0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
94 tayangan71 halaman

Pemantauan Terapi Cholic Acid di RSUD

Laporan ini membahas pemantauan terapi obat pada tiga pasien di ruang perawatan Teratai RSUD Andi Makkasau selama periode PKPA, yaitu pasien kolik abdomen, pneumonia, dan kolelitiasis. Laporan ini menguraikan profil pasien, hasil pemeriksaan, profil pengobatan, analisis rasionalitas dan SOAP pengobatan, serta uraian obat-obatan yang diberikan kepada pasien.

Diunggah oleh

Wiwi Botutihe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
94 tayangan71 halaman

Pemantauan Terapi Cholic Acid di RSUD

Laporan ini membahas pemantauan terapi obat pada tiga pasien di ruang perawatan Teratai RSUD Andi Makkasau selama periode PKPA, yaitu pasien kolik abdomen, pneumonia, dan kolelitiasis. Laporan ini menguraikan profil pasien, hasil pemeriksaan, profil pengobatan, analisis rasionalitas dan SOAP pengobatan, serta uraian obat-obatan yang diberikan kepada pasien.

Diunggah oleh

Wiwi Botutihe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

FARMASI RUMAH SAKIT


DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ANDI MAKKASAU
KOTA PARE-PARE
GELOMBANG III PERIODE 03 OKTOBER – 27 OKTOBER 2022

PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN CHOLIC ABDOMEN,


CHOLELITHIASIS DAN PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN
TERATAI

DISUSUN OLEH
[Link] NURAZIZAH
N014212085

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan Program Studi


Profesi Apoteker

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan Praktik
Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi
Makkasau, Kota Pare-Pare sebagai pembelajaran dan guna memenuhi salah satu
persyaratan dalam menyelesaikan Program Studi Profesi Apoteker Fakultas
Farmasi Univerasitas Hasanuddin. Seluruh kegiatan PKPA memiliki tujuan untuk
memberikan gambaran dan pengalaman kepada mahasiswa terkait pengelolaan
perbekalan sediaan farmasi dan pelayanan farmasi klinik di Rumah Sakit. Kegiatan
PKPA di RSUD Andi Makkasau terlaksana dengan baik berkat bantuan serta
dukungan dari berbagai pihak kepada penulis, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
kepada:
1. Dekan, Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, dan Wakil Dekan III Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin
2. Bapak apt. Abdul Rahim, [Link]., [Link]., Ph.D. selaku Ketua Program Studi
Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin.
3. [Link]. Marianti A, Manggau, sebagai pembimbing Praktik Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) Farmasi Rumah Sakit Program Studi Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin untuk waktu, saran, dan
bimbingannya kepada penulis Bapak Abdul Rahim [Link]., [Link]., Ph.D., Apt.
selaku Ketua Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas
Hasanuddin.
4. Ibu Dra. Hj. Nurdjihadi Arsyad, Apt. selaku Kepala Instalasi Farmasi Rumah
Sakit Umum Andi Makkasau, Kota Pare-Pare, yang telah membimbing kami
selama melakukan kegiatan PKPA.
5. Ibu Nurdaya, [Link]., [Link]., Apt. selaku pembimbing di Rumah Sakit Umum
Daerah Andi Makkasau, Pare-Pare, yang telah membimbing selama
melakukan kegiatan PKPA.
6. Ibu dr. Novita Sari, [Link]., selaku dokter pembimbing penulis di ruang
iii
perawatan Teratai. Terima kasih atas bimbingan, ilmu dan saran yang
diberikan kepada penulis selama kegiatan PKPA.
7. Ibu Fatimah, [Link]., Apt. selaku Kepala Instalasi Central Sterile Supply
Department di Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makkasau, Pare-Pare atas
ilmu yang diberikan mengenai sistem sterilisasi di Rumah Sakit.
8. Bapak Masuri selaku Kepala Instalasi Sanitasi dan Pengelolahan Air Limbah
di Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makkasau, Pare-Pare atas ilmu yang
diberikan mengenai pengelolahan limbah di Rumah Sakit.
9. Seluruh penanggung jawab, staf depo farmasi yang terlibat dalam pelayanan
Farmasi Klinik dan staf sub-sub divisi manajemen farmasi di Rumah Sakit
Umum Daerah Andi Makkasau, Pare-Pare.
10. Rekan-rekan peserta Praktek Kerja Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin di Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makkasau
Gelombang 1, periode Agustus 2022.
11. Kedua Orang Tua penulis, [Link] dan Ibu Hasmawati serta saudara penulis
yang selalu memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis selama
kegiatan PKPA berlangsung.
Penulis menyadari bahwa Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah
Sakit Umum Daerah Andi Makkasau, Pare-Pare ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih memiliki kesalahan penulisan dalam penyusunannya. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
untuk perbaikan kedepannya. Penulis juga berharap laporan ini dapat bermanfaat
bagi penulis sendiri dan bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.

Pare-Pare, Oktober 2022

[Link] Nurazizah

iv
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii


KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................v
DAFTAR TABEL .................................................................................................. vi
DAFTAR SINGKATAN ...................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................2
II.1 Cholic Abdomen ....................................................................................2
II.2 Pneumonia .............................................................................................6
II.3 Cholelithiasis .........................................................................................7
II.4 Kanker Pankreas ....................................................................................8
BAB III STUDI KASUS ........................................................................................12
III.1 Profil Pasien .......................................................................................12
III.2 Profil Penyakit ....................................................................................12
III.3 Data Klinik Pasien..............................................................................13
III.4 Data Laboratorium .............................................................................13
III.5 Profil Pengobatan ...............................................................................15
III.6 Analisis Rasionalitas ..........................................................................16
III.7 Analisis SOAP Pengobatan Pasien ...................................................17
III.8 Uraian Obat ........................................................................................19
BAB IV PEMBAHASAN ......................................................................................36
BAB V PENUTUP .................................................................................................44
V.1 Kesimpulan......................................................................................................44
V.2 Saran ................................................................................................................44
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................45

v
DAFTAR TABEL

III.1 Data Klinik Pasien Selama Perawatan ...........................................................12


III.2 Data Hasil Pemeriksaan Darah Pasien ..........................................................13
III.3 Data Hasil Pemeriksaan Laboratorium Pasien ...............................................13
III.4 Data Profil Pengobatan Pasien .......................................................................15
III.5 Data Analisis Rasionalitas Pengobatan Pasien ..............................................16
III.6 Data Analisis SOAP Pengobatan Pasien ........................................................17

vi
DAFTAR SINGKATAN

BAS : Basofil
CrCl : Kreatinin Klirens
EOS : Eosinofil
FT4 : Free Thyroxine
g : Gram
HCT : Hematokrit
HGB : Hemoglobin
IR : Irasional
IV : Intravena
Kg : Kilogram
LYM : Limfosit
MAP : Mean Arterial Pressure
mcg : Mikrogram
MCH : Mean Corpuscular Hemoglobin
MCHC : Mean Corpuscular Hemoglobin Concentrat
MCV : Mean Corpuscular Volume
MON : Monosit
MPV : Mean Platelet Volume
mg : Miligram
mL : Milliliter
NEU : Neutrofil
PCT : Procalcitonin
PDW : Platelet Distribution Width
P-LCR : Platelet- Large Cell Ratio
P-LCC : Platelet- Large Cell Count
PLT : Platelet
PO : Per Oral
R : Rasional

vii
RBC : Red Blood Cel
RDW-CV : Red Blood Distribution Width (%)
RDW-SD : Red Blood Distribution Width (fL)
SGOT : Serum Glutamic Oxaloacetic Transminase
SGPT : Serum Glutamic Pyruvic Transminase
TSH : Thyroid Stimulating Hormone
WBC :WhiteBloodCel

viii
BAB I

PENDAHULUAN

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan


pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Permenkes RI, 2020). Instalasi Farmasi
Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu unit di rumah sakit tempat penyelenggaraan
semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit
dan pasien. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud adalah kegiatan yang
menyangkut pembuatan, pengendalian mutu sediaan farmasi, pengelolaan
perbekalan farmasi (perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
distribusi, pencatatan, pelaporan, pemusnahan/penghapusan), pelayanan resep,
pelayanan informasi obat, konseling, farmasi klinik di ruangan. Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem
pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien,
penyediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat termasuk pelayanan
farmasi klinik. Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait Obat. Dalam
pelayanan kefarmasian peran Apoteker sangat penting. Apoteker adalah sarjana
farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan
Apoteker (Persi, 2009).
Studi kasus ini membahas tentang pasien dengan penyakit Cholic Abdomen
ec Cholelothiasis dengan pravelensi pneumonia. Penyakit kolik abdomen adalah
istilah yang digunakan untuk menggambarkan nyeri spasmodik parah pada perut
yang disebabkan oleh distensi (menegang), obstruksi (sumbatan) atau perandangan
pada organ tubuh yang memiliki otot polos, misalnya usus, kandung empedu, ginjal,
dan lain-lain. Rasa sakit ini dapat muncul mendadak pada orang dewasa, bisa juga
berkembang secara bertahap dan semakin [Link] abdomen di Indonesia
tercatat 40,85% dari 800.000 orang penduduk. Berdasarkan hasil
pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan

1
2

Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2012 diperoleh angka penderita kolik
abdomen di Indonesia cukup tinggi sekitar 91,6%. Penyebab dominan dari
kasus kolik abdomen tersebut adalah makanan yang mengandung pedas dan
bijih -bijihan seperti: Lombok, biji jambu dan bijih tomat (Depkes RI, 2012 )\
Praktik Kerja Profesi Apoteker bertujuan agar mahasiswa profesi Apoteker
dapat mengetahui bagaimana gambaran dan pengalaman kerja apoteker di rumah
sakit. Oleh karena itu, dalam studi kasus ini dilakukan Pemantauan Terapi Obat dan
Drug Related Problems (DRP) pada pasien dengan penyakit cholic abdomen agar
tidak memperparah perkembangan penyakit dan memperbaiki kualitas hidup pasien
dengan penggunaan obat-obatan yang tepat dan aman. Selain itu untuk menghindari
penggunaan obat secara tidak rasional yang dapat menimbulkan pengobatan kurang
efektif, risiko efek samping dan tingginya biaya pengobatan.
Oleh sebab itu, dilakukan pemantauan terapi obat (PTO) pada pasien
penderita Cholic Abdomen dimana peran Apoteker sangat besar dalam rangka
menurunkan angka kejadian DRP dan meningkatkan quality of life dari pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Colic abdomen


II.1.1 Definisi
Kolik merupakan nyeri pada perut viseralis akibat spasme otot polos organ
berongga dan biasanya disebabkkan oleh hambatan pasase organ tersebut (obstruksi
usus, batu ureter batu empedu, peningkatan tekanan intralumen). Nyeri ini timbul
karena hipoksia yang dialami oleh jaringan dinding saluran. Karena kontraksi ini
berjea, kolik dirasakan hilang timbul. Fase awal gangguan pendarahan dinding usus
juga berupa nyeri kolik (Mayumi, et al 2015).
II.1.2 Etiologi
Penyebab nyeri dapat diklasifikasikan dalam dua penyebab antara lain yaitu
penyebab yang berhubungan dengan fisik dan penyebab yang berhubungan dengan
psikis. Secara fisik contohnya nyeri yang disebabkan trauma (baik terauma
mekanik, termis kimiawi, maupun elektrik), neoplasma, peradangan, gangguan
sirkulasi darah dan lain-lain. Secara psikis, penyebabnya dapat terjadi karena
adanya trauma psikologis. Nyeri yang disebabkan oleh factor psikologis merupakan
nyeri yang dirasakan bukan karena penyebab organik, melainkan akibat trauma
psikologis dan pengaruhnya terhadap fisik, yang biasa disebut dengan istilah
psikosomatik. Nyeri karena faktor ini disebut pula dengan psychogenic pain
(Mayumi, et al 2015). Nyeri kolik juga dapat terjadi karena diare atau sembelit.
Penyebab tersering dari akut abdomen antara lain appendisitis, kolik bilier,
kolisistitis, divertikulitis, obstruksi usus, perforasi viskus, pankreatitis, peritonitis,
salpingitis, adenitis mesenterika dan kolik renal. Penyebab nyeri kolik bagian
bawah perut yang paling sering ialah infeksi saluran kemih, terutama pada wanita,
infeksi itu menyebabkan sistitis (peradangan kandung kemih). Nyeri kolik dapat
pula terjadi karena gangguan psikis. Berkerut atau meregangnya alat dalam perut
menimbulkan rasa nyeri yang bergelombang (melilit) disebut kolik. Kolik usus
biasanya disertai dengan kembung dan perut buncit,hal ini terjadi bila otot polos
usus berkerut atau kejang usus. Kolik dapat pula terjadi karena tersumbatnya

3
4

kandung empedu, saluran empedu, atau saluran kemih. Peningkatan sekresi asam
lambung dapat menimbulkan penyakit tukak peptik yang menyebabkan rasa nyeri
berulang, rasa nyeri berkurang dengan pemberian makanan,susu,atau obat antisid.
Penyebab nyeri abdomen lainnya adalah infeksi, seperti infeksi ginjal, infeksi pada
Rahim dan saluran telur. Nyeri dapat pula disebabkan oleh terhentinya aliran darah,
misalnya bila terjadi volvulus (lilitan usus) yang menyumbat pembuluh darah atau
terjadi pembekuan pada salah satu pembuluh darah usus (ACR, 2010).
II.1.3 Patofisiologi
Colic abdomen adalah gangguan pada aliran normal usus sepanjang traktus
intestinal. Rasa nyeri pada perut yang sifatnya hilang timbul dan bersumber dari
organ yang terdapat dalam abdomen. Hal yang mendasari adalah infeksi dalam
organ perut (diare, radang kandung empedu, radang kandung kemih). Sumbatan
dari organ perut (batu empedu, batu ginjal). Akut abdomen yaitu suatu kegawatan
abdomen yang dapat terjadi karena masalah nyeri abdomen yang terjadi tiba+tiba
dan berlangsung kurang daari 24 jam. Cholic abdomen terkait pada nyeri perut serta
gejala seperti muntah, konstipasi, diare, dan gaalagastrointestinal yang spesifik.
Pada kolik abdomen nyeri dapat berasal dari organ dalam abdomen, termasuk nyeri
viseral. Dari otot lapisan dinding perut. Lokasi nyeri perut abdomen biasanya
mengarah pada lokasi organ yang menjadi penyebab nyeri [Link]
sebagian nyeri yang dirasakan merupakan perjalanan dari tempat lain. Olehkarena
itu, nyeri yang dirasakan bisa merupakan lokasi dari nyeri tersebut atau
sekunderdari tempat lain (Tirotta et al, 2015)
II.1.4 Manifestasi klinik
1. Mekanika sederhana - usus halus Kolik (kram) pada abdomen pertengahan
sampai ke atas,distensi ,muntah empedu awal peningkatan bising usus halus (bunyi
gemericing bernada tinggi terdengar pada interval singkat) nyeri tekan difus
minimal.
2. Mekanika sederhana - usus halus bawah Kolik (kram) signifikan
midabdomen, distensi berat, muntah sedikit atau tidak ada kemudian mempunyai
ampas, bising usus dan bunyi „Hush‟ meningkat nyeri tekann difus minimal.
5

