0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan14 halaman

Pengaruh pH pada Aktivitas Enzim Amilase

Praktikum ini bertujuan menjelaskan pengaruh pH terhadap aktivitas enzim α-amilase. Enzim α-amilase mampu menghidrolisis pati menjadi glukosa dan merupakan enzim penting dalam pencernaan. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh pH dan memiliki pH optimum tertentu. Praktikum ini menguji aktivitas enzim α-amilase pada berbagai nilai pH menggunakan larutan buffer asetat.

Diunggah oleh

Dimas Arifin Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan14 halaman

Pengaruh pH pada Aktivitas Enzim Amilase

Praktikum ini bertujuan menjelaskan pengaruh pH terhadap aktivitas enzim α-amilase. Enzim α-amilase mampu menghidrolisis pati menjadi glukosa dan merupakan enzim penting dalam pencernaan. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh pH dan memiliki pH optimum tertentu. Praktikum ini menguji aktivitas enzim α-amilase pada berbagai nilai pH menggunakan larutan buffer asetat.

Diunggah oleh

Dimas Arifin Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Praktikum Ke: 10 Hari/Tanggal : Selasa, 31 Oktober 2023

Biokimia Nutrisi Tempat : Lab. BMN Fapet IPB


Nama Dosen : Dr. Sri Suharti, [Link]., [Link]
Nama Asisten : 1. Ade Dimas Kurnia
(D2501231047)
2. Tri Wahyu Apriliana
(D2401201049)

