BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Keselamatan kerja adalah instrumen primer guna mencegah kecelakaan,
kecacatan, serta kematian yang disebabkan karena cedera kerja, oleh sebab itu
aplikasi mengenai keselamatan kerja penting untuk selalu dievaluasi supaya
setiap pekerja mendapatkan sebuah pemahaman untuk senantiasa menciptakan
lingkungan kerja yang aman dan kondusif. Menurut UU No. 1 Tahun 1970
Tentang Keselamatan Kerja, Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak
diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah
diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia
maupun harta benda.
Kecelakaan kerja adalah kondisi terjadinya hal yang tidak dikehendaki
dan menimbulkan dampak buruk bagi mereka yang mengalaminya. Namun,
kecelakaan kerja bukanlah hal yang terjadi begitu saja secara “mendadak” selalu
ada kondisi yang tidak pas yang telah terjadi sebelumnya. Dalam kata lain,
selalu ada penyebab mengapa kecelakaan kerja terjadi. Perilaku tidak aman
masih menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya
kecelakaan kerja, salah satu penyebabnya yaitu merasa telah mahir di bidangnya
serta belum pernah mengalami kecelakaan kerja. Pekerja yang seperti ini sangat
mengandalkan pengalamannya selama bekerja serta sering mengesampingkan
SOP yang berlaku di perusahaan tersebut, tentu saja hal ini berpotensi besar
menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan kerja.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas maritim kelautan
yang sangat besar dimana transportasi laut merupakan sarana transportasi utama
sebagian besar mayarakat bangsa Indonesia. Dalam dunia perdagangan nasional
maupun internasional, angkutan laut merupakan sarana yang sangat penting.
Sehingga memerlukan perhatian yang cukup besar pada sumber daya manusia dan
masalah kedisiplinan kerja di atas kapal. Karena keselamatan kerja sangat
menentukan keberhasilan angkutan laut ini, menyangkut keselamatan jiwa
manusia, keselamatan kapal meliputi peralatan dan perlengkapan pendukungnya
juga yang tak kalah penting yaitu perlindungan terhadap lingkungan.
Berdasarkan laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT),
terdapat 13 kecelakaan pelayaran yang terjadi di Indonesia pada 2022. Jumlah itu
turun 31,58% jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 19 kasus.
Secara rinci, kapal tenggelam dan terbakar menjadi kecelakaan pelayaran yang
paling banyak terjadi sepanjang 2022. Jumlah kedua kecelakaan tersebut masing-
masing sebanyak lima kasus. Kapal yang terbakar di antaranya Dumai Line 5,
Sabuk Nusantara 91, Lit Enterprise, Mutiara Timur I, dan Express Cantika 77.
Sedangkan, kapal yang tenggelam antara lain, Satya Kencana III, Teman Niaga,
Ladang Pertiwi 02, Permata Asia, dan Cahaya Arafah. Kemudian, terjadi satu
tubrukan kapal antara Trisula Bhakti II dan Gerbang Samudra 2. Ada pula dua
kasus lainnya merupakan kapal yang teridentifikasi kandas, yakni Young Yong
dan Sabuk Nusantara 96. Adapun, kasus kecelakaan pelayaran paling menonjol
sepanjang 2022, antara lain Express Cantika 77 yang terbakar di sekitar perairan
Naikliu, Laut Sawu pada 24 Oktober 2022. Lalu, Kapal Young Yong yang kandas
di Selat Singapura pada 26 Oktober 2022.
Peristiwa kecelakaan kapal maupun kecelakaan kerja di kapal tidak
semata-mata tanpa sebab. Banyak hal yang menjadi penyebab kecelakaan kapal
maupun kecelakaan kerja di atas kapal. Berdasarkan data dikapal bahwa jumlah
peralatan keselamatan kerja yang tersedia di atas kapal KM. TANTO HORAS
sesuai dengan jumlah crew yang ada di atas kapal yang berjumlah 19 orang.
