beton dapat diketahui dengan


mengadakan pengujian terhadap bahan-bahan pembentuk batako. Pengujian
terhadap agregat halus, kapur, tetes tebu dan air dilakukan dengan menggunakan
standart yang sesuai seperti pada tabel 3.2. dibawah ini.

Tabel 3.2. Standart Penelitian yang Digunakan


No Bahan Penelitian Standar Terpakai
1. Agregat Halus
a. Standar Pengujian 1. ASTM C-23, Standar penelitian pengujian
berat isi agregat halus.
2. ASTM C-40, Standar penelitian untuk tes
kotoran organik dalam agregat halus.
3. ASTM C-117, Standar penelitian untuk
agregat lolos saringan no. 200 dengan
pencucian.
4. ASTM C-128, Standar penelitian untuk
menentukan spesific gravity agregat halus.
5. ASTM C-136, Standar penelitian untik
analisis saringan agregat halus.
PBI 1971, spesifikasi standar untuk agregat
b. Spesifikasi halus
2. Air PBI 1971/SKSNI – 1991, spesifikasi standar
spesifikasi untuk air
3. Kapur
a. Standar Pengujian SNI 03-2097-1991, Standar kapur untuk bahan
bangunan
b. Spesifikasi SNI 03-6378-2000, spesifikasi kapur hidrat
untuk keperluan pasangan bata
4. Tetes Tebu
Spesifikasi SNI 01-1679-1989, Spesifikasi tetes tebu
commit to user

24
[Link] 25
[Link]

3.5. Alat-Alat yang Digunakan

Penelitian ini menggunakan alat-alat yang tersedia di Laboratorium Bahan,


Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Univesitas Sebelas Maret, Surakarta.
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini, antara lain :
a. Ayakan dan mesin penggetar ayakan
Ayakan baja dan penggetar yang digunakan adalah merk ”Controls” Italy,
dengan bentuk lubang ayakan bujur sangkar dengan ukuran lubang ayakan
yang tersedia adalah 9,5 mm, 4,75 mm, 2,36 mm, 1,18 mm, 0,85 mm, 0,3 mm,
0,15 mm, dan pan.
b. Timbangan
Ada dua jenis timbangan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
1. Neraca merk ”Murayama Seisakusho Ltd” Japan dengan kapasitas 5 kg,
ketelitian sampai 0,10 gram dan digunakan untuk mengukur berat material
yang berada dibawah kapasitasnya.
2. Timbangan ”Bascule Merk DSN Bola Dunia” dengan kapasitas 150 kg
dengan ketelitian 0,1 kilogram.
c. Oven
Untuk keperluan pengeringan agregat maupun benda uji digunakan oven
listrik merk ”Memmert”, West Germany dengan temperatur maksimum 2200
o
C dan daya listrik 1500 W.
d. Conical Mould
Conical mould dengan ukuran sisi atas Ø 3,8 cm, sisi bawah Ø 8,9 cm dan
tinggi 7,6 cm lengkap dengan penumbuknya. Digunakan untuk mengukur
keadaan SSD (Saturated Surface Dry) dari agregat halus (pasir).
e. Cetakan benda uji
Digunakan untuk mencetak benda uji. Bentuk cetakan ini adalah balok yang
terbuat dari kayu dengan ukuran 40 x 20 x 10cm dan baja dengan ukuran 10 x
10 x 10cm dan 5 x 5 x 5cm.