PENGARUH PH TERHADAP AKTIVITAS ENZIM

DIMAS ARIFIN PUTRA


D2401221017
P1/K3

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2023
I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kecambah merupakan suatu tumbuhan yang berukuran kecil yang baru
tumbuh dari biji melalui perkecambahan. Kacang hijau merupakan suatu biji-bijian
yang mudah didapat dan memiliki perkecambahan yang cepat. Kacang hijau sudah
lama dikenal oleh masyarakat. Penggunaan kacang hijau cukup beragam, dari
olahan sederhana hingga produk olahan industri. Kacang hijau merupakan sumber
protein, vitamin dan mineral yang penting bagi manusia. Dalam pertumbuhannya,
biji kacang hijau memerlukan suatu energi untuk merombak senyawa organik
seperti seperti karbohidrat, lemak, dan, protein. Secara alami, biji kacang hijau
mampu memproduksi enzim α-amilase yang digunakan untuk merombak senyawa
karbohidrat (Gumelar dan Fariyanto 2020).
Enzim adalah suatu protein yang terdiri atas serangkaian asam amino dalam
komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim ini akan dapat
dihasilkan melalui organ-organ makhluk hidup. Sebagian besar enzim yang
terdapat dalam tubuh suatu organisme berbentuk koloid yang terlarut dalam cairan
tubuh, seperti air ludah, darah, cairan lambung, dan cairan pankreas. Enzim juga
terdapat di bagian dalam sel. Hal ini terikat erat dengan protoplasma. Enzim juga
ada di dalam mitokondria dan ribosom dalam tubuh. Enzim biasa digunakan
sebagai katalis yang menjalankan berbagai reaksi, seperti pemecahan hidrolisis,
oksidasi, reduksi, isomerasi, adisi, transfer radikal dan terkadang terdapat suatu
proses pemutusan rantai karbon (Saputra 2015).
Enzim merupakan suatu biokatalis yang dapat mempercepat suatu reaksi
kimia. Pemanfaatan enzim sebagai katalis semakin meningkat, karena enzim
bekerja secara spesifik, memiliki akurasi yang tinggi sebagai biokatalis, dan juga
ramah lingkungan. Enzim dapat dihasilkan dari berbagai sumber yaitu tanaman,
hewan, dan mikrob (Anggrahini 2016). Salah satu enzim pemecah pati adalah
enzim ά- amilase. Enzim amilase diklasifikasikan sebagai kategori saccharidase
yaitu enzim yang memotong rantai polisakarida. Enzim amilase merupakan suatu
enzim yang dapat menghidrolisis suatu ikatan α (1,4) glikosidik polisakarida untuk
menghasilkan oligosakarida, dekstrin, maltosa, dan D-glukosa (Suarna 2021).
Pankreas hewan mengandung enzim amilase yang diperoleh dari suatu pancreatin
dan pancrelipase. Aktivitas enzim α-amilase dapat diukur melalui perhitungan
jumlah gula pereduksi yang dihasilkan atau dengan mengamati penurunan suatu
kadar konsentrasi pada pati yang larut (Ariandi 2016). Enzim ini bekerja dengan
cara memutus ikatan α (1,4) glikosidik pada sumber karbohidrat yaitu pati (amilosa
dan amilopektin) secara acak pada suatu rantai yang panjang sehingga
menghasilkan glukosa serta sedikit dekstrin dari molekul amilopektin serta
menghasilkan maltosa dan maltotriosa dari polimer amilosa. Enzim α-amilase dapat
diperoleh pada berbagai jenis mikroba seperti bakteri, kapang dan khamir.
Penggunaan enzim yang berasal dari mikroba memiliki keuntungan tersendiri yaitu
sangat praktis untuk digunakan, biaya produksi lebih terjangkau, dan sangat
berguna dalam mengefisiensikan waktu produksi (Soeka et al. 2015).
Enzim 𝛼- amilase adalah enzim yang dapat mengubah karbohidrat
kompleks menjadi yang lebih sederhana seperti pati (Mehrota et al. 2019). Pati
adalah suatu polimer glukosa yang memiliki rumus molekul (C6H10O5) n.
Pembentukan polimer pati diawali dengan terbentuknya suatu ikatan glukosida
yaitu ikatan antara molekul glukosa melalui oksigen pada atom karbon pertama.
Pati dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa
merupakan polimer rantai lurus yang terdiri dari ribuan glukosa dengan ikatan α 1,4
glukosida. Jenis kedua yaitu amilopektin yang mengandung percabangan rantai
akibat adanya ikatan α 1,6 glukosida di beberapa bagiannya (Nangin dan Sutrisno
2015). Pati memiliki peran sebagai sumber makanan suatu penghasil energi dari
golongan karbohidrat. Selain itu pati berperan sebagai bahan aditif pada proses
pengolahan makanan, misalnya sebagai penstabil dalam proses pembuatan puding.
Dalam bidang non makanan, pati digunakan untuk bahan baku dalam proses
pembuatan kertas, pakaian dari katun, industri cat, maupun untuk produksi hidrogen
(Nangin dan Sutrisno 2015).
Uji pengaruh pH terhadap enzim merupakan suatu langkah yang sangat
penting dalam bidang industri peternakan terutama dalam pembuatan ransum pakan
ternak. Salah satu alasan utama adalah efisiensi pencernaan hewan ternak. Aktivitas
enzim di saluran pencernaan ternak sangat mempengaruhi kemampuan mereka
untuk mencerna nutrisi dari pakan yang diberikan. Selain itu, kualitas pakan juga
menjadi fokus utama dalam industri peternakan. Dengan memahami pengaruh pH
terhadap aktivitas enzim, peternak dapat mengoptimalkan komposisi dan proposisi
produksi ransum pakan. Hal ini akan berdampak langsung pada kualitas pakan yang
diberikan kepada ternak, yang pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan
dan kesehatan ternak.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan menjelaskan pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
dan pH optimum untuk menghasilkan aktivitas enzim tertinggi serta pH yang
menyebabkan menurunnya aktivitas enzim.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kecambah kacang hijau


Kecambah merupakan suatu tumbuhan yang berukuran kecil yang baru
tumbuh dari biji melalui perkecambahan. Kecambah yang dibuat dari biji kacang
hijau biasa dikenal dengan sebutan tauge. Vitamin yang ditemukan tauge adalah
vitamin C, thiamin, riboflavin, nasin, asam pantotenik, vitamin B6, folat, kolin,
ßkaroten, vitamin A, vitamin E (atokoferol), dan vitamin K (Hairunnisa et al. 2016).
Proses kecambahan merupakan suatu rangkaian yang kompleks dari suatu
perubahan perubahan morfologis dan biokimia. Perkecambahan terjadi karena
adanya proses pemecahan suatu senyawa bermolekul besar dan komplek yang
menjadi senyawa senyawa kecil dan larut dalam air (Wea et al. 2014).
Perkecambahan dapat meningkatkan suatu daya cerna, sebab perkecambahan dapat
diartikan sebagai suatu proses katabolis yang menyediakan zat-zat gizi yang
penting untuk pertumbuhan tanaman.

