Darmin Nyodok Becak untuk Kaos Rider
Darmin Nyodok Becak untuk Kaos Rider
Materi Cerpen
NYODOK
89
90
(Lanjutan)
Biodata Penulis
Trim Sutidja
Trim Sutidja lahir 13 Juni 1938 di Sumedang, Jawa Barat. Ia gemar menulis sejak
remaja. Ia menulis cerita-cerita anak yang berhubungan dengan dunia anak-anak.
Hingga saat ini puluhan cerita anak yang dituliskannya dan diterbitkan oleh Balai
Pustaka dan penerbit lainnya.
Lampiran 2
Materi Cerpen
SEPATU BEN
1. Benyamin, biasa dipanggil Ben, anak seorang buruh bangunan. Ben anak
tertua dan mempunyai tiga orang adik. Dia satu-satunya anak lelaki karena
ketiga adiknya perempuan. Sebagai anak buruh bangunan, Ben tahu diri. Dia
tidak pernah menuntut macam-macam dari orang tuanya. Dia sangat
bersyukur dapat bersekolah di SMU Negeri yang bagus. Saat ini Ben duduk
di kelas dua. Rata-rata teman sekelasnya dari golongan menengah ke atas.
Ben satu-satunya anak tak mampu yang mendapat bantuan Jaring Pengaman
Sosial atau JPS. Tentunya setelah dia mendapatkan surat pernyataan tidak
mampu dari kelurahan.
2. Ben tidak merasa minder kepada teman-temannya. Meskipun mereka
anak orang kaya, Ben dapat bergaul dengan baik. Kedua orang tuannya selalu
mengajarkan bahwa manusia itu derajatnya sama di mata Tuhan. Kekayaan
hanya titipan Tuhan, sifatnya sementara. Ben bersyukur teman-teman
sekelasnya tidak alergi terhadap dirinya yang miskin. Bahkan jika ada
sumbangan untuk fotocopy soal ulangan, kas sekolah, menengok teman yang
sakit dia tidak diminta uang
3. Pagi itu Ben bersiap-siap berangkat sekolah. Dia selalu bangun pagi. Pukul
04.00 WIB, Ben sudah menyapu halaman rumah setelah itu ia solat subuh.
Sebagai orang Betawi asli, ibadahnya tidak pernah bolong. Kata pak Ustad,
orang miskin mempunyai kelebihan waktu untuk berdoa. Apa yang dikatakan
pak ustad benar, karena miskin maka tidak pernah ada acara, jalan-jalan ke
Mal, makan-makan di restoran, berenang, berkaroke dan macam-macam
kegiatan yang dilakukan orang kaya. Karena itu, Ben dan keluarganya
mempunyai banyak waktu untuk ibadah. Dia tidak menyesali dirinya
dilahirkan dalam keluarga miskin.”Miskin harta lebih baik daripada miskin
jiwa, “itulah yang sering dilontarkan ayahnya.
4. Ben sedang sibuk merapikan sepatunya yang menganga di bagian depan
kanan. Tiba-tiba ibu Yeni memanggil namanya. “Ben, kamu mengerjakan
soal nomor tiga. ”Ben menekan kuat-kuat bagian depan kanan sepatunya
supaya tidak menganga lagi. Lem yang dikeratkan tadi pagi di rumah kurang
bagus.
5. “Ben! Kamu mengerjakan soal nomor tiga!” Suara Ibu Yeni agak
keras.“Ya Bu.” Tergopoh-gopoh Ben bangkit dari tempat duduknya. Dia
menarik nafas lega karena sepatunya tidak menganga lagi.
6. Dengan penuh semangat Ben mengerjakan PR matematika di papan tulis.
Ibu Yeni mangut-mangut puas karena soal yang dikerjakannya itu, benar. Ben
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
92
(Lanjutan)
7. termasuk anak rajin dan pandai. Nilai matematikanya selalu bagus. Karena
itu, jika ada soal yang sulit dan teman-teman sekelasnya banyak yang tidak
mengerjakan Ibu Yeni menyuruh Ben untuk menyelasaikannya.
8. Saat istirahat tiba, Ben ke perpustakaan. Dia jarang sekali jajan di kantin.
Baginya, sarapan di rumah sudah cukup. Dia tidak bisa jajan seperti teman-
temannya yang kaya. Kecuali ada yang mentraktirnya, dia baru makan di
kantin. Dia harus dapat berhemat. Uang jajan yang tidak seberapa dan pas-
pasan itu ditabung. Dia harus prihatin, Jika bulan puasa, ia bisa tidak makan
dari subuh hingga Magrib, maka kalau hanya menahan lapar dari pagi hingga
siang, baginya merupakan hal yang ringan. Ben akan menggunakan
tabungannya untuk membeli keperluan sekolah termasuk membeli sepatunya
yang sudah menganga.
*****
(Lanjutan)
14. Minggu lalu, Ben seperti biasa berangkat sekolah. Tiba di depan pintu
gerbang sekolah ada dua guru yang menghadang siswa. Pak Dirman dan Pak
Sholeh pasang wajah angker. Dari bisik-bisik beberapa temannya, katanya
ada razia sepatu. Sekolah mewajibkan siswanya memakai sepatu hitam. Ben
berhenti sejenak di dekat warung Mpok Icih. Didampingi sepatunya lama-
lama. Ada rasa iba menerima kenyataan bahwa sepatunya ini akan terkena
razia. Sudah menjadi rasia umum kalau Pak Dirman galak. Asal ada siswa
yang memakai sepatu hitam tetapi ada variasi warna lain, pasti dikenakan
sanksi dan namanya dicatat di buku piket.
15. “Sepatu saya kan berwarna hitam pak.”
“Hitam katamu? Ini strip pinggirnya berwarna biru. Kamu buta warna ya.
Daripada beli sepatu seperti ini, mahal, kamu belikan sepatu hitam yang lebih
murah bisa dapat tiga. Begitulah kata-kata kasar Pak Dirman kepada siapa
saja yang terkena hadangnya. Banyak anak-anak perempuan menangis
dibuatnya. Mereka merasa diperlakukan kasar oleh Pak Darman. Bagi yang
perasa, perlakuan seperti itu akan membekas di hati. Banyak juga yang
merasa benci kepada Pak Dirman.
16. Ben melangkah kakinya ke arah pintu gerbang. Pak Dirman, sambil
berkacak pinggang, langsung, menarik tangannya.
17. “Sepatu kamu tidak berwarna hitam. Ini lebih dominan berwarna coklat .
Sekarang lepaskan sepatumu, letakkan diruang piket. Namamu siapa, kelas
berapa dan sudah berapa kali kamu tertangkap tidak memakai sepatu hitam.”
