MAKALAH
SISTEM INFORMASI RADIOLOGI
Dosen Pengampu ; Farida Wahyuni [Link]
Disusun Oleh :
1. Zaidan Rizky Arya P
2. M Ragil Alfawwas
3. Adji Maulana Dani
4. Yusuf Firmansyah
5. Azel Septian Purnomo
6. Ria Maharani
7. Lutfiatul Maghfiroh
8. Alkhori Firdausi
9. Sabrina Nur Maghfiroh
PROGRAM STUDI D3 RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN KESEHATAN
INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN ITKM WIDYA CIPTA HUSADA
TAHUN 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat serta karunia-Nya sehingga saya menyelesaikan Makalah Manajemen
Radiologi “ Sistem Informasi Radiologi” dengan lancar.
Rasa terima kasih juga kami ucapkan kepada Ibu Farida Wahyuni, [Link].,
[Link] sekalu dosen pengampu mata kuliah yang selalu memberikan dukungan
serta bimbingannya sehingga Makalah ini dapat disusun dengan baik. Semoga
Makalah Manajemen Radiologi yang telah kami susun ini turut memperkaya
khazanah ilmu serta bisa menambah pengetahuan dan pengalaman para pembaca
Kami menyadari bahwa dalam penulisan Makalah ini masih banyak
kesalahan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar Makalah ini dapat lebih baik lagi. Semoga Makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Malang, 22 Februari 2022
Penulis
II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN...............................................................................................4
A. LATAR BELAKANG......................................................................4
B. RUMUSAN MASALAH..................................................................5
C. TUJUAN PENELITIAN..................................................................5
BAB II
LANDASAN TEORI..........................................................................................6
2.1 SISTEM INFORMASI RADIOLOGI..................................................6
2.1.1 FUNGSI RIS...............................................................................7
2.1.2 TAHAPAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI......8
2.2 PACS........................................................................................................9
2.2.1 KOMPONEN PACS..................................................................12
2.3 DICOM...................................................................................................12
2.3.1 SEJARAH DICOM...................................................................13
2.3.2 RUANG LINGKUP DICOM....................................................14
BAB III
PENUTUP............................................................................................................
3.1 KESIMPULAN........................................................................................
III
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan Teknologi Informasi (TI) dalam mendukung dunia usaha
mengalami perubahan yang semakin pesat. Hal itu juga berlaku pada dunia usaha
layanan kesehatan rumah sakit di tanah air. Mengadopsi berbagai kebutuhan rumah
sakit dengan jumlah pasien dan pegawai yang relatif sangat banyak, kini sudah
saatnya dibutuhkan sebuah inovasi teknologi tersendiri. Begitu banyak pasien, dokter,
pegawai, atau calon pasien, tentu akan sangat merepotkan, jika semua transaksi di
dalamnya masih dilakukan secara manual atau menggunakan kertas.
Kini mulai dikembangkan sistem-sistem modern dalam lingkup usaha
kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas. Dibangun sistem di tiap-tiap unit instalasi
dan salah satu di antaranya adalah unit instalasi radiologi.
Abstraksi Unit Radiologi merupakan unit penunjang medis yang mempunyai
peranan penting dalam pelayanan pasien baik sebagai pendiagnosa suatu penyakit
maupun sebagai acuan pemberian arah pengobatan bagi para klinisi dalam sebuah
rumah sakit. Sebagai unit penunjang maka radiologi dituntut untuk selalu siap dalam
pemberian informasi yang dibutuhkan oleh unit-unit terkait, informasi yang diberikan
haruslah lengkap, akurat dan cepat. Dengan peningkatan jumlah penyakit dan pasien
yang semakin bertambah maka untuk sekarang ini mustahil suatu sistem radiologi
masih menggunakan sistem konvensional (manual). Bersyukurlah dewasa ini telah
dikembangkan suatu sistem yang dikhususkan untuk bidang radiologi yaitu Radiologi
Information system (RIS). Salah satu unsur Radiologi Information System adalah
PACS (Picture Archiving Commucation System).
Meskipun sistem informasi radiologi bukanlah suatu hal yang baru namun
masih ada pihak yang kebingungan mengenai sistem tersebut. Oleh karena itu dalam
makalah ini akan dibahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Sistem Informasi
Radiologi / Radiologi Information system (RIS) mulai dari pengertian RIS,
bagaimana sistem itu bekerja sampai mengenai unsur-unsur yang ada di dalamya.
