PERSEPSI WANITA MEMILIH OLAHRAGA SEPAK BOLA
DI ROKAN HULU
PROPOSAL PENELITIAN
OLEH:
DEVA HARSA
NIM. 1934040
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PASIR PENGARAIAN
KABUPATEN ROKAN HULU
2023
LEMBAR PERSETUJUAN
PERSEPSI WANITA MEMILIH OLAHRAGA SEPAK BOLA
DI ROKAN HULU
PROPOSAL PENELITIAN
DEVA HARSA
NIM. 1934040
Program Studi : Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jenjang Pendidikan : Strata Satu (S1)
Tim Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
MASDI JARNIARLI, M. Kes RIDWAN SINURAT, [Link]. [Link] AIFO
NIDN. 1014019004 NIDN. 1003039301
Mengetahui
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
MUARIF ARHAS PUTRA, [Link]
NIDN. 1009039101
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,
nikmat dan kasih sayang-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan Proposal
Penelitian dengan judul “PERSEPSI WANITA MEMILIH OLAHRAGA
SEPAK BOLA DI ROKAN HULU” ini dengan baik. Proposal Penelitian ini
merupakan tugas akhir sebagai persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata Satu
(S-1) pada Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasir Pengaraian. Dalam penyusunannya,
peneliti mendapat banyak bimbingan serta dorongan penuh cinta dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, Peneliti ingin mengucapkan terimakasih yang setulus-
tulusnya kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan kesempatan, kemudahan serta
kelancaran pada peneliti, sehingga bisa menimba ilmu yang
bermanfaat hingga berada pada titik ini.
2. Bapak Muarif Arhas Putra, M. Pd selaku ketua program Studi
Pendidikan Olahraga dan Kesehatan yang telah meluangkan waktu
untuk memberikan masukan dan arahan dalam penyusunan proposal
ini.
3. Ibu Masdi Jarniarli. SST. M, Kes selaku Pembimbing I dan Bapak
Ridwan Sinurat, S. Pd, M OR AIFO selaku Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan, saranserta motivasi, sehingga peneliti bisa
menyelesaikan Proposal Penelitian ini.
ii
4. Bapak Dr. Hardianto, [Link] selaku Rektor Universitas Pasir
Pengaraian yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk
menyelesaikan perkuliahan.
5. Ibu Pipit Rahayu, M. Pd selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan yang telah memberikan pelayanan yang optimal selama
mengikuti perkuliahan, sehingga Peneliti dapat menyelesaikan
Proposal Penelitian ini.
6. Bapak Ibu Tata Usaha FKIP yang dengan sabar dan banyak
meluangkan waktu untuk selalu memberikan pelayanan terbaiknya
kepada peneliti hingga Proposal Penelitian ini selesai.
7. Kedua orang tua tercinta Ayahanda Salmi Jakfar dan Ibunda Harmiati
yang telah memberikan do’a bimbingan serta dukungan moral dan
materil, sehingga peneliti dapat menyelesaikan Proposal Penelitian
ini.
8. Sahabat Pasulow yang selalu memberikan semangat yaitu kepada,
Shiva, Julia Mitra, dan Mawaddah. Dan adek saya tercinta Hayyuni
Harsa yang selalu mendukung saya dalam segala hal.
9. Teman-teman satu angkatan 2019 yang tidak dapat disebutkan satu
persatu atas kebersamaan dan kekeluargaan yang sangat luar biasa
memberikan dukungan, semangat dan doa satu sama lain. Terimakasih
untuk memori indahnya.
10. Seluruh pihak yang telah membantu peneliti dalam penyusunan dan
penelitian Proposal Penelitian ini yang tidak bisa disebutkan satu
iii
[Link] atas semua doa dan dukungannya. Tanpa kalian
mungkin saya tidak akan sanggup untuk penyelesaian Proposal Penelitian
ini.
Peneliti menyadari bahwa Proposal Penelitian ini masih jauh dari kata
sempurna disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan dan kemampuan peneliti.
Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan bagi peneliti guna
tercapainya Proposal Penelitian yang lebih baik. Peneliti berharap semoga
penelitian Proposal Penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak terutama peneliti,
pembaca, maupun almamate
Pasir Pengaraian, Kamis 04 Mei 2023
Peneliti
iv
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN........................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
DAFTAR ISI................................................................................................... v
DAFTAR TABEL........................................................................................... vi
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah..................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah............................................................................ 8
1.3 Batasan Masalah................................................................................. 8
1.4 Rumusan Masalah............................................................................... 8
1.5 Tujuan Penelitian................................................................................ 8
1.6 Manfaat Penelitian.............................................................................. 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori........................................................................................ 10
2.1.1 Pengertian Olahraga.................................................................. 10
2.1.2 Ruang Lingkup Olahraga.......................................................... 11
2.1.3 Pengertian Sepak Bola.............................................................. 13
2.1.4 Sejarah Sepak Bola................................................................... 14
2.1.5 Sejarah Sepak Bola Wanita....................................................... 16
2.1.6 Keputusan Memilih................................................................... 21
2.1.7 Pengertian Persepsi................................................................... 23
2.2 Penelitian yang Relevan..................................................................... 31
2.3 Kerangka Konseptual......................................................................... 35
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian................................................................................... 36
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian............................................................ 36
3.3 Populasi dan Sampel ............................................................................ 36
3.4 Definisi Operasional........................................................................... 37
3.5 Teknik Pengumpulan Data................................................................. 38
3.6 Teknik Analisis Data.......................................................................... 43
v
DAFTAR PUSTAKA
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
44
vi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Proses Persepsi............................................................................... 25
Tabel 3.1 Skala Likert ................................................................................... 39
Tabel 3.2 Angket Penilaian............................................................................ 39
Tabel 3.3 Kontingensi untuk menghitung indeks Grogery ........................... 42
Tabel 3.4 Standar Penilaian Koefesian ......................................................... 42
Tabel 3.5 Kriteria Analisis Deskriptif Persentase............................................ 44
vii
viii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Secara umum olahraga merupakan salah satu aktivitas fisik maupun psikis
seseorang yang berguna untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan
Olahraga merupakan suatu aktifitas yang tidak terpisahkan dalam kehidupan dan
rutinitas sehari-sehari, aktifitas olahraga dapat dilakukan dimanapun kapanpun
dan oleh siapapun, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa sampai usia lanjut.
Olahraga memiliki berperan untuk menunjang terciptanya sumber energi manusia
yang mempunyai kualitas jasmani yang bagus. Selain berguna untuk jasmani,
olahraga juga berperan dalam pengembangan karakter bangsa.
Olahraga secara umum dapat dilihat sebagai suatu rangkaian kegiatan
keterampilan gerak atau memainkan objek, yang tersusun secara terstruktur dan
sistematis dengan menggunakan suatu Batasan aturan tertentu dalam
pekasanaannya. Olahraga dilakukan dalam bentuk-bentuk pertandingan,
permainan, perlombaan ataupun campuran ketiga-tiganya. Salah satu bentuk
olahraga yang merupakan campuran ketiga-tiganya adalah sepak bola
Sepakbola merupakan olahraga yang termasuk dalam permainan bola besar
dan merupakan olahraga paling populer di dunia. Tidak hanya kaum pria, banyak
kaum wanita yang menyukai olahraga sepak bola. Terdapat kurang lebih 265 juta
pesepakbola (pria dan wanita) di seluruh dunia dan 270 juta orang aktif terlibat
dalam sepak bola (FIFA, 2006: 1). Ini adalah hasil utama yang signifikan dari
survei yang dilakukan oleh FIFA dengan bantuan dari 207 asosiasi anggotanya.
1
2
Memasuki abad ke-21, olahraga ini telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta
orang di 200 negara, yang menjadikannya olahraga paling populer di dunia. Dari
anak-anak sampai orang dewasa menggemari olahraga sepakbola, bahkan tidak
hanya dilakukan oleh pria tetapi juga oleh wanita. Sepak bola adalah salah satu
olahraga paling populer di dunia, namun diidentikkan sebagai hal yang berbau
maskulin. Sehingga, ketika ada perempuan yang terlibat menjadi pemain sepak
bola selalu dianggap sebagai hal yang unik, aneh, tidak biasa, bahkan masih
ditabukan. Sepak bola merupakan olahraga yang sangat keras dan kasar dalam
permainannya. Pemain sepak bola dituntut untuk berlari, merebut bola,
berbenturan dengan lawan, berjibaku di lapangan dan lain sebagainya. Hal inilah
yang membuat masyarakat patriarki menganggap sepak bola hanya cocok
dimainkan oleh laki-laki, karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang
lemah
Begitu juga, saat perempuan terlibat langsung dalam sepak bola, selalu
muncul persepsi bahwa “sepak bola akan membuat wanita menjadi laki-laki”,
“olahraga akan membahayakan kesehatan wanita”, “wanita tidak memiliki
kemampuan untuk berolahraga” atau “wanita tidak tertarik untuk berkompetisi”.
Menurut persepsi partriarkis, lelaki dilahirkan untuk mendominasi, bersaing, dan
berjuang, sebaliknya wanita diharuskan untuk memahami, memiliki sifat penurut,
bersolidaritas, serta menunjukkan ketenangan dan kesetiannya kepada laki-laki
Tidak diketahui dengan pasti kapan tepatnya perempuan mulai bermain
sepak bola. Berbagai klaim sempat muncul mengenai kapan dan di mana pertama
kali perempuan mulai eksis di panggung sepak bola. Sumber lain menyatakan
bahwa Sepakbola wanita pertama kali ada atau diketahui di negara Cina.
3
sepakbola khususnya untuk kaum wanita sangat terkenal di negara tirai bambu.
Mereka telah memainkannya sejak dinasti Donghan yaitu sekitar tahun 25-200
SM. Perempuan di negara tersebut tidak canggung untuk memainkan si kulit
bundar bahkan mereka memainkannya diberbagai kesempatan, misalkan
menggelar pertandingan menyambut hari-hari besar seperti upacara adat.
