0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan7 halaman

Tujuan dan Jenis Prototype Produk

Prototype adalah versi awal dari suatu sistem yang dibuat untuk tujuan pengujian konsep dan proses kerja sebelum produk dirilis secara massal. Terdapat beberapa jenis prototype seperti evolutionary prototype dan requirement prototype. Tujuan pembuatan prototype adalah untuk mengembangkan rancangan produk hingga sesuai dengan kebutuhan pasar serta mendapatkan umpan balik dari pengguna. Prototype juga memiliki manfaat seperti menghemat biaya produksi, memudahkan

Diunggah oleh

Izza Fadri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan7 halaman

Tujuan dan Jenis Prototype Produk

Prototype adalah versi awal dari suatu sistem yang dibuat untuk tujuan pengujian konsep dan proses kerja sebelum produk dirilis secara massal. Terdapat beberapa jenis prototype seperti evolutionary prototype dan requirement prototype. Tujuan pembuatan prototype adalah untuk mengembangkan rancangan produk hingga sesuai dengan kebutuhan pasar serta mendapatkan umpan balik dari pengguna. Prototype juga memiliki manfaat seperti menghemat biaya produksi, memudahkan

Diunggah oleh

Izza Fadri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prototype Adalah: Pengertian, Manfaat,

Tujuan, dan Contohnya


Prototype adalah – Untuk sebagian besar bisnis yang mempunyai ide produk baru, tentu
akan selalu ada riset dan juga pengembangan terlebih dulu. Awalnya, ide tersebut masih di
dalam pikiran dan juga gambaran di atas kertas saja, tetapi sebelum diproduksi secara massal,
perusahaan akan membuat satu contoh atau yang biasanya disebut dengan prototype.

Kerap kali, di dalam proses pengembangan produk tersebut, salah satu langkah kuncinya
yaitu membuat sampel ataupun prototype produk sebelum diproduksi. Prototype adalah
bentuk draft kasar dari sebuah produk yang dibuat untuk menunjukkan dasar-dasar seperti
apa produk tersebut nantinya. Kemudian, apa yang akan dilakukan oleh produk tersebut, dan
bagaimana produk tersebut beroperasi.

Prototype tersebut akan mengalami perubahan apabila diperlukan. Namun, terdapat beberapa
hal yang belum diketahui oleh banyak orang mengenai apa itu prototype. Untuk lebih
lengkapnya, kita akan membahasnya secara lebih lengkap di bawah ini.

Daftar Isi

 Prototype Adalah
 Jenis-Jenis Umum Prototype
o 1. Evolutionary Prototype
o 2. Requirement Prototype
 Tujuan Prototype
 Manfaat Prototype
o 1. Bisa Menghemat Biaya Produksi
o 2. Memudahkan Presentasi Produk
o 3. Menjadi Acuan untuk Pengembangan Produk
o 4. Memberikan Visi yang Lebih Nyata
o 5. Menjadi Tempat Keinginan Pengguna
o 6. Mengetahui Kebutuhan Konsumen
o 1. Low-fidelity
o 2. High-fidelity
o 3. Paper Prototype
o 4. HTML Prototype
 Keuntungan dan Kerugian Prototype
 Tahapan Merancang Prototype

Prototype Adalah
Prototype adalah sebuah proses perancangan sistem dengan cara membentuk contoh dan juga
standar ukuran yang akan dikerjakan nantinya. Apabila perusahaan menggunakan prototype,
maka para pengembang dan pelanggan akan saling berinteraksi sampai hasil yang terbaik
keluar.
Tentu saja, perusahaan harus mengetahui kunci dari prototype adalah prosesnya secara lancar
yang sesuai dengan kebutuhan dengan sebagian adanya perangkat lunak yang direkayasa
kualitasnya.

Secara umum, prototype adalah skalabilitas, model, ataupun standar ukuran yang dibentuk
berdasarkan suatu skema rancangan sistem. Tujuannya sendiri adalah untuk menguji proses
kerja dan juga konsep dari sebuah produk sebelum diedarkan.

Prototype akan memungkinkan para pengembang dan juga pengguna melakukan interaksi
dengan model tersebut secara langsung tanpa perlu membuat real produknya terlebih dulu.
Dengan kata lain, prototype bukanlah produk jadi yang sudah siap untuk dirilis.

Prototype bisa dibilang sebagai purwarupa ataupun pemodelan produk yang dibuat untuk
keperluan awal pengembangan, baik itu produk fisik ataupun digital. Selain itu, prototype
dapat membantu para pengemabng untuk mengetahui lebih awal kesalahan dan kekurangan
fitur produk sebelum resmi dirilis dan juga disebarluaskan.