18. Begitulah Pak Dirman menangkap dan mengintrogasi siswa. Gayanya
yang garang menakutkan siswa. Dengan wajah lesu, Ben melepaskan
sepatunya. Sepatu tua yang sudah menganga itu tersenyum padanya dan
menghibur. ”Sudahlah Ben, kamu jangan sedih. Sebagai murid kamu harus
taat kepada guru. Apapun perlakuan gurumu harus kamu terima. Kamu
dianggap melanggar tata tertib sekolah. Jadi terimalah hukuman ini. Nanti
siang, kamu boleh mengambilku. Kita berdua akan berjalan bersama lagi.”
Ben tanggap, sekali lagi secepatnya tersenyum. Ben cepat-cepat menuju ke
kelasnya tanpa memakai sepatu.
19. Ben melangkah kakinya ke arah pintu gerbang. Pak Dirman, sambil berkacak
pinggang, langsung, menarik tangannya.
20. “Sepatu kamu tidak berwarna hitam. Ini lebih dominan berwarna coklat .
Sekarang lepaskan sepatumu, letakkan di ruang piket. Namamu siapa, kelas
berapa dan sudah berapa kali kamu tertangkap tidak memakai sepatu hitam.”
21. Hari itu mengikuti pelajaran setengah hati. Saat istirahat, dia tidak
beranjak dari tempat duduknya. Bagaimana mau keluar kelas kalau tidak
memakai sepatu. Dua temannya yang senasip dengan tenang berjalan
kemana-mana memakai sandal jepit yang diambil dari mushola. Tono dan
Zulkifli sudah sering kena razia sehingga mereka menganggap enteng saja.
(Lanjutan)
22. Lonceng jam terakhir berbunyi. Ben segera menuju ruang piket. Setelah
melapor kepada guru piket, dia mengambil sepatunya.
23. “Kamu tersiksa ya Ben.”
“Sst…diam, aku tidak hanya tersiksa melainkan sangat kecewa dengan
kejadian ini.” Sepatu itu segera diambilnya. Setelah memeriksa bagian depan
kanan, Ben memakainya. Begitu memakai sepatu, ia merasa memperoleh
tenaga baru.“Ah, ternyata kamu memang sumber tenagaku. Tanpa kamu, aku
tidak bersemangat belajar di kelas. “Sepatu Ben tersenyum geli dan
mengangguk-angguk kegeriangan. Karena terlalu gembira mulutnya terbuka.
Ben uring-uringan.
24. “Sudah, jangan terlalu lebar tertawanya. Kakiku bisa kena kerikil. Kamu
membuat aku tidak nyaman berjalan karena mulutmu terlalu lebar
menganga.”
*****
(Lanjutan)
29. cukup memberikan kekuatan dan ketenangan. Ben merasa bergairah kembali
mengikuti pelajaran di kelas. Saat-saat pergantian guru, Ben suka membuka
tasnya. Dipandanginya sepatunya lama-lama. “kamu di situ saja ya, jangan
menggangguku. Baumu itu kurang sedap karena itu tasku harus sering
ditutup. Kamu bertahan dulu dalam suasana gelap dan pengap.” Ben menutup
rapat-rapat tasnya kemudian duduk manis, karena guru kimia datang.
30. Pulang sekolah, Ben ingin membeli buku tulis di toko dekat sekolah. Saat
menyeberang, dilihatnya ada seorang ibu yang berteriak. “Copet, copet…tas
saya dicopet!” Ben melihat, ada seorang laki-laki yang berlari ke arah
Selatan. Beberapa orang yang ada sekitar kejadian hanya menonton saja. Ben
segera membuka tasnya. Diambilnya sepatu kesayangannya. Tanpa berpikir
panjang dilemparkannya sepatu itu ke arah pencopet yang sedang berlari.
Sepatu itu dengan deras meluncur dan dengan tepat mengenai kepala
pencopet yang sedang berlari. “stop, stop! Jangan main hakim sendiri!” Ben
segera menyeruak kerumunan orang-orang yang memukuli pencopet. Satpam
sekolah datang membantu mengatasi situasi.
31. Pencopet itu segera dibawa ke pos polisi terdekat. Ben mengamankan tas
ibu yang kecopetan kemudian menyerahkannya kepadanya.
“Terima kasih ya, Nak. Kalau tadi tidak melempar pencopet itu, belum tentu
tas ibu bisa kembali. Ini sekedar terima kasih dari ibu. Ben diberi uang dua
puluh ribu, tetapi dia menolaknya.
“Tidak usah Bu! Kebetulan saya lewat. Saya hanya sedikit membantu. Ibu
mau ke mana?”
“Ibu mau ke SMU 33 kebetulan ada berita penting yang harus ibu
sampaikan.”
32. Ben mengatarkan ibu itu ke sekolah. Ia hanya menduga-duga, istri siapa
ibu ini. Sampai di depan pintu gerbang, Ben ingin langsung berbalik dan
pulang. Tiba-tiba ada suara mengagetkannya.
33. “Ada apa, Bu. Tumben ke sekolah.” Ya, itu suara Pak Dirman. Jadi ibu itu
istri Pak Dirman, guru yang telah membuat dirinya tersiksa karena harus
menggantikan sepatu kesayangannya. Istri Pak Dirman menceritakan semua
kejadian pencopetan tadi.
34. “Murid Bapak ini, benar-benar anak yang berbudi baik. Dia menolak
pemberian ibu sebagai tanda terima kasih. Jarang ada anak sebaik ini.” Pak
Dirman manggut-manggut, dia menyalami Ben dengan tulus.
35. “Terima kasih, Ben. Sekali lagi, terima kasih.”
Ben tersenyum simpul, dengan tulus dia memaafkan apa yang sudah
diperbuat Pak Dirman terhadap dirinya. Meskipun begitu dia berkata dalam
(Lanjutan)
hati, ”Enak saja! Gara-gara ulahmu aku menderita dasar diktator!” Setelah itu
dia pulang damai, yang jelas Pak Dirman tidak tahu apa kata hatinya.
*****
Biodata Penulis
Pudji Isdriani K
Pudji Isdriani K, dilahirkan di Purwokerto, Jawa Tengah, 30 Mei 1957. Lulus SD
Negeri Keputran IV Pekalongan, SMP Negeri IV Purwokerto, SMA Negeri II
Purwokerto, Sarjana Muda Fak. Sasdaya UNS 11 Maret Surakarta dan S1 Fak.
Sastra Universitas Indonesia Jakarta. Selalu berpindah-pindah dari satu kota ke
kota lain. Karena ayahnya, Letkol. Pur. H.A. Ratidjo adalah perwira ABRI.
