Imunisasi IPV pada Bayi 4 Bulan di Jambi
Imunisasi IPV pada Bayi 4 Bulan di Jambi
Disusun Oleh:
Ririn Tripratiwi
(PO71242230227)
Dosen Pembimbing:
Titik Hindriati., [Link]., [Link]
i
LEMBAR PENGESAHAN
Mahasiswa
Ririn Tripratiwi
PO.71242230227
Mengetahui:
ii
KATA PENGANTAR
Ahamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus Asuhan Kebidanan
Komprehensif Pada By. K Dengan Imunisasi IPV Di Posyandu Valentin Wilayah
Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.
Penulisan laporan ini dalam rangka menerapkan tugas praktik klinik
kebidanan stase bayi, balita, apras yang merupakan salah satu mata kuliah atau
kurikulum yang harus dilalui dalam proses pendidikan profesi kebidanan. Dalam
penyusunan laporan ini penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan serta
pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Hj. Suryani, [Link], MPH selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Jambi
2. Lia Artika Sari, [Link] selaku Kaprodi Pendidikan Profesi Bidan Poltekkes
Kemenkes Jambi
3. Titik Hindriati., [Link]., [Link], selaku Pembimbing Institusi yang telah banyak
memberikan petunjuk dan pembelajaran, bimbingan serta motivasi dalam
pembuatan laporanini
4. Suwaibah., [Link], selaku Pembimbing Lahan di lahan praktik (CI).
5. Rekan-rekan sejawat dan seperjuangan yang telah memberikan saran dan
masukan kepada penulis dalam menyelesaikan laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih belum sempurna maka
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan
laporan selanjutnya. Akhir kata, penulis berharap semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkannya.
Penulis
iii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Lembar pengesahan....................................................................................................ii
Daftar Isi.....................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................3
C. Tujuan.............................................................................................................3
D. Manfaat..........................................................................................................4
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengumpulan Data Dasar...............................................................................33
B. Interpretasi Data Dasar...................................................................................33
C. Diagnosa/Masalah Potensial...........................................................................34
D. Identifikasi Tindakan Segera/Kolaborasi.......................................................34
E. Perencanaan....................................................................................................35
F. Pelaksanaan....................................................................................................36
G. Evaluasi..........................................................................................................38
H. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan..........................................................39
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................................40
B. Saran...............................................................................................................41
DAFTAR PUSTAKA
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Imunisasi ialah upaya meningkatkan kesehatan masyarakat yang paling
efektif dan efisien untuk mencegah penyakit dan menurunkan angka kematian.
Menurut data organisasi kesehatan dunia World Health Organization, pada
tahun 2018 ada sekitar 20 juta anak di dunia tidak mendapatkan imunisasi
lengkap, bahkan ada yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali (Dirjen
Pencegahan dan Pengandalian Penyakit, 2019).
Tingginya jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi meyebabkan
terjadinya beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan
kematian, yang seharusnya dapat dicegah dengan pemberian imunisasi.
Beberapa penyakit yang muncul kembali di negara maju dan berkembang
antara lain campak, pertusis, difteri dan polio. Satu dari setiap 200 orang yang
terinfeksi polio menyebabkan kelumpuhan ireversibel (biasanya di kaki). Di
antara mereka yang lumpuh, 5% -10% meninggal ketika otototot pernapasan
mereka tidak dapat digerakkan oleh virus (Hidayah et. Al., 2018 ; UNICEF,
2020).
Sejak tahun 2018 kawasan Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan
kasus Polio di beberapa negara, yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina, dan
[Link] kawasan tersebut telah lebih dari satu dekade tidak
ditemukan kasusPolio. Total kasus Polio VDPV (Vaccine Derived Polio Virus)
tipe 1 dari tahun 2018 hingga minggu 10 tahun 2020 sejumlah 12 kasus, Polio
VDPV tipe 2 sebanyak 14 kasus dan sampel polio lingkungan positif VDPV 1
sebanyak 19 sampel dan VDPV tipe 2 sebanyak 23 sampel. Indonesia
mengalami kejadian luar biasa polio pada bulan Maret 2005 karena ditemukan
kasus polio paralitik di Sukabumi dan Banten, provinsi Jawa Barat. Ditahun
2018, WHO telah melakukan penilaian risiko transmisi polio di Indonesia
untuk tingkat nasional maupun provinsi. Ada 3 indikator utama dalam
penilaian risiko tersebut yaitu imunitas populasi, surveilans, dan penyampaian
program. Hasil penilaian menunjukkan Indonesia berisiko tinggi dalam
transmisi Polio, dengan 23 provinsi (76,5%) diantaranya berisiko tinggi, 9
1
provinsi (23,5%) berisiko sedang dan hanya ada dua provinsi yang memiliki
resiko rendah, yaitu Yogyakarta dan Bali, (KemenKes, 2020).
Berdasarkan Permenkes No.12 tahun 2017, pemerintah menerapkan
pemberian 4 dosis Oral Polio Vaccine (OPV) dan 1 dosis Inactivated
PolioVaccine (IPV) ke dalam jadwal imunisasi rutin pada bayi. Rata-rata
cakupan OPV4 dalam tiga tahun terakhir sudah mencapai lebih dari 90%,
namun belum memenuhi target nasional (minimal 95% dan merata).
Sedangkan untuk cakupan IPV menunjukkan peningkatan di setiap tahun sejak
diperkenalkan pada tahun 2016, namun secara nasional tren cakupan IPV
masih kurang dari 80%. Status imunisasi polio (OPV4) pada kasus AFP (Acute
Flaccid Paralysis) bukan Polio berusia 6 – 59 bulan menunjukkan ada
peningkatan cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir untuk kasus yang
belum pernah diimunisasi (Zero Dose) dari 6% di tahun 2017, meningkat
menjadi 14% di tahun 2019. Hal ini menunjukkan masih banyak balita yang
belum mendapat imunisasi polio semakin meningkat (KemenKes, 2020).
Di Indonesia, setiap bayi (usia 0-11 bulan) diwajibkan mendapatkan
imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari 1 dosis Hepatitis B, 1 dosis BCG, 3
dosis DPT-HB-HiB, 4 tetes Polio tetes, dan 1 dosis Campak/MR. cakupan
imunisasi dasar lengkap secara nasional sebesar 83,3%. Angka ini belum
memenuhi target Renstra tahun 2020 yaitu sebesar 92,9%. Cakupan imunisasi
dasar lengkap pada tahun 2020 merupakan cakupan imunisasi dasar lengkap
yang terendah dalam kurun waktu 2011 – 2020 sebagai dampak dari adanya
pandemi COVID-19. Sedangkan apabila dilihat menurut provinsi, terdapat 6
provinsi yang dapat mencapai target Renstra tahun 2020 yaitu Provinsi Bali,
Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Jambi
(Kemenkes RI, 2021).
Cakupan imunisasi dasar lengkap di Provinsi Jambi sebesar 96,47% pada
tahun 2022 meningkat dari tahun 2021. Naiknya cakupan ini dikarenakan new
normal pasca pandemic Covid-19. Cakupan tertinggi imunisasi dasar lengkap
tertinggi adalah Sarolangun (131,31%), Tebo (114,69%), Tanjung Jabung
Timur (109,23%), Merangin (106,06%), dan Sungai Penuh (76,05%) dengan
capaian terendah (Profil Kesehatan Jambi, 2022).