2.2 Enzim α-Amilase


Amilase merupakan suatu enzim perombak pada pati yang dibutuhkan oleh
tubuh (Tazkiah et al. 2017). Enzim amilase merupakan suatu enzim yang mampu
menghidrolisis amilum dan menghasilkan glukosa (Istia’nah et al. 2020). Enzim
amilase dapat dihasilkan oleh semua makhluk hidup untuk mengkatalis reaksi
biokimia, sehingga reaksi-reaksi tersebut dapat berlangsung lebih cepat. Amilase
berasal dari berbagai sumber yaitu, mikroorganisme, tumbuhan, dan manusia
(Sriwahyuni et al. 2015). Enzim amilase merupakan suatu enzim yang berfungsi
sebagai pengkatalis akan proses hidrolisa pati untuk menghasilkan molekul lebih
sederhana seperti glukosa, maltosa, dan dekstrin (Nangin dan Sutrisno 2015).
Beberapa contoh kelompok dari enzim amilase adalah α-amilase, β-amilase, dan γ-
amilase (Nangin dan Sutrisno 2015).

2.3 Larutan Pati


Pati merupakan suatu senyawa polisakarida yang terdiri dari monosakarida
yang berikatan melalui oksigen. Monomer dari pati adalah glukosa yang berikatan
dengan ikatan 𝛼 (1,4)-glikosidik. Pati merupakan suatu zat yang terbentuk dari
karbohidrat dengan suatu polimer senyawa glukosa yang terdiri dari amilosa dan
amilopektin (Akbar et al. 2013). Gelatinisasi merupakan suatu pembengkakan
granula yang tidak bisa kembali dalam bentuk semula. Keberadaan adanya suatu
gelatinisasi dalam larutan pati dapat mempengaruhi adanya suatu perubahan akan
viskositas pati (Aryanti et al. 2017). Semakin lama pemanasan terjadi maka
viskositas yang terbentuk akan semakin tinggi. Hal tersebut dikarenakan pecahnya
suatu granula pada pati saat mencapai suhu gelatinisasi. Hal ini mengakibatkan air
dapat masuk di dalam granula pati.

2.4 pH Optimum Enzim amilase


Aktivitas pada enzim Amilase dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi
salah satunya yaitu pH (Sukmana dan Roosdiana 2014). Aktivitas pH optimum
enzim amilase berkisar antara 4,0-8,0 (Istia’nah et al. 2020). Aktivitas enzim
sebagai protein sangat dipengaruhi oleh tingkat keasaman suatu (pH) dalam
lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh keterkaitan antara pH dengan ion hidrogen.
Konsentrasi ion hidrogen sangat mempengaruhi aktivitas enzim karena enzim
hanya dapat aktif ketika asam amino berada dalam keadaan ionisasi yang
tepat (Istia’nah et al. 2020). pH yang terlalu asam atau basa pada suatu enzim maka,
akan mengakibatkan terjadinya denaturasi, yaitu perubahan struktural yang
mengganggu sisi aktif enzim, sehingga menyebabkan hilangnya kemampuan enzim
untuk berinteraksi dengan substratnya (Safaria et al. 2013).

2.5 Buffer asetat


Larutan buffer asetat adalah salah satu jenis buffer asam yang terdiri dari
asam asetat dan natrium asetat. Asam asetat adalah suatu asam yang bersifat asam
lemah, yang artinya hanya sebagian kecil molekulnya terionisasi menjadi ion
hidrogen H+ dan ion asetat. Larutan buffer merupakan suatu larutan yang dapat
mempertahankan suatu pH lingkungannya dari suatu pengaruh yang ada di luar
seperti penambahan ion H+ (asam) atau ion OH- (basa) (Amin 2017). Etil asetat
merupakan suatu pelarut yang bersifat semi polar yang dapat menarik suatu
senyawa yang bersifat polar maupun non-polar. Etil asetat cenderung memiliki daya
toksisitas yang rendah, dan mudah diuapkan sehingga dapat digunakan dalam
proses pengekstrasian suatu sampel (Putri et al. 2013).
2.6 Reagen Benedict
Metode benedict merupakan suatu metode yang memanfaatkan suatu sifat
dari glukosa sebagai zat pereduksi. Reagen benedict mengandung senyawa garam
cupri. Larutan benedict mengandung ion-ion tembaga (II) yang kompleks seperti
kupri sulfat, natrium karbonat, dan natrium sitrat (Nurjannah et al. 2017). Suatu
sampel yang mengandung glukosa jika ditambahkan reagen benedict dan
dipanaskan maka akan menghasilkan cupro dengan adanya perubahan warna dan
kekeruhan dalam reagen benedict (Napitupulu 2021). Penambahan reagen benedict
bertujuan untuk membentuk suatu endapan merah bata suatu gugus pereduksi yang
terdapat dalam suatu sampel ketika dipanaskan yang membuat larutan menjadi
warna biru. Kelebihan reagen benedict yaitu mengandung lebih sedikit komponen
penyusun tetapi lebih teliti dan akurat (Hermanto et al. 2020).