Saat ini, sekitar 29 juta wanita bermain sepak bola, hampir 10% dari total
jumlah laki-laki, pesepakbola wanita di seluruh dunia yang terdaftar sebagai
pesepakbola wanita (di level junior dan senior) tumbuh lebih cepat 50% pada
2006 dibandingkan dengan Hitungan Besar FIFA sebelumnya ditahun 2000
(Ulrich, dkk., 2014:2). Pertandingan sepakbola wanita internasional pertama
dimainkan di Turki pada tahun 1969. Pertandingan dimainkan antara "tim wanita
Italia" dan "tim wanita Campuran Eropa" di Stadion Istanbul Mithatpaşa pada 22
Agustus,1969 menghasilkan hasil imbang 1-1 (Lale Orta, 2014: 8).
Pada tahun 1970, seiring dengan dicabutnya peraturan pelarangan sepak
bola untuk perempuan di berbagai penjuru negara Eropa, sepak bola perempuan
mulai ramai digandrungi lagi, mulai anak-anak sampai orang tua sekalipun. FIFA
melirik dan mengatur kembali sepak bola untuk perempuan. Akhirnya, pada tahun
1991 FIFA mengadakan Piala Dunia Wanita pertama, di Republik Rakyat
Tiongkok. Seiring berjalannya waktu, banyak negara mulai membentuk tim
nasional wanita. Klub-klub sepak bola perempuan pun mulai bermunculan di
Eropa sebagai benua yang menganggap sepak bola sebagai bagian dari budaya. Di
Inggris, hampir setiap klub sepak bola sudah mendirikan klub sepak bola
perempuan, sehingga diadakan pula kompetisi dengan format yang sama dengan
sepak bola pria. Dampaknya perempuan di beberapa negara seperti benua Eropa,
4
Amerika, dan Asia Timur sudah tidak asing dengan olahraga ini.
Sepakbola Wanita di Indonesia sudah ada sejak era 1970-an, dan tim
nasional sepakbola wanita Indonesia pertama kali bertanding pada tahun 1977 di
kejuaraan Asian Football Confederation (AFC) wanita di Taiwan (Irene, 2012).
Kejuaraan nasionalpun mulai bergulir salah satunya kompetisi Liga 1 Shopee
tahun 2019 yang menjadi ajang pertama sepakbola wanita di Indonesia dengan
konsep liga, yang diikuti oleh 1 tim yaitu: Arema, Persipura, PSM, Persebaya,
Bali United, Tira Kabo, PSIS, PSS, Persija, dan Persib. Turnamen ini baru
pertama diadakan dan menjadi turnamen besar sepakbola wanita pertama di
Indonesia yang diadakan oleh PSSI. Sebelum turnamen liga dijalankan terlebih
dahulu ada kejuaraan nasional yang diselenggarakan oleh PSSI oleh pusat atau
dala ASPROV yang tempat pelaksanaannya di berbagai daerah namun skalanya
hanya provinsi tidak seperti liga satu wanita yang skalanya seperti liga satu
sepakbola laki - laki, adapun yang sering mengadakan kompetisi sepak bola
wanita diantaranya: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, DKI Jakarta,
DIY Yogjakarta, Sulawesi Tenggara, Bangka- Belitung, dan Banten (Lina, 2015:
1).
Euforia sepakbola Wanita ini juga terasa di Provinsi Riau dengan
dibentuknya Gerakan Sepakbola Wanita Indonesia Riau yang dibentuk pada
tanggal 12 Juli 2021. Rokan Hulu yang merupakan salah satu kabupaten yang ada
di Provinsi Riau juga memiliki beberapa tim Sepakbola Wanita seperti Ujung
Batu FC, RR FC dan Tambusai FC. Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 16
Febuari 2023 dengan coach Ridwan Sinurat, [Link]., [Link] mengatakan “Awal mula
di bentukkan tim sepak bola putri ini untuk membentuk bakat dari anak- anak
5
putri. Remaja sekarang harus banyak butuh bimbingan yang terarah supaya tidak
terjerumus ke hal yang menyimpang dan dalam pembentukan tim ini memeiliki
kesulitan tersendiri. Namun setelah dapat pengarahan dalam sistem pelatihan
banyak yang berminat dan bergabung kedalam tim”.
Kendati demikian, sepak bola secara umum bukanlah olahraga yang populer
dimainkan oleh perempuan. Tim Wanita juga kalah pamor dari Tim Pria karena
jarang muncul di permukaan publik sehingga membuatnya termarjinalkan.
Coakley (1990) mengungkapkan pula bahwa Masih adanya mitos yang keliru dan
masih dipegang oleh masyarakat, terutama terjadi pada negara-negara yang
tingkat pendidikan dan informasi medik masih rendah : Keikutsertaan yang berat
dalam olahraga mungkin menjadi penyebab utama masalah kemampuan
menghasilkan keturunan. Aktivitas pada beberapa event olahraga dapat merusak
organ reproduksi atau payudara wanita. Wanita memiliki struktur tulang yang
lebih rapuh dibandingkan pria sehingga lebih mudah mengalami cedera.
Keterlibatan intens dalam olahraga menyebabkan masalah pada menstruasi.
Keterlibatan dalam olahraga membawa ke arah perkembangan yang kurang
menarik, menonjolkan otot.
Alasan-alasan inilah yang memperburuk persepsi masyarakat terhadap
keterlibatan wanita dalam olahraga yang secara langsung berpengaruh pada
pemberian status dan peranan sosial wanita dalam kehidupannya secara khusus di
bidang olahraga dan umumnya di kehidupan keseharian di masyarakat di mana
pola-pola interaksi sosial berlaku di lingkungannya. Terlepas dari itu semua,
bagaimanapun juga semakin banyak wanita yang menyukai kegiatan fisik dengan
tingkat penampilannya yang terus meningkat. Walaupun terdapat masalah
6
kesehatan khusus yang berhubungan dengan fungsi reproduksinya yang unik,
tetapi manfaatnya bagi kesehatan dan pergaulan sosial, jauh melebihi
pengaruhpengaruh merugikan yang terjadi selama ini (Giriwijoyo, 2003 : 45).
Persepsi yang beredar di masyarakat tentang sepak bola yang tidak ramah
dengan Wanita tentunya membatasi ruang gerak Wanita yang memang menyukai
olah raga Wanita. Persepsi adalah tindakan penilaian dalam pemikiran seseorang
setelah menerima stimulus dari apa yang dirasakan oleh pancaindranya. Stimulus
tersebut kemudian berkembang menjadi suatu pemikiran yang akhirnya membuat
seseorang memiliki suatu pandangan terkait suatu kasus atau kejadian yang tengah
terjadi.
Persepsi adalah proses dimana individu memilih, mengatur dan menafsirkan
kesan sensorik mereka untuk memberi arti bagi lingkungannya. Persepsi
merupakan keadaan dimana seseorang akan menilai sesuatu yang dilihat dan
dirasakan melalui alat indera. Persepsi pada diri seseorang diawali dengan adanya
rangsangan yang diterima alat inderanya sehingga timbul pengamatan dan
pemahaman terhadap rangsangan (stimulus). Persepsi para Wanita yang memilih
sepakbola juga menjadi poin yang harus diketahui karena pasti mereka memiliki
presepsi yang berbeda dengan masyakat
Banyak dari masyarakat kita yang menganggap permainan ini hanya layak
di mainkan oleh kaum lelaki saja, dan tidak layak di mainkan oleh perempuan.
Mereka memandang buruk terhadap wanita yang ikut serta dalam olahraga sepak
bola ini, persepsi mereka bahwa wanita yang bermainan sepak bola wanita yang
blabla (tomboy) dan sebagai nya.
Observasi awal adalah dengan membandingkan klub sepak bola Wanita dan
7
klub sepak bola pria yang ada di Rokan Hulu. Peneliti mendapatkan kesimpulan
bahwa lebih banyak klub sepak bola Pria daripada klub sepak bola pria, peneliti
juga melakukan obsevasi bahwa disetiap lapangan sepakbola dipenuhi oleh Pria.
Minoritasnya sepakbola Wanita dan persepsi masyarakat yang masih kurang
ramah dengan sepakbola wanita membuat peneliti tertarik untuk meneliti lebih
dalam mengenai persepsi Wanita memilih sepakbola sebagai olahraga yang
mereka tekuni.
Mengenai presepsi sepakbola Wanita ini, peneliti telah melakukan
wawancara terhadap salah satu anggota tim sepak bola Wanita Bernama
Susilawati. Beliau mengatakan keinginan awal bergabungan karena memang
memiliki hobi di bidang olahraga sepak bola dan akhirnya bergabung dengan tim
sepakbola Wanita yang ada di Rokan Hulu. Keputusan Susilawati ini awalnya
mendapat penolakan dari keluarga, namun melihat efek positif dari hobi anaknya
membuat penolakan tersebut menjadi dukungan dari keluarga.
Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yang sama
dengan cara yang berbeda-beda, begitupula dengan olahraga sepakbola. Olahraga
yang biasanya dilakukan oleh laki-laki dan terkesan olahraga yang menguras
energi serta membutuhkan fisik yang kuat, belum lagi pandangan masyarakat
tentang sepakbola yang tidak ramah untuk perempuan. Adanya sepakbola Wanita
tentu menimbulkan pertanyaan seperti bagaimana pandangan para Wanita ini
tentang persepsi masyarakat dan bagaimana persepsi mereka sendiri mengenai
keputusan memilih olahraga sepakbola. Maka berdasarkan uraian latar belakang
diatas membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“Persepsi Wanita Memilih Olahraga Sepakbola di Rokan Hulu”
8
1.2. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, dapat
diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Tim Sepak Bola Wanita masih kalah pamor dengan Tim Sepak Bola Pria
2. Jumlah Klub Sepak bola Pria sangat banyak dibandingkan klub
sepakbola wanita
3. Persepsi masyarakat yang memandang sepak bola tidak untuk Wanita
1.3. Batasan Masalah
Dari uraian permasalahan yang ada, tidak semuanya dijadikan masalah dalam
penelitian ini, oleh karena itu hanya dibatasi pada permasalahan “Persepsi Wanita
Memilih Olahraga Sepakbola di Rokan Hulu”
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah yang
menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini yaitu: “Bagaimana Persepsi
Wanita Memilih Olahraga Sepakbola di Rokan Hulu ?”