3. Mekanika sederhana - kolon Kram (abdomen tengah sampai bawah) distensi


yang muncul terakhir, kemudian terjadi muntah (fekulen), peningkatan bising usus
, nyeri tekan difus minimal.
4. Obstruksi mekanik parsial Dapat terjadi bersama granulomatosa usus pada
pentakit crohn . gejalanya kram , nyeri abdomen, distensi ringan dan diare.
5. Strangulasi Gejala berkembang dengan cepat nyeri parah terus menerus dan
terlokalisir distensi sedang, muntah paristen, biasanya bising usus menurun dan
nyeri tekan terlokalisir hebat. Feses atau vomitus menjadi berwarna gelap atau
berdarah atau mengandung darah samar (Mayumi et al, 2015)
II.1.5 Penatalaksanaan
II.1.5.1 Non Farmakologi
Teknik relaksasi merupakan intervensi secara mandiri untuk menurunkan
intensitas nyeri, Teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri ketika terjadi
rasa nyeri serta dapat digunakan pada saat seseorang sehat ataupun sakitRelaksasi
otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan tegangan otot
yang menunjang nyeri. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa relaksasi
efektif dalam meredakan nyeri Relaksasi secara umum sebagai metode yang paling
efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri. Berbagai jenis teknik relaksasi
untuk mengurangi nyeri telah banyak diterapkan dalam tatanan pelayanan
keperawatan. Namun, penggunaan teknik relaksasi di Indonesia masih belum
optimal. Tehnik relaksasi yang paling sering digunakan yaitu bernafas dalam dan
teknik distraksi. (Ju et al, 2019)
II.1.5.2 Farmakologi
1. Nyeri
Penatalaksanaan nyeri yang efektif harus memberikan pereda nyeri
subjektif sambil meminimalkan efek samping terkait analgesik, memungkinkan
kembalinya aktivitas normal sehari-hari lebih awal, dan meminimalkan efek
merugikan dari nyeri yang tidak berkurang. Teknik-teknik berikut dapat
digunakan untuk menangani nyeri pascaoperasi:
a). pemberian opioid, NSAID, dan aetaminofen secara sistemik;
b). pemberian opioid IV sesuai permintaan, juga dikenal sebagai analgesia
6

terkontrol pasien (PCA);


c). analgesia epidural (terus menerus dan sesuai permintaan, biasanya dengan
campuran anestesi lokal-opioid);
d). blok saraf lokal, seperti infiltrasi lokal atau blok saraf perifer; dan e). penerapan
panas atau dingin, imajinasi terbimbing, relaksasi musik, atau intervensi
nonfarmakologis lainnya.
Anestesi lokal, opioid, asetaminofen, dan NSAID dapat digunakan sendiri
atau dalam kombinasi untuk menciptakan rejimen analgesik yang optimal untuk
setiap pasien berdasarkan faktor-faktor seperti kemanjuran agen untuk mengurangi
rasa sakit ke tingkat yang dapat diterima, jenis operasi, penyakit yang mendasari,
efek samping, dan biaya terapi. Untuk pasien yang mengalami nyeri pasca operasi
ringan sampai sedang, infiltrasi luka anestesi lokal, blokade saraf perifer, atau
pemberian analgesik nonopioid seperti NSAID atau asetaminofen adalah
pendekatan yang tepat untuk analgesia. Untuk nyeri sedang atau berat, diperlukan
opioid. Pilihan agen, dosis, dan rute pemberian tergantung pada situasi klinis.
Sebagai contoh, seorang pasien yang tidak dapat meminum apapun melalui mulut
dapat menerima opioid IV dalam dosis yang sesuai untuk keparahan nyeri dan ada
atau tidak adanya faktor risiko untuk depresi pernapasan yang diinduksi oleh
opioid. Seorang pasien yang menoleransi kerupuk dan minuman ringan sebelum
keluar dari pusat operasi harus menerima dosis pertama analgesik yang akan
diresepkan untuk pasien di rumah (Allderedge, 2013).
7

Gambar 1. Skala nyeri


(allderedge, 2013)
2. Nyeri Abdomen (Mayumi et al, 2015)
Nyeri abdomen dihasilkan dari 3 jalur yaitu nyeri abdomen visera, nyeri abdomen
parietal (somatik) dan nyeri alih
a. Nyeri abdomen visceral
Biasanya disebabkan karena distensi organ berongga atau penegangan
kapsul dari organ padat. Penyebab yang jarang berupa iskemi atau inflamasi ketika
jaringan mengalami kongesti sehingga mensensitisasi ujung saraf nyeri visera dan
menurunkan ambang batas nyerinya. Nyeri ini sering merupakan manifestasi awal
dari beberapa penyakit atau berupa rasa tidak nyaman yang samar-samar hingga
kolik. Jika organ yang terlibat dipengaruhi oleh gerakan peristaltik, maka nyeri
sering dideskripsikan sebagai intermiten, kram atau kolik. Pada nyeri ini, karena
serabut saraf nyeri bilateral, tidak bermielin dan memasuki korda spinalis pada
tingkat yang beragam , maka nyeri abdomen visera ini biasanya terasa tumpul, sulit
dilokalisasi dan dirasakan dibagian tengah tubuh. Nyeri visera berasal dari ragio
abdomen yang merujuk pada asal organ secara embrionik. Struktur foregut seperti
lambung, duodenum, liver, traktus, biliaris dan pankreas menghasilkan nyeri
abdomen atas, sering dirasakan sebagai region epigastrium. Struktur midgut seperti
jejunum, ileum, apendiks, dan kolon asenden menyebabkan nyeri periumbilikus.
Sedangkan struktur hindgut seperti kolon transversal, kolon desendens dan sistem
8

genitourinary menyebabkan nyeri abdomen bagian bawah.


b. Nyeri abdomen parietal (somatik)
Nyeri abdomen parietal atau somatik dari iskemia, inflamasi atau
penegangan dari peritoneum parietal. Serabut saraf eferen yang bermielinisasi
mentransmisikan stumulus nyeri ke akar ganglion dorsal pada sisi dan dermatomal
yang sama dari asal nyeri. Karena alasan inilah nyeri parietal berlawanan dengan
nyeri visera, sering dapat dilokalisasi terhadap daerah asal stimulus nyeri. Nyeri ini
dipersepsikan berupa tajam, seperti tertusuk pisau dan bertahan , batuk dan
pergerakan pada abdomen yang dipalpasi. Tampilan klinis dari appendicitis dapat
berupa nyeri visera dan somatik. Nyeri pada appendicitis awal sering berupa nyeri
periumbilikus (visera) tapi terlokalisasi di region kuadran kanan bawah ketika
inflamasi menyebar ke peritoneum
c. Nyeri alih
Nyeri alih adalah nyeri yang dirasakan pada jarak dari organ yang sakit.
Nyeri ini dihasilakn dari jalur-jalur neuron aferen sentral yang terbagi yang berasal
dari lokasi yang berbeda. Contohnya adalah pasien dengan pneumonia mungkin
merasakan nyeri abdomen karena distribusi neuron T9 terbagi oleh paru-paru dan
abdomen. Contoh lainnya yaitu epigastrium yang berhubungan dengan infark
miokard, nyeri di bahu yang berhubungan dengan iritasi diafragma (contoh, repture
limpa) nyeri infrascapular yang berhubungan dengan penyakit biliar dan nyeri
testicular yang berhubungan dengan obstruksi uretra.
Tata Laksana nyeri
Penatalaksanaan nyeri secara farmakologis meliputi penggunaan opioid,
nonsteroid anti inflamasi drugs (NSAID), dan adjuvan analgesik (Leung, 2012).
Pada dasarnya sebagian besar praktik tatalaksana nyeri mengikuti WHO Three
Steps Analgesic Ladder. Pada tahap satu atau pada nyeri ringan dengan skala 1-4,
pasien akan mendapat analgesik non opioid seperti NSAID atau COX 2 inhibitor.
Pada tahap kedua atau pada nyeri sedang dengan skala 5-6, pasien akan menerima
analgesik pada tahap pertama ditambah opioid lemah yang diberikan secara
intermiten. Pada tahap ketiga atau pada nyeri berat dengan skala 7-10, pasien akan
menerima analgesik pada tahap dua ditambah opioid yang lebih kuat. ASA Practice
9

Guideline for Acute Pain Management in Perioperative Setting tahun 2012


merekomendasikan penggunaan asetaminofen, COX-2 yang digunakan oral,
NSAID dan non selektif NSAID serta penghambat saluran kalsium seperti
gabapentin dan pregabalin. Pasien harus menerima sejumlah dosis around the clock
(ATC) dari coxibs, NSAID dan asetaminofen kecuali kontraindikasi (Viscusi et al.,
2013). NSAID seperti aspirin, asetaminofen dan ibuprofen dapat digunakan untuk
mengatasi nyeri akut yang ringan. Studi membuktikan bahwa penggunaan NSAID
yang dikombinasi dengan opioid dapat meringankan nyeri sedang hingga berat
namun efek analgesik dari penggunaan NSAID tunggal untuk nyeri kronis ataupun
nyeri kanker masih belum dapat disimpulkan. Penggunaan NSAID yang
berkepanjangan tidak disarankan karena dapat menimbulkan efek samping antara
lain berupa komplikasi pada ginjal dan saluran cerna (Leung, 2012). Opioid
digunakan sebagai terapi lanjutan bila nyeri tidak dapat diatasi dengan pemberian
NSAID.
II.1.5.3 Uraian Farmakologi
1. Ketorolac (MIMS 2022, PIONAS 2022, Sweetman 2014, Drugbank
2022,Medscape 2022)
a. Indikasi
Meredakan dan menghilangkan nyeri sedang hingga berat (MIMS, 2022).
b. Dosis
Untuk nyeri akut : Dosis awal 10 mg, diikuti 10-30 mg setiap 4-6 jam sesuai
kebutuhan (MIMS, 2022). Max 90 mg/hari. Durasi perawatan max 2 hari.
c. Efek samping
Bronkospasme, gagal ginjal akut, hiperkalemia, anemia, tinnitus, vertigo,
tukak lambung, dyspepsia, diare, mual, munta, konstipasi, perdarahan
lambung (MIMS, 2022).
d. Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap ketorolak, aspirin dan AINS lainnya. Penderita riwayat
tukak lambung atau perdarahan lambung, Riwayat penyakit ginjal, hipertensi,
edema, diabetes mellitus, asma, bronkospasme, rhinitis (MIMS, 2022).
e. Interaksi obat
10

Meningkatkan risiko perdarahan bersama kortikosteroid oral, SSRIs,


antiplatelet. Dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal dengan ACE
Inhibitor, ARB, siklosporin dan diuretic. Dapat mengurangi efek ACEI,
ARB, diuretic, atau β-Bloker (misal: propranolol). Meningkatkan kadar
plasma dan menurunkan klirens dengan probenesid, dapat meningkatkan
konsentrasi serum methotrexate dan digoxin (MIMS, 2022).
f. Farmakologi
Ketorolak merupakan golongan obat anti inflamasi non steroid (AINS),
bekerja sebagai analgetic, anti inflamasi dan antipiretik. Obat ini bekerja
dengan menginhibisi aktivitas enzim siklooksigenase I dan II yang
menyebabkan penurunan pembentukan precursor prostaglandin dan
tromboksan
2. Omeprazole (MIMS 2022, PIONAS 2022)
a. Komposisi
Setiap serbuk dalam vial mengandung natrium omeprazol 42,6 mg setara
dengan 40 mg omeprazole.
b. Indikasi
Tukak lambung, Crohn terkait ulser, perdarahan saluran cerna atas, refluks
gastro-esofagus, tukak terkait NSAID, sidnrom Zollinger Ellison.
c. Mekanisme Kerja
Menghambat enzim adenosin trifosfat (ATPase) yang ada pada permukaan
sekretor dari sel parietal lambung. Basal dan stimulasi asam terhambat,
sehingga sekresi asam tidak terhambat.
d. Dosis dan Aturan Pakai
Pemusnahan H. pylori terkait dengan penyakit tukak lambung, tukak
lambung dan duodenum, penyakit refluks gastro-esofagus, ulserasi terkait
NSAID Dewasa: 40 mg sekali sehari diberikan melalui infus selama 20-30
menit sampai pemberian oral dimungkinkan. Oral. Tukak lambung,
Dewasa: 20 mg atau 40 mg sekali sehari. Durasi pengobatan 4 minggu - 8
minggu. Pemeliharaan: 10-20 mg sekali sehari, dapat meningkat hingga 40
mg sesuai dengan respon pasien.
11

e. Kontra Indikasi
Pasien hipersensitif terhadap omeprazol, bahan yang terkandung dalam
sediaan, atau esomeprazol, atau substitusi lain benzomidazol.
f. Efek Samping
Diare, mual, muntah, konstipasi, nyeri perut, sakit kepala, pusing, atau
ruam.
g. Interaksi Obat
Dapat menurunkan konsentrasi plasma nelfinavir dan atazanavir.
Peningkatan risiko hipomagnesemia dengan diuretik. Konsentrasi plasma
90 omeprazol meningkat jika dikonsumsi bersamaan dengan benzodiazepin.
Dapat meningkatkan konsentrasi plasma tacrolimus, methotrexate. Dapat
menurunkan penyerapan itraconazole, ketoconazole, posaconazole,
erlotinib. Dapat memperlama waktu eliminasi diazepam, fenitoin,
cilostazol. Dapat mengurangi aktivitas antiplatelet clopidogrel. Dapat
meningkatkan bioavailabilitas digoxin.
h. Peringatan
Risiko osteoporosis. Gangguan hati. Anak-anak, orang tua. Kehamilan dan
menyusui. Metaboliser ultrarapid CYP2C19.
II.2 Pneumonia
II.2.1 Definisi
Pneumonia adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang paling sering
menyebabkan peradangan dimana terdapat konsolidasi yang disebabkan pengisian
rongga alveoli oleh eksudat. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan
pneumonia adalah peradangan akut parenkim paru yang biasanya dari suatu infeksi
saluran pernafasan bawah akut dimana asinus terisi dengan cairan radang yang
ditandai dengan batuk dan disertai nafas cepat yang disebabkan oleh virus, bakteri,
dan mycoplasma (PDPI, 2014). Pneumonia dapat dibedakan berdasarkan lokasi
atau tempat penularan infeksi, Community Acquired Pneumonia (CAP) atau
peneumonia komunitas yaitu Pneumonia yang didapat di luar rumah sakit pada
individu yang belum dirawat di rumah sakit selama sebulan sebelumnya timbulnya
gejala, Hospital Acquired Pneumonia (HAP) atau pneumonia rumah sakit yaitu
12

Pneumonia yang didapat setelah minimal 2 hari dirawat di rumah sakit dan ketika
tidak ada kecurigaan inkubasi penyakit sebelum masuk rumah sakit. , Ventilator
Acquired pneumonia (VAP) atau pneumonia ventilator yaitu Pneumonia yang
terjadi >48 jam setelah intubasi endotrakeal (Torres, et al 2021).
II.2.2 Etiologi
1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organism gram
positif : Steptococcus pneumonia, [Link], dan streptococcus pyogenesis. Bakteri
gram negative seperti Haemophilus influenza, Klebsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa. (Padila, 2013)
2. Virus
Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
(Padila, 2013).
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplamosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran
burung, tanah serta kompos. (Padila, 2013)
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia. Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Padila, 2013)
II.2.3 Patofisiologi
Gambaran patologis dalam batas tertentu tergantung pada agen etiologis,
Pneumonia bakteri ditandai oleh eksudat intraalveolar supuratif disertai
konsolidasi. Kasus pneumonia bakteri kebanyakan disebabkan oleh bakteri
Pneumonia pneumococcus. Proses infeksi dapat diklasifikasikan berdasarkan
anatomi. Pneumonia lobaris menunjukkan daerah infeksi yang terjadi pada satuatu
lebih [Link] lobularis atau bronkopneumonia menunjukkan penyebaran
daerah infeksi yang ditandai dengan bercak berdiameter sekitar 3-4 cm mengelilingi
dan mengenai bronchus. (Irman Somantri, 2017). Penyebab pneumonia dapat virus,
bakteri, jamur, protozoa, atau riketsia, pneumonitis hipersensitivitas dapat
13

menyebabkan penyakit primer. Pneumonia terjadi akibat aspirasi. Pada klien yang
diintubasi, kolonisasi trakhea dan terjadi mikroaspirasi sekresi saluran pernapasan
atas yang terinfeksi. Tidak semua kolonisasi akan mengakibatkan pneumonia
(Irman Somantri, 2017).
II.2.4 Manifestasi Klinis
Gejala khas dari pneumonia adalah demam, menggigil, berkeringat, batuk
(baik non produktif atau produktif atau menghasilkan sputum berlendir, purulen,
atau bercak darah), sakit dada karena pleuritis dan sesak. Gejala umum lainnya
adalah pasien lebih suka berbaring pada yang sakit dengan lutut tertekuk karena
nyeri dada. Pemeriksaan fisik didapatkan retraksi atau penarikan dinding dada
bagian bawah saat pernafas, takipneu, kenaikan atau penurunan taktil fremitus,
perkusi redup sampai pekak menggambarkan konsolidasi.
II.2.5 Penatalaksanaan
II.2.5.1 Farmakologi
Pneumonia didiagnosis berdasarkan tanda klinik dan gejala, hasil
pemeriksaan laboratorium dan mikrobiologis, evaluasi foto x-ray dada. Gambaran
adanya infiltrate dari foto x-ray merupakan standar yang memastikan diagnosis.