4
Diharapkan bisa menambah pengetahuan pembaca mengenai Sistem Informasi
Radiologi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara mengembangkan sistem informasi Radiologi ?
2. Apa itu PACS dalam sistem informasi radiologi ?
3. Apa itu DICOM dalam sistem informasi radiologi ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui cara mengembangkan sistem informasi Radiologi
2. Untuk mengetahui apa itu PACS dalam sistem informasi radiologi
3. Untuk mengetahui apa itu DICOM dalam sistem informasi radiologi
5
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Informasi Radiologi
Sistem Informasi Radiologi atau biasa disebut dengan Radiology Information
System (RIS) adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mendukung alur kerja
operasional dan analisis bisnis dalam departemen radiologi (The Royal Collage of
Radiologist, 2008:3). Radiology Information System juga digunakan sebagai tempat
penyimpanan data pasien, laporan dan berkontribusi dalam pencatatan data pasien
secara elektronik. RIS membuat informasi dengan segera, mudah untuk diakses,
mudah untuk melakukan pembaharuan, informasi juga selalu tersedia bagi mereka
yang membutuhkanya. RIS membantu pengelolaan fungsi administrasi dan
operasional mengenai radiologi seperti permintaan pemesanan, pendaftaran,
pemeriksaan, hasil laporan, daftar persiapanpekerjaan, hasil persetujuan, penjadwalan
dan sistem manajemen.
RIS bukanlah sebuah sistem yang bersifat otonom melainkan terintegrasi
dengan sistem lainnya secara integrasi untuk prosedur medis. Ada dua pertukaran
utama dalam proses RIS dengan sistem lainnya seperti RIS harus berkomunikasi
dengan PACS (Picture Archiving and Communication System) yang bertanggung
jawab untuk prosedur internal yang dilakukan ke dalam departemen radiologi. Proses
tersebut merupakan proses utama dalam pengambilan, pengolahan dan pengarsipan
berkas pencitraan medis. RIS harus mengumpulkan informasi ini dengan tepat agar
dapat menghasilkan laporan akhir medis untuk setiap pemeriksaan. RIS juga
terintegrasi dengan HIS (Hospital Information System) untuk melakukan
pengambilan informasi pasien, memperbaharui catatan medis untuk pengujian baru
dan proses prosedur penagihan biaya yang sesuai ([Link], 2005:5457).
RIS adalah penggerak alur kerja departemen radiologi. RIS bertanggung jawab
untuk pemesanan penjadwalan, membagikan informasi klinis yang dibutuhkan dalam
menbuat pemesanan penjadwalan dan menyediakan informasi klinis untuk
departemen lain yang memerlukannya, mempersiapkan worklist atau daftar kerja
6
modality, dan menyediakan informasi data yang dibutuhkan PACS untuk
menjalankan perannya.
Sistem Informasi Radiologi (RIS) adalah sistem perangkat lunak untuk
mengelola citra medis dan data terkait. RIS sangat berguna untuk melacak transaksi
setiap citra radiologi dan administrasi, digunakan bersama dengan Picture Archiving
and Communication System (PACS) untuk mengelola arsip gambar, dan
penyimpanan laporan hasil pemeriksaan.
RIS dan PACS bekerja sama untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan
dokter radiologi dalam melakukan pembacaan hasil pencitraan. Selain itu RIS juga
menyediakan data yang diperlukan untuk mendukung pembuatan laporan hasil
pembacaan yang dilakukan dokter radiologi.
RIS tersebut berupa aplikasi digitalisasi radiologi yang dikembangkan untuk
kebutuhan tersebut. RIS berbasis web, dan sentralisasi sistemnya menjadikan instalasi
dan perawatan RIS lebih sederhana. RIS juga tersedia pada platform berbasis Android
dan didesain user-friendly untuk menghadirkan kenyamanan bagi pengguna maupun
pasien. Terdiri dari multi modality PACS, pengarsipan citra radiologi untuk berbagai
modalitas dapat dilakukan.
Aplikasi tersebut dapat meningkatkan efektivitas operasional dengan
menghemat biaya pengadaan film dan/atau bahan kimia (disposal) sekaligus
mengurangi area-area internal yang digunakan sebagai penyimpanan hard copy citra
karena berbasis digital. Tanpa kaset film, staf tidak perlu lagi menangani hard copy
citra, dan menghemat waktu dari penanganan isu seperti hard copy yang hilang.
2.1.1 Fungsi RIS
RIS berasal dari hasil analisis secara rinci alur kerja setiap harinya di
departemen radiologi dan solusi yang sudah dilakukan dengan cara survei secara
menyeluruh di setiap bagiannya ([Link], 2005:5457). Layanan ini didukung oleh
4 fungsi antara lainnya:
a. Pasien mengunjungi administrasi untuk melakukan pendaftaran.
b. Pasien yang akan melakukan pemeriksaan dapat melakukan penjadwalan.
7
c. Laporan pemeriksaan radiologi pasien.
d. Mengalokasikan dokumen diagnostik untuk sesuai dengan permintaan.
Selama proses pelaksanaan masing-masing fungsi mekanisme yang tepat
untuk memicu adanya otentikasi dan otorisasi pengguna, pengawasan urutan kegiatan
dan melacak tindakan pengguna. Ada dua kelompok yang berpatisipasi dalam RIS
yaitu :
a. Eksternal, dokter pengirim akan melakukan permintaan pemeriksaan,
pencitraan dan menunggu hasil pemeriksaan radiologi.
b. Internal, petugas radiologi atau dokter radiologi akan menjalankan permintaan
pemeriksaan dan merespon sesuai dengan dokumen diagnostik yang dihasilkan.
2.1.2 Tahapan Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan sistem informasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah
satunya dengan menggunakan System Development Life Cycle (SDLC). Metode
SDLC memiliki beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Requirement Analysis
2. Design Analysis
3. Implementation
4. Testing
5. Evolution (pemeliharaan dan penambahan)
1. Requiremen
Analysis untuk mengetahui sistem seperti apa yang dibutuhkan pengguna dan
mengapa sistem informasi tersebut harus dibangun dalam suatu organisasi.
Dan untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan dari pengguna yang harus ada
dalam sistem informasi yang akan dibangun
2. Design Analysis
proses ini untuk memberikan gambaran secara umum kepada pengguna sistem
informasi mengenai sistem informasi yang akan dibangun. Tahapan ini
memiliki dua tujuan utama yaitu: • Memberikan gambaran secara umum
tentang kebutuhan informasi kepada pemakai sistem atau pengguna atau lebih
dikenal dengan istilah perancangan sistem secara umum. • Memberikan
gambaran secara jelas dan rancang bangun yang lengkap kepada development
tim (programmer, database analysis, dan lain-lain) atau lebih dikenal dengan
istilah perancangan sistem secara terinci.
3. Implementation atau implementasi
8
merupakan tahapan pembuatan atau pengembangan sistem informasi sesuai
rancangan yang sudah dibuat. Dalam tahap ini yang biasa dilakukan adalah
melakukan proses coding yang dilakukan oleh development tim.
4. Testing
Tahap testing dibutuhkan untuk mengetahui kinerja dari sistem informasi
yang sudah dibuat oleh tim development. Yang diuji meliputi kualitas
software, kemudian melakukan pengujian ke pengguna apakah sistem sudah
berjalan dengan lancer dan dapat menerima input dan mengeluarkan output
yang sesuai harapan.
5. Evolution
Ditahapan ini dilakukan proses maintenance software. Maintenance harus
dilakukan karena beberapa alas an yaitu: • Sistem mengalami kegagalan
dalam beroperasi yang dulunya belum terdetksi sehingga kesalahan-kesalahan
tersebut harus diperbaiki • Sistem mengalami perubahan-perubahan atau
penambahan fitur karena permintaan dari pengguna untuk memenuhi suatu
kondisi yang baru. • Sistem mengalami perubahan karena adanya factor
perubahan lingkungan luar organisasi, sehingga sistem harus dikaji ulang agar
sistem sesuai dengan perubahan eksternal organisasi tersebut.
2.2 PACS
PACS (Picture Archiving and Communication System) adalah filmless dan
metode komputerisasi komunikasi dan menyimpan data gambar medis seperti
computed radiographic, digital radiographic, computed tomographic, ultrasound,
fluoroscopic, magnetic resonance dan foto X-ray (Tong, dkk, 2009). Selama lebih
dari 100 tahun, effisiensi praktek radiologi telah dibatasi oleh film dan kegiatan
penanganan film, dengan adanya PACS memungkinkan gambar radiologi dapat
dilihat secara virtual atau elektronik dimanapun pada computer server ataupun
computer personal biasa (Dreyer, dkk, 2006).
