0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Perubahan Fisiologis Ibu Hamil Trimester III

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Perubahan Fisiologis Ibu Hamil Trimester III

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)
dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Kehamilan dibagi
menjadi tiga trimester, yaitu trimester pertama dimulai sampai 3 bulan (12
minggu), trimester kedua dari bulan ke-4 sampai ke-6 (minggu ke-13
hingga minggu ke-17), dan trimester ketiga dari bulan ke-7 sampai ke-
9 yaitu minggu ke-28 hingga ke-40 (Setiawati, 2019).
2. Perubahan Adaptasi Fisiologis Pada Ibu Hamil Trimester III
a. Uterus
Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1.000
gram (berat uterus normal 30 gram) dengan panjang 20 cm dan
dinding 2,5 cm. Pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus
seperti buah alpukat agak gepeng. Pada kehamilan 16 minggu, uterus
berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti
bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus
dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui antara lain untuk
membentuk diagnosis, apakah wanita tersebut hamil fisiologis, hamil
ganda atau menderita penyakit seperti mola hidatidosa dan sebagainya.
Pada kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 3 jari diatas
pusat atau 1/3 jarak antara pusat ke processus xiphoideus. Pada
kehamilan 32 minggu, fundus uteri terletak antara ½ jarak pusat dan
processus xiphoideus.
Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 1 jari
dibawah processus xiphoideus. Pada kehamilan 40 minggu, fundus
uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah processus
xiphoideus. Hal ini disebabkan oleh kepala janin yang pada
primigravida turun dan masuk kedalam rongga panggul. Bila

1 1
pertumbuhan janin normal, maka tinggi fundus uteri pada kehamilan
28 minggu adalah 25 cm, pada 32 minggu adalah 27 cm dan pada 36
minggu adalah 30 cm. Pada trimester III istimus uteri lebih nyata
menjadi corpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah
uterus atau segmen bawah rahim (Syaiful & Fatmawati, 2019).
b. Seviks Uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena
hormon estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan
adanya hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak.
Serviks uteri lebih banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas
kolagen dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, sehingga
serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinghter, maka pada saat
persalinan serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan corpus
uteri keatas dan tekanan bagian bawah janin kebawah. Sesudah
persalinan, serviks akan tampak berlipat-lipat dan tidak menutup
seperti spinghter. Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih
dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Selain itu, prostaglandin
bekerja pada serabut kolagen, terutama pada minggu-minggu akhir
kehamilan (Syaiful & Fatmawati, 2019).
c. Vagina dan Vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan.
Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak
lebih merah dan agak kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak
livide. Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan
membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenisasi dan nutrisi
pada alat-alat genetalia tersebut meningkat. Apabila terjadi kecelakaan
pada kehamilan atau persalinan maka perdarahan akan banyak sekali,
sampai dapat mengakibatkan kematian. Pada bulan terakhir kehamilan,
cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental (Syaiful & Fatmawati,
2019).

2
d. Payudara
Terjadinya pembentukan lobules dan alveoli memproduksi dan
mensekresi cairan yang kental kekuningan yang disebut colustrum.
Pada trimester III aliran darah di didalamnya lambat dan payudara
menjadi semakin besar (Syaiful & Fatmawati, 2019).
e. Kulit
Pada bulan-bulan akhir kehamilan umumnya dapat muncul garis-garis
kemerahan, kusam pada kulit dinding abdomen dan kadang kadang
juga muncul pada daerah payudara dan paha. Perubahan warna
tersebut sering disebut sebagai striae gravidarum. Pada wanita
multipara, selain striae kemerahan itu sering kali ditemukan garis-garis
mengkilat kepekaan yang merupakan sikatrik dari striae kehamilan
selanjutnya (Syaiful & Fatmawati, 2019).
e. Perubahan Sistem Respirasi
Pergerakan diafragma semakin terbatas seiring pertambahan ukuran
uterus dalam rongga abdomen. Setelah minggu ke 30, peningkatan
volume tidal, volume ventilasi per menit, dan pengambilan oksigen per
menit akan mencapai puncaknya pada minggu ke 37. Wanita hamil
akan bernafas lebih dalam sehingga memungkinkan pencampuran
gas meningkat dan konsumsi oksigen meningkat 20%.
Diperkirakan efek ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi
progesterone (Syaiful & Fatmawati, 2019)
f. Perubahan Sistem Hematologis
Konsentrasi hematokrit dan hemoglobin yang sedikit menurun selama
kehamilan menyebabkan viskositas darah menurun pula. Perlu
diperhatikan kadar hemoglobin ibu terutama pada masa akhir
kehamilan, bila konsentrasi Hb < 11, 0 g/ dl, hal itu dianggap
abnormal dan biasanya disebabkan oleh defidiensi besi (Tyastuti &
Wahyuningsih 2016).
g. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Selama trimester terakhir, kelanjutan penekanan aorta pada pembesaran
uterus juga akan mengurangi aliran darah uteroplasenta ke ginjal. Pada

