0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Menghadapi Mimpi Buruk dan Hari Pertama Sekolah

Teks tersebut merangkum pertemuan antara siswa baru dengan kepala sekolah. Kepala sekolah menjelaskan bahwa siswa-siswa tersebut dikumpulkan untuk mendengarkan pengumuman penting yang akan disampaikan. Siswa baru tersebut merasa bingung dan curiga mengapa mereka dipanggil secara paksa oleh guru-guru.

Diunggah oleh

Naufal Opank
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Menghadapi Mimpi Buruk dan Hari Pertama Sekolah

Teks tersebut merangkum pertemuan antara siswa baru dengan kepala sekolah. Kepala sekolah menjelaskan bahwa siswa-siswa tersebut dikumpulkan untuk mendengarkan pengumuman penting yang akan disampaikan. Siswa baru tersebut merasa bingung dan curiga mengapa mereka dipanggil secara paksa oleh guru-guru.

Diunggah oleh

Naufal Opank
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Keadaan apa yang membuat kita bertindak? Dan kenapa harus bertindak?

Apakah suatu
tindakkan itu tepat? Apakah diam saja termasuk tindakan?

Kurasa tindakan itu seperti suatu arah. Arah yang tidak memperbolehkan kau kembali.
Sebernaya aku sedikit iri dengan game, karena kau bisa melakukan Save sebelum kau
melakukan tindakan di game. Tapi aku mengerti suatu hal, yaitu kalau kau melakukan
sebuah tindakan pasti akan ada timbal baliknya. Yah timbal balik itu merupakan
konsekuensi, entah itu konsekuensi baik ataupun buruk, ini merupakan hal yang mutlak.

Entah kenapa aku memfikirkan ini dalam malam yang sunyi ini, dan entah kenapa aku
belum tertidur. Mungkin jawabanya adalah karena aku takut tertidur. Akhirnya kantuk mulai
menyerangku, tapi sebelum itu aku berdoa semoga aku mendapat mimpi yang indah.

Warna nya orange dan menyala – nyala, dan bisa menerangi kita saat gelap. Tapi saat itu
mulai membesar pasti kita akan takut, yah itu adalah api. Api yang sangat panas dan bisa
membakar apa saja. Kehidupan, dan kenangan pun bisa dia bakar. Aku takut, aku ingin
berlari tapi kenapa tubuhku tidak bisa bergerak. Saat ini aku mulai sadar bahwa ini adalah
mimpi. Ternyata doa ku tidak dikabulkan dan malah mendapat sesuatu yang sangat buruk.
Padahal aku ingin mendapatkan mimpi indah dan melupakan traumaku walaupun itu dalam
mimpi. Aku masih sangat takut dan sangat ingin berlari. Aku..... aku.....

“Hei... bangun.... hei.... bangun ku bilang... apakah kau ingin terlambat ?” Dengan suara
yang lembut dia membangungkan ku.

Aku kenal suara ini, suara yang lembut dan hangat ini. Saat itu baru aku bisa berlari dan
akhirnya keluar dari mimpi itu. Aku langsung terbangun.

“Ha... ha.. ha...” Aku sedikit terengah – engah. Karena melihat mimpi yang sangat buruk
itu. Dan sepertinya dia sadar kalau aku mengalami mimpi buruk.

“Kau tak apa – apa ?, apa kau mengalami mimpi buruk lagi ?” Dia mengatakan dengan
khawatir melihat keadaan ku.

Aku tak tau harus membalas nya bagaimana, tapi aku langsung memeluknya dan
mengatakan, “Kakak.... kak... kak Asih, aku mengalaminya lagi.”

Dia juga membalas pelukan ku dengan lembut dan mengatakan, “Sudah tak apa – apa, itu
sudah lewat, aku ada di sini bermasamu selalu.” Ah.... suara yang hangat ini menenangkan
ku.

“Baiklah sekarang bangun dan segera turun, ibu sudah membuat sarapan untuk kita” Dia
mengatakannya sambil melepas pelukan nya dan bangkit dari duduknya.
Dia adalah orang yang cantik, mata yang bening dan pupil mata nya coklat menambah
nilai dari kecantikan itu, rambutnya yang pendek sepundak dan sedikit berwana coklat juga
menambah keanggunannya. Yah dia adalah Sri Asih atau yang biasa ku panggil Kak Asih.