Lampiran 3
Materi Cerpen
(Lanjutan)
(Lanjutan)
Biodata Penulis
Lampiran 4
Profil MTs
A. Pengertian
Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda adalah merupakan sekolah setingkat
dan sederajat dengan SMP, yang dibina oleh Departemen Agama,
merupakan sekolah atau lembaga pendidikan yang berciri khas Islam.
(Lanjutan)
Visi
Membentuk siswa dengan dasar-dasar ilmu dan teknologi serta iman dan
tagwa, siap menghadapi tantangan global.
Misi
- Menyelenggarakan proses pembelajaran dengan disiplin yang tinggi.
- Meningkatkan potensi-potensi guru menjadi lebih profesional.
- Mengadakan kerja sama dengan berbagai lembega yang terkait.
- Berpatisipasi dalam berbagai kegiatan lokal, provinsi dan nasional
- Memberdayakan berbagai komponen di lingkungan madrasah untuk
mendukung pengembangan pendidikan.
C. IDENTITAS MADRASAH
Nama Madrasah : Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda
No. Statistik : 21210309018
Alamat : Jl. Langsa Peureulak, Km 20.
Kec. Rantau Selamat
Kab. Aceh Timur. Pos 24414.
Tahun Berdiri : 1982
Tahun Opesional : 1983
Nama Kepala Madrasah : Marzuki S,Ag
TMT 18 September 2008
D. DATA SARANA DAN PRASARANA
1. Jumlah tanah yang dimiliki: 8.374 M2 sesuai denga sertifikat tanah Nomor :
116 Tahun 1982.
2. Luas bangunan seluruhnya: 512 M2
3. Luas lapangan olah raga : 400 M2
4. Taman, jalan dan lain-lain : 74620 M2
Ruang dan Gedung
Kondisi kekuranga
No Jenis lokal M2 n
Baik Rusak
1 Ruang Kelas 5 320 3 2 1
2 Ruang Kepala 1 64 1 - -
3 R. Kantor/TU 1 64 1 - -
(lanjutan)
4 R. Guru 1 64 1 - -
5 R. Pustaka 1 64 1 - -
9 Kesenian 30 28 --- 2
Data Buku
No Jenis Judul Eks Kondisi
Rusa
Baik Sedang
k
Data Guru
No Mapel Jml Status Pendidkan butuh kuran
g
PNS GTT SMA D3 S1
(Lanjutan)
Data Siswa
Jenis Kelamin
Kelas Jml. Kelas Jumlah siswa
Laki-laki Perempuan
I 2 78 37 41
II 2 72 32 40
III 1 32 11 21
(Lanjutan)
36 33 95 42 38 90,47
1. Masih banyak sarana dan prasarana yang belum mendukung terciptanya proses
belajar-mengajar yang maksimal. Sarana fisik berupa gedung loboratorium,
sanggar seni, dan lapangan olah raga. Di samping itu, sarana yang ada sebagian
(Lanjutan)
besar tidak layak pakai, seperti, meja belajar siswa, kursi siswa dan berbagai
mobiler lainnya sudah rusak.
2. Pemenuhan buku yang sesuai antara satu buku dengan satu siswa untuk setiap
bidang studi masih belum memadai. Sehingga, satu buku harus dibaca oleh dua
orang siswa. Begitu pula buku-buku penunjang untuk digunakan oleh guru
dalam memperdalam wawasannya masih juga kurang memadai.
3. Kebutuhan staf pengajar yang sesuai dengan tingkat kelulusan belum terpenuhi
secara merata untuk setiap bidang studi. Ada bebera periode pengangkatan
guru sebagai pegawai negeri sipil untuk di tempatkan daerah terpencil namun
sangat disayangkan tidak ada yang bersedia di MTs Nurul Huda. Hal ini
disebabkan jarak madrasah dari Ibu kota Kabupaten Aceh Timur hampir 30
Km lebih. Kepala madrasah terpaksa mengambil sikap menggunakan staf
pengajar tingkat SMA. Seperti kata pepatah “Tak ada rotan, akar pun jadi’
Kepala madrasah mengambil kebijakan mengambil mahasiswa yang sedang
menuntut ilmu dan dengan prestasi yang baik untuk menjadi guru-guru di
madrasah. Menurut peraturan, pengajar tingkat MTs seharusnya dari tamatan
D3 atau strata satu (S1). Demi kelancaran proses belajar-mengajar maka kepala
madrasah mengharapkan kegiatan pendidikan di MTs Nurul Huda tetap
berjalan hingga saat ini.
(Marzuki, [Link])
NIP 150276641
Penilaian
Kompetensi Materi/ Kegiatan Alokasi Sumber
Indikator Contoh Waktu Bahan
Dasar Pembelajaran Pembelajaran Bentuk
Teknik Instrume
Intrumen
n
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Menanggapi Teks cerpen • Mendengarkan • Membaca dan Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 [Link]
pembacaan “Nyodok” pembacaan cerpen memahami isi bacaan. Tertulis kelas Intrumen menit kumpulan
cerpen karya, yang dilakukan /Perorangan (Sikap/Kinerja) terlampir cerpen
Trim Sutidja. oleh narasumber • Mengungkapkan tokoh dan 2. Penilaian . “Surat
(siswa) dan penokohan cerpen kelompok Kelompok Tantangan”
disertai data tekstual. 3. Esei Karya
• Mendiskusikan (Uraian singkat) Trim
• Menentukan alur 4. Portofolio Sutidja
fungsi tokoh-tokh
106
107
SILABUS
(Lanjutan)
Nama Sekolah : MTs Nurul Huda
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : VII
Standar Kompetensi : Membaca
: Mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai bentuk
wacana lisan sastra.
Penilaian
Kompetensi Materi/ Kegiatan Alokasi Sumber
Indikator
Dasar Pembelajaran Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik
Intrumen Instrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Menanggapi Teks cerpen • Mendiskusikan alur • Menentukan latar-latar yang Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
pembacaan “Nyodok” cerpen dan latar terdapat di dalam cerpen Tertulis kelas Intrumen menit kumpulan
cerpen karya, cerpen. disertai data tekstual. individu (Sikap/Kinerja) terlampir. cerpen
Trim Sutidja. dan 2. Penilaian “Surat
• Menemukan tema di dalam kelompok Kelompok Tantangan”
• Mendiskusikan tema 3. Esei (Uraian karya
cerpen disertai data tekstual.
