TEORI VLADMIR PROPP
Disusun oleh : Kelompok 4
1. Nevilanabih Elsa A (2101419039)
2. Febian Rifda Lia (2101419051)
3. Bekti Setyaningrum (2101419052)
4. Latifah Ayu W (2101419058)
Rombel : 2 (dua)
Dosen Pengampu : U’um Qomariyah, [Link]., [Link].
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019/2020
I. TEORI VLADMIR PROPP
Propp bukanlah seorang formalis yang pada masa 1920-an banyak berkenalan dengan
tokoh-tokoh Formalis Rusia, meskipun banyak. Dikatakan demikian karena ketika
Formalisme Rusia sedang mangalami krisis (menjelang tahun 1930), ia justru
memunculkan semacam poetika baru dalam hal pengkajian dan penelitian sastra. Hal itu
dapat dibuktikan melalui buku Morphology of the Folktale (1975). Dapat di katakan
bahwa buku itu merupakan hasil dekonstruksi Propp terhadap teori-teori yang
berkembang sebelumnya. Propp (1975:3--18) berpendapat bahwa para peneliti
sebelumnya banyak melakukan kesalahan dan sering membuat simpulan yang tumpang
tindih.
Selain itu, sedikit banyak teori Propp juga mendekonstruksi teori formalis. Kalau
Formalis menekankan perhatiannya pada penyimpangan (deviation) melalui unsur naratif
fabula dan suzjet dalam karya-karya individual untuk mencapai nilai kesastraan
(literariness) sastra, Propp lebih menitik beratkan perhatiannya pada motif naratif yang
terpenting, yaitu tindakan atau perbuatan (action), yang selanjutnya disebut fungsi
(function). Propp menyadari bahwa suatu cerita pada dasarnya memiliki konstruksi.
Konstruksi itu terdiri atas motif-motif yang terbagi dalam tiga unsur, yaitu pelaku,
perbuatan, dan penderita (lihat juga: Junus, 1983:63).
Ia melihat bahwa tiga unsur itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur
yang tetap dan unsur yang berubah. Unsur yang tetap adalah perbuatan, sedangkan unsur
yang berubah adalah pelaku dan penderita. Bagi Propp, yang terpenting adalah unsur
yang tetap. Sebagai contoh, yang terpenting di dalam konstruksi "raksasa menculik
seorang gadis" adalah perbuatan atau tindakannya, yaitu "menculik", karena tindakan itu
dapat membentuk satu fungsi tertentu dalam cerita. Seandainya tindakan itu diganti
dengan tindakan lain, fungsinya akan berubah. Tidak demikian jika yang diganti adalah
unsur pelaku atau penderita. Penggantian unsur pelaku dan penderita tidak
mempengaruhi fungsi perbuatan dalam suatu konstruksi tertentu.
Dilihat dari contoh tersebut, jelas bahwa teori Propp di ilhami oleh strukturalisme dalam
ilmu bahasa (linguistik) sebagaimana dikembangkan oleh Saussure. Berdasarkan
penelitiannya terhadap seratus dongeng Rusia, yang disebutnya fairytale, Propp
(1975:21--24) akhirnya memperoleh simpulan (1) anasir yang mantap dan tidak berubah
dalam sebuah dongeng bukanlah motif atau pelaku, melainkan fungsi, lepas dari siapa
pelaku yang menduduki fungsi itu, (2) jumlah fungsi dalam dongeng terbatas, (3) urutan
fungsi dalam dongeng selalu sama, dan (4) dari segi struktur semua dongeng hanya
mewakili satu tipe (lihat juga: Teeuw, 1984:291; Scholes, 1977:63).
Sehubungan dengan simpulan (2), Propp menyatakan bahwa paling banyak sebuah
dongeng terdiri atas 31 fungsi. Namun, ia juga menyatakan bahwa setiap dongeng tidak
selalu mengandung semua fungsi itu karena banyak dongeng yang ternyata hanya
mengandung beberapa fungsi. Fungsi-fungsi itulah, berapa pun jumlahnya, yang
membentuk kerangka pokok cerita. Tiga puluh satu fungsi yang dimaksudkan oleh Propp
adalah seperti di bawah ini. Untuk mempermudah pembuatan skema, Propp member
tanda atau lambing khusus pada setiap fungsi (barangkali, kalau kita mengganti lambing
itu sesuai dengan keinginan kita, tentu juga tidak ada salahnya. Fungsi-fungsi dan
lambang-lambang yang dicantumkan ini hanya terbatas pada yang pokok saja.
