0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan6 halaman

Perbandingan Konus 30 dan 60 DCP

1. DCP digunakan untuk memperoleh data kekuatan tanah langsung di lapangan yang kemudian dapat digunakan untuk memperkirakan nilai CBR dan daya dukung tanah. 2. Terdapat hubungan antara hasil uji DCP dengan CBR dan daya dukung tanah dimana semakin tinggi nilai DCP maka semakin rendah nilai CBR dan daya dukung tanah. 3. Ada perbedaan penggunaan konus pada alat DCP, di mana konus 60 digunakan

Diunggah oleh

achmadrestufadhil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan6 halaman

Perbandingan Konus 30 dan 60 DCP

1. DCP digunakan untuk memperoleh data kekuatan tanah langsung di lapangan yang kemudian dapat digunakan untuk memperkirakan nilai CBR dan daya dukung tanah. 2. Terdapat hubungan antara hasil uji DCP dengan CBR dan daya dukung tanah dimana semakin tinggi nilai DCP maka semakin rendah nilai CBR dan daya dukung tanah. 3. Ada perbedaan penggunaan konus pada alat DCP, di mana konus 60 digunakan

Diunggah oleh

achmadrestufadhil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

Kapasitas dukung tanah merupakan salah satu hal penting dalam perencanaan
pondasi. Untuk merencanakan pondasi yang aman dan ekonomis, dibutuhkan data
hasil penyelidikan lapisan tanah pendukung pondasi. Ada beberapa metode
penyelidikan tanah yang lazim dilakukan antara lain uji penetrasi sondir (CPT),
pemboran/sampling untuk uji laboratorium dan uji SPT. Untuk bangunan berskala
kecil seperti bangunan perumahan dengan lebar pondasi yang relatif kecil, informasi
mengenai karakteristik lapisan tanah tidak perlu mencakup kedalaman yang besar
(kedalaman sekitar dua kali lebar pondasi biasanya dianggap sudah cukup
memadai)., Alat tersebut di atas kurang praktis dan relatif mahal. Penelitian ini
mengkaji kapasitas dukung tanah lanau dengan menggunakan parameter hasil uji
Dynamic Cone Penetrometer (DCP) dengan pertimbangan alat ini jauh lebih cepat
dan murah dalam penggunaannya (Bontong, 2011).
Dynamic Cone Penetrometer (DCP) adalah alat yang digunakan untuk mengukur
daya dukung tanah dasar jalan langsung di tempat. Tes Penetrasi kerucut dinamis
(DCPT) ini pada awalnya dikembangkan sebagai alternatif untuk mengevaluasi sifat-
sifat perkerasan lentur atau tanah dasar. Alat pengujian DCP terdiri dari komponen
atas yaitu tangkai baja yang pada bagian ujung dipasang konus baja dengan ukuran
dan sudut tertentu, dan pada bagian atas terdapat batang pengarah jatuh palu
penumbuk. Metode DCP ini merupakan pengujian kekuatan lapisan perkerasan jalan
baik itu berupa tanah dasar maupun pondasi bahan berbutir yang pengujiannya relatif
cepat, yaitu dengan cra menekan ujung konus yang ditimbulkan oleh pukulan palu
dengan beban dan tinggi jatuh tertentu menerus sampai kedalaman tertentu. (Mulyati,
2021).
Sampai saat ini alat DCP yang sudah banyak dikenal dan digunakan adalah DCP
yang diperkenalkan oleh TRL yang dilaporkan pada Overseas Road Note 31,
Crowthorne, UK (1993), untuk kondisi tropis dan sub-tropis. Grafik hubungan yang
digunakan adalah perumusan dari Smith dan Pratt, 1983 untuk sudut konus 30O
dengan persamaan Log CBR = 2,503 – 1,15(Log DCP), dan TRL, 1990 untuk sudut
konus 60O dengan persamaan Log CBR = 2,48 – 1,057(Log DCP). (Dachlan, 2005).
Pengujian cara dinamis ini dikembangkan oleh TRL (Transport and Road
Research Laboratory), Crowthorne, Inggris dan mulai diperkenalkan di Indonesia
sejak tahun 1985 / 1986. Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan nilai CBR
(California Bearing Ratio) tanah dasar, timbunan, dan atau suatu sistem perkerasan.
Pengujian ini akan memberikan data kekuatan tanah sampai kedalaman kurang lebih
70 cm di bawah permukaan lapisan tanah yang ada atau permukaan tanah dasar.
Pengujian ini dilakukan dengan mencatat data masuknya konus yang tertentu
dimensi dan sudutnya, ke dalam tanah untuk setiap pukulan dari palu/hammer yang
berat dan tinggi jatuh tertentu pula (Lengkong, P.I.L, dkk. 2013)

METODOLOGI
Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan merupakan tanah yang berada di bagian utara
dari kampus Teknik Lingkungan UPN Veteran Yogyakarta
Alat Penelitian
Alat uji sondir yang digunakan adalah sondir tipe Dynamic Cone Penetrometer Test
(DCPT), dengan alat penetrasi konus biasa, mengacu pada standar rujukan SNI 03-
2827-1992. Spesifikasi alat sebagai berikut:
• Konus dengan diameter 3,57 cm
• Luas penampang konus 10,0 cm2
• Sudut puncak konus 60owa
Alat uji DCP yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis yang
dikembangkan oleh Transport and Road Research Laboratory (TRL), Crowthorne
Berkshire, Inggris (Jones, 2004; Ilinois, 2005), buatan MBT ( type DCP 274 MBT).
dengan spesifikasi sebagai berikut:
• Massa palu penumbuk (hammer) 8 kg
• Tinggi jatuh 575 mm
• Diameter konus 20 mm
• Sudut puncak konus 60o (Bontong, 2011).
Sumber : Syahruddin, 2010