1.5. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang dicapai dari penelitian ini adalah untuk “Mengetahui
bagaimana Persepsi Wanita Memilih Olahraga Sepakbola di Rokan Hulu”
1.6. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan bisa memberikan nilai lebih dalam
memperkuat persepsi olahraga dikalangan wanita.
2. Manfaat Praktis
9
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak terkait, yang diantaranya yaitu:
a. Bagi Peneliti
1) Syarat untuk menyelesaikan Strata Satu (S1) Program Studi
Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Pasir Pengaraian.
2) Memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat bermanfaat
yang telah diperoleh dibangku perkuliahan.
3) Mendapatkan jawaban yang konkret tentang suatu masalah yang
berkaitan dengan judul penelitian.
b. Bagi Masyarakat
Memberikan pengetahuain dan pemahaman terkait sepak bola wanita
c. Bagi Perpustakaan
1) Sebagai bahan bacaan dibidang Pendidikan Olahraga .
2) Sebagai bahan tambahan referensi dibidang sepak bola terutama
sepak bola wanita .
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil dijadikan sebagai acuan bagi peneliti lain dalam penelitian
selanjutnya yang mengambil tentang Sepak bola Wanita.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Olahraga
Kata sport berasal dari kata disportare, bahasa Inggris Kuno,
yang berarti bersenang-senang, pengisi waktu luang bagi kaum
bangsawan Inggris. Di halaman istana-istana kecil yang banyak di
Inggris, kaum bangsawan biasa ber-disportare. Disportare Inggris
Kuno ini kemudian berkembang menjadi kegiatan sport seperti
sekarang, yaitu competitive sport yang bersifat formal terorganisir di
dalam wadah yang disebut asosiasi.
Sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa bangsa
Indonesia sejak dulu telah memiliki sikap, kebiasaan dan kegemaran
berolahraga. Hal ini dapat diamati dari banyaknya olehraga tradisional
sebagai warisan budaya bangsa yang telah digemari dan masih
dilakukan oleh anggota masyarakat di berbagai daerah, dan masih subur
sampai sekarang
Istilah olahraga terdapat dalam bahasa Jawa yaitu olahrogo. Olah
artinya melatih diri menjadi seorang yang terampil sedangkan rogo
artinya badan. jadi olahraga adalah suatu bentuk pendidikan individu
dan masyarakat yang mengutamakan gerakan-gerakan jasmani yang
dilakukan secara sadar dan sistematis menuju suatu kualitas yang lebih
tinggi. olahraga adalah segala bentuk aktivitas fisik yang kompetitif,
10
11
bisa dilakukan secara santai atau terorganisir.
12
Olahraga bertujuan untuk memelihara atau meningkatkan
kebugaran fisik dan juga dapat memberikan hiburan. Ada banyak macam
olahraga, dari yang bisa dilakukan satu orang atau tim.
Menurut UU Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Keolahragaan,
Olahraga adalah segala kegiatan yang melibatkan pikiran, raga, dan jiwa
secara terintegrasi dan sistematis untuk mendorong, membina, serta
mengembangkan potensi jasmani, rohani, sosial, dan budaya
Utamanya olahraga berfungsi untuk menyehatkan badan dan
memastikan organ tubuh masih sehat. Olahraga penting, karena di dalam
tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Pendapat orang tentu berbeda,
tapi secara garis besar olahraga yang merupakan aktivitas fisik itu
penting dilakukan dalam keseharian. Baik dengan gerakan-gerakan
terarah (cabang olahraga) ataupun gerakan lainnya yang penting
bergerak.
Olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan
olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu,
olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain,
karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga
tidak pernah hanya semata-mata bermain, karena aspek kompetitif
teramat penting dalam hakikatnya.
2.1.2 Ruang Lingkup Olahraga
Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Keolahragaan,
ruang lingkup olahraga meliputi kegiatan:
1. Olahraga Pendidikan
Olahraga pendidikan diselenggarakan untuk menanamkan nilai-nilai
karakter dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
13
dibutuhkan guna membangun gaya hidup sehat aktif sepanjang hayat.
Olahraga pendidikan dilaksanakan, baik pada jalur pendidikan formal
melalui kegiatan intrakurikuler dan/ atau ekstrakurikuler, maupun
nonformal melalui bentuk kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Olahraga Masyarakat
Olahraga Masyarakat dapat dilaksanakan oleh Setiap Orang, satuan
pendidikan, lembaga, perkumpulan, atau Organisasi Olahraga.
Olahraga Masyarakat bertujuan untuk :
a. Membudayakan aktivitas fisik
b. Menumbuhkan kegembiraan
c. Mempertahankan, memulihkan, dan meningkatkan kesehatan
serta kebugaran tubuh
d. Membangun hubungan sosial
e. Melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan
nasional
f. Mempererat interaksi sosial yang kondusif dan memperkukuh
ketahanan nasional
g. Meningkatkan produktivitas ekonomi nasional.
3. Olahraga Prestasi
Olahraga Prestasi dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan
kemampuan dan potensi Olahragawan dalam rangka meningkatkan
harkat dan martabat bangsa. Olahraga Prestasi dilakukan oleh setiap
Orang yang memiliki bakat, kemampuan, dan potensi untuk mencapai
Prestasi. Olahraga Prestasi dilaksanakan melalui pembinaan dan
pengembangan secara terencana, sistematis, terpadu, berjenjang, dan
berkelanjutan dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi
Keolahragaan.
14
2.1.3. Pengertian Sepak Bola
Sepak Bola berasal dari dua kata yaitu “Sepak” dan “Bola”.
Sepak atau menyepak dapat diartikan menendang (menggunakan kaki)
sedangkan “bola” yaitu alat permainan yang berbentuk bulat berbahan
karet, kulit atau sejenisnya. Dalam permainan sepak bola, sebuah bola
disepak/tending oleh para pemain. Jadi secara singkat pengertian Sepak
bola adalah suatu permainan yang dilakukan dengan cara menendang
bola yang dilakukan oleh pemain, dengan sasaran gawang dan
bertujuan memasukkan bola ke gawang lawan.
Pada permainan sepak bola, setiap pemain diperbolehkan
menggunakan seluruh anggota badan kecuali tangan dan lengan. Hanya
penjaga gawang yang diperbolehkan memainkan bola dengan kaki dan
tangan di daerah gawang. Sepakbola merupakan permainan beregu
yang masing-masing regu terdiri dari sebelas pemain. Biasanya
permainan sepakbola dimainkan dalam dua babak (2x45 menit) dengan
waktu istirahat 10 menit di antara dua babak tersebut
Sepak bola adalah cabang olahraga yang menggunakan bola
terbuat dari bahan kulit dengan permainan dua regu yang setiap regunya
terdiri dari 11 pemain dan tujuan sepak bola ini sendiri adalah
memasukkan bola sebanyak mungkin ke gawang lawan dan
mempertahankan gawang agar tidak kebobolan. Sepak bola juga
merupakan sebuah cabang olahraga yang bisa dimainkan oleh siapa saja
dan tidak memerlukan biaya yang banyak dan fasilitas yang sulit, hanya
perlu lapangan, gawang dan bola. Peraturannyapun dibuat secara
sederhana agar dapat diikuti dan dimainkan oleh
[Link] dapat bermain sepak bola tanpa perlu
memahami dulu tentang teknik-teknik dasar dalam sepak bola, ini
biasanya diperoleh dari menonton pertandingan sepak bola ataupun
15
bakat yang sudah terdapat didalam diri masing-masing.
Menurut Rohim: Sepak bola adalah permainan yang menantang
secara fisik dan mental, kita harus melakukan gerakan yang terampil di
bawah kondisi permainan yang waktunya terbatas, fisik dan mental
yang lelah sambil mengahadapi lawan, kita harus berlari beberapa mil
dalam satu pertandingan, dalam permainan ini kita harus memahami
teknik permainan individu, kelompok dan beregu, untuk menentukan
penampilan kita di lapangan
2.1.4. Sejarah Sepak Bola
Sepak bola merupakan salah satu olahraga terpopuler dikalangan
masyarakat dunia, hampir seluruh penjuru dunia mengenal olahraga sepak
bola. Sepak bola telah dikenal 5000 tahun sebelum masehi lalu, dan pertama
kali yang mengenal sepak bola ialah bangsa China. Saat itu sepak bola di beri
nama Tsu-Chu, tujuannya untuk melatih fisik tentara dan saat itu permainan
ini dipertandingkan dalam rangka merayakan ulang tahun kaisar China, hal
ini juga diungkapkan oleh Hasanah bahwa “ sepak bola dimainkan di China
dengan nama tsu chu. Selain untuk melatih fisik tentara, permainan ini
dipertandingkan saat kaisar ulang tahun”. Seiring dengan perkembangan
zaman, sepak bola berkembang di Inggris dan mulai dimainkan oleh warga
negara Inggris, namun peraturannya tidak baku sehingga permainan sepak
bola ini dilakukan dengan brutal.
Di Italia pada zaman Romawi dikenal sebagai haspartun, di Perancis
yang selanjutnya menyebar ke Normandia dan Britania (Inggris), dikenal
dengan choule. Di Yunani Kuno dikenal istilah epishyros dan di Jepang
dikenal istilah Kemari. Pada tanggal 26 Oktober 1863 didirikan sebuah badan
yang disebut “English Football Assosiation”. Kemudian tanggal 8 Desember
1863 lahirlah peraturan permainan sepakbola modern yang disusun oleh
16
badan tersebut yang dalam perkembangannya mengalami perubahan. Atas
inisiatif Guerin (Perancis) pada tanggal 21 Mei 1904 berdirilah federasi
sepakbola internasional dengan nama “Federation International de Football
Assosiation” (FIFA). Atas inisiatif Julies Rimet pada tahun 1930
diselenggarakan kejuaraan dunia sepakbola pertama di Montevideo, Uruguay.