“Baik kak aku akan segera turun.” Kubalas ucapannya dengan lembut. Setelah
mengatakan itu dia langsung keluar dari kamarku dan turun ke lantai satu. Aku mulai pergi
ke kamar mandi dan bersiap – siap untuk sarapan di lantai bawah.

Setelah selesai aku langsung kebawah dan ternyata aku telah di tunggu oleh kedua
wanita cantik yaitu Kakak perempuanku, dan juga Ibuku. Kakak perempuanku duduk dan
menunggu, sedangkan ibuku memindahkan lauknya ke meja.

“Diamana ayah?, apakah dia shift malam lagi ?” Aku bertanya kepada ibu yang sedang
membawa piring penuh lauk di tangannya.

“Tidak... dia tidak shift malam, tapi tadi pagi – pagi sekali ada kebakaran di daerah utara,
mungkin sekitar jam 3:40 pagi dia berangkat.” Ibu menjawab dan langsung duduk dan
mengambilkan nasi untuk kita berdua.

“Apakah tidak ada tim jaga ?, kenapa selalu dia yang di panggil ?” Aku masih bertanya.

“Yah maklum saja dia itu Wakil Kapten Pemadam kebakaran, dan dia punya motto bahwa
kalau tanggung jawab adalah segala nya, entah itu di rumah maupun di dalam pekerjaan”
Ibu menjawab dan memberikan sepiring nasi kepada ku.

Ibu adalah seseorang yang sangat cantik, dia sama seperti kakak tapi memilik rambut
yang panjang dan kulit yang eksotis. Dia tampak awet muda, kalaupun di berada di samping
kakak dia bahkan seperti kakaknya bukan ibunya.

“Yah kalau itu kita sudahi dulu, yang terpenting kita makan dulu” Ibu memberikan pula
sepiring nasi kepada kakak.

Akhirnya kita makan dan sedikit membicarakan hal – hal yang di persiapkan untuk hari
ini. Yah hari ini adalah hari pertama kali aku masuk SMA. Maka dari itu kita membicarakan
seperti, apa kau sudah siap, jangan lupa mendapatkan teman di hari pertama, jangan lupa
berpenampilan rapi, dan juga sopanlah nanti kepada guru mu.

Setelah saparan, aku dan kakak langsung bersiap – siap pergi ke sekolah. Kakak dan aku
satu sekolah sekarang, walaupun kakak berda di kelas tiga dan aku baru masuk. Aku juga
sempat bertanya beberapa hal seperti, bagaimana kesan pertama mu dulu, apakah
angakatan mu ramah, dan apakah gurunya ada yang Killer.

Tapi setelah semua itu dia hanya menjawab, “tak apa – apa pasti kau bisa melewati
semuanya.” Yah walaupun aku kurang yakin akan hal itu, tapi biar aku coba dulu.
Setelah aku sampai di sekolah, aku dan kakak berpisah. Dia berkata, “ aku harus ke kelas
dulu.” Jadi dia meninggalkan ku, dan aku harus mencari mading sekolah, karena di sana ada
data untuk setiap kelas yang akan di tempati olah siswa kelas 1. Aku berfikir mencari mading
terdekat saja, karena semakin jauh semakin membuang tenaga.

Aku berjalan menuju ke lorong untuk mencari mading. Setelah berjalan agak lama
akhirnya aku menemukannya, tapi aku tidak melihat kertas pengumuman atau data
penempatan siswa. Itu tampak aneh, bukankah itu sangat penting untuk siswa kelas 1.

“Kalau kau mencari daftar penempatan kelas untuk siswa didik baru, itu tidak ada.”
Seseorang mengatakan itu dengan tegas dan memecah konsetrasiku.

Aku langsung menoleh dan bertanya, “Hm... kenapa padahal itu adalah sesuatu yang
penting ?”. Aku memlihat seorang wanita yang berdiri dengan anggun. Dia memakai
kacamata dan memiliki rambut yang pendek, memakai setelan jas dan span dengan warna
yang sama.

“Yah karena sistem di sekolah ini kami meniadakannya dan menggantinya.” Dia
membalas pertanyaanku dan langsung berjalan menuju ke arah ku.

“Yang terpenting adalah semua anak kelas 1 harus berkumpul 30 menit lagi di aula.” Dia
berhenti sekitar 1 meter di depanku dan mengatakan itu.

‘Oh... berarti dia seorang guru.’ Itu yang kupikirkan. “Baik bu, terima kasih atas
informasinya.” Aku membalas dengan hormat dan sopan, dan akupun langsung berlajan
meninggalkan guru itu.

