BAB II TINJAUAN UMUM
Metode pengangkatan buatan atau Artificial lift banyak digunakan pada
sumur-sumur yang berproduksi. Penggunaaan dari pengangkatan buatan
diharapkan sumur minyak yang tidak dapat berproduksi sembur alam, akan dapat
kembali berproduksi secara optimal.
Electrical Submersible Pump ialah salah satu metode yang umum digunakan
sebagai pengangkatan buatan, dan merupakan pompa sentrifugal yang mempunyai
banyak tingkat. Penempatannya diletakkan di dalam fluida dan digerakan oleh
motor. Pompa ESP berbeda dengan pompa lainnya yaitu menggunakan Impeller
dan Diffuser. Impeller berputar mengikuti shaft sesuai dengan Rotation per
Minutes (RPM) motor, sedangkan untuk diffuser mengarahkan fluida ke impeller.
II.1 Karakter Fluida Reservoir
Fluida reservoir merupakan isi dalam suatu pori batuan reservoir yang
terdiri dari air, minyak dan gas. Karakteristik Fluida reservoir diperoleh dari hasil
Analisa laboratorium atau disebut dengan analisa PVT (pressure, volume,
Temperature). Analisa PVT ini dilakukan karena memiliki sifat-sifat yang
berbeda-beda (Osterman,R.D. 1983). Penentuan karakteristik fluida juga dapat
dilakukan dengan korelasi apabila data dari hasil laboratorium tidak ada,
karakteristik fluida yang akan dibahas yaitu Faktor Volume Formasi Minyak ( ,
Faktor Volume Formasi Gas ( ), dan Kelarutan Gas dalam minyak ( ).
II.1.1 Distribusi Aliran Fluida
Distibusi banyak aliran fluida dalam suatu sumur dalam batasan masalah
sudah di terangkan yaitu menggunakan pendekatan tebal lapisan dan
permeabilitas tiap lapisan yang pada akhirnya akan mendapatkan nilai laju alir (Q)
tiap lapisan dengan persamaan:
Kh = Permeabilitas tiap lapisan x Tebal tiap lapisan ...................................... (II.1)
% Kh tiap lapisan = ............................................. (II.2)
Q tiap lapisan = Q gross x % Kh tiap lapisan ................................................. (II.3)
3
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
II.1.2 Gradient Fluida
Gradient fluida yang digunakan dalam perhitungan didapat melalui hasil
perhitungan specific gravity campuran antara air dan minyak yang terdapat pada
tiap lapisan lalu dilanjutkan dengan menghitung gradient fluida dengan
persamaan:
SG composite = SG Water x %WC + SG Oil x (1-%WC) ............................. (II.4)
Gradient Fluida = SG composite x 0.433 ........................................................ (II.5)
II.1.3 Tekanan Reservoir ( )
Untuk data tiap tekanan reservoir ini tidak tersedia sehingga dapat di cari
melalui perhitungan dengan persamaan:
. = (Static fluid level – middle perforation) x gradient fluida ....................... (II.6)
II.1.4 Produktivitas Indeks (PI)
Produktivitas formasi merupakan kemampuan sumur dalam memproduksi
suatu fluida. Produktivitas sumur harus dianalisis dahulu sebelum dilakukannya
perencanaan pengangkatan buatan. Kemampuan produksi ini dinyatakan dengan
Indeks Produktivitas. Analisis Produktivitas Index (PI) ialah index yang
digunakan untuk menyatakan kemampuan suatu formasi untuk berproduksi pada
suatu beda tekanan tertentu (Takacs, 2018). PI dituliskan dalam bentuk persamaan
sebagai berikut:
PI = Q/( - ) ........................................................................................... (II.7)
II.1.5 Inflow Performance Relationship (IPR) Wiggins
Penelitian dilakukan berdasarkan data-data yang didapatkan kemudian
dilakukan proses pendesainan ulang Electric Submersible Pump pada sumur SR
20 yang dimana produksinya dianggap masih belum sesuai yang diharapkan.
