0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan7 halaman

Rencana Studi Doktor Hukum Perdata

Proposal rencana studi ini membahas rencana perkuliahan dan penelitian disertasi untuk program doktor di bidang hukum. Rencana perkuliahan meliputi mata kuliah selama enam semester dengan total 48 sks. Topik penelitian disertasi adalah perlindungan indikasi geografis di Indonesia dengan pendekatan keindonesiaan serta dampak promosi pariwisata bagi potensi indikasi geografis nasional.

Diunggah oleh

rian saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan7 halaman

Rencana Studi Doktor Hukum Perdata

Proposal rencana studi ini membahas rencana perkuliahan dan penelitian disertasi untuk program doktor di bidang hukum. Rencana perkuliahan meliputi mata kuliah selama enam semester dengan total 48 sks. Topik penelitian disertasi adalah perlindungan indikasi geografis di Indonesia dengan pendekatan keindonesiaan serta dampak promosi pariwisata bagi potensi indikasi geografis nasional.

Diunggah oleh

rian saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL RENCANA STUDI

By: Rian Saputra

A. Rencana Perkuliahan
Saat ini saya tercatat sebagai Mahasiswa Baru (S3) yang baru diterima di Program
Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Saya mengambil
konsentrasi bidang Hukum Perdata karena minat saya ketika kuliah Strata-1 (S1) dan
Pascasarjana Magister Hukum (S2) adalah megenai Hukum Bisnis. Judul yang saya angkat
dalam penulisan skripsi adalah Analisis Yuridis Kekuatan Hukum Surat Penyerahan Terhadap
Penguasaan Hak Atas Tanah. Dalam skripsi tersebut, saya menggabungkan aspek Hukum
Agraria, Hukum Perdata dan Hukum Administrasi Negara untuk menguji kekuatan hukum
surat penyerahan dan relasinya terhadap penguasaan seseorang atas tanah. Sedangkan judul
yang saya angkat dalam penulisan Tesis adalah Inventarisasi Potensi Indikasi Geografis
Dalam Upaya Memperkuat Sistem Perlindungan Hukum Terhadap Indikasi Geografis Di
Indonesia (Studi di Provinsi Riau). Tesis tersebut menjelaskan bahwa kurangnya pemahaman
masyarakat dan stakeholder di Provinsi Riau tentang konsep perlindungan Indikasi Geografis
yang sebenarnya mampu meningkatkan ekonomi masyrakat melalui berbagai macam
pengetahuan tradisional masyarakat setempat yang dapat dielaborasikan menjadi industri
kreatif, serta belum adanya politik hukum daerah yang berorientasi perlindungan dan
pengembangan potensi Indikasi Geografis guna meningkatkan ekonomi masyarakat dan
daerah menyebabkan banyak potensi-potensi IG di Daerah yang merupakan Produk
Unggulan Daerah tidak didaftarkan. Hal tersebut disebabkan belum dilakukannya sosialisasi
yang merata terkait pentingnya perlindungan IG dan manfaat perlindunganya oleh Direktorat
Jenderal Kekayaan Intelektual.. Selain itu, saya juga mempunyai minat yang lebih untuk
membahas, menganalisis, serta melakukan riset guna menemukan upaya solutif terhadap
berbagai isu hukum yang ada kaitannya dengan Indikasi Geografis, Perlindungan
Pengetahuan Tradisional dan Kekayaan Sumber Daya Hayati (Biodiversity) di Indonesia.
Rencana perkuliahan yang akan saya tempuh selama menjadi Mahasiswa Aktif
Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret adalah sebanyak
48 sks yang terbagi dalam 6 (enam) semester, dengan rincian sebagai berikut:
Semester I
No. Kode Mata Kuliah SKS
1. HK811 Filsafat Ilmu 2
2. HK812 Teori Hukum 2
3. HK813 Metodologi Penelitian 2
4. HK814 Hukum Dan Ekonomi 2
5. HK815 Hukum Dan Globalisasi 2
JUMLAH 10

Semester II
No. Kode Mata Kuliah SKS
1. HK821 Hukum Dan Teknologi Informasi 2
2. HK822 Hukum Konstitusi Dan Ham 2
3. HK823 Hukum Dan Perubahan Sosial 2
4. HK824 Hukum Pidana Ekonomi 2
5. HK825 Sistem Peradilan di Indonesia 2
JUMLAH 10

Semester III
No. Kode Mata Kuliah SKS
1. HK831 Mata Kuliah Penunjang Disertasi 2
2. HK841 Ujian Komprehensif 2
3. HK851 Seminar Proposal 2
JUMLAH 6

