0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan52 halaman

Darmin Nyodok Becak untuk Kaos Rider

Cerita pendek ini menceritakan tentang Benyamin (Ben), anak seorang buruh bangunan yang miskin. Ia berusaha tekun belajar di sekolah meski menggunakan sepatu yang sudah usang. Ben bersyukur atas nikmat yang dimilikinya dan selalu berdoa agar diberi kekuatan menghadapi kesulitan.

Diunggah oleh

sayadisini687
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan52 halaman

Darmin Nyodok Becak untuk Kaos Rider

Cerita pendek ini menceritakan tentang Benyamin (Ben), anak seorang buruh bangunan yang miskin. Ia berusaha tekun belajar di sekolah meski menggunakan sepatu yang sudah usang. Ben bersyukur atas nikmat yang dimilikinya dan selalu berdoa agar diberi kekuatan menghadapi kesulitan.

Diunggah oleh

sayadisini687
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Lampiran 1

Materi Cerpen

NYODOK

1. Pagi tadi Darmin tidak masuk sekolah. Seharian ia nyodok becak


Bang Mi'an yang kebetulan sedang pulang ke kampung.
2. Darmin ingin punya kaos rider seperti kepunyaan Tanto. Tetapi mana
mungkin orang tuanya yang miskin itu sanggup membelikannya.
3. Kebetulan sekali waktu Bang Mi'an sedang pulang ke kampung, dan
becaknya dititipkan di rumah Darmin. Di kampung paling tidak Bang Mi'an
tiga hari. Hitung-hitung, jika waktu tiga hari itu dapat digunakan oleh
Darmin untuk nyodok becak Bang Mi'an, kiranya pendapatannya cukup untuk
membeli kaos seperti yang diinginkannya.
4. Maka, sejak pagi tadi, Darmin pun mulai nyodok becak Bang Mi'an. la
telah minta ijin kepada gurunya untuk tidak masuk sekolah selama tiga hari.
Alasannya hendak pergi ke kampung menengok neneknya.
5. Dari pagi hingga kira-kira pukul sembilan malam, Darmin sudah dapat
mengantongi uang lima ratus rupiah lebih. Dan jika selama tiga hari ini selalu
mujur demikian, cukuplah sudah uang Darmin untuk membeli kaos rider.
Bahkan mungkin lebih.
6. Dengan lenggang seenaknya, Darmin mendayung becaknya perlahan-
lahan menuju ke gedung bioskop yang hampir bubaran.
7. Langit cerah. lampu-lampu listrik di sepanjang jalanpun sinarnya berseri-
seri seperti mata Si Darmin.
8. Film pertunjukan kedua pun bubarlah. Penonton-penonton berjejalan ke
luar. Dan Darmin menghentikan becaknya di tempat yang kira-kira akan
mendapatkan penumpang.
9. Di antara orang banyak yang baru saja ke luar dari gedung bioskop itu
terlihat juga guru Darmin beserta isterinya. Rupanya ia pun habis menonton.
Pak Guru itu berjalan menuju ke arahnya.
Darmin mulai merasa cemas.
10. "Selamat .... , selamat. ... ," do'anya di dalam hati sambil menekankan
topinya dalam-dalam untuk menutupi wajahnya. la tidak berani memandang
ke arah gurunya yang semakin dekat itu.
11. "Jalan Tongkol, Bang!" tiba-tiba kata gurunya sambil memegang tepi kap
becak Darmin.
12. "Lima puluh saja, Pak," sahut Darmin singkat dengan suara agak dibesar-
besarkan. Tetapi terasa agak gemetar juga. "Tiga lima, ya?" tawar gurunya.
13. "Baiklah," akhirnya kata Darmin untuk menghindarkan percakapan yang
lebih panjang lagi dengan gurunya itu.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009

89
90

(Lanjutan)

14. Sambil menggenjot becaknya yang ditumpangi oleh gurunya Darmin


bersyukur. Sebab, agaknya Pak Guru tidak menyangka sedikit pun bahwa
tukang becak yang menariknya itu sebenarnya Si Darmin, muridnya.
15. "Stop sini!" kata gurunya sesampai di depan rumahnya.
16. Guru Si Darmin dengan isterinya pun turun sambil menyodorkan dua
lembar uang kertas yang diterima oleh Darmin tanpa diperiksa lagi.
17. Tetapi tiba-tiba ia terperanjat setengah mati, ketika hendak memasukkan
uang ongkos becak dari gurunya itu ke dalam dompetnya. Sebab, dua lembar
uang kertas yang diterimanya itu ternyata bukan lembaran duapuluhlimaan
dan puluhan, melainkan ribuan. Setelah berfikir sejenak, tanpa ragu-ragu ia
kembali lagi memberikan uang itu kepada gurunya. Dan tatkala itu tahulah
Pak Guru, bahwa penarik becak itu adalah Darmin, muridnya.

Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya. 1977


Karya karya Trim Suteja

Biodata Penulis

Trim Sutidja

Trim Sutidja lahir 13 Juni 1938 di Sumedang, Jawa Barat. Ia gemar menulis sejak
remaja. Ia menulis cerita-cerita anak yang berhubungan dengan dunia anak-anak.
Hingga saat ini puluhan cerita anak yang dituliskannya dan diterbitkan oleh Balai
Pustaka dan penerbit lainnya.

Karya-karyanya kumpulan cerita anak Di Puncak Bukit Payung yang diterbitkan


oleh Balai Pustaka Tahun 1968. Kemudian tahun 1969, cerita anak yang berjudul
Di Tengah Hutan Jati, juga diterbitkan oleh Balai Pustaka. Berikutnya Surat
Tantangan yang diterbitkan oleh Balai Pustaka Tahun 1977. Banyak buku-
bukunya yang tidak terdapat di toko buku atau pun di pustaka-pustaka dan hingga
saat ini bukunya belum ada yang dicetak ulang.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


91

Lampiran 2
Materi Cerpen

SEPATU BEN

1. Benyamin, biasa dipanggil Ben, anak seorang buruh bangunan. Ben anak
tertua dan mempunyai tiga orang adik. Dia satu-satunya anak lelaki karena
ketiga adiknya perempuan. Sebagai anak buruh bangunan, Ben tahu diri. Dia
tidak pernah menuntut macam-macam dari orang tuanya. Dia sangat
bersyukur dapat bersekolah di SMU Negeri yang bagus. Saat ini Ben duduk
di kelas dua. Rata-rata teman sekelasnya dari golongan menengah ke atas.
Ben satu-satunya anak tak mampu yang mendapat bantuan Jaring Pengaman
Sosial atau JPS. Tentunya setelah dia mendapatkan surat pernyataan tidak
mampu dari kelurahan.
2. Ben tidak merasa minder kepada teman-temannya. Meskipun mereka
anak orang kaya, Ben dapat bergaul dengan baik. Kedua orang tuannya selalu
mengajarkan bahwa manusia itu derajatnya sama di mata Tuhan. Kekayaan
hanya titipan Tuhan, sifatnya sementara. Ben bersyukur teman-teman
sekelasnya tidak alergi terhadap dirinya yang miskin. Bahkan jika ada
sumbangan untuk fotocopy soal ulangan, kas sekolah, menengok teman yang
sakit dia tidak diminta uang
3. Pagi itu Ben bersiap-siap berangkat sekolah. Dia selalu bangun pagi. Pukul
04.00 WIB, Ben sudah menyapu halaman rumah setelah itu ia solat subuh.
Sebagai orang Betawi asli, ibadahnya tidak pernah bolong. Kata pak Ustad,
orang miskin mempunyai kelebihan waktu untuk berdoa. Apa yang dikatakan
pak ustad benar, karena miskin maka tidak pernah ada acara, jalan-jalan ke
Mal, makan-makan di restoran, berenang, berkaroke dan macam-macam
kegiatan yang dilakukan orang kaya. Karena itu, Ben dan keluarganya
mempunyai banyak waktu untuk ibadah. Dia tidak menyesali dirinya
dilahirkan dalam keluarga miskin.”Miskin harta lebih baik daripada miskin
jiwa, “itulah yang sering dilontarkan ayahnya.
4. Ben sedang sibuk merapikan sepatunya yang menganga di bagian depan
kanan. Tiba-tiba ibu Yeni memanggil namanya. “Ben, kamu mengerjakan
soal nomor tiga. ”Ben menekan kuat-kuat bagian depan kanan sepatunya
supaya tidak menganga lagi. Lem yang dikeratkan tadi pagi di rumah kurang
bagus.
5. “Ben! Kamu mengerjakan soal nomor tiga!” Suara Ibu Yeni agak
keras.“Ya Bu.” Tergopoh-gopoh Ben bangkit dari tempat duduknya. Dia
menarik nafas lega karena sepatunya tidak menganga lagi.
6. Dengan penuh semangat Ben mengerjakan PR matematika di papan tulis.
Ibu Yeni mangut-mangut puas karena soal yang dikerjakannya itu, benar. Ben
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
92

(Lanjutan)

7. termasuk anak rajin dan pandai. Nilai matematikanya selalu bagus. Karena
itu, jika ada soal yang sulit dan teman-teman sekelasnya banyak yang tidak
mengerjakan Ibu Yeni menyuruh Ben untuk menyelasaikannya.
8. Saat istirahat tiba, Ben ke perpustakaan. Dia jarang sekali jajan di kantin.
Baginya, sarapan di rumah sudah cukup. Dia tidak bisa jajan seperti teman-
temannya yang kaya. Kecuali ada yang mentraktirnya, dia baru makan di
kantin. Dia harus dapat berhemat. Uang jajan yang tidak seberapa dan pas-
pasan itu ditabung. Dia harus prihatin, Jika bulan puasa, ia bisa tidak makan
dari subuh hingga Magrib, maka kalau hanya menahan lapar dari pagi hingga
siang, baginya merupakan hal yang ringan. Ben akan menggunakan
tabungannya untuk membeli keperluan sekolah termasuk membeli sepatunya
yang sudah menganga.

*****

9. Ben menimang-nimang sepatunya yang sudah tiga tahun setia


menemaninya. Baik hujan maupun panas, sepatu itu melindungi kakinya dari
air, panas, benda tajam, kotoran dan lain-lain. Apa jadinya jika tidak ada
sepatu. Meskipun sepatunya buatan dalam negeri, daya tahannya tidak kalah
dengan sepatu luar. Apakah itu Reebok, Nike, Adidas dan masih banyak yang
memakai sepatu bermerek sedangkan Ben cukup buatan dalam negeri.
10. Selesai sholat Isya, Ben masih bersila di atas sajadah tua yang dulu
diterimanya dari guru agama sewaktu di SMP kelas satu. Dia sangat berhati-
hati memakainya. “Sabar dan tawakal ya Ben, meskipun orang tua bukan
orang kaya, kamu harus tetap rajin dan tidak boleh melupakan doa.”Itulah
kata-kata Pak Saifudin saat Ben melaksanakan praktik sholat di sekolah. Ben
banyak curhat kepada Pak Saefudin karena guru agamanya itu sangat baik
dan sabar. Waktu itu, Ben hampir dikeluarkan dari sekolah karena sudah
enam bulan belum membayar uang sekolah. Bapak Saefudin menjadi dewa
penolongnya. Uang tunggakan selama enam bulan dilunasi oleh Pak
Saefudin.”kalau kamu nanti mempunyai uang, boleh diganti, jika tidak ya
tidak apa-apa. Bapak relakan.
11. “Terimakasih Pak, saya tidak dapat membalas kebaikan Bapak. Yang
pasti, saya akan berdoa setiap kali sholat agar Bapak diberikan banyak rezeki
dan selalu berada di jalan Tuhan.”
12. Begitulah kata-kata yang dapat dikeluarkan dari lubuk hatinya yang paling
dalam. Di zaman seperti ini, sangat sulit menemukan orang baik seperti Pak
Saefudin. Ben menepati kata-katanya. Jika selesai sholat, dia menyempatkan
untuk mendoakan guru agamanya itu. Tuhan pasti akan mendengar doanya.
13. Ben terlalu mengidolakan Pak saefudin, akibatnya dia selalu
membandingkan dengan orang lain. Terutama dengan guru-guru lain. Apabila
jika dia mendapatkan pengalaman yang tidak pernah diterima di sekolah
sebelumnya.
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
93

(Lanjutan)

14. Minggu lalu, Ben seperti biasa berangkat sekolah. Tiba di depan pintu
gerbang sekolah ada dua guru yang menghadang siswa. Pak Dirman dan Pak
Sholeh pasang wajah angker. Dari bisik-bisik beberapa temannya, katanya
ada razia sepatu. Sekolah mewajibkan siswanya memakai sepatu hitam. Ben
berhenti sejenak di dekat warung Mpok Icih. Didampingi sepatunya lama-
lama. Ada rasa iba menerima kenyataan bahwa sepatunya ini akan terkena
razia. Sudah menjadi rasia umum kalau Pak Dirman galak. Asal ada siswa
yang memakai sepatu hitam tetapi ada variasi warna lain, pasti dikenakan
sanksi dan namanya dicatat di buku piket.
15. “Sepatu saya kan berwarna hitam pak.”
“Hitam katamu? Ini strip pinggirnya berwarna biru. Kamu buta warna ya.
Daripada beli sepatu seperti ini, mahal, kamu belikan sepatu hitam yang lebih
murah bisa dapat tiga. Begitulah kata-kata kasar Pak Dirman kepada siapa
saja yang terkena hadangnya. Banyak anak-anak perempuan menangis
dibuatnya. Mereka merasa diperlakukan kasar oleh Pak Darman. Bagi yang
perasa, perlakuan seperti itu akan membekas di hati. Banyak juga yang
merasa benci kepada Pak Dirman.
16. Ben melangkah kakinya ke arah pintu gerbang. Pak Dirman, sambil
berkacak pinggang, langsung, menarik tangannya.
17. “Sepatu kamu tidak berwarna hitam. Ini lebih dominan berwarna coklat .
Sekarang lepaskan sepatumu, letakkan diruang piket. Namamu siapa, kelas
berapa dan sudah berapa kali kamu tertangkap tidak memakai sepatu hitam.”
18. Begitulah Pak Dirman menangkap dan mengintrogasi siswa. Gayanya
yang garang menakutkan siswa. Dengan wajah lesu, Ben melepaskan
sepatunya. Sepatu tua yang sudah menganga itu tersenyum padanya dan
menghibur. ”Sudahlah Ben, kamu jangan sedih. Sebagai murid kamu harus
taat kepada guru. Apapun perlakuan gurumu harus kamu terima. Kamu
dianggap melanggar tata tertib sekolah. Jadi terimalah hukuman ini. Nanti
siang, kamu boleh mengambilku. Kita berdua akan berjalan bersama lagi.”
Ben tanggap, sekali lagi secepatnya tersenyum. Ben cepat-cepat menuju ke
kelasnya tanpa memakai sepatu.
19. Ben melangkah kakinya ke arah pintu gerbang. Pak Dirman, sambil berkacak
pinggang, langsung, menarik tangannya.
20. “Sepatu kamu tidak berwarna hitam. Ini lebih dominan berwarna coklat .
Sekarang lepaskan sepatumu, letakkan di ruang piket. Namamu siapa, kelas
berapa dan sudah berapa kali kamu tertangkap tidak memakai sepatu hitam.”
21. Hari itu mengikuti pelajaran setengah hati. Saat istirahat, dia tidak
beranjak dari tempat duduknya. Bagaimana mau keluar kelas kalau tidak
memakai sepatu. Dua temannya yang senasip dengan tenang berjalan
kemana-mana memakai sandal jepit yang diambil dari mushola. Tono dan
Zulkifli sudah sering kena razia sehingga mereka menganggap enteng saja.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


94

(Lanjutan)

22. Lonceng jam terakhir berbunyi. Ben segera menuju ruang piket. Setelah
melapor kepada guru piket, dia mengambil sepatunya.
23. “Kamu tersiksa ya Ben.”
“Sst…diam, aku tidak hanya tersiksa melainkan sangat kecewa dengan
kejadian ini.” Sepatu itu segera diambilnya. Setelah memeriksa bagian depan
kanan, Ben memakainya. Begitu memakai sepatu, ia merasa memperoleh
tenaga baru.“Ah, ternyata kamu memang sumber tenagaku. Tanpa kamu, aku
tidak bersemangat belajar di kelas. “Sepatu Ben tersenyum geli dan
mengangguk-angguk kegeriangan. Karena terlalu gembira mulutnya terbuka.
Ben uring-uringan.
24. “Sudah, jangan terlalu lebar tertawanya. Kakiku bisa kena kerikil. Kamu
membuat aku tidak nyaman berjalan karena mulutmu terlalu lebar
menganga.”

*****

25. Ben membuka tabungannya. Setelah dihitung ada uang sejumlah Rp


36.000,00, padahal dia memerlukan uang Rp 55.000.00. Tadi siang dia
mampir ke toko sepatu. Harga sepatu warna hitam tanpa variasi warna lain
itu, harganya Rp 55.000,00. Jadi kekurangannya Rp19.000,00. Ben putar
otak. Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan uang bantuan Jaringan
Pengaman Sosial atau JPS yang diterimanya dan dipergunakan untuk
membayar uang sekolah.
26. Hari pertama memakai sepatu barunya. Selama duduk di kelas dia melepas
sepatunya. Dia akan memakainya jika disuruh guru maju ke depan atau saat
istirahat. Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Dia merasa gerah dan
lemas. Tidak bertenaga dan tidak bersemangat. Ben jadi teringat kepada
sepatunya yang lama. Saat ini ditinggalkannya di rumah, diletakkan di bawah
meja belajar. Ben hanya bisa mamakainya jika tidak ke sekolah.
27. Sepatu itu penuh riwayat. Saat kelas dua SMP, Ben menjadi juara umum.
Dia mendapat uang sebesar Rp 75.000.00. Uang itu dibelikan sepatu. Baru
sekali dalam hidupnya dia mempunyai sepatu baru dan harganya mahal.
Biasanya dia hanya memakai sepatu bekas yang dibelikan emaknya
dibelakang loak. Karena sepatu itu dibelikan dengan uang sendiri, Ben sangat
menyayanginya. Awal-awal mempunyai sepatu baru, Ben meletakkanya di
bawah bantalnya jika tidur. Emaknya hanya bisa meneteskan air mata.
Selama tiga tahun, sepatu tersebut sudah enam kali disolkan, dilem, dijahit
dan dipermak sana-sini.
28. Dengan pengalaman memakai sepatu baru yang tidak mengenakkan,
akhirnya Ben memutuskan untuk membawa sepatu kesayangannya ke sekolah
dan dimasukkan ke dalam tasnya. Dengan adanya sepatu itu di dalam tas,

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


95

(Lanjutan)

29. cukup memberikan kekuatan dan ketenangan. Ben merasa bergairah kembali
mengikuti pelajaran di kelas. Saat-saat pergantian guru, Ben suka membuka
tasnya. Dipandanginya sepatunya lama-lama. “kamu di situ saja ya, jangan
menggangguku. Baumu itu kurang sedap karena itu tasku harus sering
ditutup. Kamu bertahan dulu dalam suasana gelap dan pengap.” Ben menutup
rapat-rapat tasnya kemudian duduk manis, karena guru kimia datang.
30. Pulang sekolah, Ben ingin membeli buku tulis di toko dekat sekolah. Saat
menyeberang, dilihatnya ada seorang ibu yang berteriak. “Copet, copet…tas
saya dicopet!” Ben melihat, ada seorang laki-laki yang berlari ke arah
Selatan. Beberapa orang yang ada sekitar kejadian hanya menonton saja. Ben
segera membuka tasnya. Diambilnya sepatu kesayangannya. Tanpa berpikir
panjang dilemparkannya sepatu itu ke arah pencopet yang sedang berlari.
Sepatu itu dengan deras meluncur dan dengan tepat mengenai kepala
pencopet yang sedang berlari. “stop, stop! Jangan main hakim sendiri!” Ben
segera menyeruak kerumunan orang-orang yang memukuli pencopet. Satpam
sekolah datang membantu mengatasi situasi.
31. Pencopet itu segera dibawa ke pos polisi terdekat. Ben mengamankan tas
ibu yang kecopetan kemudian menyerahkannya kepadanya.
“Terima kasih ya, Nak. Kalau tadi tidak melempar pencopet itu, belum tentu
tas ibu bisa kembali. Ini sekedar terima kasih dari ibu. Ben diberi uang dua
puluh ribu, tetapi dia menolaknya.
“Tidak usah Bu! Kebetulan saya lewat. Saya hanya sedikit membantu. Ibu
mau ke mana?”
“Ibu mau ke SMU 33 kebetulan ada berita penting yang harus ibu
sampaikan.”
32. Ben mengatarkan ibu itu ke sekolah. Ia hanya menduga-duga, istri siapa
ibu ini. Sampai di depan pintu gerbang, Ben ingin langsung berbalik dan
pulang. Tiba-tiba ada suara mengagetkannya.
33. “Ada apa, Bu. Tumben ke sekolah.” Ya, itu suara Pak Dirman. Jadi ibu itu
istri Pak Dirman, guru yang telah membuat dirinya tersiksa karena harus
menggantikan sepatu kesayangannya. Istri Pak Dirman menceritakan semua
kejadian pencopetan tadi.
34. “Murid Bapak ini, benar-benar anak yang berbudi baik. Dia menolak
pemberian ibu sebagai tanda terima kasih. Jarang ada anak sebaik ini.” Pak
Dirman manggut-manggut, dia menyalami Ben dengan tulus.
35. “Terima kasih, Ben. Sekali lagi, terima kasih.”
Ben tersenyum simpul, dengan tulus dia memaafkan apa yang sudah
diperbuat Pak Dirman terhadap dirinya. Meskipun begitu dia berkata dalam

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


96

(Lanjutan)

hati, ”Enak saja! Gara-gara ulahmu aku menderita dasar diktator!” Setelah itu
dia pulang damai, yang jelas Pak Dirman tidak tahu apa kata hatinya.
*****

Jakarta, 31 Juli 2001


Karya Puji Isdriani K

Biodata Penulis

Pudji Isdriani K
Pudji Isdriani K, dilahirkan di Purwokerto, Jawa Tengah, 30 Mei 1957. Lulus SD
Negeri Keputran IV Pekalongan, SMP Negeri IV Purwokerto, SMA Negeri II
Purwokerto, Sarjana Muda Fak. Sasdaya UNS 11 Maret Surakarta dan S1 Fak.
Sastra Universitas Indonesia Jakarta. Selalu berpindah-pindah dari satu kota ke
kota lain. Karena ayahnya, Letkol. Pur. H.A. Ratidjo adalah perwira ABRI.

Cerpennya dipublikasi pertama kali di mingguan Drama Nyata Solo. Selanjutnya


dimuat di majalah wanita Famili, majalah remaja Variasi Putra Indonesia,
majakah wanita Kartini dan mingguan Republika. Cerpennya yang berjudul
“Laras Si Anak Tangsi” menjadi pemenang utama lomba menulis cerita anak
dengan perpektif gender equal 2000 yang diadakan oleh lingkaran jurnalistik
tahun 2000. “Sepatu Ben” menjadi nominator LMCP Dirjen Dikdasmen
Depdiknas.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


97

Lampiran 3
Materi Cerpen

HARI YANG BAHAGIA

1. Setelah selesai melaksanakan ujian akhir, sekarang tinggal menunggu


pengumuman. Pagi itu, anak-anak kelas VI sudah tidak sabar melihat papan
pengumuman. Kami bergerombol di depan ruang kantor Bapak Kepala
Sekolah. Papan pengumuman itu ternyata baru diisi dengan angka-angka.
Setiap kali ada guru yang keluar dari ruangan itu, anak-anak ramai bertanya,
"Saya lulus apa tidak, Pak? Saya lulus, tidak, Pak?" Tetapi, guru-guru itu
rata-rata cuma tersenyum.
2. "Murid SD Serut yang tidak lulus ada lima!" kata Pak Darman tiba-tiba
yang lewat di depan anak-anak.
"Ah, yang benar, Pak?" anak-anak seperti tidak percaya. Semua dada
berdebar-debar. Siapa kira-kira yang tidak lulus?
"Jangan percaya omongan Pak Darman. Dia suka bercanda!"
ujar Samuri.
“Kalau tidak percaya, ya, sudah!” Pak Darman ngeloyor pergi.
Perkataan Pak Darman guru nyentrik itu semakin membuat dada kami
berdebar-debar. Beberapa anak perempuan wajahnya tampak memucat.
3. Tiba-tiba Joko mencolek lenganku "Kita ke mesjid, yuk" ajaknya.
"Ke mesjid .. ?" aku terheran-heran.
"Daripada dag-dig-dug di sini, lebih baik kita berdoa di mesjid. Siapa tahu
Pak Darman salah ucap"
4. Aku menuruti ajakan Joko. Kami mengambil air wudhu, lalu melangkah
masuk ke dalam mesjid. Kebetulan baru pukul sembilan pagi Kami
melaksanakan salat Duha, setelah itu memanjatkan doa.
5. Belum lama aku dan Joko berdoa, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dari
halaman depan kantor Pak Kepala Sekolah. Rupanya papan pengumuman itu
sudah dipasang. Anak-anak berebut ingin melihat. Dan, begitu mereka
mengetahui nomor ujian mereka masuk dalam daftar lulus, melompatlah
anak-anak itu sambil berteriak-teriak kegirangan. Mereka berangkul-
rangkulan dengan sesama temannya yang juga lulus.
6. "Sudah, Ko, berdoanya?" aku menegur Joko. Sahabatku itu tersentak dari
kekhusukannya.
"Papan pengumuman itu sudah dipasang," kataku. "O, ya? Kalau begitu, ayo
cepat kita ke sana!" jawab Joko.
7. Aku dan Joko berlari-lari kecil menuju papan pengumuman. Dengan hati
tambah berdegup-degup kami mengamati satu-persatu deretan angka yang
tertulis di situ. Akhirnya, aku menemukan juga angka ujianku. Aku pun
mengucapkan alhamdulillah beberapa kali. Bersamaan dengan itu, Joko pun
langsung menjerit kegirangan setelah menemukan nomor ujiannya masuk
pula dalam daftar lulus .. Aku dan Joko berangkulan. Bahkan, tanpa sadar
kami saling bertangisan. Tangis bahagia, tentunya. Perjuangan kami tidak sia-
sia.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


98

(Lanjutan)

8. "Bagaimana, Joko? Bagaimana, Topo? Kalian lulus?" beberapa temanku


yang lain segera berdatangan.
"Alhamdulillah ... ," sekali lagi kami mengucap syukur. "Horeee ... !" teman-
temanku bergembira pula. Kami saling berangkulan dan bersalaman
mengucapkan selamat.
9. Di kejauhan sana, anak-anak perempuan yang lulus tampak berlari-lari
senang. Mereka mencari guru-guru yang mengajar kelas enam untuk
mengucapkan terima kasih.
10. Demikianlah, hari itu anak-anak kelas VI diliputi kebahagiaan meluap-
luap. Enam tahun sudah kami menuntut ilmu di SD Serut, akhirnya lulus
juga. Untuk meluapkan rasa gembira, beberapa anak lelaki ada yang melepas
baju seragam sekolahnya, lalu melempar-lemparkannya ke udara. Setelah itu,
mereka bertukar-tukaran baju dengan sesama teman untuk kenang-kenangan.
Namun, dari sekian banyak anak yang merayakan kelulusan itu, ada satu anak
yang sejak tadi tidak terlihat. Dia adalah Sukab. Ke mana anak itu?
11. "Engkau melihat Sukab, Ko?" tanyaku kepada Joko. Joko menggelengkan
kepala.
"Hei, Sam. Kamu melihat Sukab?" aku mengalihkan
pertanyaan pada Samuri.
"Kasihan Sukab," jawab Samuri lirih. "Kenapa dia?"
"Tidak lulus."
12. "Haaa ... ?" aku dan Joko sedikit terkejut.
"Lihat pengumuman di papan itu. Ada satu nomor yang tercantum dalam
daftar tidak lulus. Itu nomor ujian Sukab," tunjuk Samuri ke arah papan
pengumuman.
"Betul," Mulyono menambahkan. "Tadi, begitu Sukab mengetahui dirinya
tidak lulus, ia langsung menangis. Lalu, dengan wajah sedih ia pulang."
13. Aku dan Joko mengelus-elus dada mendengar kabar
itu. Ah, Sukab. Dia memang anak nakal. Selain bandel di kelas, Sukab
ternyata juga pemalas. Dia jarang mengerjakan PR. Bila dinasihati guru, ia
suka melawan. Selain itu, ia juga sering bolos sekolah. Hobinya mencuri dan
berbohong. Sekarang, ia harus memetik buah yang ditanamnya. Betapa mahal
kenakalan yang harus ia bayar.

Buku kumpulan cerepn


Di Puncak Bukit Gagak, 2003
Karya: Bambang Joko Susilo

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


99

(Lanjutan)

Biodata Penulis

Bambang Joko Susilo


Bambang Joko Susilo lahir di Sragen tahun 1964. Ia partama kali muncul di Sinar
Harapan tahun 1980, berjudul “sebab anak menangis” yaitu tentang meninggalnya
Bung Hatta. Waktu itu ia duduk di kelas 1 SMP. Sejak itulah ia menyenangi dunia
tulis menulis. Ketika kuliah di IISIP Jakarta (1985-1989), ia cukup produktif.
Mula-mula yang ditulisnya puisi, cerita-anak-anak, cerpen remaja, lalu meningkat
ke cerpen dewasa.
Buku yang telah dihasilkannya: Ketika Matahari TakTampak, Bebek Dari
Kakek (keduanya diterbitkan Balai Pustaka, 1997), Aku Mawar Merah, Berburu
Belut Keramat (diterbitkan Gunung Jati, 2000), Kontributor Profil Perempuan
Pengarang Peneliti Penerbit di Indonesia (Kelompok Cunta Baca, 2000),
kemudian seri Bimo Anak Indonesia sedang dalam proses terbit oleh penerbit
Kesaint Blank.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


100

Lampiran 4
Profil MTs

PROFIL DAN RIWAYAT SINGKAT


MADRASAH TSANAWIYAH NURUL HUDA
JL. Langsa-Peureulak Km 20e-mail: mts_nurhudabyn@[Link]
KABUPATEN ACEH TIMUR

A. Pengertian
Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda adalah merupakan sekolah setingkat
dan sederajat dengan SMP, yang dibina oleh Departemen Agama,
merupakan sekolah atau lembaga pendidikan yang berciri khas Islam.

B. Riwayat singkat berdirinya Madrasah Nurul Huda


MTs Nurul Huda didirikan pada tanggal 12 September 1982 oleh beberapa
tokoh masyarakat Rantau Panjang Bayeun dan Pengawas Madrasah yang
diwakili oleh Bapak Jamirin Harahap, BA.

Berdasarkan hasil musyawarah pada tanggal 28 Agustus 1982 yang


diadakan di mesjid Nurul Iman, antara tokoh-tokoh masyarakat dan cerdik
pandai, maka diputuskanlah pendirian Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda
yang setingkat dengan SMP.

Pembangunan gedung dilakukan oleh masyarakat dengan memberikan


sumbangan dana, material, dan tenaga. Masyarakat bergotong-royong
dapat membangun tiga gedung tahap pertama. Pada tahun 1998
mendapatkan penambahan gedung dari pemerintah sebanyak 2 buah,
sehingga tahun 1999 MTs Nurul Huda sudah mempunyai 5 gedung ruang
belajar siswa. Pada tahun 2003, MTs Nurul Huda mendapat bantuan 3
gedung dari pemerintah yang berfungsi sebagai ruang kantor guru,
laboratorium dan perpustakaan. Hingga kini, MTs mempunyai jumlah
siswa 187 orang MTsNurul Huda terus berperan di tengah masyarakat
mengemban tanggung jawab pendidikan.
• Visi dan Misi

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


101

(Lanjutan)

Visi
Membentuk siswa dengan dasar-dasar ilmu dan teknologi serta iman dan
tagwa, siap menghadapi tantangan global.

Misi
- Menyelenggarakan proses pembelajaran dengan disiplin yang tinggi.
- Meningkatkan potensi-potensi guru menjadi lebih profesional.
- Mengadakan kerja sama dengan berbagai lembega yang terkait.
- Berpatisipasi dalam berbagai kegiatan lokal, provinsi dan nasional
- Memberdayakan berbagai komponen di lingkungan madrasah untuk
mendukung pengembangan pendidikan.

C. IDENTITAS MADRASAH
Nama Madrasah : Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda
No. Statistik : 21210309018
Alamat : Jl. Langsa Peureulak, Km 20.
Kec. Rantau Selamat
Kab. Aceh Timur. Pos 24414.
Tahun Berdiri : 1982
Tahun Opesional : 1983
Nama Kepala Madrasah : Marzuki S,Ag
TMT 18 September 2008
D. DATA SARANA DAN PRASARANA
1. Jumlah tanah yang dimiliki: 8.374 M2 sesuai denga sertifikat tanah Nomor :
116 Tahun 1982.
2. Luas bangunan seluruhnya: 512 M2
3. Luas lapangan olah raga : 400 M2
4. Taman, jalan dan lain-lain : 74620 M2
Ruang dan Gedung
Kondisi kekuranga
No Jenis lokal M2 n
Baik Rusak
1 Ruang Kelas 5 320 3 2 1

2 Ruang Kepala 1 64 1 - -

3 R. Kantor/TU 1 64 1 - -

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


102

(lanjutan)

4 R. Guru 1 64 1 - -

5 R. Pustaka 1 64 1 - -

Data Peralatan dan Inventaris Kantor


keteranga
No Jenis Unit Kondisi n

Baik Sedang Rusak

1 Mobiler 274 215 --- 66

2 Mesin ketik 1 --- 1 ---

3 komputer 1 1 --- ---

4 Peralatan IPA 53 48 ---- 5

5 Peralatan IPS 11 8 --- 3

6 Sound Sistem 1 1 --- ---

7 Olah Raga 7 5 --- ---

8 Perlat UKS 1 1 --- ---

9 Kesenian 30 28 --- 2

10 Daya listrik 1 1 4000Wat

Data Buku
No Jenis Judul Eks Kondisi

Rusa
Baik Sedang
k

1 Buku pelajaran 16 1570 1360 85 125

2 Buku penunjang 32 32 32 --- ---

3 Buku Bacaan 47 47 47 --- ---

4 Jumlah 95 9470 9260 85 125

Data Guru
No Mapel Jml Status Pendidkan butuh kuran

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


103

g
PNS GTT SMA D3 S1

(Lanjutan)

1 Bhs. Arab 1 1 --- --- --- 1 2 1

2 A. Akhlak 1 --- 1 --- 1 --- 1 ---

3 Q. Hadis 1 --- 1 --- 1 --- 1 ---

4 Fiqih 1 --- 1 --- 1 --- 1 ---

5 SKI 1 --- 1 --- --- 1 1 ---

6 IPS 1 1 --- --- 1 --- 2 1

7 IPA 1 1 --- --- 1 --- 2 1

8 Matematika 2 --- 2 --- --- 2 2 ---

10 Bhs. Indonesia 1 --- 1 1 --- --- 2 1

11 Bhs. Inggris 2 1 1 --- --- 2 2 ---

12 Kesenian 1 --- 1 1 --- --- 1 ---

13 Keterampilan 1 --- 1 1 --- --- 1 ---

14 Penjaskes 1 --- 1 1 --- --- 1 ---

15 T. Informatika 1 --- 1 --- --- 1 1 ---

16 Mulok 1 --- 1 --- --- 1 1 ---

Data Pegawai Adninistrasi


Jml Status Pendidkan butuh kuran
Jenis Pegawai g
PNS GTT SMA D3 S1
Pegawai TU 2 --- 2 1 --- 1 2 ---

Data Siswa
Jenis Kelamin
Kelas Jml. Kelas Jumlah siswa
Laki-laki Perempuan

I 2 78 37 41

II 2 72 32 40

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


104

III 1 32 11 21

Jumlah 5 182 80 102

(Lanjutan)

Data Pekerjaan Orang tua /Walisiswa


Petani Petani Petani Wiraswata/
Pegawai S/M
tambak/Pelaut kebun sawah Lain-lain Jumlah
54 18 29 19 63 182
30% 9,1% 15% 10,9% 35% 100%

Data Pendidikan Orang tua/Walisiswa


Tidak Sekolah SMP/MTs SMA/MA S1 S2
Sekolah Dasar

--- 3 154 21 4 ----

0% 1,6% 84,6% 11,5% 2,3% 0%

Data Siswa Baru


Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008

Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah


pendaftar diterima pendaftar diterima pendaftar diterima
54 40 98 72 93 78

Data Tingkat Kelulusan


Tahun 2006 Tahun 2007

Jumlah Jumlah yang % Jumlah Jumlah %


Peserta UAN lulus lulus Peserta UAN yang lulus lulus

36 33 95 42 38 90,47

Permasalahan dan Perencanaan ke Depan


Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
105

1. Masih banyak sarana dan prasarana yang belum mendukung terciptanya proses
belajar-mengajar yang maksimal. Sarana fisik berupa gedung loboratorium,
sanggar seni, dan lapangan olah raga. Di samping itu, sarana yang ada sebagian

(Lanjutan)

besar tidak layak pakai, seperti, meja belajar siswa, kursi siswa dan berbagai
mobiler lainnya sudah rusak.

2. Pemenuhan buku yang sesuai antara satu buku dengan satu siswa untuk setiap
bidang studi masih belum memadai. Sehingga, satu buku harus dibaca oleh dua
orang siswa. Begitu pula buku-buku penunjang untuk digunakan oleh guru
dalam memperdalam wawasannya masih juga kurang memadai.

3. Kebutuhan staf pengajar yang sesuai dengan tingkat kelulusan belum terpenuhi
secara merata untuk setiap bidang studi. Ada bebera periode pengangkatan
guru sebagai pegawai negeri sipil untuk di tempatkan daerah terpencil namun
sangat disayangkan tidak ada yang bersedia di MTs Nurul Huda. Hal ini
disebabkan jarak madrasah dari Ibu kota Kabupaten Aceh Timur hampir 30
Km lebih. Kepala madrasah terpaksa mengambil sikap menggunakan staf
pengajar tingkat SMA. Seperti kata pepatah “Tak ada rotan, akar pun jadi’
Kepala madrasah mengambil kebijakan mengambil mahasiswa yang sedang
menuntut ilmu dan dengan prestasi yang baik untuk menjadi guru-guru di
madrasah. Menurut peraturan, pengajar tingkat MTs seharusnya dari tamatan
D3 atau strata satu (S1). Demi kelancaran proses belajar-mengajar maka kepala
madrasah mengharapkan kegiatan pendidikan di MTs Nurul Huda tetap
berjalan hingga saat ini.

4. Masyarakat sangat berharap kepada pemeritah adanya perhatian yang lebih


serius kepada pendidikan di daerah yang terpencil. Perhatian tersebut tidak
hanya dalam bentuk fisik (pembangunan gedung-gedung) akan tetapi sangat
diharapkan perhatian terhadap kesejahteraan guru-guru yang bersedia
mengabdi di daerah terpencil.

RT. Selamat, 20 Januari 2009


Kepala MTs Nurul Huda

(Marzuki, [Link])
NIP 150276641

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


SILABUS
Nama Sekolah : MTs Nurul Huda Lanpiran 5
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : VII
Standar Kompetensi : Membaca
: Mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai bentuk
wacana lisan sastra.

Penilaian
Kompetensi Materi/ Kegiatan Alokasi Sumber
Indikator Contoh Waktu Bahan
Dasar Pembelajaran Pembelajaran Bentuk
Teknik Instrume
Intrumen
n
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Menanggapi Teks cerpen • Mendengarkan • Membaca dan Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 [Link]
pembacaan “Nyodok” pembacaan cerpen memahami isi bacaan. Tertulis kelas Intrumen menit kumpulan
cerpen karya, yang dilakukan /Perorangan (Sikap/Kinerja) terlampir cerpen
Trim Sutidja. oleh narasumber • Mengungkapkan tokoh dan 2. Penilaian . “Surat
(siswa) dan penokohan cerpen kelompok Kelompok Tantangan”
disertai data tekstual. 3. Esei Karya
• Mendiskusikan (Uraian singkat) Trim
• Menentukan alur 4. Portofolio Sutidja
fungsi tokoh-tokh

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


penceritaan di dalam
dan karakter
cerpen disertai data
tokoh.
tekstual.

106
107

SILABUS
(Lanjutan)
Nama Sekolah : MTs Nurul Huda
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : VII
Standar Kompetensi : Membaca
: Mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai bentuk
wacana lisan sastra.

Penilaian
Kompetensi Materi/ Kegiatan Alokasi Sumber
Indikator
Dasar Pembelajaran Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik
Intrumen Instrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Menanggapi Teks cerpen • Mendiskusikan alur • Menentukan latar-latar yang Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
pembacaan “Nyodok” cerpen dan latar terdapat di dalam cerpen Tertulis kelas Intrumen menit kumpulan
cerpen karya, cerpen. disertai data tekstual. individu (Sikap/Kinerja) terlampir. cerpen
Trim Sutidja. dan 2. Penilaian “Surat
• Menemukan tema di dalam kelompok Kelompok Tantangan”
• Mendiskusikan tema 3. Esei (Uraian karya
cerpen disertai data tekstual.
dan amanat yang singkat) Trim

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


terdapat di dalam • Menentukan amanat-amanat 4. Portofolio Sutidja
cerpan .
yang disampaikan di dalam
cerpen disertai data tekstual.
108

SILABUS (Lanjutan)

Nama Sekolah : MTs Nurul Huda


Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : VIII
Standar Kompetensi : Membaca
: Membaca dan memahami berbagai teks bacaan sastra

Penilaian
Kompetensi Materi/ Alokasi Sumber
Kegiatan Pembelajaran Indikator
Dasar Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik Instrumen
Intrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Membaca Teks Cerpen • Menemukan alur cerpen • Membaca dan Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
dan “Sepatu Ben” yang dibaca, disertai menyusun alur yang Tertulis kelas Intrumen menit “kumpulan
mendiskusi- karya Pudji dengan kejadian-kejadian terdapat di dalam /Perorangan (Sikap/Kinerja) terlampir. cerpen
kan cerpen Isdriani K yang merupakan bukti cerpen dan 2. Penilaian Inkarnasi
setiap tahapan alur kelompok Kelompok Tritis”
• Mengungkapkan tokoh- 3. Esei (Uraian karya
tokoh dan penokohan singkat) Pudji

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


cerpen disertai data Isdriani K
tekstual.
109

(Lanjutan)

SILABUS

Nama Sekolah : MTs Nurul Huda


Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : VIII
Standar Kompetensi : Membaca dan memahami berbagai teks bacaan sastra

Penilaian
Kompetensi Materi/ Alokasi Sumber
Kegiatan Pembelajaran Indikator
Dasar Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik Instrumen
Intrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Membaca Teks Cerpen • Mendengarkan pembacaan • Mendata latar-latar yang Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
dan “Sepatu Ben” cerpen yang dilakukan terdapat di dalam cerpen Tertulis kelas Intrumen menit “kumpulan
mendiskusi- karya Pudji oleh narasumber (siswa) disertai data tekstual. /Perorangan (Sikap/Kinerja) terlampir. cerpen
kan cerpen Isdriani K dan 2. Penilaian Inkarnasi
• Mendiskusikan fungsi • Menemukan tema di kelompok Kelompok Tritis”
tokoh-tokoh dan karakter 3. Pilihan karya
dalam cerpen disertai data
tokoh. Ganda. Pudji
tekstual. 4. Esei (Uraian Isdriani K

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


singkat)
• Menentukan pesan atau
amanat yang disampaikan
di dalam cerpen disertai
data tekstual.
110

(Lanjutan)

SILABUS

Nama Sekolah : MTs Nurul Huda


Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : IX
Standar Kompetensi : Menulis
: Membaca dan memahami berbagai teks bacaan sastra

Materi/ Penilaian
Kompetensi Alokasi Sumber
Pembelajara Kegiatan Pembelajaran Indikator
Dasar Bentuk Contoh Waktu Bahan
n Teknik
Intrumen Instrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Membaca Teks • Mendengarkan pembacaan • Menemukan tokoh dan Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
dan Cerpen Hari cerpen yang dilakukan penokohan di dalam Tertulis kelas Intrumen menit “Kumpula
membanding- yang oleh narasumber (siswa) cerpen disertai data /Perorangan (Sikap/ terlampir. n Cerpen
kan berbagai Bahagia dan Kinerja) Di Puncak
tekstual.
cerpen karya • Mendiskusikan fungsi kelompok 2. Penilaian
Bukit
Bambang tokoh-tokoh dan karakter • Menentukan alur dan Kelompok
Gagak”

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


Joko Susilo tokoh. Isi cerita yang 3. Esei
latar cerita berdasarkan karya
menarik atau (Uraian
teks cerita.
mengesankan singkat) (dan Bambang
. tak terbatas) Joko
Susilo
111

SILABUS (Lanjutan)

Nama Sekolah : MTs Nurul Huda


Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : VIII/2
Standar Kompetensi : Menulis
Mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan dan perasaan dalam berbagai bentu
tulisan sastra

Penilaian
Kompetensi Materi/ Kegiatan Alokasi Sumber
Indikator
Dasar Pembelajaran Pembelajaran Bentuk Contoh Waktu Bahan
Teknik
Intrumen Instrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Mengubah Teks Cerpen • Mendiskusikan • Mengubah cerita Lisan dan 1. Penilaian Soal/ 4 x 40 Buku
cerita pendek ‘Hari Yang alur dan latar pendek menjadi teks Tertulis kelas Intrumen menit Kumpulan
menjadi teks Bahagia’karya berdasarkan teks. drama satu babak, Perorangan (Sikap/Kinerja terlampir. Cerpen Di
drama Bambang Joko dan 2. Penilaian Puncak Bukit
memperhatikan
Susilo • Menuliskan teks kelompok Kelompok Gagak karya
penulisan betuk drama. 3. Esei (Uraian Bambang
drama dan
dilakonkan oleh singkat) Joko Susilo
• Memerankan berbagai
siwa-siswa
tokoh dalam teks drama

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


Mengetahui Guru Bidang Studi
Kepala

(……………………………………………) (………………………………………………………)
Lampiran 6
RPP Cerpen “Nyodok”

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)

Nama Sekolah : MTs Nurul Huda


Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : VII / 2
Standar Kompetensi : Membaca
Memahami wacana sastra melalui kegiatan
membaca cerita pendek (cerpen)
Kompetensi Dasar : Menanggapi pembacaan cerpen
Indikator : 1. Mampu membaca dan memahami isi
bacaan.

: 2. Mampu mengungkapkan tokoh-tokoh dan


penokohan cerpen disertai data tekstual.

: 3. Mampu menentukan alur yang terjadi di


dalam cerpen disertai data tekstual.

: 4. Mampu menentukan latar-latar yang terdapat


di dalam cerpen disertai data tekstual.

: 5. Mampu menemukan tema di dalam cerpen


disertai data tekstual.

: 6. Mampu menentukan amanat yang disampai-


kan di dalam cerpen disertai data tekstual.

Alokasi Waktu : 4 x 40 menit


1. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat memahami isi bacaan dan menentukan tokoh dan karakter tokoh
(penokohan) serta menentukan alur, latar, tema dan amanat sebuah cerpen.

2. Materi Pembelajaran
Cerpen “Nyodok” karya Trim Sutidja, Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya,
tahun 1977.

3. Metode Pembelajaran
a. Diskusi kelompok

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009

112
113

(Lanjutan)
b. Inkuiri
c. Ceramah
d. Tanya jawab dan penugasan.

4. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran


Pertemuan Pertama: 40 x 2 = 80 menit
a. Kegiatan awal (pembuka) (10 menit)
1. Deskripsi ruang kelas, guru mengatur ruang kelas untuk menentukan
suasana yang, bersih, aman dan tertib.

2. Guru memberi beberapa pertanyaan kepada siswa yang berhubungan dengan


topik yang akan dibahas;

3. Apakah kalian mengidolakan seseorang, seperti artis, atau olah ragawan, atau
tokoh politik?

4. Siapa yang mempunyai idola artis? Mengapa kamu mengidolakannya?

5. Siapa yang mempunyai idola seorang olahragawan?

6. Apa usaha kalian jika ingin mengikuti gaya-gaya dari idola kalian tersebut?

7. Tentu kalian ingin menggunakan atribut-artibutnya, bukan? Atau kalian


meniru pakaian yang digunakan oleh idola kalian, bukan? Nah, untuk itu,
mari, kita bahas bersama materi pelajaran berikut ini.

8. Guru mengatur siswa untuk kegiatan berdiskusi:

9. Siswa dibagi ke dalam tiga kelompok atau lebih (secara acak atau ditentukan
oleh guru).

10. Guru membagikan teks cerpen “Nyodok” karya Trim Sutidja kepada setiap
siswa.

11. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membaca cerpen dan


memahami isinya.

12. Siswa ditugaskan membuat pertanyaan yang berhubungan dengan tokoh dan
watak tokoh (karakter tokoh) dan dilanjutkan dengan jalannya cerita (alur
cerita) yang terdapat di dalam materi pembelajaran tersebut.

13. Siswa memahami secara individu dan mendiskusikannya secara kelompok.

b. Kegiatan Inti (60 menit)

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


114

(Lanjutan)
1. Guru sebagai moderator dan evaluator memimpin jalannya diskusi dengan
memberikan beberapa pertanyaan pemula untuk mengarahkan siswa berdis-
kusi.

2. Guru membuat pertanyaan pemula sebagai langkah awal untuk memulai


kegiatan belajar.

3. Pertanyaan guru: Siapa yang tidak bersekolah dalam cerpen tersebut?

4. Guru mengarahkan siswa agar jawaban mereka sesuai dengan realita


kehidupan.

5. Guru menunjuk salah seorang dari kelompok A untuk menjawab pertanyaan


tersebut.

6. Siswa kelompok A menjawab dan siswa kelompok A juga membuat


pertanyaan lain yang berhubungan dengan tokoh dan memberikan pertanyaan
tersebut kepada salah seorang dari kelompok B atau C.

7. Siswa kelompok B atau C menjawab pertanyaan dan membuat pertanyaan


juga dan memberikan pertanyaan lebih lanjut kepada kelompok A atau B.

8. Siswa terus berdiskusi antarkelompok hingga memberi pemahaman dan


kejelasan terhadap materi ajar tokoh dan penokohan.

9. Guru terus memandu kegiatan berdiskusi, jika terjadi kendala, (bagi siswa
yang kurang mempunyai keterampilan), maka guru membantu mengarahkan-
nya.
10. Seluruh siswa terlibat di dalam berdiskusi.

11. Selesai membahas topik tokoh dan penokohan dilanjutkan dengan


pembahasan jalannya cerita, hingga sampai pembahasan tema dan amanat
yang terdapat di dalam materi tersebu.

c. Kegiatan Penutup (10 menit)


1. Guru bersama siswa mengambil kesimpulan dari hasil berdiskusi.

2. Guru mengarahkan siswa dengan memberikan beberapa teori-teori tentang


tokoh dan penokohan serta alur cerita sesuai dengan bahan diskusi yang
mereka bahas.

3. Siswa dapat mencari dan menentukan watak tokoh dan alur cerita dari hasil
diskusi.

4. Siswa menyampaikannya laporan diskusi melalui salah seorang dari


temannya yang mewakili kelompak mereka.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


115

(Lanjutan)
5. Guru menyelesaikan pembelajaran dengan suasana bergembira dan
menyenangkan.

 Pertemuan Kedua (2 x 40 menit)


a. Kegiatan awal (10 menit)
1. Guru mengulangi kembali tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran
berikutnya, yaitu menentukan latar cerita tema dan amanat yang terdapat di
dalam materi pembelajaran.

2. Guru membentuk kelompok siswa sesuai dengan kelompok sebelumnya.

3. Guru dan siswa bertanya-jawab tentang pembelajaran sebelumnya.

4. Guru mengarahkan siswa untuk memahami kembali teks materi yang akan
dibahas.

5. Guru membuat beberapa pertanyaan untuk memotovasi siswa yang


berhubungan dengan materi pembelajaran.
a. Kapan tokoh mulai beraktivitas?
b. Di mana tokoh melakukan aktivitasnya?
c. Mengapa tokoh melakukan hal tersebut?
d. Haruskah tokoh melakukan hal tersebut?

b. Kegiatan Inti (60 menit)


1. Guru memerintahkan setiap kelompok untuk menyusun latar tempat dan latar
waktu dan latar sosial atau suasana cerita secara sistematik (15 menit).

2. Siswa mediskusikan sesama temannya menentukan latar cerita.

3. Masing-masing kelompok mewakilkan anggotanya untuk menuliskan ke


papan tulis.

4. Setelah semua kelompok selesai menuliskan di papan tulis, guru memulai


diskusi untuk menentukan ketepatan penentuan latar cerita tersebut (45
menit).

5. Guru membuat beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan permasalahan


yang dijumpai di dalam materi.

6. Guru membahas tentang permasalahan dalam cerita dalam kaitannya dengan


kehidupan siswa sehari-hari.

a. Kegiatan penutup (10 menit)


1. Guru bersama siswa mengambil kesimpulan dari hasil diskusi.
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
116

(Lanjutan)

2. Siswa melaporkan hasil diskusi mewakili kelompak mereka.

3. Siswa dapat menyususun kesimpulan tentang latar cerita secara sistematis


sesuai dengan data pada teks.

4. Siswa menyampaikan tema berdasarkan bukti-bukti data pada teks.

5. Siswa bersama guru menyingkapi beberapa amanat yang dapat diambil dari
materi.

5. Sumber belajar:
a. Buku utama
- Buku kumpulan cerpen Surat Tantangan: 8 Cerita Pendek Bacaan Anak
anak. Karya :Trim Sutidja (Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya, 1977).

b. Buku pelengkap
- Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Sardiman A.M. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rajawali Press.
- Sarumpaet, Riris K. Toha. 2007. “Dengan Sastra Menjadi Manusia,”
Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya. Vol.3.
- Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi: Yokyakarta:
Gama Media.
- Silberman, L. Melvin. 2004. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa
Aktif, terjemahan Raisul Muttaqien. Bandung:Nusamedia dan Nuansa.

6. Penilaian/evaluasi
a. Bentuk : - Tes lisan dan tulisan (keterampilan proses)
- Individu dan kelompok.

b. Teknik instrumen : - Penilaian sikap/kinerja (Afektif)


- Pilihan Ganda, Benar-Salah,
- Esai (Uraian singkat) (kognitif dan psikomotor)
- Format Portofolio

c. Soal /Instrumen : (Terlampir beserta kunci jawaban)


………,………………….
Mengetahui, Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah
(Muhammad Yakob)
( Marzuki, [Link].) NIP
NIP

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


117

(Lanjutan)

Lampiran Penilaian/Evaluasi
a. Penilaian Sikap/Kinerja/Proses
Penilaian kinerja (performance) yaitu penilaian hasil pengamatan terhadap
siswa di dalam proses pembelajaran (lihat bab I, bentuk evaluasi)
b. Penilaian Post Test/Sub Sumatif
 Test Tertulis Pilihan Ganda
Berilah tanda ( X) pada jawaban yang benar!
(lihat bab I, pendapat Hamid, hlm 19)

 Test Esai (uraian singkat)


Jawablah pertanyaan berikut ini dengan jelas dan singkat!
1. Wajarkah Si Darmin “nyodok”!
Jawab : Darmin bisa nyodok, asalkan di luar kegiatan belajar atau ia dapat
mengatur waktu yang tepat. Darmin sebaiknya tidak melakukan nyodok
karena dia masih siswa, anak di bawah umur tidak layak untuk bekerja
(tersangkut Undang-undang Perlindungan Anak).
2. Bagaimana menurut kamu sikap Darmin yang membesar-besarkan suaranya
terhadap gurunya?
Jawab: Hal ini wajar, dia ingin menutupi penyamarannya, agar tidak
diketahui oleh gurunya. Tetapi dia lebih baik bersikap jujur dan gurunya pun
dapat memahami keadaan siswanya.

3. Mengapa si Darmin mengejar gurunya?


Jawab: Darmin ingin mengembalikan ongkas yang diterimanya terlalu
banyak. Dia ingin bersikap jujur kepada gurunya.
4. Bagaimana perasaan kamu? Dengan Nasib tokoh Darmin?
Jawab: Saya merasa sedih karena dia belum berhak untuk bekerja, namun
demi suatu keinginan, terpaksa dia lakukan.

5. Persoalan apa yang kamu rasakan setelah memahami materi cerpen tersebut?
Jawab: Dalam hidup ini, manusia harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Hidup ini memang berat, demi suatu keberasilan kita harus bekerja
keras. Setiap keinginan pasti ada rintangan, namun kita harus tabah
menghadapinya.

6. Pengalaman apa yang kamu dapatkan dari materi cerpen tersebut?


Alternatif jawaban:
- Kita harus bersikap jujur, di mana pun kita berada.
- Kita tidak perlu malu, asalkan yang kita lakukan itu baik.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


118

- Setiap manusia berusaha untuk memenuhi keinginannya.

(Lanjutan)

- Setiap kita harus dapat mengatur waktu dengan baik.

• Soal esai (uraian) diberikan hanya beberapa buah agar guru mempunyai
waktu untuk dapat memberi nilai.

c. Contoh Intrumen Portofolio


Tugas portofolio bagi siswa tingkat MTs perlu adannya tuntunan atau
arahan secara sistematis. Karena hal ini baru pertama, mereka menyusun sebuah
tugas yang berhubungan dengan pola pikir yang sistematis. Mereka dapat
diarahkan dengan baik untuk mencapai hasil sempurna. Guru dapat menugasi
mereka secara individu atau kelompok sehingga memunculkan motivasi untuk
mandiri atau kerja sama secara tim.
Buatlah sebuah paper (minimal 3 halaman) berdasarkan materi cerpen
yang telah di pelajari sebelumnya, atau carilah cerita pendek (cerpen) yang lain
dengan tema yang berhubungan dengan kehidupan kalian sehari-hari, atau cerpen
yang kalian senangi. (lihat bab I, contoh instrumen portofolio).

......., ........................
Mengetahui, Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah

Marzuki, [Link] Muhammad Yakob, [Link]


NIP NIP

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


119

Lampiran 7
RPP Cerpen “Sepatu Ben”

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Nama Sekolah : MTs Nurul Huda
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : IX / 1
Standar Kompetensi : Membaca
Membaca dan memahami berbagai teks bacaan
sastra
Kompetensi Dasar : Membaca dan mendiskusikan cerpen.
Indikator : 1. Mampu membaca dan memahami isi bacaan

: 2. Mampu menyusun alur cerita yang logis


berdasarkan teks yang ada.

: 3. Mampu menentukan tokoh dan penokohan


disertai data tekstual.

: 4. Mampu menentukan latar-latar yang terdapat


di dalam cerpen disertai data tekstual.

: 5. Mampu menemukan tema di dalam cerpen


disertai data tekstual.

: 6. Mampu menentukan amanat yang di-


sampaikan di dalam cerpen disertai data
tekstual.

Alokasi Waktu : 4 x 40 menit (2 kali pertemuan)


1. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat memahami isi bacaan dan menyusun alur cerita yang logis sesuai
dengan teks cerita dan menentukan tokoh dan karakter tokoh serta menentukan,
latar, tema dan amanat sebuah cerpen.

2. Materi Pembelajaran
Teks Cerpen “Sepatu Ben” karya Pudji Isdriani K, dari buku kumpulan cerpen
Inkarnasi Tritis.

3. Metode Pembelajaran
a. Inkuiri
b. Diskusi kelompok
c. Ceramah
d. Tanya jawab dan penugasan.

5. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


120

(Lanjutan)
Pertemuan Pertama: 40 x 2 = 80 menit
a. Kegiatan awal (pembuka) (10 menit)
1. Guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan cerita singkat tentang
dirinya ketika dia menuju ke sekolah. Sang guru mengalami beberapa
permasalahan di tengah jalan sebelum sampai di sekolah. Pertama, pagi-pagi
istrinya minta diantarkan ke pasar untuk berbelanja, kedua, anak-anak minta
diantarkan ke sekolah, dan yang ketiga karena buru-buru, saya lupa
menggunakan helm, sehinga berurusan dengan polisi dan akhirnya dengan
membayar sanksi, baru dapat pergi ke sekolah. Nah, anak-anak, hal seperti ini
sering terjadi di dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, pada hari ini, kalian
akan mendiskusikan terhadap alur cerita yang sesuai dan menarik untuk di
baca. Ini merupakan tantangan bagi siswa untuk melakukan mendiskusikan
permasahan tersebut.

2. Guru sebagai fasilitator, mengamati dan mengawasi jalannya diskusi.

3. Guru membagi siswa menjadi empat kelompok.

4. Guru membagikan teks materi kepada keempat kelompok siswa tersebut.

5. Teks materi telah disiapkan oleh guru sebelumnya dalam bentuk yang tidak
utuh (telah dipisahkan bagian-bagiannya).

6. Siswa ditugaskan untuk menyusun kembali secara logis cerita tersebut, dengan
pemberian nomor urut untuk setiap potongan sehingga teks materi tersebut
menarik untuk dibaca.

b. Kegiatan inti (60 menit)

1. Guru mengamati dan mengawasi jalannya diskusi siswa (10 menit).

2. Guru mempersilahkan masing-masing kelompok untuk menuliskan jawaban


mereka di papan tulis.

3. Setelah semua kelompok selesai, guru sebagai fasilitator memimpin jalannya


diskusi (20 menit).

4. Guru membahas jawaban siswa dari satu kelompok dengan kelompok lain,
dengan beberapa pertanyaan (jika terdapat penyusunan yang tidak logis).

5. Setiap siswa memberikan argumennya dengan logis, hingga mencapai suatu


kesepakatan bersama.

6. Guru melanjutkan diskusi tentang latar cerita (30 menit) dan membagikan
materi yaitu teks yang utuh.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


121

(Lanjutan)

7. Guru membagikan tugas tiap kelompok untuk menyampaikan latar cerita pada
setiap paragaraf.

8. Siswa menyebutkan setiap paragraf latar tempat dan waktu.

9. Guru dapat menyelesaikan diskusi latar sampai paragraaf terakhir teks materi
tersebut.

c. Kegiatan penutup (10 menit)

1. Guru bersama siswa membuatl kesimpulan dari hasil diskusi bersama.

2. Siswa melaporkan hasil diskusi yang diwakili oleh salah seorang dari
kelompak mereka.

3. Siswa dapat menyususun cerita secara ringkas berdasarkan alur cerita dari
teks materi atau pengalaman pribadi pada suatu penjalanan (tugas pribadi).

4. Guru dapat mengumpulkan tugas siswa yang telah selesai.

5. Guru memberi tugas kepada siswa untuk membaca cerpen kembali di rumah
untuk pembahasan pertemuan berikutnya.

 Pertemuan Kedua (2 x 40 menit)

a. Kegiatan awal (10 menit)

1. Guru mengulangi kembali tujuan yang akan dicapai pembelajaran berikutnya,


yaitu menentukan tokoh dan penokohan, tema dan amanat.

2. Guru membentuk kelompok siswa sesuai dengan kelompok sebelumnya.

3. Guru dan siswa bertanya jawab tentang pembelajaran sebelumnya.

4. Guru mengarahkan siswa untuk memahami kembali teks materi yang akan
dibahas.

5. Guru membuat beberapa pertanyaan untuk memotovasi siswa yang


berhubungan dengan materi pembelajaran berikutnya.
a. Siapa yang sudah membaca semua ceritanya dan dapat memahami isinya?
b. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bercerita, jika semua tidak
bersedia, maka guru menunjuk seseorang yang dianggap mampu.
c. Nah, kalian tahu siapa tokoh Ben tersebut? Dan bagaimana sikap dan
perilakunya, mari kita bahas bersama.

b. Kegiatan inti (60 menit)


Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
122

(Lanjutan)

1. Guru memberi tugas kepada siswa untuk menentukan tokoh dan karakter
tokoh (15 menit).

2. Guru sebagai fasilitator mengawasi dan membimbing siswa dalam berdiskusi


di dalam kelompoknya.

3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menuliskan hasil diskusi


mewakili kelompoknya di papan tulis (5 menit).

4. Guru dan siswa mendiskusikan hasil dari tiap-tiap kelompok (20 menit).

5. Setiap kelompok siswa membahas hasil mereka dan ditanggapi oleh


kelompok lain.

6. Siswa melanjutkan pembahasan tema dan amanat berdasarkan teks materi.

7. Guru memimpin diskusi membahas tema dan amanat.

8. Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada setiap kelompok siswa


hingga seluruh pembahasan menjadi jelas.

a. Kegiatan penutup (10 menit)

1. Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari hasil diskusi.

2. Siswa melaporkan hasil diskusi yang diwakili oleh salah seorang dari
kelompak mereka.

3. Siswa dapat menyampaikan tanggapannya terhadap kegiatan pembelajaran


yang berlangsung pada hari itu.

5. Sumber belajar :
a. Buku kumpulan cerpen, Reinkarnasi Titis. Karya Puji Isdriani K. Jakarta:
Penerbit CV Tiga Utama 2003.

b. Buku pelengkap
- Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Sarumpaet, Riris K. Toha. 2007. “Dengan Sastra Menjadi Manusia,”
Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya. Vol.3.
- Silberman, L. Melvin. 2004. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa
Aktif, terjemahan Raisul Muttaqien. Bandung:Nusamedia dan Nuansa.

6. Penilaian/evaluasi
a. Bentuk : - Tes lisan dan tulisan (keterampilan proses)
- Individu dan kelompok
[Link] instrumen : - Penilaian sikap/kinerja (Afektif)
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
123

(Lanjutan)
- Esai (Uraian) (kognitif dan psikomotor)
c. Soal /Instrumen : (Terlampir beserta kunci jawaban)
Lampiran Penilaian/Evaluasi
 Test Tertulis Pilihan Ganda
 Berilah tanda ( X) pada jawaban yang benar!
 (lihat bab I, pendapat Hamid, hlm 19)

 Esei (uraian singkat)


1. Bagaimana jika kamu disuruh memakai sepatu yang suak ke sekolah?
Jawab: Saya sangat malu, tidak mau pergi ke sekolah.
Saya memakainya jika memang terpakasa tetapi sembunyi-
sembunyi.
Siswa bebas berekspresi, namun logis.

2. Berdasarkan cerpen “Sepatu Ben” bagaimana sikap kita dalam belajar?


Jawab: Kita tetap belajar dengan tekun meskipun keluarga kita miskin.
Kita harus dapat mengatur waktu yang tepat semua kegiatan.
Kita selalu optimis dengan kehidupan ini, bekerja dan berdoa.

3. Patutkah kita ikuti sikap Pak Dirman yang tegas?


Jawab: Tidak patut karena manusia mempunyai kesenangan yang berbeda.
Pak Dirman hanya menjalankan tugasnya, namun terlalu kasar.
Lebih baik Pak Dirman tidak bersikap kasar, harus member
kesempatan pada Ben.

4. Apa yang dapat kita ambil manfaat dari pembelajaran cerpen tersebut?
Kita dapat memahami tidak semua orang mendapat anugrah
kesenangan hidup dengan segala fasilitas yang lengkap.
Materi atau kekayaan bukanlah suatu ukuran bagi kepintaran
seseorang.
Kehidupan ini penuh dengan peristiwa-peristiwa, alangkah baiknya
jika kita dapat menuliskannya, terutama masalah pribadi setiap yang
kita alami sendiri.
5. Soal Esai (uraian)

Ceritakan secara singkat peristiwa penting yang pernah kamu alami? Catatan itu
suatu dokumen yang penting, jika kita lupa mengingatnya catatan itu dapat
memberi kesan ketika kita baca kembali. Catatan itu memberi inspirasi
melahirkan sebuah cerita baru jika punya daya banyang. Nah, mulai sekarang mari
kita membiasakan menulis sesuatu peristiwa penting yang pernah kita lihat dan
kita alami.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


124

Lampiran 8
Cerpen “Hari Yang Bahagia”

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Nama Sekolah : MTs Nurul Huda
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Semester : 1 / IX
Standar Kompetensi : Membaca
Membaca dan memahami berbagai teks bacaan
sastra
Kompetensi Dasar : Membaca dan mendiskusikan cerpen.
Indikator : 1. Mampu membaca dan memahami isi
bacaan.
: 2. Mampu menyebutkan tokoh dan penokohan
disertai data tekstual.
: 3. Mampu menentukan alur dan latar cerita
yang logis berdasarkan teks yang ada.
: 4. Mengubah cerita pendek menjadi teks drama
satu babak dengan memperhatikan penulisan
betuk drama.
: 5. Bermain peran berdasarkan teks drama
yang berasal dari teks cerpen
: 6. Mampu menemukan tema dan amanat di
dalam kegiatan bermain peran.

Alokasi Waktu : 4 x 40 menit (2 kali pertemuan)

1. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat memahami isi bacaan dan menentukan tokoh dan karakter tokoh,
menyusun alur cerita yang logis sesuai dengan teks cerita dan serta
menentukan, latar, mengubah teks cerpen menjadi teks drama, dan
menyebutkan tema dan amanat sebuah cerpen.

2. Materi Pembelajaran
Teks Cerpen
“Hari Yang Bahagia” karya Bambang Joko Susilo, dari buku kumpulan cerpen
Di Puncak Bukit Gagak.

3. Metode Pembelajaran
a. Diskusi kelompok
a. Ceramah
b. Sosiodrama
c. Tanya jawab dan penugasan.

4. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran


Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
125

(Lanjutan)

Pertemuan Pertama: 40 x 2 = 80 menit

Kegiatan awal (pembuka) (10 menit)


1. Guru membuka pembelajaran dengan menyapaikan pentingnya kita
memahami sebuah cerita karena cerita merupakan gambaran kehidupan yang
dituliskan oleh seorang pengarang. Berbagai cerita yang ada merupakan
pengalaman-pengalaman manusia yang telah diperankan di atas dunia ini.
Dari cerita–cerita tersebut banyak juga yang telah difilmkan. Ingatkah kalian
nyanyian yang berbunyi dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah
berubah, ada peran wajah dan ada yang peran berpura-bura. Nah, sebelum
kita sampai kepada membuat skenario drama, berikut ini, kita membahas
dahulu tentang tokoh dan penokohan, alur dan latar cerita tersebut.

2. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok


3. Guru sebagai mederator, fasilitator.
4. Guru membagikan teks materi kepada keempat kelompok siswa tersebut.
5. Teks materi telah disiapkan oleh guru sebelumnya dalam bentu yang utuh.
Kegiatan inti (60 menit)
1. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membaca cerpen dan
memahami isinya.

2. Siswa ditugaskan membuat pertanyaan yang berhubungan dengan tokoh dan


watak tokoh (karakter tokoh) dan dilanjutkan dengan jalannya cerita (alur
cerita) serta latar yang terdapat di dalam materi pembelajaran tersebut.

3. Siswa memahami secara individu dan mendiskusikannya secara kelompok.

4. Guru sebagai moderator dan evaluator memimpin jalannya diskusi dengan


memberikan beberapa pertanyaan pemula untuk mengarahkan siswa berdis-
kusi.

5. Guru membuat pertanyaan pemula sebagai langkah awal untuk memulai


kegiatan belajar dengan metode diskusi.

6. Pertanyaan guru: mengapa murid-murid SD tersebut merasa bingung?

7. Guru mengarahkan siswa agar jawaban mereka sesuai dengan realita


kehidupan.

8. Guru menunjuk salah seorang dari kelompok A untuk menjawab pertanyaan


tersebut.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


126

(Lanjutan)

9. Siswa kelompok A menjawab dan membuat pertanyaan lain yang


berhubungan dengan tokoh dan melemparkan pertanyaan tersebut kepada
salah seorang dari kelompok B atau C.

10. Siswa kelompok B atau C menjawab pertanyaan dan membuat pertanyaan


juga dan melemparkan pertanyaan lebih lanjut kepada kelompok A atau B.

11. Siswa terus berdiskusi antarkelompok hingga memberi pemahaman dan


kejelasan terhadap materi ajar.

12. Guru terus memandu jalannya diskusi, jika terjadi kendala, (bagi siswa yang
kurang mempunyai keterampilan), maka guru membantu mengarahkannya.

13. Seluruh siswa terlibat di dalam berdiskusi.

14. Selesai membahas topik tokoh dan penokohan dilanjutkan dengan


pembahasan jalannya cerita, hingga sampai pembahasan tema dan amanat
yang terdapat di dalam materi tersebu.

Kegiatan Penutup (10 menit)


1. Guru bersama siswa mengambil kesimpulan dari hasil diskusi.
2. Guru memberikan beberapa penjelasan tentang tokoh dan penokohan serta
alur cerita sesuai dengan bahan diskusi yang mereka bahas.

3. Siswa dapat mencari dan menentukan watak tokoh dan alur cerita dari hasil
diskusi.

4. Siswa menyampaikannya laporan diskusi melalui salah seorang dari


temannya yang mewakili kelompak mereka.

5. Guru menyelesaikan pembelajaran dengan suasana bergembira dan


menyenangkan.

 Pertemuan Kedua (2 x 40 menit)

b. Kegiatan awal (10 menit)

1. Guru mengulangi kembali tujuan yang akan dicapai pembelajaran berikutnya,


yaitu merubah teks cerpen menjadi teks drama dan bermain peran di depan
kelas.

2. Guru membentuk kelompok siswa yang bervariasi sesuai kebutuhan


penokohan.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


127

(Lanjutan)

3. Guru menjelaskan langkah-langkah membuat dialog (skenario).

4. Guru mengarahkan siswa langkah-langkah yang akan dilakukan.

Kegitan Inti (60 menit)

1. Siswa berdiskusi untuk menentukan peran masing-masing temannya.


2. Guru bertanya-jawab dengan siswa tentang teks dialog yang didiskusikan.

3. Masing-masing kelompok siswa berlatih di ruang kelas atau di luar kelas.


(10 menit).

4. Siswa kembali ke dalam kelas. Masing-masing kelompok menampilkan


tampil ke depan kelas.

5. Siswa kelompok lain mengamati dan mencatat hal-hal yang diamati.

6. Selesai kelompok pertama tampil, Guru membuka kegiatan diskusi.

7. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa tentang peran yang dimainkan


temannya.
8. Kemudian, guru mempersilakan kelompok lain untuk tampil bermain peran,
hingga seluruh semua kelompok dapat tampil.

Kegiatan penutup (10 menit)

1. Guru bertanya-jawab dengan siswa tentang penghayatan peran yang


dimainkannya.
2. Siswa dapat memberi tanggapannya terhadap peran yang ia mainkan sendiri.
3. Guru memberi sugesti manfaat yang diperoleh dari kegiatan bermain peran.
4. Guru menutup pembelajaran dengan menyuruh siswa terus berlatih untuk
mencapai kesempurnaan.
Sumber belajar :
a. Buku kumpulan cerpen Di Puncak Bukit Gagak. Bambang Joko Susilo.
Jakarta: Penerbit PT Grasindo 2003.

b. Buku pelengkap
- Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Silberman, L. Melvin. 2004. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa
Aktif, terjemahan Raisul Muttaqien. Bandung:Nusamedia dan Nuansa.
- Wahyu, Sulaiman. 1983. Seni Drama. Jakarta: PT Karya Unipress

6. Penilaian/evaluasi
a. Bentuk : - Tes lisan dan tulisan (keterampilan proses)
- Individu dan kelompok.
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
128

(Lanjutan)

[Link] instrumen : - Penilaian sikap/kinerja (Afektif)


- Esai (Uraian singkat) (kognitif dan psikomotor)
c. Soal /Instrumen : (Terlampir beserta kunci jawaban)

………,………………….
Mengetahui, Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah

(............................. ) Muhammad Yakob, [Link]


NIP NIP

Lampiran Penilaian/Evaluasi
 Esei (uraian singkat)
1. Bagaimana perasaan kamu jika sedang menunggu hasil ujianmu?
- Saya merasa serba salah, jantung berdebar-debar
- Saya tak bisa tidur, sebelum jelas hasilnya.
- Jawab: Siswa bebas berekspresi, namun logis.
-
2. Berdasarkan cerpen “Hari Yang Bahagia” bagaimana sikap kita merasa nyakin
lulus?
- Kita harus belajar dengan serius, jangan ada tawa-canda
- Kita harus benar-benar siap menghadapi ujian
- Kita harus banyak belajar berdoa, supaya Tuhan menolong kita .
-
3. Setujukah kamu Sukab tidak lulus?
- Sudah selayaknya, dia menerima apa yang dia lakukan.
- Dasar anak bodoh, ya saya sangat setuju, biar dia tahu diri.
- Saya setuju, agar Sukab dapat merubah prilakunya yang kurang baik.
-
4. Manfaat apa yang dapat kita ambil dari pembelajaran cerpen tersebut?
- Kita harus belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang
kurang bagus.
- Kita tidak perlu kawatir jika kita belajar sungguh-sungguh pasti lulus.
- Kemalasan, kebodohan, kenakalan, akan bermuara pada kegagalan.
-
5. Bagaimana perasan kamu ketika bermain peran di depan kelas?
 Test Esai (uraian tidak terbatas)
 Minimal satu paragraf
- Saya membayangkan ketika saya menghadapi pengumuman kelulusan
di sekolah dasar dulu. Memang pada saat itu, saya merasa sangat

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


129

bingung, karena saya sering mengikuti jejak Si Sukab, untuk tidak


masuk sekolah, namun sejak saya tertangkap tangan oleh Pak Darman
dan dinasehati barulah saya sadar. Hari berikutnya, saya berjanji untuk
merubah perilaku yang tidak baik ini, saya terus belajar bersama Joko.
Joko terus mengajak saya belajar untuk mengejar pelajaran yang
tertinggal dan pada akhirnya saya menunggu pengumuman dengan hati
yang gundah dan bingung. Saya merasa tidak tenang berjalan ke sana-
ke mari, sambil terus berdoa dan akhirnya pengumuman pun
dikeluarkan, dan nomor saya ternyata ada pada tempat.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


130

Lampiran 9

 Materi Cerpen Pilihan Untuk Tingkat MTs

1. Cerpen “Dua Bisikan Kebenaran” karya Esti Nuryani Kasam dalam


Herfanda, Ahmadun Yosi (ed), “Kumpulan Cerpen Republika Dokumen
Jiblil”, penerbit Republika, Jakarta, 2005. hlm. 71.
Cerpen “Dua Bisikan Kebenaran” menceritakan seorang anak yang bernama
Ikhsan bekerja pada Pak Haji. Anak tersebut dibimbing oleh Pak Haji dengan
ilmu pengetahuan dan nasehat yang berguna bagi dirinya dalam menjalani
kehidupan ini. Pak Haji juga membiayai sekolah Ikhsan. Suatu hari terjadi
keributan dan kebakaran dekat rumah Ikhsan, ibunya menyuruh Ikhsan untuk
mengambil barang-barang dari toko yang terbakar. Ikhsan bingung karena
bertentangan dengan pelajaran yang diberikan oleh Pak Haji. Jika ia menolak
perintah tersebut, ia merasa berdosa terhadap ibunya. Ia terpaksa menuruti
perintah ibunya. Ikhsan bersama ibunya mengambil barang-barang dari toko
yang terbakar. Karena sibuk memungut barang-barang, Ihksan dan ibunya
sangat terkejut, ternyata rumah mereka juga ikut terbakar. Barang yang
mereka ambil tidak senilai dengan rumah mereka yang terbakar.
Cerpen “ Dua Bisikan Kebenaran” mempunyai unsur intrinsik tokoh dan
penokohan yang dapat disampaikan di dalam pembelajaran cerpen tingkat
MTs. Tokoh-tokoh di dalam cerpen tersebut mempunyai karakter tokoh yang
bervariatif. Terdapat tokoh utama, tokoh bawahan dan tokoh antagonis yang
berperan menjadikan cerita menarik. Dengan menggunakan metode diskusi,
inkuiri, dan sosiodrama, cerpen ini akan menjadi bahan pembelajaran yang
menarik dan bermanfaat bagi peserta didik tingkat MTs.

2. Cerpen “Aktor Ulung Kena Batunya” karya Bambang Joko Susilo, “Antologi
Cerpen Di Puncak Bukit Gagak”, penerbit Grasindo, Jakarta 2005. hlm. 80.
Cerpen ini menceritakan seorang anak yang bernama Sukab suka
mengganggu temannya. Teman-teman sedang bermain, tiba-tiba tokoh Sukab
datang dengan memberitakan ada ular besar. Semua temannya yang sedang

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


131

(Lanjutan)
bermain merasa takut dan menghentikan permainan mereka. Mereka kecewa
dengan sikap Sukab. Perbuatan Sukab yang kurang baik terhadap temannya
ternyata berbalas pada dirinya sendiri. Ternyata sebelumnya, Sukab yang
sedang memotong rumput mengambil jambu mente milik Pak Mantri. Sukab
sudah melakukan kejahatan tersebut sudah beberapa kali. Akhirnya, Pak
Mantri melaporkan Sukap pada Polisi.
Cerpen “Aktor Ulung Kena Batunya” mempunyai tema dan amanat yang
menarik untuk dibahas di dalam kegiatan pembelajaran cerpen. Tema yang
disampaikan dapat dihubungkan dengan kehidupan siswa. Begitu pula dengan
pesan-pesan yang disampaikan secara tersurat dan tersirat melalui tindakan-
tindakan tokoh di dalam cerita tersebut menjadikan pembelajaran yang
menarik dan bermanfaat bagi siswa.

3. Cerpen “Rokok Terakhir Buat Sang Ayah” karya Muhtar Ibnu Thalib, dalam
Sri Widodo, “99 Tangan Tuhan di Aceh: Misteri dan keajaiban
Pascatsunami”. Jakarta. Yayasan Air Mata. 2005. hlm. 24.
Cerpen ini menceritakan seorang anak yang mengalami musibah tsunami.
Ketika tokoh Mola, seorang anak disuruh oleh orang tuanya untuk membeli
sebungkus rokok pada sebuah warung di depan rumahnya. Setelah
menyerahkan sebungkus rokok pada ayahnya, ia minta izin untuk bermain
bersama temannya di luar rumah. Tiba-tiba, ia mendengan orang-orang
berteriak dan berlarian. Bumi bergoncang sangat kuat, Mola sangat bingung
dan segera berlari ke rumah. Ayah Mola yang kurus langsung menyambar
tangan anaknya. Namun sayang, arus begitu kuat membuat Mola terlepas dari
ayahnya. Sementara, ibunya yang sedang membeli jagung juga tidak dapat
bertemu lagi. Sejak itulah, hanya Mola yang selamat, ia terhalang runtuhan
ruko. Sejak itulah, Mola menjadi anak yatim piatu, tanpa ayah ibu.

Cerpen “Rokok Terakhir Buat Sang Ayah” mempunyai tema dan amanat
yang sesuai bagi siswa tingkat MTs. Tema cerita yang disampaikan dapat
memotivasi siswa untuk berjuang menghadapi kehidupan yang penuh dengan
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
132

(Lanjutan)

rintangan. Guru dapat menyampaikan pesan-pesan melalui cerita tersebut


tentang kehidupan ini yang tidak selamanya indah, kadangkala musibah
datang dengan seketika dan mengabil semua yang kita cintai, seperti yang
dialami tokoh Mola pada cerita di atas.

4. Cerpen “Terima Kasih Kehidupan” karya Widanto dalam Sri Widodo “99
Tangan Tuhan di Aceh: Misteri dan keajaiban Pascatsunami”. Jakarta.
Yayasan Air Mata. 2005. hlm. 68.
Cerpen ini menceritakan seorang tokoh ‘aku’ yang selamat dari bencana
tsunami. Tokoh aku merasa bersyukur karena terlepas dari bencana yang
mengejarnya. Ia merasa terbimbang untuk dapat menyelamatkan diri. Dari
awal kejadian, ia terbangun dari tempat tidurnya akibat goncangan gempa
yang sangat kuat. Ia langsung ke luar rumah dengan menggunakan motor
mengamati keadaan di sekitarnya. Ia mendengar teriakan; “lari! lari! air naik!
air laut naik!” disusul dengan ratusan orang berlarian. Mayat seorang anak
kecil tampak di bundaran di tengah perempatan, hanya ditutup selembar kain.
Entah ke mana bapaknya, entah ke mana ibunya, anak tersebut terbujur kaku.
Tokoh ‘aku’ selamat dan sampai sekarang masih hidup.

Cerpen “Terima Kasih Kehidupan” mempunyai unsur intrinsik latar dan alur
cerita yang dapat dibahas dalam pembelajaran cerpen. Dengan menggunakan
metode ingkuiri, guru dapat membahas latar cerita dengan mengaitkannya
dengan realita kehidupan. Seseorang harus mewaspadai keadaan alam yang
tidak baik. Cerpen ini mempunyai latar yang menceritakan seseorang merasa
masih diberi kehidupan oleh Tuhan. Seorang tokoh utama merasa terselamat-
kan dari bencana dengan tanggap terhadap lingkungannya.

5. Cerpen “Tolong Jangan Kasihani Saya” karya Muhammad Budi Permana,


dalam Sri Widodo “99 Tangan Tuhan di Aceh: Misteri dan keajaiban
Pascatsunami”. Jakarta. Yayasan Air Mata. 2005. hlm. 146.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


133

(Lanjutan)
Cerpen ini menceritakan seorang tokoh yang mengalami pukulan bathin yang
cukup berat. Ia kehilangan seorang anak yang sangat di sayangi berumur 18
bulan. Peristiwa kehilangan anaknya tersebut, disaksikannya langsung ketika
anaknya terlepas dari tangannya akibat arus yang sangat kuat. Namun, tokoh
Muhammad tidak larut dalam kesedihan. Ia punya cara lain mengatasi hal
tersebut dengan menjadi relawan. Ia bersama istrinya yang juga mengalami
nasib yang sama yaitu dibawa oleh arus yang sangat kuat. Mereka ingin
meratapi kesedihan dengan menolong orang sebanyak-banyaknya, agar dapat
menemukan kembali putri kesayangan mereka.

Cerpen “Tolong Jangan Kasihani Saya” terdapat unsur intrinsik tokoh dan
Penokohan untuk dijadikan bahan pembahasan di dalam kegiatan pembelajar-
an. Penokohan yang terdapat di dalam cerita tersebut dapat memotivasi
peserta didik untuk hidup mandiri. Mereka yang terkena musibah jangan
manja dan pasrah menerima bantuan orang lain. Dengan demikian, seseorang
harus tegar menghadapi musibah dan tantangan hidup ini. Dengan
mengunakan metode diskusi, materi pembelajaran cerpen ini akan
memberikan berbagai pengalaman dalam kehidupan ini.

6. Cerpen “Sebotol Sirup untuk Hidup” karya Iwan Santosa, “Bencana Gempa
dan Tsunami Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas. 2005. hlm. 153.
Cerpen ini menceritakan perjuangan keluarga Acin yang ditimpa bencana
Tsunami. Semua harta bendanya habis tersapu arus air yang sangat kuat. Acin
seorang pedagang yang membuka warung di Banda Aceh. Ia baru saja
merenovasi warungnya namun sayang semuanya hancur dan sebagian dibawa
oleh arus yang sangat kuat. Semua bahan makanan tidak ada yang tersisa,
mereka merasakan kelaparan. Pada saat itu yang terlihat oleh Acin sebotol
sirup dan beberapa botol aqua dagangannya. Akhirnya dengan air dan sirup
tersebut yang dapat mempertahankan hidup mereka.
Cerpen ini juga masih mengangkat peran tokoh yang berusaha untuk
mempertahankan hidupnya di tengah-tengah badai. Hal ini dapat dijadikan

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


134

(Lanjutan)

pembahasan yang menarik untuk didiskusikan oleh peserta didik sehingga


peserta didik mandapatkan suatu pengalaman yang berguna dalam
menghadapi bencana atau masalah lain sekali pun. Guru dapat menjadikan
materi pembelajaran dengan membahas berbagai kemungkinan terjadi, jika
seseorang sedang menghadapi bencana alam. Untuk mempertahankan hidup,
manusia harus melakukan berbagai cara sehingga ia dapat selamat mengatasi
badai tersebut.

7. Cerpen “Buraq” karya Ratih Kumala, Kumpulan Cerpen ‘Larutan Senja’


Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 2006, hlm. 133.
Cerpen “Buraq” menceritakan seorang anak yang bermimpi bertemu dengan
seorang nabi. Mimpi tersebut benar-benar ia alami tetapi banyak orang yang
tidak percaya bahkan menertawakannya. Ia dapat mengerti dengan teman-
temannya yang tidak percaya dengan mimpinya itu akan tetapi ia merasa
hilang kepercayaan terhadap dirinya ketika seseorang yang dihormatinya juga
tidak percaya dengan mimpinya tersebut. Dengan sikap guru mengajinya
tersebut, ia berubah dari anak yang taat beribadah menjadi anak yang nakal
dan tidak percaya terhadap orang lain. Setelah sekian lama ia pergi, akhirnya
ia pulang dan merasakan bahwa orang-orang ternyata masih merindukannya
bahkan ibunya pun sebenarnya percaya akan mimpinya tersebut.
Cerpen ini dapat dijadikan materi pembelajaran dengan mengangkat unsur
intrinsik penokohan, alur cerita, dan latar cerita. Citra tokoh dari anak yang
baik, rajin dan, taat beribadah menjadi orang yang nakal, tidak percaya kepada
siapa pun menjadi pembahasan untuk siswa tingkat MTs. Alur cerita yang
terjadi di dalam cerpen ini menggunakan alur maju dengan latar cerita yang
bervariatif sehingga baik untuk didiskusikan pada siswa setingkat MTs. siswa
MTs merupakan anak yang menanjak dewasa dalam proses mencari identitas
diri, mereka mendapatkan suatu pengetahuan tentang kehidupan ini.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


135

(Lanjutan)
8. Cerpen “Anak Penjual Minyak Tanah” karya Kalina Maryadi. Mei 26, 2009.
sumber dari [Link] [Link]/f/33496/
Cerpen“Anak Penjual Minyak Tanah” menceritakan dua orang anak yang baik
dan patuh kepada ibunya. Mereka berasal dari keluarga miskin yang kesulitan
memperoleh bahan bakar (minyak tanah) untuk keperluan sehari-hari. Ibunya
menyuruh kedua anaknya untuk membeli minyak tanah yang jauh dari
rumahnya. Dengan mengenderai sepeda, kedua anak tersebut mencari minyak.
Di tengah perjalanan, ban sepeda mereka kempis. Mereka meneruskan
perjalanan dengan perlahan-lahan dan akhirnya sampai juga di kedai tempat
penjualan minyak tanah. Si Abang menyuruh adiknya untuk membeli minyak,
antrian pembeli pun panjang dan abangnya hendak mencari bengkel untuk
memperbaiki sepedanya. Di tengan perjalanan ia melihat seorang anak jatuh
dari sepedanya dan kakinya berdarah. Ia menolong anak tersebut dan setelah
sepedanya diisi angin ia pun membonceng anak tersebut ke rumahnya. Rumah
anak tersebut ternyata kedai penjual minyak. Setelah lama menunggu antrian,
sangat disayangkan minyak pun habis, mereka tidak mendapat bagian. Mereka
berdua pun pulang dengan perasaan yang sabar. Namun, tiba-tiba ada suara
yang memanggil mereka ternyata anak perempuan yang ditolong tadi memberi
mereka minyak tanpa harus membayar.
Cerpen ini dapat menjadi bahan pembelajaran yang baik untuk siswa tingkat
MTs. Cerita yang disampaikan mengasah kepekaan siswa di dalam kehidupan
sosial masyarakat. Tema yang terdapat dalam cerpen ini baik untuk kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi dan inkuiri. Pesan atau
amanat yang disampaikan melalui tokoh-tokohnya dapat menjadi
pembelajaran yang berguna bagi peserta didik.

9. Cerpen ”Orang-orang Pos 327” karya Muhammad Nasir Age dalam Herfanda,
Ahmadun Yosi., dkk. (ed). “Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Sayembara
Menulis Cerpen Tingkat Nasional 2005: “La Runduma” diterbitkan Creative
Writing Institute, Ciputat, 2005. hlm. 10.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


136

(Lanjutan)

Cerpen ”Orang-orang Pos 327” menceritakan seorang anak yang tinggal di


sebuah desa bersama neneknya. Satu kelompok tentara datang menanyakan
sesuatu kepada anak tersebut. Berbagai cara dilakukan untuk membujuknya
agar ini menjawab, seperti harapan tentara tersebut. Namun, sayang anak
tersebut tetap teguh pada pendiriannya. Sampai akhirnya, kelompok tentara
tersebut pergi meninggalkan anak tersebut.

Cerpen ini dapat menjadi bahan pembelajaran dengan pembahasan tema dan
amanat. Tema yang terdapat dalam cerpen tersebut dapat memberi pengetahuan
kepada peserta didik bahwa setiap kita harus mempunyai pendirian yang teguh.
Dengan menggunakan metode diskusi, cerpen tersebut dapat di bahas secara
mendasar dengan menggali berbagai permasalahan yang berkaitan dengan
kehidupan ini. Ada beberapa pesan yang disampaikan melalui tokohnya,
seseorang harus teguh pendirian walaupun berbagai godaan datang
menghadang, penuh percaya diri, tidak cepat goyah dengan berbagai godaan.

10. Cerpen “Warisan Kasih Sayang” karya Hope Saxton dalam Jack Canfild dan
Mark Victor Hansen. “A 6th Bowl of Chicken Soup the Soul”: 68 Kisah yang
Membuka Hati dan Mengorbankan Semangat Kembali”. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 2004. hlm. 173.
Cerpen “Warisan Kasih Sayang” menceritakan seorang cucu yang mendapat
warisan dari neneknya berupa jam, cincin, dan, mancet. Dengan warisan
tersebut, ia teringat kehidupan bersama nenek dan kakeknya yang saling
mencintai. Ia juga teringat bagaimana neneknya menggunakan switer kekek
dan neneknya menagis sendirian begitulah kesetian mereka.

Cerpen ini mengunakan alur cerita yang baik. Cerita di sampaikan oleh
pengarang dengan mengunakan alur campuran, alur maju dan alur mundur.
Cerita dimulai dengan alur mundur dan pada akhir cerita menggunakan alur
maju. Dengan pengaturan alur yang menarik, pembelajaran tentang alur dapat
disampaikan kepada peserta didik.

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


137

(Lanjutan)

11. Cerpen “Segelas Limun” karya Ed Robertson, Vincent Luong dan Mery
Gardner dalam Jack Canfild dan Mark Victor Hansen. “A 6th Bowl of Chicken
Soup the Soul”: 68 Kisah yang Membuka Hati dan Mengorbankan Semangat
Kembali”. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004. hlm. 280.
Cerpen “Segelas Limun” menceritakan perjuangan anak-anak yang berumur 15
tahun lari dari konflik di negaranya. Mereka melarikan diri untuk menghindari
penindasan. Jika mereka tidak lari maka rezim komunis akan menangkap
mereka. Mereka akan ditempatkan di tempat-tempat kerja paksa yang brutal,
tanpa pernah terlihat lagi. Di dalam pelarian, mereka mendapatkan berbagai
rintangan yang sangat berat bahkan sebagian dari mereka ada yang meninggal.
Di tengah lautan, mereka beberapa kali di hantam badai dan akhirnya mereka
sampai ke negara tetangga Malaysia, dari sana, mereka diberangkatkan ke
Amerika. Akhir perjuangan , mereka menjadi orang yang sukses di Amerika.

Cerpen ini dapat menjadi materi pembelajaran cerpen yang menarik. Kisah
perjuangan tokohnya menjadi motivasi bagi siswa untuk mencapai cita-cita
mereka. Pembelajaran yang dilakukan dapat membahas tokoh dan penokohan,
alur cerita, latar dan tema serta amanat. Cerpen ini dapat diajarkan dengan
menggunakan metode yang bervariasi sehingga siswa dapat memahami
berbagai infomasi dan pengetahuan di dalam materi tersebut.

12. Cerpen “Pisang Goreng Kartini” karya Mustaqiem Eska Senja, Juni 4, 2009.
[Link]
Cerpen “Pisang Goreng Kartini” seorang yang tidak mempunyai biaya untuk
sekolah. Ia berusaha berjualan pisang goreng untuk membantu ibunya yang
miskin. Bapaknya telah bercerai dengan ibunya dan telah kawin lagi. Ia belajar
di perpustakaan dengan membaca buku-buku pelajaran pada setiap hari Rabu
karena pada hari itu, ia libur tidak berjualan pisang goreng. Ia begitu tabah
menghadapi hidup ini dan berusaha dengan semampunya untuk menjalani
hidup ini. Seorang guru mengajaknya untuk ikut sekolah paket namun ia

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


138

(Lanjutan)

menolaknya karena sekolah di paket memerlukan uang juga. Ia merasakan


dengan belajar mandiri pun sudah cukup dan tak pernah merasa kekurangan
serta prihatin dengan kehidupan ini. Pak Guru yang sudah bekerja dan
mempunyai gaji yang cukup pun masih selalu dihantui keprihatinan hidup.
Cerpen “Pisang Goreng Kartini” mempunyai unsur intrinsik tokoh dan
penokohan serta tema dan amanat yang menarik untuk materi pembelajaran.
Peran tokoh utama yang tetap menunjukkan sikap optimis dalam mengarungi
kehidupan ini menjadikan pembelajaran yang berharga bagi peserta didik.
Tokoh guru yang sudah mempunyai kemampanan hidup masih juga
mempunyai sikap pesimis dengan kehidupan ini. Materi cerpen tersebut juga
terdapat berbagai pesan-pesan yang berguna bagi peserta didik pada tinggkat
SMP/MTs.

13. Cerpen “Dari Tuhan” karya Kemala P dalam Koes Sabandiyah, Buku
Kumpulan Cerpen: Teman Khayalan, PT Penerbitan Sarana Bobo. Jakarta.
2009.
Cerpen “Dari Tuhan” menceritakan seorang petani yang kaya raya. Ia memiliki
kebun jeruk yang sangat luas. Setiap panen, ia selalu menjual ke kota
keuntungannya diberikan kepada orang-orang miskin. Suatu ketika, ia pulang
melewati sebuah gang kecil di sekitarnya terdapat banyak gubuk reot. Petani
kaya tersebut mendengar seorang perempuan menangis. Ia sangat kasihan iba
dan mendekati rumah tersebut ingin mengetahui masalah yang dihadapi
perempuan tersebut. Ternyata, perempuan itu tidak dapat melunasi sewa
rumanya dan suaminya pun tidak mempunyai pekerjaan. Petani tersebut
meletakkan uang di bawah pintu untuk membantu mereka tanpa diketahui oleh
perempuan itu dan suaminya. Keesokan harinya, petani tersebut datang lagi
untuk membantu keluarga tersebut memberinya pekerjaan. Mereka merasa
bersyukur karena doa mereka didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.

Cerpen “Dari Tuhan” memiliki unsur intrinsik latar cerita, tema dan amanat
yang menarik untuk dijadikan materi pembelajaran pada siswa tingkat MTs
Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009
139

(Lanjutan)

khususnya kelas VII. Latar tempat pedesaan dapat dikaitkan dengan suasana
desa. Materi cerpen tersebut dapat diterapkan metode diskusi, inkuiri, dan
sosiodrama.

14. Cerpen ”Rahasia Ibu” karya Djoni dalam Koes Sabandiyah, Buku Kumpulan
Cerpen: Teman Khayalan, PT Penerbitan Sarana Bobo. Jakarta. 2009.
menceritakan sikap seorang ibu yang tenggang rasa menolong seorang anak
penjual kue yang tinggal bersama ibu tirinya. Jika kue tidak habis dijual maka
ia akan dipukuli oleh ibu tirinya. Seorang ibu terus-menerus membeli kue
tersebut setiap saat meskipun rasa kue tersebut kurang enak. Anak ibu itu
merasa heran, mengapa ibunya membeli kue meskipun tidak dimakan.
Akhirnya, ia baru tahu ibunya itu hanya ingin menolong anak tersebut karena
ibunya dipesan oleh almarhum ibunya agar menjaga anak penjual kue tersebut.
Karana pesan tersebut, ibunya selalu menjaga agar anak tersebut jangan sampai
dipukuli oleh ibu tirinya.
Cerpen ”Rahasia Ibu” baik untuk pembahasan tokoh dan penokohan, tema dan
amanat. Peran tokoh yang ditampilkan dapat memberi pengetahuan dan pesan-
pesan penting yang dapat dikaitkan dengan kehidupan ini.

15. Cerpen “Anak-anak Penyelamat Sejarah” karya Fajar Gita Rena dalam Koes
Sabandiyah, Buku Kumpulan Cerpen:Teman Khayalan, PT Penerbitan Sarana
Bobo. Jakarta. 2009.
Cerpen “Anak-anak Penyelamat Sejarah” menceritakan seorang anak dari
keluarga miskin. Orang tuanya bekerja sebagai penggali kuburan. Ia tidak
diberikan raportnya oleh guru karena belum melunasi uang sekolahnya. Suatu
malam ia diajak oleh bapaknya untuk bekerja menggali kuburan agar
mendapatkan ongkos dan ia dapat membayar tunggakan uang sekolahnya. Ia
merasa heran kepada bapaknya mengapa harus menggali kuburan pada malam
hari. Ia penasaran, ternyata yang mereka kubur bukan manusia akan tetapi batu
hitam dan arca yang dilindungi oleh negara. Atas kerja sama guru dan siswa,
mereka menggali kembali dan menemukan barang-barang tersebut. Atas

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009


140

(Lanjutan)

laporan dan penemuan kembali tersebut, mereka mendapat penghargaan dari


kepala Dinas Purbakala.
Cerpen tersebut mempunyai unsur intrinsik alur dan latar cerita serta pesan-
pesan yang dapat dibahas di dalam kegiatan pembelajaran cerpen. Sikap tokoh
utama pun menarik untuk dibahas karena ia berhadapan dengan dua pilihan
yang sukar untuk dipilihnya yaitu sisi kebenaran dan kesalahan. Pertama, ia
membantu orang tuanya menggali kuburan untuk mendapatkan uang agar dapat
membayar uang sekolahnya. Ternyata yang ia lakukan adalah membantu
kejahatan yang dilakukan orang tuanya dengan menyimpan arca di dalam
kuburan. Hal tersebut tentulah perbuatan yang salah . Kedua, ia bersama teman
dan gurunya melaporkan kepada yang berwajib, tentulah bapaknya juga akan
berurusan dengan yang berwajib termasuk dirinya.
Materi ini dapat di lakukan pembelajaran dengan menggunakan metode
diskusi. Materi yang dapat didiskusikan akan memberikan pesan-pesan moral
dan pengetahuan tentang kehidupan ini. Dengan demikian pembahasan akan
semakin menarik dengan berbagai kemungkinan dapat dibahas sehingga
banyak pengetahuan akan diperoleh peserta didik.

O000O

Materi dan metode..., Muhammad Yakob, FIB UI, 2009

Anda mungkin juga menyukai