2
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengambil
kasus bayi dengan imunisasi IPV sebagai laporan kasus dengan judul “Asuhan
Kebidanan Pada By. K Umur 4 Bulan Dengan Imunisasi IPV Di Posyandu
Valentin Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah pada
laporan kasus ini adalah “Bagaimana Penatalaksanaan Asuhan Kebidanan
Pada By. K Umur 4 Bulan Dengan Imunisasi IPV Di Posyandu Valentin
Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023?”
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada neonatus, bayi, balita dan
anak prasekolah asuhan kebidanan pada By. K Umur 4 Bulan Dengan
Imunisasi IPV Di Posyandu Valentin Wilayah Kerja Puskesmas Pematang
Kandis Tahun 2023.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengumpulan data dasar pada By. K Umur 4 Bulan
Dengan Imunisasi IPV Di Posyandu Valentin Wilayah Kerja Puskesmas
Pematang Kandis Tahun 2023.
b. Dapat menginterpretasi data dasar pada By. K Umur 4 Bulan Dengan
Imunisasi IPV Di Posyandu Valentin Wilayah Kerja Puskesmas
Pematang Kandis Tahun 2023.
c. Dapat mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial pada asuhan
kebidanan pada By. K Umur 4 Bulan Dengan Imunisasi IPV Di
Posyandu Valentin Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun
2023
d. Dapat menetapkan tindakan segera atau kolaborasi dalam asuhan
kebidanan pada By. K Umur 4 Bulan Dengan Imunisasi IPV Di
Posyandu Valentin Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun
2023.
3
e. Dapat menyusun rencana asuhan menyeluruh dalam asuhan kebidanan
pada By. K Umur 4 Bulan Dengan Imunisasi IPV Di Posyandu Valentin
Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.
f. Dapat melaksanakan langsung asuhan dengan efisien dan aman dalam
asuhan kebidanan pada By. K Umur 4 Bulan Dengan Imunisasi IPV Di
Posyandu Valentin Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun
2023.
g. Dapat mengevaluasi hasil tindakan dalam asuhan kebidanan pada By. K
Umur 4 Bulan Dengan Imunisasi IPV Di Posyandu Valentin Wilayah
Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023.
D. Manfaat
1. Bagi Lahan Praktik
Sebagai acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan
kebidanan dalam memberikan imunisasi IPV.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan untuk menghasilkan lulusan bidan yang
profesional dan mandiri serta sebagai penambahan bahan kepustakaan
yang dapat dijadikan studi banding untuk penelitian studi kasus
selanjutnya.
3. Bagi Penulis
Dapat meningkatkan pola pikir ilmiah dalam memberikan asuhan
kebidanan neonatus, bayi, balita dan anak prasekolah dan sebagai bahan
masukan atau informasi untuk peneliti agar mampu mengaplikasikan
seluruh teori ilmu yang telah didapat selama perkuliahan dan praktik
lapangan.
4
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. Jenis Kekebalan
Menurut Budi dan Sajekti (2011) kekebalan ada dua macam yaitu:
a. Kekebalan aktif
Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri
akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi atau terpajan
secara alamiah. Kekebalan aktif berlangsung lebih lama daripada
kekebalan pasif karena adanya memori imonulogik.
5
b. Kekebalan pasif
Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar
tubuh bukan dibuat oleh individu itu sendiri, contoh kekebalan pada
janin yan diperoleh dari ibu/kekebalan yang diperoleh setelah
pemberian suntikan immunoglobulin. Kekebalan pasif tidak
berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu
paruh IgG 28 hari, sedangkan waktu paruh immonuglobulin lainnya
lebih pendek.
3. Tujuan Imunisasi.
Tujuan dai pemberian imunisasi adalah menurunkan angka
kesakitan, kematian serta kecacatan akibat Penyakit yang Dapat Dicegah
Dengan Imunisasi (PD3I) seperti Tuberkolosis, Difteri, Pertusis, Tetanus,
Polio, Campak dan Hepatitis (Setiyani, 2016).
4. Sasaran Imunisasi
Sasaran imunisasi rutin pada bayi dan anak Setiyani (2016) adalah
sebagai berikut:
a. Bayi
Jenis Usia Jumlah Interval
imunisasi pemberian pemberian minimal
Hepatitis B 0-7 hari 1 -
BCG 1 bulan 1 -
Polio/IPV 1,2,3,4 bulan 4 -
DPT-Hb-Hib 2,3,4 bulan 3 4 minggu
Campak/MR 9 bulan 1 4 minggu
6
DT Bulan November Bulan imunisasi
anak sekolah (BIAS)
b. Pertusis
1) Definisi & Penyebab yaitu penyakit pada saluran pernapasan yang
disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertussis (batuk rejan).
2) Penularan: melalui percikan ludah (droplet infection) dari batuk
atau bersin
3) Gejala: pilek, mata merah, bersin, demam dan batuk ringan yang
lama-kelamaan menjadi parah dan menimbulkan batuk yang cepat
dan keras.
4) Komplikasi: Pneumonia bacterialis yang dapat menyebabkan
kematian.
5) Gambar:
7
c. Tetanus
1) Definisi & Penyebab yaitu penyakit Clostridium Tetani yang
menghasilkan neurotoksin.
2) Penularan: melalui kotoran yang masuk ke dalam luka yang dalam.
3) Gejala:
- Gejala awal: kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher,
kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam.
- Pada bayi terdapat gejala berhenti menetek (sucking) antara 3
sampai 28 hari setelah lahir.
- Gejala berikutnya: kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku.
4) Komplikasi: patah tulang akibat kejang, pneumonia, infeksi lain
yang dapat menimbulkan kematian.
5) Gambar:
d. Tubercolusis (TBC)
1) Definisi & Penyebab yaitu penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium tubercolosa disebut juga batuk darah.
2) Penularan: melalui pernapasan dan lewat bersin atau batuk.
3) Gejala:
- Gejala awal: lemah badan, penurunan berat badan, demam, dan
keluar keringat pada malam hari.
- Gejala berikutnya: batuk terus menerus, nyeri dada dan
(mungkin) batuk darah.
- Gejala lain tergantung organ yang diserang.
4) Komplikasi: kelemahan dan kematian.
8
5) Gambar:
e. Campak
1) Definisi & Penyebab yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus
myxovirus virida emeasles.
2) Penularan: melalui udara (percikan ludah) dari bersin atau batuk
penderita.
3) Gejala:
- Gejala awal: demam, bercak kemerahan, batuk, pilek,
konjuctivitis (mata merah) dan koplik spots.
- Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian
menyebar ketubuh dan tangan.
4) Komplikasi: diare hebat, peradangan pada telinga, infeksi saluran
napas (pneumonia).
5) Gambar:
f. Poliomielitis
1) Definisi & Penyebab yaitu penyakit pada susunan saraf pusat yang
disebabkan oleh virus polio tipe 1, 2, 3, secara klinis menyerang
anak di bawah umur 15 tahun dan menderita lumpuh layu akut
(acud flaccid paralysis= AFP.