3
posisi terlentang ini akan membuat fungsi ginjal menurun jika
dibandingkan dengan posisi miring (Tyastuti & Wahyuningsih 2016).
h. Perubahan Sistem Urinari
Pada akhir kehamilan, kepala janin mulai turun ke pintu atas
panggul (PAP) menyebabkan penekanan uterus pada vesica urinaria.
Keluhan sering berkemih pun dapat muncul kembali. Selain itu, terjadi
peningkatan sirkulasi darah di ginjal yang kemudian berpengaruh pada
peningkatan laju filtrasi glomelurus dan renalplasma flow sehingga
timbul gejala poliuria. Pada ekskresi akan dijumpai kadar asam
amino dan vitamin yang larut air lebih banyak (Tyastuti &
Wahyuningsih 2016).
i. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Akibat pembesaran uterus ke posisi anterior, umumnya wanita
hamil memiliki bentuk punggung cenderung lordosis. Sendi
sacroiliaca, sacro-coccigis, dan pubis akan meningkat mobilitasnya
diperkirakan karena pengaruh hormonal. Mobilitas tersebut dapat
mengakibatkan perubahan sikap pada wanita hamil dan
menimbulkan perasaan tidak nyaman pada bagian bawah punggung
(Tyastuti & Wahyuningsih 2016).
j. Perubahan Sistem Gastrointestinal
Rahim yang semakin membesar akan menekan rectum dan usus bagian
bawah sehingga terjadi sembelit (konstipasi). Sembelit semakin berat
karena gerakan otot di dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar
progesterone. Turunnya osmolaritas plasma dan naiknya kadar
prolaktin juga meningkatkan perasaan haus pada wanita hamil.
Adanya tekanan intragrastik yang tidak disertai dengan tonus dari
sfingter kardia lambung menyebabkan reflek asam di mulut dan sakit
epigastrik (Tyastuti & Wahyuningsih 2016).
k. Perubahan Kenaikan Berat Badan
Pertambahan berat badan ibu pada masa ini dapat mencapai 2 kali
lipat bahkan lebih dari berat badan pada awal kehamilan. Pitting
edema dapat timbul pada pergelangan kaki dan tungkai bawah akibat

4
akumulasi cairan tubuh ibu. Akumulasi cairan ini juga disebabkan oleh
peningkatan tekanan vena dibagian yang lebih rendah dari uterus
akibat oklusi pasrial vena kava. Penurunan tekanan osmotic koloid
intertisial juga cenderung menimbulkan edema pada akhir kehamilan
(Tyastuti & Wahyuningsih 2016).
l. Perubahan Psikologi Pada Ibu Hamil Trimester III
Periode ini sering disebut periode menunggu dan waspada sebab pada
saat itu ibu tidak sabar menunggu kelahiran bayinya, menunggu tanda-
tanda persalinan. Pada trimester III biasanya ibu merasa khawatir,
takut akan kehidupan dirinya, bayinya, kelainan pada bayinya,
persalinan, nyeri persalinan dan ibu tidak akan pernah tahu kapan ia
akan melahirkan (Walyani, 2015).
3. Kebutuhan Fisik Ibu Hamil Trimester III
Kebutuhan fisik pada ibu hamil menurut Walyani (2015) adalah
sebagai berikut :
a. Oksigen
Kebutuhan oksigen adalah kebutuhan yang utama pada manusia
termasuk ibu hamil. Berbagai gangguan pernapasan bisa terjadi
saat hamil sehingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen
pada ibu yang akan mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen pada
ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang dikandung.
b. Nutrisi
Pada saat hamil ibu makan makanan yang mengandung nilai
gizi bermutu tinggi meskipun tidak makanan yang mahal. Gizi pada
waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori per hari, ibu hamil
harusnya mengonsumsi yang mengandung protein, zat besi, dan
minum cukup cairan (menu seimbang).
c. Personal Hygiene
Personal hygiene pada ibu hamil adalah kebersihan yang
dilakukan oleh ibu hamil untuk mengurangi kemungkinan infeksi.
Personal hygiene berkaitan dengan perubahan sisitem pada tubuh ibu
hamil, hal ini disebabkan selama kehamilan PH vagina menjadi asam

5
dari 3-4 menjadi 5-6, akibatnya vagina muda terkena infeksi. Stimulus
estrogen menyebabkan adanya keputihan. Peningkatan vaskularisasi
di perifer mengkibatkan wanita hamil sering berkeringat. Uterus
yang membesar menekan kandung kemih, mengakibatkan
keinginan wanita hamil untuk sering berkemih. Mandi teratur
mencegah iritasi vagina, teknik pencucian perianal dari depan
kebelakang.
d. Pakaian
Pada dasarnya pakaian apa saja bisa dipakai, baju
hendaknya yang longgar dan mudah dipakai serta bahan yang
mudah menyerap keringat. Payudara perlu ditopang dengan BH yang
memadai untuk mengurangi rasa tidak enak karena pembesaran.
Hindari memakai stoking yang terlalu ketat dan sepatu hak tinggi.
e. Eliminasi
Sering buang air kecil merupakan keluhan yang umum dirasakan
oleh ibu hamil, terutama pada trimester I dan III. Hal tersebut adalah
kondisi yang fisiologis. Ini terjadi pada awal kehamilan terjadi
pembesaran uterus yang mendesak kantung kemih sehingga
kapasitasnya berkurang. Sedangkan trimester III terjadi pembesaran
janin yang juga menyebabkan desakan pada kandung kemih.
Dianjurkan minum 8-12 gelas setiap hari karena tindakan mengurangi
asupan cairan.
f. Seksual
Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama tidak
ada riwayat penyakit seperti sering abortus dan kelahiran premature,
perdarahan pervaginam, hubungan seksual harus dilakukan dengan
hati-hati terutama pada minggu terakhir kehamilan, bila ketuban
sudah pecah, berhubungan seksual dilarang karena dapat
menyebabkan infeksi janin. Bila dalam anamnesis ada abortus
sebelum kehamilan yang sekarang sebaiknya berhubungan
seksual ditunda sampai kehamilan berumur 16 minggu. Karena