Semester V
No. Kode Mata Kuliah SKS
1. HK861 Seminar Hasil Penelitian 2
2. HK871 Ujian Kelayakan 2
JUMLAH 28

Semester VI
No. Kode Mata Kuliah SKS
6. HK8810 Ujian Tertutup 9
7. HK8910 Disertasi/Ujian Terbuka 9
JUMLAH 28

B. Rencana Penulisan Disertasi


Saya sangat tertarik untuk mempelajari konsep perlindungan Indikasi Geografis
melalui pendekatan ke Indonesiaan, melihat sampai dengan saat ini perbincangan
mengenai perlindungan Indikasi Geografis (IG) masih menjadi isu yang menarik dalam
diskursus mengenai Kekayaan Intelektual (KI) global. Hal tersebut bukan tanpa alasan
mengingat ruang lingkup dan manfaat perlindungan IG sangat luas, bahkan sampai kepada
perlindungan pengetahuan dan kebudayaan tradisional yang tentunya sangat
menguntungkan untuk negara-negara dengan keberagaman budaya seperti Indonesia.
Ruang lingkup dan manfaat perlindungan IG sendiri diantaranya:
1. Perlindungan terhadap Indikasi Geografis dapat membantu mempromosikan
pembangunan pedesaan dan regional.
2. Mendukung industri kreatif yang baru muncul.
3. membantu melindungi ekspresi budaya tradisional
4. Memastikan bahwa eksploitasi pengetahuan tradisional akan memberikan pengakuan
terhadap kepercayaan dan praktik sakral masyarakat tradisional
5. Melindungi warisan budaya
6. Mempromosikan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan
7. Serta secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan pariwisata.
Melihat besarnya ruang lingkup dan manfaat perindungan IG sudah seharusnya
metode dan konsep perlindunganya juga harus mampu mengakomodir kepentingan yang
besar sebagaimana hal tersebut di atas. Mengingat besarnya potensi-potensi IG yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia juga guna memperlihatkan eksitensi dan kedaulatan negara
dalam melindungi keanekaragaman produk nasional dan pengetahuan tradisional yang
dimiliki. Beberapa contoh produk Indikasi Geografis diantaranya ialah: Ubi Cilembu,
Salak Pondoh, Kopi Arabika Kintamani Bali, dan lain sebagainya. Selain itu ada banyak
pula produk IG yang dihasilkan berdasarkan kebudayaan dan pengetahuan tradisional
(traditional knowledge) setempat, baik berbentuk produk barang ataupun kesenian lokal.
Seperti, Tenun Gringsing Bali, Mebel Ukir Jepara, Tenun Sutera Mandar dan lain
sebagainya.
Sejarah sistem perlindungan indikasi geografis di dunia pertama kali diperkenalkan
Perancis pada awal abad ke-20, melalui pemberian Appellation d'Origine Contrôlée
(AOC) pada produk lokal yang memiliki kriteria geografis tertentu dan kriteria khusus
lainnya, misalnya keju Roquefort yang merupakan keju susu domba dari trah Lacaune,
Manech, dan keturunan Basco-Bearnaise. Hanya keju yang disimpan dalam gua-gua
Combalou di wilayah Roqueforty-surSoulzon saja yang boleh diberi nama Roquefort. Di
dunia internasional sejarah pengakuan IG pertama kali diatur dalam Konvensi Paris 1883.
Konvensi ini memperkenalkan langkah-langkah protektif pada Border of Measures dan
perlindungan terhadap persaingan usaha tidak sehat (unfair competition). Kemudian
pengaturan IG diatur lebih lanjut dalam Madrid Agreement 1891 False Indication and
Border Of Measures, kemudian juga diatur di dalam Perjanjian Lisabon tahun 1958 yang
mengatur registrasi internasional atas Indikasi Asal. yang terakhir IG diatur dalam Trade
Related Aspects of Intellectual Property Rights (selanjutnya disebut TRIPs) yang
ditandatangani pada Putaran Uruguay General Agreement On Tarifs and Trade
(selanjutnya disebut GATT) tahun 1994 yang juga menawarkan kesempatan yang sangat
luas untuk perlindungan internasional bagi IG.
Namun beberapa konvensi internasional tersebut hanya memberikan perlindungan
terhadap IG dalam konteks perdagangan internasional, dengan tujuan diharapkan tidak
adanya pemalsuan terhadap barang dan asal barang (tanda pengenal barang) yang dapat
merugikan produsen ataupun konsumen dari produk IG tersebut. Melalui penelitian ini
penulis ingin lebih mengeksplorasi lebih mendalam terkait pentingnya perlindungan IG
dalam kaitanya sebagai kekayaan suatu negara (dalam hal ini Indonesia) yang
mencerminkan kebesaran dan kedaulatan dari negara tersebut. Terlebih dalam beberapa