2) Penularan: melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi.
3) Gejala: demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu
pertama.
4) Komplikasi: bisa menyebabkan kematian otot pernapasan terinfeksi
dan tidak segera ditangani.
5) Gambar:
9
g. Hepatitis B
1) Definisi & Penyebab yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus
Hepatitis B yang merusak hati (penyakit kuning)
2) Penularan:
- Penularan secara horizontal: dari darah dan produknya, suntikan
yang tidak aman, tranfusi darah, melalui hubungan seksual.
- Penularan secara vertical: dari ibu ke bayi selama proses
persalinan.
3) Gejala: merasa lemah, gangguan perut, gejala lain seperti flu, urin
menjadi kuning, kotoran menjadi pucat dan warna kuning bisa
terlihat pada mata ataupun kulit.
4) Komplikasi: penyakit ini bisa menjadi kronis yang menimbulkan
pengerasan hati (Cirrhosis Hepatis), kanker hati (Hepato Cellular
Carsinoma) dan menimbulkan kematian.
5) Gambar:
10
4) Gambar:
j. Hepatitis A
1) Definisi & Penyebab yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus.
2) Penularan: disebarkan oleh kotoran/tinja penderita, biasanya
melalui makanan (fecalocal).
3) Gejala: kelelahan, mual dan muntah, nyeri perut atau rasa tidak
nyaman, di daerah hati, kehilangan nafsu makan, demam, urin
berwarna gelap, nyeri otot, dan menguningnya kulit dan mata
(joundice).
4) Gambar:
11
B. Tinjauan Teori Imunisasi Polio
1. Pengertian Imunisasi Polio
Imunisasi polio adalah imunisasi untuk mencegah polio yang dapat
menyebabkan kelumpuhan, bahkan bisa berujung pada kematian.
Imunisasi polio termasuk salah satu imunisasi wajib bagi bayi yang
diberikan bersamaan dengan vaksin hIB, DPT, dan Hepatitis B.
Polio disebabkan oleh infeksi virus polio yang menyerang otak dan
sumsum tulang belakang. Akibatnya, penderita tidak dapat menggerakkan
bagian tubuh tertentu, seperti salah satu atau bahkan kedua kakinya.
2. Jenis-jenis Imunisasi Polio
Imunisasi polio terdiri dari dua jenis, yaitu vaksin polio suntik
(Inactivated Polio Vaccine/ IPV) dan vaksin polio oral (Oral Polio
Vaccine/ OPV).
a. Vaksin Polio Suntik (Inactivated Polio Vaccine/ IPV)
Vaksin polio suntik diberikan dengan cara menyuntikkan virus polio
yang sudah tidak aktif atau mati. Cara kerja vaksin ini adalah
membentuk kekebalan dalam darah, namun tidak di usus. Akibatnya,
kemungkinan anak terserang polio masing tinggi karena virus dapat
berkembang dengan bebas di usus. Inilah mengapa imunisasi polio
suntik perlu dilengkapi dengan vaksin polio oral.
b. Vaksin polio oral (Oral Polio Vaccine/ OPV)
Vaksin polio oral mengandung virus polio yang masih aktif, namun
sudah dilemahkan. Tujuannya adalah membentuk antibody (zat
kekebalan tubuh) di dalam usus untuk membunuh virus yang
berkembang di usus dan darah. Vaksin ini telah melalui proses
pelemahan tidak berbahaya sehingga aman untuk diberikan.
3. Dosis dan Waktu Pemberian Imunisasi Polio
Berdasarkan jadwal vaksin polio yang dikeluarkan oleh IDAI (Ikatan
Dokter Anak Indonesia), umumnya vaksin polio diberikan pada usia ketika
bayi baru lahir dan secara bertahap hingga usianya 18 bulan.
12
a. Anak-anak : Dosis vaksin polio untuk anak-anak adalah 0,5 ml. dosis
pertama akan diberikan pada bayi baru lahir dalam bentuk tetes/ oral.
Kemudian, vaksin berikutnya akan diberikan ketikan ketika anak
berusia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Anak juga bisa mendapatkan
vaksin booster di usia 18 – 24 bulan dan 5 tahun.
b. Orang Dewasa : Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan
vaksin akan diberikan vaksin sebanyak tiga kali dengan dosis masing-
masing adalah 0,5 ml. pemberian vaksin dilakukan dengan cara
menyuntikkan cairan melalui otot (intramuscular/ IM) atau di bawah
kulit (subkutan/ SC). Pemberian dosis pertama dan kedua diberi jarak
1-2 bulan, sedangkan dosis ketiga berjarak 6-12 bulan dari dosis
kedua.
4. Cara Pemberian Vaksin Polio
Vaksin polio adalah salah satu vaksin wajib yang diberikan langsung
oleh dokter atau petugas kesehatan di bawah pengawasan dokter. Vaksin
polio akan diberikan secara oral (OPV) maupun suntikan (IPV). OPV
diberikan kepada bayi sesaat setelah lahir. Sementara itu, IPV dianjurkan
untuk diberikan dua kali sebelum usia 1 tahun. Agar vaksin bisa bekerja
lebih efektif, pemberiannya harus disesuaikan dengan jadwal yang sudah
ditentukan.
5. Efek Samping.
Sama halnya dengan vaksin pada umumnya, tak menutup
kemungkinan bahwa vaksin polio dapat memunculkan beberapa efek
samping. Namun, sebagian besar efek samping tersebut bersifat ringan dan
hilang dengan sendirinya setelah 2 – 3 hari.
Beberapa efek samping ringan setelah vaksin polio adalah sebagai
berikut:
a. Rasa nyeri dibekas suntikan
b. Demam ringan setelah imunisasi
c. Pengerasan kulit di sekitar area suntikan
6. KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi)
KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan pada
seseorang yang terjadi setelah pemberian imunisasi. Kejadian ini dapat
13
merupakan reaksi vaksin ataupun bukan. Kejadian yang bukan reaksi
vaksin dapat merupakan peristiwa koinsidens (peristiwa yang kebetulan
terjadi) bersamaan atau setelah imunisasi. Klasifikasi KIPI dibagi menjadi
5 kategori:
a. Reaksi KIPI yang terkait komponen vaksin
KIPI yang diakibatkan sebagai reaksi terhadap satu komponen
atau lebih yang terkandung di dalam vaksin. Contoh: Pembengkakan
luas di paha setelah imunisasi DTP.
b. Reaksi KIPI yang terkait dengan cacat mutu vaksin
KIPI yang disebabkan oleh karena ada cacat mutu yang
dipersyaratkan dalam produk vaksin, termasuk penggunaan alat untuk
pemberian vaksin yang disediakan oleh produsen. Contoh: Kelalaian
atau kesalahan yang dilakukan oleh produsen vaksin pada waktu
melakukan inaktivasi virus polio saat proses pembuatan vaksin IPV.
