LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI
By : Ika sasmiyati, 2006539550 Mahasiswa Profesi Ners 2023
I. Gambaran Kondisi Pasien.
Orang dengan resiko unuh diri menunjukan tindakan mengakhiri hidupnya dapat
berupa isyarat , ancaman dan percobaan bunuh diri.
II. Penertian.
Resiko bunuh diri merupakan rentan terhadap menyakiti diri sendiri dan cedera
yang mengancam jiwa ( NANDA-I 2018 ). Tindakan mengakhiri hidup berupa
isyarat, ancaman, dan percobaan bunuh diri ( Stuart, Keliat, Pasaribu, 2016).
Bedasarkan besarnya kemungkinan untuk melakukan bunuh diri :
a. Isyarat Bunuh Diri : Di tunjukan dengan perilaku secara tidak langsung ingin
bunuh diri , klien umumnya mengukapkan perasaan seperti rasa bersalah,
sedih, marah, putus asa, atau tidak berdaya, klien juga mengukapkan hal
negative tentang diri sendiri yang menggambarkan HDR.
b. Ancaman Bunuh Diri : Berupa ucapan yang berisi ingin mati di sertai rencana
untuk mengakhiri hidup. Dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana
tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencana bunuh diri, tetapi tidak
di sertai dengan percobaan bunuh diri, walau dalam kondisi ini pasien belum
pernah mencoba bunuh diri . Pengawasan ketat harus di lakuknan, kesempatan
sedikit saja dapat di manfaatkan untuk melakukan rencana bunuh diri.
c. Percobaan bunuh diri : Tindakan pasien berupa mencederai / melukai diri
untuk mengakhiri hidup. Pada kondisi ini pasien aktif mencoba bunuh diri
dngan cara gantung diri , minum racun , memotong nadi atau menjathkan diri
dari tempat tinggi.
III. Proses Terjadinya Masalah.
III.1. Faktor Predisposisi.
a. Factor diagnose Psikiatri : tiga gangguan jiwa yang dapat membuat indifidu
beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif, penyalahgunaan dan
skizofrenia.
b. Faktor sifat kepribadian : tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan
besarnya resiko bunuh diri adalah cara bermusuhan ,impulsive dan depresi.
c. Faktor lingkungan psikososial : Baru mengalami kehilangan , perpisahan ,
perceraian , kurangnya dukungan sosaial, merupakan factor yang penting
yang berhubungan dengan bunuh diri.
d. Faktor riwayat keluarga : riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan factor pentng untuk melakukan bunuh diri / berperilaku destruktif.
e. Faktor Biokimia : Data menunjukan bahwa secara senotogenik dan
dopaminergic menjadi media proses yang dapat menimbulkan perilaku
destruktif diri.
III.2. Faktor Prespitasi.
Bunuh diri terdiri dari keputusasaan , jenis kelamin laki laki , usia lebih tua ,
hidup sendiri, Psikosis, penyalahgunaan zat, perilaku bunuh diri dapat di
timbulkan oleh stress berlebihan yang di alami individu. Pencetusnya sering kali
berupa kejadian kehidupan yang memalukan seperti masalah interpersonal , di
permalukan di depan umum, kehilangan pekerjaan / ancamanpengurungan. Selain
itu mengetahui seseorang yang lebih mencoba / melakukan bunuh diri / membaca
melalui media dapat juga membuat individu makinrentan untuk melakukan
perilaku destruksi diri.
III.3. Tanda dan Gejala.
Mayor Subyekstif
a. Mengukapkan kata – kata seperti tolong jaga anak / segala sesuatu akan
baik tanpa saya.
b. Mengukapkan kata – kata saya mau mati , jangan tolong saya, biarkan
saya, saya tidak mau di tolong.
c. Memberikan ancaman akan melakukan bunuh diri
d. Mengukapkan ingin mati,
e. Mengukapkan rencana ingin mengakhiri hidup
Mayor Obyektif
a. Murung tidak bergairah,
b. Banyak diam
c. Menyiapkan alat untuk bunuh diri
d. Membenturkan kepala
e. Menjatuhkan diri dari tempat tinggi
f. Melakukan percobaan bunuh diri secara aktif.