Gambar 2. Tata laksana pneumonia (PPI, 2014)


14

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis dengan


“shift to the left”. Sedangkan evaluasi mikrobiologis dilaksanakan dengan
memeriksa kultur sputum (hati-hati menginterpretasikan hasil kultur, karena ada
kemungkinan terkontaminasi dengan koloni saluran pernapasan bagian atas).
Pemeriksaan mikrobiologis lainnya yang lazim dipakai adalah kultur darah,
khususnya pada pasien dengan pneumonia yang fulminan, serta pemeriksaan Gas
Darah Arteri (Blood Gas Arterial) yang akan menentukan keparahan dari
pneumonia dan apakah perlu-tidaknya dirawat di ICU.
Pilihan antibiotika yang disarankan pada pasien dewasa adalah golongan
makrolida atau doksisiklin atau fluoroquinolon terbaru. Namun untuk dewasa muda
yang berusia antara 17-40 tahun pilihan doksisiklin lebih dianjurkan karena
mencakup mikroorganisme atypical yang mungkin menginfeksi. Untuk bakteri
Streptococcus pneumoniae yang resisten terhadap penicillin direkomendasikan
untuk terapi beralih ke derivat fluoroquinolon terbaru. Sedangkan untuk CAP yang
disebabkan oleh aspirasi cairan lambung pilihan jatuh pada amoksisilin-klavulanat.
Golongan makrolida yang dapat dipilih mulai dari eritromisin, claritromisin serta
azitromisin. Eritromisin merupakan agen yang paling ekonomis, namun harus
diberikan 4 kali sehari. Azitromisin ditoleransi dengan baik, efektif dan hanya
diminum satu kali sehari selama 5 hari, memberikan keuntungan bagi pasien.
Sedangkan klaritromisin merupakan alternatif lain bila pasien tidak dapat
menggunakan eritromisin, namun harus diberikan dua kali sehari selama 10-14 hari.
Tabel 1 Pemilihan terapi pneumonia
15

Untuk terapi yang gagal dan tidak disebabkan oleh masalah kepatuhan
pasien, maka disarankan untuk memilih antibiotika dengan spektrum yang lebih
luas. Kegagalan terapi dimungkinkan oleh bakteri yang resisten khususnya terhadap
derivat penicillin, atau gagal mengidentifikasi bakteri penyebab pneumonia.
Sebagai contoh, pneumonia atypical melibatkan Mycoplasma pneumoniae yang
16

tidak dapat dicakup oleh penicillin.


Beberapa pneumonia masih menunjukkan demam dan konsistensi
gambaran x-ray dada karena telah terkomplikasi oleh adanya efusi pleura, empyema
ataupun abses paru yang kesemuanya memerlukan penanganan infasif yaitu dengan
aspirasi.
II.2.5.2 Non Farmakologi
• Pemberian oksigen yang dilembabkan pada pasien yang menunjukkan tanda
sesak, hipoksemia.
• Bronkhodilator pada pasien dengan tanda bronkhospasme
• Fisioterapi dada untuk membantu pengeluaran sputum
• Nutrisi
• Hidrasi yang cukup, bila perlu secara parenteral
• Pemberian antipiretik pada pasien dengan demam
• Nutrisi yang memadai.
II.2.5.3 Uraian Farmakologi
1. Farmavon injeksi (MIMS 2022, PIONAS 2022, Sweetman 2014,
Drugbank 2022, Medscape 2022)
a. Komposisi: Bromhexine HCl 1 ampul
b. Indikasi: Sekretolitik pada bronkopulmonari akut dan kronik terkait sekresi
mukus abnormal dan gangguan saluran mukus
c. Mekanisme Kerja : Mengencerkan dahak dengan memecah serat
mukopolisakarida yang terdapat pada dahak
d. Dosis dan Aturan Pakai: Oral: diminum saat perut kosong (1 jam sebelum
– 2 jam sesudah makan). Tablet 8 mg atau sirup 4 mg/5mL: Dewasa dan anak-
anak >10 tahun: 1 tablet atau 10 mL sirup 3 kali sehari, anak 5-10
tahun: 1/2 tablet atau 5 mL sirup 3 kali sehari, anak 2-5 tahun: 1/2 tablet atau 5
mL sirup 2 kali sehari. Cairan injeksi 4 mg/2 mL: 1 ampul (waktu pemberian
2-3 menit) sebanyak 2-3 kali sehari, dapat diberikan sebagai cairan infus
intravena bersama glukosa, fruktosa, garam fisiologis, dan larutan ringer.
e. Kontraindikasi: Hipersensitivitas
17

f. Interaksi : Dapat berinteraksi dengan Amoxicillin, cefuroxime,


erythromycin & doxycycline.
g. Peringatan: Tukak lambung, kehamilan, menyusui, penghentian pengobatan
jika terjadi lesi kulit atau mukosa
h. Efek Samping: Alergi termasuk ruam kulit, urtikaria, angioderma, mual,
muntah
II.3. Cholelithiasis
II.3.1 Definisi
Cholelithiasis atau batu empedu merupakan suatu pembentukan batu yang
berada di dalam kandung empedu (kolesistolitiasis) atau di dalam saluran empedu
(koledokolitiasis) di dalam saluran empedu yang terbentuk dari satu atau lebih
endapan berbagai jenis material seperti kolesterol, bilirubin, protein, garam empedu
dan asam lemak
II.3.2 Etiologi
Penyebab kolelitiasis kolesterol terutama berasal dari sekresi kolesterol
yang berlebih oleh sel hepar, disertai hipomotilitas atau gangguan pengosongan
kantung empedu. Kolelitiasis pigmen hitam disebabkan produksi bilirubin yang
berlebih akibat pemecahan heme yang tinggi, seperti pada penderita hemolitik
kronis atau sirosis hepatis. Sedangkan kolelitiasis pigmen coklat disebabkan oleh
kolonisasi bakteri akibat sumbatan pada duktus empedu, seperti striktur bilier.
II.3.3 Patofisiologi
Pembentukan batu empedu dibagi menjadi tiga tahap: (1) pembentukan
empedu yang supersaturasi, (2) nukleasi atau pembentukan inti batu, dan (3)
berkembang karena bertambahnya pengendapan. Kelarutan kolesterol merupakan
masalah yang terpenting dalam pembentukan semua batu, kecuali batu pigmen.
Supersaturasi empedu dengan kolesterol terjadi bila perbandingan asam empedu
dan fosfolipid (terutama lesitin) dengan kolesterol turun di bawah harga tertentu.
Secara normal kolesterol tidak larut dalam media yang mengandung air. Empedu
dipertahankan dalam bentuk cair oleh pembentukan koloid yang mempunyai inti
sentral kolesterol, dikelilingi oleh mantel yang hidrofilik dari garam empedu dan
lesitin. Jadi sekresi kolesterol yang berlebihan, atau kadar asam empedu rendah,
18

atau terjadi sekresi lesitin, merupakan keadaan yang litogenik (Garden, 2007).
Pembentukan batu dimulai hanya bila terdapat suatu nidus atau inti pengendapan
kolesterol. Pada tingkat supersaturasi kolesterol, kristal kolesterol keluar dari
larutan membentuk suatu nidus, dan membentuk suatu pengendapan. Pada tingkat
saturasi yang lebih rendah, mungkin bakteri, fragmen parasit, epitel sel yang lepas,
atau partikel debris yang lain diperlukan untuk dipakai sebagai benih pengkristalan
(Hunter, 2007; Garden, 2007)
II.3.4 Manifestasi klinis
II.3.4.1 Batu kandung empedu
1. Asimtomatik
Batuk yang terdapat dalam kandung empedu sering tidak memberikan
gejala (asimtomatik). Dapat memberikan gejala nyeri akut akibat kolesistitis,
nyeri bilier, nyeri abdomen kronik berulang ataupun dispepsia, mual (Suindra,
2007). Studi perjalanan penyakit sampai 50 % dari semua pasien dengan batu
kandung empedu, tanpa mempertimbangkan jenisnya, adalah asimtomatik.
Kurang dari 25 % dari pasien yang benar-benar mempunyai batu empedu
asimtomatik akan merasakan gejalanya yang membutuhkan intervensi setelah
periode wakti 5 tahun. Tidak ada data yang merekomendasikan kolesistektomi
rutin dalam semua pasien dengan batu empedu asimtomatik (Hunter, 2007).
2. Simtomatik
Keluhan utamanya berupa nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas.
Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang berlangsung lebih dari 15 menit, dan
kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. Kolik biliaris, nyeri
pascaprandial kuadran kanan atas, biasanya dipresipitasi oleh makanan berlemak,
terjadi 30-60 menit setelah makan, berakhir setelah beberapa jam dan kemudian
pulih, disebabkan oleh batu empedu, dirujuk sebagai kolik biliaris. Mual dan
muntah sering kali berkaitan dengan serangan kolik biliaris (Beat, 2008)
3. Komplikasi
Kolesistitis akut merupakan komplikasi penyakit batu empedu yang paling
umum dan sering meyebabkan kedaruratan abdomen, khususnya diantara wanita
usia pertengahan dan manula. Peradangan akut dari kandung empedu, berkaitan
19

dengan obstruksi duktus sistikus atau dalam infundibulum. Gambaran tipikal dari
kolesistitis akut adalah nyeri perut kanan atas yang tajam dan konstan, baik berupa
serangan akut ataupun didahului sebelumnya oleh rasa tidak nyaman di daerah
epigastrium post prandial. Nyeri ini bertambah saat inspirasi atau dengan
pergerakan dan dapat menjalar kepunggung atau ke ujung skapula. Keluhan ini
dapat disertai mual, muntah dan penurunan nafsu makan, yang dapat berlangsung
berhari-hari. Pada pemeriksaan dapat dijumpai tanda toksemia, nyeri tekan pada
kanan atas abdomen dan tanda klasik ”Murphy sign” (pasien berhenti bernafas
sewaktu perut kanan atas ditekan). Masa yang dapat dipalpasi ditemukan hanya
dalam 20% kasus. Kebanyakan pasien akhirnya akan mengalami kolesistektomi
terbuka atau laparoskopik (Garden, 2007; Beat, 2008). Penderita batu empedu
sering mempunyai gejala-gejala kolestitis akut atau kronik. Bentuk akut ditandai
dengan nyeri hebat mendadak pada abdomen bagian atas, terutama ditengah
epigastrium. Lalu nyeri menjalar ke punggung dan bahu kanan (Murphy sign).
Pasien dapat berkeringat banyak dan berguling ke kanan-kiri saat tidur. Nausea dan
muntah sering terjadi. Nyeri dapat berlangsung selama berjam-jam atau dapat
kembali terulang (Doherty, 2010). Gejala-gejala kolesistitis kronik mirip dengan
fase akut, tetapi beratnya nyeri dan tanda-tanda fisik kurang nyata. Seringkali
terdapat riwayat dispepsia, intoleransi lemak, nyeri ulu hati atau flatulen yang
berlangsung lama. Setelah terbentuk, batu empedu dapat berdiam dengan tenang
dalam kandung empedu dan tidak menimbulkan masalah, atau dapat menimbulkan
komplikasi. Komplikasi yang paling sering adalah infeksi kandung empedu
(kolesistitis) dan obstruksi pada duktus sistikus atau duktus koledokus. Obstruksi
ini dapat bersifat sementara, intermitten dan permanent. Kadang-kadang batu dapat
menembus dinding kandung empedu dan menyebabkan peradangan hebat, sering
menimbulkan peritonitis, atau menyebakan ruptur dinding kandung empedu (Alina,
2008).
II.3.4.2 Batu saluran empedu
Pada batu duktus koledokus, riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan
perut kanan atas disertai tanda sepsis, seperti demam dan menggigil bila terjadi
kolangitis. Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai obstruksi,
20

akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut.
Kolangitis akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis bakterial non
piogenik yang ditandai dengan trias Charcot yaitu demam dan menggigil, nyeri
didaerah hati, dan ikterus. Apabila terjadi kolangiolitis, biasanya berupa kolangitis
piogenik intrahepatik, akan timbul 5 gejala pentade Reynold, berupa tiga gejala trias
Charcot, ditambah syok, dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran sampai
koma (Rachel, 2006; Alina, 2008). Koledokolitiasis sering menimbulkan masalah
yang sangat serius karena komplikasi mekanik dan infeksi yang mungkin
mengancam nyawa. Batu duktus koledokus disertai dengan bakterobilia dalam 75%
persen pasien serta dengan adanya obstruksi saluran empedu, dapat timbul
kolangitis akut. Episode parah kolangitis akut dapat menyebabkan abses hati.
Migrasi batu empedu kecil melalui ampula Vateri sewaktu ada saluran umum
diantara duktus koledokus distal dan duktus pankreatikus dapat menyebabkan
pankreatitis batu empedu. Tersangkutnya batu empedu dalam ampula akan
menyebabkan ikterus obstruktif (Garden, 2007)
21

II.3.5 Penatalaksanaan
II.3.5.1 Farmakologi

Gambar 4. Tata laksana batu empedu (Abraham, 2014)