Vaksin polio inaktivasi (IPV) Vaksin polio inaktivasi (mati) dibuat
pada tahun 1955 oleh Dr. Jonas Salk. Berbeda dengan vaksin polio
oral (OPV), vaksin hidup yang dilemahkan (LAV), IPV harus
diberikan melalui suntikan untuk membentuk respon imun. Kelalaian
dalam proses inaktivasi dapat menyebabkan kelumpuhan apabila IPV
tersebut disuntikkan kepada orang.
c. Reaksi KIPI akibat kesalahan prosedur
KIPI jenis ini disebabkan oleh cara pelarutan vaksin yang salah
dan cara pemberian vaksin yang salah. Kesalahan ini sangat mudah
untuk dihindari. Contoh: Terjadinya infeksi oleh karena penggunaan
vial multidosis yang terkontaminasi oleh mikroba (catatan: jarum
yang berulang-ulang masuk ke dalam vial sewaktu mengambil vaksin
sudah tidak steril lagi).
d. Reaksi KIPI akibat kecemasan karena takut disuntik
KIPI ini terjadi karena kecemasan pada waktu disuntik. Contoh:
Terjadinya apa yang disebut dengan vasovagal syncope. Sinkope yaitu
reaksi neurovaskuler yang menyebabkan terjadinya mata berkunang-
kunang, badan terasa lemah sampai pingsan. Sering terjadi pada anak
14
dewasa muda pada saat pemberian imunisasi atau sesudah pemberian
imunisasi.
e. Kejadian Koinsiden
KIPI ini disebabkan oleh hal-hal lain yang tidak disebutkan
sebelumnya. Contoh: Demam yang sudah terjadi sebelum atau pada
saat pemberian imunisasi. Dalam hal ini dikatakan sebagai asosiasi
temporal Asosiasi temporal Dua atau lebih kejadian yang terjadi pada
waktu yang bersamaan. Kejadian pertama dapat berhubungan atau
tidak berhubungan dengan kejadian berikutnya. Sebagai contoh di
daerah endemis malaria. Malaria Penyaki infeksi yang disebabkan
oleh parasit (plasmodium) yang ditularkan dari manusia ke manusia
melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi. Malaria
merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di sub sahara
Afrika. seperti di daerah sub sahara, penderita malaria yang
disebabkan infeksi plasmodium malaria yang ditularkan oleh nyamuk
anopheles sangat sering terjadi. Sehingga sering terjadi KIPI yang
bersifat koinsiden. KIPI koinsiden apabila sering ditemukan didalam
kegiatan imunisasi, maka dapat dijadikan sebagai indikasi bahwa ada
masalah kesehatan masyarakat diwilayah tersebut yang perlu
dianalisis lebih jauh.
7. Pathway
15
C. Manajemen Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah. Penemuan-penemuan, keterampilan dalam
rangkaian atau tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang
berfokus pada klien (Varney, 2007).
2. Tahap-tahap dalam manajemen kebidanan
Beberapa tahap manajemen kebidanan menurut Varney (2007) yaitu:
a. Langkah I. Pengumpulan data dasar
Pada langkah ini untuk mengumpulkan semua informasi yang
akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi
klien untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
16
1) Anamnesa yaitu akan mendapatkan data subjektif dari pasien seperti
ibu mengatakan ingin mengimunisasikan anaknya, riwayat penyakit
lalu, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit keluarga, data
imunisasi, data kebutuhan dasar.
2) Pemeriksaan fisik yaitu akan mendapatkan data objektif sesuai dengan
dengan kebutuhan, pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan inspeksi
dan palpasi pada tubuh bayi.
3) Pemeriksaan tanda-tanda vital bayi dalam batas normal, nadi 120
x/menit, pernapasan 44x/menit, 36,60C.
b. Langkah II. Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan interpretasi dengan benar terhadap
diagnosa atau masalah kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang
benar atas data-data yang telah diperoleh. Data dasar yang sudah
terkumpul kemudian diinterpretasikan selanjutnya dapat dirumuskan
diagnosa dan masalah yang spesifik.
1) Diagnosa Kebidanan.
Pada kasus ini didapatkan diagnosa By. K umur 4 bulan
dengan imunisasi IPV.
Data Dasar:
a) Data subjektif: ibu mengatakan ingin mendapatkan imunisasi IPV
untuk bayinya dan ibu mengatakan anaknya tidak sedang sakit.
b) Data objektif: bayi terlihat sehat dan gerakannya aktif serta tanda-
tanda vital normal.
2) Masalah : Masalah yang umum muncul pada balita dengan imunisasi
IPV adalah timbulnya bekas suntikan.
3) Kebutuhan : menganjurkan kepada ibu untuk tidak memegang pada
bekas suntikan supaya tidak terjadi infeksi karena hal tersebut
normal.
c. Langkah III. Identifikasi diagnosa/masalah potensial
Pada langkah ini melakukan identifikasi diagnosa atau masalah
potensial dan mengantisipasi penanganannya. Masalah potensial atau
17
diagnosa potensial yang berdasarkan serangkaian masalah atau diagnosa
yang sudah diidentifikasikan. Pada langkah ini dibutuhkan antisipasi bila
memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien. Bidan
diharapkan bisa bersiap-siap jika diagnosa/masalah potensial ini benar-
benar terjadi. Pada langkah ini sangat penting dilakukan asuhan yang
aman. Diagnosa potensial pada balita dengan imunisasi IPV adalah
demam ringan, gangguan kekebalan, dan diare.
d. Langkah IV. Tindakan segera/kolaborasi
Pada langkah ini menggambarkan kesinambungan dari proses
manajemen kebidanan. Bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan
segera atau melakukan konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga
kesehatan yang lain berdasarkan kondisi klien. Pada langkah ini bidan
juga harus merumuskan tindakan kegawatdaruratan untuk
menyelamatkan klien, yang mampu dilakukan secara mandiri dan bersifat
rujukan.
Tindakan segera pada balita dengan imunisasi IPV yang perlu
disiapkan adalah pemberian Parasetamol syrup 120 ml untuk
mengantisipasi demam.
e. Langkah V. Rencana asuhan kebidanan
Berdasarkan langkah-langkah sebelumnya maka dapat dibuat
rencana asuhan yang menyeluruh. Rencana asuhan merupakan lanjutan
manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi.
Rencana asuhan yang dibuat harus melibatkan klien dan bidan agar dapat
melaksanakan dengan efektif (Jannah: 2012).
Rencana asuhan yang akan dilakukan yaitu beritahu hasil
pemeriksaan, jelaskan pada ibu tentang pentingnya imunisasi IPV, beri
suntikan campak secara IM di paha kanan bayi, berikan Parasetamol
syrup 120 ml untuk mengatasi demam, anjurkan ibu untuk menyusui
bayinya sesering mungkin, beritahu ibu bahwa imunisasi wajib anaknya
sudah selesai, anjurkan ibu untuk datang ke tenaga kesehatan apabila ada
keluhan (Depkes, 2005).
f. Langkah VI. Implementasi/pelaksanaan asuhan kebidanan
18
Melaksanakan rencana tindakan secara efisien dan
memperhatikan rasa aman klien. Perencanaan ini dilakukan sepenuhnya
oleh bidan dan sebagian oleh pasien atau tim kesehatan lainnya (Depkes,
2005).
g. Langkah V. Evaluasi kebidanan
Menilai pelaksanaan asuhan yang telah diberikan kepada klien.