dan amanat yang singkat) Trim
SILABUS (Lanjutan)
Penilaian
Kompetensi Materi/ Alokasi Sumber
Kegiatan Pembelajaran Indikator
Dasar Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik Instrumen
Intrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Membaca Teks Cerpen • Menemukan alur cerpen • Membaca dan Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
dan “Sepatu Ben” yang dibaca, disertai menyusun alur yang Tertulis kelas Intrumen menit “kumpulan
mendiskusi- karya Pudji dengan kejadian-kejadian terdapat di dalam /Perorangan (Sikap/Kinerja) terlampir. cerpen
kan cerpen Isdriani K yang merupakan bukti cerpen dan 2. Penilaian Inkarnasi
setiap tahapan alur kelompok Kelompok Tritis”
• Mengungkapkan tokoh- 3. Esei (Uraian karya
tokoh dan penokohan singkat) Pudji
(Lanjutan)
SILABUS
Penilaian
Kompetensi Materi/ Alokasi Sumber
Kegiatan Pembelajaran Indikator
Dasar Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik Instrumen
Intrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Membaca Teks Cerpen • Mendengarkan pembacaan • Mendata latar-latar yang Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
dan “Sepatu Ben” cerpen yang dilakukan terdapat di dalam cerpen Tertulis kelas Intrumen menit “kumpulan
mendiskusi- karya Pudji oleh narasumber (siswa) disertai data tekstual. /Perorangan (Sikap/Kinerja) terlampir. cerpen
kan cerpen Isdriani K dan 2. Penilaian Inkarnasi
• Mendiskusikan fungsi • Menemukan tema di kelompok Kelompok Tritis”
tokoh-tokoh dan karakter 3. Pilihan karya
dalam cerpen disertai data
tokoh. Ganda. Pudji
tekstual. 4. Esei (Uraian Isdriani K
(Lanjutan)
SILABUS
Materi/ Penilaian
Kompetensi Alokasi Sumber
Pembelajara Kegiatan Pembelajaran Indikator
Dasar Bentuk Contoh Waktu Bahan
n Teknik
Intrumen Instrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Membaca Teks • Mendengarkan pembacaan • Menemukan tokoh dan Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
dan Cerpen Hari cerpen yang dilakukan penokohan di dalam Tertulis kelas Intrumen menit “Kumpula
membanding- yang oleh narasumber (siswa) cerpen disertai data /Perorangan (Sikap/ terlampir. n Cerpen
kan berbagai Bahagia dan Kinerja) Di Puncak
tekstual.
cerpen karya • Mendiskusikan fungsi kelompok 2. Penilaian
Bukit
Bambang tokoh-tokoh dan karakter • Menentukan alur dan Kelompok
Gagak”
SILABUS (Lanjutan)
Penilaian
Kompetensi Materi/ Kegiatan Alokasi Sumber
Indikator
Dasar Pembelajaran Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik
Intrumen Instrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Mengubah Teks Cerpen • Mendiskusikan • Mengubah cerita Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
cerita pendek ‘Hari Yang alur dan latar pendek menjadi teks Tertulis kelas Intrumen menit Kumpulan
menjadi teks Bahagia’karya berdasarkan teks. drama satu babak, Perorangan (Sikap/Kinerja terlampir. Cerpen Di
drama Bambang Joko dan 2. Penilaian Puncak Bukit
memperhatikan
Susilo • Menuliskan teks kelompok Kelompok Gagak karya
penulisan betuk drama. 3. Esei (Uraian Bambang
drama dan
dilakonkan oleh singkat) Joko Susilo
• Memerankan berbagai
siwa-siswa
tokoh dalam teks drama
(……………………………………………) (………………………………………………………)
Lampiran 6
RPP Cerpen “Nyodok”
2. Materi Pembelajaran
Cerpen “Nyodok” karya Trim Sutidja, Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya,
tahun 1977.
3. Metode Pembelajaran
a. Diskusi kelompok
112
113
(Lanjutan)
b. Inkuiri
c. Ceramah
d. Tanya jawab dan penugasan.
3. Apakah kalian mengidolakan seseorang, seperti artis, atau olah ragawan, atau
tokoh politik?
6. Apa usaha kalian jika ingin mengikuti gaya-gaya dari idola kalian tersebut?
9. Siswa dibagi ke dalam tiga kelompok atau lebih (secara acak atau ditentukan
oleh guru).
10. Guru membagikan teks cerpen “Nyodok” karya Trim Sutidja kepada setiap
siswa.
12. Siswa ditugaskan membuat pertanyaan yang berhubungan dengan tokoh dan
watak tokoh (karakter tokoh) dan dilanjutkan dengan jalannya cerita (alur
cerita) yang terdapat di dalam materi pembelajaran tersebut.
(Lanjutan)
1. Guru sebagai moderator dan evaluator memimpin jalannya diskusi dengan
memberikan beberapa pertanyaan pemula untuk mengarahkan siswa berdis-
kusi.
9. Guru terus memandu kegiatan berdiskusi, jika terjadi kendala, (bagi siswa
yang kurang mempunyai keterampilan), maka guru membantu mengarahkan-
nya.
10. Seluruh siswa terlibat di dalam berdiskusi.
3. Siswa dapat mencari dan menentukan watak tokoh dan alur cerita dari hasil
diskusi.
(Lanjutan)
5. Guru menyelesaikan pembelajaran dengan suasana bergembira dan
menyenangkan.
4. Guru mengarahkan siswa untuk memahami kembali teks materi yang akan
dibahas.
(Lanjutan)
5. Siswa bersama guru menyingkapi beberapa amanat yang dapat diambil dari
materi.
5. Sumber belajar:
a. Buku utama
- Buku kumpulan cerpen Surat Tantangan: 8 Cerita Pendek Bacaan Anak
anak. Karya :Trim Sutidja (Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya, 1977).
b. Buku pelengkap
- Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Sardiman A.M. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rajawali Press.
- Sarumpaet, Riris K. Toha. 2007. “Dengan Sastra Menjadi Manusia,”
Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya. Vol.3.
- Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi: Yokyakarta:
Gama Media.
- Silberman, L. Melvin. 2004. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa
Aktif, terjemahan Raisul Muttaqien. Bandung:Nusamedia dan Nuansa.
6. Penilaian/evaluasi
a. Bentuk : - Tes lisan dan tulisan (keterampilan proses)
- Individu dan kelompok.
(Lanjutan)
Lampiran Penilaian/Evaluasi
a. Penilaian Sikap/Kinerja/Proses
Penilaian kinerja (performance) yaitu penilaian hasil pengamatan terhadap
siswa di dalam proses pembelajaran (lihat bab I, bentuk evaluasi)
b. Penilaian Post Test/Sub Sumatif
Test Tertulis Pilihan Ganda
Berilah tanda ( X) pada jawaban yang benar!