Namun dalam bekerja sehari-hari biasanya crew sengaja untuk tidak memakai
alat-alat keselamatan karena dianggap hanya merepotkan saja dan membuat
pergerakan pada saat bekerja tidak bebas, padahal mereka tidak menyadari
bahwa kecelakaan dapat terjadi dimana saja dan kapan pun yang dapat
merenggut nyawa manusia atau membuat cacat seumur hidup.
Hal pokok yang menjadi latar belakang penulisan ini adalah terjadinya
kecelakaan kerja dimana salah seorang anak buah kapal ketika sedang
menchipping tidak menggunakan alat-alat keselamatan sesuai dengan prosedur
keselamatan kerja. Yaitu anak buah kapal tersebut tidak menggunakan helmet,
kaca mata pengaman, sarung tangan, sepatu kerja dan alat keselamatan lainnya
sehingga menyebabkan kecelakaan terhadap anak buah kapal tersebut.
Selain itu peristiwa seorang kru kapal yang terpeleset di tangga haluan
kapal akibat sandal kerja yang tidak sesuai dengan ketentuan pemakaian. Lalu
pada saat kru bekerja, alat brushing yang lepas kontrol dari tangan yang
mengenai kaki pekerja. Selain itu para kru kapal yang tidak menggunakan APD
pada saat bekerja harian. Beberapa kejadian tersebut dapat mengakibatkan
kecelakaan kerja yang mengancam keselamatan kru kapal.
Oleh karena itu untuk meningkatkan kedisiplinan crew di atas kapal
dalam penggunaan alat-alat keselamatan maka diharapkan kepada perwira di
atas kapal agar selalu mengawasi dan mengontrol para pekerja yang sedang
melakukan suatu pekerjaan serta menegur langsung kepada crew yang tidak
menggunakan peralatan keselamatan kerja dan memberikan himbauan tentang
bahaya dan akibat yang akan terjadi.
Untuk mengurangi atau menghilangkan bahaya yang dapat menyebabkan
kecelakaan di tempat kerja, maka diperlukan suatu upaya penanggulanagn
kecelakaan kerja dengan menggunakan data kualitatif dengan metode fishbone.
Oleh karena itu, kejadian ini perlu adanya penelitian menggunakan metode
fishbone untuk mencari sebab dan akibat terjadi kecelakaan kerja sehingga bisa
dilakukan penanganan yang lebih agar bisa menanggulangi dan meminimalisir
keadaan berbahaya dalam kecelakaan kerja .Berdasarkan uraian di atas maka
penulis mengkaji dalam bentuk karya ilmiah terapan dengan judul: “Upaya
Penaggulangan Kecelakaan Kerja Diatas Kapal KM Tanto Horas”.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut , maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah :
1. Apakah faktor-faktor yang menjadi penyebab kecelakaan kerja diatas
kapal KM Tanto Horas ?
2. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk penanggulangan kecelakaan kerja
diatas kapal KM Tanto Horas ?
C. BATASAN MASALAH
Mengingat terlalu banyaknya masalah yang akan timbul maka penulis
membatasi ruang lingkup masalah ini dan dalam penulisan ini hanya membahas
mengenai faktor – faktor penyebab kecelakaan kerja dan upaya penanggulangan
kecelakaan kerja diatas kapal KM Tanto Horas.
D. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang menjadi penyebab
kecelakaan kerja diatas kapal KM Tanto Horas.
2. Untuk mengetahui dan memahami upaya yang dilakukan dalam
penanggulangan kecelakaan kerja diatas kapal KM Tanto Horas.