Dalam pengoptimalan tersebut menggunakan metode wiggins untuk mengetahui
produksi sumur dengan menentukan kurva IPR (Inflow Performance Relationsip).
Setelah data produksi diketahui maka akan dilakukan pengevaluasian pada pompa
yang terpasang untuk mengetahui pompa sudah sesuai dengan yang di harapkan
4
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
atau tidak, hal tersebut dapat diketahui dari perhitungan efisiensi volumetrik.
II.2 Electrical Submersible Pump (ESP)
Selama sejarahnya yang panjang, ESP terbukti menjadi sarana yang paling
efisien untuk memproduksikan cairan dari sumur minyak dan air. (Takacs, 2009)
Electrical submersible pump merupakan sebuah pompa sentrifugal
bertingkat yang beroperasi pada posisi vertical yang digunakan dalam produksi
minyak bumi dengan menggunakan penggererak motor listrik. Pompa pada
rangkaian ESP dibuat dengan stage bertingkat, dimana setiap tingkat memiliki
impeller yaitu bagian berputar yang fungsinya memberikan kecepatan terhadap
cairan yang dipompakan dan diffuser yaitu bagian yang tidak berputar dan
berfungsi untuk mengarahkan fluida ke stage berikutnya. (Takacs, 2017)
ESP memiliki suatu rangkaian unit pompa yang terdiri dari motor listrik,
intake, pompa sentrifugal multi-stage, kabel listrik, switchboard, junction box, dan
transformer. Adapun komponen tambahan dalam rangkaian ESP seperti
pengaman kabel dari suhu yang tinggi yannng ditempelkan pada tubing serta
peralatan bantuan dikepala sumur.
Syarat suatu sumur agar dapat menggunakan ESP:
1. Tekanan formasi mulai mengecil dan tidak ekonomis.
2. Laju produksi antara 200-60.000 STB/day
3. Sumur tidak mempunyai problem kepasiran.
Pada pompa artificial lift masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan menggunakan pompa ESP sebagai berikut:
1. Dapat beroperasi pada saat kecepatan tinggi.
2. Dapat bekerja pada sumur yang dalam yaitu 15.000 ft.
3. Mampu memompa fluida dengan jumlah besar.
4. Dapat digunakan pada sumur-sumur miring karena tidak ada bagian-bagian
yang bergerak, baik dipermukaan maupun di dalam sumur.
Kelemahan menggunakan pompa ESP yaitu:
1. Mudah terjadi emulsi akibat dari putaran impeller yang cepat.
2. Tidak dapat digunakan pada sumur yang memiliki problem kepasiran.
3. Biaya pemasangan pertama relatif lebih mahal disbanding dengan system
artificial lift yang lain.
5
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
4. Scale
II.2.1 Prinsip Kerja Electric Submersible Pump
Penggerak utama pada pompa ESP ini yaitu dengan bantuan penghubung
berupa shaft, pada motor elektirk terdapat stator yang menggerakkan rotor, lalu
rotor yang terhubung dengan shaft akan menggerakkan impeller dan diffuser. ESP
ialah pompa sentrifugal bertingkat banyak dan fluida reservoir akan melewati
banyak tingkatan (stages) sehingga dapat mencapai ke permukaan, dimana setiap
tingkat terdiri dari impeller dan diffuser. Impeller merupakan alat yang berputar
yang berfungsi memompakan fluida untuk diteruskan ke diffuser, dan diffuser
akan meneruskan fluida ke stage berikutnya. Semakin banyak stage dipasang,
maka akan semakin besar kemampuan pompa mengangkat fluida.
II.2.2 Rangkaian Peralatan ESP
Rangkaian peralatan Electrical submersible pump dalam system operasi
pengangkatan fluida reservoir dibagi menjadi 2 bagian, yakni sebagai berikut:
1. Surface equipment atau peralatan di permukaan yaitu peralatan yang mengatur
kerja pompa.
2. Subsurface equipment atau peralatan di bawah permukaan yaitu peralatan
yang mengangkkut fluida reservoir ke permukaan.