2.7 Aquades
Aquades merupakan air mineral yang telah diproses dengan destilasi atau
disuling sehingga diperoleh air murni (H2O) yang bebas mineral (Hermawan et al.
2020). Larutan aquades merupakan suatu jenis larutan yang memiliki suatu
karakteristik bentuk yang transparan atau jernih. Aquades merupakan suatu pelarut
yang memiliki tingkat polaritas tertinggi (Astriyai et al. 2017). Hal tersebut terjadi
karena larutan tidak mengandung partikel padat atau partikel kasar yang dapat
mengganggu akan transpirasi pada larutan. Sifat transparan pada larutan bening
mengakibatkan suatu sinar cahaya dapat dengan mudah masuk melewati larutan.
Beberapa contoh dari larutan bening adalah aquades, fenolftalein, alcohol dan
sebagainya (Hinggis 2019).

2.8 Buffer fosfat


Buffer fosfat merupakan suatu pelarut yang umum digunakan dalam
ekstraksi fikobiliprotein (Hidhayati et al. 2020). Buffer fosfat sebagai larutan buffer
karena memiliki suatu sifat berupa isotonis yang mampu menahan terjadinya suatu
perubahan pH ketika ion-ion hidrogen atau hidroksida ditambahkan atau ketika
larutan itu diencerkan (Diarti et al. 2016). Buffer fosfat mengandung larutan garam
fosfat dengan campuran asam fosfat dan basa konjugat fosfat. Buffer fosfat
memiliki kapasitas buffer yang sangat tinggi dan sangat larut dalam air. Fungsi dari
larutan buffer adalah untuk menjaga pH saat ada penambahan sedikit basa atau
asam ke dalamnya (Diarti et al. 2016).
III MATERI DAN METODE

3.1 Materi
3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain water bath,
spektrofotometer, tabung reaksi, timbangan analitik, penjepit, pipet volume,
pompa, stopwatch, beaker glass, vortex, cawan dan blender.
3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain
kecambah kacang hijau, larutan pati 1%, air destilasi, larutan buffer asetat dan
larutan reagen benedict.
3.2 Metode
Tabung reaksi sebanyak 11 buah disiapkan. 2 ml larutan pati 1%
dimasukkan ke dalam 5 tabung reaksi, 2 ml larutan enzim dimasukkan ke dalam 5
tabung reaksi lainnya, dan 1 tabung lainnya diisi dengan 2 ml akuades. Beri label
perlakuan pada tabung larutan pati 1% dan larutan enzim. Pada tabung yang berisi
pati, tabung 1 ditambah 1ml aqua destilasi. Tabung 2 ditambah 1ml buffer pH 3,
tabung 3 ditambah 1ml buffer pH 5, tabung 4 ditambah 1ml buffer pH 7 dan tabung
5 ditambah 1ml buffer pH 9. Kelima tabung tersebut divortex dan diinkubasi di
suhu 38 derajat celcius selama 2 menit. Kemudian 2ml larutan enzim yang tadi telah
dituang pada kelima tabung ditambahkan ke masing-masing tabung yang berisi
larutan pati dan buffer. Lalu tabung divortex dan diinkubasi kembali selama 10
menit. Kemudian 0,5ml larutn reagen ditambahkan pada setiap tabung dan diukur
pada spektrofotometer.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan data berupa nilai dari pengaruh pH
terhadap aktivitas enzim. Data dilampirkan pada (tabel 1) nilai dari pengaruh pH
terhadap aktivitas enzim.

Tabel 1 Nilai dari pengaruh pH terhadap aktivitas enzim


pH Nilai Absorbansi (A)
Aquades 1,581
pH 3 0,843
pH 5 1,757
pH 7 1,457
pH 9 1,511
Berdasarkan perhitungan nilai dari pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
didapat pada gambar 1 pengaruh pH terhadap aktivitas enzim.