6
pada waktu ini plasenta sudah terbentuk, serta kemungkinan abortus
menjadi lebih kecil.
g. Istirahat/Tidur
Pada ibu hamil sebaiknya banyak menggunakan waktu luangnya
untuk banyak istirahat atau tidur, walau bukan benar- benar tidur
hanya baringkan badan untuk istirahat. Istirahat yang diperlukan ialah
8 jam pada malam hari dan 1 jam siang hari untuk memperbaiki
sirkulasi darah, mandi air hangat sebelum tidur, tidur dalam posisi
miring kekiri, letakkan beberapa bantal untuk menyangga (Walyani,
2015).
4. Tanda Bahaya Kehamilan Trimester III
a. Perdarahan Pervaginam
Perdarahan pervaginam dapat disebabkan oleh kondisi yang ringan,
seperti koitus, polip serviks, servisitis, atau kondisi- kondisi serius
yang bahkan mengancam kehamilan, seperti plasenta previa dan
solutio plasenta (Sari et al, 2015).
b. Plasenta Previa
Plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi
sebagian/seluruh ostium uteri internum. Implantasi plasenta yang
normal adalah pada dinding depan, dinding belakang rahim atau di
daerah fundus uteri. Gejala-gejala seperti: perdarahan tanpa sebab
tanpa rasa nyeri berwarna merah darah (Maryunani, 2013).
c. Solusio Plasenta
Adalah lepasnya plasenta sebelum waktunya. Secara normal plasenta
terlepas setelah anak lahir. Tanda dan gejalanya seperti, perdarahan
disertai nyeri abdomen pada saat dipegang, palpasi sulit dilakukan,
TFU makin lama makin naik, dan bunyi jantung biasanya tidak ada.
Kadang- kadang darah tidak keluar, terkumpul di belakang plasenta
(perdarahan tersembunyi) menimbulkan tanda yang lebih khas (rahim
keras seperti papan) karena perdarahan tertahan di dalam (Maryunani,
2013).

7
d. Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala menunjukkan suatu masalah yang serius adalah sakit
kepala yang hebat, sakit kepala yang menetap dan tidak hilang dengan
istirahat (Walyani, 2015).
e. Penglihatan kabur
Karena pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu dapat
berubah dalam kehamilan. Tanda dan gejalanya adalah :
1) Masalah visual yang diidentifikasikan keadaan yang
mengancam adalah perubahan visual yang mendadak.
2) Perubahan visual ini mungkin disertai sakit kepala yang hebat
dan mungkin menandakan preeklamsia (Walyani, 2015).
f. Bengkak di wajah dan jari-jari tangan
Bengkak biasanya menunjukkan adanya masalah serius jika muncul
pada muka dan tangan. Hal ini dapat disebabkan adanya pertanda
anemia, dan preeklampsia (Walyani, 2015).
g. Keluar cairan pervagianm
Tanda dan gejala : keluarnya cairan berbau amis, dan berwarna
putih keruh, berarti yang keluar adalah air ketuban.
h. Penyebab terbesar persalinan prematur adalah ketuban pecah
sebelum waktunya (Walyani, 2015).
i. Gerakan janin tidak terasa
Normalnya pada primigravida, gerakan janin mulai dirasakan
pada kehamilan 18-20 minggu dan pada multigravida, gerakan janin
mulai dirasakan pada kehamilan 16-18 minggu. Gerakan janin harus
bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam (10 gerakan
dalam 12 jam), artinya jika bayi bergerak kurang dari 10 kali dalam
12 jam ini menunjukkan adaya suatu hal yang patologis pada janin
tersebut. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu
berbaring/beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik
(Walyani, 2015).