Menurut karya tulis yang diterbitkan oleh Universitas Bina Nusantara, yakni menurut
Satzinger, Jackson, dan juga Burd (2010), prototype adalah sebuah model kerja awal dari
sebuah sistem yang lebih besar. Kemudian, menurut Cegielski, Prince, dan juga Rainer
(2013), pengertian dari prototype adalah sebuah model kerja yang berskala kecil dari
keseluruhan sistem ataupun model yang hanya berisi mengenai komponen dari sistem yang
baru.

Jadi, dari kedua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sederhananya, prototype
adalah sebuah versi dari suatu sistem yang tersedia untuk para pengembang dan calon
pengguna supaya mendapatkan gambaran dari sistem yang akan dibuat.

Proses pembuatan prototype sendiri disebut dengan prototyping, yang memerlukan beberapa
metode sampai sebuah prototype berhasil dibuat dan kemudian akan dikembangkan ke dalam
sistem yang sebenarnya.

Jenis-Jenis Umum Prototype


Gambaran sebuah sketsa di atas kertas adalah bentuk dari prototype yang paling umum dan
juga sederhana. Namun ternyata, jenis pengembangan prototype ini dapat dibagi menjadi dua,
antara lain:

1. Evolutionary Prototype
Evolutionary prototype ini adalah jenis prototype yang dikembangkan secara terus menerus
hingga memenuhi fungsi dan prosedur yang diperlukan sebuah sistem.

2. Requirement Prototype
Requirement Prototype adalah jenis prototype yang digunakan para pengembang dengan
memberikan definisi dari fungsi dan juga prosedur dari sebuah sistem yang akan dirancang
oleh pengembang tersebut.

Tujuan Prototype
Pada dasarnya, tujuan dari prototype adalah untuk mengembangkan skema rancangan produk
sampai akhirnya menjadi produk final yang sesuai dengan kebutuhan dan juga permintaan
pasar. Kebanyakan developer secara terbuka menerima berbagai macam masukan dan juga
feedback dari pengguna supaya program tersebut bisa dibangun dengan fitur dan fungsi yang
lengkap. Selain berperan sebagai penghubung pengembang dan pengguna, pembuatan
prototype ini bisa menekan biaya produksi.

Sebab, pengembang tidak lagi memerlukan proses trial and error. Sehingga beban biaya yang
harus dikeluarkan jauh lebih hemat. Selain itu, adanya prototype juga dapat meringankan
beban kerja tim pengembang dan proses pengerjaannya juga bisa dilakukan dengan cepat.

Manfaat Prototype
Prototype mempunyai berbagai manfaat yang dapat dirasakan saat mengembangkan produk,
di antaranya yaitu sebagai berikut:

1. Bisa Menghemat Biaya Produksi


Pembuatan prototype ini sekilas tampak membutuhkan biaya yang besar, terlebih pada tahap
awal pengembangan. Akan tetapi, bila ditinjau secara keseluruhan, prototype jelas bisa
menghemat biaya produksi. Sebab, ada realisasi konsep dan juga evaluasi hasil dari
percobaan tertentu, di mana hal tersebut menjadikan pembuatan prototype jauh lebih cepat
dan hemat biaya.

2. Memudahkan Presentasi Produk


Prototype dapat memungkinkan para developer untuk menuangkan dan mempresentasikan
konsep dan ide produk kepada para investor dan calon pengguna. Tanpa adanya prototype,
pengemabng akan kesulitan dalam menggambarkan ide produk apabila bermodal teori saja.

3. Menjadi Acuan untuk Pengembangan Produk


Prototype juga dapat memungkinkan para pengembang untuk membuat sebuah produk baru
di masa mendatang. Kebutuhan pasar terhadap jenis produk baru bisa dianalisis berdasarkan
prototype yang ada saat ini. Selain itu, prototype juga seringkali memunculkan gagasan dan
ide kreatif, baik untuk update ataupun pembuatan produk baru.

4. Memberikan Visi yang Lebih Nyata


Prototype bukanlah sekadar teori, tapi juga model dan juga sampe dalam bentuk yang nyata.
Gambaran produk dibuat secara detail, riil, dan jelas, sehingga pengembang, pengguna, dan
investor bisa melihat visi produk secara transparan. Terlepas dari itu semua, adanya prototype
juga memungkinkan diskusi seluruh pihak yang terkait menjadi lebih mudah.
5. Menjadi Tempat Keinginan Pengguna
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa para pengembang sangat terbuka untuk
menerima masukkan dari pengguna ataupun klien terkait dengan prototype yang sudah
dibuat. Hal tersebut sangat berguna untuk menilai fitur dan fungsionalitas produk sebelum
akhirnya dirilis. Selain itu, masukkan dari pengguna juga dapat memunculkan ide lain,
misalnya saja penambahan fitur baru di masa mendatang.

