0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan28 halaman

Panduan Resusitasi Jantung Paru

Ringkasan dokumen: 1. Dokumen tersebut membahas tentang resusitasi jantung paru yang merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi sistem sirkulasi dan pernapasan agar oksigenasi sel terjaga. 2. Tujuan resusitasi jantung paru adalah mencegah terhentinya sirkulasi dan pernapasan serta memberikan bantuan eksternal pada sistem tersebut. Resusitasi harus segera dilakukan agar harapan berhasil dan hidup lebih besar.

Diunggah oleh

chjmbnqyzv
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan28 halaman

Panduan Resusitasi Jantung Paru

Ringkasan dokumen: 1. Dokumen tersebut membahas tentang resusitasi jantung paru yang merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi sistem sirkulasi dan pernapasan agar oksigenasi sel terjaga. 2. Tujuan resusitasi jantung paru adalah mencegah terhentinya sirkulasi dan pernapasan serta memberikan bantuan eksternal pada sistem tersebut. Resusitasi harus segera dilakukan agar harapan berhasil dan hidup lebih besar.

Diunggah oleh

chjmbnqyzv
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Resusitasi

Jantung Paru
Pembimbing: dr. Rully Agustine, Sp. An-KIC

Presentan :
1. Elvina Theodoraliu (202106010077)
2. Gabriella (202106010085)
3. Jennifer Electra (202106010090)
4. Eric Ricardo Yonatan (202106010052)
Definisi Resusitasi Jantung Paru
Upaya untuk mengembalikan fungsi
sistem sirkulasi dan pernapasan untuk
menjamin oksigenasi yang adekuat untuk
sel terutama pada otak dan jantung
Tujuan Indikasi
- Mencegah terhentinya - Henti napas
sirkulasi dan pernapasan - Henti jantung
- Memberikan bantukan
eksternal terhadap sirkulasi
dan ventilasi guna mencegah
kerusakan otak
Mengapa Resusitasi
harus segera
dilakukan?
- Harapan resusitasi berhasil dan
harapan hidup lebih baik
- Kerusakan otak dimulai pada menit 4-6
- Kerusakan otak menetap apabila
dibiarkan selama 10 menit
Kapan Resusitasi
TIDAK dilakukan?
1. Situasi dimana upaya melakukan CPR akan
Livor mortis
mengakibatkan penolong beresiko cedera atau
mengancam nyawa
2. Adanya tanda klinis kematian permanen
a. Rigor mortis / stiffness
b. Livor mortis/ post mortem hypostatis/ akumulasi darah di PD
c. Pembusukan
d. Dekapitasi
e. Adanya do not resuscitate instruction
Hal yang Perlu Diperhatikan
Sebelum Pertolongan

Lingkungan atau Risiko bagi Penolong dan Mekanisme


Tempat Kejadian Korban trauma
Henti Jantung
Berhentinya aktivitas mekanik jantung
secara mendadak dengan atau tanpa
adanya aktivitas listrik
AHA 2020 Guideline
Algoritma
Henti Jantung
Perawatan
Pasca Henti
Jantung
Penilaian Awal: cek respon
Tepuk bahu dan panggil nama atau bertanya keadaan
pasien

AVPU mnemonic

● Alert → pasien sadar penuh dan berespon


● Verbal → pasien merespon dengan adanya suara
● Pain → pasien merespon dengan adanya rangsang nyeri
● Unresponsive → pasien tidak respon
Pasien Apnea/Gasping & Denyut A. Karotis Teraba

Bebaskan jalan napas Periksa nadi karotis tiap 2 menit

Manuver head tilt & chin lift Manuver jaw thrust

Tidak mengalami perubahan Tidak teraba

Bantuan pernapasan sebanyak 10 - 12 x/ menit RJP


menggunakan OPA / NPA dengan ambubag
Oropharyngeal Airway (OPA) Nasopharyngeal Airway (NPA)

Kontraindikasi pada pasien


dengan fraktur basis cranii
Circulation
1. Posisikan pasien terlentang di permukaan
datar dan keras, penolong berada di samping
tubuh pasien
2. Letakkan kedua tanga di tengah dada, separuh
sternum bagian bawah, saling genggam &
mengunci. Penolong tidak bertumpu pada
tubuh pasien
3. Kompresi dengan frekuensi 100-120 x / menit,
kedalaman 5 cm, tegak lurusa tidak menyentak,
tidak bergeser.
4. Fase kompresi dan relaksasi 1:1 dengan reqoil
dada sempurna
5. Minimalkan interupsi / jeda kompresi
6. CPR dilakukan dengan ratio perbandingan 10. Bila terdapat 2 penolong, pergantian menolong
kompresi jantung : ventilasi 30:2 selama dilakukan setelah 1 siklus saat memeriksa
advance airway belum terpasang denyut arteri karotis
7. 1 siklus = 2 menit 11. Minimalkan interupsi/jeda
8. Setelah 1 siklus lakukan pemeriksaan denyut 12. Jika AED tersedia, lakukan evaluasi dengan
arteri karotis selama 10 detik AED setelah 1 siklus
9. Bila tidak ditermukan denyut arteri karotis 13. Ikuti instruksi dari AED, unshockable lanjutkan
kembali lakukan CPR CPR
CPR dihentikan
1. Return of spontaneus circulation
(ROSC).
2. Ada penolong yang lebih ahli untuk
melakukan bantuan hidup lanjut.
3. Penolong tidak dapat melanjutkan CPR
karena kelelahan, keadaan yang dapat
mengancam jiwa penolong, atau jika
usaha resusitasi dilanjutkan dapat
mengakibatkan kondisi yang lain menjadi
lebih buruk.
4. Terdapat kriteria kematian yang
irreversible, pasien meninggal atau
kriteria pengakhiran resusitasi
ditemukan.
CPR
Do don´t
● Lakukan kompresi jantung dengan ● Kompresi jantung dengan frekuensi
frekuensi 100-120x / menit kurang 100x/menit atau lebih dari
● Kedalaman Kompresi 5 Cm 120x/ menit.
● Dada rekoil sempurna setelah ● Kedalaman kompresi kurang dari
masing-masing kompresi 5cm atau lebih dari 6cm.
● Minimalkan interupsi/jeda saat ● Bertumpu pada dada pasien
kompresi ● Jeda lebih dari 10 detik
● Berikan ventilasi secara adekuat, 2x ● Memberikan ventilasi berlebihan,
nafas setelah 30x kompresi, napas contoh memberikan nafas
pertama satu detik, napas kedua berkali-kali atau dengan kekuatan
lebih panjang, masing-masing napas penuh
mengembangkan dada
AED (Automated External Defibrilator)

1. Nyalakan AED.
2. Buka pakaian pasien, lepaskan logam dan 5. Selama pemasangan AED, jangan hentikan
perhiasan. CPR.
3. Pasang kedua pad: anterolateral 6. Tekan tombol analisa, selama proses ini jangan
(sternal-apical), superior-anterior (di bawah sentuh pasien atau hentikan CPR.
clavicula - inferior-lateral dada kiri) & 7. Bila irama VF/VT, AED → charge dan instruksi
biaxillary positioning suara untuk melakukan defibrilasi.
4. 2,5 cm dari alat implan 8. Bila asystole, AED → CPR selama dua menit.
Defibrilator
Defibrilasi dini penting untuk tatalaksana henti jantung akibat
VF atau pulseless VT (pVT).

Terdapat 2 tipe; bifasik & monofasik.

Jika dosis energi dari defibrillator tidak diketahui, gunakan


dosis tertinggi.

Dosis pertama & kedua harus setara, namun pertimbangkan


dosis yang lebih tinggi untuk aritmia yang menetap.

Cara pemasangan:
Tempatkan pad pada permukaan kulit dada (buka pakaian
pasien). Semua perhiasan/benda logam dilepas.
Posisikan pada bagian sternum dan apex. Pada pasien dewasa,
ukuran pad dengan diameter 8-12 cm.
Obat-obatan selama CPR
Epinephrine Amiodarone dan Lidokain
1. Diberikan pada pasien yang mengalami
henti jantung 1. Dosis amiodarone: 300 mg
2. Dosis: 1 mg tiap 3–5 menit 2. Dosis lidokain: 1 – 1,5
3. Irama non shockable → Pemberian mg/KgBB
secepat mungkin 3. Dosis kedua : ½ dosis pertama
4. Irama shockable → setelah defibrilasi 4. Diberikan apabila VF/pVT
5. Dosis tingg → tidak direkomendasikan tidak respon dengan
defibrilasi
Syok

01 02
Stadium Stadium
Kompensasi Dekompensasi

03
Stadium
Irreversibel
Stadium Kompensasi
Klinis : Takikardi, gelisah, kulit pucat dan
dingin, CRT meningkat (>2 detik)

Stadium Dekompensasi
Klinis : Takikardi, Tensi turun, Perfusi perifer buruk,
asidosis, oliguri dan kesadaran menurun

Stadium Irreversible
Klinis : Tensi tak terukur, nadi tak teraba,
anuria, kesadaran buruk dan tanda-tanda
kegagalan organ
TERIMA
KASIH
CREDITS: This presentation template was
created by Slidesgo, including icons by Flaticon,
and infographics & images by Freepik

Anda mungkin juga menyukai