commit to user

25
[Link] [Link]

f. Alat-alat bantu
Untuk kelancaran dan kemudahan dalam penelitian digunakan beberapa alat
bantu yaitu :
1. Gelas ukur 2000 ml untuk menakar air.
2. Gelas ukur 250 ml untuk meneliti kandungan lumpur dan kandungan zat
organik agregat halus.
3. Cetok semen digunakan untuk mengambil material, mengaduk dan untuk
memasukkan campuran adukan beton ke dalam cetakan beton.
4. Besi penusuk berfungsi untuk pemadatan.
5. Alat pemadat manual.
6. Alat pencatat waktu.
7. Ember untuk tempat air.
8. Cangkul dan sekop untuk mengaduk bahan-bahan campuran beton agar
merata.
g. Satu set Uji serapan (Absorpsi)
1. Ember untuk merendam benda uji
2. Timbangan ”Bascule Merk DSN Bola Dunia” dengan kapasitas 150 kg
dengan ketelitian 0,1 kilogram.
h. Compression Testing Machine dengan kapasitas 2000ckN yang digunakan
untuk pengujian kuat tekan dan desak batako.
i. Satu set Uji Porositas
1. Oven
2. Timbangan digital
3. Desicator
4. Vacuum pump

3.6. Pengujian Bahan Dasar Batako

Untuk mengetahui sifat dan karakteristik dari material pembentuk batako maka
dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap bahan–bahan pembentuk
batako. Pengujian ini hanya dilakukan terhadap agregat halus sedangkan air,
kapur dan semen yang digunakan telah sesuai dengan spesifikasi standar dalam
PBI NI 1971 pasal 3.6 commit to user

26
[Link] 27
[Link]

3.6.1. Pengujian Agregat Halus


Agregat halus mempunyai butiran yang lebih kecil dari 5 mm dan lebih besar dari
0,075 mm. Agregat halus dalam penelitian ini adalah padas putih. Sebelum
digunakan padas putih ini harus diuji terlebih dahulu untuk mengetahui sifat dan
karakteristiknya. Pengujian dilakukan menurut ketentuan yang berlaku.

[Link].Pengujian Kandungan Zat Organik Agregat Halus

Pasir dan padas putih sebagai agregat halus dalam campuran batako tidak boleh
mengandung zat organik terlalu banyak karena akan mengakibatkan penurunan
kekuatan beton yang dihasilkan. Kandungan zat organik ini dapat dilihat dari
percobaan warna dari Abrams Harder dengan menggunakan larutan NaOH 3%
sesuai dengan standart ASTM C-40 dan PBI NI pasal 3.3 ayat 4.

Tabel 3.3. Hubungan Perubahan Warna NaOH dengan Persentase


Kandungan Zat Organik

Warna campuran air + NaOH Kandungan Zat Organik

Jernih 0%

Kuning Muda 0 - 10%

Kuning Tua 10 - 20%

Kuning Kemerahan 20 - 30%

Coklat Kemerahan 30 - 50%

Coklat Tua 50 - 100%

Sumber : Rooseno

Pengujian kandungan zat organik agregat halus bertujuan untuk menentukan


banyak sedikitnya kandungan zat organik dalam padas putih.

commit to user

27
[Link] [Link]

Langkah pengujian kandungan zat organik agregat halus dilakukan dengan


prosedur sebagai berikut :
a. Mengambil contoh agregat kering oven secukupnya.
b. Mengayak agregat halus dengan ayakan 2 mm hingga hasil ayakan mencapai
130 cc.
c. Memasukkan contoh agregat halus dalam gelas ukur 250 ml.
d. Menuangkan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sehingga mencapai 200 ml.
e. Mengocok agregat halus dan larutan NaOH selama 10 menit.
f. Meletakkan campuran tersebut pada tempat terlindung selama 24 jam.
g. Mengamati warna air di atas pasir.
h. Mencocokkan dengan Tabel (Rosseno).

[Link]. Pengujian Kadar Lumpur dalam Agregat Halus

Agregat halus yang digunakan dalam penelitian batako ini adalah padas putih.
Kualitas padas putih tentu akan mempengaruhi kualitas batako yang akan
dihasilkan. Untuk itu maka padas putih yang dibgunakan harus memenuhi
beberapa persyaratan, salah satunya adalah padas putih harus bersih dari
kandungan lumpur.