Gambar 1 Grafik hubungan antara nilai absorbansi dengan pH

4.2 Pembahasan
Enzim adalah suatu molekul protein kompleks yang dihasilkan oleh
organisme hidup dan bertindak sebagai katalis dalam berbagai reaksi kimia yang
terjadi di dalam tubuh makhluk hidup (Supriyatna et al. 2015). Enzim yang
digunakan untuk merombak pati adalah enzim amilase. Amilase merupakan suatu
enzim perombak pada pati yang dibutuhkan oleh tubuh (Tazkiah et al. 2017). Enzim
amilase merupakan suatu enzim yang mampu menghidrolisis amilum dan
menghasilkan glukosa (Istia’nah et al. 2020). Amilase adalah enzim ekstraseluler
yang memiliki kemampuan untuk menguraikan ikatan 1,4- glikosidik dalam
polimer pati, menghasilkan glukosa, maltosa, dan dekstrin sebagai produk reaksi
(Nangin dan Sutrisno 2015). Enzim amilase akan memecah substrat pati melalui
tiga tahapan utama yaitu gelatinisasi, likuifikasi, dan sakarifikasi (Nangin dan
Sutrisno 2015).
Pati merupakan jenis karbohidrat golongan polisakarida, yang banyak
ditemukan di alam terutama pada sebagian besar tumbuhan yaitu pada umbi, daun,
batang dan biji-bijian (Nangin dan Sutrisno 2015). Pati berperan sebagai sumber
makanan penghasil energi utama dari golongan karbohidrat. Proses hidrolisa pati
merupakan pemutusan ikatan glikosidik pada rantai polimernya oleh suatu reaktan
yang dibantu oleh air. Proses ini digunakan untuk memproduksi suatu molekul
sederhana seperti glukosa, maltosa, dan dekstrin (Nangin dan Sutrisno 2015). Ikatan
glikosidik pada pati cenderung stabil pada kondisi basa namun kurang stabil pada
kondisi asam. Ikatan tersebut juga dapat putus oleh adanya enzim pemecah pati.
Hasil pemecahan tersebut akan menghasilkan gugus aldehid yang dikenal sebagai
gugus ujung reduksi. Banyaknya gugus ujung reduksi berbanding lurus dengan
derajat hidrolisis pati.
Amilase dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis, yaitu alfa amilase (α-
amilase), beta amilase (β-amilase), dan gamma amilase (γ-amilase) (Ramadhan dan
Wikandari 2021). α-amilase adalah suatu jenis endoamilase yang berfungsi dalam
memutuskan suatu ikatan 1,4-glikosidik di dalam amilosa atau amilopektin. Hasil
akhir dari degradasi amilosa atau amilopektin tersebut adalah oligosakarida dengan
panjang rantai yang berbeda beda. α-amilase beroperasi dengan cara memutuskan
rantai secara acak di sepanjang rantai pati, menghasilkan maltotriosa dan maltosa
dari amilosa, atau maltosa, glukosa, dan dekstrin dari amilopektin (Ramadhan dan
Wikandari 2021). Keunggulan α-amilase adalah kecepatan reaksinya, karena
kemampuannya memutus rantai pati secara acak. β-amilase adalah enzim yang
dapat mengubah konfigurasi anomerik maltosa yang dikeluarkan oleh α-amilase
dari α menjadi β. Sementara itu, γ-amilase adalah enzim yang bekerja dengan cara
memotong ikatan 1,6-glikosidik dan juga memotong ikatan 1,4-glikosidik di bagian
amilosa dan amilopektin yang tidak tereduksi (Tiwari 2015). Amilase berasal dari
berbagai sumber yaitu, mikroorganisme, tumbuhan, dan manusia (Sriwahyuni et al.
2015).
Aktivitas pada enzim dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi salah satunya
yaitu pH. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sukmana dan Roosdiana (2014)
bahwa faktor yang dapat mempengaruhi kerja aktivitas suatu enzim adalah suhu,
pH, konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, pengaruh inhibitor dan aktivator. Hal
ini disebabkan oleh keterkaitan antara pH dengan ion hidrogen. Konsentrasi ion
hidrogen sangat mempengaruhi aktivitas enzim karena enzim hanya dapat aktif
ketika asam amino berada dalam keadaan ionisasi yang tepat (Istia’nah et al. 2020).
pH yang terlalu asam atau basa pada suatu enzim maka, akan mengakibatkan
terjadinya denaturasi, yaitu perubahan struktural yang mengganggu sisi aktif enzim,