8
j. Nyeri perut yang hebat
Nyeri perut yang mungkin menunjukkan masalah yang mengancam
keselamatan jiwa, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat.
Penyebabnya bisa berarti kehamilan ektopik (kehamilan di luar
kandungan), aborsi (keguguran), persalinan preterm, dan solutio
plasenta (Walyani, 2015).
Keadaan ini dapat terjadi pada kehamilan muda yaitu usia kehamilan
kurang 22 minggu ataupun pada kehamilan lanjut yaitu pada usia
kehamilan lebih 22 minggu (Sari et al, 2015).
k. Ketidaknyamanan Dalam Kehamilan
Ketidaknyaman kehamilan pada trimester III Irianti et al (2014) :
1) Sering berkemih
Sering berkemih dikeluhkan sebanyak 60% oleh ibu selama
kehamilan akibat dari meningkatnya laju Filtrasi Glomerolus,
59% terjadi pada trimester pertama, 61% trimester dua, dan
trimester tiga 81%. Keluhan sering berkemih karena tertekannya
kandung kemih oleh uterus yang semakin membesar dan
menyebabkan kapasitas kandung kemih berkurang serta
frekuensi berkemih meningkat.
2) Sesak Nafas
Sesak nafas merupakan salah satu keluhan yang sering
dialami oleh ibu (70%) pada kehamilan Trimester III yang
dimulai pada 28-31 minggu. Dengan semakin bertambahnya
usia kehamilan, pembesaran uterus akan semakin mempengaruhi
keadaan diafragma ibu hamil, dimana diagrama terdorong ke
atas sekitar 4 cm disertai pergeseran ketulang atas tulang iga.
3) Bengkak atau Oedema
Bengkak atau oedema adalah penumpukan atau retensi
cairan pada daerah luar sel akibat dari berpindahnya cairan
intrasesluler ke ekstraseluler. Oedema pada kaki biasa

9
dikeluhkan pada usia kehamilan diatas 34 minggu. Hal ini
dikarenakan tekanan uterus yang semakin meningkat dan
mempengaruhi sirkulasi cairan. Dengan bertambahnya tekanan
uterus dan tarikan gravitasi menyebabkan retensi cairan semakin
besar.
4) Nyeri Punggung
Seiring bertambahnya usia kehamilan dan perkembangan
janin yang menyebabkan muatan didalam uterus bertambah,
menjadikan uterus membesar. Pembesaran uterus ini akan
memaksa ligament, otot-otot, serabut saraf dan punggung
teregangkan, sehingga beban tarikan tulang punggung ke arah
depan akan bertambah dan menyebabkan lordosis fisiologis. Hal
ini yang menyebabkan nyeri punggung pada ibu hamil.
5) Kram Pada Kaki
Kram pada kaki saat kehamilan sering dikeluhkan oleh 50% wanita
pada usia kehamilan lebih dari 24 minggu sampai dengan 36
minggu kehamilan. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena adanya
gangguan aliran atau sirkulasi darah pada pembuluh darah
panggul yang disebabkan oleh tertekannya pembuluh tersebut oleh
uterus yang semakin membesar pada kehamilan lanjut. Kram juga
dapat disebabkan oleh meningkatnya kadar fosfat dan penurunan
kadar kalsium terionisasi dalam serum.
6) Keputihan
Keputihan pada masa kehamilan merupakan bagian dari
perubahan fisiologi yang terjadi. Akan tetapi, perlu diwaspadai
munculnya keabnormalan bila keputihan menimbulkan sensasi
gatal dan adanya rasa panas, berbau, berwarna serta disertai
adanya perubahan pada struktur alat genital.
7) Gangguan Tidur dan Mudah Lelah
Pada trimester III, hampir semua wanita mengalami
gangguan tidur. Cepat lelah pada kehamilan disebabkan oleh
nokturia (sering berkemih dimalam hari), terbangun di malam

10
hari dan mengganggu tidur yang nyenyak karena terbangun
tengah malam untuk berkemih. Wanita hamil yang mengalami
insomnia disebabkan ketidaknyamanan akibat uterus yang
membesar, ketidaknyamanan lain selama kehamilan dan
pergerakan janin, terutama jika janin aktif.
8) Heartbun
Perasaan panas pada perut atau heartburns atau pirosis
didefinisikan sebagai rasa terbakar di saluran pencernaan bagian
atas, termasuk tenggorokan yang disebabkan oleh peningkatan
kadar progesteron atau meningkatnya metabolisme.
9) Kontraksi Braxton Hicks
Pada saat trimester akhir, kontraksi dapat sering terjadi
setiap 10-20 menit dan juga, sedikit banyaknya, mungkin
berirama. Pada akhir kehamilan, kontraksi-kontraksi ini dapat
menyebabkan rasa tidak nyaman dan menjadi penyebab
persalinan palsu (false labour).
10) Hemoroid
Pengaruh hormon progesteron dan tekanan yang disebabkan
oleh uterus menyebabkan vena pada rektum mengalami tekanan
yang lebih dari biasanya. Akibatnya, ketika massa dari rektum
akan dikeluarkan tekanan lebih besar sehingga terjadinya
hemoroid.
11) Varises
Varises adalah pelebaran pada pembuluh darah balik-vena
sehingga katup vena melemah. Kelemahan katup vena pada
kehamilan karena tingginya kadar hormon progesterone dan
estrogen sehingga aliran darah balik menuju jantung melemah dan
vena dipaksa bekerja lebih keras untuk dapat memompa
darah. Karenanya, varises vena banyak terjadi pada tungkai,
vulva atau rectum.
5. Asuhan Antenatal Care atau ANC
a. Pengertian ANC