Oral dissolution therapy yaitu penghancuran batu dengan pemberian obat
oral, pemberian obat ini dapat menghancurkan batu pada 60% pasien kolelitiasis,
kriteria disolusi media adalah diameter batu <20mm, kurang dari 4 batu, fungsi
kandung kemih baik dan duktus sistik paten, namun pada anak anak terapi ini tidak
dianjurkan kecuali anak dengan risiko tinggi untuk menjalani operasi. Pemberian
obat ursodeoxycholic acid dapat diberikan untuk menghancurkan batu empedu
22

dengan cara sekresi kolesterol empedu di hati yang menyebabkan pembentukan


empedu yang tak jenuh dan memecah kolesterol dan batu empedu. Pemberian terapi
oral membutuhkan pengamatan yang lama (hingga dua tahun) (Abraham, 2014)
II.3.5.2 Non Farmakologi
Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri
yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau
mengurangi makanan berlemak (Sjamsuhidayat, 2005) Jika batu kandung empedu
menyebabkan serangan nyeri berulang meskipun telah dilakukan perubahan pola
makan, maka dianjurkan untuk menjalani pengangkatan kandung empedu
(kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan kekurangan
zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan pembatasan makanan
(Sjamsuhidayat, 2005; Rachel, 2006; Alina, 2008)
1. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien denga
kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi
adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas yang
dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang paling umum untuk
kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.
2. Kolesistektomi laparaskopi
Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan
sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. 80-90% batu
empedu di Inggris dibuang dengan cara ini karena memperkecil resiko kematian
dibanding operasi normal (0,1-0,5% untuk operasi normal) dengan mengurangi
komplikasi pada jantung dan paruparu Kandung empedu diangkat melalui selang
yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut.
3. Disolusi medis
Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah digunakan adalah
angka kekambuhan yang tinggi dan biaya yang dikeluarkan. Zat disolusi hanya
memperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol. Penelitian
prospektif acak dari asam xenodeoksikolat telah mengindikasikan bahwa disolusi
dan hilangnya batu secara lengkap terjadi sekitar 15%. Jika obat ini dihentikan,
23

kekambuhan batu tejadi pada 50% pasien. Kurang dari 10% batu empedu yang
dilakukan dengan cara ini sukses. Disolusi medis sebelumnya harus memenuhi
kriteria terapi non operatif diantaranya batu kolesterol diameternya < 20 mm, batu
kurang dari 4 batu, fungsi kandung empedu baik dan duktus sistik paten.
4. Kolesistotomi
Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan di
samping tempat tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang bermanfaat,
terutama untuk pasien yang sakitnya kritis.
II.3.5.3 Uraian Farmakologi
1. Ursodeoxycholic acid (MIMS 2022, PIONAS 2022, Sweetman 2014,
Drugbank 2022, Medscape 2022)
a. Komposisi
Ursodeoxycholic acid 400 mg
b. Indikasi
- Membantu mengobati sirosis bilier primer
atau peradangan saluran empedu.
- Melarutkan batu empedu (diameter < 15 mm) yang tidak terlihat dengan
sinar X atau rongsen (batu empedu radiolusen).
- Kelainan hepatobiliar (kelainan hati dan empedu) yang berhubungan
dengan fibrosis kistik pada anak usia 6 tahun sampai kurang dari 18 tahun
c. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja ursodeoxycholic acid meningkatkan kadar enzim hati
dengan memfasilitasi aliran empedu melalui hati dan melindungi sel hati.
Mekanisme utamanya adalah anticholelithic.
d. Dosis dan Aturan Pakai
400 mg 1 kali sehari
e. Kontraindikasi
- Kondisi hati dan usus mengganggu resirkulasi cairan empedu.
- Kolestasis ekstrahepatik dan intrahepatik.
- Penderita Reseksi kolon.
- Penderita Ileitis regional.
24

- Menderita Ulkus duodenum


- Gangguan fungsi hati akut dan kronis.
f. Interaksi
Penggunaan pil estrogen dengan UDCA dapat mempercepat trbentuknya
batu ginjal
g. Peringatan
- Jangan diberikan kepada pasien yang sering menderita kolik abdomen,
kolik empedu, inflamasi kandung kemih , saluran empedu dan mal absorbs
asam-asam empedu
h. Efek Samping:
-Feses lembek.
- Diare
- Nyeri abdomen parah pada bagian kanan atas.
- Pengerasan jaringan hati.
- Gangguan fungsi hati yang parah.
-Pengerasan batu empedu karena penumpukan kalsium.
II.4 Kanker Pankreas
II.4.1 Definisi
Kanker pankreas merupakan tumor yang menyerang pada bagian saluran
pencernaan, terutama pada bagian pankreas. Kanker pankreas dapat berasal dari
jaringan pankreas eksokrin maupun endokrin. Tetapi secara umum, kanker
pankreas lebih banyak berasal dari jaringan eksokrin pada ductal adenocarcinoma .
Kanker pankreas merupakan salah satu kanker yang berbahaya, di mana angka
kematian yang disebabkan oleh kanker pankreas ini sangat tinggi. Kanker pankreas
menduduki peringkat keempat dalam penyakit kanker yang menyebabkan kematian
pada pria maupun wanita.
II.4.2 Etiologi
a. Faktor Resiko Eksogen
Dalam fisiologi pancreas getah pancreas bersifat basa dengan komposisi
HCO3 (Asam) dengan kadar 113 meg/L. Setiap hari disekresikan sekitar 1500 mL
getah pancreas. Sekresi getah pancreas bersama dengan sekresi empedu dan getah
25

usus berefek pada penetralan asam lambung dan menaikkan PH duodenum menjadi
6,0 – 7,0. Didalam getah penkreas terdapat tripsinogen yang diubah menjadi enzim
aktif tripsin. Tripsin berfungsi untuk mengubah kimotripsinogen menjadi
kimotripsin yang merangsang kerja enzim enteropeptidase. Definisi enterpeptidase
akan mengakibatkan kelainan congenital dan nutrisi protein. Merupakan Adenoma
yang jinak dan Adenokarsinoma yang ganas yang berasal dari sel parenkim (asiner
atau sel duktal) dan tumor kistik. Yang termasuk factor resiko eksogen adalah
makanan tinggi lemak dan kolesterol, pecandu alkohol, perokok, orang yang suka
mengkonsumsi kopi, dan beberapa zat karsinogen. (Setyono, 2001).
b. Faktor Resiko Endogen
Penyebaran kanker/tumor dapat langsung ke organ di sekitarnya atau
melalui pembuluh darah kelenjar getah bening. Lebih sering ke hati, peritoneum,
dan paru. Kanker di kaput pankreas lebih banyak menimbulkan sumbatan pada
saluran empedu disebut Tumor akan masuk dan menginfiltrasi duodenum sehingga
terjadi perdarahan di duodenum. Kanker yang letaknya di korpus dan kaudal akan
lebih sering mengalami metastasis ke hati, bisa juga ke limpa. (Setyono, 2001)
II.4.3 Patofisiologi
Pada umumnya tumor meluas ke Retroperitoneal ke belakang pankreas,
melapisi dan melekat pada pembuluh darah. Secara mikroskopik terdapat infiltrasi
di jaringan lemak peripankreas, saluran limfe, dan perineural. Pada stadium lanjut
kanker kaput pancreas sering bermetastasis ke duodenum, lambung, peritoneum,
hati dan kandung empedu. Tumor pankreas pada bagian badan dan ekor pankreas
dapat metastasis ke hati, peritoneum, limpa, lambung dan kelenjar adrenal kiri.
Karsinoma di kaput pankreas sering menimbulkan sumbatan pada saluran empedu
sehingga terjadi kolestasis ekstra-hepatal. Disamping itu akan mendesak dan
menginfiltrasi duodenum, sehingga dapat menimbulkan peradangan di duodenum.
Karsinoma yang letaknya di korpus dan kaudal, lebih sering mengalami metastasis
ke hati dan ke limpa. Konsumsi alcohol, infeksi bakteri/virus akan serta faktorfaktor
yang beresiko mengakibatkan edema pada pancreas (terutama daerah ampula
vater). Edema pada ampulla akan berakibat aliran balik getah empedu dari duktus
koledokus ke dalam duktus pankreatikus. Dengan demikian didalam pancreas akan
26

terjadi peningkatan kadar enzim yang mengakibatkan peradangan pada pancreas.


Proses peradangan ini kalau ditumpangi mikroorganisme maka akan berakibat
terbawanya toksik kedalam darah yang merangsang hipotalamus untuk
meningkatkan ambang suhu tubuh (muncul panas). Adanya refluks enzim akan
meningkatkan volume enzim dan distensi pada pancreas yang merangsang reseptor
nyeri yang dapat dijalarkan ke daerah abdomen dan punggung. Kondisi ini
memunculkan adanya keluhan nyeri hebat pada abdomen yang menjalar sampai
punggung. Distensi pada pancreas yang melampaui beban akan berdampak pada
penekanan dinding duktus dan pancreas serta pembuluh darah pancreas. Pembuluh
darah dapat mengalami cidera bahkan sampai rusak sehingga darah dapat keluar
dan menumpuk pada pancreas atau jaringan sekitar yang berakibat pada ekimosis
pinggang dan [Link] yang terjadi pada pancreas secara sistemik
dapat meningkatkan respon asam lambung sehingga salah satu pertahanan untuk
mengurangi tingkat kerusakan. Penurunan volume darah inilah yang secara klinis
akan berakibat hipotensi pada penderita. Penurunan volume darah berkontribusi
pada penurunan pengikatan oksigen dan penyediaan nutrisi bagi sel sehingga terjadi
penurunan perfusi sel termasuk otak. Kondisi seperti inilah yang dapat
menimbulkan agitasi pada penderita. Ditambah lagi mual akan menurunkan
komposisi kalsium darah yang berdampak pada penurunan eksitasi system
persarafan(Sujono Riyadi, 2013).
II.4.4 Manifestasi Klinis
Sejumlah tanda dan gejala kanker pankreas tak muncul dalam tahap awal.
Tapi setelah tumbuh dan menyebar, nyeri sering berkembang pada perut bagian
bawah dan kadangkadang menyebar ke punggung. Rasa sakit bisa menjadi lebih
buruk setelah orang makan atau berbaring. Dan gejala lain yang mungkin muncul
antara lain:
a. Berat badan menurun drastis akibat kehilangan nafsu makan
b. Anoreksia dan kembung
c. Diare dengan kandungan lemak dalam feses (steatorrhea)
d. Diabetes ( pada penderita ini disertai berat badan yang menurun drastis, mual,
serta kulit, mata, atau selaput lendir menguning.)
27

e. Warna urin lebih gelap, biasanya berwarna kehitaman menyerupai warna tanah
f. Mengalami kelelahan berkepanjangan
g. Terjadi pembekuan darah
h. Gangguan sistem pencernaan yang mengarah pada menurunnya metabolisme
tubuh
i. Depresi berkepanjangan
j. Gangguan pada organ hati atau liver(Sujono Riyadi, 2013).
II.4.5 Penatalaksanaan
II.4.5.1 Farmakologi

Gambar 5. Manajemen nyeri (Chicheng wu, 2020)


28

Gambar 6 Farmakoterapi nyeri


Studi membuktikan bahwa penggunaan NSAID yang dikombinasi dengan
opioid dapat meringankan nyeri sedang hingga berat namun efek analgesik dari
penggunaan NSAID tunggal untuk nyeri kronis ataupun nyeri kanker masih belum
dapat disimpulkan. Penggunaan NSAID yang berkepanjangan tidak disarankan
karena dapat menimbulkan efek samping antara lain berupa komplikasi pada ginjal
dan saluran cerna (Leung, 2012). Opioid digunakan sebagai terapi lanjutan bila
nyeri tidak dapat diatasi dengan pemberian NSAID.
II.4.5.2 Non Farmakologi
Penanganan karsinoma pankreas terdiri atas 3 modalitas terapi yaitu
29

pembedahan, kemoterapi dan radioterapi. Pilihan untuk pembedahan kuratif


meliputi pankreatikoduodenektomi (prosedur Whipple), pankreatektomi distal, dan
pankreatektomi total. Pankreatektomi total merupakan terapi yang paling efektif,
akan tetapi hanya dapat dilakukan pada sekitar 10-20% kasus. Selain itu, angka
survival-5-tahun hanya 10-15% dengan median 11-18 bulan. Kontraindikasi
absolut operasi reseksi adalah metastasis pada hepar, peritoneal maupun limfonodi
jauh, atau pasien yang keadaan klinisnya tidak memungkinkan untuk dilakukan
operasi mayor. Pankreatikoduodenektomi dengan reseksi vena porta atau vena
mesenterika superior cukup aman dan bisa dilakukan, dengan mortalitas dan
morbiditas yang sama dengan pankreatikoduodenektomi tanpa reseksi vaskuler.
II.4.5.3 Uraian Farmakologi
1. MST 10 mg (MIMS 2022, PIONAS 2022, Sweetman 2014, Drugbank
2022, Medscape 2022)
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung MST Continus 10 mg
b. Indikasi
Mengatasi nyeri berat (analgesic opioid), digunakan untuk nyeri sedang
hingga berat
c. Mekanisme Kerja
Bekerja dalam system saraf pusat dengan cara mengikat dan mengaktivasi
seseptor opioid yang dapat meningkatkan ambang batas nyeri sehingga
dapat mengurangi rasa nyeri
d. Dosis dan Aturan Pakai
10 mg 2 kali sehari
e. Kontraindikasi
Hindari pada depresi napas akut, alkoholisme akut, dan bila terdapat risiko
ileus paralitik; juga hindarkan pada peningkatan tekanan kranial atau cedera
kepala (mempengaruhi respon pupil yang penting untuk penilaian
neurologis); hindari injeksi pada feokromositoma (ada risiko tekanan darah
naik sebagai respons terhadap pelepasan histamin), gagal jantung sekunder
f. Interaksi
30

- Bila dikonsumsi dengan codein, oxycodone akan mengurangi


efektivitas masing-masing obat dalam meredakan nyeri
- Jika dikonsumsi dengan alprazolam, lorazepam dan zolpidem dapat
meningkatkan efek samping dari obat tersebut
g. Peringatan
Hindari mengemudikan kendaraan atau melakukan kegiatan yang
membutuhkan kewaspadaan selama menjalani pengobatan dengan morfin,
karena obat ini bisa menyebabkan pusing dan kantuk.
h. Efek Samping
Gangguan pada irama jantung, halusinasi, penurunan tekanan darah, diare,
sakit perut
2. Aminoleban (MIMS 2022, PIONAS 2022)
a. Komposisi
Asam amino (identik dengan formula Fischer)
b. Indikasi
Pengobatan ensefalopati hati pada pasien dengan penyakit hati kronis.
untuk melengkapi kebutuhan air, elektrolit, asam amino, lemak dan kalori
pada pasien yang memerlukan nutrisi vena sentral karena nutrisi oral atau
enteral tidak mencukupi atau tidak memungkinkan.
c. Mekanisme Kerja
Farmakologi: Infus Aminoleban menormalkan pola asam amino bebas di
plasma dan otak, meningkatkan metabolisme serotonin di otak dan
memperbaiki pola terjaga tidur dalam model tikus insufisiensi hati kronis
yang menjalani operasi shunt portacaval. Ketika diinfus ke tikus dengan
kecepatan amunisi, Aminoleban Infusion memperbaiki pola EEG, dan
memperbaiki metabolisme amina di otak sebagaimana dibuktikan
dengan koreksi pola asam amino bebas di plasma dan otak, dan dengan
menekan peningkatan neurotransmitter.
d. Dosis dan Aturan Pakai
Dewasa: Dosis Biasa: 500-1000 mL / dosis dengan infus infus IV. Tingkat
Infus Perifer Biasa: 500 mL selama 180-300 menit (kira kira 25-40 tetes /
31

menit) pada orang dewasa. Untuk nutrisi parenteral total, 500-1000 mL


Aminoleban Infusion harus dikombinasikan dengan larutan dekstrosa dan
diberikan lebih dari 24 jam melalui vena sentral. Dosisnya bisa disesuaikan
tergantung usia, gejala dan berat badan pasien
e. Kontraindikasi
Pasien dengan kelainan ginjal berat (jumlah air cenderung berlebihan dan
kondisi klinis pasien mungkin memburuk. Urea dan metabolit asam amino
lainnya dapat dipertahankan, yang dapat memperburuk kondisi klinis
pasien) dan pasien dengan metabolisme asam amino abnormal.
(karena asam amino yang diinfuskan tidak dimetabolisme secara
memadai, kondisi klinis pasien mungkin akan memburuk).
f. Interaksi
Kalsium dapat meningkatkan efek glikosida jantung seperti digitalis,
hentikan pemberian jika timbul gejala seperti aritmia, vitamin K yang
berasal dari bahan aktif memiliki efek antagonis terhadap warfarin.
g. Peringatan
Untuk Penggunaan Kristal dapat mengendap di tempat yang sejuk.
Hangatkan wadah pada suhu 15 °- 25 ° C untuk melarutkan endapan dan
gunakan larutan setelah mendingin pada suhu di dekat tubuh. Karena
natrium dan klorida diformulasikan dalam volume masing-masing sekitar
14 dan 94 mEq / L, penggunaan bersamaan dengan larutan elektrolit dan
pemberian Aminoleban Infus dalam dosis besar memerlukan pengawasan
ketat terhadap keseimbangan elektrolit. Infus infus lambat dianjurkan
h. Efek Samping:
Hipersensitivitas : Ruam kulit atau reaksi hipersensitivitas lainnya
jarang dilaporkan dan pemberian harus dihentikan jika tanda tersebut
[Link] : Mual dan muntah jarang terjadi. Kardiovaskular
: Dada ketidaknyamanan dan palpitasi jarang terjadi. Metabolisme
Karbohidrat : Hipoglikemia jarang terjadi. Dosis Besar dan Administrasi
Cepat : Asidosis dapat terjadi setelah dosis Infus Aminoleban yang
32

cepat dan [Link] lain : Nyeri, demam, sakit kepala dan nyeri vaskular
jarang terjadi.