Mayor Subyektif.
a. Mengukapkan isyarat untuk melakukan bunuh diri tapi tidak di sertai
ancaman melakukan bunuh diri.
b. Mengukapkan perasaan bersalah / sedih, marah, putus asa, tidak berdaya.
c. Mengukapkan hal- hal negative tentang diri sendiri yang menggambarkan
harga diri rendah.
III.4. Mekanisme dan Sumber koping.
Aldaptif
Maladapti
f
Pertumbu Perilaku Pencederaa
Bunuh
Peningkatan mbuhan n diri
destruktif
Maladaptif diri
diri peningkat diri tak
beresiko langsung
Rentang respon :
a. Peningkatan diri :Dapat meningkatkan proteksi / pertahanan diri secara wajar
terhadap situsional.
b. Beresiko destruktif : memiliki kecenderunagan / beresiko mengalami perilaku
destrutif.
c. Destruktif diri tidak langsung : telah mengambil sikap yang kurang teapat
terhadap situasi untuk pertahanan diri.
d. Pencederaan diri ; Melakukan percobaan bunuh diri / pencederaan diri akibat
hilangnya harapan.
e. Bunuh diri : Telah melakukan kegiatan bunuh dri dengan menghilangkan
nyawa.
III.5. Sumber Koping.
Mekanisme pertahanan ego berhubungan dengan perilaku diri tidak langsung
adalah penyangkalan , Sosialisasi , intelektualisasi dan regresi.
IV. Diagnosa keperawatan.
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Resiko bunuh diri
c. Isolasi sosial
d. Harga diri rendah
V. Pohon Diagnosa
Resiko Perilaku Kekerasan
Resiko Bunuh Diri
Isolasi Sosial
Harga Diri Rendah
VI. Tindakan Keperawatan
Tindakan pada pasien
a. Pengkajian: kaji tanda dan gejala resiko bunuh diri, penyebab dan kemampuan
mengatasinya.
b. Diagnosis: jelaskan proses terjadinya resiko bunuh diri dan akibatnya serta
skore skala intervensi bunuh diri
c. Tindakan Keperawatan:
Mengamankan lingkungan dari resiko bunuh diri
Membangun harapan dan masa depan.
Latih cara mengendalikan dorongan bunuh diri.
Berikan motivasi untuk membangun harapan dan mengendalikan dorongan
bunuh diri.
Meminta klien hubungi keluarga / nurse jika tidak bisa mengendalikan
dorongan bunuh diri.
Berikan pengawasan ketat dan jika klien tidak dapat mengendalikan
dorongan bunuh diri.
Tidak Observasi resiko bunuh diri.
Level Obserasi
skor 1 observasi umum minimal setiap 60
mnt
Skor 2 observasi intermiten setiap 15- 30
mnt
Skor 3 Observasi konstan setiap saat pagi –
siang – malam.
skor 4 Observasi Ketat dan melekat setiap
saat.
Tindakan pada [Link]
a. Kaji masalah Klien yang di rasakan keluarga dalam merawat klien
b. Jelaskan proses terjadinya resiko bunuh diri pada klien
c. Diskusikan cara merawat resiko bunuh diri.
d. Melatih keluarga cara merawat resiko bunuh diri.
e. Melibatkan seluruh anggota keluarga menciptakan suasana pasif, saling
memuji, saling mendukung, dan peduli.
f. Menjelaskan tanda dan gejala resiko bunuh diri (tidak dapat megendalikan
dorong bunh diri) yang memerlukan rujukan segera ke pelayanan kesehatan
secara teratur.
Tindakan kelompok : Terapi aktivitas kelompok.
Reference.
Keliat, [Link]. (2019). Asuhan keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Keliat, B.A., Abemar. M Daulima. N., Nuraeni, E. (2015). Keperawatan
Kesehatan Jiwa Komunitas CMHV (Basic Course ). Jakarta: EGC.
Stuart, GW. (2016). Buku Saku Keperawtan Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC.