BAB IV
PROSES PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pada bab ini, hal-hal yang akan dibahas adalah pekerjaan pemancangan
pondasi tiang pancang dengan menggunakan alat Hydraulic Static Pile Driver
baik dari sisi proses pemancangan, cara kerja alat, dan juga produktivitas alat.”
4.1 Jenis Alat Pemancangan Pondasi Tiang Pancang
Beberapa jenis alat berat yang digunakan untuk melakukan pemancangan
pondasi tiang pancang adalah sebagai berikut:
a. Drop Hammer
Adalah sebuah palu berat yang diletakkan pada ketinggian tertentu diatas
tiang. Palu tersebut kemudian dilepaskan dan jatuh mengenai tiang. Pada kepal
tiang dipasang topi/cap (shcock absorbery) untuk menghindari tiang rusak akibat
tumbukan hanmer. Cap ini biasanya terbuat dari kayu. Gambaran alat
pemancangan ini dapat dilihat seperti pada Gambar 4.1.”
Gambar 4.1. Drop Hammer
Sumber: Nasution 2019
11
12
b. Hydraulic Static Pile Driver
Seperti yang terlihat pada Gambar 4.2. Hyraulic Static Pile Driver adalah
suatu sistem pemancangan pondasi tiang yang dilakukan dengan cara menekan
tiang pancang masuk ke dalam tanah dengan menggunakan dongkrak hidraulis
yang diberi beban berupa countetrweight. Pada proses pemancangan tiang dengan
menggunakan Hydraulic Static Pile Driver (HSPD), pelaksanaanya tidak
menimbulkan getaran serta gaya tekan dongkrak hidraulis langsung dapat dibaca
melalui sebuah manometer sehingga besarnya gaya tekan tiang setiap mencapai
kedalaman tertentu dapat diketahui. Kapasitas alat pemancangan HSPD ini ada
bermacam tipe yaitu 120 Ton, 320 Ton, 450 Ton, dan pemilihan disesuaikan
dengan desain load/beban rencana tiang pancang.”
Gambar 4.2. Hydraulic Static Pile Driver
Sumber: rumah material, 2018
Uraian gambar :
1. Crane (mesin derek)
2. Vertical Momen Mechanism (Mekanisme Gerakan vertical)
3. Pilling Platform (Landasan Tiang pancang)
4. Pile Clamping Box (Kota penjepit tiang)
5. Main Cabin (Kabin utama)
6. Side Pilling Instalation Set (Pengaturan pemasangan tiang pancang)
7. Assistant Cantilever (Astisten cantilever)
8. Cross Motion and Rotary Mechanism/Short Base (Mekanisme gerak saling
dan putar)
13
Gambar 4.3. Hydraulic Static Pile Driver
Sumber: Rumah material, 2018
c. Diesel Hammer
Adalah alat yang paling sederhana diantara alat-alat lainnya. Diesel hammer
memiliki satu silinder dengan dua mesin diesel, piston/ram, tangki bahan, tangki
pelumas, pompa bahan bakar, injecctor, dan mesin pelunas. Dalam
mengoperasikannya, energi alat didapat dari berat ram yang menekan udara di
dalam silinder. Visualisasi dari alat ini dapat dilihat pada Gambar 4.3.”
Gambar 4.4. Diesel Hammer
Sumber: Nasution 2019
14
Gambar 4.5. Penyambungan tiang pancang dengan pengelasan
Sumber: Besta’s blog 2014
4.2 Pemancangan Menggunakan Hydraulic Static Pile Driver
Setelah ditentukannya titik-titik yang akan dilakukan pemasangan tiang
pancang selesai, selanjutnya dilakukan persiapan sebelum pemancangan. Yang
harus dipersiapkan sebelum melakukan pemancangan adalah sebagai berikut:”
1. Set Up peralatan
Menyiapkan alat pancang Hydraulic Static Pile Driver (HSPD), yaitu
penyetelan pada komponen alat HSPD (Body, Crane, Counterweight, Aktivasi
Mesin) dan juga meletakkan tiang pancang agar berada dekat dengan lokasi yang
akan dilakukan pemancangan yang terlihat seperti pada Gambar 4.6, Gambar 4.7,
dan Gambar 4.8.”
Gambar 4.6. Material on site tiang pancang
Sumber: Nasution 2019
15
Gambar 4.7. Pemindahan tiang pancang dari truk pengangkut ke lapangan
Sumber: Nasution 2019
Gambar 4.8. Peletakkan tiang pancang mendekati titik pemancangan
Sumber: Nasution 2019
2. Perataan Lahan
Tanah pada titik-titik yang akan dilakukan pemancangan harus diratakan
agar pemasangan tiang pancang menggunakan Hydraulic Static Pile Driver ini
dapat berjalan dengan baik dan agar dapat meminimalisir error yang akan terjadi,
dan karena alat HSPD (Hydraulic Static Pile Driver) harus berada pada tanah
yang rata.”
16
3. Proses pemancangan
Dimulai dengan tiang pancang diangkat dengan bantuan service crane yang
tergabung dalam unit HSPD (Hydraulic Static Pile Driver ) yang terlihat seperti
pada Gambar [Link] dimasukkan peralatan ke dalam lubang pengikat tiang atau
yang disebut Clamping Box, kemudian system jack-in akan naik dan mengikat
atau memegangi tiang pancang tersebut, ketika tiang sudah dipegang erat oleh
Clamping Box, maka tiang mulai ditekan tiap 1,5 m. Di saat pemancangan
dilakukan check verticality tiang pancang setiap kedalaman 0,5 m s/d 2 m.”””
Gambar 4.9. Memasukkan tiang pancang ke HSPD untuk dimulai pemancangan
Sumber: Nasution 2019
4. Untuk mengetahui besarnya tekanan yang diberikan pada tiang pancang pada
alat ini dilengkapi dengan manometer oil pressure yang terletak pada ruang
control/kabin. Besarnya tekanan yang diberikan kemudian dikonversikan
kepressure force (Mpa).”
Gambar 4.10. Alat manometer oil pressure
Sumber:lisensi Creative Commons
17
5. Bila Clamping Box hanya mampu menekan tiang pancang sampai bagian
pangkal lubang mesin saja, maka penekanan dihentikan dan Clamping Box
bergerak naik ke atas untuk mengambil tiang pancang sambungan yang
disiapkan atau dolly bila tidak dilakukan penyambungan.”
Gambar 4.11. Clamping Box
Sumber: Amirul Akbar
6. Apabila tiang belum menyentuh titik kedalaman yang direncanakan, tiang
harus disambungkan, maka ujung tiang yang berada diluar harus disisakan
sepanjang 50 cm agar dapat disambungkan dengan tiang lain. Proses
penyambungan sama seperti awal pemancangan. Hannya saja tiang yang baru
harus disambungkan atau dilas dengan tiang yang telah tertanam. Sebelum
disambungkan, cek kembali verticallity tiang.”
7. Setelah pengelasan selesai tiang kemudian ditekan kembali hingga kedalaman
yang direncanakan atau sesuai dengan desain load/beban rencana tiang
pancang.”
8. Setelah tiang berada di titik kedalaman yang direncanakan, sisa tiang yang
berada di luar dipotong sampai rata dengan tanah seperti yang terlihat pada
Gambar 4.9. Hal ini harus dilakukan pada penggunaan HSPD (Hydraulic
Static Pile Driver) dikarenakan alat ini tidak dapat bergerak jika pondasi tidak
dipotong hingga rata dengan tanah.”
18
Gambar 4.12. Pemotongan tiang pancang
Sumber: Nasution 2019
9. Selanjutnya dilakukan test PDA (Pile Driving Analyzer) yang bertujuan untuk
daya dukung aksial tiang pancang. Penentuan daya dukung aksial tiang
didasarkan pada karakteristik dari pantulan gelombang yang diberikan oleh
reaksi tanah (lengketan dan tahanan ujung).
Korelasi yang baik antara daya dukung tiang yang diberikan dari hasil PDA
dengan cara statis yang konvensional telah diakui, yang membawa pada
pengakuan PDA sebagai metode yang sah dalam ASTM D-4945-1996. Meski
demikian, harus dicatat korelasi yang ditujukan dalam grafik didasarkan pada
hasil pengujian jika daya dukung batas (ultimate) dicapai baik dengan ‘PDA’
maupun dengan pengujian statis yang konvensional.
a. Keutuhan Tiang Pancang. Kerusakan pada fondasi tiang dapat terjadi karena
beberapa hal antara lain pada saat pengangkatan tiang atau selama
pemancangan tiang. Untuk tiang bor, pengecilan penampang dan longsornya
tanah adalah kerusakan yang paling umum dijumpai. Kerusakan ini dapat
dideteksi dengan ‘PDA’. Berdasarkan gaya dan kecepatan yang terekam dari
gelombang selama perambatannya sepanjang tiang, lokasi dari kerusakan
dapat dideteksi dan luas penampang sisa dari tiang dapat diperkirakan. Jika
hanya keutuhan tiang saja yang dibutuhkan, sebuah sub sistem dari ‘PDA’
yang disebut PileIntegrity Tester lebih ekonomis untuk digunakan dari pada
‘PDA’.”
19
b. Peralatan yang digunakan untuk pengujian test PDA tersebut adalah:
1) Piling Driver Analyzer (PDA)
Gambar 4.13. Piling Driver Analyzer (PDA)
Sumber: Jurnal metode pelaksanaan pekerjaan tiang pancang sistem hidraulic
jack in I Wayan Jawat 2016
2) Strain Transducer
Gambar 4.14. Strain Transducer
Sumber: Jurnal metode pelaksanaan pekerjaan tiang pancang sistem hidraulic
jack in I Wayan Jawat 2016
3) Dua (2) Accelerometer
4) Kabel Penghubung
20
c. Persiapan Pengujian Test PDA (Pile Analyzer Test)
1) Penggalian tanah permukaan sekeliling kepala tiang, apabila kepala tiang
sama rata permukaan tanah.
2) Pengeboran lubang kecil pada tiang untuk pemasangan strain transducer dan
accelerometer.
3) Pemasangan instrument.
d. Informasi yang diperlukan dalam test PDA (Pile Analyzer Test)
1) Gambar yang menunjukkan lokasi dan identifikasi tiang.
2) Tanggal pemancangan.
3) Panjang tiang dan luas penampangtiang.
4) Panjang tiang tertanam.
e. Prosedur Pengujian Test PDA (Pile Driver Analyzer)
Pengujian dinamis tiang didasarkan pada analisis gelombang satu dimensi
yang terjadi ketika tiang dipukul oleh palu. Regangan dan percepatan selama
pemancangan diukur menggunakan strain transducer dan accelerometer. Dua buah
strain transducer dan dua buah accelerometer dipasang pada bagian atas dari tiang
yang diuji (kira-kira 1,5- x diameter dari kepala tiang).”
Pemasangan kedua instrument pada setiap pengukuran dimaksudkan untuk
menjamin hasil rekaman yang baik dan pengukuran tambahan jika salah satu
instrument tidak bekerja dengan baik. Pengukuran direkam oleh ‘PDA’ dan
dianalisis dengan ‘Case Method’ yang sudah umum dikenal, berdasarkan teori
gelombang satu dimensi.”
Setelah mengobservasi 5 titik yang dipancang, produktivitas alat Hydraulic
Static Pile Driver didapatkan. Berikut adalah waktu yang dibutuhkan untuk
memancang 5 titik tersebut:
1. Titik 28 (P31) : 53 Menit
2. Titik 29 (P31) : 40 Menit
3. Titik 30 (P31) : 36 Menit
4. Titik 31 (P31) : 54 Menit
5. Titik 32 (P32) : 41 Menit
Sehingga didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memancang
menggunakan Hydraulic Static Pile Driver adalah 44 menit 8 detik.”
21
Alat pancang HSPD terdiri dari beberapa macam kapasitas seperti :
1. HSPD 120, tekanan maksimum 120 ton, bisa untuk memancang tiang pancang
kotak ukuran 20x20 cm sampai 35x35 cm, dan spun pile ukuran diameter 30
sampai 35 cm.”
2. HSPD 150, tekanan maksimum 150 ton bisa untuk memancang tiang pancang
kotak ukuran 20x20 cm sampai 35x35 cm, dan spun pile ukuran diameter 30
sampai 40 cm.”
3. HSPD 240, tekanan maksimum 240 ton bisa untuk memancang tiang pancang
kotak ukuran 20x20 cm sampai 45x45 cm, dan spun pile ukuran diameter 30
sampai 50 cm.”
4. HSPD 320, tekanan maksimum 320 ton bisa untuk memancang tiang pancang
kotak ukuran 20x20 cm sampai 50x50 cm, dan spun pile ukuran diameter 30
sampai 50 cm.”
5. HSPD 420, tekanan maksimum 420 ton bisa untuk memancang tiang pancang
kotak ukuran 20x20 cm sampai 55x55 cm, dan spun pile ukuran diameter 30
sampai 60 cm.
Untuk produktivitas per alat dapat memancang sampai 120 m’ / alat / hari
tetapi tergantung juga dari kondisi lahan dan situasi di lapangan, sehingga
produktivitas alat pancang setiap proyek dapat berbeda-beda bisa kurang atau
lebih dari itu.
22
4.3 Bagan Pekerjaan
Adapun bagan pekerjaan dari laporan ini :
Set Up Peralatan
Material On Site Tiang
Pemindahan Tiang Pancang Perletakan Tiang Pancang
Pancang
Perataan Lahan
Proses Pemancangan HSPD
Pressure Force
Clamping Box
Pemotong Tiang Pancang
Selesai
Gambar [Link] Pekerjaan
4.4 Jenis-jenis Ukuran Tiang Pancang
Tiang pancang jenis Minipile (Ukuran Kecil) ini digunakan untuk
bangunan-bangunan bertingkat rendah dan tanah relatif baik. Ukuran dan
kekuatan yang ditawarkan adalah:”
a. Berbentuk penampang segitiga dengan ukuran 28 cm dan 32cm”
b. Berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 20 cm x 20 cm dan 25 cm x 25cm.
Tiang pancang berbentuk penampang segitiga seperti pada Gambar 4.12.
dengan ukuran 28 cm mampu menopang beban sebesar 25 ton sampai 30 ton
dan ukuran 32 mampu menopang beban sebesar 35 ton sampai 40 ton. Tiang
pancang berbentuk bujur sangkar yang terlihat seperti pada Gambar 4.13.
berukuran 20 cm x 20 cm mampu menahan beban atau tekanan sebesar 30 ton
sampai 35 ton dan yang berukuran 25 cm x 25 cm mampu menahan beban
atau tekanan sebesar 40 ton sampai 50 ton.”
23
Gambar 4.16. Tiang pancang minipile (bujur sangkar)
Sumber: Nasution 2019
Gambar 4.17. Tiang pancang minipile (segitiga)
SumberNasution 2019
Tiang pancang jenis Maxipile (Ukuran besar) ini berbentuk bulat seperti
pada Gambar [Link] Tabung. Tiang pancang ini digunakan untuk menopang
beban yang besar pada bangunan bertingkat tinggi. Bahkan untuk ukuran 50x50
dapat menopang beban sampai 500 ton.”
24
Gambar 4.18. Tiang pancang Maxipile (Tabung)
Sumber: Nasution 2019
4.5 Permasalahan Umum Pekerjaan Pemancangan
Dalam pekerjaan pondasi tiang pancang, permasalahan yang umum terjadi
antara lain :
1. Permasalahan Non-Teknis
Permasalahan non-teknis adalah permasalahan yang terjadi karena pengaruh
pelaksanaan pemancangan dan bukan pada pekerjaan pemancangan yang sedang
dilakukan.
a. Pengaruh getaran pemancangan pada bangunan atau struktur eksisting di
sekitar pelaksanaan pemancangan”
b. Pengaruh kebisingan pekerjaan pemancangan pada lingkungan sekitar”
c. Pengaruh polusi akibat pemakaian alat pancang yang mengeluarkan asap
(misal : diesel hammer)”
Untuk kendala yang mengakibatkan permasalahan di atas, pemilihan jenis
pondasi, studi lokasi pekerjaan dan analisa dampak lingkungan (AMDAL) perlu
dilakukan sebelum memutuskan penggunaan desain pondasi tiang pancang dan
jenis alat pancang yang digunakan.”