Menurut Propp (1975:79--80), jumlah tiga puluh satu fungsi itu dapat didistribusikan ke
dalam lingkaran atau lingkungan tindakan (speres of action) tertentu. Ada tujuh
lingkungan tindakan yang dapat dimasuki oleh fungsi-fungsi yang tergabung secara logis,
yaitu (1) villain 'lingkungan aksi penjahat', (2) donor, provider 'lingkungan aksi donor,
pembekal', (3) helper 'lingkungan aksi pembantu', (4) the princess and her father
'lingkungan aksise orang putri dan ayahnya', (5) dispatcher 'lingkungan aksi perantara
(pemberangkat)', (6) hero 'lingkungan aksi pahlawan', dan (7) false hero 'lingkungan aksi
pahlawan palsu' (lihat juga: Hawkes, 1978:91; Scholes, 1977:104; Schleifer, 1987:96).
Melalui tujuh lingkungan tindakan (aksi) itulah frekuensi kemunculan pelaku dapat
dideteksi dan cara bagaimana watak pelaku diperkenalkan dapat diketahui.
Saat ini penelitian terhadap dongeng belum begitu banyak, walaupun demikian untuk
menganalisis isinya terdapat teori morfologi cerita rakyat yang dikembangkan oleh
Vladimir Propp. Teori ini sudah banyak digunakan dalam menganalisis dongeng di
Indonesia tetapi belum banyak diterapkan ke dalam dongeng Jerman. Pendekatan Propp
dapat dimengerti jika kita membandingkan “subjek” sebuah kalimat dengan tokoh-tokoh
yang tipikal (pahlawan, penjahat, dan sebagainya) dan “predikat” dengan tindakan yang
tipikal dalam cerita-cerita semacam itu.
Sementara itu ada berlimpah-limpah renik yang sangat besar, seluruh korpus cerita itu
dibangun atas perangkat dasar yang sama yaitu tiga puluh satu “fungsi”. Sebuah “fungsi”
adalah satuan dasar “bahasa” naratif dan menerangkan kepada tindakan yang bermakna
yang membentuk naratif. Tindakan ini mengikuti sebuah perturutan yang masuk akal, dan
meskipun tidak ada dongeng yang meliputi semuanya, dalam tiap dongeng fungsi-fungsi
itu selalu dalam perturutan yang tetap (Pradopo, 1996:59).
Hal yang terpenting dalam penelitian ini adalah predikat (aksi atau tindakan) yang disebut
dengan fungsi, tidak peduli siapa subyek danobyeknya. Unsur yang tetap adalah
perbuatan dan unsur yang berubah adalah pelaku dan penderita. Jadi, jika tindakan itu
diganti dengan tindakan lain, maka fungsinya akan berubah, tetapi jika yang diganti
adalah pelaku dan penderitanya, maka tidak akan mempengaruhi perubahan fungsi.
Alasan peneliti menggunakan teori fungsi Vladimir Propp karena analisis ini tergolong
sederhana dibanding dengan analisis yang lain, misalnya analisis imanensi, pertinensi,
komutasi, kompatibilitas, integrasi dan sinkroni. Teori Vladimir Propp juga dapat
menimbulkan efek superfisial, yaitu efek yang mudah dimengerti melalui penambahan
variasi gaya dan pesona dalam cerita.
II. KONSEP DASAR
Berdasarkan penelitiannya terhadap seratus dongeng Rusia, yang disebutnya fairytale,
Propp (1975:21-24) menyimpulkan bahwa:
1. Fungsi tokoh adalah unsur yang stabil dan tetap di dalam sebuah dongeng, tanpa
memperhitungkan siapa dan bagaimana pelaksanaanya,
2. Bilangan fungsi yang diketahui di dalam dongeng berjumlah terbatas,
3. Urutan fungsi dalam dongeng selalu sama,
4. Semua dongeng selalu mempunyai struktur yang sama.
Propp (1975:26-65) menyatakan bahwa sebuah dongeng paling banyak terdiri atas 31
fungsi. Setiap dongeng tidak selalu mengandung semua fungsi tersebut, ada yang hanya
memiliki beberapa fungsi. Berapapun jumlahnya, fungsi-fungsi itulah yang membentuk
kerangka pokok cerita. Untuk mempermudah pembuatan skema, Propp memberi tanda
atau lambang khusus pada setiap fungsi. Adapun fungsi-fungsi dan lambangnya sebagai
berikut:
1) Absentation 'ketiadaan' β
2) Interdiction 'larangan' γ
3) Violation 'pelanggaran' d
4) Reconnaissance 'pengintaian' ε
5) Delivery 'penyampaian (informasi)' ζ
6) Fraud 'penipuan (tipu daya)' η
7) Complicity 'keterlibatan' q
8) Villainy 'kejahatan' A
9) Lack 'kekurangan (kebutuhan)' a
10) Mediation, the connective incident 'perantaraan, peristiwa penghubung' B
11) Begining counteraction 'penetralan (tindakan) dimulai' C
12) Departure 'keberangkatan (kepergian)' ↑
13) The first function of the donor 'fungsi pertama donor (pemberi)' D
14) The hero's reaction 'reaksi pahlawan' E
15) Provition or receipt of a magical agent 'penerimaan unsur magis (alat sakti)' F
16) Spatial translocation 'perpindahan (tempat)' G
17) Struggle 'berjuang, bertarung' H
18) Marking 'penandaan' J
19) Victory 'kemenangan' I
20) The initial misfortune or lack is liquidated 'kekurangan (kebutuhan) terpenuhi' K
21) Return 'kepulangan (kembali)' ↓
22) Pursuit, chase 'pengejaran, penyelidikan' Pr
23) Rescue 'penyelamatan' Rs
24) Unrecognised arrival 'datang tak terkenali' O
25) Unfounded claims 'tuntutan yang tak mendasar' L
26) The difficult task 'tugas sulit (berat)' M
27) Solution 'penyelesaian (tugas)' N
28) Recognition '(pahlawan) dikenali' Q
29) Exposure 'penyingkapan (tabir)' Ex
30) Transfiguration 'penjelmaan' T
31) Punishment 'hukuman (bagi penjahat)' U
32) Wedding 'perkawinan (dan naik tahta)' W
[Link] TEORI VLADIMIR PROPP PADA CERITA RAKYAT IKAN
LOMPA [THE APPLICATION OF VLADIMIR PROPP THEORY IN IKAN
LOMPA FOLKTALE]
a. Ringkasan Cerita Rakyat Ikan Lompa
Konon dahulu kala di Kali Learissa- Kayeli terdapat seekor buaya betina yang
mendiami kali tersebut. Oleh penduduk Haruku, buaya tersebut dijuluki sebagai ‘Raja
Learissa-Kayeli’. Buaya itu sangat akrab dengan warga negeri Haruku. Karena
kebaikannya, Buaya Learisa Kayeli sangat dicintai masyarakat desa Haruku. Dahulu,
belum ada jembatan di kali Learissa-Kayeli, sehingga bila air pasang, penduduk
Haruku harus berenang menyebrangi kali itu jika hendak ke hutan. Buaya tersebut
sering membantu mereka dengan cara menyediakan punggungnya untuk ditumpangi
oleh penduduk desa Haruku. Mereka juga sering membawa hasil-hasil hutan yang
mereka peroleh naik di atas punggung buaya Learissa-Kayeli. Sebagai imbalan,
biasanya para warga negeri menyediakan cincin yang terbuat dari ijuk dan dipasang
pada jari-jari buaya itu.
Pada suatu saat, terjadilah perkelahian antara buaya-buaya di pulau Seram dengan
seekor ular besar di Tanjung Sial. Ular besar tersebut tidak mengijinkan Buaya-Buaya
Seram untuk melewati wilayahnya. Padahal tempat tinggal Ular Besar merupakan
sumber makanan buaya- buaya Seram. Dalam perkelahian tersebut, buaya-buaya
Seram itu selalu terkalahkan dan dibunuh oleh ular besar tadi. Buaya- buaya Seram
juga sering meminta bantuan dari buaya-buaya lainnya tetapi belum ada yang mampu
mengalahkan Ular Besar. Suatu ketika, para buaya Seram mendengar berita tentang
kebaikan hati Buaya Learisa-Kayeli. Mereka mendengar bahwa meskipun Buaya
Learissa-Kayeli berjenis kelamin perempuan, Buaya Learissa-Kayeli sangat bijak dan
senang membantu masyarakat desa Haruku. Para buaya Seram berpikir mungkin
Buaya Learissa-Kayeli memiliki strategi khusus untuk melawan ular besar di tanjung
Sial. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk mengutus seorang temannya untuk
membujuk buaya Learissa-Kayeli.
Datanglah Buaya utusan tersebut ke negeri Haruku. Dia menceritakan maksud
kedatangannya dan membujuk Buaya Learissa-Kayeli agar mau menolong teman-
temannya. Ketika mendengar cerita tersebut, Buaya Learissa-Kayeli setuju untuk
pergi melawan ular besar di tanjung Sial, meskipun dia sedang dalam keadaan hamil.
Persiapan pun mulai dilaksanakan. Tepat matahari terbenam, keduanya berangkat
menuju tanjung Sial. Sebelum berangkat menuju tanjung Sial, Buaya Learissa-Kayeli
berpamitan dengan masyarakat desa Haruku. Masyarakat desa Haruku sangat sedih,
namun mereka tau bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan selalu melindungi buaya
Learissa- Kayeli, sehingga dapat berkumpul kembali dengan mereka.