Kejuaraan sepakbola dunia diadakan 4 tahun sekali
Sepak bola sudah dimainkan di Olimpiade sejak tahun 1900. (kecuali
pada Olimpiade tahun 1932 di Los Angeles). Awalnya ini hanya untuk
pemain-pemain amatir saja, namun sejak Olimpiade Los Angeles 1984
pemain profesional juga mulai ikut bermain, disertai peraturan yang
mencegah negara-negara daripada memainkan tim terkuat mereka. Pada saat
ini, turnamen Olimpiade untuk pria merupakan turnamen U-23 yang boleh
ditamnbahi beberapa pemain di atas umur. Akibatnya, turnamen ini tidak
mempunyai kepentingan internasional dan prestise yang sama dengan Piala
Dunia, atau bahkan dengan Euro, Copa America atau Piala Afrika.
Sebaliknya, turnamen Olimpiade untuk wanita membawa prestise yang
hampir sama seperti Piala Dunia Wanita FIFA; turnamen tersebut dimainkan
oleh tim-tim internasional yang lengkap tanpa batasan umur.
Nama-nama Organisasi sepakbola:
1. FIFA (Federation International Football Association)
2. UEFA (Union of European Football Association)
3. AFC (ASIA Football Association)
4. PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia)
2.1.5. Sejarah Sepak Bola Wanita
Di Cina pada awalnya sepakbola wanita diperbolehkan berkembang
pada masa Dinasti Donghan, tahun 25 Masehi. Para wanita Cina
memainkannya sebagai bagian dari hiburan rakyat pada saat itu. Namun,
permainan ini lantas dilarang dimainkan oleh wanita pada masa Dinasti Qing
(1644). Dinasti itu menganggap, wanita tak pantas memainkan permainan
17
yang didominasi kaum laki-laki. Larangan itu baru dicabut pada tahun 1920
menurut Hendri Firzani (2010). Pada masa pemerintahan dinasi Tsin dan
Han, Masyarakat Tiongkok telah memainkan bola yang disebut dengan tsu
chu.
Tsu berarti menerjang bola dengan kaki dan Chu berarti bola dari kulit
dan ada isinya. Saat itu, bola yang digunakan terbuat dari kulit binatang
dengan aturan menenjang, menggiring dan memasukan bola ke jaring yang
dibentangkan diantara 2 tiang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lukisan-
lukisan dari Dinasti Han yang mempertontonkan para wanita bermain Tsu
Chu yang merupakan cikal bakal dari sepak bola . Setelah ratusan tahun
berlalu permainan sepak bola wanita seperti tenggelam terutaman ketika
Dinasti Qing berkuasa yang mana sangat tidak menyukai sepak bola wanita
bahkan sampai muncul larangan bermain sepak bola bagi para wanita di Cina
kala itu
Bahkan dalam sejarah juga menyebutkan bahwa permainan ini pernah
dilarang pada Raja Edward III karena banyak terjadi kekerasan dan
tindakan brutal. Sehingga, ketika ada perempuan yang terlibat menjadi
pemain sepak bola selalu dianggap hal yang unik, tidak biasa, bahkan masih
ditabukan. Apalagi perspektif masyarakat tentang perempuan adalah
seseorang yang harus memiliki sifat yang lemah lembut, feminim, bersifat
keibuan, dan lain sebagainya. kotlandia adalah negara yang penting bagi
berkembangnya sepak bola wanita.
Sejarah mencatat, sejak tahun 1790an sudah banyak ditemukan
kejuaraan-kejuaraan sepak bola wanita di Skotlandia. Pada tahun 1852,
Skotlandia menjadi Negara pertama yang merekam dan menyiarkan
pertandingan sepak bola [Link] ini kemudian mulai diikuti Inggris pada
tahun [Link] tahun 1863 terbentuk asosiasi sepak bola Inggris bernama
Football Association atau FA. Badan tersebut mengeluarakan peraturan
18
permainan sepak bola sehingga permainan sepak bola menjadi lebih teratur,
terorganisir dan mudah dinikmati penonton. Pada tahun 1904, asosiasi
tertinggi sepak bola dunia yaitu FIFA (Federation Internationale de
Football Association) dibentuk. Pada tahun 1991 di Cina diadakan kejuaran
FIFA Women’s pertama. Pertandingan FIFA Women’s menjadi agenda wajib
FIFA, jarak penyelenggara kejuaran sama dengan FIFA World cup yaitu 4
tahun sekali akan tetapi waktu pelaksanaan tidak disatukan alias beda waktu.
Sepakbola di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Pemerintah
Kolonial Belanda. Pada awal kemunculannya, rakyat Indonesia melihat
orang-orang Belanda bermain dan mereka mengikutinya. Beberapa klub
Sepakbola modern milik Belanda mulai bermunculan diantaranya Rood-Wit
(1893) dan Victoria (1895). Secara berturut-turut akhirnya bond-bond
Sepakbola tumbuh di kota-kota besar terutama Batavia, Bandung,
Semarang, dan Surabaya. Untuk mewadahi dan mengatur klub-klub
Sepakbola milik pribumi maka pada 19 April 1920 dibentuklah organisasi
Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Ketua umumpertamanya adalah
Ir. SoeratinSosrosoegondo (Aji, 2010: 55-54).
Pada masa awal kemunculan PSSI sepakbola identik sebagai sesuatu hal
yangberbau maskulin. Ketika perempuan terlibat dalam permainan Sepakbola
dianggapsebagai hal yang unik, aneh, tidak biasa, bahkan suatu hal yang tabu.
Hal tersebut membuat masyarakat patriarki menganggap Sepakbola hanya
cocok dimainkan oleh laki- laki. Kendati demikian, perempuan mulai
meminati Sepakbola dengan mulai bermunculannya pemain sepakbola
perempuan (Prahara, 2016).
Pada tahun 1950 masyarakat dihebohkan oleh kabar tentang Rita Zahara
yang dikenal sebagai seorang artis dan penyanyi turun ke lapangan untuk
bermain Sepakbola bersama laki-laki (Lembaran Minggu, 3 Maret 1969: 3).
Kegemparan tersebut muncul karena pada saat itumasyarakat menilai bahwa
19
Sepakbola sebagaiolahraga yang sangat keras dan kasar. Pemainnya dituntut
untuk berlari, merebut bola, berbenturan dengan lawan, berjibaku di lapangan
dan sebagainya (Prahara, 2016).
Pada tahun 1969 Sepakbola wanita Indonesia mulai mendapat perhatian
dengan terbentuknya kesebelasan Sepakbola wanita pertama di Indonesia
yaitu Putri Priangan. Terbentuknya kesebelasan Putri Priangan ini atas
dorongan dari PSSI yang menganjurkan kepada setiap pengurus di masing-
masing daerah untuk membentuk tim Sepakbola wanita dalam rangka
memenuhi undangan dari kesebelasan Penang Malaysia (Berdikari,30 Januari
1969: 4).
Bermunculannya klub-klub seperti Putri Priangan dan Buana Putri
menjadikan Sepakbola wanita Indonesia dikenal di dunia Internasional
khususnya di kawasan Asia setelah kesebelasan Buana Putri pada tahun 1977
sudah diterima menjadi anggota ALFC (Asian Ladies Football
Confederation) dan ikut serta dalam Turnamen Asian Cup ke-III di Taipei.
Puncak perkembangan Sepakbola wanita di Indonesia terjadi pada tahun 1978
dengan dibentuknya sebuah wadah yang secara formal menghimpun seluruh
aspirasi tentang persepakbolaan wanita yang dikenal dengan Galanita (Liga
Sepakbola Wanita) yang termasuk unsur penunjang organisasi PSSI yang
diketuai oleh salah satu tokoh Sepak bola Wanita yaitu Dewi Wibowo
(Turnamen Sepakbola Invitasi Galanita,1982: 50).
Turnamen sepakbola wanita Piala Kartini pertama kali diselenggarakan
pada 21 Oktober 1981 di Jakarta. Antusiasme masyarakat terhadap hadirnya
Piala Kartini cukup besar meski kemunculan sepakbola wanita sudah
semarak sejak dulu (Kompas,21 Oktober 1981: 10).
Sepakbola wanita di Indonesia memiliki nilai tersendiri, tidak semudah
sepakbola pria. Sepakbola wanita harus melewati jalan yang panjang seperti
berjuang keras mencari bibit pemain, membentuk organisasi serta status
20
organisasi, sekaligusharus menghadapi pihak-pihak yangbersebrangan. Sejak
adanya Galanita dan dikeluarkannya Surat Keputusan Pengurus Harian PSSI
yang secara utuh memberikan hak otonom kepada Galanita akhirnya telah
membawa sepakbola wanita mengalami perubahan dan perkembangan dalam
kegiatannya yang bersifat nasional maupun internasional yang berhasil
terlaksana denganhasil yang cukup memadai.
Sepakbola wanita di Indonesia sudah lebih dulu diakui oleh ALFC
(Asian Ladies Football Confederation) pada tahun 1973 Indonesia masuk
kedalam ALFC diwakili oleh klub Buana Putri (Jakarta). ALFC merupakan
organisasi perkumpulansepakbola wanita di Asia yang berdiri sejak tahun
1971. Tahun 1977, untuk pertama kali Indonesia yang diwakilkan oleh Buana
Putri ikut serta dalam Kejuaraan ALFC (Asian Cup) ke II yang
diselenggarakan di Taipei. Pada turnamen ASIAN CUP ke II di Taipei, Buana
Putri ikut sebagai peserta disamping tim-tim dari Taiwan, Thailand, Jepang,
Hongkong dan Singapore. Buana Putri berhasil menempati Juara ke IV.
Posisi Galanita semakin mantap dengan diterimanya Pengurus Galanita
sebagai Pengurus Sepakbola Wanita di Asia (Kompas, 10 Juni 1973: 10).
2.1.6 Manfaat Bermain Sepakbola
Sepak bola merupakan salah satu olahraga paling populer di dunia,
terutama saat piala dunia berlangsung seperti sekarang [Link] sepak
bola ternyata tidak hanya dapat menghilangkan stress, tetapi juga memiliki
beberapa manfaat lainnya bagi kesehatan fisik dan mental Anda.