2. Permasalahan Teknis
a. Retak atau pecahnya kepala tiang pada saat proses pemancangan
b. Retak horizontal/melingkar pada tiang pancang pada saat proses pemancangan
25
c. Penurunan jumlah pukulan (blow count) untuk mendapatkan penetrasi tiang
pancang secara signifikan
d. Total jumlah pukulan (blow count) yang sangat kecil, di bawah perkiraan awal
e. Jumlah pukulan yang melebihi kapasitas tiang pancang sebelum tercapai
kedalaman yang diperkirakan
f. Tiang pancang masuk jauh lebih dalam dari perkiraan yang diberikan oleh
Konsultan Penyelidikan Tanah
g. Tiang pancang melenceng dari alignment vertikal yang ditetapkan, pada saat
proses pemancangan
h. Tiang pancang bergeser dari titik awal pemancangan pada saat proses
pemancangan
i. Terdorongnya tiang pancang yang dipancang sebelumnya
j. Terangkatnya tiang pancang yang dipancang sebelumnya”
a. Pemancangan “”
Metode pemancangan yang di lakukan pada setiap proyek yang di tinjau
dari 3(tiga) studi kasus dapat di lihat pada uraian berikut ini :
a. Proyek KCU BCA sunset road bali metode pemancangan dengan sistem
pemancangan hidraulic jackk im”
b. Di mana sistem ini telah mendapatkan hak paten dari United States, United
Kingdom, China dan New Zealand. Sistem ini terdiri dari suatu hydraulic ram
yang ditempatkan pararel dengan tiang yang akan dipancang, dimana untuk
menekan tiang tersebut ditempatkan sebuah mekanisme berupa plat penekan
yang berada pada puncak tiang dan juga ditempatkan sebuah mekanisme
pemegang (grip) tiang. Kemudian tiang diletakkan kedalam tanah. Dengan
sistem ini tiang akan tertekan secara kontiniu kedalam tanah, tanpa suara,
tanpa pukulan dan tanpa getaran. dinilai efektif karena lebih ramah
lingkungan (tidak menimbulkan suara bising, tidak menimbulkan asap getaran
pada tanah) pekerjaan relatif lebih cepat dan dalam pelaksanaannya lebih
mudah
c. Proyek PT. Hutama karya di medan Metode pemancangan mengunakan
HSPD (Hidraulic static pile drive) dan drop hamer, pemancangan
menggunakan alat hydraulic static pile drive”
26
d. Proyek pembangunan gedung di Jakarta metode pemancangan menggunakan
teknologi terbaru yaitu HSPD atau lebih dikenal dengan ‘press in pile’
merupakan metode pemancangan terbaru sebagai solusi pemancangan pondasi
tiang pancang pada lingkungan padat hunian, secara umum teknologi ‘press in
pile’ mengurangi masalah lingkungan saat pengerjaan pemancangan pondasi
tiang pancang, lebih peraktis lebih cepat dan lebih ekonomis.””
b. Kesimpulan
“Kesimpulan yang bisa diambil dari uraian di atas:
1. Metode pemancangan dengan sistem pemancangan hidraulic jack in .dinilai
efektif karena lebih ramah lingkungan (tidak menimbulkan suara bising, tidak
menimbulkan asap getaran pada tanah) pekerjaan relatif lebih cepat dan dalam
pelaksanaannya lebih mudah.
2. HSPD (Hidraulic static pile drive) dan drop hamer, pemancangan
menggunakan alat hydraulic static pile drive lebih banyak memakan waktu
ketimbang alat drop hamer banyak faktor yang harus dipertimbangkan
sebelum mengunakan alat ini seperti lokasi kontruksi, biaya, waktu dan lain-
lain.
3. Alangkah lebih efektifnya memakai teknologi Hidraulic Static Pile Driver
(HSPD) atau’ Press in pile’ metode pemancangan terbaru sebagai solusi
mengurangi masalah lingkungan lebih praktis, lebih cepat dan lebih
ekonomis.”