Bidan harus dapat mengamati dan mengobservasi terhadap masalah yang
dihadapi klien, apakah masalah diatasi seluruhnya, sebagian telah
dipecahkan atau mungkin muncul masalah baru. Pada prinsipnya langkah
ini ini adalah mengkaji kembali terhadap klien untuk menjawab
pertanyaan sejauh mana tercapainya rencana yang dilakukan.
Evaluasi asuhan kebidanan pada bayi dengan imunisasi IPV
menurut Depkes (2005) adalah:
1. Keadaan umum anak baik
2. Ibu sudah mengerti tentang pentingnya imunisasi IPV
3. Suntikkan vaksin campak sudah diberikan pada pasien
4. Antipiretik sudah diberikan pada ibu untuk mengatasi demam
pada pasien
5. Ibu sudah mengerti bahwa imunisasi wajib anaknya sudah selesai
6. Ibu bersedia untuk tetap menjaga kesehatan anak
7. Ibu bersedia untuk datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan
3. Pendokumentasian asuhan kebidanan
Pendokumentasian yaitu catatan tentang interaksi antara tenaga
kesehatan, klien, keluarga klien, dan tenaga kesehatan lain yang mencatat
tentang hasil pemeriksaan, prosedur, pengobatan pada klien dan pendidikan
kepada klien, serta respon klien terhadap semua kegiatan yang dilakukan.
Alur pikir bidan dalam menghadapi klien meliputi 7 langkah kemudian
didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu:
a. S: Subjektif
Menggambarkan hasil pengumpulan data dasar klien yang diperoleh dari
anamnesis sebagai langkah I Varney.
b. O: Objektif
19
Menggambarkan hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium, dan
uji diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung
asuhan sebagai langkah I Varney.
c. A: Assesment
Menggambarkan hasil analisis dan interpretasi data subjektif dan objektif
dalam suatu identifikasi masalah, terdiri dari:
1) Diagnosis/masalah
2) Antisipasi diagnosis/masalah potensial
3) Tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi kolaborasi dan
merujuk, sebagai langkah 2,3, dan 4 Varney.
d. P: Planning
Menggambarkan dokumentasi rencana, pelaksanaan dan evaluasi
berdasarkan pengkajian langkah 5,6, dan 7 Varney.
Pendokumentasian SOAP dilakukan pada asuhan tahap berikutnya dan
evaluasi hari berikutnya.
20
dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena
di populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada
sebagian penggunanya.
b. Evidence-based Policy adalah satu sistem peningkatan mutu
pelayanan kesehatan dan kedokteran (Clinical Governance): suatu
tantangan profesi kesehatan dan kedokteran di masa mendatang.
c. Evidence based Midwifery adalah pemberian informasi kebidanan
berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan.
d. Evidence based report adalah mgmpakan bentuk penulisan laporan
kasus yang baru berkembang, memperlihatkan bagaimana hasil
penelitian dapat diterapkan pada semua tahapan penatalaksanaan
pasien.
4. Sumber Evidence Based
Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari
internet maupun berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin,
atau CD. Situs internet yang ada dapat diakses, ada yang harus dibayar
namun banyak pula yang public domain.
5. Evidence Based Imunisasi Polio
a. Efektifitas Terapi Dekapan Ibu Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri
Pada Bayi Yang Menjalani Imunisasi (Wijayanti dan Oktarina,
2021).
Pemberian imunisasi melalui suntikan dapat menimbulkan
efek secara langsung yaitu rasa nyeri pada anak. Nyeri yang
disebabkan oleh suntikan imunisasi jika tidak dikelola akan
mengakibatkan dampak negatif pada aspek emosional pada anak
seperti menangis dan ketakutan. Salah satu intervensi yang dapat
dikembangkan dalam menerapkan perawatan traumatik saat
pemberian imunisasi pada anak adalah terapi dekapan ibu. Tujuan
dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis efektifitas terapi
dekapan ibu terhadap nyeri pada bayi yang dilakukan imunisasi di
Puskesmas Lerep. Jenis penelitian adalah Preeksperimen design
dengan rancangan pretest-post test control group design. Metode
Pengambilan sampling menggunakan Purposive sampling dengan
21
jumlah sampel pada kelompok kontrol sejumlah 30 bayi dan
kelompok intervensi 30 bayi. Dalam penelitian ini ada 2 variabel
yang diukur yaitu variabel Nyeri dan pemberian terapi dekapan ibu.
Variabel nyeri diukur menggunakan instrument FLACC Pain
Assessment Tools. Sedangkan variabel terapi dekapan ibu diukur
dengan melakukan observasi saat pemberian imunisai. Uji statistik
yang digunakan adalah dengan t test-independent. Hasil yang
didapatkan adalah p value 0,0001. Berdasarkan hasil analisis
diketahui bahwa ada perbedaan selisih rata-rata nyeri pada kelompok
intervensi dan kontrol (p < 0,05)
b. Pengaruh Kompres Hangat Pada Tempat Penyuntikkan Terhadap
Respon Nyeri Pada Bayi Saat Imunisasi Di Puskesmas Tanawangko
Kabupaten Minahasa (Ndede dkk, 2015).
Imunisasi dapat menimbulkan respon nyeri sehingga dapat
menimbulkan trauma pada masa anak-anak. Tujuan penelitian ini
menganalisa pengaruh pemberian Kompres Hangat terhadap respon
nyeri pada bayi di Puskesmas Tanawangko Kabupaten Minahasa.
Desain penelitian menggunakan Quasi experimental design dengan
rancangan Pre-Post with Control Group. Sampel yaitu bayi berusia 0-
12 bulan yang dilakukan tindakan imunisasi yang terdiri dari 20
responden kelompok intervensi kompres hangat dan 20 responden
kelompok kontrol. Analisis penelitian ini menggunakan Uji T-test
Independen dan Dependen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
respon nyeri sesudah diberikan kompres hangat lebih rendah
dibandingkan dengan respon nyeri bayi sesudah penyuntikkan tanpa
pemberian kompres hangat (p = 0,000) dan kompres hangat memberi
pengaruh dalam menurunkan respon nyeri pada bayi saat imunisasi
(p = 0,000). kompres hangat dapat diterapkan atau digunakan
sebelum penyuntikkan imunisasi untuk menurunkan respon nyeri
pada bayi.
c. Perbedaan KIPI pada Pemberian Parasetamol Sebelum dan Sesudah
Imunisasi Pentabio di Wilayah Puskesmas Wonosari (Suparwati dkk,
2018).