Saat matahari terbit, keduanya tiba dan bertemu dengan buaya-buaya di pulau
Seram. Semuanya berkumpul dengan perasaan senang karena akan dibantu oleh
Buaya Learissa-Kayeli. Setelah beristirahat sejenak, Buaya Learissa-Kayeli diantar
oleh teman-temannya menemui ular [Link] itu air laut sedang pasang, Buaya
Learissa- Kayeli langsung menegur ular besar yang sedang tidur di atas pohon. Dia
meminta ular untuk tidak mengganggu teman-temannya lagi, namun ular menolak.
Dengan muka yang sangat marah dan kesal, sang ular membungkukkan badan lalu
menyerang Buaya Learissa-Kayeli, tetapi Buaya Learissa-Kayeli mundur, sehingga
gigitanular tidak mengenainya.
Pertarungan antara keduanya berlangsung seru. Keduanya saling serang karena
badannya yang ringan dan kecil, Buaya Learissa-Kayeli dapat dengan mudah
menghindar dari serangan-serangan ular besar. Tapi, ular juga tidak kehilangan akal.
Dia juga adalah petarung yang hebat dan gesit. Sang ular tidak membiarkan
musuhnya memenangkan pertarungan tersebut dengan mudah. Pertarungan antara
buaya Learissa-Kayeli dengan ular besar berlangsung selama tiga hari. Pada hari
keempat, keduanya merasa sangat lelah. Pertarungan untuk sementara waktu
dihentikan.
Meskipun demikian keduanya masih tetap dalam keadaan siaga. Ketika Buaya
Learissa-Kayeli sedang mengumpulkan tenaga, tiba-tiba ular menyerang. Namun,
Buaya Learissa-Kayeli mundur ke belakang mengangkat ekornya, lalu memukul
kepala ular hingga pecah dan berdarah. Ular Besar akhirnya dapat dikalahkan. Setelah
melihat ular mati, Buaya-Buaya dari Seram bersuka ria dan mengeluh-eluhkan nama
Buaya Learissa-Kayeli. Meskipun demikian, Buaya Learissa- Kayeli juga mendapat
luka di tulang belakangnya. Melihat keadaan Buaya Learissa- Kayeli yang luka parah,
buaya-buaya di Seram menyarankan kepada Buaya Learissa- Kayeli untuk tinggal
beberapa hari diTanjung Sial. Tetapi Buaya Learissa-Kayeli menolaknya. Dia tetap
memaksakan diri untuk kembali ke Haruku. Pilihan untuk kembali ke Haruku
diambilnya karena Buaya Learissa-Kayeli ingin melahirkan anaknya di desa Haruku.
Sebagai hadiah dan tanda terima kasih atas jasa Buaya Learissa-Kayeli, Buaya-Buaya
Seram memberikan Ikan Parang-Parang, Ikan Make, da Ikan Lompa untuk makanan
bayinya dan dibawa pulang ke Haruku. Setelah itu, Buaya Learissa- Kayeli kembali
ke desa Haruku bersama- sama dengan Ikan Parang-Parang, Ikan Make, dan Ikan
Lompa. Tiga jenis ikan tersebut mengikuti buaya Learissa-Kayeli untuk kembali ke
Haruku.
Di tengah perjalanan dia mampir ke daerah Waai. Dia masuk ke dalam sero (alat
penangkap ikan yang dibuat warga dari anyaman bambu). Buaya Learissa-Kayeli
terperangkap dan susah untuk keluar, hingga akhirnya dia lemas. Orang-orang Waai
yang melihat buaya tersebut ingin membunuhnya, tapi dia berkata kepada orang-
orang tersebut untuk jangan membunuhnya. Ambil saja lidi sapu lalu tusuk di
pusarnya. Akhirnya dia melahirkan. Ketika anaknya keluar, anaknya tersebut mencari
jalan untuk kembali ke desa Haruku. Ketika dia keluar dari Waii, buaya tersebut
bertemu tiga jenis ikan yang dengan setia menunggu induknya untuk melanjutkan
perjalanan kembali ke desa Haruku. Buaya tersebut melanjutkan perjalanan sampai ke
batu lompa, di situ dia sempat berlabuh. Kemudian dia lanjutkan perjalanannya lagi
sampai ke tanjung tial, lalu ke Passo.
Tapi dia salah jalan. Hal tersebutlah yang menyebabkan pada saat musim-musim
tertentu di Passo, sama seperti di desa Haruku, terdapat ikan lompa, ikan parang-
parang dan ikan make. Tapi buaya tersebut merasa ini bukan tempat induknya, maka
dia keluar [Link] dia meninggalkan ikan parang-parang di Passo. Lalu dia
menyebrang langsung ke muara kali Learissa-Kayeli. Akhirnya dia langsung masuk
ke dalam kali. Sebelum masuk kekali, dia berpesan kepada ikan make untuk tinggal
di laut dan menjadi bagian dari sasi laut. Sedangkan ikan Lompa menjadi sasi antara
sasi laut dan sasi kali. Lalu dia masuk terus ke dalam kali hingga mencapai muaranya.