sehingga menyebabkan hilangnya kemampuan enzim untuk berinteraksi dengan
substratnya (Safaria et al. 2013).
Nilai pH media pertumbuhan bakteri mempunyai peranan yang sangat
penting dengan menginduksi perubahan morfologi bakteri dan sekresi enzim.
Karakterisasi suatu enzim amilase dapat dilakukan dengan mencari suatu parameter
berupa suhu, pH dan konsentrasi substrat optimum bakteri dalam memproduksi
enzim amilase. Berdasarkan hasil penelitian Istia’nah et al. (2020) bahwa pH
optimum dalam memproduksi enzim amilase yakni pada pH 5,0 dengan aktivitas
enzim sebesar 1,241 U/ml. Hal ini terjadi karena protein enzim membentuk struktur
yang sangat tepat sehingga enzim dapat mengikat dan mengolah substrat dengan
kecepatan yang tinggi. Perubahan pH dapat menyebabkan perubahan muatan pada
molekul enzim sehingga dapat mempengaruhi aktivitas enzim, baik dari perubahan
struktur maupun perubahan muatan. Selain itu, pH tinggi ataupun rendah dapat
menyebabkan terjadinya denaturasi dan hal tersebut akan mengakibatkan suatu
penurunan aktivitas enzim (Kusumaningrum et al. 2019). Berdasarkan literatur lain,
hasil penelitian purnawan et al. (2015) bahwa pH optimum untuk aktivitas enzim
amilase berada pada pH 7. Aktivitas enzim berkaitan erat dengan strukturnya,
perubahan struktur dapat menyebabkan perubahan aktivitas enzim. Oleh karena itu,
secara umum aktivitas pH optimum pada enzim amilase memiliki rentan berkisar
antara 4,0-8,0 (Istia’nah et al. 2020).
Berdasarkan hasil percobaan pada pengamatan suatu pengaruh pH terhadap
aktivitas enzim didapatkan suatu data nilai absorbansi yang bervariatif. (Tabel 1)
dan (gambar 1) terlihat bahwasannya setiap pH memiliki suatu nilai absorbansi
yang berbeda beda. Mula mula nilai absorbansi sebesar 1,581 A pada larutan
aquades, kemudian turun menjadi 0,843 A pada larutan pH 3, kemudian naik
menjadi 1,757 A pada larutan pH 5, kemudian turun menjadi 1,457 A pada larutan
pH 7, dan terakhir naik menjadi 1,511 A pada larutan pH 9. Hal tersebut
mengidentifikasi bahwa pada pH 5 merupakan titik tertinggi atau pH optimum
dengan nilai absorbansi sebesar 1,757 A. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan
Phieter et al. (2020) bahwa enzim α-amilase dari kacang hijau memiliki pH
optimum 5-6. Hal ini dapat terjadi dikarenakan keadaan pH tertentu dapat
menyebabkan aktivitas enzim mencapai keadaan optimal. Kondisi pH yang optimal
akan mendukung enzim dalam melakukan katalis suatu reaksi dengan baik,
sedangkan pH yang kurang sesuai akan mengakibatkan kerusakan dalam suatu
enzim sehingga menyebabkan fungsi dan aktivitas dari enzim akan berkurang
(Idiawati et al. 2014).
Berdasarkan (gambar 1) terlihat bahwasannya setelah pH mencapai titik
optimum yaitu pada pH 5 dengan nilai absorbansi sebesar 1,757 A akan mengalami
suatu penurunan aktivitas enzim pada pH 7 dengan nilai absorbansi sebesar 1,457
sampai pH 9 dengan nilai absorbansi sebesar 1,511 A. Hal tersebut dikarenakan
semakin tinggi pH yang melewati batas optimum pH pada enzim, maka enzim akan
mengalami proses denaturasi sehingga terjadi penurunan aktivitas enzim itu sendiri.
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Sari (2017) bahwa terjadinya denaturasi
pada enzim disebabkan karena tinggi atau rendahnya pH yang mana akan
menyebabkan ionisasi pada sisi aktif enzim, ionisasi pada substrat, atau akan
mempengaruhi konformasi enzim dan substrat, sehingga akan berpengaruh
terhadap aktivitas enzim. Selain itu, terjadi penurunan aktivitas enzim yang tidak
stabil pada percobaan disebabkan karena kecambah kacang hijau tidak hanya
mengandung satu kelompok enzim yaitu enzim α-amilase tetapi juga mengandung
kelompok lain diantaranya β-amilase dan γ-amilase (Nangin dan Sutrisno 2015).