3. Ibuprofen (MIMS 2022, PIONAS 2022, Sweetman 2014)


a. Komposisi:
b. Indikasi
Nyeri ringan sampai sedang antara lain nyeri pada penyakit gigi atau
pencabutan gigi, nyeri pasca bedah, sakit kepala, gejala artritis reumatoid,
gejala osteoartritis, gejala juvenile artritis reumatoid, menurunkan demam
pada anak.
c. Mekanisme Kerja
Ibuprofen termasuk kedalam obat golongan NSAID (non-steroid anti
inflammatory drug) yang bekerja menghambat siklooksigenase-1 dan
siklooksigenase-2 (Anderson, Knoben & Troutman, 2002). Ibuprofen
mengobati nyeri dan inflamasi pada penyakit rematik dan penyakit
musculoskeletal lainnya. Ibuprofen memiliki efek samping
ketidaknyamanan gastrointestinal, mual, diare, terkadang pendarahan, dan
terjadi ulserasi.
d. Dosis dan Aturan Pakai
Dewasa, dosis yang dianjurkan 200-250 mg 3-4 kali sehari. Anak 1-2 tahun,
50 mg 3-4 kali sehari. 3-7 tahun, 100-125 mg 3-4 kali sehari. 8-12 tahun,
200-250 mg 3-4 kali sehari. Tidak boleh dipergunakan pada anak dengan
berat badan kurang dari 7 kg. Sebaiknya diminum setelah
makan. Osteoartritis, artritis reumatoid. 1200 mg – 1800 mg 3 kali
sehari. Eksaserbasi akut. Dosis maksimum 2400 mg/hari, jika kondisi sudah
stabil selanjutnya dosis dikurangi hingga maksimum 1800 mg/hari.
e. Kontraindikasi
Kehamilan trimester akhir, pasien dengan ulkus peptikum (ulkus duodenum
dan lambung), hipersensitivitas, polip pada hidung, angioedema, asma,
rinitis, serta urtikaria ketika menggunakan asam asetilsalisilat atau AINS
lainnya.
33

f. Interaksi
AINS dan penghambat selektif COX-2: berpotensi menimbulkan efek
adiktif. Glikosida jantung: menurunkan kecepatan filtrasi glomerulus dan
meningkatkan konsentrasi plasma glikosida jantung. Kortikosteroid:
meningkatkan risiko ulkus atau perdarahan lambung. Antikoagulan
(warfarin): meningkatkan efek dari antikoagulan. Antiplatelet dan golongan
SSRI (klopidogrel, tiklopidin): meningkat risiko perdarahan lambung.
Asetosal: meningkatkan risiko efek samping. Anti hipertensi: menurunkan
efek anti hipertensi. Diuretik: meningkatkan risiko nefrotoksik. Litium:
mempercepat eliminasi litium. Metotreksat: mengurangi bersihan
metotreksat. Siklosporin dan takrolimus: meningkatkan risiko nefrotoksik.
Zidovudin: meningkatkan risiko gangguan hematologi. Kuinolon:
meningkatkan risiko kejang. Aminoglikosida: menurunkan eksresi
aminoglikosida. Mifepriston: jangan gunakan AINS selama 8 – 12 hari
setelah terapi mifepriston karena dapat mengurangi efek
mifepriston. Ginkgo biloba: meningkatkan risiko perdarahan.
g. Peringatan
Tidak dianjurkan pada lansia, kehamilan, persalinan, menyusui, pasien
dengan perdarahan, ulkus, perforasi pada lambung, gangguan pernafasan,
gangguan fungsi jantung, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati,
hipertensi tidak terkontrol, hiperlipidemia, diabetes melitus, gagal jantung
kongestif, penyakit jantung iskemik, penyakit serebrovaskular, penyakit
arteri periferal, dehidrasi, meningitis aseptik.
h. Efek Samping
Umum: pusing, sakit kepala, dispepsia, diare, mual, muntah, nyeri abdomen,
konstipasi, hematemesis, melena, perdarahan lambung, ruam. Tidak umum:
rinitis, ansietas, insomnia, somnolen, paraestesia, gangguan penglihatan,
gangguan pendengaran, tinnitus, vertigo, asma, dispnea, ulkus mulut,
perforasi lambung, ulkus lambung, gastritis, hepatitis, gangguan fungsi hati,
urtikaria, purpura, angioedema, nefrotoksik, gagal ginjal. Jarang:
meningitis aseptik, gangguan hematologi, reaksi anafilaktik, depresi,
34

kebingungan, neuritis optik, neuropati optik, edema. Sangat jarang:


pankreatitis, gagal hati, reaksi kulit (eritema multiform, sindroma Stevens –
Johnson, nekrolisis epidermal toksik), gagal jantung, infark miokard,
hipertensi.
BAB III
STUDI KASUS

III.1 Profil Pasien


Nama : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 58tahun
Berat badan : 61 kg
Alamat : Pare-pare
Cara Bayar : BPJS
No. Rekam Medik : 00213941
Masuk rumah sakit : 14 Oktober 2022
Keluar rumah sakit : 22 Oktober 2022
III.2 Profil Penyakit
Keluhan Utama : Nyeri perut, nyeri ulu hati, lemas, batuk berlendir
kadang mengeluarkan darah , sesak nafas, skala nyeri 6, kurang nafsu makan
Riwayat Penyakit : Cholic abdomen
Riwayat Penyerta : Pneumonia
Diagnosa : Cholic Abdomen ec Cholelithiasis + Pneumonia
III.3 Data Klinik
Berdasarkan hasil pemeriksaan pada pasien, diperoleh data klinik pasien
dari tanggal 14 Oktober 2022 – 22 Oktober 2022. Data klinik pasien dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.

Tanggal
Nilai
Tanda Vital Nor 14/ 15/ 16/ 17/ 18/ 19/
mal 20/ 21/ 22/
10 10 10 10 10 10
10 10 10
Tekanan 110/ 110/ 120/
<140 100/ 110/ 100/ 120/ 120/ 90/8
darah 80 80 80
/80 80 80 70 70 80 0
(mmHg)
Pernapasan 16- 20 22 20
24 20 22 21 20 22
(kali/menit) 24
Denyut nadi 70- 113 116 115
112 116 107 111 115 88
(kali/menit) 80

35
36

Suhu badan 36- 35,7 36 36,2


36,9 35,9 36 36,4 36 36
(˚C) 37
SpO2 (%) >95 96 98 96 96 98 95 94 94
4 4-3 4
Skala nyeri - 6 6 6 6 6 4
√ < <
Nyeri perut - √ √ √ √ √ √
Nyeri ulu √ < <
- √ √ √ √ √ √
hati
- √ √ √ √ √ √ √ < <
Lemas

- √ √ √ √ √ √ √ √ <
Sesak Nafas
Batuk √ < <
√ √ √ √ √ √ √
berlendir
Keterangan:
Merah : Melebihi nilai normal
Biru : Di bawah nilai normal
(√ ) : Ada gejala
(-) : Tidak ada gejala
(<) : Gejala berkurang

III.4 Data Laboratorium


Berdasarkan hasil pemeriksaan pada pasien maka diperoleh data laboratorium
tuan A yang diperoleh. Data Laboratorium pasien dapat dilihat pada tabel dibawah
ini.
Tabel 2. Data Laboratorum Darah Rutin Pasien pada Tanggal 14 Oktober 2022
Nilai Hasil
Parameter Satuan
Rujukan
WBC 3.50-9.50 x103/μL 7.94
NEU% 40.0-75.0 x106/μL 79.0
LYM% 20.0-50.0 g/dl 12.9
MON % 3.0-10.0 % 7.4
EOS % 0.4-8.0 fL 0.3
BAS% 0.0-1.0 pg 0.4
NEU# 1.80-6.30 g/dL 6.28
LYM# 1.10—3.20 x103/μL 1.02
MON# 0.10-0.60 fL 0.59
EOS# 0.02-0.52 % 0.02
BAS# 0.00-0.06 fL 0.03
RBC 4.30-5.80 fL 4.31
HGB 13.0-17.5 fL 12.0
HCT 40.0-50.0 ng/mL 35.8
MCV 82.0-100.0 x103/μL 83.0
MCH 27.0-34.0 x103/μL 27.9
MCHC 31.6-35.4 x103/μL 33.6
RDW-CV 11.0-16.0 x103/μL 13.4
RDW-SD 35.0-56.0 x103/μL 45.7
PLT 125-350 % 335
MPV 6.5-12.0 % 7.3
37

PDW 9.0-17.0 % 8.5


PCT 0.108-0.282 % 0.246
P-LCR 11.0-45.0 % 19.0
P-LCC 30-90 64

Tabel 3. Data Laboratorium pada Tanggal 14 Oktober 2022


Pemeriksaan Nilai Rujukan Hasil
KIMIA
SPOT (Aspartat Transminase/AST) Laki-laki <=37 38 U/L
Perempuan <=31
SGPT (Alanin Transmirasi/ALT) Laki-laki <= 40 23 U/L
Perempuan <= 31
DIABETES
Glukosa Sewaktu <140 103
FUNGSI GINJAL
Urea 10 – 50 23
Creatinin Laki-laki : 0,6 – 1,1 0,7
Perempuan : 0,5 – 0,9

Tabel 4. Data elektrolit


Pemeriksaan Nilai Rujukan Hasil
Natrium 136-145 mmol/l 129
Kalium 3,5-5,1mmol/l 2,9
Klorida 98-107 mmol/l 103

Tabel 5. Data Laboratorium Urinalisa 19 Oktober 2022

Pemeriksaan Nilai Rujukan Hasil


KIMIA URINE
Berat Jenis (SG) 1005 - 1025 1020
pH 6,5 – 7,5 6.0
Uribilinogen Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Protein Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Glukosa Negatif Negatif
Katon Negatif Negatif
Leukosit Negatif Negatif
Eritrosit Negatif Negatif
MIKROSKOPIK
Sel Epitel Positif (+1) Positif (+1)
Leukosit 0 -2 / LPB 1-2
Eritrosit 0 – 2 / LPB 1-2
MAKROSKOPIK
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Jernih Jernih

Keterangan:
Merah : Melebihi nilai normal
Biru : Di bawah nilai normal
38

III.5 Profil Pengobatan


Berdasarkan hasil pemilihan obat pada pasien, maka diperoleh hasil profil pengobatan terapi dari tanggal 14 Oktober- 22
Oktober 2022. Data dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 6. Profil Pengobatan Pasien
Aturan Tanggal
No Nama Obat Sediaan Dosis
pakai 14/10 15/10 16/10 17/10 18/10 19/10 20/10 21/10 22/10
1. Sohobion Injeksi 5000mcg 24 jam √ √ √ √ - - √ √ -
2. Omeprazole Injeksi 40mg 24 jam √ √ √ √ √ √ √ √ -
3. Ketorolac Injeksi 30mg 8 jam √ √ - - - - √ √ -
4. Acetylcystein Oral 200 mg 3x1 √ √ STOP - - - - √ √
5. Sucralfat syr Oral 100 ml 3x1 √ √ √ √ - - √ √ √
6. Cetirizine Oral 10 mg 24 jam √ √ √ √ - - √ √ √
7. Ceftriaxone Injeksi 500 mg 12 jam - - √ √ √ √ √ - -
8. Farmavon Injeksi 8 mg 8 jam - √ √ √ √ √ √ √
9. Ursodeoxycholic Oral 250 mg 2x1 √ √ √
- - - √ √ √
Acid
10. Tamsulosin Oral 0,4 g 1x1 - - - √ √ √ √ √ -
11. MST Oral 10 mg 2x1 - - - √ √ √ √ √ √
12. Aminoleban Injeksi 1 drops 24 jam - - - √ √ √ √ √ -
13. B-Kompleks Oral 2x1 - - - - - - - √ √
14. Ibuprofen Oral 400 mg 2x1 - - - - - - - √ √
15. RL 20 tpm Infus 20 tpm 8 jam - √ √ √ √ √ √ √ -
39

III.6 Analisis Rasionalitas


Berdasarkan hasil pemilihan obat pada pasien, maka diperoleh hasil analisis pengobatan pasien dari tanggal 14 Oktober – 22
Oktober 2022. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 7. Analisis Rasionalitas Pengobatan Pasien


Analisis Rasionalitas
Aturan
No. Nama Obat Sediaan Dosis Aturan Cara Lama
Pakai Indikasi Obat Dosis Pasien
Pakai Pemberian Pemberian
1. Sohobion Injeksi 5000mcg 24 jam IR IR IR IR IR IR IR
2. Omeprazole Injeksi 40mg 24 jam R R R R R R R
3. Ketorolac Injeksi 30 mg 12 jam R R R R R R IR
4. Acetylcystein Oral 200 mg 3x1 IR IR IR IR IR IR IR
5. Sucralfat Oral 100ml 8 jam IR IR IR IR IR IR IR
6. Ceterizine Oral 10 mg 24 jam IR IR IR IR IR IR IR
7. Ceftriaxone Injeksi 1g 12 jam IR IR IR IR IR IR IR
8. Farmavon Injeksi I ampul 8 jam R R R R R R IR
Ursodeoxycholic
9. Injeksl 250 mg 1x1 R R R R R R R
acid
10. Tamsulosin Oral 0,4 g 1x1 R R R R R R R
11. MST 10 mg Oral 10 mg 2x1 R R R R R R R
12. Aminoleban Injeksi 1 ampul 24 jam R R R R R R R
13. B kompleks Oral 500 mg/5ml 2x1 IR IR IR IR IR IR IR
14. Ibuprofen Oral 400 mg 2x1 R R R IR R R R
15. RL Infus 20 tpm 8 jam R R R R R R R
Keterangan:
R : Rasional
IR : Irasional
40