Sedangkan ikan Lompa berlabuh di kali Learissa-Kayeli.
b. Analisis Fungsi Pelaku
Berikut ini akan digolongkan fungsi-fungsi pelaku dalam cerita rakyat ikan Lompa
dalam beberapa lingkaran, sesuai dengan metode yang kemukakan olehVladimir
Propp.
1) Lingkaran Pertama: Pengenalan
Dalam lingkaran pertama cerita Ikan Lompa, memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a) Meninggalkan rumah (absentation). Seorang tokoh meninggalkan
tempat tinggalnya dengan berbagai alasan. Tokoh Buaya Learissa-
Kayeli pergi meninggalkan kehidupannya yang tentram dan damai di
desa Haruku ke Tanjung Sial melawan Ular Besar. Buaya Learissa-
Kayeli memilih membantu teman-temannya di Tanjung Sial karena dia
merasa sedih dan ingin membantu teman-temannya.
b) Larangan (interdiction). Tokoh utama atau pahlawan dikenai larangan.
Larangan yang terdapat dalam cerita ini muncul dalam diri Buaya
Learissa-Kayeli. Buaya Learissa-Kayeli yang sedang mengandung
semestinya melarang dirinya sendiri untuk bertarung melawan Ular
Besar.
c) Pelanggaran terhadap larangan (violation of interdiction). Buaya
Learissa-Kayeli tidak mempedulikan keadaan dirinya yang sedang
hamil tua, dan lebih memilih untuk bertarung melawan Ular Besar dan
membantu teman-temannya di Tanjung Sial. Oleh karena itu, Buaya
Learissa-Kayeli melanggar larangan yang ada pada dirinya sendiri.
2) Lingkaran Kedua: Isi Cerita
Fungsi-fungsi yang termasuk lingkaran kedua, yaitu:
a) Kejahatan (villainy). Kejahatan yangdilakukan oleh Ular Besar
terhadapbuaya-buaya dan ikan-ikan di Pulau Seram menyebabkan
buaya-buaya dipulau Seram datang menjemput Buaya Learissa-Kayeli
untuk membantu mereka mengalahkan Ular Besar tersebut. b)
Kekurangan (lack). Buaya-buaya yang ada di Seram merasa sangat
terganggu dengan keberadaan ular besar. Kehidupan mereka terusik.
Oleh karena itu buaya-buaya yang ada di pulau Seram mengharapkan
hadirnya seorang penolong yang mampu membunuh ular besar,
sehingga kehidupan mereka kembali tentram dan damai.
b) Mediasi (mediation). Buaya Learissa-Kayeli yang telah sampai di
Tanjung Sial, diantar oleh para Buaya Seram untuk menemui Ular
Besar. Ketika Buaya Learissa-Kayeli bertemu dengan Ular Besar, dia
menasehati Ular Besar untuk tidak memangsa para Buaya Seram.
Namun nasehat yang diutarakan Buaya Learissa-Kayeli tidak
ditanggapi dengan baik.
c) Aksi balasan dimulai (bigining counter-action). Nasehat yang
disampaikan oleh Buaya Learissa- Kayeli kepada Ular Besar tidak
ditanggapi dengan baik. Ular Besar menjadi marah dan mengajak
Buaya Learissa-Kayeli untuk bertarung. Buaya Learissa-Kayeli
langsung menyanggupinya sehingga pertarungan pun tidak terelakkan.
3) Lingkaran Ketiga: Rangkaian Donor
Fungsi-fungsi yang termasuk lingkaran ketiga, yaitu:
a) Fungsi pertama bantuan (first function of the donor). Buaya Learissa-
Kayeli diinterogasi oleh Ular Besar. Ular Besar yang merasa kesal
menginterogasi dan mengintimidasi Buaya Learissa- Kayeli agar pergi
meninggalkan Tanjung Sial. Karena Buaya Learissa-Kayeli tidak mau
mendengar perkataan Ular Besar, maka Ular Besar langsung
menyerang Buaya Learissa-Kayeli.
b) Reaksi pahlawan (hero’s reaction). Buaya Learissa-Kayeli yang
merasa diserang langsung melawan serangan dan tantangan yang
dilancarkan oleh Ular Besar.
c) Pertempuran (struggle). Pertempuran antara Buaya Learissa-Kayeli
dengan Ular Besar berlangsung selama tiga hari. Mereka masing-
masing menunjukkan kemahirannya dalam bertempur. Bentuk tubuh
Buaya Learissa-Kayeli yang kecil dan bertenaga memudahkannya
untuk menghindari serangan-serangan yang diluncurkan oleh Ular
Besar. Begitupun sebaliknya, ular besar merupakan petarung yang
hebat dan pantang menyerah.
d) Kemenangan (victory). Pada hari keempat Ular Besar dan Buaya
Learissa-Kayeli menghentikan pertempuran untuk sementara waktu.