11
Menurut Walyani (2015) asuhan antenatal care adalah suatu program
yang terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medik
pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan
persiapan persalinan yang aman dan memuaskan.
b. Tujuan ANC
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan
kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan
sosial pada ibu dan bayi.
3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau
komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat
penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan
selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI Ekslusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal
(Walyani, 2015).
c. Tempat Pelayanan ANC
Pelayanan ANC bisa diperoleh dari pelayanan kesehatan tingkat
primer (Polindes, Poskesdes, BPM, BPS, posyandu dan Puskesmas),
pelayanan kesehatan tingkat sekunder (Rumah sakit baik milik
pemerintah maupun swasta) dan pelayanan kesehatan tingkat tersier
seperti Rumah sakit tipe A dan B baik milik pemerintah maupun
swasta (Walyani, 2015).
d. Indikator Antenatal Care
Indikator pelayanan antenatal yang menggambarkan jangkauan ibu
hamil ke tenaga kesehatan adalah cakupan kunjungan pertama (K1)
dan kunjungan keempat (K4) yakni :
1) Kunjungan Pertama (K1)

12
Kunjungan pertama merupakan kunjungan ibu hamil pertama
kali dengan usia kehamilan 1-12 minggu ke tenaga kesehatan
untuk melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar pelayanan
kebidanan dengan kunjungan minimal satu kali pada
trimester satu. Pentingnya melakukan K1 yaitu membina
hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dengan ibu
hamil, deteksi dini risiko tinggi dan komplikasi yang mungkin
timbul pada masa kehamilan, melakukan skrining dan
pencegahan seperti tetanus, anemia defisiensi zat besi serta
memberikan pendidikan kesehatan dalam menjalani kehamilan.
2) Kunjungan Keempat (K4)
Kunjungan keempat (K4) adalah ibu hamil yang telah
mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan dari tenaga
kesehatan sesuai standar pelayanan kesehatan bagi ibu hamil
dan distribusi waktu yang telah ditentukan yaitu 1 kali pada
terimester satu, 1 kali pada trimester 2, dan 2 kali pada trimester.
Pentingnya kunjungan keempat (K4) adalah deteksi dini
risiko tinggi pada masa kehamilan terutama trimester ketiga,
penentuan letak janin di dalam rahim, ibu hamil dapat
melakukan perencanaan kehamilan dan persalinannya dengan
baik serta memantapkan keputusan ibu hamil dan keluarganya
untuk melahirkan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan
(Kemenkes RI, 2016)
e. Langkah-Langkah Dalam Perawatan Kehamilan/ANC
a. Menurut Purwoastuti dan Walyani (2015), Kemenkes RI
b. menetapkan standar pelayanan ANC dalam 10 T antara lain :
1) Timbang berat badan dan tinggi badan (T1)
Penimbangan berat badan setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan
pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang kurang dari
9 kilo selama kehamilan atau kurang dari 1 kilo setiap

13
bulannya menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan
janin.
Pengukuran tinggi badan pada pertama kali kunjungan
dilakukan untuk menapis adanya faktor resiko pada ibu hamil.
Tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm meningkatkan
resiko terjadinya CPD (Cephalo Pelvic Disproportion).
2) Tekanan darah (T2)
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan
antenatal diakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi
(tekanan darah ≥ 140/90 mmHg) pada kehamilan dan
preeklampsia (hipertensi disertai oedema pada wajah dan
tungkai bawah, dan proteinuria).
3) Nilai status gizi (ukur LILA) (T3)
Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama
oleh tenaga kesehatan di trimester I untuk skrining ibu hamil
beresiko Kurang Energi Kronis (KEK), disini maksudnya ibu
hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung
lama (beberapa bulan atau tahun) dimana LILA kurang dari
23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK memiliki resiko
melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).
4) Pengukuran tinggi fundus uteri (T4)
Pengukuran tinggi fundus uteri pada setiap kali kunjungan
antenatal untuk mendeteksi pertubuhan janin sesuai atau tidak
dengan umur kehamilan. Jika fundus uteri tidak sesuai dengan
umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan pertumbuhan
janin.
5) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (T 5)
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir
trimester II dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui letak janin.
Jika pada trimester III bagian bawah janin bukan kepala,
atau keapala janin belum masuk ke panggul berarti ada