Akusisi citra adalah titik awal data citra masuk ke PACS dari hasil pemeriksaan
citra yang dilakukan oleh berbagai modalitas citra digital (seperti CT - Computed
Tomography, MR - Magnetic Resonance, PET - Positron Emission Tomography, US
- Ultrasound, XA - XRay Angiography, dll).
9
Terdapat 2 metode untuk melakukan akusisi citra digital, yaitu direct capture,
dan frame grabbing. Dengan metode direct capture, antarmuka direct digital akan
menangkap dan mentransmisikan data citra dari modalitas berupa data spasial dan bit
atau gray scale dengan resolusi penuh, dan ditampilkan ke monitor. Pada metode
frame-grabbing, seperti pada proses cetak citra ke film, kualitas citra dibatasi oleh
proses hanya sampai pada resolusi 8 bits (atau 256 gray values). Sebagaimana telah
disebutkan di atas, akusisi citra dapat dilakukan dengan CT atau modality lainnya.
Saat citra telah diakusisi, PACS akan mengelolanya dengan tepat untuk
memastikan penyimpanan, pengambilan, dan pengiriman seluruh citra dapat
dilakukan tanpa kesalahan. Selain itu PACS akan menjamin penyimpanan data citra
jangka panjang, dan dapat digunakan kapan saja saat dibutuhkan, secara real time,
terutama untuk interpretasi citra. Inti PACS terdiri dari: sistem manajemen database
relasional (seperti Oracle, MS-SQL, Sybase), media penyimpan (seperti
RAID, Jukebox), software pengendali (image manager), dan antarmuka RIS.
Sistem manajemen database adalah jantung dari PACS. Relasi antara citra dan
lokasi penyimpanan disimpan dan dikelola di dalam database, berikut dengan semua
data terkait yang dibutuhkan untuk pemanfaatan citra. Sistem manajemen database
harus dapat menyediakan data citra berdasarkan pada pencarian pasien atau
pemeriksaan tertentu saat diminta (to be queried) oleh RIS atau sistem lainnya.
Untuk menjamin kompatibilitas komunikasi antar sistem yang berbeda ini,
digunakan standar komunikasi yang didefinisikan oleh standar Digital Imaging and
Coomunications in Medicine (DICOM). Selain itu, dibutuhkan pula upaya untuk
dapat mengelola penyimpanan data citra dalam ukuran yang besar (biasanya
menggunakan teknologi RAID), dan menjamin penyimpanan data citra dalam jangka
waktu yang lama sesuai dengan regulasi penyimpanan serta pengembalian data saat
terjadi bencana (disaster recovery).
Workstation adalah tempat dimana fisikawan dan praktisi klinis melihat citra
dan informasi hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Terdapat 2 klasifikasi
workstation, yaitu diagnostik dan review. Perbedaan antara 2 klasifikasi wokstation
ini ada pada resolusi dan fungsionalitas. Workstation diagnostik adalah tipe
10
wokstation yang digunakan oleh ahli radiologi untuk melakukan interpretasi
pemeriksaan secara primer. Workstation
tipe ini memiliki resolusi dan brightness tertinggi dan berisi tingkat fungsionalitas
tertinggi. Secara historis, mereka didedikasikan untuk tugas dengan aplikasi yang
dijalankan secara lokal.
Tipe workstation berikutnya adalah workstation klinikal review yang digunakan
oleh praktisi klinis untuk melakukan review citra. Workstation ini tidak sebagus
workstation diagnostik, baik dari segi hardware (resolusi) ataupun fungsionalitas.
Area ini mendapatkan keuntungan terbanyak dari pemanfaatan workstation yang
berbasis web, sehingga akses ke citra dapat didistribusikan lebih luas (bahkan dari
luar lingkungan praktik).