Lumpur adalah bagian dari padas putih yang lolos ayakan 0,036 mm. Apabila
kadar lumpur yang ada lebih dari 5% dari berat keringnya, maka pasir harus
dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai material penyusun batako.

Pengujian kadar lumpur dalam agregat halus bertujuan untuk mendeteksi


kandungan lumpur dalam pasir dan padas putih sebagai salah satu komponen
penyusun batako.

Langkah pengujian kadar lumpur dalam agregat halus dilakukan dengan prosedur
sebagai berikut :
a. Menyiapkan sampel (padas putih) dan mengeringkan dalam oven.
b. Menimbang sampel kering oven seberat 100 gram.
commit to user
c. Memasukkan sampel ke dalam gelas ukur

28
[Link] 29
[Link]

d. Melakukan proses pencucian sebagai berikut :


1. Memasukkan air ke dalam gelas ukur yang telah berisi sampel dengan
ketinggian 12 cm dari permukaan pasir.
2. Menutup mulut gelas rapat-rapat dengan tangan.
3. Gelas dikocok 10 kali (dianggap satu kali pencuucian).
4. Membuang air dalam gelas (usahakan padas putih tidak ikut terbuang).
5. Proses pencucian diulang sampai bersih.
e. Menuangkan sampel ke dalam cawan (air yang ikut menetes diambil dengan
pipet).
f. Mengeringkan sampel dalam cawan tersebut pada oven dengan suhu 110 C.
g. Mengeluarkan sampel tersebut dari oven dan mendiamkannya hingga mencapai
suhu kamar.
h. Menimbang sampel yang sudah dikeringkan.
i. Menganalisis data
Berat awal sampel (a)
Berat akhir sampel (b)
ab
Kadar Lumpur   100% ……………………………………………. (3.1)
a

j. Membandingkan hasil perhitungan dengan persyaratan PBI NI-1971. Bila lebih


dari 5% maka padas putih harus dicuci kembali sebelum digunakan.

[Link]. Pengujian Spesific Gravity Agregat Halus

Berat jenis merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam
merencanakan campuran adukan batako, karena dengan mengetahui variabel
tersebut dapat dihitung volume padas putih yang diperlukan.

Pengujian spesific gravity agregat halus bertujuan untuk menentukan bulk spesific
gravity, bulk spesific gravity SSD, apparent spesific gravity, dan absorption
agregat halus.

commit to user

29
[Link] [Link]

Langkah pengujian spesific gravity agregat halus dilakukan dengan prosedur


sebagai berikut :
a. Membuat padas putih dalam keadaan SSD dengan cara :
1. Mengambil padas putih yang telah disediakan (dianggap kondisi lapangan
SSD), masukkan dalam conical mould sampai 1/3 tinggi.
2. Menumbuk dengan tamper sebanyak 15 kali, tinggi jatuh temper 2 cm.
3. Menambah sampel hingga 2/3 tinggi, lalu mengulangi prosedur b.
4. Menambah sampel hingga penuh dan mengulangi lagi prosedur b.
5. Memasukkan sampel hingga penuh lalu meratakan permukaan sampel.
6. Mengangkat conical mould sehingga sampel dengan sendirinya akan
merosot. Pemerosotan sampel tidak boleh lebih dari ½ tinggi dan apabila
penurunan sampel mencapai 1/3 tinggi atau ± 2,5 cm, maka sampel tersebut
sudah dalam keadaan kering permukaan (SSD).
b. Mengambil sampel SSD sebanyak 500 gram, dimasukkan dalam volumetrick
flash, dan diisi air hingga penuh lalu didiamkan hingga 24 jam.
c. Setelah 24 jam, menimbang volumetrick flash yang berisi sampel dan air
tersebut.
d. Mengeluarkan sampel dari volumetrick flash dan memasukkan ke cawan
dengan membuang air terlebih dahulu, jika dalam cawan masih ada air
mengeluarkannya dengan menggunakan pipet.
e. Memasukkan sampel dalam cawan ke dalam oven dengan suhu 1100 C selama
24 jam.
f. Volumetrick flash yang telah kosong dan bersih diisi air sampai penuh dan
ditimbang.
g. Sampel yang telah dioven didiamkan sampai mencapai suhu kamar kemudian
menimbang sampel tersebut.
h. Dari data yang diperoleh, dapat dihitung nilai spesific gravity (berat jenis).
Berat sampel SSD = D
Berat sampel kering oven = A
Berat volumetrick flash + air = B
Berat volumetrick flash + air + pasir/padas hitam = C

commit to user

30
[Link] 31
[Link]