1. Bermanfaat Bagi Kesehatan Fisik
Bermain dan berlatih sepak bola merupakan salah satu jenis olahraga
yang sangat baik untuk melatih daya tahan [Link] ini dikarenakan saat
Anda bermain sepak bola, Anda harus berjalan dan berlari terus-
21
[Link] penjaga gawang harus melompat untuk mencegah bola
masuk ke dalam [Link] hal ini sebenarnya merupakan bagian
dari olahraga aerobik. Selain itu, bermain bola juga meningkatkan fl
eksibilitas, koordinasi, dan ketahanan [Link] secara teratur juga
membuat Anda menjadi lebih sehat. Berdasarkan sebuah penelitian di
Belanda, bermain sepak bola dapat meningkatkan massa otot betis, tinggi
lompatan, kekuatan lompatan, dan membentuk postur tubuh yang lebih
baik. Selain itu, pemain sepak bola juga memiliki tulang yang lebih kuat
sehingga lebih jarang mengalami patah tulang.
2. Bermanfaat Bagi Kesehatan Mental
Olahraga aerobik dapat membantu mencegah terjadinya gangguan cemas
dan depresi. Sementara itu, bermain berbagai jenis cabang olahraga juga
dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri. Sepak bola juga dapat
meningkatkan konsentrasi dan membuat Anda dapat berpikir dengan
cepat untuk bereaksi terhadap berbagai situasi di lapangan
3. Melatih Kemampuan Bekerja Sama Dalam Tim
Olahraga tim membuat para pemainnya harus belajar untuk bekerja sama
untuk mencapai satu tujuan, yaitu kemenangan. Para pemain dalam suatu
tim yang sama harus belajar untuk menyelesaikan berbagai masalah yang
ada, yang mana juga dapat sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-
hari.
22
2.1.7 Keputusan Memilih
1. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen menurut Schiffman dan Kanuk dalam
Tjiptono (2008:6) adalah gambaran cara individu mengambil
keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia
(waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang
berhubungan dengan konsumsi. Menurut Kotler dan Keller
(2009:166), perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu faktor budaya, social, pribadi, dan psikologis. Menurut
Kotler dan Keller, pilihan membeli seseorang dipengaruhi oleh
empat faktor psikologis utama yaitu motivasi, persepsi,
pembelajaran, keyakinan, dan sikap.
2. Pengertian Pengambilan Keputusan
Proses dalam menentukan pilihan yang dianggap paling baik
dinamakan pengambilan keputusan. Ini sesuai dengan pendapat
Suharnan, Pengambilan keputusan ialah proses memilih atau
menentukan berbagai kemungkinan diantara situasi-situasi yang
tidak pasti. Pembuatan keputusan terjadi di dalam situasi-situasi
yang meminta seseorang harus membuat prediksi kedepan, memilih
salah satu diantara dua pilihan atau lebih, membuat estimasi atau
prakiraan mengenai frekuensi prakiraan yang akan terjadi.
Pada dasarnya pengambilan keputusan adalah suatu proses
penilaian dan pemilihan dari berbagai alternatif yang ada dan
menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling menguntungkan.
Jika terdapat dua atau lebih pilihan alternatif yang ada maka
konsumen harus memilih salah satu dari alterlatif tersebut yang
dianggap paling menguntungkan, maka pemilihan salah satu dari
alternatif yang ada disebut sebagai proses pengambilan keputusan
23
Kemdal dan Montgomery memberikan definisi bahwa pengambilan
keputusan adalah melibatkan upaya untuk menyusun dan
menstrukturisasi informasi yang tersedia untuk mendukung pilihan
akhir, melibatkan emosi dalam pengambilan keputusan sebelum
dan setelah keputusan, melibatkan pengambilan keputusan melalui
interaksi yang dinamis dan adanya perbedaan antara kepuasan dan
penyesalan dalam pengambilan keputusan sebelum dan sesudah
prosesproses keputusan.
3. Pemilihan Olahraga Sepakbola
Menurut Robbins Definisi Pemilihan adalah pengambilan
keputusan merupakan suatu proses dimana seseorang menjatuhkan
pilihannya dari beberapa alternatif pilihan yang ada. Pengambilan
keputusan pemilihan olahraga adalah sebuah proses berpikir
dimana individu mengevaluasi satu atau lebih alternatif dan
membuat sebuah pilihan dalam menentukan olahraga mana yang
terbaik seuai dengan kemauan dan keahlian pribadi
2.1.8 Pengertian Persepsi
Menurut Kotler (1997) persepsi adalah proses memilih, menata,
menafsir stimuli yang dilakukan seseorang agar mempunyai arti tertentu.
Stimuli adalah rangsangan fisik, visual dan komunikasi verbal dan non verbal
yang dapat mempengaruhi respon seseorang. Persepsi adalah sebuah proses
saat individu mengatur dan menginterprestasikan kesan kesan sensoris
mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Kotler (2000)
persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan
menginterprestasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan
gambaran keseluruhan yang berarti.
24
Menurut Robbins dan judge (2008:174) persepsi adalah sebuah proses
dimana individu mengatur dan mengintepretasikan kesan-kesan sensoris
mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Kotler dan Keller
(2009:179) menjelaskan pengertian mengenai persepsi sebagai sebuah proses
dimana kita memilih, mengatur, dan menerjemahkan masukan informasi
untuk menciptakan gambaran dunia yang berarti.
Persepsi merupakan suatu proses yang timbul akibat adanya sensasi,
dimana pengertian sensasi adalah aktivitas merasakan atau penyebab keadaan
emosi yang menggembirakan. Sensasi juga dapat didefinisikan dengan
sebagai tanggapan yang cepat dari indera penerima kita terhadap stimuli dasar
seperti cahaya, warna, dan suara. Dengan adanya itu semua maka akan timbul
persepsi. Pengertian dari persepsi adalah proses bagaimana stimulus-stimulus
itu diseleksi, diorganisasikan dan diinterpretasikan
Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam
bertingkah laku. Pengalaman dapat diperoleh dari semua perbuatannya
dimasa lampau atau dapat pula dipelajari. Terjadinya pengamatan ini
dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau dan sikap sekarang dari individu.
Poin utamanya adalah bahwa persepsi tidak hanya tergantung pada
rangsangan fisik, tetapi juga pada hubungan rangsangan terhadap bidang yang
mengelilinginya dan kondisi dalam setiap diri konsumen.
Jadi, Persepsi merupakan suatu proses seseorang atas stimulus yang
terjadi dilingkungannya baik melalui indra penglihatan, pendengaran maupun
perasaan. Persepsi satu orang dengan orang lain belum tentu sama, tergantung
dari faktor- faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi tersebut
1. Proses Presepsi
Proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi
oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan
proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang
25
ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan
memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya
komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya
jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek
yang ada. Proses terjadinya persepsi meliputi :
a. Proses fisis: di mana objek menimbulkan stimulus dan stimulus
mengenai alat indera.
b. Proses fisiologi: stimulus yang diterima alat indera kemudian
dilanjutkan oleh saraf ke otak.
c. Proses psikologi: terjadi proses pengolahan di otak, sehingga
individu menyadari tentang apa yang ia terima dengan alat indera
sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterima.
Secara sederhana proses persepsi dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1
Proses Persepsi
Objek-Stimulus-Alat Indera-Saraf Sensorik-Otak-Respon
Stimulus eksternal dapat diterima oleh konsumen melalui beberapa
saluran. Konsumen dapat melihat iklan, mendengarkan lagu atau jingle
iklan, mencium aroma produk atau toko, merasakan sedapnya rasa es krim,
atau merasakan lembutnya kain sutera. Stimulus eksternal yang merupakan
bahan mentah diterima oleh panca indera kita yang berfungsi sebagai
sensor penyerapan/penerima
Menurut Miftah Thoha (2003:145), proses terbentuknya persepsi
didasari pada beberapa tahapan, yaitu:
26
a. Stimulus
Subproses pertama yang dianggap penting ialah stimulus, atau
stimulasi yang hadir. Mula terjadinya persepsi diawali ketika
seseorang dihadapkan dengan suatu situasi atau suatu stimulus. Situasi
yang dihadapi itu mungkin bisa berupa stimulus penginderaan dekat
dan langsung atau berupa bentuk lingkungan sosiokultur dan fisik
menyeluruh.
b. Register
Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme
fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh
melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan
atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar
semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut.
c. Interpretasi
Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat
penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang
diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara
pendalaman, motivasi, dan kepribadian seseorang.
d. Umpan balik (feedback)
Subproses terakhir adalah umpan balik (feedback). Subproses ini
dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Sebagai contoh, seorang
karyawan yang melaporkan hasil kerjanya kepada atasannya,
kemudian mendapat umpan balik dengan melihat raut muka
atasannya, kedua alisnya naik keatas, bibirnya mengaup rapat,
27
matanya tidak berkedip, dan terdengar suaranya bergumam seperti
mau ditelan sendiri. Feedback semacam ini membentuk persepsi
tersendiri bagi karyawan. Bagi atasan tersebut barangkali heran bahwa
bawahannya mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, dan diam-
diam memujinya. Tetapi persepsi karyawan dia berbuat salah, tidak
membawa kepuasan bagi atasannya.
b. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Thoha (2003: 154) adalah
1) Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka,
keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan
fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan
motivasi.
2) Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh,
pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran,
keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau
ketidak asingan suatu objek
Selanjutnya, thoha juga menyebutkan ada beberapa factor yang
mempengaruhi persepsi social seseorang, yaitu: psikologi, famili dan
kebudayaan. Kebudayaan dan lingkungan merupakan salah satu factor
yang sangat kuat mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang
memahami keadaan didunia ini. Namun demikian, karena persepsi
adalaah proses yang aktif, maka banyak factor yang mempengaruhi
pemilihan persepsi seseorang, yang terdiri dari pengaruh luar dan
28
pengaruh dalam. Faktor luar terdiri dari: intensitas, ukuran, keberlawanan,
pengulangan, Gerakan dan hal-hal baru yang tidak asing, sedangkan
faktor dari dalam terdiri dari proses belajar, motivasi dan kepribadian
Pada penelitian ini, faktor internal yang dipilih untuk
merpresentasekan presepsi Wanita memilih sepakbola adalah
mempengaruhi persepsi pada Wanita yang memilih Sepakbola sebagai
olahraganya adalah :
1) Kepribadian
2) Keinginan atau harapan
3) Proses belajar
4) Keadaan fisik
5) Motivasi.