Dengan diterapkannya PACS terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh seperti
mengurangi penggunaan film (Filmless), data dapat diakses kapan saja dan dimana
saja, waktu pelayanan yang lebih singkat, data tetap dalam bentuk digital, waktu
penyimpanan lebih lama, tidak memerlukan ruang arsip (Data disimpan dalam
server), data yang diakses klien (dokter pengirim) dan server (radiografer dan
radiologist) dapat berupa data real time dengan bentuk 2D, 3D, sampai dengan CINE,
data dapat diakses dalam waktu yang bersamaan oleh lebih dari satu orang, serta data
dan riwayat pemeriksaan pasien diarsip dalam satu file induk dan dapat diakses dalam
satu waktu.
Dibalik banyaknya manfaatnya PACS terdapat kekurangan yang terjadi seperti
bergantung pada stabilitas koneksi, ketersediaan Sistem penunjang terkait (HIS dan
RIS), invesment cost yang lumayan tinggi dibanding dengan sistem manual, bentuk
data digital memungkinkan data mengalami kondisi “corrupt” akibat kesalahan
sistem, serta sistem penyimpanan pada server akan mengakibatkan data bergantung
pada kondisi storage.
2.2.1 Komponen PACS
PACS (Picture Archiving and Communication System) terdapat 3 komponen yang
digunakan yaitu :
11
1. Image Acquisition / Modality
Image Acquisition / Modality merupakan sistem atau peralatan penghasil
gambar yang akan mengirim gambar ke PACS, misalnya CR,CT Scan,MRI
atau USG dan lain lain
2. PACS Core Application
Merupakan likasi utama yang mengatur operasi dari sistem PACS (Workflow
manager, Archiving, Database, System Configuration, User Profile dll).
Sistem inilah yang berperan dalam penerimaan gambar, pengaturan
penyimpanan, distribusi gambar dan komunikasi ke modality atau sistem
lainnya
3. Viewing / Reading Station
Merupakan perangkat yang akan digunakan untuk melihat image yang telah
disimpan dalam PACS. Perangkat / Workstation Diagnostic yang biasa
digunakan oleh radiologi dan Workstation untuk user di poli atau ruangan .
2.3 DICOM
DICOM (Digital Imaging And Communication In Medicine) adalah standar
industri untuk radiologis transferral dari gambar dan informasi medis lainnya antara
komputer (Huang, 2004). Setelah menggunakan pola sistem terbuka Interconnection
of International Standar Organization, DICOM memungkinkan komunikasi digital
antara peralatan diagnostik dan terapeutik dan sistem dari berbagai produsen.
Dengan standar internasional ini, para vendor dan para praktisi medis akan
lebih mudah dalam melakukan pertukaran informasi dalam hal medis tanpa
mengalami kendala bahasa. Beberapa keuntungan yang didapat dari pemanfaatan
DICOM antara lain :
1. Mengurangi kesulitan koneksi dengan berbagai peralatan.
2. Karena DICOM adalah standar yang berlaku secara internasional, maka tidak
diperlukan lagi standar yang berbeda untuk tiap peralatan medis.
3. Manajemen pasien yang lebih baik.
12
4. Citra medis pasien dapat diproses dengan menggunakan piranti lunak yang
banyak tersedia.
5. Adanya kemudahan untuk pengarsipan citra medis
2.3.1 Sejarah DICOM
DICOM terlahir dari perkumpulan anggota American College Of Cardiology
(ACC), American College Of Radiology (ACR), American Society of
Echocardiography (ASE), European Society of Cardiology (ESC), dan American
Society of Nuclear Cardiology (ASNC) bersama dengan perusahaan yang membuat
peralatan medis (anggota dari National Electrical Manufacturer’s Association –
NEMA). Percobaan pertama DICOM sebenarnya dimulai pada tahun 1984, dan
secara resmi disebut sebagai standar ACR/NEMA. Sekarang, DICOM telah
diperkenalkan oleh organisasi standar dunia diluar Cardiologi dan Radiologi.
Contohnya, DICOM telah diadopsi oleh Committee European de Normalization
(CEN TC 251) dibawah nama MEDICOM dan oleh Asosiasi Japan Industry and
Radiation Apparatus (JIRA).
Dalam usahanya untuk mengembangkan sebuah standar yang berarti pengguna
peralatan citra medis (seperti tomography, magnetic resonance imaging, nuckear
medicine, dan ultrasound) dapat menjembatani tampilan atau peralatan lain dengan
mesin ini, ACR dan NEMA membentuk sebuah komite bersama pada awal tahun
1983. misi dari group ini, NEMA, adalah untuk mencari atau mengembangkan
antarmuka antara peralatan citra medis dan apapun yang ingin dikoneksikan oleh
usesr. Untuk mengkoneksikan perangkat keras dan standar yang akan dikembangkan
maka diikutkan sebuah daftar data elemen yang digunakan untuk pencitraan dan
interpretasi citra medis secara benar.