III.7 Data Analisis SOAP Pengobatan Pasien

Tabel 8. Tabel analisis SOAP


Problem Subjek Objek Terapi DRP’s Assesment Plan Monitoring
Medik
Colic Nyeri di Skala nyeri 6- Ketorolac Tidak tepat Waktu pemberian obat Obat Monitoring
abdomen, sekitar 7 lama lebih dari 5 hari dihentikan skala nyeri
cholelitiasis perut pemberian
Pneumonia Batuk Batuk acetylcystein Tidak tepat Pasien sudah mengalami Obat Monitoring
berlendir berlendir obat batuk dari 1 minggu yang dihentikan batuk pasien
1 minggu lalu. Terdapat duplikasi
yang lalu obat batuk yaitu
farmavon injeksi dan
acetylcystein oral
Pneumonia Sesak Ceftriaxone Tidak tepat Ringer Laktat Obat Monitoring
obat berinteraksi dengan dihentikan kondisi sesak
ceftriakson (Brayfield, dan kultur
2014). bakteri
- - - Sukralfat Tidak tepat Pasien mengalami nyeri Obat Monitoring
obat akut pada lambung dihentikan skala nyeri
(Tukak lambung),
pemberian first line untuk
tukak lambung adalah
obat golongan PPI,
sedangkan sukralfat
merupakan obat golongan
antasida (Pionas, 2022)
41

- - - Sohobion Tidak tepat Tidak ada indikasi untuk Obat Pemeriksaan


indikasi obat. Vitamin B dihentikan devisiensi
digunakan untuk vitamin pada
mengatasi tanda-tanda pasien
devisiensi vitamin B
(Brayfield, 2014).
- - - Vitamin B Tidak tepat Tidak ada indikasi untuk Obat Pemeriksaan
kompleks indikasi obat. Vitamin B dihentikan devisiensi
digunakan untuk vitamin pada
mengatasi tanda-tanda pasien
devisiensi vitamin B
(Brayfield, 2014).
- - - Ceterizin Tidak tepat Tidak terdapat indikasi Obat Pemeriksaan
indikasi alergi pada pasien dihentikan alergi

III.8 Komunikasi, Informasi dan Edukasi

Tabel 8. Komunikasi, informasi dan edukasi


Informasi Komunikasi Edukasi
- Ibuprofen 400 mg - Penggunaan ibuprofen diindikasikan untuk mengatasi - Ketorolac diberi 2 kali sehari dengan dosis
nyeri pada pasien 400 mg tiap 12 jam secara oral
- MST 10 mg - Penggunaan MST diindikasikan untuk mengatasi nyeri - MST diberikan 2 kali sehari tiap 12 jam
pada pasien dengan dosis 10mg secara oral
42

III.10 Uraian Farmakoterapi


1. Mercibion (MIMS 2022, PIONAS 2022, Drug, 2022, Medscape 2022,
Drugbank, 2022)
a. Komposisi
Tiap ampul mengandung : vitamin B1 100 mg, vitamin B6 200 mg, dan
vitamin B12 5000 mcg
b. Indikasi
Untuk terapi defisiensi vitamin B1, B6, dan B12 seperti polinefritis dan
beri-beri
c. Dosis
Mersibion 5000 injeksi untuk kondisi akut 1 ampul IM kmd 1 ampul 2-3
x/minggu, untuk Polinefritis 1 ampul 2-3 kali/ minggu
d. Kontraindikasi
Tidak boleh digunakan oleh pasien yang telah diketahui memiliki alergi
terhadap kandungan obat Mersibion 5000.
e. Perhatian
Pasien Cyanocobalamin (Vitamin B12) tidak boleh digunakan untuk
mengobati anemia megaloblastik kehamilan. Pemberian dosis lebih besar
dari 10 mcg Vitamin B12 setiap hari dapat menghasilkan respons
hematologis pada pasien dengan defisiensi folat; penggunaan
sembarangan dapat menutupi diagnosis yang tepat. Cyanocobalamin atau
hydroxocobalamin harus, jika mungkin, tidak diberikan kepada pasien
yang diduga kekurangan vitamin B12 tanpa terlebih dahulu memastikan
diagnosis. Pemantauan darah secara teratur dianjurkan.
f. Efek samping
Penggunaan jangka panjang dari dosis besar Mersibion dapat
menyebabkan neuropati perifer yang parah.
g. Interaksi
Obat-obatan yang meningkatkan kebutuhan piridoksin termasuk
hidralazin, isoniazid, penisilamin dan kontrasepsi oral. Neomisin, asam
43

aminosalisilat, histamin H2-antagonis dan colchicine dapat mengurangi


penyerapan vitamin B12 dari saluran pencernaan.
Kontrasepsi oral dapat mengurangi konsentrasi serum vitamin B12.
Meskipun tidak mungkin signifikan secara klinis, banyak interaksi
vitamin B12 harus diperhitungkan saat melakukan tes untuk konsentrasi
[Link] parenteral dapat melemahkan efek vitamin B12
pada anemia
a. Peringatan dan Perhatian
Pasien dengan kondisi yang diketahui dapat mengganggu menelan (mis.
Intubasi baru atau lama, trakeostomi, disfagia). Gangguan ginjal. Kehamilan
dan menyusui.
2. Acetylcystein (Sweetman 2009, MIMS 2022, Koda kimble 2013,
drugbank 2022)
a. Komposisi/Sediaan
Tiap sediaan tablet mengandung Acetylcysteine 200 mg
b. Indikasi
Acetylcysteine diindikasikan sebagai obat yang digunakan untuk membantu
mengencerkan dahak atau lendir di saluran udara karena penyakit paru-paru.
Obat ini juga dapat mencegah atau mengurangi kerusakan hati akibat dari
overdosis paracetamole.
1. Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh Escherichia coli, Proteus
mirabilis, Kiebsiella sp.
2. Infeksi kulit dan jaringan lunak yang disebabkan oleh Streptococcus
dan/atau Staphylococcus
3. Faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh beta-heolitic streptococcus
4. Infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah
5. Infeksi lain seperti osteomielitis, artritiseptis, peritonitis
c. Dosis dan Aturan Pakai
Inhalasi Mukolitik
Dewasa: Sebagai larutan 10%: 6-10 mL, diberikan 3-4 kali sehari, dosis
dapat ditingkatkan menjadi 2-20 mL diberikan tiap 2-6 jam jika diperlukan.
44

Sebagai larutan 20%: 3-5 mL, diberikan 3-4 kali sehari, dosis dapat
ditingkatkan menjadi 1-10 mL diberikan tiap 2-6 setiap jam sesuai
kebutuhan.
Anak - anak : Sama seperti dosis orang dewasa. Intravena
Oral Mukolitik
Dewasa: Sebagai bubuk untuk larutan oral: 200 mg diberikan 3 kali sehari.
Maksimal: 600 mg setiap hari. Sebagai tablet effervescent: 600 mg sekali
sehari. Anak: Sebagai bubuk untuk larutan oral: Anak usia 2-6 tahun: 100 mg,
diberikan 2-4 kali sehari Anak usia > 6 tahun: 200 mg, diberikan 2 – 3 kali
sehari. Sebagai tablet effervescent: Anak usia > 6 tahun: diberikan dosis 600
mg sekali sehari.
d. Efek Samping
Mual, muntah, Gatal, kemerahan, Gangguan fungsi hati, Nyeri sendi,
Demam, berkeringat, Henti napas.
e. Kontraindikasi
Serbuk oral untuk larutan dan tablet effervescent tidak boleh diberikan pada
anak usia di bawah 2 tahun.
f. Perhatian dan Peringatan
- Pada pasien asma, penggunaan acetylsisteine harus dengan hati-hati
- Pada pasien riwayat tukak lambung, bronkospasme dan varises esofagus
harus dipantau penggunaannya.
- Penggunaan untuk wanita hamil dan menyusui masih dinilai aman.
3. Cetirizine (MIMS 2022, PIONAS 2022, Sweetman 2014, Drugbank
2022,)
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung Cetirizine 10 mg
b. Indikasi
Anti alergi atau antihistamin
c. Mekanisme Kerja
selektivitas tinggi terhadap reseptor histamin H1 di sel-sel efektor pada traktus
gastrointestinal, pembuluh darah dan traktus respiratorius
45

d. Dosis dan Aturan Pakai


Dosis oral Cetirizine yaitu 10 mg sehari
e. Kontraindikasi
Gangguan ginjal berat
f. Interaksi
Depresi SSP aditif bila diberikan bersamaan dengan depresan SSP lainnya
(misalnya obat penenang, obat penenang)
g. Peringatan
Pasien dengan peningkatan risiko retensi urin (misalnya lesi sumsum tulang
belakang dan hiperplasia prostat), pasien epilepsi dan pasien dengan risiko
kejang. Gangguan hati dan ginjal ringan sampai sedang. Anak-anak.
Kehamilan dan menyusui.
h. Efek Samping
Takikardia, sakit perut, mulut kering, mual, diare, muntah. Gangguan umum
dan kondisi tempat pemberian: Kelelahan, asthenia, malaise, edema.
Pusing, sakit kepala, kejang dan agitasi
4. Vitamin B Kompleks Tablet (MIMS 2022, PIONAS 2022, Drugbank
2022, Medscape 2022)
a. Komposisi
Vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, Vitamin B5, Vitamin B6
b. Indikasi
Membantu memenuhi kebutuhan vitamin B kompleks
c. Mekanisme Kerja
d. Dosis dan Aturan Pakai
1 kali sehari, sesudah makan
e. Kontraindikasi
Hipersensitifitas
f. Interaksi
Kandungan pyridoxine pada vitamin b kompleks dapat berinteraksi
levodopa
g. Peringatan
46

Simpan pada suhu dibawah 25 C dan terlindung dari cahaya


h. Efek Samping
Pemakaian obat umumnya memiliki efek samping tertentu dan sesuai
dengan masing-masing individu. Jika terjadi efek samping yang berlebih
dan berbahaya, harap konsultasikan kepada tenaga medis
5. Sucralfate (MIMS 2022, PIONAS 2022, Medscape 2022, Sweetman
2014, Drugbank 2022)
b. Komposisi
Setiap 5 mL mengandung sukralfat 500 mg.
c. Indikasi
Gastritis kronis, tukak lambung, pencegahan perdarahan saluran pencernaan
atas akibat stres ulser.
d. Mekanisme kerja
Sukralfat melindungi lapisan mukosa pada lambung terhadap asam lambung,
pepsin dan garam empedu dengan mengikat protein bermuatan positif dalam
eksudat membentuk zat perekat seperti pasta kental sehingga membentuk
lapisan pelindung.
e. Dosis dan Aturan Pakai
Tukak lambung. Dewasa: 1 g 4 kali sehari atau 2 g sehari untuk 4- 8 minggu,
dapat diperpanjang hingga 12 minggu jika perlu. Dosis pemeliharaan untuk
mencegah kekambuhan ulkus duodenum: 1 g 2 kali sehari. Maks: 8 g setiap
hari. Gastritis kronis: Dewasa: 1 g, 4 kali sehari atau 2 g sehari untuk 4-8
minggu, dapat diperpanjang hingga 12 minggu jika perlu. Maks: 8 g setiap
hari. Pencegahan perdarahan saluran pencernaan atas akibat stres ulser.
Dewasa: 1 g 6 kali sehari. Maks: 8 g setiap hari.
f. Efek samping
Gugup, Sakit kepala, pusing, kantuk, susah tidur, vertigo. GI: Sembelit, diare,
mual, muntah, perut kembung, gangguan pencernaan, ketidaknyamanan
lambung, mulut kering. Muskuloskeletal: Nyeri punggung. Dermatologis:
Pruritus, ruam kulit.
47

g. Interaksi obat
Dapat meningkatkan total aluminium dalam tubuh dengan obat yang
mengandung Aluminium (mis. Antasida yang mengandung aluminium).
Dapat mengurangi absorpsi tetrasiklin, ranitidin, ketokonazol, teofilin,
fenitoin, simetidin, siprofloksasin, norfloksasin dan digoksin.
h. Peringatan dan Perhatian
Pasien dengan kondisi yang diketahui dapat mengganggu menelan (mis.
Intubasi baru atau lama, trakeostomi, disfagia). Gangguan ginjal. Kehamilan
dan menyusui.
6. Ringer Laktat (MIMS 2022, PIONAS 2022, Injectable Drug 2011,
Sweetman 2014, Drugbank 2022)
a. Komposisi
Tiap 1000 mL mengandung;
Natrium Klorida 6 g
Natrium Laktat 3,1 g
Kalium Klorida 0,3 g
Kalsium Klorida 0,2 g
c. Indikasi
Agen alkaliniser; pengganti cairan dan elektrolit
c. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja ringer laktat berhubungan dengan osmolaritas plasma,
memperluas kompartemen ekstraseluler selama masa insufisiensi sirkulasi,
dan mengembalikan natrium dan klorida yang hilang sehingga cairan tetap
tinggal didalam intravaskular
d. Dosis dan Cara pemakaian
Dosis tergantung pada usia, berat dan keadaan klinis pasien. Diberikan
dengan infus IV
e. Kontraindikasi
Infus ini dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap natrium
laktat, penggunaan bersamaan dengan ceftriaxone pada bayi (usia ≤ 28 hari).
48

f. Efek Samping
Reaksi alergi misalnya urtikaria dan pruritus lokal atau umum. Edema
periorbital, wajah, dan/atau laring. Batuk, bersin, hingga kesulitan bernapas.
g. Peringatan dan Perhatian
- Pasien dengan gagal jantung kongestif, hyperkalemia, insufisiensi ginjal
berat dan kondisi klinis dimana terdapat edema dengan retensi natrium atau
kalium.
- Perhatian dalam alkalosis metabolik atau pernapasan.
- Penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan alkalosis metabolik.
- Administrasi IV dapat menyebabkan kelebihan cairan dan/atau zat terlarut.
- Tidak untuk digunakan dalam pengobatan asidosis laktat
- Pantau keseimbangan cairan, elektrolit, dan keseimbangan asam-basa
selama perawatan jangka panjang
- Kehamilan
7. Tamsulosin
a. Komposisi
Tamsulosin 400 mcg
b. Indikasi
Meredakan pembesaran kelenjar prostat
c. Mekanisme Kerja
Tamsulosin termasuk ke dalam golongan penghambat alfa (alpha blocker).
Obat ini bekerja dengan melemaskan otot di kelenjar prostat dan kandung
kemih sehingga aliran urine bisa lebih lancar.
d. Dosis dan Aturan Pakai
400 mcg 1 kali sehari
e. Kontraindikasi
Alfa-bloker sebaiknya dihindari pada pasien dengan riwayat hipertensi
postural dan sinkop mikturisi.
f. Interaksi
Dapat meningkatkan efek samping tamsulosin jika dikombinasi dengan
terbinafine, atazanavir, clarithromisin, cimetidine dan ketoconazole.
49