tahun terakhir, Pemerintah Indonesia dengan giat mempromosikan pariwisata dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Melalui Peraturan Pemerintah tersebut Pemerintah
memberikan kemudahan bagi para wisatawan dari luar negeri untuk dapat tinggal di
Indonesia dalam waktu yang cukup lama diistilahkan dengan memberikan Visa
Kunjungan. Tentunya ada dampak negatif dari promosi pariwisata tersebut, antara lain
adalah:
1. Masuknya peneliti asing yang dikhawatirkan meneliti potensi indikasi geografis
Indonesia tanpa menggunakan izin penelitian.
2. Hasil penelitian tersebut bisa saja didaftarkan oleh peneliti tersebut, tentunya bila
terjadi sangat merugikan Indonesia.
Sejalan dengan beberapa konvensi intenasional yang penulis sebutkan sebelumnya,
perlindungan terhadap IG di Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (selanjutnya disebut dengan UU
20/2016) juga demikian sebatas melindungi IG sebagai pengenal atau tanda asal suatu
barang, hal tersebut dapat kita kita ketahui melalui Pasal 1 Ayat (6) UU tersebut, yang
mendefenisikan sebagai berikut:
“IG adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang
dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor
alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan
reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk
yang dihasilkan”.
Maka menurut hemat penulis paradigma tersebut harus diubah agar perlindungan
terhadap IG ataupun potensi IG milik Indonesia dapat dilihat sebagai kekayaan milik
negara/bangsa yang dilindungi berdasarkan kecintaan dan kebanggan terhadap bangsa
tersebut, dan bukan hanya sebagai tanda atau pengenal terhadap produk/barang yang berasal
dari suatu daerah atau negara, maka saya tertarik untuk meneliti dalam bentuk Disertasi
dengan judul KONSEPTUALISASI PERLINDUNGAN INDIKASI GEOGRAFIS
MELALUI PENDEKATAN KE INDONESIAAN. Adapun rumusan masalahnya
adalah:
1. Apakah perlindungan terhadap Indikasi Geografis di Indonesia telah menggunakan
pendekatan ke Indonesiaan?
2. Mengapa perlindungan terhadap Indikasi Geografis di Indonesia harus menggunakan
pendekatan ke Indonesiaan?
3. Bagaimana konsep perlindungan Indikasi Geografis di Indonesia yang menggunakan
pendekatan ke Indonesiaan?
Penulisan Disertasi ini akan berada di bawah ampuan Promotor Prof. Dr. I Gusti Ayu
Ketut Rachmi H, S.H., M.M. dan Co-Promotor Dr. Emmy Latifah., S.H., M.H.
C. Aktivitas Eksternal Perkuliahan
Selain aktif mengikuti kegiatan perkuliahan di Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas
Hukum Universitas Sebelas Maret, saya juga aktif mengikuti kegiatan di luar (eksternal)
perkuliahan yang sangat mendukung saya dalam mempersiapkan diri menjadi seorang
akademisi maupun praktisi. Saat ini saya tercatat aktif sebagai Ketua Umum Ikatan
Keluarga Pelajar Mahasiswa Riau (IKPMR) di Surakarta. Saat ini IKPMR tengah
menjalin kerjasama dengan Provinsi Riau dan Kota Solo dalam upaya turut serta
memperkenalkan kebudayaan dan karakteristik masyarakat di Provinsi Riau dalam banyak
kegiatan baik yang bertaraf lokal, ataupun nasional selain itu beberapa sumbangsih yang
kami lakukan terhadap daerah diantaranya turut serta memberikan saran dan masukan sebagai
bentuk kepedulian dalam rangka membangun Provinsi Riau yang maju dan terbilang. Selain
itu saya berencana akan melakukan korespondensi dengan majalah, journal atau berita
lokal/nasional/internasional untuk membagikan pengalaman, ide/gagasasan saya tentang
perlindungan Indikasi Geografis, pengetahuaan tradisional, serta Biodiversity
(Keanekaragaman hayati). Jika tidak, saya akan menulis sebuah buku tentang politik hukum
perlindungan Indikasi Geografis, pengetahuaan tradisional, serta Biodiversity
(Keanekaragaman hayati). Menurut saya, ini akan menjadi referensi yang bagus bagi
masyarakat Indonesia untuk mengetahui peluang-peluang ekonomi alternatif guna
menigkatkan perekonomian daerah.
Selain itu, saya juga masih aktif mengikuti kegiatan di lembaga yang saya ikuti
semenjak kuliah Strata-1 (S1) di Universitas Slamet Riyadi. Lembaga Konsultasi dan
Bantuan Hukum (LKBH) UNISRI Surakarta adalah lembaga Konsultan dan Pembela
masyarakat kurang mampu di POSBAKUM PA dan PN Kerasidenan Surakarta.