E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang ingin dicapai penulis dengan diadakannya penelitian dan
penulisan proposal ini antara lain:
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi, referensi, kajian
ataupun sebagai sumbangan pemikiran bagi para pelaut dan anak buah kapal
agar mengetahui dan memahami tentang faktor -faktor yang menjadi
penyebab kecelakaan kerja diatas kapal dan upaya penanggulangan
kecelakaan kerja diatas kapal KM Tanto Horas.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan berguna dalam pengembangan Sumber Daya
Manusia di bidang transportasi laut, yaitu agar para pelaut dan anak buah
kapal mengetahui dan memahami faktor -faktor yang menjadi penyebab
kecelakaan kerja diatas kapal dan upaya penanggulangan kecelakaan kerja
diatas kapal KM Tanto Horas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Review Penelitian Sebelumnya
A. Pada jurnal penelitian yang berjudul Analisi Resiko Kegiatan Di Atas
Kapal dengan Metode Hazop Analysis di KMP. ATHAYA. Jurnal Saintek
Maritim, Volume 22 Nomor 1, Bulan September Tahun 2021 oleh
Junatul Puadah, Sereati Hasugihan, Dwi Haryanto. Penelitian ini
menjelaskan penyebab dari kecelakaan didasari oleh beberapa faktor, yaitu
faktor yang paling dominan adalah sebab langsung (direct cause) yaitu
faktor yang diakibatkan oleh perbuatan manusia yang salah (unsafe human
act), misalnya :
a. Tidak mengikuti standar operasional proedur yang ada
b. Kurang hati-hati dalam melaksanakan suatu pekerjaan
c. Tidak tahu menggunakan alat keselamatan
d. Tidak mampu melaksanakan suatu pekerjaan.
Oleh karena itu untuk meningkatkan kedisiplinan crew di atas kapal dalam
penggunaan alat-alat keselamatan maka diharapkan kepada perwira di atas
kapal agar selalu mengawasi dan mengontrol para pekerja yang sedang
melakukan suatu pekerjaan serta menegur langsung kepada crew yang
tidak menggunakan peralatan keselamatan kerja dan memberikan
himbauan-himbauan tentang bahaya dan akibat-akibat yang akan terjadi.
B. Pada jurnal penelitian Optimalisasi Penggunaan Personal Protective
Equipment (PPE) Guna Menghindari Potensi Kecelakaan Kerja Di Atas
Kapal MV. Lumoso Karunia VIII. Jurnal METEOR VOL. 15 NO. 02,
DESEMBER 2022 oleh Hasnan Habib, Agus Widodo, Sajim Budi
Setiawan. Pada penelitian ini menjelaskan dan kurangnya pengawasan
officer di atas [Link] Karunia VIII yaitu :
1. Tidak disiplinanya penggunaan PPE
a. Pemahaman dan aturan yang jelas b. Kesungguhan hati
mentati peraturan
b. Pelatihan atau peragaan dalam penggunaan PPE
c. Reward dan punishment
d. Ketegasan dari para officer atau perwira
2. Kurangnya pengawasan officer di atas [Link] Karunia VIII
a. proses pelaksanaan untuk mencapai tujuan
b. Membandingkan apa yang sudah dilaksanakan dengan
standard
c. Melakukan tindakan perbaikan terhadap yang tidak sesuai
d. pengawasan pendahuluan, pelaksanaan dan
evaluasi/umpan.
Oleh karena itu perlu ditingkatkannya pemahaman para ABK dengan
perwira melakukan familiarisasi dan simulasi praktek mengenai aturan penggunaan
PPE. Dengan diberikannya pemahaman atau penjelasan dan simulasi praktek
tentang aturan yang sudah ada diharapkan mampu memberikan tingkat kesadaran
agar ABK lebih disiplin akan penggunaan PPE di atas kapal. Dalam hal ini
diharapkan kepada para ABK yang baru saja naik diatas kapal atau joint maupun
ABK senior yang telah dulu naik di atas kapal untuk mengikuti kegiatan tersebut
dengan sungguhsungguh. Sehingga sebelum para ABK yang akan bekerja sesuai
dengan tugasnya, ABK tersebut sudah mengetahui dan paham mengenai aturan
penggunaan PPE di atas kapal dengan baik, hal ini bertujuan agar tecapainya target
pelaksanaan aturan yang diterapkan di atas kapal oleh perusahaan dan perlu
dilakukan pengawasan pendahuluan, pelaksanaan dan evaluasi. Pemecahan
alternatif masalah yang di pilih adalah diberikannya sanksi bagi perwira yang tidak
melakukan pengawasan dengan benar. Pemberian sanksi kepada perwira yang tidak
menjalakan pengawasan dengan benar memang harus dilakukan dalam sebuah
operasional suatu pekerjaan, sehingga para perwira mau tidak mau akan melakukan
tugas pengawasan sesuai dengan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Ketika
kapten memberikan sanksi kepada perwira yang melanggar tugasnya maka perwira
tersebut akan merasa malu sehingga perwira tersebut akan segan untuk melanggar.
Dalam hal ini pemberian sanksi kepada seorang perwira sangat berperan penting
dikarnakan agar lingkungan kerja lebih kondusif sehingga setiap individu selalu
berpikir dan berbuat sesuatu dengan dampak positif. Maka dari itu, tidak ada niat
untuk berbuat hal indisipliner yang pastinya akan merugi
B. Landasan Teori
a. Pengertian Keselamatan Kerja
Menurut UU NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA,
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat
SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan
dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna
terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat K3 adalah
segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan
tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.
Menurut Bangun Wilson (2012) Keselamatan Kerja adalah perlindungan
atas keamanan kerja yang dialami pekerja baik fisik maupun mental dalam
lingkungan pekerjaan.
Menurut Taryaman (2016:137) mengemukakan bahwa Keselamatan
Kerja ialah Keselamatan yang berhubungan dengan aktivitas kerja manusia baik
pada industri manufaktur, yang melibatkan mesin, peralatan, penanganan material,
pesawat uap, bejana bertekanan, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya,
landasan tempat kerja
Penyebab Kecelakaan Kerja
Menurut Tarwaka (2017) mengenai penyebabnya yang bisa menyebabkan
terjadinya kecelakaan yaitu faktor manusia. Kecelakaan yang dikarenakan oleh
aspek manusia karena manusianya. Memiliki beberapa karakter diantaranya :
1. Tidak paham, di mana yang berkaitan tak tahu bagaimana lakukan
pekerjaan dengan aman, dan tidak paham bahaya-bahaya yang ditimbul-
kannya hingga berlangsung kecelakaan.
2. Tidak ingin yang berkaitan, walaupun sudah mengetahui dengan terang
cara kerja atau ketentuan dan bahaya-bahaya yang ditimbulkan dan dapat
atau bisa mengerjakannya, namun kemauannya tak ada yang menyebabkan
terjadinya kekeliruan hingga berlangsung kecelakaan.
3. Tidak dapat, yang berkaitan sudah mengetahui cara yang aman dan bahaya
-bahaya yang mungkin ditimbul-kannya, tetapi belum dapat atau kurang
trampil hingga lakukan satu kekeliruan yang fatal.
Menurut teori domino effect kecelakaan kerja H.W Heinrich, kecelakaan
terjadi melalui hubungan mata-rantai sebab-akibat dari beberapa faktor penyebab
kecelakaan kerja yang saling berhubungan sehingga menimbulkan kecelakaan
kerja (cedera ataupun penyakit akibat kerja / PAK) serta
beberapa kerugian lainnya. Terdapat faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja
antara lain : penyebab langsung kecelakaan kerja, penyebab tidak langsung
kecelakaan kerja dan penyebab dasar kecelakaan kerja.
b. Personal Protective Equipment /Alat Pelindung Diri ( PPE/APD)
Perlindungan keselamatan pada pekerja melalui upaya teknis dengan cara
pengamanan tempat, mesin, peralatan, dan lingkungan kerja wajib diutamakan,
namun kadang-kadang resiko terjadi kecelakaan kerja belum sepenuhnya dapat
dikendalikan, sehingga perlu digunakan alat pelindung diri (personal protective
Equipment) yang merupakan alternatif terkahir dari upaya pencegahan
kecelakaan kerja.
Menurut Health and Safety Executive (2015:1), Personal Protective
Equipment at Work Regulations (PPE) edisi ketiga, Personal Protective
Equipment adalah perlengkapan kerja yang harus dikenakan oleh pekerja pada
lingkungan kerja tertentu dengan tujuan untuk mengurangi dampak bahaya-
bahaya kerja yang
Dalam buku Code of Safe Working Practice for Marchant Seamen
Consolidated Edition 2007, Maritime and Coastguard Agency. Sebagai aturan
umum, peralatan pelindung diri harus diberikan tanpa biaya kepada pekerja.