Berikut ini adalah contoh dari rangkaian ESP diatas permukaan (transformer,
switchboard, junction box, well head, electric cable) dan di bawah permukaan
(electric motor, intake, protector, check valve, bleeder valve) :
6
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Gambar II.1 Rangkaian ESP (Takacs, 2017)
II.2.3 Peralatan Di Atas Permukaan
Beberapa peralatan ESP yang terdapat di atas permukaan yaitu
Transformers, Variable Speed Drive (VSD), Switchboard, dan junction box.
Alat-alat tersebut dapat berfungsi untuk mengatur serta sumber listrik untuk
membantu menggerakkan motor di bawah permukaan. Berikut penjelasan untuk
alat-alat ESP yang terdapat di atas permukaan:
a) Transformer
Transformer adalah alat untuk menaikan dan menurunkan tenaga listrik.
Alat ini terdiri dari core yang dikelilingi oleh coil dari lilitan kawat tembaga.
Keduanya baik core (inti) maupun coil direndam dengan minyak trafo sebagai
pendingin dan isolasi. Perubahan tegangan akan sebanding dengan jumlah lilitan
kaawatnya.
7
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Gambar II.2 Transformers ([Link])
b) Switchboard
Switchboard merupakan panel kerja yang terdapat di permukaan saat pompa
bekerja. Alat ini dilengkapi motor controller, overload, dan underload protection,
serta sebagai alat pencatat yang dapat bekerja secara manual dan otomatis bila
terjadinya penyimpangan. Fungsi utama dari switchboard ini ialah sebagai alat
pengontrol jika terjadinya downhole problem seperti overload atau underload
current, fungsi lainnya juga sebagai auto restart underload dan juga dapat
mendeteksi unbalance voltage. Di dalam switchboard juga dilengkapi dengan
ampermeter chart yang dapat berfungsi mencatat arus motor versus waktu. (Tan
Nguyen, 2020)
c) Junction Box
Junction box ialah alat yang bertempatan di antara switchboard dan
Wellhead. Junction Box juga berfungsi untuk menghubungkan kabel pada
8
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
switchboard dengan kabel yang berasal dari bawah sumur. Junction Box juga bisa
digunakan untuk melepaskan gas yang mungkin ikut masuk ke dalam kabel agar
tidak terjadi kebakaran. (Tan Nguyen, 2020)
d) Wellhead
Wellhead (kepala sumur) merupakan alat yang digunakan untuk menahan
beban dari rangkaian tubing dan unit pompa di dalam sumur dari permukaan.
Pada wellhead yang menggunakan ESP, desain tubing hanger harus menyediakan
saluran untuk melewatkan kabel dan harus dilengkapi seal agar tidak adanya
kebocoran pada lubang untuk kabel dan tubing. (Hughes, n.d.).
Pada wellhead tertentu, kabel power dipotong di wellhead dan ujungnya
dilengkapi dengan sebuah power connector. Kabel power surface yang berasal
dari switchboard juga mempunyai sebuah konektor dan dua-duanya ditempatkan
di wellhead. Tipe wellhead ini memperbolehkan angka tekanan wellhead yang
lebih tinggi dariapda model-model sebelumnya, dan juga lebih mudah digunakan.
Gambar II.4 Wellhead (Takacs, 2009)
e) Electric Cable
Tenaga listrik dialirkan dari junction box melalui wellhead sampai ke motor
ESP melalui sebuah kabel listrik yang khusus dan terdiri dari tiga fasa
konduktor.(Tan Nguyen, 2020)
Kabel tersebut harus memenuhi kebutuhan sebagai berikut:
9
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Diameter yang kecil sehingga bisa muat di lubang annulus di sepanjang tubing
Kabel harus bisa menjaga properti dielektriknya di bawah kondisi sumur yang
kurang baik, seperti temperatur tinggi, pergerakan agresif fluida, dan
kemungkinan adanya gas.