D. Implementasi Hasil Studi di Masyarakat


Setelah lulus saya memiliki keinginan untuk melanjutkan perjuangan semasa menjadi
mahasiswa S1 dan S2. Saya ingin mendirikan Lembaga Bantuan Hukum untuk memberikan
bantuan hukum kepada masyarakat yang kurang mampu demi mewujudkan keadilan sosial
bagi dunia hukum di Indonesia dan khususnya di daerah asal saya. Saya ingin menunjukkan
bahwa Indonesia adalah negara hukum yang tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah, untuk
tujuan mencapai sebuah keadilan. Untuk mencapai hal ini, saya telah banyak mengikuti
kegiatan dan pelatihan terkait dengan dunia praktik hukum seperti Karya latihan bantuan
hukum. Saya berharap hal-hal tersebut dapat membantu saya untuk mencapai tujuan di atas.
Tidak cukup sampai itu, saya juga ingin menjadi seorang tenaga pengajar di Universitas
khususnya di bidang hukum. Saya beranggapan dengan dengan mengajar, saya dapat
membangun daerah asal saya khususnya melalui sumber daya manusia generasi muda, yang
pada masa nya akan menjadi praktisi maupun akademisi, yang siap memperjuangkan nilai
keadilan serta memberikan kemanfaatan tanpa melanggar konstitusi. Tentu saja dalam
mencapai tujuan itu banyak hal yang harus saya lakukan, salah satunya melanjutkan studi
doktoral terlebih dahulu.
Menurut saya, untuk memajukan daerah tidak hanya cukup menjadi seorang akademisi
atau praktisi saja, namun harus turut serta di dalam kegiatan-kegiatan pengambilan
keputusan, sehingga mau tak mau saya harus masuk kedalam bagian unsur pemerintahan
pusat dan daerah. Oleh karenanya jika saya dikemudian hari telah sukses menjadi seorang
akademisi dan praktis, maka kewajiban untuk saya turut serta dalam salah satu dari bagian
Pemerintahan Daerah. Terkait hal ini saya akan memilih menjadi bagian dari seorang Bupati
dan Gubernur. Saya kelak berharap dapat menjadi Bupati dan Gubernur yang berpengalaman
tidak hanya dibagian teoritis saja tapi juga praktik, dimana ini harus di dukung oleh
pengalaman saya sebagai seorang akademisi dan praktisi hukum. Sehingga kedepannya saya
mampu membuat peraturan daerah ataupun kebijakan, lewat proses yang adil, obyektif dan
transparan, berdasar kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar cita-cita hukum,
yang mendahulukan keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Saya yakin dengan apa yang telah
dan akan saya lakukan dimasa depan dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah asal
saya khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, sehingga kedepannya terwujud keadilan
sosial bagi seluruh Indonesia dan menjadi bangsa yang besar, berdaulat dan mapan di segala
sektor kehidupan.

Saya percaya, bahwa manusia berencana tetapi hasil akhirnya tetap berada di tangan
Allah SWT. Pada akhirnya, saya berharap apa yang saya cita-citakan ini dapat terwujud,
sebab dengan studi di Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas
Maret akan sangat membantu personal development saya dalam hal kemampuan (skill) dan
pemahaman (understanding) di bidang hukum dalam perspektif global. Saya berharap dapat
menjadi seorang akademisi yang dapat mengisi ruang-ruang kosong akademik di bidang
hukum kekayaan intelektual dengan konsentrasi kekayaan intelektual komunal dan pakar
hukum bidang perlindungan kekayaan intelektual komunal yang mampu berkontribusi bagi
kemajuan daerah saya dan negara Indonesia.

Surakarta, 28 Agustus 2020

Rian Saputra, S.H., M.H.

Anda mungkin juga menyukai