6. Mengetahui Kebutuhan Konsumen


Apabila mengingat kembali arti dari prototype, sebenarnya tidak menggambarkan semua fitur
dan juga fungsi produk secara keseluruhan. Prototype hanya sebagai gambaran sederhana
yang dapat mewakili minat para pengguna. Adanya interaksi dengan calon pelanggan akan
memungkinkan pengemabng untuk mengetahui keinginan pengguna secara langsung.

Contoh Prototype

Sistem prototype sendiri mempunyai beberapa contoh yang harus diketahui detailnya. Berikut
ini adalah beberapa contoh prototype adalah:

1. Low-fidelity
Contoh sederhana yang pertama yaitu prototype yang dirancang di atas kertas. Ini merupakan
jenis prototype yang sangat umum dan paling dasar, karena cara yang satu ini dianggap lebih
cepat dan juga murah, digunakan satu kali pakai, mudah untuk diubah dan menguji literasi
baru. Selain itu, jenis prototype ini juga dapat memungkinkan tampilan dari keseluruhan
produk secara cepat.

Siapapun juga bisa memproduksinya, mendorong pemikiran desain karena prototype ini
terlihat belum selesai. Hanya saja, ada satu kekurangannya, yakni prototype jenis ini kurang
terlihat nyata, sehingga pengguna mungkin saja akan kesulitan dalam memberikan testimoni
atau feedback. Selain itu, sulit juga untuk menerapkan hasil dari versi awal yang kasar,
karena mungkin terlalu mendasar untuk mencerminkan pengalaman pengguna produk jadi.

Kurangnya interaktivitas ini membuat para pengguna kehilangan kendali mengenai ide dari
produk secara keseluruhan. Sehingga para pengguna harus membayangkan bagaimana
mereka akan menggunakan produk tersebut hanya dalam pikiran mereka saja.

2. High-fidelity
Jenis prototype yang kedua ini lebih dekat dengan prototype dalam bentuk ataupun format
digital yang dibuat menggunakan perangkat lunak desain khusus. Kelebihan dari jenis high-
fidelity ini yaitu kemampuannya dalam melibatkan semua pemangku kepentingan demi
mempunyai visi yang diwujudkan di tangan mereka dan bisa menilai seberapa cocok visi
tersebut dengan kebutuhan pengguna dan memecahkan masalah mereka.

Pengujian tersebut akan menghasilkan hasil yang lebih akurat dan bisa diterapkan. Sehingga
dapat dikatakan jika ini merupakan versi yang paling dekat dengan produk akhir dan bisa
memungkinkan pengguna atau pengembang untuk memprediksi bagaimana pengguna akan
menggunakannya di pasaran.

Walaupun demikian, jenis prototype yang satu ini akan membutuhkan waktu lebih lama dan
juga dana yang lebih besar untuk membuatnya. Target pengguna juga cenderung akan
mengomentari secara detail dibandingkan dengan konten produk keseluruhan nya.

3. Paper Prototype
Sesuai dengan namanya, prototype yang satu ini menggunakan kertas sebagai media untuk
menyampaikan rancangan dari produk yang nantinya akan dirilis. Paper prototype ini sangat
sederhana, namun bisa memberikan beberapa pilihan terkait dengan kekurangan dari sisi
tampilan atau fungsionalitas produk.

Sebelum adanya kemudahan akses untuk internet dan juga digital, pembuatan prototype yang
paling dasar adalah berbasis kertas. Melalui gambar dua dimensi, prototype tersebut didesain
dari awal sebelum uji ide produk. Cara tersebut memang sangat sederhana, karena hanya
berbentuk gambar-gambar dua dimensi dan kemudian diuji dengan perilaku seseorang untuk
menggunakan produk prototype itu sendiri.

Paper prototype ini mempunyai beberapa keunggulan, mulai dari cepat dibuat, murah, dan
bisa menumbuhkan kerja sama tim karena cukup menyenangkan. Tidak hanya itu saja, paper
prototype juga mudah untuk didokumentasikan, begitu juga dengan catatan dan revisinya bisa
ditulis secara langsung. Proses tersebut biasanya menggunakan metode yang disebut dengan
low fidelity prototype yang nantinya akan dikembangkan melalui proses pengkodean.

Akan tetapi, paper prototype juga mempunyai kekurangan, misalnya saja kurang realistis,
dapat menimbulkan kesalahan uji produk, dan tidak menimbulkan reaksi tertentu untuk
imajinasi pengguna produk.