Penurunan efektivitas tamsulosin jika digunakan bersama dengan


furosemide
g. Peringatan
Karena Alfa-bloker yang selektif menurunkan tekanan darah,pasien yang
menerima pengobatan antihipertensi memerlukan pengurangan dosis dan
pengawasan ahli. Diperlukan perhatian bagi lansia dan pasien dengan
kegagalan hati dan kegagalan ginjal berat
h. Efek Samping
Efek samping alfa-bloker yang selektif meliputi mengantuk, hipotensi
(hipotensi postural), sinkop, astenia, depresi, sakit kepala, mulut kering,
gangguan saluran cerna (termasuk mual, muntah, diare, konstipasi), edema,
penglihatan kabur, rinitis, gangguan ereksi (termasuk priapisme), takikardi,
palpitasi. Reaksi hipersensitif termasuk kemerahan, pruritus, dan
angiodema
8. Ceftriaxone (MIMS 2022, PIONAS 2022)
a. Komposisi
Ceftriaxone
b. Indikasi
Untuk infeksi saluran pernapasan, saluran kemih, gonoreal, infeksi tulang
dan jaringan, dan infeksi kulit
c. Dosis
1-2 g secara intravena setiap 24 jam atau dibagi setiap 12 jam. Dosis
maksimum 4 g/hari
d. Farmakologi
Ceftriakson merupakan sefalosporin generasi ketiga dengan spektrum
aktifitas anti bakteri yang luas (Gram positif maupun Gram negatif) dan masa
kerja yang panjang. Dengan pemberian secara parenteral, cepat berdifusi ke
dalam jaringan dan cairan tubuh, dimana kadar bekterisidal obat akan
bertahan selama 24 jam.
e. Kontraindikasi
50

Hipersensitivitas terhadap sefalosporin atau riwayat hipersensitivitas berat


terhadap antibiotic β-lactam jenis lain (penisilin, monobaktam, karbapenem).
Neonatus premature hingga usia pascamenstruasi 41 minggu (usia kehamilan
dan usia kronologis), neonatus cukup bulan (hingga usia 28 hari) dengan
hiperbilirubinemia, hipoalbuminemia atau asidosis yang memerlukan
pengobatan IV kalsium atau infus yang mengandung kalsium.
f. Efek samping
Diare, mual, muntah, peningkatan BUN, sakit kepala, ruam kulit, demam
atau menggigil
g. Interaksi
Dapat meningkatkan efek antikoagulan antagonis vit K (warfarin). Dapat
meningkatkan nefrotoksisitas aminoglikosida. Dapat mengurangi efek terapi
BCG, vaksin tifoid, Na picosulfate. Pemberian larutan IV yang mengandung
kalsium dapat menyebabkan pengendapan bahan kristal di paru-paru dan
ginjal.
BAB IV
PEMBAHASAN

Studi kasus pasien dengan diagnosis cholic abdomen ec cholicleatis diambil


dari hasil visiste dan data dari rekam medik pasien selama dirawat di Rumah Sakit
Umum Daerah Andi Makkasau Kota Pare-pare, Sulawesi Selatan. Data yang
diperoleh yaitu dari status rekam medik pasien sejak tanggal 14 Oktober 2022
sampai 22 Oktober 2022.
Tn S Masuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makkasau Pare-Pare
dengan keluhan nyeri perut yang hilang timbul kurang lebih 3 bulan yang lalu yang
disertai sesak nafas, batuk berlendir dan kadang mengeluarkan dahak, nyeri perut
dan nyeri ulu hati sehingga dilakukan pemeriksaan dengan hasil diagnosis yaitu
Colic abdomen ec cholilithiasis dan pneumonia.
Studi kasus dilakukan pada pasien yang masuk pada tanggal 14 Oktober
2022 dan pemantauan terapi dilakukan hingga tanggal 14 Oktober 2022 atas nama
Tuan S yang berusia 58 tahun dimana keluhan yang dialami yaitu nyeri ulu hati,
nyeri perut, lemas, sesak nafas, batuk berlendir. Tuan S merupakan pasien yang
didiagnosis Colic Abdomen ec cholelithiasis.
Berdasarkan profil pengobatan tuan S, pasien diberikan Sohobion,
omeprazole, sucralfat, farmavon, acetylcystein, cetirizine, ketorolac, ringer lactat,
tamsulosin, mst 10mg, ursodeoxycholic acid, vitamin b kompleks, data-data
tersebut diperoleh berdasarkan rekam medik dan saat visite pasien.
Berdasarkan hasil laboratorium, diperoleh nilai HGB 12,0 g/dL dan HCT
35,8 g/dL yang berada di bawah normal. Hal tersebut bisa mengindikasikan
seseorang mengalami anemia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan
anemia bila konsentrasi Hb darah <12 g/dL untuk wanita dewasa tidak hamil dan
<13 g/dL untuk pria dewasa, ditandai dengan sel darah merah yang tidak cukup,
turunnya hemoglobin dan mengalami gejala umum seperti pucat, kelelahan, dan
dyspnoea (sesak napas). Batasan anemia menurut Manuaba (2007) dalam
Salmariantity (2012) berdasarkan pemeriksaan hemoglobin adalah : 1. Tidak
anemia : Hb 11,00 gr/dL 2. Anemia ringan : Hb 9,00 gr/dL-10,00 gr/dL 3. Anemia

51
52

sedang : Hb 7,00 gr/dL-8,00 gr/dL 4. Anemia berat : Hb < 7,00 gr/dL. Pemberian
tablet tambah darah hanya dilakukan jika HB < 10. Pada pasien yang masuk
kategori tidak anemia hanya diinstruksikan untuk mengonsumsi makanan yang
mengandung zat besi misalnya sayuran hijau, ikan, dan ayam
Pasien mengalami batuk berlendir sebelum masuk ke rumah sakit, maka dari
itu diberikan acetylcystein. Acetylcysteine diberikan dengan dosis 200 mg yang
digunakan tiga kali sehari dengan dosis maksimal 600 mg dalam sehari.
Acetylcystein merupakan senyawa yang mengandung tiol dengan efek antioksidan
dan anti inflamasi. Acetylcystein bekerja secara langsung melakukan depolimerasi
glikoprotein musin dengan menghidrolisasi ikatan disulfida yang menghubungkan
monomer musin sehingga dahak menjadi encer dan mudah dikeluarkan (Wibowo,
2021). Selain acetilcystein, pasien diberikan Farmavon 5000 mcg injeksi.
Farmavon merupakan obat yang memiliki komposisi zat aktif Bromheksin
HCl. Obat ini digunakan untuk mengobati saluran napas atas dan bawah yang
mengalami hambatan untuk mengeluarkan dahak yang kental. Mekanisme kerja
Bromhexin HCl adalah dengan memecah serat mukopolisakarida pada dahak
(Bhagat dan Rachana, 2018). Terdapat dua obat yang bekerja secara mukolitik
(memecah dahak) akan tetapi tempat reaksinya yang berbeda dan keduanya
berfungsi untuk mengencerkan dahak sehingga mempermudah pengeluarannya
dari pernapasan sehingga kombinasi yang dilakukan tidak rasional (Solekhudin,
2014)
Pasien didiagnosis pneumonia sehingga diberikan antibiotik ceftriaxone 1
g inj/12 jam iv. Dosis yang diberikaan 1-2 g/hari (Kato Hideo et al, 2022).
Berdasarkan guidline American Thoranic Scociety (ACS) 2007, dalam memilih
antibiotika yang tepat harus dipertimbangkan faktor sensitivitas bakteri terhadap
antibiotika, keadaan tubuh pasien, dan faktor biaya pengobatan. Pada infeksi
pneumonia (CAP dan HAP) seringkali harus segera diberikan antibiotika sementara
sebelum diperoleh hasil pemeriksaan mikrobiologik. Pemilihan ini harus
didasarkan pada pengalaman empiris yang rasional berdasarkan perkiraan etiologi
yang paling mungkin serta antibiotika terbaik untuk infeksi tersebut. Salah satu
rekomendasi antibiotic empiris pada pasien pneumonia yang di rawat inap di ICU
53

adalah golongan beta lactam yaitu ceftriaxone. Sebelumnya, pasien di uji skin test
untuk mengetahui reaksi alergi pada pasien. Ceftriaxone merupakan golongan obat
sefalosporin generasi ketiga yang bekerja dengan cara mematikan bakteri di dalam
tubuh. Ceftriaxone mempunyai spektrum luas dengan waktu paruh eliminasi 12
jam dan efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan negative. Ceftriaxone
secara selektif dan ireversibel, menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan cara
mengikatkan diri pada transpeptidase, yang disebut juga transamidase, yang
merupakan penicillin binding protein (PBP) yang mengatalisasi polymer
peptidoglikan yang kemudian membentuk dinding sel bakteri. Penghambatan PBP
akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran dinding sel dan akhirnya terjadi lisis
sel (Wardhana et all, 2018). Tn S. masih mengalami sesak nafas hingga hari ketujuh
dan mulai berkurang di hari ke 8. Penggunaan ceftriakson yang ideal diberikan
paling lama 7 hari, sehingga lama pemberian obat tidak rasional (KMK
No.659,2017). Pada infeksi berat, pemberian antibiotic ceftriaxone dapat
ditingkatkan 2-4 g/hari dosis tunggal (Pionas, 2022). Selain pemberian antibiotic
beta lactam, direkomendasikan juga obat golongan fluorokuinolon yang bekerja
dengan cara menghambat metabolisme DNA bakteri sehingga waktu pemulihan
jauh lebih singkat dengan tingkat rekomendasi dan bukti yang kuat (Lee et al, 2018)
Berdasarkan gejala klinis, pasien mengalami nyeri perut. Skala nyeri perut
yang dirasakan pasien pada hari pertama yaitu 6- 7 . Menurut WHO, tatalaksana
untuk terapi nyeri berdasarkan klasifikasi level nyeri “Mild” (skala nyeri 1-3)
diberikan analgetik non opioid seperti paracetamol 650 mg tiap 4 jam, paracetamol
1 g tiap 6 jam, dan Ibuprofen 600 mg tiap 6 jam. Kemudian untuk “Moderate” (skala
nyeri 4-6) dapat diberikan tambahan analgetik opioid seperti paracetamol 325mg
dikombinasikan dengan codein 60mg tiap 4 jam, paracetamol 325mg
dikombinasikan oxycodon 5mg tiap 4 jam, dan tramadol 50 mg tiap 6 jam. Dan
untuk “Severe” (skala nyeri 7-10) diganti dengan analgetik opioid seperti morfin
15mg/4 jam, hydromorphone 4 mg tiap 4 jam, morfin “control realease” 10 mg tiap
8 jam. Berdasarkan pengobatan dari tuan S, diberikan ketorolac IV dengan dosis 30
mg/ 8 jam sebagai antinyeri. Berdasarkan guideline pemilihan analgetik dilihat dari
skala nyerinya, pengobatan yang dapat diberikan pada tuan S yaitu ketorolac iv.
54

Ketorolac merupakan NSAID (Non Steroid Anti Inflamasi Drug) dengan efek
analgesik kuat disertai aktivitas anti inflamasi sedang. Berdasarkan pustaka,
penggunaan ketorolac dianjurkan berdurasi maksimal lima hari dalam dosis 10
hingga 30 mg setiap 4-6 jam per hari (Gray, et al 2011) karena semakin lama
penggunaannya maka risiko potensi efek samping oleh ketorolac berupa perdarahan
gastrointestinal apabila digunakan dalam jangka panjang (Tooley & Vickers, 2014).
Tuan S diberikan ketorolac sampai pada hari ketiga, akan tetapi nyeri tidak
berkurang. Maka diberi kombinasi dengan analgesis lain yaitu golongan opioid.
Pemberian ketorolac dilakukan hingga hari ke 7. Berdarakan pustaka, pemberian
ketorolac lebih dari 5 hari pada sebagian besar pasien dikaitkan dengan pendarahan
pada lambung (Vacha et al, 2015). Sehingga pemberian lama penggunaan obat
irasional.
Pasien diberikan tablet MST Continous 10 mg yang mengandung senyawa
aktif morfin. Morfin digunakan untuk nyeri berat yang tak bisa diatasi dengan
analgetika non – opioid atau obat analgesik opioid lain yang lebih lemah
[Link] sebagai analgesic opioid yang digunakan jika skala nyeri mencapai
7. Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utamanya yaitu berikatan
serta mengaktivasi reseptor µ-opioid pada system saraf pusat. Aktivasi dari reseptor
ini akan menghasilkan efek analgesia, sedasi, physical dependence, euforia dan
respiratory depression. Pada guideline dari National Comprehensive Cancer
Network (NCCN) tahun 2008 golongan obat opiod ini sering digunakan pada pasien
dengan tingkat nyeri sedang sampai berat. Dosis morfin 10 mg yang diberikan
setiap 12 jam atau 24 jam sebagai sediaan lepas lambat (Sweetman, 2014).
Pemberian MST 10 mg dilakukan pada hari ke 4 hingga hari ke 9 yang membuat
nyeri pada Tn.S semakin berkurang. Adapun potensi efek samping MST yaitu
depresi system saraf pusat, penurunan tingkat kesadaran dan euphoria serta
mengurangi laju pernapasan (Heri et al, 2020)
Pasien diberikan Mersibion® secara intravena yang mengandung vitamin
B1, B6 dan B12. Mersibion 5000 mcg injeksi adalah obat untuk mengatasi
kekurangan vitamin B1, B6, dan B12, serta mengobati penyakit beri-beri dan
peradangan pada saraf. Injeksi ini merupakan obat keras yang harus menggunakan
55

resep dokter. Mersibion 5000 mcg iv mengandung zat aktif vitamin B1, vitamin B6,
dan vitamin B12 (Mims, 2022). Kombinasi vitamin B1, vitamin B6, dan vitamin
B12 berperan penting sebagai ko-enzim dalam metabolisme sistem saraf, serta
mendukung regenerasi serabut saraf dan selubung mielin dengan mekanisme
perbaikan saraf alami. Vitamin B1 berperan dalam metabolisme karbohidrat.
Vitamin B6 berperan dalam metabolisme protein dan asam amino. Vitamin B12
berperan dalam sintesis asam nukleat dan dapat mempengaruhi pematangan sel
serta memelihara fungsi jaringan saraf (Ali et al, 2022). Pemberian mercibion tidak
rasional karena tidak tepat indikasi dan tidak adanya gejala defisiensi vitamin B
pada pasien.
Selain nyeri perut, pasien juga mengalami nyeri ulu hati dan perut terasa
kembung. Untuk mengatasi gejala ini, pengobatan yang diberikan untuk tuan S
yaitu omeprazole dan sukralfat. Pemberian omeprazole dilakukan secara intravena
dengan dosis 40 mg sekali sehari. Berdasarkan pengobatan yang diberikan pada
tuan S, omeprazole termasuk PPI dimana merupakan penghambat sekresi asam
lambung yang sangat spesifik dan bekerja dengan mengikat secara ireversibel ke
H+/K+-ATPase (pompa proton) yang penghambat sekresi asam lambung yang
paling poten karena menghambat langkah terminal dalam siklus produksi asam.
Sucralfate merupakan garam kompleks dari sukrosa sulfat dan aluminium
hidroksida yang berkontribusi pada perlindungan mukosa dimana menjadi
penghalang fisik untuk memblokir difusi asam, pepsin, dan asam empedu melintasi
mukosa esofagus dan melemahkan cedera erosif asam dan alkali. Manfaat potensial
sukralfat termasuk perbaikan mukosa dan penyembuhan ulkus (Koda Kimble,
2015). Selain itu, penggunaan omeprazole dan sucralfate perlu diperhatikan.
Sucralfate bekerja pada pH asam yaitu 2-2,5 sedangkan omeprazole bekerja dengan
cara menaikkan pH asam lambung sehingga keefektifan penggunaan sucralfate
dapat berkurang (Koda kimble, 2015). Pemberian sukralfat irasional karena tidak
tepat indikasi
Pemberian aminoleban karena pasien mengalami pengurangan nafsu makan
dan tidak menerima asupan oral atau enteral secara signifikan. Aminoleban
diberikan secara IV dengan dosis 500 mg per hari Penanganan Tn.S tingkatan dini
56