Meskipun demikian, keduanya masih dalam keadaan siaga. Ketika
Buaya Learissa-Kayeli sedang mengumpulkan tenaga, tiba-tiba ular
menyerang. Namun, Buaya Learissa-Kayeli mundur ke belakang
mengangkat ekor lalu memukul kepala ular hingga pecah dan darah
keluar lalu jatuh ke pasir. Setelah melihat ular mati, Buaya-Buaya dari
Seram bersuka ria dan mengeluh- eluhkan nama Buaya Learissa-
Kayeli. Meskipun demikian, Buaya Learissa-Kayeli juga mendapat
luka di tulang belakangnya.
e) Kekalahan pertama (liquidation). Buaya Learissa-Kayeli yang telah
berhasil membunuh Ular Besar juga mengalami luka parah di tulang
belakangnya. Luka tersebut membuatnya merasa sangat kesakitan.
Luka yang dideritanya juga memicu kesakitan pada bagian tubuh yang
lainnya, terutama pada kehamilannya. Perjalanan jauh menuju desa
Haruku dan kekuatan fisik yang melemah memaksa Buaya Learissa-
Kayeli untuk melahirkan anaknya di desa Waii. Karena kelelahan
akibat melahirkan, dan kekuatan fisiknya yang sangat menurun Buaya
Learissa-Kayeli akhirnya meninggal. Kematian Buaya Learissa-Kayeli
ini merupakan bentuk kekalahan pertama. Sebelum meninggal, Buaya
Learissa-Kayeli berpesan kepada anak yang dilahirkannya untuk
melanjutkan perjalanan menuju desa Haruku.
4) Lingkaran Keempat: Kembalinya Sang Pahlawan
Fungsi-fungsi yang termasuk dalam lingkaran keempat, yaitu:
a) Kepulangan. Walaupun dalam keadaan luka parah, tetapi Buaya Learissa-
Kayeli tetap memutuskan untuk pulang ke Haruku. Dia ingin melahirkan
anaknya di sana. Sebagai hadiah dan tanda terima kasih atas jasa Buaya
Learissa-Kayeli, Buaya- Buaya Seram memberikan IkParang-Parang, Ikan
Make, dan Ikan Lompa untuk makanan bayinya dan dibawa pulang ke
Haruku. Setelah itu, Buaya Learissa-Kayeli kembali ke desa Haruku
bersama-sama dengan Ikan Parang-Parang, Ikan Make, dan Ikan Lompa.
b) Pencarian (pursuit). Pahlawan dicari (orang yang mencarinya ingin
membunuh). Masyarakat desa Waii yang terkejut melihat Buaya
terdampar di sungai, langsung beramai-ramai mengerubungi buaya
tersebut dan ingin membunuhnya.
c) Penyelamatan (rescue). Dalam perjalanan pulang ke desa Haruku, Buaya
Learissa-Kayeli yang tidak mampu menahan rasa sakitnya akhirnya
kehilangan arah, sehingga dia terdampar di desa Waii. Melihat bentuk
fisiknya yang aneh, masyarakat desa Waii ingin membunuh Buaya
Learissa-Kayeli. Tetapi Buaya Learissa-Kayeli kemudian memohon
kepada masyarakat desa Waii untuk tidak membunuhnya. Dia
mengutarakan bahwa dirinya dalam keadaan hamil dan akan melahirkan.
Oleh karena itu dia memohon agar masyarakat desa Waii tidak
membunuhnya tetapi menusuk pusarnya agar dia mudah melahirkan
anaknya. Setelah Buaya Learissa-Kayeli memberi penjelasan, masyarakat
desa Waii akhirnya setuju dengan permintaannya. Dalam fungsi ini,
masyarakat desa Waii bertindak sebagai penyelamat.
d) Perubahan Penampilan. Buaya Learissa-Kayeli melahirkan anaknya.