14
kelainan letak, panggul sempit, atau ada masalah lain.
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya
setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari
120x/menit atau DJJ cepat lebih dari 160x/menit
menunjukkan adanya gawat janin.
6) Pemberian imunisasi TT (T6)
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil
harus mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu
hamil diskrining status imunisasinya. Pemberian imunisasi
TT pada ibu hamil disesuaikan dengan status imunisasi TT
ibu saat ini. Ibu hamil minimal memiliki status
imunisasi T2 agar mendapatkan perlindungan terhadap
infeksi tetanus. Ibu hamil dengan status imunisasi T5 (TT long
life) tidak perlu diberikan imunisasi TT lagi.
7. Pemberian tablet tambah darah (tablet Fe) (T 7)
Untuk mencegah anemia zat besi, setiap ibu hamil hamil
harus mendapat tablet tambah darah ( tablet zat besi) dan asam
folat minimal 90 tablet selama kehamilan yang diberikan sejak
kontak pertama.
8. Tes Laboratorium (T8)
Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil
adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus.
Pemeriksaan laboratorium rutin adalah pemeriksaan
laboratorium yang harus dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu
golongan darah, hemoglobin darah, dan pemeriksaan spesifik
daerah endemis (malaria, HIV, dll). Sementara pemeriksaan
laboratorium khusus adalah pemeriksaan laboratorium lain
yang dilakukan atas indikasi pada ibu hamil yang melakukan
kunjungan antenatal. Pemeriksaan laboratorium dilakukan
pada saat antenatal tersebut yang meliputi
a) Pemeriksaan golongan darah

15
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya
untuk mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga
untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang
sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi
kegawatdaruratan.
b) Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (HB)
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan
minimal sekali pada trimester I dan sekali pada trimester
III. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ibu hamil
tersebut menderita anemia atau tidak selama
kehamilannya, karena kondisi anemia dapat
mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam
kandungan. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu
hamil pada trimester II dilakukan atas indikasi.
c) Pemeriksaan protein dalam urine
Pemeriksaan protein dalam urine pada ibu hamil dilakukan
pada trimester II dan III atas indikasi. Pemeriksaan ini
ditujukan untuk mengetahui adanya protein uria pada ibu
hamil. Protein uria merupakan salah satu indikator
terjadinya preeklampsi pada ibu hamil.
d) Pemeriksaan kadar gula darah
Ibu hamil yang dicurigai menderita diabetes melitus
harus dilakukan pemeriksaan gula darah selama
kehamilannya minimal sekali pada trimester I, sekali pada
trimester II dan sekali pada trimester III.
e) Pemeriksaan darah malaria
Semua ibu hamil didaerah endemis malaria dilakukan
pemeriksaan darah malaria dalam rangka skrining pada
kunjungan pertama antenatal. Ibu hamil di daerah non
endemis malaria dilakukan pemeriksaan darah malaria
apabila ada indikasi.
f) Pemeriksaan tes sifilis

16
Pemeriksaan tes sifilis dilakukan didaerah dengan resiko
tinggi dan ibu hamil yang diduga menderita sifilis.
Pemeriksaan sifilis sebaiknya dilakukan sedini mungkin
pada kehamilan.
g) Pemeriksaan HIV
Tes HIV wajib ditawarkan oleh tenaga kesehatan kesemua
ibu hamil secara inklusif dengan pemeriksaan laboratorium
rutin lainnya didaerah epidemi meluas dan terkonsentrasi
dan didaerah epidemi HIV rendah penawaran tes HIV
oleh tenaga kesehatan diprioritaskan pada ibu hamil
dengan IMS dan TB. Teknik penawaran ini disebut
Provider Initiated Testing And Counselling (PITC) atau tes
HIV atas Inisiatif Pemberi Pelayan Kesehatan (TIPK).
h) Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai
menderita tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi
tuberkulosis tidak mempengaruhi kesehatan janin.
i) Tatalaksana Kasus / Penanganan Kasus (T9)
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan
laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu
hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak
dapat ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
9. Temu Wicara / Konseling (T10)
Temu wicara (konseling) yang meliputi : kesehatan ibu,
perilaku hidup bersih dan sehat, peran suami / keluarga dalam
kehamilan dan perencanaan persalinan, tanda bahaya pada
kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan menghadapi
komplikasi, asupan gizi seimbang, gejala penyakit menular
dan tidak menular, penawaran untuk melakukan tes HIV,
inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI eksklusif, KB pasca
persalinan dan imunisasi.

17
B. Kram Kaki
1. Pengertian
Kram pada kaki saat kehamilan sering dikeluhkan oleh 50%
wanita pada usia kehamilan lebih dari 24 minggu sampai dengan 36
minggu kehamilan. Keadaan ini diperkirakan terjadi karena adanya
gangguan aliran atau sirkulasi darah pada pembuluh darah panggul akibat
tertekannya pembuluh tersebut oleh uterus yang semakin membesar pada
kehamilan lanjut. Kram juga dapat disebabkan oleh meningkatnya kadar
fosfat dan penurunan kadar kalsium terionisasi dalam serum (Irianti et al,
2014).
Kram kaki atau kejang otot pada kaki adalah berkontraksinya otot–
otot betis atau otot–otot telapak kaki secara tiba tiba. Otot sendiri
merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai alat penggerak. Kram
kaki biasanya terjadi selama 1-2 menit, umunya disebakan oleh kelelahan
otot karena aktivitas yang berlebihan sehingga otot terus berkontraksi.
Walaupun singkat, tetapi dapat mengganggu dan membuat ibu tidak
nyaman untuk beraktivitas karena sakit yang menekan betis atau
telapak kaki (Syaifuddin, 2011).
2. Fisiologis Kram Kaki
Dasar fisiologis untuk kram kaki belum diketahui dengan pasti. Namun
kram kaki diperkirakan disebabkan oleh gangguan asupan kalsium yang
tidak adekuat atau ketidakseimbangan rasio kalsium dan fosfor dalam
tubuh. Salah satu dugaan lainnya adalah bahwa uterus yang membesar
memberi tekanan pada pembuluh darah panggul, sehingga mengganggu
sirkulasi, atau pada saraf sementara saraf ini melewati foramen obturator
dalam perjalanan menuju ekstremitas bagian bawah. Syafrudin,
Karningsih dan Dairi (2011) menyimpulkan bahwa penyebab kram kaki
yaitu :
a) Kejang otot yang terlalu, sehingga asam laktat yang dihasilkan oleh
otot tertimbun dalam darah

