BAB II
PEMBAHASAN
Pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan akibat dari dampak virus korona
Covid-19, dalam referensi jurnal yang kami baca ada beberapa faktor yang membuat
pertumbuhan ekonomi dunia melambat, seperti ketegangan gopolitik, pelemahan aktivitas
manufaktur, serta fluktuasi harga komoditas. Merebaknya wabah virus korona Covid-19 sejak 31
Desember 2019 ini mejadi risiko beerlanjutnya perlambatan laju ekonomi. Proyeksi
pertumbuhan ekonomi global 2020 dipangkas 0.1 persen dari 3,4 persen menjadi 3,3 persen.
Adapun untuk 2021, pertumbuhan dipangkas menjadi 3,4 persen dari 3,6 persen. Pertumbuhan
volume perdagangan dunia (barang dan jasa) juga diprediksi terkoreksi menjadi 2,9 persen pada
2020. Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar baik secara global maupun di Indonesia.
Akibat dampak Virus Covid-19 investor menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain
atau akibat asumsi pasarnya berubah.
Penurunan IHSG(Indeks Harga Saham Gabungan) dari area 6300 hingga area 3900 dalam
waktu tiga bulan pada saat pandemi menunjukkan bahwa pandemi ini memang sangat parah.
Sementara itu, tanggal 31 Maret 2020 penandatanganan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2020, yang mengatur pembatasan sosial berskala besar sebagai respons terhadap Covid-19, baru
dilakukan. Respon investor dalam kondisi ini cukup beragam dari beberapa forum atau media
sosial. Ada pro kontra yang berpendapat IHSG masih akan turun, ada juga yang berpendapat
IHSG akan rebound di kalangan investor. Meskipun adanya peningkatan jumlah investor yang
tinggi, jumlah volume transaksi di tahun 2019 masih lebih banyak dari tahun 2020. Tercatat pada
2019 lalu volume transaksi sebesar [Link], sedangkan pada 2020 sebesar
[Link]. Hal ini mencerminkan sebagian besar perilaku investor cenderung wait and see,
menunggu waktu yang tepat untuk melakukan transaksi. Sesuai dengan data yang kami temukan
dalam data statistik publik yang dikeluarkan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
pada bulan Januari 2021 menunjukkan peningkatan jumlah investor pasar modal yang signifikan.
Data pada akhir tahun 2018 hingga akhir tahun 2019 menunjukkan kenaikan jumlah investor dari
1.619.372 menjadi 2.484.354. Peningkatan sebesar 53,41% ini masih lebih rendah dari data akhir
tahun 2019 hingga 2020. Pada akhir tahun 2020, jumlah investor sudah mencapai 3.880.753
meskipun pandemi sedang berlangsung. Hal ini menandakan bisnis di pasar modal lebih menjadi
pilihan masyarakat daripada bisnis real yang sedang terpuruk saat pandemi ini karena adanya
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Akibat dari melambatnya pertumbuhan ekonomi ini sangat berpotensi besar pada
lemahnya inventasi, meningkatnya penngangguran dan menghambat produktivitas. Padahal
selama ini investasi memberi kontribusi tinggi bagi pertumbuhan ekonomi setiap tahun. Pada
2019, sumbangannya sebesar 2,73 persen. Disusul pembentukan modal tetap bruto atau investasi
dengan sumbangan 1,47 persen ( Data dari Jurnal : Investasi Ekonnomi di Indonesia yang
terdampak pandei Covid-19). Permasalahan lain yag terjadi akibat dampak Covid-19 adalah
kurs rupiah yang melemah terhadap dollar AS sejak pertengahan Februari 2020. Selain itu,
penurunan harga komoditas dan barang tambang akan berdampak kepada penurunan pendapatan
pekerja. Karena ekonomi kita masih tergantung pada komoditas dan barang tambang, maka daya
beli akan menurun. Jika daya beli menurun, maka tak ada insentif bagi pengusaha untuk
meningkatkan investasinya.