Harus bisa terlindungi dari kerusakan mekanis yang terjadi selama naik dan
turunnya rangkaian peralatan di dalam sumur pada operasi yang normal.
II.2.4 Peralatan Di Bawah Permukaan
Selanjutnya adalah pada rangkain di bawah permukaan, perlatan di bawah
permukaan dari paling bawah hingga paling atas meliputi Electric Motor,
Protector, Gas Sparator, Electric kabel, Check Valve, dan Bleeder Valve. Alat-alat
tersebut membantu fluida di bawah permukaan sampai menuju ke permukaan.
Berikut adalah penjelasan dari alat-alat ESP yang terdapat di bawah permukaan.
a) Electric Motor
Motor listrik digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi gerak
yang dapat mengubah shaft. Tenaga listrik yang terdapat pada motor diberikan
dari permukaan mulai kabel listrik, sebagai penghantar ke motor. (Tan Nguyen,
2020) Secara garis besar motor ESP seperti juga motor listrik yang lain
mempunyai dua bagian pokok, yaitu;
Rotor yaitu Bagian yang berputar
Stator yaitu Bagian yang diam
Stator berubah menjadi tenaga putar bagi Rotor, saat Rotor berputar maka
poros (shaft) yang berada ditengah akan ikut berputar, sehingga shaft yang saling
berhubungan akan ikut berputar (Takacs, 2009).
10
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Gambar II.4 Motor (Takacs, 2009)
b) Intake / Gas Separator
Pump Intake dipasang di bawah pompa dengan menyambungkan sumbunya
(shaft) memakai coupling. Pump intake dirancang untuk mengurangi volume gas
yang masuk ke dalam pompa yang disebut gas separator. Gas separator dapat
digunakan untuk sumur yang memiliki kandungan gas yang tinggi, jika memiliki
sedikit gas maka digunakan intake. Adapun fungsi lain dari gas separator yaitu
sebagai masuknya fluida ke dalam pompa dan memisahkan bagian dari gas bebas
sebelum masuk ke first stage pompa (Takacs, 2009).
11
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Gambar II.5 Gas Separator (Takacs, 2009)
c) Protector
Protector dapat disebut sebagai Seal Section. Protector berfungsi sebagai
penahan masuknya fluida dari sumur ke dalam motor listrik, juga sebagai
penyeimbang tekanan yang ada di dalam motor dengan tekanan yang ada di dalam
annulus (Takacs, 2009). Secara prinsip protector mempunyai 4 fungi utama yaitu:
Menyambungkan motor dengan intâge atau gas separator.
Menyekat masuknya fluida sumur ke dalam motor.
Memberi rang untuk pengembangan dan penyusutan minyak motor dari
perubahan suhu dalam motor pada sat bekerja dan pada sat dimatikan.
12
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Gambar II.6 Stages Pompa (Takacs, 2017)
d) Check Valve
Check Valve biasanya dipasang pada tubing di atas pompa, yang bertujuan
untuk menjaga fluida agar tetap berada di atas pompa. Jika Check Valve tidak
dipasang maka dapat terjadi kebocoran fluida dari tubing melalui pompa yang
dapat mengakibatkan aliran balik fluida yang naik keatas, serta dapat terjadi aliran
balik (back flow) yang menyebabkan impeller berbalik arah, yang dapat
menyebabkan motor terbakar atau rusak, Check Valve digunakan agar tubing tetap
terisi penuh dengan fluida sewaktu pompa mati dan mencegah supaya fluida tidak
turn ke bawah (Takacs, 2009).
e) Bleeder Valve
Bleeder Valve dipasang satu joint diatas Check Valve. Dimana alat ini
memiliki fungsi untuk mencegah minyak yang keluar pada saat tubing akan
dicabut, dan fluida akan keluar melalui bleeder valve. (Takacs, 2009)
II.2.5 Karakteristik Kinerja ESP
Beberapa kinerja dari berbagai pompa dihadirkan dalam bentuk katalog
yang diterbitkan oleh produsen. Kurva kinerja ESP menampilkan hubungan antara
head capacity, rate capacity, horse power dan pump effisiensi yang disebut
dengan Pump Performance Curve.(Takacs, 2018)
Pump curve merupakan gambaran kurva yang digunakan untuk mengetahui
range kemampuan pompa dalam memproduksikan fluida dengan laju alir. Sebagai
13
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
factor Variabel yang dinilai pada pump curve adalah efisiensi pompa, kapasitas
head, dan power yang dibutuhkan; berdasarkan laju alir.