18
b) Kurang nya mineral, yakni kalsium dalam darah
c) Menyempitnya pembuluh-pembuluh darah halus (kapiler)
d) Gangguan aliran darah akibat pembuluh darah yang tertekan atau
pemakaian sepatu yang sempit
3. Tanda dan Gejala Kram Kaki
Kram kaki memiliki tanda dan gejala seperti kaku dan
menegang dengan kuat pada kaki akibat otot betis yang berkontraksi
secara tiba-tiba (kejang otot) dan menyebabkan rasa nyeri. Kontraksi
yang muncul pada otot kaki disebabkan oleh perut yang bertambah besar
sehingga beban yang di tumpu oleh ibu hamil semakin berat dan
sirkulasi darah yang mengalir ke kaki menjadi tidak lancar (Hapsari,
2020).
4. Dampak Kram Kaki
Bila ibu hamil melakukan aktifitas berlebihan dengan berdiri terlalu
lama maka posisi tubuh akan bertumbuh pada jari kaki ibu, sehingga
menimbulkan kram dan rasa nyeri yang membuat ibu tidak nyaman.
Kram kaki dapat menentukan aliran darah ke jantung dan menyebabkan
varises, jika terus dibiarkan akan mengakibatkan pembuluh darah vena
bisa pecah atau terjadi akumulasi dan menyebabkan pembekuan darah.
Dampak lainnya adalah keropos tulang. Bila kebutuhan kalsium janin
tidak terpenuhi janin akan mengambil kalsium dari ibu, akibatnya tulang
ibu akan mengalami keropos tulang dini atau kemungkinan itu terkena
osteoporosis akan lebih besar (Retno, 2016).
5. Penanganan Kram Pada Kaki
a) Lakukan kompres hangat pada otot yang kram agar aliran atau
sirkulasi darah di kaki menjadi lancar
b) Dorsofleksi kaki sampai spasme hilang
c) Anjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang
mengandunng kalsium dan fosfor untuk memenuhi kebutuhan dalam
tulang.
d) Minum setidaknya 6-8 gelas penuh setiap hari, termasuk satu gelas
sebelum tidur.

19
e) Menghindari duduk dengan tidak melipat kaki atau berdiri yang
berlebihan yang dapat menghambat aliran darah ke kaki (Retno,
2016).
6. Pencegahan Kram Pada Kaki
a) Hindari pekerjaan berdiri dalam waktu yang lama
b) Lakukan olahraga ringan seperti berjalan-jalan untuk
melancarkan aliran darah dan peregangan pada otot betis.
c) Hindari posisi tidur dengan kaki lurus (menunjuk dengan ujung kaki)
karena dapat meningkatkan kejadian kram kaki,
d) Mengurangi makanan yang mengandung sodium (garam)
e) Meninggikan posisi kaki, termasuk mengganjal kaki dengan
bantal saat tidur (Retno, 2016).
f) Kompres Hangat
Pemberian kompres hangat merupakan metode non farmakologis,
yang dapat mengurangi rasa nyeri. Pemberian kompres hangat memakai
prinsip pengantaran panas melalui cara konduksi yaitu dengan
menempelkan buli-buli panas pada daerah yang terasa kram. Dengan
kompres hangat dapat memberikan manfaat rasa nyaman, mengurangi
atau mencegah spasme otot dan memberikan rasa hangat (Alivia et al,
2020).
Fisiologis kompres panas adalah bersifat vasodilatasi, memiliki efek
sedatif dan meredakan nyeri dengan menyingkirkan produk-produk
inflamasi yang menimbulkan nyeri, merileksasi otot dan memperlancar
aliran darah. Air hangat (46-50°C) memiliki dampak fisiologis bagi
tubuh, yaitu pelunakan jaringan fibrosa, mempengaruhi oksigenasi
jaringan, mencegah kekakuan otot, memperlancar aliran darah, sehingga
dapat menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri, karena sirkulasi
peredaran darah yang baik akan meminimalkan terjadinya kram kaki
(Luthfiah, 2016).