22
Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui perbedaan kipi pada
pemberian parasetamol sebelum dan sesudah imunisasi pentabio di
wilayah Puskesmas Wonosari. Desain penelitian analitik komparasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan prospektif. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua bayi usia 2 - 4 bulan yang mendapatkan
imunisasi Pentabio di Wilayah Puskesmas Wonosari Kabupaten
Bondowoso. Jumlah sampel yaitu 70 bayi yang diberikan
parasetamol sebelum imunisasi pentabio dan bayi yang diberikan
parasetamol sesudah imunisasi pentabio di Wilayah Puskesmas
Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso. Analisis
data menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian Pemberian
parasetamol sebelum imunisasi dengan adanya KIPI sebesar 34,2%
dan tidak adanya KIPI sebesar 65,8%. [Link] parasetamol
sesudah imunisasi dengan adanya KIPI sebesar 82,9% dan tidak
adanya KIPI sebesar 17,1%. [Link] Perbedaan KIPI pada
Pemberian Parasetamol Sebelum dan Sesudah Imunisasi Pentabio di
Wilayah Puskesmas Wonosari yaitu KIPI lebih kecil terjadi pada
pemberian parasetamol sebelum imunisasi pentabio.
23
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
Tanggal masuk : 16 Desember 2023, pukul : 9.30 WIB
Tanggal pengkajian : 16 Desember 2023, pukul : 9.40 WIB
Nama pengkaji : Ririn Tripratiwi
B. MANAJEMEN KEBIDANAN
1. LANGKAH I. PENGKAJIAN DATA DASAR
A) DATA SUBJEKTIF
Identitas Bayi
Nama Bayi : By. K
TTL : Bangko, 13 Agustus 2023
Umur : 4 bulan
Anak ke : Pertama
Jenis kelamin : Laki-laki
Identitas Ibu Identitas ayah
Nama ibu : Ny. A Nama ayah : Tn.D
Umur : 24 tahun Umur : 25 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku Bangsa : Melayu Suku Bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Pematang Kandis
Keluhan utama
Ibu mengatakan umur bayinya 4 bulan dan dalam keadaan sehat ingin
mendapatkan imunisasi IPV untuk bayinya.
24
A. Data kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Ibu mengatakan anaknya tidak sedang mengalami sakit. Mengatakan
anaknya tidak ada penyakit menurun (DM, Asma), penyakit menular
(TBC, Hepatitis).
2) Riwayat penyakit dahulu
Ibu mengatakan bayinya tidak pernah sakit sampai memerlukan
penanganan yang serius.
3) Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menurun dan penyakit menular.
4) Data Imunisasi
Hepatiti BCG DPT- DPT- DPT- Campak/MR
sB & Hb-Hib Hb-Hib Hb-Hib
Polio 1 1 dan 2 dan 3 dan
Polio 2 Polio 3 Polio 4
13-08- 16-09- 16-10- 16-11- Belum Belum
2023 2023 2023 2023
5) Kebutuhan Dasar
a) Pola Makan
Frekuensi makan : belum MPASI
Frekuensi menyusu : ASI 10-12 x sehari
Makanan yang disukai : ASI
Makanan yang tidak disukai : tidak ada
Keluhan : tidak ada
b) Pola Istirahat
Lama tidur : 15-16 jam sehari
Keluhan : tidak ada
c) Personal Hygiene
Mandi : 2 x sehari
Keramas : 1 x sehari
Ganti pakaian : setiap basah/kotor
Keluhan : tidak ada
25
d) Aktifitas bermain
Aktifitas bermain : - tummy time
- melempar mainan
e) Eliminasi
Frekuensi BAK : 7-8 x sehari
Warna : kuning jernih
Jumlah : 1 celana popok penuh
Keluhan : tidak ada
Frekuensi BAB : 1-2 x sehari
Warna : kuning kecoklatan
Jumlah : 1 celana penuh
Keluhan : tidak ada
B) DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Tanda-tanda vital : Nadi : 125 x/menit
Suhu : 36,60C
Pernapasan : 40 x/menit
d. BB/PB : 6,3 kg / 59 cm
e. LK : 40 cm
2. Pemeriksaan head to toe
a. Kepala
Kepala simetris, rambut berwarna hitam, pertumbuhan merata,
keadaan bersih, lesi tidak ada, oedema tidak ada.
b. Wajah
Wajah simetris, oedema tidak ada.
c. Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, sekret tidak ada,
bentuk simteris, tanda infeksi tidak ada.
d. Hidung
Sekret tidak ada, keadaan bersih, lesi tidak ada.
26
e. Telinga
Kanan kiri simetris, tidak ada cairan yang keluar dan bersih.
f. Mulut
Sekret tidak ada, lidah bersih, gigi jumlah 4 (2 atas dan 2 bawah)
bersih, gusi kemerahan, tidak bengkak dan tidak berdarah, tidak
ada stomatitis.
g. Leher
Bentuk simteris, massa tidak ada, kekakuan tidak ada, [Link]
tidak ada pembesaran.
h. Dada
Bentuk simteris, type pernapasan normal, auskultasi suara normal,
pernapasan normal.
i. Abdomen
Bentuk simetris, bekas operasi tidak ada.
j. Genitalia
Oedema tidak ada, secret tidak ada, keluhan tidak ada.
k. Ekstremitas
Oedema tidak ada, kelainan tidak ada, turgor kulit baik.
3. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pengobatan yang telah didapatkan
Ibu mengatakan bayi belum pernah mendapatkan pengobatan apapun.
27
LK: 40 cm
Bayi tampak sehat dan gerakannya aktif.
Imunisasi yang telah didapatkan HB, BCG, DPT, Polio.
Keluhan: tidak ada
b. Masalah : tidak ada
c. Kebutuhan : tidak ada
28
h) Bengkok
i) Safety box
j) Tempat sampah
Rasional: dengan melakukan persiapan yang memadai maka asuhan yang
diberikan akan lebih efektif dan efisian.
4) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan kemudian dilap
dengan handuk bersih dan kering atau tisu dan menggunakan sarung
tangan steril.
Rasional: dengan mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan
mencegah terjadinya infeksi silang.
5) Suntikkan vaksin IPV 0,5 ml pada bayi secara IM di paha kanan bayi.
Rasional: dengan pemberian vaksin yang sesuai prosedur maka akan
memberikan efek terapi yang tepat.
6) Anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI pada bayinya sesering
mungkin.
Rasional: ASI merupakan sumber gizi buat bayi untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi bayi.
7) Memberi KIE pasca imunisasi IPV bahwa tidak ada efek samping kepada
bayi dan bila terjadi bengkak didaerah suntikan ibu hanya perlu
mengompres dengan air hangat.
8) Beritahu ibu bahwa imunisasi dasar anaknya sudah selesai.
Rasional: dengan memberitahu jadwal imunisasi dasar ibu akan
mengikuti jadwal yang telah tetapkan.
9) Beri tahu ibu untuk mengatasi demam pada anak berikan paracetamol
syrp 120 ml.
Rasional : Parasetamol adalah obat sebagai antipiretik atau analgesik
untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit
diwaktu haid dan sakit pada otot dan menurunkan Demam pada
influenza dan setelah vaksinasi (Dyniawati, 2011)
10) Anjurkan ibu datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan.
Rasional: apabila keluhan masih ringan dapat teratasi dengan baik maka
akan mengurangi angka kesakitan bahkan kematian.
11) Lakukan pendokumentasian
29
Rasional: pencatatan yang baik dapat menjadi pegangan petugas jika
terjadi sesuatu pada pasien.
30
9) Ibu sudah tahu bila anaknya demam maka diberi Parasetamol syrup 120
ml 2 x 1 sendok teh.