Sedangkan faktor eksternalnya adalah :
1) Latar belakang keluarga
2) Lingkungan
3) Pengetahuan dan kebutuhan sekitar
4) Mencoba Hal-Hal baru
c. Aspek-aspek Persepsi
Pada hakekatnya sikap adalah merupakan suatu interelasi dari
berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut
Allport dalam jurnal psikologi (2009) ada tiga yaitu:
1) Komponen kognitif
Yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi
yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini
29
kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek
sikap tersebut.
2) Komponen Afektif
Afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi
sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai
kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.
3) Komponen Konatif
Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang
berhubungan dengan obyek sikapnya.
Rokeach dalam jurnal psikologi (2009) memberikan pengertian bahwa
dalam persepsi terkandung komponen kognitif dan juga komponen konatif,
yaitu sikap merupakan predisposing untuk merespons, untuk berperilaku.
Ini berarti bahwa sikap berkaitan dengan perilaku, sikap merupakan predis
posisi untukberbuat atau berperilaku.
Dari batasan ini juga dapat dikemukakan bahwa persepsi mengandung
komponen kognitif, komponen afektif, dan juga komponen konatif, yaitu
merupakan kesediaan untuk bertindak atau berperilaku. Sikap seseorang
pada suatu obyek sikap merupakan manifestasi dari kontelasi ketiga
komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk memahami, merasakan
dan berperilaku terhadap obyek sikap. Ketiga komponen itu saling
berinterelasi dan konsisten satu dengan lainnya. Jadi, terdapat
pengorganisasian secara internal diantara ketiga komponen tersebut
30
d. Indikator Persepsi
Persepsi merupakan suatu hal yang kompleks dan interaktif. Menurut
Thoha, ada beberapa indikator dalam persepsi yaitu:
1) Stimulus
Stimulus merupakan sesuatu yang hadir. Terjadinya persepsi diawali
ketika seseorang dihadapkan dengan suatu situasi atau stimulus.
2) Registrasi
Dalam masa registrasi suatu gejala yang nampak ialah mekanisme fisik
yang berupa penginderaan dan syaraf seseorang terpengaruh,
kemampuan fisik untuk mendengar dan melihat akan mempengaruhi
persepsi. Dalam hal ini seseorang mendengar atau melihat informasi
terkirim kepadanya. Mulailah ia mendaftar semua informasi yang
terdengar dan terlihat padanya.
3) Interpretasi
Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang amat
penting. Proses interpretasi ini tergantung pada cara pendalaman,
motivasi, dan kepribadian seseorang. Pendalaman, motivasi dan
kepribadian seseorang akan berbeda dengan orang lain. Oleh karena itu,
interpretasi terhadap sesuatu informasi yang sama, akan berbeda antara
satu orang dengan orang lain.
4) Feedback (umpan balik)
Feedback (umpan balik) dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Apa
yang kita lakukan terhadap seseorang akan diterima berbeda oleh
seseorang.
31
2.1. Penelitian yang Relevan
1. Febry Anita, Sapto Adi, Olivia Andiana. (2020). Judul “Survei Minat Dan
Motivasi Wanita Memilih Olahraga Sepak Bola Pada Tim Persikoba Putri Kota
Batu“. Tujuan Dari Penelitian Ini Adalah Untuk Mengetahui Minat, Motivasi
Intrinsik Dan Motivasi Ekstrinsik Wanita Memilih Olahraga Sepakbola Pada
Tim Persikoba Putri Kota Batu. Metode Penelitian Yang Digunakan Adalah
Deskriptif Kuantitatif Dengan Teknik Survei. Populasi Dan Sampel Yang
Digunakan Sebanyak 30 Wanita, Dengan Teknik Sempel Jenuh, Teknik
Pengumpulan Data Menggunakan Angket Dan Analisis. Hasil Dalam
Penelitian Ini Yaitu Pada Variabel Minat Yaitu Secara Keseluruhan Diperoleh
Sebesar 90 % Dalam Kategori “Sangat Baik” Dengan Rata – Rata 87,77%,
Variabel Motivasi Intrinsik Mendapatkan Hasil 90% Dalam Kategori “Sangat
Baik” Dengan Rata – Rata 94,34%, Sedangkan Untuk Motivasi Ekstrinsik
Dengan Hasil 93,34
% Dengan Kategori “Sangat Baik” Dan 6,66% Dengan Rata - Rata Tingkat
Motivasi Ekstrinsik Yaitu 87,94%. Dari Penelitian Tersebut Dapat Dijelaskan
Bahwa Motivasi Intrinsik Mendapatkan Nilai Tertinggi Dibandingkan Dengan
Motivasi Ekstrinsik Dan Minat. Motivasi Intrinsik
2. Aditya Bayu Ariyantara (2016). “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Siswa Kelas Vii Smp Negeri 4 Wates Terhadap Proses Pembelajaran
Permainan Bolabasket”. Peneliti mendapatkan hasil bahwa faktor internal yang
mempengaruhi persepsi siswa kelas VII SMP Negeri 4 Wates terhadap proses
pembelajaran permainan bolabasket berada pada
32
kategori sangat baik dengan persentase 10% atau 4 siswa, kategori baik dengan
persentase 12.5% atau 5 siswa, kategori cukup baik dengan peresentase 42.5%
atau 17 siswa, kategori kurang baik dengan persentase 27.5% atau 11 siswa dan
kategori sangat kurang dengan persentase 7.5% atau 3 siswa, sedangkan faktor
eksternal yang mempengaruhi persepsi siswa kelas VII terhadap proses
pembelajaran permainan bolabasket di SMP Negeri 4 Wates berada pada
kategori sangat baik dengan persentase 7.5% atau 3 siswa, kategori baik dengan
persentase 25% atau 10 siswa, kategori cukup baik dengan peresentase 27.5%
atau 11 siswa, kategori kurang baik dengan persentase 35% atau 14 siswa dan
kategori sangat kurang dengan persentase 5% atau 2 siswa. Kesimpulan yang
dapat ditarik dari hasil penelitian yaitu faktor internal lebih mempengaruhi
persepsi siswa kelas VII SMP Negeri 4 Wates.
3. Putri, D. S., & Yarmani, Y. (2019). Judul “Studi Kemampuan Slalom Dribbling
dan Long Passing Pada Klub Sepakbola Wanita di Kota Bengkulu ”. metode
survei dan teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik tes dan
pengukuran. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, dimana
jumlah keseluruhan populasi di jadikan sampel. Instrumen yang di gunakan
dalam penelitian ini adalah tes kemampuan slalom dribble dan passing
lambung milik danny mielke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kemampuan slalom dribbling pada klub sepakbola wanita di Kota Bengkulu
dinyatakan kurang dengan presentase 36,67%, dan kemampuan long passing
pada klub sepakbola
33
wanita di Kota Bengkulu dinyatakan sangat kurang dengan presentase 66,67%.
4. Ani Warahmah. (2019). “PERSPEKTIF MAHASISWI UNY MEMILIH
OLAHRAGA SEPAK TAKRAW DI UKM SEPAK TAKRAW
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA”. Penelitian ini mendapatkan hasil
bahwa mahasiswi UNY memandang sepak takraw sebagai olahraga yang
menyenangkan dan memiliki tantangan. Pemain mahasiswi UNY, merasa tidak
setuju jika sepak takraw diidentikkan dengan olahraga kaum laki-laki dan
hanya cocok dimainkan oleh kaum laki-laki. Menurut mahasiswi UNY,
olahraga tidak membatasi jenis kelamin sehingga perempuan juga cocok untuk
bermain sepak takraw dan memiliki hak untuk bermain sepak takraw. Dalam
hal ini beberapa masyarakat masih mempersepsikan pandangan yang negatif
terhadap perempuan dan mengakibatkan adanya ketidakadilan terhadap
mahasiswi UNY yang mengikuti olahraga sepak takraw.
5. Nugraha, U. (2015). Judul “Hubungan Persepsi, Sikap Dan Motivasi Belajar
Terhadap Hasil Belajar Pada Mahasiswa Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan
Universitas Jambi”. Dengan menggunakan teknik analisis korelasional,
populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi PORKES angkatan
tahun 2012 yang berjumlah 140 orang, sedangkan sampel dalam penelitian ini
adalah 72 orang. Dalam Penelitian ini teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik proporsional random sampling. Instrument yang
digunakan adalah quisioner persepsi, quisioner sikap dan
34
quisioner motivasi belajar. Data yang diperoleh dianalisis korelasi sederhana
dan regresi sederhana untuk hipotesis satu, dua dan tiga selanjutnya korelasi
ganda dan regresi gandaDengan hasil Hasil analisis data menunjukan bahwa:
(1) terdapat hubungan yang berarti antara persepsi mahasiswa dengan hasil
belajar mahasiswa Porkes Universitas Jambi, (2) tidak terdapat hubungan yang
berarti antara sikap mahasiswa terhadap hasil belajar mahasiswa PORKES
UNJA(3) terdapat hubungan yang berarti antara motivasi belajar mahasiswa
terhadap hasil belajar mahasiswa PORKES UNJA (4) tidak terdapat hubungan
yang berarti antara persepsi mahasiswa, sikap mahasiswa, dan motivasi belajar
mahasiswa secara bersama-sama terhadap hasil belajar mahasiswa PORKES
UNJA
6. Rumi Iqbal Doewes , M. Furqon Hidayatullah , Dede Irawan , Rony Syaifullah
, Haris Nugroho. “Konstruksi Sosial Melalui Kompetisi Sepakbola Wanita”.