20
BAB II
KONSEP ASUHAN KEBIDANAN

Manajemen kebidanan adalah suatu pendekatan proses pemecahan masalah


yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah yang logis untuk mengambil suatu
keputusan yang terfokus pada klien. Menurut Helen Varney, proses manajemen
kebidanan terdiri dari 7 langkah yang berurutan, yaitu :
Pengkajian merupakan langkah mengumpulkan semua data yang akurat dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien secara
keseluruhan. Bidan dapat melakukan pengkajian dengan efektif menggunakan
format pengkajian yang terstandar agar pernyataan yang diajukan lebih terarah
dan relevan. Pengkajian data dibagi menjadi :
A. Data Subjektif
Data subjektif diperoleh dengan cara melakukan anamnesa. Anamnesa
adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan data pasien dengan cara
menganjukan pertanyaan-pertanyaan, baik secara langsung pada pasien ibu
maupun kepada keluarga pasien yang meliputi :
1. Biodata/ identitas klien
a. Nama Pasien
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari- hari agar
tidak keliru dalam memberikan penanganan.
b. Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti <20
tahun
c. Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien sebagai dasar bidan dalam
memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap pasien dan
keluarga
d. Pendidikan
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dapat memberikan konseling
sesuai dengan pendidikan pasien.

21
e. Suku/Bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari.
f. Pekerjaan
Untuk mengetahui 21
tingkat sosial ekonomi, karena ini juga
berpengaruh dalam gizi pasien.
g. Alamat
Ditanyakan tempat tinggal untuk mempermudah
pemantauan/kunjungan rumah.
2. Keluhan utama
Keluhan atau masalah yang sering dialami pada ibu hamil trimester
III.
3. Riwayat kehamilan dan persalinan (riwayat prenatal, riwayat natal, dan
riwayat postnatal
4. Riwayat kesehatan (sekarang, yang lalu dan kesehatan keluarga)
5. Pola kebutuhan dasar (pola nutrisi, pola eliminasi, pola aktifitas, dan
istirahat, personal hygiene dan riwayat psikososial)

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik atau lemah.
Kesadaran : Composmentis
Tanda-Tanda Vital (TTV)
TD : 100/60-120/80 mmHg
Temperatur/suhu : 36,5-37,5°C
Nadi : 60-90 x/menit
Pernafasan : 16-28 x/menit
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Keadaan rambut, massa, pembengkakan, nyeri
tekan, dan kulit kepala.
Wajah : Simetris, tidak pucat, tidak oedem

Mata : Sklera putuh, konjungtiva merah muda

Hidung : Simetris, bersih, tidak ada sekret

22
Mulut : Bibir simetris, tidak pucat, tidak ada caries gigi
Telinga : Simetris, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid serta
pembengkakan vena jugularis.

Payudara : Bentuk simetris/tidak, ada massa/tidak, puting


susu menonjol, colostrums (-/+)

Abdomen : Pembesaran melintang atau membujur, ada/tidak


bekas SC, terdapat linea nigra dan striae gravidarum
atau tidak.
Leopold I : Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian apa yang
terdapat di fundus uteri. Normal : teraba bulat, lunak,
dan tidak melenting (bokong) dan TFU TM III (25-
Leolold II : 37cm) diatas simfisis.
Menentukan bagian apa yang berada di sebelah
Leopold III : kanan dan kiri perut ibu (punggung dan bagian kecil
janin).
Menentukan bagian terbawah janin sudah masuk
Leopold IV : PAP atau belum. Normal : teraba kepala, bagian
yang bulat, keras dan tidak melenting
Genetalia : Terdapat varises/tidak, oedema/tidak, ada atau
belum tanda-tanda persalinan.
Ekstremitas : Fungsi pergerakan, tidak/ada oedema, tidak/ada
varises, tidak/ada cacat, kesimetrisan dan
keadaan.

3. Analisis/Diagnosis
Ny “…” G... P...A…hamil 28-36 minggu janin tunggal hidup, presentasi
kepala, keadaaan janin normal, keadaan ibu baik dengan
ketidaknyamanan kram kaki

4. Penatalaksanaan

23
a. Lakukan observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
b. Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan dan
asuhan yang akan diberikan
c. Beritahu ibu ketidaknyaman ibu hamil TM III
d. Berikan penjelasan tentang tanda-tanda bahaya kehamilan TM III
e. KIE kebutuhan dasar ibu hamil TM III yaitu kebutuhan fisiologis
(oksigen, nutrisi, personal hygiene, pakaian, eliminasi, seksual,
senam hamil dan istirahat/tidur)
f. Berikan penjelasan tanda-tanda persalinan
g. Berikan KIE tentang fisiologis kram kaki pada ibu hamil
h. Anjurkan ibu untuk minum air putih setidaknya 8 gelas penuh setiap
hari, termasuk satu gelas sebelum tidur, mengkonsusi makanan yang
mengandung mineral, kaya kalsium dan magnesium seperti susu dan
minum suplemen kalsium dan magnesium dengan teratur
i. Anjurkan ibu untuk mengatur posisi tidur dengan menggunakan
bantal penopang untuk kaki lebih tinggi saat tidur, hindari kelelahan
otot kaki seperti duduk ataupun berdiri yang berlebihan juga
tidakmelipat kaki saat duduk yang dapat membuat terhambatnya
aliran darah ke kaki
j. Berikan dan ajarkan ibu terapi kompres hangat pada saat terjadi
kram kaki

24

Anda mungkin juga menyukai