Pengecualian untuk ini adalah di mana tidak dikecualikan ke tempat kerja dan
oleh karena itu pekerja mungkin diminta untuk berkontribusi pada biaya atau bila
pekerja ingin memiliki peralatan yang melebihi standar minimum yang
dipersyaratkan oleh undang-undang (misalnya desain yang lebih menarik)”.
Adapun peralatan standar pelindung diri yang wajib menurut buku Code of Safe
Working Practice for Marchant Seamen Consolidated Edition 2007.
Syarat – Syarat Protective Equipment
1. Pengujian mutu
Alat pelindung diri harus memenuhi standar yang telah ditentukan untuk
menjamin bahwa alat pelindung diri akan memberikan perlindungan sesuai
yang diharapkan. Semua alat pelindung diri sebelum dipasarkan harus
diuji lebih dahulu mutunya.
2. Pemeliharaan
Alat pelindung diri yang akan digunakan harus benar-benar sesuai dengan
kondisi tempat kerja, bahaya kerja, dan pekerja sendiri agar benar-benar
dapat memberikan perlindungan semaksimal mungkin pada tenaga kerja.
3. Ukuran harus tepat Untuk dapat memberikan perlindungan yang
maksimum pada tenaga kerja, ukuran alat pelindung diri harus tepat.
Ukuran yang tidak tepat akan menimbulkan gangguan pada pemakainya.
4. Cara pemakaian yang benar Sekalipun alat pelindung diri disediakan oleh
perusahaan, alat-alat ini tidak akan memberian manfaat yang maksimal
apabia cara memakainya tidak benar
c. Jenis-Jenis Personal Protective Equipment (PPE)
Jenis-jenis Personal Protective Equipment (PPE) menurut IMO berdasarkan target
organ tubuh yang berpotensi terkena resiko dari bahaya, antara lain :
a. Mata
Sumber bahaya: cipratan bahan kimia atau logam cair, debu, katalis
powder, proyektil, gas, uap dan radiasi.
Alat Personal Protective Equipment (PPE): safety spectacles, goggle,
faceshield, welding shield.
b. Telinga
Sumber bahaya: suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 85 dB.
Alat Personal Protective Equipment (PPE): ear plug, ear muff, canal caps.
c. Kepala
Sumber bahaya: tertimpa benda jatuh, terbentur benda keras, rambut
terlilit benda berputar.
Alat Personal Protective Equipment (PPE):safety helmet, bump caps.
d. Pernapasan
Sumber bahaya: debu, uap, gas, kekurangan oksigen (oxygen defiency).
Alat Personal Protective Equipment (PPE): respirator, breathing apparatus.
e. Tubuh
Sumber bahaya: temperature ekstrim, cuaca buruk, cipratan bahan kimia
atau logam cair, semburan dari tekanan yang bocor.
Alat Personal Protective Equipment (PPE): boiler suits, chemical suits,
vest, apron, full body suit, jacket.
f. Tangan dan Lengan
Sumber bahaya: temperature ekstrim, benda tajam, tertimpa benda berat,
sengatan listrik, bahan kimia, infeksi kulit.
Alat Personal Protective Equipment (PPE):sarung tangan (hand gloves),
armlets, mitts.
g. Kaki
Sumber bahaya: lantai licin, lantai basah, bendata jam, benda jatuh,
cipratan bahan kimia dan logam cair, aberasi.
Alat Personal Protective Equipment (PPE): safety shoes, safety boots,
legging, spat.
C. Metode Fishbone
Menurut A. Vandy Pramujaya (2019), fishbone diagram
merupakan suatu metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi
masalah kualitas dan check point yang meliputi empat jenis bahan atau
peralatan, tenaga kerja dan metode. Alasan yang terkait dengan setiap
kategori terkadang terikat pada branch bone yang berbeda di sepanjang
proses curah pendapat.
Oleh karena itu, menurut pemahaman para ahli tentang Fishbone,
dapat disimpulkan bahwa fishbone adalah bagan yang berbentuk seperti
fishbone, digunakan untuk mengidentifikasi berbagai penyebab atau faktor
utama yang mempengaruhi pengendalian kualitas masalah yang persisten.