Penelitian ini memberikan hasil bahwa berdasarkan hasil survey dihasilkan,
kualitas materi termasuk dalam kategori baik dengan nilai 3.18, kesesuaian
materi dengan kebutuhan peserta termasuk dalam kategori baik dengan nilai
3.15, kualitas narasumber termasuk dalam kategori baik dengan nilai 3.37, dan
ketepatan waktu penyelenggaraan termasuk dalam kategori sangat baik dengan
nilai 3.40. Kesimpulan pengabdian ini adalah pemain sepakbola wanita
mengkonstruksikan sepakbola sebagai olahraga yang dapat dimainkan wanita
serta wanita dapat ikut serta dalam kompetisi sepakbola dan menjadi pemenang
atau berprestasi sebagai atlet sepakbola wanita
45
2.3 Kerangka Konseptual
Faktor Internal
Kepribadian
Keinginan atau harapan
Proses belajar
Keadaan fisik
Motivasi.
Peresepsi Wanita
Memilih Sepak
Faktor Eksternal Bola
Latar belakang keluarga
Lingkungan
Pengetahuan
Mencoba Hal-Hal baru
Setiap individu memiliki hak untuk memilih cabang olahraga mana
yang mereka inginkan dan tekuni. Wanita dan pria memiliki hak yang sama.
Persepsi merupakan suatu proses internal yang bersifat hipotesis yang
mempunyai sifat yang tidak menentu, namun dapat dikendalikan oleh
sebagian besar rangsangan dari luar (kadang-kadang dipengaruhi oleh
variabel seperti kebiasaan dan dorongan). Setiap individu mempunyai
persepsi tersendiri terhadap apa yang ditentukan dalam suatu objek
pandang. Presepsi Wanita yang “menentang” kebiasaan ini tentu perlu
diketahui dasar nya dengan melakukan penelitian. Bagaimana sudut
pandang Wanita tersebut berdasarkan faktor internal dan eksternalnya.
46
36
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif
yang meneliti tentang presepsi Wanita memilih olahraga sepakbola.
Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk
menggambarkan gejala, fenomena atau peristiwa. Penelitian kuantitatif
adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data
berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang
ingin kita ketahui. Penelitian deskriptif kunalitatif adalah prosedur
penelitian berdasarkan data deskriptif. Data deskriptif yang di maksud
adalah untuk memberikan gambaran tentang jawaban rumusan masalah
yang ada dalam penelitian
3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada Tim Sepak Bola Wanita
yang ada di Kabupaten Rokan Hulu, dengan waktu penelitian setelah
ujian Proposal Penelitian serta mendapat persetujuan dari penguji dan
pembimbing.
47
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2015 : 61). Populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas Objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tim
Sepak Bola Wanita yang ada di Kabupaten Rokan Hulu yang berjumlah
50 orang
3.3.2 Sampel
Menurut Sugiyono (2013: 118) menjelaskan bahwasanya sampel
memiliki arti suatu bagian dari keseluruhan serta karakteristik yang
dimiliki oleh sebuah populasi. Jika populasi tersebut besar, sehingga para
35
peneliti tidak memungkinkan untuk mempelajari keseluruhan yang
terdapat pada populasi tersebut seberapa yang akan dihadapkan
diantaranya seperti keterbatasan dana, tenaga dan waktu maka dalam hal
ini perlunya menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.
Kemudian, apa yang di pelajari dari sampel tersebut maka akan
mendapatkan kesimpulan yang nantinya diberlakukan untuk populasi
Sampel dalam penelitian adalah semua anggota Sepak Bola Wanita
Rokan Hulu dari total populasi yang ada sebanyak 50 siswa. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
keseluruhan populasi atau total sampling yaitu seluruh diambil semua.
Total sampling atau teknik sensus merupakan teknik pengambilan sampel
48
secara keseluruhan. Dengan kata lain, semua anggota populasi diambil
sebagai sampel
3.4 Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterprestasikan
istilah-istilah yang dipakai, maka ada beberapa istilah yang perlu
dijelaskan sebagai berikut :
1. Sepak bola, kemudian permainan ini melibatkan pergerakan unsur
fisik, mental, motorik kasar dan motorik halus, serta di bangun dengan
kekuatan tim yang solid. Pergerakan semua unsur tersebut dilakukan
untuk menjaga pergerakan bola tetap dinamis dan melewati garis
gawang..
2. Pengambilan keputusan adalah suatu proses penilaian dan pemilihan
dari berbagai alternatif yang ada dan menetapkan suatu pilihan yang
dianggap paling menguntungkan. Jika terdapat dua atau lebih pilihan
alternatif yang ada maka konsumen harus memilih salah satu dari
alterlatif tersebut yang dianggap paling menguntungkan, maka
pemilihan salah satu dari alternatif yang ada disebut sebagai proses
pengambilan keputusan
3. Persepsi adalah proses pemahaman atau pemberian makna atas suatu
informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan
terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang
selanjutnya diproses oleh otak.
4. kata perempuan yang berasal dari per- rem- pu- an ini pada dasarnya
sudah bermakna
49
bagus/positif. Ia melihat gabungan katanyalah yang dapat
menjadikannya berkonotasi negatif atau positif. Kebetulan, gabungan
kata perempuan dalam KBBI berkonotasi negatif. Ia berharap agar
Tim Penyusun KBBI memasukkan konsep dan makna perempuan
sesuai dengan korpus terkini yang merujuk pada peran perempuan di
ranah publik yang berkonotasi positif, seperti perempuan pengusaha,
perempuan modern, dan perempuan direksi.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
1. Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya
jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan
kepada tujuan penelitian. wawancara adalah teknik pengumpulan data
jika peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang harus diteliti.
2. Angket (Kuesioner)
Kuesioner adalah instrument penelitian yang berupa daftar
pernyataan dan diisi sendiri oleh responden untuk memperoleh
keterangan. Lembar angket disebarkan kepada Tim Sepak Bola
Wanita yang ada di Kabupaten Rokan Hulu. Instrument penelitian
ini dibuat dalam bentuk skala likert yang telah diberi skor, seperti
pada tabel di bawah ini:
T
a
50
b
e
l
3
.
1
S
k
a
l
a
L
i
k
e
r
t
NO JAWABAN SKOR
1 SS / SANGAT SETUJU 5
2 S/ SETUJU 4
3 CUKUP BAIK 3
4 TS / TIDAK BAIK 2
5 ST/ SANGAT TIDAK BAIK 1
Sumber: (Riduwan ,2019: 88)
Adapun angket yang nantinya akan disebarakan kepada Wanita yang
tergabung pada Tim Sepak Bola se Kabupaten Rokan Hulu adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.2 Angket
Penelitian
NO PERNYATAAN SS S C T ST
S
FAKTOR INTERNAL
51
Saya suka berolahraga apalagi dalam
1 olahraga sepakbola
Kemampuan sepak bola yang saya
2 miliki harus tersalurkan
Saya ingin hobi saya dalam sepak bola
3 bermanfaat.
Saya memastikan diri dapat
4 memberikan prestasi sebagai atlet
Sepakbola
Banyak hal yang ingin saya perlajari
5 dalam olagaraga sepak bola
Saya ingin diakui bahwa saya sangat
6 baik dibidang olahraga sepak bola
Saya yakin Sepakbola Wanita
7
dapat dikenal lebih baik
Saya memiliki Tujuan yang jelas
8 terhadap keputusan saya menjadi
atlet Sepakbola
Adanya kompetisi Sepak Bola
9 Wanita di Rokan Hulu adalah
tujuan saya
Saya bisa bekerja sama didalam
1
0 Tim
Saya dan Tim melakukan instruksi
11
pelatih dengan sebaik-baiknya
Pelajaran tentang sepakbola sangat
12
menyenangkan bagi saya
Saya mampu mengikuti pelatihan
13
Sepakbola
Saya memiliki tenaga yang cukup
14
untuk bermain sepak bola
Saya bisa melalui tantangan apapun
15 dalam tim
Saya yakin kondisi Wanita akan
16
jauh lebih baik apabila berlatih
Latihan fisik untuk sepak bola wanita
17 menantang, membuat
termotivasi untuk Team
52
Saya senang mencari informasi yang
18 berhubungan dengan sepakbola,
karena karena bisa memperkaya ilmu
kita.
19 Ketika ada materi yang saya kurang
pahami, saya akan bertanya kepada
pelatih
Saya mengisi waktu luang dengan cara
20
mengulangi Latihan sebelumnya
Banyak hal yang ingin saya lakukan
21
dala bentuk latihan sepak bola
Keputusan melilih bergabung dengan
22
tim sepak bola wanita atas keinginan
sendiri
FAKTOR EKSTERNAL
Saya ingin menjadi atlet pertama di
23
keluarga saya
Keluarga saya mendukung
24 keputusan saya mengikuti
Sepakbola
25 Saya ingin keluarga saya bangga
dengan pretasi yang saya punya,
terlebih di bidang olahraga sepak bola
Saya dengan secara sadar
26 menceritakan keinginan dan cita-
cita saya ke keluarga
Saya ingin menyakini keluarga saya
27 tidak hanya sekedar ikut ikutan teman
dalam bergabung tim sepak bola
Di lingkungan saya ada yang
28
menjadi atlet sepakbola
Saya termotivasi terhadap sepak bola
29 wanita luar negri
Atlet sepakbola sangat minim di
30
lingkungan saya
Masih banyak tetangga sekitar saya
31 yang tidak tau tentang sepakbola
Wanita
32 Saya ingin membuktikan olahraga
sepak bola itu ada dilingkungan saya
53
Saya mengetahui tata cara
33
permainan sepakbola
Saya ingin meyakini bahwa pandangan
34 masyarakat terhadap sepak bola wanita
ini tidak tabuh untuk wanita
Sepak bola wanita dikalangan
35 masyarakat masih tabuh
Saya ingin menjadi motivator untuk
36 wanita lain terhadap inginan terhadap
sepak bola wanita
Sulit nyamendapatkan pelatihan sepak
37 bola di lingkungan sekitar
Saya yakin bisa sukses dengan
38
menjadi atlet
Saya mengetahui cara menghadapi
39
lawan dalam kompetisi
Saya senang dengan kerja sama tim
40 saat berlatihan sepak bola
Saya bersemangat untuk selalu
41 berlatihan karna lingkungan tim yang
menyenangkan
42 Saya tertarik mempelajari
sepakbola walapun saya adalah
wanita
Bermain sepakbola dan mengikuti
43 kompetisi dapat memacu adrenalin
saya
Saya takut mencoba sesuatu karena
44 pikiran saya dibayangbayangi oleh
kegagalan.