Karena kelelahan dan mengalami luka yang parah, akhirnya Buaya
Learissa-Kayeli mati di Waii. Anaknya kemudian melanjutkan pejalanan
pulang ke Haruku bersama Ikan Parang-Parang, Ikan Make, dan Ikan
Lompa. Buaya Learissa-Kayeli telah mengalami perubahan fisik menjadi
Anak Buaya.
e) Tugas yang sukar (difficult task). Anak buaya yang baru saja dilahirkan
langsung diberi tugas oleh ibunya untuk kembali ke desa Haruku. Tugas
tersebut merupakan tugas yang sukar dilaksanakan mengingat Anak Buaya
harus mencari jalan sendiri dengan menggunakan instingnya menuju desa
Haruku.
f) Penyelesaian (solusi). Tugas yang diberikan oleh induknya akhirnya
diselesaikan dengan baik. Walaupun beberapa kali tersesat, Anak Buaya
Learissa-Kayeli akhirnya dapat kembali ke desa Haruku. Kehadiran Anak
Buaya membawa berkah kepada masyarakat desa Haruku karena dia
membawakan ikan make dan lompa. Kedua ikan tersebut hingga kini
dimanfaatkan oleh masyarakat desa Haruku.
g) Pengenalan (recognition). Setelah mendapat pesan dari ibunya, Anak
Buaya Learissa-Kayeli kemudian keluar dari sungai desa Waii. Ketika dia
keluar, dia bertemu dengan ikan parang-parang, ikan make, dan ikan
Lompa. Ketiga ikan tersebut langsung mengenali Anak Buaya dan
begitupun sebaliknya. Kemudian Mereka bersama-sama menuju desa
Haruku. Ketika sampai di desa Haruku, masyarakat desa Haruku
mengenali Anak Buaya sebagai Buaya Learissa-Kayeli. Ketika Anak
Buaya memperkenalkan dirinya, barulah masyarakat desa Haruku tau
bahwa dirinya adalah Anak Buaya Learissa-Kayeli. Identitas Pelaku Dari
analisis di atas, diketahui bahwa cerita Ikan Lompa memiliki sembilan
belas [Link] sembilan belas fungsi tersebut, dapat diidentifikasikan
pelaku cerita, yang Parang-Parang, Ikan Make, dan Ikan Lompa untuk
makanan bayinya dan dibawa pulang ke Haruku. Setelah itu, Buaya
Learissa-Kayeli kembali ke desa Haruku bersama-sama dengan Ikan
Parang-Parang, Ikan Make, dan Ikan Lompa.
h) Pencarian (pursuit). Pahlawan dicari (orang yang mencarinya ingin
membunuh). Masyarakat desa Waii yang terkejut melihat Buaya
terdampar di sungai, langsung beramai-ramai mengerubungi buaya
tersebut dan ingin membunuhnya.
i) Penyelamatan (rescue). Dalamperjalanan pulang ke desa Haruku, Buaya
Learissa-Kayeli yang tidak mampu menahan rasa sakitnya akhirnya
kehilangan arah, sehingga dia terdampar di desa Waii. Melihat bentuk
fisiknya yang aneh, masyarakat desa Waii ingin membunuh Buaya
Learissa-Kayeli. Tetapi Buaya Learissa-Kayeli kemudian memohon
kepada masyarakat desa Waii untuk tidak membunuhnya. Dia
mengutarakan bahwa dirinya dalam keadaan hamil dan akan melahirkan.
Oleh karena itu dia memohon agar masyarakat desa Waii tidak
membunuhnya tetapi menusuk pusarnya agar dia mudah melahirkan
anaknya. Setelah Buaya Learissa-Kayeli memberi penjelasan, masyarakat
desa Waii akhirnya setuju dengan permintaannya. Dalam fungsi ini,
masyarakat desa Waii bertindak sebagai penyelamat.
j) Perubahan Penampilan. Buaya Learissa-Kayeli melahirkan anaknya.
Karena kelelahan dan mengalami luka yang parah, akhirnya Buaya
Learissa-Kayeli mati di Waii. Anaknya kemudian melanjutkan pejalanan
pulang ke Haruku bersama Ikan Parang-Parang, Ikan Make, dan Ikan
Lompa. Buaya Learissa-Kayeli telah mengalami perubahan fisik menjadi
Anak Buaya.
k) Tugas yang sukar (difficult task). Anak buaya yang baru saja dilahirkan
langsung diberi tugas oleh ibunya untuk kembali ke desa Haruku. Tugas
tersebut merupakan tugas yang sukar dilaksanakan mengingat Anak Buaya
harus mencari jalan sendiri dengan menggunakan instingnya menuju desa
Haruku.
l) Penyelesaian (solusi). Tugas yang diberikan oleh induknya akhirnya
diselesaikan dengan baik. Walaupun beberapa kali tersesat, Anak Buaya
Learissa-Kayeli akhirnya dapat kembali ke desa Haruku. Kehadiran Anak
Buaya membawa berkah kepada masyarakat desa Haruku karena dia
membawakan ikan make dan lompa. Kedua ikan tersebut hingga kini
dimanfaatkan oleh masyarakat desa Haruku.