V SIMPULAN
Tinggi rendahnya nilai suatu pH akan berpengaruh terhadap aktivitas enzim.
Nilai pH yang terlalut rendah dapat menyebabkan enzim tidak aktif, sedangkan pH
yang terlalu tinggi akan menyebabkan enzim mengalami denaturasi. Nilai pH
optimum bagi aktivitas enzim α-amilase berkisar antara 4 hingga 8. Nilai pH yang
menyebabkan penurunan enzim α-amilase adalah nilai pH yang sudah melewati
titik optimum, berkisar pada pH >8.
DAFTAR PUSTAKA

Akbar F, Anita Z, Harahap H. 2013. Pengaruh waktu simpan film plastik


biodegradasi dari pati kulit singkong terhadap sifat mekanikalnya. Jurnal
Teknik Kimia USU. 2(2):11-15.
Amin S. 2017. Analisis zat warna ekstrak etil asetat dari cabe merah (Capsicum
annum L.) menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet-visible.
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. 17(2):479-486.
Anggrahini DND. 2016. Produksi, pemekatan, dan karakterisasi enzim protease
dari Lactobacillus plantarum sk(5) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Ariandi. 2016. Pengenalan enzim amilase (Alpha-amylase) dan reaksi enzimatisnya
menghidrolisis amilosa pati menjadi glukosa. Jurnal Dinamika. 7(1):74-82.
Aryanti N, Kusumastuti YA, Rahmawati W. 2017. Pati talas (Colocasia Esculenta
(L.) Schott) sebagai alternatif sumber pati industri. Majalah Ilmiah
Momentum. 13(1):46-52.
Astriyai W, Surjowardojo P, Susilorini TE. 2017. Daya hambat ekstrak buah
mahkota dewa (Phaleria macrocarpa L.) Dengan pelarut ethanol dan
aquades terhadap bakteri staphylococcus aureus penyebab mastitis pada
sapi perah. Jurnal Ternak Tropika. 18(2):8-13.
Diarti MW, Tatontos EY, Turmuji A. 2016. Larutan pengencer alternatif nacl 0,9
% dalam pengecatan giemsa pada pemeriksaan morfologi spermatozoa.
Jurnal Kesehatan Prima. 10(2):1709-1716.
Gumelar, Fariyanto DE. 2020. Pengaruh waktu perkecambahan biji kacang hijau
(Phaseolus radiatus L.) Terhadap produksi enzim α-amilase.
CERMIN:Jurnal Penelitian. 4(1):68-77
Hairunnisa O, Sulistyowati E, Suherman D. 2016. Pemberian kecambah kacang
hijau (tauge) terhadap kualitas fisik dan uji organoleptik bakso ayam. Jurnal
Sains Peternakan Indonesia. 11(1):39-47.
Hermanto D, Sanjaya RK, Ismillayli N. 2020. Sensor optode glukosa yang sensitif
dan sederhana berbasis imobilisasi benedict pada membran nata selulosa. J
Pijar Mipa. 15(4):404–407. doi:10.29303/jpm.v15i4.1352.
Hermawan H, Sayekti IC, Nurhandayani FB, Tadzkiroh U. 2020. Pemanfaatan
minyak jelantah menjadi sabun untuk masyarakat desa pentukrejo. Jurnal
EMPATI: Edukasi Masyarakat, Pengabdian dan Bakti. 1(1):56-61.
Hidhayati N, Agustini NWS, Apristini M, Margaretha C. 2020. Potensi pigmen
fikobiliprotein sebagai agen antioksidan dan toksisitas hayati dari
sianobakteria Chroococcus turgidus. Jurnal Biopropal Industri. 11(1):41-
48.
Hinggis VB. 2019. Rancang bangun alat pembuatan aquades dan aquabides dengan
metode penguapan (tinjauan kinerja water distiller) [tesis]. Sumatera
Selatan (ID): Politeknik Negeri Sriwijaya.
Idiawati N, Harfinda EM, Arianie L. 2014. Produksi enzim selulase oleh
Aspergillus niger pada ampas sagu. Jurnal Natur Indonesia. 16(1):1-9.
Istia’nah D, Utami U, Barizi A. 2020. Karakterisasi enzim amilase dari bakteri
Bacillus megaterium pada variasi suhu, ph dan konsentrasi substrat. Jurnal
Riset Biologi dan Aplikasinya. 2(1):11-17.
Kusumaningrum A, Wayan Gunam IB, Mahaputra Wijaya IM. 2019. Optimasi suhu
dan pH terhadap aktivitas enzim endoglukanase menggunakan response
surface methodology (RSM). Jurnal Rekayasa Dan Manaj Agroindustri.
7(2):243–253. doi:10.24843/jrma.2019.v07.i02.p08.
Mehrota N, Jadhav K, Rawalgaonkar S, Khan S, Parekh B. 2019. In vitro evaluation