10) Ibu bersedia datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan pada
anaknya.
11) Pendokumentasian telah dilakukan.
31
BAB IV
PEMBAHASAN
32
Data yang dikumpulkan diinterpretasikan menurut diagnosa
kebidanan. Pada kasus ini interpretasi data meliputi masalah dan
kebutuhan. Pada By. K Umur 4 bulan dengan imunisasi IPV adapun
masalah yang dihadapi klien tidak ada, sehingga pada langkah
interpretasi data ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan
praktik di lapangan.
33
kasus By. K Umur 4 bulan dengan imunisasi IPV antisipasi tidak
dilakukan, oleh karena itu tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
praktik di lapangan.
5. Rencana asuhan
Perencanaan yang akan dilakukan pada By. K Umur 4 bulan
dengan imunisasi IPV yaitu:
a. Beritahu ibu tentang keadaan anaknya.
b. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya imunisasi IPV
c. Siapkan alat vaksin IPV
d. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan dan pakai sarung tangan
DTT.
e. Suntikkan vaksin IPV pada bayi secara IM di paha kanan bayi.
f. Anjurkan ibu tetap memberi ASI bayinya sesering mungkin.
g. Beritahu ibu bahwa imunisasi dasar anaknya sudah selesai.
h. Memberi KIE pasca imunisasi IPV bahwa tidak ada efek samping
kepada bayi dan bila terjadi bengkak didaerah suntikan ibu hanya
perlu mengompres dengan air hangat
i. Beritahu ibu bila anaknya demam beri Parasetamol syrup 120 ml
untuk mengatasi demam pada anak
j. Anjurkan ibu datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan.
k. Lakukan pendokumentasian
Menurut Kemenkes RI, perencanaan asuhan pada bayi dengan
imunisasi IPV yaitu menyiapkan alat vaksin IPV, beritahu tentang
keadaan anaknya, jelaskan tentang pentingnya imunisasi IPV, siapkan
alat vaksin IPV, suntikkan vaksin IPV pada bayi secara IM pada paha
kanan bayi, beri Parasetamol syrup 120 ml untuk mengatasi demam pada
anak, anjurkan ibu tetap memberi ASI bayinya sesering mungkin, dan
anjurkan ibu datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan.
Dalam buku IDAI antipiretik diberikan 30 menit sebelum imunisasi
DTP (Difteri Tetanus Pertusis )/DT (Difteri Tetanus), MMR (mumps
Measles Rubella ), Hib ( Hemofilus Influenza tipe b), hepatitis B dengan
dosis 15 mg/ kg bb untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca vaksinasi.
34
Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 6 kali
dalam 24 jam (IDAI, 2011). pemberian parasetamol dapat memberikan
efek penurun panas untuk menghindari panas bayi terhadap efek yang
ditimbulkan pada saat imunisasi. Berdasarkan data di atas dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik
dalam hal pemberian terapi.
6. Pelaksanaan
Pada langkah pelaksanaan asuhan kebidanan pada By. K Umur 4
bulan dengan imunisasi IPV merupakan pelaksanaan dari rencana
tindakan asuhan menyeluruh (Varney, 2004). Pada langkah perencanaan
ini telah dilakukan dan dikerjakan sesuai dengan rencana asuhan yang
telah dibuat dan adanya dukungan dari keluarga.
Pada kasus ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
praktik dalam menetapkan pelaksanaan secara menyeluruh.
Imunisasi merupakan salah satu sumber utama nyeri dan
penderitaan yang menimbulkan kecemasan dan trauma, tidak hanya pada
bayi tapi juga dapat terjadi pada keluarga (Razek & El-Dein, 2009). Cara
bayi mengungkapkan rasa nyerinya saat imunisasi berbeda-beda, salah
satunya menunjukkan perilaku distress (seperti menangis, ekspresi
meringis, mengerutkan dahi, bahkan menangis yang sulit didiamkan
(Hockenberry & Wilson, 2009).
Pada imunisasi IPV mempunyai efek yang membuat bayi akan
terdapat kemerahan/ pembengkakan pada daerah vaksinasi selama 3 hari
ini yang membuat nyeri yang cenderung dirasakan bayi yaitu pada skala
nyeri sedang dan berat sesuai dengan respon yang dialami. Nyeri
merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan yang
bersifat sangat subjektif. Perasaan nyeri pada setiap orang berbeda dalam
hal skala ataupun tingkatannya dan hanya orang tersebutlah yang dapat
menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Tetty, 2015).
Menurut Children’s hospital and clinic of minnesota (2007),
penatalaksaan nyeri dalam tindakan non farmakologi pada bayi meliputi
merubah lingkungan bayi seperti mengurangi kebisingan dan aktifitas
35
berlebihan, memberikan dot/empeng, menidurkan bayi, melakukan
distrasi seperti menggunakan musik, memeluk/mendekap. Mendekap
dapat mengurangi respon terhadap prosedur yang menyakitkan dan
merupakan sarana bagi orangtua untuk mengalihkan perhatian dan
menenangkan bayi mereka Musik terbukti menunjukkan adanya efek
dalam menurunkan frekuensi jantung, mengurangi kecemasan dan
depresi, serta menghilangkan nyeri (Natalina, 2013). Imunisasi IPV dasar
dilakukan pada usia 4 bulan dan pada usia tersebut bayi telah bisa
merespon. Saat usia ini, bayi berada pada titik puncak rasa
ketidaknyamanan ketika tidak berada bersama orang tua atau orang
terdekatnya.
Hasil penelitian Wahyuni & suryani (2020) menunjukkan rata-rata
penurunan skala nyeri sebelum dan sesudah terapi mendekap adalah 4,2
sedangkan terapi musik adalah 2,7. Disimpulkan bahwa terapi mendekap
lebih efektif dalam menurunkan skala nyeri pada bayi saat dilakukan
imunisasi. Hal ini sejalan dengan penelitian Wijayanti (2021) yang
berjudul Efektifitas Terapi Dekapan Ibu Terhadap Penurunan Intensitas
Nyeri Pada Bayi Yang Menjalani Imunisasi, Berdasarkan selisih rata-rata
nyeri pada kelompok kontrol dan intervensi terdapat penurunan skala
nyeri pada kelompok intevensi. (p value 0,0001 <0,005). Dari hasil
tersebut dapat disimpulkan intervensi terapi dekapan yang dilakukan
pada kelompok intervensi efektif untuk menurunkan skala nyeri bayi
pada tindakan imunisasi.
Kompres hangat menjadi salah satu pilihan tindakan yang mudah
dan praktis dalam menurunkan nyeri yang dirasakan bayi saat imunisasi.
Hal ini diperkuat dengan teori gate kontrol dimana kompres hangat yang
diberikan sebelum penyuntikkan mampu menimbulkan efek hangat serta
efek stimulasi kutaneus berupa sentuhan yang dapat melepaskan
endorphin pada jaringan kulit yang dapat memblok transmisi stimulus
nyeri sehingga impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh
mekanisme pertahanan disepanjang sistem syaraf pusat (Melzack &
Wall, 1965 dalam Potter & Perry, 2006)
36
Berdasarkan hasil penelitian Ndede (2015) menunjukan ada
pengaruh pemberian kompres hangat terhadap respon nyeri pada bayi
saat imunisasi dan ada perbedaan respon nyeri bayi yang diberikan
kompres hangat pada kelompok intervensi dengan bayi yang tidak
diberikan kompres hangat pada kelompok control.