Setelah 2 tahun kerja, versi pertama dari standar, ACR-NEMA 300-1985 (yang
juga disebut ACR-NEMA Versi 1.0) didistribusikan pada tahun 1985 pada pertemuan
tahunan RSNA dan dipublikasikan oleh NEMA. Sebagaimana halnya terbitan
pertama, banyak kesalahan ditemukan dan perbaikan banyak diusulkan. Komite
menunjuk Working Group (WG) VI untuk memperbaiki standar setelah awal
13
diluncurkan. WG ini menjawab banyak pertanyaan dari developer terkenal dan mulai
bekerja pada perubahan untuk memperbaiki standar. Pada 1998, ACRNEMA 300-
1988 (atau ACR-NEMA Versi 2.0) diluncurkan. Standar ini secara substansial masih
menggunakan spesifikasi perangkat keras yang tidak jauh berbeda dari versi
sebelumnya, namun ditambahkan banyak data elemen dan perbaikan sejumlah
kerusakan dan ketidak konsistenan.
2.3.2 Ruang Lingkup DICOM
DICOM ada untuk menciptakan dan menjaga standar internasional untuk
komunikasi medis yang menggunakan citra medis dan data yang berhubungan di
dalamnya. Tujuan dari DICOM sendiri adalah untuk mencapai kompatibilitas dan
mengembangkan efisiensi kinerja antara sistem pencitraan dan sistem informasi
lainnya pada lingkungan medis di dunia. DICOM adalah sebuah standar yang
berkerja sama. Konektifitas dapat berjalan karena verdor mau untuk bekerja sama
selama masa ujicoba selama demonstrasi pada public, melalui internet dan tes secara
internal. Setiap vendor diagnostik umum citra medis di dunia telah memiliki standar
yang disatukan pada disain produknya masing-masing dan sebagian besar secara aktif
berpartisipasi pada pengembangan standar tersebut.
DICOM sekarang atau akan digunakan secara nyata pada setiap profesi medis
yang menggunakan citra medis pada dunia industri kesehatan. Hal ini termasuk
cardiology, dentistry, endoscopy, mammography, opthamology, orthopedics,
pathology, pediatrics, radiation therapy, radiology, surgery, dan lain-lain. DICOM
bahkan digunakan dalam dunia kedokteran hewan saat ini.
BAB III
14
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah yang kami susun yaitu Radiology Information System
(RIS) adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mendukung alur kerja operasional
dan analisis bisnis dalam departemen [Link] RIS membantu pengelolaan
fungsi administrasi dan operasional mengenai radiologi seperti permintaan
pemesanan, pendaftaran, pemeriksaan, hasil laporan, daftar persiapanpekerjaan, hasil
persetujuan, penjadwalan dan sistem manajemen.
PACS dan RIS merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasional
pelayanan radiologi seharihari. PACS utamanya merupakan sistem pengarsipan dan
distribusi citra medis, yang fungsinya dapat diperluas dari tahap akuisisi citra oleh
modalitas hingga distribusi gambar jarak jauh melalui teleradiologi. Sementara RIS
lebih berperan dalam pengaturan alur kerja layanan radiologi, dimulai dari
pendaftaran pasien, manajemen pemeriksaan pasien, pencatatan dan penyimpanan
hasil laporan radiologi, hingga penagihan dan penjadwalan pemeriksaan. Dalam
implementasi PACS dan RIS pada suatu layanan kesehatan, banyak rintangan dan
tantangan yang akan dihadapi. Hambatan dan tantangan tersebut dapat berasal dari
faktor sumber daya manusia itu sendiri, piranti lunak, piranti keras, maupun faktor-
faktor lainnya. Namun, seluruh hambatan dan tantangan itu akan dapat diatasi apabila
dalam implementasi PACS dan RIS melibatkan seluruh komponen radiologi dan
rumah sakit. Dalam hal ini, teknologi informatika radiologi dirahapkan memberikan
transformasi layanan kesehatan dengan mempermudah, mempersingkat, dan
menyederhanakan operasional radiologi.
15
DAFTAR PUSTAKA
16