diperlukan aturan makanan kaya protein berkalori tinggi. tingkatan lanjut, asupan
protein dibatasi agar beban metabolisme di hati tidak meningkat. Aturan makanan
yang tepat dan vitamin B kompleks penting dipertimbangkan untuk pertumbuhan
kembali sel hati. Aturan makanan suplemen rendah lemak diharapkan menurunkan
derajat steatorea dan memperbaiki status nutrisi penderita. Tujuan pengobatan lain
adalah mencegah penumpukan ammonia dan hasilan nitrogen lain dan mencegah
terjadinya komplikasi (Muin et al, 2011)
Cetirizine merupakan antagonis reseptor H1 generasi kedua, yang
merupakan metabolit aktif asam karboksilat dari antagonis reseptor H1 generasi
pertama yaitu hidroksizin. Pemberian cetirizine dengan dosis 10 mg sekali sehari
untuk orang dewasa (Sweetmman, 2014). Obat ini merupakan derivat piperazin
dengan aksi panjang (Helmy Munazir, 2007). Alergi adalah reaksi hipersensitivitas
tipe 1 (Gell and Coomb ). Reaksi ini diperankan terutama oleh IgE, yang membuat
sel mast lebih peka terhadap keberadaan alergen. Reaksi alergi bisa bersifat ringan
atau berat, pada reaksi ringan bisa terjadi mata berair, mata terasa gatal dan kadang
bersin sedangkan reaksi yang esktrim bisa terjadi gangguan pernafasan, kelainan
fungsi jantung dan tekanan darah yang sangat rendah, yang menyebabkan syok.
Reaksi jenis ini disebut anafilaksis, yang bisa terjadi pada orangorang yang sangat
sensitif, misalnya segera setelah makan makanan atau obat-obatan tertentu atau
setelah disengat lebah, dengan segera menimbulkan gejala (Abbas et al., 2000).
Pemberian cetirizine tidak rasional karena tidak tepat indikasi
Tn. S diberikan Ursodeoxycholic tablet digunakan untuk melarutkan batu
kolesterol. Dosis Ursodeoxycholic yang diberikan yaitu 250 mg yang diberikan
sekali sehari (Sweetman, 2014). Ursodeoxycholic bekerja dengan cara mengurangi
kandungan kolesterol dalam empedu dengan cara menurunkan sekresi kolesterol
hepatic. digunakan untuk melarutkan batu kolesterol yang kecil pada pasien dengan
penyakit batu empedu simtomatik yang menolak dilakukan tindakan kolesistektomi
dengan dosis 8-13 mg/kg/hari. Pemantauan terapi dengan menggunakan
Ursodeoxycholic dapat dilakukan pada 7 hari pertama dengan usg. Setelah itu obat
rutin diminum 6-12 bulan untuk melihat efek terapi. Potensi efek samping dari
57

pemberian Ursodeoxycholic adalah hepatitis, pruritus, kolangitis dan kegagalan sel


hepar (Widiastuti, 2019)
Tn. S diberikan obat Tamsulosin karena mengalami kesulitan buang air
kecil. Tamsulosi adalah antagonis reseptor α1 selektif yang memiliki selektivitas
preferensial untuk reseptor α1A dalam prostat dan reseptor α1B dalam pembuluh
darah. Peningkatan tonus otot polos di leher prostat dan kandung kemih yang
menyebabkan penyempitan outlet kandung kemih. Gerakan otot polos dimediasi
oleh stimulasi saraf simpatik dari alpha 1 adrenoceptor yang banyak terdapat
diprostat, kapsul prostat, uretra pars prostatica, kapsul prostat, dan leher kandung
kemih. Blockade adrenoceptor ini dengan pemberian tamsulosin dapat
menyebabkan otot polos dikandung kemih dan prostat menjadi rileks,
meningkatkan laju aliran urin dan pengurangan gejala BPH (Dezfuli et al 2020 )
Tn. S mengeluh sakit di area perut dan didiagnosis terdapat massa kaput
pada pancreas. Karsinoma pankreas adalah tumor ganas yang berasal dari sel-sel
yang melapisi saluran pankreas (Brunner &Suddarth, 2011). Karsinoma pankreas
merupakan sel yang mengalami perkembangan menjadi abnormal sehingga tidak
terkontrol dan berkembang di bagian pancreas. Pasien diberikan MST 10 mg.
Morfin secara umum dianggap sebagai analgesic opioid pola dasar dan agen
pembanding bagi semua obat pereda nyeri Morfin ialah agonis reseptor opioid,
dengan efek utamanya yaitu berikatan serta mengaktivasi reseptor µ-opioid pada
system saraf pusat. Aktivasi dari reseptor ini akan menghasilkan efek analgesia,
sedasi, physical dependence, euforia dan respiratory depression. Pada guideline dari
National Comprehensive Cancer Network (NCCN) tahun 2008 golongan obat
opiod ini sering digunakan pada pasien dengan tingkat nyeri sedang sampai berat.
golongan obat opiod yang sering digunakan antara lain codeine, fentanyl,
hydrocodone, hydromophone, levorphanol, methadone, morphine, oxycodone,
oxymorphone, dan tramadol.
Ringer Laktat, adalah jenis cairan kristaloid isotonik yang diklasifikasikan
lebih lanjut sebagai larutan seimbang atau larutan buffer yang digunakan untuk
penggantian cairan. Kandungan Ringer Laktat meliputi natrium, klorida, kalium,
kalsium, dan laktat dalam bentuk natrium laktat, dicampur ke dalam larutan dengan
58

osmolaritas 273 mOsm/L dan pH sekitar 6,5 Terdapat interaksi pemberian ringer
lactat dan ceftriaxone dimana akan terjadi peningkatan efek samping ceftriaxone
yang akan mengikat kalsium dalam ringer laktat dan membentuk endapan yang
tidak larut. Ceftriaxone compatible dengan cairan pelarut normal WFI, sedangkan
dengan ringer laktat tidak kompatibel. Pencampuran obat dengan larutan yang tidak
kompatibel akan menimbulkan suatu inkompatibilitas dalam bentuk
inkompatibilitas fisika dan kima. Ceftriaxone yang dilarutkan dengan NaCl dan
WFI akan menghasilkan larutan jernih warna kuning, sedangkan ketika
dicampurkan dengan RL akan membentuk suatu larutan keruh dan perubahan
warna.(Purwaningsih et al, 2018)
Ibuprofen 400 mg merupakan turunan asam propionat yang memiliki efek
antiinflamasi, analgesik dan antipiretik (The UK Health Departemen, 2011).
Ibuprofen termasuk kedalam obat golongan NSAID (non-steroid anti inflammatory
drug) yang bekerja menghambat siklooksigenase-1 dan siklooksigenase-2
(Anderson, Knoben & Troutman, 2002). Ibuprofen mengobati nyeri dan inflamasi
pada penyakit rematik dan penyakit musculoskeletal lainnya. Pada guideline dari
National Comprehensive Cancer Network (NCCN) tahun 2008 golongan AINS
yang sering digunakan adalah ibuprofen karena dapat mengurangi nyeri tanpa
menimbulkan efek samping (Anonimd, 2008).
Vitamin B kompleks mengandung kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 yang
memiliki peran penting sebagai enzim dalam mengatur berbagai proses
metabolisme tubuh untuk menghasilkan energy (Medscape, 2022). Hal ini
mempengaruhi fungsi normal kerja organ tubuh dalam menjaga kesehatan tubuh.
Pemberian vitamin b kompleks tidak rasional karena tidak tepat indikasi
Tn S. dipulangkan pada tanggal 22 oktober 2022. Obat pulang diberikan
oleh dokter yaitu kombinasi obatn analgetik ibuprofen 400mg dengan analgetik
opioid dan MST 10 mg sebagai anti nyeri , ursodeoxycholic 250 mg sebagai obat
mengancurkan batu empedu.
BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian kasus di RSUD Andi Makkasau di Kota Pare-pare
dapat disimpulkan bahwa :
1. Pemberian ketorolac tidak rasional karena tidak tepat lama pemberian
2. Pemberian acetylscystein tidak rasional karena tidak tepat obat
3. Pemberian sukralfat tidak rasional karena tidak tepat obat
4. Pemberian sohobion, vitamin B, dan cetirizine tidak rasional karena tidak
tepat indikasi

V.2 Saran
Untuk pelayanan PTO (Pemantauan Terapi Obat) dalam RS Andi Makkasau
sudah baik, namun disarankan perlu adanya peningkatan komunikasi antar tenaga
kesehatan lainnya sehingga dalam pemberian pelayanan kepada pasien menjadi
lebih baik dan pencatatan rekam medik pasien antar satu dengan yang lain menjadi
lebih teratur dan sama.

59
60

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. S. Ben. (2022). Digitalization and Banking Crisis: A Nonlinear


Relationship? Journal of Quantitative Economics, 20, 421–435.
[Link]
Alldredge, B. K., Corelli, R. L., Ernst, M. E., Guglielmo, B. J., Jacobson, P. A.,
Kradjan, W. A., Williams, B. R. 2013. Koda-Kimble & Young’s Applied
Therapeutics The Clinical Use of Drugs, 10th ed. Pennsylvania, United
States of America : Lippincott Williams & Wilkins.
ATS. 2018. American Thoracic Society For Management Of Cronic Obstructive
Pulmonary Disesase. New York. Vol 14: 3-6
Bhagat, A. dan Rachana. 2018. Review Article Bromhexine : A Comprehensive
Review. Internas ional journal of biological & Medical Research 9 (3): 6455-
6459
Coombs R R A, Gell P G H. 2006. . Classification of allcrgic reactions responsible
for clinical hypersensitivity. Clinical Aspects of Immunology, 2 nd ed, edits.
GELL P G H, and COOMBS. R R A Blackwell Scientific Publications. p.575.
Chin Cheng, W., Jen H. C., 2020. Advances in cancer pain management in Taiwan.
Dezfuli, S.A.T., Natami, M., Hayati, S., Yazdani R. 2020. Comparative effect of
tamsulosin alone in combination with ketorolac on urinary symptoms in
patiens wit ureteral stones: a double blind trial. PJMHS Vol 14 No 3. Chun
sang medical university
Dipiro, J.P., 2020. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 11th Edition.
Medical, New York.
Gray, A., Wright, J., Goodey, V., dan Bruce, L. 2011. Injectable Drugs Guide.
London: Pharmaceutical Press.
Heri, A.A.P. 2020. Morfin : Penggunaan Klinis dan Aspek-Aspeknya. Jurnal
Farmaka Vol 17 No 3.
Kato, H., Hagihara, M., Asai, N., Yamagishi, Y, Imawoto, T., Mikamo, H. 2022.
Comparison between ceftriaxone and sulbactam ampicillin as initial treatmen
of community acquired pneumonia : A systemic review and meta analysis.
61

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07 / MENKES /


659 / 2017. Tentang Formularium Nasional. Jakarta.
Lacy, C. F., Amstrong, L. L., Goldman, M. P., & Lance, L. L. (2012). Drug
Information Handbook: A Comprehensive Resource for all Clinicians and
Healthcare Professionals 20thEd. Hudson: American Pharmacist Assosiation,
Lexicom.
Leung, Lawrance. 2012. From ladder to platform : a new concept for pain
management. Journal of pharcmay health care: Vol 4 No 3
Mi Suk Lee, Jee Youn Oh, Cheol-In Kang , Eu Suk Kim , Sunghoon Park , Chin
Kook Rhee6 , Ji Ye Jung , Kyung-Wook Jo , Eun Young Heo , Dong-Ah Park,
Gee Young Suh, and Sungmin Kiem. 2018. Guidline for antibiotic use in
adults with community acquired pneumonia. Infact Chemoter : 18:50(2): 160-
198.
Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Jakarta: Menteri
Kesehatan Republik Indonesia. 2020.
Mims Indonesia. 2022. Mims Indonesia Research. Diakses pada tanggal 1
November . 2022.
Muin, Rima Yulianti, Julius,R., Mutmainnah., Samad, Ibrahim, A. 2011. Clinical
Pathology and Medical Labolatory Vol 18 No 1.
National Comprehensive Cancer Network (NCCN). 2019. NCCN ClinicalAdult
Cancer Pain.
Peraturan menteri Kesehatan republik Indonesia Nomor 28 tahun 2021 tentang
pedoman umum penggunaan antibiotik. Jakarta
Peraturan Pemerintah RI. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51
Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Peraturan Pemerintah
RI.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2014. Pneumonia Komunitas : Pedoman
diagnosis & pentalaksanaan di Indonesia. Jakarta : FKUI
62

Purwaningsih, A.E.D., Cahyo L.M. 2018. Studi Inkompatibilitas dan Penggunaan


Antibiotika Pada Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Surakarta. JFI hal 109-
114.
Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) Republik Indonesia 2014, Informatorium Obat Nasional Indonesia
(IONI), BPOM RI.
Salmariantity. 2012. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia
Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Gadjah Mada Tembilahan
Kabupaten Indragir Hilir Tahun 2012. Jakarta: FK Universitas Indonesia.
Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Stiyohadi B, Syam AF. 2014. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta: Interna Publishing. Sweetman, Sean.
Silva-Tinoco, R., Cuatecontzi-Xochitiotzi, T., De La Torre-Saldaña, V., León-
García, E., SernaAlvarado, J., Orea-Tejeda, A., Castillo-Martínez, L., Gay, J.
G., Cantú-De-León, D., & Prada, D. 2020. Influence of social determinants,
diabetes knowledge, health behaviors, and glycemic control in type 2
diabetes: An analysis from real-world evidence. BMC Endocrine Disorders,
20(1), 1–11
Sweetman, S.C. 2014. Martindale 38thThe Complete Drug Reference. London:
The Pharmaceutical Press.
Tooley A, Vickers H. The adverse effects of intravenous ketorolac related to
postoperative hemorrhage and hematoma in adults aged 18 years and older:
a systematic review protocol. JBI Database Syst Rev Implement Reports .
2014;12(6):3.
Torres, A., Cilloniz, C., Niederman, M.S, Rosario M., James D. C., Richard G. W.,
and Tom V.P. 2021. Pneumonia. Nat Rev Dis Primers 7, 25.
doi:10.1038/s41572-021-00259-0
WHO. 2018 Guidelines the pharmacological and radiotherapetic managemen of
cancer pain in adluts and adolescents
WHO, 2010, WHO Pain Ladder with Pain Management Guidelines, SWRWC
Toolkit
63

Wardhana, S. H., Monoarfa, A., & Monoarfa, R. (2018). Perbandingan Efektifitas


Antibiotik Ceftriaxone dan Ciprofloxacine pada Penderita Infeksi Saluran
Kemih di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jurnal Biomedik (JBM),
10(3), 180–184.
Widiastuti, W. 2019. Terapi Ursodeoxycholic acid (UDCA) dan Tindakan
Kolesistektomi Laparaskopik pada Remaja dengan Cholelithiasis: Sebuah
Laporan Kasus.
Vacha, M. E., Huang, W., & Mando-Vandrick, J. (2015). The Role of Subcutaneous
Ketorolac for Pain Management. Hosp Pharmacy, Thomas Land Publishers,
Inc.
Wells, B.G., DiPiro, J.T., Schwinghammer, T.L., and DiPiro, C.V. 2017.
Pharmacotherapy Handbook, 10th Ed. McGraw-Hill Education Companies,
Inggris.

Anda mungkin juga menyukai