Bulk Specific Gravity = …………………………………... (3.2)

Bulk Specific Gravity SSD = …………………………………... (3.3)

Apparent Specific Gravity = …………………………………... (3.4)

Absorption = ………………………….... (3.5)

[Link]. Pengujian Gradasi Agregat Halus

Gradasi adalah keseragaman diameter padas putih sebagai agregat halus lebih
diperhitungkan daripada agregat kasar, karena sangat menentukan sifat pengerjaan
dan sifat kohesi campuran adukan batako.

Pengujian gradasi agregat halus bertujuan untuk memeriksa susunan atau variasi
susunan agregat halus dan angka kehalusan agregat halus padas putih tersebut.

Langkah pengujian gradasi agregat halus dilakukan dengan prosedur sebagai


berikut :
a. Menyiapkan agregat halus sebanyak 3000 gr.
b. Menyiapkan satu set ayakan dan menyusun berurutan mulai dari pan (paling
bawah), hingga ayakan 9,5 mm (paling atas), lalu susunan ayakan tersebut
diletakkan pada mesin penggetar.
c. Menuangkan agregat halus ke dalam ayakan paling atas dan menutup rapat-
rapat susunan ayakan tersebut.
d. Menghidupkan mesin penggetar selama 5 menit.
e. Setelah 5 menit matikan mesin, lalu menimbang dan mencatat berat agregat
halus yang tertinggal pada masing-masing ayakan.
f. Menghitung modulus kehalusan dengan menggunakan rumus:

Modulus kehalusan ………………………………………….……... (3.6)

commit to user

31
[Link] [Link]

Dimana :
d = jumlah dari persentase komulatif berat agregat halus yang tertinggal selain
dalam pan
e = jumlah dari persentase berat agregat halus yang tertinggal

3.7. Pembuatan Benda Uji

Langkah-langkah pembuatan benda uji dalam penelitian ini dapat diuraikan


sebagai berikut :
a. Menyiapkan material (padas putih, kapur, air dan tetes tebu) dan peralatan
yang akan digunakan untuk campuran batako.
b. Menyiapkan cetakan batako.
c. Menimbang masing-masing material berdasarkan perhitungan.
d. Membuat adukan batako dengan cara manual, mencampur padas putih dan
kapur terlebih dahulu kemudian memasukkan air yang sudah dicampur dengan
tetes tebu yang sudah sesuai dengan perbandingan yang sudah ditentukan.
e. Mengaduk material yang telah dicampur menggunakan cangkul atau cetok..
f. Kemudian menuangkan adukan batako ke dalam cetakan yang sudah diolesi
oli dan memberi tanda untuk masing-masing sampel.
g. Kemudian dilakukan pemadatan. Setelah cetakan terisi penuh maka
permukaan diratakan dan dibiarkan selama 2 jam. Setelah setengah kering
mengeluarkan batako dari cetakan.
h. Merawat batako dengan cara menutupinya dengan karung goni basah sampai
waktu pengujian yaitu 28 hari.

3.8. Perawatan Benda Uji

Perawatan batako adalah suatu pekerjaan menjaga agar permukaan batako rata
dan segar selalu lembab sejak adukan batako dipadatkan sampai beton dianggap
cukup keras. Hal ini di maksudkan untuk menjamin agar proses hidrasi dapat
berlangsung dengan baik dan proses pengerasan terjadi dengan sempurna
commit to user
sehingga tidak terjadi retak-retak pada batako dan mutu batako dapat terjamin.