Penyebab atau faktor utama tersebut dapat diuraikan menjadi Banyak
kategori terkait, termasuk orang, material, dan mesin. , Prosedur dan
kebijakan. Berikut adalah contoh diagram fishbone:
material methode
effect
machine man
Gambar 2.1 Diagram Fishbone
Langkah-langkah pembuatan Fishbone diagram,
Saat membuat diagram fishbone ini, dibutuhkan waktu sekitar 30-60 menit.
Berikut langkah-langkah pembuatan diagram fishbone yang termasuk
dalam Murnawan (2014), diantaranya:
1. Setuju dengan pernyataan masalah.
2. Menentukan kategorinya (kategori alasan utama).
3. Menemukan penyebab yang mendasari melalui curah pendapat.
4. Mengevaluasi dan menyepakati penyebab yang paling mungkin
D. Kerangka Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membuat Kerangka penelitian yang
digambarkan sebagai berikut:
Tabel 2.2 KerangkaPemikiran
MASALAH POKOK
Personal Protective Equipment (PPE) Dalam Mengurangi Resiko
.
Kecelakaan.
Penyebabnya ?
1. Kurangnya pemahaman awak kapal terhadap pemakaian
Personal Protective Equipment (PPE) yang tidak benar.
2. Tidak displin nya awak kapal dalam menggunakan Personal Protective
Equipment (PPE).
Mengapa terjadi masalah ?
1. Kurangnya pemaksimalan pemakaian Personal Protective Equipment
(PPE) oleh awak kapal.
2. Cara perawatan Personal Protective Equipment (PPE) yang sering
diabaikan.
Bagaimana penanganannya ?
1. Melakukan penjelasan kepada awak kapal tentang cara penggunaan
Personal Protective Equipment (PPE) yang baik dan benar.
2. Melakukan perawatan secara rutin sesuai prosedur yang
telah ditentukan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa
Personal Protective Equipment (PPE) sangat penting untuk
digunakan pada saat bekerja diatas kapal, karena apabila awak kapal
tidak mengindahkan atau tidak menggunakan Personal Protective
Equipment (PPE) pada saat bekerja akan merugikan perusahaan
kapal, penumpang dan awak kapal jika terjadi kecelakaan. Tetapi
kalau awak kapal menggunakan Personal Protective Equipment
(PPE) pada saat bekerja ,hal ini akan memperkecil kecelakaan kerja
diatas kapal. Selain itu,hal yang lebih penting [Link]
Protective Equipment (PPE) adalah memiliki visi dan misi jauh
kedepan yaitu mewujudkan tenaga kerja yang sehat, aman dan
nyaman pada saat bekerja.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dan
menggunakan metode dan analisis yang dilakukan adalah analisis fishbone yang
mana akan dapat memberikan gambaran permasalahan yang ada dalam kasus.
Landasan teori digunakan sebagai pemandu agar peneliti fokus meneliti sesuai
fakta yang terjadi di lapangan. Landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan
gambaran umum tentang latar suatu penelitian dan sebagai bahan pembahasan
hasil penelitian.
[Link] dan Waktu Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penulis akan melakukan penelitian pada saat penulis Praktek Laut (PRALA)
di atas kapal KM Tanto Horas selama 12 bulan 10 hari.
2. Tempat Penelitian
Penulis akan melaksanakan penelitian di atas kapal KM Tanto Horas
C. Sumber Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang hanya dapat diperoleh dari sumber asli atau
pertama melalui narasumber yang tepat dan yang penulis jadikan responden
dalam penelitian. Peneliti mendapatkan data primer ini melalui wawancara
langsung ke responden yaitu Chief Officer mengenai bagaimana upaya
penangulangan kecelakaan kerja di atas kapal dengan metode data kualitatif dan
metode fishbone dan hasilnya masih ada beberapa kru kapal yang tidak
menerapkan SOP yang berlaku diatas kapal.
2. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh bukan
secara langsung dari sumbernya. Data sekunder merupakan data yang diperoleh
dari Teknik pengumpulan data yang menunjang data primer. Dalam penelitian ini
diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis serta dari studi pustaka.