(lihat bab I, pendapat Hamid, hlm 19)
5. Persoalan apa yang kamu rasakan setelah memahami materi cerpen tersebut?
Jawab: Dalam hidup ini, manusia harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Hidup ini memang berat, demi suatu keberasilan kita harus bekerja
keras. Setiap keinginan pasti ada rintangan, namun kita harus tabah
menghadapinya.
(Lanjutan)
• Soal esai (uraian) diberikan hanya beberapa buah agar guru mempunyai
waktu untuk dapat memberi nilai.
......., ........................
Mengetahui, Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah
Lampiran 7
RPP Cerpen “Sepatu Ben”
2. Materi Pembelajaran
Teks Cerpen “Sepatu Ben” karya Pudji Isdriani K, dari buku kumpulan cerpen
Inkarnasi Tritis.
3. Metode Pembelajaran
a. Inkuiri
b. Diskusi kelompok
c. Ceramah
d. Tanya jawab dan penugasan.
(Lanjutan)
Pertemuan Pertama: 40 x 2 = 80 menit
a. Kegiatan awal (pembuka) (10 menit)
1. Guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan cerita singkat tentang
dirinya ketika dia menuju ke sekolah. Sang guru mengalami beberapa
permasalahan di tengah jalan sebelum sampai di sekolah. Pertama, pagi-pagi
istrinya minta diantarkan ke pasar untuk berbelanja, kedua, anak-anak minta
diantarkan ke sekolah, dan yang ketiga karena buru-buru, saya lupa
menggunakan helm, sehinga berurusan dengan polisi dan akhirnya dengan
membayar sanksi, baru dapat pergi ke sekolah. Nah, anak-anak, hal seperti ini
sering terjadi di dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, pada hari ini, kalian
akan mendiskusikan terhadap alur cerita yang sesuai dan menarik untuk di
baca. Ini merupakan tantangan bagi siswa untuk melakukan mendiskusikan
permasahan tersebut.
5. Teks materi telah disiapkan oleh guru sebelumnya dalam bentuk yang tidak
utuh (telah dipisahkan bagian-bagiannya).
6. Siswa ditugaskan untuk menyusun kembali secara logis cerita tersebut, dengan
pemberian nomor urut untuk setiap potongan sehingga teks materi tersebut
menarik untuk dibaca.
4. Guru membahas jawaban siswa dari satu kelompok dengan kelompok lain,
dengan beberapa pertanyaan (jika terdapat penyusunan yang tidak logis).
6. Guru melanjutkan diskusi tentang latar cerita (30 menit) dan membagikan
materi yaitu teks yang utuh.
(Lanjutan)
7. Guru membagikan tugas tiap kelompok untuk menyampaikan latar cerita pada
setiap paragaraf.
9. Guru dapat menyelesaikan diskusi latar sampai paragraaf terakhir teks materi
tersebut.
2. Siswa melaporkan hasil diskusi yang diwakili oleh salah seorang dari
kelompak mereka.
3. Siswa dapat menyususun cerita secara ringkas berdasarkan alur cerita dari
teks materi atau pengalaman pribadi pada suatu penjalanan (tugas pribadi).
5. Guru memberi tugas kepada siswa untuk membaca cerpen kembali di rumah
untuk pembahasan pertemuan berikutnya.
4. Guru mengarahkan siswa untuk memahami kembali teks materi yang akan
dibahas.
(Lanjutan)
1. Guru memberi tugas kepada siswa untuk menentukan tokoh dan karakter
tokoh (15 menit).
4. Guru dan siswa mendiskusikan hasil dari tiap-tiap kelompok (20 menit).
2. Siswa melaporkan hasil diskusi yang diwakili oleh salah seorang dari
kelompak mereka.
5. Sumber belajar :
a. Buku kumpulan cerpen, Reinkarnasi Titis. Karya Puji Isdriani K. Jakarta:
Penerbit CV Tiga Utama 2003.
b. Buku pelengkap
- Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Sarumpaet, Riris K. Toha. 2007. “Dengan Sastra Menjadi Manusia,”
Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya. Vol.3.
- Silberman, L. Melvin. 2004. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa
Aktif, terjemahan Raisul Muttaqien. Bandung:Nusamedia dan Nuansa.
6. Penilaian/evaluasi
a. Bentuk : - Tes lisan dan tulisan (keterampilan proses)
- Individu dan kelompok
[Link] instrumen : - Penilaian sikap/kinerja (Afektif)
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
123
(Lanjutan)
- Esai (Uraian) (kognitif dan psikomotor)
c. Soal /Instrumen : (Terlampir beserta kunci jawaban)
Lampiran Penilaian/Evaluasi
Test Tertulis Pilihan Ganda
Berilah tanda ( X) pada jawaban yang benar!
(lihat bab I, pendapat Hamid, hlm 19)
4. Apa yang dapat kita ambil manfaat dari pembelajaran cerpen tersebut?
Kita dapat memahami tidak semua orang mendapat anugrah
kesenangan hidup dengan segala fasilitas yang lengkap.
Materi atau kekayaan bukanlah suatu ukuran bagi kepintaran
seseorang.
Kehidupan ini penuh dengan peristiwa-peristiwa, alangkah baiknya
jika kita dapat menuliskannya, terutama masalah pribadi setiap yang
kita alami sendiri.
5. Soal Esai (uraian)
Ceritakan secara singkat peristiwa penting yang pernah kamu alami? Catatan itu
suatu dokumen yang penting, jika kita lupa mengingatnya catatan itu dapat
memberi kesan ketika kita baca kembali. Catatan itu memberi inspirasi
melahirkan sebuah cerita baru jika punya daya banyang. Nah, mulai sekarang mari
kita membiasakan menulis sesuatu peristiwa penting yang pernah kita lihat dan
kita alami.
Lampiran 8
Cerpen “Hari Yang Bahagia”
1. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat memahami isi bacaan dan menentukan tokoh dan karakter tokoh,
menyusun alur cerita yang logis sesuai dengan teks cerita dan serta
menentukan, latar, mengubah teks cerpen menjadi teks drama, dan
menyebutkan tema dan amanat sebuah cerpen.
2. Materi Pembelajaran
Teks Cerpen
“Hari Yang Bahagia” karya Bambang Joko Susilo, dari buku kumpulan cerpen
Di Puncak Bukit Gagak.
3. Metode Pembelajaran
a. Diskusi kelompok
a. Ceramah
b. Sosiodrama
c. Tanya jawab dan penugasan.
(Lanjutan)
(Lanjutan)
12. Guru terus memandu jalannya diskusi, jika terjadi kendala, (bagi siswa yang
kurang mempunyai keterampilan), maka guru membantu mengarahkannya.
3. Siswa dapat mencari dan menentukan watak tokoh dan alur cerita dari hasil
diskusi.
(Lanjutan)
b. Buku pelengkap
- Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Silberman, L. Melvin. 2004. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa
Aktif, terjemahan Raisul Muttaqien. Bandung:Nusamedia dan Nuansa.
- Wahyu, Sulaiman. 1983. Seni Drama. Jakarta: PT Karya Unipress
6. Penilaian/evaluasi
a. Bentuk : - Tes lisan dan tulisan (keterampilan proses)
- Individu dan kelompok.
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
128
(Lanjutan)
………,………………….
Mengetahui, Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah
Lampiran Penilaian/Evaluasi
Esei (uraian singkat)
1. Bagaimana perasaan kamu jika sedang menunggu hasil ujianmu?
- Saya merasa serba salah, jantung berdebar-debar
- Saya tak bisa tidur, sebelum jelas hasilnya.
- Jawab: Siswa bebas berekspresi, namun logis.
-
2. Berdasarkan cerpen “Hari Yang Bahagia” bagaimana sikap kita merasa nyakin
lulus?
- Kita harus belajar dengan serius, jangan ada tawa-canda
- Kita harus benar-benar siap menghadapi ujian
- Kita harus banyak belajar berdoa, supaya Tuhan menolong kita .
-
3. Setujukah kamu Sukab tidak lulus?
- Sudah selayaknya, dia menerima apa yang dia lakukan.
- Dasar anak bodoh, ya saya sangat setuju, biar dia tahu diri.
- Saya setuju, agar Sukab dapat merubah prilakunya yang kurang baik.
-
4. Manfaat apa yang dapat kita ambil dari pembelajaran cerpen tersebut?
- Kita harus belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang
kurang bagus.
- Kita tidak perlu kawatir jika kita belajar sungguh-sungguh pasti lulus.
- Kemalasan, kebodohan, kenakalan, akan bermuara pada kegagalan.
-
5. Bagaimana perasan kamu ketika bermain peran di depan kelas?
Test Esai (uraian tidak terbatas)
Minimal satu paragraf
- Saya membayangkan ketika saya menghadapi pengumuman kelulusan
di sekolah dasar dulu. Memang pada saat itu, saya merasa sangat
Lampiran 9
2. Cerpen “Aktor Ulung Kena Batunya” karya Bambang Joko Susilo, “Antologi
Cerpen Di Puncak Bukit Gagak”, penerbit Grasindo, Jakarta 2005. hlm. 80.
Cerpen ini menceritakan seorang anak yang bernama Sukab suka
mengganggu temannya. Teman-teman sedang bermain, tiba-tiba tokoh Sukab
datang dengan memberitakan ada ular besar. Semua temannya yang sedang
(Lanjutan)
bermain merasa takut dan menghentikan permainan mereka. Mereka kecewa
dengan sikap Sukab. Perbuatan Sukab yang kurang baik terhadap temannya
ternyata berbalas pada dirinya sendiri. Ternyata sebelumnya, Sukab yang
sedang memotong rumput mengambil jambu mente milik Pak Mantri. Sukab
sudah melakukan kejahatan tersebut sudah beberapa kali. Akhirnya, Pak
Mantri melaporkan Sukap pada Polisi.
Cerpen “Aktor Ulung Kena Batunya” mempunyai tema dan amanat yang
menarik untuk dibahas di dalam kegiatan pembelajaran cerpen. Tema yang
disampaikan dapat dihubungkan dengan kehidupan siswa. Begitu pula dengan
pesan-pesan yang disampaikan secara tersurat dan tersirat melalui tindakan-
tindakan tokoh di dalam cerita tersebut menjadikan pembelajaran yang
menarik dan bermanfaat bagi siswa.
3. Cerpen “Rokok Terakhir Buat Sang Ayah” karya Muhtar Ibnu Thalib, dalam
Sri Widodo, “99 Tangan Tuhan di Aceh: Misteri dan keajaiban
Pascatsunami”. Jakarta. Yayasan Air Mata. 2005. hlm. 24.
Cerpen ini menceritakan seorang anak yang mengalami musibah tsunami.
Ketika tokoh Mola, seorang anak disuruh oleh orang tuanya untuk membeli
sebungkus rokok pada sebuah warung di depan rumahnya. Setelah
menyerahkan sebungkus rokok pada ayahnya, ia minta izin untuk bermain
bersama temannya di luar rumah. Tiba-tiba, ia mendengan orang-orang
berteriak dan berlarian. Bumi bergoncang sangat kuat, Mola sangat bingung
dan segera berlari ke rumah. Ayah Mola yang kurus langsung menyambar
tangan anaknya. Namun sayang, arus begitu kuat membuat Mola terlepas dari
ayahnya. Sementara, ibunya yang sedang membeli jagung juga tidak dapat
bertemu lagi. Sejak itulah, hanya Mola yang selamat, ia terhalang runtuhan
ruko. Sejak itulah, Mola menjadi anak yatim piatu, tanpa ayah ibu.
Cerpen “Rokok Terakhir Buat Sang Ayah” mempunyai tema dan amanat
yang sesuai bagi siswa tingkat MTs. Tema cerita yang disampaikan dapat
memotivasi siswa untuk berjuang menghadapi kehidupan yang penuh dengan
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
132
(Lanjutan)
4. Cerpen “Terima Kasih Kehidupan” karya Widanto dalam Sri Widodo “99
Tangan Tuhan di Aceh: Misteri dan keajaiban Pascatsunami”. Jakarta.
Yayasan Air Mata. 2005. hlm. 68.
Cerpen ini menceritakan seorang tokoh ‘aku’ yang selamat dari bencana
tsunami. Tokoh aku merasa bersyukur karena terlepas dari bencana yang
mengejarnya. Ia merasa terbimbang untuk dapat menyelamatkan diri. Dari
awal kejadian, ia terbangun dari tempat tidurnya akibat goncangan gempa
yang sangat kuat. Ia langsung ke luar rumah dengan menggunakan motor
mengamati keadaan di sekitarnya. Ia mendengar teriakan; “lari! lari! air naik!
air laut naik!” disusul dengan ratusan orang berlarian. Mayat seorang anak
kecil tampak di bundaran di tengah perempatan, hanya ditutup selembar kain.
Entah ke mana bapaknya, entah ke mana ibunya, anak tersebut terbujur kaku.
Tokoh ‘aku’ selamat dan sampai sekarang masih hidup.
Cerpen “Terima Kasih Kehidupan” mempunyai unsur intrinsik latar dan alur
cerita yang dapat dibahas dalam pembelajaran cerpen. Dengan menggunakan
metode ingkuiri, guru dapat membahas latar cerita dengan mengaitkannya
dengan realita kehidupan. Seseorang harus mewaspadai keadaan alam yang
tidak baik. Cerpen ini mempunyai latar yang menceritakan seseorang merasa
masih diberi kehidupan oleh Tuhan. Seorang tokoh utama merasa terselamat-
kan dari bencana dengan tanggap terhadap lingkungannya.
(Lanjutan)
Cerpen ini menceritakan seorang tokoh yang mengalami pukulan bathin yang
cukup berat. Ia kehilangan seorang anak yang sangat di sayangi berumur 18
bulan. Peristiwa kehilangan anaknya tersebut, disaksikannya langsung ketika
anaknya terlepas dari tangannya akibat arus yang sangat kuat. Namun, tokoh
Muhammad tidak larut dalam kesedihan. Ia punya cara lain mengatasi hal
tersebut dengan menjadi relawan. Ia bersama istrinya yang juga mengalami
nasib yang sama yaitu dibawa oleh arus yang sangat kuat. Mereka ingin
meratapi kesedihan dengan menolong orang sebanyak-banyaknya, agar dapat
menemukan kembali putri kesayangan mereka.
Cerpen “Tolong Jangan Kasihani Saya” terdapat unsur intrinsik tokoh dan
Penokohan untuk dijadikan bahan pembahasan di dalam kegiatan pembelajar-
an. Penokohan yang terdapat di dalam cerita tersebut dapat memotivasi
peserta didik untuk hidup mandiri. Mereka yang terkena musibah jangan
manja dan pasrah menerima bantuan orang lain. Dengan demikian, seseorang
harus tegar menghadapi musibah dan tantangan hidup ini. Dengan
mengunakan metode diskusi, materi pembelajaran cerpen ini akan
memberikan berbagai pengalaman dalam kehidupan ini.
6. Cerpen “Sebotol Sirup untuk Hidup” karya Iwan Santosa, “Bencana Gempa
dan Tsunami Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas. 2005. hlm. 153.
Cerpen ini menceritakan perjuangan keluarga Acin yang ditimpa bencana
Tsunami. Semua harta bendanya habis tersapu arus air yang sangat kuat. Acin
seorang pedagang yang membuka warung di Banda Aceh. Ia baru saja
merenovasi warungnya namun sayang semuanya hancur dan sebagian dibawa
oleh arus yang sangat kuat. Semua bahan makanan tidak ada yang tersisa,
mereka merasakan kelaparan. Pada saat itu yang terlihat oleh Acin sebotol
sirup dan beberapa botol aqua dagangannya. Akhirnya dengan air dan sirup
tersebut yang dapat mempertahankan hidup mereka.
Cerpen ini juga masih mengangkat peran tokoh yang berusaha untuk
mempertahankan hidupnya di tengah-tengah badai. Hal ini dapat dijadikan
(Lanjutan)
(Lanjutan)
8. Cerpen “Anak Penjual Minyak Tanah” karya Kalina Maryadi. Mei 26, 2009.
sumber dari [Link] [Link]/f/33496/
Cerpen“Anak Penjual Minyak Tanah” menceritakan dua orang anak yang baik
dan patuh kepada ibunya. Mereka berasal dari keluarga miskin yang kesulitan
memperoleh bahan bakar (minyak tanah) untuk keperluan sehari-hari. Ibunya
menyuruh kedua anaknya untuk membeli minyak tanah yang jauh dari
rumahnya. Dengan mengenderai sepeda, kedua anak tersebut mencari minyak.
Di tengah perjalanan, ban sepeda mereka kempis. Mereka meneruskan
perjalanan dengan perlahan-lahan dan akhirnya sampai juga di kedai tempat
penjualan minyak tanah. Si Abang menyuruh adiknya untuk membeli minyak,
antrian pembeli pun panjang dan abangnya hendak mencari bengkel untuk
memperbaiki sepedanya. Di tengan perjalanan ia melihat seorang anak jatuh
dari sepedanya dan kakinya berdarah. Ia menolong anak tersebut dan setelah
sepedanya diisi angin ia pun membonceng anak tersebut ke rumahnya. Rumah
anak tersebut ternyata kedai penjual minyak. Setelah lama menunggu antrian,
sangat disayangkan minyak pun habis, mereka tidak mendapat bagian. Mereka
berdua pun pulang dengan perasaan yang sabar. Namun, tiba-tiba ada suara
yang memanggil mereka ternyata anak perempuan yang ditolong tadi memberi
mereka minyak tanpa harus membayar.
Cerpen ini dapat menjadi bahan pembelajaran yang baik untuk siswa tingkat
MTs. Cerita yang disampaikan mengasah kepekaan siswa di dalam kehidupan
sosial masyarakat. Tema yang terdapat dalam cerpen ini baik untuk kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi dan inkuiri. Pesan atau
amanat yang disampaikan melalui tokoh-tokohnya dapat menjadi
pembelajaran yang berguna bagi peserta didik.
9. Cerpen ”Orang-orang Pos 327” karya Muhammad Nasir Age dalam Herfanda,
Ahmadun Yosi., dkk. (ed). “Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Sayembara
Menulis Cerpen Tingkat Nasional 2005: “La Runduma” diterbitkan Creative
Writing Institute, Ciputat, 2005. hlm. 10.
(Lanjutan)
Cerpen ini dapat menjadi bahan pembelajaran dengan pembahasan tema dan
amanat. Tema yang terdapat dalam cerpen tersebut dapat memberi pengetahuan
kepada peserta didik bahwa setiap kita harus mempunyai pendirian yang teguh.
Dengan menggunakan metode diskusi, cerpen tersebut dapat di bahas secara
mendasar dengan menggali berbagai permasalahan yang berkaitan dengan
kehidupan ini. Ada beberapa pesan yang disampaikan melalui tokohnya,
seseorang harus teguh pendirian walaupun berbagai godaan datang
menghadang, penuh percaya diri, tidak cepat goyah dengan berbagai godaan.
10. Cerpen “Warisan Kasih Sayang” karya Hope Saxton dalam Jack Canfild dan
Mark Victor Hansen. “A 6th Bowl of Chicken Soup the Soul”: 68 Kisah yang
Membuka Hati dan Mengorbankan Semangat Kembali”. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 2004. hlm. 173.
Cerpen “Warisan Kasih Sayang” menceritakan seorang cucu yang mendapat
warisan dari neneknya berupa jam, cincin, dan, mancet. Dengan warisan
tersebut, ia teringat kehidupan bersama nenek dan kakeknya yang saling
mencintai. Ia juga teringat bagaimana neneknya menggunakan switer kekek
dan neneknya menagis sendirian begitulah kesetian mereka.
Cerpen ini mengunakan alur cerita yang baik. Cerita di sampaikan oleh
pengarang dengan mengunakan alur campuran, alur maju dan alur mundur.
Cerita dimulai dengan alur mundur dan pada akhir cerita menggunakan alur
maju. Dengan pengaturan alur yang menarik, pembelajaran tentang alur dapat
disampaikan kepada peserta didik.
(Lanjutan)
11. Cerpen “Segelas Limun” karya Ed Robertson, Vincent Luong dan Mery
Gardner dalam Jack Canfild dan Mark Victor Hansen. “A 6th Bowl of Chicken
Soup the Soul”: 68 Kisah yang Membuka Hati dan Mengorbankan Semangat
Kembali”. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004. hlm. 280.
Cerpen “Segelas Limun” menceritakan perjuangan anak-anak yang berumur 15
tahun lari dari konflik di negaranya. Mereka melarikan diri untuk menghindari
penindasan. Jika mereka tidak lari maka rezim komunis akan menangkap
mereka. Mereka akan ditempatkan di tempat-tempat kerja paksa yang brutal,
tanpa pernah terlihat lagi. Di dalam pelarian, mereka mendapatkan berbagai
rintangan yang sangat berat bahkan sebagian dari mereka ada yang meninggal.
Di tengah lautan, mereka beberapa kali di hantam badai dan akhirnya mereka
sampai ke negara tetangga Malaysia, dari sana, mereka diberangkatkan ke
Amerika. Akhir perjuangan , mereka menjadi orang yang sukses di Amerika.
Cerpen ini dapat menjadi materi pembelajaran cerpen yang menarik. Kisah
perjuangan tokohnya menjadi motivasi bagi siswa untuk mencapai cita-cita
mereka. Pembelajaran yang dilakukan dapat membahas tokoh dan penokohan,
alur cerita, latar dan tema serta amanat. Cerpen ini dapat diajarkan dengan
menggunakan metode yang bervariasi sehingga siswa dapat memahami
berbagai infomasi dan pengetahuan di dalam materi tersebut.
12. Cerpen “Pisang Goreng Kartini” karya Mustaqiem Eska Senja, Juni 4, 2009.
[Link]
Cerpen “Pisang Goreng Kartini” seorang yang tidak mempunyai biaya untuk
sekolah. Ia berusaha berjualan pisang goreng untuk membantu ibunya yang
miskin. Bapaknya telah bercerai dengan ibunya dan telah kawin lagi. Ia belajar
di perpustakaan dengan membaca buku-buku pelajaran pada setiap hari Rabu
karena pada hari itu, ia libur tidak berjualan pisang goreng. Ia begitu tabah
menghadapi hidup ini dan berusaha dengan semampunya untuk menjalani
hidup ini. Seorang guru mengajaknya untuk ikut sekolah paket namun ia
(Lanjutan)
13. Cerpen “Dari Tuhan” karya Kemala P dalam Koes Sabandiyah, Buku
Kumpulan Cerpen: Teman Khayalan, PT Penerbitan Sarana Bobo. Jakarta.
2009.
Cerpen “Dari Tuhan” menceritakan seorang petani yang kaya raya. Ia memiliki
kebun jeruk yang sangat luas. Setiap panen, ia selalu menjual ke kota
keuntungannya diberikan kepada orang-orang miskin. Suatu ketika, ia pulang
melewati sebuah gang kecil di sekitarnya terdapat banyak gubuk reot. Petani
kaya tersebut mendengar seorang perempuan menangis. Ia sangat kasihan iba
dan mendekati rumah tersebut ingin mengetahui masalah yang dihadapi
perempuan tersebut. Ternyata, perempuan itu tidak dapat melunasi sewa
rumanya dan suaminya pun tidak mempunyai pekerjaan. Petani tersebut
meletakkan uang di bawah pintu untuk membantu mereka tanpa diketahui oleh
perempuan itu dan suaminya. Keesokan harinya, petani tersebut datang lagi
untuk membantu keluarga tersebut memberinya pekerjaan. Mereka merasa
bersyukur karena doa mereka didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.
Cerpen “Dari Tuhan” memiliki unsur intrinsik latar cerita, tema dan amanat
yang menarik untuk dijadikan materi pembelajaran pada siswa tingkat MTs
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
139
(Lanjutan)
khususnya kelas VII. Latar tempat pedesaan dapat dikaitkan dengan suasana
desa. Materi cerpen tersebut dapat diterapkan metode diskusi, inkuiri, dan
sosiodrama.
14. Cerpen ”Rahasia Ibu” karya Djoni dalam Koes Sabandiyah, Buku Kumpulan
Cerpen: Teman Khayalan, PT Penerbitan Sarana Bobo. Jakarta. 2009.
menceritakan sikap seorang ibu yang tenggang rasa menolong seorang anak
penjual kue yang tinggal bersama ibu tirinya. Jika kue tidak habis dijual maka
ia akan dipukuli oleh ibu tirinya. Seorang ibu terus-menerus membeli kue
tersebut setiap saat meskipun rasa kue tersebut kurang enak. Anak ibu itu
merasa heran, mengapa ibunya membeli kue meskipun tidak dimakan.
Akhirnya, ia baru tahu ibunya itu hanya ingin menolong anak tersebut karena
ibunya dipesan oleh almarhum ibunya agar menjaga anak penjual kue tersebut.
Karana pesan tersebut, ibunya selalu menjaga agar anak tersebut jangan sampai
dipukuli oleh ibu tirinya.
Cerpen ”Rahasia Ibu” baik untuk pembahasan tokoh dan penokohan, tema dan
amanat. Peran tokoh yang ditampilkan dapat memberi pengetahuan dan pesan-
pesan penting yang dapat dikaitkan dengan kehidupan ini.
15. Cerpen “Anak-anak Penyelamat Sejarah” karya Fajar Gita Rena dalam Koes
Sabandiyah, Buku Kumpulan Cerpen:Teman Khayalan, PT Penerbitan Sarana
Bobo. Jakarta. 2009.
Cerpen “Anak-anak Penyelamat Sejarah” menceritakan seorang anak dari
keluarga miskin. Orang tuanya bekerja sebagai penggali kuburan. Ia tidak
diberikan raportnya oleh guru karena belum melunasi uang sekolahnya. Suatu
malam ia diajak oleh bapaknya untuk bekerja menggali kuburan agar
mendapatkan ongkos dan ia dapat membayar tunggakan uang sekolahnya. Ia
merasa heran kepada bapaknya mengapa harus menggali kuburan pada malam
hari. Ia penasaran, ternyata yang mereka kubur bukan manusia akan tetapi batu
hitam dan arca yang dilindungi oleh negara. Atas kerja sama guru dan siswa,
mereka menggali kembali dan menemukan barang-barang tersebut. Atas
(Lanjutan)
O000O