m) Pengenalan (recognition). Setelah mendapat pesan dari ibunya, Anak
Buaya Learissa-Kayeli kemudian keluar dari sungai desa Waii. Ketika dia
keluar, dia bertemu dengan ikan parang-parang, ikan make, dan ikan
Lompa. Ketiga ikan tersebut langsung mengenali Anak Buaya dan
begitupun sebaliknya. Kemudian Mereka bersama-sama menuju desa
Haruku. Ketika sampai di desa Haruku, masyarakat desa Haruku
mengenali Anak Buaya sebagai Buaya Learissa-Kayeli. Ketika Anak
Buaya memperkenalkan dirinya, barulah masyarakat desa Haruku tau
bahwa dirinya adalah Anak Buaya Learissa-Kayeli.
c. Identitas Pelaku
Dalam cerita Ikan Lompa, terdapat tiga jenis pelaku sebagai berikut:
1. The villain, penjahat dalam cerita ini atau yang melakukan tindakan yang
meresahkan, yaitu Ular Besar. Ular Besar merupakan tokoh yang mengusik
ketentraman buaya-buaya di Seram. Dia dengan semena-mena membunuh
buaya-buaya yang ada di Tanjung Sial. Dia juga tidak memperbolehkan
buaya-buaya dan binatang lainnya mengambil makanan di sekitar tempat
tinggalnya. Padahal sumber makanan yang ada Tanjung Sial berada ditempat
tinggalnya. Oleh karena itu, buaya-buaya di Seram mengundang Buaya
Learissa-Kayeli untuk membunuhnya.
2. The donor, donor atau pemberi, orang yang mempersiapkan pahlawan, yaitu
buaya-buaya di Seram yang meminta bantuan kepada Buaya Learissa-Kayeli.
Buaya-buaya Seram yang diwakili Ketua Buaya Seram datang menjemput
Buaya Learissa-Kayeli. Dalam perjalanan mereka menuju Tanjung Sial, Ketua
Buaya Seram menceritakan pertarungan-pertarungan yang dilakukan lawan-
lawan Ular Besar pada pertarungan sebelumnya. Dalam hal ini Ketua Buaya
Seram mempersiapkan Buaya Learissa- Kayeli untuk membangun strategi
yang tepat untuk melawan Ular Besar. Ketua Buaya Seram sangat berharap
agar Buaya Learissa-Kayeli mampu membunuh Ular Besar sehingga
kedamaian kembali menyelimuti Tanjung Sial. Selain ada juga masyarakat
Waai yang menusuk perut Buaya Learissa- Kayeli dengan sapu ijuk hingga
akhirnya dia melahirkan anaknya. Peran masyarakat Waai dalam The donor
yaitu mereka membantu untuk melahirkan pahlawan baru. Buaya Learissa-
Kayeli yang awalnya dikenal sebagai pahlawan, kemudian digantikan
fungsinya dengan anaknya sendiri. Anak Buaya Learissa-Kayeli dianggap
sebagai pahlawan karena keberhasilannya membawa ikan Lompa, dan ikan
make sampai di desa Haruku. Karena keberhasilannya tersebut, hingga kini
masyarakat desa Haruku dapat terus memanfaatkan ikan-ikan tersebut untuk
kebutuhan sehari-hari.
3. The Hero. Yang menjadi pahlawan dalam cerita ini adalah Buaya Learissa-
Kayeli dan Anak Buaya Learissa-Kayeli. Buaya Learissa- Kayeli telah
berhasil membunuh Ular Besar yang merupakan musuh utama Buaya-Buaya
di Seram. Karena keberhasilannya tersebut, Buaya Learissa-Kayeli diberikan
hadiah ikan Lompa, Make, dan parang- parang. Di tengah jalan, Buaya
Learissa-Kayeli melahirkan anaknya yang dibantu oleh masyarakat desa
Waai. Anaknya yang baru lahir kemudian melanjutkan perjalanannya menuju
desa Haruku bersama-sama ikan Lompa, Make, dan Parang- parang. Di
tengah jalan Anak Buaya Learissa-Kayeli meninggalkan ikan Parang-Parang
di Passo. Bagi masyarakat desa Haruku, Anak Buaya Learissa-Kayeli juga
berfungsi sebagai pahlawan karena mampu membawa ikan Lompa dan ikan
make ke Haruku. Kedua ikan ini merupakan hasil laut yang khas dari desa
Haruku. Terlebih lagi Ikan Lompa yang merupakan bagian dari sasi Lompa.
Hingga saat ini, sasi Lompa merupakan sasi yang paling unik dan hanya ada
di desa Haruku.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]