“Oh... tunggu bolehku tau siapa namamu ?” Guru itu bertanya dengan sedikit berteriak,
karena aku sudah berjalan sedikit menjauh.

“Oh... namaku?, tentu.” Aku membalas dengan sedikit berteriak pula.

Setelah itu aku pergi ke kantin untuk membeli minuman dan menunggu. Sekitar 10 menit
aku menunggu, tiba – tiba ada yang menghampiriku. Dia seorang pria yang menggenakan
baju setelan jas hitam.

“Kau ikutlah dengan ku sekarang.” Dengan wajah yang serius dia menatapku. “Kenapa
saya harus mengikuti ada ?” Aku membalasnya dengan sopan dan merasa sedikit curiga.

“Saya adalah guru di sini dan ada pengumuman yang penting untuk mu.” Dengan wajah
yang sama seperti tadi. “Bukannya pengumumannya masih sekitar 20 menit lagi ?” Aku
tetap bertanya karena masih merasa curiga.

“Sudah jangan banyak bertanya dan cepat ikuti saya, agar kau tak terkena masalah dan
tetap aman disini ! ” Dia mengatakan itu dengan sedikit keras.
‘Aku masih merasa belum yakin, tapi kalau dia memang guru dan mengatakan hal seperti
itu, mungkin aku akan mengikutinya. Toh kalau aku dalam masalah, aku bisa
menyelesaikannya dengan cara lari.’ Aku sedikit terdiam dan memikirkan hal tersebut.

“Baiklah saya akan ikut dengan bapak.” setelah aku sedikit berfikir, aku langsung
menjawabnya. Dia diam saja dan langsung berlajan, akupun mengikuti di belakangnya.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kita sampai di depan sebuah ruangan. Ruangan itu
adalah Audiotarium, atau biasanya di pakai untuk mengumumkan sesuatu yang penting.

“Baiklah kita akan masuk.” Dia berkata sambil memegang gagang pintu. “Yah... Baiklah.”
Aku menjawab dengan sedikit ragu, karena curiga.

Dia membuka nya dan masuk. Aku mengikutinya dari belakang seperti tadi. Ternyata
sudah ada beberapa orang di dalamnya. Mereka tampak seperti siswa kelas 1 sepertiku, dan
ada beberapa orang dewasa pula yang menemani mereka.

Tapi anehnya ada seorang pria tua dengan baju batik, celana hitam pekat, dan membawa
sebuah tongkat di tangannya. Dia pun duduk tepat di depan kami semua. Lalu berbicara

“Kurang 1 orang lagi yang belum datang.” Dia berkata seperti itu. Aku bingung kenapa
kita harus berkumpul seperti itu. Sekitar 5 menit aku berada di situ bersama dengan para
siswa kelas 1 dan beberapa guru. Tiba – tiba pintu terbuka dan masuklah 2 orang wanita.
Wanita pertama sepertinya aku kenal, kurasa dia adalah guru tadi yang memberi tahuku
tentang pengumuman yang akan di lakukan di aula. Selanjutnya adalah seorang siswi

Siswi itu bukan siswi sembarangan. Dia tampak seperti warga negara asing. Karena dia
memiliki warna mata hijau yang tentu saja jarang di miliki warga asia, dan juga rambutnya
yang berwarna emas keputih – putihan.

“Maaf kami terlambat pak, ini karena siswi baru kita agak sedikit cerewet dan selalu
mengajak berdebat.” Saat guru itu berbicara dia sedikit menundukkan kepala. “Tidak apa –
apa, karena ini lebih penting. Kita bisa mundurkan jadwal pengumuman kelas baru nanti.”
Pria tua itu membalas dengan sedikit terseyum dan langsung berdiri.

“Kalau begitu aku langsung ke topik utamanya saja, kenapa kalian di kumpulkan disini
dan kenapa guru – guru menjemput paksa kalian, kalian pasti bertanya – tanyakan ?” Dia
mengatakan itu dengan santai.

Kami semua hanya menganguk diam dan merasa sedikit kebingungan. Para guru tampak
nya biasa saja saat pria tua itu berbicara.

“Oh.... sebelum itu perkenalkan aku kepala sekolah disini. Namaku adalah Dewantara
Hartono.” Beliau memperkenalkan diri ke kita semua.
“Oke... Intinya, kalian semua yang ada di sini akan di keluarkan dari sekolah.” Beliau
mengatakan dengan terseyum lebar.

Anda mungkin juga menyukai