of selected Indian spices for α-amylase and α-glucosidase inhibitory
activities and their spice-drug interactions. Annals of Phytomedicine.
8(2):43-54.
Nangin D, Sutrisno A. 2015. Enzim amilase pemecah pati mentah dari mikroba:
kajian pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(3):1032-1039.
Napitupulu L. 2021. Gambaran hasil pemeriksaan glukosa urin menggunakan
metode benedict dan carik celup pada penderita diabetes melitus. The
Indonesian Journal of Medical Laboratory. 2(1):12-17.
Nurjannah L, Suryani, Achmadi SS, Azhari A. 2017. Produksi asam laktat oleh
lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus dengan sumber karbon tetes
tebu. Jurnal teknologi dan industri pertanian Indonesia. 9(1):1-9.
Phieter AC, Chrisnasari R, Pantjajani T. 2020. Karakterisasi enzim pemecah pati
dari malt serelia. Jurnal Sains dan Tekhnologi. 1(1):1-68.
Purnawan A, Capriyanti Y, Kurniatin PA, Rahmani N, Yopi. 2015. Optimasi
produksi enzim amilase dari bakteri laut jakarta (Arthrobacter arilaitensis).
Jurnal Biologi Indonesia. 11(2):215-224.
Putri WS, Warditiani NK, Larasanty LPF. 2013. Skrining fitokimia ekstrak etil
asetat kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.). Jurnal Farmasi
Udayana. 2(4):56-60.
Ramadhan B, Wikandari PR. 2021. Aktivitas enzim amilase dari bakteri asam laktat
(karakteristik dan aplikasi). UNESA Journal of Chemistry.10(2):109–120.
Safaria S, Idiawati N, Zaharah TA. 2013. Efektivitas campuran enzim selulase dari
Aspergillus niger dan Trichoderma reesei dalam menghidrolisis substrat
sabut kelapa. JJK. 2(1):46-51.
Saputra JH. 2015. Klasifikasi enzim protein menggunakan metode k-nearest
neighbor dan analisis komponen utama sebagai pereduksi ciri [skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor
Sari N. 2017. Pengaruh ph dan suhu terhadap aktivitas enzim fibrinolitik bacillus
megaterium [thesis]. Jawa Timur (ID): Universitas Airlangga
Soeka YS, Rahmansyah M, Sulistiani. 2015. Optimasi enzim α-amilase dari
Bacillus amyloliquefaciens O1 yang diinduksi substrat dedak padi dan
karboksimetilselulosa. Jurnal Biologi Indonesia. 11(2):259-266.
Sriwahyuni L, Rosahdi TD, Supriadin A. 2015. Isolasi dan karakterisasi amilase
dari biji durian (Durio sp.). Al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan.
2(1):18-23.
Suarna T. 2021. Pengaruh penambahan enzim terhadap kualitas pasta ubi jalar ungu
(Ipomoea batatas L.) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sukmana MES, Roosdiana A. 2014. Pengaruh suhu dan lama penyimpanan
terhadap kestabilam enzim xilanase dari trichoderma viride. Kimia Student
Journal. 2 (1):340-34.
Supriyatna A, Amalia D, Jauhari AG, Holydaziah D. 2015. Aktivitas enzim
amilase, lipase, dan protease dari larva. Jurnal Istek. 9(2):18-32
Tazkiah NP, Rosahdi TD, Supriadin A. 2017. Isolasi dan karakterisasi enzim
amilase dari biji nangka (Artocarpus heterophillus). Al Kimiya: Jurnal Ilmu
Kimia dan Terapan. 4(1): 17-22.
Tiwari SP, Srivastava R, Singh CS, Shukla K, Singh RK, Singh P, Singh R, Singh
Nl, Sharma R. 2015. Amylases: An Overview With Special Reference To
Alpha Amylase. Journal of Global Biosciences. 4(1):1886-1901.
Wea ASY, Widodo R, Pratomo YA. 2014. Evaluasi kualitas produk susu kecambah
kacang hijau, kajian dari umur kecambah dan konsentrasi Na-CMC. Jurnal
Teknik Industri HEURISTIC. 11(1):61-79.
LAMPIRAN

Lampiran 1 larutan pati

Lampiran 2 Larutan pati


ditambah buffer masing
masing pH

Lampiran 3 Enzim sebelum inkubasi

Lampiran 4 Proses inkubasi

Lampiran 5 Setelah inkubasi


Lampiran 6 Penambahan
Benedict

Lampiran 7 Setelah vortex

Lampiran 8 Blanko

Lampiran 9 Rancangan kerja dan laporan sementara praktikum

Anda mungkin juga menyukai