II.3 Evaluasi Desain ESP
Pada perhituangan evaluasi pompa ESP dibutuhkan tahapan-tahapan pada
sumur produksi, yang mana ESP ini berfungsi untuk mengalirkan fluida dari
bawah ke permukaan sampai ke permukaan (Baker Hughes,n.d.) tahapannya
meliputi:
II.3.1 Laju Alir Fluida Sumur
Menghitung pump intake pressure (PIP) bertujuan untuk mengetahui
kandungan gas bebas dan perhitungan laju alir fluida yang dipengaruhi oleh
kedalaman pompa yang diatur dan tekanan air dasar sumur.
(
PIP = Pwf – ( ) ................................................................ (II.8)
II.3.2 Penentuan Gradien Fluida Campuran dan Spesific Gravity
( ) ....................................... (II.9)
( ) ........................................ (II.10)
( ) ( ( )) .............. (II.11)
.......................................... (II.12)
II.3.3 Perhitungan Total Dynamic Head (TDH)
Total Dynamic Head atau disebut juga dengan TDH merupakan ekivalen
ketinggian dari fluida yang ingin dipompakan. Ada 3 faktor yang akan
mempengaruhi TDH, yakni vertical distance ( ), friction loss pada tubing, dan
juga tekanan yang dikonversi menjadi jarak minimum agar fluida dapat mengalir
melewati kepala sumur ( ).
14
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Menghitung Fluid Over Pump (FOP)
( ) .............................................................................. (II.13)
Menghitung Vertical Lift (HD)
( ( ....................... (II.14)
Menghitung Friction Loss di tubing dengan perhitungan Hazen – Williams
( )
( ) ( ) .................................................... (II.15)
Menghitung Tubing Head Pressure
Pressure pada tubing head harus mampu mengalirkan fluida hingga ke
separator. Tekanan pada tubing head dengan satuan psia akan dikonversikan
menjadi panjang dalam satuan ft dengan menggunakan sebagai berikut:
( ) ............................................................ (II.16)
Dengan cara sebelumnya, dapat diketahui total dynamic head
............................................ (II.17)
II.3.4 Penentuan Efisiensi Volumetrik
Hasil produksi dan tenaga ESP sangat berpengaruh pada penentuan jenis
pompa yang digunakan. Dalam penentuan pompa dipilih pompa yang paling
optimum sehingga saat pompa digunakan dapat bertahan lama dan dapat
berproduksi dengan hasil yang optimum (Sugiharto, 2012). Dalam menentukan
head per stage pompa dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Head per stage (Feet/stage) = ( ) ....................................................... (II.18)
Hasil dari perhitungan di atas digunakan untuk membaca pump performance
curve untuk mendapatkan nilai laju alir teoritis. Laju alir teoritis dibaca
menggunakan head per stage yang didapat dari perhitungan diatas lalu tarik garis
hingga menyentuh Head Line, lalu tarik garik kebawah dan konversikan hasil ke
barrel.