4. HTML Prototype
Metode pembuatan prototype HTML ini yaitu yang paling rumit dari beberapa contoh yang
sudah disebutkan di atas. Oleh karena itu, proses pembuatan prototype jenis ini hanya
direkomendasikan untuk para desainer yang mempunyai kemampuan pengkodean yang
mumpuni. Secara umum, pembuatan prototype dengan menggunakan metode HTML ini
dibentuk dengan kode dasar yang bisa menghemat energi serta waktu. Selain itu, adanya
pengkodean yang sudah tersistem juga akan lebih memudahkan pengembangan prototype di
masa yang akan datang.

Selain memiliki biaya yang rendah, metode pembuatan jenis prototype ini juga akan
memudahkan uji prototype di hampir semua sistem operasional komputer tanpa harus
menjalankan perangkat lunak eksternal. Pilihan tersebut menjadi yang paling terjangkau dan
ekonomi dari segi kualitas hasil dan pembiayaan dasar. Namun pastinya proses pengkodean
yang digunakan juga tidak main-main.
Berbeda dengan dua contoh prototype yang sebelumnya, yang mana mempunyai tahapan
sebelum memasuki proses pengkodean, metode HTML ini lebih efisien karena developer bisa
langsung membuat prototype melalui pengkodean itu sendiri. Hampir tidak ada limbah dari
pembuatan prototype jenis ini, baik itu merupakan prototype sekali pakai, langkah tambahan,
dan juga biaya perangkat lunak eksternal.

Akan tetapi, disisi lain, metode yang satu ini memang memerlukan sumber daya manusia
yang ahli di bidang pengkodean dan juga komputasi. Selain itu, ketergantungan terhadap
keterampilan pengkodean membuat para desainer dan kontribusinya menjadi sangat terbatas.
Hasilnya, kebebasan kreativitasnya tidak terlalu besar.

Dari penjelasan umumnya, bisa disimpulkan bahwa prototype mempunyai manfaat yang
cukup penting untuk awalan dalam pembuatan produk. Proses pengembangan sebuah produk,
baik itu fisik ataupun digital bisa terbantu sedemikian baik dengan adanya purwarupa ataupun
prototype karena perannya sebagai acuan ke depannya.

Secara efisiensi dan juga ekonomis, prototype juga mendukung para pengembang atau
pengguna dalam berkolaborasi secara sinergis untuk menciptakan sebuah produk dengan
fungsi serta kualitas yang terbaik.

Keuntungan dan Kerugian Prototype


Berikut ini adalah beberapa keuntungan yang dapat diperoleh bila melibatkan prototyping
saat meneliti ataupun membangun sebuah sistem, antara lain:

1. Memperoleh komunikasi yang lebih baik antara para pengembang dan pelanggan,
sehingga dapat memperoleh tujuan yang sama.
2. Pengembang ataupun peneliti dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan pengguna.
3. Pengguna bisa berperan dalam proses pengembangan.
4. Ketika merancang sistem dapat lebih menghemat waktu.
5. Hasil perancang dapat sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
6. Para pengembang bisa memperoleh masukan dari para pelanggan ketika melakukan
prototype.
7. Mempersingkat waktu pengembangan.
8. Memperoleh tingkat kepuasan dari para pelanggan lama atau baru.
Sementara untuk kelemahan adanya prototyping yaitu sebagai berikut:

1. Permintaan pengguna kadang kala sulit untuk direalisasikan, sehingga ketika berdiskusi
awal cukup membutuhkan waktu yang lama.
2. Proses perancangan prototype umumnya berlangsung cukup lama, karena adanya
beberapa koneksi dari pengguna.
Tahapan Merancang Prototype
Setelah memperoleh data-data dari apa saja yang diinginkan oleh para pengguna, maka kita
bisa merancang prototype. Terdapat beberapa tahapan saat merancang prototype, antara lain:
1. Merancang beberapa proses yang akan terjadi, mulai dari proses input sampai proses
output.
2. Merancang UML atau Unified Modelling Language yang harus sesuai dengan spesifikasi
sistem yang dibutuhkan dan bagaimana sistem tersebut akan berjalan.
3. Merancang interface
4. Melakukan evaluasi terhadap prototype.
5. Adanya pengujian sistem di prototype.
6. Melakukan evaluasi terhadap sistemnya setelah adanya pengujian.
7. Penggunaan sistem prototype kepada para pelanggan akan berguna sebagaimana
mestinya.
Jadi, kesimpulannya yaitu setelah kita memiliki sebuah ide, maka kita akan membuat sebuah
prototype yang mana merupakan mockup dari solusi ide produk yang akan kita buat. Disini,
kita bisa membuat mockup setiap interaksi dan tampilan, sehingga bisa dialami dengan cara
yang sama seperti produk yang akan dikembangkan sepenuhnya tanpa melibatkan
pengembangan besar-besaran.

Anda mungkin juga menyukai