LANGKER
a. Letakkan alat DCP pada titik uji di atas lapisan yang akan diuji.
b. Pegang alat yang sudah terpasang pada posisi tegak lurus di atas dasar yang rata
dan stabil, kemudian catat pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman.
c. Mencatat jumlah tumbukan:
1. Angkat penumbuk pada tangkai bagian atas dengan hati-hati sehingga
menyentuh batas pegangan.
2. Lepaskan penumbuk sehingga jatuh bebas dan tertahan pada landasan.
3. Lakukan langkah-langkah pada di atas, catat jumlah tumbukan dan kedalaman
pada formulir DCP, sesuai ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Untuk lapis fondasi bawah atau tanah dasar yang terdiri dari bahan yang tidak
keras maka pembacaan kedalaman sudah cukup untuk setiap 1 tumbukan atau 2
tumbukan.
b. Untuk lapis fondasi yang terbuat dari bahan berbutir yang cukup keras, maka
harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 5 tumbukan sampai dengan
10 tumbukan.
4. Hentikan pengujian apabila kecepatan penetrasi kurang dari 1 mm/3
tumbukan. Selanjutnya lakukan pengeboran atau penggalian pada titik tersebut
sampai mencapai bagian yang dapat diuji kembali.

ISI
Hasil Perhitungan

Kegunaan DCP
Dynamic Cone Penetrometer sendiri merupakan instrument alat yang di desain untuk
emndapatkan kekuatan tanah di lapangan dengan cara menumbukkan besi dengan
berat sekitar 8kg, dimana penggunaan DCP ini nantinya dapat memberikan gambaran
akan kekuatan tanah berupa data penetrasi konus yang kemudian akan digunakan
dalam memperkirakan kekuatan CBR.

Hubungan DCP dengan Daya Dukung Tanah


Uji DCP memiliki hasil berupa data yang dapat menunjukkan perkiraan atau
gambaran dari kekuatan tanah sehingga dalam proses konstruksi sebuah bangunan
untuk mengetahui daya dukung tanah di lokasi yang akan dibangun, diperlukan data
perkiraan daya dukung tanah yang dapat dibuat dengan melihat kekuatan tanah itu
sendiri.

Hubungan CBR dengan DCP


Dalam penentuan nilai CBR maka diperlukan data dari pengujian DCP yang
nantinya data dari DCP ini akan dimasukkan kedalam persamaan. Dari hasil
perhitungan diatas maka didapatkan grafik hubungan DCP dengan CBR sebagai
berikut

Grafik

Dari grafik dapat kita lihat bahwa semakin tinggi nilai DCP nya maka semakin
rendah nilai CBR nya, begitu pula sebaliknya. Hal ini terjadi karena dengan
tingginya nilai DCP menandakan baha penetrasi konus yang terjadi cukup besar
tanah yang ditembus masih relatif lunak, tanah yang relatif lunak mengindikasikan
bahwa tanah tersebut memiliki daya dukung tanah yang rendah, hal inilah yang
menyebabkan nilai dari CBR akan naik seiring dengan turunnya nilai DCP.

Perbedaan Konus 60 dan 30


Pada umumnya konus dalam uji DCP terbagi menjadi 2 jenis, konus 60 dan
konus 30. Konus dengan sudut 60 biasanya digunakan untuk tanah yang memiliki
butir sangat halus (lempung) sampai berbutir sangat halus bercampur sedikit pasir
halus. Sedangkan konus dengan sudut 30 pada umummnya digunakan untuk tanah
dengan butir kasar. Penggunaan konus 60 pada percobaan kali ini karena tanah di
lokasi yang diteliti berupa tanah yang memiliki butir yang halus.
PENUTUP
KESIMPULAN

1. DCP digunakan dalam menentukan kekuatan tannah


2. Dalam menentukan daya dukung tanah diperlukan kekuatan tanah agar dapat
diperkirakan nilainya
3. Semakin tinggi nilai DCP semakin kecil nilai CBR, begitu pula sebaliknya
4. Konus 60 biasa digunakan pada tanah halus, konus 30 biasa digunakan pada tanah
kasar

DAFTAR PUSTAKA
Bontong, B. 2011. Kapasitas Dukung Tanah Lanau Menggunakan Parameter Uji
DCP Dengan Mengadopsi Korelasi Hambatan Konus CPT Dengan DCP. Jurnal
SMARTek, Vol. 9 No. 2. Palu : Universitas Tadulako
Dachlan, T.A. 2005. PENGUJIAN DAYA DUKUNG PERKERASAN JALAN
DENGAN DYNAMIC CONE PENETROMETER (DCP) SEBAGAI
STANDAR UNTUK EVALUASI PERKERASAN JALAN. Jurnal Standardisasi
Vol. 7 No. 3.
Lengkong, P.I.L, dkk. 2013. Hubungan Nilai CBR Laboratorium dan DCP Pada
Tanah yang Dipadatkan Pada Ruas Jalan Wori–Likupang Kabupaten Minahasa
Utara. Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.5. Manado : Universitas Sam Ratulangi
Mulyani. 2021. Prediksi Nilai Modulus Resilien Lapis Pondasi Atas Berdasarkan
Nilai DCP Menggunakan Alat Dynamic Cone Penetrometer Pada Beberapa
Titik Jalan Kota Batam. Sigma Teknika, Vol. 4, No.1. Kepulauan Riau :
Universitas Riau Kepulauan
Syahruddin, A. 2010. Pengujian Daya Dukung Perkerasan Jalan Dengan Dynamic
Cone Penetrometer (DCP) Sebagai Standar Untuk Evaluasi Perkerasan Jalan.
JURNAL APTEK Vol. 2 No. 1

Anda mungkin juga menyukai