% Efisiensi Volumetrik = ( ) x 100% ............................................ (II.19)
15
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
Perhitungan efisiensi head pompa terpasang juga menggunakan pump
performance curve. Langkah awal yaitu capacity yang diketahui menggunakan Q
existing atau Q actual, lalu ditarik garis ke atas sampai menyentuh Head Line dan
baca kurva. Langkah selanjutnya yaitu head per stage yang baru dikali dengan
jumlah stages yang terpasang saat ini. Langkah terakhir yaitu dapat dilihat
persamaan berikut :
Menghitung Efisiensi Head
..................................... (II.20)
Berikut gambar Pump Performance Curve pada tipe D1150N, 50 Hz :
Gambar II.7 Pump Performance Curve D11500N, 60 Hz (Schlumberger, 2017)
II.4 Perhituangan Perubahan Stages Tanpa Mengganti Pompa
Dilakukan perubahan jumlah stages menyesuaikan dengan laju alir produksi
yang paling optimum dan volume total @pump intake dilakukan untuk
meningkatkan efisiensi pompa ESP terpasang. Untuk mengubah jumlah stage,
data-data yang diperlukan yaitu:
a. Water Cut (%)
b. Spesific Gravity Water
16
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
c. Spesific Gravity Oil
d. Spesific Gravity Gas
e. Mid Perforation Tvd (ft)
f. Pump setting Depth/PSD(ft)
g. GOR (sfc/bbl)
h. Tekanan Alir Dasar Sumur Target (psi)
i. Tekanan Bubble Point (psi)
j. Temperature Reservoir (
k. Tekanan Tubing/Pwh (psi)
l. API
m. Laju Alir Fluida Target (BFPD)
Setelah data untuk perubahan jumlah stage, berikut ini langkah-langkah
untuk menentukan adanya penambahan atau pengurangan jumlah stage yang tepat
agar mendapatkan hasil yang optimum. Untuk mendapatkan harga gas bebas di
intake pompa terdapat beberapa langkah yaitu :
a. Menghitung kelarutan gas
( (
......................................................... (II.21)
b. Menghitung Faktor Volume Formasi Gas
..................................................................................... (II.22)
c. Menghitung Faktor Volume Formasi Minyak
( ....................... (II.23)
d. Menghitung % Free Gas
( (
( ) ( ) ` ........... (II.24)
(
( ( (
( ............................................................... (II.25)
............................................... (II.26)
e. Menghitung Composite SG
17
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
(
( ....................................................... (II.27)
....................................................... (II.28)
Menghitung Total Dynamic Head
Perhitungan ini akan dikonversikan ke satuan ft. Dengan langkah
perhitungan yang dilakukan yaitu:
Menghitung Fluid Over Pump (FOP)
.................................................................................. (II.29)
Menghitung Vertical Lift (HD)
( ( ...................... (II.30)
Menghitung FT
.......................................................... (II.31)
Menghitung PD
.................................................................................. (II.32)
Menghitung TDH
....................................................................................... (II.33)
Asumsikan Laju Alir menggunakan Q desire (buat dalam persentase) dalam
satuan m3/d dan diselaraskan dengan nilai Volume Total @Pump Intake pada
Pump Performance Curve lalu tarik garis ke atas hingga menyentuh Head Line
kemudian tarik garis ke kiri untuk melihat head per stage.
Menghitung Konversi Head/Stage dari meter ke ft
............................................................... (II.34)
Membuat perbandingan perhitungan jumlah stage pada kondisi pesimis dan
optimis. Pada kondisi pesimis, perhitungan untuk menentukan jumlah stage
melibatkan nilai efisiensi head pada saat dilakukannya evaluasi. Sedangkan saat
kondisi optimis, perhitungan untuk menentukan jumlah stage menggunakan
efisiensi pompa pada pump performance curve saat optimasi dibanding saat
18
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan
evaluasi.
Kondisi Pesimis:
a. ........................................................................ (II.35)
b. Menghitung Total Stage
........................................................................... (II.36)
c. Menyesuaikan total stage pada katalog yang ada pada Reda ESP Catalog
Kondisi Optimis:
a. Mengetahui nilai efisiensi pompa pada pump performance curve pada saat
evaluasi dan optimasi.
........................................................ (II.37)
b. Menghitung Total Stage
.............................................................. (II.38)
c. Menyesuaikan total stage pada katalog yang ada pada Reda ESP Catalog
19
Evaluasi pengubahan stage pd pompa electrical submersible pump(ESP) sumur SR 20 di lapangan RMY
Shalsa Ramaysa Hermawan