Parasetamol adalah obat sebagai antipiretik atau analgesik untuk
mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit diwaktu haid
dan sakit pada otot dan menurunkan demam pada influenza dan setelah
vaksinasi (Dyniawati, 2011).
Dalam buku IDAI antipiretik diberikan 30 menit sebelum imunisasi
DTP (Difteri Tetanus Pertusis /DT (Difteri Tetanus), MMR (mumps
Measles Rubella), Hib (Hemofilus Influenza tipe b), hepatitis B dengan
dosis 15 mg/ kg bb untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca vaksinasi.
Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 6 kali
dalam 24 jam (IDAI, 2011). pemberian parasetamol dapat memberikan
efek penurun panas untuk menghindari panas bayi terhadap efek yang
ditimbulkan pada saat imunisasi. Hal ini sejalan dengan penelitian
Suparwati dkk (2018) Terdapat Perbedaan KIPI pada Pemberian
Parasetamol Sebelum dan Sesudah Imunisasi Pentabio di Wilayah
Puskesmas Wonosari yaitu KIPI lebih kecil terjadi pada pemberian
parasetamol sebelum imunisasi pentabio.
7. Evaluasi
Pada By. K Umur 4 bulan dengan imunisasi IPV setelah diberi
asuhan didapatkan evaluasi, yaitu:
a. Ibu telah mengetahui kondisi anaknya sekarang.
b. Ibu mengerti bahwa imunisasi IPV penting untuk anaknya.
c. Alat sudah tersedia dan siap digunakan.
d. Cuci tangan telah dilakukan dan sarung tangan DTT telah dipakai.
e. Vaksin sudah disuntikkan di lengan kiri atas bayi.
f. Ibu bersedia untuk memberikan ASI pada bayinya.
g. Ibu mengerti bahwa imunisasi lengkap pada anaknya sudah selesai.
37
h. Ibu bersedia datang ke tenaga kesehatan apabila ada keluhan pada
anaknya.
i. Pendokumentasian telah dilakukan.
38
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan tinjauan kasus asuhan kebidanan komperehensif pada bayi umur 4
bulan dengan imunisasi IPV dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Telah dilaksanakan pengumpulan data dasar pada By. K Umur 4 bulan
dengan imunisasi IPV di Posyandu Valenti Wilayah Kerja Puskesmas
Pematang Kandis Tahun 2023, data bayi berumur 4 bulan dengan
keadaan umum baik dan tidak sedang menderita suatu penyakit, nadi 120
x/menit, suhu 36,60C dan pernapasan 40 x/menit.
2. Telah dilakukan interpretasi data dasar pada By. K Umur 4 bulan di
Posyandu Valenti Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun
2023, diperoleh diagnosa kebidanan by. K Umur 4 bulan dengan
imunisasi IPV, tidak ditemukan masalah yang muncul, jadi tidak ada
kebutuhan diberikan pada klien.
3. Telah dilakukan identifikasi diagnosa atau masalah potensial pada kasus
By. K Umur 4 bulan dengan imunisasi IPV di Posyandu Valenti Wilayah
Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023, tidak muncul karena
pada kasus ini tidak muncul kegawatdaruratan.
4. Telah ditetapkan tindakan segera atau kolaborasi dalam asuhan
kebidanan By. K Umur 4 bulan dengan imunisasi IPV di Posyandu
Valenti Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023, pada
kasus ini tidak terdapat antisipasi, karena tidak ditemukan adanya
diagnosa potensial.
5. Telah disusun rencana tindakan asuhan kebidanan pada By. K Umur 4
bulan dengan imunisasi IPV di Posyandu Valenti Wilayah Kerja
Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023, dengan hasil merencanakan
asuhan berdasarkan diagnosa kebidanan, masalah dan kebutuhan.
6. Telah dilaksanakan tindakan asuhan yang telah direncanakan By. K
Umur 4 bulan dengan imunisasi IPV di Posyandu Valenti Wilayah Kerja
Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023, dengan semua tindakan yang
38
telah direncanakan dapat dilaksanakan seluruhnya dengan baik dengan
tidak ada hambatan.
7. Telah dilakukan evaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan pada By.
K Umur 4 bulan dengan imunisasi IPV di Posyandu Valenti Wilayah
Kerja Puskesmas Pematang Kandis Tahun 2023, dengan bayi telah diberi
imunisasi vaksin campak dan bayi dalam keadaan sehat.
B. Saran
Berdasarkan tinjauan kasus dan pembahasan kasus, maka penulis memberikan
sedikit masukan atau saran yang diharapkan dapat bermanfaat.
1. Untuk lahan praktik
Dapat dijadikan sebagai acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan
asuhan kebidanan dalam memberikan imunisasi IPV.
2. Untuk instistusi pendidikan
Dapat dijadikan sebagai acuan bagi institusi pendidikan dan dijadikan
studi banding untuk penelitian selanjutnya tentang imunisasi IPV.
3. Untuk penulis
Dapat digunakan untuk meningkatkan pola pikir ilmiah dalam
memberikan asuhan kebidanan.
39
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Umar Farmi. 2006. Imunisasi Mengapa Perlu?. Jakarta: Penerbit Buku
Kompas.
Budi S, Endang dan Sajekti, Sih. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada
Neonatus, Bayi dan Balita. Surabaya: Akademi Kebidanan Griya Husada
Surabaya.
Dinas Kesehatan Provinsi Jambi. 2018. Profil Kesehatan 2018. Jambi: Dinkes
Provinsi Jambi. [Link]
El Sinta B, Lusiana. 2019. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Neonatus, Bayi dan
Balita. Sidoarjo: Indomedia Pustaka.
Hockenberry M & Wilson D. 2009. Wong’s nursing care of infants and children,(8th
ed.). St. Louis: Mosby, Inc.: Elsevier Jannah, Nurul. 2012. Buku Ajar
Asuhan Kebidanan. Yogyakarta: Andi Offset.
40
Nurhasiyah Jamil, Siti dkk. 2017. Asuhan Kebidanan Pada Neonatus, Bayi, Balita
dan Anak Pra Sekolah. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Setiyani, Astuti. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan Asuhan Neonatus, Bayi,
Balita dan Anak Pra Sekolah. Jakarta: Kemenkes RI.
Sinaga, Plora N.F. 2016. Modul Praktek Asuhan Kebidanan Neonatus Bayi, Balita &
Anak Prasekolah. Medan: Akademi Kebidanan Mitra Husada Medan.
Suparwati dkk, 2018. Perbedaan KIPI pada Pemberian Parasetamol Sebelum dan
Sesudah Imunisasi Pentabio di Wilayah Puskesmas Wonosari.
Wahidayat. 2003. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Wijayanti dan Oktarina, 2021. Efektifitas Terapi Dekapan Ibu Terhadap Penurunan
Intensitas Nyeri Pada Bayi Yang Menjalani Imunisasi.
41