Ketika saya keliru dan dikritik oleh
45 pelatih, saya sangat senang karena itu
menambah ilmu saya.
46 Saya ingin meyakinakan masyarakat
bahwa wanita itu berhak memilih apa
yang iya ingin kan dalam bentuk
olahraga sepakbola
Selanjutnya untuk menguji valid dan reliabel tidaknya maka diuji dengan
validitas
54
1. Uji Validitas Ahli
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket.
Untuk mendapatkan angket yang valid digunakan, maka akan
dilakukan validasi. Validasi tersebut berupa validasi kontruksi. Cara
kerja validasi kontruksi ialah menggunakan pendapat para ahli
( judgement expret) untuk memebrikan keputusan ( dapat digunakan
tanpa perbaikan ada perbaikan, dan mungkin dirombak total)
mengenai instrumen yang di konstruksi berdasarkan pada kajian teori
( Sugiyono, 2011 :125). Dalam penelitian ini di bantu oleh para
dosen Porkes dalam uji validasi dengan para ahli validator 1 Dr. Or.
Ardo Yulpiko Putra, M. Kes dan validator 2 Aluwis, S. Pd., M. Pd.
Ditabulasikan dalam table matriks
Tabel 3.3
Kontingensi untuk Menghitung Indeks Gregory
Penilai 1
Kurang relevan Sangat relevan
Matriks 2 x 2
Skor (1,2,3) Skor (4,5)
Kurang relevan
A B
Penilai 2 Skor (1,2,3)
Sangat relevan C D
55
Skor (4,5)
Keterangan :
A = jumlah butir dengan penilaian yang tidak relevan
B = jumlah butir dengan penilaian tidak relevan oleh penguji 2
C = jumlah butir dengan penilaian tidak relevan oleh penguji 1
D = jumlah butir dengan penilaian relevan oleh kedua penguj
Penghitungan dengan Rumus
Validasi isi = D
A+B+C+D
Tabel 3.4
Standar nilai koefesian
Koefesien Validitas
0,8 – 1,0 Sangat tinggi
0,6 – 0,79 Tinggi
0,4 – 0,59 Sedang
0,2 – 0,39 Rendah
0,00 – 0,19 Sangat rendah
Sumber : (Gregory dalam Retnawati, 2017)
3.6 Teknik Analisis Data
Bagaimana persepsi Wanita memilih sepak bola dapat diketahui
dengan menganalisis lembar angket yang telah diisi oleh wanita-wanita
yang tergabung dalam Tim Sepak Bola Wanita di Kabupaten Rokan
Hulu. Data yang telah terkumpul diolah kemudian disajikan dalam
susunan yang baik dan rapi. Untuk mengolah data pada penelitian ini,
maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Data yang diperoleh diperiksa kembali untuk mencari jawaban
56
dari angket yang tidak lengkap.
2) Penyusunan dan perhitungan data dilakukan dengan menggunakan
komputer.
3) Data yang telah disusun dan dihitung selanjutnya disajikan
dalam bentuk tabel dan diagram.
4) Menghitung jumlah atau frekuensi dari masing-masing jawaban
dalam angket.
5) Menghitung persentase jawaban dalam bentuk tabel berdasarkan
pokok bahasan kemudian disajikan dalam bentuk grafik.
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengemukakan hasil pengukuran
data penelitian berupa data kuantitatif yang akan dihitung dengan teknik
deskriptif persentase. Teknik analisis data deskriptif persentase
dimaksudkan untuk mengetahui status variabel, yaitu mendiskripsikan
persepsi Wanita memilih olahraga sepak bola melalui persentase.
Menurut Riduwan (2004: 71-95) langkah-langkahnya sebagai berikut:
1) Menghitung nilai responden dan masing-masing aspek atau sub
variabel.
2) Merekap nilai.
3) Menghitung nilai rata-rata.
4) Menghitung persentase dengan rumus.
�
�
P= X 100%
N
Sudijono (2008: 43)
Keterangan:
P = Angka Persentase
57
f = Jumlah frekuensi dari setiap jawaban yang telah menjadi
pilihan responden N = Jumlah frekuensi atau banyaknya
individu
Untuk menentukan jenis deskriptif persentase yang diperoleh
masing-masing indikator dalam variabel, dan perhitungan deskriptif
persentase kemudian ditafsirkan kedalam kalimat. Untuk mengetahui
tingkat kriteria tersebut, selanjutnya skor yang diperoleh dalam %
dengan analisis deskriptif persentase dikonsultasikan dengan tabel
kriteria.
Tabel 3.5
Kriteria Analisis Deskriptif Persentase
No Persentase Kriteria
1 81,25% − 100% Sangat Baik
2 62,50% − 81,24% Baik
3 43,75 − 62,40% Kurang Baik
4 25% − 43,74% Tidak Baik
DAFTAR PUSTAKA
Aji, Sukma. (2016). Buku Olahraga Paling Lengkap. Pamulang: ILMU
58
Anita, Febry. Sapato Adi dan Olivia Andiana. (2020). Survei Minat dan Motivasi
Wanita Memilih OLahraga Sepak Bola Pada Tim Persikoba Putri Kota
Baru. Jurnal Sport Science, Vol 10, No.2
Argadita. (2019). Persepsi Siswa Kelas VIII Terhadap Pembelajaran Penjas
Materi Permainan Bola Voli Di Smp Negeri 2 Kretek Kabupaten Bantul.
Skripsi. Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta
Ariyantara, Aditya Bayu. (2016). Faktor-Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Persepsi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Wates Terhadap Proses
Pembelajaran Permainan Bolabasket. Skripsi. Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta
Dowes, Rumi Iqbal, M. Furqon Hidayatullah, Dede Irawan, Rony Syaifullah,
Haris Nugroho. (2021). Konstruksi Sosial Melalui Kompetisi Sepakbola
Wanita. Jurnal Widya Laksana, Vol. 10, No. 2
Fahrirozi, Fajar. (2021). Hubungan Persepsi, Motivasi, Minat Terhadap Hasil
Belajar Pada Permainan Bola Voli Di Mi Nurul Hidayah Kutorejo
Mojokerto. Skripsi. Fakultas Ilmu Kesehatan Dan Sains (Fiks) Universitas
Nusantara Persatuan Guru Republik Indonesia: Kediri
Hartanto, T., Gani, R. A., & Resita, C. (2020). Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa
Yang Mengikuti Ekstrakurikuler Futsal Di Sekolah Menengah Atas
Kabupaten Karawang Teguh. JPO IKIP, 2(2), 8–9.
Hasanah, Ina. (2009). Sepak Bola. Bandung: PT. INDAHJAYA Adipratama
59
Hernawan. (2020). Olehraga, Rekreasi dan Waktu Luang. Memahami Arti, Ciri,
Fungsi, Tujuan dan Manfaat serta dilengkapi dengan Permainan Outdoor
Games Activities yang Rekreatif, Kreatif, dan Edukatif. Depok: PT
RAJAGRAFINDO PERSADA
Jati, Syechalam Prabu Tunggul dan Catur Supriyanto. (2021). Perspektif
Masyarakat Nganjuk Terhadap Olahraga Sebagai Kewajiban Dan Gaya
Hidup. Jurnal Kesehatan Olahraga Vol. 09. No. 04
Karlina, Lina. (2015). Presepsi Atlet Wanita Jawa Barat Terhadap Wasit Wanita
dalam Cabang Olahraga Sepakbola (Studi Deskriftif Terhadap Atlet
Sepakbola Wanita Jawa Barat). Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. (2009). Manajemen Pemasaran . Edisi
ketiga belas Jilid 1, Terjemahan oleh Bob Sabran. Erlangga : Jakarta
Mirnawati, M., Sulfasyah, S., & Rahmawati, R. Validitas Buku Saku Digital Muatan
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas Lima Sekolah Dasar berbantuan Aplikasi
Android. DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, 6(2), 253-262.
Rahman, [Link]. (2021). Motivasi Siswa Kelas IX Terhadap Permainan
Sepakbola Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Di SMP An Namiroh
Pekanbaru. Skripsi. Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan
Rekreasi Fakultas Kebugaran Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam
Riau: Pekanbaru
Raiders. (2021). Motivasi Berolahraga. Guepedia: Jawab Barat
Ramadhan, Fajar Sharu. (2022). Konstruksi Sosial Masyarakat Atas Sepak Bola
Perempuan (Studi Fenomenologi Pada Masyarakat Desa Senggreng,
Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang). Skripsi. Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah: Malang
Ridwan. (2019). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peniliti
Pemula. Bandung: Alfabeta
Schiffman. Leon, & Kanuk, Leslie Lazar. (2008). Customer Behaviour. Edisi
Ketujuh. PT. Indeks: Jakarta.
Septiawan, Rahmat. (2022). Minat Siswa Terhadap Olahraga Sepak Bola Di Sma
Negeri 2 Biau Kabupaten Buol. Skripsi. Program Studi Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tadulako: Sulawes Tengah
15
Setiadi, J Nugroho. (2015). Perilaku Konsumen. Jakarta : Kencanan Prenada
Media Group
Sucipto, Dkk. (2000). Sepakbola. Jakarta Departemen Pendidikan nasional
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan menengah Bagian Proyek
Penataran Guru SLTP atau D-III
Warahmah, Ani. (2019). Prespektif Mahasiswa UNY Memilih OLahraga Sepak
Takraw di UKM Sepak Takraw Universitas Negeri Yogyakarta. Skripsi.
Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Ilmu
Keolahragaan , Universitas Negeri Yogyakarta
[Link] REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2022
TENTANG KEOLAHRAGAAN
16