Dapat dikatakan data sekunder ini berasal dari dokumen-dokumen grafis seperti
table, catatan, foto, dan lain-lain (Arikunto, 2010:22).
Taruna menggunakan dasar buku seperti :
a.) International Safety Management Code 2010
b.) Undang-undang keselamatan kerja No. 1 Tahun 1970
c.) Instruksi perawatan alat pelindung diri
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti
untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Maka data yang diperoleh
haruslah mendalam, jelas dan spesifik. Selanjutnya dijelaskan oleh Sugiyono
(2009:225) cara-cara yang dapat digunakan oleh penulis untuk mengumpulkan
data. Untuk memperoleh data dilapangan yang sesuai dengan masalah yang akan
diteliti maka penulis menggunakan teknik sebagai berikut :
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan yang dilakukan dengan sengaja dan
sistematis terhadap aktivitas individu atau obyek lain yang diselidiki. Observasi
pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui
pengamatan dan penginderaan. Untuk memperoleh data yang autentik dalam
pengumpulan data tentang peran alat keselamatan di atas kapal . Metode ini
dilakukan melalui pengamatan langsung pada objek yaitu mengamati penemuan
resiko pada saat melaksanakan kerja harian yang diteliti diatas KM Tanto Horas.
2. Dokumentasi
Pengumpulan data dengan teknik dokumentasi adalah data mengenai hal-
hal atau variabel yang berupa catatan, buku, notulen rapat, agenda dan
sebagainya. Data yang akan dicari dapat berupa arsip-arsip tertulis, guna
mengetahui panduan sistem kerja yang terjadi. Dokumentasi yang ditunjukkan
dalam hal ini yang berbentuk karya misalnya gambar tentang kejadian yang
berhubungan dengan kegiatan di atas kapal KM Tanto Horas.
3. Kuesinioner Penilaian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Angket atau kuesioner adalah
salah satu cara atau teknik yang digunakan seorang peneliti untuk
mengumpulkan data dengan cara menyebarkan sejumlah lembar kertas yang
berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Pengumpulan
data dengan angket ini penulis mengajukan daftar pertanyaan secara tertulis
kepada responden, dimana jawabannya sudah disediakan. Angket ini penulis
tujukan kepada crew kapal saat bekerja di atas KM Tanto Horas.
Pada metode ini, pertanyaan-pertanyaan masalah ditulis dalam format
kuesioner lalu disebar kepada responden untuk dijawab, kemudian dikembalikan
kepada peneliti. Dari jawaban responden tersebut, peneliti dapat memperoleh
data seperti pendapat dan sikap responden terhadap masalah yang sedang
diteliti.
4. Tekik Analisis Data
Kegiatan yang memerlukan perhatian khusus bagi seorang peneliti baik
selama di lapangan maupun sesudah data terkumpul adalah analisis data.
Dalam penulisan proposal penelitian ini penulis menggunakan data kualitatif
dengan metode fishbone. Teknik penelitian menggunakan data kualitatif yaitu
semua bahan , keterangan dan fakta-fakta dapat diukur dan dapat dihitung
seacra sistematis karena wujudnya adalah keterangan verbal (kalimat dan data)
dengan teknik ini peneliti hanya mengumpulkan data-data , informasi-
informasi , fakta-fakta, keterangan-keterangan yang bersifat kalimat dan data
dari permaalahan yang peneliti anggap penting dan mendukung dalam hal
pengumpulan data pada saat di atas kapal KM Tanto Horas.
Menurut Sugiyono (2018) metode penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat, yang digunakan untuk meneliti pada
kondisi ilmiah (eksperimen) dimana peneliti sebagai instrumen, teknik
pengumpulan data dan di analisis yang bersifat kualitatif lebih menekan pada
makna. Penyajian Data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan dengan
melihat penyajian -penyajian yang akan dapat dipahami pembaca. Penarikan
kesimpulan merupaakn memulai mencari data dengan mencari arti benda,
mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin alur
sebab akibat dan proposisi.