32
[Link] 33
[Link]

Perawatan ini dilakukan dengan cara menutup batako dengan karung goni yang
dibasahi setiap hari hingga umur 28 hari, kemudian dilakukan pengujian.

3.9. Pengujian Kuat Tekan Batako

Pengujian dilakukan saat umur 28 hari. Dari pengujian tegangan yang dilakukan
dengan alat Compressing Testing Machine didapatkan beban maksimum, yaitu
pada saat batako hancur menerima beban tersebut (Pmaks).

Langkah-langkah pengujian kuat tekan batako adalah sebagai berikut :


a. Benda uji dicuring selama 28 hari.
b. Mengukur panjang, lebar dan tinggi benda uji untuk mengetahui luas
permukaan dan menimbang beratnya.
c. Memasang benda uji pada Compressing Testing Machine
d. Mengatur dial gauge dan jarum disetel pada posisi 0. Kemudian pengujian siap
dilakukan dengan membaca dan mencatat perubahan jarum pada angka yang
ditunjukkan oleh dial gauge.
e. Melakukan pengujian menggunakan mesin uji kuat tekan batako atau
Compression Testing Machine.
f. Menghitung kuat desak beton, dengan rumus pada persamaan (2.2)

Jika sample benda uji lebih dari satu maka rumus yang digunakan untuk kuat
tekan beton seperti persamaan dibawah ini :
n

b '
b ' m 
1
n ………………………………………………….. (3.7)

Dengan :

b' m = kekuatan tekan beton rata-rata

b' = kekuatan tekan beton masing-masing benda uji

n = jumlah sampel
commit to user

33
[Link] [Link]

3.10. Pengujian Serapan Batako

Langkah – langkah pengujian :


a. Setelah mencapai umur 28 hari, benda uji dikeringkan dengan oven sampai
mencapai berat konstan.
b. Setelah dikeluarkan dari oven, semua benda uji batako ditimbang.
c. Merendam benda uji beton selama 10+0,5 menit, 30 menit, 60 menit, 24 jam,
2 x 24 jam dan 3 x 24 jam.
d. Kemudian dibuat sampel dalam kondisi SSD, setelah itu menimbang masing-
masing sampel selama batas waktu perendaman tersebut untuk
membandingkan perbedaan antara berat kondisi SSD dengan berat kering
oven.
e. Menghitung serapan dengan rumus persamaan (2.4).

3.11. Pengujian Porositas Batako

Pengujian porositas bertujuan untuk mengetahui besarnya prosentase pori-pori


beton terhadap volume batako pejal. Adapun langkah – langkah pengujian sebagai
berikut :
a. Menyiapkan benda uji lalu dimasukkan kedalam oven dengan suhu 100º C
selam 24 jam.
b. Benda uji dikeluarkan dari oven dan diangin-anginkan pada suhu kamar (25º
C), kemudian ditimbang dan didapatkan berat batako kondisi kering oven (C).
c. Benda uji dimasukkan kedalam desictor guna proses pemvacuuman benda uji
dengan vacuum pump. Prose pemvacuuman benda uji dilakukan selama 24
jam. Setelah divacuumkan, benda uji dialiri air sampai semua benda uji benar-
benar terendam air. Perendaman benda uji juga dalam kondisi vacuum dan
dilakukan selam 24 jam. Setelah perendaman selam 24 jam kemudian
ditimbang dalam air dan didapatkan berat beton dalam air (A).
d. Benda uji dikeluarkan dari dalam air dan dilap permukaanya untuk
mendapatkan kondisi SSD kemudian sempel ditimbang dan didapatkan berat
beton kondisi SSD setelah perendaman (B).
commit to user
e. Menghitung nilai porositas dengan menggunakan rumus persamaan (2.1).

34

Anda mungkin juga menyukai